Anda di halaman 1dari 4

MIOMA UTERI DAN PENANGANANNYA

Suatu massa di rongga perut harus dibedakan asalnya baik itu berasal dari genital atau
ekstra genital. Kemungkinan adanya keganasan membutuhkan diagnosis yang akurat dan terapi
yang agresif, dimana kebanyakan dari massa-massa itu terutama pada usia reproduktif bersifat
jinak. Walaupun begitu, adanya gejala dan tanda yang tumpang tindih antara tumor jinak dan
ganas membuat diagnosis yang akurat menjadi sulit. Salah satu massa pada rongga perut yang
sering dijumpai pada wanita usia reproduktif adalah mioma uteri. Mioma uteri merupakan tumor
jinak yang terdiri dari otot polos dan jaringan ikat fibrus. Merupakan struktur yang padat,
memiliki pseudokapsul, dan membentuk nodul kecil maupun besar yang dapat diraba pada
dinding otot uterus tumor ini sering juga disebut fibroid, leiomyoma, atau fibromioma. Tumor ini
merupakan tumor jinak dan massa pada uterus yang paling sering ditemui pada rongga perut
wanita. Mioma ini bisa muncul single/tunggal, tapi lebih sering dijumpai multipel serta memiliki
ukuran yang bervariasi mulai dari ukuran mikroskopik 1 mm sampai dengan ukuran yang besar
yakni 20 cm, dan mengisi hampir seluruh ruang abdomen. Insiden tertinggi dari mioma ini
dijumpai pada wanita usia reproduksi antara 30-45 tahun, dimana angka insiden yang lebih tinggi
dijumpai pada wanita berkulit hitam daripada wanita berkulit putih, yakni sebesar 3-9x lipat
lebih tinggi. Tumor ini tidak terdeteksi sebelum pubertas dan merupakan tumor yang
pertumbuhannya tergantung pada hormon. Sedangkan berdasarkan otopsi, Novak menemukan
27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam
ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah (dilaporkan) terjadi sebelum menars. Setelah
menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Di Indonesia mioma uteri
ditemukan 2,39-11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat.
Gejala dari mioma bervariasi tergantung dari ukuran, jumlah, dan lokasinya. Kebanyakan
wanita dengan mioma bersifat asimtomatis; gejala muncul dalam 10-40% wanita yang menderita
penyakit ini. Adapun gejala yang mungkin timbul antara lain :1,4
a. Perdarahan uterus abnormal. Merupakan gejala yang paling sering dihubungkan
dengan mioma uteri, muncul hingga >30% wanita yang menderita penyakit ini. Tipe
perdarahan yang muncul adalah menorrhagia, perdarahan berlebih saat periode
menstruasi (±>80 ml). Peningkatan aliran biasanya muncul secara gradual, tapi
perdarahan dapat menyebabkan anemia. Mekanisme pasti terjadinya peningkatan
perdarahan tidak jelas. Faktor-faktor yang mungkin antara lain nekrosis permukaan
endometrium yang ada diatas mioma submukosa; gangguan kontraksi otot uterus bila
terdapat mioma intramural yang luas; peningkatan luas area permukaan kavitas
endometrium; dan perubahan mikovaskulatur endometrium.
b. Nyeri. Mioma yang tidak berkomplikasi biasanya tidak menyebabkan nyeri. Nyeri
akut dihubungkan dengan fibroid, biasanya disebabkan oleh torsi pedunculated myoma
atau infark yang progresif menjadi degenerasi carneous dalam mioma. Nyeri biasanya
seperti nyeri kram, bila mioma submukosum dalam kavitas endometrium bertindak
sebagai benda asing. Beberapa pasien dengan mioma intramural mengeluhkan dismenore
yang muncul lagi setelah beberapa tahun periode menstruasi bebas nyeri.
c. Tekanan. Begitu mioma membesar, akan memberi rasa seperti rasa berat pada
pelvik atau gejala tekanan pada struktur-struktur disekitarnya.
1) Sering kencing, adalah gejala yang sering muncul bila mioma yang
tumbuh menyebabkan penekanan pada kandung kencing.
2) Retensi urin, jarang terjadi, biasanya terjadi bila pertumbuhan mioma
menybabkan uterus retroversi terfiksasi yang mendorong serviks ke anterior dibawah
simfisis pubis di area sudut uretrovesikuler posterior.
3) Efek tekanan mioma asimtomatis biasanya disebabkan oleh ekstensi
laterla atau mioma intralegamen, yang menyebabkan obstruksi ureter unilateral dan
hidronefrosis.
4) Konstipasi dan susah defekasi dapat disebabkan oleh mioma posterior
yang besar.
5) Kompres vaskulatur rongga perut oleh uterus yang membesar dengan
hebat dapat menyebabkan varicositis atau edema ekstremitas bawah.
d. Gangguan reproduksi. Infertilitas akibat adanya mioma tidak biasa terjadi.
Infertilitas dapat terjadi bila mioma mempengaruhi transportasi tuba normal atau
implantasi ovum yang terfertilisasi.
1) Mioma intramural besar yang berlokasi di kornu dapat menutup
pars interstisialis tuba.
2) Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosum
dapat mengganggu implantasi; endometrium diatas mioma dapat tidak mengalami
fase-fase seperti endometrium normal, sehingga merupakan permukaan yang tidak
baik untuk implantasi.
3) Terdapat peningkatan insiden abortus dan kelahiran prematur pada
pasien dengan mioma submukosum atau intramural.
e. Kelainan berhubungan dengan kehamilan. Mioma uteri pada 0,3%-7,2%
kehamilan biasanya muncul sebelum konsepsi dan dapat meningkat ukurannya selama
gestasi.
1) Insiden abortus spontan lebih tinggi pada wanita dengan mioma,
tetapi mioma merupakan penyebab abortus yang tidak biasa.
2) Kelahiran prematur dapat meningkat pada wanita dengan mioma
3) Dalam trimester ketiga, mioma dapat menjadi faktor penyebab
malpresentasi, obstruksi mekanik, atau distosia uteri. Mioma-mioma yang besar pada
segmen bawah uterus dapat menghalangi penurunan bagian presentasi janin. Mioma
intramural dapat mempengaruhi kontraksi uterus dan persalinan normal.
4) Perdarahan Post Partum (HPP) lebih sering terjadi pada pasien
dengan mioma uteri.
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah, 55% dari semua mioma uteri tidak
membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun, terutama apabila mioma itu masih kecil
dan tidak menimbulkan gangguan atau keluhan. Walaupun demikian mioma uteri memerlukan
pengamatan setiap 3-6 bulan. Dalam menopause dapat terhenti pertumbuhannya atau menjadi
lisut. Apabila terlihat adanya suatu perubahan yang berbahaya dapat terdeteksi dengan cepat agar
dapat diadakan tindakan segera. Dalam dekade terakhir ada usaha mengobati mioma uterus
dengan GnRH agonist (GnRHa). Hal ini didasarkan atas pemikiran mioma uterus terdiri atas sel-
sel otot yang diperkirakan dipengaruhi oleh estrogen. GnRHa yang mengatur reseptor
gonadotropin di hipofisis akan mengurangi sekresi gonadotropin yang mempengaruhi mioma.
Pemberian GnRHa (buseriline acetate) selama 16 minggu pada mioma uteri menghasilkan
degenerasi hialin di miometrium hingga uterus dalam keseluruhannya lebih kecil. Akan tetapi
setelah pemberian GnRHa dihentikan, mioma yang lisut itu tumbuh kembali di bawah pengaruh
estrogen oleh karena mioma itu masih mengandung reseptor estrogen dalam konsentrasi yang
tinggi. Perlu diingat bahwa penderita mioma uteri sering mengalami menopause yang terlambat.
a. Pengobatan operatif
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini
dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosum pada myom geburt dengan cara ekstirpasi
lewat vagina. Pengambilan sarang mioma subserosum dapat mudah dilaksanakan apabila tumor
bertangkai. Apabila miomektomi ini dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka
kemumgkinan akan terjadi kehamilan adalah 30-50%. Perlu disadari bahwa 25-35% dari
penderita tersebut akan masih memerlukan histerektomi. Histerektomi adalah pengangkatan
uterus, yang umumnya merupakan tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilaksanakan per
abdominam atau per vaginam. Yang akhir ini jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil
dari telor angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan
mempermudah prosedur pembedahan. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan
mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supravaginal hanya dilakukan
apabila terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus keseluruhannya.
b. Radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita mengalami
menopause. Radioterapi ini umumnya hanya dikerjakan kalau terdapat kontra indikasi untuk
tindakan operatif. Akhir-akhir ini kontra indikasi tersebut makin berkurang. Radioterapi
hendaknya hanya dikerjakan apabila tidak ada keganasan pada uterus.

Oleh: dr. I Gusti Agung Ngurah Agung Sentosa, S.Ked