Anda di halaman 1dari 2

Resistensi Kejaksaan

Oleh : Dinoroy Aritonang1

Menguatnya wacana pergantian Jaksa Agung ternyata mengundang reaksi dari


sejumlah kalangan di internal Kejaksaan. Media masa mencatat bahwa sekitar 8479 orang
jaksa yang tergabung dalam Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) menolak penggantian Jaksa
Agung Hendarman Supandji dari kalangan non karir. Aksi tersebut pun dianggap sebagai
bentuk pembangkangan dan penyanderaan terhadap kewenangan yang dimiliki Presiden.
(Media Indonesia, 18/09)
Kedudukan Jaksa Agung
Perihal Kedudukan Jaksa Agung telah diatur secara khusus dalam Pasal 19 ayat (1) dan
(2) Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Kedua ayat tersebut menyatakan
bahwa Jaksa Agung merupakan pejabat negara yang keberadaannya diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden. Dari Pasal ini dapat ditafsirkan latar belakang seorang Jaksa
Agung tidak harus berasal dari jaksa karir. Yang menjadi dasar utama dalam pengusulan dan
pengangkatannya adalah bahwa Presiden menganggap calon yang akan diangkat dinilai
mampu dan berkompeten untuk memimpin institusi tersebut.
Kedudukan Jaksa Agung berbeda dengan Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Perbedaan
tersebut terletak pada hakikat jabatan dan syarat pengangkatannya. Jabatan Kapolri
merupakan jabatan karir sehingga wajar jika keberadaannya tidak termasuk dalam kabinet
tetapi sebagai pimpinan institusi publik biasa seperti institusi publik lainnya dibawah
Presiden. Oleh karena itu, dalam Pasal 11 ayat (6) Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia dinyatakan bahwa Calon Kapolri adalah Perwira
Tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang masih aktif dengan memperhatikan
jenjang kepangkatan dan karier.
Wewenang Pembinaan Presiden
Pengangkatan seorang Jaksa Agung merupakan hak mutlak (prerogatif) yang dimiliki
oleh Presiden, sehingga sepatutnya setiap pihak baik eksternal maupun internal kejaksaan
wajib menghormati kewenangan tersebut. Sebagai pimpinan eksekutif tertinggi atau kepala
pemerintahan Presiden mempunyai kewenangan untuk menata institusi yang berada di bawah
kewenanganya termasuk Kejaksaan. Sebab jaksa karier merupakan pejabat fungsional yang
berstatus sebagai PNS yang tunduk pada Undang-undang tentang Pokok-pokok
Kepegawaian.
Kedudukan Presiden dalam hal penataan ini diatur secara tegas dalam Undang-undang
Pokok Kepegawaian sebagai Pembina Pegawai Negeri Sipil tertinggi. Fungsi dan ruang
lingkup pembinaan tersebut bukan hanya sebatas pada penggantian pucuk pimpinan tertinggi
institusi kejaksaan tetapi juga sampai internal kelembagaan dan sumber daya manusia dalam
institusi tersebut secara keseluruhan. Dengan kata lain, Presiden mempunyai kewenangan
mutlak dan tanggung jawab untuk memastikan institusi kejaksaan bekerja sesuai dengan asas-
asas penyelenggaraan negara yang baik.
Pilihan Pro-Rakyat
Pilihan Presiden untuk mempertimbangkan Jaksa Agung dari kalangan non karier
sebenarnya tidaklah istimewa. Sebab hal tersebut sudah pernah dilakukan pada era-era
sebelumnya. Yang menjadi istimewa adalah resistensi yang ditunjukkan oleh PJI. Hal ini
malah menunjukkan dengan jelas bahwa institusi kejaksaan belum siap atau tidak
menghendaki adanya perubahan. Hal ini patut disayangkan mengingat institusi ini adalah
milik rakyat sepenuhnya.
1
Pengajar pada STIA LAN Bandung, sedang menempuh kuliah pada Program Pascasarjana
FH UGM, email: dinoroy_aritonang@yahoo.com, tulisan ini hanya opini pribadi.
Ada beberapa alasan mendasar untuk mengangkat seorang jaksa agung dari kalangan
non karier. Pertama, secara yuridis hal tersebut tidak dilarang, sehingga Presiden bebas dan
untuk mengusulkan calon Jaksa Agung dari kalangan non karier. Bahkan undang-undang
kejaksaan sendiri tidak mengatur mekanisme fit and proper test di DPR terhadap
pengangkatan tersebut. Sehingga Presiden sebenarnya dapat langsung mengangkat seorang
calon menjadi jaksa agung.
Kedua, institusi ini belum berhasil memperbaiki image buruk selama ini. Perbaikan
yang dilakukan tidak mampu menutupi kasus-kasus lain yang membelit institusi kejaksaan.
Dari segi moral, Presiden mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki institusi
dibawahnya secara langsung, salah satu yang cukup efektif adalah menempatkan orang dari
luar sistem sebagai pucuk pimpinan.
Ketiga, secara politik, Presiden mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan
program pemberantasan korupsi sebagai agenda terdepan dalam kinerja pemerintahannya.
Hal ini menjadi salah satu poin terlemah pemerintahan SBY dalam mendongkrak kinerjanya
di mata rakyat. Keempat, secara sosiologis, sebagian besar dari 200 juta rakyat Indonesia
akan di belakang SBY untuk mendukung pengangkatan jaksa agung dari kalangan non karier,
dibandingkan 8479 anggota PJI yang menolak hal tersebut.
Oleh sebab itu, dengan mempertimbangkan alasan-alasan tersebut pilihan SBY akan
pengangkatan jaksa agung non karier adalah pilihan yang pro-rakyat. Desakan yang
disampaikan PJI kepada Presiden SBY adalah hal biasa dalam sebuah institisi publik, sebab
keberadaan sistem dan status quo yang ada didalamnya dapat terancam. Aksi tersebut hanya
perlu dianggap sebagai bentuk resistensi kejaksaan terhadap perubahan. *****