Anda di halaman 1dari 9

c   

   c  c
 

 




 !
"#$%
&'('')










 
 
c c  
*  c +   
+    % 
''
   c 
,Y c#-.

Pada umumnya dipandang dari manfaat yang didapat, tumbuhan dibagi


menjadi dua yaitu, tanaman yaitu tumbuhan yang menguntungkan dan
dibudidayakan dan tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan
disebut tanaman yaitu tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja
untuk ditanam karena mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan
tumbuhan yang merugikan adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki
keberadaannya. Dalam kegiatan budidaya atau dalam ilmu pertanian, tumbuhan
tersebut sering disebut dengan gulma (weed). Pengertian gulma yang lain adalah
tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya secara pasti sehingga kebanyakan
orang juga menganggap bahwa gulma mempunyai nilai negatif yang lebih besar
daripada nilai ekonomisnya. Sehingga gulma tersebut harus dimusnahkan dari,
agar tidak menimbulkan kerugian ± kerugian yang lainnya, yang nantinya dapat
mengganggu kegiatan pertanian. Baik secara teknis, produksi, maupun secara
ekonomis.

Menurut wikipedia, (Wikipedia, 2010) gulma adalah tumbuhan yang


kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil
yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan
plastis. ? , karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian.
Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman
produksi melalui kompetisi. , karena batasan ini tidak mengikat suatu
spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma.
Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak
mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur
jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya
merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan
dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang. Ilmu yang
mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu
gulma.
Kehadiran gulma sendiri secara langsung dapat mempengaruhi produksi
tanaman, baik secara kualitas maupun kuantitas, kemudian juga dapat
menghambat praktek budidaya pertanian. seperti dengan adanya gulma kualitas
akan menurun, karena biji gulma tersebut tercampur pada saat pengolahan tanah.
kemudian kuantitas juga akan menurun, karena terjadi kompetisi dalam sarana
tumbuh ( hara, air, udara, cahaya, ruang gerak ) dalam jumlah terbatas,
tergantung dari varietas, kesuburan, jenis, kerapatan, dan lamanya tumbuh. Hal
inilah yang kemudian menimbulkan gagasan petani untuk mengendalikan gulma.
Dengan tujuan untuk meningkatkan atau mempertahankan produktifitas tanaman.

Kerusakan tanaman atau penurunan produksi pertanian akibat gulma pada


umumnya memiliki korelasi yang searah dengan populasi gulma itu sendiri.
Dalam hal ini faktor yang paling nampak adalah perebutan penguasaan sarana
tumbuh, ruang gerak dan nutrisi antara tanaman dan gulma. Untuk itu
pengendalian gulma penting dilakukan dalam penyelamatan produksi tanaman.
Sebab, sebagian besar gulma mampu berkembang dengan cepat dan
mendominasi lahan. Apabila penguasaan sarana tumbuh dimenangkan oleh
gulma, maka pada umumnya tanaman akan mengalami gangguan fisiologis yang
berakibat pada penurunan produksi atau bahkan kematian tanaman itu sendiri.
Kematian tersebuat selain karena kesulitan mendapatkan nutrisi, ada jenis gulma
tertentu yang mampu mengeluarkan enzim akar yang mampu merusak atau
meracuni tanaman. Kerusakan yang ditimbulkan gulma akan menentukan apakah
gulma tersebut merupakan gulma penting atau bukan. Kerusakan tersebut
umumnya memiliki hubungan dengan ambang ekonomi pertanian yang dapat
berbeda pada setiap tanaman berdasarkan nilai ekonominya.

Analisis vegetasi digunakan unutk mengetahui gulma ± gulma yang


memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup.
Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma
tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran
penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya
gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak.
%,Y /

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui populasi gulma dalam


satuan luas secara kuantitatif. Kemudian melatih keterampilan mahasiswa dalam
mengidentifikasi populasi gulma secara kuantitatif. Lalu untuk mengetahui
populasi gulma secara kuantitaif yang mendominasi pada pertanaman tertentu
dalam hal ini adalah pada lahan persawahan yang sudah tidak diolah.


c %   
 

,Y "- 

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah buku
dan alat tulis, kuadran dari kayu yang berbentuk bujur sangkar dengan panjang
dan lebar 40 cm x 40 cm, alat pemotong, dan lahan yang akan diamati.

%,Y
"

Alat yang telah dibawa disiapkan, kemudian kuadran yang telah dibawa
dilemparkan pada lahan yang akan diamati dengan acakan posisi yang tidak
subyektif. Gulma yang masuk ke dalam kuadran dipotong dan diambil tajuk
bagian atas permukaan tanah. Gulma yang telah diambil kemudian diidentifikasi
spesies dan familinya lalu dihitung jumlah perspesiesnya. Data hasil penghitungan
gulma secara kuantitatif kemudian dicatat dalam tabel dan diambil sebagai data
pertama.kemudian dilakukan pengulangan lemparan yang kedua dengan tempat
pelemparan yang berbeda, data diambil sebagai pengulangan ke dua. Kemudian
setelah diidentifikasi, maka gulma dioven agar diperoleh data bobot kering gulma.


  
%  + 
,Y 
Tabel jumlah dan bobot kering gulma
%,Y - 

Gulma ± gulma tertentu cenderung memiliki kemampuan yang sangat baik


dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Hal ini memiliki hubungan
yang erat dengan jenis gulma dimana gulma jenis tertentu mampu bekembang
biak dengan cepat, misal selain dengan biji, ia juga dat berkembang dengan
rimpang, lalu bijinya yang ringan dan kebutuhan nutrisi yang toleran serta
pertumbuhan yang cepat. Kemampuan gulma tersebut secara alami dapat
membuatnya mampu mendominasi suatu lahan dalam penyebaran yang rata
maupun acak.

Berdasarkan data, dapat terlihat dengan jelas spesies gulma „



 mendominasi dengan jumlah spesies 33,8% dari total. Kemudian 25,3%
dari total jumlah gulma didominasi oleh 

  
   Sedangkan
spesies lainnya dapat dikatakan memiliki jumlah yang relatif teratur pada setiap
pengulangan. Kemudian berdasarkan bobot kering dari gulma, pada data tercatat


  
   mendominasi 26,7% dari bobot total, kemudian „

 yang memiliki bobot kering 16,6% dari bobot total, lalu 
  
  yang mendominasi 10.5% dari bobot total dan   
mendominasi 8,5% dari bobot total.

Berdasarkan informasi diatas, jumlah spesies tidak selalu berbanding lurus


dengan bobot kering. Hal ini disebabkan karena bobot kering merupakan bobot
tanaman setelah kadar air sangat rendah. Sehingga ada jenis gulma tertentu yang
perbandingan bobot basah dan bobot keringnya sangat signifikan menurun.
Keadaan ini bisa terjadi pada gulma-gulma yang memiliki perawakan herba,
dimana sebagian besar tubuh tanaman adalah air. Sehingga ketika dikeringkan,
secara otomatis bobot akan menurun. Demikian juga sebaliknya dengan gulma-
gulma berkayu, yang bobot kering tidak akan berubah terlalu banyak dari bobot
basahnya.
Selain itu, ukuran perawakan gulma juga sangat berpengaruh pada
perbandingan jumlah gulma dan bobot kering gulma. Dalam hal ini selain faktor
genetik gulma yang mempengaruhi, umur gulma juga sangat menentukan. Sebab,
dalam pengamatan yang dilakukan, tidak ada batasan ukuran gulma untuk dapat
dihitung sebagai satu spesies. Kemudian gulma yang terpotong juga dihitung
jumlah potongannya sebai satu spesies. Dalam hal ini kesalahan praktikan juga
dapat menimbulkan kesalahan data.

Secara umum, berdasarkan data yang diperoleh, spesies gulma „



 

  
   
     dan   
mrupakn spesies-spesies gulma yang mendominasi lahan yang menjadi tempat
pengambilan contoh. Dalam hal ini, lahan yang menjadi tempat pengambilan
contoh adalah lahan sawah yang sudah tidak dibudidaya. Maka bukan hal yang
aneh apabila gulma-gulma diatas mendominasi, sebab keempatnya merupakan
gulma yang umumnya tumbuh pada awal-awal suksesi, dimana gulma-gulma
diatas merupakan golongan gulma yang tahan terhadap kekurangan nutrisi. Selain
itu, 

  
  , dan    memiliki pola penyebaran
yang luas dan tingkat perkembangan yang cepat. Begitu juga dengan „

 dan 
    

Dominasi sarana tumbuh oleg gulma pada tingkat parah dapat


dikendalikan dengan herbisida. Menurut (Yakup, 2002) penggunaan herbisida
dalam pengendalian gulma, herbisida merupakan alat yang canggih dalam
pengendalian gulma, serta memberikan keuntungan lebih dalam pemakaiannya.
Adapun keuntungan yang diberikan oleh herbisida adalah sebagai berikut : dapat
mengendalikan gulma sebelum mengganggu, dapat mengendalikan gulma
dilarikkan tanaman, dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman, lebih efektif
membunuh gulma tahunan dan semak belukar, dalam dosis rendah dapat sebagai
hormon tumbuh, dan dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan
perlakuan penyiangan biasa.
 +
 c 

Setelah melalukan percobaan diatas, dapat dilihat bahwa gulma „



 

  
   dan    merupakan gulma yang
paling banyak mendominasi lahan dengan nilai persentasi jumlah berturut-turut
33,8%, 25,3%, 3, dan 5,2. Kemudian berdasarkan bobot kering dari gulma,


  
   mendominasi 26,7% dari bobot total, kemudian „

 yang memiliki bobot kering 16,6% dari bobot total, lalu 
  
  yang mendominasi 10.5% dari bobot total dan   
mendominasi 8,5% dari bobot total. Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa
gulma-gulma tersebut merupakan gulma yang dominan tumbuh pada areal
persawahan yang sudah tidak dibudidaya.
*  +  

*anonim]. 2009.         .


http://riskaiskandar.blogspot.com/2009/02/analisis-vegetasi-gulma-
kuantitatif.html (diakses 15 Oktober 2010).

Wikipedia. 2010.   . http://id.wikipedia.org/wiki/gulma (diakses 14 Oktober


2010.

Yakup, Sukman Y. 2002.     ?     Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada.