Anda di halaman 1dari 15

A.

PANDANGAN TENTANG SIFAT MANUSIA


Behaviorisme adalah suatu pandanagn ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil
dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang
dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang
mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai olh sikap membatasi metode-
metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati.
Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu
tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-
kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan
ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu
dipelajari.meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya
merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan faktor-faktor genetik, para
behavioris memasukkan pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku.
Pandangan para behavioris tentang manusia seringkali didistorsi oleh penguraian yang
terlampau menyederhanakan tentang individu sebagai bidak nasib yang tak
berdayayang semata-mata ditentukan oleh oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dan
keturunan dan dikerdilkan menjadi sekedar organismepemberi respons terapi tingkah
laku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministic dan
mekanistik, yang menyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Hanya ’’para
behavioris yang radikal’’ yang menyingkirkan kemungkinan menentukan diri dari
individu.
Nye (1975), dalam pembahasannya tentang ‘’’behaviorisme radikal’’-nya B. F
Skinner, menyebutkan bahwa para behavioris radikal menekankan manusia sebagai
dikendalikan oleh kondisi-kondisi lingkungan. Pendirian deterministic mereka yang
kuat berkaitan erat dengan komitmen terhadap pencarian pola-pola tingkah laku yang
dapat diamati. Mereka menjabarkan melalui rincian spesifik berbagai faktor yang
dapat diamati yang mempengaruhi belajar serta membuat argument bahwa manusia
dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan eksternal.
Pandangan ‘’’Behaviorisme radikal’’ tidak memberi tempat kepada asumsi yang
menyebutkan bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan.
Filsafat behavioristik radikal menolak konsep tentang individu sebagai agen bebas
yang membentuk nasibnya sendiri. Situasi-situasi dalam dunia objektif masa lampau
dan hari ini menentukan tingkah laku. Lingkungan adalah pembentuk utama
keberadaan manusia.
John Watson, pendiri behaviorisme, adalah seorang behavioris radikal yang
pernah menyatakan bahwa ia bisa mengambil sejumlah bayi yang sehat dan
menjadikan bayi-bayi itu apa saja yang diinginkannya – dokter, ahli hukum, seniman,
perampok, pencopet – melalui bentukan lingkungan. Jadi, Watson menyingkirkan dari
psikologi konsep-konsep seperti kesadarn, determinasi diri, dan berbagai fenomena
subjektif lainnya. Ia mendirikan suatu psikologi tentnag kondisi-kondisi tingkah laku
yang dapat diamati. Marquis (1974) menyatakan bahwa terapi tingkah laku itu mirip
keahlian teknik dalam arti ia menerapkan informasi-informasi ilmiah guna
menemukan pemecahan-pemecahan teknis atas masalah-masalah manusia. Jadi,
behaviorisme berfokus pada bagaimana orang-orang belajar dan kondisi apa saja yang
mentukan tingkah laku mereka.

Ciri-ciri terapi tingkah laku


Terapi tingkah laku, berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya,
ditandai oleh:
 Pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik.
 Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment
 Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah
 Penaksiran objektif ata hasil-hasil terapi.
Terapi tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga
tidak berakar pada suatu teopri yang dikembangkan dengan baik. Sekalipun memiliki
banyak teknik, terapi tingkah laku hanya memiliki sedikit konsep. Ia adalah suatu
pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen, dan menerapkan
metode eksperimental pada proses terapeutik. Pertanyaan terapis boleh jadi ‘’’tingkah
laku spesifik apa yang oleh individu ini ingin dirubah, dan tingkah laku baru yang
bagaimana yang inign dipelajarinya?’’ Kekhususan ini membutuhkan suatu
pengamatan tingkah laku yang cermat atas tingkah laku klien. Penjabaran-penjabaran
yang kabur dan umu tidak bisa diterima; tingkah laku yang oleh klien diinginkan
berubah, dispesifikasi. Yang juga penting adalah bahwa kondisi-kondisi yang menjadi
penyebab timbulnya tingkah laku masalah diidentifikasi sehingga kondisi-kondisi
baru bisa diciptakan guna memodifikasi tingkah laku. Urusan terapeutik utama adalah
mengisolasi tingkah laku masalah, dan kemudian menciptakan cara-cara untuk
mengubahnya.
Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh
tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptive, serta memperkuat dan
mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Pernyataan yang tepat tentang tujuan-
tujuan treatment dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang bersifat umum tentang
tujuan ditolak. Klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-
jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya. Setelah mengembangkan
pernyataan yang tepat tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-
prosedur yang paling sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Berbagai teknik
tersedia, yang keefektifannya bervariasi dalam menangani masalah-masalah tertentu.
Misalnya teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk
mengembangkan kendali dorongan; orang yang mengalami hambatan dalam
menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaat dari latihan asertif;
pengulangan tingkah laku berguna untuk memperkuat tingkah laku yang baru
diperoleh; desentisisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia;
pencontohan yang digabungkan denagn penguatan positif tampak cocok bagi
perolehan tingkah laku social yang kompleks.
Karena tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas, tujuan-tujuan
treatment dirinci, dan metode-metode teraputik diterangkan, maka hasil-hasil terapi
menjadi bisa dievaluasi. Terapi tingkahlaku memasukkan criteria yang didefinisikan
dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku
menekankan evaluasi atas keefektivan teknik-teknik yang digunakan, maka evolusi
dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai
proses terapeutik.

B. KONSEP-KONSEPNYA
Dua aliran utama membentuk esensi metode-metode dan teknik-teknik
pendekatan-pendekatan terapi yang berlandaskan teori belajar: pengondisian klasik
dan pengondisian operan. Pengondisian klasik, atau disebut pengondisian responder,
berasal dari karya Pavlov. Pada dasarnya pengondisian klasik itu melibatkan sitimulus
tak berkondisi (UCS) yang secara otomatis membangkitkan respons berkondisi (CR),
yang sama dengan respons tak berkondisi (UCR) apabila diasosiasikan dengan
stimulus tak berkondisi. Jika UCS dipasangkan dengan suatu stimulus berkondisi
(CS), lambat laun CS mengarahkan kemunculan CR. Dalam contoh yang diper-
lihatkan Pada Gambar 7-1, UCS (makanan kucing) membangkitkan UCR,
pengeluaran air liur kucing. Pembukaan kaleng makanan dengan pembuka listrik
menjadi CS karma is dipasangkan dengan makanan dan membangkitkan CR,
pengeluaran air liur kucing.
UCS UCR
(makanan kucing) (pengeluaran air liur kucing)

CS CR
(menjalankan (pengeluaran air liur kucing)
pembuka kaleng
listrik)
Rancangan pengondisian klasik

Baik karya Salter maupun karya Wolpe sebagian besar berasal dan model
pengondisian klasik. Teknik-teknik yang spesifik seperti desensitisasi sistematik dan
terapi aversi berlandaskan pengondisian klasik. Teknik-teknik tersebut akin
dijabarkan dalam pem-bahasan tenting penerapan teknik-teknik dan prosedur-
prosedur.
Pengondisian operan, satu aliran mama lainnya dari pendekatan terapi yang
berlandaskan teori belajar, melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas
pemunculan tingkah lakunya (yang diharapkan) pada saat tingkah lake itu inuncul.
Pengondisian operan ini dikenal juga dengan sebutan pengondisian instrumental
karena memperlihatkan bahwa tingkah laku instrumental bisa dimunculkan oleh
organisms yang aktif sebelum perkuatan diberikan untuk tingkah laku tersebut.
Skinner, yang dianggap sebagai pencetus gagasan pengondisian operan, telah
mengembangkan prinsip-prinsip perkuatan yang digunakan pada upaya memperoleh
pola-pola tingkah laku tertentu yang dipelajari. Dalani pengondisian operan,
pemberian perkuatan positif bisa memperkuat tingkah laku, sedangkan pemberian
perkuatan negatif bisa memperlemah tingkah laku. Tingkah lake berkondisi muncul di
lingkungan clan instrumental bagi perolehan ganjaran.
Banyak teknik dan prosedur modifikasi tingkah laku yang berasal dari model
pengondisian operan. Contoh-contoh prosedur yang spesifik yang berasal dari
pengondisian operan adalah perkuatan positif, penghapusan, hukuman, pencontohan,
dan penggunaan token economy. Teknik-teknik terapeutik tersebut akan diungkap
lebih lanjut pada bagian lain dari bab ini.
C. TEKNIK-TEKNIK PSIKOTERAPI
1. Desentisasi Sistematik

Desentisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang


diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons
yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desentisasi
diarahkan pada mengajar klien uintuk menampilkan suatu respons yang tidak
konsisten dengan kecemasan.

Wolpe (1958, 1969), pengembang teknik desentisasi, mengajukan argumen


bahwa segenap tingkah laku neurotik adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa
respons kecemasan bisa dihapus oleh penemuan respons-respons yang secara inheren
berlawanan dengan respons tersebut. Dengan pengondisian klasik, kekuatan stimulus
penghasil kecemasan bisa dilemahkan, dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan
dihapus melalui penggantian stimulus.

Desentisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih


untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman
pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Situasi-situasi
dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam kepada yang
sangat mengancam. Kemudian tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan
dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil keadaan
santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respons
kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini, Wolpe ttelah mengembangkan suatu
respons, yakni relaksasi, yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan yang
secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam.

Prosedur pengondisian balik ini adalah sebagai berikut:

1) Disentisasi sistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas


stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah
tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia.
Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan-kecemasan
klien dalam wilayah tertentu. Terapis menyusun suatu daftar bertingkat
mengenai situasi-situasi yang kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan
atau penghindaran. Tingkatan dirancang dalam urutan dari situasi yang paling
buruk yang bisa dibayangkan oleh klien ke situasi yang membangkitkan
kecemasan dengan taraf paling rendah.

2) Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi


yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot-otot yang
berbeda sampai tercapai suatu keadaan santai penuh. Sebelum latihan relaksasi
dimulai, klien diberi tahu tentang cara relaksasi yang digunakan dalam
desentisasi, cara menggunakan relaksasi itu dalam kehidupan sehari-hari, dan
cara mengendurkan bagian-bagian tubuh tertentu.

Pemikiran dan pembayangan situasi-situasi yang membuat santai seperti


duduk di pinggir danau atau berjalan di taman yang indah juga sering
digunakan. Hal yang penting adalah bahwa klien mencapai keadaan tenang
dan damai. Klien diajari bagaimana mengendurkan segenap otot dan tubuh
dengan titik berat pada otot-otot wajah. Otot-otot tangan dikendurkan terlebih
dahulu diikuti oleh kepala kemudian leher dan pundak, punggung, perut dan
dada, kemudian anggota-anggota tubuh bagian bawah. Klien diminta untuk
mempraktekkan relaksasi di luar pertemuan terapeutik, sekitar 30 menit
lamanya setiap hari. Apabila klien sudah bisa belajar untuk santai dengan
cepat, maka prosedur disentisasi bisa dimulai.

3) Proses desensitisasi melibatkan keadaan di mana klien sepenuhnya santai


dengan mata tertutup. Terapis menceritakan serangkaian situasi dan
memintaklien untuk membayangkan dirinya dalam situasi yang diceritakan
oleh terapis. Situasi yang netral diungkapkan, selanjutnya klien diminta untuk
membayangkan dirinya dalam situasi tersebut. Jika klien mampu tetap santai,
maka dia diminta membayangkan situasi yang membangkitkan kecemasan
dengan taraf paling rendah. Terapis bergerak mengungkapkan situasi-situasi
secara bertingkat sampai klien menunjukan bahwa dia mengalami kecemasan
dan pada saat itulah pengungkapan situasi diakhiri. Kemudian relaksasi
dimulai lagi dan klien kembali membayangkan dirinya berada disituasi yang
diungkapkan terapis. Treatment dianggap selesai bila klien mampu tetap santai
ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan
menghasilkan kecemasan.

Desensitisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif pada berbagai situasi


penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian,
ketakutan-ketakutan yang di generalisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta
impotensi dan frigiditas seksual.

Tiga penyebab kegagalan dalam pelaksanaan terapi ini, yaitu : (1) kesulitan
dalam relaksasi, berupa kesulitan dalam komunikasi antara terapis dan klien atau pada
hambatan yang ekstrim yang dialami klien; (2) tingkatan-tingkatan yang
menyesatkan, yang ada kemungkinan melibatkan penanganan tingkatan yang keliru,
dan (3) ketidakmampuan dalam membayangkan.

2. Terapi Implosif dan Pembanjiran

Teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus yang berkondisi secara


berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Teknik ini tidak menggunakan agen
pengondisian balik maupun tingkat kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-
stimulus kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha
mempertahankan kecemasan klien.

Stampfl mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik


pembanjiran atau biasa disebut dengan terapi implosive. Seperti halnya dengan
desensitisasi sistematik, terapi implosive berasumsi bahwa tingkah laku neurotic
melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan.
Terapi implosive berbeda dengan terapi desentisisasi sistematik dalam usaha terapis
unttuk menghadirkan luapan emosi yang massif. Di sini klien diarahkan untuk
membayangkan situasi-situasi atau stimulus–stimulus yang mengancam, yakni dengan
cara berulang-ulang yang dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuesi-
konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul. Stimulus-stimulus yang
mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasan dan penghindaran neurotik
pun menjadi terhapus. Adapun prosedur-prosedur penanganan klien menurut Stampfl
yakni mencakup: 1) pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala, 2)
menaksirkan bagaimana gejala-gejala tersebur berkaitan dengan pembentukan tingkah
laku klien, 3) meminta pada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang
sudah dijabarkannya tanpa disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya.
4) bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami oleh klien
dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dia hindari, 5)
mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak muncul lagi dalam
diri klien.

3. Latihan Asertif

Latihan Asertif yakni suatu latihan yang dapat diterapkan terutama pada
situasi-situaasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima
kenyataan dalam menyatakan atau menegaskan diri sebagai suatu tindakan yang layak
atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang: 1) tidak mampu
mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, 2) menunjukkan kesopanan
yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, 3) memiliki
kesulitan untuk mengatakan tidak, 4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan
afeksi dan respon-respon positif lainnya, 5) merasa tidak punya hak untuk memiliki
perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Prosedur-prosedur yang digunakan dalam latihan asertif ini yakni
menggunakan prosedur-prosedur permainan peran, yakni suatu masalah yang khas
yang biasa dikemukakan oleh klien dalam menghadapi kesulitannya.
Menurut Shaffer dan Galinsky menerangkan bagaimana kelompok-kelompok
latihan asertif atau latihan ekspresif dibentuk dan berfungsi. Kelompok terdiri dari 8-
10 anggota yang memiliki latar belakang yang sama dan session terapi selama 2 jam.
Terapis bertindak sebagai penyelenggara dan pengarah permainan peran, pelatih,
pemberi perkuatan, dan sebagai model peran. Dalam diskusi-diskusi kelompok terapis
bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbingan dalam situasi-situasi
permainan peran dan meemberikan umpan balik kepada para anggota.
Seperti kelompok-kelompok terapi tingkah laku lainnya, kelompok terapi
asertif ini ditandai dengan struktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas session
berstruktur sebagi berikut:session pertama, yakni dimulai dengan pengenalan didaktik
tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan
respon-respon internal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurangtegasan
dan pada belajar peran tingkah laku baru yang asertif. Session kedua, yakni
memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing-masing anggota
menerangkan tingkah laku spesifik dalam situasi-situasi interpersonal yang
dirasakannnya menjadi masalah. Para anggota kemudian membuat perjanjian untuk
menjalankan tingkah dan laku menegasskan diri yang semula mereka hindari sebelum
memasuki session selanjutnya. Session ketiga, para anggota menerangkan tentang
tingkah laku yang menegaskan diri yang telah dicoba dan dijalankan dalam situasi-
situasi kehidupan nyata. Mereka berusaha mengevaluasi dan jika mereka belum
sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan peran.

4. Terapi Aversi
Teknik-teknik pengkondisian aversi yang, telah digunakan secara luas untuk
meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian
tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah
lake yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus-stimulus aversi
biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang
membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan pe-narikan pemerkuat positif atau
penggunaan berbagai bentuk hukuman. Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat
positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan
mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan sosial ditarik,
tingkah laku yang tidak diliarapkan cenderung berkurang frekuensinya. Contoh
penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik
kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.
Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling kontroversial yang
dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode
untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang diinginkan. Kondisi-kondisi
diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharalikan dari mereka dalam
rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagian besar lembaga sosial
menggunakan prosedur-prosedur aversif untuk mengendalikan para anggotanya clan
untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang telah digariskan:
gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan
dan penangguhan peinhayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda clan
hukuman penjara.
Kendali aversi acap kali menandai hubungan orang tua-anak. Kendali-kendali
bisa bekerja secara langsung dan disadari, dan bisa pula secara tidak langsung dan
terselubung. Baik anak maupun orang tua bisa dikendalikan oleh-apa yang, terjadi
dalam situasisituasi tertentu, dan boleti jadi situasi-situasi itu tidak bisa dijelaskan.
Seorang anak diberi hak istiniewajikadia menyelaraskan diri dengan bertingkah laku
sebagaimana yang diharapkan, dan sebaliknya. Anak pun belajar menggunakan
kendali aversif terhadap orang tuanya. Dia belajar bahwa orang tuanya memiliki suatu
taraf toleransi terhadap tangisan, teriakan, permintaan, dan rengekan anak, Berta
belajar bahwa pada akhirnya orang tuanya itu akan memenuhi permintaannya.
Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif Bering
digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif, mencakup
minum alkohol secara berlebihan, kebergantungan pada obat bius, merokok, obsesi-
obsesi. kompulsi- kompulsi, fetisisme, berjudi, homoseksualitas, clan penyimpangan
seksual seperti pedofilia. Teknik ini merupakan metode yang utania dalam
penanganan alkoholisme. Seorang alkoholik ticlak dipaksa untuk menjauhkan diri dari
alkohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol
disertai pemberian ramuan yang membuat si alkoholik merasa mual, clan kemudian
muntah. Si alkoholik lambat lawn akan merasa sakit bahkan meskipun hanya rneliliat
botol alkohol. Pengetahuan ten-tang pengaruh-pengaruh buruk dari alkohol cenderung
menghambat alkoholisme, tetapi terdapat kemungkinan bahwa alkoholik kembali
kepada kebiasaan semula setelah periode penahanan diri yang singkat. Selain pada,
penanganan alkoholisme, prosedur-prosedur aversi telah digunakan secara berhasil
pada penanganan penyimpangan-penyimpangan seksual dengan mengasosiasikan
stimulus yang menyakitkan dengan objek atau tindakan seksual yang tidak layak.
Butir yang penting adalah bahwa maksud prosedur-prosedur aversif ialah
menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptif dalam suatu periode
sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternatif yang adaptif
dan yang akan terbukti nemperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang
populer adalah bahwa teknik-teknik yang berlandaskan hukuman merupakan
perangkat yang paling penting bagi para terapis tingkah laku. hukurnan jangan wring
digunakan meskipun mungkin para, klien sendiri menginginkan penghapusan tingkah
laku yang, tak diinginkannya melalui penggunaan hukuman. Apabila cara-cara yang
merupakan alternatif bagi hukuman tersedia, maka hukuman jangan digunakan. Cara-
cara yang positif yang mengarahkan kepada tingkah laku yang barn clan lebih layak
harus dicari dan digunakan sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat-pemerkuat
negatif. Acap kali tingkah laku bisa diubah hanya dengan menggunakan perkuatan
positif yang mengurangi kemungkinan terbentuknya efek-efek samping yang merusak
dari hukuman. Di samping itu, jika hukuman digunakan, bentuk-bentuk tingkah laku
adaptif yang merupakan alternatif perlu secara jelas dan secara spesifik digambarkan
serta hukuman harus digunakan dengan cara-cara yang tidak mengakibatkan klien
merasa ditolak sebagai pribadi. Yang juga penting adalah k lien dibantu agar ia
mengetahui bahwa konsekuensi-konsekunsi aversif diasosiasikan hanya dengan
tingkah laku maladaptif yang spesifik.
Skinner (1948, 1971) adalah salah seorang tokoh yang terang-terangan
menentang penggunaan hukuman sebagai cara untuk mengendalikan hubungan-
hubungan manusia ataupun untuk mencapai maksud-maksud tembaga4ernbaga
masyarakat. Menurut Skinner, perkuatan positif jauh lebih efektif dalam
mengendalikan tingkah laku karena hasil-hasilnya lebih bisa diramalkan serta ke-
mungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diinginkan akan lebih kecil. Skinner
(1948) berpendapat bahwa hukuman adalah sesuatu yang buruk yang, meskipun bisa
menekan tingkah laku yang diinginkan, tidak melemahkan kecenderungan untuk me-
respons bahkan kalaupun ia untuk sementara menekan tingkah laku tertentu.. Akibat-
akibat yang tidak diinginkan, menurut Skinner, berkaitan dengan penggunaan
pengendalian aversif maupun penggunaan hukuman.
Apabila hukuman digunakan, maka terdapat kemungkinan terbentuknya efek-
efek sarnping emosional tambahan seperti: (1) tingkah laku yang tidak diinginkan
yang dihukum boleh jadi akan ditekan hanya apabila penghukum hadir, (2) jika tidak
ada tingkah laku yang menjadi alternatif bagi tingkah laku yang dihukum, maka
individu ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan, (3) pengaruh hukuman
boleti jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan dengan tingkah
lake yang dihukum. Jadi, seorang anak yang dihukum karena karena kegagalannya di
sekolah boleh jadi akan membenci semua pelajaran. sekolah, semua guru, dan
barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya.

5. Pengondisian operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi cirri
organisme yang aktif. la adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk
menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang
paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berarti dalam
kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan
dengan alat-alat makan, bermain, dan sebagainya. Menurut Skinner (1971), jika suatu
tingkah laku diganjar, maka, probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut
di masa mendatang akin tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan,
pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari
pengondisian operan. Berikut ini uraian ringkas dari metode-metode pengondisian
operan yang mencakup perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten,
penghapusan, pencontohan, dan token economy.

6. Perkuatan positif
Pembentukan suatu pota tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau
perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang
ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun
sekunder, diberikan untuk rentang tingkah laku yang lugs. Pemerkuat-pemerkuat
primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah
makanan dan tidur atau istirahat. Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan
kebutuhan-kebutuhan psikologis dan social, memiliki nilai karena berasosiasi dengan
pemerkuat-pemerkuat primer. Contoh-contoh pemerkuat sekunder yang bisa menjadi
alat yang ampuh untuk membentuk tingkah laku yang diharapkan antara lain adalah
senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali atau tanda penghargaan,
uang, dan hadiah-hadiah. Penerapan pemberian perkuatan positif pada, psikoterapi
membutuhkan spesifikasi tingkah laku yang diharapkan, penemuan tentang apa agen
yang memperkuat bagi individu, dan penggunaan perkuatan positif secara sistematis
guna memunculkan tingkah laku yang diinginkan.

7. Pembentukan respons.
Dalam pembentukan respons, tingkah tingkah laku sekarang secara bertahap
diubah dengan memperkuat unsure-unsur kecil dari tingkah laku bare yang diinginkan
secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Pembentukan respons
berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam
perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses
pembentukan respons ini. Jadi, misalnya, jika seorang guru ingin membentuk tingkah
laku kooperatif sebagai ganti tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perliatian
dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkannya itu. Pada anak autistik yang
tingkah laku motorik, verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, terapis bisa
membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-
pemerkuat primer maupun sekunder.

8. Perkuatan intermiten.
Di samping membentuk, perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk
memelihara tingkah laku yang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai
pemerkuatpemerkuat, terapis harus memahami kondisi-kondisi umum di mana
perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal
yang penting. Perkuatan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul.
Sedangkan perkuatan intermiten diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang
spesifik. Tingkahlaku yang dikondisikan oleh perkuatan intermiten pada umumnya
lebih tahan terhadap penghapusan di-banding dengan tingkah laku yang dikondisikan
melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus.
Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada
tahap-tahap permulaan terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah
laku yang diinginkan. Jika mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah
tingkah laku yang diinginkan itu muncul. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan
belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku
yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian
perkuatan bisa dikurangi. seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil me
nyelesaikan soal-soal matematika, misalnya, memiliki kecenderungan yang lebih kuat
untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan opabila si anak
hanya diberi pujian sekali-sekali. Prinsip perkuatan intermiten bisa menerangkan,
mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi atau dalam memasang taruhan
pada pacuan kuda. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih
banyak kalah ketimbang menang.

9. Penghapusan
Apabila suatu respons terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons
tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku
yang, dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk
menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku
yang maladaptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh jadi berlangsung
lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan
intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa nenghentian
pemberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya, jika seorang anak
menunjukkan kebandelan di rumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa
menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak
tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar
belajar tingkah laku yang diinginkan.
Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik
utama dalam menghapus tingkah lake yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa
tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk
sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi. Contohnya, seorang anak yang telah
belajar bahwa dia dengan mengomel biasanya memperoleh apa yang diinginkan,
mungkin akan memperhebat omelannya ketika permintaannva tidak segera dipenuhi.
Jadi, kesabaran menghadapi periode peralihan amat diperlukan.

10. Pencontohan.
Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian
diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura (1969) menyatakan
bahwa segenap belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula
diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut
konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, keeakapankecakapan sosial tertentu bisa diperoleh
dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-
reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara
orang itu mengamati orang lain yang mendekati objekobjek atau situasi-situasi yang
ditakuti tanpa mengalami akibat-akibat yang menakutkan dengan tindakan yang
dilakukannya. Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model
yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti; dan orang-orang
pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang nienempati status
yang tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.

11. Token economy


Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku
apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak
memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat
dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tandatanda seperti kepingan logam)
yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.
Metode token economy amat mirip dengan yang dijumpai dalam kehidupan nyata di
mana, misainva, para pekerja dibayar untuk hasil pekerjaan mereka. -Penggunaan
tanda-tanda sebagai pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yang layak memiliki
beberapa keuntungan: (1) tanda-tanda tidak kehilangan nilai insentifnya, (2) tanda-
tanda bisa mengurangi penundaan yang ada di antara tingkah laku yang layak dengan
ganjarannya, (3) tanda-tanda bisa digunakan sebagai pengukur yang kongkret bagi
motivasi individu untuk niengubali tingkah laku tertentu, (4) tanda-tanda adalah
bentuk perkuatan yang positif, (5) individu memiliki kesempatan untuk memutuskan
bagaimana menggunakan tanda-tanda yang diperolehnya, dan (6) tanda-tanda
cenderung menjembatani kesenjangan yang sering muncul di antara lembaga dan
kehidupan sehari-hari.
Token economy, merupakan salah satu contoh dari perkuatan yang ekstrinsik,
yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraili "pemikat di Ujung
tongkat". ,Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi
motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan
akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara
tingkah laku yang baru.