Anda di halaman 1dari 37

Biologi

Reproduksi Manusia

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pelajaran Biologi


Tahun Pelajaran 2009/2010

Disusun oleh:
1. Iskandar Setiadi
2. Kevin Christianto
3. Mansell Mulyadi
4. Marshella
5. Narayan Coanapesy

SMA Ricci 1
Jakarta
Tahun 2010
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur atas penyertaan Tuhan Yang


Maha Kuasa karena atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan
pembuatan makalah ini.
Maksud dari pembuatan makalah ini menambah pengetahuan tentang
sistem reproduksi pada manusia, terutama agar kita lebih menghargai tubuh
kita baik jiwa dan raga. Walaupun begitu, harus diakui makalah sederhana ini
dibuat berdasarkan dari berbagai sumber yang didapatkan.
Tidak ada jalan yang lurus tanpa hambatan. Dalam pembuatan
makalah ini, terdapat beberapa kerikil kecil yang menghambat pembuatan
seperti kurangnya bahan-bahan dalam mengumpulkan evidensi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah
membantu penulis dalam pembuatan makalah ini. Orang-orang tersebut
ialah:
1. Bu Kusumawardani selaku guru Biologi yang telah memberikan
pengarahan kepada penulis.
2. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan kepada
penulis.
3. Orang-orang lainnya yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan makalah ini.
Niat baik kami dari pembuatan makalah ini semata-mata menambah
wawasan para pembaca, terutama dalam bidang yang kami bahas.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa makalah ini tidak terlepas dari
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dari para
pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, Februari 2010

Tim Penulis
REPRODUKSI MANUSIA

A. Pembukaan
Dalam kehidupan, untuk melestarikan spesies makhluk hidup perlu
dilakukan reproduksi dan adaptasi. Reproduksi sendiri dalam pengertian
sederhana dapat diartikan sebagai peristiwa terbentuknya individu baru dari
suatu spesies. Reproduksi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara
aseksual (vegetatif) dan seksual (generatif). Reproduksi aseksual
dikarenakan terbentuknya individu baru tanpa didahului dengan aktivitas alat
kelamin (seks) yang menghasilkan sel kelamin sehingga tidak ada kombinasi
genotif yang baru, sedangkan reproduksi seksual (generatif) adalah
terbentuknya individu baru dengan aktivitas bertemunya dua jenis sel kelamin
yang dihasilkan oleh alat kelamin sehingga terjadinya peleburan dua inti sel
yang menghasilkan kombinasi genotif yang baru.
Reproduksi adalah suatu keharusan untuk melanjutkan keturunan dan
mempertahankan kelangsungan suatu hidup. Tentunya sebagai manusia,
kita harus melakukan reproduksi untuk mempertahankan eksistensi
manusia. Oleh karena itu, kita harus mempelajari dan memahami sistem
reproduksi pada manusia beserta dampaknya sehingga kita dapat
mempertahankan kelanjutan keturunan kita. Selain itu, kita juga dapat
mencegah penyakit-penyakit yang dapat timbul diakibatkan oleh perilaku
seksual yang tidak sehat, sehingga dengan mempelajari materi ini,
diharapkan kita dapat memahami reproduksi pada manusia secara sehat.
B. Isi
B.1 Pengertian Reproduksi Manusia
Reproduksi pada manusia tergolong reproduksi secara seksual atau
generatif. Hubungan alat kelamin jantan dengan alat kelamin betina disebut
juga dengan koitus/kopulasi. Koitus merupakan suatu peristiwa fertilisasi
dengan masuknya alat kelamin luar pria yang berupa penis kedalam vagina
yang bertujuan untuk menyalurkan sperma kedalam alat kelamin wanita.
Fertilisasi merupakan suatu peristiwa peleburan antara sel sperma dengan
sel ovum yang berlangsung dalam tuba fallopi/oviduk dan akan menghasilkan
zigot.
Sperma dan ovum merupakan sel kelamin yang dibentuk oleh alat
kelamin jantan dan betina. Sel sperma dibentuk didalam testis melalui
peristiwa spermatogenesis dan sel telur (ovum) dibentuk dalam ovarium
melalui peristiwa Oogenesis. Untuk selengkapnya dibahas pada sub bab
selanjutnya.

B.2 Organ Reproduksi Pria


Organ reproduksi pria terletak didalam rongga perut bagian bawah
diantara gelang panggul. Bagian alat reproduksi manusia dapat dibagi
menjadi 3 yaitu alat kelamin, saluran kelamin, dan sel kelamin.

1. Kelenjar Kelamin
a. Testis
Testis atau gonad berbentuk bulat telur, berjumlah sepasang, dan
terbungkus oleh skrotum (kantong pelir). Testis berjumlah sepasang
(testes=jamak). Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri
dari serat jaringan ikat dan otot polos. Testis berfungsi menghasilkan sel
kelamin (sperma) sehingga bersifat sitogenik dan berfungsi menghasilkan
hormon kelamin (testosteron) yang memiliki sifat endokrinik. Hormon kelamin
tersebut memiliki nama testosteron yang berfungsi menumbuhkan dan
mempertahankan ciri-ciri seks sekunder pria.
Testis memilki pembuluh-pembuluh halus (tubulus semeniferus) dimana
didalam pembuluh ini akan dibentuk sel-sel sperma. Diantara tubulus-tubulus
terdapat sel interstitial Leydig yang mensekresi hormon testosteron.
Sedangkan nutrisi untuk sel sperma disuplai dari sel sertoli yang berada di
sekitar sperma di dalam tubulus semeniferus.

b. Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat menghasilkan cairan sperma berwarna putih dan bersifat
alkalis untuk menyeimbangkan keasaman vagina. Kelenjar prostrat
melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih.
Kelenjar prostrat menghasilkan getah yang mengandung kolestrol, garam,
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.

c. Kelenjar Bulbouretral/Cowper
Kelenjar bulbouretal/cowper bentuknya lebih kecil dari kelenjar prostat,
berjumlah sepasang dan terletak di sepanjang uretra. Cairan yang dihasilkan
berbentuk kental dan disekresi sebelum penis mengeluarkan semen (cairan
mani). Kelenjar ini salurannya langsung menuju uretra.

d. Vesica Seminalis (kantung sperma)


Vesica seminalis berjumlah sepasang, terletak di bawah kantung kemih.
Vesica seminalis menghasilkan 60% dari volume total semen. Cairan yang
disekresikan berbentuk kental, mengandung lendir, asam amino, dan
fruktosa. Cairan ini berfungsi memberi nutrisi sperma. Vesica juga
menghasilkan hormone prostaglandin yang berfungsi merangsang kontraksi
otot ejakulatorius pada uretra untuk mendorong semen keluar. Kelenjar ini
berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding kelenjar ini
menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.

2. Saluran Kelamin
a. Epididimis
Epididimis merupakan saluran pematangan dan penyimpangan
sementara sperma. Saluran ini sambungan dari tubulus semeniferus,
sehingga epididimis ini merupakan saluran yang keluar langsung dari testis.
Epididimis berupa saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari
testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri.

b. Vas deferens
Vas deferens merupakan saluran pengankut sperma yang merupakan
lanjutan dari epididmis dan dari sini sperma akan dibawa ke vesica seminalis.
Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di
kelenjar prostrat.

c. Vesica seminalis
Vesica seminalis merupakan kantung penyimpanan sperma sementara
sebelum diejakulasi melalui penis. Vesica seminalis juga penghasilsebagian
besar semen/cairan sperma.

d. Uretra
Uretra disebut saluran urogenital sebab berfungsi sebagai saluran
pengeluaran urine dan genital/ sel kelamin. Saluran ini bermuara di ujung
penis.
e. Penis
Penis merupakan organ kelamin luar dan juga merupakan saluran
terakhir. Semen ini melewati uretra dan dikeluarkan dari penis melalui
kopulasi. Sekali ejakulasi dapat melepaskan sperma sampai 300 juta.

3. Sel kelamin
Satu-satunya sel kelamin pria adalah sel sperma yang diproduksi di
dalam tubulus seminiferus di dalam testis.

B.3 Spermatogenesis
Sperma merupakan sel kelamin jantan yang dihasilakn melalui peristiwa
spermatogenesis yang berlangsung did alma testis khususnya di tubulus
semninferus . Pria usia 13 tahun mulai aktif kehidupan seksualnya yang
diawali dengan stimulasi hormone gonadotropin yang dihasilakn oleh hipofisis
anterior yang merangsang awal spermatogenesis.
Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel epithelium germinal
(spermatogonia) yanga aktif membelah secara mitosis dan sebagian akan
berdiferensiasi membentuk spermatosit primer yang masih berdifat diploid.
Selanjutnya dalam beberapa minggu setiap spermatosit primer membelah
secara Meiosis I ( reduksi) membentuk dua spermatosit sekunder yang
bersifat haploid. Setiap sel spermatosit selanjutnya mengalami pembelahan
meiosis II membentuk dua spermatid. Selanjutnya akan tumbuh membentuk
spermatozoa dengan melengkapi diri dengan ekor (flagellum). Proses
perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.
Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap spermatogenesis adalah
sebagai berikut :
- Testoteron yang disekresikan oleh sel leydig yang terdapat diantara
tubulus seminiferus, berfungsi untuk merangasang pembelahan sel-
sel germinal untuk membentuk sperma.
- LH (luterinizing Hormone) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior
merangasang sel leydig untuk mengsekresikan testosterone.
- FSH (follicle Stimularimg Hormone) yasng dihasilkal Hipofisis anteriol,
berfungsi untuk merangsang sel sertoli sehingga terjadi peristiwa
spermiasi
- Estrogen yang dihasilak oleh sel sertoli yang berfungsi untuk
pematangan sperma.
Sperma yang terbentuk pada proses spermatogenesis, pada bagian
kepalanya terdapat selaput tebal yang disebut akrosom. Akrosom
mengandung enzim hialuronidase dan protease yang berfungsi untuk
menembus dinding ovum. Pada bagian badan sperma terdapat mitokondria
yang berfungsi sebagai tempat untuk menghasilkan enerfi untuk pergerakan
(motilitas) sperma menuju ovum.

B.4 Organ Kelamin Wanita


Seorang wanita memiliki organ reproduksi yang lebih kompleks, sebab
berhasilnya reproduksi manusia hamper seluruhnya tergantung dari
kesehatan fisik dan mental wanita. Fungsi alat reproduksi wanita antara lain:
a. Penghasil sel kelamin.
b. Menerima masuknya sperma.
c. Memberikan kondisi yang cocok untuk terjadinya fertilisasi.
d. Memberikan nutrisi kepada janin saat berkembang di dalam uterus
maupun sesudah kelahiran melalui sekresi ASI.

Bagian alat reproduksi wanita terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:


1. Kelenjar kelamin
a. Ovarium
Ovarium berfungsi sebagai penghasil ovum sehingga bersifat sitogenik
dan sebagai penghasil hormon kelamin yaitu estrogen dan progesteron
sehingga bersifat endokrinik. Ovarium berjumlah sepasang, di dalamnya
terdapat folikel-folikel dan setiap folikel mengandung satu ovum. Folikel ini
yang menghasilkan hormon estrogen, sedangkan hormon progesteron
dihasilkan oleh corpus luteum (badan kuning) yang merupakan folikel yang
telah pecah.
b. Kelenjar Bartholin
Kelenjar Bartholin terletak di dinding vagina dan menghasilkan lendir
untuk memberikan kelembaban di dalam vagina.

2. Saluran Kelamin
a. Oviduk (Tuba Fallopi)
Oviduk merupakan saluran penghubung antara ovarium dengan uterus.
Ujungnya berbentuk corong yang memiliki jumbai (fimbria) berfungsi
menangkap sel telur, jumbai itu disebut infundibulum tubae. Dengan gerak
peristaltik, ovum akan digerakkan dari oviduk ke dalam rahim.
b. Rahim (Uterus)
Rahim manusia berbentuk simplex (satu ruang) yang merupakan tempat
pertumbuhan janin. Terdapat 3 lapisan rahim dari dalam ke luar yaitu
perimetrium, miometrium, dan endometrium. Pada endometrium banyak
mengandung pembuluh darah dan mengalami penebalan setiap bulannya
karena di tempat itu akan terbentuk jaringan makanan bagi calon janin, tetapi
jika tidak terjadi kehamilan, lapisan yang menebal itu akan luruh, dan keluar
melalui vagina sebagai darah menstruasi.
c. Vagina
d. Antara rahim dengan vagina terdapat lekukan yang berupa leher rahim
(cervix). Pada cervix inilah terdapat selaput dara (hymen) yang berporus dan
elastisitasnya berbeda pada setipa wanita. Vagina berbentuk seperti tabung,
dinding luarnya berlipat-lipat, dan menghasilkan lender untuk menjaga
kelembaban sehingga mempermudah terjadinya kopulasi (hubungan
kelamin) dan mempermudah dalam proses kelahiran bayi.
3. Sel Kelamin
Ovum adalah sel kelamin wanita yang dihasilkan oleh folikel di dalam
ovarium. Setelah ovulasi (keluarnya ovum dari ovarium) ovum masuk ke
oviduk. Jika ada sperma, maka terjadilah fertilisasi di dalam oviduk ini.

B.5 Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) yang
berlangsung di dalam ovarium. Di dalam ovarium terdapat sel oogonia
berfungsi menghasilkan sel telur. Oogonia bersifat diploid dengan 23 pasang
kromosom. Oogonia aktif membelah secara mitosis dan menghasilkan oosit
primer. Peristiwa ini sudah terjadi sejak perempuan masih bayi berusia 5
bulan di dalam kandungan dan terhenti hingga pubertas. Pada masa
pubertas oosit primer selanjutnya akan mengalami pembelahan meiosis I
yang akan menghasilkan oosit sekunder (berukuran normal) yang bersifat
haploid dan polosit primer (badan kutub primer) mempunyai ukuran kecil dan
bersifat haploid, karena kegagalan dalam pembagian sitoplasma.
Oosit sekunder selanjutnya mengalami meiosis II dan menghasilkan
ootid dan polosit sekunder. Selain itu dalam meiosis II terjadi pembelahan
polosIt primer menjadi 2 polosit sekunder. Ootid selanjutnya mengalami
perkembangan menjadi ovum. Hasil akhir oogenesis berupa 1 ovum
fungsional dan 3 polosit sekunder yang akan mengalami degenerasi.
Hormon-hormon yang berpengaruh dalam peristiwa oogenesis adalah
Folicle Srimulating hormone yang dihasilkan oleh hipofisis anterior yang
merangsang pembentukan folikel primer. Folikel primer selanjutnya akan
menskresikan hormone estrogen. Sekresi hormone estrogen dari folikel
primer ini memberi umpan balik negative atau menekaran sekresi FSH dan
mendorong hipofisis untuk mensekresikan LH (Luteinizing Hormone) untuk
merangsang folikel primer untuk melepaskan ovumnya dalam peristiwa
ovulasi.

B.6 Pubertas dan Menstruasi


Seorang remaja putri kelas 1 SMP merasakan ada darah di pakaian
dalamnya.ia mengira terluka lalu ia menangis.Untunglah ibunya memahami
apa yang terjadi.Ibunya mengatakan bahwa itu adalah darah menstruasi
sebagai tanda putrinya tidak lagi anak-anak tetapi sudah remaja.Mulai saat
itu gadis ini tidak sebebas dulu,pintu kamar ditutup jika ganti baju dan mulai
memiliki hal-hal bersifat privacy.

a.Pubertas

Setelah meninggalkan masa anak-anak dan memasuki masa remaja


awal,seseorang akan mengalami perubahan tubuh yang mencolok.Pubertas
berasal dari kata latin"Pubis"yang intinya adalah rambut,maka istilah ini
digunakan untuk menandai masa tumbuh rambut di beberapa bagian
tubuh(ketiak,kelamin,kumis,dan rambut pada kaki pria)yang pada umumnya
terjadi pada usia kurang lebih 12-13 tahun.Pada masa tersebut,anak
perempuan mengalami kematangan hormon kelamin.(estrogen dan
progesteron)yang berfungsi menumbuhkan ciri-ciri seks sekunder,misalnya
tumbuhnya payudara,rongga pinggul yang membesar,perubahan
suara,pertumbuhan rambut di ketiak,dan sekitar organ kelamin juga
mengalami menstruasi.

Pada anak laki-laki juga mulai terjadi kematangan hormon


kelamin(testoteron) yang memicu pertumbuhan seks sekunder yaitu
perubahan suara,pertumbuhan rambut di ketiak,sekitar organ kelamin,rambut
kaki,dan beberapa laki-laki disertai pertumbuhan kumis.

Tidak hanya perubahan fisik saja yang terjadi pada masa ini,perubahan
psikis dan sosial akan menyertai perkembangan seorang remaja awal
sehingga sering menyebabkan perubahan perilaku,antara lain ketertarikan
terhadap lawan jenis,merespon sikap orang-orang di sekitarnya,dan ingin
diakui keberadaannya/eksistensinya di antara teman sebayanya.Karena
itu,sangat menjadi penting jika pada masa ini mengekspresikan diri kepada
aktifitas yang membangun kepribadian,misalnya olahraga,seni,teknik,bidang
sosial,jurnalistik,dan aktifitas lain yang positif.Sebab,bagaimanapun seorang
remaja yang memiliki ketrampilan/kemampuan di bidang tertentu akan lebih
memiliki rasa percaya diri dan memiliki"kompas" diri sehingga tidak mudah
terombang-ambing oleh pengaruh yang buruk dan juga tidak mudah
konfrontasi terhadap pendapat orang lain yang berbeda.

Istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja


antara lain :

1) Puberty (bahasa inggris) berasal dari istilah latin pubertas yang berarti
kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian.
Pubescence dari kata pubis (pubic hair) yang berarti rambut (bulu) pada
daerah kemaluan (genetal) maka pubescence berarti perubahan yang
dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.

2) Adolescentia berasal dari istilah latin adolescentia yang berarti masa muda
yang terjadi antara 17 - 30 tahun yang merupakan masa transisi atau
peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai
dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Proses
perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 - 22 tahun.

b. Menstruasi
Menstruasi pada wanita terbagi menjadi 4 fase,yaitu fase
praovulase,fase ovulasi,fase pasca ovulasi,dan menstruasi.

a. Fase Pra Ovulasi (Proliferasi)

FSH(Folicle Stimulating Hormone) dari kelenjar hipofisis anterior di


otak disekresi.Hal ini akan merangsang pertumbuhan folikel di dalam
ovarium.Folikel inilah yang menghasilkan hormon estrogen yang berfungsi
menumbuhkan jaringan endometrium dinding rahim.Akibatnya,endomterium
akan menebal.Hormon estrogen juga memicu sekresi lendir pada dinding
cervix(leher rahim).Estrogen merupakan feed back(umpan balik negatif)
terhadap FSH sehingga jika sekresi estrogen meningkat maka sekresi FSH
menurun,tetapi LH(Luteinzing Hormone)dari kelenjar hipofisis akan disekresi.

b. Fase Ovulasi

Jika LH disekresi folikel di dalam ovarium menjadi matang kemudian


pecah,akibatnya ovum keluar dari folikel dan ditangkap oleh infundibulum
tubae menuju oviduk.Hal ini terjadi sekitar hari ke 14.

c. Fase Pasca Ovulasi

Ketika folikel pecah,akan menjadi suatu badan disebut corpus rubrum


yang mengandung banyak darah,kemudian corpus rubrum menjadi corpus
luteum(badan kuning) yang mensekresi hormon progesteron.Kedua hormon
ini merangsang endomterium menjadi semakin menebal.Jika tidak ada
fertilisasi maka corpus luteum akan rusak menjadi corpus albicans yang tidak
lagi mensekresi progesteron.

d. Menstruasi

Ketika corpus albicans tidak lagi mensekresi hormon,saat itulah terjadi


reduksi secara drastis terhadapa hormon estrogen dan
progesteron,akibatnya tidak ada lagi yang mempertahankan endomterium
dalam uterus dan jaringan,sehingga akan meluruh sebagai darah menstruasi
yang keluar kurang selama 4-6 hari.

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi pada saat
masa menstruasi:

• Perut terasa mulas, mual dan


panas.

• Terasa nyeri saat buang air


kecil.

• Tubuh tidak fit.

• Demam.

• Sakit kepala dan pusing.

• Keputihan.

• Radang pada vagina.

• Gatal-gatal pada kulit

• Emosi meningkat.

• Nyeri dan bengkak pada


payudara.

B.7 Fertilisasi, Kehamilan, dan Kelahiran


Setiap 28-32 hari sekali, ovarium melepaskan sebuah ovum ke
dalam tuba fallopi. Jika pada saat ini terjadi
kopulasi (hubungan kelamin) maka
terjadilah fertilisasi pada tuba fallopi.
Dengan catatan bahwa sperma telah
mencapai ovum. Namun, bila dalam 24

Figure 1 proses keluarnya ovum dari ovarium


wanita
jam ovum tidak dibuahi, maka ovum akan mati dan keluar dari tubuh dalam
bentuk menstruasi. Hal ini disebabkan karena sperma hanya dapat bertahan
selama 24 jam di dalam saluran reproduksi manusia. Namun perlu diingat
bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum
mampu menbuahi oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi
akrosom.

Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran


reproduksi wanita,yang pada
manusia berlangsung kira-kira 7
jam. Selama waktu itu,suatu
selubung glikoprotein dari protein-
protein plasma semen dibuang dari
selaput plasma, yang membungkus
Figure 2 pendekatan spermatozoon ke
daerah akrosom spermatozoa.
ovum
Hanya sperma yang mengalami
kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.
Selama berhubungan seksual, jumlah semen yang biasa
diejakulasikan rata-rata adalah 3,5 mililiter dan setiap satu mililiter semen
rata-rata mengandung 120 juta spermatozoon. Jumlah ini diperlukan
mengingat tingkat kematian spermatozoon sangat tinggi, hanya sekitar 100
spermatozoon saja yang mampu bertahan hidup untuk mendekati ovum di
tuba fallopii. Dua puluh persen (20%) spermatozoon rata-rata juga akan
mengalami perubahan menjadi steril (kehilangan kemampuannya untuk
membuahi ovum), sedangkan yang lainnya akan mati karena tingkat
keasaman vagina, sehingga beberapa spermatozoon bahkan ada yang tidak
dapat menjangkau leher rahim dan akhirnya mati.
Pada akhirnya hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk
pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma
yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet
wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel
korona. Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit
di bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang
menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya.
Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma
maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa
tertentu,sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung.
Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan:
o Hialuronidase
Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona radiata.
o Akrosin
Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida.
o Antifertilizin
Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit
sekunder.
Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang
tersusun dari glikoprotein dengan fungsi :
- Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.
- Menarik sperma secara kemotaksis positif.
- Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.
Saat fertilisasi, kepala spermatozoon menembus dinding sel telur,
sedangkan ekornya tertinggal di luar. Selanjutnya inti telur dan inti sperma
bersatu. Setelah bersatu, ovum menjadi zigot. Zigot berupa sebuah diploid
(2n) dengan jumlah kromosom 23 pasang. Selanjutnya sambil bergerak ke
arah uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Zigot membelah diri
menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Tahap ini disebut
tahap pembelahan (cleavage).

Terdapat tiga tahapan dalam fase pertumbuhan dan


perkembangan makhluk hidup selama masa embrio (fase embrionik) yaitu :
a. Morula
¬ Hasil pembelahan zygot tersebut berupa sekelompok sel yang sama
besarnya seperti buah arbei
¬ Morula adalah suatu bentukan sel sperti buah arbei (bulat) akibat
pembelahan sel terus menerus secara mitosis. Dan keberadaan antara satu
dengan sel yang lain adalah rapat.
¬ Morulasi yaitu proses terbentuknya morula

Figure 3 Penggabungan Pronukleus Jantan dan Betina

b. Blastula
¬ Blastula adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami
pembelahan. bentuk ini kemudian disebut blastosit.
¬ Bentuk blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan
mengadakan pelekukan yang tidak beraturan.
¬ Di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut dengan Blastosoel yang
dikeluarkan oleh tuba fallopii.
¬ Blastulasi yaitu proses terbentuknya blastula.
¬ Pada stadium ini terbentuk sel-sel yang membentuk dinding Blastula dan
akan membentuk suatu simpai yang disebut sebagai Trofoblast. Trofoblast
mempunyai kemampuan menghancurkan dan mencairkan jaringan
menemukan lapisan Endometrium ( lapisan paling dalam dari Rahim ).

Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk dan


berlangsung selama 5 hari. Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam
uterus. Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di
dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah fertilisasi embryo akan
mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat berkembang ke
tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embryo pada endometrium
uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12
hari setelah fertilisasi (Yatim, 1990: 136)

Blastosit terdiri dari sel-sel


bagian luar dan sel-sel bagian dalam.
Sel-sel bagian luar blastosit merupakan
sel-sel trofoblas yang akan membantu
implantasi blastosit pada uterus. Sel-sel
trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke
arah endometrium yang berfungsi
sebagai kait. Sel-sel trofoblas juga Figure 4 proses penanaman embrio

mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta


mencairkan sel-sel endometrium. Cairan dan nutrien tersebut kemudian
dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel trofoblas agar zigot
berkembang lebih lanjut. Kemu dian, trofoblas beserta sel-sel lain di
bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk
plasenta dan berbagai membran kehamilan. Plasenta merupakan jaringan
yang kaya pembuluh darah dengan fungsi seperti usus bayi,yaitu menerima
zat makanan, seperti fungsi peru-paru yaitu menerima O2 dan membuang
CO2 dan juga berfungsi seperti ginjal untuk membuang urea. Plasentalah
yang menghubungkan dinding uterus dengan tali pusar, sedangkan tali pusar
menghubungkan tubuh janin dengan plasenta.
Selain plasenta, terdapat berbagai macam membran kehamilan berfungsi
untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi
penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus. Selain itu, adanya
lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari
luar, termasuk kekeringan.
c. Gastrula
¬ Gastrula adalah bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya
sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta
rongga tubuh.
¬ Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang
berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-
ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio
(embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus
untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).
¬ Gastrulasi yaitu proses pembentukan gastrula.
Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan
perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha
mengatur dan menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu
dari spesies yang bersangkutan.
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu
menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan).
0-4 Minggu
Pada minggu-minggu awal ini, janin Anda memiliki panjang
tubuh kurang lebih 2 mm. Perkembangannya juga ditandai
dengan munculnya cikal bakal otak, sumsum tulang belakang yang masih
sederhana, dan tanda-tanda wajah yang akan terbentuk.

4-8 Minggu
Ketika usia kehamilan mulai mencapai usia 6 minggu, jantung janin mulai
berdetak, dan semua organ tubuh lainnya mulai terbentuk. Muncul tulang-
tulang wajah, mata, jari kaki, dan tangan

8-12 Minggu
Saat memasuki minggu-minggu ini, organ-organ tubuh utama
janin telah terbentuk. Kepalanya berukuran lebih besar
daripada badannya, sehingga dapat menampung otak yang terus
berkembang dengan pesat. Ia juga telah memiliki dagu, hidung, dan kelopak
mata yang jelas. Di dalam rahim, janin mulai diliputi cairan ketuban dan dapat
melakukan aktifitas seperti menendang dengan lembut. Organ-organ tubuh
utama janin kini telah terbentuk.

12-16 Minggu
Paru-paru janin mulai berkembang dan detak jantungnya dapat
didengar melalui alat ultrasonografi (USG). Wajahnya mulai
dapat membentuk ekspresi tertentu dan mulai tumbuh alis dan bulu mata.
Kini ia dapat memutar kepalanya dan membuka mulut. Rambutnya mulai
tumbuh kasar dan berwarna.
16-20 Minggu
Ia mulai dapat bereaksi terhadap suara ibunya. Akar-akar gigi
tetap telah muncul di belakang gigi susu. Tubuhnya ditutupi
rambut halus yang disebut lanugo. Si kecil kini mulai lebih teratur dan
terkoordinasi. Ia bisa mengisap jempol dan bereaksi terhadap suara ibunya.
Ujung-ujung indera pengecap mulai berkembang dan bisa membedakan rasa
manis dan pahit dan sidik jarinya mulai nampak.

20-24 Minggu
Pada saat ini, ternyata besar tubuh si kecil sudah sebanding dengan
badannya. Alat kelaminnya mulai terbentuk, cuping hidungnya terbuka, dan ia
mulai melakukan gerakan pernapasan. Pusat-pusat tulangnya pun mulai
mengeras. Selain itu, kini ia mulai memiliki waktu-waktu tertentu untuk tidur.

24-28 Minggu
Di bawah kulit, lemak sudah mulai menumpuk, sedangkan di
kulit kepalanya rambut mulai bertumbuhan, kelopak matanya
membuka, dan otaknya mulai
aktif. Ia dapat mendengar sekarang, baik suara dari dalam maupun dari luar
(lingkungan). Ia dapat mengenali suara ibunya dan detak jantungnya
bertambah cepat jika ibunya berbicara. Atau boleh dikatakan bahwa pada
saat ini merupakan masa-masa bagi sang janin mulai mempersiapkan diri
menghadapi hari kelahirannya.

28-32 Minggu
Walaupun gerakannya sudah mulai terbatas karena beratnya
yang semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa
berkedip bila melihat cahaya melalui dinding perut ibunya. Kepalanya sudah
mengarah ke bawah. Paru-parunya belum sempurna, namun jika saat ini ia
terlahir ke dunia, si kecil kemungkinan besar telah dapat bertahan hidup.

36 Minggu
Kepalanya telah berada pada rongga panggul, seolah-olah
“mempersiapkan diri” bagi kelahirannya ke dunia. Ia kerap
berlatih bernaPas, mengisap, dan menelan. Rambut-rambut halus di sekujur
tubuhnya telah menghilang. Ususnya terisi mekonium (tinja pada bayi baru
lahir) yang biasanya akan dikeluarkan dua hari setelah ia lahir. Saat ini
persalinan sudah amat dekat dan bisa terjadi kapan saja.
Selama 2 bulan pertama kehamilan selagi struktur dasar organ
bayi dibentuk, janin sangatlah sangat peka terhadap hal-hal yang
mengganggu tahap-tahap perkembangannya. Misalnya obat-obatan tertentu,
goncangan jiwa, dan penyakit-penyakit tertentu.
Selama seorang wanita hamil, banyak terjadi pembentukan dan
perubahan hormonal, antara lain hormon progesteron dan estrogen tetap
dihasilkan oleh plasenta untuk mempertahankan dan menumbuhkan plasenta
itu sendiri. Selama kehamilan sekresi FSH (Follicle stimulating hormone)1
dan LH (Luteinizing hormone)2 dihambat sehingga perkembangan folikel
terganggu maka selama hamil wanita tidak mengalami menstruasi.
Setelah kurang lebih 9 bulan usia kehamilan, plasenta mengalami
penuaan dan sekresi hormon progesteron berkurang, tetapi hormon oksitosin
yang disekresi dari kelenjar hipofisis posterior meningkat , dan beberapa
hormon lain yang merangasang kontraksi uterus antara lain hormon
prostaglandin juga meningkat. Perubhahan hormon inimenyebabkan rasa
sakit akibat kontraksi dinding rahim. Kemudian cervix (leher rahim) akan
membuka dan dengan semakin kuatnya kontraksi uterus maka selaput
amnion pecah dan keluarlah cairan amnion melalui vagina. Tidak lama
kemudian bayi akan segera lahir, dan pemotongantali pusar akan dilakukan
dan diikuti dengan keluarnya plasenta.

B.8 Perilaku Seksual yang Sehat dan Pemeliharaan


Kesehatan Organ Reproduksi

1
hormon yang disintesa dan disekresikan oleh gonadotropes di kelenjar anterior pituitary.
2
hormon yang mengisyaratkan dan menginstruksikan organ tubuh tempat produksi
testosteron untuk memproduksi testosteron.
Perilaku seksual yang sehat tidak dapat diperoleh begitu saja, tetapi hal
itu berawal dari nilai-nilai tyang ditanamkan keluarga, kebiasaan, dan gaya
hidup yang didapat dari keluarga maupun masyarakatnya.
Baik pria maupun wanita perlu menjaga kesehatan organ reproduksinya.
Kesehatan organ reproduksi perlu diperhatikan agar fertilitas (kesuburan)
tetap terjaga sehingga dapat menghasilkan keturunan yang unggul dan
sehat.

Kesehatan organ reproduksi wanita


Upaya menjaga kesehatan reproduksi wanita adalah dengan menjaga
kesehatan vagina. Vagina perlu dijaga kesehatannya karena apabila terjadi
infeksi, akan sulit terjadi kehamilan. Bila infeksi tidak segera diatasi, akan
meluas ke organ reproduksi yang lain. Berikut ada beberapa cara untuk
menjaga kesehatan vagina:
• Selalu membersihkan mulut vagina bagian luar setelah buang air.
Lebih baik dicuci dengan air bersih dan sabun dengan kadar soda
yang rendah.
• Usai dibersihkan vagina dilap dengan menggunakan tisu kering atau
handuk kering agar tidak lembab.
• Tidak menggunakan celana dari nilon, melainkan dari bahan katun
yang mudah untuk menyerap keringat.
• Menghentikan kebiasaan menahan buang air kecil.
• Segera periksa ke dokter apabila ada keluhan.

Kesehatan organ reproduksi pria


Sistem reproduksi pria juga pperlu dijaga untuk mencegah infertilitas.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan pada organ
reproduksi pria antara lain:
Melindungi testis selama beraktivitas
Tidak menggunakan pakaian yang terlalu ketat sehingga testis tidak
kepanasan
• Mengurangi kebiasaan mandi dengan menggunakan air panas.
• Menghindari minuman berakhohol dan rokok
• Menjalankan pola hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi,
olahraga cukup, dan menghindari tukar menukar pasangan yang dapat
berakibat penyakit pada organ reproduksi
• Melakukan pemeriksaan secara rutin agar kelainan dan keluhan dapat
ditangani lebih awal.

B.9 Kelainan Pada Sistem Reproduksi


• Pada wanita
1. Amenorea
Amenorea adalah suatu bentuk abnormalitas, dimana seorang wanita
normal pada usia reproduksi tidak mengalami menstruasi. Pada bentuk
primer dari gangguan ini, periode awal menstruasi pada wanitaq(menarke)
tidak terjadi sampai usia 18 tahun. Pada bentuk sekunder, seorang wanita
tidak mendapatkan menstruasi selama kurang lebih 3bulan setelah menartke
dimulai. Hal ini, sdering kali disebabkan karena kegagalan ovulasi karena
masalah hormon, tidak adanya uterus, kerusakan pada endometrium,
ovarium, kerusakan kelenjar adrenal, atau tumor pada hipofisis.

2. Endometriosis
Endometriosis merupakan kondisi dimana jaringan endometrial terjadi di
luar lokasi yang sebenarnya, yaitu pada permukaan rongga rahim. Jaringan
ini disebut juga jaringan ektopik, dimana pada saat menstruasi jaringan ini
akan berdarah yang mengakibatkan peradqanagan pada jaringan di
sekitarnya. Peradangan ini menyebabkan fibrosis(jaringan ikat) akan
melekatkan uterus yang menyebabkan rasa kesakitan(nyeri) dan infertiliatas.
Endometriosis sering terjadi pada wanita yang berusia 30-40 tahun, terutama
pada wanita yang menunda kelahiran anak. Gejala yang paling parah adalah
terjadinya menstruasi sepanjang tahun. Penangannya dapat dengan
pemberian obat-obatan, laparoskopi, atau dengan bedah laser.

3. Fibroid(Leimioma uterus)
Fibroid merupakan tumor tidak ganas pada wanita dari tumor otot mhalus
yang tumbuh didalam rahim. Kelainan ini terjadi 20-25% wanita reproduktif.
Kelainan ini diduga disebabkan karena penggunaan hormon esterogen dan
progesteron yang berlebihan.

4. Infertilitas
Infertilitas merupakan kondisi ketidak mampuan mempunyai anak setelah
melakukan hubungan seksual dengan teratur tanpa alat kontasepsi paling
tidak selama satu tahun. Penyebab infertilitas pada wanita disebabkan
ketidak seimbangan hormon esterogen untuk ovulasi secara teratur dan
progesteron untuk mempersiapkan endometrium agar siap untuk implantasi,
infeksi atau peradangan pada indung telur, tuba fallopi, kerusakan uterus,
dan endometriosis. Dedang penyebab infertilitas pada pria adalah
abnormalitas pada laat kelamin, infeksi kuman penyakit, ketidak seimbangan
hormone, luka pada penis, dan buah zkar, obat-obatan, frekuensi hubungan
seks yang terlalu seringatau jarang, panas dari pakaian, dan radiaso darti
bahan kimia, serta tekanan psikologis.

5. Vulvovaginalis
Vulvovaginalis merupakan keadaan dimana letak vagina dan vulva
berdekatan satu dengan yang lain sehingga memungkinkan terjadinya infeksi
Trichomonas vaginalis dan Candida albacans, maupun bakteri dan virus
lainnya seperti Gardinerella vaginalis dan Neisseria gonorrhoeae.
6. Kista Indung Telur
Kista indung telur berupa kantiong yang tidak bersifat kanker dan bersifat
material setengah cair. Tipe umum kista indung telur adalah kista folikel yang
terdapat pada folikel dan kista lutein yang terdaftar pada korpuus luteum.
Kelainan ini disebabkan abnormalitas hormonal. Kista ini dapat menyebabkan
menstruasi terlambat dating dan diikuti dengan perpanjangan dan
pendarahan ireguler.

7. Sindrom Premenstruasi
Sindrom premenstruasi adalah sekumpulan gejala yang bervariasi yang
muncul antara 7-14 hari sebelum masa menstruasi mulai dan biasanya
berhenti saat menstruasi. Biasnya terjadi pada wanita pada usia 25-45 tahun.
Penyebabnya diduga karena kekurangan vitamin dan progesteron. Gejala
yang dialaminya natara lain pada tingkah laku terjadi perubahan personalitas.
Pada fisik terjadi pada payudara yang sakit dan membengkak, dan pada kulit
terjadi jerawat.

8. Kehamilan Ektopik(kehamilan di luar kandungan)


Kehamilan ektopik merupakan suatu keadaan dimana kehamilan
abnormal karena indung telur yang dibuahi tertanam diluar uterus, tetapi di
tuba fallopi. Penyebab kehamilan ini karena terjadinya penyempitan pada
tuba fallopi maupun tumor pada tuba fallopi. Penggunaan IUD sebagai
pengendali kehamilan mengkatkan resiko kehamilan ektopik.

9. Kanker vagina
Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya, tetapi dimungkinkan diakibatkan
karena iritasi. Iritasi tersebut disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lai
dengan cara kemoterapi dan bedah laser.
10. Kanker serviks
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh
lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan cara mengangkat
uterus, oviduk, ovarium, bagian atas vagina, dan kelenjar limfe panggul.

11. Kanker ovarium


Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa perasaan
berat pada panggul, perubahan fungsi pada saluran pencernaan, atau
mengalami pendarahan yang abnormal pada vagina. Penanganannya dapat
dilakukan dengan kemoterapi dan pembedahan.

12. Infeksi vagina(keputihan)


Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi
vagina menyerang wanita pada usia produktif. Penyebabnya natara lain
akibat hubungan kelamin apabila suami terkena infeksi, jamur, atau bakteri.

• Pada pria

1. Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah kondisi penurunan produksi hormon androgen
pada pria yang merusak produksi sperma dan menyebabkan infertilitas.
Penyebabnya adalah kerusakan pada sel leydig penghasil testoteron dan
tubulus seminiferus yang menghasilkan sperma. Penanganannya dapat
dilakukan dengan terapi hormon.

2. Impotensi(disfungsi ereksi)
Impotensi merupakan suatu keadaan dimana kemampuan pria untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan
hubungan seksual. Penyebab impotensi 50% disebabkan karena faktor
emosi dan mental, selain penyakit paru-paru, jantung, diabetes, dan gagal
ginjal.

3. Ejakulasi dini
Ejakulasi dini adalah suatu kondisi ketidakmampuan pria dalam
mengendalikan refleks ejakulasi selama hubungan seksual. Penyebabnya
adlah karena kegelisahan dan sering berhubungan dengan pengalamn
seksual sebelumnya.

4. Torsi testis
Torsi testis adalah kondisi terpuntirnya gantungan spermatik secara
abnormal yang disebabkan oleh rotasi testis atau mesorchium. Kasus ini
sering terjadi pada pria yang berusia 12-18 tahun.

5. Kriptorkidisme
Kriptokidisme merupakan kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun
dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal ini dapat
ditangani dengan pemberian hormone human chorionic gonadotropin untuk
merangsang testoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.

6. Urethritis
Urethritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis
dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sring menyebabkan
urethritis adalah Chlamydia trackhomatis, Ureplasma urealyticum, Uretritis
herpes, dan sebagainya.

7. Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan prostrate. Penyebabnya adalah bakteri,
seperti Escherichia coli.
8. Epididymitis
Epididymitis adalah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi
pria. Disebabkan oleh bakteri E.coli dan Chlamidya.

9. Orkitis
Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus
parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.

B.10 Penyakit Menular Seksual (PMS)

1. Chlamydia
Chlamydia adalah penyakit menular seksual umum yang disebabkan oleh
bakteri Chlamydia trachomatis. Chlamydia menyebabkan penyakit pada mata
dan alat kelamin manusia. Infeksi Chlamydia dapat menyebabkan
penderitanya mengalami kemandulan.

2. Gonore
Kencing nanah atau gonore (bahasa Inggris: gonorrhea atau gonorrhoea)
adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum,
tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar
melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.
Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi
selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan
reproduksi.

3. Sifilis
Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri
spiroseta, Treponema pallidum.
Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain
seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak
dalam uterus).
Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan
tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut
"Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya.

4. Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
serangan protozoa parasit Trichomonas vaginalis. Trichomoniasis merupakan
infeksi yang biasanya menyerang saluran genitourinari; uretra adalah tempat
infeksi yang paling umum pada laki-laki, dan vagina adalah tempat infeksi
yang paling umum pada wanita. Penggunaan kondom dapat menolong
mencegah penyebaran trikomoniasis.

5. Kudis
Kudis atau scabies adalah penyakit kulit yang menular. Kulit gatal, lebih
parah pada waktu malam. Lebih parah di pergelangan tangan, ketiak, pantat,
kunci paha dan celah jari tangan dan kaki.

6. HIV
HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang
menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ T cell dan
macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan
rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV
menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang
menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.

7. Herpes
Herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) adalah sejenis
penyakit yang menjangkiti mulut, kulit, dan alat kelamin. Penyakit ini
menyebabkan kulit melepuh dan terasa sakit pada otot di sekitar daerah yang
terjangkit. Hingga saat ini, penyakit ini masih belum dapat disembuhkan,
tetapi dapat diperpendek masa kambuhnya.

B.11 Teknologi Reproduksi


a. Alat Kontrasepsi
Alat kontrasepsi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mencegah
terjadinya pembuahan atau disebut juga pertemuan sperma dan ovum yang
dapat menyebabkan kehamilan. Kata kontrasepsi sendiri berasal dari kata
kontra yang berarti melawan dan konsepsi yang berarti pembuahan.Biasanya
alat kontrasepsi ini digunakan sebagai salah satu program keluarga
berencana. Untuk mengurangi jumlah populasi keturunan yang semakin
besar, maka alat kontrasepsi ini memegang peran penting untuk mencegah
terjadinya proses pembuahan. Tentunya dalam pembuatan alat kontrasepsi,
bahan yang digunakan haruslah aman dan tidak menimbulkan efek samping
serta bersifat reversible ( jika pemakaian dihentikan maka dapat memiliki
anak lagi).

Metode kontrasepsi yang diterapkan secara umum antara lain sebagai


berikut:
1. Cara mekanik
Cara mekanik menggunakan alat berupa IUD (Inta Uterin Device) atau
yang sering disebut Kontrasepsi Spiral. Alat ini dipasang didalam uterus yang
berfungsi menghalangi pertemuan antara sperma dengan ovum yang dapat
menghasilkan fertilisasi. Untuk pemasangan spiral haruslah dikontrol secara
periodik karena posisi alat tersebut dapat saja berubah sehingga harus diatur
sedemikian rupa secara berkala. Pada pria, cara mekanik yang dipakai
adalah kondom yang disarungkan ke penis guna mencegah masuknya
sperma ke dalam saluran rahim. Walau demikian, cara ini memiliki resiko
karena bahan kondom riskan akan resiko kebocoran.

2. Hormonal
Bahan kontrasepsi hormonal bersifat menghambat hormon reproduksi.
Bahan dalam pembuatan kontrasepsi hormonal biasanya dikemas dalam
bentuk pil yang harus diminum setiap hari. Suntik yang harus diinjeksikan
setiap 1x sebulan sampai beberapa bulan. Susuk, yang merupakan jarum
kecil yang mengandung hormone, biasanya dipasang di lengan dan bertahan
selama 3-5 tahun setelah penanaman.

3. Pembedahan
Pembedahan merupakan pemotongan tuba fallopi / oviduk (saluran telur)
yang dilakukan terhadap perempuan yang disebut dengan tubektomi.
Sedangkan pemotongan terhadap vas deferens (saluran sperma) disebut
vasektomi. Bagi wanita yang sudah tidak ingin mempunyai anak lagi dapat
melakukan dengan cara tubektomi. Sedangkan vasektomi pada pria relatif
lebih sedikit karena darah dapat bercampur dengan cairan sperma yang
berada di pangkal saluran sperma. Hal ini menyebabkan bahan penghasil
antibody tubuh (sumsum tulang, limpa, dan kelenjar limfa) menghasilkan zat
anti sperma yang disebut Anti Sperm Antibody (ASA), sehingga sperma akan
menggumpal dan immobil dan tidak dapat berenang menuju saluran telur,
dan menyebabkan pria tersebut infertil (tidak subur).

4. Elektro Kauterisasi
Elektro kauterisasi merupakan pemotongan pada pangkal saluran sperma
tanpa pisau bedah melainkan menggunakan arus listrik. Arus listrik yang
dialirkan hanya beberapa detik dan sifatnya mengelas saluran sperma
langsung. Dengan cara ini, vasektomi atau tubektomi dapat dilakukan secara
lebih cepat dan aman tanpa resiko pendarahan.

5. Preparat Imunologis
Preparat imunologis ada yang berupa serum maupun vaksin. Vaksin
berasal dari hasil rekayasa genetic protein pembuahan. Jika vaksin adalah
protein pembuahan yang berada pada membrane sel kepala sperma, maka
jika disuntikkan ke tubuh suami menyebabkan tubuh suami menghasilkan
ASA. Hal ini berakibat menggumpalnya sperma. Jika disuntikkan ke dalam
tubuh istri, tubuhnya juga akan membentuk ASA, dan jika istri bercampur
dengan suami maka ASA akan menggumpalkan sperma di dalam cervix istri.

6. Sistem Kalender/Penanggalan
Sistem kalender adalah cara yang digunakan oleh pasangan suami istri
dengan memperhatikan masa subur dan tidak subur dari istri. Tetapi cara ini
juga mengandung resiko kehamilan yang tinggi sebab beberapa aspek
hormonal, psikis, dan penyakit tertentu menyebabkan daur menstruasi wanita
menjadi tidak teratur, sehingga akan lebih sulit untuk menghitung secara
tepat masa subur dan tidak subur.

b. Bayi Tabung
Salah satu masalah yang dihadapi oleh pasangan suami istri adalah
infertil atau ketidak suburan sehingga terjadinya hambatan dalam proses
fertilisasi. Pada zaman modern ini, salah satu teknologi yaitu bayi tabung (in
vitro fertilization) dapat melakukan proses fertilisasi terhadap masalah-
masalah yang menghambat proses fertilisasi. Proses ini diawali dengan
penyiapan telur dengan terapi hormon, dilanjutkan pengambilan telur dan
menempatkan telur pada tabung atau cawan Petri yang sudah diberi media.
Kemudian ke dalam tabung akan dimasukkan sperma dari suami atau donor
dan selanjutnya setelah 1-2 hari zigot yang dihasilkan akan ditransfer ke
uterus sehingga terjadi implantasi yang menandai dan dimulainya kehamilan.

c. Kloning Manusia
Untuk menghasilkan suatu manusia baru berupa seorang bayi tidak harus
selalu melalui proses fertilisasi yaitu pertemuan sel sperma dan ovum. Tetapi
telah ditemukan adanya suatu teknik cloning manusia yang telah berhasil
dilaksanakan di Amerika, Jepang, dan Korea Selatan. Embrio manusia dapat
dihasilkan dari sel induk seorang perempuan yang dibiakan secara invitro
tanpa terjadinya pembuahan dan selanjutnya setelah tumbuh menjadi embrio
ditanam dalam uterus manusia.

B.12 Air Susu Ibu


Sesaat setelah kelahiran, biasanya bayi akan disusui oleh ibunya. Air
susu yang pertama kali dikonsumsi bayi disebut air susu ekslusif atau disebut
kolostrum. Kolostrum mengandung banyak antibody yang berfungsi sebagai
imunisasi bagi sang bayi. Selain itu, kolostrum mengandung protein dan
laktosa dengan konsentrasi yang sama seperti air susu, namun tidak
mengandung lemak. Kehidupan pertumbuhan maupun perkembangan
seorang bayi sampai minimal 3 bulan pertama sangat tergantung akan air
susu ibu (ASI). ASI mengandung seluruh zat makanan yang dibutuhkan bayi
dalam pertumbuhannya. ASI juga sangat cocok dengan sistem dan alat
pencernaan bayi yang masih lemah.
Produksi ASI (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (glandula
mammae) atau payudara ibu. Pada saat masa kehamilan pertumbuhan awal
kelenjar susu distimulasi oleh Mammotropin Hormone yang dihasilkan oleh
hipofisis ibu dan plasenta janin. Selain hormon tersebut, plasenta juga
mensekresikan progesteron dan estrogen. Progesteron dan estrogen
merangsang tumbuhnya saluran kelenjar menjadi banyak dan bercabang
serta mencegah sekresi air susu ibu sebelum kelahiran. Pada saat terjadi
pertumbuhan saluran kelenjar mamae, kelenjar lemak disekitarnya akan
bertambah besar sehingga wanita pada saat hamil payudaranya tampak
membesar.
Hormon lain yang berpengaruh terhadap sekresi ASI adalah prolaktin.
Hormon ini disekresikan oleh hipofisis dan konsentrasinya di dalam darah
akan semakin meningkat sejak minggu kelima sampai kelahiran bayi.
Hormon prolaktin mempunyai fungsi untuk meningkatkan sekresi ASI.
Pacuan terhadap sekresi ASI juga didukung oleh somato mammotropin
korion yang dihasilkan oleh plasenta.
Pada saat kelahiran jumlah estrogen dan progesterone di dalam darah
menurun sehingga pacuan laktasi dan prolaktin menjadi besar dan dalam
waktu dua sampai tiga hari payudara ibu dapat menghasilkan ASI dalam
jumlah yang banyak sebagai pengganti kolostrum. ASI yang dibentuk dalam
kelenjar mammae ibu agar dapat dilengkapi dengan asam amino, asam
lemak, glukosa, dan kalsium diperlukan hormon pertumbuhan, kortisol dan
hormone paratiroid.
Bila bayi lahir dan segera disusui ibunya, keluarnya ASI dari payudara ibu
akan dikontrol oleh hormon oksitosin sebagai akibat hisapan dari mulut bayi.
Rangsang ini dibawa ke hipotalamus dan merangsang hipofisis untuk
mensekresikan oksitosin. Pengaruh oksitosin terhadap payudara dalah
merangsang mioepitium kelenjar berkerut sehingga air susu dikeluarkan
menuju ke saluran kelenjar. Bayi yang mendapat ASI dalam jumlah dan
waktu yang cukup dapat mendorong perkembangan bayi secara maksimal
dari segi immunitas maupun jasmaniahnya.
C. Penutup
Semua makhluk hidaup di alam semesta ini diciptakan Tuhan baik
adanya. Manusia, hewan, dan tumbuhan serta makhluk hidup lainya memiliki
kelebihannya masing-masing. Salah satu anugrah yang diberikan Tuhan atas
ciptaannya ini adalah kemampuannya untuk bereproduksi. Tujuannya
diberikan kemampuan reproduksi yakni melanjutkan keturunan agar menjauhi
apa yang dinamakan kepurnahan.
Manusia merupakan makhluk yang hampir dikatakan sempurna dari
makhluk lainya. Manusia diberikan akal budi, hasrat, perasaan dan rasa
tanggung jawab yang besar kepada makhluk hidup lainya. Akan tetapi
penyalahgunaan karunia yang diberikan Tuhan justru banyak terjadi akibat
ulah manusia, salah satunya reproduksi. Reproduksi manusia dilakukan
secara seksual. Sex diberikan Tuhan sebagai karunia, bukan untuk
kenikmatan semata, apalagi meraih keuntungan.
Manusia dibedakan atas pria dan wanita untuk saling melengkapi. Diawali
dengan terjadinya hubungan kelamin(seks) jantan dengan alat kelamin betina
yang bertujuan untuk menyalurkan sperma dan ovum ke tuba fallopi yang
kemudian akan menghasilkan zigot(calon anak).
Kemudian sang ibu mengandung dan melahirkan anaknya. Sang bapak
haruslah bertanggung jawab merawat, mendidik, serta memberi kasih sayang
kepada anaknya bersama sang ibu.
Daftar Pustaka
http://danieher.multiply.com/journal/item/14/Fertilisasi
http://luwzee.blog.friendster.com/2008/12/proses-terjadinya-kehamilan/
http://raggne.wordpress.com/2010/01/16/masa-kehamilan-proses-evolusi-
manusia-yang-revolusioner/
http://biodea.blogspot.com/search?s=struktur+ovum
http://www.binaraga.info/forum/post.asp?
method=TopicQuote&TOPIC_ID=397&FORUM_ID=3
Suailowarno, Gunawan,dkk. 2007. BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas XI,
396 hal, Jakarta : Grasindo