Anda di halaman 1dari 13

Kimia

Reaksi Eksoterm Dan Reaksi Endoterm

Laporan Praktikum

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pelajaran Kimia


Tahun Pelajaran 2009/2010

Disusun oleh:
-Iskandar S.
-Marsella
-Nathania
-Victor H.

SMA Ricci 1
Jakarta
Tahun 2009
KATA PENGANTAR

Pertama-tama, penyusun mengucapkan puji syukur atas penyertaan

Tuhan Yang MahaEsa karena atas kehendakNya penyusun dapat

menyelesaikan pembuatan laporan praktikum ini.

Tujuan pembuatan laporan praktikum ini adalah untuk memenuhi tugas

Kimia. Selain itu, pembuatan laporan ini juga bertujuan untuk menambah

pengetahuan tentang reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Laporan ini

dibuat berdasarkan referensi dari berbagai sumber.

Dalam pembuatan laporan ini, terdapat beberapa hambatan-hambatan

seperti sulitnya mencari data dan informasi yang konkrit.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah

membantu penulis dalam pembuatan laporan ini. Orang-orang tersebut ialah:

1. Pak Danielta selaku guru kimia yang telah memberikan bimbingan

kepada penyusun.

2. Orang Tua penyusun yang telah memberikan dorongan kepada

penyusun.

3. Orang-orang lainnya yang telah membantu penyusun dalam

menyelesaikan laporan ini.

Semoga laporan ini dapat menambah wawasan dan ilmu para pembaca.

Akhir kata, penyusun menyadari bahwa laporan ini tidak terlepas dari

kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dari para pembaca.

Semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, September 2009

Penulis
I. Judul : Reaksi Eksoterm dan Reaksi Endoterm.

II. Tujuan: Untuk mengetahui reaksi eksoterm dan reaksi endoterm dalam
reaksi kimia.

III. Teori:
Pada suatu reaksi kimia, tentunya terdapat suatu pelepasan atau
penyerapan kalor. Berdasarkan Hukum I termodinamika, disebutkan bahwa
energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak dapat
dimusnahkan. Dengan hukum kekekalan energi ini, dikatakan bahwa energi
kinetik dan energi potensial dari suatu benda sebelum dan sesudah reaksi
tidak pernah dimusnahkan. Energi kinetik dan energi potensial adalah energi
yang dimiliki oleh suatu zat /sistem yang disebut dengan energi dalam (U).

Energi kinetik adalah suatu energi yang dimiliki benda ketika terjadinya
suatu pergerakan/ pergesekan yang berhubungan dengan kecepatan.
Sedangkan energi potensial adalah energi yang timbul karena interaksi gaya
suatu benda dengan yang lain (seperti gravitasi bumi).

Suatu reaksi kimia tentunya berlangsung dalam suatu wadah tertentu.


Reaksi/ semua faktor yang mempengaruhi reaksi disebut dengan sistem,
sementara segala materi yang berada di sekitar sistem disebut dengan
lingkungan. Terdapat 3 jenis sistem, yaitu sistem terbuka, sistem tertutup
dan sistem terisolasi.
Perhatikan gambar dibawah ini:
Sistem terbuka adalah suatu sistem dimana
terjadi hubungan langsung dengan lingkungan.
Pada sistem ini, energi dan materi dapat
keluar maupun masuk kedalam lingkungan dan
sebaliknya. Sistem tertutup adalah sutu
sistem dimana hanya energi yang dapat keluar ataupun masuk kedalam sistem.
Pada sistem ini, materi tidak dapat berpindah tempat. Sedangkan sistem
terisolasi, sebagai contoh termos, adalah sistem dimana tidak dapat terjadi
perpindahan kalor maupun materi dari lingkungan ke sistem maupun
sebaliknya.
Perubahan energi tersebut dapat berupa kalor (q) dan dapat berupa usaha
/ kerja (w). Sebagai contoh bentuk kerja (w) yang paling sering diamati
adalah penambahan maupun pengurangan volum suatu sistem. Jika energi
memasuki kalor / sistem menyerap kalor, maka diberi tanda positif sedangkan
jika energi meninggalkan sistem diberi tanda negatif.
Sistem menerima kalor, q = positif
Sistem membebaskan kalor, q = negatif
Sistem melakukan kerja, w = negatif
Sistem menerima kerja, w = positif

Energi dalam suatu sistem ditentukan oleh jumlah mol, suhu dan
tekanannya. Energi dalam suatu sistem tergolong sifat ekstensif, yaitu
tergantung pada jumlah zat.
Kalor (q) = m.c. ∆T dimana m adalah massa zat, c adalah kalor jenis zat
( J/g K) dan ∆T adalah perubahan suhu.
Kerja/Usaha (w) = F x s dimana F adalah gaya dan s adalah perpindahan /
jarak.

Dari uraian diatas, dapat dituliskan bahwa energi adalah penjumlahan dari
kalor ditambah usaha/kerja.
∆E = q + w
Pada volume tetap ( V= 0) maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat
kerja / usaha pada sistem tersebut sehingga dapat dituliskan w=0. Maka
dapat dikatakan, pada sistem tertutup ∆E = q, yaitu energi total pada sistem
tertutup adalah kalor yang dimiliki sistem tersebut.

Pada tekanan tetap (tekanan atmosfir), perubahan energi mungkin


menerima kerja tekanan dan volume. Maka dapat dituliskan ∆E = q p+ w 
q p = ∆E − w . Jadi, kalor reaksi yang berlangsung pada tekanan tetap berbeda
dengan kalor reaksi pada volume tetap.

Entalpi (H) adalah suatu satuan yang menyatakan kalor reaksi yang
berlangsung pada tekanan tetap. Sehingga dapat dituliskan q p = ∆H . Sehingga
dapat dituliskan kerja pada sistem sebagai w = − Px∆V .
Dari uraian diatas, tentunya kita dapat mengatakan bahwa kalor dapat
mengalir masuk kedalam sistem maupun mengalir keluar ke lingkungan. Reaksi
eksoterm adalah suatu reaksi yang membebaskan kalor dari sistem ke
lingkungan. Reaksi endoterm adalah suatu reaksi yang menyerap kalor,
sehingga kalor mengalir dari lingkungan ke sistem.

Tentunya hal ini juga dapat mempengaruhi suhu sekitarnya. Ketika kalor
mengalir keluar dari sistem, maka suhu pada sistem tersebut akan menjadi
lebih panas karena kalor dilepaskan, sebagaimana kita tahu bahwa suhu akan
meningkat bila lingkungan terjadi penyerapan kalor. Sementara pada reaksi
endoterm, entalpi pereaksi akan lebih kecil daripada hasil reaksi sehingga
suhu sistem menjadi lebih rendah karena temperatur lingkungan yang lebih
tinggi akan mengalirkan kalor kedalam sistem . Seperti yang kita ketahui,
sebagai contoh sederhana adalah angin darat dan angin laut, dimana
temperatur memiliki prinsip mengalirkan kalor dari yang suhu lebih panas ke
suhu lebih dingin.
Dapat dituliskan bahwa :
Reaksi endoterm ∆H = H p − H r > 0
Reaksi eksoterm ∆H = H p − H r < 0

*Pembuktian bahwa suhu eksoterm adalah menjadi lebih hangat:


Sebuah larutan bermassa x dengan kalor jenis c, mengalami kenaikan suhu
sebesar + a K.
Perhatikan bahwa q larutan = m x c x ∆T = x . c . a = + xca Joule
Dapat dilihat bahwa q larutan adalah positif. Berdasarkan prinsip q reaksi
+ q larutan + q calorimeter = 0, maka dapat dituliskan q larutan = - ( q reaksi +
q calorimeter).
Pada kasus ini, karena tidak terdapat calorimeter, maka dapat dikatakan,
q larutan = - q reaksi, q reaksi = -xca Joule. Kita juga mengetahui bahwa q
reaksi adalah pengurangan dari jumlah entalpi produk ( H p ) dan jumlah
entalpi pereaksi( H R ). Sehingga kita dapat menuliskan q reaksi = H p − H R .
Dari persamaan diatas, kita dapat menyimpulkan ∆H = q reaksi, maka ∆H
pada reaksi ini bernilai negative (-). Di lain sisi, kita juga mengetahui bahwa
∆H yang melepaskan kalor bernilai negative, yang berarti reaksi eksoterm.
Sehingga terbukti bahwa bila suhu produk reaksi meningkat , terjadi
peristiwa reaksi eksoterm (berlaku juga sebaliknya dengan reaksi endoterm).

(Tambahan: Kertas lakmus adalah kertas yang digunakan untuk mengetahui


apakah suatu senyawa bersifat asam maupun basa. Kertas lakmus terdiri dari
dua warna, yaitu lakmus merah dan lakmus biru. Bila lakmus merah berubah
warna menjadi biru, hal tersebut mengindikatorkan bahwa senyawa yang diuji
bersifat basa. Sedangkan bila lakmus biru berubah menjadi merah, berlaku
sebaliknya, bahwa senyawa yang diuji adalah bersifat asam. Sedangkan bila
lakmus merah tetap berwarna merah,maka terdapat dua kemungkinan, bahwa
senyawa yang diuji bersifat netral atau asam. Sedangkan bila lakmus biru
berwarna biru, juga terdapat dua kemungkinan, bahwa senyawa yang diuji
bersifat netral atau basa. )

IV. Bahan dan alat:

Nama Bahan Jumlah


Air ( H 2O ) 10 cm 3
Kertas lakmus merah Secukupnya
Kertas lakmus biru Secukupnya
CaO Sebesar bongkahan kelereng
Ba (OH ) 2 . 8 H 2O 2 Spatula
NH 4Cl 2 Spatula
Serbuk belerang ( S ) 6 Spatula
Serbuk besi ( Fe ) 2 Spatula
Tembaga (II) karbonat ( CuCO3 ) 3 Spatula

Nama Alat Jumlah


Gelas kimia 1
Tabung reaksi 3
Spatula 1
Tutup Gabus 1
Cawan 1
Spiritus ( Bunsen ) 1
V. Cara Kerja:

Cara kerja percobaan ini adalah sebagai berikut:


• Masukkan kurang lebih 10 cm 3 air ke dalam gelas kimia dan uji dengan
kertas lakmus merah. Pegang gelas itu untuk merasakan suhunya.
Tambahkan sebongkah CaO sebesar kelereng. Rasakan suhu dengan
memegang gelas kimia. Uji larutan dengan kertas lakmus merah.

• Masukkan Ba (OH ) 2 . 8 H 2O sebanyak dua spatula ke dalam tabung reaksi.


Tambahkan NH 4Cl sebanyak 2 spatula. Aduk campuran itu kemudian
tutuplah dengan gabus. Pegang tabung itu dan rasakan suhunya. Biarkan
sebentar, buka tabung dan cium bau gas yang timbul.

• Campurkan serbuk belerang sebanyak 6 spatula dengan serbuk besi


sebanyak 2 spatula. Masukkan campuran itu kedalam cawan. Panaskan
cawan sampai campuran berpijar. Hentikan pemanasan amati apa yang
terjadi.

• Masukkan 3 spatula tembaga(II) karbonat ke dalam tabung reaksi.


Panaskan tabung sampai mulai terjadi perubahan pada tembaga(II)
karbonat. Hentikan pemanasan, amati apa yang terjadi dan catat
pengamatan anda.

VI. Pengamatan:

No. Kegiatan Pengamatan


1. a. Pemanasan CaO dan H 2O
b. Pembauan gas

2. a. Pencampuran Ba (OH ) 2 . H 2O
8

dan NH 4Cl
b. Pemeriksaan larutan dengan
kertas lakmus merah
3. a. Pemanasan campuran Fe dan S
b. Ketika pemanasan dihentikan.

4. a. Pemanasan CuCO3
b. Ketika pemanasan dihentikan

Pengamatan:
Percobaan pertama: Pengujian kertas lakmus merah pada H 2O tetap
menghasilkan warna merah. Sedangkan pengujian kertas lakmus biru pada
H 2O tetap menghasilkan warna biru. Ketika dimasukkan CaO , suhu menjadi
lebih hangat. Ketika diuji dengan kertas lakmus merah, warnanya berubah
menjadi biru dan ketika diuji dengan kertas lakmus biru, warnanya tetap biru.
Tidak terdapat bau gas yang menusuk.

Percobaan kedua: Suhu pada pencampuran barium hidroksida (


Ba (OH ) 2 . 8 H 2 O ) dengan ammonium klorida ( NH 4Cl ) menjadi lebih dingin.
Untuk bau, tercium bau yang agak pesing. Untuk pengujian lakmus merah,
warnanya berubah menjadi biru dan lakmus biru tetap berwarna biru.

Percobaan ketiga: Ketika terjadi pemanasan, belerang dan besi yang


dicampur mulai meleleh dan menjadi warna hitam. Sementara itu, tercium bau
belerang yang menyengat. Ketika pemanasan dihentikan, bau yang tercium
tetap masih muncul dan campuran tersebut tampak meleleh.

Percobaan keempat: Ketika tembaga (II) karbonat dipanaskan, warnanya


menjadi seperti pasir hitam yang meleleh. Untuk bau, tidak ada bau yang
menusuk. Ketika pemanasan dihentikan, tembaga (II) karbonat tampak
seperti kembali ke wujud pasir semula, hanya warnanya saja yang tampak
gosong.

VII. Analisa Pengamatan:


Pertanyaan:
1. Gejala apakah yang menunjukkan telah terjadi reaksi kimia pada
percobaan 1,2,3 dan 4?
2. Jika hasil reaksi(produk) dibiarkan beberapa jam, apa yang anda
diharapkan terjadi dengan suhu campuran pada (1) dan (2)?
3. Bagaimanakah jumlah entalpi zat-zat hasil reaksi (produk)
dibandingkan dengan jumlah energi zat pereaksi pada reaksi (1),(2),(3),
dan (4), jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama?
4. Gambarlah diagram tingkat energi untuk keempat reaksi di atas!

Jawab:
1. Reaksi diatas dapat dituliskan dalam persamaan:
Reaksi pertama:
CaO( s ) + H 2O( l )  Ca( OH )2( s )
Reaksi kedua:
Ba (OH ) 2.8H 2O ( s) +NH 4Cl ( s)  BaCl2( s ) + NH 3( g ) + H 2 O(l )
Reaksi ketiga:
Fe ( s) +
S ( s)  FeS ( s)
Reaksi keempat:
CuCO 3( s)  CuO ( s) +CO 2( g)
Seperti yang kita ketahui, reaksi kimia dapat menyebabkan terbentuknya
endapan, terbentuknya gas, perubahan warna maupun perubahan
suhu/temperatur.

Pada reaksi pertama (1), kita dapat menyimpulkan telah terjadi reaksi
kimia karena telah terjadi perubahan suhu benda menjadi lebih hangat. Selain
itu, terjadi perubahan sifat senyawa dari netral menjadi basa. Hal ini dapat
disimpulkan dari perubahan warna lakmus merah yang menjadi lakmus biru.
Pada hasil reaksi ini telah terjadi reaksi eksoterm. Sebagai contoh lainnya, es
yang dipanaskan akan mencair dimana ini merupakan reaksi eksoterm. Pada
kasus ini kita juga menemui kenaikan suhu sehingga dapat disimpulkan hal
yang serupa.

Pada reaksi kedua (2), kita dapat menyimpulkan telah terjadi reaksi kimia
karena telah terjadi perubahan suhu benda menjadi lebih dingin. Kalor yang
diserap dari lingkungan ke sistem untuk penyerapan menimbulkan proses
endoterm dimana udara yang kalornya diserap menjadi lebih dingin. Hasil
reaksi endoterm yang terjadi merupakan suatu reaksi kimia. Selain itu
terbentuknya bau pesing dari amoniak juga merupakan ciri-ciri reaksi kimia.
Pada reaksi ketiga (3), kita dapat menyimpulkan telah terjadi reaksi kimia
karena telah terjadinya beberapa hal, yaitu telah terbentuk suatu endapan
dari hasil belerang dan besi, terbentuknya bau gas yang menyengat, dan
terjadinya perubahan warna campuran akhir merupakan ciri telah terjadinya
reaksi kimia. Hasil reaksi yang terjadi pada reaksi ini adalah reaksi endoterm
yang dilanjutkan dengan eksoterm.

Pada reaksi keempat (4), kita dapat menyimpulkan telah terjadi reaksi
kimia karena telah terjadi perubahan warna pada sistem. Hasil reaksi yang
terjadi pada reaksi ini adalah reaksi endoterm karena telah terjadi
penyerapan kalor.

2. Seperti yang diutarakan pada jawaban nomor 1, reaksi pertama


merupakan reaksi eksoterm sedangkan reaksi kedua merupakan reaksi
endoterm. Reaksi eksoterm adalah suatu reaksi pelepasan kalor untuk
melakukan reaksi atau kita dapat menyimpulkan ∆H = − xJ dimana x adalah
entalpi (heat content) yang dilepaskan. Tentunya selama reaksi berlangsung,
maka akan terjadi pelepasan kalor yang menyebabkan naiknya temperatur
sistem. Sehingga reaksi pertama akan menghasilkan suhu yang lebih hangat.

Pada reaksi kedua, yang merupakan reaksi endoterm terjadi perpindahan


kalor dari luar sistem kedalam sistem karena untuk proses reaksi, sistem
membutuhkan kalor yang menyebabkan suhunya menurun. Karena q reaksi /
∆H sebanding dengan –q campuran (prinsip kalorimeter),maka reaksi
endoterm suhu campuran akan menjadi lebih dingin. Pada reaksi ini, ∆H = xJ
dimana x bernilai positif adalah q reaksi.

3. Pada p,t yang sama, maka dapat disimpulkan jumlah entalpi pada hasil
reaksi sebagai berikut:
Percobaan pertama: Jumlah entalpi (H) berkurang karena kalor yang
terdapat dalam produk dilepaskan ke sistem dan lingkungan sehingga tabung
terasa panas.

Percobaan kedua: Jumlah entalpi (H) bertambah karena produk menyerap


kalor dari udara, dimana kalor yang diserap membuat udara kehilangan kalor
sehingga tabung menjadi dingin.
Percobaan ketiga: Jumlah entalpi (H) bertambah kemudian berkurang
karena sistem menyerap kalor dari pembakaran sehingga terjadi perpindahan
kalor dari api ke sistem, tetapi ketika suhu sistem telah sampai suhu untuk
bereaksi, maka secara keseluruhan sistem akan melepaskan kalor /energi.

Percobaan keempat: Jumlah entalpi (H) bertambah karena sistem hanya


dapat bereaksi bila menerima kalor dari api. Sedangkan bila kalor yang
diberikan hilang maka reaksi pun akan terhenti,

4. Reaksi pertama:

Reaksi kedua:

Reaksi ketiga:

Reaksi keempat:
VIII. Kesimpulan:

Reaksi eksoterm adalah reaksi pelepasan kalor dari suatu sistem ke


lingkungan. Reaksi eksoterm ini merupakan suatu reaksi dimana entalpi pada
suatu sistem mengalami pelepasan dalam melakukan reaksi. Reaksi eksoterm
∆H = H p − H r < 0 . Sehingga dapat dituliskan bahwa ∆H = bernilai negatif.

Reaksi endoterm adalah reaksi penyerapan kalor dari lingkungan ke


sistem. Reaksi endoterm adalah reaksi dimana campuran menerima entalpi
dari lingkungan sehingga terjadi penyerapan energi dalam melakukan reaksi.
Reaksi endoterm ∆H = H p − H r > 0 . Sehingga dapat dituliskan bahwa ∆H
=bernilai positif.

Sehingga dari percobaan diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa


percobaan dimana terjadi penurunan suhu adalah reaksi endoterm sedangkan
reaksi dimana terjadi kenaikan suhu pada sistem adalah reaksi eksoterm
(dapat dilihat dari pembuktian pada teori).

Karena energi tidak dapat dimusnahkan, maka pastinya setiap reaksi kimia
dapat mengalami pelepasan maupun penyerapan kalor. Maka setiap reaksi
kimia dapat digolongkan dalam reaksi eksoterm maupun reaksi endoterm.

Daftar Pustaka

http://74.125.153.132/search?
q=cache:ndXb36if3RMJ:www.freewebs.com/kimiadb2/MateriBab2Sem10910.do
c+"reaksi+endoterm"+"suhu+campuran"&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://agwkimiasma.blogspot.com/2009/06/termokimia.html

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090922084435AAR8X1u

http://syafearadeas.blogspot.com/2009_01_01_archive.html

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/termokimia/pengertian-reaksi-
eksoterm-dan-endoterm/

http://www.id.wikipedia.org/wiki/Energi

http://www.gurumuda.com/kerja-suhu-kalor-sistem-lingkungan-energi-dalam

http://www.scribd.com/doc/7357420/Laporan-Percobaan-Kimia

Microsoft Encarta 2009 © All Rights Reserved.

Purba, Michael, 2006. Kimia, JILID 2A untuk SMA Kelas XI Semester 1. Jakarta :
Penerbit Erlangga.

*Peace cannot be kept by force. It can only be achieved by understanding.* (Albert Einstein)