Anda di halaman 1dari 15

Patofisiologi

Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra
seluler.
Hal pertama yang terjadi stelah virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang
mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal
diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan
dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran
hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).

Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma,


terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan
adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk
patokan pemberian cairan intravena. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler
dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga
peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan
melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan
kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi
kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung,
sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami
kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami
renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik
asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan hemostasis
pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan
koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh,
seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.

4.Gambaran Klinis

Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi
anatara 13 – 15 hari, tetapi rata-rata 5 – 8 hari. Gejala klinik timbul secara mendadak
berupa suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadang muntah dan batuk
ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan
retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. Sekitar mata
mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi, fotofobia, otot-otot sekitar mata terasa
pegal.

Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6 – 12 jam
sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yang berlangsung selama
beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien. Ruam berikutnya mulai antara
hari 3 – 6, mula – mula berbentuk makula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali,
serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan
dan kaki, kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini
berkurang dan cepat menghilang, bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-
mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi
dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.

Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis,
hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat
demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin
lemah, ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil
dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

5.Diagnosis

Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai berikut :

a. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari kemudian turun secara lisis demam
disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, lemah, nyeri.

b. Manifestasi perdarahan :

1. Uji tourniquet positif

2. Petekia, purpura, ekimosis

3. Epistaksis, perdarahan gusi

4. Hematemesis, melena.

c. Pembesaran hati yang nyeri tekan, tanpa ikterus.

d. Dengan atau tanpa renjatan.


Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7 sakit ).
Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis buruk.

e. Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi

Hepatomegali

Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit,


bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba sampai 24 cm dibawah lengkung iga
kanan. Proses pembesaran hati, dari tidak teraba sampai teraba, dapat meramalkan
perjalanan penyakit DBD. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya
penyakit, namun nyeri tekan pada tepi hati berhubungan dengan adanya perdarahan.
Nyeri perut lebih tampak jelas pada anak besar daripada anak kecil.

6.Klasifikasi
DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4
derajat (Menurut WHO, 1986) :

1. Derajat I

Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, uji tourniquet ,
trombositopenia dan hemokonsentrasi.

2. Derajat II

Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.

3. Derajat III

Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan daerah rendah
(hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).

Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

7.Pemeriksaan Diagnostik

Laboratorium
Terjadi trombositopenia (100.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat
dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nila hematokrit
pada masa konvalesen.
Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan
hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF dengan tepat.
Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah
pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit
pada saat peningkatan suhu pertama kali.

8.Diagnosa Banding

Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti :

a. Demam chiku nguya.

Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas
400C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot.

b. Demam typhoid

Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif, adanya
leukopenia, limfositosis relatif.

c. Anemia aplastik
Penderita tampak anemis, timbul juga perdarahan pada stadium lanjut, demam
timbul karena infeksi sekunder, pemeriksaan darah tepi menunjukkan
pansitopenia.

d. Purpura trombositopenia idiopati (ITP)

Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat menghilang,


tidak terjadi hemokonsentrasi.

9.Penatalaksanaan

Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :

a. Tirah baring atau istirahat baring.

b. Diet makan lunak.

c. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri
penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi
penderita DHF

d. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan
yang paling sering digunakan.

e. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi
pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.

f. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.

g. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.

h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

i. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.

j. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-


tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.

k. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.


Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera
dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak
perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 –
30 ml/kg BB.
Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48
jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba
jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma
biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.

Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang


hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan
yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb
yang mencolok.
Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24
jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Infus
diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :

a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga


mengancam terjadinya dehidrasi.

b. Hematokrit yang cenderung mengikat.

10.Pencegahan

Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :

a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan


melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF.

b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada


tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh
secara spontan.

c. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di


sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.

d. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan


tinggi.
Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :

1. Menggunakan insektisida.
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah
dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos
(abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah
dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate)
ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu
bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm
atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.

2. Tanpa insektisida
Caranya adalah :
a. Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1
x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari)

b. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.

c. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan


benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Dalam asuhan keperawatan digunakan pendekatan proses keperawatan sebagai cara


untuk mengatasi masalah klien.

Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu : pengkajian keperawatan, identifikasi,


analisa masalah (diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi).

1. Pengkajian Keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama


dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat
terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang
dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium,
rontgen), observasi, konsultasi.
A. Data subyektif

Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada
pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy,
1995 yaitu :

1. Lemah.

2. Panas atau demam.

3. Sakit kepala.

4. Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.

5. Nyeri ulu hati.

6. Nyeri pada otot dan sendi.

7. Pegal-pegal pada seluruh tubuh.

8. Konstipasi (sembelit).

B. Data obyektif :
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi
pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :

1. Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.

2. Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.

3. Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.

4. Hiperemia pada tenggorokan.

5. Nyeri tekan pada epigastrik.

6. Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.

7. Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin,
gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.

Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :

a. Ig G dengue positif.

b. Trombositopenia.

c. Hemoglobin meningkat > 20 %.

d. Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).

e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,


hiponatremia, hipokloremia.

Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia,


peningkatan limfosit, monosit, dan basofil

1. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

2. Ureum dan pH darah mungkin meningkat.

3. Waktu perdarahan memanjang.

4. Asidosis metabolik.

5. Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.


2. Diagnosa Keperawatan

Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut


Christiante Effendy, 1995 yaitu :

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).

b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.

d. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan


permeabilitas dinding plasma.

e. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang


lemah.

f. Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume


cairan tubuh.

g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).

h. Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.

i. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan


perdarahan yang dialami pasien.

3. Perencanaan Keperawatan

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).

Tujuan :

 Suhu tubuh normal (36 – 370C).

 Pasien bebas dari demam.

Intervensi :

1. Kaji saat timbulnya demam. Rasional : untuk mengidentifikasi pola


demam pasien.
2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.
Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien.

3. Anjurkan pasien untuk banyak minum  2,5 liter/24 jam.


Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.

4. Berikan kompres hangat.Rasional : Dengan vasodilatasi dapat


meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.

5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.


Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh.

6. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.


Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu
tinggi.

b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.

Tujuan :

 Rasa nyaman pasien terpenuhi.

 Nyeri berkurang atau hilang.

Intervensi :

1. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien Rasional : untuk mengetahui


berapa berat nyeri yang dialami pasien.

2. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.


Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri

3. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.


Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan
perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.

4. Berikan obat-obat analgetik


Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.

Tujuan :
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan
sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan.

Intervensi :

1. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.

2. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.


Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu
makan pasien.

3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.


Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan
asupan makanan .

4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.


Rasional : Untuk menghindari mual.

5. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.

6. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.


Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan
muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.

7. Ukur berat badan pasien setiap minggu.


Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien

d. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan


permeabilitas dinding plasma.

Tujuan :

 Volume cairan terpenuhi.

Intervensi :

1. Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda


vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui
penyimpangan dari keadaan normalnya.

2. Observasi tanda-tanda syock.


Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok.
3. Berikan cairan intravena sesuai program dokter
Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang
mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan
langsung masuk ke dalam pembuluh darah.

4. Anjurkan pasien untuk banyak minum.


Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume
cairan tubuh.

5. Catat intake dan output.


Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.

e. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang


lemah.

Tujuan :

 Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.

 Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi

Intervensi :

1. Kaji keluhan pasien.Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah


pasien.

2. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam
memenuhi kebutuhannya.

3. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai


tingkat keterbatasan pasien.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat
kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami
ketergantungan pada perawat.

4. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.


Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri tanpa bantuan orang lain.

f. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume


cairan tubuh

Tujuan :
 Tidak terjadi syok hipovolemik.

 Tanda-tanda vital dalam batas normal.

 Keadaan umum baik.

Intervensi :

1. Monitor keadaan umum pasienRasional : memantau kondisi pasien


selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan
sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.

2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.


Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.

3. Monitor tanda perdarahan.


Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien
tidak sampai syok hipovolemik.

4. Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit


Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang
dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

5. Berikan transfusi sesuai program dokter.


Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah
yang hilang.

6. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.


Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera
mungkin.

g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).

Tujuan : – Tidak terjadi infeksi pada pasien.

Intervensi :

1. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan


infus.Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap
kemungkinan terjadi infeksi.

2. Observasi tanda-tanda vital.


Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat
diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital.
3. Observasi daerah pemasangan infus.
Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.

4. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.


Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit
lebih lanjut.

h. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan


trombositopenia.

Tujuan :

Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

Jumlah trombosit meningkat.

Intervensi :

1. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.


Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran
pembuluh darah.

2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat


Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
perdarahan.

3. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih
lanjut.
Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini
mungkin.

4. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya.


Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis
yang diberikan.

i. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan


perdarahan yang dialami pasien.

Tujuan : – Kecemasan berkurang.

Intervensi :

1. Kaji rasa cemas yang dialami pasien. Rasional : Menetapkan tingkat


kecemasan yang dialami pasien.
2. jalin hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat.

3. Tunjukkan sifat empati


Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan
dengan baik.

4. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya


Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.

5. Gunakan komunikasi terapeutik


Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien
memberikan hasil yang efektif.

4.Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien anak dengan DHF disesuaikan dengan
intervensi yang telah direncanakan.

5.Evaluasi Keperawatan.

Hasil asuhan keperawatan pada klien anak dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang
terjadi pada pasien.
Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut :

a. Suhu tubuh pasien normal (36- 370C), pasien bebas dari demam.

b. Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.

c. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai


dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.

d. Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien
terpenuhi.

e. Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.

f. Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan


tanda vital dalam batas normal.

g. Infeksi tidak terjadi.

h. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.


i. Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat
tentang proses penyakitnya.