Anda di halaman 1dari 8

VISKOSITAS CAIRAN

13 OKTOBER 2010

I. TUJUAN

 Memahami cara penentuan derajat kekentalan (viskositas) cairan dengan


metoda falling ball viscometer.
 Menentukan besarnya jari-jari molekul berdasarkan pengukuran
viskositasnya.

II. TEORI DASAR


Cairan memiliki gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas,
hal ini disebabkan karena kerapatan molekul dalam cairan lebih besar jika
dibandingkan dengan kerapatan molekul dalam bentuk gas sehingga cairan
memiliki koefisien viskositas yang lebih besar daripada gas. Viskositas cairan
dapat ditentukan berdasarkan persamaan Poiseulle yaitu:
4
πP t
η= r
8lV
Dimana :
P = tekanan di sekitar cairan (dyne/cm2)
r = jari-jaru tabung kapiler (cm)
t = waktu alir (s)
l = panjang tabung kapiler (cm)
V = volume cairan (cm3)
Untuk mengukur viskositas suatu cairan dapat dilakukan dengan beberapa
metoda antara lain metoda Ostwald dan metoda falling ball viscometer.
Pengukuran viskositas dengan metoda Ostwald dilakukan dengan jalan
membandingkan waktu alir larutan dengan waktu alir pelarut (air), sehingga akan
diperoleh persamaan:
η t .ρ
=
η0 tρ
0 0

Sedangkan dalam metoda falling ball viscometer, pengukuran viskositas


cairan didasarkan pada waktu alir bola dengan sudut jatuh yang tegak lurus (90o)
dengan bidang datar dari titik awal hingga titik akhir (tanda batas). Setiap bola
memiliki koefisien tertentu bergantung jenis dan ukuran bola. Dalam metoda ini
pengukuran viskositas ditentukan dengan persamaan:
η = k (ρ*- ρ).t dan η0 = k (ρ*- ρ0).t0
dimana:
k = koefisien bola
ρ* = massa jenis bola (gram/ml)
Einstein menggambarkan hubungan yang bersifat linier antara volume zat terlarut
dengan viskositas larutan melalui persamaan:
η
= 1 + 6,3 x 1021r3C
η 0

Jika r = jari-jari molekul zat terlarut dan partikel zat dianggap berbentuk
bulat dengan volume 4/3πr3 dan C = konsentrasi zat, maka akan diperoler
persamaan garis linier dengan η/η0 sebagai fungsi C dan gradien (m) =
6,3x1021r3.

III. ALAT DAN BAHAN

Alat :
 Falling ball viscometer 1 buah
 Pipet ukur 5 ml 1 buah
 Labu Erlenmeyer 100 ml 4 buah
 Stopwatch 1 buah
 Termometer 100oC 1 buah
Bahan:
 Aquades
 Gliserol/gliserin
 Alkohol/etanol
 Aseton

IV. CARA KERJA


 Penentuan viskositas larutan gliserol dan aquades
 Disiapkan larutan gliserol konsentrasi 50% dan 25% (v/v)
 Falling ball viscometer dibersihkan dengan alkohol, lalu dengan aseton.
 Dimasukkan aquades hinga lebih batas titik awal. Dimasukkan bola kaca,
ditutup.
 Putar alat 180o, jalankan stopwatch saat bola bergerak dari tiitk awal
 Hitung waktu yang dibutuhkan. Lakukan 3 kali, dihitung waktu rata-rata
 Ditentukan ρ air dari literatur sesuai suhu percobaan, dihitung viskositas
air
 Dibersihkan lagi falling ball viscometer
 Dilakukan kembali untuk larutan gliserol 25% dan 50%
 Dihitung waktu yang dibutuhkan bola dari tiik awal sampai akhir
 Ditentukan ρ masing-masing larutan gliserol dengan piknometer, dihitung
viskositas.
 Penentuan jari-jari molekul gliserol
η
 Buat kurva/grafik
η 0
(smbu y) sbg fungsi konsentrasi gliserol (sumbu

x).
η
 Ditantukan jari-jari molekul gliserol dari persamaan regresi linear
η 0

=1+6,3x1021r3C dengan gradien m=6,3x1021r3


V. HASIL PENGAMATAN

Sampel Piknometer Piknometer Volume (V) Densitas


kosong (w1) + sampel ml (gram/ml)
gram (w2) gram
Aquades 22.33 46.83 25 0.98
Lar. 22.87 47.57 25 0.988
Gliserol
20%
Lar. 22.4 46.89 25 0.9796
Gliserol
25%
Lar. 21.77 46.09 25 0.9728
Gliserol
50%

w2 − w1
Cara menghitung densitas larutan gliserol ( ρ ) =
V
Sampel Percobaan ke- Waktu (detik) Viskositas
(centripoise)
Aquades 1 1:51;91 9.4794
2 1:2;97 5.2948
3 1:6;99 5.6364
Lar. Gliserol 20% 1 13.04 1.106
2 12.45 1.05
3 13.33 1.13
Lar. Gliserol 25% 1 39.80 3.42
2 36.12 3.1
3 38.89 3.34
Lar. Gliserol 50% 1 2:17;09 11.71
2 2:17;81 11.77
3 2:17;19 11.71

VI. PERTANYAAN

VII. PERHITUNGAN
a. Penentuan densitas larutan
- Aquades = (46,83-22,33)/25 = 0,98 gr/mL
- Gliserol 20% = (47,57-22,87)/25 = 0,988 gr/mL
- Gliserol 25% = (46.89-22,4)/25 =0,9796 gr/mL
- Gliserol 50% = (46,09-21,77)/25 = 0,9728 gr/mL

b. Penentuan viskositas larutan


- Aquades ηo = k (ρ*-ρo).to
Percobaan 1 = 0,07(2,2-0,98) 137 = 9.4794 centripoise
Percobaan 2 = 0,07 (2,2-0,98) 62 = 5.2948 centripoise
Percobaan 3 = 0,07 (2,2-0,98) 66= 5.6364 centripoise
- Gliserol 20% η =k (ρ*-ρ)t
Percobaan 1 = 0,07 (2,2-0,988) 13.04 = 1.106 centripoise
Percobaan 2 = 0,07 (2,2-0,988) 12.45 = 1.05 centripoise
Percobaan 3 = 0,07 (2,2-0,988) 13.33= 1.13 centripoise
- Gliserol 25%
Percobaan 1 = 0,07 (2,2-0,9796) 39.80 = 3.42 centripoise
Percobaan 2 = 0,07 (2,2-0,9796) 36.12= 3.1 centripoise
Percobaan 3 = 0,07 (2,2-0,9796) 38.89 = 3.34 centripoise
- Gliserol 50%
Percobaan 1 = 0,07 (2,2-0,9728) 137 = 11.71centripoise
Percobaan 2 = 0,07 (2,2-0,9728) 137 = 11.77 centripoise
Percobaan 3 = 0,07 (2,2-0,9728) 137 = 11.71 centripoise

VIII. PEMBAHASAN
Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair
dengan zat cair yang lain. Kekentalan atau viskositas dapat dibayangkan sebagai
peristiwa gesekan antara satu bagian dan bagian yang lain dalam fluida. Dalam
fluida yang kental kita perlu gaya untuk menggeser satu bagian fluida terhadap
yang lain.
Alat pengukur viskositas suatu cairan disebut viskosimeter (viscometer).
Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk mengukur viskositas cairan
yaitu metoda bola jatuh (falling ball), bola bergulir (rolling ball), pipa kapiler,
rotasi silinder kosentris (Couette), rotasi kerucut-plat, pelat paralel dan Ford-cup
(Walters,1996). Diantara metoda-metoda tersebut, metoda bola jatuh merupakan
metoda yang sering digunakan karena kesederhanaannya.

Viskositas gliserol ditentukan oleh-metode bola jatuh. Sebuah silinder


diisi dengan gliserol dan dua tanda ditempatkan pada ujung jarak bola akan diberi
batas waktu berakhir. silinder ditempatkan dalam bak air untuk menjaga suhu
yang konstan melalui setiap percobaan.

Sebuah tabung diadakan tegak lurus ke pusat permukaan gliserol sehingga


akhirnya adalah beberapa sentimeter di bawah permukaan fluida. Ini akan
menuntun lingkup dalam menjatuhkan melalui pusat silinder dan membantu untuk
menjaga gelembung udara dari mengikuti bola juga. Ini memperlambat layak bola
ke permukaan fluida [1].

Massa bola masing-masing, identitas makeup, dan diameternya ditentukan


dan dicatat, serta suhu gliserol tersebut. bola tersebut jatuh ke tabung, dan waktu
yang diperlukan untuk perjalanan antara tanda direkam. Jika kecepatan itu terlalu
cepat untuk merekam, lingkup kerapatan yang lebih rendah harus membuat waktu
diukur dengan beberapa derajat akurasi Suhu dari gliserol atau sifat-sifat sphere
bervariasi dan persidangan diulangi sampai cukup data dikumpulkan untuk
memiliki perwakilan yang baik untuk perhitungan.

Densitas gliserol pada suhu yang bervariasi ditemukan menggunakan


koefisien ekspansi. Kepadatan bola ditentukan dengan mencari rata-rata volume
dan massa masing-masing jika menggunakan sumber yang cukup konsisten,
seperti bb baja, atau menggunakan pengukuran individu jika ada sejumlah besar
variasi, seperti manik-manik kaca.
Pada praktikum pengukuran viskositas kali ini pun menggunakan metoda
bola jatuh dengan menggunakan alat falling ball viscometer. Prinsip pengukuran
viskositas metoda bola jatuh ialah dengan cara mengukur kecepatan bola pejal
jatuh di dalam cairan uji. Dengan terlebih dulu diketahui data jari-jari bola, massa
jenis bola, massa jenis cairan dan percepatan gravitasi maka viskositas cairan
dapat dihitung. Mengukur kecepatan bola jatuh biasanya dilakukan dengan cara
mencatat waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu.
Dari hasil perhitungan, dapat dilihat nilai viskositas larutan gliserol 50%
lebih besar dibandingkan dengan larutan gliserol 20%, 25% dan aquades, yaitu
sebesar 11.77cP, sedangkan nilai viskositas larutan gliserol 20%,25% dan aquades
berturut-turut 1,13 cP, 3,42cP dan 9,4794 cP. Ini membuktikan bahwa kekentalan
larutan gliserol 50% lebih tinggi dibandingkan dua sampel lainnya, yaitu aquades
dan larutan gliserol 20%, dan 25%. Berbeda dengan nilai viskositasnya, ternyata
berdasarkan hasil percobaan dan dilakukan penghitungan, ternyata nilai densitas
larutan gliserol 20%, yaitu 0.988 gr/ml lebih tinggi dibandingkan dengan larutan
gliserol 25%, 50% dan aquades yang hanya 0.9796 gr/ml, 0.9728 gr/ml dan 0.98
gr/ml.
Terdapat kesalahan pada saat perhitungan densitas larutan,seharusnya
konsentrasi gliserol tertinggi memiliki densitas terbesar, hal ini dimungkinkan
terdapat kesalahan teknis pada saat penimbangan larutan dengan piknometer
IX. KESIMPULAN
1) Nilai densitas gliserol 50% seharusnya lebih besar dari pada ketiga sampel
lainnya.
2) Terdapat kesalahan pada saat penimbangan piknometer larutan.
3) Viskositas gliserol 50% lebih besar daripada ketiga sampael

X. DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Viskositas
http://belajarviskositas.blogspot.com/