Anda di halaman 1dari 7

Penyakit Birokrasi yang Menjadi Rintangan

Administratif bagi Wirausahawa di Asia Tengah

Disusun oleh:
Ahmad Khairunnas 100
April Novita Dewi 100
Ghina Surya Ningsih 100
Tri Saputra Sakti 1006698326
Yudha Eka Nugraha 100

Universitas Indonesia
Depok
2010
Pendahuluan
Dewasa ini, untuk membuka sebuah usaha baru atau berwiraswasta nmemiliki
banyak rintangan-rintangan yang dapat menghambat berdirinya sebuah usaha. Hal
ini tengah dirasakan oleh banyak pengusaha di Asia Tengah. Dalam membuka
sebuah usaha baru, persyaratan peraturan dan perizinan dirasakan berlebihan.
Selain itu terdapat sistem pajak yang berlebihan, sulit, dan sewenang-wenang
yang berkaitan dengan sistem perbankan yang tidak memadai dan praktek
perbankan yang buruk. Hal ini tentu berdampak bagi pengusaha yang ingin
menanamkan modalnya di Asia Tengah. Mereka akhirnya mencari alternatif lain
dengan melakukan penyakit birokrasi lainnya seperti pemberian suap,
memanfaatkan koneksi pemerintahan, dan sebagainya. Anehnya, pemerintah tidak
memiliki komitmen untuk mengurangi rintangan administratif ini.

Pembahasan
Rintangan administratif bagi wirausaha swasta diartikan sebagai pemrosesan yang
berbelit dalam rangka pengajuan penanaman modal. Seperti dalam kasus Maria, ia
diwajibkan untuk memiliki rekening bank, mendaftar pada inspektrorat pajak, dan
lapisan administratif lainnya. Persyaratan peraturan dan perizinan yang ada di
Asia Tengah sangat berlebihan, bahkan dapat dikatakan merugikan pihak
wiraswasta kecil dan menengah sehingga muncul pola bisnis dengan tiga opsi: (1)
masuk ke sektor informal dengan membayar sogokan; (2) memanfaatkan koneksi
pemerintahan; dan/ atau (3) menduduki posisi pemerintahan lalu menyalahguna-
kannya demi mencari keuntungan.
Selain itu, pajak dirasakan sangat berlebihan dan sewenang-wenang. Hal ini
lagi-lagi merugikan pelaku bisnis kecil dan menengah, dimana sarana informal
menjadi satu-satunya opsi bagi mereka.
Sistem perbankan pun tidak memadai. Misalnya, di Uzbekistan menerapkan
suku bunga pinjaman hingga 17%, dimana hal ini sangat memberatkan pengusaha.
Belum lagi dengan pegawai bank yang tidak kompeten yang sering menyalah-
gunakan kewenangan.
Herannya, dengan rintangan yang begitu menyulitkan, pemerintah tidak
bergeming sehingga para pelaku bisnis di Asia Tengah beranggapan bahwa
seluruhnya adalah salah pemerintah yang tidak mengetahui bagaiman sebuah
pasar bebas. Dampaknya, sektor informal berkembang dengan pesatnya.
Dapat disimpulkan, bahwa dalam kasus ini yang paling menonjol adalah
dari birokrasi pemerintah dan kebijakan yang dibuatnya. Persyaratan administratif
yang berlebihan dapat diatasi dengan pembuatan kebijakan publik dengan upaya
mengubah ”lingkungan”. Dalam penerapannya, kebijakan publik di Asia Tengah
haruslah memiliki asas keadilan, sehingga pebisnis kalangan bawah dan
menengah saling menguntungkan dengan pemerintah, bukannya pemerintah yang
diuntungkan. Kebijakan juga harus dibuat untuk membatasi kewenangan
perbankan yang sifatnya merugikan. Pemerintah harus mengecek apakah bank
yang ada di Asia Tengah sudah menjalankan tugas sesuai dengan ketentuan
kebijakan atau tidak. Birokrasi berkaitan erat dengan kebijakan publik karena
birokrasi adalah implementator kebijakan publik.
Pada rintangan administratif yang begitu berlapis sehingga tidak efisien
dalam pelaksanaannya, juga dapat dimudahkan dengan kebijakan-kebijakan yang
dapat diputuskan oleh pemerintah. Sayangnya, dalam penentuan kebijakan,
kepentingan politik terlalu mendominasi sehingga proses kebijakan tidak berjalan
sebagaimana mestinya.
Selain berlapis, rintangan administratif yang dialami oleh para pihak
wiraswasta kecil dan menengah adalah para pegawai pemerintah yang suka
memungut ”uang ekstra” atau biasa disebut pungli—pungutan liar—atas
kesediaan pegawai mengurus urusan administratif tersebut.
Hal tersebut merupakan patologi—atau penyakit—birokrasi. Salah satu
penyakit birokrasi adalah adanya kerusakan moral yang selalu berpikir
mendapatkan uang dari projek-projek dan kegiatan yang sifatnya administratif.
Dewasa ini sangat sukar dihilangkan karena pegawai negeri memiliki gaji yang
dapat dikatakan kurang, maka dari itu mereka melakukan pungli. Dengan
demikian, seluruh rintangan administratif bagi wiraswasta di Asia Tengah
terkekang oleh permasalahan yang berasal dari pemerintah.
Meskipun masalah yang timbul adalah dari internal pemerintah, para
wiraswasta harus berupaya ekstra keras untuk menyadarkan pemerintah di negara-
negara Asia Tengah agar mau berbenah diri. Adalah bantuan dan bimbingan dari
asosiasi-asosiasi bisnis yang membuat seminar-seminar (dengan topik kesulitan
UKM untuk memperoleh akses kredit, pegawai yang meminta pungli, dan
sebagainya) menjadi langkah awal untuk menyatukan sektor swasta untuk
mendorong para pengusaha swasta menantang rintangan-rintangan administratif
yang berupa persyaratan-persyaratan perizinan dan peraturan yang berlebihan,
perpajakan yang rumit dan sepihak, sistem perbankan yang tidak memadai dan
praktek perbankan yang buruk, dan tidak adanya komitmen pemerintah untuk
mengurangi rintangan-rintangan ini.
Dalam banyak kasus, pemerintah-pemerintah di wilayah Asia Tengah masih
beroperasi dalam gaya Uni Soviet yang lama, dimana lingkungan bisnis
didominasi oleh peraturan yang rumit dan membebani, korupsi, dan mekanisme
penegakan peraturan yang lemah. Sebagai akibatnya, bisnis dipaksa masuk ke
dalam sektor informal, negara-negara tersebut tidak mampu menarik investasi,
dan keikutsertaan sektor swasta dalam proses pengambilan keputusan terbatas.
Agar reformasi ini terselenggara, maka asosiasi-asosiasi bisnis dan LSM-
LSM di Asia tengah harus berupaya dengan sekuat tenaga. CIPE juga bekerja
sama dengan organisasi kunci wilayah tersebut agar meningkatkan peran sektor
swasta dalam mendorong lebih jauh birokrasi pemerintahan yang transparan,
akuntanbilitas, perekonomian pasar bebas, dan sistem politik yang
mengikutsertakan masyarakat.

Kesimpulan
Rintangan administratif bagi wirausaha di Asia Tengah bersumber pada
berlapisnya sistem administrasi dalam membuka usaha atau penanaman modal.
Hal ini diperparah dengan adanya pegawai yang masih meminta uang ekstra pada
investor atau wiraswasta kelas kecil dan menengah dan sistem perbankan yang
tidak baik. Kenyataannya, hal-hal ini dapat diperkecil jika pemerintah-pemerintah
di wilayah Asia Tengah mau mengupayakan membuat kebijakan-kebijakan yang
baik serta dapat mengawasi pegawainya dengan pengawasan yang baik. Atau
dengan sistem Meritt System—dimana para pegawai diberikan reward sesuai
dengan prestasi yang diberikannya.
Namun pada kenyataannya, pemerintah tidak memiliki komitmen untuk
mengurangi ringtangan administratif ini. Para asosiasi bisnis pun seharusnya tidak
tinggal diam saja. Mereka harus mengupayakan dan menantang rintangan tersebut
dan langkah-langkah tepat. Salah satu langkah awal yang nyata adalah pemberian
seminar-seminar tentang rintangan administratif bagi wirausaha swasta itu sendiri.
CIPE telah bekerjasama dengan para asosiasi-asosiasi bisnis dan LSM-LSM guna
menantang rintangan administratif ini.

Nas, gue takut kalo diminta sesuai sama soal Latihan 8, jadi buat jaga-jaga:

Topik
Topik dalam teks ini adalah tentang bagaimana para wirausaha swasta di Asia
Tengh mengalami rintangan administratif. Proses administratif dalam penanaman
modal atau pembukaan usaha dipersulit dengan pengajuan yang begitu berlapis,
serta pajak yang berlebihan dan kinerja perbankan yang tidak memadai. Hal ini
pun tidak digubris oleh pemerintah yang harusnya memiliki komitmen untuk
mengurangi rintangan administratif bagi wiraswasta di Asia Tengah.

Tujuan Penulis
Tujuan penulis menuliskan teks ini adalah agar pembaca mengetahui
bahwasannya didalam proses administratif bagi wiraswasta di Asia Tengah
mengalami problematika dengan pengajuan pembukaan usaha (atau investasi)
yang berlapis dan terkesan menyulitkan wiraswasta kelas bawah dan menengah,
pajak dan peraturan yang dianggap berlebihan dan juga semena-mena.
Penulis mengajak pembaca agar merumuskan suatu pemecahan masalah
dalam rintangan administratif bagi wiraswasta di Asia Tengah. Penulis juga
bertujuan agar para pembaca tahu dalam penanganannya, ICE sudah bekerja sama
dengan asosiasi-asosiasi bisnis dan LSM-LSM dengan mengadakan seminar
bisnis bertopik rintangan administratif tersebut.
Tesis
Kalo tesis samain kayak kesimpulan aja ya Nas
Daftar Pustaka

Kawira, Pamela Lita, dkk. 2010. Program Dasar Pendidikan Tinggi: Latihan
Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Klitgaard, Robert,dkk. 2000. Corrupt Cities: A Practical Guide to Cure and
Prevention. California: World Bank Institute Press.
Wibawa, Samodra. 2005. Reformasi Birokrasi: Bunga Rampai Pemikiran
Administrasi Negara/Publik. Yogyakarta: Gava Media.