Daerah Rawan Bencana Sosial Kota Bogor

Kota Bogor, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 11.850 Ha, dan jumlah penduduknya 750.250 jiwa (2006). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Jarak dari ibu kota kurang lebih 60 km. Bogor telah lama dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Disinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian nasional berdiri. Institut Pertanian Bogor yang telah ada sejak awal abad ke-20 telah ikut membawa harum nama Bogor. Luas Wilayah Kota Bogor sebesar 11.850 Ha terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan. dan dikelilingi oleh Wilayah Kabupaten Bogor dengan perbatasan sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Kemang, Bojong Gede, dan Kec. Sukaraja Kabupaten Bogor. • Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Sukaraja dan Kec. Ciawi, Kabupaten Bogor. • Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Darmaga dan Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor. • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Cijeruk dan Kec. Caringin, Kabupaten Bogor.

Kedudukan geografi Kota Bogor berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta dekat dengan ibukota negara, Jakarta, membuatnya strategis dalam perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi sekaligus sebagai daerah tujuan migrasi bagi orang yang bekerja di jakarta. Keadaan ini ditunjang pula dengan kelancaran lalu lintas BogorJakarta dengan fasilitas jalan Tol. Kondisi inilah yang mengakibatkan Kota Bogor menjadi kota yang padat dengan aktivitas sosial perekonomiannya. Kondisi ini juga mengakibatkan berbagai masalah sosial yang kompleks dan sulit terpecahkan. Masalahmasalah ini rawan terhadap munculnya konflik sosial yang dapat dikategorikan sebagai bencana sosial. Peserta Diskusi dalam pemetaan daerah bencana sosial Kabupaten Bogor : 1. Tokoh masyarakat yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh pemuda yang berasal dari Kecamatan Tanah Sereal, Kecamatan Bogor Tengah, dan Kecamatan Bogor Selatan, masing-masing kecamatan diwakili oleh 8 (delapan) orang 2. Unsur Pemerintah dari: a. Dinas Tenaga Kerja dan Sosial. b. Kesbang Pemberdayaan. c. Satuan Polisi Pamong Praja. 3. Kepolisian Resort Kota Bogor. 4. Komando Daerah Militer.

h. pemanfaatan sarana ibadah. tetapi bertempat tinggal di Bogor.terdapat konflik yang berkepanjangan yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan/agama. banyak beredar buku yang mengatasnamakan agama dengan aliran atau faham tertentu. khususnya di Kecamatan Tanah Sereal. dan Camat setempat. 1. sehingga rawan menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat memicu terjadinya konflik sosial. Minimnya saluran komunikasi sosial politik. 6. Hal tersebut tentu saja akan menimbulkan kerawanan. menurut pihak yang lain dalam agama yang sama. i. Tingginya kecemburuan sosial akibat kesenjangan sosial ekonomi. RW. Belum atau tidak ada ijin untuk dijadikan tempat ibadat tapi sudah dijadikan tempat ibadat. Momentum Pemilihan kepemimpinan daerah secara langsung. adanya sentimen dan egoisme dari kelompok agama tertentu yang merasa benar secara sepihak. Keragaman keyakinan dan Agama. Misalnya dalam pelaksanaan peribadatan. Dewan Mesjid Kota Bogor. Lurah. Kebiasaan turun temurun. Karakteristik Daerah Rawan bencana a. b.5. b. c. Kondisi ini menyebabkan lalu lintas menjadi macet. banyak warganya yang bekerja di Jakarta. adanya kelompok yang melakukan peribadatan dengan menggunakan rumah warga (bukan tempat untuk ibadat). Ormas. Kekecewaan akibat kebijakan pembangunan yang tidak merata. l. d. sehingga menganggu rumah-rumah . Majelis Ulama Kota Bogor. terutama dari segi keamanan. e. Kepadatan penduduk serta kepadatan sosial budaya (Population and social Density). Kultur daerah. Tingginya Pemukiman liar (Squatter). Selain itu. j. g. f. Pada tahun 1998 sampai dengan sekarang di kelurahan Cimanggu. k. karena warga yang bekerja di Jakarta pada umumnya mempunyai tingkat status sosial ekonomi yang lebih tinggi. yang sebenarnya menyimpang. Konflik tersebut disebabkan oleh perbedaan pemahaman dan pelaksanaan peribadatan. Geng. Parpol. Adanya kelompok agama tertentu yang melanggar peraturan persyaratan penggunaan tempat ibadat. Karena letak geografisnya. warga tidak atau kurang mengenal tetangganya. tidak pro rakyat. Isu-isu yang ada. Kecamatan Tanah Sereal. Perselisihan identitas kelompok: Etnis. d. a. c. Remaja. selain itu banyak warga yang tidak melapor kepada RT. Arogansi/ketidakpercayaan terhadap aparat pemerintah menyebabkan konflik vertikal. Posisi geopolitik Bogor sebagai magnet pendatang di sekitar ibu kota.

atau “kebanggaan komunal” i. Selain hal-hal tersebut di wilayah kecamatan Tanah Sereal. juga terdapat konflik sosial yang sifatnya turun temurun. Eksekusi Mega Mall sampai sekarng belum terpecahkan secara memuaskan. akan tetapi tetap menyelenggarakan kegiatannya. yang terjadi pada komunitas anak sekolah atau pelajar antara Sekolah “STM Tri Darma” dengan “STM YKTB”. karena di Kecamatan Tanah Sereal banyak orang yang mendirikan usaha. Konflik yang terjadi antar pelajar tersebut. sangat terkait dengan identitas kelompok (lokal). dan mereka memiliki kelompok tersendiri yang cukup kuat. g. Misalnya ada anak kampung atau masyarakat setempat masuk ke dalam kompleks perumahan mencuri mangga. Misalnya. Situasi ini sangat rawan terhadap konflik horisontal. Banyak keluarga yang merasa dirugikan. antar kampung. Dewi Sartika Bogor. sehingga jika tidak dicegah dengan serius. Pemindahan PKL ke tempat baru juga sering menimbulkan konflik antar pedagang. Kepadatan penduduk serta sifatnya yang heterogen. h. kemudian ditegur. keramaian yang ada di lingkungan perumahan yang tidak menyenangkan. l. e. Pembauran budaya seringkali tidak berjalan dengan baik. karena arogansinya. Kecamatan Bogor Tengah . Konflik tersebut bersifat tersembunyi. Adanya kesenjangan ekonomi yang menyebabkan munculnya kecemburuan sosial antara warga penghuni perumahan dengan masyarakat setempat. karena banyaknya mobil yang parkir milik orang-orang yang mengikuti acara peribadatan tersebut yang mengganggu pemukiman warga. karena sangat rawan terjadi konflik horisontal antar warga. kemudian orang kampung menyerang warga penghuni perumahan. k. Masalah PKL ini terdapat di Jl. j. Pedagang Kaki Lima (PKL) juga rawan terhadap konflik.tetangga di sekitarnya yang berbeda agama. yaitu pedagang pendatang dan pedagang lama. Masalah pemilihan ketua Rukun Tetangga dan Rukun Warga (RT/RW) dengan cara pemilihan langsung juga merupakan suatu hal rawan menimbulkan konflik. terutama konflik vertikal dengan Polisi Pamong Praja. terutama sebagai dampak migrasi dari Jakarta membawa masalah tersendiri. Misalnya ada oknum yang “membacking” usaha tertentu. dan seolah-olah sudah menjadi semacam “legenda”. Kondisi ini harus diperhatikan dengan serius. Anak tersebut kemudia melapor kepada kampungnya. maka konflik antar kelompok dapat terjadi. 2. Adanya rasa ketidakpuasan terhadap oknum aparat. Aliran keagamaan yang menyesatkan yang ditolak keras oleh warga. f.

Di Kelurahan Cibogor. “prokem”. Kampung Deheng. Di lokasi-lokasi tersebut terjadi praktik-praktik “premanisme”. ada PKL yang berjualan di emperan yang mengganggu ketertiban lalu lintas.a. Ada daerah tertentu di Bogor Selatan yang memiliki arogansi turun temurun. Pelacuran dan perjudian banyak terjadi di wilayah ini. c. pendatang baru. kebencian seringkali dimiliki oleh masing-masing kelompok yang rawan konflik. Hal ini dikarenakan. banyak kriminalitas yang berkembang dalam kampung ini. banyak pula pengelola keamanan pasar (tidak resmi/preman) yang berinteraksi dengan pemukiman warga. Sementara sebagian PKL lainnya melakukan praktik-praktik yang curang. Kondisi ini sering mengancam warga pemukiman. b. Terutama dengan adanya pemilihan langsung yang menghadapkan warga secara langsung dengan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang dimiliki masingmasing kelompok. Tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para jawara di masa lalu. Lingkungan kampung yang kotor. seperti “backing-backingan”. Pemilihan RT/RW saja dapat menimbulkan konflik berkepanjangan di daerah ini. yang komunitasnya cukup heterogen dari segi agama. UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH DAN MENGATASI BENCANA SOSIAL. atau perkelahian kelompok. Masalah pergesekan antara PKL dengan aparat dan warga muncul. . suku. serta sering terjadi banjir. tepatnya di Jalan Dewi Sartika banyak terdapat pedagang kaki lima (PKL). yang berjualan sesuai dengan ketentuan. Daerah ini awalnya bernama genting. Sementara itu. atau sudah merupakan kultur daerah. PKL ada 2 (dua) kriteria. Kecamatan Bogor Tengah memiliki tiga buah pasar besar yang berada di keramaian lalu lintas kota yang padat. 3. yaitu Kebon Kalapa. Persinggungan sosial dan budaya sering mengakibatkan konflik antar warga. karena banyak PKL yang berjualan di daerah yang terlarang. ataupun etnis. Di samping itu. c. Karena. Bogor Selatan a. tentu saja akan mengganggu ketentraman warga sekitar. kecurigaan. Seringkali konflik individual pengguna jalan berkembang menjadi konflik kelompok. pedagang kecil. Di lokasi ini sering terjadi pergesekan antara PKL dengan aparat keamanan. Ada suatu daerah atau kompung yang merupakan pemukiman liar (daerah beling). terutama di daerah genteng. atau daerah rawan yang sering terjadi konflik antar warga. sementara pasar-pasar tersebut letaknya dengan perumahan warga. di Kelurahan lain. sebagian PKL ada yang merasa diperlalukan tidak adil (diskriminatif). Kekecewaan. di masa “Sindang Barang Jero”. terdapat 3 (tiga) buah pasar yang besar. Kampung ini memiliki penghuni yang mayoritas adalah: Pemulung. kumuh. b. PKL pedagang resmi. serta Kampung Comreng.

walaupun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. • Melakukan penyuluhan secara terpadu oleh Babinmas. berdasarkan laporan dari masyarakat berdasarkan frekuensi munculnya kejadiankejadian. menempatkan satgas-satgas. • Membuat peta daerah rawan secara terprogram atau terstruktur. Kegiatan ini sudah berlangsung lama dan dilakukan secara terus menerus. Forum ini baru dibentuk dan belum bekerja dengan baik. 6. yaitu dengan mendatangi lokasi kejadian. supaya memahami wawasan kebangsaan. seperti kemiskinan. 3. atau menjaga keamanan merupakan tanggung jawab warga terhadap negara. memberikan penyuluhan tentang kesadaran bela negara. membubarkan massa. misalnya dengan melakukan pertemuan yang terus menerus dengan kelompok-kelompok pemuda. kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Majelis Ulama Kota Bogor • Mensosialisasikan aliran-aliran keagamaan yang menyesatkan. patroli. 2. Upaya yang dilakukan oleh Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 5. pengangguran. 4. akan tetapi sangat baik untuk dikembangkan terus di masa yang akan datang.1. • Membuat perancanaan yang diarahkan ke masa depan berdasarkan. . Selain itu juga penanganan secara hukum. • Menjadi fasilitator. • Mengurangi seoptimal mungkin bibit-bibit konflik yang berasal dari permasalahan sosial. • Medukung dan memfasilitasi komunikasi antar umat melalui FKUB. • “TNI masuk sekolah”. Dinas Sosial • Telah memiliki peta rawan bencana alam. misalnya dalam mengatur penempatan tempat ibadah. • Mengkaji secara lebih dalam tentang aturan penyelenggaraan rumah ibadah agar tidak mengganggu pemukiman. Upaya yang dilakukan oleh TNI/ Koramil • Mengajak warga dengan cara yang tidak formal untuk tidak melakukan kegiatan yang dapat membuat kekacauan dalam masyarakat. dan sebagainya. Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) • Menjadi sarana komunikasi yang sangat konstruktif antar umat beragama yang dapat menjembatani kesalah pahaman yang dapat diselewengkan oleh oknum tertentu yang memicu konflik antar agama. pelacuran. Upaya yang dilakukan Polresta (Pihak Kepolisian) • Preventif: upaya yang dilakukan supaya kerusuhan atau konflik sosial yang terjadi tidak besar. jika terjadi tindak pidana • Represif: upaya yang dilakukan untuk menangani konflik sosial dengan cara melakukan penangkapan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful