Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN INDIVIDU

COURSE AGAMA KRISTEN

ABORSI DITINJAU DARI PRESPEKTIF KRISTEN

OLEH :
ADINDA FERINAWATI
G0010003

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Aborsi merupakan suatu isu yang kontroversial. Ada berbagai macam pandangan
dan tanggapan mengenai hal ini. Para ahli agama, kesehatan, hukum, psikolog
memberikan pernyataan masing-masing, baik mendukung atau menolak. Pelaksanaan
aborsi pun di setiap negara berbeda-beda,ada yang secara tegas melarang pelaksanaan
aborsi, ada yang memperbolehkan untuk alasan-alasan tertentu.
Profesi dokter tidak hanya menuntut kemampuan dalam hal disiplin ilmu
kedokteran saja, akan tetapi juga kemampuannya dalam mengambil keputusan etis dengan
mempertimbangkan berbagai aspek seperti medis,agama,hukum,dan sosial. Seorang
dokter mungkin akan dihadapkan pada masalah ini, yakni suatu saat akan ada pasien yang
memintanya untuk membantu melakukan aborsi. Disinilah dokter kristen dituntut untuk
bisa menyikapi secara tepat sesuai dengan etika kristen yang bersumber dari alkitab.
Dalam skenario kali ini, kasus yang dihadapi adalah seorang siswi kelas I SMP
berumur 13 tahun, hamil 1 bulan akibat perkosaan. Akibatnya korban mengalami depresi.
Orangtua ingin agar janin diaborsi, kemudian berkonsultasi ke dokter. Dokter setelah
mengadakan pertimbangan dengan tim ahli (dokter, ahli agama dan psikiater) memutuskan
setuju untuk melakukan aborsi. Namun, walaupun tim ahli telah setuju, orang tua masih
bingung karena menurutnya agama dan hukum melarang aborsi.
Dalam laporan ini, penulis mencoba menganalisis tindakan aborsi dari segala aspek
yang terkait terutama dari segi iman kristen, sehingga pada prakteknya kelak bila
dihadapkan pada kasus yang serupa penulis bisa mengambil sikap dan pendirian yang
didasari oleh iman dan etika kristen.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah aborsi itu?
2. Bagaimana aborsi dilihat dari aspek hukum,agama, kode etik kedokteran,dan sumpah
dokter?
3. Bagaimana sikap dokter kristen dalam menghadapi kasus aborsi?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pandangan mengenai aborsi dari aspek hukum, agama, kode etik kedokteran
dan sumpah dokter
2. Mengetahui bagaimana sikap dokter kristen dalam menghadapi kasus aborsi
D. MANFAAT PENULISAN
1. Mahasiswa dilatih untuk dapat mengambil keputusan etis dengan mempertimbangkan
kasus dari berbagai aspek

BAB II
STUDI PUSTAKA

1. Pengertian Aborsi

Aborsi merupakan pengeluaran hasil konsepsi secara prematur dari uterus sebelum fetus
dimungkinkan untuk hidup, yaitu fetus dengan berat kurang dari 500 gram dan usia kurang dari 20
minggu (Dorland, 2006: 5-6). Definisi yang lain adalah adanya perdarahan dari dalam rahim
perempuan hamil di mana karena sesuatu sebab, maka kehamilan tersebut gugur & keluar dari
dalam rahim bersama dengan darah, atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum anak berusia 22
minggu atau belum dapat hidup di dunia luar. Biasanya disertai dengan rasa sakit di perut bawah
seperti diremas-remas & perih. (Billy N. ,2008)

2. Macam-macam Aborsi

Aborsi diklasifikasikan menjadi 2 yaitu, aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi
spontan adalah aborsi yang terjadi secara alamiah tanpa adanya upaya-upaya dari luar
untuk mengakhiri kehamilan misalnya akibat keadaan kondisi fisik yang turun,
ketidakseimbangan hormon didalam tubuh, kecelakaan, maupun sebab lainnya.
Terminologi yang paling sering digunakan untuk abortus spontan adalah keguguran.
Sedangkan aborsi buatan adalah aborsi yang terjadi akibat adanya upaya-upaya tertentu
untuk mengakhiri proses kehamilan. Aborsi buatan dibagi lagi menjadi aborsi provokatus
terapetikus (buatan legal) & aborsi provokatus kriminalis (buatan ilegal). Aborsi
provokatus terapetikus adalah pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat-
syarat medis & cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan, biasanya karena alasan
medis untuk menyelamatkan nyawa/mengobati ibu. Aborsi provokatus kriminalis adalah
pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan/mengobati ibu,
dilakukan oleh tenaga medis/non-medis yang tidak kompeten, serta tidak memenuhi syarat
& cara-cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan. Biasanya di dalamnya
mengandung unsur kriminal atau kejahatan. (Billy N., 2008)

3. Pandangan Mengenai Aborsi


a) Aspek agama
i) Menurut agama islam
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2005, tentang Aborsi menetapkan
ketentuan hukum Aborsi sebagai berikut :
1) Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu
(nidasi).
2) Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat. Darurat
adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang
diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati. Sedangkan Hajat adalah suatu keadaan
di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan
mengalami kesulitan besar.
a) Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi adalah:
i) Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC
dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan
oleh Tim Dokter.
ii) Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.
b) Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi
adalah:
i) Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetik yang kalau lahir kelak
sulit disembuhkan.
ii) Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang
yang di dalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.
c) Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin
berusia 40 hari.
3) Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.
Dalam hukum Islam terdapat perbedaan pendapat tentang aborsi sebelum ditiupkannya
ruh. Dalam madzhab hanafi, misalnya ibn Abidin membolehkan aborsi dengan alasan
pembenar sampai habisnya bulan keempat, demikian juga di kalangan madzhab Syafi’i,
Muhammad Ramli membolehkan dengan alasan belum adanya makhluk yang bernyawa.
Sedang pendapat yang melarang walaupun sebelum ditiupkannya ruh di antaranya Imam Al
Ghazali dan Imam Malik. (Ahmad Syafiuddin, 2002)
ii) Menurut agama katolik
Gereja katolik, tak henti-hentinya mengutuk aborsi yang secara langsung dan terencana
mencabut nyawa bayi yang telah dilahirkan. Pada prinsipnya, umat kristen katolik percaya
bahwa semua kehiudupan adalah kudus sejak dari masa pembuahan hingga kematian yang
wajar, dan karenanya mengakhiri kehidupan manusia yang tidak bersalah baik sesudah
maupun sebelum ia dilahirkan, merupakan kejahatan moral.(Donum vitae,2005).
iii) Menurut Agama Budha
Agama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah
melanggar pancasila Buddhis, khususnya menyangkut sila pertama yaitu panatipata
(pembunuhan). Dalam Majjhima Nikaya 135 Buddha bersabda "Seorang pria dan wanita
yang membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas
kasihan kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu ia akan
dilahirkan kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir, umurnya
tidaklah akan panjang". Oleh karena itu, menurut agama buddha tindakan aborsi itu
berhubungan jelas dengan karma dan akan berakibat buruk yang berat atau ringannya
tergantung pada kekuatan yang mendorongnya dan sasaran pembunuhan itu, serta akan
mendapatkan akibat di kemudian hari, baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan
datang.

iv) Menurut Agama Hindu


Aborsi dalam Theology Hinduisme tergolong pada perbuatan yang disebut “Himsa
karma” yakni salah satu perbuatan dosa yang disejajarkan dengan membunuh, meyakiti, dan
menyiksa. Membunuh dalam pengertian yang lebih dalam sebagai “menghilangkan nyawa”
mendasari falsafah “atma” atau roh yang sudah berada dan melekat pada jabang bayi
sekalipun masih berbentuk gumpalan yang belum sempurna seperti tubuh manusia. Segera
setelah terjadi pembuahan di sel telur maka atma sudah ada atas kuasa Hyang Widhi. Oleh
karena itulah perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan nyawa. Kitab-kitab suci
Hindu antara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan : “Ma no mahantam uta ma no arbhakam”
artinya : Janganlah mengganggu dan mencelakakan bayi. Atharvaveda X.1.29 :
“Anagohatya vai bhima” artinya : Jangan membunuh bayi yang tiada berdosa.
b) Aspek hukum
Dalam hukum di Indonesia , ketentuan yang mengatur masalah aborsi terdapat dalam
UU Kesehatan tahun 2009 sebagai perbaikan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1992,
dan KUHP.
1) UU Kesehatan Tahun 2009
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam
nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan,
maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan;
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan
yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir,
kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
2) Ketentuan di dalam KUHP yang mengatur masalah tindak pindana aborsi terdapat di
dalam Pasal 299, 346, 347, 348, dan 349.
 Pasal 299 KUHP : Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang perempuan atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa
karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
 Pasal 346 KUHP : Seorang perempuan yang dengan sengaja menggugurkan atau
mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
 Pasal 347 KUHP : (1)Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang perempuan tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama duabelas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya
perempuan tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama limabelas tahun.
 Pasal 348 KUHP :(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang perempuan dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan
pidana penjara tujuh tahun.
 Pasal 349 KUHP : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan
dalam pasal 347 & 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah
untuk dengan sepertiga & dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam
mana kejahatan dilakukan.
c) Aspek Kode Etik Kedokteran dan Sumpah Dokter

Dalam pasal 7d disebutkan, ‘Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban
melindungi makhluk hidup insani’. Maka, dalam praktiknya, dokter hendaknya melindungi
setiap insan mulai dari dalam kandungan. Dalam Deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran
atas indikasi medik,disebutkan bahwa moral dasar yang dijiwai oleh seorang dokter adalah
butir Lafal Sumpah Dokter yang berbunyi “Saya akan menghormati hidup insani sejak saat
pembuahan”. Oleh karena itu maka abortus buatan dengan indikasi medik, hanya dilakukan
dengan syarat-syarat berikut:
1. Pengguguran hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik.
2. Suatu keputusan untuk menghentikan kehamilan, sedapat mungkin disetujui secara tertulis
oleh dua orang dokter yang dipilih berkat kompetensi profesional mereka.
3. Prosedur itu hendaklah dilakukan oleh seorang dokter yang kompeten di instalasi yang
diakui oleh suatu otoritas yang sah.
4. Jika dokter itu merasa bahwa hati nuraninya tidak membenarkan ia melakukan pengguguran
tersebut, maka ia berhak mengundurkan diri dan menyerahkan pelaksanaan tindakan medik
itu kepada sejawatnya yang lain yang kompeten.
Hal mengenai aborsi juga terdapat pada Sumpah Hippokratik secara kategoris menyatakan
sebagai berikut : Saya tidak akan memberikan obat-obatan kepada kaum wanita yang
menyebabkan keguguran. Berdasarkan pernyataan ini , kita menemukan beberapa prinsip dasar
yaitu,dokter memeberikan nilai yang istimewa pada kehidupan calon manusia/fetus sekalipun,
juga kitu simpulkan betapa mereka melindungi kehidupan manusia.

BAB III
PEMBAHASAN

Hal utama yang menjadi kontroversi masalah aborsi adalah ‘kapan kehidupan dimulai atau
kapan janin bisa disebut manusia?’. Ini berhubungan dengan pertanyaan apakah aborsi
termasuk membunuh manusia. Banyak filosofi dan ahli teologia yang berpegang pada
pendapat bahwa fetus secara substantialnya sama dengan orang dewasa sejak saat terjadinya
konsepsi. John T. Noonan, misalnya menyatakan bahwa apapun yang dikandung oleh
orangtua manusia adalah manusia, jadi fetus itu adalah manusia sejak saat konsepsi. Dalam
Alkitab, jiwa, roh dan kehidupan dipakai secara bergantian. Istilah-istilah tersebut menunjuk
pada kesatuan manusia. Jadi kehidupan, roh, jiwa dan manusia, semuanya ada pada saat
sperma dan sel telur bersatu. Fetus adalah manusia yang mempunyai hak sama seperti kita.
Setelah mengetahui status janin yang juga adalah manusia, kita dihadapkan pada pertanyaan
bagaimana aborsi dari segi iman kristen. Dasar yang digunakan adalah Hukum Taurat, perintah
yang ke-6 “Jangan Membunuh”. Apabila kita memperhatikan dasar ini, maka secara jelas
bahwa iman kristen melarang aborsi, hal ini bersifat absolut karena merupakan standar moral
mutlak dari Allah.
Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana aborsi yang dilakukan pada korban
pemerkosaan,juga aborsi yang dilakukan pada kehamilan yang apabila diteruskan akan
mengancam kesehatan mental dan fisik sang ibu. Juga pertanyaan yang memojokkan umat
kristen adalah “apakah benar membiarkan seorang bayi dilahirkan dalam keadaan cacat
padahal hal ini bisa dicegah dengan aborsi?”
Usaha untuk mengakhiri kehamilan dalam kandungan yang normal sebelum fetus itu dapat
hidup sendiri dalam usaha menyelamatkan atau memeperpanjang hidup si ibu disebut aborsi
terapi. Beberapa orang memperbolehkan aborsi terapi dengan alasan problem medis. Secara
medis, aborsi terapi boleh dilakukan dengan indikasi medis yang sudah ditetapkan yaitu:
penyakit jantung/kardiak, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, penyakit ganas, penyakit hati,
penyakit sistem gastrointestinal, penyakit sistem saraf,pasien bedah kandungan, indikasi yang
berhubungan dengan fetus, anemia aplastik,dll. Intinya secara medis aborsi dapat dilakukan
jika kelangsungan kehamilan tersebut dapat mengancam kehidupan si ibu atau membahayakan
kesehatannya, kehamilan akibat perkosaan, dan kelangsungan kehamilan mungkin
mengakibatkan lahirnya seorang anak dengan keadaan cacat tubuh atau keterbelakangan
mental. Setelah melihat indikasi tersebut, keputusan ada di tangan kita, mengatakan ya atau
tidak pada aborsi.
Akan tetapi ada hal yang harus diingat bahwa kehidupan dan kematian ada di tangan
Allah,bukan di tangan dokter. Dalam Yeremia 1:5 dikatakan bahwa “Sebelum Aku membentuk
engkau dalam rahim ibumu,Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari
kandungan,Aku telah mengkuduskan engkau”,dan dari Mazmur 137:13-18 Daud menyatakan
bahwa Allah secara aktif terlibat dalam pembentukan fetus. Ini membuktikan bahwa Allah
sendiri yang telah menghendaki kita lahir ke dunia bagaimanapun caranya,sehingga kita
bersalah jika kita menghalangi rencana Tuhan.
Mengenai aborsi karena fetus diperkirakan tidak normal,kita harus bertanya pada diri
kita,apa orang cacat tidak boleh hidup?apa orang cacat tidak ada gunanya?Orang cacat tidak
lebih rendah dari kita,mereka ada untuk mengingatkan kita agar kita tidak selalu menuntut,
melainkan senantiasa bersyukur. Orang cacat sering dijadikan sebagai sumber inspirasi karena
mereka bisa membuat kekurangan mereka menjadi kelebihan dan prestasi bagi mereka. Ada
pekerjaan-pekerjaan Allah yang dinyatakan dalam mereka(Yoh 9:1-2)
Jadi saya secara pribadi menolak tindakan aborsi,meskipun seperti pada skenario korban
adalah korban perkosaan,di bawah umur dan mengalami depresi.Alasannya adalah sumber
rumusan moral yang tertinggi adalah Allah. Allah melarang kita untuk membunuh,dan aborsi
termasuk tindakan membunuh.Allah menyatakan hukum moral dalam Alkitab dengan
penghargaan yang tinggi terhadap kekudusan hidup. Hukum moral bersifat absolut.
Membunuh keberadaan manusia selalu dipandang jahat, tidak peduli apakah situasi dan
kondisinya berubah atau tidak.
Langkah yang harus dilakukan pertama adalah pada upaya menghilangkan depresi pada
pasien akibat perkosaan, korban harus didampingi orangtua,psikolog dan rohaniawan, agar
kondisi mental dan emosional bisa pulih seperti semula. Setelah depresi korban bisa diatasi,
perlu diadakan pembicaraan khusus melibatkan orangtua mengenai kehamilan tersebut,apakah
mau dipertahankan atau tidak. Penting bagi dokter untuk menyampaikan setiap pertimbangan
dan resiko dari kedua pilihan tersebut. Kita juga perlu memberitahukan sikap dan pendirian
kita sebagai dokter kristen, bahwa kita menolak tindakan aborsi. Kita bantu dalam memberikan
solusi atas masalah yang akan timbul jika kehamilan akan diteruskan seperti masalah medis
(umur belum cukup) perlu pemantauan dokter spesialis, pengasuhan bayi kelak apabila sudah
lahir, dan kelanjutan pendidikan korban.

BAB IV
KESIMPULAN

Iman kristen secara tegas melarang tindakan aborsi, ini didasari karena tindakan ini
termasuk dalam pembunuhan manusia yang jelas melanggar Perintah Allah yaitu Jangan
Membunuh. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membuat dan
mempertahankan manusia tetap manusiawi di dunia ini, bukannya menurunkan nilai
kehidupan manusia dan menghancurkannya.Saya pribadi akan mengatakan tidak pada setiap
kasus aborsi apapun motifnya, meskipun beberapa negara, termasuk negara kita
memperbolehkan aborsi untuk kasus tertentu. Sebab hidup manusia sungguh berharga bagi
Allah, jadi kita tidak berhak mengakhiri hak hidup seseorang. Kehidupan dan kematian
manusia adalah otoritas Allah, biarlah Dia yang membuat segala sesuatu indah pada
waktunya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Hukum dan Aborsi. http: //www.aborsi.org. (25 Oktober 2010)
Billy N. 2008. Aborsi Menurut Hukum di
Indonesia.http://www.hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aborsi-menurut-hukum-
di-indonesia/ (25 Oktober 2010).
Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Edisi 29. Jakarta : EGC.

Fauzi, Ahmad. Lucianawaty, Mercy. Hanifah, Laily. Bernadette, Nur. 2002. Aborsi di
Indonesia. http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jun/2002/utama03.htm, akses tanggal
25 oktober 2010
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran. 2002. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Jakarta :
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran.
Majelis Ulama Indonesia. 2005. Fatwa MUI no.4 tahun 2005 Tentang Aborsi. Jakarta :
www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=101
Moeljatno. 2003. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Jakarta: Bumi Aksara. .
94-98
Rumondor, Daniel. 1988. Jangan Membunuh! (Tinjauan Etis Terhadap Beberapa
Praktek Kedokteran).Yogyakarta: Yayasan Andi
Wikipedia. 2008. Aborsi. www.id.wikipedia.org