Anda di halaman 1dari 6

Hakikat Membaca Kritis

Hakikat membaca kritis sangat relevan dengan kehidupan Anda sebagai calon guru
yang dituntut untuk menambah wawasan dan mengambangkan ilmu. Oleh sebab
iyu, kegiatan belajar ini tentu akan sangat bermanfaat karena Anda akan dapat
memanfaatkan hasil pembacaan Anda yang cermat dan matang. Berdasarkan hal
itulah hakikat membaca kritis ini merupakan kegiatan belajar yang penting dan
wajib dikuasai oleh mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia.

Melalui kegiatan belajar ini, Anda sebagai mahasiswa S1 Kependidikan


Bahasa Indonesia dibekali dengan kompetensi yang berkenaan dengan kemampuan
untuk menerapkan metode membaca kritis. Untuk menguasai kompetensi tersebut,
Anda wajib menjelaskan hakikat membaca kritis. Selain itu, lewat kegiatan belajar
ini Anda sebagai mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan membaca kritis
dengan langkah awal menjelaskan pengertian membaca kritis, dan karakteristik
membaca kritis.

B. Pengertian Membaca Kritis


Marilah kita cermati bacaan berikut ini!
Menurut suatu penelitian di Universitas
Cambridge, aturan hurup dalam kata tidak
penting. Cukup huruf pertama dan terakhir.

Tentunya Anda dapat membaca bacaan di atas dengan cukup mudah, bukan? Akan
tetapi,
bagaimana dengan bacaan berikut ini

Memangagaksulitmembacatulisaninikarenatan
patitikdankomadanjugapastilamakelamaanand
apastijaditerbiasawalaupunjarangadaorang.

Bacaan kedua mungkin agak sulit daripada bacaan pertama karena Anda
jarang menemikan tulisan tanpa tanda baca, perbedaan huruf besar/kecil, dan
tanpa spasi, seperti itu. Akan tetapi, akhirnya Anda tetap dapat membacanya
bukan? Setelah Anda membaca dua bacaan di atas, mungkin dalam diri Anda timbul
pertanyaan “Apa maksud penulis?” jadi, sebenarnya, sewaktu membaca bahan
bacaan, dalam diri pembaca akan timbul pertanyaan, “Mengapa penulis menulis
seperti itu? Apa maksudnya? Dan sebagainya.” Jika itu yang terjadi pada Anda,
berarti Anda telah bersikap kritis terhadap bacaan dan penulisnya. Bagaimanakah
pendapat Anda terhadap dua tulisan di atas.
2
Pada dasarnya, saat seseorang membaca kritis (critical reading) dia melakukan
kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif,
serta analisis, dan bukan ingin mencari kesalahan penulis. Membaca kritis adalah
kemampuan memahami makna tersirat sebuah bacaan. Untuk itu, diperlukan
kemampuan berfikir dan bersikap kritis. Dalam membaca kritis, pembaca mengolah
bahan bacaan secara kritis. (cf.Harris et. Al. 1983; smith, 1986; Albert dalam
tarigan, 1988:89) Selain itu, dikemukakan pula bahwa membaca kritis merupakan
suatu strategi membaca yang bertujuan untuk mendalami isi bacaan berdasarkan
penilaian yang rasional lewat keterlibatan yang lebih mendalam dengan pikiran
penulis yang merupakan analisis yang dapat diandalkan. Dengan membaca kritis,
pembaca dapat pula mencamkan lebih dalam apa yang dibacanya dan dia pun akan
mempunyai kepercayaan diri yang lebih mantap daripada kalau dia membaca tanpa
usaha berpikir secara kritis. Oleh karena itu, membaca kritis harus menjadi ciri
semua kegiatan membaca yang bertujuan memahami isi bacaan sebaik-baiknya.
Membaca kritis meliputi penggalian lebih mendalam, upaya untuk menemukan
bukan hanya mengenai keseluruahan kebenaran mengenai apa yang ditulis, tetapi
juga (dan inilah yang lebih penting pada masa-masa selanjutnya) menemukan alas
an-alasan mengapa sang penulis mengatakan apa yang dilakukannya. Apabila
seorang pembaca menemukan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga
mengapa hal itu dikatakan maka dia sudah melakukan membaca kritis yang
merujuk pada keterpahaman.

C. Karakteristik Membaca Kritis


Pernahkan Anda membaca, kemudian mengomentari bacaan atau bahkan ingin membuat/menulis
bacaan tanggapan? Jika Anda pernah mengalami hal ini berarti Anda sudah menerapkan
membaca kritis.
1. Berpikir dan Bersikap Kritis
Membaca kritis pada dasarnya merupakan langkah lebih lanjut dari berpikir dan bersikap
kritis. Adapun kemampuan berpikir dan bersikap kritis meliputi :
a. menginterpretasi secara kritis;
b. menganalisis secara kritis;
c. mengorganisasi secara kritis;
d. menilai secara kritis;
e. menerapkan konsep secara kritis (Nurhadi, 1987:143).
Adegan teknik-teknik yang digunakan untuk meningkatkan setiap kritis adalah sebagai berikut (cf.
Nurhadi, 1987:145-181), yaitu (a) Kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan, (b)
kemampuan menginterpretasi makna tersirat, (c) kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dalam
bacaan, (d) Kemampuan menganalisis isi bacaan, (e) kemampuan
menilai isi bacaan, (f) kemampuan meng-create bacaan atau mencipta bacaan. Keenam sikap
kritis tersebut sejalan dengan ranah kognitif dalam taksonomi Bloom yang sudah direvisi
oleh Anderson dan krathwhol (2001:268). Berikut ini adalah penjelasan masing-masing.
a. Kemampuan mengingat dan mengenali
Kemampuan mengingat dan mengenali meliputi kemampuan:
1) Mengenali ide pokok paragraph
2) Mengenali tokoh-tokoh cerita dan sifat-sifatnya
3) Menyatakan kembali ide pokok paragraph
4) Menyatakan kembali fakta-fakta atau detil bacaan
5) Menyatakan kembali fakta-fakta perbandingan, unsur-unsur hubungan sebab-akibat,
karakter tokoh dan sebagainya.
b. Kemampuan memahami/menginterpretasi makna tersirat
Tidak semua gagasan yang terdapat dalam teks bacaan itu dinyatakan secara tersurat atau
secara eksplisit pada baris kata-kata atau kalimat-kalimat. Sering kali pula, gagasan serta
4
makna tersebut terkandung di balik baris kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut, dan
untuk menggalinya diperlukan sebuah interpretasi dari Anda sebagai pembacanya. Anda
harus mampu menafsirkan ide-ide pokok dan ide-ide pokok dan ide-ide penunjang yang
secara eksplisit tidak dinyatakan oleh penulisnya, serta harus mampu membedakan faktafakta
yang disajikan secara kritis.
Kemampuan menginterpretasi makna tersirat adalah kemampuan:
1) Menafsirkan ide pokok paragraf
2) Menafsirkan gagasan utama bacaan
3) Membedakan fakta detil bacaan
4) Manafsirkan ide-ide penunjang
5) Membedakan fakta atau detil bacaan memahami secara kritis
Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep
Sebagai pembaca kritis Anda tidak boleh berhenti sampai pada aktifitas menggali makna
tersirat melalui pemahaman dan interpretasi secara kritis saja, tetapi Anda juga harus
mampu menetapkan konsep-konsep yang terdapat dalam bacaan ke dalam situasi baru
yang bersifat problematic.
Dalam hal ini, kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep, meliputi kemampuan:
1) Mengikuti petunjuk-petunjuk dalam bacaan;
2) Menerapkan konsep-konsep/gagasan utama ke dalam situasi baru yang problematic;
3) Menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi.
c. Kemampuan menganalisis
Kemampuan menganalisis ialah kemampuan pembaca melihat komponen-komponen atau
unsur-unsur yang membentuk sebuah kesatuan. Sebagaimana Anda ketahui, kesatuan
dalam bacaan meliputi gagasan-gagasan utama, pernyataan-pernyataan, simpulsnsimpulsn,
dan sebagainya. Pembaca kritis diharapkan melihat fakta-fakta, detil-detil
penunjang, atau unsur pembentuk yang lain yang tidak disebutkan secara eksplisit.
Lebih lanjut, kemampuan itu dikembangkan menjadi kemampuan pembaca melihat
kesatuan gagasan melalui bagian-bagiannya. Sebagaimana Anda ketahui, sebuah teks
bacaan, apa pun bentuknya, pada dasarnya di dalamnya membuat sebuah kesatuan
gagasan yang bulat dan utuh. Hanya saja akibat cara dan gaya pengungkapan yang
5
berbeda akan membuat gagasan atau suatu pesan tersebut terlihat samara-samar. Dalam
kasus semacam itu, kewajiban pembaca adalah melakukan penyintesisan. Bentuk-bentuk
penyintesisan tersebut, misalnya berupa simpulan atau ringkasan, ide pokok, gagasan
utama bacaan, tema, atau kerangka bacaan.
Secata terperinci kemampuan menganalisis sekaligus menyintesis, meliputi kemampuan
berikut ini.
1) Menangkap gagasan utama bacaan.
2) Memberikan detil/fakta penunjang.
3) Mengklasifikasikan fakta-fakta.
4) Membandingkan antargagasan yang ada dalam bacaan.
5) Membandingkan tokoh-tokoh yang ada dalam bacaan.
6) Membuat simpulan bacaan
7) Mengorganisasikan gagasan utama bacaan.
8) Menentukan tema bacaan
9) Menyusun kerangka bacaan.
10) Menghubungkan data sehingga diperoleh simpulan
11) Membuat ringkasan.
d. Kemampuan menilai isi bacaan
Kemampuan menilai isi dan penataan bacaan secara kritis dilakukan melalui aktifitasaktifitas
mempertimbangkan, menilai, dan menentukan keputusan. Caranya, antara lain
dengan mengajukan penilaian atas kebenaran gagasan atau pernyataan-pernyataan yang
dikemukakan oleh penulis lewat pertanyaan-pertanyaan, seperti apakah pernyataan tersebut
benar? Apa maksud yang ingin dituju oleh penulis lewat tulisan yang dibuatnya tersebut?
Kemampuan menilai bacaan ini menunjukkan bahwa seorang pembaca kritis tidak begitu
saja mempercayai apa saja yang dibacanya sebelum dilakukan proses pengkajian terlebih
dahulu. Secara terperinci, kemampuan yang menyangkut sikap kritis dalam menilai bacaan,
terutama terhadap aspek isi dan penggunaan bahasa meliputi kemampuan berikut ini.
1) Menilai kebenaran gagasan utama/ide pokok paragraf/bacaan secara keseluruhan.
2) Menilai dan menentukan bahwa sebuah pernyataan adalah fakta atau opini.
6
3) Menilai dan menentukan bahwa sebuah bacaan diangkat dari realitas atau fantasi
penulis.
4) Menentukan tujuan penulis dalam menulis
5) Menentukan relevansi antara tujuan dan pengenbangan gagasan
6) Menentukan keselarasan antara data yang diungkapkan dengan simpulan yang
dibuat.
7) Menilai keakuratan dalam penggunaan bahasa, baik pada tataran kata, frasa atau
penyusunan kalimatnya
Menjadi Pembaca Kritis
Pembaca kritis disebut juga pembaca aktif. Kegiatan ini melibatkan lebih dari sekedar
memahami apa yang penulis katakan. Membaca secara kritis berupa tindakan mempertanyakan
dan mengevaluasi apa yang penulis katakan, dan membuat pendapat Anda sendiri tentang topik
pembahasan.
Jadi pembaca yang kritis itu yang bagaimana sih? Berikut ini beberapa hal yang patut Anda
lakukan untuk menjadi pembaca kritis.

Perhatikan konteks tulisan.


Anda mungkin membaca artikel yang ditulis oleh seseorang dari latar belakang budaya dan
lingkungan yang berbeda dari Anda. Atau, bisa juga Anda membaca sesuatu yang ditulis
beberapa waktu silam dalam konteks waktu yang berbeda dari Anda. Istilahnya, sudah nggak up
to date lagi. Kalau sudah begini, Anda harus mengenali dan mempertimbangkan perbedaan
antara nilai-nilai dan sikap mereka. Berbeda bukan berarti berseberangan pemikiran kan?

Pertanyakan pernyataan yang dibuat oleh penulis.


Jangan telan informasi yang Anda dapat secara mentah-mentah. Sebelum menerima apa yang
tertulis dalam artikel, pastikan bahwa penulis mempunyai referensi yang kuat terhadap satu
bahasan. Kalau bisa carilah fakta-fakta, contoh, dan statistik tandingan yang masih relevan
dengan topik bahasan. Sangat menggelikan saat saya membaca komentar pengunjung yang cuma
bilang: mantabs..! Mantab apanya? Nyepamnya?

Bandingkan apa yang tertulis dengan perbuatan nyata yang


telah dilakukan.
Salah satu cara mudah mengukur kebenaran isi artikel dengan menyimak keseharian si penulis.
Apakah sebagian besar kalimat yang tertulis memang telah dipratekkan atau hanya masih
sekedar wacana dalam angan-angan. Yaa, kita sih nggak bisa memastikan 100 persen telah
dilaksanakan. Karena repot juga kalau nulis artikel nunggu beres semua perkara. Tapi paling
tidak si penulis telah berusaha menjalankan dalam tindakan nyata.
Menganalisa solusi yang ditawarkan oleh penulis.
Sebagian besar penulis punya misi pribadi agar selalu dipercaya setiap pernyataan yang
dibuatnya. Dalam prakteknya, tujuan ini tidak secara langsung dinyatakan. Ini berarti Anda harus
membaca dengan seksama untuk mengidentifikasi motivasi apapun yang terdapat di dalamnya.
Setelah mengidentifikasi, selanjutnya Anda memutuskan apakah pernyataan tersebut valid atau
tidak.

Mengevaluasi sumber yang digunakan penulis.


Dalam melakukan ini, pastikan bahwa sumber yang digunakan mempunyai kredibilitas. Sebagai
contoh, Lutvi Avandi adalah sumber yang dapat dipercaya untuk artikel tentang tutorial
WordPress. Juga memastikan bahwa masih ada sumber-sumber lain yang relevan. Selain nama di
atas, Anda bisa bandingkan dengan nama lain. Marga Satrya misalnya.

Identifikasi kemungkinan perbedaan sudut pandang antar


penulis.
Beda kepala, beda isi otak. Begitu pula dalam hal menulis. Perbedaan sudut pandang adalah hal
yang sangat wajar dan tidak bisa dielakkan keberadaannya. Meskipun memakai topik
pembahasan yang sama, dua orang yang memakai satu buku panduan pun bisa beda tulisan.
Manfaat menjadi pembaca yang kritis adalah Anda akan mendapatkan informasi yang lebih baik
dan dapat mengubah pandangan Anda ke arah yang lebih baik. Selain itu, Anda tidak akan
mudah terombang-ambing keganasan arus informasi yang makin liar ini. Selamat belajar!