Anda di halaman 1dari 11

Peran Institusi Pendidikan Dalam

Mewujudkan Tertib Administrasi


Kependudukan

Ifan Luthfian Noor


PROBLEMATIKA KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

PERATURAN
INSTITUSI
PROSES
SUMBER DATA
DAN AKURASI
DATA

PENDANAAN
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 52 TAHUN 1977 TENTANG PENDAFTARAN
P PENDUDUK

E PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27


TAHUN 1994 TENTANG PENGELOLAAN PERKEMBANGAN
R KEPENDUDUKAN

A KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 54 TAHUN


1999 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
T PENDAFTARAN PENDUDUK
PERMASALAHAN :
U BELUM DITERBITKANNYA PAYUNG HUKUM/PERATURAN
R YANG LEBIH TINGGI SEPERTI UNDANG-UNDANG
KEPENDUDUKAN UNTUK MEMPERBAIKI SISTEM ADM.
A KEPENDUDUKAN
DALAM IMPLEMENTASINYA KEBIJAKAN YANG SUDAH
N ADA TIDAK DILAKSANAKAN SEBAGAIMANA MESTINYA
INSTITUSI

LEMAHNYA KOORDINASI ANTAR INSTANSI PENGOLAH DATA SEPERTI


BADAN PUSAT STATISTIK DENGAN APARATUR DI TINGKAT
DESA/KELURAHAN

MINIMNYA PELIBATAN MASYARAKAT (RT/RW) DAN APARATUR


DESA/KELURAHAN DALAM MELAKUKAN PENDATAAN PENDUDUK

TIDAK ADANYA LEMBAGA YANG BERTUGAS MELAKUKAN VERIFIKASI


DATA BPS DENGAN DATA LAPANGAN

BANYAKNYA VERSI DATA YANG BERBEDA DARI INSTITUSI YANG


BERBEDA UNTUK KEPENTINGAN YANG BERBEDA (BPS, BKKBN, KPU )
PROSES

DATA MASIH ADA YANG DIOLAH SECARA MANUAL DENGAN PENCATATAN


ALA KADARNYA
BIROKRASI CENDERUNG BERBELIT-BELIT DAN MENYULITKAN
MASYARAKAT SEHINGGA TERKESAN RUMIT, HAL INI MENDORONG
MASYARAKAT MENGAMBIL JALAN PINTAS (MELAKUKAN TINDAKAN UN
PROSEDURAL)
TIDAK ADA TRANSPARANSI BERKENAAN DENGAN BESARNYA BIAYA
ADMINISTRASI YANG HARUS DITANGGUNG MASYARAKAT

MASYARAKAT CENDERUNG BERSIKAP PASIF DAN


BARU MELAKUKAN PENDAFTARAN ATAU PROSES
PENDATAAN APABILA ADA KEPERLUAN YANG
BERSIFAT MENDESAK
LEMAHNYA MONITORING DAN EVALUASI DALAM
UPAYA MENCIPTAKAN TERTIB ADMINISTRASI
KEPENDUDUKAN
DATA DIPEROLEH BERDASARKAN ASUMSI, DARI BANYAK SUMBER
DENGAN VERSI DAN INSTANSI BERBEDA
PROSES PENDATAAN PENDUDUK CENDERUNG TIDAK MELIBATKAN
MASYARAKAT DI TINGKAT RT/RW DAN APARAT DESA ATAU KELURAHAN.
PETUGAS YANG DITUNJUKPUN UMUMNYA BUKAN MASYARAKAT
SETEMPAT DAN BERSIFAT INDEPENDENT.
DATA YANG AKAN DI OLAH KERAP TIDAK DIVERIFIKASI TERLEBIH DAHULU
AKIBATNYA DATA YANG DIPEROLEH TIDAK AKURAT DAN KREDIBEL
PROSES PENDATAAN HANYA DILAKUKAN PADA AREA YANG RELATIF
MUDAH DIJANGKAU, SEDANGKAN DAERAH YANG SULIT DIJANGKAU
DENGAN MEDAN YANG SULIT CENDERUNG DIABAIKAN ATAU TIDAK
DILAKUKAN PENDATAAN
DIPERLUKAN DANA YANG TIDAK SEDIKIT UNTUK
MEMBANGUN DATA BASE KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

SISTEM PENDATAAN KEPENDUDUKAN BERBASIS


JARINGAN DAN TEKNOLOGI KOMPUTER BELUM
DIKEMBANGKAN SECARA MAKSIMAL DAN
JANGKAUANNYAPUN BELUM TERLAMPAU LUAS

KURANGNYA PETUGAS DAN BESARNYA BIAYA OPERASIONAL YANG


DIBUTUHKAN DALAM PENDATAAN PENDUDUK, MENGAKIBATKAN
PEMERINTAH BERPANDANGAN BAHWA PENDATAAN PENDUDUK
BUKANLAH HAL YANG PERLU DI PRIORITASKAN SELAIN ITU MASIH ADA
ANGGAPAN BAHWA KEGIATAN PENDATAAN PENDUDUK BUKAN
MERUPAKAN KEGIATAN YANG BERSIFAT STRATEGIS JANGKA PANJANG.
MEMUDAHKAN PEMERINTAH DALAM MENYUSUN RENCANA STRATEGIS
DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
DALAM KONTEKS KESEJAHTERAAN PENDUDUK DAN SUBSIDI BAGI
MASYARAKAT MISKIN, DATA YANG AKURAT DENGAN ADMINISTRASI YANG
TERTATA RAPI AKAN MEMUDAHKAN PEMERINTAH DALAM MELAKUKAN
IDENTIFIKASI PENDUDUK TERUTAMA MEREKA YANG KURANG MAMPU
SEHINGGA BANTUAN YANG DIBERIKAN (ALOKASI, BESAR BANTUAN DAN
PENERIMA BANTUAN) TEPAT SASARAN
INSTITUSI PENDIDIKAN HENDAKNYA DILIBATKAN DALAM MERUMUSKAN
BERBAGAI KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN TERMASUK UNTUK MENCIPTAKAN
TERTIB ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PERLU DIBANGUN DAN DICIPTAKAN KERANGKA KERJASAMA ANTARA


INSTANSI YANG MENANGANI PENDATAAN PENDUDUK (BPS), PEMERINTAH
DAERAH (PEMEGANG OTORITAS WILAYAH) DAN PERGURUAN TINGGI UNTUK
BERBAGAI KEGIATAN SEPERTI :
SOSIALISASI DAN PELATIHAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN YANG
MELIBATKAN MASYARAKAT DITINGKAT RT/RW DAN APARATUR
DESA/KELURAHAN
TERTIB ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SEBAIKNYA DIMULAI DARI
PROSES YANG BENAR, SISTEM PENDATAAN YANG AKURAT DAN
ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN YANG BAIK
LANGKAH AWAL UNTUK MENCIPTAKAN TERTIB ADMINISTRASI
KEPENDUDUKAN ADALAH DENGAN MEMBERIKAN NIK (NOMOR INDUK
KEPENDUDUKAN) BAGI SETIAP PENDUDUK DI WILAYAH NKRI
SEBAGAIMANA DIATUR DALAM KEPMENDAGRI NO 54 TAHUN 1999
TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK