Anda di halaman 1dari 5

Bayi Tabung

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan bayi tabung dan bagaimana prosesnya
sampai melahirkan..?

Bayi tabung adalah bayi hasil konsepsinya (yi dari pertemuan antara sel telur
dan sperma) yang dilakukan dalam sebuah tabung yang dipersiapkan sedemikian
rupa di laboratorium. Didalam laboratorium tabung tsb dibuat sedemikian rupa
sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim ibu
atau wanita...ya nggak..? Dibuat sedemikian rupa sehingga temperatur dan
situasinya persis sama dengan aslinya.

Prosenya mula-mula dengan suatu alat khusus semacam alat untuk laparoskopi
dilakukan pengambilan sel telur dari wanita yang baru saja mengalami ovulasi.
Kemudian sel telur yang diambil tadi dibuahi dengan sperma yang sudah
dipersiapkan dalam tabung yang suasananya dibuat persis seperti dalam rahim.

Setelah pembuahan hasil konsepsi tsb dipelihara beberapa saat dalam tabung
tadi sampai pada suatu saat tertentu akan dicangkokan ke dalam rahim wanita
tsb. Selanjutnya diharapkan embrio itu akan tumbuh sebagaimana layaknya di
dalam rahim wanita..Sudah tentu wanita tsb akan mengalami kehamilan
,perkembangan selama kehamilan seperti biasa.
Jika Bayi Tabung Menjadi Pilihan

Sebagai salah satu teknik rekayasa reproduksi, program bayi tabung memiliki
sejumlah keunggulan dan kelemahan. Apa sajakah itu? Anak adalah dambaan
setiap pasangan suami istri (pasutri). Tapi
faktanya, tak semua pasutri dapat dengan
mudah memperoleh keturunan. Data
menunjukkan, 11-15 persen pasutri usia
subur mengalami kesulitan untuk
memperoleh keturunan, baik karena kurang
subur (subfertil) atau tidak subur (infertil).

Kini, seiring makin majunya ilmu dan


teknologi kedokteran, sebagian besar dari penyebab infertilitas
(ketidaksuburan) telah dapat diatasi dengan pemberian obat atau operasi.
Namun, sebagian kasus infertilitas lainnya ternyata perlu ditangani dengan
teknik rekayasa reproduksi, misalnya inseminasi buatan, dan pembuahan buatan
seperti tandur alih gamet intra-tuba, tandur alih zigot intra-tuba, tandur alih
pronuklei intra-tuba, suntik spermatozoa intra-sitoplasma, dan fertilisasi in
vitro. Nah, yang disebut terakhir (fertilisasi in vitro/FIV), lebih dikenal dengan
sebutan bayi tabung. Ini merupakan salah satu teknik hilir pada penanganan
infertilitas.

Teknik ini dilakukan untuk memperbesar kemungkinan kehamilan pada pasutri


yang telah menjalani pengobatan fertilitas lainnya, namun tidak berhasil atau
tidak memungkinkan. Artinya, FIV merupakan muara dari penanganan
infertilitas. Dalam FIV, spermatozoa suami dipertemukan dengan ovum (sel
telur) istrinya di luar tubuh hingga tercapai pembuahan. Menurut Prof Dr
Ichramsjah A Rachman SpOG(K), spesialis obstetri dan ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), kehamilan akan terjadi jika semua
alat reproduksi berfungsi sebagaimana mestinya. Sebaliknya, jika salah satu
alat reproduksi tidak berfungsi, misalnya saluran tuba sang istri mengalami
penyumbatan sehingga menghalangi masuknya sperma, maka hal ini bisa
menyebabkan sperma dan sel telur tidak bertemu. ''Jika ini yang terjadi,
bagaimana bisa terjadi kehamilan. Nah, biasanya karena alasan ini pasutri
memutuskan untuk mengikuti program ini (bayi tabung),'' kata Ichramsjah.
Bertahap
Program bayi tabung ini dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan pendaftaran
diri oleh pasutri yang berminat mengikuti program ini. Pada tahap ini, peserta
biasanya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Setelah itu, penanganan akan dilanjutkan oleh dokter
spesialis dari tim FIV untuk menentukan waktu
pelaksanaan program. Tahap selanjutnya adalah
pemeriksaan awal terhadap pasutri, yang meliputi
pemeriksaan fisik dan laboratorium. Untuk suami,
pemeriksaan fisik meliputi perkembangan seksual dan
ciri-ciri seks sekunder, pemeriksaan organ
reproduksi lain, kemampuan ereksi, dan ejakulasi.

Sedangkan untuk pemeriksaan laboratorium


mencakup pemeriksaan darah dan urin lengkap untuk menilai ada tidaknya
penyakit-penyakit yang bisa mempengaruhi keberhasilan program, misalnya saja
penyakit kencing manis (diabetes mellitus), penyakit hati, penyakit tiroid,
penyakit ginjal, HIV (jika ada petunjuk ke arah itu), sindrom antifosfolipid,
serta infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes, klamidia,
mikoplasma). Sementara pemeriksaan pada pihak istri meliputi pemeriksaan
perkembangan seksual (payudara dan sebaran rambut), pemeriksaan organ
reproduksi, dan pemeriksaan laboratorium (sama seperti yang dilakukan suami).
Pada pemeriksaan organ reproduksi, dokter biasanya akan dibantu oleh
sejumlah alat canggih seperti ultrasonografi, histeroskopi, dan laparoskopi.

Dengan alat-alat itu, tim dokter bisa melihat keadaan rahim, serta bentuk dan
potensi saluran telur. Selain pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, istri juga
menjalani pemantauan ovulasi. Setelah semua tahap awal selesai dan tidak
ditemukan kelainan, maka pasutri ini siap menjalani tahap berikutnya, yaitu
mempertemukan sel telur dan sperma dengan menggunakan cawan biakan
dibantu mikroskop khusus. Ini semua dilakukan di laboratorium dengan
pengawasan yang ketat, sampai terjadinya pembuahan dan perkembangan awal
embrio. Pengawasan yang ketat itu dilakukan agar embrio yang masih sensitif
tersebut terjaga dari segala macam bentuk gangguan, misalnya saja bau cat,
parfum, atau lainnya. Seperti dijelaskan oleh dokter HR Nurhidayat Kusuma
SpOG, spesialis obstetri dan ginekologi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi
Jaya, Jakarta Selatan, sel telur yang sudah dibuahi dibiarkan 2-3 hari dalam
pengeram (inkubator) agar membelah diri menjadi 4-8 sel. Setelah itu, embrio
dimasukkan ke dalam rahim, dan proses perkembangan embrio selanjutnya
berlangsung seperti kehamilan biasa. Program bayi tabung sebagai salah satu
teknik rekayasa reproduksi memiliki sejumlah keunggulan dan kelemahan.

Hal ini tentu patut dipertimbangkan oleh pasutri yang menginginkan anak dan
berniat mengikuti program ini. Keunggulan program bayi tabung adalah dapat
memberikan peluang kehamilan bagi pasutri yang sebelumnya menjalani
pengobatan infertilitas biasa, namun tidak pernah membuahkan hasil.
Sedangkan kelemahan dari program ini adalah tingkat keberhasilannya yang
belum mencapai 100 persen. Di Indonesia misalnya, tingkat keberhasilan
tertinggi program bayi tabung dicapai oleh Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta,
yaitu 50 persen. sedangkan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mencapai 30-
40 persen. Kelemahan lainnya adalah, rentang waktu untuk mengikuti program
ini cukup lama dan memerlukan biaya yang mahal, berkisar antara 35 juta rupiah
- 40 juta rupiah. Satu hal lagi, program ini sering kali tak bisa sekali jadi,
sehingga perlu diulang. Selain di Jakarta, program bayi tabung juga sudah bisa
dilakukan di beberapa kota lain di Indonesia misalnya, Surabaya (RS Budi Mulya
dan RS Dr Soetomo), juga Semarang, dan Yogyakarta. ( mg04 )

Apakah dampak positif dan negatif dari bayi tabung?

Dampak Positif

Anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri (pasutri). Tapi faktanya, tak
semua pasutri dapat dengan mudah memperoleh keturunan. Data
menunjukkan, 11-15 persen pasutri usia subur mengalami kesulitan untuk
memperoleh keturunan, baik karena kurang subur (subfertil) atau tidak
subur (infertil).
ya dengan bayi tabung buat pasutri adalah sebuah harapan juga

Dampak negative

Kendala Program Bayi Tabung

Pasutri yang berniat mengikuti program bayi


tabung dihadapi beberapa kendala. Yang
utama adalah dana yang tidak kecil. Mulai
dari Rp 16,5 juta hingga Rp 54 juta untuk
sekali program bayi tabung. Di Amerika pun, tingginya biaya program bayi
tabung ($6,000 hingga $7,000), juga dianggap sebagai kendala.
Apalagi, menurut Awadalla, mahalnya biaya tersebut belum menjamin
keberhasilan program bayi tabung. Padahal, teknologi yang digunakan sudah
begitu ‘powerful’, namun hanya 20% saja kemungkinan program ini akan
berhasil.

Kalaupun berhasil, risiko bayi kembar lebih dari dua terbilang tinggi pada
teknik transfer embrio. Padahal, seorang ibu yang hamil kembar dua saja
sudah masuk ke ‘area’ rawan. Oleh karena itu, kini transfer blastosis lebih
banyak direkomendasikan dokter lantaran kemungkinan kembar lebih dari
dua hampir tak ada. Selain itu, menurut Awadalla, ada beberapa dampak
negatif program bayi tabung untuk si ibu. Misalnya, kemungkinan si ibu
terserang infeksi, rhumatoid arthritis atau lupus, dan alergi.

Kendati demikian, kenyataan di atas jangan mengendurkan niat Anda untuk


mengikuti program bayi tabung. Kalau Tuhan berkehendak, lewat usaha yang
maksimal, kesabaran dan ketabahan, tentulah akan berhasil. Apalah arti
kesulitan dan rasa sakit yang mendera bila dibandingkan dengan hadirnya
buah hati dalam sebuah perkawinan.