Anda di halaman 1dari 7

c c

c
 c
   c c
Setelah diadakan pendistribusian BOP tak langsung depertemen ke departemen
yang menikmati (baik depertemen produksi maupun departemen pembantu).
Selanjutnya, mengalokasikan BOP ke departemen pembantu untuk selalu membantu
atau memberi jasa pada departemen produksi. Ada dua metode yang dapat dipakai
untuk mengalokasikan BOP departemen pembantu ke departemen produksi anatara lain
metode berikut.
1.c îetode Alokasi Langsung
Bila digunakan metode alokasi langsung, maka pembebanan BOP departemen
pembantu dialokasikan langsung ke departemen produksi yang menikmati.
Biasanya metode ini diterapkan karena jasa departemen pembantu hanya
dinikmati oleh departemen-departemen produksi, sehingga tidak dialokasikan ke
departemen pembantu lainnya.
J  
Suatu perusahaan industri dalam kegiatan proses produksi dilaksanakan melalui
dua departemen produksi dan dua departemen pembantu.
Data Anggaran BOP sebelum alokasi adalah sebagai berikut
Departemen produksi A Rp 4.350.000
Departemen produksi B Rp 2.500.000
Departemen pembantu X Rp 1.000.000
Departemen pembantu Y Rp 1.200.000

Dari data di atas buatlah daftar alokasi BOP dari departemen pembantu ke
departemen produksi bila digunakan metode alokasi langsung dengan ketentuan
berikut.

   c c

   c c
c c
Departemen X 60% 40%
Departemen Y 30% 70%

Daftar alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi dengan


metode alokasi langsung adalah sebagai berikut

   c c
   c c
u  c
c c c c
BOP departemen sebelum alokasi 4.350.000 2.500.000 1.000.000 1.200.000
Alokasi Dep. Pembantu
Departemen X (A 60%, B 40%) 600.000 400.000 (1.000.000) -
Departemen Y (A 30 %, B 70%) 360.000 840.000 - (1.200.000)
BOP departemen produksi sesudah
5.310.000 3.740.000 0 0
alokasi dari dep. Pembantu

u  
1.c Alokasi BOP departemen pembantu Rp 1.000.000 ke departemen A sebanyak
60 % dan departemen B sebanyak 40 %
Departemen A 60% x Rp 1.000.000 = Rp 600.000
Departemen B 40% x Rp 1.000.000 = Rp 400.000
2.c Alokasi BOP departemen pembantu Rp 1.200.000 ke departemen A sebanyak
30% dan departemen B sebanyak 70%
Departemen A 30% x Rp 1.200.000 = Rp 360.000
Departemen B 70% x Rp 1.200.000 = Rp 840.000

2. îetode Alokasi Bertahap


Bila digunakan metode alokasi bertahap, maka pembebanan BOP departemen
pembantu ke departemen produksi dilaksanakan secara bertahap. Hal ini
disebabkan karena jasa departemen pembantu disamping dinikmati oleh
departemen produksi juga dinikmati oleh departemen pembantu lainnya.










J  
Dari contoh yang sama buatlah daftar alokasi BOP dari departemen produksi bila
digunakan alokasi bertahap dengan ketentuan berikut.

   c c
   c c
u  c
c c c
Departemen pembantu X 10% 50% 40%
Departemen pembantu Y
sesudah alokasi dari
departemen X - 60% 40%

Daftar alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi dengan


metode bertahap adalah sebagai berikut

   c c
   c c
u  c
c c c c
BOP sebelum alokasi 1.000.000 1.200.000 4.350.000 2.500.000
Alokasi BOP dari departemen
pembantu
Departemen X (Y 10%, A 50%, B 40%) (1.000.000) 100.000 500.000 400.000
Departemen Y (A 60%, B 40%) - (1.300.000) 780.000 520.000
BOP departemen produksi setelah
0 0 5.590.000 3.420.000
alokasi dari departemen pembantu
u  
1.c Alokasi BOP departemen pembantu Rp 100.000 ke departemen pembantu Y
10%, departemen produksi A 50% dan B 40%
Departemen pembantu Y 10% x Rp 1.000.000 = Rp 100.000
Departemen produksi A 50% x Rp 1.000.000 = Rp 500.000
Departemen produksi B 40% x Rp 1.000.000 = Rp 400.000
2.c Alokasi BOP departemen pembantu Y setelah menerima alokasi dari
departemen pembantu (1.200.000 + 100.000 = 1.300.000) ke departemen
produksi A 60% dan departemen produksi B 40%
Departemen produksi A 60% x Rp 1.300.000 = Rp 780.000
Departemen produksi B 40% x Rp 1.300.000 = Rp 520.000

c
c
c c
Overhead pabrik terdiri atas semua biaya yang tidak dapat ditelusuri langsung ke
pesanan tetapi terjadi dalam produksi (diluar pemasaran dan administrasi). Kurangnya
penelusuran langsung menyebabkan akuntansi untuk biaya overhead menjadi berbeda
khususnya, peranan yang dimainkan oleh bukti permintaan bahan baku dan kartu jam
kerja tenaga kerja langsung, tidak dapat pada akuntansi untuk biaya overhead. Oleh
karena itu, biaya oeverhead diakumulasikan tanpa mengacu ke pesanan tertentu, dan
total biaya overhead kemudian dialokasikan ke semua pesanan.
Jurnal yang berhubungan dengan BOP
1.c Saat pembebanan BOP
BDP-BOP Rp xxx
BOP yang dibebankan Rp xxx

2.c Saat pengumpulan BOP sesungguhnya


BOP yang sesungguhnya Rp xxx
Persediaan bahan penolong Rp xxx
Biaya tenaga kerja tak langsung Rp xxx
îacam-macam BOP Rp xxx

3.c Saat menutup rekening BOP yang dibebankan (akhir periode)


BOP yang dibebankan Rp xxx
BOP yang sesungguhnya Rp xxx

4.c Saat pencatatan selisih


- Selisih laba
BOP yang sesungguhnya Rp xxx
Selisih Rp xxx
- Selisih rugi
Selisih Rp xxx
BOP yang sesungguhnya Rp xxx
Saat menutup rekening selisih

-c Ditutup ke rekening R/L


Selisih laba
Selisih Rp xxx
Ikhtisar R/L Rp xxx
Selisih rugi
Ikhtisar R/L Rp xxx
Selisih Rp xxx

-c Ditutup ke rekening harga pokok penjualan


Selisih laba
Selisih Rp xxx
Harga pokok penjualan Rp xxx
Selisih Rugi
Harga pokok penjualan Rp xxx
Selisih Rp xxx