Anda di halaman 1dari 109



Abimanyu
ABIMANYU dikenal pula dengan nama : Angkawijaya, Jaya Murcita, Jaka
Pangalasan, Partasuta, Kirityatmaja, Sumbadraatmaja, Wanudara dan Wirabatana.
Ia merupakan putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa dengan Dewi
Sumbadra, putri Prabu Basudewa, raja Negara Mandura dengan Dewi Badrahini. Ia
mempunyaai 13 orang saudara lain ibu, yaitu : Sumitra, Bratalaras, Bambang
Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa,
Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa dan Bambang Sumbada.

Abimanyu merupakan makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan ia telah


mendapat “Wahyu Hidayat”, yang mempunyai daya : mengerti dalam segala hal.
Setelah dewasa ia mendapat “wahyu Cakraningrat”, suatu wahyu yang dapat
menurunkan raja-raja besar.

Abimanyu mempunyai sifat dan perwatakan; halus, baik tingkah lakunya,


ucapannya terang, hatinya keras, besar tanggung jawabnya dan pemberani. Dalam
olah keprajuritan ia mendapat ajaran dari ayahnya, Arjuna. Sedang dalam olah
ilmu kebathinan mendapat ajaran dari kakeknya, Bagawan Abiyasa.

Abimanyu tinggal di kesatrian Palangkawati, setelah dapat mengalahkan Prabu


Jayamurcita. Ia mempunyai dua orang isteri, yaitu : 1. Dewi Siti Sundari, putri
Prabu Kresna , Raja Negara Dwarawati dengan Dewi Pratiwi, dan 2. Dewi Utari,
putri Prabu Matswapati dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata, dan
berputra Parikesit.
Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuda oleh gada Kyai Glinggang milik
Jayadrata, satria Banakeling.





Amba
DEWI AMBA adalah putri sulung dari tiga bersaudara, putri Prabu Darmahumbara,
raja negara Giyantipura dengan peramisuri Dewi Swargandini. Kedua adik
kandungnya bernama; Dewi Ambika/Ambalika dan Dewi Ambiki/Ambaliki.

Dewi Amba dan kedua adiknya menjadi putri boyongan Resi Bisma/Dewabrata,
putra Prabu Santanu dengan Dewi Jahnawi/Dewi Gangga dari negara Astina yang
telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara Giyantipura dengan
membunuh Wahmuka dan Arimuka. Karena merasa sebelumnya telah
dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Dewi Amba
memohon kepada Dewabrata agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka.

Persoalan mulai timbul. Dewi Amba yang ditolak oleh Prabu Citramuka karena telah
menjadi putri boyongan, keinginannya ikut ke Astina juga ditolak Dewabarata.
Karena Dewi Amba terus mendesak dan memaksanya, akhirnya tanpa sengaja ia
tewas oleh panah Dewabrata yang semula hanya bermaksud untuk menakut-
nakutinya.Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan, akan menuntut
balas kematiannya dengan perantaraan seorang prajurit wanita.

Kutukan Dewi Amba terhadap Dewabrata menjadi kenyataan. Dalam perang


Bharatayuda arwahnya menjelma dalam tubuh Dewi Srikandi yang berhasil
menewaskan Resi Bisma/Dewabrata.


Anggraini
DEWI ANGGRINI adalah istri Prabu Ekalaya/Palgunadi, rajanegara Paranggelung. Ia
berwajah cantik karena putri hapsari/bidadari Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai
sifat dan perwatakan; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu
dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami.

Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalaya dengan Arjuna akibat dari
perbuatan Arjuna yang menggangu dirinya, dan suaminya, Prabu Ekalaya mati
dibunuh Resi Drona dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang
memakai cincin sakti Mustika Ampal, Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya
sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan
dirinya sendiri.

Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya.
Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain,
namun Dewi Anggraini tetap teguh cinta kesetianya ke



Antaboga
ANTABOGA, SANG HYANG, atau Sang Hyang Nagasesa atau Sang Hyang
Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu
beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari
istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak, yaitu Dewi Nagagini
dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar
bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri
Anantaswara.
Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud
manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular
naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti
kulit (mlung-sungi). Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang
Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi
apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma
menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang
menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-
gala.

Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga
Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau
Anantaraja.
Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang
kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti
itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk
menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam
lakon Subadra Larung.

Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Batara Guru menangkap Bambang
Nagatatmala, anaknya sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-
kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Namun para dewa gagal
me-nangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang bersalah, walau
itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu
tidak menyangka Batara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya,
dengan memasukkannya ke Kawah Candradimuka. Untunglah Dewi Supreti,
istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang Nagatatmala dengan Tirta
Amerta.

Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga
mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang menge-rikan. Batara
Guru menamakan makhluk ganas itu Candrabirawa.

Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu
Sang Hyang Wenang, ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang ber-nama
Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati, putri Sang
Hyang Wenang.

Suatu ketika para dewa berusaha mendapatkan Tirta Amerta yang membuat
mereka bisa menghi-dupkan orang mati. Guna memperoleh Tirta Amerta para dewa
harus membor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya,
dibawa ke samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu
memutarnya untuk melubangi dasar samudra itu. Namun setelah berhasil
memutarnya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung itu. Padahal jika
gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil. Pada saat para
dewa sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara
melingkarkan badannya yang panjang ke gunung itu dan membetotnya ke atas,
Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian menempatkannya di
tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang
mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan
nama Sang Hyang Antaboga juga memiliki Tirta Amerta. ***)

Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menye-rahkan Cupu Linggamanik


kepada Batara Guru. Para
dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang
bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas

CATATAN KAKI: ***) Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk
mendapatkan Tirta Amerta, para dewa bukan membor samudra, melainkan
mengaduk-aduknya. Ini didasarkan atas arti kata ngebur dalam bahasa Jawa, yang
artinya mengaduk-aduk, mengacau, membuat air samudra itu menjadi ‘kacau’.
cahaya terang memasuki mulutnya. Nagasesa lang-sung mengatupkan mulutnya,
dan saat itulah muncul
Batara Guru. Dewa itu menanyakan kemana perginya cahaya berkilauan yang
memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab, cahaya mustika itu ada pada
dirinya dan akan diserahkan kepada Batara Guru, bilamana pemuka dewa itu mau
memeliharanya baik-baik. Batara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan
Cupu Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.

Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu mempunyai
khasiat dapat membawa ketentraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa
di kahyangan merasa berhutang budi pada ke-baikan hati Nagasesa.

Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu mengha-diahi Nagasesa kedudukan


yang sederajat dengan para dewa, dan berhak atas gelar Batara atau Sang Hyang.
Sejak itu ia bergelar Sang Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak
sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu, oleh para dewa Na-gasesa
juga diberi Aji Kawastram ***) yang mem-buatnya sanggup mengubah ujud
dirinya menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya.
Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga menghadiahkan seorang
bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya.
Perlu diketahui, cucu Sang Hyang Antaboga, yakni Antareja, hanya terdapat dalam
pewayangan di Indonesia. Dalam Kitab Mahabarata, Antareja tidak pernah ada,
karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang Indonesia.

CATATAN KAKI = ***) Sebagian dalang menyebutnya Aji Kemayan. Sebenarnya


sebutan itu keliru, karena Kemayan yang berasal dari kata ‘maya’ adalah aji untuk
membuat pemilik ilmu itu menjadi tidak terlihat oleh mata biasa. Kata ‘maya’,
artinya, tak terlihat. Jadi, yang benar adalah Aji Kawastram.

Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan
terbujuk hasutan Prabu Boma Narakasura, cucunya, untuk meminta Wahyu
Senapati pada Batara Guru. Bersama dengan menantunya, Prabu Kresna, yang
suami Dewi Pertiwi, Antaboga berangkat ke kahyangan. Ternyata Batara Guru tidak
bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya
Gatotkaca lebih pantas dan lebih berhak.

Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga hendak
bersikeras, tetapi akhirnya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Batara
Narada. Wahyu Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.

Nama Antaboga atau Anantaboga artinya (naga yang) kelokannya tidak mengenal
batas. Kata an atau artinya tidak; kata anta artinya batas; sedangkan kata boga
atau bhoga atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya
adalah ular naga yang besarnya luar biasa.
Lihat Antareja; dan Candrabirawa.


Antarja
ANANTAREJA adalah putera Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria Pandawa,
dengan Dewi Nagagini, putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari
Kahyangan Saptapratala. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu,
bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena,
putra Bima dengan Dewi Urangayu.

Sejak kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar
bumi). Ia memiliki ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat
sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian.
Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki
cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan
dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk
menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat
hidup dan berjalan didalam bumi.

Anantareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat berbakti pada
yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar
kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri
Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya
Danurwenda.

Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu


Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas kemauannya
sendiri dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk
kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuda.



Antasena
ANANTASENA adalah Putra Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria
Pandawa, dengan Dewi Urangayu, putri Hyang Mintuna (Dewa ikan air tawar) di
Kisiknarmada. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara seayah lain ibu, yaitu :
Anantareja, putra Dewi Nagagini, dan Gatotkaca, putra Dewi Arimbi.

Sejak kecil Anantasena tinggal bersama ibu dan kakeknya di Kisiknarmada. Seluruh
badannya berkulit sisik ikan/udang hingga kebal terhadap senjata. Anantasena
dapat hidup di darat dan di dalam air. Ia mempunyai kesaktian berupa sungut
sakti, mahluk apapun yang tersentuh dan terkena bisa-nya akan menemui
kematian. Anantasena juga memiliki pusaka Cupu Madusena, yang dapat
mengembalikan kematian di luar takdir. Ia juga tidak dapat mati selama masih
bersinggungan dengan air atau uap air.

Anantasena berwatak jujur, terus terang, bersahaja, berani kerena membela


kebenaran, tidak pernah berdusta. Setelah dewasa, Anantasena menjadi raja di
negara Dasarsamodra, bekas negaranya Prabu Ganggatrimuka yang mati terbunuh
dalam peperangan.

Anatasena meninggal sebelum perang Bharatayuda. Ia mati moksa (lenyap dengan


seluruh raganya) atas kehendak/kekuasaan Sang Hyang Wenang


Arimbi
DEWI ARIMBI atau Hidimbi (Mahabharata) adalah putri kedua Prabu Arimbaka, raja
raksasa negara Pringgandani, dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang
saudara kandung, bernama; Arimba/Hidimba, Arya Prabakesa, Brajadenta,
Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Dewi Arimbi menikah dengan Bima/Werkudara, salah seorang dari lima satria
Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti. Dari
perkawinan itu ia mempumyai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca.

Dewi Arimbi menjadi raja negara Pringgandani, menggantikan kedudukan


kakaknya, Prabu Arimba, yang tewas dalam peperangan melawan Bima. Namun
karena ia lebih sering tinggal di Kesatrian Jodipati mengikuti suaminya, kekuasaan
negara Pringgandani diwakilkan kepada adiknya, Brajadenta sampai Gatotokaca
dewasa dan diangkat menjadai raja negara Pringgandani bergelar Prabu
Kacanegara.

Dewi Arimbi mempunyai kesaktian; dapat beralih rupa dari wujudnya raksasa
menjadi putri cantik jelita. Ia mempunyai sifat dan perwatakan; jujur, setia,
berbakti dan sangat sayang terhadap putranya. Akhir kehidupannya diceritakan,
gugur di medan Perang Bharatayuda membela putranya, Gatotokaca yang gugur
karena panah Kunta milik Adipati Karna, raja negara Awangga.


Arjuna
ARJUNA adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi
Kunti/Dewi Prita --- putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Ia merupakan
anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa.
Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara. Sedangkan dua
saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.

Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu.
Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid
Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa
Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan jago kadewatan
membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas
jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu
Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ;
Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah
Cundamanik ( dari Bathara Narada ).

Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai
Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha,
Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu
), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan
Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai
Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain ; Panglimunan,
Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama

Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-
anaknya adalah :

1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.

2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.

3. Dewi Srikandi

4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan

5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti

6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka

7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni

8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga

9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati

10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma

11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa

12. Dewi Maeswara

13. Dewi Retno Kasimpar

14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada

15. Dewi Dyah Sarimaya.

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu


; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara,
Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja
negara Paranggelung). Ia juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara
lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan),
Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi,
Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna,
Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).

Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun,


berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam
wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di
Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia
muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.



Arya Prabu Rukma
ARYA PRABU RUKMA adalah putra Prabu Basukunti, raja negara Mandura dengan
permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Ia mempunyai tiga orang
saudara kandung bernama; Arya Basudewa, Dewi Kunti/Dewi Prita dan Arya
Ugrasena.

Arya Prabu Rukma menikah dengan Dewi Rumbini, putra Prabu Rumbaka, raja
Negara Kumbina. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra
bernama ; Dewi Rukmini dan Arya Rukmana. Secara tidak resmi Arya Prabu
Rukma juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati keraton Mandura, dan mempunyai
seorang putri bernama Ken Rarasati/Dewi Larasati.

Arya Prabu Rukma mempunyai sifat dan perwatakan berani, cerdik pandai,
trengginas, mahir mempergunakan senjata panah dan ahli strategi perang. Ia
menjadi raja negara Kumbina menggantikan mertuanya, Prabu Rumbaka, dan
bergelar Prabu Bismaka, Prabu Wasukunti atau Prabu Hirayana.

Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma gugur di medan


perang melawan Prabu Bomanarakasura, raja negara Surateleng atau Trajutisna.


Aswatama
BAMBANG ASWATAMA adalah putra Resi Drona dari padepokan Sokalima,
dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan
bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang
beralih rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Bambang
Kumbayana/Resi Drona terbang menyeberangi lautan.

Ketika ayahnya, Resi Drona menjadi guru Keluarga Pandawa dan Kurawa di negara
Astina, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia
memiliki sifat dan perwatakan ; pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan
segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat
sakti berupa panah bernama Cundamanik.

Karena kecewa dengan sikap Prabu Duryudana yang terlalu membela Prabu Salya
yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Adipati Karna. Aswatama
memutuskan mundur dari kegiatan perang Bharatayuda. Setelah Perang
Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Astina, secara
bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Astina. Ia berhasil
membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya, Resi Drona), Pancawala (putra
Prabu Puntadewa), Dewi Banowati (Janda Prabu Duryudana) dan Dewi Srikandi,
sebelum akhirnya ia mati oleh Bima, badannya hancur dipukul gada Rujakpala.


Bagaspati
BAGAWAN BAGASPATI yang sewaktu mudanya bernama Bambang Anggana Putra,
adalah putra Resi Jaladara dari Pertapaan Dewasana, dengan Dewi Anggini,
keturunan Prabu Citragada, raja negara Magada. Pada mulanya Bambang Anggana
Putra berwujud satria tampan, tetapi kerena terkena kutukan Sanghyang
Manikmaya tatkala akan memperistri Dewi Darmastuti wujudnya berubah menjadi
raksasa. Ia kemudian menjadi brahmana di pertapaan Argabelah dan bergelar
Bagawan Bagaspati..

Bagaspati sangat sakti. Ia memiliki Ajian Candrabirawa, sehingga tidak bisa mati
kecuali atas kemauannya sendiri. Ia menikah dengan Dewi Dharmastuti, seorang
hapsari/bidadari, dan berputra Dewi Pujawati. Bagaspati mempunyai watak; sabar,
ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, rela berkorban dan sangat sayang pada
putrinya. Ia bersahabat karib dengan Prabu Mandrapati, raja negara Mandara yang
merupakan saudara seperguruan.

Akhir riwayatnya diceritakan, karena rasa cintanya dan demi kebahagiaan putrinya,
Dewi Pujawati, Bagaspati rela mati dibunuh Narasoma, menantunya sendiri.
Sebelum tewas, ia menyerahkan Aji Candrabirawa kepada Narasoma.

Bagong
BAGONG terjadi dari bayangan Sanghyang Ismaya atas sabda Sanghyang Tunggal,
ayahnya. Ketika Sanghyang Ismaya akan turun ke Arcapada, ia mohon kepada
ayahnya seorang kawan yang akan menemaninya, karena Ismaya yang ditugaskan
mengawasi trah keturunan Witaradya merasa tidak sah apabila sesuatu persaksian
hanya dilakukan oleh seseorang. Sanghyang Tunggal kemudian menyuruh
Sanghyang Ismaya menoleh ke belakang , tahu-tahu telah ada seseorang yang
bentuk tubuhnya hampir menyerupai dirinya.

Di dalam cerita pedalangan Jawa, Bagong dikenal pula dengan nama Bawor, Carub
atau Astrajingga. Ia mempunyai tabiat ; lagak lagu katanya kekanak-kanakan,
lucu, suara besar agak serak (agor ; Jawa), tindakannya seperti
orang bodoh, kata-katanya menjengkelkan, tetapi selalu tepat.

Bagong menikah dengan Endang Bagnyawati, anak Prabu Balya raja Gandarwa di
Pucangsewu. Perkawinannya itu bersamaan dengan perkawinan Semar dengan
Dewi Kanistri dan perkawinan Resi Manumayasa dengan Dewi Kaniraras, kakak
Dewi Kanistri, putri Bathara Hira. Seperti halnya dengan Semar, Bagong berumur
sangat panjang, ia hidup sampai jaman Madya





Baladewa
PRABU BALADEWA yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu
Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah
(Jawa). Ia lahir kembar bersama adiknya, Narayana dan mempunyai adik lain ibu
bernama; Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan
permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama
Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton
Mandura.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia
sangat mahir dalam olah ketrampilan mempergunakan gada, hingga Bima dan
Duryudana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti;
Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Bathara Brahma. Ia juga mempunyai
kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya


bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya
dengan Dewi Setyawati/Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut
ia memperoleh dua orang putra bernama : Wisata dan Wimuka.

Prabu Baladewa diyakini sebagi titisan Sanghyang Basuki , Dewa keselamatan. Ia


berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayuda, Prabu Baladewa
menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Astina setelah Prabu
Kalimataya/Prabu Puntadewa, dengan gelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah
punahnya seluruh Wangsa Yadawa.


Baladewa
PRABU BALADEWA yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu
Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah
(Jawa). Ia lahir kembar bersama adiknya, Narayana dan mempunyai adik lain ibu
bernama; Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan
permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama
Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton
Mandura.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia
sangat mahir dalam olah ketrampilan mempergunakan gada, hingga Bima dan
Duryudana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti;
Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Bathara Brahma. Ia juga mempunyai
kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya


bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya
dengan Dewi Setyawati/Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut
ia memperoleh dua orang putra bernama : Wisata dan Wimuka.

Prabu Baladewa diyakini sebagi titisan Sanghyang Basuki , Dewa keselamatan. Ia


berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayuda, Prabu Baladewa
menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Astina setelah Prabu
Kalimataya/Prabu Puntadewa, dengan gelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah
punahnya seluruh Wangsa Yadawa.





Banuwati
DEWI BANOWATI adalah putri Prabu Salya, raja negara Mandaraka dengan
permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati putri tunggal Bagawan Bagaspati dari
pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat saudara kandung masing-masing
bernama; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata.

Dewi Banowati menikah dengan Prabu Suyudana/Duryadana, raja negara Astina,


putra Prabu Drestarasta dengan Dewi Gandari. Dari perkawinan tersebut ia
meperoleh dua orang putra bernama; Leksmanamandrakumara dan Dewi
Laksmanawati.

Dewi Banowati berwatak; jujur, penuh belas kasih, jatmika (selalu dengan sopan
santun) dan agak sedikit genit. Akhir riwayatnya diceritakan, ia mati dibunuh oleh
Aswatama putra Resi Durna, setelah berakhirnya perang Bharatayuda, saat
menunggu boyongan/pindahan keluarga Pandawa dari Negara Amarta ke negara
Astina.




Basudewa
PRABU BASUDEWA adalah putra sulung Prabu Basukunti raja negara Mandura
dengan permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Ia mempunyai tiga
orang saudara kandung masing-masing bernama; Dewi Prita/Dewi Kunti, Arya
Prabu Rukma dan Arya Ugrasena.

Prabu Basudewa mempunyai tiga orang isteri/permaisuri dan 4 (empat) orang


putra. Dengan permaisuri Dewi Mahira/Maerah (Jawa) ia berputra Kangsa. Kangsa
sebenaranya putra Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang
dengan beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan berhasil mengadakan
hubungan asmara dengan Dewi Mahira.

Dengan permaisuri Dewi Mahindra/Maerah (Jawa), Prabu Basudewa memperoleh


dua orang putra bernama; Kakrasana dan Narayana. Sedangkan dengan
permaisuri Dewi Badrahini ia berputra Dewi Wara Sumbadra/Dewi Lara Ireng.
Secara tidak resmi, Prabu Basudewa juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati
Keraton Mandura, dan memperoleh seorang putra bernama Arya Udawa.

Prabu Basudewa sangat sayang kepada keluarganya. Ia pandai olah keprajuritan


dan mahir memainkan senjata panah dan lembing. Setelah usia lanjut, ia
menyerahkan Kerajaan Mandura kepada putranya, Kakrasana, dan hidup sebagai
pendeta di Pertapaan Randugumbala. Prabu Basudewa meninggal saat negara
Mandura digempur Prabu Sitija/ Bomanarakasura raja Negara Surateleng





Basukesti
ARYA BASUKESTI adalah putra Prabu Basupati/Basuparicara, raja negara Wirata
dengan permaisuri Dewi Anganti/Dewi Girika, putri Bagawan Kolagiri dengan Dewi
Suktimati. Ia mempunyai dua orang saudara kandung bernama; Arya Basunanda
dan Arya Basumurti.

Arya Basukesti menjadi raja negara Wirata menggantikan kedudukan kakaknya,


Prabu Basunanda yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana. Atas
kemurahan hatinya, Prabu Basukesti mengijinkan dan menyerahkan puncak
gunung Retawu di kawasan gunung Saptaarga kepada Manumayasa, putra Bathara
Parikenan dengan Dewi Brahmananeki, membagun sebuah padepokan/pertapaan.

Prabu Basukesti pernah meninggalkan tahta kerajaan Wirata dan pergi bertapa
sebagai ruwat atas nasibnya, karena setiap memiliki permaisuri selalu saja
meninggal. Untuk sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Arya Basumurti.
Beberapa tahun kemudian, Prabu Basukesti kembali ke istana dan mendapat
permaisuri bernama Dewi Adrika/Dewi Pancawati. Dari perkawinan tersebut ia
memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama ; Dewi Basuwati, Dewi
Basutari dan Arya Basukiswara.

Prabu Basukesti meninggal dalam usia lanjut. Sebagai penggantinya, Arya


Basukiswara diangkat menjadi raja negara Wirata.

Basukiswara
ARYA BASUKISWARA adalah putra Bungsu prabu Basukesti, raja negara Wirata
dengan permaisuri Dewi Adrika/Dewi Pancawati. Ia mempunyai dua orang kakak
kandung masing-masing bernama ; Dewi Pasuwati dan Dewi Basutari.

Basukiswara menjadi raja negara Wirata menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu


Basukesti. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana, adil dan sangat
memperhatikan kehidupan rakyatnya. Prabu Basukiswara juga menjalin hubungan
yang sangat erat dengan Resi Manumayasa dari padepokan Retawu di
gunung Saptaarga.

Prabu Basukiswara menikah dengan Dewi Kiswati, dan mempunyai dua orang putra
masing-masing bernama ; Arya Basuketi dan Arya Kistawan. Merasa usianya sudah
lanjut dan tak mampu lagi memerintah, ia memutuskan untuk hidup sebagai
brahmana. Tahta dan negara Wirata diserahkan kepada putra sulungnya, Arya
Basuketi.

Basukunti
PRABU BASUKUNTI atau WASUKUNTI yang waktu mudanya bernama Suradewa,
adalah putera sulung Prabu Wasukunteya, raja Negara Mandura dengan permaisuri
Dewi Sungganawati. Ia mempunyai adik kandung bernama Kuntadewa, yang
setelah menjadi raja negara Boja bergelar Prabu Kuntiboja.

Prabu Basukunti menikah dengan Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh 4 ( empat ) orang putra masing-masing
bernama: Arya Basudewa, Dewi Prita/Dewi Kunti, Arya Prabu Rukma dan Arya
Ugrasena.

Prabu Basukunti mempunyai sifat dan perwatakan; berani, cerdik pandai,


arif bijaksana dan suka menolong. Setelah usianya lanjut, ia menyerahkan tahta
kerajaan Mandura kepada putra sulungnya, Arya Basudewa dan hidup sebagai
brahmana sampai meninggal.




Basunanda
Arya Basunanda menjadi raja negara Wirata menggantikan kedudukan ayahnya,
Prabu Basupati yang mengundurkan diri. Prabu Basunanda menikah dengan Dewi
Swakawati, dan mempunyai dua orang putra masing-masing bernama ; Dewi
Basundari dan Arya Basundara.

Prabu Basunanda tidak terlalu lama memerintah negara Wirata. Ia mengikuti jejak
Prabu Basupati, mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk selanjutnya hidup
sebagai brahmana. Karena waktu itu putra-putranya masih kecil, tahta kerajaan
Wirata diserahkan kepada adiknya, Arya Basukesti.

Basupati
PRABU BASUPATI dikenal pula dengan nama Prabu Basuparicara (Mahabharata). Ia
Putra Bathara Srinada/Prabu Basurata, raja negara Wirata yang pertama dengan
permaisuri Dewi Bramaniyuta, Putri Bathara Brahma. Prabu Basupati mempunyai
adik kandung bernama Bramananeki yang menikah dengan Bambang Parikenan,
putra Bathara Bremani/Brahmanaresi dengan Dewi Srihuna/Srihunon.

Karena ketekunannya bertapa, Prabu Basupati menjadi sangat sakti , juga tahu
segala bahasa binatang. Ia mendapat anugerah Bathara Indra berwujud sebuah
kereta sakti bernama Amarajaya lengkap dengan bendera perangnya yang
membuatnya kebal terhadap segala macam senjata. Dengan kereta sakti
Amarajaya, Prabu Basupati menaklukkan tujuh negara, masuk ke dalam wilayah
kekuasaan negara Wirata.

Prabu Basupati menikah dengan Dewi Angati atau Dewi Girika (Mahabharata), putri
Bagawan Kolagiri dengan Dewi Suktimati. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh
tiga orang putra masing-masing bernama ; Arya Basunada, Arya Basukesti
dan Arya Bamurti.

Prabu Basupati memerintah negara Wirata sampai berusia lanjut. Ia menyerahkan


tahta Kerajaan Wirata kepada Arya Basunada, kemudian hidup sebagai brahmana
sampai meninggal dalam keadaan bermudra.


Basurata
PRABU BASURATA adalah raja negara Wirata yang pertama. Pada waktu mudanya
ia bernama Bathara Srinada. Prabu Basurata adalah Putra Bathara Wisnu yang
bertahta di Kahyangan Untarasegara, dengan permaisuri Dewi Srisekar. Ia
mempunyai dua orang saudara kandungmasing-masing bernama ; Bathara Srigati
dan Bathara Srinadi.

Prabu Basurata menikah dengan Dewi Bramaniyuta, Putri Bathara Brahma dengan
Dewi Sarasyati dari Kahyangan Daksinageni. Dari perkawinan tersebut ia
memperoleh dua orang putra bernama ; Arya Basupati/Basuparicara dan Dewi
Bramananeki.

Setelah menikahkan putrinya, Dewi Brahmananeki dengan Bambang Parikenan,


putra Bathara Bremani/Brahmanaresi (Putra Bathara Brahma dengan Dewi
Raraswati) dengan Dewi Srihuna (Putri Bathara Wisnu dengan Dewi Sripujayanti),
Prabu Basurata berkeinginan moksa. Ia kemudian menyerahkan tahta dan negara
Wirata kepada putranya, Arya Basupati.


Bima
BIMA atau WERKUDARA dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa,
Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi,
Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Ia putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina
dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara
Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan
Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.

Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan
jujur. Ia memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata
antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan
Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji
Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung


Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana,
ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa
anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh/kain Poleng Bintuluaji,
Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak
Jarot Asem.

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Ia mempunyai tiga


orang isteri dan 3
orang anak, yaitu :

1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,

2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan

3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena

Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat


saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.




Bogadatta
BOGADATTA atau Bogadenta adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina
dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari
negara Gandaradesa. Ia bersaudara 100 orang --{ 99 orang pria dan 1 orang
wanita} yang disebut Sata Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan
adalah Duryudana (raja Negara Astina), Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra,
Citrayuda, Citraboma, Durmuka, Durmagati, Dursasana (Adipati Banjarjungut),
Durgempo, Gardapati (raja Negara Bukasapta), Gardapura , Kartamarma, (raja
negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini
(raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.
Bogadatta menjadi raja di negara Turilaya. Ia pandai bermain gada. Selain sakti,
Bogadatta juga memiliki kendaraan gajah bernama Murdiningkung dengan
srati/pawang seorang prajurit wanita bernama Murdiningsih. Di medan peperangan,
ketiganya merupakan pasangan yang menakutkan lawan dan tak terkalahkan. Bila
salah satu diantara mereka mati, dan diloncati salah satu diantara yang hidup,
maka yang mati akan hidup kembali.

Dalam perang Bharatayuda, Bogadatta maju kemedan peperangan bersama gajah


Murdiningkung dan srati Murdiningsih. Mereka semua mati dalam peperangan oleh
panah Trisula milik Arjuna.


Bomantara
RABU BOMANTARA adalah raja negara Trajutisna/Prajatisa. Ia masih keturunan
Bathara Kalayuwana, putra Bathara Kala dengan Bathari Durga/Dewi Pramuni dari
kahyangan Setragandamayit. Karena ketekunanya bertapa, ia menjadi sangat
sakti. Berwatak angkara murka, kejam, bengis dan selalu menurutkan kata hatinya.

Prabu Bomantara pernah menyerang Suralaya dan mengalahkan para Dewa. Ia


kemudian menyerang negara Gowasiluman, menewaskan Prabu Arimbaji untuk
menguasai wilayah hutan Tunggarana. Belum puas dengan kekuasaan yang
dimiliki, Prabu Bomantara kemudian menyerang negara Surateleng.

Akhirnya Prabu Bomantara tewas dalam pertempuran melawan Prabu


Narakasura yang waktu mudanya bernama Bambang Sitija, raja negara
Surateleng, putra Prabu Kresna dengan Dewi Pretiwi. Arwahnya manunggal dalam
tubuh Prabu Sitija. Negara Surateleng dan Prajatisa oleh Prabu Sitija/Narakasura
dijadikan satu, Prabu Sitija kemudian bergelar Prabu Bomanarakasura



Brajadenta
BRAJADENTA adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, raja raksasa negara
Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung
bernama; Arimba / Hidimba, Dewi Arimbi, Arya Prabakesana, Brajamusti,
Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Brajadenta berwatak keras hati, ingin menangnya sendiri, berani serta ingin selalu
menurutkan kata hatinya. Brajadenta sangat sakti. Oleh kakaknya, Dewi Arimbi,
Brajadenta ditunjuk sebagai wakil raja memegang tampuk pemerintahan negara
Pringgandani selama Dewi Arimbi ikut suaminya, Bima tinggal di Jadipati.

Akhir riwayatnya diceritakan, karena tidak setuju dengan pengangkatan Gatotkaca,


putra Dewi Arimbi dengan Bima sebagai raja Pringgandani, Brajadenta dengan
dibantu oleh ketiga adiknya, Brajamusti, Brajalamatan dan
Brajawikalpa, melakukan pemberontakan karena ingin secara mutlak menguasai
negara Pringgandani. Pemberontakannya dapat ditumpas oleh Gatotkaca dengan
tewasnya Brajalamatan dan Brajawikalpa. Brajadenta dan Brajamusti berhasil
melarikan diri dan berlindung pada kemenakannya, Prabu Arimbaji, putra mendiang
Prabu Arimba yang telah menjadi raja di negara Gowasiluman di hutan Tunggarana.

Dengan bantuan Bathari Durga, Brajadenta kembali memasuki negara Pringgandini


untuk membunuh Gatotkaca. Usahanya kembali menghalami kekagalan. Brajadenta
akhirnya tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca. Arwahnya menjelma
menjadi ajian/keaktian dan merasuk/menunggal dalam gigi Gatotkaca. Sejak itu
Gatotkaca memiliki kesaktian; barang siapa kena gigitannya pasti binasa.




Brajalamatan
BRAJALAMATAN adalah putra keenam Prabu Arimbaka, raja raksasa negara
Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung,
masing-masing bernama ; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Arya
Prabakesa, Brajamusti, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Brajalamatan berwatak keras hati dan agak berangasan, mudah marah, pemberani
dan sangat sakti. Brajalamatan sangat menentang keputusan Dewi Arimbi yang
akan menyerahkan tahta kerajaan Pringgandani kepada Gatotkaca, putranya
dengan Bima. Karena itu Brajalamatan ikut mendukung dan terlibat langsung
gerakan pemberontakan yang dilakukan Brajadenta dan Brajamusti dalam upaya
merebut tahta kerajaan Pringgandani dari tangan Gatotkaca.

Dalam peperangan perebutan kekuasaan itu, Brajalamatan akhirnya mati di tangan


Gatotkaca. Arwahnya kemudian menjelma menjadi ajian/kesaktian manunggal di
tangan kiri Gatotkaca.




Brajamusti
BRAJAMUSTI adalah putra ke-lima Prabu Arimbaka, raja raksasa negara
Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung
bernama; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Arya Prabakesa, Brajadenta,
Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Brajamusti mempunyai sifat mudah naik darah, agak bengis, keras hati dan ingin
menang sendiri. Ia sangat sakti. Bersama kakaknya, Brajadenta dan kedua
adiknya, Brajalamantan dan Brajawikalpa, ia melakukan pemberontakan merebut
tahta negara Pringgandani dari kekuasaan Dewi Arimbi. Ketika pemberontakan
gagal dengan tewasnya Brajalamatan dan Brajawikalpa oleh Gatotkaca, Brajamusti
dan Brajadenta melarikan diri, berlindung pada kemenakannya, Prabu Arimbaji,
putra mendiang Prabu Arimba yang telah menjadi raja negara Guwasiluman di
hutan Tunggarana.

Dengan bantuan Bathari Durga, Brajamusti kembali beraniat membunuh Gatotkaca


melalui tangan ketiga. Ia menjelma menjadi Gatotkaca palsu dan menganggu Dewi
Banowati, istri Prabu Duryudana, raja negara Astina. Namun perbuatanya terseburt
dapat dibongkar oleh Gatotkaca. Akhirnya Brajamusti tewas dalam petempuran
melawan Gatotkaca, dan arwahnya menjadi ajian/kesaktian merasuk/menunggal
dalam tangan kanan Gatotkaca.



Brajawikalpa
BRAJAWIKALPA adalah putra ketujuh Prabu Arimbaka, raja raksasa negara
Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung
masing-masing bernama; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Arya
Prabakesa, Brajamusti, Brajalamatan dan Kalabendana.

Brajawikalpa mempunyai sifat perwatakan ; pemberani, tangguh, setia, sedikit


serakah dan tidak mempunyai pendirian yang tetap. Ia juga ikut mendungkung
Brajadenta dan saudara-saudaranya yang lain ketika menentang Dewi Arimbi yang
akan mengangkat Gatotkaca sebagai raja Pringgandani. Brajawikalpa juga ikut
terlibat langsung pemberontakan yang dipimpin oleh Brajadenta dan Brajamusti,
walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Kalabendana.

Dalam peperangan pemberontakan tersebut, Brahjawikalpa tewas dalam


pertempuan melawan Gatotkaca. Arwahnya menjelma menjadi ajian/kesaktian
berujud perisai yang manunggal dalam punggung Gatotkaca.


Burisrawa
ARYA BURISRAWA adalah putra ke-empat Prabu Salya, raja negara Mandaraka
dengan permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati, putri tunggal Bagawan Bagaspati
dari pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat orang saudara kandung masing-
masing bernama ; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati dan Bambang
Rukmarata.

Burisrawa berwujud setengah raksasa, gagah perkasa dan sangat sakti. Ia


berwatak sombong, senang menurutkan kata hatinya, pendendam, ingin selalu
menang sendiri, senang membuat keonaran dan membuat peristiwa - peristiwa
yang penuh dengan kekerasan.

Burisrawa menikah dengan Dewi Kiswari, putri Prabu Kiswaka, raja


negara Cedisekar/Cindekembang dan berputra Arya Kiswara. Ia sangat akrab
hubungannya dengan Prabu Baladewa, raja Mandura, Prabu Duryudana, raja Astina
dan Adipati Karna, raja Awangga karena hubungan saudara ipar.

Dalam perang Bhratayuda, Burisrawa berada di pihak keluarga Kurawa. Ia gugur


dalam peperangan melawan Arya Setyaki, putra Prabu Setyajid/Ugrasena, raja
negara Lesanpura.



Cakil
CAKIL atau Gendirpenjalin, berwujud raksasa dengan gigi tonggos berpangkat
tumenggung. Tokoh Cakil hanya dikenal dalam ceruita pedalangan Jawa dan selalu
dimunculkan dalam perang kembang, perang antara satria melawan raksasa yang
merupakan lambang nafsu angkara murka.

Cakil memiliki sifat; pemberani, tangkas, trengginas, banyak tingkah dan pandai
bicara. Ia berwatak kejam, serakah, selalu menurutkan kata hati dan mau
menangnya sendiri. Cakil selalu ada dan hidup di setiap negara raksasa. Ia
merupakan raksasa hutan (selalu tinggal di hutan) dengan tugas merampok para
satria atau merusak dan mengganggu ketenteraman kehidupan para brahmana di
pertapaan.

Dalam setiap peperangan Cakil mesti menemui ajalnya, karena ia dan anak
buahnya merupakan lambang nafsu angkara murka manusia yang memang harus
dilenyapkan

Dadungawuk
DADUNGAWUK adalah raksasa kerdil anak buah Bathari Durga, raja makhluk
siluman yang bertahta di Kahyangan Setragandamayit. Dadungawuk tinggal di
hutan Krendayana, bertugas menggembalakan kerbau/Andanu (Jawa) milik Bathari
Durga.

Kerbau Andanu berjumlah 40 ekor, semuanya berwarna hitam, berkaki putih


(=pancal panggung/Jawa). Karena indahnya pernah dipinjam keluarga Pandawa
untuk memenuhi persyaratan permintaan Dewi Sumbadra, putri Prabu Basudewa
dengan permaisuri Dewi Badrahini dari negara Mandura, ketika dipinang oleh
Arjuna. Pada mulanya Dadungawuk menolak. Tetapi setelah dikalahkan oleh Bima,
Dadungawuk bersedia menyerahkan Andanu, yang akan digunakan untuk
memeriahkan pawai perkawinan Dewi Subadra dengan Arjuna yang pestanya
diselenggarkan di negara Dwarawati. Atas seijin Bathari Durga, Dadungawuk
sendiri bertindak sebagai pawangnya.

Setelah pesta perkawinan selesai, Dadungawuk dan Andanu kembali kehutan


Kerndayana.

Dananjaya
ARYA DANANJAYA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja Jin negara
Madukara, di kawasan hutan Mertani. Ia mempunyai dua kakak kandung, yaitu :
Prabu Yudhistira, raja Jin negara Mertani dan Arya Dandunwacana yang
bersemayam di kesatrian Jodipati. Arya Dananjaya juga mempunyai dua saudara
seayah lain ibu masing-masing bernama ; Ditya Sapujagad yang bertempat
tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.

Arya Dananjaya sangat sakti. Ia memiliki pusaka berupa jala sutra yang berwujud
emas. Bersama kakaknya, Arya Danduwacana, Arya Dananjaya menjadi benteng
dan senapati perang negara Mertani, sebuah kerajaan siluman yang dalam
penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker.
Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa, putra Prabu Pandu raja
negara Astina, berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton yang diperoleh Arjuna
dari Bagawan Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani, Arya
Dananjaya yang kalah dalam peperangan melawan Arjuna, akhirnya
menjelma/sejiwa dengan Arjuna. Kepada Arjuna ia menyerahkan ; Nama
Dananjaya menjadi nama sebutan Arjuna, pusaka Jala Sutra Emas, negara
Madukara beserta seluruh balatentaranya, dan memberi saran kepada Arjuna untuk
mengawini Dewi Ratri, putri Prabu Yudhistira dengan Dewi Rahina yang
sesungguhnya pewaris tunggal negara Madukara.


Dandunwacana
ARYA DANDUNWACANA adalah adik Prabu Yudhistira, yang menurut cerita
pedalangan Jawa adalah raja Jin negara Mertani. Ia bersemayam di kesatrian
Jodipati. Arya Dandunwacana mempunyai adik kandung bernama ; Arya Dananjaya
yang bersemayam di kesatiran Madukara. Arya Dandunwacana juga mempumyai
dua saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Ditya Sapujagad,
bertempat tinggal di kesatiran Sawojajar dan Ditya Sapulebu yang bertempat
tinggal di kesatiran Baweratalun.

Arya Dandunwacana bertubuh tinggi besar, gagah perkasa. Berwatak pemberani,


jujur, setia dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Ia bersama adik-adiknya
menjadi senapati perang negara Mertani, sebuah kerajaan siluman yang dalam
penglihatan mata biasa merupakan sebuah hutan belantara yang angker.

Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa, putra Prabu Pandu raja
negara Astina, berkat daya kesaktian Minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian
dari Bagawan Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani, Arya
Dandunwacana yang kalah dalam peperangan melawan Bima/Werkudara akhirnya
menjelma/sejiwa dengan diri Bima. Kepada Bima, Arya Dandunwacana
menyerahkan; hak memakai nama Arya Dandunwacana, negara Jodipati, gada
pusaka bernama Rujakpala dan seluruh balatentaranya antara lain Patih Gagakbaka
dan para putra Slagahima antara lain ; Podangbinurehan, Dandangminangsi,
Jangettinelon, Celengdemalung, Menjanganketawang dan Cecakandon.



Danurwenda
ARYA DANURWENDA adalah putra Arya Anantareja, raja negara Jangkarbumi
dengan permaisuri Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa dari negara Tasikraja.

Ketika berlangsungnya perang Bharatayuda, Arya Danurwenda masih kecil. Ia tetap


tinggal di kahyangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Anantaboga.
Danurwenda memiliki sifat dan perwatakan; jujur, pendiam, sangat berbakti pada
yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar
kepercayaannya kepada Sang Maha Pencipta. Ia berkulit Napakawaca, sehingga
kebal terhadap segala macam senjata. Danurwenda juga mewarisi cincin
Mustikabumi dari ayahnya, Anantareja, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan
dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk
menghidupkan kembali kematian di luar takdir.

Arya Danurwenda menikah dengan Dewi Kadriti, cucu Prabu Kurandageni dari
negara Tirtakandasan. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra
bernama Nagapratala. Danurwenda tidak bersedia menjadi raja negara
Jangkarbumi, tetapi ia memilih menjadi patih negara Astina di bawah pemerintahan
Prabu Parikesit. Negara Jangkarbumi diserahkan kepada putranya, Nagapratala.



Darmahambara
PRABU DARMAHAMBARA adalah raja negara Giyantipura. Permaisurinya bernama
Dewi Swargandini, dan mempunyai tiga orang putri masing-masing bernama; Dewi
Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika/Ambiki.

Prabu Darmahambara pernah menyelenggarakan sayembara tanding pilih menantu


untuk dua orang putrinya, Dewi Ambika dan Dewi Ambiki. Putri sulungnya, Dewi
Amba tidak ikut dipertaruhkan karena sebelunya telah bertunangan dengan Prabu
Citramuka, raja negara Srawantipura. Sayembara tanding dimenangkan oleh
Dewabrata/Bisma dari negara Astina setelah mengalahkan dua raksasa kembar,
Wahmuka dan Arimuka yang menjadin jago negara Giyantipura.

Ketiga putri Prabu Darmahambara mengalami nasib yang berbeda. Dewi Amba
secara tidak sengaja tewas oleh Dewabrata. Dewi Ambika menikah dengan Prabu
Citragada dan Dewi Ambiki dengan Prabu Wicitrawirya, keduanya putra Prabu
Santanu dengan Dewi Durgandini dari negara Astina.

Setelah Prabu Citragada dan Prabu Wicitrawirya meninggal, Dewi Ambika menikah
dengan Arya Drestarasta dan Dewi Ambiki dengan Pandu, keduanya putra Dewi
Durgandini dengan Bagawan Abiyasa, dari pertapaan Retawu. Dewi Ambika
menurunkan keluarga Kurawa sedangkan Dewi Ambiki menurunkan keluarga
Pandawa


Dewayani
DEWI DEWAYANI adalah nenek-moyang keluarga wangsa Yadawa, Wresni dan
Andaka. Ia merupakan putri tunggal Resi Sukra dengan Dewi Jayanti, putri
Sanghyang Indra. Resi Sukra adalah brahmana mahasakti yang menjadi guru para
daitya/raksasa di negara Sakiya. Karena menghendaki kemenangan para daitya,
Resi Sukra bertapa memuja Bathara Prameswara selama l.000 tahun dan
mendapat ilmu Sanjiwani, mantra sakti yang dapat menghidupkan orang
mati. Karena berselisih dengan
Dewi Sarmista, putri tunggal Prabu Wrisaparwa, raja daitya negara Parwata,
Dewayani meminta Resi Sukra, ayahnya agar menghukum Prabu Wrisaparma dan
Dewi Sarmista yang telah menghina dan mendorongnya ke dalam lumpur. Karena
takut terhadap kutuk pastu Resi Sukra, Prabu Wrisaparwa dan Dewi Sarmista
memohon ampun dan bersedia memenuhi serta melaksanakan apa yang
diminta/dikehendaki Dewayani. Dewayani meminta agar Sarmista menjadi
budaknya, dan dipenuhi dengan senang hati oleh Sarmista.

Dewayani kemudian menikah dengan Prabu Yayati, raja negara Astina. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki, masing-masing
bernama ; Yadu dan Turwasu. Kedua putranya tersebut kelak menurunkan
golongan wangsa Yadawa, Wresni dan Andaka (keluarga Mandura, Lesanpura,
Kumbina dan Dwarawti). Dewayani akhirnya dimadu dengan Dewi Sarmista yang
diambil istri Prabu Yayati, dan berputra tiga orang lelaki, masing-masing bernama ;
Druhyu, Anu dan Puru (menurunkan wangsa Kuru/Pandawa-Kurawa).

Drestadyumna
ARYA DRESTADYUMNA atau Trustajumena adalah putra bungsu Prabu Drupada,
raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu
dengan Dewi Gandini. Ia mempunyai kakak kandung dua orang masing-
masing bernama; Dewi Drupadi, istri Prabu Yudhistira, raja Amarta, dan Dewi
Srikandi, istri Arjuna.

Konon Arya Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu
Drupada kepada Dewata yang menginginkan seorang putra lelaki yang dapat
membinasakan Resi Drona yang telah mengalahkan dan menghinanya.
Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan
trenginas. Ia menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja
negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki
bernama; Drestaka dan Drestara.

Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuda. Ia tampil sebagai


senapati perang Pandawa, menghadapi senapati perang Kurawa, yaitu Resi Drona.
Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas
pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui
pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna
dengan dipenggal lehernya.

Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayuda. Ia tewas dibunuh


Aswatama, putra Resi Drona, yang berhasil menyusup masuk istana Astina dalam
usahanya membunuh bayi Parikesit.


Drona
RESI DRONA atau Durna yang waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana
adalah putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia
mempunyai saudara seayah seibu bernama ; Arya Kumbayaka dan Dewi
Kumbayani.

Resi Drona berwatak; tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya,
tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta
sangat mahir dalam siasat perang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah
keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia
mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Cundamanik dan panah Sangkali
(diberikan kepada Arjuna).

Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara
Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia
berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah
wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

Dalam peran Bharatayuda Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa,
setelah gugurnya Resi Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat
menentukan gelar perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan
pedang Drestadyumna, putra Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya.
Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya raja negara
Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumna.


Drupada
PRABU DRUPADA yang waktu mudanya bernama Arya Sucitra, adalah putra
Arya Dupara dari Hargajambangan, dan merupakan turunan ke tujuh dari Bathara
Brahma. Arya Sucitra bersaudara sepupu dengan Bambang Kumbayana/Resi
Drona dan menjadi saudara seperguruan sama-sama berguru pada Resi
Baratmadya.

Untuk mencari pengalaman hidup, Arya Sucitra pergi meninggalkan


Hargajembangan, mengabdikan diri ke negara Astina kehadapan Prabu
Pandudewanata. Ia menekuni seluk beluk tata kenegaraan dan tata pemerintahan.
Karena kepatuhan dan kebaktiannya kepada negara, oleh Prabu Pandu ia di
jodohkan/dikawinkan dengan Dewi Gandawati, putri sulung Prabu Gandabayu
dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala. Dari perkawinan tersebut ia
memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Drupadi, Dewi
Srikandi dan Arya Drestadyumna.

Ketika Prabu Gandabayu mangkat, dan berputra mahkota Arya Gandamana


menolak menjadi raja, Arya Sucitra dinobatkan menjadi raja Pancala dengan gelar
Prabu Drupada. Dalam masa kekuasaanya, Prabu Drupada berselisih dengan Resi
Drona, dan separo dari wilayah negara Pancala direbut secara paksa melalui
peperangan oleh Resi Drona dengan bantuan anak-anak Pandawa dan Kurawa.

Di dalam perang besar Bharatayuda, Prabu Drupada tampil sebagai senapati perang
Pandawa. Ia gugur melawan Resi Drona terkena panah Cundamanik.

Drupadi
DEWI DRUPADI atau Dewi Kresna dan dikenal pula dengan nama Pancali
(Mahabharata) adalah putri sulung Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan
permaisuri Dewi Gandawati, Putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini. Ia
mempunyai dua orang adik kandung bernama ; Dewi Srikandi dan Arya
Drestadyumna.

Dewi Drupadi berwajah sangat cantik, luhur budinya, bijaksana,sabar, teliti dan
setia. Ia selalu berbakti terhadap suaminya. Menurut pedalangan Jawa, Dewi
Drupadi menikah dengan Prabu Yudhistira/Puntadewa, raja negara Amarta dan
berputra Pancawala. Sedangkan menurut Mahabharata, Dewi Drupadi menikah
dengan lima orang satria Pandawa, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan
Sahadewa. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh lima orang putra, yaitu;
1.Partawindya dari Yudhistira. 2. Srutasoma dari Bima. 3. Srutakirti dari Arjuna 4.
Srutanika dari Nakula 5. Srutawarman dari Sahadewa.

Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Drupadi mati moksa bersama-sama dengan


kelima satria Pandawa setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

Dursala
DURSALA adalah putra Arya Dursasana, Adipati Banjarjumut yang merupakan salah
satu dari seratus orang keluarga Kurawa dengan Dewi Saltani. Ia berbadan besar,
gagah dan bermulut lemar.

Dursala mempunyai watak dan sifat; takabur, besar kepala dan senang
meremehkan orang lain, ia sangat sakti. Selain pernah berguru pada Resi Drona,
Dursala juga menjadi murid kesayangan Bagawan Pisaca, seorang pendeta raksasa
dari pertapaan Carangwulung di hutan Wanayasa. Ia diberi Aji Gineng oleh
Bagawan Pisaca yang berkhasiat kesaktian siapa saja yang digertaknya badannya
akan hancur lebur.

Dursala menikah dengan Dewi Sumini. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh


seorang putra yang diberi nama Arya Susena. Dursala tewas dalam pertempuran
melawan Gatotkaca tatkala ia bermaksud menguasai negara Amarta. Badannya
hancur terkena hantaman Aji Narantaka


Dursasana
DURSASANA adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan
permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari
negara Gandaradesa. Ia bersaudara 100 orang --{99 orang pria dan 1 orang
wanita} yang disebut Sata Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan
adalah Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya),
Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Durmuka,
Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja Negara Bukasapta), Gardapura ,
Kartamarma, (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda,
Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Dursasana menikah dengan Dewi Saltani, putri Adipati Banjarjungut. Dari


perkawinan ini ia berputra seorang lelaki bernama Dursala. Dursasana berbadan
besar, gagah dan bermulut lebar, mempunyai watak dan sifat; takabur,gemar
bertindak sewenang-wenang, besar kepala, senang meremehkan dan menghina
orang lain. Ia mempunyai pusaka sebuah keris yang luar biasa besarnya bernama
Kyai Barla.

Dursasana mati di medan perang Bharatayuda oleh Bima/Werkudara dalam


keadaan sangat menyedihkan. Dadanya dibelah dengan kuku Pancanaka. Darah
yang menyembur ditampung Bima untuk memenuhi sumpah Dewi Drupadi, yang
akan dibuat kramas dan mencuci rambutnya. Anggota tubuh dan kepala Dursasana
hancur berkeping-keping, dihantam gada Rujakpala.

Dursilawati
DEWI DURSILAWATI adalah satu-satunya wanita dari 100 (seratus) orang putra
Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu
Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Diantara 100 orang,
keluarga Kurawa yang dikenal dalam pedalangan adalah; Duryudana (raja Negara
Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi,
Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjar Jumut), Durmuka,
Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura,
Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda,
Wikataboma, dan Widandini (raja negara Purantara) .

Dewi Dursilawati sangat dimanja oleh orang tuanya dan saudara-saudaranya.


Hidupnya serba mewah, keinginanya selalu terlaksana. Ia jarang sekali keluar dari
lingkungan istana. Wataknya bersahaja, menarik hati, gaya dan kata-katanya serba
menarik.Dewi Dursilawati menikah dengan Arya Sinduraja/Arya Tirtanata atau lebih
dikenal dengan nama Arya Jayadrata, raja negara Sindu. Dari perkawinan tersebut
ia memperoleh dua orang putra bernama Arya Wiruta dan Arya Surata.

Setelah berakhirnya perang Bharatayuda dengan tewasnya suaminya, Arya


Jayadrata dan seluruh saudaranya dimedan perang Kurusetra, Dewi
Dursilawati tinggal dinegara Sindu bersama putranya, Arya Surata yang bertahta
menjadi raja negara Sindu menggantikan ayahnya. Sesekali ia datang kenegara
Astina untuk membangun dan melanggengkan keakraban hubungan kekeluarga
dengan keluarga Pandawa dan keturunannya.


Ekalaya
EKALAYA atau Ekalya (Mahabharata) dalam cerita pedalangan dikenal pula dengan
nama Palgunadi. Ia adalah raja negara Paranggelung. Ekalaya mempunyai isteri
yang sangat cantik dan sangat setia bernama Dewi Anggraini, putri hapsari/bidadari
Warsiki.

Ekalaya seorang raja kesatria, yang selalu mendalami olah keprajuritan dan
menekuni ilmu perang. Ia sangat sakti dan sangat mahir mampergunakan senjata
panah. Ia juga mempunyai cincin pusaka bernama Mustika Ampal yang menyatu
dengan ibu jari tangan kanannya. Ekalaya berwatak; jujur, setia, tekun dan tabah,
sangat mencintai istrinya.

Dalam perselisihannya dengan Arjuna, dengan penuh keikhlasan Ekalaya


merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong oleh Resi Drona, yang mengakibatkan
kematiaannya karena cincin Mustika Ampal lepas dari tubuhnya. Menjelang
kematiaanya, Ekalaya berjanji akan membalas kematiannya pada Resi Drona.
Dalam perang Bharatayuda kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya
menyatu dalam tubuh Arya Drestadyumna satria Pancala, yang memenggal putus
kepala Resi Drona hingga menemui ajalnya.


Erawati
DEWI ERAWATI adalah putri sulung Prabu Salya raja negara Mandaraka dengan
permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati putri tunggal Bagawan Bagaspati dari
pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat saudara kandung masing-masing
bernama; Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang
Rukmarata.

Dewi Erawati menikah dengan Prabu Baladewa/Kakrasana, raja negara Mandura,


putra Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahindra/Maerah (Ped. Jawa). Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Winata dan
Wimuka/Wilmuka.

Dewi Erawati berwatak; penuh belas kasih, setia, sabar dan wingit. Ia dan
suaminya hidup tenang dan bahagia sampai masa sesudah perang Bharatayuda.
Hal ini karena mereka sekeluarga berada di luar pertikaian keluarga Kurawa dan
keluarga Pandawa yang meletus dalam perang Bharatayuda.



Gagakbaka
GAGAKBAKA adalah patih negara Jodipati, semenjak jaman Arya Dandunwacana,
sampai kemudian diserahkan kepada Bima/Werkudara setelah keluarga Pandawa
berhasil membangun negara Amarta di bekas hutan Mertani. Gagakbaka
berperawakan tinggi besar dan gagah perkasa. Ia sangat setia dan taat dalam
pengabdiannya terhadap negara dan junjungannya.

Gagakbaka pernah disuruh oleh Bima pergi kepertapaan Pandansurat untuk


meminta kesediaan Resi Prancandaseta (Kera putih) menari di alun-alun negara
Dwarawati memeriahkan upacara perkawinan Arjuna dengan Dewi Sumbadra. Pada
mulanya Resi Pancandaseta menolak. Tapi setelah kalah berperang melawan
Gagakbaka akhirnya bersedia pula datang dan menari di alun-alun Dwarawati.

Gagakbaka ikut terjun ke medan perang Bharatayuda memimpin pasukan


balatentara Jodipati. Ia tewas dalam pertempuran melawan Prabu Salya, raja
negara Mandaraka.



Gandabayu
PRABU GANDABAYU adalah raja negara Pancala. Konon ia masih keturunan Resi
Suksrana, murid Resi Boma, nama samaran Bathara Bayu ketika menjadi raja di
negara Medanggora. Prabu Gandabayu menikah dengan Dewi Gandarini, dan
berputra dua orang bernama; Dewi Gandawati dan Arya Gandamana.

Prabu Gandabayu menurut wujudnya telah mencerminkan wataknya; gagah berani,


teguh sentosa, bersahaja, pendiam dan sakti. Ia mempunyai hubungan yang
sangat karib dengan Prabu Pandudewanata, raja negara Astina, sehingga Dewi
Gandawati dikawinkan dengan Arya Sucitra, punggawa dan murid kesayangan
Prabu Pandudewanata.

Prabu Gandabayu memerintah negara Pancala sampai mangkatnya. Karena


penggantinya, putra mahkota Arya Gandamana tidak bersedia memegang
kedudukan raja dan lebih senang menjabat Patih di negara Astina, tahta kerajaan
kemudian diserahkan kepada Arya Sucitra, menantunya yang setelah menjadi



Gandamana
ARYA GANDAMANA adalah putra mahkota negara Pancala. Putra Prabu Gandabayu
dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia mempunyai kakak kandung bernama Dewi
Gandawati. Arya Gandamana adalah kesatria yang tiada tandingannya. Ia berwajah
tampan, gagah, tegap, pendiam, pemberani, kuat dan sakti serta memiliki ilmu
andalan Aji Bandungbandawasa dan Glagah Pangantol-atol.

Arya Gandamana pernah menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Penyakit itu
baru sembuh setelah ia berikrar, mengucapkan sumpah tidak akan menjadi raja
sesuai wangsit Dewata. Gandamana kemudian pergi mengabdikan ke negara Astina
kehadapan Prabu Pandu, dan diangkat menjadi patih negara Astina. Jabatan itu
dipegangnya sampai ia harus meninggalkan negara Astina karena penghianatan
Sakuni.

Ketika ayahnya, Prabu Gandabayu meninggal, Gandamana tetap teguh dengan


sumpahnya. Ia relakan haknya menjadi raja kepada kakak iparnya, Arya Sucitra
yang menjadi raja Pancala bergelar Prabu Drupada.

Akhir riwayat Gandamana diceritakan; menurut Mahabharata, Gandamana tewas


dalam peperangan melawan Bima saat terjadi penyerbuan anak-anak Kurawa dan
Pandawa ke negara Pancala atas perintah Resi Drona. Sedangkan menurut
pedalangan, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat ia
melakukan pasanggiri/sayembara tanding dalam upaya mencarikan jodoh untuk
Dewi Drupadi.



Gandari
DEWI GANDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan
permaisuri Dewi Gandini. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung, masing-
masing bernama ; Arya Sakuni, Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.

Dewi Gandari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu
Kresnadwipayana/Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh 100 (seratus) orang anak, tetapi pada waktu
lahirnya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gandari dicerai beraikan
menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi
Manusia.

Keseratus putra Dewi Gandari tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa.
Diantara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (raja negara
Astina). Bogadatta, (raja negara Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma,
Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati
(raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang),
Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara)
dan Dewi Dursilawati.

Dewi Gandari mempunyai sifat kejam dan bengis. Ia selalu mementingkan diri
sendiri dan tidak segan-segan berkhianat serta pendendam. Dendam dan
kebenciannya terhadap Pandu, menjadi penyebab utama kebencian anak-anaknya,
Kurawa terhadap Pandawa. Ia mati terjun ke dalam Pancaka/api pembakaran
jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya
perang Bharatayuda.



Gandawati
DEWI GANDAWATI adalah putri sulung Prabu Gandabayu, raja negara Pancala atau
Pancalaradya (pedalangan Jawa) dengan permaisuri Dewi Gandarini. Ia mempunyai
seorang adik kandung bernama Arya Gandamana yang menjadi patih negara Astina
pada jaman pemerintahan Prabu Pandu. Dewi Gandawati seorang putri cantik jelita,
luhur budinya, bijaksana, sabar dan teliti serta setia. Ia sangat berbakti terhadap
suaminya.

Dewi Gandawati menikah dengan Arya Sucitra, putra Arya Sangara dari
Hargajambangan yang telah lama mengabdi dan berguru pada Prabu Pandu di
negara Astina. Sepeninggal Prabu Gandabayu, Arya Sucitra, suaminya naik tahta
kerajaan Pancala, bergelar Prabu Drupada. Hal ini karena Gandamana menolak
untuk dinobatkan menjadi raja. Dari perkawinan tersebut Dewi Gandawati
memperoleh tiga orang putra, masing-masing bernama ; 1. Dewi Drupadi atau
Pancali (Mahabharata) yang kemudian menjadi istri Prabu Yudhistira, raja negara
Amarta. 2. Dewi Srikandi, yang kemudian menjadi istri Arjuna, 3. Dretadyumna/
Trustajumena, yang dalam perang Bharatayuda berhasil membunuh Resi Drona.

Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Gandawati ikut belapati, terjun ke dalam


pancaka (api pembakaran jenasah) Prabu Drupada, suaminya yang gugur di medan
perang Bharatayuda melawan Resi Drona.



Garbanata
PRABU GARBANATA adalah raja negara Garbaruci. Ia masih keturunan Prabu
Kalaruci, raja negara Karanggubarja, yang tewas dalam peperangan melawan
Prabu Pandu saat menyerang Suralaya, karena ingin memperistri bidadari, Dewi
Wersini. Prabu Garbanata menikah dengan Dewi Danawati, putri Prabu Kalayaksa,
raja negara Garbasumanda. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri
yang bernama Dewi Garbarini.

Terdorong oleh rasa dendam terhadap keluarga Mandura, Prabu Garbanata ingin
merebut kembali negara Karanggubarja yang kini telah dikuasai oleh Prabu
Setyajid/Arya Ugrasena dan berganti nama menjadi negara Lesanpura.
Penyerangan besar-besaran pun dilakukan terhadap negara Lesanpura. Dalam
penyerangan tersebut Prabu Garbanata kalah dalam peperangan melawan Arya
Setyaki, putra Prabu Setyajid dengan Dewi Wersini, yang memilki senjata gada
Wesikuning peninggalan Arya Singamulangjaya, senapati perang negara
Dwarawati.

Perdamaian pun akhirnya dilakukan antara negara Garbaruci dengan Lesanpura.


Untuk mengukuhkan tali persaudraan, Dewi Garbarini, putri Prabu Garbasumanda
kemudian dijodohkan dengan Arya Setyaki.


Gardapati
GARDAPATI adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri
Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.
Ia bersaudara 100 orang --{99 orang pria dan 1 orang wanita} yang disebut Sata
Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah Duryudana (raja
Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Citraksa, Citraksi,
Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka,
Durmagati, Durgempo, Gardapura , Kartamarma (raja negara Banyutinalang),
Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara)
dan Dewi Dursilawati.

Gardapati berwatak keras hati, congkak, cerdik dan licik. Ia pandai dalam olah
ketrampilan mempergunakan senjata gada dan lembing. Dengan kesaktiannya, ia
berhasil merebut negara Bukasapta, dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar
Prabu Gardapati. Adik kesayangannya Gardapura di angkat menjadi raja muda
bergelar Prabu Anom Gardapura.

Saat berlangsungnya perang Bharatayuda, Gardapati diangkat menjadi senapati


perang Kurawa dengan senapati pendamping Prabu Wresaya, raja negara
Glagahtinalang. Gardapati tewas dalam peperangan melawan Bima. Tubuhnya
hancur dihantam gada Rujakpala.


Gardapura
GARDAPURA adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri
Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari
negara Gandaradesa. Ia bersaudara 100 orang -{99 orang pria dan 1 orang
wanita} yang disebut Sata Kurawa. Diantaranya yang dikenal dalam pedalangan
adalah Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya),
Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati
Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara
Bukasapta), Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu,
Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantura) dan Dewi Dursilawati.
Gardapura bersifat sombong, keras kepala, cerdik dan licik. Ia pandai dalam olah
ketrampilan mempergunakan senjata gada dan panah. Gardapura sangat dekat
hubungannya dengan Gardapati, kakaknya. Ketika Gardapati menjadi raja di
negara Bukasapta, ia diangkat sebagai raja pendamping dengan gelar Prabu Anom
Gardapura.

Saat berlangsungnya perang Bharatayuda, Gardapura diangkat sebagai Senapati


pendamping, mendampingi Resi Drona yang berkedudukan sebagai Senapati
utama. Ia tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepalanya hancur dihantam
gada Rujakpala.

Gareng
GARENG lazim disebut sebagai anaknya Semar, dan masuk dalam golongan
panakawan. Aslinya, Gareng bernama Bambang Sukskati, putra Resi Sukskadi dari
padepokan Bluluktiba. Bertahun-tahun Bambang Sukskati bertapa di bukit Candala
untuk mendapatkan kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia kemudian minta ijin
pada ayahnya untuk pergi menaklukan raja-raja.

Di tengah perjalanan Bambang Sukskati bertemu dengan Bambang Panyukilan,


putra Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore. Karena sama-sama
congkaknya dan sama-sama mempertahankan pendiriannya, terjadilah peperangan
antara keduanya. Mereka mempunyai kesaktian yang seimbang, sehingga tiada
yang kalah dan menang. Mereka juga tak mau berhenti berkelahi walau tubuh
mereka telah saling cacad tak karuan. Perkelahian baru berakhir setelah dilerai oleh
Semar/Sanghyang Ismaya. Karena sabda Sanghyang Ismaya, berubahlah wujud
keduanya menjadi sangat jelek. Tubuh Bambang Sukskati menjadi cacad. Matanya
juling, hidung bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, tangannya
bengkok/tekle/ceko (Jawa). Oleh Sanghyang Ismaya namanya diganti menjadi Nala
Gareng, sedangkan Bambang Panyukilan menjadi Ptruk.

Nala Gareng menikah dengan Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dengan
permaisuri Dewi Saradewati dari negara Salarengka, yang diperolehnya atas
bantuan Resi Tritusta dari negara Purwaduksina. Nala Gareng berumur sangat
panjang, ia hidup sampai jaman Madya.




Gatotkaca
GATOTKACA, terkenal sebagai ksatria perkasa berotot kawat bertulang besi. Ia
adalah anak Bima, ibunya bernama Dewi Arimbi. Dalam pewayangan, Gatotkaca
adalah seorang raja muda di Pringgadani, yang rakyatnya hampir seluruhnya terdiri
atas bangsa raksasa. Negeri ini diwarisinya dari ibunya. Sebelum itu, kakak ibunya
yang bernama Arimba, menjadi raja di negeri itu. Sebagai raja muda di
Pringgadani, Gatotkaca banyak dibantu oleh patihnya, Brajamusti, adik Arimbi.

Begitu lahir di dunia, Gatotkaca telah membuat huru-hara. Tali pusarnya tidak
dapat diputus. Berbagai macam pisau dan senjata tak mampu memotong tali pusar
itu. Akhirnya keluarga Pandawa sepakat menugasi Arjuna mencari senjata ampuh
untuk keperluan itu. Sementara itu para dewa pun tahu peristiwa itu. Untuk
menolongnya Batara Guru mengutus Batara Narada turun ke bumi membawa
senjata pemotong tali pusar Gatotkaca. Namun Batara Narada membuat
kekeliruan. Senjata, yang bernama Kunta Wijayandanu, itu bukan diserahkan pada
Arjuna, me-lainkan pada Karna yang wajah dan penampilannya mirip Arjuna. Untuk
memperoleh senjata pemberian dewa itu Arjuna terpaksa mencoba merebutnya
dari tangan Karna. Usahanya ini tak berhasil. Arjuna hanya dapat merebut sarung
(warangka) senjata sakti itu. Sedangkan bilah senjata Kunta tetap dilarikan Karna.
Untunglah ternyata sarung Kunta itu pun dapat digu-nakan memotong tali pusar
Gatotkaca. Namun, begitu tali pusar itu putus, warangka Kunta langsung melesat
masuk ke dalam pusar bayi itu.

Setelah tali pusarnya putus, atas izin Bima dan keluarga Pandawa lainnya,
Gatotkaca dibawa Batara Narada ke Kahyangan untuk meng-hadapi Kala Sakipu
dan Kala Pracona yang mengamuk. Mula-mula Bima dan Dewi Arimbi tidak
merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada. Namun, setelah dewa itu
menjelaskan bahwa me-nurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona
memang hanya dikalahkan oleh bayi yang di-namakan Tutuka itu, Bima dan Arimbi
mengizinkan.

Di kahyangan, Bayi Tutuka langsung ditaruh dihadapan kedua raksasa sakti itu.
Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi ternyata
Tutuka bukan bayi biasa. Tubuhnya tetap utuh, walaupun raksasa itu mengunyah
kuat-kuat.
Karena kesal, bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah. Tutuka pingsan.
Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu, Bayi Tutuka diambil olah Batara Narada,
dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka.

Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Batara Anggajali. Setelah


penggemblengan selesai, begitu muncul kembali dari Kawah Candradimuka, bayi
itu sudah berubah ujud menjadi ksatria muda yang perkasa. Ia mengenakan
Caping Basunanda, penutup kepala gaib, yang menyebabkannya tidak akan
kehujanan dan tidak pula kepanasan. Ia juga mengenakan terompah Padakacarma
yang jika digunakan menendang, musuhnya akan mati.

Para dewa lalu menyuruhnya berkelahi melawan bala tentara raksasa pimpinan
Prabu Kala Pracona dan Patih Kala Sakipu lagi. Gatotkaca ternyata sanggup
menunaikan tugas itu dengan baik. Kala Pracona dan Kala Sakipu dapat
dibunuhnya.

Dalam pewayangan Gatotkaca mempunyai tiga orang istri. Istri pertamanya Dewi
Pregiwa, anak Arjuna. Istrinya yang kedua Dewi Sumpani, dan yang ketiga Dewi
Suryawati, putri Batara Surya. Dari perkawinan dengan Pergiwa, Gatotkaca
mendapat seorang anak bernama Sasikirana. Dengan Dewi Sumpani ia mempunyai
anak bernama Arya Jayasumpena. Sedangkan Suryakaca adalah anaknya dari Dewi
Suryawati.
Dalam Baratayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15
oleh senjata Kunta yang dilemparkan Karna. Senjata Kunta Wijayandanu itu
melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam
warangkanya. Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah
tahu akan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena itu ketika Karna melemparkan
senjata Kunta, ia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja
memburunya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca
berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu
waspada dan cepat melompat menghindar sehingga yang hancur hanyalah kereta
perangnya.

Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan


menggunakan senjata Kunta. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata
sakti itu bila nanti berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Prabu Anom
Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan
kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata
pamungkas itu.
Akibatnya, sesudah Gatotkaca gugur, sebenarnya Karna sudah tidak lagi memiliki
senjata sakti yang benar-benar dapat diandalkan.

Sebagai raja muda Pringgadani, Gatotkaca bergelar Prabu Anom Kacanagara.


Namun, gelar ini hampir tidak pernah disebut dalam pergelaran wayang. Nama lain
Gatotkaca yang lebih terkenal adalah Tutuka, Guritna, Gurubaya, Purbaya,
Bimasiwi, Krincingwesi, Arimbiatmaja, dan Bimaputra. Pada Wayang Golek Purwa
Sunda, ada lagi nama alias Gatotkaca, yakni Kalananata, Kancingjaya,
Trincingwesi, dan Mladangtengah.

Gatotkaca amat sayang pada sepupunya, Abimanyu. Sewaktu Abimanyu hendak


menikah dengan Dewi Siti Sundari, Gatotkaca banyak memberikan bantuannya.
Pengangkatan Gatotkaca sebagai penguasa Pringgadani sebenarnya tidak disetujui
pamannya, Bra-jadenta. Adik Dewi Arimbi ini menganggap dirinya lebih pantas
menduduki jabatan itu, karena ia le-laki, dan anak kandung Prabu Trembaka — raja
Pring-gadani terdahulu. Untuk berhasilnya pemberontakan yang dilakukannya
Brajadenta minta dukungan Batari Durga dan Kurawa. Namun pemberontakan ini
gagal karena Brajadenta ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti. Brajadenta
akhirnya mati bersama-sama dengan Brajamusti, ketika mereka berperang tanding.
Arwah Brajadenta akhirnya menyusup ke telapak tangan kanan Gatotkaca, sedang
arwah Brajamusti di tangan kirinya. Dengan demikian kesaktian Gatotkaca makin
bertambah.

Gatotkaca pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Ia sampai hati


membunuh Kalabendana, hanya karena pamannya itu mengatakan pada Dewi Utari
bahwa Abimanyu akan menikah lagi dengan Dewi Utari. Padahal Kalabendana
adalah pengasuhnya sejak bayi, dan amat menyayangi Gatotkaca.
Menjelang ajalnya, Kalabendana mengatakan bahwa ia tidak mau masuk ke sorga
bilamana tidak bersama-sama dengan Gatotkaca. Karena itu, ketika Gatotkaca
menghindari senjata Kunta Wijayanda-nu dengan cara terbang setinggi-tingginya,
arwah Kalabendana mendorong senjata sakti itu sehingga dapat mencapai pusar
putra kesayangan Bima itu.

Beberapa tahun menjelang Baratayuda, Gatotkaca pernah bertindak kurang


bijaksana. Ia mengum-pulkan saudara-saudaranya, para putra Pandawa, untuk
mengadakan latihan perang di Tegal Kurusetra. Tindakannya ini dilakukan tanpa
izin dan pemberita-huan dari para Pandawa.
Baru saja latihan perang itu dimulai, datanglah utusan dari Kerajaan Astina yang
dipimpin oleh Dursala, putra Dursasana, yang menuntut agar latihan perang itu
segera dihentikan. Gatotkaca dan saudara-saudaranya menolak tuntutan itu. Maka
terjadilah perang tanding antara Gatotkaca dengan Dursala.
Pada perang tanding itu Gatotkaca terkena pukulan Aji Gineng yang dimilliki oleh
Dursala, sehingga pingsan. Ia segera diamankan oleh saudara-saudaranya, para
putra Pandawa. Di tempat yang aman Antareja menyembuhkannya dengan Tirta
Amerta yang dimilikinya. Gatotkaca langsung pulih seperti sedia kala. Namun, ia
sadar, bahwa kesaktiannya belum bisa mengimbangi Dursala. Selain malu,
Gatotkaca saat itu juga tergugah untuk menambah ilmu dan kesaktiannya.

Ia lalu berguru pada Resi Seta, putra Prabu Matswapati dari Wirata. Dari Resi Seta
putra Bima itu mendapatkan Aji Narantaka. Setelah menguasai ilmu sakti itu
Gatotkaca segera pergi mencari Dursala. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan
Dewi Sumpani, yang menyatakan keinginannya untuk diperistri. Gatotkaca
menjawab, jika mampu menerima hantaman Aji Na rantaka, maka ia bersedia
memperistri wanita cantik itu.

Berbagai Lakon yang Melibatkan Gatotkaca

1. Gatotkaca Lair (Lahirnya Gatotkaca)


2. Pregiwa - Pregiwati
3. Gatotkaca Sungging
4. Gatotkaca Sewu
5. Gatotkaca Rebutan Kikis
6. Wahyu Senapati
7. Brajadenta - Brajamusti
8. Kalabendana Lena
9. Gantotkaca Rante
10. Subadra Larung
11. Aji Narantaka
12. Gatotkaca Gugur

Dewi Sumpani ternyata mampu menahan Aji Narantaka. Sesuai janjinya, Gatotkaca
lalu memperistri Dewi Sumpani. Dari perkawinan itu mereka kelak mendapat anak
yang diberi nama Jayasumpena.
Keinginan Gatotkaca untuk bertemu kembali dengan Dursala akhirnya
terlaksana. Dalam pertem-puran yang kedua kalinya ini, dengan Aji Narantaka itu
Gatotkaca mengalahkan Dursala.
Meskipun Gatotkaca selalu dilukiskan gagah perkasa, tetapi pecinta wayang pada
umumnya tidak menganggapnya memiliki kesaktian yang hebat. Dalam
pewayangan, lawan-lawan Gatotkaca biasanya hanyalah raksasa-raksasa biasa,
yakni Butaprepat, yang seringkali dibunuhnya dengan cara memuntir kepalanya.
Dalam perang melawan raksasa, Gatotkaca selalu bahu membahu dengan
Abimanyu. Gatotkaca menyambar dari udara, dan Abimanyu di darat.
Lawan-lawan Gatotkaca yang cukup sakti, hanyalah Prabu Kala Pracona, Patih Kala
Sakipu, Boma Narakasura, dan Dursala.

Karena Dewi Arimbi sesungguhnya seorang raseksi (raksasa perempuan), maka


dulu Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berujud raksasa, lengkap
dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura,
penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah
menjadi ksatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Bima. Yang diambil
sebagai pola adalah bentuk seni rupa wayang peraga Antareja tetapi diberi praba.

Nama Gatotkaca yang diberikan pada anak Bima ini berarti ‘rambut gelung bundar’.
Gatot artinya se-suatu yang berbentuk bundar, sedangkan kata kaca artinya
rambut. Nama itu diberikan karena waktu lahir, anak Bima itu telah bergelung
rambut bundar di atas kepalanya.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, tokoh Gatotkaca
ditampilkan dalam enam wanda, yakni wanda Kilat, Tatit, Guntur, Panglawung,
Gelap, dan Dukun. Pada tahun 1960-an Ir. Sukarno, Presiden RI, menambah lagi
dengan tiga wanda ciptaannya, yakni Gatotkaca wanda Guntur Geni, Guntur
Prahara, dan Guntur Samodra. Pelaksanaan pembuatan wayang Gatotkaca untuk
ketiga wanda itu dilakukan oleh Ki Cerma Saweda dari Surakarta.

Mengenai soal wanda ini, ada sedikit perbedaan antara seni kriya Wayang Kulit
Purwa gagrak Surakarta dengan gagrak Yogyakarta. Di Surakarta, wanda-wanda
Gatotkaca adalah wanda Tatit yang diciptakan oleh raja Kartasura, Paku Buwana II
(1655 Saka atau 1733 Masehi). Bentuk badannya tegap, mukanya tidak terlalu
tunduk, bahu belakang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan bahu
depan.
Wanda Kilat diciptakan pada zaman pe-merintahan Paku Buwana I, yakni pada
tahun 1627 Saka atau 1705 Masehi. Kedudukan bahu depan dan bahu belakang
rata, mukanya agak tunduk tetapi tidak setunduk pada wanda Tatit, pinggangnya
lebih ram-ping dan posisinya agak maju, sehingga menampilkan kesan gagah.

Wanda Gelap mempunyai kesan bentuk badan yang lebih kekar dan tegap, bahu
belakang lebih tinggi dibandingkan dengan bahu depan, sedangkan mukanya lebih
tunduk ke bawah dibandingkan dengan wanda Tatit. Kapan dan oleh siapa wanda
ini diciptakan, tidak diketahui dengan jelas.
Gatotkaca wanda Gelap merupakan ciptaan keraton terakhir, yakni pada zaman
pemerintahan Paku Buwana IV (1788 - 1820) di Surakarta. Badannya kekar dan
kokoh, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan bahu depan, dengan muka agak
datar. Pinggangnya langsing seperti pada wanda Kilat.
Wanda Guntur, yang diciptakan pada tahun 1578 Saka atau 1656 Masehi,
merupakan wanda Gatotkaca yang tertua dalam bentuknya yang kita kenal
sekarang ini. Dulu, sebelum diciptakan peraga Gatotkaca wan-da Guntur, Wayang
Kulit Purwa menggambarkan ben-tuk Gatotkaca sebagai raksasa, dengan tubuh
besar, wajah raksasa, lengkap dengan taringnya.

Dengan pertimbangan bahwa wajah seorang anak tentu tidak jauh beda dengan
orang tuanya, Sunan Amangkurat Seda Tegal Arum, raja Mataram, memerintahkan
para penatah dan penyungging keraton untuk menciptakan bentuk baru peraga
Gatotkaca dengan meninggalkan bentuk raksasa sama sekali.
Tubuh dan wajahnya dipantaskan sebagai anak Bima. Maka terciptalah bentuk baru
Gatotkaca yang disebut wanda Guntur itu.

Bentuk badan Gatotkaca wanda Guntur menampilkan kesan kokoh, kuat, dengan
bahu depan lebih rendah daripada bagu belakang, seolah mencerminkan sifat
andap asor. Wajahnya juga memandang ke bawah, tunduk. Pinggangnya tidak
seramping pinggang Gatotkaca wanda Kilat. Secara keseluruhan bentuk tubuh
wanda Guntur seolah condong ke depan.

Sementara itu, seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, membagi
Gatotkaca atas empat wanda, yakni wanda Kutis yang biasanya dimainkan untuk
adegan perang ampyak; wanda Prabu yang menampilkan kesan berwibawa, khusus
ditampilkan pada kedudukan Gatotkaca sebagai raja di Pringgadani; wanda
Paseban dipakai kalau Gatotkaca sedang menghadap para Pandawa; sedangkan
wanda Dukun dipakai jika Ki Dalang menampilkan adegan Gatotkaca sedang
bertapa. Bentuk bagian perut Gatotkaca wanda Dukun ini, agak gendut diban-
dingkan ukuran perut Gatotkaca pada wanda lainnya.
Baca Bima; Pergiwati, Dewi; dan Sukarno.



Gendari
DEWI GANDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan
permaisuri Dewi Gandini. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung, masing-
masing bernama ; Arya Sakuni, Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.

Dewi Gandari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu
Kresnadwipayana/Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh 100 (seratus) orang anak, tetapi pada waktu
lahirnya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gandari dicerai beraikan
menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi
Manusia.

Keseratus putra Dewi Gandari tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa.
Diantara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (raja negara
Astina). Bogadatta, (raja negara Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma,
Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati
(raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang),
Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara)
dan Dewi Dursilawati.

Dewi Gandari mempunyai sifat kejam dan bengis. Ia selalu mementingkan diri
sendiri dan tidak segan-segan berkhianat serta pendendam. Dendam dan
kebenciannya terhadap Pandu, menjadi penyebab utama kebencian anak-anaknya,
Kurawa terhadap Pandawa. Ia mati terjun ke dalam Pancaka/api pembakaran
jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya
perang Bharatayuda.


Hangyanawati
DEWI HANGYANAWATI atau Yadnyanawati adalah putri Prabu Narakasura, raja
negara Surateleng dengan permaisuri Dewi Yadnyagini. Ia berwajah sangat cantik
dan memiliki sifat perwatakan ; lembut, sederhana, baik budi, penuh belas kasih
dan teguh dalam pendirian. Dewi Hagnyanawati adalah titisan Bathari Dermi, istri
Bathara Derma, yang menitis pada Raden Samba/Wisnubrata, putra Prabu Krtesna
dengan permaisuri Dewi Jembawati.

Setelah Prabu Narakasura tewas dalam peperangan di negara Dwarawati melawan


Bambang Sitija. Putra Prasbu Kresna dengan Dewi Pertiwi dan negara Surateleng
dikuasai Bambang Sitija, Dewi Hagnyanawati diperistri oleh Bambang Sitija yang
setelah menjadi raja negara Surateleng dan Prajatisa bergelar Prabu
Bomanarakasuira. Dari perkawinan ini ia memperoleh seorang putra yang diberi
nama ; Arya Watubaji.

Sesuai dengan ketentuan Dewata, karena tiba saatnya titis Bathari Dermi harus
bersatu kembali dengan titis Bathara Derma, suaminya, dengan bantuan Dewi
Wilutama, Dewi Hagnyanawati dipertemukan dengan Raden Samba, di keputrian
negera Surateleng. Setelah ada kesepakatan, mereka kemudian meninggalkan
keputrian Surateleng pergi ke negara Dwarawati. Perbuatan Dewi Hagnyawati
dan Raden Samba ini membangkitkan kemarahan Prabu Bomanarakasura, yang
segera menyerang negara Dwarawati untuk merebut kembali Dewi Hagnyanawati
istrinya. Prabu Bomanarakasura tewas dalam peperangan melawan Prabu Kresna,
ayahnya sendiri. Dewi Hagnyanawati kemudian menjadi istri Raden Samba, sesuai
dengan takdir dewata. Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Hagnyanawati mati
bunuh diri terjun ke dalam pancaka (api pembakaran jenasah) bela mati atas
kematian Raden Samba yang tewas dalam peristiwa perang gada sesama wangsa
Yadawa


Irawan
BAMBANG IRAWAN adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa,
dengan Dewi Ulupi, putri Bagawan Kanwa (Bagawan Jayawilapa-pedalangan Jawa),
dari pertapaan Yasarata. Ia mempunyai 13 orang saudara lain ibu, bernama;
Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni,
Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabukusuma, Wijanarka,
Antakadena dan Bambang Sumbada.

Irawan lahir di pertapaan Yasarata dan sejak kecil tinggal di pertapaan bersama
ibu dan kakeknya. Ia berwatak tenang, jatmika, tekun dan wingit. Menurut kisah
pedalangan Irawan tewas dalam peperangan melawan Ditya Kalasrenggi putra
Prabu Jatagempol dengan Dewi Jatagini dari negara Gowabarong, menjelang pecah
perang Bharatayuda. Sedangkan menurut Mahabharata, Irawan gugur dalam awal
perang Bharatayuda melawan Ditya Kalaseringgi, raja negara Gowabarong yang
berperang di pihak keluarga Kurawa/Astina.




Jahnawi
DEWI JAHNAWI atau Dewi Gangga (Mahabharata) adalah seorang hapsari/bidadari
yang turun ke Arcapada karena kutukan Bhatara Brahma. Ia ditetapkan akan
bersuamikan Bathara Mahabhima yang karena kutukan Bathara Brahma akan
menjelma menjadi putra Prabu Pratipa, raja negara Astina.

Dewi Jahnawi menikah dengan Prabu Santanu, putra Prabu Pratipa dari negara
Astina dengan permaisuri Dewi Sumanda. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh
delapan orang putra, tetapi hanya seorang yang ia kehendaki hidup dan diberi
nama Dewabrata. Sedangkan tujuh putranya yang lain begitu lahir ia buang
kesungai Gangga.

Sesuai perjanjiannya dengan Prabu Santanu, begitu kelahiran Dewabrata, Dewi


Jahnawi kembali ke kahyangan hidup sebagai hapsari/bidadari. Bayi Dewabrata ia
serahkan pada asuhan Prabu Santanu.



Jarasanda
PRABU JARASANDA adalah raja negara Magada. Ia masih keturunan Prabu
Darmawisesa, raja raksasa dari negara Widarba. Karenanya berbadan tinggi besar,
gagah, perkasa dan berwajah setengah raksasa.

Prabu Jarasanda berwatak angkara murka, ingin menangnya sendiri, penganiaya,


bengis, keras hati, berani serta selalu menurutkan kata hatinya. Ia sangat sakti,
dengan dukungan sahabat karibnya yang juga sekutunya, Prabu Supala raja negara
Kadi, Prabu Jarasanda berkeinginan menjadi raja besar yang menguasai jagad
raya.

Untuk memenuhi ambisinya, Prabu Jarasanda bermaksud menyelenggarakan


persembahan darah seratus orang raja kepada Bathari Durga. Karena niat jahatnya
itu bertentangan dengan kodrat hidup dan dapat merusak ketentraman jagad raya,
maka ia harus berhadapan dengan Bathara Wisnu. Prabu Jarasanda akhirnya tewas
dalam pertempuran melawan Bima/Werkudara. Tubuhnya hancur terkena
hantaman gada Rujakpala.




Jatagempol
PRABU JATAGEMPOL adalah raja raksasa di negara Guwabarong. Ia masih
keturunan Prabu Kalasasradewa, raja raksasa di negara Guwamiring yang tewas
dalam pertempuran melawan Prabu Pandu. Karena ia dan prajuritnya menyerang
negara Mandura untuk merebut Dewi Arumbini, istri Arya Prabu Rukma.

Karena ketekunannya bertapa, Prabu Jatagempol menjadi sangat sakti, berwatak


angkara murka, bengis dan selalu ingin menangnya sendiri. Prabu Jatagenpol
menikah dengan Dewi Jatagini, dan mempunyai seorang anak bernama
Kalasrenggi.

Untuk membalas dendam kematian Prabu Kalasasradewa, ayahnya, Prabu


Jatagempol menyerang negara Amarta. Ia ingin membinasakan keluarga Pandawa
yang merupakan keturunan Prabu Pandu. Prabu Jatagempol tewas dalam
pertempuran melawan Arjuna. Tubuhnya hancur terkena panah Kyai Sarotama.

Jatagempol
PRABU JATAGEMPOL adalah raja raksasa di negara Guwabarong. Ia masih
keturunan Prabu Kalasasradewa, raja raksasa di negara Guwamiring yang tewas
dalam pertempuran melawan Prabu Pandu. Karena ia dan prajuritnya menyerang
negara Mandura untuk merebut Dewi Arumbini, istri Arya Prabu Rukma.

Karena ketekunannya bertapa, Prabu Jatagempol menjadi sangat sakti, berwatak


angkara murka, bengis dan selalu ingin menangnya sendiri. Prabu Jatagenpol
menikah dengan Dewi Jatagini, dan mempunyai seorang anak bernama
Kalasrenggi.
Untuk membalas dendam kematian Prabu Kalasasradewa, ayahnya, Prabu
Jatagempol menyerang negara Amarta. Ia ingin membinasakan keluarga Pandawa
yang merupakan keturunan Prabu Pandu. Prabu Jatagempol tewas dalam
pertempuran melawan Arjuna. Tubuhnya hancur terkena panah Kyai Sarotama.

Jayadrata
ARYA JAYADRATA nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang
Sagara. Ia putra angkat Resi Sapwani/Sempani dari padepokan Kalingga, yang
tercipta dari bungkus Bima/Werkudara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan
sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja.

Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata pemerintahan dan


tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Astina untuk berguru pada Prabu
Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya
dengan nama patihnya, Jayadrata. Di negara Astina Jayadrata bertemu dengan
Keluarga Kurawa, dan akhirnya diambil menantu Prabu Drestarasta, dikawinkan
dengan Dewi Dursilawati dan diangkat sebagai Adipati Buanakeling. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Arya Wirata dan
Arya Surata.

Jayadrata mempunyai sifat perwatakan; berani, penuh kesungguhan dan setia. Ia


mahir mempergunakan panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sapwani ia
diberi pusaka gada bernama Kyai Glinggang.

Jayadrata tewas oleh Arjuna di medan perang Bharatayuda sebagai senapati


perang Kurawa. Kepalanya terpangkas lepas dari badannya oleh panah sakti
Pasopati.



Jayamurcita
PRABU JAYAMURCITA adalah raja negara Plangkawati. Ia mempunyai adik kandung
benrama Jayasemadi yang menjabat patih nagera Plangkawati. Mereka masih
keturunan Prabu Kumbala, raja negara Madukara (lama).

Merasa sangat sakti, Prabu Jayamurcita, mengutus adiknya, patih Jayasemedi pergi
ke negara Madukara untuk melamar Dewi Sumbadra, istri Arjuna. Perbuatannya
yang lancang tersebut menimbulkan kemarahan Abimanyu, putra tunggal Dewi
Sumbadra dengan Arjuna Dengan bantuan saudara sepupunya, Raden Gatotkaca,
raja negara Pringgandani, Abimanyu menyerang negara Plangklawati. Patih
Jayasemedi tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca, sedangkan Prabu
Jayamurcita tewas oleh Abimanyu oleh tusukan keris Pulanggeni.

Sebelum menemui ajalnya, Prabu Jayamurcita menyerahkan kekuasaan negara


Plangkawati beserta gelar keprabuannya dan seluruh balatentaranya kepada
Abimanyu. Prabu Jayamurcita kemudian mati moksa, sukmanya manunggal dalam
tubuh Abimanyu.

Jayasupena
ARYA JAYASUPENA atau Jayasumpena adalah putra Gatotkaca, raja negara
Pringgandani dengan Dewi Sumpani, putri Prabu Sarawisesa dari negara
Selarengka. Ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, bernama; Bambang
Sasikirana, putra Dewi Pregiwa, dan Arya Suryakaca, putra Dewi Suryawati, putri
Bathara Surya dengan permaisuri Dewi Ngruni.

Arya Jayasupena tidak ikut terjun kekancah perang Bharatayuda, karena ketika
perang berlangsung ia masih kecil. Ia berperawakan mirip dengan ayahnya,
Gatotkaca. Demikian pula dengan tabiat, kesetiaan, keberanian dan kegagahannya
tak berbeda dengan Gatotkaca, berani tak mengenal takut, teguh, tangguh, cerdik
pandai, waspada, gesit, tangkas dan terampil, tabah dan mempunyai rasa
tanggung jawab yang besar. Perbedaannya, Jayasupena tidak bisa terbang.

Setelah berakhiornya perang Bharatayuda dan negara Astina kembali ke dalam


kekuasaan negara Pandawa, Arya Jayasupena diangkat menjadi panglima perang
negara Astina dalam masa pemerintahan Prabu Parikesit.


Jembawati
DEWI JEMBAWATI adalah Putri tunggal Resi Jembawan (berwujud kera/Wanara)
dari pertapaan Gadamadana, dengan Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana dengan
Dewi Triwati (seorang hapsari/bidadari) dari negara Alengka/Singgela.

Sesuai janji Dewata kepada Dewi Trijata, ibunya, Dewi Jembawati dapat
bersuamikan Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, yang merupakan raja titisan
Sanghyang Wisnu yang terakhir. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh dua
orang putra bernama ; Samba, yang berwajah sangat tampan, dan Gunadewa,
berwujud sebagai wanara / kera, karena garis keturunan dari Resi Jembawan.

Dewi Jembawati berwatak jujur, setia, sabar, sangat berbakti dan penuh belas
kasih. Selama menjadi permaisuri Prabu Kresna, ia lebih sering tinggal di pertapaan
Gadamadana mengasuh Gunadewa, daripada tinggal di istana Dwarawati. Ia
meninggal dalam usia lanjut dan dimakamkan di pertapaan Gadamadana.


Jungkungmadeya
PRABU JUNGKUNGMADEYA adalah raja negara Awu-awulangit. Tokoh
Jungkungmardeya hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa dan dimunculkan
dalam lakon "Cocogan". Prabu Jungkungmardeya sangat sakti, selain memiliki aji
sirep juga dapat beralih rupa.

Prabu Jungkungmardeya bercita-cita ingin memperistri Dewi Srikandi, putri kedua


Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala. Ketika lamarannya
ditolak, dengan beralih rupa menjadi Arya Drestadyumna (adik Dewi Srikandi)
palsu, ia berhasil memasuki keputrian Pancala dan menculik Dewi Srikandi.
Drestadyumna yang mengetahui perbuatannya, berusaha merebut Dewi Srikandi
dari tangan Prabu Jungkungmardeya, tapi aklhirnya tewas terbunuh dalam
peperangan.

Untuk membebaskan Dewi Srikandi, Prabu Drupada kemudian meminta bantuan


keluarga Pandawa. Karena mati sebelum takdir, Drestadyumna dapat dihidupkan
kembali oleh Prabu Kresna, raja negara Dwarawati, berkat kesaktian Bunga
Wjayakusuma. Arjuna yang mengejar ke negara Awu-awulangit berhasil
menemukan Dewi Srikandi. Prabu Jungkungmardeya akhirnya tewas dalam
peperangan melawan Arjuna dengan panah Pasopati.


Kalabendana
ARYA KALABENDANA adalah putra bungsu Prabu Arimbaka raja raksasa negara
Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung,
bernama; Arimba/Hidimba, Dewi Arimbi, Brajadenta, Prabkesa, Brajamusti,
Brajalamatan dan Brajawikalpa.

Kalabendana mempunyai sifat dan perwatakan; sangat jujur, setia, suka berterus
terang dan tidak bisa menyimpan rahasia. Kalabendana meninggal karena
pukulan/tamparan Gatotkaca yang tidak sengaja membunuhnya. Tamparan
Gatotkaca ke kepala Kalabendana hanya bermaksud menghentikan teriakan
Kalabendana yang membuka rahasia perkawinan Abimanyu (putra Arjuna dengan
Dewi Sumbandra) dengan Siti Sundari (putri Prabu Kresna dengan Dewi Pratiwi)
tatkala Abimanyu akan menikah dengan Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati
dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata.

Dendam Kalabendana terhadap Gatotkaca terlampiaskan saat berlangsung perang


Bharatayuda. Arwahnya mengantar/menuntun senjata Kunta yang dilepas Adipati
Karna, raja Awangga, tepat menghujam masuk ke dalam pusar Gatotkaca yang
mengakibatkan kematiannya.




Kalakatung
KALAKATUNG atau sering pula disebut dengan nama Butaterong adalah raksasa
hutan. Bertubuh gemuk pendek, kepala gundul dan berhidung besar bulat seperti
terong. Dalam cerita pedalangan, Kalakatung biasa ditampilkan sebagai anak buah
Cakil atau Yayahgriwa.

Kalakatung biasanya berpenampilan lucu karerna suaranya yang bindeng (memiliki


suara hidung yang setengah tersendat). Daya berpkirnya lambat, namun memiliki
gerakan yang cekatan. Karena pembawaannya yang agak tolol ini, maka ia selalu
menjadi bahan ejekan para panakawan.

Dalam peperangan, Kalakatung biasanya mati oleh Gareng atau Petruk.




Kalaruci
PRABU KALARUCI adalah raja raksasa negara Karanggubarja. Ia masih keturnan
Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni dari kahyangan
Setragandamayit. Prabu Kalaruci mempunyai saudara kandung bernama
Kalayaksadewa yang menjadi raja di negara Gowamiring.

Merasa sangat sakti, Pabu Kalaruci datang ke Suralaya untuk meminang Dewi
Wersini, seorang bidadari keturunan Sanghyang Pancaresi, yang waktu itu telah
diperjodohkan dengan Arya Ugrasena, putra ke-empat Prabu Basukunti, dari
negara Mandura. Arya Ugrasena yang didatangan ke Suralaya, ternyata tak mampu
mengalahkan Prabu Kalaruci.
Bathara Guru kemudian mengutus Bathara Narada turun ke Arcapada untuk
meminta bantuan Prabu Pandu, raka negara Astina, yang juga kakak ipar Ugrasena
(Pandu menikah dengan Dewi Kunti, kakak Arya Ugrasena). Pandu kemudian pergi
ke Suralaya dengan mengerahkan pasukan Astina dibawah pimpian patih
Gandamana dan Arya Sucitra. Dalam peperangan tersebut, Prabu Kalaruci dapat
dibinasakan oleh Pandu. Dewi Wersini dan negara Karanggubarja kemudiasn
disertahkan kepada Arya Ugrasena.


Kalasasradewa
PRABU KALASASRADEWA adalah raja raksasa negara Guwamiring. Ia mampunyai
dua saudara kandung masing-masing bernama; Prabu Kalarodra raja di negara
Girikadasar, dan Prabu Kalayaksa yang menjadi di negara Garbasumanda. Mereka
masih keturunan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni
dari Kahyangan Setragandamayit.

Sebagai keturnan Dewi Pramuni/Bathari Durga, Prabu Kalasasradewa sangat sakti.


Berwatak angkara murka, serakah, tinggi hati dan mau menangnya sendiri. Ia
pernah menyerang negara Kumbina, untuk dapat memperistri Dewi Rumbini, putri
Prabu Rumbaka, yang sudah dipertunangkan dengan Arya Prabu Rukma, putra
ketiga Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Peperangan pun
tidak dapat dihindarkan antara Mandura melawan Gowamiring. Dalam peperangan
tersebut semua putra-putra Mandura, seperti Arya Prabu Rukma, Arya Ugrasena,
juga Prabu Basudewa tidak dapat mengalahkan Prabu Kalasasradewa.

Prabu Basudewa kemudian meminta bantuan Prabu Pandu, raja negara Astina,
suami dari Dewi Kunti (adik Prabu Basudewa). Prabu Kalasasradewa akhirnya tewas
dalam peperangan melawan Prabu Pandu.

Kalayasa
PRABU KALAYAKSA adalah raja raksasa negara Garbasumanda. Ia mempunyai dua
saudara kandung masing-masing bernama; Prabu Kalarodra raja nergara
Girikadasar dan Prabu Kalasasradewa yang menjadi raja di negara Guwamiring.
Mareka masih keturunan Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala dengan Dewi
Pramuni/Bathari Durga dari Kahyangan Setragandamayit.

Prabu Kalayaksa memiliki sfat dan perwatakan ; bengis, kejam, serakah, suka
menurutkan kata hati, mau menangnya sendiri, pemberani dan sangat sakti. Prabu
Kalayaksa nenjadi seteru negara Mandura, sejak jaman pemerintahan Prabu
Baskunti. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan perannya, Prabu
Kalayaksa menyerang negara Mandura. Selain ingin merebut Dewi Badrahini, istri
Prabu Basudewa, juga untuk membalas dendam atas kematian saudaranya, Prabu
Kalasasradewa yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu di negara
Mandura.

Prabu Kalayaksa berhasil menguasai sebagian wilayah negara Mandura, bahkan


nyaris menguasai kerajaan Mandura, karena tidak satupun putra-putra Mandura
yang berthasil menandingi kesaktiannya. Tapi akhirnya Prabu Kalayaksa mengalami
nasib yang sama seperti Prabu Kalasasradewa. Ia tewas dalam pertempuran
melawan Prabu Pandu, raja negara Astina. Kematian Prabu Kalayaksa bertepatan
dengan kelahiran Raden Arjuna/Peermadi putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti


Kangsa
KANGSA, sering pula disebut Kangsadewa sesungguhnya putra Gorawangsa, raja
raksasa negara Gowabarong yang beralih rupa menjadi Prabu Basudewa dan
berhasil bermain asmara dengan Dewi Mahira/Maerah (Jawa), permaisuri Prabu
Basudewa, raja Mandura. Ia lahir di negara Bombawirayang, dan sejak kecil hidup
dalam asuhan ditya Suratrimantra, adik Prabu Gorawangsa.

Setelah remaja, oleh Suratrimantra, Kangsa dibawa ke negara Mandura untuk


menuntut haknya sebagai putra Prabu Basudewa. Karena sangat sakti, Prabu
Basudewa akkhirnya bersedia mengakui Kangsa sebagi putranya dan diberi
kedudukan Adipati di Kesatrian Sengkapura Kangsa berwatak angkara murka, ingin
menangnya sendiri, penghianat, keras hati, berani dan selalu menurutkan kata
hatinya.

Dengan dukungan Suratimantra, pamannya yang sakti, Kangsa berniat merebut


tahta kekuasaan negara Mandura dari tangan Prabu Basudewa. Pemberontakan
Kangsa gagal. Ia mati terbunuh dalam peperangan melawan Kakrasana dan
Narayana, putra Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra/Maekah (Jawa).
Sedangkan Suratimatra tewas melawan Bima/Werkudara, putra Prabu Pandu
dengan Dewi Kunti



Karna
KARNA, yang lebih terkenal dengan sebutan Adipati Karna adalah lawan utama
Arjuna dalam Baratayuda. Padahal kedua ksatria itu sama-sama putra Dewi Kunti.
Basukarna adalah putra sulung, sedangkan Arjuna anak yang ketiga.

Dalam dunia pewayangan Basukarna merupakan profil tokoh wayang yang


otodidak, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga. Ia juga menjadi
perlambang bagi karakter manusia yang tahu membalas budi, sekaligus rela
berkorban bagi menangnya kebenaran, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan
jiwa dan bahkan juga nama baiknya.

Basukarna adalah anak buangan. Ibunya adalah Dewi Kunti alias Dewi Prita, putri
bungsu raja Mandura, Prabu Basukunti. Waktu masih berusia remaja, Dewi Kunti
mencoba-coba mengguna-kan Aji Adityarhedaya, yakni ilmu un-tuk mendatangkan
seorang dewa yang dikehendakinya. Ilmu dipelajarinya dari gurunya, Resi Druwasa,
yang se-ngaja didatangkan Prabu Basukunti ke Keraton Mandura untuk mendidik
Dewi Kunti.

Ternyata ilmu ajaran Resi Druwasa itu benar-benar ampuh. Dengan mem-baca
mantra Aji Adityarhedaya, Dewi Prita alias Kunti berhasil mendatangkan Batara
Surya. Tetapi kedatangan Batara Surya yang tampan itu membuat Dewi Kunti
mengandung, padahal ia masih gadis. ***)

Setelah Prabu Kuntiboja mengetahui perihal musibah yang menimpa putrinya, ia


amat marah dan
segera memanggil Resi Druwasa. Guru Besar itu dipersalahkan telah mengajarkan
ilmu tingkat tinggi pada gadis yang belum dewasa. Resi Druwasa mengaku bersalah
dan bersedia menjamin keperawanan Dewi Kunti. Tetapi pertapa itu juga
menjelaskan, bahwa kelak Dewi Kunti akan memerlukan ilmu itu.
CATATAN KAKI =***) Dewi Prita mempunyai kebiasaan buruk, sering bangun
siang. Manakala hari telah terang, dan matahari sudah naik, ia masih tergolek di
tempat tidurnya. Sinar terang matahari yang masuk ke kamarnya membuatnya
kagum. Tanpa sadar ia mengamalkan Aji Adityarhedaya sambil membayangkan
ketampanan Batara Surya.

Dengan ilmunya yang tinggi, sesudah masa kehamilannya cukup, Druwasa


mengeluarkan jabang bayi yang dikandung melalui telinga Dewi Kunti. Alasannya,
ilmu itu masuk dan diresapi oleh Kunti melalui telinganya. Itulah sebabnya, ia diberi
nama Karna - yang artinya telinga. Nama lain baginya adalah Talingasmara. Dalam
pewayangan ia juga disebut Suryaputra, atau Suryatmaja, karena anak Kunti itu
memang benar hasil pertemuan ibunya dengan Batara Surya. Dua nama yang
terakhir ini digunakan oleh sebagian besar dalang untuk menyebut Karna sewaktu
masih muda.

Setelah lahir, Prabu Basukunti segera memerintahkan agar bayi itu dibuang. Maka,
bayi Karna pun ditaruh dalam sebuah peti dan dihanyutkan di Sungai Gangga.
Sebelum bayinya dibuang Dewi Prita alias Kunti sempat memperhatikan, di telinga
bayi itu terdapat Anting Mustika yang memancarkan sinar kemilau.

Bayi yang malang itu kemudian ditemukan dan dirawat dengan baik oleh Adirata,
seorang sais kereta kerajaan di Keraton Astina. Yang memerintah Astina saat itu
adalah Prabu Krisna Dwipayana. Bayi itu lalu diaku anak dan dipelihara dengan
penuh kasih sayang oleh Adirata dan istrinya yang bernama Nyai Nanda (Dalam
Mahabarata Nyai Nanda disebut Radha. Itulah sebabnya, Basukarna juga disebut
Radhea atau Ara-dea). Kebetulan mereka memang tidak punya anak.

Tahun berganti tahun, dan takhta Astina diduduki oleh Prabu Pandu Dewanata,
menggantikan Prabu Krisna Dwipayana yang mengundurkan diri karena hendak
menjadi pertapa. Ketika Prabu Pandu me-ninggal dalam usia muda, Drestarastra
menggantikannya untuk sementara waktu, sebagai wali para Pandawa yang saat itu
masih kecil-kecil.
Menjelang masa remaja, Basukarna sering ikut ayah angkatnya ke Keraton Astina.
Di sana ia selalu mengintip dan mencuri dengar dengan penuh perha-tian segala
yang diajarkan oleh Resi Krepa dan Begawan Drona kepada murid-muridnya, yaitu
para Kurawa dan para Pandawa. Dengan demikian segala sesuatu yang diajarkan
oleh kedua mahaguru itu diketahui dan dipahami dengan baik oleh Karna.

Minat dan semangat Basukarna untuk belajar amat tinggi. Suatu hari ia
memberanikan diri men-jumpai Begawan Drona dan minta agar guru besar itu mau
menerima dirinya sebagai murid. Namun permohonan itu ditolak, karena Drona
terikat aturan istana: hanya boleh mengajar para pangeran, yakni putra-putra
Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Resi Krepa, guru besar lainnya juga
bersikap sama dengan Begawan Drona. Dengan penolakan itu Basukarna tetap
hanya bisa belajar dengan cara meng-intip dan mencuri dengar.
Untuk mengetahui sampai di mana tingkat kemajuan ilmu dan keterampilan para
Pandawa dan Kurawa, secara berkala Begawan Drona dan Resi Krepa mengadakan
uji keterampilan bagi mereka. Pada acara ujian seperti itu ternyata Pandawa selalu
unggul. Lebih-lebih Arjuna. Pada setiap pertandingan ksatria remaja yang tampan
ini selalu mendapat angka tertinggi. Keunggulan ini membuat Arjuna lalu bersikap
sombong.

Basukarna yang sejak semula menyaksikan acara itu, merasa panas hati melihat
kesombongan dan keangkuhan Arjuna. Walaupun ayah angkatnya telah berusaha
mencegah, dengan nekad Karna lalu me-nantang Arjuna untuk adu tanding dalam
ketrampilan keprajuritan dengan dirinya. Tantangan Karna ini ditolak Arjuna,
karena sebagai seorang putra raja Arjuna merasa dirinya tidak pantas melayani
tantangan Karna yang hanya anak seorang sais kereta.

Tantangan Karna itu memang mengejutkan semua orang, termasuk para Kurawa.
Duryudana, si Sulung dalam keluarga Kurawa segera memanfaatkan peristiwa itu.
Dengan pengaruh yang dimilikinya selaku putra Prabu Drestarastra, saat itu juga
Duryudana mengangkat Basukarna sebagai adipati di Kadipaten Awangga. ***)

Dengan kedudukan Karna sebagai seorang adipati, tidak ada lagi alasan bagi
Arjuna untuk menolak tantangan itu. Adu tanding pun dimulai. Dan ternyata
keduanya sama kuat dan sama mahirnya. Resi Krepa dan Begawan Drona akhirnya
memberikan penilaian tidak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya
seimbang sama kuat.

Dewi Kunti yang menyaksikan acara pertandingan itu, saat itu sudah yakin benar
bahwa Karna sesungguhnya adalah anak sulungnya, yang belasan tahun
sebelumnya dihanyutkan di sungai. Selain wajahnya yang amat mirip dengan
Arjuna, gerak-gerik Karna boleh dibilang sama dengan Ksatria Panengah Pandawa
itu. Lagi pula. dari telinga Karna memancar sinar kemilau Anting Mustika yang
telah menempel sejak dilahirkan. Namun untuk segera mengakuinya sebagai
anak, Dewi Kunti merasa tidak menemukan alasan yang tepat. Dewi Kunti
tercekam oleh perasaan antara yakin dan ragu. Yakin, karena baik raut wajah
maupun bentuk tubuh Karna seolah bayangan Arjuna, dan Anting Mustika itu
pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu. Namun Kunti juga ragu, apakah jika ia
tiba-tiba mengakui Karna sebagai anak akan membuat situasi menjadi baik,
ataukah sebaliknya.

Selain berguru secara tidak langsung pada Begawan Drona dan Resi Krepa yakni
hanya dengan mendengar dan melihat dari kejauhan, Karna sempat pula berguru
pada seorang brahmana sakti bernama Rama Parasu alias Rama Bargawa. Ini
dilakukan setelah permohonan Karna untuk diterima menjadi murid resmi Begawan
Drona dan Resi Krepa, ditolak.

CATATAN KAKI = ***) Menurut pewayangan, Karna menjadi Adipati di Awangga


bukan karena hadiah atau diangkat oleh Duryudana, tetapi karena hasil usahanya
sendiri. Karna memperoleh negeri itu setelah me-ngalahkan Prabu Karnamandra,
yaitu raja penguasa di Awangga.
Untuk dapat berguru pada brahmana yang kesaktiannya tidak tertandingi siapa pun
di dunia ini, Karna harus menyamar sebagai brahmana. Penyamaran itu terpaksa
dilakukan karena Rama Bargawa amat membenci golongan ksatria. Dari gurunya
yang ini Basukarna antara lain mendapat ilmu Bramastra, yakni ilmu ketrampilan
memanah. ***)

Sesudah mewariskan berbagai ilmunya, barulah Rama Bargawa sadar bahwa Karna
sebenarnya bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatria.

Penyamaran Basukarna ini terbongkar manakala Rama Bargawa tidur berbantal


paha muridnya. Saat itu seekor ketonggeng, sejenis kalajengking berbisa,
menyengat paha Basukarna. Namun untuk menjaga jangan sampai gurunya
terbangun, dengan sekuat tenaga Karna menahan rasa sakit yang alang kepalang
itu, sehingga keringatnya bercucuran. Rama Bargawa justru terbangun ketika peluh
Karna menetes ke wajahnya. Sewaktu tahu apa yang terjadi, sadarlah Sang Guru
bahwa muridnya itu tentu berasal dari golongan ksatria. Hanya seorang ksatria
yang tangguh sanggup menahan rasa sakit yang demikian hebat.

Karena merasa ditipu, dengan marah Rama Bar-gawa mengucapkan kutukannya: -


Kelak dalam Baratayuda, pada saat yang genting - yang menentukan hidup atau
mati, Karna akan lupa bunyi mantera ilmu Bramastra. Dan, kelak ternyata, kutukan
itu akan terbukti.

Basukarna menikah dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandraka.
Pernikahan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Salya, yang telah
merencanakan akan menikahkan Surtikanti dengan Duryudana. Saat itu Duryudana
sudah berkedudukan sebagai Prabu Anom, atau raja muda. Oleh sebab itu Karna
diam-diam lalu sering masuk ke Istana Mandraka dan secara sembunyi-sembunyi
memadu kasih dengan sang Dewi, bahkan kemudian melarikan Dewi Surtikanti,
sehingga mereka terpaksa dinikahkan. Sejak itu timbullah kebencian Prabu Salya
terhadap Karna, walaupun telah menjadi menantunya.

Prabu Anom Duryudana sendiri sebenarnya amat sakit hati pada tindakan Karna
melarikan Dewi Surtikanti, justru pada saat raja muda Astina itu sedang
menyiapkan lamarannya pada Prabu Salya. Namun karena keluarga Kurawa sangat
memerlukan tenaga

CATATAN KAKI = ***) Sebagian dalang menyebut ilmu itu Aji Kunta Bramasta.

Basukarna, terutama pada saat menghadapi Baratayuda kelak, masalah Dewi


Surtikanti itu tidak diperpanjang lagi. Apalagi kemudian Prabu Salya menjanjikan
akan menikahkan Duryudana dengan Dewi Banowati, adik Surtikanti.
Karena perkawinannya dengan Dewi Surtikanti itu, Karna mempunyai dua orang
raja besar sebagai ipar, yakni Prabu Anom Duryudana, dan Prabu Ba-ladewa yang
sebelumnya telah menikahi Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salya.

Adipati Awangga itu memiliki sifat pantang berkhianat, tahu membalas budi,
percaya diri, teguh dalam pendirian, dan membenci orang yang terlalu mengagung-
agungkan kebangsawanannya. Karena selalu diperlakukan dengan baik dan
dihargai oleh Kurawa, Adipati Karna merasa berhutang budi pada Duryudana dan
adik-adiknya. Itu pula yang me-nyebabkan ada sebagian pecinta wayang
menggolongkan Basukarna sebagai tokoh yang berpihak pada kejahatan dan
mabuk akan derajat serta kedudukan.

Selain seimbang kesaktiannya, penampilan dan wajah Basukarna amat mirip


dengan Arjuna. Itulah sebabnya Batara Narada pernah keliru menganggap Arjuna
tatkala akan memberikan senjata Kunta Wijayandanu. Senjata pusaka pemberian
dewa itu seharusnya diberikan kepada Arjuna untuk memotong tali pusar Gatotkaca
yang baru lahir. Dalam perja-lanannya mencari Arjuna, Batara Narada yang secara
kebetulan berjumpa dengan Basukarna, salah lihat, mengira bertemu Arjuna dan
memberikan senjata Kunta Wijayandanu pada Karna. ***) Arjuna kemudian
berusaha merebut kembali senjata pusaka itu, tetapi gagal. Yang berhasil direbut
hanyalah wa-rangkanya (sarung) saja.
Dalam pewayangan, kisah mengenai senjata Kun-ta ini diceritakan dalam lakon
Lahirnya Gatotkaca.

CATATAN KAKI = ***)Dalang ternama, Ki Nartasabda, dalam lakon Banjaran Karna


menceritakan bahwa Batara Surya yang tahu rencana perjalanan Batara Narada
memberitahu Karna agar mencegat dewa itu, dan mengaku sebagai Arjuna. Jadi,
perjumpaan Karna dengan Narada bukan suatu kebetulan.

Meskipun sebelumnya telah tahu, tetapi baru tiga hari sebelum pecah Baratayuda,
Basukarna yakin benar bahwa ia sesungguhnya adalah putra sulung Dewi Kunti.
Berarti ia adalah saudara tua yang seibu dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna. Yang
meya-kinkan adalah penjelasan yang diberikan oleh ayahnya sendiri, yaitu Batara
Surya. Waktu itu Batara Surya datang menjumpainya dan menceritakan siapa
sebe-narnya Basukarna sesungguhnya. Batara Surya juga memperingatkan agar
Karna waspada, sebab Batara Endra, ayah Arjuna akan datang menemuinya dan
membujuknya dengan berbagai cara guna mele-mahkan Karna. "Ingatlah Karna,
dari aku sejak lahir engkau telah kuwarisi Anting Mustika dan Kotang Kerei
Kaswargan. Anting Mustika berkhasiat akan mengingatkan engkau bilamana ada
bahaya mengan-cam, sedangkan dengan Kotang Kerei Kaswargan engkau akan
kebal terhadap senjata apa pun. Jangan sampai kedua pusaka itu lepas dari
tanganmu, siapa pun yang memintanya."
Ketika itu Basukarna menjawab: "Ayahanda, ... itu tergantung pada siapa yang
memintanya. Jika seorang brahmana datang meminta, sebagai seorang ksatria
tentu pantang bagi hamba untuk menolaknya, walaupun yang diminta itu langsung
menyangkut keamanan jiwa hamba ..."

Apa yang diperingatkan oleh Batara Surya memang terjadi. Esok harinya, dua hari
menjelang Baratayuda berlangsung Batara Endra datang menjumpainya dalam ujud
seorang brahmana tua. Seperti yang diduga oleh Batara Surya, saat itu brahmana
tua yang sebenarnya penjelmaan Batara Endra meminta Anting Mustika dan Kotang
Kerei Kaswargan. Tanpa menanyakan, apa alasan brahmana itu memintanya,
dengan hati teguh dan ikhlas Karna menjawab: "Bilamana Bapa Brahmana memang
menginginkan, ambillah. Namun hamba tidak memiliki kemampuan melepaskan
kedua pusaka pemberian Ayahanda Batara Surya ini dari tubuh hamba. Hanya
seorang dewa saja yang akan sanggup melepaskannya ..."

Brahmana tua itu menjawab: "Jangan khawatir, ksatria mulia. Hamba sendiri yang
akan melepaskannya."

Karena brahmana itu memang penjelmaan dewa, dengan mudah ia melepaskan


kedua pusaka andalan Basukarna. Namun, pada saat itu sebenarnya hati kecil
Endra terharu dan heran menyaksikan ketulusan hati Karna. Rasa simpati itu
menyebabkan Batara Endra - yang masih dalam ujud brahmana, berkata: "Karna,
engkau sungguh seorang ksatria sejati yang berbudi luhur. Sudah sepantasnya jika
ksatria agung seperti Tuanku memiliki senjata pamungkas yang ampuh.
Karenanya, sebagai ganti barang yang hamba ambil, terimalah pemberian hamba
berupa anak panah Wijayacapa."

Basukarna: "Hamba telah menyerahkan dengan ikhlas kedua barang yang Bapa
Brahmana minta. Bilamana Bapa Brahmana juga memberikan senjata pamungkas
itu dengan ikhlas, dengan senang hati hamba akan menerimanya."
Demikianlah, hari itu Karna kehilangan dua pusaka yang merupakan perisai dirinya,
tetapi mendapat pusaka pengganti sebuah senjata pamungkas.

Sehari menjelang Baratayuda, beberapa saat setelah Prabu Kresna sebagai duta
yang gagal kemu-dian dikroyok para Kurawa sehingga terpaksa me-lakukan
triwikrama, terjadi peristiwa sebagai berikut:
Sebelum pulang ke Kerajaan Wirata untuk me-laporkan hasil perundingannya pada
pihak Pandawa, Kresna secara khusus datang menemui Karna. Pada pertemuan
empat mata, raja Dwarawati itu berusaha membujuk Karna agar bersedia
menyeberang ke pihak Pandawa. Saat itulah terjadi perdebatan dan adu pendapat
di antara mereka.

Karna menolak bujukan itu dengan alasan, bahwa sebagai ksatria sudah selayaknya
ia harus tahu membalas budi. Kurawa telah memberikan kemuliaan duniawi dan
derajat kepangkatan kepadanya. Kini, tibalah saatnya bagi Karna untuk membalas
budi baik para Kurawa.
Kresna: "Dinda Karna, Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan perang
kecil. Perang itu me-rupakan pertarungan antara pihak yang benar dengan pihak
yang salah. Antara kebaikan dan keadilan me-lawan keserakahan kebatilan. Jadi,
dalam hal ini soal balas budi bukanlah hal yang mutlak harus dilakukan, karena
membela kebenaran bagi seorang ksatria lebih mutlak harus dilaksanakan."

Karna: "Kakanda Kresna, sebagai seorang titisan Wisnu mestinya kakanda maklum,
jika Adinda berpihak pada para Kurawa dan berperang melawan adik-adikku para
Pandawa, bukan berarti Adinda berpihak pada keangkaramurkaan. Adinda
berperang di pihak mereka semata-mata hanya menjalani darma ksatria,
membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Itu adalah kewajiban Adinda.

Jika Adinda harus berperang melawan adik-adik para Pandawa, bukan berarti
Adinda berperang melawan kebaikan dan kebenaran, melainkan juga hanya karena
menjalani darma ksatria. Soal kalah atau menang bagi Adinda bukan lagi
merupakan hal yang penting. Yang penting, sebagai ksatria Adinda harus
menjalankan kewajiban sebagai prajurit menghadapi lawannya."

Kresna: "Tetapi, Dinda Karna. Dengan adanya Adinda di pihak Kurawa, tentu akan
menyulitkan para Pandawa untuk memenangkan Baratayuda."
Karna: "Kakanda Kresna. Adinda tahu benar, adik-adikku para Pandawa bukan
ksatria yang takut dan enggan menghadapi kesulitan."
Kresna: "Saya memahami hal itu. Namun, jika Adinda Karna mau menyeberang ke
pihak Pandawa, tentu Kurawa tidak akan meneruskan niatnya me-nempuh jalan
perang, sehingga Baratayuda dapat dicegah."
Karna: "Justru Adinda yang sebenarnya sangat menginginkan Baratayuda segera
terjadi."
Kresna: "Mengapa? Peperangan akan selalu membawa penderitaan bagi banyak
orang. Bilamana Adinda Karna dapat mencegahnya, mengapa itu tidak Adinda
lakukan? Apa alasannya?"
Karna: "Kakanda Kresna yang bijaksana, ... Adinda telah mengenal para Kurawa,
satu persatu secara pribadi sejak mereka masih kecil, sejak masih remaja. Adinda
mengenal benar tabiat dan watak mereka, pendirian mereka. Adinda tahu benar
akan keserakahan mereka, sifat iri, culas, dan dengki mereka. Rasanya, mereka
memang dilahirkan sebagai manusia-manusia pembawa sifat buruk yang tidak lagi
dapat diperbaiki. Bahkan Maharesi Bisma, Kakek Abiyasa, Begawan Drona, Resi
Krepa, yang tinggi wibawanya pun tidak sanggup memperbaiki sifat-sifat buruk
mereka.
Tidak satu pun saran dan nasihat baik dari para pini sepuh Astina yang mereka
dengar. Mereka hanya mengikuti hasutan jahat dari Paman Sengkuni dan Ibunda
Dewi Gendari.
Kakanda Kresna, Adinda berpendapat tidak ada cara lain untuk memberantas
keangkaramurkaan dan kebatilan yang telah belasan tahun terjadi di Astina, kecuali
dengan meniadakan keberadaan mereka di dunia ini. Itulah sebabnya, bagaimana
pun, Barata-yuda harus segera terjadi. Saya berketetapan hati untuk memihak
Kurawa, saya sengaja membakar-bakar semangat Adinda Duryudana, saya bujuk
mereka agar jangan takut berperang, ... itu semua agar Baratayuda dapat segera
terjadi sebagaimana seharusnya."
Kresna: "Adinda Karna. Kakanda benar-benar menaruh hormat akan pendirian
Adinda yang teguh itu. Namun dengan adanya Dinda Basukarna di pihak Kurawa,
bagaimana pun, Baratayuda tentu akan berlangsung lebih lama dan korban di
kedua pihak akan lebih banyak. Tidakkah hal ini Dinda pertimbangkan?"
Karna: "Adinda memahami hal itu. Namun, bu-kankah jer basuki mawa beya?
Kakanda Prabu Kresna tentu sudah faham benar, Baratayuda adalah peristiwa yang
menjadi sarana untuk memusnahkan segala yang jahat dan yang angkara. Untuk
mencapai masyarakat dunia yang tenteram dan damai, selalu harus ada yang
menjadi korban, dan selalu harus ada yang dikor-bankan. Itu sudah merupakan
hukum alam yang berlaku pada zaman apa pun.
Adinda tahu, bahwa menurut takdir pada Baratayuda nanti Adinda harus
berhadapan dengan Arjuna. Entah siapa yang akan kalah, dan siapa yang akan
unggul, kita semua belum tahu. Seandainya Adinda yang gugur, maka Adinda
ikhlas sebab pe-ngorbanan Adinda adalah untuk kemenangan adik-adik para
Pandawa dan itu berarti pengorbanan Adinda adalah untuk tegaknya kebenaran dan
keadilan.
Demikian pula, seandainya Adinda yang menang, Arjuna pun sebagai ksatria harus
ikhlas karena pengorbanannya tentu tidak sia-sia."
Kresna: "Adinda Karna, cobalah Adinda renungkan sekali lagi. Pengorbanan Adinda
Karna dengan pengorbanan Adinda Arjuna, jelas berbeda. Jika Adinda Basukarna
gugur dalam Baratayuda nanti, sejarah akan mencatat Adinda Karna gugur karena
berperang di pihak yang salah. Adinda Basukarna tewas karena membela pihak
angkara. Sedangkan jika Dinda Arjuna yang gugur, maka ia akan dianggap sebagai
pahlawan pembela keberaran.
Coba renungkan hal itu."
Karna: "Itu pun Adinda pahami. Namun, bukankah sebagai ksatria kita tidak boleh
memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan darmanya? Adinda berperang di
pihak Kurawa karena menjalankan darma Adinda sebagai ksatria. Hamba tidak
peduli lagi tentang bagaimana sejarah akan mencatat nama Adinda. Biarlah sejarah
mencatat Adinda sebagai pembela nafsu angkara pihak Kurawa. Biarlah nama baik
Adinda hancur karena sikap Adinda dalam menjalankan darma. Karena nama baik
itu pun telah Dinda ikhlaskan sebagai pengorbanan demi tegaknya kebenaran dan
keadilan .."
Prabu Kresna tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan penuh haru dipeluknya putra
sulung Kunti itu erat-erat.
"Semoga Yang Maha Mengetahui selalu memberikan berkah kepadamu, Dinda
Basukarna ..." kata titisan Wisnu itu.
Setelah pertemuannya dengan Prabu Kresna, lewat tengah hari, Adipati Karna pergi
ke Sungai Gangga hendak mensucikan dirinya. Hati kecilnya merasa, ia akan gugur
dalam perang besar antarke-luarga Barata itu. Karenanya, sebelum menghadap
pada Sang Pencipta, anak pungut Sais Adirata itu ingin lebih dahulu mensucikan
tubuhnya.
Di tepi sungai yang dianggap suci itu, secara kebetulan Karna bertemu dengan
Dewi Kunti yang juga baru saja selesai mensucikan tubuhnya. Sekali lagi,
sebagaimana perjumpaanya dengan Prabu Kresna, kali ini Dewi Kunti juga
berusaha membujuk Adipati Karna agar mau menyeberang ke pihak Pandawa.
"Basukarna anakku, ... sebenar-benarnyalah bahwa engkau itu anak sulungku. Para
dewa dapat menjadi saksi. Hanya karena keadaan, engkau terpaksa berpisah
dengan adik-adikmu para Pandawa. Hanya karena keadaan yang membuatmu
terpaksa bergabung dengan pihak Kurawa.
Namun, perang besar akan terjadi esok hari. Aku, ibumu ini, sangat berharap
engkau tidak berdiri di pihak yang berlawanan dengan adik-adikmu. Bergabunglah
engkau bersama kelima adikmu. Jika harapanku ini engkau kabulkan, berarti
engkau membahagiakan wanita yang pernah melahirkanmu."
Dengan penuh hormat Karna menjawab: "Ibunda Dewi Kunti yang amat hamba
hormati. Hamba mengerti, keadaan telah membuat hamba terpaksa berpisah
dengan adik-adik hamba. Hamba juga mengerti bahwa karena keadaan pula hamba
sekarang berdiri di pihak Kurawa yang merupakan lawan para Pandawa, adik-adik
hamba.
Namun, bukankah kita tidak dapat hanya menyalahkan keadaan? Bilamana Ibunda
Dewi Kunti mengharapkan agar hamba menyeberang ke pihak Pandawa dan
meninggalkan Kurawa, maka itu berarti hamba menyalahi darma hamba sebagai
seorang ksatria. Hamba akan menjadi pengkhianat bagi Kurawa yang selama ini
telah memberikan derajat dan kemuliaan pada hamba. Hamba akan menjadi
manusia yang tidak tahu membalas budi, yang membalas kebaikan orang dengan
pengkhianatan. Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan alasan bagi hamba
untuk mengecewakan harapan para Kurawa yang mengandalkan kekuatan hamba
..."
Kunti: "Karna, Anakku. Ibunda mengerti, engkau adalah prajurit sejati. Engkau
seorang ksatria utama. Namun, cobalah engkau renungkan barang sejenak. Selain
harus menjalani darmamu sebagai seorang ksatria, engkau pun mempunyai
kewajiban menjalankan darmamu sebagai seorang putra terhadap ibumu. Tidak
adakah keinginanmu untuk membahagiakan wanita yang telah melahirkanmu?"
Karna: "Ibunda Dewi Kunti, junjungan hamba. Tentu saja hamba ingin
membahagiakan Ibunda Dewi. Hamba ingin agar Ibunda Kunti dapat merasakan
kebahagiaan serta bangga, bilamana hamba dapat menjalankan darma hamba
sebagai seorang ksatria."
Kunti: "Tetapi ..., Karna Anakku. Engkau tentu juga tahu, dalam Baratayuda nanti
besar kemungkinan engkau akan berhadapan dengan adikmu, Arjuna. Tidak bisa
tidak, salah satu dari kalian berdua akan menjadi korban kekejaman perang besar
itu. Dapatkah engkau membayangkan, betapa remuknya hati seorang ibu,
manakala ia tahu dua orang putranya saling ber-hadapan di medan perang dengan
tekad akan saling membunuh? Dapatkah kau bayangkan itu, anakku?"
Kunti tidak lagi dapat menahan air matanya. Basukarna pun terharu mendengar
kata-kata yang diucapkan oleh wanita yang dulu melahirkannya itu. Namun,
dengan menguatkan hati, Basukarna berkata dengan lembut: "Ibunda Dewi Kunti
yang hamba hormati. Hamba yang hina ini memahami benar kepedihan hati Ibunda
Dewi. Namun hamba mohon, .... anggaplah kepedihan itu sebagai pengorbanan
Ibunda untuk ketentraman dan kedamaian masyarakat banyak. Ibunda tentu juga
tahu, bahwa Baratayuda adalah salah satu sarana dan jalan untuk membebaskan
dunia dari keangkaramurkaan yang selama ini dilakukan oleh para Kurawa. Semua
orang yang melangkah pada jalan darmanya harus ikut berkorban demi
ketentraman dunia. Ada yang ditakdirkan harus mengorbankan jiwanya, ada yang
harus mengorbankan suaminya, mengorbankan orang yang disayanginya, dan ...
tentunya tidak terkecuali Ibunda Dewi.
Bilamana ternyata dalam Baratayuda nanti Adinda Arjuna yang terpaksa menjadi
korban, maka ia akan gugur sebagai pahlawan. Ibunda Dewi dapat
membanggakannya, walaupun tentu dalam kesedihan se-orang ibu yang
kehilangan putra. Demikian pula, bilamana hamba yang tewas dalam perang
tanding itu, Ibunda Dewi pun boleh merasa bangga karena hamba tewas dalam
menjalankan darma hamba sebagai seorang prajurit, sebagai ksatria. Jika hamba
gugur, maka hamba bukan mati sebagai pengkhianat"
Kunti merasa, tidak akan ada manfaatnya ia membujuk Karna lebih lanjut.
Sekarang ibu para Pandawa itu tahu benar keteguhan hati anak sulungnya itu.
Karena itu, Kunti lalu berkata: "Anakku, Karna. Aku tidak lagi dapat merangkai
kata-kata. Kesedihanku sebagai seorang ibu, membuat tenggorokanku serasa
tersumbuat. Tetapi, ... kumohon kepadamu, izinkan aku memelukmu, anakku.
Puluhan tahun, sejak engkau masih berujud bayi merah, aku telah kehilangan
engkau. Aku tidak berkesempatan merawat, memelihara dan mengasihimu. Untuk
itu, maafkanlah Ibumu ini. Biarlah aku memelukmu barang sejenak, anakku ...."
Dengan air mata bercucuran Dewi Kunti memeluk anak sulungnya, menciumi ubun-
ubunnya, sambil berkata terisak di sela tangisnya: "Restuku untukmu, anakku.
Doaku untukmu, buah hatiku ...."
Pertimbangan Karna dalam mengambil keputusan itu adalah, karena sebagai
ksatria ia harus tahu membalas budi kepada Kurawa yang sudah memberinya
kedudukan, kemuliaan, derajat dan pangkat. Tanpa bantuan Suyudana dan
keluarga Kurawa lainnya, ia akan tetap dikenal sebagai anak sais kereta Adirata.
Pertimbangan yang lain adalah, jika ia tidak ikut beperang, mungkin Baratayuda
akan gagal, batal, tidak terlaksana, karena bisa jadi Duryudana akan memilih jalan
damai. Dan, jika ini terjadi berarti kesewenangan di dunia akan tetap berjalan
terus.
Sikap Basukarna yang siap untuk mati dalam pe-rang juga dibuktikan ketika ia
menolak tawaran bantuan Naga Ardawalika yang diam-diam akan ikut menyerang
Arjuna. Walaupun tawaran bantuannya ditolak, ketika tahu bahwa Adipati Karna
gugur, Ardawalika atas inisiatifnya sendiri langsung menyerang Arjuna, tetapi
ksatria Pandawa itu pun berhasil membunuhnya.

Dalam Baratayuda, Basukarna sebagai panglima perang di pihak Kurawa, pada hari
ke-15 berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata Kunta Wijayandanu.
Penggunaan senjata pamungkas ini se-benarnya sama sekali di luar rencananya.
Sejak ia menerima Kunta dari tangan Batara Narada, ia merencanakan penggunaan
senjata sakti yang hanya dapat sekali digunakan itu untuk menghadapi Arjuna. Hati
kecil Basukarna memang menaruh dendam pada Arjuna sejak ksatria Pandawa itu
menghinanya di hadapan umum dengan menolak mengadu ketrampilan
dengannya.

Namun sewaktu Gatotkaca memporakpo-randakan barisan prajurit Kurawa dan


membunuh beberapa adik Duryudana, penguasa Astina itu mulai khawatir. Di
tengah pertempuran Duryudana mencari Basukarna dan memintanya untuk
menghadapi Gatotkaca. Semula Adipati Karna menolak karena ia sedang mencari-
cari Arjuna. Duryudana lalu meng-ingatkan, bahwa perang ini bukan perang
pribadi. Ia minta agar Basukarna melupakan dulu dendam pribadinya, dan lebih
memikirkan kemenangan bagi seluruh Kurawa.

Karena desakan Duryudana ini, Basukarna terpaksa menghadapi Gatotkaca. Putra


Bima itu memang berhasil dikalahkannya, namun dengan demikian ia kehilangan
Kunta Wijayandanu.
Waktu berperang tanding melawan Arjuna, Basukarna sudah tidak lagi memiliki
senjata andalan. Supaya dirinya sederajat dengan Arjuna, ia minta agar mertuanya
Prabu Salya bersedia menjadi saisnya. Alasannya, kereta perang Arjuna
dikemudikan Sri Kresna, raja Dwarawati. Agar seimbang dan tampak sederajat,
kereta perangnya juga harus dikendalikan seorang raja, dan menurut
anggapannya, yang paling tepat adalah Prabu Salya. Permintaan ini amat
menyakitkan hati Prabu Salya dan serta merta raja Mandraka itu mendampratnya,
dan mengatakannya sebagai menantu yang tidak tahu diri. Duryudana dengan
cepat melerai, kemudian membujuk Prabu Salya. Hanya karena bujukan
Duryudana, akhirnya Salya mau menuruti permintaan Basukarna. Peristiwa itu
menambah kebencian raja Mandraka itu pada menantunya itu.

Di medan perang Karna menggunakan kereta perang bernama Jaladra, sedangkan


kereta perang Arjuna bernama Jatisura. Kedua kereta perang yang berisi dua
ksatria utama itu seolah menjadi primadona pertempuran. Pada suatu kesempatan
Basukarna melepaskan panah pusakanya Wijayacapa, dibidikkan tepat ke leher
Arjuna. Namun, pada saat yang tepat Prabu Salya menarik tali kekang kuda,
sehingga kereta perang yang dikendarainya tergoncang. Panah Wijayacapa
meluncur deras, tetapi bidikannya tidak tepat lagi. Panah sakti itu hanya
menyambar mahkota gelung rambut Arjuna. Sesaat berikutnya Arjuna me-lepaskan
anak panah pusaka Pasopati dan tepat menebas leher Basukarna. ***)

Karna yang berperang dengan sepenuh hati akhirnya gugur sebagai ksatria utama
dalam Bara-tayuda, sebagaimana dikehendakinya. Ia telah mendarmabaktikan
jiwanya pada Kerajaan Astina yang telah mengangkat derajatnya dari kedudukan
anak sais menjadi seorang adipati. Ia juga telah merelakan jiwanya untuk
membahagiakan Dewi Kunti, ibu kandung yang tidak pernah menyusui, mengasuh,
dan mengasihinya. Karena jika bukan dia yang gugur, maka Arjunalah yang harus
tewas dalam perang tanding itu. Dan, bila ini terjadi tentu akan membuat ibunya
lebih berduka.
Sementara itu, ketika tubuh Karna roboh ke bumi, keris Kyai Jalak Kaladite yang
disandangnya lepas dari warangkanya (sarung keris) dan melayang, melesat ke
arah dada Arjuna. Tetapi Arjuna yang selalu waspada segera menangkis serangan
keris itu dengan gendewa pusakanya.
Basukarna, seorang anak yang terbuang sejak bayi, seorang anak pungut sais
kereta bernama Adirata, gugur dalam keyakinan untuk menjalankan darmanya
sebagai ksatria utama.

CATATAN KAKI = ***) Menurut salah satu versi Ma-habarata di India, Basukarna
gugur karena siasat licik Kresna. Waktu itu salah satu roda kereta perang Karna
terperosok ke dalam lumpur. Karna lalu melepaskan seluruh senjatanya, turun dari
kereta, kemudian mencoba mendorong kereta itu untuk membebaskan roda kereta
yang terbenam di lumpur. Pada saat itu Kresna memberi isyarat, agar Arjuna
melepaskan anak panahnya. Jadi, Karna terpanah dalam keadaan tidak bersenjata;
sesuatu yang sebenarnya terlarang dalam Baratayuda.

Dari perkawinannya dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, Basukarna


mendapat dua orang putra, yaitu Warsasena dan Warsakusuma. Kelak
Warsakusuma kawin dengan Dewi Lesmanawati, putri Prabu Anom Duryudana.
Dengan demikian, hu-bungan Basukarna dengan Duryudana, selain sebagai ipar, ia
juga merupakan besan.

Dewi Surtikanti meninggal karena bunuh diri. Pada saat Baratayuda berlangsung, ia
selalu mengikuti berita dari medan perang yang disampaikan oleh Patih
Adimanggala, yakni patih Kadipaten Awangga. Suatu hari, patih Kadipaten
Awangga itu menyampaikan be-rita yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti
salah mengerti. Ia mengira suaminya gugur di palagan Ba-ratayuda. Tanpa pikir
panjang Surtikanti bunuh diri dengan mencabut patrem (keris kecil) lalu menu-
sukkannya ke dadanya sendiri.

Kematian Dewi Surtikanti membuat Adipati Karna amat marah. Ia mempersalahkan


Adimanggala. Tanpa banyak bicara Karna segera membunuh Patih Adimanggala.
Tetapi versi lain menyebutkan, Patih Adimanggala gugur bersama (sampyuh - Bhs.
Jawa) ketika ia bertempur melawan Patih Udawa, abang satu ibu lain ayah.
Perkawinan Basukarna alias Basusena dengan Dewi Surtikanti sebenarnya dapat
berlangsung dengan bantuan Arjuna.

Kisahnya begini:
Suatu ketika Keraton Mandraka geger karena Dewi Surtikanti dilarikan oleh seorang
ksatria muda yang tampan. Mulanya ksatria itu memasuki keputren dan berasyik-
masyuk dengan Dewi Surikanti. Ketika mereka dipergoki para dayang istana dan
terjadi ke-ributan, ksatria itu segera lari membawa sang Dewi. Para prajurit yang
berusaha menghalanginya, tidak sanggup menghadapi kesaktian ksatria tampan
itu.

Kejadian ini membuat marah Prabu Salya dan Prabu Anom Duryudana, karena
sebenarnya Dewi Surtikanti akan dikawinkan dengan raja muda Astina itu. Dari
keterangan para dayang, yang menyebut bahwa pria yang melarikan sang Putri itu
sangat tampan, Prabu Salya dan Duryudana langsung menu-duh Permadi (nama
panggilan Arjuna selagi muda) sebagai pelakunya. Permadi mencoba membantah,
namun tidak seorang pun yang percaya.
Resi Bisma lalu mengambil kebijaksanaan: Permadi harus mencari pelaku
penculikan atas Dewi Surtikanti dalam waktu tiga hari. Bila dalam waktu itu
Permadi tidak berhasil, maka ia akan dijatuhi hukuman sebagai si Penculik. Permadi
sanggup.
Dalam waktu singkat, Permadi menemukan Dewi Surtikanti di Istana Awangga.
Karenanya, ksatria Pandawa itu minta agar Basukarna menurut dibawa ke
Mandraka sebagai tertuduh. Karna menolak, dan terjadilah perang tanding. Adu
ketrampilan dan kesaktian di antara keduanya begitu seru sehingga kahyangan
goncang karenanya. Batara Narada lalu

Lakon-lakon Yang Melibatkan Basukarna

Pandadaran Siswa Sokalima


Bale Sigala-gala
Suryatmaja - Surtikanti
Brantalaras Rabi
Banjaran Karna
Salya Gugur
Bisma Gugur
Karna Tanding

turun ke dunia untuk melihat apa yang menjadi penyebabnya. Setelah tahu apa
yang terjadi, dewa itu segera melerainya. Narada menjelaskan bahwa sebenarnya
keduanya bersaudara. Diterangkan, Karna sebenarnya adalah putra sulung Dewi
Kunti yang ketika masih bayi dibuang ke Sungai Gangga dan ditemukan oleh
Adirata. Sedangkan Permadi adalah anak Kunti yang keempat.

Dengan penjelasan itu mereka pun berdamai. Basukarna bersedia membawa


kembali Dewi Surti-kanti ke Mandraka, karena Permadi menyanggupi akan
memintakan maaf pada Prabu Salya, sekaligus membujuknya agar Karna diterima
sebagai menantu. Usaha Permadi ini berhasil. Basukarna diakui oleh Prabu Salya
sebagai menantu, walaupun hati kecilnya masih tetap tak menyukai Karna, yang
dianggapnya telah memberikan malu kepadanya.

Sedangkan Duryudana yang amat kecewa karena gagal kawin, terpaksa menerima
kenyataan itu. Lagi pula, Duryudana juga berusaha tetap memelihara
persahabatannya dengan Karna, yang diharapkan bantuannya pada saat pecah
Baratayuda kelak.
Dalam pewayangan di Indonesia, mengenai peran Basukarna dalam memantik api
perang Baratayuda ada dua versi.

Sebagian dalang menceritakan bahwa Basukarna sengaja menyulut api perang


dengan maksud agar angkara murka keluarga Kurawa cepat hancur punah dengan
terjadinya perang besar itu. Ia tahu benar kekuatan Kurawa dan sekutunya tidak
akan sanggup menandingi para Pandawa, namun ia membesar-besarkan hati dan
membakar semangat Prabu Anom Duryudana, sehingga penguasa Astina itu
memilih jalan peperangan daripada perdamaian. Guna me-nyirnakan angkara
murka, ia sanggup mengorbankan jiwanya, dan bahkan juga nama baiknya.
Sebagian dalang yang lain menyebutkan, sikap Basukarna menyulut api
peperangan disebabkan karena dendamnya pada para Pandawa, terutama pada
Arjuna yang dinilainya angkuh.
Gambaran tentang pribadi Basukarna dalam pewayangan pada umumnya memang
sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tergambar dalam Kitab Mahabarata.
Dalam Mahabarata, selain dendam pada Arjuna, Adipati Awangga itu juga sangat
membenci Dewi Drupadi.
Kebencian Basukarna pada Dewi Drupadi disebabkan karena peristiwa berikut ini:
Ketika Prabu Drupada, raja Pancala (di pewayangan Pancala disebut Cempalaradya)
hendak men-carikan jodoh bagi Dewi Drupadi, Basukarna adalah salah seorang
pesertanya. Setelah para peserta lain gagal mengangkat gendewa pusaka, Karna
ternyata sanggup.

Namun pada saat itu Dewi Drupadi berseru dengan nyaring: "Saya adalah putri raja
besar, tidak akan mungkin saya menikah dengan pria berdarah sudra (orang biasa,
bukan bangsawan)."
Kata-kata Dewi Drupadi ini amat menyakitkan hati Basukarna. Tanpa bicara apa
pun ia lalu berjalan keluar istana.
Kelak, ketika Pandawa kalah main dadu dan Drupadi sebagai barang taruhan
dipanggil untuk diper-malukan oleh para Kurawa, Basukarna berkesempatan
membalas sakit hatinya. Waktu itu Adipati Karna sengaja memanas-manasi
Dursasana agar mene-lanjangi Dewi Drupadi di hadapan umum.
Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa tokoh Basukarna dirupakan dalam dua
wanda, yakni wanda Badru (Bedru) dan wanda Lontang.
Basukarna, yang dalam pewayangan lebih sering disebut Adipati Karna, atau
Basusena, oleh Sri Mangkunegara IV (1853 - 1881) dipilih sebagai salah satu tokoh
dari tiga orang ksatria teladan dalam Serat Tripama. Ksatria teladan lainnya adalah
Kumbakarna dan Bambang Sumantri.
Lihat juga Kunti, Dewi; dan Arjuna.



Kartamarma
KARTAMARMA adalah salah seorang diantara 100 orang keluarga Kurawa (Sata
Kurawa) yang terkemuka. Ia putra Prabu Drestarasta raja negara Astina dengan
permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara
Gandaradesa. Diantara saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah;
Duryudana (raja Negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata,
Citraksa, Citraksi, Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati
Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara
Bukasapta), Gardapura, Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini
(raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Kartamarma memliki perwatakan; keras hati, pandai bicara, cerdik, lincah, agak
pengecut dan selalu ingin enaknya sendiri. Ia menikah dengan Dewi Karastri, putri
raja Banyutinalang. Setelah mertuanya meninggal. Kartamarma dinobatkan
menjadi raja di Banyutinalang.

Kartamarma tidak mati di medan perang Bharatayuda. Ia mati dibunuh oleh Bima
setelah berakhirnya perang Bharatayuda, tatkala bersama Aswatama menyeludup
masuk ke dalam istana negara Astina dengna niat menculik dan membunuh bayi
Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari.


Kartapiyoga
KARTAPIYOGA atau Kartawiyoga adalah putra Prabu Kurandageni dari negara
Tirtakandasan. Ia berbadan besar, gagah dan berwajah setengah raksasa.
Kartawiyoga berwatak keras hati, berani dan selalu menuruti kata hati.
Nama Kartawiyoga mulai dikenal karena dengan kesaktiannya ia nekad memasuki
keputrian negara Mandaraka dan menculik Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salya
dengan Dewi Pujawati/Setyawati. Dewi Erawati ia larikan ke negara Tirtakandasan
dengan maksud akan diperistri.

Namun sebelum maksud Kartawiyoga terlaksana, telah datang menyusul


Kakrasana, putra Prabu Baladewa dengan Dewi Mahindra dari negara Mandura
yang datang bersama Arjuna, satu dari lima satria Pandawa untuk membebaskan
Dewi Erawati. Akhirnya Kartawiyoga tewas dalam peperangan melawan Kakrasana.
Tubuhnya hancur terkena hantaman Alugara.

Kencakarupa
KENCAKARUPA atau Kecaka (Mahabharata) adalah putra angkat Resi Palasara, dari
padepokan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara
Wirata. Ia tercipta dari kemudi perahu yang pecah terbentur batu besar, yang
digunakan Resi Palasara dan Dewi Durgandini menyeberangi sungai Gangga.
Kancakapura terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, yaitu; Rajamala,
Upakeca / Rupakeca, Setatama, Gendawana dan Dewi Ni Yutisnawati / Rekatawati.

Kencakarupa juga mempunyai tiga saudara angkat lainnya, yaitu; Bagawan


Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawirya,
keduanya putra Dewi Durgandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina.

Kencakarupa berwatak keras hati, penghianat, ingin menangnya sendiri, berani dan
selalu menurutkan kata hati. Sangat sakti dan mahir dalam olah keprajuritan
mempergunakan senjata gada dan lembing/tombak.

Akhir riwayatnya diceritakan, Kencakarupa tewas dalam peperangan melawan


Bilawa/Bima karena bersama saudaranya Rupakenca, Setatama dan Gandawana
melakukan pemberontakan untuk mengulingkan kekuasaan raja Wirata, Prabu
Matswapati.


Krepa
RESI KREPA atau Kirpa (Mahabharata) adalah putra kedua Prabu Purungaji, raja
negara Tempuru dengan permaisuri Dewi Uruwaci. Ia mempunyai kakak kandung
bernama Dewi Krepi yang kemudian menjadi istri Resi Drona. Dari padepokan
Sokalima

Sejak muda Krepa mengabdi di negara Astina sejak masa pemerintahan Prabu
Pandu. Karena mahir dalam ilmu falsafah ia diangkat menjadi penasehat kerajaan.
Krepa berwatak jujur, setia dan penuh pengabdian. Ia hidup sebagai pendeta wadat
(tidak bersentuhan dengan wanita).

Ada beberapa versi tentang akhir hidup Resi Krepa, Dalam Mahabharata
diceritakan, Resi Krepa hidup sampai jaman Prabu Parikesit, dan diangkat menjadi
Parampara/Ahli nujum kerajaan. Cerita Pedalangan menyebutkan, Krepa mati oleh
tangan Adipati Karna, karena ia menentang pengangkatan Adipati Karna menjadi
Senapati Agung Kurawa. Kisah lain menyebutkan. Krepa mati oleh panah Arjuna
setelah berakhirnya perang Bharatayuda, tatkala ia bersama Aswatama
menyenludup masuk ke dalam istana Astina untuk membunuh Parikesit.



Krepi
DEWI KREPI atau Kirpi (Mahabharata) adalah putri sulung Prabu Purungaji, raja
negara Tempuru dengan Permaisuri Dewi Uruwaci. Ia mempunyai adik kandung
bernama Krepa/Kirpa yang menjadi pendeta Istana Negara Astina.

Dewi Krepi mempunyai kesaktian dapat beralih rupa menjadi apa saja yang ia
kehendaki. Ia pernah beralih rupa menjadi Kuda Sembrani betina untuk menolong
Bambang Kumbayana/Resi Drona terbang menyeberangi lautan. Dewi Krepi
kemudian menjadi isteri Bambang Kumbayana, dan berputra seorang lelaki
bernama Bambang Aswatama.

Ketika Resi Drona dan Aswatama tinggal di negara Astina dan berhasil membangun
padepokan Sokalima, Dewi Krepi tetap menetap di negara Tumpuru, sampai akhir
hayatnya.




Kresna
PRABU KRESNA yang waktu mudanya bernama Narayana, adalah putra Prabu
Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah
(Jawa). Ia lahir kembar bersama kakaknya, Kakrasana, dan mempunyai adik lain
ibu bernama Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan
permaisuri Dewi Badrahini. Prabu Kresna juga mempunyai saudara lain ibu
bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang
swarawati keraton Mandura.

Prabu Kresna adalah titisan Sanghyang Wisnu yang terakhir. Selain sangat sakti
dan dapat bertiwikrama, ia juga mempunyai pusaka-pusaka sakti, antara lain;
Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, Terompet/Sangkala Pancajahnya, Kaca
paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan. Ia mendapat negara Dwarawati setelah
mengalahkan Prabu Narasinga, kemudian naik tahta bergelar Prabu Sri Bathara
Kresna.

Prabu Kresna mempunyai 4 (empat) orang permaisuri :


1.Dewi Jembawati, putri Resi Jembawan dengan Dewi Trijata dari pertapaan
Gadamadana, berputra ; Samba dan Gunadewa (berwujud kera).
2.Dewi Rukmini, putri Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma dengan Dewi Rumbini
dari negara Kumbina, berputra: Saradewa (berwujud raksasa), Partadewa dan
Dewi Titisari/Sitisari.
3.Dewi Setyaboma, putri Prabu Setyajid/Arya Ugrasena dengan Dewi Wersini, dari
negara Lesanpura, berputra ; Arya Setyaka.
4.Dewi Pratiwi, istri turunan sebagai titisan Sanghyang Wisnu, putri Nagaraja dari
Sumur Jalatunda, berputra ; Bambang Sitija dan Dewi Siti Sundari.
Setelah meninggalnya Prabu Baladewa/Resi Balarama, kakaknya, dan musnahnya
seluruh Wangsa Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Ia wafat dalam
keadaan bertapa dengan perantaraan panah seorang pemburu bernama Ki Jara
yang mengenai kakinya.


Kumaladewa
BAMBANG KUMALADEWA adalah putra Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu,
raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Jimambang, putri
Bagawan Wilwuk/Wilawuk dari pertapaan Pringcendani. Ia mempunyai adik
kandung bernama Bambang Kumalasakti. Kumaladewa juga mempunyai 12 orang
saudara lain ibu, bernama; Abimanyu, Sumitra, Wisanggeni, Bambang Irawan,
Bratalaras, Wilugangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Wijanarka,
Antakawulan dan Bambang Sumbada.

Kumaladewa mempunyai sifat dan perwatakan; tenang, pemberani, baik tingkah


lakunya dan sangat berbakti. Selain memiliki berbagai ilmu kesaktian, ia juga
memiliki cupu berisi minyak Jayengkaton pemberian kakeknya, Bagawan Wilawuk.
Daya khasiat minyak Jayengkaton, apabila dioleskan pada pelupuk mata, maka ia
akan dapat melihat semua mahluk halus/ mahluk siluman.

Sejak kecil, Kumaladewa tinggal bersama ibu dan kakeknya di pertapaan


Pringcendani. Akhir riwayatnya diceritakan gugur pada awal pecah perang
Bharatayuda melawan Prabu Salya raja negara Mandaraka.


Kunti
DEWI KUNTI atau Dewi Prita (Mahabrata) adalah putri kedua Prabu Basukunti, raja
negara Mandura dengan permaisuri Dewi Dayita, putri Prabu Kunti, raja Boja. Ia
mempunyai tiga orang saudara kandung bernama; Arya Basudewa, Arya Prabu
Rukma dan Arya Ugrasena.

Dewi Kunti menikah dengan Prabu Pandu, raja negara Astina, putra Bagawan
Abiyasa dengan Dewi Ambiki. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang
putra bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Sebelum menikah
dengan Prabu Pandu, Dewi Kunti telah mempunyai seorang putra dari Bathara
Surya sebagai akibat kesalahannya merapal/membaca mantera Aji Pepanggil/Aji
Gineng ajaran Resi Druwasa. Putranya tersebut bernama Basukarna/Aradea
atau Suryatmaja yang setelah menjadi raja di negara Awangga dikenal dengan
nama Adipati Karna.

Dewi Kunti sangat menyenangi dan mempelajari ilmu-ilmu kejiwaan/kebatinan. Ia


berwatak penuh belas kasih, setia dan wingit. Dengan penuh kecintaan ia
mengasuh dan mendidik dua orang anak tirinya. Nakula dan Sadewa, putra Prabu
Pandu dengan Dewi Madrim, melebihi kecintaannya pada putra-putranya sendiri.

Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Kunti mati moksa bersama-sama dengan Dewi
Gandari dan Prabu Drestarasta setelah selesainya perang Bharatayuda.


Leksmanamandrakumara
BAMBANG LESMANAMANDRAKUMARA dikenal pula dengan nama Bambang
Sarajakusuma (pedalangan Jawa). Ia adalah putra sulung Prabu
Suyudana/Duryudana, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Banowati, putri
Prabu Salya dengan Dewi Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka.
Lesmanamandrakumara mempunyai seorang adik perempuan bernama Dewi
Lesmanawati, yang menjadi istri Arya Warsakapura, putra kedua Adipati Karna
dengan Dewi Surtikanti dari negara Awangga.

Lesmanamandrakumara sangat dimanja oleh orang tuanya. Ia mempunyai daya


pikir yang lambat dan agak pengecut. Lesmanamandrakumara ikut terjun di medan
pertempuran perang Bharatayuda. Ia yang bermaksud membunuh Abimanyu,
putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra yang sudah dalam keadaan tak berdaya,
akhirnya tewas oleh Abimanyu karena lebih dahulu tertusuk keris Pulanggeni.

Leksmanawati
DEWI LEKSMANAWATI adalah putri Prabu Suryudana/Duryudana, raja negara
Astina dengan permaisuri Dewi Banowati putri Prabu Salya dengan Dewi
Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka. Ia mempunyai kakak kandung bernama
Leksmanamdrakumara/Bambang Sarajakusuma.

Dewi Laksmanawati sangat dimanja oleh orang tuanya. Hidupnya serba mewah,
keinginanya selalu terlaksana. Ia jarang sekali keluar dari lingkungan istana.
Wataknya bersahaja, menarik hati, gaya dan kata-katanya serba menarik.

Dewi Leksmanawati menikah dengan Arya Warsakusuma, putra kedua Adipati


Karna, raja negara Awangga dengan permaisuri Dewi Surtikanti. Dari perkawinan
tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Warsaka, yang setelah perang
Bharatayuda diangkat menjadi punggawa istana negara Astina dibawah
pemerintahan Prabu Parikesit.


Madrim
DEWI MADRIM atau Dewi Madri adalah putri Prabu Mandrapati, raja negara
Mandaraka dengan permaisuri Dewi Tejawati. Ia mempunyai kakak kandung
bernama Narasoma, yang setelah menjadi raja Mandaraka bergelar Prabu Salya.

Dewi Madrim menikah dengan Prabu Pandu, raja negara Astina dan menjadi
permaisuri ke dua mendampingi Dewi Kunti. Dari perkawinan tersebut, ia berputra
dua orang kembar yang diberi nama Nakula dan Sadewa. Dewi Madrim berwatak
penuh belas kasih, setia, sabar dan Wingit.

Akhir riwayat Dewi Madrim diceritakan, ia terjun kedalam Pancaka (api pembakaran
jenazah) ikut bela pati atas kematian suaminya, Prabu Pandu. Kedua putra
kembarnya, Nakula dan Sadewa yang masih bayi kemudian diasuh oleh Dewi


Maerah
DEWI MAERAH atau Dewi Mahira (Mahabharata) adalah putra Prabu Kurandapati,
raja negara Widarba. Ia mempunyai adik kandung bernama Dewi Mahindra atau
Dewi Maekah (pedalangan Jawa). Dewi Maerah dan Dewi Maekah
keduanya menjadi permaisuri Prabu Basudewa, raja negara Mandura.

Dengan tidak disengaja dan disadarinya, Dewi Maerah telah mengalami


malapetaka, digauli oleh Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang
beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu. Atas perbuatannya itu ia mendapat
hukuman, diusir keluar dari negara Mandura. Dewi Maerah yang dalam keadaan
hamil ditempatkan di negara Bombawirayang, diserahkan kepada ditya
Suratrmantra, adik Prabu Gorawangsa. Di tempat pengasingannya itu Dewi Maerah
melahirkan seorang putra lelaki yang berwujud setenah raksasa yang diberi nama
Kangsa atau Kangsadewa.

Setelah Kangsa dewasa dengan terus terang, Dewi Maerah menceritakan keadaan
sebenarnya, bahwa ia sesungguhnya permaisuri Prabu Basudewa, raja negara
Mandura. Kangsa tidak sepenuhnya putra Gorawangsa, tetapi juga putra Prabu
Basudewa, sehingga berhak mendapat pengakuan sebagai putra Prabu Basudewa.
Dengan dukungan Suratrimantra, Kangsa pergi kenegara Mandura. Ia akhirnya
diakui sebagai putra Prabu Basudewa dan diangkat menjadi Adipati di Sengkapura.
Oleh Kangsa, Dewi Maerah diboyong ke Sengkapura. Ketika Kangsa tewas dalam
peperangan melawan Kakrasana dan Narayana, Dewi Maerah ikut


Mandrapati
PRABU MANDRAPATI adalah putra Prabu Mandradipa raja negara Mandaraka
dengan permaisuri Dewi Ayutamayi. Ia termasuk keturunan Wangsa Yadawa, yang
berdasarkan garis keturunan masih memiliki hubungan dengan keluarga Mandura
dan Dwarawati (Wangsa Yadawa) Wangsa Boja dan Wangsa Kuru (Kurawa dan
Pandawa). Prabu Mandrapati menjadi raja negara Mandaraka menggantikan
ayahnya, Prabu Mandradipa yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana.
Prabu Mandrapati menikah dengan Dewi Tejawati, seorang hapsari/bidadari, dan
dikarunia 2 (dua) orang putra, yaitu; Narasoma dan Dewi Madrim. Mandrapati
mempunyai watak; sabar, ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, tahu membalas
guna dan selalu bertindak adil. Ia bersahabat karib dengan Bagawan
Bagaspati, Pendeta raksasa di pertapaan Argabelah.

Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Mandrapati meninggal karena bunuh diri akibat
tidak tahan menanggung malu atas perbuatan putranya, Narasoma yang sangat
tercela membunuh Bagawan Bagasapati.


Mandrapati
PRABU MANDRAPATI adalah putra Prabu Mandradipa raja negara Mandaraka
dengan permaisuri Dewi Ayutamayi. Ia termasuk keturunan Wangsa Yadawa, yang
berdasarkan garis keturunan masih memiliki hubungan dengan keluarga Mandura
dan Dwarawati (Wangsa Yadawa) Wangsa Boja dan Wangsa Kuru (Kurawa dan
Pandawa). Prabu Mandrapati menjadi raja negara Mandaraka menggantikan
ayahnya, Prabu Mandradipa yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana.

Prabu Mandrapati menikah dengan Dewi Tejawati, seorang hapsari/bidadari, dan


dikarunia 2 (dua) orang putra, yaitu; Narasoma dan Dewi Madrim. Mandrapati
mempunyai watak; sabar, ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, tahu membalas
guna dan selalu bertindak adil. Ia bersahabat karib dengan Bagawan
Bagaspati, Pendeta raksasa di pertapaan Argabelah.

Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Mandrapati meninggal karena bunuh diri akibat
tidak tahan menanggung malu atas perbuatan putranya, Narasoma yang sangat
tercela membunuh Bagawan Bagasapati.

Mayanggaseta
RESI MAYANGGASETA atau Resi Pracandaseta (cerita pedalangan) berwujud
kera/wanara putih dan bertempat tinggal di pertapaan Pandansurat, di daerah
kerajaan Jodipati, wilayah negara Mertani. Menurut purwacarita, Resi
Mayanggaseta masih keturunan Resi Supalawa, kera putih andel kepercayaan Resi
Manumayasa/Kanumayasa di pertapaan Paremana, salah satu dari tujuh puncak
Gunung Saptaarga. Ketika negara Mertani berhasil ditahklukkan dan dikuasi oleh
keluarga Pandawa menjadi negara Amarta, dan kerajaan Jodipati berada dalam
kekuasaan Bima/Werkudara, padepokan Pandansurat dimerdekakan, menjadi tanah
perdikan yang bebas darti pembayaran pajak atau upeti.

Resi Mayanggaseta pernah diminta bantuannya oleh keluarga Pandawa agar


bersedia menari di alun-alun negara Dwarawati sebagai persyaratan memeriahkan
upacara perkawinan antara Arjuna dengan Dewi Wara Sumbadra, adik Prabu
Kresna raja negara Dwarawati. Untuk meminta kesediaan Resi Mayanggaseta, Bima
mengutus patih Gagakbaka ke pertapaan Pandansurat.

Pada mulanya Resi Mayanggaseta menolak, karena ia merasa


dihinakan/direndahkan martabatnya, sebab walau berwujud kera ia seorang
brahmana yang juga bisa berbicara dan beradat istiadat sebagaimana manusia.
Selain itu ia juga masih keturunan Resi Supalawa, manusia kera kekasih dewata.
Namun setelah ia kalah berperang melawan Gagakbaka, Resi Mayanggaseta
akhirnya bersedia memenuhi permintaan Bima dan keluarga Pandawa untuk pergi
ke negara Dwarawati, memperrtunjukkan kemahirannya menari. Akhir
riwayatnya tidak banyak diceritakan. Konon ia mati moksa karena usia lanjut.

Nagagini
DEWI NAGAGINI adalah putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari
Kahyangan Saptapratala. Ia mempunyai adik kandung bernama Bambang
Nagatatmala.

Dewi Nagagini menikah dengan Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria
Pandawa, putra Prabu Pandu raja negara Astina, dengan permaisuri Dewi
Kunti. Mereka bertemu, tatkala keluarga Pandawa dan Dewi Kunti dalam upaya
menyelamatkan diri dari rencana pembunuhan oleh keluarga Kurawa dalam
peristiwa ru,ah damar di hutan Wanayasa (peristiwa "Bale Sigala-gala") sampai di
Kahyangan Saptapratala. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang putra yang diberi
nama Arya Anantareja.

Dewi Nagagini mempunyai sifat dan perwatakan; setia, sangat berbakti, cinta
terhadap sesama makhluk dan suka menolong.

Nakula
NAKULA yang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama
tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra
ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi
Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia
lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa (pedalangan Jawa), Nakula
juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti,
dari negara Mandura bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna

Nakula adalah titisan Bathara Aswi, Dewa Tabib. Ia mahir menunggang kuda dan
pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa
tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati
pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu
berisi, "Banyu Panguripan/Air kehidupan" pemberian Bhatara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan
dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara
Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu ; 1. Dewi Sayati putri Prabu
Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putra masing-
masing bernama; Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. 2. Dewi
Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di
sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja
negara Gisiksamodra/Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi
Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air
kehidupan bernama Tirtamanik.

Setelah selesai perang Bharatyuda, Nakula diangkat menjadi raja negara


Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir
riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa bersama keempat saudaranya.



Narasinga
PRABU NARASINGA adalah raja negara Dwaraka/Dwarawati. Ia masih bersaudara
dengan Prabu Narakasura, raja negara Surateleng, yang berarti masih keturunan
Bathara Kalayuwana, putra Bathara Kala dengan Bathari Durga/Dewi Pramuni dari
kahyangan Sentragandamayit/Ganda Umayi.

Karena ketekunannya bertapa, Narasinga menjadi sangat sakti. Ia merebut negara


Dwarawati setelah menewaskan Prabu Yudakalakresna dalam satu peperangan.
Setelah mengangkat dirinya menjadi raja negara Dwarawati bergelar Prabu
Narasingamurti, Arya Singamulangjaya, adik mendiang Prabu
Yudakalakresna diangkatnya menajadi Senapati perangnya.

Prabu Narasinga tidak terlalu lama memerintah negara Dwarawati. Ia tewas dalam
peperangan melawan Narayana, putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari
permaisuri Dewi Mahendra/Maerah (Jawa), yang merebut negara Dwarawati
dengan bantuan keluarga Pandawa. Senapati perang Dwarawati, Arya
Singamulajaya tewas dalam peperangan melawan Arya Setyaki putra Arya
Ugarsena/Prabu Setyajid dengan Dewi Wersini, dari negara Lesanpura.

Nirbita
ARYA NIRBITA adalah putra Arya Setatama, putra angkat Resi Palasara dengan
Dewi Durgandini/Dewi Setyawati, putri Prabu Basukesti dari negara Wirata. Ibunya
bernama Dewi Kandini, enam keturunan dari Bathara Brahmanakanda, putra
Sanghyang Brahma.

Arya Nirbita pernah berguru pada Resi Parasara di padepokan Paremana, salah satu
puncak gunung Saptaarga dalam hal ilmu kasidan/kesaktian. Sedangkan dalam
olah keprajuritan, selain berguru pada ayahnya, ia juga berguru pada Rajamala
pamannya. Karena itu selain sakti, Arya Nirbita sangat pandai bermain gada dan
senjata trisula. Arya Nirbita memiliki sifat dan perwatakan ; jujur, setia, patuh pada
perintah dan sangat berbakti kepada negara dan rajanya.

Setelah ayahnya, Arya Setatama tewas dalam pertempuran melawan


Jagalabilawa/Bima karena terlibat dalam tindakan makar menggulingkan Prabu
Durgandana/Matswapati yang dilakukan Rupakenca dan Kencakarupa, oleh Prabu
Matswapati ia diangkat menjadi patih negara Wirata menggantikasn ayahnya. Arya
Nirbita menikah dengan Dewi Kuwari, putri Arya Kidangtalun, andel Resi Palasara,
manusia yang tercipta dari seekor menjangan/kidang sewaktu Resi Palasara
menjadi raja di kerajaan Gajahoya..Dari perkawinan tersebut ia memperoleh
seorang putra yang diberi nama Arya Kawakwa.

Pada saat berkobarnya perang Bharatayuda, Arya Nirbita memangku jabatan


pimpinan pasukan negara Wirata terjun ke medan perang membela keluarga
Pandawa. Ia gugur dalam pertempuran melawan Prabu Salya, raja
negara Mandaraka.

Pancatnyana
DITYA PANCATNYANA adalah patih negara Surateleng pada masa pemerintahan
Prabu Narakasura. Selain sakti, ia juga cerdik dan mahir dalam tata gelar perang.
Ketika Prabu Narakasura tewas dalam peperangan melawan Bambang Sitija, putra
Prabu Kresna, raja negara Dwarawati dengan Dewi Pretiwi, dan Bambang Sitija
menjadi raja Surateleng, Pancatnyana tetap menduduki jabatan patih.

Pancatnyana pula yang mengatur strategi perang dan menghancurkan angkatan


perang negara Prajatisa di bawah pimpinan Prabu Bomantara yang menyerang
negara Surateleng. Prabu Bomantara tewas dalam peperangan melawan Prabu
Sitija/Narakasura. Ketika negara Prajatisa disatukan dengan Surateleng, kekuasaan
Pancatnyana semakin besar, ia menjadi patih Surateleng/Prajatisa dan orang
kepercayaan Prabu Bomanarakasura (nama gelar Bambang Sitija setelah menjadi
raja Surateleng dan Prajatisa).

Akhir riwayatnya diceritakan, Pancatnyana tewas dalam peperangan


melawan Prabu Gatotkaca, raja negara Praiggandani dalam peristiwa
persengketaan hutan Tunggarana.


Parikesit
PARIKESIT adalah putra Abimanyu/Angkawijaya satria Plangkawati dengan
permaisuri Dewi Utari, putri Prabu Matswapti dengan Dewi Ni Yustinawati dari
negara Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan
perang Bharatayuda, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana
Astina setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Astina.

Parikesit naik tahta negara Astina menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama
gelar Prabu Yudhistira setelah menjadi raja negara Astina. Ia berwatak bijaksana,
jujur dan adil.

Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putra,
yaitu ;
1. Dewi Puyangan, berputra ; Ramayana dan Pramasata
2. Dewi Gentang, berputra ; Dewi Tamioyi
3. Dewi Satapi/Dewi Tapen, berputra ; Yudayana dan Dewi Pramasti
4. Dewi Impun, berputra ; Dewi Niyedi
5. Dewi Dangan, berputra ; Ramaprawa dan Basanta.

Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan : Prabu Parikesit meninggal


karena digigit Naga Taksaka sesuai dengan kutukan Brahmana Granggi yang
merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengkalungkan bangkai ular hitam
di leher ayahnya. Bagawan Sarmiti.


Pergiwa
ENDANG PREGIWA adalah putra Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa,
dengan Dewi Manuhara, putri Bagawan Sidik Wacana dari pertapaan Andong
Sumiwi. Ia mempunyai saudara kandung yang merupakan adik kembarnya
bernama Endang Pregiwati. Pregiwa juga mempunyai 12 orang saudara lain ibu
bernama; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa,
Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijarnaka, Antakadewa dan Bambang
Sumbada.

Sejak kecil Pregiwa dan adik kandungnya, Pregiwati tinggal di pertapaan Andong
Sumiwi bersama ibu dan kakeknya. Baru setelah remaja, ia dan Pregiwati
meninggalkan pertapaan pergi ke Mandukara untuk mencari ayahnya, Arjuna.

Pregiwa memiliki sifat dan perwatakan; setia, baik budi, sabar dan jatmika (selalu
dengan sopan santun). Pregiwa menikah dengan Raden Gatotkaca, raja negara
Pringgondani, putra Bima dengan Dewi Arimbi, yang berarti masih saudara
sepupunya sendiri. Dari perkawinan tersebut, ia mempunyai seorang putra yang
diberi nama Arya Sasikirana.


Pergiwati
ENDANG PREGIWATI adalah putri Arjuna, putra Prabu Pandu raja negara Astina
dari permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Manuhara, putri Bagawan Sidik Wacana
dari pertapaan Andong Sumiwi. Ia mempunyai saudara kandung yang merupakan
kakak kembarnya bernama Endang Pregiwa. Pregiwati juga mempunyai 12 orang
saudara lain ibu, bernama; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan,
Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijanarka, Antakadewa dan
Bambang Sumbada.

Sejak kecil Endang Pregiwati dan kakaknya, Pregiwa tinggal di pertapaan Andong
Sumiwi bersama ibu dan kakeknya. Baru setelah remaja ia dan Pregiwa pergi ke
Madukara untuk menemui ayahnya, Arjuna.

Pregiwati memiliki sifat dan perwatakan; setia, jujur, sabar dan jatmika (selalu
dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung. Pregiwati
menikah dengan Raden Pancawala, putra Prabu Puntadewa, raja negara Amarta
dengan Dewi Drupadi yang berarti masih saudara sepupu sendiri.


Prabakesa
ARYA PRABAKESA atau Prabakeswa (Mahabharata) adalah putra ke-empat Prabu
Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai
tujuh saudara kandung, bernama; Arimba/Hidimba. Dewi Arimbi, Brajadenta,
Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Prabakesa mempunyai sifat dan perwatakan; jujur, setia, berbakti dan teguh dalam
pendirian. Ia dan adik bungsunya, Arya Kalabendana menentang rencana
pemberontakan Brajadenta dan tiga saudaranya yang akan merebut kekuasaan dan
tahta kerajaan Pringgandani dari tangan Dewi Arimbi.

Ketika Gatotkaca naik tahta menjadi raja Pringgandani mengantikan ibunya, Dewi
Arimbi, Prabakesa diangkat menjadi patih negara Pringgandani. Akhir riwayatnya
diceritakan, gugur dalam perang Bharatayuda bersama-sama Gatotkaca melawan
Adipati Karna, raja negara Awangga.


Prabakusuma
BAMBANG PRABAKUSUMA di dalam pedalangan Jawa disebut dengan nama
Bambang Priyambada. Ia adalah putra Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu,
raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Supraba, putri
Bathara Indra. Prabakusuma lahir di Kahyangan Kainderan saat Arjuna menjadi
raja di Suralaya bergelar Prabu Kariti sebagai anugerah Sanghyang
Jagadnata/Sanghyang Manikmaya atas jasanya membunuh Prabu Niwatakawaca,
raja raksasa dari negara Manikmantaka.

Prabakusuma mempunyai sifat dan perwatakan; halus, tenang, jatmika, baik


tingkah lakunya, besar tanggung jawabnya, juga ahli dalam ilmu pengobatan. Ia
mempunyai 13 orang saudara lain ibu, yaitu; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras,
Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilugangga, Bambang Irawan, Endang
Pregiwa, Endang Pregiwati, Wijarnaka, Antakawulan dan Bambang Sumbada.

Prabakusuma pernah menjadi penyelamat keluarga Pandawa. Ia berhasil merebut


kembali pusaka Jamus Kalimasada dari tangan si pencuri, Dewi Mustakaweni, putri
Prabu Niwatakawaca dari negara Manikmantaka, Dewi Mustakaweni kemudian
menjadi istri Prabakusuma.

Akhir riwayatnya diceritakan, Prabakusuma gugur pada awal perang Bharatayuda


bersama-sama dengan Sumitra, Wilugangga, Wijanarka dan Antakadewa saat
melawan Resi Bisma.


Pracona
PRABU PRACONA adalah raja raksasa dari negara Tasikwaja, atau sering pula
disebut negara Gilingwesi. Konon ia masih keturunan Prabu Jonggirupaksa raja
negara Jonggarba. Ia sangat sakti, berwatak angkara murka, bengis dan selalu
ingin benarnya sendiri.

Prabu Pracona ingin mempunyai isteri seorang bidadari. Ia kemudian mengutus


patihnya, Detya Sakipu pergi ke Suralaya meminang/melamar Dewi Gagarmayang.
Karena lamarannya ditolak Bathara Guru, Prabu Pracona dan Sakipu mengamuk di
Suralaya, mengalahkan semua para Dewa.

Atas keputusan Bathara Guru, Bambang Tetuka/Gatotkaca, putra Dewi Arimbi dari
negara Pringgandani dengan Bima/Werkudara yang waktu itu belum berumur
sepekan, dipinjam ke Suralaya sebagai jago kadewatan melawan Prabu Pracona
dan Kasipu.

Prabu Pracona dan Patih Sakipu akhirnya tewas dalam peperangan melawan
Bambang Tetuka yang sebelunya telah dimasukan kedalam kawah Candradimuka,
diaduk dengan segala macam senjata milik para Dewa.


Pragota
ARYA PRAGOTA konon adalah putra Arya Ugrasena yang setelah naik tahta negara
Lesanpura bergelar Prabu Setyajid, dengan Ken Sagupi, seorang swarawati Keraton
Mandura. Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan Antagopa, seorang gembala dan
tinggal di kabuyutan Widarakanda/Widarakandang, Arya Pragota dianggap sebagai
putra Ken Sagupi dengan Antagopa.

Arya Pragota mempunyai adik kandung bernama Arya Adimanggala yang menjadi
patih Adipati Karna di negara Awangga. Selain itu dari garis keturunan Arya
Ugrasena, ia mempunyai dua orang saudara bernama; Dewi Setyaboma (istri Prabu
Kresna) dan Arya Setyaki. Sedangkan dari garis keturunan ibunya, Ken Sagupi,
selain Arya Adimanggala ia mempunyai dua orang saudara, yaitu; Arya Udawa,
putra Ken Sagupi dengan Prabu Basudewa, dan Dewi Rarasati/Larasati, putri Ken
Sagupi dengan Arya Prabu Rukma.

Arya Pragota mempunyai perawakan tinggi besar dan gagah. Suaranya lantang,
senang bergurau, kalau bicara disudahi dengan gelak tawa yang berderai. Ia
menjadi patih negara Mandura mendampingi Prabu Baladewa.

Akhir riwayatnya diceritakan; Arya Pragota tewas dalam peristiwa perang gada
antara keluarga sendiri Trah Yadawa, Wresni dan Andaka, setelah selesainya
perang Bharatayuda.

Pratiwi
DEWI PRATIWI adalah putri Prabu Nagaraja, raja di kerajaan Sumur Jalatunda. Ia
mempunyai adik kandung bernama Bambang Pratiwanggana. Dewi Pratiwi
sesungguhnya istri Bathara Wisnu, Dewa keadilan dan kesejahteraan.

Ketika Bathara Wisnu turun ke Mancapda dan menitis pada Narayana/Prabu


Kresna. Dewi Pratiwi ikut menjadi isteri Prabu Kresna. Kedua putranya, yaitu :
Bambang Sitija dan Dewi Siti Sundari, juga ikut turun sebagai putra Prabu Kresna.
Bambang Sitija menjadi raja di negara Surateleng dan bergelar Prabu
Bomanarakasura. Sedangkan Dewi Siti Sundari menjadi isteri Abimanyu
atau Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.
Dewi Pratiwi berwatak setia, jujur, penuh belas kasih, dan sangat berbakti. Ia
sangat sakti dan memiliki pusaka Cangkok Wijayamulya, yang kemudian diberikan
kepada putranya, Sitija.


Pujawati
DEWI PUJAWATI adalah putri tunggal Bagawan Bagaspati brahmana raksasa dari
pertapaan Argabelah, dengan Dewi Darmastuti, seorang hapsari/bidadari. Ia
menikah dengan Narasoma/Prabu Salya, putra sulung Prabu Mandrapati dengan
Dewi Tejawati dari negara Mandaraka.

Perkawinan Dewi Pujawati dengan Narasoma/Prabu Salya dikarunia lima orang


putra, masing-masing bernama; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati,
Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata. Dewi Pujawati berwatak; jujur, setia,
sabar, penuh belas kasih dan sangat berbakti terhadap suami. Karena kesetiaanya
terhadap suaminya itulah maka oleh Prabu Salya namanya diganti menjadi Dewi
Setyawati.

Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Pujawati/Setyawati mati bunuh diri, ikut bela
pati sebagai rasa cinta dan baktinya terhadap suamiya, Prabu Salya yang gugur di
medan perang Bharatayuda.


Puntadewa
PUNTADEWA adalah putra sulung Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan
permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara
Mandura. Ia mempunyai dua orang adik kandung masing-masing bernama ;
Bima/Werkudara dan Arjuna, dan dua orang adik kembar lain ibu, bernama
Nakula/Pinten dan Sahadewa/Tansen, putra Prabu Pandu dengan
Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dari negara Mandaraka.

Puntadewa adalah titisan Bathara Darma. Ia mempunyai watak; sabar, ikhlas,


percaya atas kekuasaan Tuhan, tekun dalam agamanya, tahu membalas guna dan
selalu bertindak adil dan jujur. Ia juga terkenal pandai bermain catur. Setelah
Pandawa berhasil membangun negara Amarta di hutan Mertani, Puntadewa
dinobatkan sebagai raja negara Amarta bergelar Prabu Darmakusuma. Ia juga
bergelar Prabu Yudhistira karena dalam tubuhnya menunggal arwah Prabu
Yudhistira, raja jin negara Mertani.

Prabu Puntadewa menikah dengan Dewi Drupadi, putri Prabu Drupada


dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala, dan mempunyai seorang putra
bernama Pancawala. Prabu Puntadewa mempunyai pusaka kerajaan berwujud
payung bernama Kyai Tunggulnaga dan sebuah tombak
bernama Kyai Karawelang.
Dalam perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa tampil sebagai senapati perang
Pandawa, dan berhasil menewaskan Prabu Salya, raja negara Mandaraka. Sesudah
berakhirnya perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa menjadi raja negara
Astina bergelar Prabu Karimataya / Kalimataya. Setelah menobatkan Parikesit,
putra Abimanyu dengan Dewi Utari sebagai raja negara Astina, Prabu Puntadewa
memimpin perjalanan moksa para Pandawa yang diikuti Dewi Drupadi menuju ke
Nirwana.


Purocana
PUROCANA adalah patih Mangkubumi negara Astina di bawah pemerintahan prabu
Pandudewanata. Dengan demikian kekuasaannya di bawah patih utama, Arya
Gamdamana, putra Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala.

Selain ahli dalam tata pemerintahan dan kenegaraan, Purocana juga ahli dalam tata
bangunan. Ia seorang arsitek ulung. Sayangnya ia berwatak lilck dan culas, serta
berjiwa penjilat. Purocana ikut membantu Arya Sakuni merebut kedudukan patih
negara Astina dengan mencelakakan Arya Gandamana. Setelah Drestarasta
menjadi raja negara Astina menggantikan Prabu Pandu, Purocana tetap menjabat
sebagai patih Manmgkubumi dan menjadi orang keprcayaan Patih Sakuni.

Atas perintah Arya Sakuni, Purocana menjadi perencana dan palaksana


pembangunan "Rumah Damar" di hutan Wanayasa untuk membiunasakan keluarga
Pandawa. Akhirnya Purocana ikut mati terbakar dalam peristiwa kebakaran
"Rumah Damar" yang dibuatnya sendiri. Sedangkan keluarga Pandawa selamat
berkat terowongan yang dibuat Yamawidura.


Radeya
PRABU RADEYA adalah raja negara Petapralaya. Di dalam cerita pedalangan Jawa,
Prabu Radeya mempunyai anak angkat bernama Basukarna atau Aradeya yang
sesungguhnya putra Bathara Surya dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti raja
negara Mandura. Basukarna diambil sebagai anak ketika Prabu Radeya masih
menjalani bulan madu dengan istrinya, Dewi Nirada, sebagai persyaratan agar
segera mempunyai anak sendiri.Sedangkan menurut Mahabharata yang
mengambil Basukarna sebagai anak adalah suami-istri Adirata dan Ni Rada, sais
kereta kerajaan Astina.

Dari perkawinannya dengan Dewi Nirada, Prabu Radeya memperoleh dua orang
putra-putri, masing-masing bernama ; Bambang Suryanirada dan Dewi Suryawati.
Tokoh Prabu Radeya hanya ditampilkan dalam lakon "Alap-alapan Surtikanti", kisah
perkawinan Basukarna/Suryaputra dengan Dewi Surtikanti, putri kedua Prabu Salya
dengan Dewi Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka.

Dalam peristiwa perang besar Bharatayudha antara keluarga Pandawa dan Kurawa
di Tegal Kurusetra, Prabu Radeya berpihak pada keluarga Kurawa. Ia maju ke
medan pertempuran memimpin sendiri prajurit negara Petapralaya. Prabu Radeya
tewas dalam pertempuran melawan Arjuna.


Rajamala
RAJAMALA adalah putra angkat Resi Palasara, dari padepokan Retawu
dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara Wirata. Ia tercipta dari
mala penyakit Dewi Durgandini/Dewi Lara Amis yang tertelan seekor ikan betina. Ia
terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, bernama; Kecaka/Kencakarupa,
Upakeca/Rupakenca, Setatama, Gandawana dan Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati.

Rajamala juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya yaitu : Bagawan
Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawiya,
keduanya putra Dewi Duragandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina.

Rajamala berwatak keras hati, berani, ingin selalu menangnya sendiri dan selalu
menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, tidak bisa mati selama masih terkena air.
Menurut ketentuan dewata, hanya ada lima orang satria yang dapat mengalahkan
dan membunuh Rajamala, yaitu: Resi Bisma, Adipati Karna, Resi
Balarama/Baladewa, Duryudana dan Bima.

Rajamala akhirnya tewas dalam peperangan melawan Bima, yang waktu itu hidup
menyamar dinegara Wirata dengan nama Balawa, sebagai tindakan Rajamala yang
ingin menjamah Salidri nama samaran Dewi Drupadi.

Rarasati
DEWI RARASATI atau Dewi Larasati, konon adalah putri Arya Prabu Rukma yang
setelah naik tahta negara Kumbina bergelar Prabu Bismaka, dengan Ken Sagupi,
seorang swarawati keraton Mandura. Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan
Antagopa, seorang gembala dan tinggal di Kebuyutan
Widarakanda/Widarakandang, Dewi Rarasati dianggap sebagai putri Ken Sagupi
dengan Antagopa.

Dari garis keturunan ayahnya, Arya Prabu Rukma, Dewi Rarasati mempunyai
seorang saudara bernama Dewi Rukmini (istri Prabu Kresna), putri Arya Prabu
Rukma.dengan permaisuri Dewi Rumbini. Sedangkan dari garis keturunan ibuny,
Ken Sagupi, ia mempunyai tiga orang saudara, yaitu : Arya Udawa, putra Ken
Sagupi dengan Arya Basudewa, dan Arya Pragota serta Arya Adimanggala,
keduanya putra Ken Sagupi dengan Arya Ugrasena.

Dewi Rarasati berwatak setia, patuh dan berbakti. Ia memiliki tabiat senang
menyenangkan hati orang lain, sabar, sangat menginsyafi, mengerti dan
menguasai dirinya. Selain pandai dalam mengurus rumah tangga. Dewi Rarasati
juga pandai berolah keparajuritan. Ia mahir menggunakan senjata panah dan keris.

Dewi Rarasati menikah dengan Arjuna dan menjadi isterinya yang pertama. Dari
perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Bambang Sumitra
dan Bratalaras. Ia sangat dekat hubungannya dengan Dewi Sumbadra, istri
pertama Arjuna, karena semasa kecil hidup bersama di Widarakandang.

Retna Kasimpar
DEWI RETNA KASIMPAR adalah putri Prabu Jayaindra, raja negara Tasikmadu
dengan permaisuri Dewi Retnawati. Ia mempunyai saudara lain ibu bernama Dewi
Retnajuwita, putri prabu Jayaindra dengan Dewi Ceklatoma.

Dewi Retna Kasimpar merupakan satu-satunya wanita di dunia yang memiliki gajah
putih dan sekaligus menjadi pawangnya. Gajah putih berpawang wanita/putri ini
pernah menjadi persyaratan Dewi Banowati, putri ketiga Prabu Salya dengan Dewi
Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka, untuk dapat menerima pinangan Prabu
Duryudana, raja negara Astina. Arjuna yang dimintai bantuan oleh keluarga
kurawa, berhasil mendapatkan Dewi Retna Kasimpar dan gajah putihnya, setelah
lebih dulu mengalahkan Prabu Kurandageni, raja negara Tirtakandasan yang ingin
memperistri Dewi Retna Kasimpar.

Dewi Retna Kasimpar kemudian menjadi isteri Arjuna. Dari perkawinan tersebut ia
tidak mempunyai putra.
Rukmarata

BAMBANG RUKMARATA adalah putra bungsu Prabu Salya, raja negara Mandaraka
dengan Permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati, putri tunggal Bagawan Bagaspati dari
pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat orang saudara kandung, yaitu; Dewi
Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati dan Arya Burisrawa.

Rukmarata mempunyai sifat dan perwatakan; halus, tenang, cerdik pandai, hatinya
keras dan sedikit suka usil. Ia tewas di hantam gada Kyai Pecatnyawa oleh Resi
Seta, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata, pada awal perang Bharatayuda
akibat dari keusilannya, memanah Resi Seta dari luar garis pertempuran.

Rukmini

DEWI RUKMINI adalah putri sulung Prabu Bismaka / Arya Prabu Rukma, raja
negara Kumbina dengan permaisuri Dewi Rumbini. Ia mempunyai adik kandung
bernama Arya Rukmana dan saudara lain ibu bernama Dewi Rarasati/Dewi Larasati
putri Arya Prabu Rukma dengan Ken Sagupi seorang swarawati keraton Mandura.

Dewi Rukmini menikah dengan saudara sepupunya, Narayana, putra Prabu


Basudewa raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maerah (Jawa).
Setelah Narayana berhasil merebut negara Dwarawati dari kekuasaan Prabu
Narasinga, dan menobatkan diri sebagai raja Dwarawati bergelar Prabu Sri Bathara
Kresna, Dewi Rukmini diangkat menjadi permaisuri. Dari perkawinan tersebut ia
memperoleh 3 (tiga) orang putra masing-masing bernama: Saranadewa (berwujud
raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari, yang setelah dewasa menjadi isteri
Bambang Irawan, putra Arjuna dengan Dewi Ulupi/Palupi.

Dewi Rukmini berwatak : penuh belas kasih, sabar, setia dan jatmika (selalu
dengan sopan santun). Ia meningal dalam usia lanjut. Setelah Prabu Kresna mati
moksa, ia bersama isteri Prabu Kresna yang lain, terjun ke dalam Pancaka (api
pembakaran jenazah), bela pati menyusul suaminya kembali ke Nirwana.

Rupakenca

RUPAKENCA atau Upakenca (Mahabharta) adalah putra angkat Resi Palasara, dari
padepokan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara
Wirata. Ia tercipta dari kemudi perahu yang pecah terbentur batu besar, yang
digunakan Resi Palasara dan Dewi Durgandini menyeberangi sungai Gangga.
Rupakenca terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, bernama; Rajamala,
Kencaka/Kencakarupa, Setatama, Gandawanadan Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati.

Rupakenca juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya, bernama; Bagawan
Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawirya,
keduanya putra Dewi Durgandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina.
Rupakenca berwatak tinggi hati, sombong, keras kepala dan mau menangnya
sendiri. Sangat sakti dan mahir dalam olah keprajuritan mempergunakan senjata
gada dan lembing.

Akhir riwayatnya diceritakan, Rupakenca tewas dalam peperangan melawan


Bilawa/Bima karena bersama saudaranya Kencakarupa, Setatama dan Gandawana
melakukan pemberontakan untuk mengulingkan kekuasaan raja Wirata, Prabu
Matswapati.

Sadewa

SAHADEWA atau Sadewa yang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama
Tangsen (=buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan
dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima/bungsu Prabu Pandudewanata, raja
negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan
Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula.
Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan
Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan
Arjuna.

Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib. Ia sangat mahir dalam ilmu
kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir
menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga
memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang
berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa.

Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan
dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu,
wilayah negara Amarta. Sahadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi
Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang
tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal
sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia
memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa).

Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina


mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan,
Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya