Anda di halaman 1dari 3

Fundamentalisme Agama, Reproduksi dan Seksualitas

MG Romli*

Apa pengaruh fundamentalisme agama terhadap isu-isu kemanusian kontemporer yang


selama ini dikenal masuk dalam wilayah tabu seperti aborsi, kekerasan terhadap
perempuan, prostitusi anak, HIV/AIDS dan Narkoba? Jawaban dari agama mudah kita
tebak; “Semuanya haram, titik!” Selama ini agama memang dianggap melihat persoalan
masyarakat secara simplifikatif, hitam-putih dan halal-haram. Agama seperti menutup
mata dan telinga, tidak mau melihat dan mendengar kenyataan. Karena agama adalah
“barang” suci yang harus dijauhkan dari persoalan-persolan “najis” tersebut.

Kesan-kesan seperti di atas sangat terasa ketika saya mengikuti Workshop Nasional
bertema Fundamentalisme Agama dan Dampaknya terhadap Isu-Isu Penting Kesehatan
Reproduksi dan Seksualitas yang diselenggarakan oleh Ford Foundition (FF) Senin, 25
Agustus 2003 di Aula FKUI Jakarta. Hadir sebagai pembicara Dr. Zubairi Djoerban,
Prof. Jurnalis Uddin (YARSI), Zuhairi Misrawi (P3M), Lily Zakiyah Munir (CePDeS),
Ninuk Widyantoro, Rita Serena, Sri Wahyuningsih, dan Joice Djaelani. Acara ini juga
merupakan ajang sosialisasi hasil Penelitian dan Dialog Selatan-Selatan; Indonesia dan
Amerika Latin joint grant FF Jakarta Indonesia dengan FF Santiago Cile.

Wajar, tema workshop ini sangat menarik dan kontroversial, karena mencoba membahas
dua tema yang pada prinsipnya berlawanan. Tidak heran kalau ada komentar minor dari
sebagian peserta bahwa tema di atas tidak “nyambung”. Atau ada yang berkomentar dari
utusan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) acara di atas hanya untuk memojokkan Islam(?).
Karena—mengutip kesan seorang peserta utusan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia)
—tidak ada fundamentalisme agama dalam Islam (?)

Namun menurut saya pribadi pembahasan dampak fundamentalisme agama terhadap isu-
isu kemanusia sangat penting karena beberapa sebab. Pertama, fundamentalisme agama
merupakan fenomena paling menarik dan mengejutkan sejak akhir abad XXI. Fenomena
itu bukan sekadar pada tataran wacana saja namun sudah pada tataran aksi-aksi seperti
membunuh dokter dan perawat dalam klinik aborsi, menembaki jamaah yang sedang salat
di masjid, membunuh presiden, bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat
(Karen Armstrong, 2002: IX). Dan sejak peristiwa 11 September 2001 fundamentalisme
agama menjadi isu global karena dituding di balik gerakan terorisme internasional.

Kedua, mencoba mendefinsikan kembali visi dan sikap keberagamaan yang selama ini
dikuasasi eksklusifisme, fundamentalisme, dan ekstrimisme. Sehingga agama dituduh
sebagai “penghambat” modernisme dan tidak bisa berdialog dengan isu-isu kontemporer.

Kita bisa mencermati isu-isu keislamaan saat ini tidak lebih realitas sosial dan budaya
seribu empat ratus dua puluh empat tahun yang silam. Tema-tema yang dulu pernah
direspon, dijawab dan diabadikan dalam teks-teks Al-Quran. Sehingga tidak
mengherankan kalau Prof Abu Zayd berpendapat bahwa Al-Quran adalah produk budaya
dan sosial.
Pada zamannya, Al-Quran sangat iklusif dan dialogis menjawab pertanyaan-pertanyaan
konteks. Saat ini, saya kira sudah tiba waktunya mengembalikan kembali karakter orisinil
Al-Quran ini, berdialog dan meramahi realita.

Dahulu, Al-Quran “ditanya” dengan pertanyaan-pertanyaan, mereka bertanya kepadamu


(Muhammad) tentang harta rampasan perang (al-anfâl),…tentang darah haid (al-
mahîdl),…tentang minuman keras dan judi (al-khamr wal-maisîr dll. Saat ini Al-Quran
tetap “ditanya” dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda jauh seperti, mereka
bertanya padamu tentang aborsi, tentang penderita HIV/AIDS, tentang terorisme,
tentang KKN, tentang prostitusi anak, tentang demokrasi dst. Dalam posisi ini agama
dituntut untuk tidak hanya mengurusi ruang privat tapi juga ruang publik. Agama tidak
lagi berpusat pada masalah-masalah ketuhanan (teosentris) tapi diharapkan memusatkan
diri pada masalah-masalah kemanusiaan (antroposentris).

Tipologi Fundamentalisme Agama


Perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa fenomena fundamenlisme muncul di seluruh
agama-agama di dunia, baik itu agama semitik Yahudi, Kristen dan Islam, ataupun
agama-agama lain di dunia, fundamentalisme Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Sinto, dll.
Bahkan Roger Garaudy menyebut terdapat fundamentalisme lain di luar agama, seperti
fundamentalisme sains, fundamentalisme zionisme (ideologi politik) dan
fundamentalisme Vatikan (politik gereja Roma). Fundamentalisme-fundamentalisme di
atas memiliki common platform orientasi masa lalu (konservatif), tertutup (eksklusif),
tidak menerima perubahan (status quo), dan fanatis (Garaudy: 2000).

Sedangkan menurut filosuf Mesir Morad Wahbah gejala fundamentalisme muncul


pertama kali dalam agama Kristen sebagai reaksi revolusi Perancis 1789 dan menggejala
di seluruh agama-agama di dunia sejak abad XX sebagai reaksi modernisme di abad XIX.
(Morad: 1999).

Sedangkan tipologi fundamentalisme Islam menurut Muhammad Said Al-Asymawi ada


dua. Pertama, fundamentalisme pemikiran (al-ushûliyah al-‘aqliyah) atau
fundamentalisme spiritual (al-ushûliyah al-rûhiyah). Kelompok ini berorientasi
memahami dasar-dasar Islam sesuai dengan pemahaman klasik seperti pada saat Islam
diturunkan. Kedua, fundamentalisme gerakan (al-ushûliyah al-harakiyah) atau
fundamentalisme politik (al-ushuliyah al-siyâsiyah). Kelompok ini menggunakan agama
sebagai kendaraan politik, isu syariat sebagai kampanye partai, dan Islam sebagai agama
perang tanpa mau bersusah-susah merumus ulang paradigma keislamaan.

Dampak Fundamentalisme Agama


Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam juga tidak lepas dari
pengaruh fenomena fundamentalisme agama. Menurut laporan Majalah Panjimas edisi
Islam Radikal No. 06/1 13-25 Desember 2002 terdapat aktivis-aktivis gerakan radikal di
Indonesia seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majlis
Mujahidin Indonesia (MMI) Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI),
Ikhwanul Muslimin (IM), dan Gerakan Tarbiyah.
Zuhairi Misrawi pemikir muda NU yang kontroversial perlu membagi femomena
fundamentalisme Islam di Indonesia menjadi empat vairan. Pertama, fundamentalisem
literal yaitu mereka yang memahami Islam secara literal dan tekstual. Kedua,
fundamentalisme moderat yaitu mereka akrab dengan produk-produk dan pendidikan
modern tapi berpikir fundamentalis. Ketiga, fundamentalisme radikal yaitu gerakan
fundamentalisme yang membenarkan tindak kekerasan. Keempat, fundamentalisme
politik yaitu kaum fundamentalisme Islam yang menjadikan agama sebagai kampanye-
kampanye partai politik (Zuhairi Misrawi: 2003).

Secara paradigmatik, fundamentalisme Islam ini diusung oleh aktivis-aktivis dakwah


yang kerap sekali mengkafirkan, mengecam dan mengutuk pemikir Islam lainnya. Seperti
Adian Husaini yang mengatakan bahwa pluralisme sama dengan singkritisme yang
melecehkan agama. Fauzan al-Anshary yang kerap menggunakan senjata “menghina
Islam dan Rasulullah”. Hartono A. Jaiz yang menulis HAM bertentangan dengan Islam
ataupun Sumargono yang menulis buku Saya Seorang Fundamentalis.

Fundamentalisme Islam di Indonesia semakin menemukan bentuknya ketika muncul


tindakan terorisme sejak bom Legian Bali hingga bom Mariot Jakarta. Ataupun
penerapan syariat Islam di Nanggoroe Aceh Darusalam (NAD) sejak tahun lalu.
Fundamentalisme Islam juga menggunakan parpol-parpol agama (PPP, PKS, dan PBB)
yang terus mengusung tema penerapan syariat Islam dan piagam Jakarta.

Sedangkan di Amerika Latin dampak fundamentalisme agama dikukuhkan melalui


hegemoni gereja Katolik tanpa harus masuk ke partai politik. Tekanan-tekanan
fundamentalisme agama ini melalui LSM-LSM gereja seperti Opus dei (Chile) dan
Legionary of Crist (Chile dan Columbia). Sehingga fundamentalisme agama ini
menentang segala bentuk praktik-praktik kesehatan seksual/reproduksi, dan jender.
Seperti menentang abosi apapun alasannya, menentang pendidikan seks, menentang alat-
alat kontrasepsi modern, dll (Jurnalis Udin: 2003).

Menghadapi gejala fundamentalisme agama yang semakin merajalela, maka sudah


saatnya kita mengembalikan agama pada watak aslinya, sebagai agama dialogis dan
iklusif yang bisa merespon isu-isu zamannya. Agama bukan lagi sebagai wahana
labelisasi halal dan haram. Namun agama yang santun, dan akrab dengan masalah-
masalah kemanusiaan.

*Mahasiswa Ushuludin Universitas Al-Azhar dan Peneliti di Perhimpunan


Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta