Anda di halaman 1dari 45

Ffffffffffffffffffffffffffffff

Jjjj ................................................................................................................................ .

...

BAB II

LANDASAN TEORI

Kegiatan belajar Bahasa Inggris di sekolah membutuhkan perhatian yang serius baik oleh siswa maupun orang tua siswa. Hasil belajar bahasa Inggris siswa akan sangat berhubungan dengan keterlibatan orang tua dalam memberikan motivasi dalam kegiatan belajar Bahasa Inggris anak- anaknya. Pengetahuan dan pemahaman orang tua akan pentingnya motivasi juga berhubungan erat dengan tingkat pendidikan orang tua setiap siswa. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua siswa maka ada kecenderungan akan semakin tinggi pula hasil belajar siswa, dalam hal ini hasil belajar bahasa Inggris siswa. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang lebih yang diperoleh melalui suatu proses belajar yang lebih lama dan lebih tinggi, selain itu orang tua yang berpendidikan tinggi akan cenderung lebih mempunyai perhatian yang lebih terhadap pendidikan dibandingkan dengan orang tua yang berpendidikan menengah atau rendah. Selain itu orang tua yang berpendidikan tinggi akan cenderung lebih mempunyai perhatian yang lebih terhadap pendidikan Pemahaman dan pengetahuan tentang motivasi belajar kepada anak akan sangat berhubungan dengan hasil belajar bahasa Inggrisnya di sekolah sehingga hasil belajar anak menjadi sesuai dengan yang diharapkan, baik

oleh pihak orang tua maupun pihak sekolah. Oleh karena itu, Penulis melakukan penelitian terhadap siswa SMK Jakarta Raya 1 dan data latar belakang pendidikan masing-masing orang tua siswa dengan hasil belajar bahasa Inggris.

1. Hakikat Motivasi

Manusia sebagai makhluk sosial menggunakan bahasa sebagai sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa berperan sebagai penghubung antarmanusia. Dalam berkomunikasi bahasa digunakan untuk menyampaikan ide, pendapat, keinginan, dan lain-lain.

Dalam berkomunikasi pula manusia menyampaikan berbagai hal tersebut dengan dipengaruhi berbagai situasi dan kondisi pribadi dan lingkungannya. Bahasalah yang membedakan manusia dengan makhluk lain di alam ini. Melalui bahasa pula komunikasi digunakan bukan hanya dengan percakapan atau tulisan tetapi dapat divariasikan dengan menggunakan nyanyian, puisi, atau musik. Hal ini sesuai dengan pendapat Evison (1987:207), ”Language is human communication of knowledge, ideas, etc, using a system of sound

symbol”. Bahasa yang digunakan manusia adalah simbol atau lambang- lambang suara yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) yang digunakan untuk berkomunikasi kepada manusia lain. Sebagai makhluk yang berbudi yang pekerti dan berpikir, manusia mempunyai hasrat dan

keinginan untuk meningkatkan kehidupannya. Manusia menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan dan mengajarkan segala hal yang berhubungan dengan ilmu, ide-ide, dan lainnya sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia. Bahasa mempunyai banyak fungsi di dalam penggunaannya. Bahasa menjadi salah satu alat atau medium yang digunakan manusia sebagai bagian dari kebutuhannya.

Menurut Kunen (1997), ”Language is a tool for doing things in the world, for reproducing as much as changing reality. From perpective, language is the most important tool because it has both semiotic and communicative characterisric. If culture is a product of human interaction, then cultural manifestations are acts of communication that assume and build particular speech communities”.

Bahasa merupakan alat yang yang digunakan manusia untuk melakukan sesuatu di dalam kegiatannya, yaitu melakukan sesuatu untuk memperbaiki hal-hal yang tidak atau kurang sesuai di dalam aktifitasnya. Dari suatu sudut pandang, bahasa menjadi sebuah alat yang sangat berperan penting dalam suatu interaksi di antara manusia, hal ini dikarenakan bahasa mempunyai sifat yang dapat dipahami antar sesama penggunanya serta sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan berbagai macam informasi. Sebagai bagian dari budaya, yang merupakan hasil dari interaksi manusia, maka manifestasi budaya tersebut adalah

sebuah tindakan atau kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat dan pada akhirnya menghasilkan asumsi dan membangun sebuah komunitas yang menggunakan bahasa tertentu. Dalam pengelompokannya, manusia dibagi dalam kelompok ras, bangsa, etnis, suku, dan komunitas. Pada awalnya manusia berinteraksi dengan kelompoknya yang terkecil dengan menggunakan bahasa sama melalui proses kesepakatan berdasarkan ikatan kekerabatan hingga kemudian kepada kelompok yang besar yang berdasarkan budaya.

Seperti dikatakan Kunen (2009), ”Language is Culture and Culture is Language implies that there is a complex homologous relationship between language and culture. One could not really understand another culture without having direct access to its languagebecause of the intimate connection between culture and language. Language is so complexly interwined with culture that language and culture must have evolved together, influencing one another in process and ultimately shaping what it means to be human”.

Bahasa adalah budaya dan budaya adalah bahasa, yang berarti bahwa bahasa tumbuh dan berkembang melalui budaya dan budaya tumbuh dan berklembang melalui bahasa, hal ini terjadi karena adanya hubungan yang

kompleks antara bahasa dengan budaya serta adanya hubungan yang erat di antara keduanya. Hubungan keduanya tersebut dapat diketahui bahwa setiap orang tidak akan bisa memahami atau mempelajari budaya suatu

kelompok masyarakat tanpa memahami bahasa kelompok tersebut, karena adanya antara bahasa dan budaya merupakn suatu kesatuan seperti dua keping mata uang. Bahasa yang dipengaruhi oleh budaya tersebut juga merupakan dua hal yang tumbuh dan berkembang secara bersamaan dan dalam prosesnya pada akhirnya menjadi suatu yang bernilai bagi manusia. Pendapat tersebut diperkuat oleh Tomasow (2002:11) yang mengatakan, ”Language is an outcome or a result of the culture as a

whole and also a vehicle by wich the other aspects of the culture are shaped and communicated”.

Bahasa merupakan sesuatu yang lahir dan berkembang sebagai hasil dari suatu budaya secara keseluruhan. Bahasa juga merupakan sebuah alat yang mentransformasi berbagai aspek dari budaya tersebut yang dalam prosesnya menjadikan sebuah bentuk bahasa yang terjadi melalui komunikasi didalam suatu kelompok masyarakat. Dan sebaliknya, budaya menjembatani pembentukan bahasa yang dalam fungsinya sebagai alat komunikasi didalam suatu kelompok masyarakat. Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa diartikan sebagai lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang wenang dan konfensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Sebagaimana diketahui,bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Bahasa bersifat

sewenang-wenang (arbitrari) yaitu bahasa berlaku pada suatu kelompok masyarakat tertentu saja. Setiap kelompok masyarakat tidak akan mempunyai kesamaan bahasa selama kelompok masyarakat tersebut tidak mempunyai hubungan yang dekat atau kekerabatan serta tidak adanya kesepakatan. Setiap kelompok masyarakat mempunyai kebebasan dalam menggunakan bahasa atau menamakan suatu benda. Masing-masing mempunyai makna , yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakilkan serta dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan, dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk, dan tata kalimat. Agar komunikasi dapat dilakukan, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya sehingga informasi yang dimaksud dapat diterima dengan baik. Menurut Saukah dan Wahyudi (1994:v), ”Bahasa adalah alat untuk menyampaikan gagasan , pikiran, pendapat, dan perasaan”. Kemampuan lebih yang dimiliki manusia dibandingkan makhluk lain adalah karena manusia mempunyai pikiran dan perasaan . Segala hal yang ada dipikiran dan perasaan manusia disampaikan dengan menggunakan bahasa sehingga sesuatu yang ada dipikiran dan perasaan manusia dapat diketahui oleh sesamanya dengan menggunakan bahasa. Hal ini bukan hanya berupa

percakapan saja tetapi dapat divariasikan dengan bentuk puisi , nyanyian, atau lagu yang diiringi oleh alat musik.

2.Hakikat Bahasa Inggris Kegiatan belajar Bahasa Inggris di sekolah membutuhkan perhatian yang serius baik oleh siswa maupun orang tua siswa. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa asing yang diajarkan di sekolah. Selain itu bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional (UAN). Dalam perkembangannya bahasa Inggris menyerap berbagai bahasa.

Menurut pendapat McCarthy (2001:32) , ”English has taken over words from most of the other languages with which it has had contact. It has

taken many expresions from the ancient languages , Latin and Greek , and these borrowings usually have academic or literary asociations”.

Bahasa Inggris menyerap banyak berbagai bahasa. Bahasa Inggris yang digunakan oleh bangsa Eropa yang menggunakan berbagai bahasa , seperti bahasa Perancis , Latin, atau Jerman. Didalam penggunaannya, diantaranya yaitu ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah yang digunakan banyak berasal dari bahasa Inggris kuno, Latin, dan Yunani. Hingga saat ini bahasa-bahasa tersebut masih dipakai sebagai istilah-istilah dalam menamakan sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Seperti

dalam bidang ilmu matematika, biologi, fisika , ilmu bahasa , dan lain- lain. Bahasa Inggris juga bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar

pertama dan menjadi bahasa kedua (Second language) hampir di seluruh negara. Bahasa Inggris menurut Seidlhofer (2005:339), ”In recent years the term ’English as a lingua franca’ (ELF) has emerged as a way of referring to communication in English between speakers with different

first languages . Since roughly only one out of every four users of English in the world is a native speaker of languages”. Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar (lingua franca) yang digunakan bangsa-bangsa didunia sebagai bahasa komunikasi selain bahasa resmi. Karena beragamnya bahasa dari berbagai bangsa dan negara maka komunikasi akan mengalami hambatan karena masing-masing mempunyai bahasa yang berbeda. Oleh karena itu bahasa inggris menjadi sangat penting sehingga komunikasi dapat dilakukan walaupun mempunyai bahasa yang berbeda sehingga tidak sedikit orang yang menguasai bahasa Inggris dan dapat dikatakan bahwa hanya satu dari empat orang yang menggunakan bahasa inggris adalah penutur asli. Pentingnya penguasaan bahasa inggris juga menjadi kebutuhan bagi setiap orang dikarenakan banyak istilah-istilah atau penjelasan, seperti dalam bidang industry, elektronik, atau mesin, sehingga informasi dapat diterima dengan baik.

Dalam penggunaannya, bahasa Inggris juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat dimana bahasa tersebut berasal . Sesuai dengan pendapat Tomasow (2002:11) ,

Since language and culture are bound together , it is not surprising that there are also cultural blind spot , developed as responses to our environment , our culture rewards us for producing certain patterns and ignoring others”. Bahasa dan budaya adalah dua hal yang saling berkaitan. Ketika seseorang belajar atau menggunakan bahasa Inggris, disertai pemahaman dan penggunaan akan budaya dari bahasa tersebut. Mempelajari budaya memang lebih sulit dibandingkan mempelajari bahasanya tanpa berinteraksi langsung dengan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Tidak mengherankan jika banyak para pengguna bahasa Inggris ”buta budaya” sehingga budaya yang digunakan adalah budaya bahasanya sendiri maka pengguna bahasa Inggrisnya menjadi tidak sempurna. Para penutur asli (native speaker) biasanya akan menghargai hal-hal yang mengandung bentuk budaya baru tertentu dan mengabaikan bentuk budaya baru lainnya. Pendapat tersebut juga didukung oleh Seidlhofer(2005) yang mengatakan, ”English as an international language are also used. Despite being welcomed by some and deplored by other, it cannot be denied that English

functions as a global lingua franca, however, what has so far tended to denied is that, as a consequence if its international use, English is being shaped at least as much by its non-native speakers as by its native speakers”. Sebagai bahasa komunikasi dunia, bahasa Inggris digunakan oleh berbagai bangsa yang sudah tentu meliputi beragam budaya. Sehingga dalam perkembangannya bahasa Inggris melebur dengan budaya bangsa lain yang pada penggunaannya disesuaikan dengan budaya si pengguna. Bahasa Inggris kemudian tidak lagi seperti bahasa yang digunakan penutur asli atau seperti ditempat asalnya. Tidak dapat disangkal jika banyak terjadi hal demikian sebagai konsekuensi bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dengan budaya dan begitu juga sebaliknya, budaya tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Pada akhirnya bahasa Inggris mempunyai banyak beragam karena terbentuk lebih banyak dari bukan penutur asli dibandingkan oleh penutur asli. Selain itu keragaman dialek atau aksen dalam bahasa Inggris yang bergantung kepada dialek bahasa si pengguna.

  • 3. Hakikat Motivasi

Motivasi pada hakikatnya merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas belajar dan hasil belajar siswa. Dalam proses pembelajaran, motivasi

merupakan faktor yang sangat penting, dimana motivasi merupakan daya

penggerak yang menimbulkan tercapainya tujuan yang diharapkan, serta berpengaruh terhadap kesungguhan siswa dalam belajar. Disamping itu, ada juga fungsi-fungsi lain seperti mendorong usaha dan pencapaian prestasi. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar siswa. Keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar sementara didorong oleh upaya untuk memenuhi keinginan yang dimiliki oleh siswa dalam belajar dan bervariasi tingkatannya. Keinginan- keinginan siswa tersebut merupakan stimulan dari motivasi yang dimiliki. Istilah motivasi banyak dugunakan dalam berbagai bidang dan situasi, namun dalam tulisan ini lebih diarahkan pada motivasi dalam bidang pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang ditetapkan dalam kegiatan belajar, jadi motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Tujuan-tujuan pembelajaran akan dengan mudah dicapai apabila peserta didik termotivasi. Motivasi sebagai sebuah keadaan internal yang mendorong untuk melakukan tindakan, mendorong pada arah tertentu serta membuat siswa tetap bertahan dalam melakukan kegiatan belajar. Mengingat pentingnya faktor motivasi ini maka setiap pihak yang terlibat dalam aktivitas belajar siswa, yaitu orang tua dan guru, harus berusaha memperhatikan dan mencari cara untuk

menumbuhkan, menjaga, serta mengarahkan motivasi tersebut agar peserta

didik dapat meraih prestasi optimal. Menurut pendapat Romando (2005), “The word motivation is coined from the Latin word "movere", which means to move. Motivation is defined as an internal drive that activates behavior and gives it direction. The term

motivation theory is concerned with the processes that describe why and how human behavior is activated and directed. It is regarded as one of the most important areas of study in the field of organizational behavior”. Motivasi berasal dari kata “movere”, yang diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertujuan untuk

memenuhi kebutuhannya

Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak

.. dari dalam, dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

demi mencapai suatu tujuan berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan bagian dari kebutuhan hidup, karena seseorang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya harus berusaha agar kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi. Artinya bahwa motivasi merupakan unsur penentu yang mempengaruhi perilaku siswa dan merupakan daya penggerak aktif yang terjadi dalamk kegiatan belajarnya untuk tujuan tertentu. Dengan kata lain, motivasi merupakan jawaban atau tanggapan terhadap tujuan, dimana motivasi merupakan serangkaian kegiatan belajar untuk memahami dan mendapatkan pengetahuan, sehingga siswa berkeinginan untuk melakukan suatu aktivitas belajar untuk mencapai tujuan

tersebut yang merupakan kepentingan baginya. Motivasi penting dalam menetukan seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.

McClelland (1999) dalam hal ini mengatakan, “most people possess and exhibit a combination of these characteristics. Some people exhibit a strong bias to a particular motivational need, and this motivational or needs 'mix' consequently affects their behaviour and working/managing style”.

Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku. Perilaku merupakan fungsi dari faktor personal dan faktor lingkungan dalam pengertian bahwa perilaku itu timbul karena adanya dorongan faktor internal dan kekuatan faktor eksternal. Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi/memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan

kebutuhan untuk pelajaran. Kebutuhan anak akan motivasi bisa juga disebut dengan motivasi kebutuhan. Motivasi yang menurut para ahli terbagi menjadi intrinsic motivation dan extrinsic motivation. Brandt mengatakan (1995), “Intrinsic motivation

occurs when the learning activity and the learning environment elicit motivation in the student. We do not motivate students but rather create, through our teaching, opportunities that can evoke motivation in students. In situations where the students believe their perspectives are valid and their rights are equal to the person distributing the rewards or punishment, there is often the formation of "power-relationships” with a high probability of subversion, conflict, and/or resentment”.

Terdapat dua faktor yang membuat siswa dapat termotivasi untuk belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Motivasi internal terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan. Motivasi tidak diberikan kepada siswa tetapi diciptakan. Motivasi intrinsik atau motivasi internal tersebut yang timbul atau berasal dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiriitu juga merupakan bagian dari sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang. Sedangkan motivasi eksternal yaitu berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang siswa tersebut. Motivasi ekstrinsik atau motivasi eksternal tersebut muncul

dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi. Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Dapat dikatakan faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang serta turut menentukan perilaku dalam kehidupan seseorang. Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila siswa tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu agar siswa mengetahui dan menginginkan semangat untuk belajar. Sesuai dengan yang dikatakan Hinrichs (2001),

For students to be motivated in their studies, they need to know that what they are studying is indeed of real significance. They need to know that they are not being feed some new-sprung agenda or half-baked innovation that

will simply go the way of the faddish educational chaff that, once having gleaned its profits, goes to the winds never to be seen or thought of again. Students need to know that they are being feed the best that our civilization has to offer- that they are studying something that is much, much larger than themselves”.

Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran. Motivasi merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Dalam upaya itu, setiap motivasi membutuhkan proses, sehingga transformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku yang diberikan kepada anak didik dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. karena rasa ingin tahu dari siswa, maka siswa akan berusaha untuk mencari tahu. Sikap ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dilakukan. Setelah mencari tahu, maka siswa akan berusaha untuk mendapatkan kepastian/kebenarannya. Sikap ini muncul sebagai jawaban dari keingin tahuan siswa dan merasa yakin akan langkah yang diambilnya. Dari mencari tahu menjadi tahu kemudian siswa kan berusaha mengarahkan langkah apa yang diambil dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu pembelajaran merupakan

suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran tersebut.

4. Hakikat Tingkat Pendidikan Orang Tua

Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Adapun eksistensi orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama dalam meletakkan dasar pendidikan terhadap anak. Di dalam pendidikan keluarga, orang tua sangatlah berpengaruh terhadap pendidikan anaknya selepas dari waktu sekolah, berkewajiban untuk membina anak-anaknya. Selain itu, pengaruh tingkat pendidikan orang tua merupakan faktor yang utama dalam masalah ini karena masalah tersebut yaitu masalah pendidikan orang tua selain membawa dampak positif pada dirinya, keluarganya, juga terhadap alam sekitarnya. Tingginya tingkat pendidikan orang tua berarti juga kesejahteraan orang tua dan keluarganya relatif tinggi atau sejahtera, demikian juga masalah lain seperti pendidikan anak-anak mereka. Sebagai contoh, dalam rangka mengikuti suatu mata pelajaran disekolah dalam bidang studi tertentu bagi peserta didik memerlukan bantuan, baik yang berkaitan

dengan fasilitas maupun kemampuan yang dimiliki keluarga atau orang tua, sehingga kurangnya perhatian dari orang tua maka prestasi belajar anak semakin menurun. Dalam hal ini bagi orang tua dalam mendidik anak harus diperhatikan keperluan-keperluan yang menyangkut tentang kebutuhan anak, seperti : buku-buku pelajaran dan lain-lainnya. Sebab tanpa adanya perhatian ataupun dorongan dari orang tua tentu bagi para siswa hanya suka bermain dari pada belajar. Tetapi dalam sisi lain harus diperhatikan apakah bagi orang tua tersebut mengetahui dan memahami perlunya pendidikan bagi anak, karena bagi orang tua yang mempunyai pendidikan rendah akan sangat enggan atau berat untuk mengeluarkan biaya demi keperluan pendidikan dan masa depan anak. Lebih dari separuh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas pendidikan anak sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua mampu untuk membiayai sarana belajar. Ada sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi,

Menurut Walker dan Smrekar (2003), “Traditionally, family status variables such as parents' level of education have been regarded as predictors of children's academic achievement. Increasingly, research has suggested that, rather than having a direct association with children's academic achievement, parents' level of education is part of a larger constellation of psychological and sociological variables influencing children's school outcomes”.

Pada umumnya, pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar sisiwa menjadi indikator terhadap prestasi dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, di dalam pendidikan keluarga, orang tua sangatlah berpengaruh terhadap pendidikan anaknya selepas dari waktu sekolah, berkewajiban untuk membina anak-anaknya. Bagi orang tua yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi atau memiliki pengetahuan tentang pendidikan akan selalu memperhatikan hasil belajar yang dicapai oleh anaknya di sekolah dengan memberikan motivasi, seperti membantu anak dalam mengatasi kesulitan atau masalah belajar di sekolah. Sebaliknya jika tingkat pendidikan orang tua rendah, kegiatan belajar anaknya di sekolah kurang di perhatikan. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua tersebut dalam membantu kegiatan belajar anak. Kedua hal tersebut bisa terjadi karena hubungan orang tua dengan anak-anaknya tidak atau bahkan kurang berjalan dengan baik. Anak juga akan mempunyai rasa percaya diri yang cukup tinggi

dalam hubungan sosialnya yang akhirnya dapat lebih membantu kegiatan belajarnya. Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan orang tua sangat menentukan tercapainya tujuan pembelajaran.

Sesuai dengan pendapat Markey (2007) yang mengatakan, “parent's college degree can impact a child's world today. It can be said

and has been stated that there is a direct correlation between a parent's level of education and the IQ of a child.”.

Orang tua yang berpendidikan perguruan tinggi akan berpengaruh terhadap anak-anaknya. Adanya pernyataan bahwa ada korelasi yang kuat antara tingkat pendidikan orang tua dengan IQ (Intellegence Quotient) anak. Hal ini dikarenakan, seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang melahirkan kecerdasan akan mempengaruhi kinerja otaknya di dalam tubuh secara permanen. Pengaruh tersebut secara biologis akan diturunkan kepada anak-anaknnya. Berdasarkan hal tersebut di atas bahwa pendidikanpun dapat ditanamkan bukan hanya melalui interaksi antara pendidik dan objek didik tetapi dapat dilakukan melalui proses terhadap diri sendiri. Senada dengan pendapat Emanghe (2007) yang mengatakan bahwa,

“In other words, parents that are intelligent academicians well educated and professionals provide their children with a favourable environment to motivate or encourage them to develop similar interest and perform well in their parent’s subjects areas”.

Orang tua yang yang mempunyai intelektual perguruan tinggi yang baik dan profesional akan menyiapkan pendidikan anak-anaknya dengan lingkungan keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini, penyediaan sarana dan prasarana belajar bagi anak dapat membangkitkan motivasi. Selain itu lingkungan keluarga yang kondusif juga menjadi bagian terpenting dalam memotivasi belajar anak. Untuk menciptakan kondisi tersebut, pengetahuan dan pemahaman orang tua akan pendidikan sangat menentukan. Orang tua yang berpendidikan perguruan tinggi akan cenderung dapat menciptakan kondisi yang demikian. Kondisi tersebut akan dapat memotivasi anak untuk mempunyai minat yang sama dengan orang tuanya terhadap pendidikan. Minat tersebut diantaranya adalah anak memberikan penghargaan yang tinggi terhadap pendidikan dan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

II. Kerangka Berpikir

Prestasi belajar yang diperoleh seorang peserta didik dapat menjadi tolak ukur tentang sejauh mana keberhasilan usahanya dalam belajar. Dengan kata lain bahwa prestasi belajar yang tinggi dan memuaskan dari seorang peserta didik merupakan suatu indikator bahwa ia telah berhasil dengan baik menguasai sejumlah pengetahuan atau materi yang diberikan guru dari suatu kegiatan pembelajaran di sekolah. Sebaliknya, jika prestasi yang diperoleh seorang peserta didik rendah atau kurang memuaskan maka dapat dikatakan

ia belum dapat menguasai sejumlah pengetahuan yang diberikan guru dari suatu kegiatan belajar di sekolah.

Untuk dapat memperoleh prestasi yang baik dalam belajar, seorang peserta didik tentunya harus melakukan aktivitas belajar yang maksimal, baik di sekolah maupun di rumah. Dalam melakukan aktivitas belajar tersebut, segala bentuk perhatian dari orang tua sangatlah dibutuhkan peserta didik. Karena perhatian orang tua terhadap belajar peserta didik akan dapat menjadi pendorong atau motivasi baginya untuk giat belajar dan mencapai prestasi yang maksimal. Lain halnya bagi peserta didik kurang mendapat motivasi dari orang tuanya, tentunya akan memiliki motivasi belajar yang rendah dan akhirnya berpengaruh pada pencapaian prestasi yang rendah pula. Perhatian orang tua di sini adalah motivasi yang diberikan kepada anak dan berkaitan dengan tingkat pendidikan orang tua. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua maka akan tinggi pula pengetahuan dan pemahamannya terhadap berbagai bidang ilmu. Selain itu, apresiasi atau penghargaan terhadap pendidikan akan menjadi teladan bagi anak dalam menghargai pendidikan tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua terhadap anak akan memberi pengaruh besar dalam keberhasilan belajar anak-anaknya, karena kesulitan dan masalah belajar anak dapt teratasi dengan bantuan dan bimbingan orang tua. Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar

yang dimaksud adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu dalam mencapai suatu tujuan. Dalam penelitian ini, motivasi belajar lebih difokuskan pada mata pelajaran bahasa Inggris. Semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman bahasa Inggris yang dimiliki orang tua maka akan tinggi pula pengetahuan dan pemahaman bahasa Inggris anak sehingga ada korelasi antara tingkat pendidikan orang tua dengan motivasi belajar bahasa Inggris anak.

E. Hipotesis

Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu tingkat pendidikan

orang tua sebagai variabel bebas (Independent Variabel), dan motivasi belajar bahasa Inggris siswa SMK Jakarta Raya 1, Jakarta sebagai variabel terikat (Dependent Variabel). Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka hipotesis yang dikemukakan adalah:

Ha : Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan motivasi belajar bahasa Inggris siswa SMK Jakarta Raya 1, Jakarta.

Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan hasil belajar bahasa Inggris siswa SMK Jakarta Raya 1, Jakarta.

<a href=JOURNAL OF RESEARCH IN NATIONAL DEVELOPMENT VOLUME 5 NO 2, DECEMBER, 2007 RENTS’ EDUCATION AND STUDENTS’ PERFORMANCE IN EDUCATIONAL STATISTICS AT FEDERAL CAPITAL TERRITORY ABUJA, NIGERIA Dr C.N. Ozurumba Department of Educational Foundations, Niger Delta University, Wilberforce Island A.E Briggs Department of Secretarial Administation, Rivers State University of Science and Technology, Port Harcourt and Drs V.O. Ebuara and E.E. Emanghe Department of Educational Administration and Planning, University of Calabar, Calabar Abstract Education has been recognized as the greatest investment that any nation can make for the quick development of its human and material resources (NPE, 2004). The realization of this, perhaps, acted as an impetus in the effort of parents towards education of their ward. This paper critically examined the influence of parental level of education on the performance of their children in educational statistics at a higher level of education. The population consist of all higher education students studying education statistics and resident at the FederalCapitalTerritory (FCT) Abuja, Nigeria. The sample involved in this study was 250 students randomly selected. A 47 item-questionnaire was used as instrument for data collection. Oral interview and practical observation were made as complementary tools. One null hypothesis was formulated and tested using independent t-test analysis. The result 26 " id="pdf-obj-25-2" src="pdf-obj-25-2.jpg">

RENTS’ EDUCATION AND STUDENTS’ PERFORMANCE IN EDUCATIONAL STATISTICS AT FEDERAL CAPITAL TERRITORY ABUJA, NIGERIA

Dr C.N. Ozurumba Department of Educational Foundations, Niger Delta University, Wilberforce Island

A.E Briggs Department of Secretarial Administation, Rivers State University of Science and Technology, Port Harcourt

and Drs V.O. Ebuara and E.E. Emanghe Department of Educational Administration and Planning, University of Calabar, Calabar

Abstract

Education has been recognized as the greatest investment that any nation can make for the quick development of its human and material resources (NPE, 2004). The realization of this, perhaps, acted as an impetus in the effort of parents towards education of their ward. This paper critically examined the influence of parental level of education on the performance of their children in educational statistics at a higher level of education. The population consist of all higher education students studying education statistics and resident at the FederalCapitalTerritory (FCT) Abuja, Nigeria. The sample involved in this study was 250 students randomly selected. A 47 item-questionnaire was used as instrument for data collection. Oral interview and practical observation were made as complementary tools. One null hypothesis was formulated and tested using independent t-test analysis. The result

showed that, though parents level of education affects children’s academic performance, other variables such as school environment, facilities are also important. On this conclusion it was recommended that: (i) Parents should provide needs for their children on time at home and school. (ii) Government and school managers should assist in the education of children by providing necessary facilities and employ qualified teachers. Keywords: performance; parents; students; educational

Introduction In recent times there has been an attitude behaviour formation, modification and crises over the deplorable level of academic performance of students in both internal and external examinations in pure sciences and statistics subjects across the Federal Capital Territory in all higher educational institutions. Parents, professionals, academicians and concerned social critics alike claimed that students are not learning as much and fast as expected city dwellers. Some complained that it is embarrassing to notice a child leaving primary and secondary schools to higher institutions like the universities and colleges of education and cannot communicate effectively skills learnt, to a reasonable degree of proficiency and effectiveness. It has been investigated and assumed that the level of parent education affects the academic performance of the child in school. In other words, parents that are intelligent academicians well educated and professionals provide their children with a favourable environment to motivate or encourage them to develop similar interest and perform well in their parent’s subjects areas. Valencia and Renald (1991) also observed that the level of parent education is related to English test of children. From their study, they concluded that parents who are relatively higher in levels of education tend to transmit to their children more culture of the academic they acquired than parents who are illiterates or semi-illiterate. The investigation further revealed that parents positive values attach to education is a function of their educational achievement. In a study of educational achievement of institutions of learning of education and uneducated homes in western Nigeria, Ogunlade (1995) opined that children of illiterate homes perform worse than their counterparts from the education homes. students from this home also study and concentrate in the class a lot more than the former. Wilton (1975) confirmed the significant relationship between educational background and academic performance, Bamisaiye and Williams (1971) supported the observations on two of the family background, the elite and traditional household, that the family set up affect the child degree of verbal behaviours, their instruction attitudes, and communication which in turn affects the child academic performance in several courses. Entwisted and Nisbet (1977), on the child study attributed academic performance at school to the parents attitudes and their level of educational attainment children from the parents who have high interest in science subjects tend to imbibe some attitude towards parental professional occupational subjects which affects their academic performance. Smart (1992) has concluded that in most homes today it is apparent that parents educational level correlate positively with their academic performance of their children, for better educated parents are more likely to give their children practice in their school subjects at home, go to school to find out their progress report and assignment records and function as achievement models. Good and Brophy (1997) also stressed that educated parents usually show interest in their children’s academic performance, choose subjects, meet and collaborate with administrators of higher institutions to ensure their children’s rate of seriousness in their studies. Durojaiye (1997) has established that when variables such as income, occupation and neighbourhood, which do correlate with child academic skill development, and held constant psychological variables are important. This involves parents responsibilities to present to their children pictures, narrate stories and provide them with playing facilities as well as sending them to better schools. The investigation indicated that the students whose parents gave incentives if they are successful had high achievement scores. Some researchers like Waston (1985), Hawkes (1995), have confirmed that students academic performance in most cases do not necessarily depend on

parental enlightenment or professional competence/ occupation nor educational attainment. Generally however, parents are aware of the determining nature and effect of educational qualification in the present society, so most of them work out modalities on how to manipulate educational system of their children so as to achieve their set goals and objectives.

Statement of the Problem poor academic performance amongst Federal Capital Territory students of higher education in all the subjects offered has constituted a serious problem and has become a cause for concern to most parents in different ways. The internal and external examination results of educational statistics in the period between 2000 and 2005 made parents anxious to know the performance of their children even when results were not released. It frustrates both the students and their teachers. Students become frustrated because they cannot cope with their final examinations to meet their proposed career. Government and school heads have been unable to provide adequate solution to the students poor academic performance. parents have been partly blamed for failing to lay the right foundation in their children, through informal education. This problem has contributed to a loss of reputation by affected higher institutions of learning in the area.

Purpose of the Study The purpose of this study was to critically ascertain the influence of parental level of education on academic performance of students in the Federal Capital Territory, Abuja. The paper hope to find out whether there was any relationship between parents academic background and children academic performance.

Research Hypothesis The following hypothesis was formulated to guide the study, Ho1, There is no significant influence of parents level of education on the academic performance of students in educational statistics.

Methodology The area covered by this study was the Federal Capital Territory Abuja, Nigeria. The research design adopted in this study was descriptive survey design. The design enable the researchers to gather existing data at appropriated time for the study. The population of this study comprised one thousand (1000) students of higher educational institutions in Abuja metropolis. The sample involved in the study was 250 which was randomly selected.

Data Collection Procedure The Data for the study was collected through the use of questionnaire, interview and direct observation of the subjects. A 47 item questionnaire was administered under the researchers close supervision and assistance where necessary. A total of two hundred and fifty (250) students filled the questionnaire independently with honesty. Interview and personal observations were also used as method of collecting data to supplement the information gathered through the questionnaire. The researchers were able to observed academic performance of the students through their responses in the oral interview.

<a href=areas of study in the field of organizational behavior. There are two different categories of motivation theories such as content theories, and process theories. Even though there are different motivation theories, none of them are universally accepted.HOME :: Self- Improvement / Motivation Also known as need theory, the content theory of motivation mainly focuses on the internal factors that energize and direct human behavior. Maslow's hierarchy of needs, Alderfer's ERG theory, Herzeberg's motivator-hygiene theory (Herzeberg's dual factors theory), and McClelland's learned needs or three-needs theory are some of the major content theories. Of the different types of content theories, the most famous content theory is Abraham Maslow's hierarchy of human needs. Maslow introduced five levels of basic needs through his theory. Basic needs are categorized as physiological needs, safety and security needs, needs of love, needs for self esteem and needs for self-actualization. Just like Maslow's hierarchy of needs, ERG theory explains existence, relatedness, and growth needs. Through dual factors theory, Herzeberg describes certain factors in the workplace which result in job satisfaction. McClelland's learned needs or three-needs theory uses a projective technique called the Thematic Aptitude Test (TAT) so as to evaluate people based on three needs: power, achievement, and affiliation. People with high need of power take action in a way that influences the other's behavior. Another type of motivation theory is process theory. Process theories of motivation provide an opportunity to understand thought processes that influence behavior. The major process theories of motivation include Adams' equity theory, Vroom's expectancy theory, goal-setting theory, and reinforcement theory. Expectancy, instrumentality, and valence are the key concepts explained in the expectancy theory. Goal setting theory suggests that the individuals are motivated to reach set goals. It also requires that the set goals should be specific. Reinforcement theory is concerned with controlling behavior by manipulating its consequences. Motivation provides detailed information on Motivation, Daily Motivation, Employee Motivation, Motivation Posters and more. Motivation is affiliated with Christian Motivational Speakers . Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Richard_Romando Motivation Theory By Richard Romando Article Word Count: 357 [ View Summary ] Comments (0) Ads by Google www.whiteandmaclean.eu/Management / 2005 Searc 29 " id="pdf-obj-28-8" src="pdf-obj-28-8.jpg">

Also known as need theory, the content theory of motivation mainly focuses on the internal factors that energize and direct human behavior. Maslow's hierarchy of needs, Alderfer's ERG theory, Herzeberg's motivator-hygiene theory (Herzeberg's dual factors theory), and McClelland's learned needs or three-needs theory are some of the major content theories.

Of the different types of content theories, the most famous content theory is Abraham Maslow's hierarchy of human needs. Maslow introduced five levels of basic needs through his theory. Basic needs are categorized as physiological needs, safety and security needs, needs of love, needs for self esteem and needs for self-actualization.

Just like Maslow's hierarchy of needs, ERG theory explains existence, relatedness, and growth needs. Through dual factors theory, Herzeberg describes certain factors in the workplace which result in job satisfaction. McClelland's learned needs or three-needs theory uses a projective technique called the Thematic Aptitude Test (TAT) so as to evaluate people based on three needs: power, achievement, and affiliation. People with high need of power take action in a way that influences the other's behavior.

Another type of motivation theory is process theory. Process theories of motivation provide an opportunity to understand thought processes that influence behavior. The major process theories of motivation include Adams' equity theory, Vroom's expectancy theory, goal-setting theory, and reinforcement theory. Expectancy, instrumentality, and valence are the key concepts explained in the expectancy theory. Goal setting theory suggests that the individuals are motivated to reach set goals. It also requires that the set goals should be specific. Reinforcement theory is concerned with controlling behavior by manipulating its consequences.

Motivation provides detailed information on Motivation, Daily Motivation, Employee Motivation, Motivation Posters and more. Motivation is affiliated with Christian Motivational Speakers.

Motivation Theory

By Richard Romando Article Word Count: 357 [View Summary] Comments (0)

Searc
Searc

david mcclelland

david c mcclelland's motivational needs theory

American David Clarence McClelland (1917-98) achieved his doctorate in psychology at Yale in 1941 and became professor at Wesleyan University. He then taught and lectured, including a spell at Harvard from 1956, where with colleagues for twenty years he studied particularly motivation and the achievement need. He began his McBer consultancy in 1963, helping industry assess and train staff, and later taught at Boston University, from 1987 until his death. McClelland is chiefly known for his work on achievement motivation, but his research interests extended to personality and consciousness. David McClelland pioneered workplace motivational thinking, developing achievement-based motivational theory and models, and promoted improvements in employee assessment methods, advocating competency-based assessments and tests, arguing them to be better than traditional IQ and personality-based tests. His ideas have since been widely adopted in many organisations, and relate closely to the theory

David McClelland is most noted for describing three types of motivational need, which he identified in his 1961 book, The Achieving Society:

achievement motivation (n-ach)

authority/power motivation (n-pow)

affiliation motivation (n-affil)

McClelland said that most people possess and exhibit a combination of these characteristics. Some people exhibit a strong bias to a particular motivational need, and this motivational or needs 'mix' consequently affects their behaviour and working/managing style. Mcclelland suggested that a strong n-affil 'affiliation-motivation' undermines a manager's objectivity, because of their need to be liked, and that this affects a manager's decision-making capability. A strong n-pow 'authority-motivation' will produce a determined work ethic and commitment to the organisation, and while n-pow people are attracted to the leadership role, they may not possess the required flexibility and people-centred skills. McClelland argues that n-ach people with strong 'achievement motivation' make the best leaders, although there can be a tendency to demand too much of their staff in the belief that they are all similarly and highly achievement- focused and results driven, which of course most people are not.

McClelland's particular fascination was for achievement motivation, and this laboratory experiment illustrates one aspect of his theory about the affect of achievement on people's motivation. McClelland asserted via this experiment that while most people do not possess a strong achievement-based motivation, those who do, display a consistent behaviour in setting goals:

Volunteers were asked to throw rings over pegs rather like the fairground game; no distance was stipulated, and most people seemed to throw from arbitrary, random distances, sometimes close, sometimes farther away. However a small group of volunteers, whom McClelland suggested were strongly achievement-

motivated, took some care to measure and test distances to produce an ideal challenge - not too easy, and not impossible. Interestingly a parallel exists in biology, known as the 'overload principle', which is commonly applied to fitness and exercising, ie., in order to develop fitness and/or strength the exercise must be sufficiently demanding to increase existing levels, but not so demanding as to cause damage or strain. McClelland identified the same need for a 'balanced challenge' in the approach of achievement-motivated people.

McClelland contrasted achievement-motivated people with gamblers, and dispelled a common pre-conception that n-ach 'achievement-motivated' people are big risk takers. On the contrary - typically, achievement-motivated individuals set goals which they can influence with their effort and ability, and as such the goal is considered to be achievable. This determined results-driven approach is almost invariably present in the character make-up of all successful business people and entrepreneurs.

McClelland suggested other characteristics and attitudes of achievement- motivated people:

achievement is more important than material or financial reward.

achieving the aim or task gives greater personal satisfaction than

receiving praise or recognition.

financial reward is regarded as a measurement of success, not an end in

itself.

security is not prime motivator, nor is status.

feedback is essential, because it enables measurement of success, not

for reasons of praise or recognition (the implication here is that feedback must be reliable, quantifiable and factual).

achievement-motivated people constantly seek improvements and ways

of doing things better.

achievement-motivated people will logically favour jobs and

responsibilities that naturally satisfy their needs, ie offer flexibility and opportunity to set and achieve goals, eg., sales and business management, and entrepreneurial roles.

McClelland firmly believed that achievement-motivated people are generally the ones who make things happen and get results, and that this extends to getting results through the organisation of other people and resources, although as stated earlier, they often demand too much of their staff because they prioritise achieving the goal above the many varied interests and needs of their people.

Interesting comparisons and relationships can be drawn between McClelland's motivation types, and the characteristics defined in other behavioural models, eg:

e tend to favour the third mode ('participating'); and the authority-motivated people tend to favour the style of mode four ('delegating'). Please note that Situational Leadership® is protected intellectual property: Situational Leadership® is a trademark of the Centre for Leadership Studies. Situational Leadership II® is a trademark of The Ken Blanchard Companies. Use of material relating to Situational Leadership® and/or Situational Leadership II® requires licence and agreement from the respective companies.

© original concept David McClelland 1999; review and contextual material Alan Chapman 2000-2009

Motivation in Education

Fritz Hinrichs

Education must transfer from generation to generation the core of our culture’s accumulated body of knowledge. In our day, many think that to believe in an accepted body of knowledge that prioritizes what is important to learn and what is not smacks of elitism and exclusivity. In part, this charge cannot be denied because discernment often demands that we play the role of intellectual hatchet- men; however, if you will reject the notion of a “canon” of knowledge, you are faced with the task of creating a rational for your own curriculum that can give a convincing answer to that most awkward but ubiquitous question, “Why do we have to learn this?”

Having cut themselves free of the constraints that guide classical education, our large educational institutions have resorted to an ever increasingly frantic attempt to construct a convincing rational for their methodology out of the vacuum of their own errant psyches. Yet, whether they resort to ethnicity, technology, gender or the deviancy of pop culture, their attempts to give meaning to their teaching end up being mere exercises in personal assertiveness.

Even though our secular school system abandoned any true foundation for absolutes by rejecting God’s authority over all of life, academia has been able to keep a coherent system together by merely coasting on the inertia built up by our culture’s rich intellectual tradition. This has been especially true in Mathematics where a healthy regard for disciplined rigorous thinking and applied mental struggle were thought to guarantee mental fruit, but now, even this field seems vulnerable to the prevailing epistemological meltdown. The “new new math” curricula currently being promoted by the National Council of Teachers of Mathematics seems bent on destroying mathematical rigor in hopes of instilling students with such dubiously mathematical abilities as “group learning skills”, “guess and check techniques” and “awareness of diverse cultural approaches to mathematics”. By attempting to make math more “interesting” and “accessible”, they have removed precisely what makes Mathematics a joy to learn. No longer will students be able to savor the hard won pleasure of successfully working complex mathematical procedures. Even in the field of Mathematics where you think it would be nearly impossible for the mind to be led astray, our schools are abandoning rigor and sense for mere gimmicks and social agendas . What is the philosophical lesson from all this? The closer and closer man comes to pure epistemological autonomy (that is, the ability to accept only those ideas he finds within himself) the closer he comes to resigning himself to complete nonsense.

For students to be motivated in their studies, they need to know that what they are studying is indeed of real significance. They need to know that they are not being feed some new-sprung agenda or half- baked innovation that will simply go the way of the faddish educational chaff that, once having gleaned its profits, goes to the winds never to be seen or thought of again. Students need to know that they are being feed the best that our civilization has to offer- that they are studying something that is much, much larger than themselves. As I guide students through the study of the proofs in Euclid’s Elements, it is always a pleasure to point out to them the fact that their geometry book is the same that was used by Thomas Jefferson, James Garfield, Lewis Carroll and a host of other intellectual witnesses going back before 200 BC. Even though Euclid makes absolutely no attempt to show you how his system is “practical”, I do not find my students asking, “what will I ever us this for?”

Because the Element’s is truly a classic work, the students come to see why mathematicians have admire Euclid’s beautifully constructed proofs through the ages.

When we climb out of the broad stream that comprises the wisdom of the ages, it is very easy to lose our educational bearings, being blown to and fro be the winds of opinion. Furthermore, without a good rational for our curriculum, we will be unable to resist the student’s desire to find the path of least exertion between now and breaktime. To be motivated to work, we need to instill in our children first godly character and then the conviction that their studies are indeed significant. Despite the mantras that are continually chanted around us, the motivation for pursuing an education does not come from looking at charts of the average salary levels of various degree recipients, or from following the educational atomism that reduces all educational accomplishment to a single GPA, or by explaining all labors as just steps in the great “ordu salutis” culminating in acceptance by that Ivy- league dream college. By putting before students these poor reasons for getting an education we are drumming into them the idea that education is a means and not an end. Until they understand that education is an end in itself, that indeed, the creation in which we dwell and the historical saga in which we take part are truly worthy of our interest and concentrated study, we will only see them labor with a slave’s reluctance.

Escondido Tutorial Service provides technical services (2001)

Intrinsic/Extrinsic motivation and Hierarchy of Needs

MOTIVATION: Something that energizes, direct, and sustains behaviors.

INTRINSIC MOTIVATION: Internal desires to perform a particular task, people do

Certain activities because it gives them pleasure, develops a particular skill,

or

It’s morally the right thing to do.

EXTRINSIC MOTIVATION: Factors external to the individual and unrelated to the

Task they are performing. Examples include money, good grades, and other Rewards.

Intrinsically motivated students are bound to do much better in classroom activities, because they are willing and eager to learn new material. Their learning experience is more meaningful, and they go deeper into the subject to fully understand it. On the other hand, extrinsically motivated students may have to be bribed to perform the same tasks.

How can we motivate students intrinsically?

A theorists by the name of Abraham Maslow, has concluded that before we can be intrinsically motivated we must first satisfy some more basic human needs. According to Maslow there are five basic levels of human needs.

  • 1. Physiological needs. We are motivated to satisfy needs that ensure our physical survival. Needs in this group include food, water, air, shelter, clothing and sex. Most people have satisfied their physiological needs allowing them to concentrate on higher level needs. For some though, physiological needs are dominant and are the biggest needs in their lives.

  • 2. Safety needs. Once physiological needs are met one can concentrate on bringing safety and security to our lives. Safety and security needs include, order, stability, routine, familiarity, control over one’s life and environment, certainty and health.

  • 3. Social needs or love and belonging needs. These needs include love, affection, belonging and acceptance. People look for these needs in relationships with other people and are motivated for these needs by the love from their families.

  • 4. Esteem needs. All people have a need for stable, firmly based, usually high evaluation of themselves for self-respect or self-esteem and for the esteem of others. These needs may therefore be classified into two subsidiary sets. These are, first, the desire for strength, achievement, adequacy, mastery of competence, confidence, independence and freedom. Second, we have what we call the desire for reputation or prestige (defining it as respect from other people), status, fame, glory, dominance, importance, recognition, dignity or appreciation.

  • 5. Need for self-actualization. This level of hierarchy is concentrated on an individual being able to reach their full potential a human being. Once someone has satisfied the first four levels of needs then they have the ability to concentrate on functioning to their highest potential. But even if all these needs are satisfied, we may often still expect that a new discontent and restlessness will soon develop, unless the individual is doing what they are fitted for. Musicians must play music, artists must paint if they are to be at peace with themselves. What humans can be, they must be. They must be true to their own nature.

The first four needs are what we call deficiency needs, because they come from things we are lacking. These needs can be met only by external sources, by the environment, people or things going on around us.

Self-actualization is a growth need. This doesn’t just address what we are lacking in our lives, but it gives us room to grow and develop as an individual. This need is always intrinsically motivated, because we do it out of pure enjoyment and desire to grow.

Maslow, does explain that self-actualization is rarely achieved, even as adults. But we as teachers, must make sure our students have satisfied their deficiency needs in order to move on to their growth one. Intrinsic motivation will not occur until they are well fed, safe in their environment, and can love and respect the teachers and their classmates. From there on motivation will be a breeze.

Characteristics of Intrinsic and Extrinsic Motivation

by Schunk|Pintrich|Meece

Before examining the characteristics of intrinsic and extrinsic motivation it will be helpful to differentiate these forms of motivation from interest. Interest refers to the liking and willful engagement in an activity (Schraw & Lehman, 2001). And the difference between personal interest, which is a relatively-stable personal disposition toward a specific topic or domain, and situational

interest, which represents a temporary and situationally specific attention to a topic (Urdan & Turner,

2005)

Interest is not a type of motivation but rather an influence on motivation. Students who are interested in learning about a topic or improving their skills in a domain should display motivated behaviors, such as choice of the activity, effort, persistence, and achievement.

While it may seem that personal interest and intrinsic motivation bear some similarity to one another, personal and situational interest are not inherently linked with either intrinsic or extrinsic motivation. Students may be personally or situationally interested in a topic for intrinsic or extrinsic reasons. Although a goal of educators may be to develop students’ interest and intrinsic motivation in learning, in fact there are many reasons underlying students’ interests and not all of them reflect intrinsic motives.

It is tempting to think of intrinsic and extrinsic motivation as two ends of a continuum such that the higher the intrinsic motivation, the lower the extrinsic

motivation; however, there is no automatic relation between intrinsic and extrinsic motivation (Lepper, Corpus, & Iyengar, 2005). For any given activity, an individual may be high on both, low on both, medium on both, high on one and medium on the other, and so forth. It is more accurate to think of intrinsic and extrinsic motivation as separate continuums, each ranging from high to low.

Intrinsic motivation and extrinsic motivation are time and context dependent. They characterize people at a given point in time in relation to a particular activity. The same activity can be intrinsically or extrinsically motivating for different people. Jon’s English class is extrinsically motivating for Todd but intrinsically motivating for Lelia. As another example, assume that Scott and Rhonda play the banjo. Scott’s intrinsic motivation is high because he plays for enjoyment, whereas his extrinsic motivation is low. In contrast, Rhonda’s extrinsic motivation is high because she plays largely as a means to the end of playing well enough to earn money in a Dixieland band. Rarely does she play for intrinsic reasons.

Because intrinsic motivation is contextual, it can change over time. Many things that young children find interesting (e.g., Sesame Street) gradually lose their appeal as children become older. Sudden changes in level of intrinsic motivation are not uncommon. Scott may become extrinsically motivated to play the banjo well if he experiences financial problems and decides to play the banjo to earn money. Doing something because one wants to can easily become doing it because one needs to.

Excerpt from Motivation in Education: Theory, Research, and Applications, by Schunk & Pintrich & Meece, 2008 edition, p. 237-238. © 2008, Merrill, an imprint of Pearson Education Inc. Used by permission. All rights rese

Parenting: Influence of Parents' Level of Education

Parenting: Influence of Parents' Level of EducationHome > Library > History, Politics &

Traditionally, family status variables such as parents' level of education have been regarded as predictors of children's academic achievement. Increasingly, research has suggested that, rather than having a direct association with children's academic achievement, parents' level of education is part of a larger constellation of psychological and sociological variables influencing children's school outcomes.

Attendant on higher levels of education may be access to resources, such as income, time, energy, and community contacts, that allow for greater parental involvement in a

child's education. Thus, the influence of parents' level of education on student outcomes might best be represented as a relationship mediated by interactions among status and process variables.

The literature also suggests that level of education influences parents' knowledge, beliefs, values, and goals about childrearing, so that a variety of parental behaviors are indirectly related to children's school performance. For example, higher levels of education may enhance parents' facility at becoming involved in their children's education, and also enable parents to acquire and model social skills and problem- solving strategies conducive to children's school success. Thus, students whose parents have higher levels of education may have an enhanced regard for learning, more positive ability beliefs, a stronger work orientation, and they may use more effective learning strategies than children of parents with lower levels of education.

While many theorists and researchers argue that student attributes conducive to achievement are deeply rooted in processes of socialization, such as learning through observation of parental modeling, others contend that through their personal qualities, children actively shape the parenting they receive: Parents socialize their children, but children also influence their parents. Supporting both theoretical perspectives is research indicating that the combination of learning behavior and intelligence exceeds the contributions of any single source in predicting children'sscholastic achievement.

Parents with higher levels of education are also more likely to believe strongly in their abilities to help their children learn. A recent study exploring the relationships between level of parent education, parent self-efficacy, children's academic abilities, and participation in a Head Start program found that level of parent education and program participation was significantly related to parental self-efficacy. In turn, parental self- efficacy beliefs significantly predicted children's academic abilities.

However, examinations across varied cultural and ethnic groups within the United States suggest that level of education does not appear to determine the value parents place on education, their interest in their children's schooling or their aspirations for their children's academic success. For example, in a 1997 study comparing the relative value of varied predictors of parental involvement, Thomas Watkins found that parents' efficacy for involvement and educational goals for their children were stronger predictors of school success than parental level of education and ethnicity. Additionally, this study found that teacher communications to parents predicted parental involvement, suggesting that, regardless of education level, parents need encouragement from educators to become involved in their children's education.

In sum, it appears that process variables, or factors susceptible to the influence of parents, their children, and school personnel (e.g., educational expectations, level of involvement, child attributes conducive to achievement, and teacher invitations for parental involvement) are more predictive of children's school success than status variables such as parental level of education. This is an important conclusion, for while educators and researchers cannot influence the status of students' families, they may improve students' educational outcomes by influencing selected mediating process variables.

(1):314.

Journal of Educational Research 2003

— JOAN M. T. WALKER, CLAIRE SMREKAR

how the education level of parents impacts involvement in their child's education

A parent's college degree can impact a child's world today. It can be said and and has been stated that there is a direct correlation between a parent's level of education and the IQ of a child. We know that a child's early enrichment opportunities can be major contributing factor for success later in life. The idea that parent's education level impacts involvement in a child's education is not necessarily a point to be argued but a simple concept that makes sense.

Children learn by example and observation. Parents that model certain behaviors are more likely to see the same behaviors displayed in their children. This can have a positive affect as well as a negative one depending on the examples a parent sets. Parents that have acquired more skills and abilities might also have a larger skill set that they can share with their children. Educated parents might also be more cautious about knowing what a child should learn and what behaviors should not be modeled by parents.

The earning power of parents with a higher degree of education generally exceeds those without one. Jobs that require more education generally tend to be more flexible and provide autonomy for the employees. Parents that have a higher level of education might be able to get involved more with school functions, find other learning tools outside of the classroom and be able to sign a student up for enrichment opportunities. Enrichment opportunities are sometimes afforded for the sheer fact of the financial ability of the parents. This is not to say that there are no enrichment opportunities for free but parents involvement directly effects how these opportunities are found and utilized.

Children are motivated when they can see the benefit in something. Parents that are involved in a child's learning influence how a child perceives the value of something. Valuing education can rub off on students in the most positive of ways. Parents that explain why and how to children might provide more engaging conversations that are more meaningful.

Spending time with children and teaching them that learning is fun and rewarding is

Center for Teaching, Learning & Faculty Development

something that everyone can do but those that have gone through education and spent years learning will see the importance in being involved in a child's education and

schooling opportunity. today.

Time is a valuable learning tool that every parent can share

Learn more about this author, Patrick Markey.

Intrinsic versus Extrinsic Motivation

Intrinsic Motivation (

Faculty wanting further information about any of these topics are encouraged to contact

Brandt 1995 / Chance 1992

Terry Doyle atdoylet@ferris.edu

The following are traits of human nature: Check back for updates! Website comments? Contact danielsl@ferris.edu ∑
The following are traits of human nature:
Check back for updates!
Website comments? Contact danielsl@ferris.edu
To be curious
To be active
To initiate thought and behavior
To make meaning from experience
To be effective at what we value

Intrinsic motivation occurs when the learning activity and the learning environment

elicit motivation in the student.

We do not motivate students but rather create, through our teaching, opportunities

that can evoke motivation in students.

The following help to create intrinsic motivation:

When the goals and rewards of the learning are meaningful to the learner

When the learning is important to the student

When the learning assists the learner in obtaining valued accomplishments

When the learning assists the learners in integrating themselves with the

world, with others, and promotes self-awareness

Extrinsic Motivation

In the classroom, it is a way of doing things to children rather than working with

them" KOHN, 1993 (p.784). This view of management disregards a child's ability

to think and reason on their own, not allowing them the chance to develop self-

determination or independent thinking.

Punishments or rewards are used to control the motivation of the students.

In situations where one person (the teacher) is clearly in power, extrinsic motivation

has a greater opportunity to be effective.

In situations where the students believe their perspectives are valid and their rights

are equal to the person distributing the rewards or punishment, there is often the

41

formation of "power-relationships” with a high probability of subversion, conflict,

and/or resentment.

LOA Semudah 1,2,3

18 JULY 2007 18 COMMENTS

Banyak teman yang mengatakan pada saya, bahwa mereka umumnya sudah pernah mengalami sendiri berjalannya hukum Law of Attraction (LOA). Bahwa pikiran dan perasaan Anda, akan menarik hal-hal yang berkesuaian kedalam hidup Anda. Likes attract likes. Ini mungkin banyak yang sudah pernah mengalami. Dari sekedar Anda ingat seorang teman, tiba-tiba teman tadi menelpon. Hingga pada saat Anda berniat menjalankan bisnis, tiba-tiba ada kesempatan bisnis yang datang tidak terduga. Namun, hampir semua umumnya terjadi di luar kesadaran. Sementara untuk “menggunakan” LOA secara sadar, kelihatannya masih agak sulit.

Padahal menerapkan Law of Attraction (LOA) secara sadar, ternyata semudah 1,2,3. Paling tidak begitu kata Michael J. Losier. Beliau ini pengarang buku “Law of Attraction” (2006), yang pemikiran- pemikirannya banyak terinspirasi oleh Jerry dan Ester Hicks. Tidak hanya Losier, konsep yang diajarkan Joe Vitale pun banyak yang mirip dengan konsep dari Ester Hicks. Bahkan di Indonesia banyak praktisi LOA, pengajar, dan motivator yang sering mengajarkan ini. Namun sayangnya, karena buku dan tulisan yang banyak beredar di Indonesia jarang menyebut referensi nya dari mana, maka ketika ada beberapa detil yang hilang, jadi sedikit membingungkan. Selain itu, banyak teman

saya yang mengalami kesulitan melakukan teknik-teknik visualisasi canggih seperti yang sering diajarkan. Saya juga begitu. Saya termasuk orang yang lebih mudah menulis daripada bervisualisasi. Jadi kadang niatnya saja bervisualisasi, tapi ujung-ujungnya malah ketiduran.

Nah, akan saya coba sampaikan 3 langkah mudah menerapkan LOA menurut Michael J. Losier, yang menurut saya cukup lengkap namun sederhana. Anda yang sudah mencoba LOA secara sadar silakan membandingkan dengan praktek Anda. Tiga langkah ini oleh Michael J. Losier disebut sebagai “Deliberate Attraction”. Maksudnya proses attraction yang kita lakukan secara sadar. Ah, jangan kepanjangan, mari kita mulai saja.

Satu.

Kalau Anda pernah nonton film the Secret, Anda pasti ingat wajah Pak Tua Bob Proctor, yang dengan muka serius bertanya: “what do you really want?” Di sampul DVD asli nya bahkan ada selembar kertas kosong, dimana Bob meminta kita menuliskan, apa sebetulnya yang kita mau. Memang langkah awal ini penting. Michael J. Losier menyebut langkah pertama ini sebagai langkah mengidentifikasikan hasrat kita (identify your desire). Mengidentifikasikan apa yang sebetulnya kita inginkan. Nah, ini yang gampang-gampang susah. Biasanya ketika ditanya “jadi sebetulnya kamu mau apa?”, mulut langsung terkunci, pikiran jadi blank. Atau sebaliknya, nyerocos tanpa henti dari A sampai Z, sampai gak jelas mau apa. Nah, supaya jelas gunakanlah “clarity through contrast worksheet”.

Caranya? Pertama, tentukan dulu di “prominent area” apa Anda ingin identifikasikan hasrat Anda ini. Misalnya, dalam area karir, keuangan, kesehatan, keluarga atau asmara juga boleh, kalau mau. Katakan Anda akan membuat worksheet untuk keuangan, maka ambil selembar kertas, tulis judulnya:

Kondisi Keuangan Idealku. Ini contoh saja, Anda bisa kreatif sedikit lah. Misalnya kalau soal asmara, tulis saja: Pacar Idealku, dsb.

Di bawah judul, buat tabel dua kolom. Kolom sebelah kiri sebut saja kolom “contrast”. Di kolom ini cantumkan hal-hal yang Anda tidak mau terjadi. Karena manusia memang aneh. Ketika disuruh mengungkapkan hal-hal yang gak disukai biasanya lebih gampang. Tuliskan satu item untuk satu baris. Misalnya kalau dalam hal keuangan: 1. Selalu kekurangan uang, 2. Penghasilan pas-pas an, 3. Penghasilan gak naik-naik, 4. Cuma mengandalkan penghasilan dari satu sumber, 5. Penghasilan tidak cukup untuk menyekolahkan anak di sekolah terbaik, dst. Gampang kan? Sounds familiar? Hehehe … maaf ya, saya gak maksud nyinidir siapa2. Tuliskan sebanyak yang Anda mau.

Kemudian, baca setiap item. Dan kemudian tanyakan: “Jadi, apa yang kamu inginkan? Nah, lalu tulis jawabannya di kolom sebelah kanan, kita sebut saja kolom “clarity”. Misalnya item 1: “Selalu kekurangan uang”. Ini tidak Anda inginkan, jadi tanyakan: “Jadi, apa yang kamu inginkan?”, nah tulis jawaban Anda, misalnya: “Selalu memiliki uang dalam jumlah yang stabil dan melimpah”. Jawaban ini yang kita tulis di kolom clarity, dan kemudian jangan lupa coret kalimat di kolom contrast. Selesai satu item, ulangi untuk setiap item yang sudah Anda tulis.

Akhir dari langkah pertama ini, Anda akan memiliki daftar apa yang sebetulnya Anda inginkan. Anda bisa membuat beberapa worksheet sesuai prominent area yang sedang ingin Anda kerjakan.

Dua.

Nah, setelah jelas keinginan Anda. Langkah ke dua adalah memberi perhatian dan perasaan atas keinginan tadi, sehingga vibrasi nya akan semakin kuat. Michael J. Losier termasuk yang skeptis dengan efektifitas afirmasi tradisional, sehingga menganjurkan untuk memodifikasi. Alternatifnya? Dengan membuat “Desire statement”. Nah, ambil kertas kosong lagi. Hehehe … saya lupa mengingatkan ya, Anda harus sediakan alat tulis dan kertas banyak2. Kemudian tulis desire statement Anda dalam tiga bagian. Alinea pertama, adalah opening sentence, tuliskan: “Saya sedang dalam proses menarik segala sesuatu yang perlu saya lakukan, ketahui, dan miliki untuk menarik ….”Nah, titik2 nya silakan diisi sesuai judul prominent area yang sedang Anda kerjakan. Misalnya, dari contoh di atas adalah “situasi keuangan ideal saya”.

Bagian kedua adalah batang tubuh (body) desire statement itu sendiri. Disini Anda mulai berikan perhatian dan perasaan. Anda tuliskan kembali poin-poin keinginan yang sudah Anda identifikasikan di clarity through contrast worksheet, kedalam kalimat-kalimat positif yang penuh emosi. Caranya dengan menggunakan kata-kata seperti: “Saya sangat senang, bahwa …”, “Saya sangat bahagia dan bersemangat, mengetahui bahwa …”. Dan semacam itu. Contoh? Misalnya: “Saya sangat bahagia dan bersemangat bahwa kondisi keuangan ideal saya memungkinkan saya selalu memiliki uang dalam jumlah yang stabil dan melimpah”, dsb. Rasakan emosi nya sewaktu Anda menuliskan. Apalagi kalau sudah menyangkut keluarga. Misalnya, “Saya sangat berbahagia dan penuh semangat, bahwa kondisi keuangan ideal saya memungkinkan saya menyekolahkan anak saya di sekolah yang terbaik …”. Bagian ini bisa terdiri dari beberapa alinea sesuai jumlah desire yang sudah Anda identifikasikan.

Bagian ketiga adalah penutup. Tuliskan satu alinea yang menjadi closing sentence, misalnya: “Law of Attraction bekerja dan menggerakkan apa yang perlu terjadi untuk terwujudnya hasrat saya”. Oh ya, ini contoh saja dari Michael Losier. Anda mungkin kurang sreg dengan bunyi kalimatnya. Menurut saya, ya Anda harus sreg dengan apa yang Anda tuliskan, jadi silakan dimodifikasi sendiri. Point nya adalah memberi perhatian dan perasaan pada point2 yang sudah Anda identifikasikan.

Tiga.

Bagian ketiga adalah “allowing”. Ya meskipun Anda memiliki hasrat yang membara, namun jika disertai dengan keraguan yang kuat, sama saja anda tidak membiarkan LOA bekerja. Umumnya yang membatasi adalah keraguan bahwa apa yang sudah Anda tulis akan ditarik kedalam hidup Anda. Tapi tenang, karena sekali lagi Losier memberikan kita cara praktis. Nah, kalau Anda masih punya

cukup persediaan kertas, ambil selembar lagi, dan siaplah menulis “allowing statement”. Tujuannya adalah menyingkirkan keraguan Anda.

Caranya? Pertama biarkan keraguan Anda muncul melalui pernyataan “tapi …” dan “karena …”. Biasanya setelah membaca Desire Statament Anda muncul berbagai keraguan, tuliskan saja. Misalnya, keragan Anda adalah: “Tapi … saya saat ini tidak punya uang sama sekali, karena … saya nyaris bangkrut …”. Tulis. Berapapun banyaknya keraguan Anda, tulis semua. Paling tidak selesai latihan ini, Anda jadi lebih pandai menulis, hehehe … Kemudian, atas pernyataan yang sudah Anda tulis, sampaikan pertanyaan: “Adakah di dunia ini orang yang (dalam kondisi seperti Anda), namun bisa mencapai (kondisi ideal Anda)?”. Misalnya dalam contoh ini, maka pertanyaannya adalah: “Adakah di dunia ini, orang yang nyaris bangkrut, namun kemudian bisa memiliki kondisi keuangan yang stabil dan berlimpah?”. Ingat baik-baik, apakah ada orang yang seperti itu. Saya yakin pasti ada. Nah, Jawab pertanyaan tadi secara tertulis. Misalnya, “Di dunia ini, banyak sekali orang yang pernah hampir bangkrut, namun bisa bangkit dan memiliki keuangan yang berlimpah …”. Anda akan rasakan bahwa keraguan Anda tidak beralasan sama sekali, karena ada orang lain yang pernah dalam kondisi seperti Anda namun bisa mewujudkan hasrat yang Anda inginkan. Demikian beberapa latihan yang pernah saya baca dari buku Law of Attraction nya Michael J. Losier. Tentu tidak sampai disitu saja, ada beberapa latihan praktis lagi yang akan semakin memperkuat vibrasi untuk menarik yang Anda inginkan. Misalnya dengan membuat “book of proof”, dimana Anda catat semua kejadian yang menjadi bukti bahwa LOA yang Anda niatkan terjadi. Kemudian membuat “appreciation and gratitude statement”, dimana setiap hari Anda menulis jurnal yang isinya rasa syukur dan apresiasi Anda atas kejadian-kejadian positif yang mulai terjadi pada diri Anda. Sekecil apapun.

Relatif mudah bukan? Nah kini Anda siap mencoba membuktikan LOA secara sadar. Selamat mencoba.