Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEMISKINAN DKI JAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME yng telah memberikan rahmat dan
hidahnya, sehingga penulis dapat menyelasikan makalah inio tepat pada waktun yang
telah ditetapkan dengan topic yang dipilih “kemiskinan” . Adapun makalah ini disusun
untukmemenuhi persyaratan nilai untuk mata kuliah ekonomi pembangunan.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan
selama menyasun makalah ini yaitu kepada dosen mata kuliah besserta dosen pengampuh
mata kuliah ekonomi pembangunan serta pihak – pihak yang telah membantu dalam
penyusunan maupun pengumpulan informasi untuk makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna disebabkan terbatasnya
pengetahuan dan pengalaman penulis,oleh sebab itu mengharapkan saran dan kritik
dalam menyempurnakan laporan ini.

Bekasi,28 Desember 2009

Anisa Riski Amelia


penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan……………………………………………………………… 1
Bab 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kemiskinan 2
2.2 Penyebab Kemiskinan 3
2 3dampak kemiskinan terhadap masyarakaat………………………… 4
2.4 strategi pengentasan kemiskinan………………………………….. 5
2.5 kebijaksanaan dasar pengentasan kemiskinan……………………. 5
Bab 3 PEMBAHASAN
3.1 gambaran kondisi Provinsi DKI Jakarta 7
3.2 kondisi kemiskinan di wilayah DKI Jakarta 7
3.3 contoh masalah kemiskinan di wilayah DKI Jakarta 8
Bab 4 KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan 16
4.2 Saran 16
DAFTAR REFERENSI 17
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Study mengenai jumlah kemiskinan di Indonesia telah berusaha di ungkap oleh BPS
sejak tahun 1984. Penelitian BPS tentang kemiskian absolute menyatakan bahwa dewasa
ini penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan dengan menggunakan criteria
pengeluaran per kapita perbulan.
Sedangkan menurut data dari BPS Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan
Maret 2009 sebesar 323,17 ribu orang (3,62 persen). Dibandingkan dengan penduduk
miskin pada Maret 2008 sebesar 379.6 ribu orang (4,29 persen), berarti jumlah penduduk
miskin turun sebesar 57,45 ribu (0,67 persen).
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa laju penurunan jumlah pendusuk miskin begitu
cepat di pedesaan di banding di perkotaan di sebabkan oleh adanya arus urbanisasi dari
desa ke kota. Kendatipun harus diakui bahwa secara agregat penurunan jumlah penduduk
miskin tersebut sebagai dampak langsung maupun tidak langsug dari berbagai
kebijaksanaan penmbangunan yang telah dilaksanakan selama ini.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih spesifik mengenai masalah-masalh
kemiskinan di daerah DKI Jakarta dan bagaiman cara mengatasi atau menaggulangi
maslah kemiskinan diantaranya kebijakan untuk maslah kemiskinan,dan bagaimana
kemiskinan mempengaruhi kjesejahteraan masyarakat si Indonesia.

I.3 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalh ini adalah untuk menambah pengetahuan penulis mengenai
masalah – masalh perekonomian di Indonesia khususnya maslah kemiskinan . Selain itu
mkialah ini digunkan sebagai salah satui syarat memperoleh nilai pada mata kuliah
Ekonomi Pembangunan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
II.1 KONSEP KEMISKINAN
Kemiskinan adalah keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri
sesuai dengan taraf hidup kelompoknya dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga,
mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut
Tiga dimensi (aspek atau segi) kemiskinan,yaitu:Pertama, kemiskianan multidimensi
artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskiananpun memiliki
banyak aspek. Diliahat dari kebijakan umum kemmiskinan meliputi aspek primer yang
berupa mikin akan asset-aset, organisaisi politik dan pengetahuan serta keterampilan san
aspek yang sekunder yang berupa miskin jaringan social dan sumber-sumber keuangan
dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut memanifestasikan dirinya dalam
bentuk kekurangan gizi,air dan perumahan yang tidak sehat dan perawatan kesehatan
yang kurang baik serta pendisikan yamg juga kurang baik.
Kedua, Aspek kemiskinan tadi saling berkaitn baik secara maupun tidak langsung. Hal ini
berarti bahwa kemajuan atau kemunduran pada salh satu aspek dapat mempengaruhi
kemajuan atau kemunduran pada aspek lainnya.
Ketiga, bahwa yang miskin adalah manusianya baik secara individual mupun kolektif.
Kita seering mendengar perkataan kemiskinan pesesaan (rural proferty) dan sebagainya,
namun ini bukan desa atau kota, an sich yang mengalami kemiskianan tetapi orang –
orang atau penduduk atau juga manusianya yang menderita miskin jadi miskin adalah
orang-orangnya penduduk atau manusianya
Adapun cirri-ciri kemiskinan pada umumnya adalah. Pertama pasda umumya mereka
tidak memiliki factor produksi seperti tanah modal ataupun keterampilan sehingga
kemmpuan untuk memperoleh pendapatan menjadi terbatas. Kedua mereka tidak
memmiliki kemungkinan untk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri.
Ketiga tingkat poendidikan rendah waktu mereka tersita untuk mencari nafkah dan
mendapatkan pendapatan penghasilan. Keempat kebanyakan mereka tinggal di pedesaan.
Kelima mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak didujung oleh
keterampilan yang memadai.

II.2 PENYEBAB KEMISKINAN


Pada umumnya di Negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai
berikut:
• Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia
Seperti kita ketahui lapangan pekerjaan yang terdapat di Indonesia tidak seimbang
dengan jumlah penduduk yang ada dimana lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan
dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk di Indonesia yang
tidak memperoleh penghasilan itu menyebabkan kemiskinan di Indonesia
• Tidak meratanya pendapatan penduduk Indonesia
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relative
tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di
Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini yang diusebut tidak meratanya
pendapatan penduduk di Indonesia.
• Tingakat pendidikan masyarakat yang rendah
Banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh
perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja. Dan pada umumya untuk memperoleh
pendapatan yang tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi pula atau minimal
mempunyai memiliki ketrampilan yang memadai dehingga dapat memp[eroleh
pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dehari-hari sehingga kemakmuran
penduduk dapat terlaksana dengan baik dan kemiskinan dpat di tanggulangi.

• Kurangnya perhatian dari pemerintah


Masalah kemiskinan bisa dibilang menjadi maslah Negara yang semakin berkembang
setiap tahunnya dan pemerintah sampai sekarang belum mampu mengatasi masalah
tersebut. Kureangnya perhatian pemerintah akan maslah ini mungkin menjadi salah satu
penyebnya.

II.3 DAMPAK DARI KEMISKINAN TERHADAP MASYARAKAT


Banyak dampak yang terjadi yang disebabkan oleh kemiskinan diantaran adalah sebagai
berikut:
• Kesejahteraan masyarakat sangat jauh dari sangat rendah
Ini berarrti dengan adanya tingkat kemiskian yang tinggi banyak masyarakat Indonesia
yang tidak memiliki pendapatan yang mencukupi kebutuhan hidup masyarakat.
• Tingkat kematian meningkat, ini dimksudkan bahwa masy6arakat Indonesia banyak
yang menagalmi kemtain akibat kelaparan atau melakukan tindakan bunuh diri karena
tidak kuat dalam menjalani kemiskinan yang di alami.
• Banyak penduduk Indonesia yang kelaparan karena tidak mampu untuk membeli
kebutuhan akan makanan yang merka makan sehari-hari
• Tidak bersekolah (tingkat pendidikan yang rendah) ini menyebnabkan masyarakat si
Indonesia tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk memperoleh pekerjaan dan tidak
memiliki keterampilan yang cukup untuk memperoleh pendapatan
• Tingakat kejahatan meningkat , Masyarakat Indonesia jadi terdesak untuk memperoleh
pendapatan dengan cara-cara kejahatan karena dengan cara yang baik mereka tidak
mempunyai modal yaitu ilmu dan ketermpilan yang cukup.

II..4 STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN


Kemiskian timbul karena ada sebagian masyarakat yang belum ikut serta dalam
pembanguna sehingga belum dapat menikmati hasil pembangunan secara memadai.
Keadaan ini disebabkan oleh ketrbatasan dalam kepemilikan dan penguasaan factor
produksi sehingga kemampun masyarakat dalam menghasilkan dan menikmati hasil-hasil
pembangunan belum merata dan belum seimbang. Oleh sebab-sebabitu upaya
pengembangan kegiatan ekonomi kelompk masyarakat berpendapatan rendah senantiasa
ditempatkan sebagi prioritas utama. Sejalan dengan itu,m penyedia factor produksi
termsuk modal dan kemampuan peningkatan kemampuan masyarakat menjadi landasan
bagi berkembangnya kegiatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan
Pelaksanaan pembangunan nasional yang dijhabarkan dalam program pembangunan
sektoral,regional dan khusus. Pembangunan baik secara langsung maupun tidak langsung
dirancang untk memecahkan maslah kemiskinan.

II.5 KEBIJKASANAAN DASAR PENGENTASAN KEMISKINAN


Kebijaksaaan penanggulangan kemiskianan dapat di kategorikan menjadi dua yaitu
kebijaksanaan:
1. Kebijaksanaan tidak lansung
Kebijaksanaan tidak lansung diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin
kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan. Kondisi yang dimaksudkan
anatara lain adalah suasana social politik yang tentera,ekonomi yang stabil dan budaya
yang berkembang. Upaya penggolongan ekonomi makro yang yang berhati-hati melalui
kebijaksanaan keuangan dan perpajakan merupakan bagian dari upaya menaggulangi
kemiskinan. Pengendalain tingkat inflasi diarahkan pada penciptaan situsasi yang
kondusif bagi upaya penyediaan kebutuhan daasar seperti
sandang,pangan,papan,pendidikan,dan kesehatan dengan harga yang terjangkau oleh
penduduk miskin.
2. Kebijaksanaan langsung
Kebijaksaan langsung diarahkan kepada peningkatan peran serta dan peroduktifitas
sumber daya manusi,khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah,melalui
penyediaan kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan kesehatan dan
pendidikan,serta pengembangan kegiatan-kegiatan social ekonomi yang bekelanjutan
untuk mendorong kemandirian golangan masyarakat yang berpendapatan rendah.
Pemenuhan kebutuhan dasar akan memberiakn peluang bagi penduduk miskin untuk
melakukan kegiatan social – ekonomi yang dapat memberikan pendapatan yang
memadai. Dalam hubungan ini,, pengembangan kegiatan social ekonomi rkyat
diprioritaskan pada pengembangan kegiatan social ekonomi penduduk miskin di desa-
desa miskin berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan
permodalan yang didukung sepenuhnya dengan kegiatan pelatih yang terintegrasi sejak
kegiatan penghimpunan modal,penguasaan teknik produksi,pemasaran hasil dan
pengelolaan surplus usaha.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 GAMBARAN KONDISI WILAYAH DKI JAKARTA
DKI Jakarta merupakan ibukota Negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk pada
tahun 2008 sebesar 9.15 juta jiwa sehimgga Jakarta merupkan salah satu kota terpadat di
wilayah Negara Indonesia
Dengan jumlah penduduk yang banyak maka DKI Jakarta mempunyai banyak masalah
kependudukan yang salah satunya adalah masalah kemiskinan yang kurun tahun
jumlahnya selalu meningkat.
Dan salah satu penyebab kemiskinan adalah kurngnya lapangan pekerjaan yang tersedia
di wilayah DKI Jakarta menurut data BPS Pada tahun 2008 jumlah angkatan kerja
sebesar 4,77 juta orang dan bukan angkatan kerja 2,18 juta orang tetapi jumlah lapangan
pekerjaan yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja yang ada.

III.2 KONDISI KEMISKINAN DI WILAYAH DKI JAKARTA

Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 sebesar 323,17 ribu
orang (3,62 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2008 sebesar
379.6 ribu orang (4,29 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 57,45 ribu
(0,67 persen). Keadaan ini dapat terjadi karena salah satu penyebabnya adalah adanya
deflasi pada bulan januari sampai maret sebesar 0,13%
Dari data BPS pula dapat dikatakan bahwa kemiskinan dari tahun-ketahun secara umum
dikatakan meningkat. Hl ini dapat dilihat dari table prosentase jumlah kemiskinan dari
tahun 1996-2008

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia

Menurut Daerah 1996-2008

II.3 CONTOH KASUS KEMISKINAN SAAT INI DI WILAYAH DKI JAKARTA


Harus diakui, Jakarta mempunyai berbagai program pemberantasan kemiskinan. Akan
tetapi, program itu hanya menjangkau warga miskin ber-KTP DKI. Padahal,banyak
warga miskin pendatang dari daerah-daerah di Jawa, bahkan juga luar Jawa, yang tidak
tercatat sebagai penduduk DKI.
Bagi Yunaedi (37), mengingat bawang berarti mengingat masa-masa hidup bersama
keluarganya yang selalu diwarnai tangisan. Air mata yang merembes bukan karena
percikan air bawang yang memang bisa membikin mata pedas.
Namun, bawang jugalah yang mengiris hatinya. Akhirnya, petani bawang asal Brebes,
Jawa Tengah, itu pun pergi ke Jakarta.
Yunaedi hanyalah petani tanpa lahan. Dia menggarap lahan milik orang lain,yang
disewanya setiap tahun. Namun, biaya produksi bawang kerap taksebanding dengan
harga jual hasil garapannya. "Kalau sudah rugi begitu,keluarga habis-habisan, pada
nangis semua di rumah. Bawang itu begitu.Benar-benar bisa bikin nangis betulan," tutur
Yunaedi mengenang.
Tahun 1999 Yunaedi ke Jakarta dan berjualan nasi goreng. Bersama Sarmah (31) dan dua
anaknya, Yunaedi mengontrak rumah petak dari tripleks di atas Kali Mampang, Jakarta
Selatan. Di sanalah mereka tinggal bersama ratusan jiwa kaum urban miskin lainnya.
Gubuk-gubuk kumuh mereka terjepit di antara permukiman mewah.

Yunaedi hanyalah salah satu potret ketidakberdayaan kaum miskin di Jakarta.Mereka


terus-menerus terpinggirkan secara sistemik. Karena statuskependudukannya ilegal,
Yunaedi pun tak berdaya ketika gagal mengurus kartukeluarga miskin.
Potret kemiskinan di kota memang tak bisa dipandang sederhana sebagaimasalah
perkotaan semata. Kemiskinan pun tak sedatar data statistik, yang Mudah dimanipulasi.
Bagaimana sebenarnya benang kusut kemiskinan di kota ini berawal?
Dian Tri Irawaty dari Divisi Riset dan Pengembangan Konsorsium Kemiskinan Kota
(Urban Poor Consortium/UPC) mencermati, ketidakberdayaan kaum miskin di kota
sudah dimulai sejak hak petani atas tanah di desanya tercerabut. Mereka Yang sejatinya
petani justru tak sanggup mempunyai lahan sendiri.
Petani seolah dimiskinkan. Salah satu awal mula penyebab kemiskinan di kota adalah
ketika sektor pertanian dikebiri secara sistemik. "Potret kemiskinan di kota hanya salah
satu manifestasi dampak dari pengebirian itu," papar Dian.
Tercerabutnya tanah dari kehidupan petani diperparah dengan mandeknya pelaksanaan
reformasi agraria (land reform) yang diamanatkan Undang-Undang Pokok Agraria
Nomor 5 Tahun 1960. Baru belakangan ini Badan Pertanahan Nasional berusaha
merealisasikan amanat yang telah mati suri puluhan tahun.
Undang-undang itu mengamanatkan pemerintah untuk meredistribusi tanah Negara
kepada para petani penggarap dan petani tak bertanah. Kepemilikan dan penguasaan
tanah pun dibatasi. Semangat perundang-undangan itu tak lain untuk menciptakan
pemerataan dalam kesempatan kegiatan produktif di bidangpertanian.
Namun, Onghokham Institute mencatat, perundang-undangan itu justru mandek sejak
memasuki tahun 1970. Sebaliknya, kemudahan dalam penyediaan tanah untuk kegiatan
investasi dan eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar terbuka luas. Akibatnya,
kepemilikan lahan oleh petani terus menyempit. Konversi lahan pertanian terus saja
terjadi.

Kedaulatan petani pun terkebiri dengan diadopsinya gagasan Revolusi Hijau. Akibatnya,
petani terus bergantung pada pupuk kimia, pestisida, dan benih. Ini tentu saja makin
menggemukkan pundi-pundi perusahaan multinasional di sektor pertanian. Sementara,
indeks nilai tukar petani selalu rendah, jika tidak selalu merosot.
"Tak salah bukan kalau lantas mereka berbondong-bondong ke Jakarta mencari hidup?
Mereka tak lagi punya tanah, tak ada sumber penghidupan yang memadai," ujar Dian.
Di Jakarta, ketiadaan hak atas tanah di desa mereka berlanjut dengan tiadanya hak
mereka atas tempat tinggal di Ibu Kota. Mereka pun menempati lahan-lahan ilegal;
bantaran kali, kolong jembatan, kolong jalan tol, hingga tepi rel kereta. Mereka pun
mencari nafkah di kawasan terlarang, bahu jalan, trotoar, juga kawasan parkir. Sebagai
warga ilegal, bayang-bayang kehilangan sumber penghidupan serta tempat bernaung
terus mengancam.
Sama halnya dengan Yunaedi, sebagian besar dari mereka terpaksa menghuni lahan-
lahan yang semestinya bukan untuk permukiman. Bantaran sungai, pinggir rel, kolong
jembatan, atau tanah-tanah kosong yang belum dibangun oleh pemiliknya adalah pilihan
paling mudah.
Kepala Dinas Kependudukan DKI Jakarta Abdul Kadir menyebut ada puluhan titik
komunitas warga yang menempati daerah terlarang, di antaranya 32 lokasi di Jakarta
Utara. Antara lain di Rawa Bebek, persisnya di kolong jalan tol layang Pluit, Teluk Gong,
Kampung Bandan, Marunda, Tanah Merah, dan jalur hijau di bantaran Cakung Drain.
Jumlah mereka bisa ratusan ribu jiwa. Sebab, di Tanah Merah saja ada 750 keluarga,
sementara di Cakung Drain sekitar 300 keluarga.Digusur Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta mengatasi kemiskinan di kota dengan pendekatan represif. Penertiban.
Permukiman kaum miskin yang kumuh dianggap penyakit dan merusak gemerlapnya
kota. Melalui Peraturan Daerah Nomor 11
Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum, kaum miskin kerap diusir. Terbitnya Peraturan
Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum semakin melegalkan penggusuran paksa.
Centre on Housing Rights and Evictions (COHRE), sebuah organisasi dunia diSwiss
yang mengampanyekan hak atas tempat tinggal, menyebut penggusuranpaksa di
Indonesia, khususnya Jakarta, telah mencapai level cukup gawat.
COHRE menempatkan Indonesia sebagai satu dari tujuh negara yang melakukan
penggusuran paling besar di dunia. Sedangkan UPC mencatat, sejak tahun 2000 hingga
2005 saja sebanyak 19.094 keluarga digusur.
"Percuma pemerintah gusur-gusur kami. Mereka kasih uang kerohiman, padahal buat
kami itu uang kezaliman. Kami diusir dari satu tempat, pindah ke tempat lain yang tetap
ilegal," ujar Nenek Dela, pemulung di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.
Bagi kaum miskin kota ilegal itu, untuk sekadar memiliki hak atas rasa aman di tempat
tinggal saja tak terpenuhi. Mereka pun kesulitan mengakses bantuan
pemerintah. Tempat tinggal yang ilegal membuat mereka pun tak bisa membuat kartu
tanda penduduk. Tertutupnya bermacam akses bagi mereka pada akhirnya membuat
anak-anak mereka pun merana. "Kenapa cuma orang berduit yang boleh datang ke
Jakarta. Yang miskin dikejar-kejar tramtib," kata Nenek Dela.
Dian mengemukakan, alangkah tidak adilnya ketika berbagai pembangunan sejumlah
gedung yang terbengkalai tidak berlanjut, dibiarkan begitu saja.
Gedung-gedung menganggur itu malah kerap dijadikan tempat pesta disko (rave party)
kaum muda Jakarta. Mal pun terus dibangun meski banyak yang sepi pengunjung.
Sementara, banyak warga miskin yang membutuhkan sekadar sepetak tempat tinggal
layak hanya bisa gigit jari.
Menurut Dian, masalah kemiskinan di perkotaan memang harus diatasi sejak dari akar
masalahnya. Penuntasan masalah itu harus menjadi tanggung jawabpemerintah pusat
yang menerjemahkannya dalam kebijakan nasional yangprorakyat miskin. Pemerintah
provinsi pun sepatutnya menyikapi persoalan domestik kotanya lebih bijak, bukan justru
menyalahkan si miskin atau si marjinal, yang nekat ke kota.
"Paradigma memandang kemiskinan harus diubah. Bukan salah mereka kalau nekat ke
Jakarta," kata Dian.
Ya, memang bukan maunya si miskin menceburkan diri di Jakarta, lantas
tersesak di antara lautan mal, apartemen, dan berbagai titisan globalisasi.
Rumahku adalah istanaku. Kiranya itu sebutan yang terlontar dari bibir Fatimah. Istana
dimaksud adalah sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter, beralas tanah dan berdinding
kayu. Kontrasnya rumah itu menghadap ke sungai Ciliwung yang airnya mengalir deras
hampir mencapai bibir sungai.
Walau memiliki konstruksi bangunan yang cukup kuat, karena disangga dengan empat
batang kayu, namun di musim hujan kali ini perasaan was was mengintai mereka. "Waktu
banjir datang, rumah ini tidak ada lagi ketutup air," kata Fatimah.
Rumah yang ditinggalinya itu adalah warisan peninggalan suami yang semasa hidup
bekerja sebagai petugas kebersihan sebuah sekolah di Otista, Jakata Timur. Untuk
menggantikan sang suami menghidupi ke 3 anaknya, yang masih dibawah 3 tahun
Fatimah kini bekerja membantu tetangganya mencuci baju dengan penghasilan Rp
15.000 per hari.
Pernah dia membuat usaha berjualan kue ke pasar, namun lantaran tidak ada yang
menjaga ke 3 anaknya, Fatimah kembali menekuni pekerjaan lamanya. Pengalaman sulit
juga dialaminya saat dia harus kehilangan anak ke duanya yang terserang muntahber.
Untuk biaya perawatan di rumah sakit Fatimah sempat mendapat pinjaman dari para
tetangga.
Kemiskinan mewajah pada ratusan keluarga yang bermukim di bantaran kali di daerah
Bukit Duri, Bidara cina, Kampung Melayu hingga Manggarai, meski dalam banyak hal
pengalaman perempuan seperti Fatimah memperlihatkan wajah kemiskinan yang lebih
luas. Menurut survei Sanggar Akar, lebih dari 65 persen penduduk di wilayah itu
memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Jakarta, 32,97 persen sisanya belum memiliki KTP
karena faktor usia.
Para ahli mendefinisikan kemiskinan sebagai ketiadaan akses pada hal-hal yang vital
dalam hidup. Kemiskinan absolut berarti tak punya akses kepada sumber daya dasar yang
menopang kehidupan, seperti air bersih, tanah, rumah yang layak, benih (bagi petani),
makanan bergizi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan lingkungan yang sehat. Dengan
demikian, kemiskinan absolut tak bisa direduksi dengan penghitungan pendapatan yang
dibuat lembaga-lembaga internasional, yakni dua dollar sehari, atau asupan kalori saja.
Angka-angka itu menegaskan inflasi dan kenaikan harga yang meroket, sementara
pendapatan tidak bergerak.
Tidak ada data yang akurat tentang besaran pendapatan warga Jakarta. Paul McCarthy
dari Bank Dunia dalam Global Report (2003), mengutip sebuah lembaga survei di enam
kota besar di Indonesia, menulis, 22 persen penduduk kota hidup dengan biaya kurang
dari Rp 350.000 per bulan pada tahun 2001. Sekitar 20 persennya hidup dengan sekitar
Rp 350.000 sampai Rp 500.000.
Akan tetapi, mengatakan mereka yang hidup dengan pendapatan di bawah Rp 500.000
per bulan sebagai "miskin" juga terlalu menyederhanakan persoalan karena tidak
menghitung biaya perumahan dan jumlah keluarga.
Kendati begitu, tingkat kemiskinan meningkat dalam konsep kerentanan terhadap
kemiskinan sebagai dampak krisis ekonomi. Bank Dunia mencatat, sekitar 50 persen
rumah tangga di Indonesia tergolong rentan terhadap kemiskinan.
Di kota, tingkat kerentanan itu diperkirakan sekitar 29 persen, jauh lebih rendah dari
kawasan pedesaan yang 59 persen. Data ini menjelaskan mengapa semakin banyak orang
pergi ke kota besar untuk mengais rezeki yang semakin sulit di desa dan di kota-kota
kecil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi terkaya
di Indonesia dan berada di peringkat tertinggi Indeks Pembangunan Manusia dalam
Laporan Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2004. Meski UU Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah sudah diterapkan, berbagai data memperlihatkan masih 65
persen peredaran uang di Indonesia menumpuk di Jakarta.
Bisa dipahami kalau kota ini menjadi semacam tempat "pengungsian" dari kehidupan
yang menekan di tempat lain. Gemerlap Jakarta menjadi seperti lampu neon yang
menarik laron. Laju pertumbuhan penduduknya jauh lebih tinggi dibandingkan data
resmi, menjadikan megacity terbesar di Asia Tenggara ini penuh paradoks mulai tahun
1970-1980, ketika proses industrialisasi masif dimulai.
Mereka yang tergolong kaya bisa membayar makanan sepiring seharga ratusan ribu
rupiah, sementara ribuan orang lainnya memeras keringat untuk Rp 10.000 sehari. Yang
satu menguruskan badan dengan biaya jutaan rupiah, sementara ribuan anak tak bisa
makan tiga kali sehari.
"Itu yang kini tergambar di wijah Jakarta" kata Kasubdit Studies Harga Konsumen Badan
Pusat Statistik Sasmita. Pada awal tahun masyarakat sudah dihantui dengan kenaikan
harga BBM akibat naiknnya harga minyak dunia. Walau bukan karena tekanan, hanya
minyak goreng dan minyak tanah pun kini juga melonjak.
Dengan kondisi ekonomi yang dialami Fatimah dan ketiga anaknya, melonjaknya harga-
harga kebutuhan itu merupakan pukulan telak yang tidak bisa dihindari. Kesulitan yang
akan dialami oleh kaum miskin akan semakin besar. "Jakarta memang barometer
perekonomian Indonsia, enam puluh persen perputaran uang ada di sini, tapi bagi siapa"
ujarnya.
Kaum miskin seperti halnya Fatimah adalah sasaran mudah bagi aksi penggusuran yang
dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI memoles apa yang
disebut sebagai "borok", yakni daerah-daerah kumuh di kota dan meminta pihak swasta
"memodernisasi" kawasan itu dengan bangunan-bangunan modern pusat konsumsi.
Tanah Jakarta seperti tak bisa bernapas, bahkan sungai pun mengecil, dipenuhi bangunan
tinggi, membuat banjir tak terkendali dan wabah penyakit infeksi meluas.
Daerah bantaran sungai seperti tempat tinggal Fatimah merupakan wilayah yang rawan
digusur. Padahal, berdasar data yang dimiliki oleh ketua RT 06 Jafar, ia sudah mendiami
wilayah itu sejak 20 tahun lalu. "Pertama ditinggali oleh lakinya" tuturnya.
Kenyataan ini seperti ironi jika dihadapkan pada pernyataan pejabat tentang komitmen
memberantas kemiskinan. Sebaliknya, mereka terus menciptakan kambing hitam dan
stigma, membuat bukan kemiskinan yang harus dihadapi, tetapi orang miskin.
Kriminalitas senantiasa dikaitkan dengan kelompok ini. Padahal, isunya adalah lapangan
kerja bagi kelompok urban tanpa keterampilan, di samping semakin terpinggirnya
penduduk asli.
Riset lembaga swadaya masyarakat menyebutkan sekitar 2,8 juta penduduk Jakarta
bermukim di 490 wilayah yang dikategorikan sebagai "kantong kemiskinan". Data
penduduk bervariasi, antara 7,8 juta sampai 12,5 juta, tergantung metodologi yang
digunakan

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 KESIMPULAN
Dari makalah yang penulis buat yaitu dari berbagai sumber yang diperoleh maka
diperoleh kesiompulan bahwa DKI Jakarta sampai saat ini belum dapat mengatasi masalh
kemiskinan, Kesimpulan ini diperoleh karena masih besarnya prosentaase kemiskinan
yang ada pada wilayah DKI Jakarta yaitu sebesar 3,62% dari penduduk yang berjumlah
9.15 juta jiwa
Pemerintah DKI Jakarta juga telah banyak melakukan cara-cara pengentasan kemiskinan
tetapi kemiskinan juga belum bisa diatasi dengan baik,hal ini dapat dilihat dari contoh
kasus kemiskinan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta.

IV.2 SARAN
Dengan masih besarnya tingkat kemiskinan di wilah DKI Jakarta maka pemerintah
haarus lebih tanggap dalam mengatasi maslah ini. Karena seperti yang kita tau
kemiskinan merupakan slah satu kpenyebab ketidak makmuran masyarakat Indonesia.
Dengan demikian kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah DKI
Jakarta,harus berihak padakaum miskin agar mereka tidak semakin tertindas dengan
masalah kemiskinan yang mereka hadapi
Selain itu harusnya pemerintah DKI Jakarta dapat memperbanyak sector-sektor usaha
angka pengangguran dapat ditekan karena seperti yanmg kita ketahui pengangguran
merupakan salah satu penyebab kemiskinan.