Anda di halaman 1dari 3

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

LAPORAN PRAKTEK SURVEY


Koasistensi Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
Darussalam-Banda Aceh

Nama pengumpul data : Husnurrizal


Syarifah Aini
Mahbub Junaidi

Tanggal : 21 Juni 2008

Penyelidikan Kejadian Penyakit Haemonchiasis

1. Data Pemilik
Nama Peternakan : Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan
Nama Pemilik : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala
Alamat dan No. Telp : Darussalam, Banda Aceh.
Nama Petugas : Hidayat, S.Pt.

2. Jenis ternak : - Sapi Bali


- Sapi Aceh
- Sapi Peranakan Ongol (PO)
3. Jumlah Ternak : ♀ ♂ Jumlah
- Sapi Bali 6 - 6 ekor
- Sapi Aceh 2 1 3 ekor
- Pedet Sapi Bali 1 1 2 ekor
- Pedet Sapi Aceh - 2 2 ekor
- Pedet Sapi PO - 1 1 ekor
14 ekor

4. Jenis/model kandang : Terbuka


5. Pola Pemeliharaan dan pemasukan ternak: Semi Intensif
6. Pemberian pakan : Pagi Digembalakan dan sore diberi pakan rumput di dalam kandang

7. Vaksinasi : Tidak
Jenis vaksin :-
Adakah diulang secara teratur: tidak
Jika ya, kapan pengulangan dilakukan? –

8. Adakah Ternak Yang terserang penyakit Haemonchiasis dalam sebulan terakhir: ada.
1 ekor yaitu sapi PO betina umur 3-4 tahun.

9. Bagaimana gejala penyakit yang terlihat:


a. Kekurusan, tidak ada nafsu makan,
b. Lemas,

Laporan koasistensi epidemiologi dan ekonomi veteriner


Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

c. Mencret.
d. Bulu kusam,
e. Selaput lendir mata anemis,
f. Paralysa/tidak mampu bergerak atau lumpuh,
g. Hipocalsemia

10. Apa tindakan pengendalian yang sudah dilakukan:


- Sudah,
- Pemberian Biosalamin dosis 10 cc/100 kg BB secara IM, pengobatan diulangi sampai 4
kali pemberian (pemberian I sebanyak 20 cc, pemberian II sebanyak 20 cc, pemberian III
sebanyak 10 cc, dan pemberian IV sebanyak 10 cc).
- Diinfus dengan larutan Ringer Dextrose, Glukosa 5 %.
- Pemberian preparat kalsium, Calcii Glocunas, dosis 10 cc IV, selama 4 kali pemberian
(pemberian I sebanyak 30 cc, pemberian II sebanyak 30 cc, pemberian III sebanyak 20
cc, dan pemberian IV sebanyak 20 cc).

Penjelasan Kasus
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, ternak yang menderita penyakit haemonchiasis
yaitu penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing Haemonchus. Menurut petugas setempat
ternak sapi tersebut mati pada tanggal 12 Juni 2008. Di dalam rumen ternak sapi tersebut
ditemukan 6 kg plastik yang menghambat proses pencernaan, sehingga sapi terlihat mengalami
defisiensi makanan/malnutrisi.
Dari hasil pemeriksaan Laboratorium Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Syiah Kuala, bahwa sapi tersebut didiagnosa mengalami ”indigesti akut” yang
disertai oleh Haemonchiasis, dan Stenosis yaitu penyumbatan saluran pencernaan. pada
pemeriksaan post mortem terdapat plastik dalam seberat 6 kg, sehingga pada waktu yang lama
sapi tersebut mengalami hipocalsemia yang ditandai paralysa atau tidak ada kemampuan untuk
bergerak atau lumpuh.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Parasitologi FKH Unsyiah, sapi tersebut
mengalami penyakit Haemonchiasis yaitu suatu penyakit parasitik pada saluran pencernaan yang
disebabkan oleh parasit cacing Haemonchus. hasil pemeriksaan pada sampel feses sapi tersebut
ditemukan telur cacing dari jenis Haemonchus dan Paramphystomum. Dari kedua jenis cacing
tersebut, yang paling banyak terdapat dalam feses yaitu telur cacing Haemonchus.
hasil pemeriksaan Laboratorium Parasitologi FKH Unsyiah, sapi tersebut mengalami
penyakit Haemonchiasis yaitu suatu penyakit parasitik pada saluran pencernaan yang disebabkan
oleh parasit cacing Haemonchus. hasil pemeriksaan pada sampel feses sapi tersebut ditemukan
telur cacing dari jenis Haemonchus dan Paramphystomum. Dari kedua jenis cacing tersebut,
yang paling banyak terdapat dalam feses yaitu telur cacing Haemonchus.
Penyakit ini tergolong penyakit parasit saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi
cacing nematoda antara lain, Haemonchus contortus, Bunostomum sp, Oesophagostomum sp.,
Trychoslrongylus sp dan Trichuris sp. Cacing nematoda yang paling banyak ditemukan terutama
adalah Haemonchus contortus, cacing ini dapat menyebabkan kematian, menghambat
pertumbuhan,menghambat pertambahan berat badan serta menimbulkan gangguan reproduksi.
Cacing Haemonchus contortus merupakan cacing yang hidup di dalam abomasum (perut kitab)
domba, kambing dan sapi. Cacing tersebut menghisap darah induk semangnya sehingga
menimbulkan beberapa efek terhadap induk semangnya antara lain: anemia (kurang darah),

Laporan koasistensi epidemiologi dan ekonomi veteriner


Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

kadang-kadang dijumpai kebengkakan pada rahang bawah, gangguan pencernaan, penurunan


berat badan dan menjadi labih rentan terhadap infeksi penyakit lain.
Kondisi kandang yang tidak bersih sangat mendukung terhadap perkembangbiakan
parasit tersebut, penyebaran parasit tersebut dapat terjadi melalui feses yang mengandung telur,
feses tersebut setiap mingguan digunakan sebagai pupuk kandang dan disebarkan ke padang
pengembalaan, penyebaran penyakit terjadi di padang pengembalaan.
Hasil pemeriksaan post mortem ditemukan 6 kg plastik dalam rumen yang menyebabkan
terjadinya stenosis atau penyumbatan saluran pencernaan sehingga mengganggu proses
pencernaan makanan dalam tractus digestivus. Diduga plastik tersebut sudah lama berada dalam
saluran pencernaan. Sehingga ternak tersebut mengalami hipocalsemia
Hipocalsemia, disebabkan oleh malnutrisi atau kekurangan asupan zat gizi berupa
kalsium, dan juga sapi penderita sedang dalam masa laktasi atau menyusui, sehingga tubuh sapi
tersebut membutuhkan asupan kalsium yang tinggi untuk produksi susu. Akibat dari defesiensi
kalsium (hipocalsemia) menyebabkan sapi tersebut memakan benda-benda yang terasa asin
seperti plastik yang ada di sekitar kandang untuk memenuhi kekurangan dari kalsium dalam
tubuhnya.
Peranan utama kalsium adalah untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi,
selain itu kalsium juga berperan dalam berbagai proses dalam tubuh. Kalsium berperan penting
dalam proses pembekuan darah dan kontraksi otot. Apabila kalsium dalam darah terdapat di
bawah titik kritis, otot tidak dapat rileks setelah kontraksi, sehingga tubuh memperlihatkan gejala
kejang-kejang (titani). Kejang-kejang biasanya akan timbul apabila konsentrasi kalsium dalam
darah turun dari kadar normalnya yaitu 9,4 mg/dl menjadi kira-kira 6 mg/dl (35% di bawah kadar
normal) dan apabila kadarnya menjadi kira-kira 4 mg/dl, biasanya akan menyebabkan kematian.
Sebaliknya, apabila kadar kalsium dalam darah meningkat melebihi kadar normal, sampai kira-
kira 12 mg/dl, sistem saraf akan tertekan dan aktivitas refleks pada sistem saraf menjadi lamban,
memendekkan interval denyut jantung, menimbulkan konstipasi dan menurunkan nafsu makan.
Efek penekanan akan lebih nyata apabila kadar kalsium meningkat di atas 15 mg/dl dan apabila
kadar kalsium dalam darah meningkat hingga kira-kira 17 mg/dl, kristal kalsium fosfat
cenderung mengendap di seluruh tubuh.
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal akan
menyebabkan rasa lapar dan dalam jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang
disertai dengan menurunnya produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan
menyebabkan status gizi kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi
dan protein yang mencukupi, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang
selanjutnya dapat menyebabkan kematian Berbagai faktor, seperti genetik dan lingkungan (gizi
dan aktivitas fisik) mempengaruhi kesehatan tulang dan risiko terhadap osteoporosis. Di antara
faktor gizi, kecukupan konsumsi kalsium adalah faktor yang penting pada seluruh tahap
kehidupan.

Laporan koasistensi epidemiologi dan ekonomi veteriner