Anda di halaman 1dari 2

Penjelasan Tentang Makna Cinta

Cinta adalah kecenderungan watak pada sesuatu karena sesuatu tersebut terasa nikmat
baginya. Sedangkan benci adalah menjauhnya perasaan dari suatu hal karena ia tidak cocok
dengan hal tersebut. Semakin bertambah kenikmatan yang dirasakan, maka perasaan cinta akan
semakin mendalam. Kenikmatan mata terletak pada penglihatannya. Kenikmatan telinga terletak
pada pendengarannya. Kenikmatan alat penciuman terletak pada terciumnya bau yang baik.
Demikian pula dengan seluruh panca indera lainnya, jika merasakan kenikmatan yang sesuai
dengannya, maka ia pun akan mencintainya.
Nabi SAW bersabda, “Ditanamkan rasa cinta kepadaku terhadap tiga hal dari dunia kalian,
yaitu wewangian, wanita dan ketenangan batinku dalam shalat.” Hadits ini menjelaskan bahwa di
balik sesuatu yang dapat dirasa oleh lima panca indera, ada pula hal lain yang dapat dicintai dan
dinikmati kelezatannya, yaitu kegiatan shalat yang kelezatannya tidak dapat dirasakan oleh lima
panca indera yang ada. Dengan demikian, penglihatan mata batin lebih kuat daripada penglihatan
lahir, dan pandangan hati lebih kuat daripada penglihatan mata. Keindahan makna yang dinalar
dengan akan lebih dahsyat dan lebih sempurna daripada keindahan bentuk yang tampak secara
lahir. Dari sini dapat dipastikan bahwa masalah-masalah ketuhanan kelezatannya dapat dirasakan
oleh hati secara lebih sempurna dan mendalam dibandingkan yang dirasakan oleh hati secara
lebih sempurna dan mendalam dibandingkan yang dirasakan oleh panca indera, sehingga
kecenderungan watak yang sehat pada kelezatan tersebut menjadi lebih kuat. Cinta tidak
bermakna kecuali dengan munculnya kecenderungan pada sesuatu yang terasa nikmat. Dengan
demikian, tidak ada yang mengingkari kenikmatan cinta kepada Allah SWT kecuali orang yang
terhalang oleh berbagai keterbatasan sampai setingkat dengan level binatang sehingga panca
inderanya tidak berfungsi dengan baik sama sekali.
Ketahuilah bahwa manusia sangat mencintai dirinya adalah sesuatu yang paling cocok
untuk dicintai dan ia juga mencintai keberadaan dirinya yang kontinu. Selain itu, manusia juga
cinta pada kebaikan karena manusia adalah hamba kebaikan. Terkadang manusia mencintai
sesuatu karena zatnya, sebab zat tersebut tampak indah dan baik bagi dirinya. Inilah jenis cinta
yang paling dalam, yang tidak bercampur atau disamarkan dengan sifat keduniawian. Jadi, segala
sesuatu yang indah pasti dicintai.
Orang yang terpenjara dalam khayalan-khayalan yang sempit mungkin menganggap bahwa
kebaikan dan keindahan itu tidak bermakna kecuali jika sesuai dengan ciptaan, bentuk dan warna
indah yang dapat diindera oleh panca indera. Padahal segala sesuatu, kebaikan dan keindahannya
dapat terasa sempurna sesuai dengan sesuatu tersebut sampai pada batas yang memungkinkan,
sehingga kita mengetahui juga bahwa sesuatu yang baik untuk satu hal belum tentu baik untuk
hal lain dan semua itu disukai. Jika ada yang membayangkan bahwa kebaikan dan keindahan
semuanya diukur dengan panca indera perasa, namun kenyataannya ada yang disebut dengan
akhlak yang baik, ilmu, kekuasaan, akal dan lain sebagainya yang semua itu adalah yang baik
dan dicintai meskipun tidak dapat dirasa oleh indera perasa lahiriah melainkan dirasa oleh
cahaya mata hati.
Oleh karena itu, mencintai Nabi SAW, para sahabatnya, imam Syafi’i dan imam mahzab
lainnya adalah sesuatu yang mungkin, walaupun rasa cinta ini tidak dapat diindera dan tidak
dapat dirasa oleh kelima panca indera. Jadi, ketika sesuatu sudah tidak dapat diindera, maka
untuk mengetahuinya dapat menggunakan mata hati. Jika hal ini sudah ketetapan, maka tidak ada
yang berhak untuk dicintai selain Allah SWT karena Dialah Sang Pencipta dan Pemberi
Anugerah untuk fitrah asal. Dia pula penyebab kekekalan, keabadian dan kedamaian. Dengan
demikian, dalam kondisi apa pun Dialah zat yang berbuat baik. Dialah zat yang indah dan baik di
mana segala keindahan dan kebaikan berasal dari pancaran wujud-Nya.
Barangsiapa yang mencintai para nabi, sahabat, dan para imam dikarenakan kebersatuan
mereka, maka ia berada dalam kebaikan karena segala kebaikan berasal dari-Nya dan kembali
kepada-Nya. Dialah yang mempunyai keindahan, dimana segala keindahan terpancar dari-Nya.
Engkau sudah mengetahui segala hal yang indah pasti akan dicintai, dan engkau juga mengetahui
bahwa ada manusia-manusia khusus yang mungkin bisa menghiasi dirinya dengan sifat-sifat
yang terpuji sehingga dikatakan, “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.” Dalam batin manusia ada
hakikat yang diciptakan Allah SWT dalam hati sebagai watak, yang disebut dengan cahaya Ilahi.
Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah
hatinya untuk [menerima] agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya [sama dengan
orang yang membatu hatinya]?” (QS. Az-Zumar [39]: 22)
Watak inilah yang dapat merasakan indahnya kehadiran Tuhan sesuai dengan ukuran
kematiannya. Jika keindahan sudah dicintai, maka di dunia ini tidak ada lagi yang lebih tinggi,
lebih luhur, lebih mulia dan lebih sempurna, selain dari keindahan anugerah-Nya. Seberapa
dalam ia merasdakan keindahan tersebut, maka sebesar itulah nikmat yang ia rasakan. Dan
seberapa besar nikmat yang dirasakan, maka sedalam itulah cintanya.

Sumber : Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam Ghazali

Bisa dilihat juga di http://ozimovic.wordpress.com/2010/11/01/penjelasan-tentang-makna-cinta/