Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kejayaan Islam di dunia Timur mengalami masa keemasannya pada pemerintahan


daulah Abbasiyah. Masa keemasan Islam yang juga dinilai sebagai fase perkembangan
terpenting bagi pendidikan Islam ini terjadi pada kurun waktu abad ketiga sampai kelima
hijriah.1 Periode ini menjadi sangat terkenal dengan munculnya gerakan intelektual dalam
sejarah Islam, sehingga dikenal sebagai kebangkitan dalam sejarah pemikiran dan budaya.2
Perkembangan keilmuan dapat dilihat dari keberhasilan tokoh-tokoh Islam dalam menjalani
keilmuan serta banyaknya karya-karya besar dari tokoh-tokoh tersebut. Bidang keilmuan
yang berkembang sangat pesat antara lain bidang fiqih, tafsir, ilmu hadis, teologi, filsafat,
bahkan bidang-bidang keilmuan umum seperti halnya astronomi, optika, sastra, matematika
bahkan ilmu kedokteran.

Selain dalam segi pendidikan, kekuasaan Abbasiyah atas umat Islam juga
mengantarkan pada zaman pemerintahan yang kuat terpusat, kesejahteraan ekonomi yang
tinggi dan peradaban yang luar biasa.3 Dunia Islam pada waktu itu dalam keadaan maju,
jaya, makmur sebaliknya dunia Barat masih dalam keadaan gelap, bodoh dan primitif.
Ketika itu dunia Islam sudah sibuk mengadakan penyelidikan di laboratorium dan
observatorium, sedangkan dunia Barat masih asyik dengan jampi-jampi dan dewa-dewa.4

Perkembangan intelektual Islam ini disebabkan agama yang dibawa Nabi


Muhammad telah mendorong untuk menumbuhkan budaya baru yaitu kebudayaan Islam.
Dorongan itu mula-mula menggerakkan terciptanya ilmu pengetahuan dalam lapangan
agama (ilmu aqli), bermunculanlah ilmu-ilmu agama dalam berbagai bidang. Kemudian
ketika umat Islam keluar dari Jazirah Arab, mereka menemukan perbendaharaan Yunani.
Dorongan dari agama ditambah pengaruh dari perbendaharaan Yunani menimbulkan

1 Mahmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif, (Yokyakarta: 2008), hal 18


2 Philiph K. Hitti, History Of Arab, terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk, (Jakarta: 2005), hal 369
3 John L. Esposito, Islam: The Straight Path, terj. Arif Maftuhin, (Jakarta: 1998), hal 65
4 Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: 2004), hal 54

1
dorongan untuk munculnya berbagai ilmu pengetahuan bidang akal (ilmu aqli).5

Perkembangan ilmu pengetahuan baik berupa ilmu agama maupun ilmu umum yang
ada pada masa keemasan Islam ini tidak terlepas dari lahir dan berkembangnya lembaga-
lembaga pendidikan Islam yang ada pada masa itu. Mulai dari lembaga pendidikan yang
sifatnya sederhana dan dapat dikatakan sebagai pendidikan tingkat rendah hingga lembaga
pendidikan yang telah modern. Dalam makalah ini akan dibahas pembentukan dan
pengembangan lembaga pendidikan yang ada pada masa Bani Abbasiyah, serta faktor-
faktor yang melatarbelakangi perkembangan pendidikan pada masa tersebut.

5 Ibid
BAB II

PEMBAHASAN

Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa
kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan. Kekhalifahan Baghdad
yang didirikan oleh Al-Saffah (w.754 M) dan Al-Manshur (w.775 M) mencapai masa
keemasannya antara masa khalifah ketiga yaitu Al-Mahdi (w.785 M), khalifah kesembilan
yaitu Al-Washiq dan lebih khusus lagi pada masa Harun Al-Rashid (w.809 M) dan
putranya Al-Ma’mun (w.833 M).6

Menurut Munir Mursi7 masa keemasan dunia Timur Islam berlangsung semenjak
awal masa Daulah Abbasiyah hingga saat keruntuhannya. Karakteristik dasar masa
keemasan Islam ini adalah masuknya keilmuan intelektual, terbangunnya madrasah-
madrasah, dan munculnya pemikiran pendidikan yang istimewa. Lembaga pendidikan
Islam yang terbentuk pada masa Bani Abbasiyah, dapat diketegorikan menjadi lembaga
pendidikan sebelum adanya madrasah dan pendidikan berbentuk madrasah. Lembaga
pendidikan tersebut lebih lanjut diuraikan sebagaimana berikut ini.

2.1 LEMBAGA PENDIDIKAN SEBELUM MADRASAH

Perkembangan kebudayaan dan pemikiran pendidikan Islam berada pada puncaknya


terjadi pada masa Bani Abbasiyah. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berasal dari
kreatifitas Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal
kebangkitan Islam8 mulai dari masa khalifah Ar-rashidun. Sedangkan penelaahan ilmu
pengetahuan telah dimulai sejak zaman Bani Umayyah.9

6 Philiph K. Hitti, Op cit, hal 369


7 Dalam Mahmud Arif, Op cit, hal 19
8 Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: 2000), hal 54
9 Musyrifah Sunanto, Op cit, hal 54

3
Di dalam bidang pendidikan, misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan Islam
sudah mulai berkembang. Pada masa itu terdapat dua tingkatan pendidikan yaitu maktab
atau kuttab yang merupakan lembaga pendidikan terendah. Sedangkan pada tingkat
pedalaman terdapat pendidikan lanjutan dengan mengunjungi para ahli dalam bidangnya
masing-masing.10

Lembaga pendidikan berupa kuttab sebenarnya sudah ada di negeri Arab sebelum
datangnya agama Islam, akan tetapi belum dikenal11 secara luas. Baru kemudian mengalami
perkembangan pada masa Bani Abbasiyah, seiring dengan semangat perkembangan ilmu
pengetahuan pada masa itu.

Secara garis besar, lembaga pendidikan Islam pada masa Bani Abbasiyah dapat
dikategorikan menjadi lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan non formal.
Beberapa lembaga pendidikan Islam non formal pada masa Bani Abbasiyah diuraikan lebih
lanjut sebagai berikut ini.

1. Kuttab

Kuttab dan maktab berasal dari bahasa Arab kataba yang berarti menulis
atau tempat menulis, jadi kuttab adalah tempat belajar menulis. Pada awalnya
kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi
anak-anak12 namun ketika Islam mulai berkembang pelajaran ditekankan pada
penghafalan Al-Qur’an.

Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru.
Sejalan dengan meluasnya wilayah kekuasaan kaum muslimin, bertambah pulalah
jumlah penduduk yang memeluk Islam. Ketika itu kuttab-kuttab yang hanya
mengambil tempat di ruangan rumah guru mulai dirasakan tidak memadai untuk
menampung anak-anak yang jumlahnya makin besar. Kondisi yang demikian ini
mendorong para guru dan orang tua mencari tempat lain yang lebih lapang, yaitu

10 Dr. Badri Yatim, Op cit, hal 54


11Prof. Dr. Suwito MA, et al, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: 2005), hal 12
12 Ibid
sudut-sudut masjid (bilik-bilik yang berhubungan dengan masjid). Selain dari
kuttab-kuttab yang diadakan di dalam masjid, terdapat pula kuttab-kuttab umum
dalam bentuk madrasah yang mempunyai gedung sendiri dan dapat menampung
ribuan murid.13

Pada akhir abad pertama hijriah mulai timbul jenis kuttab yang disamping
memberikan pelajaran menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca Al-
Qur’an dan pokok-pokok ajaran agama, juga pengetahuan dasar lainnya. Dengan
demikian kuttab tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang
bersifat formal.14

2. Qusur atau Pendidikan Rendah di Istana

Timbulnya pendidikan rendah di Istana untuk anak-anak para pejabat adalah

berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik
agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah dewasa. Atas dasar
pemikiran tersebut khalifah dan keluarganya serta para pembesar lainnya
menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah diperkenalkan dengan lingkungan
dan tugas-tugas yang akan diembannya nanti. Oleh karena itu mereka memanggil
guru-guru khusus untuk memberikan pendidikan pada anak-anak mereka.15

Corak pendidikan anak-anak di istana berbeda dengan pendidikan anak-anak


di kuttab-kuttab, pada umumnya di istana para orang tua siswa (pembesar istana)
yang membuat rencana pelajaran selaras dengan anaknya dan tujuan yang ingin
dicapai orang tuanya. Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis
besarnya sama dengan rencana pelajaran pada kuttab-kuttab yang lain hanya sedikit
ditambah dan dikurangi sesuai dengan kehendak orang tua mereka.16

Guru yang mengajar di istana disebut sebagai muaddib karena berfungsi

13 Ibid
14 Ibid
15 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: 2004), hal 92
16 Suwito, Op cit, hal 13

5
mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan
orang-orang terdahulu kepada anak-anak pejabat.17

3. Halaqoh

Halaqoh artinya lingkaran. Halaqoh merupakan institusi pendidikan Islam


setingkat dengan pendidikan tingkat lanjutan atau college. Institusi ini secara umum
dikenal dengan sistem halaqoh. Sistem ini merupakan gambaran tipikal dari murid-
murid yang berkumpul untuk belajar pada masa itu. Guru biasanya duduk diatas
lantai sambil menerangkan, membaca karangannya, atau komentar orang lain
terhadap suatu karya pemikiran. Murid-muridnya akan mendengarkan penjelasan
guru dengan duduk diatas lantai yang melingkari gurunya.18

Fenomena halaqoh ini sebagaimana yang dicatat oleh Al-Maqdisi ketika


mengunjungi kota Susa. Ahli Geografi ini menemukan berbagai halaqoh atau
lingkaran-lingkaran pendidikan di Palestina, Suriah, Mesir dan Faris. Ia juga
menemukan sekelompok pelajar yang berkumpul mengitari seorang guru (faqih),
juga lingkaran pada pembaca Al-Quran dan karya sastra di masjid-masjid. Imam
Syafii sendiri memiliki halaqoh semacam itu di Masjid Amr di kota Fustat.19

4. Masjid dan Jami’

Ketika rasulullah hijrah ke Madinah dengan semakin banyaknya pengikut


Islam dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang perlu dikaji, fungsi awal
rumah sebagai wahana pendidikan dialihkan ke masjid-masjid seperti masjid
Nabawi dan Quba, dijadikan pusat bagi segala aktifitas pendidikan,
kemasyarakatan, kenegaraan dan keagamaan. Hal ini karena masjid dianggap
sebagai institusi pendidikan yang merupakan instrumen yang pertama dan efektif
untuk membantu transisi masyarakat Arab, dari masyarakat primitif menjadi
masyarakat yang lebih maju.20

17 Zuhairini, dkk, Op cit, hal 92


18 Suwito, Op cit hal 28
19 Philiph K. Hitti, Op cit, hal 519
20 Ode Abdurrahman. “Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam”. http//www.infolepas.blogspot.com. (28
Pada masa Bani Abbasiyah dan masa perkembangan kebudayaan Islam,
masjid-masjid yang didirikan oleh para pengusaha pada umumnya dilengkapi
dengan berbagai macam sarana dan fasilitas umum pendidikan.21 Hal ini menjadikan
fungsi masjid tidak hanya sebagai sarana beribadah saja akan tetapi juga sebagai
sarana pengembangan ilmu pengetahuan.

5. Mana>zil al-Ulama> (Rumah Kediaman Para Ulama)

Pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan


Islam, banyak rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi
tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini pada umumnya
disebabkan ulama dan ahli hadis yang bersangkutan tidak mungkin memberikan
pelajaran di masjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari
ilmu pengetahuan daripadanya.

Diantara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah
Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan lain sebagainya. Ahmad Syalabi mengemukakan bahwa
dipergunakannya rumah-rumah ulama dan para ahli tersebut adalah kerena terpaksa
dalam keadaan darurat, misalnya rumah Al-Ghazali setelah tidak mengajar di
madrasah Nid}amiyah dan menjalankan kehidupan sufi. Para pelajar terpaksa
datang ke rumahnya karena kehausan akan ilmu pengetahuan dan terutama karena
pendapatnya yang sangat menarik.22

6. Toko-toko Kitab

Pada permulaannya masa Daulah Abbasiyah, dimana ilmu pengetahuan dan


kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-
kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab.
Pada mulanya toko-toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-
kitab yang telah ditulis dalam berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pada

September 2009)

21 Zuhairini, dkk, Op cit hal 99


22 Ibid, hal 95-96

7
masa itu. Mereka membeli dari para penulisnya kemudian menjualnya kepada siapa
yang berminat untuk mempelajarinya.23

Saudagar-saudagar tersebut bukanlah orang-orang yang semata-mata


mencari keuntungan dan laba akan tetapi kebanyakan mereka adalah sastrawan-
sastrawan yang cerdas yang telah memilih usaha sebagai pedagang kitab tersebut
agar mendapat kesempatan yang baik untuk membaca dan menelaah, serta bergaul
dengan para ulama dan pujangga-pujangga. Mereka juga menyalin kitab-kitab yang
penting dan menyodorkannya kepada mereka yang memerlukan dengan mendapat
imbalan.24

Dengan demikian toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya


bukan hanya sebagai tempat berjual beli kitab-kitab saja, tetapi juga merupakan
tempat berkumpulnya para ulama, pujangga, dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya
untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah.25Al-
Yaqubi meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891 H), ibukota negara
diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet pada satu ruas jalan
yang sama. Sebagian dari toko-toko tersebut, sebagaimana toko-toko yang
kemudian muncul di Damaskus dan Kairo, tidak lebih besar dari ruangan samping
masjid, tetapi ada juga toko-toko yang berukuran sangat besar, cukup besar untuk
penjualan sekaligus pusat aktifitas para ahli dan penyalin naskah.26

7. Salu>n al-Ada>biyah atau Majlis Kesusastraan

Philiph K. Hitti27 menyebut majlis ini sebagai majlis al-ada>b,


yang diartikan secara harfiah sebagai lingkar sastra. Majlis ini bermula sejak zaman
Khulafa Ar-Rashidun, dan pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rashid
majlis sastra ini mengalami kemajuan yang luar biasa.28

23 Ibid, hal 94
24 Ibid
25 Zuhairini,dkk, Op cit, hal94
26 Philiph K. Hitti, Op. cit, hal 521
27 Ibid, hal 519
28 Zuhairini, Op cit hal 96
Di bawah kekuasaan para khalifah pertama Bani Abbasiyah, sering
diselenggarakan berbagai kontes puisi, debat keagamaan dan konferensi pendidikan.

8. Perpustakaan

Latar belakang pendirian perpustakaan ini diantaranya karena keterbatasan


masyarakat yang tidak mampu menjangkau atau untuk memiliki kitab-kitab yang
harganya mahal.29 Perpustakaan ini sebagian didirikan oleh pemerintah dan
sebagian yang lain didirikan oleh bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga-
30
lembaga kajian yang terbuka untuk umum. Perpustakaan yang sangat besar dan
merupakan perpustakaan yang lengkap didirikan oleh Al-Ma’mun di kota Baghdad
yang diberi nama “Baitul Hikmah”, perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat
penerjemahan, pusat kajian akademis dan memiliki sebuah observatorium.
Perpustakaan ini juga merupakan tempat mengumpulkan karya-karya yang
dihasilkan baik di bidang keagamaan maupun yang bukan agama31 (pengetahuan
umum).

Perpustakaan lainnya dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi yaitu Adud


ad-Daulah yang semua bukunya disusun di atas lemari, didaftar dalam katalog,
diatur dengan baik oleh staf administrator yang berjaga secara giliran. Sedangkan di
kota Ravy terdapat sebuah tempat bernama “Rumah Buku”.32

9. Rumah sakit

Pada masa tersebut, rumah sakit tidak hanya digunakan sebagai tempat
merawat dan mengobati orang sakit saja. Akan tetapi rumah sakit juga berperan
dalam pendidikan yang berhubungan dengan perawatan dan juga kedokteran. Di
rumah sakit ini diadakan berbagai penelitian dan percobaan di bidang kedokteran
dan farmasi. Rumah sakit ini juga menjadi tempat praktikum dari sekolah
kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit. Dan tidak jarang pula sekolah-

29 Ode Abdurrahman, Loc cit


30 Philiph, K.Hitti, Op cit, hal 521
31 Mahayudin Hj. Yahaya, dkk, Sejarah Islam, (Selangor: 1993), hal 275
32 Philiph, K.Hitti, Op cit, hal 521

9
sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Jadi rumah
sakit selain sebagai lembaga social juga berperan sebagai lembaga pendidikan.33

2.2 METODE DAN MATERI PENDIDIKAN LEMBAGA PENDIDIKAN


ABBASIYAH

2.2.1 Metode Pendidikan dan Pengajaran

Dalam pelaksanaan pengajaran pada masa Bani Abbasiyah, dikembangkan tiga


metode yang dipergunakan dalam proses pengajaran34, ketiga metode tersebut adalah
sebagai berikut ini:

1. Metode lisan, yaitu berupa dikte, ceramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte
merupakan metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena
dengan metode ini murid memiliki catatan yang dapat membantu apabila suatu saat
lupa terhadap apa yang telah diajarkan. Metode ini dianggap penting karena pada
masa klasik buku-buku cetak masih sulit dimiliki. Metode ceramah disebut juga al-
sama’ sebab dengan metode ceramah guru menjelaskan isi buku dengan hafalan
sedangkan murid mendengarkannya. Metode qira’ah dipergunakan untuk yang
belajar membaca.

2. Metode menghafal, metode ini dilaksanakan dengan membaca secara berulang-


ulang hingga apa yang diajarkan melekat pada benar murid.

3. Metode tulisan, hal ini dianggap sebagai metode yang penting karena dengan
metode penulisan inilah karya-karya intelektual para ulama dapat sampai pada
generasi sesudahnya dan merupakan pendukung dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.

2.2.2 Materi Pendidikan

Materi pendidikan yang diajarkan pada murid bermacam-macam. Dari bermacam-


macam materi tersebut terdapat materi yang bersifat wajib dan ada yang bersifat pilihan.
33 Zuhairini, Op. cit, hal 98
34 Suwito, Op. cit, hal 14
Beberapa materi pelajaran yang sifatnya wajib adalah:

1. Al-Qur’an

2. Shalat

3. Do’a

4. Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab dasar

5. Membaca dan menulis

Sedangkan materi pilihan diantaranya adalah:

1. Berhitung

2. Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab secara mendalam

3. Syair-syair

4. Riwayat atau tarikh Arab

2.3 MADRASAH DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

2.3.1 Awal Kemunculan Madrasah dan Latar Belakang Pendirian Madrasah Nid}amiyah

Munculnya madrasah sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi pasca lembaga


pendidikan non formal pada masa-masa sebelumnya dikarenakan makin meluasnya daerah
Islam serta berkembangnya ilmu pengetahuan yang mengakibatkan harus
dipertimbangkanya lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai lembaga pendidikan
Islam yang tidak lagi dianggap mampu dan memadai untuk keberlangsungan pendidikan
Islam, terutama kepada mereka yang hendak melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi.35

Kata madrasah berasal dari Bahasa Arab yang berarti tempat belajar siswa,
sedangkan secara terminologis adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama
Islam secara formal dengan menggunakan sarana belajar dan kurikulum dalam bentuk

35 Ode Abdurrahman, Loc cit

11
klasikal. Dari pengertian tersebut nampak bahwa institusi madrasah berbeda dengan
institusi-institusi pendidikan Islam sebelumnya terutama dalam aspek pengajaran.

Institusi madrasah diduga merupakan prestasi abad ke lima hijriah. Al-Maqribi


mengatakan bahwa madrasah-madrasah yang muncul dalam Islam belum dikenal pada
masa sahabat, maupun tabi’in melainkan sesuatu yang baru setelah 400 tahun sesudah
hijriah. Hal ini diperkuat oleh sejarawan seperti George Makdisi dan Ahmad Shalabi yang
mengungkapkan bahwa madrasah untuk pertama kali didirikan oleh Wazir Nid}am Al-
Mulk pada tahun 459 H. di tepi sungai Tigris Baghdad yang kemudian dikenal dengan
madrasah Nid}amiyah .

Munculnya madrasah Nid}amiyah pada dasarnya merupakan reaksi terhadap


berkembangnya paham Shi’ah pada waktu itu, yang dimulai sejak abad keempat. Paham ini
nampak telah berkembang begitu pesat di banyak daerah Islam yang dipromotori oleh
Dinasti Fatimiyah di Mesir. Mengingat bahwa untuk melawan Shi’ah tidak cukup dengan
kekuatan senjata, maka pemerintah pada masa itu membentengi masyarakat dari pengeruh
Shi’ah melalui jalur pendidikan.

Madrasah Nid}amiyah dibangun sebagai pusat studi teologi (madrasah),


khususnya untuk mempelajari ajaran-ajaran Madzhab Shafi’i dan teologi Ash’ariyah. Di
sekolah ini Al-Quran dan puisi-puisi Arab kuno menjadi sumber utama pengembangan dan
pengkajian ilmu-ilmu humaniora dan sastra. Madrasah Nid}amiyah merupakan satu-
satunya lembaga pendidikan teologi yang diakui oleh negara 36 yang juga dipandang sebagai
sarana yang mendesak harus dibentuk sebagai wadah penanaman ideologi yang dapat
melawan ideologi Shi’ah. Karena itu pada dasarnya, pendirian Madrasah Nid}amiyah
mempunyai beberapa tujuan khusus diantaranya:

1. Menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Shi’ah

2. Menyiapkan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan Madzhab Sunni dan
menyebarkannya ke tempat-tempat lain

36 Philiph K. HItti, Op cit, hal 515


3. Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan
pemerintahan, pemimpin kantor, khususnya di bidang peradilan dan manajemen.

Pendirian madrasah Nid}amiyah ini dapat juga dikatakan sebagai lembaga yang
memiliki eksklusivitas kemadhaban. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Makdisi37
yang menjelaskan tentang ekslusivitas kemadhaban yang berlaku di madrasah
Nid}amiyah. Inilah yang ditengarai sebagai awal mula kemunculan dan
konsolidasi aliran Sunni. Proses kebangunan madrasah Nid}amiyah
berimplikasi pada proses kebangunan kelembagaan schools of law (madhab) dan colleges
of law (madrasah). Terma school of law ini menunjukkan arti (1) kelompok jurisconsult
(faqih mufti) yang seafiliasi karena berasal dari satu daerah (2) kelompok jurisconsults
yang mengikuti salah satu tokoh ternama jurisconsults semisal madhab Shafi’I atau
Maliki.38

Dalam penyelenggaraan madrasah Nid}amiyah terdapat beberapa ketentuan yang


diberlakukan. Ketentuan yang diberlakukan adalah sebagai berikut ini:

1. Hak guna pakai status wakaf madrasah Nid}amiyah


diberikan pada pengikut madhab Shafi’i

2. Staf-staf kunci di madrasah Nid}amiyah haruslah madhab


Shafi’i

3. Madrasah Nid}amiyah harus memiliki tenaga pengajar


Ilmu Al-Quran

4. Madrasah Nid}amiyah harus harus juga memiliki tenaga


pengajar ilmu bahasa Arab

5. Setiap staf menerima bagian tertentu dari nilai tambah wakaf


madrasah Nid}amiyah

37 Makdisi dalam Mahmud Arif, Op. cit, hal 143


38 George Makdisi, The Rise Of Colleges, (Edinburg: 1981), hal 1

13
Dari hal tersebut nampak bahwa pendirian Madrasah Nid}amiyah didasari oleh
beberapa motivasi, baik motivasi keagamaan, motivasi ekonomi dan motivasi politik. Dari
sudut keilmuan, keterlibatan pemerintah dalam madrasah Nid}amiyah sedikit banyak
menggerakkan madrasah hanya pada ilmu yang mendukung atau madhab (Shafi’i).

2.3.2 Kurikulum dan Materi yang Diberikan

Rencana pengajaran di Madrasah Nid}amiyah tidak dijelaskan dengan rinci,


akan tetapi menurut Mahmud Yunus rencana pengajarannya hanya mengkonsentrasikan
usahanya pada pengajaran Ulum al-Shari’ah dan Ulum al-Diniyah sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan, dimana berarti mengabaikan ilmu-ilmu terapan yang praktis seperti
ilmu Kedokteran dan Falak.39 Lebih lanjut dikemukakan bahwa proses pengajarannya
sebagai berikut ini:

1. Para ahli sejarah tidak seorangpun yang mengatakan bahwa diantara mata
pelajarannya ada ilmu seperki kedokteran, ilmu falak, dan ilmu-ilmu pasti, mereka
hanya menyebutkan mata pelajaran seperti nahwu, ilmu kalam dan fikih

2. Guru-guru yang mengajar di madrasah Nid}amiyah adalah ulama-ulama Shariah


sehingga madrasah tersebut merupakan madrasah shariah bukan madrasah filsafat

3. Pendirian madrasah Nid}amiyah itu bukanlah untuk membela ilmu filsafat dan
bukan pula orang-orang yang membantu pembebasan filsafat

4. Zaman berdirinya madrasah Nid}amiyah bukanlah zaman filsafat, melainkan


zaman menindas filsafat dan orang-orang filsuf.40

Sebagaimana telah disampaikan pada bahasan sebelumnya, pendirian madrasah


Nid}amiyah ini merupakan upaya penanaman ideologi Sunni dan paham Ashariyah.
Madrasah ini tidak mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat duniawi tetapi lebih terfokus pada
pelajaran ilmu agama terutama ilmu fiqih. Hal ini menurut penulis di satu sisi merupakan

39 Ode Abdurrahman, Loc cit


40 Mahmud Yunus dalam Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan
Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: 2007), hal 160-161
salah satu pendukung terjadinya penurunan kemajuan umat Islam di kemudian hari
terutama dalam bidang-bidang ilmu-ilmu duniawi semisal ilmu kedokteran, filsafat, sains
dan lain sebagainya. Sedangkan di sisi lain memberikan pengaruh kokohnya ilmu-ilmu
agama seperti nahwu, balaghoh, dan ilmu fiqih.

Pendirian madrasah Nid}amiyah, tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk


melanggengkan kekuasaan. Penanaman ideologi Sunni dan paham Ash’ariyah secara tidak
langsung menguatkan paham yang dianut pemerintah dan membentengi dari guncangan
paham lain yaitu Shi’ah dan juga Mu’tazilah yang sebelumnya pernah memiliki pengaruh
yang kuat pada masyarakat Abbasiyah.

2.3.3 Tokoh-tokoh Penting dalam Pengajaran di Madrasah Nid}amiyah

Masyhurnya madrasah Nid}amiyah tidak terlepas dari peran guru yang


mengajar, mendidik, dan membimbing para mahasiswa yang akhirnya dapat menghasilkan
sarjana-sarjana yang berkedudukan di pemerintahan sebagai karyawan dan pegawai negara.
Guru-guru yang diangkat sebagai pengajar pada madrasah ini tentu saja tidak melenceng
dari tujuan didirikannya lembaga tersebut yaitu menyebarkan pemikiran Sunni untuk
menghadapi pemikiran Shi’ah, menyediakan guru-guru Sunni yang cakap untuk
mengajarkan madhab Sunni dan menyebarkannya ke tempat lain dan juga membentuk
kelompok pekerka Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, pemimpin
kantor, khususnya dalam bidang peradilan dan manajemen.41

Salah satu guru di madrasah Nid}amiyah ini adalah Al-Ghazali (w.1111 M),
beliau mengajar selama empat tahun (1091-1095). Dalam satu sesi perkuliahan tentang
pendidikan dan pengajaran ia mengenalkan karya besarnya yaitu Ihya’ Ulumuddin. Al
Ghazali mengkritik pandangan beberapa ulama yang mengatakan bahwa penanaman atau
penyampaian pengetahuan merupakan salah satu objek pengajaran. Al-Ghazali
menekankan stimulus kesadaran moral setiap anak didik dalam proses pembelajaran.42

Asas mengajar Al-Ghazali yang terkenal adalah dengan memperhatikan tingkat

41 Samsul Nizar, Ibid, hal 163


42 Ibid

15
daya berpikir anak, menerangkan pelajaran dengan jelas, mengajarkan dari konkrit ke
abstrak dan mengajarkan ilmu pengetahuan secara berangsur-angsur.43

Selain Al-Ghazali, guru-guru lain yang turut berperan dalam proses pengajaran di
Madrasah Nid}amiyah antara lain yaitu:

1. Abu Ishak al-Shirazi (w.1083 M)

2. Abu Nasr al-Shabbagh (w.1084 M)

3. Abu Qosim al-’Alawi (w.1089 M)

4. Abu Abdullah al-Thabari (w.1101 M)

5. Radliyud Din al-Qazwaini (w.1179 M)

6. Al-Firuzabadi (w.1414 M).44

Kehadiran madrasah Nid}amiyah memberikan pengaruh besar pada masyarakat


baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial keagamaan. Dalam bidang ekonomi,
madrasah ini telah menghasilkan lulusan yang siap menjadi pegawai pemerintah di bidang
hukum dan administrasi. Di bidang sosial keagamaan, madrasah yang memfokuskan pada
ajaran fiqih, dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya.

2.3 FAKTOR PENDUKUNG PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BANI


ABBASIYAH

Perkembangan lembaga pendidikan yang terjadi pada masa Bani Abbasiyah,


mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat
ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah sebagai berikut ini.

1. Asimilasi dengan budaya lain

Pada masa itu, terjadi asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa

43 Pramujaya S, Kurikulum dan Pola Pengembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Klasik Zaman
Keemasan, (Jakarta: 2007), hal 131
44 Samsul Nizar, Op. cit, hal 164
lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk
Islam. Asimilasi ini berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu
memberikan saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra.
Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi,
sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak
bidang ilmu, terutama filsafat.45

Kultur Yunani memang memiliki pengaruh yang menonjol terhadap


pertumbuhan peradaban Islam, dan yang paling menonjol dari sentuhan peradapan
dengan kultur Yunani adalah dalam bidang filsafat. Filsafat yang dimaksud adalah
sebuah gerakan dengan keragaman posisi yang disatukan oleh kesamaan
peristilahan dan melalui sebuah komitmen pada sebuah program investigasi yang
rasional, meliputi logika, sains kealaman, dan metafisika.46 Sentuhan dengan filsafat
Yunani ini tidak lepas dari pemikiran Plato dan Aristoteles sebagai tokoh-tokoh
filsafat kenamaan pada zaman Yunani.

Para tokoh yang terkenal sebagai penerima dan pengembang ajaran-ajaran


filsafat pada masa tersebut antara lain adalah Al-Kindi (w.870 M), Al Farabi (w.950
M) dan Ibnu Rusyd (w.1198 M). Para filosof ini memiliki kepercayaan bahwa tidak
terdapat kontradiksi antara agama dan filsafat47 sehingga mereka pada satu sisi
mengembangkan pemikiran yang rasional, akan tetapi di sisi lain merupakan
pemeluk agama yang taat.

2. Kontak dengan pusat belajar kaum Kristiani

Pada masa itu pusat belajar paling penting adalah kolase Kristian Nestorian
di Gandeshapur. Kolase ini terutama terkenal karena pengajarannya dalam bidang
kedokteran. Kolase ini menelurkan dokter-dokter Istana Harun Ar-Rasyid, akibat

45 Yatim, Badri, Op Cit, hal 55


46 Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: 1999), hal 143
47 Karen Amstrong, Islam, Sejarah Singkat, Terj. Fungky Kusnaedi Timur, (Jakarta: 2003), hal 99

17
kontak ini para khalifah dan para pemimpin orang Muslim lainnya menyadari apa
yang harus dipelajari dari ilmu pengetahuan Yunani.48

3. Sarana dan prasarana yang mendukung

Kondisi pada masa Bani Abbas telah memungkinkan penelaahan ilmu


pengetahuan secara massif mengingat Bahasa Arab telah mencapai taraf
kesempurnaan. Huruf Arab, tanda baca, harokat, perbendaharaan katanya telah
lengkap, tata bahasanya juga sudah mantab.49

Pada masa tersebut kertas juga telah masuk Irak pada abad ke tiga hijriah,
segera setelah itu industri kertas tumbuh menjamur, industri ini pertama kali muncul
di Samarkand.50 Muncul dan berkembangnya industri kertas ini secara tidak
langsung memberikan dampak semakin meningkatnya penerbitan dan penulisan
buku-buku dari para ilmuwan dan juga ahli agama. Hal ini tentu saja membawa
pada peningkatan intelektual masyarakat.

4. Dukungan dari penguasa

Nilai-nilai kebebasan berekspresi, keterbukaan, toleransi dan kesetaraan


sangat dijunjung tinggi oleh penguasa. Hal ini dapat dijumpai pada proses
pengumpulan manuskrip-manuskrip dan penerjemahan buku-buku sains dari
Yunani untuk melengkapi institusi pendidikan Baitul Hikmah yang didirikan Al-
Ma’mun. Al-Ma’mun terkenal sebagai seorang khalifah yang cinta ilmu
pengetahuan yang pada masa pemerintahannya memberikan kebebasan berekspresi,
keterbukaan dan kesetaraan baik pada para sarjana muslim maupun non muslim51

Perbedaan etnik kultural dan agama bukan halangan dalam melakukan


penerjemahan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penerjemah-penerjemah yang
memiliki perbedaan kultural dan agama yaitu Abu Sahl Fazl bin Nawbakht

48 W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan,
(Jakarta: 1995), hal 45
49 Musyrifah Sunanto, Op. Cit, hal 54
50 Philiph K. Hitti, hal 522
51 Suwito, Op cit, hal 29
berkebangsaan Persia, ‘Alan al-Syu’ubi berkebangsaan Persia, Yuhanna bin Masuya
berkebangsaan Syiria, Hunayn Ibnu Ishaq beragama Kristen Nestorian, Qutha bin
Luqa beragama Kristen Yacobite dan masih banyak yang lainnya.52

Kehidupan politik pada masa tersebut sangat tergantung pada terlaksananya


keadilan dan terjaminnya keamanan. Selain itu jiwa para khalifah dan pembesar
lainnya tetap menghormati ahli ilmu asal tidak mencampuri soal politik praktis. Hal
ini membuka kemungkinan bagi mereka untuk melakukan penyelidikan ilmiah
dengan aman dan tentram.53

52 Ibid
53 Musyrifah Sunanto, Op cit, hal 82-83

19
BAB III

PENUTUP

Islam pada masa Bani Abbasiyah benar-benar merupakan masa keemasan Islam.
Kemajuan yang dicapai meliputi berbagai bidang baik dalam pendidikan, seni, maupun
ekonomi. Kemajuan dalam lembaga pendidikan didukung oleh adanya lembaga-lembaga
pendidikan Islam. Lembaga pendidikan pada masa Bani Abbasiyah dapat dibagi menjadi
lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan non formal. Lembaga pendidikan
formalnya adalah berupa madrasah yang dikelola secara professional dan telah dilengkapi
dengan metode pembelajaran yang terencana. Lembaga pendidikan formal pertama adalah
Madrasah Nid}amiyah yang didirikan oleh wazir Nid}am al-Mulk. Madrasah ini
merupakan madrasah yang khusus mengajarkan teologi khususnya madhab Shafi’i dan
Ash’ariyah.

Lembaga-lembaga pendidikan non formal pada masa Bani Abbasiyah antara lain
adalah kuttab atau maktab, pendidikan rendah istana (qusur), halaqoh,masjid dan jami’,
kediaman para ulama, majlis kesusastraan, toko kitab, dan perpustakaan. Lembaga non
formal ini diantaranya merupakan pengembangan pada masa sebelum Bani Abbasiyah, dan
beberapa lainnya merupakan lembaga yang asli terbentuk pada masa Bani Abbasiyah.

Pengembangan pendidikan yang sangat pesat pada masa itu tidak lepas dari
sentuhan peradaban yang lain diantaranya adalah Yunani dan India. Pada ilmuwan banyak
mengkaji ilmu pengetahuan filsafat yang terpengaruh Yunani, sedangkang India
mempengaruhi dalam pengkajian ilmu kedokteran.
21