Anda di halaman 1dari 6

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan

dijabarkan dalam konsep mendasar.[1] Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen
dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu,
memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan
logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat
filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu
spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu
yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang
mempertanyakan segala hal.

Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.

• Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan
(eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam
semesta dibahas dalam Kosmologi.

• Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti
“pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas,
sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

• Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari
aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia: etika dan
estetika.

• Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan
mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik
yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan
sebagainya.

• Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah
berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar
mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar
dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan.

Ciri-ciri berfikir filosfi :

1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.


2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta
badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua
variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya
rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan
hakitat yang asli dan abadi.
4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut)
tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

1. Sebagai dasar dalam bertindak.


2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu
berubah.

Zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15),
yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance. Renaissance akan banyak memberikan segala
aspek realitas.

Bermula dari William Ockham (1295 – 1349), yang mengetengahkan


via Moderna (jalan modern) dan via antiqua (jalan kuno). Akibatnya, manusia
didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan
dan surga. Dalam era filsafat modern, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme, Empirisme,
Idealisme, Positivisme, Evolusionis, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup,
Fenomologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.

A. Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596 – 1650) yang disebut sebagai Bapak filsafat modern.
Yang harus dipandang sebagai hal yang besar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and
distinctively).
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk
membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik).

B. Empirisme
Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume.
Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaatpasti dan
benar hanya diperoleh lewat indra (pemimpi), dan empirilah satu-satunya
sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme.

C. Kritisisme
Aliran ini muncul abad ke-18. Zaman baru ini disebut zaman Pencerahan (Aufklarung). Sebagai latar
belakang nya, manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat dan sejarah)
telah mencapai hasil yang menggembirakan. Isaac Newton (1642 – 1727) memberikan dasar-dasar berfikir
dengan induksi, yaitu pemikiran yang bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-
dasar yang sifatnya umum. Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724 – 1804) mencoba mengikuti
rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume). Walaupun semua pengetahuan
bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (empirisme). Ibarat burung
terbang harus mempunyai sayap (rasio) dan udara (empiri). Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis.
Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-
persoalan yang melampaui akal.

D. Idealisme
Pelopor Idealisme : J.G. Fichte (1762 – 1814), F.W.J. Scheling (1775-1854),
G.W.F. Hegel (1770-1831), Schopenhauer (1788-1860)Kan merasa puas tentang ilmu pengetahuan yang
dibatasi secara kritis. Artinya, gerak yang menimbulkan tesis, kemudian menimbulkan anti tesis (gerak yang
bertentangan), kemudian timbul sintesis yang merupakan tesis baru, yang nantinya menimbulkan antitesis
dan seterusnya. Inilah yang disebutnya sebagai dialektika.

E. Positivisme
Filsafat Positivisme lahir pada abad ke-19. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak
seperti apa adanya, sebatas pengalaman- pengalaman objektif. Beberapa tokoh: August Comte (1798-
1857), John S. Mill (1806-1873), Herbert Spencer (1820-1903).

F. Evolusionisme
Aliran ini dipelopori oleh seorang Zoologi yang mempunyai pengaruh sampai saat ini yaitu, Charles Robert
Darwin (1809-1882). Ia mendominasi pemikiran filsafat abad ke-19.
Pada tahun 1838 membaca bukunya Malthus An Essay on the
Principle of Population. Buku tersebut memberikan inspirasi kepada
Darwin untuk membentuk kerangka berpikir dari teorinya.
Dalam pemikirannya, ia mengajukan konsepnya survival of the
fittestda n struggle for life.
Dalam pemikirannnya, Darwin tidak melahirkan sistem filsafat, tetapi pada ahli pikir berikutnya (Herbert
Spencer) berfilsafat berdasarkan pada evolusionisme.

g. Eksistensialisme
Kata eksistensialisme berasal dari kataeks = ke luar, dansistensi
ataus is to = berdiri, menempatkan. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai
gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Artinya, bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam
dunia

h. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna. Maka pragmatisme adalah suatu aliran yang
benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang
bermanfaat secara praktis.
Tokohnya William James (1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme
kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat.

Kebenaran ilmiah pada akhirnya tidak bisa dibuat dalam suatu standard
yang berlaku bagi semua jenis ilmu secara paksa, hal ini terjadi karena adanya
banyak jenis dalam pengetahuan. Walaupun ilmu bervariasi disebabkan karena
berragamnya objek dan metode, namun ia secara umum bertujuan mencapai
kebenaran yang objektif, dihasilkan melalui konsensus. Kebenaran ilmu yang
demikian tetap mempunyai sifat probabel, tentatif, evolutif, bahkan relatif, dan
tidak pernah mencapai kesempurnaan, hal ini terjadi karena ilmu diusahakan oleh
manusia dan komunitas sosialnya yang selalu berkembang kemampuan akal
budinya.
Kebenaran itu mutlak dan yang dianggap kebenaran itu relatif. Sejatinya kebenaran itu
mutlak karena itulah sifat asli kebenaran dan untuk mencapainya ada suatu standar dan
aturan. Dalam aplikasinya Kebenaran Itu Relatif karena anda berhadapan dengan
manusia sejenis anda yang sama-sama menghargai apa itu Kebenaran. Manusia yang
akan terasa sakit hatinya jika anda menyatakan salah pada apa yang ia yakini sebagai
sesuatu yang benar. Oleh karena itu jika anda berbicara dengan orang lain soal Kebenaran
maka janganlah sama-sama berdiri pada Dunia Yang Subjektif. Jika memang anda dan
orang lain itu benar-benar mau mencari kebenaran maka mari bersama-sama
meninggalkan Dunia Yang Subjektif dan beralih ke Dunia Yang Objektif. Dunia dengan
standar dan aturan yang hendaknya disepakati bersama. Dunia yang hendaknya dimasuki
atas dasar Toleransi yang Positif. Seperti Kata Seseorang Ada Sikap Tertentu Untuk
Berdiskusi Soal Keyakinan.

"Hubungan Sains dan Agama" adalah transkrip pembicaraan yang diberikan oleh Dr
Feynman di Caltech YMCA Forum

Dalam usia ini pria spesialisasi yang benar-benar tahu satu bidang sering tidak kompeten
untuk membahas yang lain. Masalah besar hubungan antara satu dan aspek lain dari
aktivitas manusia miliki untuk alasan ini telah dibahas kurang dan kurang di depan
umum. Ketika kita melihat perdebatan besar terakhir pada mata pelajaran ini kita merasa
cemburu pada waktu itu, karena kita harus memiliki menyukai kegembiraan argumen
tersebut. Masalah lama, seperti hubungan ilmu pengetahuan dan agama, masih bersama
kami, dan saya percaya sekarang sebagai dilema yang sulit seperti biasa, tetapi mereka
tidak sering dibahas secara terbuka karena keterbatasan spesialisasi.

Tapi aku sudah tertarik pada masalah ini untuk waktu yang lama dan ingin
membahasnya. Dalam pandangan kurangnya saya sangat jelas pengetahuan dan
pemahaman agama (kurangnya yang akan tumbuh lebih nyata sebagai kita lanjutkan),
saya akan mengatur diskusi dengan cara ini: saya akan menganggap bahwa tidak satu
orang tetapi sekelompok orang yang membahas masalah, bahwa kelompok itu terdiri dari
spesialis di berbagai bidang - berbagai ilmu, berbagai agama dan seterusnya - dan bahwa
kita akan membahas masalah tersebut dari berbagai pihak, seperti panel. Masing-masing
adalah untuk memberikan pandangannya, yang dapat dibentuk dan dimodifikasi oleh
diskusi nanti. Selanjutnya, saya membayangkan bahwa seseorang telah dipilih oleh
banyak untuk menjadi yang pertama untuk menyampaikan pandangan-Nya, dan saya ia
begitu dipilih.

Saya akan mulai dengan menghadirkan panel dengan masalah: Seorang pria muda,
dibesarkan dalam keluarga religius, studi ilmu pengetahuan, dan sebagai hasilnya ia
datang untuk meragukan - dan mungkin nanti untuk kafir - ayahnya Tuhan. Sekarang,
ini bukan sebuah contoh terisolasi; itu terjadi waktu dan waktu lagi. Walaupun saya
tidak memiliki statistik mengenai hal ini, saya percaya bahwa banyak ilmuwan -
sebenarnya, aku benar-benar percaya bahwa lebih dari separuh ilmuwan - benar-benar
kafir di ayah mereka Allah, yaitu, mereka tidak percaya pada Tuhan dalam arti
konvensional .

Sekarang, karena kepercayaan pada Tuhan adalah fitur utama dari agama, ini masalah
yang saya telah memilih poin paling kuat masalah hubungan sains dan agama. Mengapa
pemuda ini datang ke kafir?

Jawaban pertama mungkin kita dengar adalah sangat sederhana: Anda lihat, ia diajarkan
oleh para ilmuwan, dan (seperti yang saya baru saja menunjukkan) mereka semua ateis di
hati, begitu jahat yang menyebar dari satu ke yang lain. Tapi jika Anda dapat menghibur
pandangan ini, saya pikir Anda tahu lebih sedikit ilmu dari saya tahu agama.
jawaban lain mungkin yang sedikit pengetahuan berbahaya; pemuda ini telah belajar
sedikit dan berpikir dia tahu itu semua, tapi tak lama kemudian ia akan tumbuh keluar
dari kecanggihan sophomoric dan menyadari bahwa dunia lebih rumit, dan ia akan mulai
lagi untuk memahami bahwa harus ada Allah.

Saya tidak merasa perlu bahwa ia keluar dari situ. Ada banyak ilmuwan - orang yang
berharap untuk menyebut diri mereka dewasa - yang masih tidak percaya pada Tuhan.
Bahkan, seperti saya ingin jelaskan nanti, jawabannya tidak bahwa orang muda berpikir
dia tahu semuanya - itu adalah sebaliknya.

Jawaban ketiga yang mungkin Anda dapatkan adalah bahwa pemuda ini benar-benar
tidak mengerti ilmu dengan benar. Saya tidak percaya bahwa ilmu dapat menyangkal
keberadaan Allah, saya pikir itu tidak mungkin. Dan jika tidak mungkin, bukan
keyakinan dalam ilmu pengetahuan dan dalam Tuhan - Tuhan yang biasa dari agama -
kemungkinan konsisten?

Ya, itu adalah konsisten. Terlepas dari kenyataan bahwa saya mengatakan bahwa lebih
dari setengah dari para ilmuwan tidak percaya pada Tuhan, banyak ilmuwan percaya di
kedua ilmu pengetahuan dan Tuhan, dalam cara yang konsisten dengan sempurna. Tapi
konsistensi ini, walaupun mungkin, tidak mudah untuk mencapai, dan saya ingin
mencoba membahas dua hal: Mengapa tidak mudah untuk mencapai, dan apakah perlu
berusaha untuk mencapainya.

Ketika saya mengatakan "percaya pada Tuhan," Tentu saja, itu selalu merupakan teka-
teki - apa yang Allah? Yang saya maksud adalah jenis Allah pribadi, karakteristik
agama-agama barat, kepada siapa anda berdoa dan yang memiliki sesuatu untuk
dilakukan dengan menciptakan alam semesta dan membimbing Anda dalam moral.

Untuk mahasiswa, ketika ia belajar tentang ilmu pengetahuan, ada dua sumber kesulitan
dalam mencoba untuk mengelas ilmu pengetahuan dan agama bersama-sama. Sumber
pertama dari kesulitan adalah ini - yang sangat penting dalam sains untuk keraguan;
adalah mutlak diperlukan, untuk kemajuan dalam ilmu, untuk memiliki ketidakpastian
sebagai bagian penting dari sifat batin Anda. Untuk membuat kemajuan dalam
pemahaman kita harus tetap sederhana dan memungkinkan bahwa kita tidak tahu. Tidak
ada yang tertentu atau terbukti diragukan lagi. Anda menyelidiki untuk rasa ingin tahu,
karena tidak diketahui, bukan karena Anda tahu jawabannya. Dan ketika Anda
mengembangkan informasi lebih dalam ilmu, tidak bahwa Anda mencari tahu kebenaran,
tetapi bahwa Anda mengetahui bahwa ini atau yang lebih atau kurang mungkin.

Artinya, jika kita menyelidiki lebih lanjut, kita menemukan bahwa laporan ilmu bukan
dari apa yang benar dan apa yang tidak benar, tetapi laporan apa yang dikenal dengan
derajat yang berbeda pasti: "Ini sangat jauh lebih mungkin yang begitu dan begitu adalah
benar daripada bahwa hal itu tidak benar, "atau" ini dan itu hampir pasti namun masih
ada sedikit keraguan;. "atau - di ekstrim lain -" baik, kita benar-benar tidak tahu " Setiap
salah satu konsep ilmu adalah pada skala lulusan di suatu tempat antara, tetapi pada akhir
tidak, kepalsuan absolut atau kebenaran mutlak.
Hal ini diperlukan, saya percaya, untuk menerima ide ini, tidak hanya untuk ilmu
pengetahuan, tetapi juga untuk hal-hal lain, itu bernilai besar untuk mengakui
ketidaktahuan. Ini adalah fakta bahwa ketika kita membuat keputusan dalam hidup kita
kita tidak perlu tahu bahwa kita membuat mereka benar, kami hanya berpikir bahwa kita
sedang melakukan yang terbaik yang kita dapat - dan itulah yang harus kita lakukan.

Sikap ketidakpastian

Saya berpikir bahwa ketika kita tahu bahwa kita benar-benar melakukan hidup dalam
ketidakpastian, maka kita harus mengakuinya, itu bernilai besar untuk menyadari bahwa
kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang berbeda. Sikap pikiran - ini sikap
ketidakpastian - sangat penting untuk ilmuwan, dan inilah sikap pikiran yang mahasiswa
harus terlebih dahulu memperoleh. Ini menjadi kebiasaan pemikiran. Setelah diperoleh,
seseorang tidak bisa mundur dari itu lagi.

Apa yang terjadi, kemudian, adalah bahwa orang muda mulai meragukan segalanya
karena dia tidak bisa memilikinya sebagai kebenaran mutlak. Jadi pertanyaannya sedikit
perubahan dari "Apakah ada Allah?" untuk "Bagaimana itu yakin bahwa ada Tuhan?"
Perubahan yang sangat halus adalah stroke besar dan merupakan perpisahan cara antara
sains dan agama. Saya tidak percaya ilmuwan yang nyata pernah bisa percaya dengan
cara yang sama lagi. Meskipun ada ilmuwan yang percaya pada Tuhan, saya tidak
percaya bahwa mereka berpikir tentang Allah dalam cara yang sama seperti orang
beragama lakukan. Jika mereka konsisten dengan ilmu pengetahuan mereka, saya
berpikir bahwa mereka mengatakan sesuatu seperti ini pada diri sendiri: "Saya hampir
pasti ada Allah. keraguan itu sangat kecil. " Yang cukup berbeda dari mengatakan,
"Saya tahu bahwa ada Allah." Saya tidak percaya bahwa seorang ilmuwan pernah dapat
memperoleh pandangan bahwa - yang benar-benar memahami agama, bahwa
pengetahuan yang nyata bahwa ada Allah - bahwa kepastian mutlak yang orang beragama
miliki.

Tentu saja hal ini proses keraguan tidak selalu mulai dengan menyerang pertanyaan
tentang keberadaan Tuhan. Biasanya prinsip khusus, seperti pertanyaan tentang
kehidupan setelah-, atau rincian dari ajaran agama, seperti rincian tentang kehidupan
Kristus, datang di bawah pengawasan pertama. Hal ini lebih menarik, namun, untuk
pergi langsung ke pusat masalah dengan cara yang jujur, dan untuk mendiskusikan
pandangan yang lebih ekstrem yang meragukan keberadaan Tuhan.

Setelah pertanyaan itu telah dihapus dari mutlak, dan sampai ke geser pada skala
ketidakpastian, mungkin berakhir di posisi yang sangat berbeda. Dalam banyak kasus
keluar sangat dekat untuk menjadi tertentu. Namun di sisi lain, untuk beberapa, hasil
bersih dari pengawasan dekat teori ayahnya diadakan Allah mungkin mengklaim bahwa
itu adalah hampir pasti salah.