Anda di halaman 1dari 2

Fokus? Atau Prioritas?

Posted on January 7, 2008 by sic


Judul Buku: The Medici Effect
Penulis: Frans Johannsson
Terjemahan, November 2007.
Serambi
“Aduuuh… mikirnya jangan loncat-loncat dong. Pengennya banyak banget sih?
Fokus dong!”
Sering enggak dapat komentar seperti itu? Kalau iya, jangan dulu kecil hati.
Sesuatu yang dinilai sebagai implementasi sikap yang tidak fokus itu, bisa jadi merupakan
bagian kecil upaya otak Anda mencari area titik temu. Hm, apa tuh?
Well, yang dimaksud Frans Johansson dalam bukunya, The Medici Effect ialah area
persilangan ilmu dan atau budaya. Jika aliran Rock dipadu dengan klasik, maka hasilnya ialah
album Tubular Bells yang terjual 16 juta copy dan melambungkan nama pemusik Mike Oldfield
sekaligus juga Richard Branson yang sukses berat dengan Virgin Groupnya , hingga saat ini.
Jika teknik arsitektur berpadu dengan ilmu ekosistem alam, maka hasilnya ialah Eastgate,
komplek pertokoan di Harare Zimbabwe yang melambungkan nama Mick Pearce sebagai
inovator perintis bidang arsitektur baru yang meniru konsep alam. Eastgate bukan sekadar
pertokoan biasa. Pearce menjadikannya istimewa karena ia mampu menjaga suhu stabil
pertokoanpada kisaran 23-25 derajat celcius TANPA AC karena meniru cara kerja rayap
mendinginkan sarang-sarang mereka.
Johansson memaparkan pada kita, betapa luasnya kemungkinan tercipta jika saja kita mau
memasukkan ide secara serampangan ke dalam otak, dan lepas dari asosiasi-asosiasi penghalang
yang menetap di bawah alam sadar kita.
Well, membaca The Medici Effect mengingatkan saya pada sebuah point penting dalam tulisan
Friedman-Worls is Flat – bahwa : Tidak penting apakah kamu ialah seorang generalis (banyak
bisa tapi setengah-setengah) atau spesialis, karena yang dibutuhkan dunia dalam peradaban ini
ialah manusia yang adaptif, yang cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman sehingga cepat
juga mengambil keuntungan. Dalam buku ini Johansson banyak mengetengahkan contoh-contoh
kesuksesan bisnis berkat optimisasi titik temu.
Namun, Johansson juga secara tegas menentukan batas “seberapa serampangan” agar kita bisa
memaksimalkan area titik temu antar bidang. Menurutnya, kedalaman tentang suatu bidang tetap
diperlukan. Namun perlu membuka diri bagi informasi-informasi baru dan mencatatnya hingga
waktu yang dibutuhkan memunculkan ide itu tiba. (Termasuk lulus s1 matematika dan jadi
wartawan enggak ya? )
Johanssen juga mencatatkan beberapa tips, bagaimana memunculkan ide titik temu. Termasuk
didalamnya ialah bagaimana menghasilkan banyak ide secara aktif, dan memperlakukan sesi
brainstorming yang optimal (ia menjelaskan hasil penelitian yang menunjukkan jumlah ide
kreatif hasil braisntorming yang dikerjakan secara berkelompok hanya setengah dari ide yang
dihasilkan dari brainstorming personal)
Ia memaparkan, saat ini kita akan lebih sering bertemu fenomena munculnya inovasi dari area
titik temu. Karena menurut Johansson, kebangkitan titik temu didorong oleh tiga faktor, yaitu
perpidahan orang, konvergensi ilmu pengetahuan dan lompatan pemanfaatan komputer. Ya,
tidak ada lagi ilmu yang tunggal, karena semua nya kini berarah pada ilmu lintas disiplin.
Jadi, pesan yang saya dapat dari buku ini barangkali : jangan terlalu bangga dulu sih kalo
menjadi orang yang FOKUS. Salah-salah malah mematikan area persilangan ide yang platinum.
Mungkin lebih pas kalau yang dituntut ialah prioritas. Karena itu mengacu pada target
pencapaian dan waktu, bukan tentang apa yang dipikirkan otak