Anda di halaman 1dari 21

"Aaahh.. hh..

huh enaknya ya Mam, rasanya kalau sudah keluar nich," begitu kata Tony
seorang bapak berumur 45 tahun, bapak dari dua orang anak kepada istrinya Dewi, ibu
berumur 38 tahun.
"Iya nich Pap, Mama juga rasanya masih lemes, abis Papa mainnya kok masih kuat aja,
masa udah hampir satu jam tidak keluar-keluar."
"Iya tapi Mama kan juga kuat melayani Papa," ujar Tony.
"Ah Papa bisa aja nich ngerayu Mama.."

Akhirnya setelah mereka bermain cinta selama hampir dua jam Tony dan istrinya sama-
sama terdiam untuk mengumpulkan energi mereka yang telah terkuras dan masing-
masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Tony mulai membuka
percakapan sambil memeluk tubuh telanjang istrinya,
"Mam tidak terasa ya kita sudah menikah selama dua puluh tahun dan telah dikaruniai
dua orang anak si Anton dan Intan, rasanya baru kemarin mereka kita timang-timang
sekarang kok taunya si Anton sudah kelas 1 SMA (17 tahun) dan Intan sudah kelas 2
SMP (15 tahun), dan mereka pintar-pintar lagi".
"Iya-ya Pap, memang tidak terasa ya, tapi menurut Papa untuk urusan seks apakah
mereka sudah cukup tau nggak ya? Soalnya mama takut mereka mendapat informasi
yang salah tentang apa seks itu, menurut Papa bagaimana?" tanya Dewi kepada
suaminya.

Lama Tony terdiam memikirkan perkataan istrinya tadi dan akhirnya dia berkata,
"Mam bagaimana kapan ada waktu yang tepat kita berempat berkumpul bersama untuk
membahas masalah tersebut. Bagaimana Mam?"
"Hmm.. boleh juga, tapi.. bagaimana kalau sekarang aja Pap ini kan juga belum terlalu
malam baru jam sepuluh dan lagian juga khan mereka besok tidak ada sekolah."
"Ya udah Papa bersihin 'burung' Papa dulu ya, rasanya lengket nih, sekalian ambil
piyama dulu oke."
"Yaa, Papa nggak usah ambil piyama segala.. dibersihin aja tapi nggak usah pake piyama
lagi!"
"Loh Mama gimana sih masa Papa telanjang gini?"
"Loh katanya mau diskusiin masalah seks, jadi sekalian ada contohnya gitu."
"Dan Papa jadi contohnya?" kata Tony kebingungan.
"Lah iya , nanti kalo giliran Papa yang ngajarin nanti gantian Mama yang jadi contohnya,
gimana oke!"
"Tapi Mama yakin ini tidak apa-apa?"
"Iya.." kata Dewi tidak sabar, "Udah deh Papa abis cuci 'burungnya' Papa, Papa tunggu di
sini ya dan jangan pake apa-apa lagi ya, Mama mau keluar manggil Anton dan Intan."

Setelah berkata demikian Dewi dengan hanya mengenakan daster tipisnya, (tipis di sini
coba dibayangkan bagian dada dan bagian vitalnya hanya tertutupi oleh hiasan renda-
renda di dasternya tersebut dan tingginya hanya sejengkal dari lutut), langsung keluar
untuk memanggil anak-anak mereka.
"Anton!! Intan!! coba kalian ke sini sebentar!" panggil Dewi dari lantai atas.
"Ya Mam, ada apaan sih Mam?" kata Anton dan Dewi.
"Gini mulai malam ini kalian tidur di atas ya, sama Papa dan Mama!"
"Loh kok tumben Mam, emangnya adapan sich lagian tempat tidurnya muat apa?" kata
Anton bertanya.
"Iya nih Mama ada-ada aja," sambung Intan.
"Nggak.. mulai malam ini Papa dan Mama ada yang mau diomongin bersama kalian jadi
kita ngomong-ngomong sebelum tidur gitu. Udah deh sekarang kalian ke kamar aja,
Papamu udah nungguin tuh!" kata Dewi dengan sabar kepada anak-anaknya.

Setelah itu Dewi dan anak-anaknya berjalan menuju ke kamar orang tuanya, dimana
Tony telah menunggu istri dan anak-anaknya sambil berselimut untuk menutupi tubuh
telanjangnya. Kemudian setelah mereka telah berkumpul di kamar yang luas itu sambil
bersila di ujung ranjang kedua anaknya pun menanyakan ada apa karena tidak biasanya
mereka disuruh tidur bersama orang tuanya mereka.
"Begini Anton, Intan.." kata Dewi memulai percakapan, "Kalian kan sudah besar, kamu
Ton sudah kelas I dan sebentar lagi mau kelas II dan kamu Wi sudah kelas II dan tidak
lama lagi kamu akan masuk ke SMA dan kamu tau khan pergaulan kayak sekarang gini,
Papa dan Mama tidak mau kalau kalian terjerumus dengan pergaulan yang tidak-tidak.
Hmm ngomong-ngomong Mama dan Papa pengen tau kalian udah punya pacar belum
sih?"
"Kalau Anton sih belum punya Pap, nggak tau tuh kalau Dewi udah punya apa belum?"
"Kalau Dewi sama kayak Mas Anton belum punya juga."
"Ya udah kalau gitu Mama sekarang mau ngasih pelajaran mengenai seks kepada kalian
oke."
"Sekarang Mam?" tanya Anton dan Dewi kebingungan.
"Iya sekarang, khan mumpung kalian masih libur, udah sekarang Ton coba kamu
berbaring di samping Papamu and kamu Tan sini deketan sama Mama!"

"Sekarang Mama mau memberikan penjelasan mengenai bentuk anatomi seorang laki-
laki, udah Pap buka dong selimutnya masa masih selimutan aja," kata Dewi kepada
suaminya. Tony yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan istrinya yang cantik itu
memberikan penjelasan kepada anak-anaknya kemudian membuka selimutnya secara
perlahan-lahan.
"Ih Papa kok telanjang sih?" ujar Intan terkejut.
"Iya nih Papa kok telanjang sih?" sambung Anton yang tidak kalah terkejutnya melihat
papanya sendiri berbaring telanjang dengan batang kemaluannya yang masih kecil
mengkerut dengan bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat dan terpotong rapi (untuk soal
itu Dewi cukup rajin merawat rambut suaminya yang satu ini).
"Loh kan Papa dan Mama mau ngasih pelajaran seks kepada kalian, gimana sih kalian
ini," ujar Tony kepada kedua anaknya.
"Ayo Mam sekarang Mama yang ngasih pelajaran terlebih dahulu."
"Oke Pap," ujar Dewi kepada suaminya.

"Nah anak-anak coba kalian duduk di sini!" sambil menyuruh agar Anton duduk di
samping kanan papa dan Dewi dan Intan sendiri duduk di sisi kiri papanya semetara itu
Tony hanya berbaring setengah duduk saja di tengah-tengah ranjang dikelilingi istri dan
anak-anaknya.
"Coba kalian perhatikan tubuh Papa kalian!" ucap Dewi kepada anak-anaknya, "Begini
ini bentuk tubuh seorang laki-laki, buat kamu Ton ini bukan hal yang aneh tapi buat
kamu Intan jangan merasa jijik atau ngerinya ini kan juga Papa sendiri oke!"
"Oke Mam!" ujar Intan.

Kemudian dengan secara perlahan Intan memperhatikan tubuh papanya yang walaupun
sudah berumur badan papanya itu tetap berotot dan belum terlalu kendor. "Coba kamu Int
ikuti Mama ya!" sambil berkata demikian Dewi mengelus dada suaminya secara perlahan
kemudian Intan mengikuti gerakan mamanya mengelus dada papanya. Tony yang
dadanya dielus-elus oleh dua tangan yang halus itu mulai merasa keenakan juga.
Kemudian setelah cukup lama, perlahan-lahan tangan Dewi makin turun ke arah
selangkangan suaminya bersama dengan tangannya Intan dan ketika sampai pada
kemaluan suaminya Dewi berujar,
"Nah Intan ini yang namanya Penis."
"Oooh.." Intan hanya dapat berkata demkian.
"Dan kamu tau Intan, kalau kontol pria jika sedang bernfsu dapat membesar."
"Emangnya bisa Mam?" tanya Dewi dengan lugu.
"Ya bisa sayang. Coba kamu lihat Mama ya, nanti kamu coba sendiri."

Kemudian Dewi memegang batang kemaluan suaminya dengan lembut, kemudian secara
perlahan dikocoknya penis suaminya itu.
"Aaah stt.. Mam hmm.." ucap Tony kepada istrinya ketika penisnya mulai dikocok-kocok
dan makin lama ukuran penis Tony makin lama makin membesar (tapi belum menyampai
ukuran maksimal).
"Eh iya.. Mam, Mama bener juga tu kontolnya Papa mulai gede tuh," kata Intan.
"Nah sekarang coba kamu ke sini Int.. sekarang kamu yang coba ya.."
"Tapi Mam, Intan nggak bisa.."
"Intan sini sayang nanti Papa yang kasi tau oke, sini sayang, biar Mamamu gantian yang
ngajarin Anton, tuh Mam anakmu kasian dari tadi dia diamin aja," kata Tony kepada
istrinya.
Anton yang dari sedari tadi melihat perbuatan mamanya itu hanya dapat terdiam dan
sesekali menelan air ludahnya dan tanpa disadarinya penisnya pun mulai membesar.
"Ton panggil Dewi, coba kamu berbaring di samping Papamu!"
Anton pun tanpa berkata-kata berbaring sambil setengah duduk di sisi papanya.
Kemudian Dewi pun bergeser di samping anaknya dan secara perlahan mulai
menurunkan celana pendek anaknya itu.

"Wau.. Pap coba lihat punya anakmu ini, sampai tidak muat loh celana dalamnya," kata
Dewi kepada suaminya dan kemudian dengan perlahan pula celana dalam Anton
dibukanya pula.
"Ton kamu tenang aja ya kamu lihat, pelajari dan nikmatin saja apa yang Mama ajarin
kepada kamu ya, kamu juga Intan kamu dengerin yang Papamu ajarin ya.."
"Ya Mam," jawab mereka berdua.
"Wah.. Ton punyamu tidak kalah sama Papamu yah.. tapi ini kok bulu jembutnya
berantakan gini sih. Nanti kapan-kapan Mama cukurin ya."
Kemudian sama dengan suaminya, Dewi pun mulai mengocok penis anaknya secara
perlahan-lahan.
"Ahh stt.. Mama kok enak banget sih Mam, ah.. ah aduh Mam stt.." ucap Anton ketika
mamanya terus mengocok penisnya itu.
"Hmm.. stt kamu cepet pinter juga ya Int.." kata Tony memuji anaknya (walaupun masih
kaku gerakannya).
"Nah gitu nak.. ngocoknya, aduh ahh.. jangan kenceng-kenceng dong megangnya!" kata
Tony kepada putrinya, "Nah.. gitu stt.. hmm.. ya gitu baru bener. Sekarang coba kamu
lebih cepet deh ngocoknya."
Intan pun mulai mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluan papanya.
"Ah.. ah.. ah.." Tony hanya dapat menegangkan seluruh tubuhnya demi menahan rasa
nikmat yang diberikan putrinya ditambah lagi dilihatnya istrinya masih sibuk mengocok
penis putranya.

"Aduh.. stt Mam.. enak banget Mam!! aduh.. ah.. ah.. terus Mam.."
"Gimana yang enak nggak Mama kocokin?" tanya Dewi kepada putranya.
"Ii.. ii. iya Mam enak Mam.. stt.. akhh aduh Mam.. Mam.. Anton.. hmm.. udah dulu Mam
Anton mau pipis dulu nih, udah nggak tahan Mam! Mam.. udah Mam!"
Dewi tanpa memperdulikan teriakan anaknya terus mengocok-ngocok penis anaknya
dengan cepatnya.
"Udah Ton kalau kamu mau pipis, pipis di sini aja.." ucap Dewi sambil terengah-engah
menahan birahinya yang dirasakan mulai meninggi itu dikarenakan melihat suami dan
putra mengeliat-geliat keenakan dan semakin lama dirasakan penis anaknya makin
membesar dan makin keras denyutannya dan tanpa disadari vaginanya pun mulai terasa
lembab dikarenakan mulai merembesnya cairan yang keluar dari dalam vagina Dewi.
"Yaa.. Mama khaan malu Mam sama Papa dan Intan, masa di sini akhh.. Sih.. akh.. ahh.."
protes Anton.
"Udah nggak apa-apa nanti Papamu juga kayak kamu," ujar Dewi dengan sabar.
"Bener nih Mam stt.. Ah.. ah.. akh.. Mam udah Mam.. ah.. hah.. hah.. akhh.."

"Crett.. creett.. crreet.." dan tanpa dapat ditahan lagi Anton mengeluarkan air maninya
dengan derasnya kurang lebih empat sampai enam kali semburan mengalir dengan
derasnya membasahi perut, dada, tangan mamanya, bahkan sampai sempat mengenai
wajah Dewi dikarenakan kuatnya semburan maninya tersebut. Kemudian dengan penuh
kasih sayang dibersihkan penis anaknya dengan handuk yang ada.
"Ahh Mam ngilu Mam," ujar Anton ketika kepala penisnya tersentuh oleh tangan
mamanya.
Di dalam hati Dewi bergumam, "Ini anak udah keluar kok kontolnya masih tegak sih
persis seperti papanya."
"Ih.. Papa, Mas Anton kenapa itu?" tanya Intan melihat kakaknya.
"Masmu itu namanya baru mengalami puncak kenikmatan," jawab Tony.
"Kok Papa kok belum kayak Mas Anton sih, khan Intan udah pegel nih ngocokin terus."
"Ya.. udah kamu istirahat dulu biar Mamamu yang gantiin, Mam sini coba kamu terusin
kasian anakmu udah capek.."

"Hmm Papa nich.." sambil berkata demikian tangan Dewi mulai mengocok penis
suaminya.
"Akhh.. akhh.. ah.. ah.. Mam rasanya kok kurang pas ya.. coba Mama pake mulut dong!"
kata Tony.
"Intan, Anton kamu liat Mamamu ini ya.." kata Tony kepada anaknya.
"Loh Mam.. kok kontolnya Papa dimasukin ke mulut Mama sih, nggak jijik Mam?" tanya
Intan.
"Ya nggak dong yang malah rasanya enak loh, nah kamu liat ya.."
Kemudian penis suaminya pun dilahapnya dengan penuh nafsu, dimainkannya penis
suaminya dengan lidahnya di dalam mulut.
"Akhh.. stt.. hmm enak Mam.. Wau Mam.. enak ba.. nget Mam.." teriak Tony ketika
penisnya mulai dikocok-kocok dengan mulut Dewi.
"Ahh dijepit dong Mam.. nah gitu terus Mam.." sambil terus meracau tangan Tonya
mulai menaik-turunkan kepala istrinya dengan cepat seolah-olah dia sedang menyetubuhi
mulut istrinya dan sepuluh menit kemudian, "Mam.. ahkkhhk Mam.. Papa mau keluar
nich.. Mam stt.. stt.."
"Creett.. Crreet.. Crreett.." dan akhirnya tertumpahlah seluruh air mani itu di dalam mulut
istrinya.

"Ah enak sekali Mam.. Nah Anton gimana kamu tadi rasanya enak nggak dikocokin sama
Mamamu?"
"Enak banget Pap," jawab Anton sambil memperhatikan kelakuan orang tuanya ia terus
mengelus-elus kepala penisnya.
"Oke Anton, Intan sekarang gantian Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian."
"Yap, sekarang Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian berdua, coba Mam kamu
sekarang berbaring!"
Kemudian Dewi membaringkan tubuhnya yang masih ditutupi oleh gaun tidur di tengah
tempat tidur sambil dikelilingi oleh anak-anaknya dan suaminya sendiri duduk di antara
selangkangannya.
"Nah anak-anak coba kalian buka baju Mama kalian!" perintah Tony kepada kedua
anaknya.
Secara perlahan-lahan kedua tangan anaknya menurunkan tali penahan baju ibunya dari
bahunya hingga sebatas perut dan tampaklah kedua payudara ibunya yang besar dengan
puting susunya yang mulai menonjol karena menahan birahi sedari tadi.
"Mam, coba kamu ajarin Anton ciuman, biar nanti kalo dia sudah punya pacar, dia sudah
tau caranya."
"Sini sayang, Mama ajarin kamu ya.."

01
Persetubuhan dan hubungan kami berjalan lancar selama dua tahun tanpa ada yang curiga
atau mengetahuinya. Sampai suatu hari, bulan Oktober 2000 ibuku telah berumur 41
tahun tapi tubuh dan wajahnya masih tetap fit, dan seksi, walaupun ada sedikit keriput
dan lipatan kecil di wajahnya, namun semua itu malah menjadikan ibuku makin sensual
dan dewasa. Sedangkan aku berumur 20 tahun. Suatu hari aku dan ibuku mulai
merasakan getara-getaran dan keinginan untuk bercinta lagi. Malam itu pembantu kami
pulang ke kampungnya dan adik perempuanku belum pulang. Aku yang merasa bebas
mulai merayu dan menggoda ibuku, dan ibu pun menanggapi rayuanku dengan
sensualitas yang ibu punya. Kami kemudian telah berpelukan mesra dan berciuman
dengan hotnya, sambil berciuman kami membuka pakaian kami dan tanpa sadar kami
telah telanjang. Setelah melakukan oral seks yang ibuku sangat senangi, aku mulai
menusuk lubang kemaluan ibuku dengan batang kejantananku yang menurut ibu makin
nikmat.

Aku terus menggoyang pingulku naik turun dan ibu mengimbanginya dengan goyangan
pinggulnya, setelah beberapa saat ibuku mencapai orgasmenya yang kedua setelah pada
oral seks tadi ibu telah orgasme. Saat itu posisiku sedang menindih tubuh ibuku yang
kelelahan karena ibuku baru orgasme, aku terus menggoyang pinggulku mengocok
batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan ibu, dan mungkin karena staminanya yang
mulai berkurang ibuku hanya pasrah, aku mengocok terus dan membiarkan aku menusuk
lubang kemaluannya dengan batang kemaluanku yang besar. Tanpa aku sadari ibuku
melirik ke arah pintu kamar dan ternyata di situ telah berdiri asyik perempuan yang
sedang memperhatikan kegiatan kami. Aku kaget tapi nafsuku masih mengalahkan rasa
kagetku dengan kenikmatan lubang kemaluan ibuku yang masin basah. Ibuku
menyuruhku memperlambat tusukanku dan dengan masih pada posisiku menindih
tubuhku ibu bilang, "Sayang.. tuh ada Vika kalau dia mau kamu terusin aja sama Vika,
Mami mau istirahat dulu," aku masih menggoyang pinggulku namun sekarang dengan
perlahan. Ibuku bilang, "Vika sayang, sini kita gabung aja sekalian.." ajak ibuku pada
adikku. Aku pun seperti mendapat angin bilang pada asyikku, "Vik.. kalo enggak mau
aku habiskan sama Mami aja.." sambil mengerang kenikmatan. Seperti dihipnotis adiku
Vika yang baru masuk kuliah berjalan menuju ke arah kami berdua, dan ibu menyuruhku
agar aku mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Saat aku cabut batang
kemaluanku berdenyut karena sedang enak-enaknya dijepit, harus dicabut. Ibuku
kemudian menuju Vika yang sudah berada di samping tempat tidur, kemudian
menciumnya dan meremas payudara adikku itu, dan sepertinya Vika setuju dan kemudian
dia naik ke ranjang dan aku pun mencium bibir Vika. Hangat dan penuh sensasi saat
kucium bibir adikku.

Aku mencoba meremas payudaranya yang agak kecil dibanding ibuku tapi terasa
payudara Vika lebih kencang dan padat. Aku meminta dia membuka kaos ketatnya,
memang Vika adalah gadis masa kini, wajahnya cantik dengan kulit yang halus dan
mulus, juga putih dan bersih. Rambutnya hitam sepunggung dan tubuhnya yang tinggi
semampai, lebih tinggi dari ibuku dan pinggul yang tidak terlalu besar, tapi mempunyai
payudara yang serasi dengan tubuhnya yang seksi. Ukuran bra-nya mungkin 34B karena
terlihat saat dia melepaskan kaosnya dan terlihat dadanya yang busung ke depan dan
terlihat sangat indah. Vika tersenyum saat melihat batang kemaluanku yang besar dan
berdenyut, aku mengira Vika sudah tidak perawan lagi, karena saat dia mulai menghisap
batang kemaluanku dia terlihat tidak kaku dan sangat profesional. Bibir dan mulutnya
yang kecil seakan tidak muat untuk melahap batang kemaluanku yang besar, hisapannya
kuat dan nikmat walau tidak sekuat dan senikmat hisapan ibuku, Vika terus mengocok
dan menghisap batang kemaluanku sementara aku mendesah dan meringis keenakan
menikmati sedotan adikku, dan sambil kubelai rambutnya.

Setelah Vika puas, aku kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah ibuku yang hanya
memperhatikan kedua anaknya berhubungan seks. Aku membuka bra Vika, dan keluarlah
gunung kembar Vika yang putih dan kencang dengan puting yang masih merah segar.
Kuremas gemas payudara Vika sambil kuhisap putingnya, adikku hanya melenguh dan
mendesah pelan saat kuhisap dan gigit kecil puting susunnya. Aku jadi bingung, dia mau
tidak kalau aku setubuhi. Aku yang tadi hampir orgasme di lubang kemaluan ibuku sudah
tidak sabar lagi untuk masuk ke lubang kemaluan Vika. Dengan agak kasar kubuka
celana panjangnya dan CD-nya sekaligus, Vika menjerit kecil dan ibu mengingatkanku
agar tidak kasar pada adikku. Aku melihat pemandangan yang sangat indah tidak kalah
indahnya saat aku pertama kali melihat pemandangan indah selangkangan milik ibuku
dulu. Lubang kemaluan adikku dipenuhi bulu-bulu halus yang lebat tapi tertata rapi. Aku
sudah tidak tahan lagi, kuhisap dan kujilat lubang kemaluan milik adikku itu, Vika
mengejang dan bergetar saat kujilat klitorisnya, dia mulai mendesah kenikmatan, dan
ternayata Vika lebih cepat orgasme dibanding ibuku. Terlihat saat kujilat dan kuhisap
lubang kemaluannya, lubang kemaluannya mengeluarkan cairan kental hangat yang
langsung kuhisap habis.

Setelah kuhisap semua cairan lubang kemaluan adikku, aku bangun dan kemudian
berlutut tepat di selangkangan Vika, aku mengangkat pinggul Vika sedikit dan dengan
agak berjongkok dengan tumpuan di lututku pantat Vika, kusimpan di dadaku hingga
lubang kemaluan Vika tepat berada di depan batang kemaluanku yang terus berdenyut.
Dengan sedikit seret dan dorongan yang agak keras, kumasukkan batang kemaluanku ke
dalam lubang kemaluan adikku yang masih terasa seret dan menggigit, kenikmatan otot
lubang kemaluan dan seretnya liang senggama Vika memang lebih nikmat dari lubang
kemaluan ibuku, namun aku merasakan sensasi yang lebih dasyat saat aku menyetubuhi
ibuku. Ternyata Vika yang saat aku "garap" tubuhnya hanya diam dan mendesah kecil,
saat batang kemaluanku penuh mengisi lubang kemaluannya, Vika mulai menggila.
Desahannya malah semakin keras dan sensual. Tubuhnya bergoyang seperti penari ular,
dan goyangan pinggulnya bergoyang sangat dasyat. Aku yang tadi akan menguasai
"permainan" hampir kalah dan dikuasai oleh Vika.

Beberapa saat Vika menguasai permainan kami. Dengan posisi yang sama saat kutusuk
batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Vika, Vika langsung menguasai
permainan, pahanya dijepitkan ke pinggangku, pinggulnya berputar membuat batang
kemaluanku yang ada dalam lubang kemaluan Vika seperti dipilin-pilin nikmat. Akh..
gila juga adikku ini. Aku terus memompa pinggulku meladeni putaran pinggul Vika, dan
tangannku mulai beroperasi, payudara Vika yang terus bergoyang kuremas dan
kumainkan puting susu Vika dengan jariku. Vika mendesah dan terus menjerit kecil saat
permainan mulai kukuasai kembali, sambil kukocok batang kemaluanku di lubang
kemaluan Vika, tanganku meremas dan memainkan putin Vika. Sementara kuhisap dan
ciumi biibir Vika yang sensual, tipis dan merah menantang. Sesekali kuhisap putingnya
yang membuat dia merem-melek, dan posisi itu berubah dengan Vika menungging dan
aku menusuk dari belakang. Dengan posisi ini aku lebih leluasa meremas payudara Vika
yang menggantung, pinggulnya kembali berputar dan maju-mundur mengimbangi
kocokan batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang makin basah dan
nikmat. Kemudian gerakan Vika makin cepat, erangan dan desahan Vika makin kuat dan
keras. Vika meraih tanganku dan meletakannya di payudaranya agar aku meremasnya
dan dengan goyangan pinggul yang dasyat tubuh Vika mengejang dan bergetar, dan dia
memekik tertahan dan kurasakan cairan hangat membanjiri lubang kemaluan Vika dan
membasahi batang kemaluanku tanda Vika sedang orgasme, dan tiba-tiba tubuhnya yang
tadi liar tergeletak lunglai. Aku melihat mata Vika terpejam saat kucium lehernya,
sedangkan goyanganku pun aku perlambat agar Vika merasakan semua kenikmatan yang
dia baru rasakan. Kubelai pinggangnya dan pinggulnya, dan dengan sekali gerakan
kuputar tubuh Vika sehingga posisi kami kembali berhadapan tanpa aku mencabut batang
kemaluanku di dalam lubang kemaluan Vika. Aku merasakan jepitan yang sangat nikmat
saat kuputar tubuh adikku tadi.

Kini kaki Vika kusandarkan di bahuku hingga dia benar-benar mengangkang dan dengan
leluasa kuhabiskan sisa-sisa tenagaku untuk menghabisinya di dalam lubang kemaluan
adikku, dan tidak lama dalam batang kemaluanku ada desakan dari dalam dan.. "Cret..
cret.. creet.." air maniku tumpah di dalam lubang kemaluan Vika, saat itu aku mendesah
dan mengerang keenakan. Lalu kurebahkan tubuhku di atas tubuh Vika dan sambil
menikmati sisa-sisa kenikmatan itu kucium lembut dan mesra bibir Vika dan Vika pun
membalas ciumanku dan kami berciuman dengan mesra. Keringat kami membasahi
tempat tidur dan kemudian ada suara, "Aduh ini anak Mami, keasyikan main sampai
Mami dilupain gini.." sahut mami menggoda kami berdua yang memang dari tadi lupa
kalau di sebelah kami berdua ada mami yang masih telanjang dan menonton aksi kami
kakak-adik bertempur. Aku langsung mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluan
Vika yang basah kuyub, dan kemudian ibu mengulum batang kemaluanku membersihkan
cairan maniku dan cairan lubang kemaluan Vika. Aku dan Vika tersenyum pada mami,
dan kami kemudian berbaring di satu ranjang, dengan aku di tengah mereka. "Vik..
ternyata kamu kuda liar juga, padahal waktu gue garap body lo, lo diem aja.." godaku
pada adikku, Vika hanya tersenyum dan bilang, "Mam.. makasih udah ngajak Vika
gabung, kalo enggak rugi Vika enggak tau kalau Kak Bobi dasyat banget.." Kami bertiga
pun tertawa, lalu ibuku bilang, "Bob, kalau Mami capek atau kalau ada Papi, kamu tidur
sama Vika saja, asal jangan ribut banget saja kayak tadi.." Aku cuma senyum kecil
sambil kucium adikku. "Dan kalo enggak ada Papi kita tidur bertiga aja.." ajak Vika. Aku
sangat setuju dengan ajakan Vika.

Kami bertiga tidur seranjang hingga pagi, dan pagi hari kami main lagi bertiga di dapur,
dan mulai saat itu kami terus melakukannya sampai sekarang, dimana kami mau dan
kapan kami mau kami pasti melakukannya, dengan motto kapan saja, dimana saja kami
bermain. Sekitar dua bulan setelah aku main pertama kali dengan Vika, dan saat kami
bersetubuh, Vika bilang kalau dia lagi hamil dua bulan, dan dia bilang dia hamil sama
aku, soalnya dulu waktu pertama kali berhubungan dia itu lupa bilang kalau dia biasa
main sama cowoknya, cowoknya harus pakai kondom, sedangkan dulu aku "muncratin"
maniku di dalam lubang kemaluan Vika. Jadi, pertama aku hamili ibuku yang
digugurkan, sekarang aku hamili adikku dan dia bilang mau digugurkan dan aku setuju
sekali, soalnya aku tidak mau punya anak dari adikku dan Vika tidak mau punya anak
dari aku, kakaknya. Gila!

02
Nafsu Birahi Adik Ipar. “Masak apa Yen?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang
saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur.
“Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya
dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda.
“Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku.
“Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,” jawabku. “Kamu nggak ke kampus?” aku
balik bertanya. “Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.” “Aauww,”
teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung
menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini
aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja
dari atas meja makan. Baca cerita porno sedarah selengkapnya hanya di
sexceritadewasa.com.

Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya
luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil
kubersihkan sisa-sisa darahnya (cerita porno lainnya). Yeyen nampak terlihat canggung
saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik
jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi
jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja
makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya. Sedangkan aku berdiri persis di
sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik
tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan
ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk
lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit
punggung lenganku yang masih berada dipundaknya.

Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini
27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas
boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma
pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang
masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku
hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran.
“Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa
aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri
gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih
cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku
hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya
sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa
deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar
Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja,
emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku
mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku
emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius.
Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-
remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih
ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali.
Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu
pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar
aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah
tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak
usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu,
tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam. Yeyen nampak
ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa
sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan
mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak
berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih
mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya.
“Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen
tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir
tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga.

Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar
mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai
kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan
jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa
ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun
sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi.
Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini
dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu. Sementara tangaku dengan liar meremas-
remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu.
“Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin
gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen
semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang
sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha
menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku.

Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk


melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia
melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku.
“Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak
Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia
mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang
dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan
masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan
kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu.
Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya. Bahkan, kini semakin turun dan
terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana
pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,”
desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik
iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya
dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai
mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah
menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.

Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen
sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia
hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian
vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan
perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya
tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres
saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan
salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di
pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau
melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi,
gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.

Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat


rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati
masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk
membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit
membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya
mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana
yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah
tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan
bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka
itu. Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang
sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan
mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat
ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku
mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut
Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang
sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah
satu jariku menyentuh klitorisnya.

Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan,
dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass,
een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali
saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit
demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,”
erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please,
jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke
vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya.
“Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan
vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri
Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas
dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak
langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja.
“Pegang aja Yen,” kataku pelan.

Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan
sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan
sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,”
bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut
kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya
dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman,
sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan
dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan
kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat
dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-
remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk,
sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi
duduk sambil merapatkan kedua pahaku.

Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang.
Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan
batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina
Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang
kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang
kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina
Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan
pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku
pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter,
russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik,
nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh
bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan
mengisap-isap puting susunya.

Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi


gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin
kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya
semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau.
Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen
sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang
memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain
adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya
terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih
celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi
bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu
suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya.
Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali,
buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..”
“Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku
untuk secepatnya memakai celana.

Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka
pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di
karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih
buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus
menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku
sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan
meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari
tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura
tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku
sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke
kamar gih Mas,” katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan
baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur
mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah
lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak
jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok
belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat
irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya
tadi emang lagi mo masak.

Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab
sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya
istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku
hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua
dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan
Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih
mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak

04

Okey deh, saya perkenalkan diri dulu. Nama saya jhony atau biasa dipanggil jon tinggi
badan 180 cm usiaku saat itu 18 thn dengan kulit putih bersih, maklum saya keturunan
cina. Latar belakang keluarga saya adalah dari keluarga menengah, dimana saya sebagai
anak bungsu dan saya mempunyai seorang tante yaitu istri dari paman saya nama tante
rina atau biasa saya panggil dengan tante mey(mey in fang) umurnya sekitar 37 tahun
tetapi memiliki body yang sangat bagus sintal padat berisi putih mulus dengan bibir yang
sexy yang paling aku suka pantatnya yang bulat dan padat dengan payudara 36a yang
meski agak turun dikit tetapi bodynya masih aduhai maklum dia aktif di sebuah sanggar
aerobic sebagai instruktur pada saat suatu siang kebetulan rumah sedang kosong karena
ortu saya memilki usaha di sebuah tempat perniagaan di kota Surabaya tante mey sering
sekali maen kerumah saya karena kebetulan rumahnya sebelah dari rumah saya biasa dia
minta bumbu masak atau hanya sekedar ngobrol2 dengan mama dan pada saat itu dia
datang kerumah dengan memakai t-shir u can see dan celana pendek motif kembang2
yang kebetulan lagi kosong karena kita tidak memiliki pembantu saat itu.tante mey
datang dengan membawa sebuah dvd yang ternyata itu adalah sebuah dvd game milik
anaknya yang masih berusia 9 thn dan mungkin karena permainannya terlalau sulit dan
menggunakan bahasa jepang maka dia berniat untuk bertanya kepada saya bagaimana
memainkan game tsb dan saya mulai memasukkan dvd tsb kedalam ps saya dan yang
terpampang hanyalah tulisan2 jepang yang tidak saya mengerti lalu saya usut-punya usut
ternyata dia beli dari tc sebuah tempat grosir dvd game illegal di sby(sejak uu ttg HAKI
semua pedangan jualan secara illegal) dan sesaat aku hanya mencoba2 dengan memencet
tombol2 yang ada di stick dan mengacak menu2 yang ada dan akhirnya muncul sebuah
permainan seperti suit batu,kertas,gunting dan aku coba2 dan selanjutnya yang membuat
terkejut kita berdua muncullah sesosok wanita jepang yang sedang bugil sambil bermain
dengan payudaranya dan sekitar 2 mnt dan saya lanjutkan dengan menu2 berikutnya.
Dan tante mey mulai memperhatikan celana saya yang menonjol lalu dia bertanya kamu
konak ya???
Ahh ngakk kok biasa aja….
Lalu secara reflek tante mey menyentuh nya lhoo…..iya gini kok
Lalu saya mencoba untuk menipis tangannya tetapi malah menekannya mungkin karena
gugup
Lalu untuk menutupi rasa malu saya balik bertanya tante juga kan???
Dia menjawab kalau aku bukan karena clips tadi tapi karena sentuh ****** kamu
Lho emangnya tante ngak pernah dapet dari om t
Udah lama ngak karena tante selalu tidur jadi satu ama anak2
Trus waktu itu tv saya matikan lalu kita ngobrol2 disofa ruang tamu
Entah dari mana akhirnya sampai aku Tanya “tante mey kalau cewek terangsang itu
tandanya giman??(sebenarnya aku udah mengetahuinya)sambil memegang payudaranya
yang sintal itu dia menjawab†disini lo†sambil agak diangkat sedikit
Secara reflek aku langsung memegang dan meremas payudaranya dan dia kaget dan
marah bercampur malu segera aku melepas tanganku
“maaf deh tante “
“ohh ngak apa-apa kok namanya juga laki-laki normal emang kamu belum pernah
gituan ama cewek?
‘belum tante paling-paling cium pipi aja karena mantan aku semua alim-2â€TM
‘sambil berdiri dia bertanya ‘kamu mau jonâ€

Aku tidak bisa menjawab dan langsung tangan tante mengandeng aku untuk menuju kamr
aku sendiri†kunci semua pintu dulu yaâ€
Lalu aku bergegas mengunci semua pintu dan mulailah adegan yang tak terpikirkan
olehku terjadi tante mey Sambil terus tertawa kecil tanteku ikut naik ke ranjangku dan
memelukku dari belakang dan menciumku sambil berbisik, “Nggak apa apa jon.”.
Jantungku deg-deg, apalagi ketika dengan lembut tanteku membelai rambutku terus
tubuhku sambil berbisi, “Ehh, jangan malu, kamu senang ya sini tante ajariin kamu untuk
jadi dewasa”. Mulanya aku ragu, takut kalau tanteku hanya memancing reaksiku saja,
tetapi ketika rabaannya turun ke arah selangkanganku aku jadi berubah senang.
Kuberanikan diri untuk menolehnya dan kudapati wajah tanteku yang tersenyum manis
sekali dan matanya yang agak sayu membuat hatiku berbunga bunga. Kontolku yang
tadinya sudah mengecil itu mendadak meregang lagi dan mendesak celanaku. Tanteku
kemudian menciumi wajahku dengan kasih sayang, tangannya mulai meraba lagi bagian
sensitifku dari bagian luar celanaku, aku yakin tanteku bisa merasakan penisku yang
meregang dan keras itu, elusan tanteku terasa kurang nikmat, aku berpikir seandainya
tanteku memegang langsung burungku, tentu lebih nikmat. Belum habis aku berpikir,
tiba-tiba saja Tante mey memelorotkan celana pendekku sampai terlepas, sehingga
burungku yang sudah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengan kelima
jarinya tanteku menggenggam burungku dan meremasnya pelan. Aku merasa gatal dan
geli serta nikmat yang tak kumengerti tapi membuat aku merasa seperti melayang dan
menggeliat serta merintih pelan.

Dengan memandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Murni di burungku menjadi
semakin cepat bahkan juga dikocoknya naik turun kadang-kadang juga dielusnya buah
pelirku. Aku semakin meringis merasakan kenikmatan ini, secara naluriah aku berusaha
merangkul tanteku agar rasa geli itu makin terasa nikmat. Aku juga berusaha
menempelkan wajahku ke wajah Tante mey yang kulihat juga merah padam dan bibirnya
gemetar, nafas Tante mey semakin memburu dan dia makin merapatkan tubuhnya ke
tubuh kekarku, tanganku diraihnya lalu dituntun ke dadanya yang montok dan kenyal itu.

Tanganku terasa menempel di puting susu Tante Murni yang terasa keras seperti kelereng
itu, aku meremasnya dengan agak sulit, karena telapak tanganku yang kecil itu tak bisa
meremas keseluruhan permukaan dada Tante padat besar dan keras itu Kuperhatikan
tanteku saat itu mengenakan t-shit ucan see yang tipis tanpa mengenakan apa apa lagi
dibaliknya. Merasa kurang puas hanya meremas dari luar, akupun menyelusupkan
tanganku ke lubang tangan t-shirt Tante mey sehingga tanganku secara langsung
bersentuhan dengan dada yang telah lama aku kangeni itu, hangat dan licin sekali. Kalau
tadinya tanteku yang asyik meremas-remas kontolku, sekarang justru aku yang beringas
meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yang lain juga ikut ikutan meremas
payudara Tante Murni yang satunya. Tante mey hanya memejamkan matanya rapat rapat
sambil menggigit bibirnya.
ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmati kekenyalan dada Tante mey ini.
Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali
merasakan yang seperti ini.

“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang
vagina Tante mey yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante mey
hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10
menit kemudian Aku tak mempedulikan apapun sikap Tante Murni, bagiku kesempatan
emas ini harus benar-benar dinikmati dan peduli dengan tanteku. Tanganku bukan hanya
meremas, tetapi juga memelintir puting susu tanteku yang putih dan keras itu, lucu sekali
melihat kedua tanganku menelinap dan bergerak-gerak di dalam t-shirt ucan see tanteku.
Kurasakan tangan tanteku sudah tak mengocok kontolku, tetapi hanya kadang kadang
saja dia meremasnya dengan keras membuat aku kesakitan. Dari luar dadanya yang bert-
shirt mulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, rasanya bila memungkinkan aku
ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmati kekenyalan dada Tante mey ini.
Tak kusadari nafas tanteku makin lama makin memburu, rupanya dia juga sangat
menikmati kekasaran tanganku ini. Tiba-tiba saja Tante mey mengangkat tshirtdan bh
krem bereda sehingga dadanya tersibak, baru saat itu aku bisa melihat kemontokan
payudara tanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung atas payudaranya,
sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh oleh remasanku. Dada yang montok
itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekas remasanku. Setelah dadanya terbuka dengan
gemetar Tante mey berbisik, ” jon, isep pentilnya pelan-pelan ya”. Tak perlu diperintah
dua kali, aku segera melumat puting susu tanteku dan mengenyotnya sekuatku, Tante
Mey mendesis desis dan menekan kepalaku kuat kuat kedadanya, aku memeluk
pinggangnya dan kutindih badan Tante mey dengan tubuhku yang telanjang bawah itu.
Terasa kontolku yang kaku itu menghunjam di tubuh putih mulus ala amoy tanteku yang
hanya dilapisi celana dalam itu. Tanteku makin kencang memeluk tubuhku, bahkan ia
menyuruh aku untuk menjilati juga putingnya. Kulakukan semua itu dengan penuh
semangat, entah apa pengaruh kepatuhanku ini pada Tante Mey, yang jelas aku sangat
menikmatinya, kontolku yang menggeser-geser diperut Tante Murni terasa sangat
mengasikkan. Mungkin karena sudah tak tahan dengan semua itu, tiba-tiba saja Tante
mey i juga melepaskan celana dalamnya. Selama ini aku hanya bernafsu pada buah
dadanya saja, aku tak pernah berpikiran lebih dari itu. Ketika dengan berbisik ia
menyuruhku memindahkan ciumanku, aku agak bingung juga. ” Mas, ayo sekarang ciumi
selangkangan tante ya, nanti punya kamu juga tante ciumi”. Aku menghentikan
kesibukanku di dada Tante Murni dan memandang ke selangkangannya. Aku takjub
sekali melihat selangkangan Tante meyi itu karena ada rambut keriting yang tumbuh di
ujung selangkangannya yang cembung itu, ini adalah pemandangan yang sama sekali
baru bagiku, selama ini aku hanya pernah melihat selangkangan dalam film bf Namun
selangkangan wanita secara nyata yang berbulu, ya baru kepunyaan Tante Mey ini!
perlahan kedekati dan mulai membelah bibir memeknya dan bulu2 yang agak lebat dan
mulai lidahku menari-nari disana dalam posisi 69 tiba-tiba aku merasakan sesuatu

“Tante sudah dulu yah aku mau keluar nih” kataku.


“Sudah, keluarnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante mey

Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante mey karena
Tante mey tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan
enaknya. “Hhgg..achh.. Tante aku mau keluar nih bener ” kataku sambil melumat vagina
Tante mey yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante meyypun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang
keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante mey, Tante meypun
langsung menyedot dengan keras sambil menelan maniku namun karena saking gelinya
aku tak tahan lagi secara paksa aku tarik kontolku ternyata udah bersih dan mengkilat dan
sehabis minum dan mengambil tisu tante mey menghampiri aku yang masih lemas jon
pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang
vagina Tante mey dengan tangan yang agak gemetar, Tante mey hanya ketawa kecil.
“jon, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante mey.
Dia mulai memegang penisku lagi, “jon Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante mey.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi jhony enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante mey padaku.

Tante mey pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Erni
menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas
yang penuh nafsu dan menderu.

“Kamu tahu enggak mandi kucing jon” kata Tante mey.

Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante mey pun langsung menjilati leherku
menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke
putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan
penisku pun mulai bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya
menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur
kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Erni pun langsung menjilati penisku tanpa
mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku Kulihat payudara Tante mey
mengeras, Tante mey menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya
sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante mey Entah
mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante mey , langsung Tante mey kubaringkan
dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante mey seperti menjilati es krim.

“Achh.. uhh.. hhghh.. acch jon enak banget terus jon, yang itu isep jilatin jon” kata Tante
mey sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.

Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari
vagina Tante mey tanpa sengaja tertelan olehku.

“jon masukin donk Tante enggak tahan nih”


“Tante gimana caranya?”

Tante mey pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung
menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante mey naik turun seperti orang naik kuda
kadang melakukan gerakan maju mundur dan sempat beberapa kali ujung penisku
menyentuh dinding rahim tante mey Setengah jam kami bergumul dan Tante mey pun
mengejang hebat.

“jon Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante mey

Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu
yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante meyi. Hmm sungguh pengalaman
pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante mey mungurut-urut penisku dan juga
menyedotnya. Kurasakan Tante mey sudah orgasme dan permainan kami terhenti
sejenak. Tante mey tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.

“jon nanti kalau mau keluar kaya tadi langsung aja keluariin dalem tadikan dimulut udah
tante udah steril kok(kb permanent dengan menutup rahim) ya” pinta Tante mey padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante mey langsung
mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.

“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan
hal yang seperti tadi lagi.
“Tante johny kayanya mau keluar niih” dan akhirnya muncratlah pejuhku di liang
kewanitaan tante meyinsesaat setelah kicabut penisku meleleh sisa pejuhku dari vagina
tante mey dan dengan bergegas dia masuk toilet membasuh memeknya dan memakai baju
sambil menciumku dan pulang dan dvd tsb udah aku buang karena takut ketahuan ortu
aku sampai saat ini hub kami masih berlanjut dan makin hot demikianlah cerita nyata
yang telah saya alami

05
Cerita ini adalah cerita yang benar-benar terjadi. Tapi nama-nama dalam cerita ini
terpaksa kusamarkan untuk kepentingan privasiku. Sebelumnya akan saya ceritakan
sedikit tentang latar belakang keluargaku. Aku (Anto), usiaku kini 23 tahun anak bungsu
dari dua bersaudara. Kakakku Atik lima tahun lebih tua dari aku. Aku berasal dari
keluarga sederhana ayahku sebagai mantri dan ibuku sebagai bidan di puskesmas yang
sama. Kami tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Cerita ini bermula sekitar sepuluh tahun yang lalu dan berlangsung terus sampai saat ini.
Malam itu karena hawa panas sekali aku tiba tiba terbangun aku lihat jam dinding di
kamarku waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku tidur sekamar
dengan kakakku (satu kamar dua ranjang). Kamarku berada tepat disamping kamar
ayahku, di dinding antara kamarku dan kamar ayahku ada sebuah jendela yang tak pernah
dibuka lagi, kebetulan ranjang yang aku tempati ada di bawah jendela kayu tersebut.
Entah kenapa pada saat itu aku iseng mengintip ke kamar Ayah.

Ternyata malam itu Ayah dan ibuku sedang melakukan hubungan seks (aku tahu itu
karena walaupun usiaku masih 13 tahun aku waktu itu sudah sering nonton BF bareng
teman-teman dan sering pula onani). Untung lampu kamar Ibu tidak pernah dimatikan,
jadi aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh ibuku dengan jelas. Aku sangat
terangsang melihat tubuh ibuku yang sedang telanjang, padahal sebelumnya aku tidak
pernah terpikir untuk melihat lekuk tubuh ibuku walaupun sering ibuku berganti baju
tanpa menutup pintu. Atau beraktifitas di dapur dengan rok yang minim, keluar dari
kamar mandi hanya berlilit handuk. Entah setan apa yang ada dipikiranku malam itu
sehingga aku sangat terangsang sekali menyaksikan Ayah dan ibuku sedang telanjang.

Kulihat Ibu sedang menggenggam kontol ayahku dan jari-jari ayahku sedang masuk ke
dalam vagina ibuku. Ibuku terlihat seksi di usianya yang ke 42 tahun kulit Ibu tampak
mulus sekali walaupun agak sedikit gemuk, vaginanya tembem sekali susunya agak
sedikit turun dengan pahanya yang gempal dan lipatan lemak di perut Ibu. Tak lama
kemudian aku lihat Ayah berusaha memasukkan kontolnya ke vagina Ibu (aku maklum
Ayah orang yang kolot jadi tak ada acara oral seks setiap kali melakukan hubungan seks).
Ibuku menggoyang pantatnya seiring dengan ayahku menaik turunkan pantatnya.
"Bu, enak sekali Bu ah.. ah.." kata ayahku sambil nafasnya ngos-ngosan.
"Iya Pak sampai mentok rasanya.." jawab ibuku gaya yang dipakai Ayah Ibu-ku cuma
gaya konvensional, tak lama berselang pantat ayahku terlihat berkejat kejat tanda
orgasme. Lalu Ayah turun dari tubuh ibuku dan pergi kekamar mandi sekarang tinggallah
tubuh ibuku yang telentang melepas lelah dan tampak pejuh ayahku keluar lagi dari
vagina Ibuku.

Aku makin tak tahan maka aku mulai mengeluarkan kontolku yang sudah siap dikocok.
Sedang asyik mengocok tiba tiba aku dikagetkan kakakku yang menggeliat berubah
posisi tidurnya. Otak isengku kembali muncul karena melihat selimut dan daster kakakku
tersingkap. Aku segera berdiri dan pelan-pelan naik keranjang Atik. Aku mengambil
posisi dibelakangnya, lalu aku singkap celana pendekku kukeluarkan kontolku lalu pelan
pelan aku tempelkan ke pantatnya dan aku sodok sodokkan ke pantatnya yang masih
tertutup celan dalamnya. Tanganku aku taruh ke susunya, ternyata ia tidak pakai BH lalu
kuremas pelan pelan.

Tiba tiba ia terbangun aku segera diam dan pura-pura masih tidur. Perasaanku waktu itu
sangat kacau antara takut dan terangsang campur jadi satu. Setelah ia menoleh ke arah ku
dan menepis tanganku ia kembali tidur lagi. Aku berpikir keras apakah ia tahu apa yang
sedang aku lakukan sebab aku tidak sempat menutup celanaku. Pelan pelan kembali aku
mencoba goyang-goyangkan pantatku lagi dan Atik tak bereaksi aku rasa ia pura pura
tidur, tangankupun kembali aktif membelai belai susunya.

Susu kakakku agak kecil dibanding susu ibuku tapi punya kakakku lebih keras dan
putingnya sangat kecil. Aku makin yakin ia pura-pura tidur karena nafasnya makin
memburu. Tidak puas hanya bermain susu maka tanganku berusaha masuk celana
dalamnya tanganku bergerak gerak diluarnya, terasa agak lembab dan licin rupanya ia
terangsang juga. Saat aku berusaha memasukkan jariku ke dalam lubang dimemeknya
tiba tiba ia berbisik.

"Jangan Tok.." Aku kaget setengah mampus..


"Aku masih perawan Tok.." katanya lagi.
"Aku kepingin sekali Mbak" kuberanikan diri untuk menjawabnya.
"Sebenarnya aku juga pingin, tapi jangan dimasukin nanti aku tidak perawan lagi"
"Terus gimana dong?" kataku.
"Pakai ini.." katanya sambil menunjuk bibirnya lalu ia segera memegang kontolku dan
segera memasukkan kontolku dalam mulut nya.

Dari gerakannya sepertinya ia ahli dalam melakukan ini mungkin sudah terbiasa sama
pacarnya. Aku tak mau kalah aku meraih selangkangannya dan menciumi memeknya.
Tak lama kemudian tiba tiba laharku seakan mau meledak dan aku tumpahkan semuanya
dalam mulut kakakku. Tak lama setelah itu di susul dengan erangan halus kakakku tanda
ia orgasme juga.

"Kamu nakal.." kata kakakku setelah memuntahkan seluruh pejuhku ke selembar tissu.
"Mbak cantik sih.." kataku merayu.
"Sudah tidur sana."
"Lain kali lagi ya" kataku lagi.
"Idih maunya?" jawabnya.

Aku segera tertidur dengan senyum kepuasan. Keesokan harinya kulihat kakakku
bersikap biasa seperti tak pernah terjadi apa apa. Tapi yang berubah justru aku, aku kini
jadi semakin binal sebab aku jadi suka sekali memperhatikan lekuk tubuh ibuku dan
kakakku. Hampir setiap malam aku mengintip kegiatan Ayah dan Ibu. Rupanya mereka
doyan juga hampir tiap malam aku saksikan mereka melakukan itu. Pantas tiap hari ibuku
pasti mandi basah. Sedangkan aku sendiri makin sering curi-curi kesempatan untuk
melihat keseksian tubuh ibuku dari dekat.

Pernah suatu saat aku memperhatikan ibuku yang sedang ganti pakaian. Dan pada saat itu
aku menyadari kenapa aku sangat tergila gila pada tubuh ibuku. Tubuh ibuku sangat ideal
walaupun sedikit gemuk. Ia sangat rajin merawat tubuh, ia sering luluran sehingga
kulitnya putih bersih. Yang aku suka dari tubuh ibuku adalah kulitnya yang putih dan
pahanya yang gempal. Ibuku memang suka teledor dan sembarangan sehingga hari-
hariku selalu aku manfaatkan untuk memperhatikan kemulusan tubuh ibuku. Kalau
malam aku selalu melampiaskannya pada kakakku hampir tiap malam aku melakukan
dengan kakakku, walaupun kami melakukannya sampai bugil kami saling menjaga agar
tidak sampai memasukkannya ke dalam memeknya.

Pernah suatu saat kami mencoba memasukkan ke lubang pantatnya tapi tidak jadi karena
sangat sakit katanya sehingga aku tidak tega meneruskan. Kakakku sangat cantik dan
mulus sekali sehingga ketika melihat ia telanjang saja aku sudah sangat terangsang. Jadi
hampir setiap malam aku dipuaskan oleh kakakku dengan cara oral.

Sampai pada tahun lalu saat persiapan pernikahan kakakku. Kakakku meminta pengertian
dari aku untuk segera menghentikan hubungan terlarang ini, aku setuju saja. Tapi ini
cuma bertahan dua bulan. Waktu itu suami Kakak saya ke luar kota untuk suatu urusan
kakakku menginap dirumah kami. Saat itu sebenarnya aku cukup kikuk dalam bersikap
dengan kakakku (mengingat kami sudah berjanji). Lalu pada malam itu kami kembali
tidur dalam sekamar. Kami sama-sama kikuk. Aku sangat gelisah dan tidak bisa tidur,
aku perhatikan begitu juga kakakku.

"Belum tidur Tok..??" kata kakakku.


"Iya nih susah banget tidurnya.." jawabku.

Lalu tiba tiba kakakku pindah keranjangku sambil berbisik.

"Pingin.. Ya.."
"Tapi kan sudah janji.."
"Nggak apa deh Mbak juga lagi pingin nih" katanya sambil meraih kontolku.

Akupun tak ingin kalah segera kulucuti bajunya segera pula kuraih susunya dan aku jilati
putingnya. Kini ia merosot sampai bawah perutku dan segera memasukkan kontolku ke
dalam mulutnya. Segera aku menggenjotnya lalu ia menahan pinggulku sehingga
menghentikan genjotanku.

Lalu ia berkata, "Masukin sini aja tok.." katanya sambil menunjuk memeknya.

Wah asyik nih.. Ini yang aku tunggu tunggu pikirku. Maka segera saja aku mengambil
posisi siap tembak. Lalu pelan-pelan Mbak Atik mengarahkan kontolku ke memeknya.
Aku dapat merasakan betapa sempit dan hangatnya vagina kakakku ini.

"Pelan pelan Tok.. Agak sakit.."


"Soalnya punya kamu lebih gede dari punya Mas Ari.."

Memang sih aku dapat merasakan sempit sekali dan masih berasa seperti kretek.. kretek..
Lama-lama aku goyang terus dan aku kembali bertanya.. "Enak nggak Mbak?"
Lalu ia menjawab, "Iya Tok sudah mulai enak lebih terasa dari punya Mas Ari.."

Aku genjot terus sampai kira kira lima belas menit saat mau keluar tiba tiba ia berbisik.

"Jangan di keluarin di dalem tok nanti aku hamil anakmu.."

Maka ketika aku ingin orgasme cepat-cepat aku cabut dan aku kocok di atas perutnya
sehingga pejuhku menyembur ke perut dan susunya.

Hari itu kakakku menginap di rumahku selama seminggu jadi setiap malam aku puaskan
birahiku bersama kakakku sampai pagi. Akhirnya aku bisa benar benar menikmati vagina
kakakku tanpa takut perawannya rusak. Untuk menjaga supaya tidak hamil aku selalu
tumpahkan pejuhku di luar dan kadang kadang dimulutnya. Berbagai macam gaya dan
variasi aku praktekkan bersama kakakku tapi dengan pelan pelan taku didengar Ayah Ibu.
Kakakku ini nafsunya sangat besar seperti ibuku ia maunya tiap malam pasti mengajakku
untuk mengulanginya lagi.

Sekembalinya kakakku ke rumahnya aku kembali kesepian. Sekarang hari hariku kuisi
dengan mengintip ibuku yang masih tampak seksi di usianya yang kepala lima sambil
onani, tapi kegiatan ini kuanggap mengasyikkan juga aku makin betah tinggal di rumah,
kadang kalau siang aku melihat Ibu tidur siang dengan rok yang menyingkap ingin sekali
aku meraba pahanya yang mulus tapi aku tidak berani melakukan itu. Sesudah itu aku
melakukan onani di kamarku sepuas puasnya.

Pernah suatu saat aku kepergok ibuku saat onani dan aku lupa mengunci pintu kamarku.
Ibu nyelonong masuk aku cepat-cepat menutupi kontolku dengan bantal. Ibu pura pura
tidak tahu dan berkata, "Ibu kira kamu keluar.. Tok"
Sejak saat itu aku selalu mengunci kamarku bila ingin onani. Kini aku selalu menunggu
saat saat kakakku bisa menginap di rumah kami (biasanya satu bulan sekali).