Anda di halaman 1dari 5

c 

      


Muhamad Akbar Sidiq,0806324192

Terapi farmakologis pada pasien obesitas selama ini mengalami berbagai kesulitan. Beberapa obat memiliki
sifat adiktif atau toksik sehingga penggunaannya dihentikan. Terapi farmakologis memiliki peran penting
pada pasien yang gagal menurunkan berat badan dengan modifikasi gaya hidup dan pola diet saja. Pada saat
ini, di banyak negara hanya dua obat saja yang diizinkan untuk terapi jangka panjang obesitas, yaitu
sibutramin dan orlistat.1,2


c
  
 

   


Obat-obat simpatomimetik seperti benzphetamin, dietilpropion, phendimetrazine, andphermedine,
dikelompokkan menjadi satu karena bekerja seperti epinefrin. Obat-obatan pada kelompok ini bekerja
dengan beberapa mekanisme seperti menghambat reuptake norepinefrin dari granul sinaps. Obat-obat
tersebut digunakan secara oral dan mencapai konsentrasi puncak pada darah dalam waktu yang relatif
pendek. Waktu paruhnya dalam darah juga pendek. Efek samping dari kelompok obat-obatan ini antara lain
mulut kering, konstipasi, dan insomnia. Asupan makanan ditekan dengan cara memperlambat onset wakktu
makan atau menyebabkan rasa kenyang dengan lebih cepat.3


Sibutramin merupakan obat antiobesitas oral yang bekerja sentral, secara selektif menginhibisi   
serotonin dan noradrenalin. Obat ini dimetabolisme menjadi dua metabolit aktif yang 100 kali lebih ampuh
daripada komponen asalnya. Waktu paruh dari kedua metabolit tersebut adalah 14-16 jam dan mencapai
kadar puncaknya pada 3-4 jam. Sifat ini memungkinkan pemberian dosis sekali sehari, yang merupakan
keuntungan bila kontrol nafsu makan sebagai tujuannya. Absorpsi sibutramin tidak dipengaruhi oleh
makanan dan terdapat sedikit perbedaan waktu paruh metabolit pada orang tua dan anak-anak. Eliminasi
sibutramin tidak dipengaruhi oleh disfungsi ginjal tetapi penggunaannya dikontraindikasikan pada penderita
penyakit hati parah karena obat ini dieliminasi melalui metabolisme di hati.1,2


c
      

Sibutramin menunjukkan peningkatan jumlah penurunan berat badan sampai dengan 1 tahun pada pasien
yang sebelumnya telah menjalani program penurunan berat badan dengan diet rendah kalori. Pada
penelitian oleh The Sibutramine Trial of Obesity reduction and Maintenance (STORM), kelompok pasien yang
diberikan sibutramin berhasil mempertahankan penurunan berat badannya setelah 18 bulan sementara
pada kelompok pasien yang diberikan plasebo berat badannya kembali naik bahkan sampai mendekati berat
badan awal sebelum terapi. Sibutramin memiliki efek sangat sedikit terhadap pelepasan dopamin
dibandingkan obat antiobesitas lama, dan tidak juga berikatan dengan reseptor dopamin sehingga potensi
1,2
penyalahgunaannya rendah.


º !
  
"!!

"#$#$% 
 " 

Sibutramin diindikasikan pada pasien obesitas atau pasien overweight bila terdapat faktor resiko obesitas
seperti diabetes melitus tipe 2 atau dislipidemia. Pasien harus terlebih dahulu menjalani program
manajemen diet dan gagal mencapai penurunan berat badan sebesar 5% setelah 3 bulan sebelum diberikan
terapi sirbutamin. Uji klinis menunjukkan pemberian terapi sirbutamin bersama dengan program
pengubahan pola hidup dan diet menurunkan berat badan lebih baik. Pemberian sirbutamin dapat
dilanjutkan apabila setelah 3 bulan pasien menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan.Siburtamin
dikontraindikasikan pada pasien penyakit psikiatri berat, sindrom Tourette,penyakit jantung yang berat,
thyrotoxicosis,gangguan hati dan ginjal yang berat, dan pemberian bersamaan dengan obat lain yang bekerja
1,2
sentral seperti obat-obat antidepresi dan antipsikotik.


º         
  

Sibutramin diabsorpsi dengan baik dengan dosis oral tunggal, dan melalui metabolisme lintas pertama yang
ekstensif untuk membentuk kedua metabolitnya. Konsentrasi stabil dicapai setelah 4 hari pemberian 15
miligram sehari. Dosis awal dari sirbutamin adalah 10 mg per hari, dan dapat ditingkatkan sampai dengan 15
mg per hari apabila setelah 1 bulan terapi tidak tercapai penurunan berat badan sebesar minimal 2 kg.1

Terapi sibutramin tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga pengurangan lemak viseral, yang
berasosiasi dengan resistansi insulin dan sindrom metabolik. Setelah 6 bulan terapi sibutramin, ditemukan
pengurangan lemak abdominal total, lemak subkutan total, dan lemak viseral total. Perubahan pada lemak
tersebut berhubungan dengan perbaikan faktor resiko terkait seperti kadar glukosa puasa, insulin, dan
2
tekanan darah.

Efek samping paling sering dari pemberian sibutramin antara lain sakit kepala, mulut kering, anoreksia,
insomnia, dan konstipasi. Efek samping yang menjadi perhatian utama adalah efek sibutramin terhadap
tekanan darah dan detak jantung. Beberapa kejadian kardiovaskular seperti hipertensi, palpitasi dan
takikardia kadang terjadi pada uji klinis. Peningkatan tekanan darah bervariasi antara 1-3 mmHg. Pada
beberapa studi peningkatan tekanan darah ini ditemukan pada pasien dengan atau tanpa riwayat hipertensi.
Oleh karena itu, penggunaan sirbutramin pada pasien dengan tekanan darah yang itnggi harus diawasi.
Pemberian metoprolol dosis rendah bersama terapi sirbutamin dapat menurunkan keparahan dan frekuensi
terjadinya efek samping, termasuk hipertensi dan palpitasi tanpa mengurangi keberhasilan terapi sirbutamin
atau mengakibatkan perubahan yang merusak pada parameter metabolik. Selain itu, pada pasien obesitas
dengan tekanan darah yang dikontrol dengan ACE-I, sirbutramin tetap dapat mengurunkan berat badan
tanpa mengganggu kontrol tekanan darah pasien.1,2

 
Orlistat merupakan inhibitor lipase yang paten, tidak diserap secara sistemik dan menyebabkan inhibisi
absorpsi sekitar 30% trigliserida. Orlistat melekat sebagai ester pada molekul serin pada lipase. Orlistat tidak
memiliki efek berarti pada enzim pencernaan lain seperti protease dan amilase.1

º%m  
m    m 
 m
   m  !
"
m"m"
#
# m 
 $

Pemberian obat ini secara oral akan menyebabkan inhibisi absorpsi trigliserida bergantung pada dosis yang
diberikan. Inhibisi maksimal yang dapat dicapai adalah sekitar 32% dari absorpsi lemak, di mana 30% lemak
diekskresikan sebagai feses pada dosis terapeutik. Inhibisi absorpsi lemak ini juga akan mengurangi absorpsi
vitamin larut lemak seperti vitamin A,D,E,K. Orlistat yang diberikan secara oral akan diekskresikan hampir
seluruhnya pada feses, dan kurang dari 1,2 % diabsorpsi secara sistemik ke dalam plasma.1,4


º          
  
  

Orlistat bila diberikan dengan pravastatin dapat meningkatkan resiko efek samping obat,terutama
rhabdomiolisis. Hali ini disebabkan karena akan meningkatnya konsentrasi pravastatin. Orlistat bila diberikan
bersama dengan siklosporin dapat menurunkan kadar serum siklosporin. Kemungkinan interaksi dengan
obat lainnya sangat kecil.1,4
Orlistat diindikasikan untuk pasien obesitas atau juga pasien overweight dengan faktor resiko terkait seperti
diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan hiperlipidemia. Pemberian orlistat lebih baik dihentikan bila setelah
12 minggu pemberian secara oral tidak menurunkan 5% berat badan. Kontraindikasi dari pemberian orlistat
ini antara lain sindrom malabsorpsi kronik, kolestasis, ibu menyusui, dan hipersensitivitas terhadap satu atau
lebih komposisi obat.1,4

Orlistat diberikan dalam bentuk kapsul, diberikan secara oral dengan dosis 120 mg tiga kali sehari. Pasien
dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung lemak kurang dari 30% dari total kalori, karena
makanan dengan lemak yang sangat tinggi dapat memperparah efek samping yang muncul.4

Karena orlistat dapat mengurangi absorpsi vitamin larut lemak (A,D,E,K) dan beta karoten, pasien juga
dianjurkan mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran atau suplemen multivitamin, yang diberikan
paling tidak 2 jam setelah pemberian orlistat.1

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terapi obesitas menggunakan orlistat aman dan ditoleransi
dengan baik oleh kebanyakan pasien. Rata-rata penurunan berat badan setelah 2 tahun terapi adalah 3,5 kg,
dan dua pertiga pasien mencapai penurunan berat badan sebesar 5%. Penurunan beberapa resiko
kardiovaskuler juga diunjukkan oleh pasien pada penelitian tersebut, termasuk total kolestrol dan LDL, kadar
insulin puasa, dan tekanan darah. Penggunaan orlistat juga telah diteliti pada anak dan hasilnya mirip
dengan hasil pada usia dewasa.1,4

Efek samping paling sering dari pemberian orlistat ini adalah feses lunak, nyeri abdomen, flatulence, fecal
urgency atau inkontinensia. Efek-efek ini dapat dikurangi dengan menganjurkan pasien menghindari diet
tinggi lemak. Seperti disebutkan sebelumnya, penggunaan orlistat ini juga akan mengurangi absorpsi vitamin
larut lemak dan beta karoten.1,4

‰ 
 
Cetilistat merupakan inhibitor lipase yang mekanisme kerjanya hampir sama dengan orlistat, hanya saja
masih dalam tahap pengembangan. Keampuhan dan efektivitasnya pun mirip dengan orlistat, tetapi dengan
efek samping terhadap sistem gastrointestinal yang lebih kecil.

 

1.Y Y 
Y Y
Y Y   
YY
 
 Y
YY !"
2.Y #  Y $%Y
Y  Y &Y '
(
)Y Y 
  Y *
Y Y + 
Y %Y Y
http://www.medscape.com/viewarticle/503121 pada 1 September 2010
3.Y Kopelman, Peter G. Clinical Obesity in Adults and Children.Wiley-Blackwell. 3rd ed.2010; p 329-30
4.Y ,
Y &Y Y
Y  Y    Y Y -
)Y .
Y / Y Y 
Y 0

 Y Y 
 Y %Y Y
http://www.medscape.com/viewarticle/409519 pada 1 September 2010