Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR1

Ny. Elizabeth Förster-Nietzsche

PERJALANAN PANJANG
“SABDA ZARATHUSTRA”

Zarathustra merupakan untaian pena paling pribadi saudara saya; ia merupakan sejarah
pengalamannya yang paling individual, juga sejarah persahabatan, angan-angan, kegembiraan
dan kekecewaan serta dukanya yang paling kelam. Tapi, di atas semua itu, masih terbang
melayang harapan-harapannya yang terbesar dan tujuan-tujuannya yang paling jauh. Ide figure
Zarathustra sudah melekata erat dalam benak saudara saya ini sejak masa mudanya: dia pernah
berkata kepada saya bahwa sejak kecil dia telah memimpikannya. Pada berbagai periode dalam
kehidupannya, dia menyebut sosok yang selalu menghantui mimpi-mimpinya ini dengan
berbagai nama; “tapi akhirnya…,” demikian tulisnya dalam sebuah ctatan tentang hal ini, “saya
terpaksa harus memberikan penghormatan yang mendalam dalam memberikan identitas pada
sosok dalam mimpiku ini kepada seorang Persia. Masyarakat Persia merupakan komunitas yang
pertama kali memiliki pandangan yang luas dan komprehensif terhadap sejarah. Menurut
mereka, setiap rangkaian revolusi dipelopori oleh seorang nabi; dan setiap nabi memiliki
‘Hazar’nya masing-masing – dinastinya sendiri yang bertahan selama satu millennium.”
Semua pandangan Zarathustra, juga kepribadiannya, sudah terkonsep jauh-jauh hari
dalam pikiran saudara saya ini. Mereka yang membawa tulisan-tulisannya yang diterbitkan
setelah dia meninggal, yang berasal dari tahun 1869-1882, dengan seksama akan menyadari
bahwa banyak bagian pemikirannya yang sugestif terhadap pemikiran dan doktrin Zarathustra
ini. Ideal tentang Adimanusia, misalnya, dipaparkan dengan cukup jelas dalam tulisan-tulisannya
yang dihasilkan anatara tahun 1873-1875 dan dalam “Kita Para Filolog”, termaktub pengamatan-
pengamatannya berikut ini:
“Bagaimana kita bias memuji dan memuliakan sebuah bangsa secara keseluruhan? –
Bahkan di antara orang Yunani sekalipun, individulah yang penting.
“Yang menarik dan sangat penting dari orang Yunani adalah bahwa mereka telah
menumbuhkan begitu banyak figure individu besar. Bagaimana ini bisa terjadi? Pertanyaan ini
perlu dipelajari.
“Saya hanya tertarik pada hubungan antara sebuah bangsa dengan penumbuhan manusia
individual, dan dikalangan bangsa Yunanai, kondisi-kondisis yang mereka miliki sangat
mendukung penumbuhan individu, bukan karena kebaikan bangsa itu, tapi karena perjuangan
instink jahat mereka.
“Dengan bantuan sarana-sarana yang mendukung, figure-figur individu besar akan
ditumbuhkan dan hasilnya akan berbeda dan lebih tinggi dibandingkan yang telah sampai saat ini
yang hanya mengandalkan factor kebetulan semata-mata. Di sini, kita masih bisa berharap:
dalam penumbuhan manusia-manusia yang menonjol.”
Ide tentang penumbuhan sang Adimanusia semata-mata merupakan bentuk ideal baru
yang telah dimiliki Nietzsche sejak masa-masa sebelumnya bahwa “tujuan hidup manusia
haruslah terletak pada individu-individu tertingginya” (atau seperti yang dia tulis dalam
‘Schopenhauer as Educator’: “Manusia harus terus-menerus berusaha menghasilkan figure-figur
besar – inilah tugas mereka dan tidak ada tugas lain selain ini.”) Tapi figure-figur ideal yang
dimiliki saat itu tidak lagi dianggapnya sebagai tipe tertinggi manusia. Di sekeliling, ideal masa
depan tentang umat manusia yang akan datang ini – sang adimanusia – telah menguak cadar
kemenjadian. Siapakah yang bisa mengetahui puncak-puncak yang bisa didaki oleh manusia?
Itulah sebabnya, setelah menguji figure-figur ideal kita yang tertinggi – yaitu sang penyelamat,
dalam cahaya nilai-nilai baru ini, sang pujangga berseru dengan lantangnya dalam “Demikian
Sabda Zarathustra”:
“Belum pernah ada sang Adimanusia. Dengan telanjang aku telah melihat mereka
berdua, manusia terbesar ataupun manusia terkecil: –
“Terlalu banyak kemiripan yang masih mereka punyai antara satu dengan yang lainnya.
Sesungguhnya, bahkan yang terbesar sekalipun masih kudapati – manusiawi – yang – terlalu –
manusiawi!” –
Frase “penumbuhan Adimanusia” seringkali disalahmengerti oleh banyak pihak.
“Penumbuhan” di sini tidak berarti satu tindakan modifikasi lewat nilai-nilai baru dan yang lebih
tinggi – seperti nilai-nilai yang sekarang mengatur semua manusia sebagai hukum dan kaidah
dalam berperilaku dan berpendapat. Secara umum, doktrin Adimanusia hanya dapat dimengerti
dalam hubungannya dengan gagasan-gagasan lainnya dari sang penulis seperti: – Urutan Jabatan,
Kehendak Akan Kuasa dan Transvaluasi Terhadap Semua Nilai. Dia mengasumsikan bahwa
agama Kristen, sebagai sebuah produk dari mereka yang cacat dan lemah, telah melarang segala
hal yang indah, kuat, angkuh dan berkuasa; pendeknya, melarang semua kualitas yang muncul
dari keberadaan kekuatan, dan sebagai konsekuensinya, melarang semua gaya yang cenderung
memajukan atau mengangkat kehidupan mendapat rongrongan secara serius. Dan sekarang
sebuah lemping5 baru harus diletakkan di atas manusia – yaitu manusia yang kuat, perkasa dan
cemerlang, yang penuh elan vital dan terangkat ke puncaknya – sang Adimanusia, yang sekarang
diketengahkan kepada kita dengan semangat besar sebagai tujuan kehidupan, harapan dan
kehendak kita sendiri. Seperti halnya system nilai-nilai lama yang hanya mendukung kualitas-
kualitas yang sesuai bagi mereka yang lemah, yang menderita dan yang tertindas, telah berhasil
dalam menelorkan ras yang rapuh, yang nestapa dan “modern”, demikian juga sistem baru ini,
yang merupakan kebalikan dari sistem lama, haruslah mampu menghasilkan ras manusia yang
sehat, kuat, bergairah hidup dan bersemangat, yang akan menjadi sebuah kemuliaan bagi
kehidupan itu sendiri. Pendeknya, prinsip utama dari sistem nilai baru ini adalah: “Semua yang
muncul dari kuasa adalah adalah baik, dan semua yang muncul dari kelemahan adalah jahat.”
Tipe ini janganlah dianggap sebagai sosok imajiner semata: ia bukanlah sebuah harapan
samara-samar yang akan dihasilkan entah kapan di masa depan, ribuan tahun mendatang; dan ia
bukanlah spesies baru (dalam artian Darwinisme) yang tidak kita ketahui ciri-cirinya sama
sekali, sebab jika benar demikian, maka tidak ada gunanya kita berusaha sekuat tenaga
mewujudkannya. Namun, maksudnya adalah sebuah kemungkinan yang bisa dicapai oleh
manusia jaman sekarang dengan mengandalkan energi spiritual dan fisik mereka asalkan mereka
mematuhi nilai-nilai baru ini.
Penulis Zarathustra tidak pernah melupakan tranvaluasi terhadap semua nilai yang
dilakukan melalui agama Kristen, yang telah hampir membinasakan atau mentransvaluasi
seluruh gaya hidup dan pemikiran bangsa Yunani maupun Romawi yang kuat dalam waktu yang
relatif singkat. Tidak bisakah sistem nilai Yunani-Romawi yang telah diperbarui (setelah
diperhalus dan diperdalam oleh pengalaman selama dua ribu tahun sejarah agama Kristen)
menghasilkan revolusi serupa dalam jangka waktu yang masih bisa dibayangkan sampai
akhirnya nanti akan muncul jenis manusia yang mulia yang sekarang menjadi iman dan harapan
kita, yang diserukan kepada kita oleh Zarathustra?
Dalam catatan-catatan pribadinya tentang masalah ini, sang penulis menggunakan istilah
“Übermensch” 6 (oh ya, dia selalu menuliskannya dalam bentuk tunggal) sebagai “tipe manusia
yang paling baik konstitusinya”, sebagai lawan dari “manusia modern”. Dan terutama, dia
sendiri menyebut Zarathustra sebagai contoh Adimanusia ini. Dalam “Ecco Homo”, dia
berusaha menjelaskan kepada kita tentang syarat-syarat dan pendahulu-pendahulu tipe manusia
tertinggi ini, ketika merujuk pada bagian tertentu dalam Die fröhliche Wissenschaft (The Joyful
Wisdom): -
“Untuk memahami tipe manusia ini, pertama-tama kita harus menjernihkan terlebih
dahulu kondisi fisiologis yang akan membawa kita ke sana: kondisi ini saya sebut kesehatan
prima. Saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus menjelaskannya dengan lebih gamblang selain
seperti yang telah saya lakukan dalam bab-bab terakhir (Aforisme 382) dari buku ke lima dalam
“Die fröhliche Wissenschaft”:
“Kita, yang baru, yang tak bernama dan yang sulit dimengerti” – demikian dikatakan di
sana – ”kita, pelopor-pelopor dari masa depan yang belum teruji – kita memerlukan satu tujuan
baru, kita juga memerlukan sarana baru, yaitu sebuah kesehatan baru, yang lebih kuat, lebih
tajam, lebih tangguh, lebih berani dan lebih ceria dibandingkan semua kesehatan yang pernah
ada. Dia yang jiwanya rindu untuk mengalami seluruh jangkauan semua nilai dan kebaikan yang
diakui dan mengitari semua pantai dari “Laut Tengah” ideal ini, yang mulai dari petualangan-
petualangannya yang paling pribadi, ingin mengetahui bagaimana rasanya menjadi pemenang,
dan penemu dari figure ideal ini – seperti yang terjadi pada para seniman, santo, penegak hukum,
bijak bestari, cendekia, pengikut, nabi dan kaum radikal suci dari sistem lama – semuanya
memerlukan satu hal utama agar bisa menjadi yang demikian: kesehatan yang prima – kesehatan
yang tidak hanya sekedar dimiliki, tapi juga terus didapatkan dan harus didapatkan, sebab kita
akan mengorbankannya tanpa henti dan harus mengorbankannya! – Dan sekarang, setelah lama
berada dalam situasi ini, bagi kita para Argonot7 tipe ideal, yang mungkin lebih banyak
keberanian daripada kearifannya, dan seringkali kandas dan dibuat sedih, tapi selalu sehat dan
sehat kembali – seolah-olah untuk menebus semua penderitaan itu, masih ada wilayah-wilayah
yang belum terjelajahi di depan mata kita, yang perbatasannya belum pernah dilihat oleh seorang
pun, sesuatu yang melampaui segala wilayah dan sudut-sudut ideal yang sudah diketahui sampai
saat ini, sebuah dunia yang demikian kaya keindahan, keanehan, pertanyaan, kengerian dan
kesucian sehingga rasa ingin tahu kita dan juga keinginan kita untuk mendapatkannya menjadi
tidak terkendali – astaga! Semoga tidak ada lagi yang bisa memuaskan kita! –
“Bagaimana mungkin kita bisa tetap puas dengan tipe manusia dari jaman sekarang ini
setelah kita memiliki pandangan seperti ini, setelah kita memiliki rasa lapar sedemikian rupa
dalam nurani dan kesadaran kita? Menyedihkan; tapi kita tidak bisa tidak kita harus memandang
tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang paling tinggi dari manusia sekarang dengan rasa geli
yang sulit disembunyikan. Ada figur ideal lainnya yang berlarian di depan kita, sebuah figur
yang aneh, menggoda dan penuh dengan bahaya, dan kita tidak suka mempengaruhi orang lain
agar mengikuti figur ideal ini karena kita tidak sedemikian mudahnya mengakui hak orang lain
atas figur ideal ini: sebuah figur dari sebuah roh yang selalu dengan lugu (maksudnya, yang
berkata tanpa disengaja dari kelimpahan dan kekuasaan yang meluap) mempermainkan segala
yang selama ini disebut suci, baik, tak terbayangkan dan ilahi; di mana bagi dia konsepsi
tertinggi yang dijadikan ukuran nilai oleh orang-orang praktis akan membawa bahaya,
keruntuhan, perendahan atau setidak-tidaknya kelonggaran, kebutaan atau kegilaan untuk
sementara; sebuah figur ideal kesejahteraan dan kemurahan hati adimanusiawi yang yang
manusiawi, yang seringkali tampaknya tidak manusiawi, sehingga jika misalnya ideal ini
diletakkan berbarengan dengan segala keseriusan masa lalu di bumi ini bersama segala
kekhidmatan masa lalu di dalam pembawaan, kata-kata, nada bicara, tatapan, moralitas dan karir,
maka ia akan tampak sebagai parodi paling sejati, namun yang tidak sengaja dari semuanya –
bagaimanapun juga mungkin justru keseriusan besar dimulai dengan itu, yaitu dengan
ditegakkannya tanda tanya yang sepantasnya didirikan, nasib jiwa manusia berubah, jarum jam
bergerak dan tragedi dimulai…”
Meskipun figur Zarathustra dan sebagian besar pemikiran pokok dalam karya ini telah
banyak muncul sebelumnya dalam mimpi-mimpi dan tulisan-tulisan penulis, Zarathustra baru
terwujud pada bulan Agustus 1881 di Sils-Maria; dan ide tentang Kembalinya Segala Sesuatu-
lah (Eternal Recurrene) yang akhirnya membuat saudara saya ini menuangkan pandangan-
pandangannya dalam bahasa puitis. Sehubungan dengan konsepsi pertamanya tentang gagasan
ini, sketsa otobiografisnya, Ecce Homo yang ditulis pada musim gugur 1888, berisi tulisan
berikut:
“Gagasan pokok karyaku – yaitu Kembalinya Segala Sesuatu – formula tertinggi dari
segala formula dalam sebuah filsafat Ya, pertama kali muncul dalam pikiranku pada bulan
Agustus 1881. Aku membuat catatan pada secarik kertas, dengan postscriptum sebagai berikut:
6.000 kaki melampaui manusia dan waktu! Hari itu kebetulan aku sedang mengembara di hutan
sepanjang danau Silvaplana dan aku berhenti di dekat batu yang besar seperti piramid, tidak jauh
dari Surlei. Di situlah pemikiran itu timbul dalam benakku. Jika kupikirkan lagi sekarang,
kurasakan bahwa persis dua bulan setelah inspirasi ini, aku mendapat tanda kedatangannya
dalam bentuk perubahan seleraku yang terjadi secara tiba-tiba dan drastis – terutama seleraku
dalam hal musik. Seluruh isi “Zarthustra” bahkan bisa dianggap sebagai komposisi musikal.
Yang jelas, syarat yang harus dipenuhi dalam penuangannya adalah sebuah kelahiran kembali
pada diriku dalam hal seni pendengaran. Di sebuah tempat peristirahatan kecil
DEMIKIAN SABDA ZARATHUSTRA

PROLOG

Ketika Zarathustra berumur tiga puluh tahun, dia meninggalkan rumah dan danaunya
untuk mengembara ke pegunungan. Di sana dia menikmati jiwa dan kesendiriannya selama
sepuluh tahun tanpa sedikit pun pernah mengenal lelah. Akhirnya hatinya pun berubah. Pada
suatu pagi dia bangun dan berdiri di depan fajar yang menyingsing, menghadap ke arah matahari
dan berkata:
“Wahai bintang agung! Apalah arti kebahagiaanmu seandainya tidak ada mereka yang
kau sinari?
Selama sepuluh tahun engkau telah memanjat ke guaku ini: dan engkau sudah lelah
memancarkan cahayamu dan perjalanmu seandainya tidak ada aku, elang dan ularku ini.
Tapi kami menunggumu setiap pagi dan mengambil apa yang terlimpah darimu dan
bersyukur padamu karenanya.
Lihatlah! Aku telah jenuh oleh kebijaksaanku seperti lebah yang telah mengumpulkan
madunya terlalu banyak; aku memerlukan tangan-tangan yang terjulur untuk mengambilnya.
Dengan gembira aku akan menganugrahkan dan membagikan sampai mereka yang bijak
kembali bersuka-ria atas ketololan mereka dan mereka yang miskin bergembira atas kekayaan
mereka.
Maka aku harus turun gunug: seperti yang kau lakukan saat senja, ketika kau
bersembunyi di balik laut dan menyinari dunia bawah, wahai bintang menyala!
Seperti engkau, aku harus turun, seperti kata orang, kepada mereka untuk siapa aku turun.
Berkatilah diriku, wahai mata yang tenang, yang mampu melihat kegembiraan terbesar
sekalipun tanpa rasa iri!
Berkatilah cangkir yang akan meluap ini supaya airnya yang keemasan dapat mengalir
keluar dan membawa pantulan kebahagiaanmu kemana-mana!
Lihatlah cangkir ini akan mengosongkan dirinya sendiri dan zarathustra akan sekali lagi
menjadi manusia.”
Dan Zarathustra memulai perjalanannya turun gunung.

II

Zarathustra turun dari gunung sendirian dan tidak seorang pun bertemu dengannya.
Ketika memasuki hutan tiba-tiba tampaklah seorang tua berdiri di depannya, yang telah
meninggalkan tempat sucinya untuk, mencari akar-akaran. Dan berkatalah orang tua itu kepada
Zarathustra:
“Bukan orang asing bagiku pengembara ini: bertahun-tahun silam kau pernah lewat di
sini. Zarathustra, namamu. Tapi, kini kau telah banyak berubah.
Dulu kau membawa abumu sendiri ke atas gunung: akankah sekarang kaubawa apimu ke
dalam lembah-lembah? Tidakkah kau takut akan nasib dari apa yang terbakar?
Ya, aku mengenali Zarathustra. Murni matanya dan tidak ada rasa muak berkeriapan di
mulutnya. Tidakkah dia berjalan seperti seorang penari?
Telah berubah; Kau telah menjadi seorang anak; kau telah menjadi seorang yang telah
terbangunkan: dan apa yang akan kau lakukan di tanah orang-orang tidur ini?
Bagaikan di laut kau tinggal sendiri, dan laut telah membawamu ke permukaan. Sekarang
kau akan pergi ke darat? Akankah kau seret tubuhmu sendiri?”
Zarathustra menjawab: “Aku mencintai umat manusia.”
Orang suci itu berkata: “Dan kau kira mengapakah aku pergi ke hutan dan padang gurun?
Tidakkah karena aku terlalu mencintai manusia
Seakarang aku mencintai Tuhan: manusia, tidak aku tidak mencintai manusia. Manusia
terlalu tak sempurna bagiku. Cinta kepada manusia akan mencelakkan aku.”
Zarathustra menjawab: “Apa kataku tadi tentang cinta! Aku membawa hadiah bagi
manusia.”
“Jangan berikan apapun pada mereka,” kata sang oaring suci. “Lebih abik mengambil
beban dan ikut memnggulnya bersama mereka. Itu pun jika bias menyenangkan hatimu!
Namun jika kau ingin memberikan sesuatu pada mereka, jangan berikan lebih dari
sekedar sumbangan, dan biarkan mereka mengemis padamu dulu sebelum mendapatkannya!”
“Tidak,” kata Zarathustra. “Aku tidak memberikan sumbangan. Aku tidak cukup miskin
untuk itu.”
Orang suci itu tertawa dan berkata: “ Maka, pastikan supaya mereka menerima harta
bendamu! Mereka tidak percaya pada pertapa dan tidak percaya bahwa kita dating dengan
membawa hadiah.
Suara kaki kita terdengar oleh mereka begitu jelas di jalanan. Dan pada malam hari ketika
mereka sudah berada di peraduan dan mendengar ada orang di luar jauh sebelum matahari terbit,
mereka bertanya-tanya: hendak kemanakah maling itu pergi?
Jangan pergi kepada manusia, tinggallah di dalam hutan! Pergilah kepada hewan!
Mengapa tidak seperti aku-bagai beruang di antara beruang, bagai burung di antara burung?”
“Apa yang kau lakukan di dalam hutan?” Tanya Zarathustra.
Jawab sang orang suci: “Aku membuat puji-pujian dan menyanyikannya; dan ketika
membuat pujian ini, aku tertawa, menangis dan bergumam; dengan itu aku memuji Tuhan.
Dengan menyanyi, menangis, tertawa dan bergumam aku memuji Tuhan yang merupakan
Tuhanku. Tapi apa yang kau bawa kepada kami sebagai hadiah?”
Ketika mendengar kata-kata ini, Zarathustra membungkuk kepada sang orang suci dan
berkata: “Apa yang harus kuberikan padamu? Lebih baik aku bergegas pergi, jangan-jangan aku
mengambil sesuatu darimu!”-Dan mereka pun berpisah, orang tua itu dan zarathustra, sambil
tertawa seperti anak-anak sekolahan.
Namun, ketika sudah sendiri lagi, Zarathustra berkata dalam hatinya: “Sungguhkah ini?
Orang suci di tengah hutan itu belum mendengar, bahwa Tuhan telah mati!”

III

Ketika tiba di kota terdekat dengan hutan itu, di sana Zarathustra mendapati banyak orang
telah berkumpul di pasar karena hari itu telah diumumkan bahwa seorang penari-tambang akan
melakukan pertunjukkan. Dan Zarathustra berkata kepada orang banyak:
“Aku ajarkan kepadamu Adimanusia. Manusia itu sesuatu yang harus dilampaui. Apa
yang telah kalian lakukan untuk melampaui manusia?
Sampai sekarang semua makhluk telah menciptakan sesuatu yang melampaui diri mereka
sendiri. Apakah kalian memilih untuk menjadi arus-balik dari arus pasang agung itu dan lebih
suka kembali menjadi binatang daripada melampaui manusia?
Apalah arti seekor kera bagi manusia? Bahan tertawaan, sesuatu yang memalukan dan
menyedihkan. Maka sama pula halnya dengan manusia di mata Adimanusia: bahan tertawaan,
yang memalukan dan menyedihkan.
Kalian telah berubah dari cacing menjadi manusia, tapi banyak dalam diri kalian yang
masih seekor cacing. Dulu kalian adalah kera dan bahkan sekarang pun manusia lebih kera
daripada kera mana pun.
Bahkan yang paling bijaksana di antara kalian hanyalah kekacauan dan campuran antara
tanaman dan bayang-bayang. Apakah aku menyuruh kalian menjadi tanaman atau bayangan?
Dengar! Aku mengajarkan padamu Adimanusia!
Adimanusia adalah arti dari bumi ini. Biarkan kehendakmu berkata: Adimanusia akan
menjadi makna dari bumi!
Aku serukan kepadamu saudaraku, setialah kepada bumi, dan jangan percayai mereka
yang mengajarkan kepada kalian harapan-harapan di luar bumi! Mereka itu peracun, baik mereka
tahu atau tidak, mereka adalah peracun.
Pembenci hidup mereka itu; mereka sendiri membusuk dan teracuni; bumi sudah lelah
dengan mereka: tinggalkan mereka!
Dulu penghujatan terhadap Tuhan adalah penghujatan terbesar; tapi Tuhan sudah mati,
dan dengan demikian, mati pula penghujat-penghujatnya. Sekarang, menghujat bumi adalah dosa
yang paling keji. Sekarang menganggap inti sesuatu yang tidak diketahui sebagai lebih tinggi
daripada arti bumi itu dosa yang paling mematikan.
Dulu, jiwa memandang tubuh dengan kebencian dan kebencian ini dulunya hal yang
paling luhur: -- jiwa ingin agar tubuh pucat, kelaparan dan tak berdaya. Karena itu, jiwa ingin
lepas dari tubuh dan bumi.
Dan tidakkah jiwa itu sendiri pucat, kelaparan dan tak berdaya; dan kekejaman adalah
kesenangan bagi jiwa itu!
Saudara-saudaraku, katakan padaku: Apa yang dikatakan tubuhmu tentang jiwamu?
Tidakkah jiwamu adalah kemiskinan, kekotoran dan kepuasan diri yang celaka?
Sesungguhnya manusia adalah arus yang tercemar. Seseorang harus menjadi seperti laut,
untuk menerima arus tercemar tanpa menjadi kotor.
Dengar! Aku ajarkan kepadamu Adimanusia: dialah laut itu; di dalamnya kebencianmu
yang besar akan tenggelam.
Apa hal terbesar yang dapat kalian alami? Masa kebencian besar. Masa di mana
kegembiraanmu, juga akal dan kebajikanmu, menjadi pahit dan memuakkan bagimu.
Masa ketika kalian berkata: Apa gunanya kegembiraanku ini! Kemiskinan dan
pencemaran dan kepuasan diri yang celaka! Tapi kegembiraanku harus membenarkan
keberadaan itu sendiri!
Masa ketika kalian berkata: Apa gunanya akalku ini! Apakah ia lapar akan pengetahuan
seperti singa lapar akan mangsa? Kemiskinan, pencemaran dan kepuasan diri yang celaka!
Masa ketika kalian berkata: Apa gunanya kebajikanku ini! Dia tidak berhasil membuatku
tergila-gila akan kebaikan dan keburukanku! Semuanya adalah kemiskinan, pencemaran dan
kepuasan diri yang celaka!
Masa ketika kalian berkata: Apa gunanya keadilanku ini! Aku tidak melihat diriku
menjadi nyala maupun batubara. Sebab orang yang adil adalah yang menjadi nyala dan batubara!
Masa ketika kalian berkata: Apa gunanya belas kasihanku ini! Tidakkah belas kasihan itu
kayu tempat dia yang mencintai manusia disalibkan? Tapi belas kasihanku bukanlah penyaliban.
Pernahkah kalian berkata seperti itu? Pernahkah kalian berteriak seperti itu? Aku ingin
mendengar kalian berteriak seperti itu!
Bukan dosamu – melainkan rasa-puas-dirimulah yang berseru kepada langit: kepelitan
kalian pada dosalah yang berteriak pada langit!
Mana kilat yang akan menjilatmu dengan lidahnya? Mana khayal yang akan
menyembuhkanmu?
Dengar! Aku ajarkan Adimanusia kepadamu: dialah kilat itu, dialah khayal itu!”
Ketika Zarathustra berkata demikian, salah seorang dari kerumunan berteriak: “Kita
sudah banyak mendengar tentang si penari tambang: mari kita melihatnya!” Dan semua orang
menertawai Zarathustra. Tapi si penari tambang mengira bahwa kata-kata itu ditujukan
kepadanya dan dia pun memulai pertunjukkannya.

IV

Zarathustra memandang kerumunan di depannya, dia terheran. Lalu dia berkata:


“Manusia adalah seutas tambang yang terentang antara hewan dan Adimanusia – sebuah
tambang di atas jurang tak berdasar.
Sebuah penyeberangan yang berbahaya, perjalanan yang berbahaya, pandangan ke
belakang yang berbahaya, dan perhentian yang berbahaya.
Apa yang agung pada diri manusia adalah bahwa dia itu jembatan dan bukan tujuan: apa
yang patut dicintai pada manusia adalah bahwa dia sebuah Gerak Naik dan Gerak Turun.
Aku mencintai mereka yang tidak mengetahui bagaimana hidup kecuali sebagai gerak
turun, karena mereka adalah gerak naik itu sendiri.
Aku mencintai pembenci besar, karena mereka adalah pemuja besar dan panah-panah
kerinduan akan pantai sebelah sana.
Aku mencintai mereka yang tidak mencari di balik bintang alasan supaya mereka bisa
menjadi korban, tapi yang mengorbankan diri mereka sendiri kepada bumi, supaya bumi
Adimanusia bisa terwujud.
Aku mencintai mereka yang hidup untuk tahu dan berusaha tahu supaya Adimanusia
dapat hidup. Sebab dengan demikian dia mencari jalan turunnya sendiri.
Aku mencintai dia yang bekerja dan mencipta, supaya ia dapat membangun rumah bagi
Adimanusia dan mempersiapkan bumi, hewan dan tanaman untuknya: sebab dengan demikian ia
mencari jalan turunnya sendiri.
Aku mencintai mereka yang mencintai kebajikannya: karena kebajikan adalah kehendak
untuk turun dan panah kerinduan.
Aku mencintai dia yang tidak menyimpan setitik pun jiwa untuk dirinya sendiri, tapi yang
ingin sepenuhnya menjadi jiwa dari kebajikannya: dan berjalanlah dia seperti jiwa di atas
jembatan.
Aku mencintai dia yang membuat kebajikannya menjadi jalan turun dan kemestian: maka
demi kebajikannya itu dia bersedia untuk hidup atau bersedia untuk tidak hidup.
Aku mencintai dia yang tidak menginginkan terlalu banyak kebajikan. Satu kebajikan
sudah lebih bajik daripada dua kebajikan, karena kebajikan merupakan simpul tempat nasib
seseorang ditambatkan.
Aku mencintai dia yang jiwanya banyak memberi bagi yang lain, yang tidak
menginginkan terima kasih dan pengembalian; karena dia akan selalu memberkahi dan tidak
ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Aku mencintai dia yang malu ketika dadu jatuh pada angka pilihannya dan bertanya:
‘Apakah aku seorang pemain yang tidak jujur?’ – karena dia bersedia mengalah. Aku mencintai
dia yang menebarkan kata-kata emas di depan perbuatannya, dan selalu melakukan lebih dari apa
yang dijanjikan: karena dengan demikian dia mencari gerak turunnya sendiri.
Aku mencintai dia yang membenarkan mereka yang akan datang dan menebus mereka
yang telah berlalu: karena ia bersedia mengalah demi mereka yang ada sekarang.
Aku mencintai dia yang menegur Tuhannya, karena dia mencintai Tuhannya; karena dia
harus mengalah demi kemarahan Tuhannya.
Aku mencintai dia yang jiwanya sekalipun dalam luka, dan bersedia mengalah tentang
hal-hal kecil: maka dengan senang hati dia pergi melalui jembatan itu.
Aku mencintai ia yang jiwanya begitu penuh sehingga dia melupakan dirinya sendiri dan
segala hal yang ada pada dirinya: dengan demikian segala hal menjadi gerak turunnya.
Aku mencintai mereka, jiwa-jiwa dan hati yang bebas: sebab kepalanya menjadi tubuh9
dari hatinya, tapi hatinya membawanya kepada gerak turun.
Aku mencintai semua yang jatuh seperti tetes air besar satu per satu dari awan gelap yang
mengambang di atas manusia: mereka mengumumkan kedatangan sang kilat dan turun menuju
ke tanah sebagai pembuka jalan.
Lihatlah, akulah pembuka jalan bagi kilat itu, dan tetes yang berasal dari awan: dan kilat
itu adalah sang Adimanusia.”

V
Setelah selesai mengatakan wejangan-wejangannya, Zarathustra melihat sekali lagi
kepada massa dan diam. “Di sana mereka berdiri,” katanya dalam hati; “di sana mereka tertawa,
mereka tidak mengerti diriku; aku bukan mulut bagi telinga-telinga ini.
Haruskah telinga mereka dipukuli supaya mereka bisa belajar mendengar dengan mata
mereka? Haruskah seseorang berkoar seperti genderang dan para pengaku dosa? Atau mungkin
mereka hanya percaya pada orang gagap?
Mereka punya sesuatu yang mereka banggakan. Apa nama yang mereka berikan pada
kebanggaan itu? Budaya, mereka menyebutnya; yang membedakan mereka dari gembala-
gembala kambing.
Mereka tidak suka mendengar ‘kebencian’ yang ditujukan terhadap diri mereka sendiri.
Maka aku akan mencoba berbicara pada kebanggaan mereka.
Aku akan berkata kepada mereka tentang hal yang menimbulkan rasa benci paling besar
yaitu manusia terakhir!”10
Dan berkatalah Zarathustra kepada khalayak di sana:
“Sudah waktunya manusia menentukan tujuan. Sudah tiba masanya manusia menanam
bibit bagi harapan tertingginya.
Ladangnya masih cukup subur untuk bibit itu. Tapi ladang itu, suatu hari, akan habis dan
menjadi tandus dan tidak akan ada pohon besar pun yang mampu hidup di dalamnya.
Akan datang masanya di mana manusia tidak lagi melepaskan panah kerinduannya
melampaui manusia – dan tali panahnya tidak tahu lagi bagaimana berdesing!
Aku katakan kepadamu: seseorang harus memiliki kekacauan11 dalam dirinya supaya ia
bisa melahirkan bintang yang menari. Aku katakan kepadamu: engkau masih memiliki
kekacauan itu padamu.
Akan datang masanya di mana manusia tidak akan lagi melahirkan bintang apa pun.
Akan datang masanya bagi manusia yang paling menimbulkan benci, yang tidak dapat lagi
membenci dirinya sendiri.
Lihatlah! Aku tunjukkan padamu manusia terakhir.
‘Apakah cinta itu? Apakah penciptaan itu? Apakah kerinduan itu? Apakah bintang itu?’
tanya manusia terakhir itu, dan dia pun mengedipkan matanya.
Bumi telah menjadi kecil dan di sana berlompatan sang manusia terakhir yang telah
membuat semuanya kecil. Spesiesnya tidak bisa dipunahkan seperti juga lalat tanah; manusia
terakhir hidup paling lama.
‘Kami telah menemukan kebahagiaan’, kata manusia terakhir; dan dia pun mengedipkan
matanya.
Mereka telah meninggalkan daerah-daerah di mana kehidupan sulit karena mereka
memerlukan kehangatan. Dia masih mengasihi sesamanya dan bergesekan dengannya: sebab dia
menginginkan kehangatan.
Sakit dan ketidakpercayaan mereka anggap sebagai dosa; mereka berjalan dengan hati-
hati. Dia yang masih tersandung batu atau manusia disebut sebagai orang tolol!
Sedikit racun di sana sini: yang memberikan mimpi yang menyenangkan dan akhirnya
banyak racun digunakan untuk mendapatkan kematian yang menyenangkan.
Dia masih bekerja untuk melewatkan waktu, tapi mereka tetap waspada supaya waktu
luang tidak mengganggu dirinya.
Dia tidak lagi menjadi kaya atau miskin sebab kedua posisi itu sama-sama terlalu
membebani. Siapa lagi yang ingin memerintah? Siapa lagi yang ingin diperintah? Keduanya
sama-sama terlalu membebani.
Tidak ada gembala dan hanya ada satu kawanan saja! Semua orang menginginkan yang
sama; semua orang sama sederajat: dia yang punya pikiran lain akan dengan sukarela masuk ke
rumah sakit jiwa.
‘Dulunya seluruh dunia gila’ – kata salah seorang yang paling pintar dari antara mereka
dan kemudian dia pun berkedip.
Mereka pintar dan tahu semua yang telah terjadi: maka mereka mencerca tiada habisnya.
Orang-orang masih bertengkar, tapi mereka tidak lama kemudia berdamai, – sebab mereka tak
mau pencernaan mereka terganggu.
Mereka memiliki kesenangan-kesenangan kecil untuk siang hari dan kesenangan-
kesenangan kecil untuk malam hari, tapi mereka tetap menjaga kesehatan.
‘Kami telah menemukan kebahagiaan,’ – kata manusia-manusia terakhir dan mereka pun
berkedip.”
Dan di sini berakhirlah wejangan pertama Zarathustra, yang juga disebut “Prolog”, sebab
pada saat itu kegembiraan dan keramaian orang banyak menghentikannya. “Berikan kami
manusia-manusia terakhir ini, wahai Zarathustra!”, – seru mereka. “Jadikan kami manusia-
manusia terakhir ini! Baru kami akan menghadiahkan kepadamu Adimanusia!” Semua orang
bersorak dan berdecak puas. Tapi Zarathustra menjadi sedih dan berkata dalam hati:
“Mereka tidak memahami aku: Aku bukanlah mulut untuk telinga-telinga ini.
Mungkin aku telah hidup terlalu lama di pegunungan; terlalu lama aku mendengarkan
suara jeram dan pepohonan; sekarang rasanya aku berbicara kepada gembala-gembala kambing
yang bodoh.
Jiwaku tenang dan jernih seperti pegunungan di pagi hari, tapi mereka menganggapku tak
berperasaan dan sedang mencerca mereka dengan lelucon-lelucon yang mengerikan.
Mereka memandangku dan tertawa: sambil tertawa mereka membenciku pula. Ada
kedinginan dalam tawa mereka.”

VI

Tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat semua mulut bungkam dan semua mata
terbelalak. Sebab pada waktu itu sang penari tambang telah memulai pertunjukannya: dia keluar
dari sebuah pintu kecil dan berjalan di atas tambang yang dibentangkan antara dua menara,
melintasi pasar dan orang-orang. Ketika dia berada di tengah-tengah, pintu kecil itu terbuka lagi
dan keluarlah seorang berpakaian cerah seperti badut dan dengan langkah cepat mengejar
dirinya. “Ayo teruskan, kaki pincang,” teriaknya dengan suara yang mengerikan. “Ayo teruskan,
pemalas! Penipu! Wajah pucat! – sebelum aku gelitik kamu dengan tungkakku! Apa yang kau
lakukan di antara menara ini? Menara itulah tempatmu, kamu harus dikurung; kau telah
menghalangi jalan bagi orang yang lebih baik bagi dirimu!” – Sambil mengucapkan kata-kata itu
dia makin mendekat. Tapi ketika jarak antara mereka hanya tinggal satu langkah saja, terjadilah
kengerian yang membuat semua mulut ternganga dan mata terarah. Dia menjerit seperti setan
dan menyergap orang yang menghalangi jalannya itu. Si penari tambang, melihat bahwa
musuhnya telah menang, menjadi bingung dan terpeleset. Dia melemparkan tongkatnya dan
jatuh lebih cepat daripada tongkat itu dan menjadi gumpalan tangan dan kaki. Pasar dan orang-
orang di sana menjadi seperti laut yang diaduk badai: mereka bertebaran dengan kacau balau,
terutama ketika tubuh itu menghantam tanah.
Tapi Zarathustra tetap berdiri dan tubuh itu jatuh persis di sebelahnya, terluka parah dan
bentuknya sudah tidak karuan, tapi masih belum mati. Setelah beberapa saat, dia menjadi sadar
dan dia melihat Zarathustra berlutut di sampingnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” akhirnya ia
bertanya. “Aku sudah tahu sejak dulu bahwa setan itu akan menjegal aku. Sekarang dia
menyeretku ke neraka: maukah engkau menghalangi dia?”
“Demi kehormatanku, wahai temanku,” jawab Zarathustra, “aku katakana bahwa apa
yang kau sebut tadi itu sama sekali tidak ada. Tidak ada setan dan tidak ada neraka. Jiwaku akan
mati bahkan lebih cepat daripada tubuhmu. Maka janganlah lagi engkau takut pada apa pun!”
Dia memandang setengah tidak percaya. “Kalau yang kau katakan itu benar,” katanya
“maka aku tidak akan kehilangan apa pun ketika aku kehilangan nyawaku dan aku menjadi tidak
lebih dari seekor hewan yang telah diajari menari dengan pukulan dan imbalan yang tidak
seberapa.”
“Sama sekali tidak,” kata Zarathustra, “sebab engkau telah menentang bahaya sebagai
pekerjaanmu dan di sana tidak ada sesuatu pun yang patut diremehkan. Sekarang engkau hampir
mati karena pekerjaanmu itu: maka aku akan menguburmu dengan tanganku sendiri.”
Ketika Zarathustra berkata demikian, orang yang sekarat itu tidak menjawab, tapi dia
menggerakkan tangannya seolah hendak menjabat tangan Zarathustra untuk berterima kasih.

VII

Sementara itu malam mulai menjelang dan pasar itu terselimuti kegelapan. Orang-orang
sudah buyar bahkan rasa ingin tahu dan ketakutan pun bisa surut. Tapi Zarathustra masih duduk
di sebelah mayat di atas tanah itu, hanyut dalam pemikiran, sehingga dia lupa waktu. Akhirnya,
malam pun tiba dan angin dingin meniup ia yang sendirian itu. Lalu bangkitlah Zarathustra dan
berkata dalam hati:
“Sesungguhnya sebuah tangkapan bagus yang telah kudapatkan hari ini! Bukan manusia
tetapi mayat.
Mengerikan memang hidup manusia itu dan seolah tanpa makna: bahkan seorang badut
pun bisa menentukan nasibmu.
Aku hendak mengajarkan kepada manusia makna keberadaan mereka, Adimanusia,
sebuah kilat yang muncul dari balik awan gelap – manusia.
Tapi, aku masih jauh dari mereka dan maknaku tidak bisa berkata-kata kepada akal
mereka. Bagi manusia, aku ini mirip orang tolol dan mayat.
Kelam malam ini, kelam pula jalan-jalan Zarathustra. Mari, temanku yang sudah kaku
dan dingin! Aku akan membawamu ke tempat di mana aku akan menguburmu dengan tanganku
sendiri.”

VIII

Setelah Zarathustra berkata demikian, dia memanggul mayat itu dan pergi meninggalkan
tempat itu dan pergi. Tapi belum sampai berjalan seratus langkah, seseorang mendekatinya dan
berbisik di telinganya – dan lihatlah! dia ternyata si badut tadi. “Tinggalkanlah kota ini wahai
Zarathustra,” katanya “terlalu banyak orang yang membencimu. Orang baik dan orang adil
membencimu dan menyebut engkau sebagai musuh dan pembenci. Para penganut iman sejati
membencimu dan menyebut dirimu sebagai bahaya bagi banyak orang. Untung bagimu jika
ditertawakan dan memang sesungguhnya bicaramu seperti badut. Untung juga engkau berkawan
dengan anjing mati itu maka dengan merendahkan dirimu engkau telah menyelamatkan
nyawamu hari ini. Sekarang, pergilah dari kota ini – atau besok aku melompat ke atas tubuhmu,
orang hidup yang melompat ke atas orang mati.” Setelah berkata demikian dia menghilang. Tapi
Zarathustra tetap menelusuri jalan-jalan yang gelap.
Di gerbang kota para penggali kubur menjumpainya: mereka mengarahkan sinar obor
mereka ke wajahnya dan ketika mengenali Zarathustra mereka mencemoohnya. “Zarathustra
sedang membawa bangkai anjing! Bagus sekali dia sekarang menjadi penggali kubur! Sebab
tangan kami terlalu bersih untuk kotoran itu. Apakah Zarathustra ingin mencuri sedikit daging
milik setan? Selamat menikmati santapan itu! Sayang, seandainya setan adalah maling yang
lebih pintar daripada Zarathustra, dia akan mencuri dan memakan kalian berdua sekaligus!”
Mereka tertawa sendiri sambil mendekatkan kepala mereka.
Zarathustra tidak berkata apa-apa tapi meneruskan langkahnya. Setelah dia berjalan
selama dua jam, melewati hutan dan rawa-rawa, dia mendengar banyak serigala melolong
kelaparan dan dia sendiri merasa lapar. Maka dia berhenti di sebuah rumah yang terpencil di
mana sebuah lampu menyala.
“Rasa lapar menyerangku,” kata Zarathustra, “seperti seorang perampok. Di tengah-
tengah hutan dan rawa-rawa rasa lapar menyerangku dan di tengah malam pula.
Rasa laparku memiliki sifat yang mengherankan. Seringkali ia datang hanya setelah
makan dan kadang sepanjang hari ia tidak datang. Ke mana gerangan dia pergi?”
Lalu Zarathustra pun mengetuk pintu rumah itu. Muncullah seorang tua yang membawa
lampu dan bertanya: Siapa itu yang datang kepada diriku dan mengganggu tidurku yang tidak
nyenyak?”
“Seorang yang masih hidup dan seorang yang sudah mati,” kata Zarathustra. “Beri aku
makanan dan minuman sebab aku telah melupakannya sepanjang hari tadi. Dia yang memberi
makan orang lapar menyegarkan jiwanya sendiri, begitulah yang dinyatakan oleh
kebijaksanaan.”
Orang tua itu masuk, dan sebentar kemudian keluar menawarkan roti dan anggur kepada
Zarathustra. “Tempat yang tidak baik untuk orang lapar” katanya; itulah sebabnya aku tinggal di
sini. Hewan dan manusia datang kepadaku, sang pertapa12 ini. Suruh temanmu makan dan
minum. Dia tampaknya lebih lelah daripada dirimu.” Zarathustra menjawab: “Temanku ini sudah
mati. Mana mungkin aku berkata-kata kepadanya.” “Itu bukan urusanku,” kata orang tua itu
dengan muram; “dia yang mengetuk pintuku harus menerima apa yang aku berikan padanya.
Makanlah dan selamat tinggal!”
Lalu Zarathustra berjalan kembali selama dua jam, mengikuti jalur dan cahaya bintang-
bintang: sebab dia adalah pejalan malam yang berpengalaman dan suka memandangi wajah
semua yang tertidur. Ketika fajar menyingsing Zarathustra mendapati dirinya telah sampai di
sebuah hutan yang lebat, dan tidak ada lagi jalan yang terlihat. Lalu dia menaruh mayat itu di
sebuah pohon yang berlubang, karena ingin menghindarkan temannya dari serigala-serigala – dia
sendiri berbaring di atas tanah berlumut. Dia langsung jatuh tertidur, lelah tubuhnya tapi tenang
jiwanya.
IX

Lama Zarathustra tertidur dan membiarkan fajar merah melewati kepalanya dan pagi
telah berlalu. Akhirnya matanya terbuka dan dengan tertegun dia mengamati hutan dan
keheningan, dengan tertegun dia memandang ke dalam dirinya sendiri. Lalu dia segera bangkit
seperti pelaut yang tiba-tiba melihat daratan dan berteriak gembira: sebab dia melihat sebuah
kebenaran baru. Dia berkata dalam hatinya:
“Sebuah cahaya baru telah menyingsing di hadapanku: aku memerlukan sahabat – tapi
yang hidup, bukan sahabat mati, yang bisa aku bawa ke mana aku suka.
Aku memerlukan sahabat yang hidup, yang akan mengikutiku karena mereka ingin
mengikuti diri mereka sendiri13 – dan ke tempat ke mana aku pergi.
Sebuah cahaya baru telah menyingsing di hadapanku. Bukan kepada orang banyak
Zarathustra akan berbicara, tapi kepada sahabatnya! Zarathustra tidak akan menjadi gembala atau
anjing penjaga bagi sebuah kawanan.
Membujuk banyak orang dari dalam kawanan – untuk itulah aku datang. Orang banyak
dan kawanan itu pastilah marah kepadaku: perampok, begitulah para gembala menyebut
Zarathustra.
Gembala, begitu aku menyebut mereka, tapi mereka menyebut diri mereka orang yang
percaya pada iman sejati.
Lihatlah orang-orang baik dan adil itu! Siapa yang paling mereka benci? Yaitu dia yang
memecahkan lemping-lemping dari nilai mereka, sang pemecah, sang pelanggar – tapi sang
pelanggar itu sesungguhnya adalah seorang pencipta.
Lihatlah orang-orang beriman dari semua iman! Siapa yang paling mereka benci? Yaitu
dia yang memecahkan lemping-lemping dari nilai mereka, sang pemecah, sang pelanggar – tapi
sesungguhnya ia adalah seorang pencipta.
Dan sahabatlah yang dicari sang pencipta itu, bukan mayat – dan bukan pula kawanan
ataupun orang beriman, melainkan sesama penciptalah yang dicarinya – mereka yang mengukir
nilai-nilai baru pada lemping-lemping yang baru pula.
Sahabatlah yang dicari sang pencipta, dan juga sesama penuai: sebab segalanya sudah
siap untuk dituai baginya, tapi dia tidak memiliki seratus sabit; karenanya dia hanya menggaruk
telinga dan kesal.
Sahabatlah yang dicari sang pencipta, dan mereka yang tahu bagaimana mengasah sabit
mereka. Penghancur, demikian mereka akan disebut, dan juga pembenci kebaikan dan
keburukan. Tapi sesungguhnya mereka adalah penuai dan orang bersuka.
Sesama pencipta, itulah yang dicari Zarathustra; sesama penuai dan sesama orang
bersuka, Zarathustra mencarinya: apa pun yang akan ia ciptakan bersama gembala, kawanan dan
mayat-mayat!
Dan engkau, sahabat pertamaku, beristirahatlah dalam damai! Aku telah menguburmu di
dalam pohon yang berlubang, aku telah menghindarkanmu dari serigala.
Tapi aku harus berpisah denganmu sebab waktunya telah tiba. Di antara fajar-fajar telah
datang kepadaku sebuah kebenaran baru.
Aku tidak akan menjadi gembala, aku tidak akan menjadi penggali kubur. Dan aku tidak
akan lagi berkotbah kepada orang banyak; dan untuk terakhir kalinya ini aku berkata-kata
dengan orang mati.
Dengan pencipta, penuai dan orang bersuka aku akan bersama: pelangi yang akan
kutunjukkan kepada mereka bersama semua anak tangga menuju Adimanusia.
Kepada mereka yang sendiri,14 aku akan menyanyikan laguku dan juga kepada mereka
yang tinggal berdua. Mereka yang masih memiliki telinga untuk hal-hal yang belum pernah
mereka dengar sebelumnya, aku akan membuat hati mereka diberati oleh kesukaanku.
Aku berjalan menuju tujuanku, aku mengikuti jalanku. Di antara orang yang bermalas-
malasan dan berlamban-lamban, aku akan melompat pergi. Maka biarlah gerak lajuku ini
menjadi gerak turun bagi mereka!”

Itulah yang dikatakan Zarathustra dalam hatinya ketika matahari berada persis di atas
kepalanya. Lalu dia memandang ke atas dengan heran – sebab dia mendengar suara tajam dari
seekor burung di atas kepalanya. Dan lihatlah! Seekor elang melayang di udara membentuk
lingkaran-lingkaran besar dan padanya tergantung seekor ular, bukan seperti mangsanya tapi
seperti temannya: sebab ular itu terlilit di leher elang itu.
“Mereka adalah hewanku,” kata Zarathustra dengan gembira di dalam hatinya.
“Hewan yang paling angkuh di bawah matahari dan yang paling bijak di bawah matahari,
– mereka telah keluar dari sarangnya untuk mengamati.
Mereka ingin tahu apakah Zarathustra masih hidup. Dan apakah aku sesungguhnya masih
hidup?
Lebih besar bahaya yang aku dapati di antara manusia daripada di antara hewan; menuju
jalan-jalan yang berbahaya, ke sanalah perginya diriku. Biarlah hewan-hewanku menuntun
langkah-langkahku!”
Setelah berkata demikian, Zarathustra teringat kata-kata sang pertapa suci di dalam hutan
sana. Lalu dia mendesah dan berkata dalam hatinya:
“Seandainya aku lebih bijak! Seandainya kebijakan langsung dari hatiku, seperti ularku!
Tapi aku sedang menginginkan yang tidak mungkin. Maka, aku akan minta agar
keangkuhanku selalu pergi bersama kebijaksanaanku! Dan jika pada suatu hari nanti
kebijaksanaan pun meninggalkan diriku: ya ia memang suka terbang jauh! – semoga
keangkuhanku pun terbang bersama ketololanku!”
Dan Zarathustra memulai perjalanannya turun gunung.o

Demikian Sabda Zarathustra


BAGIAN PERTAMA

1. Tiga Perubahan

Tiga perubahan roh aku nyatakan kepadamu: dari roh menjadi unta, dari unta menjadi
singa dan dari singa akhirnya menjadi seorang anak.
Sebab ada banyak hal yang berat bagi roh, roh yang kuat menanggung beban yang
didiami oleh rasa hormat: sebab yang berat dan paling berat merindukan kekuatan sang roh.
Apa itu berat?, tanya roh penanggung beban ini; dan kemudian dia berlutut seperti unta
dan ingin dibebani.
Apa itu yang paling berat, wahai para pahlawan?, demikian tanya roh penanggung beban.
Katakanlah supaya aku bisa menanggungnya dan bersuka cita karena kekuatanku.
Tidakkah yang paling berat itu adalah ini: merendahkan diri untuk membunuh
keangkuhan? Mempertontonkan ketololan untuk mencemooh kebijaksanaan kita sendiri?
Atau ini: meninggalkan pihak kita sendiri ketika kita sedang merayakan kemenangan?
Mendaki gunung yang tinggi untuk menggoda sang penggoda?
Atau ini: berada dalam kesakitan tetapi mengusir para penjenguk dan berteman dengan
orang-orang bisu, yang tidak pernah mendengarkan permintaanmu?
Atau ini: meminum air busuk yang merupakan air kebenaran dan bahkan tidak menolak
kodok dingin dan katak panas?
Ataukah: mencintai mereka yang membenci kita dan mengulurkan tangan kita kepada
setan yang hendak menakuti kita?
Semua hal-hal yang terberat ini ditanggung oleh roh penanggung beban dan bagaikan
unta yang setelah dipenuhi beban kemudian bergegas menuju padang pasir, demikian juga roh ini
bergegas menuju ke padang pasir.
Tapi, di tengah padang pasiryang paling sunyi terjadilah perubahan kedua: di sana roh itu
menjadi singa dan kebebasanlah yang akan ia terkam dan kekuasaan untuk meraja di padang
pasirnya sendiri.
Majikan terakhirnya yang akan ia cari: dia akan bermusuhan dengannya dan juga dengan
Tuhannya yang terakhir; dan demi kemenangan ia akan bertempur melawan naga besar.
Dan siapakah naga besar itu, yang tidak lagi diakui sebagai Tuhan dan Majikan oleh roh?
“Engkau-harus”, demikianlah nama naga itu, sementara roh singa itu berkata: “Aku akan”.
Si “Engkau-harus” menghalangi jalannya, dengan kemilau emas – seekor hewan yang
berlapiskan sisik dan di tiap keping sisiknya tertuliskan dengan kemilau emas: “Engkau-harus!”
Nilai-nilai dari ribuan tahun berkilau pada sisik-sisik itu dan kemudian berkatalah dia
yang paling perkasa dari antara naga: “Semua nilai dari segala hal – bersinar padaku.
Semua nilai yang telah diciptakan dan semua nilai dari ciptaan itu – akulah ia.
Sesungguhnya tidak akan ada lagi ‘Aku akan’.” Demikian kata sang naga.
Wahai saudaraku, lalu untuk apa roh harus berubah menjadi singa? Mengapa tidak cukup
menjadi hewan pembawa beban, yang merelakan segalanya dan patuh?
Menciptakan nilai-nilai baru – untuk yang satu ini bahkan singa pun tidak kuasa
melakukan: tapi menciptakan kebebasan bagi penciptaan baru – itu dapat dilakukan oleh
kekuatan singa.
Menciptakan kebebasan bagi dirinya sendiri dan mengatakan Tidak yang suci kepada
tugas: itulah saudaraku, yang dibutuhkan singa.
Hak untuk mengenakan nilai-nilai baru – itulah yang menakutkan bagi roh penanggung
beban yang patuh. Sesungguhnya, bagi roh semacam itu, itu sama dengan memangsa dan itu
merupakan kemestian untuk seekor hewan pemangsa.
Dia dulu mencintai “Engkau-harus” sebagai sesuatu yang paling suci: sekarang dia harus
melihat adanya ketololan dan kesewenangan bahkan di dalam yang tersuci di antara yang suci,
supaya dia dapat merampas kebebasan dari cengkraman cinta sang naga: dan itulah tugas singa.
Tapi katakan kepadaku wahai saudaraku, apa yang dapat dilakukan seorang anak, yang
tidak dapat dilakukan oleh seekor singa sekalipun? Mengapa singa pemangsa itu masih harus
berubah lagi menjadi seorang anak?15
Lugu anak itu, dan mudah lupa, sebuah permulaan baru, sebuah permainan, sebuah roda
yang berputar sendiri, sebuah gerak pertama, sebuah Ya yang suci.
Dan untuk permainan penciptaan, wahai saudaraku, diperlukan sebuah Yang suci:
kehendaknya sendiri itulah yang diinginkan roh sekarang; dunianya sendiri dimenangkan oleh
mereka yang dibuang dari dunia.
Tiga perubahan roh telah aku nyatakan kepadamu: bagaimana roh menjadi unta, unta
menjadi singa dan singa akhirnya menjadi seorang anak.
Demikian sabda Zarathustra. Dan pada saat itu dia tinggal di sebuah kota yang disebut
Sapi Belang.

2. Kursi-kursi Pengajaran 16 Kebajikan

Banyak orang yang memuji Zarathustra sebagai seorang yang bijak, yang bisa berbicara
dengan baik tentang tidur dan kebajikan; karenanya kehormatan dan ganjaran yang diterimanya,
dan semua orang muda duduk di depan kursinya. Kepadanya Zarathustra pergi dan dia duduk di
antara para pemuda di depan kursi itu. Dan berkatalah orang bijak itu:
“Rasa hormat dan kerendahan hati di hadapan tidur! Itulah yang terutama! Dan menjauhi
semua orang yang tidak bisa tidur nyenyak dan sering terbangun di tengah malam!
Bahkan maling pun masih rendah hati di hadapan tidur: sebab dia selalu berjingkat pelan
melewati malam. Tapi sombong si penjaga malam, dengan sombong dia memanggul
terompetnya.
Dan tidur bukanlah seni yang remeh: sebab untuk itu kau harus terbangun sepanjang hari.
Sepuluh kali dalam sehari kau harus menahan diri: itu menimbulkan kelelahan yang sehat
bagaikan bunga poppy bagi jiwamu.
Sepuluh kali kau harus berdamai dengan dirimu sendiri; sebab menahan diri itu pahit dan
mereka yang tidak berdamai tidak dapat tidur nyenyak.
Sepuluh kebenaran harus kau temukan dalam harimu; sebab jika tidak, kau harus
mencarinya pada malam hari dan jiwamu tidak akan pernah kenyang karenanya.
Sepuluh kali engkau harus tertawa dalam harimu dan bergembira; sebab jika tidak,
perutmu,17 bapa dari segala kemuraman, akan mengganggumu di sepanjang malam.
Sedikit saja orang yang mengetahui bahwa kau harus memiliki semua kebajikan supaya
bisa tidur. Apakah aku akan bersaksi palsu? Apakah aku akan melakukan perselingkuhan?
Apakah aku menginginkan gadis pelayan tetanggaku? Semua itu tidak selaras dengan
tidur yang nyenyak.
Dan bahkan setelah kau memiliki semua kebajikan, masih ada satu hal lagi yang penting
untuk dipahami: semua kebajikan itu harus disuruh tidur pada saat yang tepat.
Supaya mereka tidak bertengkar satu sama lain, wanita-wanita sopan ini! Dan mereka itu
bertengkar memperebutkan kau, hei orang yang tidak bahagia!
Damai dengan Tuhan dan dengan sesama: demikian yang diinginkan oleh tidur nyenyak.
Dan juga damai dengan setan dari sesamamu! Jika tidak ia akan menghantuimu pada malam hari.
Hormat terhadap pemerintah dan kepatuhan: juga terhadap pemerintah yang tidak lurus!
Demikian yang diinginkan tidur nyenyak. Apalah dayaku jika memang kekuasaan ingin berjalan
dengan kaki bengkok?
Dia yang membawa kawanannya ke padang rumput yang paling hijau, bagiku selalu
merupakan gembala yang terbaik: ia pun selaras dengan tidur nyenyak.
Kehormatan yang berlimpah ataupun harta yang banyak tidaklah aku inginkan: sebab
mereka membuat empeduku gelisah. Tapi tidur tanpa nama baik dan sedikit harta pun juga tak
akan nyenyak.
Sedikit sahabat lebih menyenangkan bagiku daripada memiliki sahabat-sahabat yang
buruk; tapi mereka harus datang dan pergi pada waktu yang tepat. Demikian barulah sesuai
dengan tidur nyenyak.
Dan mereka yang miskin jiwanya pun menyenangkanku: mereka baik bagi tidur.
Berbahagialah mereka terutama jika kita memberikan hak mereka.
Demikianlah, siang hari berlalu melewati mereka yang berkebajikan. Ketika malam
tibajangan memanggil tidur, sebab dia tidak suka dipanggil, penguasa kebajikan ini!
Tapi aku memikirkan apa yang telah aku lakukan dan pikirkan selama siang hari. Sambil
memamah biak, dengan sabar seperti sapi, aku bertanya kepada diriku sendiri: apa sepuluh
penahanan dirimu tadi itu?
Dan apa sepuluh perdamaian itu, sepuluh kebenaran dan sepuluh tawa yang membuat
hatiku senang?
Maka, sambil merenung dan dibuai oleh empat puluh pikiran, sang tidur mengambil
diriku begitu saja – ya itulah tidur, dia yang tidak boleh dipanggil, dia sang penguasa kebajikan.
Tidur mengetuk pintu mataku dan mataku menjadi berat. Tidur menyentuh mulutku dan
mulutku tetap terbuka.
Memang, dengan langkah lembut ia datang padaku, maling yang paling baik, dan
mencuri pikiran dari diriku: sehingga aku menjadi bisu seperti kursi pengajaran ini.
Tidak lama aku berdiri dan aku pun akhirnya terbaring.”
Ketika Zarathustra mendengar orang bijak itu berkata demikian, dia tertawa di dalam
hatinya sebab terang muncul di dalam dirinya dan dia berkata di dalam hati:
“Tolol tampaknya bagiku orang bijak ini dengan empat puluh pikirannya tapi aku yakin
dia tahu caranya tidur.
Berbahagialah dia yang tinggal di dekat orang bijak ini! Tidur seperti itu menular –
bahkan melewati tembok tebal sekalipun.
Pesona tinggal di dalam kursi pengajarannya dan tidak sia-sia para pemuda ini duduk di
depan pengkhotbah kebajikan ini.
Kebijakannya berkata: teruslah berjaga supaya bisa tidur nyenyak, jika hidup tidak
memiliki artinya dan seandainya aku harus memilih yang tidak berarti, inilah ketidakberartian
yang paling menyenangkan.
Sekarang aku tahu apa yang dulu dicari orang ketika mereka mencari pengajar kebajikan.
Tidur nyenyaklah yang mereka cari untuk diri mereka dan kebajikan-kebajikan bunga poppy
untuk menimbulkannya!
Bagi semua orang bijak terkasih yang duduk di kursi pengajaran, kebijaksanaan itu tidur
tanpa mimpi: mereka tidak tahu makna apa lagi yang lebih besar dalam hidup ini.
Bahkan sekarang pun masih ada beberapa orang seperti pengkhotbah kebajikan ini dan
mereka tidak selalu sama terhormatnya: tapi masa mereka telah berlalu dan mereka berdiri tidak
lama lagi: di sana mereka sudah mulai berbaring.
Terberkatilah mereka yang mengantuk: sebab mereka akan segera tertunduk tidur.”
Demikian sabda Zarathustra.
3. Manusia Dunia Balik18
Penah suatu waktu Zarathustra juga menebar bayangannya melampaui manusia, sama
seperti semua manusia dunia balik. Waktu itu dunia ini bagiku tampaknya sebuah karya Tuhan
yang berduka dan tersiksa.
Mimpi – dan firman – dari Tuhan, demikianlah tampaknya dunia ini bagiku, uap
berwarna-warni yang tampak di depan mata ketidakpuasan ilahi.
Baik dan buruk, bahagia dan sengsara, aku dan kamu – tampak seperti uap berwarna-
warni di depan mataku yang mencipta. Sang pencipta itu ingin memalingkan muka dari dirinya
sendiri – karena itulah dia menciptakan dunia semacam itu.
Kesenangan yang memabukkan, demikianlah dunia itu bagi sang penderita, sebab dia
bisa memalingkan muka dari penderitaan dan melupakan dirinya sendiri. Kesenangan yang
memabukkan dan pelupaan diri, demikian tampaknya dunia waktu itu bagiku.
Dunia ini, yang tidak pernah sempurna, selalu merupakan citra dari sebuah kontradiksi
dan rupa yang tidak sempurna – sebuah kesenangan yang memabukkan bagi penciptanya yang
tidak sempurna, demikian tampaknya dunia waktu itu bagiku.
Maka dulu pernah pula aku menebarkan bayanganku melampaui manusia seperti semua
manusia dunia balik. Di luar manusia, ke mana?
Ah saudaraku, Tuhan yang aku ciptakan itu tidak lebih suatu karya dan kegilaan manusia,
seperti semua tuhan-tuhan lainnya!
Dia juga manusia dan sekedar serpih dari manusia dan ego. Dari abu dan sekamku sendiri
dia datang kepada, bayangan itu. Dan sesungguhnya dia tidak datang dari luar mana pun!
Apa yang terjadi saudaraku? Aku melampaui diriku sendiri, orang yang menderita ini;
aku membawa abuku sendiri ke gunung dan aku membuat nyala yang lebih terang bagi diriku.
Dan lihatlah! Bayangan itu bersingkut dariku!
Penderitaan dan penghinaan bagi diriku yang telah sembuh ini jika aku mempercayai
bayangan seperti itu. Demikian aku berbicara kepada manusia dunia balik.
Penderitaan dan ketakberdayaan – itulah yang menciptakan semua dunia balik; kegilaan
dalam kesenangan singkat yang hanya dialami oleh mereka yang paling besar penderitaannya.
Kelelahan, yang berusaha untuk mencapai ujung paling ujung hanya dengan satu
lompatan, dengan satu jangkah maut; kelelahan yang malang dan tidak tahu apa-apa, yang tidak
ingin punya keinginan lagi: itulah yang menciptakan semua tuhan dan dunia balik.
Percayalah saudaraku! Ia tubuh yang sudah bosan dengan tubuh – dengan jari-jari roh
yang keranjingan, menggapai-gapai tembok-tembok yang paling ujung.
Percayalah saudaraku! Ia dalah tubuh yang putus asa dengan bumi – ia mendengar perut
dari keberadaan19 berbicara kepadanya.
Lalu dia berusaha menembus tembok yang paling ujung dengan kepalanya – dan tidak
hanya dengan kepalanya saja – supaya bisa masuk “dunia sana”.
Tapi “dunia sana” itu tersembunyi dari manusia, dunia yang tidak manusiawi maupun
bermanusia itu, yang merupakan sebuah nihil di langit dan perut dari keberadaan20 tidak pernah
berbicara kepada manusia kecuali sebagai manusia.
Memang sulit untuk membuktikan semua keberadaan dan sulit untuk membuatnya bicara.
Dan coba katakan kepadaku saudaraku, tidakkah justru yang paling aneh itu yang paling
terbukti?
Ya, ego ini dengan kontradiksi dan kebingungannya berbicara dengan begitu tegas
tentang keberadaannya sendiri – ego yang menciptakan, yang berkehendak, yang menilai, yang
menjadi ukuran dan bobot dari segala sesuatu.
Dan keberadaan yang merasa paling tegas ini, ego – ia berbicara tentang tubuh dan masih
menginginkan tubuh, bahkan ketika dia merenung, meracau dan terbang dengan sayap-sayap
patah sekalipun.
Dengan semakin tegas dia belajar berbicara, si ego ini; dan semakin ia belajar, semakin
banyak dia mendapati jabatan dan kehormatan untuk tubuh dan bumi.
Sebuah kebanggaan baru mengajarkan aku sesuatu tentang egoku, dan itulah yang aku
ajarkan kepada manusia: supaya mereka tidak lagi memasukkan kepalanya ke dalam pasir21
langit tapi, sebaliknya, mengangkat kepala yang menbumi itu dengan bebas, supaya menciptakan
makna bagi bumi!
Sebuah kehendak baru aku ajarkan kepada manusia: kehendak untuk memilih jalan-jalan
yang selama ini dipilih manusia dengan membuta; dan menyadari – dan tidak lagi menghindar
seperti oarang-orang yang sakit dan sekarat!
Orang-orang sakit dan sekarat – itulah mereka yang membenci tubuh dan bumi dan
menciptakan dunia surga dan tetesan darah yang menebus; tapi bahkan racun yang manis dan
menyedihkan itu pun mereka pinjam dari tubuh dan bumi!
Mereka berusaha mencari pelepasan dari penderitaan mereka sebab bintang-bintang
terlalu jauh bagi mereka. Kemudian mereka mengeluh: “Seandainya saja ada jalan surgawi untuk
masuk ke dalam keberadaan lain dan ke dalam kebahagiaan!” Lalu mereka mengusahakan
sendiri jalan pintas itu, lengkap dengan minuman darahnya!
Mereka yang tidak tahu terima kasih ini membayangkan diri mereka terangkat
melampaui tubuh mereka dan bumi ini. Tapi darimana asal kejang-kejang dan kalap yang mereka
rasakan ketika terangkat ke alam sana? Dari tubuh dan bumi ini juga.
Zarathustra ramah terhadap orang sakit. Sesungguhnya, dia tidak marah terhadap cara
mereka menghibur diri dan sikap tidak tahu terima kasih mereka. Semoga mereka juga akan
menjadi sembuh dan menyingkirkan penghalang-penghalang dan menciptakan sendiri tubuh-
tubuh yang lebih tinggi!
Zarathustra pun tidak marah kepada mereka yang baru sembuh yang memandang penuh
sayang kepada kebodohan mereka dan yang pada tengah malam berjingkat-jingkat menuju kubur
dari Tuhan mereka; sebab penyakit dan pikiran sakit itu masih ada di dalam air mata mereka.
Banyak orang sakit ada di antara mereka yang merenung dan menderita karena Tuhan;
dengan beringas mereka membenci orang-orang yang mampu membedakan dan dengan beringas
pula mereka membenci kebajikan yang termuda ini, yang disebut ketegasan.
Mereka selalu memandang ke belakang, ke masa-masa gelap; memang pada saat itu
kebodohan dan iman sungguh berbeda. Saat itu racauan akal dianggap serupa Tuhan dan
keraguan dianggap dosa.
Sudah terlalu kenal aku terhadap orang-orang yang serupa Tuhan ini; mereka meminta
diri mereka dipercayai dan keraguan bagi mereka adalah dosa. Dan sudah terlalu kenal aku
dengan apa yang mereka yakini.
Sesungguhnya, tidak di dalam dunia balik dan tetes darah penebusan, melainkan justru di
dalam tubuh mereka sendirilah mereka menaruh kepercayaan, dan bagi mereka, tubuh mereka itu
adalah sesuatu yang mutlak ada.22
Tapi, tubuh itu mereka anggap sebagai sebuah penyakit bagi mereka dan mereka dengan
senang hati akan melepaskan tubuh mereka seandainya mampu. Karena itulah mereka
memperdulikan para pengkhotbah maut dan mereka sendiri pun mengkhotbahkan dunia balik.
Tapi wahai saudaraku, lebih baik kalian mendengarkan suara dari tubuh yang sehat; ia
lebih tegas dan suaranya lebih murni.
Lebih tegas dan murni kata-kata dari tubuh yang sehat, sempurna dan dibangun dengan
mantap; dan kata-katanya membeberkan makna dari bumi.
Demikian sabda Zarathustra.

4. Para Pembenci Tubuh23

Kepada para pembenci tubuh aku akan berbicara. Aku tidak meminta mereka belajar
ataupun mengajarkan apa pun, tapi aku hanya minta agar mereka mengucapkan selamat tinggal
kepada tubuh mereka sendiri – supaya mereka diam.
“Aku adalah tubuh, dan jiwa” – demikian kata sang anak. Dan apa salahnya berbicara
seperti seorang anak?
Tapi mereka yang telah bangun, mereka yang tahu, berkata: “Aku adalah tubuh
seluruhnya. Titik. Jiwa adalah nama sesuatu dari tubuh.”
Tubuh adalah sebuah akal besar, kemajemukan yang bermakna satu, perang dan damai,
kawanan domba dan sekaligus gembalanya.
Kebijaksanaan kecilmu itu, saudaraku, yang kau sebut “roh” itu, adalah piranti tubuh –
sebuah alat kecil, mainan dari akal besar.
“Aku”, demikian kau berkata, dan kau bangga akan kata ini. Tapi ada yang lebih agung
dari itu – hanya saja engkau tidak mau mempercayainya – yaitu tubuhmu dengan akal besarnya.
Ia tidak berkata tapi melaksanakan “aku”.
Apa yang ditangkap indera, apa yang dirasakan roh, bukanlah tujuan tersendiri, tapi
indera dan roh membujukmu agar percaya bahwa mereka adalah tujuan dari segalanya: demikian
angkuhnya mereka.
Indera dan roh adalah piranti dan bahkan permainan semata: di balik mereka adalah Sang
Diri. Sang Diri mencari dengan mata dari indera dan mendengar dengan telinga roh.
Sang diri tidak pernah berhenti mendengar dan mencari; ia membandingkan, menguasai,
menjajah dan menghancurkan. Ia memerintah; ia adalah penguasa dari aku.
Di balik pikiran dan perasaanmu, saudaraku, ada seorang penguasa besar, orang bijak tak
dikenal – ia disebut Diri; ia tinggal dalam tubuh, dialah tubuhmu.
Di dalam tubuhmu bersemayam lebih banyak akal dibandingkan dalam kebijaksanaanmu
yang terbaik sekalipun. Dan siapa yang tahu, untuk apa saja tubuhmu membutuhkan
kebijaksanaanmu yang terbaik itu?
Dirimu tertawa pada egomu yang berlagak angkuh.82