P. 1
Suapan 5

Suapan 5

|Views: 1,241|Likes:
Dipublikasikan oleh webmasterppspa

More info:

Published by: webmasterppspa on Nov 02, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2013

pdf

text

original

Edisi 1, Th.

6, Juni 2010

MENU

Sirah Mutakharij

FIQH Masa Tunggu Setelah Haid, Haruskah Mengganti Shalat ? TAJWID Hukum Membaca al-Quran Bagi Wanita Haid

36-39 Bahtsul Masail 40-41
Aktivita

Santri dan Alumni PPSPA Belajar Metode Yanbu’a Sistem Baru Untuk Menjaring Khatimin Berkualitas

42-46

2 3 Taushiyah 4-5 Suara Anda 6 Syaikhuna 7-13 Laporan Utama
Kerja Keras Lahir dan Batin

N UTAMA Salam Redaksi LAPORA

Ketawa Itu Halal

MU AN & SANAD IL PERJUANGUFID MAS’UD KH M

7

Musryid Naqsyabandiyah Suria Sirami Hati Santri Pandanaran Perjalanan Religi Iwan Fals Bersama Ki Ageng Ganjur Ke Pandanaran Iwan Fals : “Ziarah Membuat Hati Menjadi Adem”

46 Lensa Santri 47 Tamu Kita 48-52
Wawancara

Meniti Jejak al-Maghfurlah KH Mufid Mas’ud Romo KH Mufid Membina Kedekatan Dengan Santri Cinta Membawa Mereka Ziarah Makam Sanad Ilmu KH Mufid Mas’ud

14-21

Laporan Khusus

TAMU KITA

53-55 KBIH 56 Sampaikan Salamku 57 Klik! 58-60

PPSPA Mendidik Umat Sejak Dini Masyarakat Percaya Kualitas MISPA Menyibak Kisah Para Penghafal al-Quran MTs Sunan Pandanaran Mendulang Prestasi MASPA Seimbangkan Pendidikan dan Pengajaran

22-23 Perjalanan 24-27 Lughah 28-31 Opini 32-35 Sastra
Syi’ar Islam di Inggris Cerpen : Senyum Yang Terendap Puisi : Di Suatu Pagi Buta

KUNJUN SYAIKH RAJAGAN B (SYRIA

48
)

TAMU KITA

Memaknai Kembali Pesan-pesan Romo KH Mufid Mas’ud Etos Kemandirin Mbah Mufid

PERJALANAN RELIGI IWAN FALS

50

Salam Redaksi

Assalamu’alaikum wr. wb. ara pembaca setia Suara Pandanaran yang dirahmati Allah, sungguh nikmat yang luar biasa kami dapat hadir kembali menyajikan informasi tentang nilai luhur, aktivitas dan perkembangan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di tahun 2010 ini. Tiga aspek tersebut kami ulas secara mendalam dalam hidangan berita yang benar-benar menyegarkan dan penuh hikmah. Ya, menyegarkan bagi keluarga besar dan alumni Ponpes Sunan Pandanaran. Pasalnya, dinamika hidup yang begitu cepat dan sarat rivalitas, sering kali mengikis ingatan seseorang akan nilai luhur yang pernah ia cerap di Pesantren Pandanaran. Nah, kehadiran Suara Pandanaran ini, lagi-lagi, mengingatkan nilai-nilai luhur yang mungkin luntur, keteladan yang tengah rentan, atau memberi suluh bagi hati yang nyaris luluh. Tak lupa, Suara Pandanaran menyalakan kembali lentera hikmah yang mungkin saja telah redup dari relung hati para santri. Hikmah yang dimaksud, tentu saja, berasal dari almukarram KH Mufid Mas’ud, yang selama hidupnya beliau dihabiskan untuk mendidik para santri dengan ruh ketulusan dan keikhlasan. Lentera hikmah itulah yang menjadi penerang bagi semua santri saat menjalani segala aktivitas hidup Karena itu, penting kiranya redaksi menyuguhkan kembali tema yang masih berkaitan dengan riwayat hidup, model pendidikan, semangat keikhlasan, dan kekhusyukan KH Mufid Mas’ud. Di dalam semua unsur perjuangan itu, terdapat ribuan hikmah yang dapat dipetik. Tentu, kami berharap, semua santri sadar akan masa depannya, sehingga bersedia merajut hikmah itu di dalam kehidupannya. Semua aspek yang berkaitan dengan KH Mufid Mas’ud telah kami rangkai dalam sajian Laporan Utama. Sedangkan, di dalam Laporan Khusus, redaksi menyajikan bermacam perkembangan dan aktivitas Pesantren Sunan Pandanaran. Perkembangan dan aktivitas ini merupakan kelanjutan dari perjuangan KH Mufid Mas’ud. Secara tersirat tersingkap, bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan membawa berkah bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya pada masa lalu dan sekarang, tetapi juga di masa-masa yang akan datang. Momen spesial yang kami abadikan dalam edisi kali ini adalah kunjungan Mursyid 'Am Thariqah Naqsyabandiyyah Syria Syaikh Rajab dan perjalanan spiritual musisi legendaris Iwan Fals ke Pandanaran bersama Ki Ageng Ganjur. Silakan menikmati sajian khas kami mulai halaman 48. Tak ketinggalan pula wawancara kami dengan Iwan Fals di halaman 53. Akhir kalam, kami ucapkan selamat membaca kepada seluruh pembaca setia Suara Pandanaran. Semoga kita mendapatkan manfaat dari apa yang telah kita lakukan. Amin. Redaksi Wassalamu’alaikum wr. wb.

FOTO : DOK SUARA PANDANARAN

P

Redaksi menerima kiriman naskah berupa artikel, berita tentang pesantren, puisi, cerpen, karikatur, resensi, saran, dan kritikan. Redaksi berhak untuk mengedit naskah sejauh tidak mengubah substansi dan maksud tulisan. Naskah yang dimuat akan diberikan imbalan yang pantas.

REDAKSI AHLI : KH. Masykur Muhammad L.ML, KH. Ibnu Jauzi, DR. KH. Imaduddin Sukamto, M.A., KH. Drs. Attabik Yusuf Z., KH. Hasan Karyono, KH. Abdul Wahid, KH. Muslim Sofwan PIMPINAN UMUM : KH. Mu’tashim Billah SQ, M.Pd.I PIMPINAN REDAKSI : Ali Ridlo WAKIL PIMPINAN REDAKSI : Ali Hifni REDAKSI PELAKSANA : H. Arif Hakiem SEKRETARIS REDAKSI : Munirtadlo STAF REDAKSI : Hj. Fany Rifqah, Hj. Ainun Hakiemah, H. Jazilus Sakhok, H. Haris Ahmad Qornain, H. Muhammad Nahdi, Azka Sya’bana LAYOUT/COVER : Ali Hifni DESAIN GRAFIS : Munirtadlo FOTOGRAFER : Mishbahul Munir ILUSTRASI : Wawan, Khoirul Ahmad Tabiin IT : H. Achmad Fajar Hudan KONTRIBUTOR : DR. H. Ali Nurdin (Jakarta), Mohammad Ali Hisyam (Kuala Lumpur) SIRKULASI/DISTRIBUSI : M. Maqshudi Usman KEUANGAN : M. Maqshudi Usman IKLAN : Oedik, Nasruddin DITERBITKAN OLEH : Lembaga Riset dan Pengembangan Pesantren (LRPP) PPSPA ALAMAT REDAKSI : Kantor PP Sunan Pandanaran, Jl Kaliurang Km. 12,5 Pos Pakem Jogjakarta 55582 TELP : Komplek I (0274)7496394, Komplek II (0274)884438, Komplek III Pa (0274)7496395, Komplek III Pi (0274) 7493464, HP : 081328334845 FAX : (0274) 885913 WEB SITE : http://www.pandanaran.org EMAIL : suarapandanaran@gmail.com, suarapandanaran@yahoo.com BANK : an Majalah Pandanaran BPD DIY kantor Cabang Pembantu Pakem di Ngaglik. UNTUK KALANGAN SENDIRI, ISI DI LUAR TANGGUNG JAWAB PERCETAKAN

2

Juni 2010

Taushiyah “Kerja Keras Lahir dan Batin”

FOTO : DOK SUARA PANDANARAN

J

angan membayangkan keadaan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran pada awal berdirinya sudah seperti sekarang ini. Pada waktu KH Mufid Mas’ud bersama Ibu Ny Hj Jauharoh pindah dari Krapyak-Bantul ke Dusun Candi ini, perubahannya sungguh sudah jauh berbeda. Dulu di sini hanya ada masjid dan rumah kecil tanpa listrik. Jumlah santrinya pun bisa dihitung dengan jari. Rumah yang kecil kala itu dibagi menjadi empat ruang. Ruang belakang untuk dapur, seperempatnya untuk santri putri, seperempatnya untuk Ibu Nyai dan keluarga, dan sisanya untuk ruang tamu. Sedangkan santri putra menempati serambi masjid dengan dibatasi gedeg (anyaman bambu). Kalau santri mau mandi harus menimba. Toilet cuma satu. Pendek kata, kondisi awal pesantren ini sangat sederhana dan fasilitasnya sangat minim. Berbeda dengan sekarang. Gedung dan bangunan pondok sudah memadai. Fasilitas pendukungnya pun lengkap. Kamar-kamar dilengkapi dengan ranjang dan kasur. Ada laboratorium, lapangan olah raga, serta ratusan kamar mandi tersedia untuk memenuhi kebutuhan ribuan santri yang menetap. Ini dari segi kelengkapan fisik. Sedangkan dari segi jenjang pendidikan, juga sudah tergolong lengkap. Ada rutinitas pengajian untuk masyarakat, tahfid Al-Qur’an, PAUD, RA, MI, MTs hingga MA. Melihat kemajuan yang demikian itu, dapat dikatakan bahwa Pesantren Sunan Pandanaran saat ini mengalami lompatan kemajuan yang sangat jauh dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Itulah proses. Kemajuan saat ini merupakan hasil dari perjuangan KH Mufid Mas’ud sejak berdirinya Pondok Sunan Pandanaran. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana KH Mufid dengan ibu nyai Jauharoh bekerja keras lahir dan batin demi kelangsungan hidup pesantren ini. Kita juga melihat bagaimana KH Mufid menerapkan disiplin yang ketat dalam pendidikan dan pengajaran para santri. Kedisiplinan juga beliau terapkan saat menemui tamu, melayani masyarakat, memantau secara langsung perkembangan alumni, mendatangi pengajian-pegajian baik tingkat lokal maupun nasional, dan membangun jaringan sosial kemasyarakatan. Tidak mengherankan jika kemudian pesantren Sunan Pandanaran ini bisa dikenal, diterima dan mendapatkan tempat di hati masyarakat. Hal lain yang perlu kita catat adalah kedisiplinan KH Mufid dalam ibadah. Di tengah kesibukannya, beliau masih meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, membaca shalawat, dan melakukan puasa sunat. Itu semua beliau jalani sebagai media bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Bahkan selama puluhan tahun setiap bulan puasa Ramadhan, beliau melakukan riyadhoh di Masjid Jami’ Singosari Malang. Adapun salah satu ibadah sosialnya beliau wujudkan dalam bentuk menjaga tali silaturahim dengan guru-guru beliau. Di antaranya adalah KH Ali Maksum, KH Muntaha (Kalibeber, Wonosobo), KH Abdul Hamid (Pasuruan), Sayyid Muhammad Baabud (Lawang), Sayyid Muhammad Alwy Almaliky, Syaikh Yasin Al Fadani, dan lain-lain. Kepada mereka KH Mufid memohon doa untuk Pesantren Sunan Pandanaran ini. Berkat rahmat Allah Swt melalui usaha kerja keras lahir batin KH Mufid inilah sekarang kita semua bisa memetik dan menikmati buahnya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu. KH Mufid sudah memberikan suri tauladan kepada kita. Kerja keras lahir batin menjamin keberlangsungan pesantren Sunan Pandanaran. Semoga dalam memperingati 1000 hari wafatnya beliau, Allah Swt membukakan pintu hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat melanjutkan kerja keras lahir batin untuk melanjutkan perjuangan beliau. Amin.

Kemajuan saat ini merupakan hasil dari perjuangan KH Mufid Mas’ud. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana KH Mufid dengan ibu nyai Jauharoh bekerja keras lahir dan batin demi kelangsungan hidup pesantren ini.

Juni 2010

3

Suara Anda
Kirimkan ide, saran dan kritik Anda yang bersifat konstruktif kepada redaksi melalui email suarapandanaran@gmail.com dengan topik “Suara Anda”. Cantumkan nama, alamat lengkap, foto, nomor telepon dan periode belajar di Pandanaran (misal Alumni MTs 1997, Alumni MASPA 1996, Huffadz 1990 dst).
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

BOSAN DENGAN SP
Assalamu’alaikum wr. wb. Kepada dewan redaksi Yth, maaf sebelumnya, saya hanya ingin tanya saja kok isi majalahnya semakin kesini beritanya cuma itu-itu aja, mbok ditambahin yang baru. Misalnya kolom artikel santri, opini, atau apa, biar agak intelek sedikit supaya pembaca tidak bosan. Yiyin Nahdlah, Santri Komplek 4 Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas sarannya, Anda sama sekali tak perlu minta maaf untuk itu. Isi dari Mursyid ‘Am thariqah Naqsyabandiy Syria berkunjung ke PPSPA majalah Suara Pandanaran pada dasarnya adalah perkembangan berbagai daerah dapat mengikuti majalahnya dikasih lembaran yang terjadi di pesantren sehingga perkembangan PPSPA. khusus untuk ajang kreasi santri, para alumni yang tersebar di Jika Anda merasa bosan, misalnya isinya tentang artikel, ke depannya sebisa mungkin resensi buku, atau opini santri dan redaksi akan menyajikan konten lain sebagainya. yang lebih variatif, seperti pada edisi kali ini yang secara spesial Abdul Fatah, mengupas kunjungan pemimpin Santri Komplek 1 thariqah Naqsyabandi Syria ke Pandanaran. juga tentang Wa’alaikum salam. wr. wb ‘Perjalanan Religi Iwan Fals ke Wadah untuk santri sudah Pandanaran’ lengkap dengan ditampung pada rubrik Sastra wawancara eksklusifnya. Jika (Cerpen dan Puisi). Untuk artikel dan Anda mempunyai karya yang opini, kami masih memprioritaskan dirasa lebih variatif, kirimkan para alumni. saja ke meja redaksi. Mengenai kolom artikel UKURAN MAJALAH dan opini, kami masih Assalamu’alaikum wr, wb, memprioritaskan para alumni. saya ingin memberi saran kepada Ambil contoh Bapak DR. H. Ali SP, bagaimana kalau kemasan Nurdin, M.A, bukankah beliau majalahnya agak kecil saja tapi adalah tokoh intelektual yang jumlah halamannya diperbanyak dapat memperkaya khazanah biar enak dibaca dan dibawa. keilmuan kita ? Santri Komplek 3

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

LEMBAR SANTRI
Suara Pandanaran edisi ini lebih variatif dengan menampilkan Iwan Fals

Assalamu’alaikum wr. wb. Bagaimana kalau di

Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas masukannya. Untuk kemasan majalah, Suara

4

Juni 2010

Suara Anda
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

CETAK ULANG MAJALAH
Asssalamu’alaikum wr. wb.

Saya ucapkan selamat kepada majalah Suara Pandanaran yang sampai kini masih eksis, semoga tetap istiqomah dan barokah. Amin. Dari beberapa edisi Suara Pandanaran, Edisi 2, Th. 2, Mei 2007 (wafatnya almaghfurlah KH Mufid Mas’ud), menurut saya adalah edisi yang paling istimewa daripada edisi lainnya. Berhubung banyak Menyesuaikan dengan perkembangan IT dan penetrasi internet, majalah Suara rekan yang berminat, Pandanaran kini mempunyai laman di jejaring sosial Facebook. dapatkah redaksi mencetak ulang ? Sekedar usul, kapan Pandanaran sejak awal memang media internet lainnya, kami telah Suara Pandanaran memuat profil tampil seperti ini dan sudah menjadi mempunyai halaman di jejaring tokoh sosialis ? ciri khas kami. sosial Facebook. Silakan kunjungi Salut dan sukses buat laman tersebut dan berpartisipasi. Suara Pandanaran, Terimakasih. Terima kasih atas pujian Wassalamu’alaikum wr. wb. MANFAATKAN INTERNET untuk rubrik Cerpen dan Puisi. Kami Assalamu’alaikum wr. wb. selalu menunggu masukan berharga Dedy Saputra, B a g a i m a n a dari Anda. Alumni MASPA 2002 kalau Suara P a n d a n a r a n MASA TERBIT SP Wa’alaikumsalam wr. wb. dimuat secara Assalamu’alaikum wr, wb Terima kasih atas doa dan online, selain Saya mau tanya kepada harapannya. Untuk cetak ulang, itu juga untuk redaksi, kalau saya perhatikan kok kami mesti mengkomunikasikan m e n g f u n g s i k a n majalah majalah Suara Pandanaran terlebih dahulu dengan pengasuh. forum-forum di media internet sepertinya terbit tidak begitu Mengenai profil tokoh sosialis seperti milis, website atau konsisten. Kadang setahun sekali, bukannya tak menarik, namun Facebook agar bisa dikelola lebih kadang dua kali. Sebenarnya sepertinya jauh dari trek kami serius apalagi jika dimanfaatkan yang bener itu edisi tahunan apa sebagai majalah internal pondok sebagai forum komunikasi antar semesteran? pesantren Sunan Pandanaran. alumni. Tapi secara umum Suara Terima kasih. KIRIM ARTIKEL Pandanaran keren dan menarik, terutama rubrik cerpen dan puisi. Alumni dan Pelanggan Assalamu’alaikum wr. wb. Saya mau tanya, bisakah Bp. Teguh Triwiyanto, Dosen Wa’alaikum salam wr. wb. santri mengirimkan karyanya ke UM Malang, eks guru MA Sunan Majalah Suara Pandanaran terbit Suara Pandanaran ? Karya seperti Pandanaran setahun dua kali. Namun berhubung apa dan bagaimana caranya ? ada beberapa kendala ideologis, Wa’alaikum salam, wr, wb kami sempat hanya terbit sekali saja Santri Komplek III Bapak Teguh yang terhormat, dalam waktu satu tahun. ide yang Anda usulkan sangat Mulai edisi ini, insya Allah Wassalamu’alaikum wr. wb. menarik. Insya Allah dalam waktu majalah Suara Pandanaran akan Silakan serahkan karya Anda, dekat Anda bisa menikmati majalah istiqamah menyapa Anda setahun langsung ke redaksi atau bisa Suara Pandanaran via website. Untuk dua kali, bahkan lebih dari itu. diserahkan lewat Bp Arif Hakiem. Juni 2010 5

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

6

Syaikhuna

Juni 2010

Laporan Utama
Riwayat KH. Mufid Mas’ud

Meniti Jejak Al-Maghfurlah KH. Mufid Mas’ud
adalah wali Allah yang menyebarkan Islam di daerah Tembayat, Klaten, Jawa Tengah, atas perintah Sunan Kalijaga. Karena besarnya jasa beliau dalam penyebaran Islam, banyak orang yang beranggapan bahwa ziarah ke makam Wali Songo belum lah sempurna jika tidak menziarahi makam Sunan Pandanaran (Sunan Bayat). KH. Mufid berazam untuk melanjutkan syiar Islam pendahulunya d e n g a n mendirikan sebuah pondok yang kemudian beliau namakan al-Mukarram KH Mufid Mas’ud, menuntut ilmu di Krapyak 7 bulan Pesantren Sunan setelah tentara Jepang menduduki Indonesia. Pandanaran. uah jatuh tak pernah jauh dari Sejak berdirinya hingga sekarang, pohonnya. Demikian pepatah pondok ini sudah mencetak banyak Melayu yang menggambarkan alumni yang berkecimpung dalam adanya kedekatan kepribadian dan dakwah islamiyah di berbagai daerah. kualitas seseorang dengan nenek Di antara mereka ada yang moyangnya. Nah, kalau kita melihat menjadi da’i, pimpinan pondok, garis silsilah KH. Mufid Mas’ud, guru, pejabat pemerintah, dan lain pepatah Melayu itu tampaknya tidak sebagainya. Dengan demikian, syiar salah. Islam di bawah keturunan Sunan KH. Mufid merupakan keturunan Pandanaran tetap berlanjut hingga ke-12 dari Sunan Pandanaran. Beliau sekarang dan masa-masa yang akan datang. Al-Mukarram KH. Mufid sendiri lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tahun 1928, bertepatan dengan hari Ahad Legi 25 Ramadhan. Beliau merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara. Ayahanda beliau bernama Kiai Ali Mas’ud dan ibundanya bernama Nyai Hj. Syahidah. Melihat garis keturunan KH. Mufid tersebut dapat dipastikan bahwa beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis. Di samping mendapatkan bimbingan keagamaan langsung dari orang tua, pendidikan dasar KH Mufid ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul ‘Ulum, cabang Solo. Lembaga pendidikan Islam ini didirikan oleh Paku Buwono X. Dan ketika KH Mufid menempah pendidikan di sana, madrasah tersebut diasuh oleh KH. Sofwan. KH. Mufid mengenyam pendidikan dasar di Manbaul ‘Ulum selama lima tahun, yaitu mulai tahun 1937 hingga 1942. Kemudian, pada tahun 1942 pula, beliau nyantri di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Tahun itu bertepatan dengan tujuh bulan setelah kedatangan tentara kolonial Jepang di Indonesia. Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1945, beliau melanjutkan hafalan Al-Qur’an kepada KH. Muntaha, waktu itu masih di Temanggung. Langkah ini beliau tempuh atas anjuran gurunya di Klaten, KH Sofwan. Kemudian berguru kepada KH Dimyati al-Hafidz (Comal). Namun di tahun 1950, KH Mufid kembali ke Krapyak dan menikah dengan putri KH. Munawir (pengasuh Pesantren Krapyak), Hj. Jauharoh. Sejak saat itu, KH Mufid termasuk salah satu pengasuh Pesantren AlMunawwir, Krapyak, Yogyakarta. Meski demikian, beliau masih tetap Juni 2010 7
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

B

Laporan Utama
Riwayat KH. Mufid Mas’ud mengaji Al-Qur’an kepada KH Abdul shuhbatu ustazin itu. Beliau mengaku persegi, dengan satu rumah dan Qadir dan KH Abdullah Affandi. sering bersilaturahmi dengan tokoh- mushalla di atasnya. Secara resmi Sedangkan untuk memperdalam tokoh Islam. Bahkan, mengakui pula PPSPA berdiri pada 17 Dzulhijjah ilmu-ilmu keislamannya, beliau telah terpengaruh oleh mereka. Di 1395 H, bertepatan dengan tanggal mengaji kitab kepada KH Ali Maksum. antaranya adalah KH. Abdul Hamid 20 Desember 1975 M. Peresmiannya Keuletan KH Mufid saat mendalami (Pasuruan), Sayyid Muhammad Ba’abud dilakukan oleh Sri Paduka Paku ilmu agama tidak pernah disangsikan (Malang), KH Muntaha (Wanosobo), Alam VIII, dengan disaksikan Bupati oleh orang-orang terdekatnya. KH Ali Maksum (Yogyakarta), Syeikh Sleman, Drs. Projosuyoto, serta tokohAdik beliau, Hj. Qomariyah Abdul Muhammad Yasin bin Muhammad Isa tokoh agama dan masyarakat. Chanan misalnya, menyatakan (Makkah), dan Sayyid Muhammad bin Terdapat harapan besar dari bahwa kakak kandungnya itu sangat Sayyid Alwy Al-Hasani Al Maliky Al- masyarakat yang dipikulkan di pundak rajin menuntut ilmu. Menurutnya, Makky (Makkah). KH Mufid. Pasalnya, PPSPA dinilai sampai-sampai beliau pernah akan mampu menjadi agen dikabarkan hilang saat terjadi RAJIN BELAJAR SAJA BAGI KH perubahan bagi masyarakat pertempuran antara rakyat MUFID TIDAKLAH CUKUP. ADA HAL sekitar, baik itu perubahan Indonesia melawan penjajah LAIN YANG MENURUTNYA HARUS moral ataupun pemantapan Belanda. Tetapi akhirnya DIJALANKAN OLEH SEORANG akidah. Masyarakat di kawasan dapat kembali bertemu dengan PENCARI ILMU AGAR MENDAPATKAN candi ketika itu masih belum keluarga. ILMU YANG BERKAH, YAITU banyak yang taat beragama, Agaknya, rajin belajar SHUHBATU USTAZIN ATAU TAAT meskipun secara formal mereka saja bagi KH Mufid tidaklah KEPADA GURU memeluk Islam. Nah, salah cukup. Ada hal lain yang satu tugas berat KH Mufid menurutnya harus dijalankan adalah mendidik masyarakat oleh seorang pencari ilmu agar Mendirikan Pesantren Pandanaran agar semakin taat beragama. Itu di mendapatkan ilmu yang berkah, Dengan modal Al-Qur’an, satu sisi. yaitu shuhbatu ustazin atau taat dan pengetahuan keislaman, dan jalinan Di sisi yang lain, keberadaan bersahabat karib dengan guru. Hal silaturahmi yang erat dengan PPSPA diharapkan mengubah tatanan itu pula yang pernah disampaikan tokoh-tokoh Islam itu, KH Mufid masyarakat. Dari masyarakat yang oleh Imam Syafi’i, bahwa ilmu tidak berketetapan hati mendirikan kurang memegang nilai-nilai moral, akan bermanfaat kecuali bila seorang pesantren yang hingga kini dikenal menuju masyarakat yang menjunjung murid melakukan enam perkara. Salah dengan Pondok Pesantren Sunan tinggi moralitas kemanusiaan. satunya shuhbatu ustazin. Pandananaran (PPSPA). Bu Sri, seorang penduduk asli KH Mufid, dalam banyak Mula-mula, pesantren ini berdiri Candi mengatakan, “Dulu di sini sepi, kesempatan menekankan pentingnya di atas tanah wakaf seluas 2000 meter tidak hanya maling yang banyak, makhluk halus juga banyak”. Suasana di malam hari terasa mencekam, karena sangat sepi dan minim penerangan. Keadaan semacam ini yang mendorong para pencuri untuk segera beraksi. Berdirinya PPSPA, perlahan tapi pasti dapat mengubah keadaan itu menjadi lebih baik. Masyarakat sekitar tidak hanya menjadi baik agama dan moralitasnya, tetapi juga meningkat kualitas ekonominya. Karena dengan semakin banyaknya santri di PPSPA, masyarakat sekitar ikut menikmati kegiatan ekonomi dengan mendirikan warung makan, toko kelontong, mengisi kantin, menyiapkan air panas, laundry dan lain sebagainya. Masjid Nurul Quran di Komplek I, berawal dari sebuah mushala kecil. PPSPA pada (Rido) awalnya berdiri di atas tanah wakaf seluas 2000 meter persegi. 8 Juni 2010

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Laporan Utama
Riwayat KH. Mufid Mas’ud

Romo KH Mufid Membina Kedekatan dengan Santri
Pasalnya, dengan cara dan kearifan beliau sendiri, para santri dapat hidup rukun dalam satu tempat yang sederhana. KH Mufid berhasil menciptakan keharmonisan hubungan antara satu santri dengan santri lainnya. KH Humaidi dari Jejeran, Bantul, Yogyakarta, yang hadir dalam acara itu mengisahkan, “Apapun latar belakang seorang santri, ia harus tinggal dalam satu kamar dengan santri-santri yang lain. Makan pun dari rangsum pesantren. Untuk santri yang lebih tua usianya dipanggil dengan sebutan kang”. Lebih lanjut KH Humaidi mengatakan, panggilan gus tidak dikenal di Pandanaran. Hadlaratussyaikh pernah berpesan, “Gus itu artinya ‘bagus’. Santri yang bagus adalah santri yang rajin ngaji dan rajin shalat jama’ah dengan berdiri di shaf pertama, sukur-sukur persis di belakang imam”. Cerita KH Hamidi itu diamini pula oleh KH Nur Rafiq asal Garut. Menurutnya, Hadlaratussyaikh KH Mufid pernah berpesan kepada santrisantri beliau, ”Saya kurang suka kalau santri saya dipanggil gus, sebab salahsalah malah jadi gemagus (tinggi hati dan sombong-Red)”. Bahkan, tambah KH Nur Rafiq, Hadlaratussyaikh menyarankan kepada para santri agar memanggil putra-putri beliau yang waktu itu masih duduk di bangku SLTP dan SD, Juni 2010 9
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

H

KH Mufid Mas’ud saat menghadiri suatu acara bersama putra beliau, KH Ibnu Jauzi.

adlaratussyaikh KH. Mufid Mas’ud telah mengabdikan hidup beliau sebagai pendidik dan guru di Pondok Pesantren Pandanaran. Beliau adalah suluh atau penerang jalan bagi para pencari ilmu dan kebenaran agama di pesantren ini. Sebagai seorang pendidik, guru, bahkan bapak bagi para anak-anak didik, KH Mufid telah mengambil beberapa langkah pendidikan dalam membangun kepribadian santri. Secara umum, pendidikan yang beliau terapkan mengarah kepada beberapa hal penting sebagai berikut: Pertama, mempererat hubungan antara santri dan kyai. Kedua, membangun jiwa dan sikap santri agar gemar tolong-menolong, setia kawan, dan punya semangat persaudaraan dengan sesama Muslim. Ketiga, disiplin waktu dalam pendidikan dan ibadah. Keempat, hidup hemat dan sederhana. Kelima, berani menderita untuk mencapai tujuan, seperti

tirakat, shalat tahajud, i’tikaf untuk merenungkan kebesaran dan kesucian Allah. Dan keenam, jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan. Dalam acara temu alumni PPSPA bertajuk “In Memorian bersama Hadlaratussaikh KH. Mufid Mas’ud”, beberapa waktu silam, terungkap banyak pendapat para alumni tentang cara KH Mufid membangun kedekatan dengan para santri. Seorang alumnus berdiri dan mengisahkan, bahwa KH Mufid sangat memahami kepribadian dan karakter setiap santri. Beliau memaklumi bahwa setiap santri terbentuk oleh lingkungan dan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan yang berbeda-beda. Sehingga, sikap dan perilaku mereka pun bermacam-macam. Meski KH Mufid secara formal tidak mempelajari teori-teori ilmu sosial, akan tetapi kearifan beliau dalam menyikapi perbedaan sifat dan sikap santri melebihi para teoritis ilmu sosial itu sendiri.

Laporan Utama
Riwayat KH. Mufid Mas’ud cukup dengan namanya saja. Tidak ditambahi embel-embel ‘mas’, ‘gus’ (untuk yang laki-laki), dan ‘ning’ atau ‘mbak’ (untuk yang perempuan). Beliau sendiri lebih senang dipanggil ‘bapak’ oleh para santri ketimbang panggilan-panggilan kehormatan yang lain. Hal itu bertujuan untuk lebih mengakrabkan hubungan antara santri dengan kiai. Diceritakan oleh salah seorang alumni, suatu ketika ada santri yang kebetulan secara garis nasab dari ibu, ia bisa memanggil KH Mufid dengan sebutan “kang”. Sedangkan dari garis ayah, si santri bisa memanggil beliau “kakek”. Ketika pertama kali datang di Pandanaran, santri tersebut diberikan penjelasan oleh Hadlaratussyaikh tentang kedudukannya secara nasab. Dan ia pun dianjurkan agar memanggil KH Mufid dengan “Bapak”, agar sama dengan santri-santri lainnya. Kedekatan hubungan tidak hanya tercipta antara KH Mufid dengan santri-santri beliau, tetapi juga antara beliau dengan guru-guru beliau. Setidaknya, kedekatan itu beliau jaga dengan menziarahi makam guru-guru beliau. Kang Ridlwan asal Blora, Jawa Tengah, menceritakan bahwa KH Mufid tiap bulannya mempunyai jadwal untuk sowan ke makam Mbah KH. Munawir (Krapyak Yogyakarta), Mbah KH. Hamid (Pasuruan), Mbah KH. Muntaha (Wonosobo), dan Sunan Pandanaran (Bayat, Klaten). Jika beliau berhalangan, biasanya mewakilkan kepada santri untuk sowan ke makam-makam tersebut. Karena silaturahmi itulah, menurut K. Munawir (Krombangan Magelang), PPSPA banyak berkahnya. “Pondok Pesantren Sunan Pandanaran sering diberkahi oleh ulama-ulama baik dari dalam maupun luar negeri. Pada kesempatan seperti itu, biasanya Bapak meminta agar tamu-tamu tersebut shalat jama’ah di masjid. Setelah itu beliau memintakan doa dan wasiatnya untuk para santri”. (Udik)

SILSILAH KH MUFID MAS’UD
SUNAN PANDANARAN (Sunan Tembayat)

PANEMBAHAN JIWA I
PANGERAN MINDEL II

PANGERAN MINANG KABO
PANGERAN BANGGOLO

PANGERAN MASJID WETAN I PANGERAN KUBA R.M. ALI MAS’UD

PANGERAN MASJID WETAN II PANGERAN MINDEL I

BRM ABD MUTHOLIB MUHAMMAD IDHHAR HJ. ANNI AZIZAH Muhibbatul A’malush Sholihah Masyfu’ah Mutammimatush Shulhiyah HJ.SUKAINAH + KH. MASYKUR M Hj Ainun Hakiemah + H. J.Sakhok Rikhwan Mufidi H. Arif Hakiem H. Ali Hifni H. Muhammad Rif’at

+

KH. MUFID MAS’UD

+
7

Hj. JAUHAROH MUNAWWIR

1

2

KH IBNU JAUZI + HJ. AZIZAH Hj. Farah Faida + H. Ali Rido Qutb Adeli H. Hafidz Ahmad Hj. Hamidah Hamama Muhammad Hanif Mulya Adam

HJ. WIWIK F. + KH FASHIHIN F. (alm) H. Muhammad Nahdhy Azka Sya’bana

4

KH MU’TASHIM BILLAH + HJ. FAIQOH Jannati Jauhari Jauda

Hj Lindina Wulandari + M. Tholib

9

HJ. FANY RIFQAH

10

HJ. NURUL H + KH MUSLIM Amanda A.M. Farah F. Zahro

6
H. Muhammad Anis Afiqi Hj. Nidaul Hana Hj. Rifadatut Diana Alina Mustaufiatin Ni’mah

HJ.SHOHIFAH + KH ATABIK YUSUF

8
HJ SHOHIHAH + KH ABDUL WAHID Hj. Noora H. Ahmad H. Ayman

3
HJ. NINIK A. + KH IMADUDDIN S. H. Haris Ahmad Qornain H. ASNAWI MUHAMMADIYAH Hj. Saidah Difla Iklila

+

5

HJ. MUFLIHAH + KH HASAN KARYONO Hj. Quonita H. Quowwam H. Quois

Keterangan : - Untuk yang sudah menikah, nama yang disebut pertama adalah putra kandung - Nomor dalam bagan adalah urutan putra dari KH Mufid Mas’ud dari simbah Ny. Hj. Jauharoh

10

Juni 2010

Laporan Utama
Ziarah
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

Cinta Membawa Mereka Ziarahi Makam

S

ejuk dan menyejukkan. Begitu suasana yang segera terasa ketika menginjakkan kaki di area makam KH. Mufid Mas’ud. Rerimbunan pohon dan bunga di sekitar areal makam dipadu dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan shalawat menciptakann kesejukan di hati. Ketika hendak memasuki area makam KH. Mufid, peziarah terlebih dahulu melewati sebuah jembatan kayu yang klasik dan eksotis. Dari jembatan itu, tampak air mengalir deras di sela-sela bebatuan. Gemericik air sungai terdengar jelas. Air yang menimbulkan kesegaran berpadu dengan rimbunnya pohon menciptakan suasana yang menentramkan. Betapa tidak, AlQur’an sendiri menegaskan bahwa air lah yang dijadikan Allah untuk menghidupkan segala sesuatu. Air pula yang digunakan untuk menggambarkan indahnya surga, yaitu air yang mengalir di sungaisungai di bawah surga firdaus. Area makam semakin tampak apik tatkala peziarah memasuki pelataran makam. Aneka bunga tumbuh di sana. “Kok suasananya seperti di taman bunga ya?” gumam seorang peziarah. Bunga-bunga itu tampak selalu basah dan segar.

Diletakkan berjajar rapi di dalam pot-pot kecil di sepanjang pelataran yang bersih. Suasana makam jauh dari kesan kumuh dan angker. Bangunan makam pun didesain secara modern. Atap berarsitektur joglo yang disangga dengan beberapa tiang. Lantainya dari keramik mengkilat. Sebagiannya ditutup karpet merah dan hijau. Penerangan makam pun sudah sangat memadai. Plus area parkir yang cukup luas. Tak Pernah Sepi Peziarah Dalam prosesi membaca surat Yasin, doa, atau tahlil, para peziarah biasanya duduk melingkar di makam KH Mufid. Area makam dapat menampung ratusan orang, tanpa pagar besi pembatas. Sehingga para peziarah bisa berada sedekat mungkin dengan makam. Seolah ada pesan bahwa kedekatan antara almarhum dengan orang-orang di sekelilingnya senantiasa terjaga. Bagian dalam makam dibagi menjadi dua. Bagian selatan untuk laki-laki dan utara untuk wanita. Menurut pengurus makam, makam KH. Mufid tidak pernah sepi dari peziarah. Terutama para santri huffadz. Bahkan para santri senior kerap menginap untuk tirakat khataman Al-Qur’an di hadapan sang Guru.

“Karena banyaknya orang yang baca Al-Qur’an di sini, maka di sana-sini banyak ditemui mushaf AlQur’an”, kata salah seorang pengurus makam. Ia melanjutkan, pada hari Kamis dan Jumat jumlah santri yang berziarah jauh lebih banyak. Pun demikian dengan alumni dan masyarakat sekitar. Ramainya peziarah disebabkan oleh banyak hal. Sebagian alumni mengakui bahwa pengaruh pendidikan KH Mufid kepada para santrinya membekas begitu dalam. Itulah sebabnya, mengapa mereka harus menziarahi makam beliau. Ikatan antara KH Mufid dengan santri bukan didasari atas hutang budi, tetapi dilandasi cinta antara murid dan guru. Pesan-pesan yang beliau sampaikan kepada para santri terus hidup dalam jiwa mereka. Para santri KH Mufid tidak meragukan keikhlasan beliau dalam mendidik. Islam sendiri mengajarkan, bahwa jika amal perbuatan dilandasi atas keikhlasan, maka pelakunya seolah hidup sepanjang masa. Meski KH Mufid telah menghadap Sang Pencipta, namun beliau tetap hidup di hati keluarga dan santri beliau. (Haris) Juni 2010 11

Laporan Utama
Sanad

Sanad Ilmu KH Mufid Mas’ud
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

D

alam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Imam Syafii pernah berkata, “Tiada ilmu tanpa sanad”. Pada kesempatan lain, Imam Mazhab yang sangat populer di Indonesia ini menyatakan, “Penuntut ilmu tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar di tengah malam, yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tak mengetahuinya”. Penyataan serupa pernah juga dilontarkan Al-Hafidh Imam Attsauri, “Sanad adalah senjata orang Mukmin, maka bila engkau tak memiliki senjata, dengan apa engkau membela diri?”. Berkata pula Imam Ibnu alMubarak, “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”. Masih banyak lagi pernyataan ulama-ulama terdahulu yang menegaskan pentingnya sanad dalam ilmu. Bahkan dalam tradisi ahli-ahli hadis, sanad ilmu merupakan hal yang wajib dimiliki oleh penekun ilmu hadis. Mereka tidak mengakui suatu hadis dari seseorang kecuali bila orang itu mempunyai sanadnya yang jelas. Demikianlah pentingnya sanad ilmu bagi para penekun ilmuilmu Islam. Disiplin ilmu keislaman apapun, sanadnya akan bermuara kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Ilmu hadis bermuara kepada beliau, pun demikian dengan ilmu tafsir dan tasawuf. Karena begitu kuatnya tradisi sanad tersebut, maka sudah sewajarnya apabila para penuntut ilmu di Pandanaran mengetahui sanad ilmu yang dimiliki oleh Hadlaratussyaikh al-Maghfurllah KH Mufid Mas’ud. Ponpes Sunan Pandanaran dikenal sebagai pondok takhasus li tahfizdil Qur’an. Sementara itu, Hadlaratussyiakh KH. Mufid Mas’ud 12 Juni 2010

belajar Al-Qur’an pada tiga guru AlQur’an, yaitu: pertama, Hadlaratussyaikh KH. Abdul Qodir Munawir al-Hafidz (Krapyak); kedua, Hadlaratussyaikh KH. Muntaha al-Hafidz (Wonosobo); dan ketiga Hadlaratussyaikh KH. Dimyathi al-Hafidz (Comal). Sanad dari ketiga guru tersebut menyambung kepada Hadlaratussyaikh KH. Munawir al-Hafidz (Krapyak). Selain mengajar AlQur’an, KH. Mufid Mas’ud juga melaksanakan dawuh Mbah KH. Mukhlash (Panggung, Tegal Jawa, Tengah), bahwa seorang KH. Mufid Mas’ud belajar Al-Qur’an pada tiga guru Al-Qur’an santri penghafal Al-Qur’an harus memperbanyak Di lain pihak, Hadlaratussyaikh bacaan shalawat Nabi Muhammad KH. Mufid Mas’ud juga mendapatkan Saw. Beliau menyarankan pula agar ijazah Dalail al-Khairat dari almarhum KH Mufid mendapatkan ijazah dari Romo KH. Profesor Muhammad Adnan guru kitab Dalail al-Khairat, karya asal Surakarta, yang kala itu bermukim Syeikh Abi Abdillah Muhammad bin di Kotabaru Yogyakarta, setelah Sulaiman Al Jazuli. pensiun dari PTAIN Yogyakarta. Saran KH. Mukhlash, beliau Di samping itu, KH Mufid, tanpa laksanakan dengan sebaik-baiknya beliau meminta, juga diijazahi Dalail hingga dapat memenuhi apa yang al-Khairat oleh almarhum mbah KH. beliau dawuhkan. Hadlaratussyaikh Hamid asal Pasuruan yang mashur KH. Mufid memperoleh ijazah Dalail sebagai min auliaillah wa ulamaillah al-Khairat dari almarhum Romo (termasuk wali dan ulama Allah). KH. Ma’ruf dari Pondok Pesantren “Pernah juga saya mohon ijazah Dalail Jenengan Surakarta, Jawa Tengah. al-Khairat kepada guru saya almarhum KH. Ma’ruf juga seorang guru Qismul Dr. Assayyid Muhammad Al Maliki di ‘Ulya di Mambaul Ulum Surakarta, Makkah” cerita KH. Mufid kepada serta seorang mursyid (pemimpin) santri-santrinya. Tarekat Sadzaliyah di daerah itu. Sanad lengkap Dalail al-Khairat “Di samping mendapatkan ijazah almarhum Romo KH. Ma’ruf dari dari beliau, saya juga diperintahkan Pondok Pesantren Jenengan Surakarta untuk menulis sanad, mulai dari adalah sebagai berikut: KH. Ma’ruf pengarang Dalail al-Khairat sampai Surakarta -> KH. Abdul Mu’id (Klaten) dengan almarhum Romo KH. Ma’ruf,” -> KH. Muhammad Idris -> Sayyid ungkap KH Mufid dalam suatu Muhammad Amin Madani -> Sayyid Ali kesempatan. bin Yusuf al Hariri al Madani -> Sayyid

Laporan Utama
Sanad Muhammad bin Ahmad al Murghibiy -> Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al Mutsana -> Sayyid Ahmad bin al Hajj -> Sayyid Abdul Qodir al Fasiy -> Sayyid Ahmad al Muqri -> Sayyid Ahmad bin Abbas Ash Shum’i -> Sayyid Ahmad Musa as Simlaliy -> Sayyid Abdul Aziz At Tiba’i -> Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman (penulis kitab Dalail al-Khairat). Dengan ijazah dari para masyayikh yang termasuk ulama besar tersebut, hadlaratussyaikh KH. Mufid Mas’ud merasakan manfaatnya yang tidak dapat beliau paparkan dengan lisan. Hanya saja, beliau tak henti-hentinya menganjurkan agar para santrinya membiasakan wiridan Al-Qur’an dan Dalail al-Khairat agar mendapat syafa’at Al-Qur’an dan syafa’at Sayyidul Anam, Rasulullah Saw. (Udik)

Juni 2010

13

Laporan Khusus
PAUD

PPSPA Mendidik Umat Sejak Usia Dini
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

PPSPA kini memiliki PAUD di Komplek II dan TK al-Jauharoh di Gunung Kidul

P

PSPA punya komitmen pada pendidikan umat Islam. Tak mengherankan jika pesantren ini mendirikan lembaga pendidikan formal di segala tingkat, sejak tingkat pendidikan anak usia dini hingga tingkat aliyah. Pendidikan anak usia dini mencakup Playgroup dan taman kanak-kanak (TK). Menurut Ibu Marwiyah, guru pada Taman Kanakkanak Sunan Pandanaran, jumlah siswa di Playgroup dan TK saat ini mencapai 130 anak yang dibagi ke dalam Playgroup, TK A, dan TK B. Dan untuk TK B masih dibagi lagi menjadi B1, B2, B3, dan B4. Pembagian ini disamping untuk membedakan tingkatan kelas, juga bertujuan memudahkan proses pendidikan. “Mendidik anak-anak di sini harus dengan cara belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar,” kata Ibu Marwiyah. Kalau menjelaskan penjumlahan misalnya, seorang guru mengambil tiga bola kemudian menghitungnya di depan anak-anak. 14 Juni 2010

Tak jarang, justru bola itu diambil anak-anak dan dilempar kesanakemari. Sistem pembelajaran dengan alat peraga ini, menurut ibu Marwiyah, sangat ditekankan oleh TK Sunan Pandanaran. Tak hanya itu, anakanak juga sering diajak bermain di luar kelas. Mereka dikenalkan dengan permainan-permainan tradisional Jawa. “Pola pendidikan bermain dapat merangsang daya kreativitas anak. Terbukti, siswa TK Sunan Pandanaran ini meraih juara I dalam lomba melukis dan mewarnai yang diadakan di PPPG Kesenian pada 30 Mei 2010 silam,” jelas ibu Marwiyah. TK Al-Jauharoh Sementara itu, pada 2009 silam, PPSPA mendirikan TK Al-Jauharoh di Tlepok Semin Gunung Kidul, Yogyakarta. Menurut KH. Mu’tashim Billah, awalnya muncul keraguan di masyarakat, apakah pesantren bisa mengelola lembaga pendidikan

TK secara baik dan profesional. Akan tetapi keraguan itu hilang seiring dengan perkembangan TK Al-Jauharoh yang menyeimbangkan antara pendidikan agama dengan pengetahuan umum.. Masyarakat pun menaruh harapan besar pada lembaga ini. Terwujudnya TK Al-Jauharoh tidak lepas dari kontribusi masyarakat sekitar yang peduli akan kemajuan pendidikan Islam. Salah seorang penduduk setempat bernama Budi Suparjo mewakafkan tanah seluas 824 meter persegi di sekitar pemukiman penduduk. Lalu, disepakati untuk didirikan TK di tanah wakaf tersebut. Saat ini TK Al-Jauharoh memiliki satu unit bangunan yang terdiri atas dua ruang kelas, ruang guru, dapur, taman bermain, dan kamar kecil. Tenaga pengajarnya berasal dari desa setempat dan desa-desa sekitar. Dengan demikian, potensi para guru di daerah tersebut dapat tersalurkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. (Huda)

Laporan Khusus
MISPA

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

K

Masyarakat Percaya Kualitas MISPA
empat sebanyak sebelas siswa. Rohili SP menjelaskan, di antara program unggulan bagi peserta didik adalah menghafal juz 30 saat siswa duduk di kelas IV. Program tersebut berjalan lancar. Dan, semua siswa kelas IV telah mampu menghafal AlQur’an juz 30. Acara seremonial untuk syukuran hafalan mereka diselenggarakan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, 26 Februari 2010 silam. Seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 11 siswa mengikuti kegiatan tersebut. Dari program hafalan juz 30 itu, berbagai prestasi pun diukir oleh siswa-siswi MISPA. Siswa kelas IV bernama Diaz Saufa Yardha berhasil menggondol gelar juara II pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) cabang tartil Al-Qur’an tingkat kabupaten, tahun 2010. MI Sunan Pandanaran tidak sekedar membekali siswa-siswinya dengan ketrampilan otak. Tetapi juga ketrampilan berorganisasi dan berkesenian. Pembekalan ketrampilan ini tampak pada kegiatan siswa-siswi saat menyambut hari ulang tahun MISPA, Maulid Nabi Muhammad Saw, dan Hari Kartini. Pada momen-momen tersebut, mereka bahu membahu menyukseskan hajatan sekolah hingga ujung acara. Mereka mengeluarkan segenap kemampuannya di atas pentas. Mulai dari tari-tarian, pentas seni, hingga berbagai macam perlombaan. Lebih jauh Rohili SP memaparkan, pola pendidikan di MISPA tidak hanya ditunjang oleh sistem pendidikan yang mendorong anak didik menjadi pintar dan kreatif. Tetapi juga didukung oleh tenagatenaga pengajar yang kompeten. Saat ini guru di MISPA berjumlah 13 orang. Bagi guru yang belum mendapatkan gelar S1, mereka difasilitasi oleh MISPA untuk melanjutkan pendidikan di tingkat universitas. “Nah, pada tahun 2010 ini, sebanyak tiga orang guru mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta,” jelas Rohili kepada Suara Pandanaran. (Munirtado) Juni 2010 15

epercayaan masyarakat pada Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran (MISPA) cukup tinggi. Faktor utamanya adalah bahwa MISPA, meskipun masih tergolong muda, namun mampu mencetak murid dengan kualitas baik. Menurut Wakil Kepala Sekolah MISPA, Rohili SP., murid-murid MISPA rata-rata mampu melewati ujian kenaikan kelas dengan nilai memuaskan. Mereka tidak kesulitan menjawab soal-soal ujian dari Dinas Pendidikan Yogyakarta. “Oleh karena itu, meskipun lembaga-lembaga pendidikan formal setingkat Sekolah Dasar (SD) tumbuh subur bak jamur di musim hujan, toh antusiasme masyarakat menyekolahkan putra-putrinya ke MISPA tidak surut. Justru sebaliknya, semakin naik.” tutur Rohili Saat ini jumlah siswa MISPA sebanyak 93 anak. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun kemarin yang berjumlah 72 siswa. Kelas satu sebanyak 22 siswa. Kelas dua sebanyak 36 siswa. Kelas tiga sebanyak 24 siswa. Dan kelas

Laporan Khusus
Huffadz

Menyibak Kisah Para Penghafal Al-Qur’an
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Santri Huffadz menyetorkan hafalannya kepada badal

B

anyak kisah di seputar santri Huffazd (penghafal AlQur’an). Kewajiban berat yang dipikulnya, yakni menghafalkan 30 juz Al-Qur’an, mengharuskan mereka melakukan segudang kegiatan untuk relaksasi. Kegiatan di luar menghafal Al-Quran bertujuan untuk melepaskan kepenatan di kepala. Atau sekedar untuk meregangkan otot-otot tubuh yang tegang akibat duduk di sudutsudut ruangan selama berjam-jam. Betapa tidak, seorang santri yang sedang menghafal Al-Quran tidak pernah pengenal waktu istirahat dari menghafal ayat-ayat Allah. Pagi, siang, sore, dan malam mereka gunakan untuk tadarus atau nderes. Pun, mereka tidak mengenal tempat. Di manapun, asal ada tempat nyaman dan sepi, mereka duduk manis 16 Juni 2010

di sana sembari berkomat-kamit mengucapkan bait-bait ayat Al-Quran. Karenanya, menciptakan suasana kondusif dan lingkungan yang nyaman merupakan suatu keharusan. Suasana kondusif untuk menghafal Al-Qur’an tercipta di antaranya dengan terjalinnya hubungan baik antara santri senior dan santri junior. Sementara kondisi nyaman dan tenteram harus mereka ciptakan dengan memelihara ketertiban dan kebersihan. Suasana kondusif antar santri sejauh ini telah tercipta dengan membudayanya penularan ilmu dari santri senior kepada santrisantri junior. Siapapun yang nyantri (menjadi santri) di pondok tahfidz Al-Qur’an Sunan Pandanaran diperlakukan sama. Mereka sama-

sama dididik dengan berbagai macam disiplin ilmu hafalan Al-Quran. Di antaranya ilmu tajwid dan tahsin. Para santri diajari bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Materi ini ditujukan agar santri mampu membaca Al-Qur’an secara tartil dan makhraj yang benar. Metode pengajaran ini terus berlanjut hingga banyak santri yang kualitas bacaan Al-Qurannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Optimalisasi pembelajaran AlQur’an saat ini ditunjang dengan pelatihan-pelatihan di Madrasah Hufadz. Di antaranya pelatihan metode Yanbu'a yang diasuh langsung oleh KH Ulil Albab Arwani, Kudus, Jawa Tengah. Inilah metode cepat pembelajaran Al-Qur’an dan disertai

Laporan Khusus
Huffadz penguasaan ilmu tajwid dan tahsin alqiraah. Sejumlah santri yang sedang menghafal Al-Qur’an diikutsertakan dalam program Yanbu'a ini. Menurut Abdullah Muslim, lurah kompleks Huffadz putra, setelah para santri mengikuti program Yanbu'a, bacaan Al-Qur’an mereka menjadi lebih baik. Sementara untuk menambah wawasan santri, diberlakukan pengajian tafsir yang diasuh langsung oleh bapak Pengasuh pondok. Pengajian ini secara rutin diselenggaraka pada malam selasa. Sistem Pendidikan Tahfidz Menurut Abdullah Muslim, para santri huffadz dengan sadar mematuhi sistem yang telah ditetapkan. Pada hari biasa, para santri diwajibkan menyetorkan hafalannya dua kali sehari, yaitu setelah Subuh dan setelah Maghrib. Setelah Subuh untuk menambah hafalan. Sedangkan setelah Maghrib untuk mengulang hafalan. Kewajiban tersebut, jelas dia, tidaklah berat bagi yang sudah mempersiapkan hafalan secara matang. Abdullah Muslim menambahkan, pihak madrasah Huffadz memberlakukan nderes wajib (mengulang hafalan AlQur’an bersama) selama dua jam. Mulai dari jam 08.00 sampai 10.00 WIB. “Madrasah Huffadz juga memberlakukan absensi santri pada setiap setoran. Nah, bagi santri yang absen tanpa pemberitahuan akan ditegur pengurus. Dan bagi yang tidak mengindahkan teguran ini akan diberikan sangsi,” jelas Muslim. Sementara itu, evaluasi tiap semester juga diberlakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga hafalan semua santri. Di dalam evaluasi ini semua santri dilibatkan untuk saling menyimak dan hasilnya dilaporkan kepada pengurus, untuk selanjutkan diberitahukan kepada pengasuh dan wali santri. Dengan demikian, pihak wali santri mengetahui perkembangan putra dan putri mereka setiap semesternya. “Sistem laporan semester tersebut dimaksudkan untuk menjalin tali silaturahmi antara pengasuh, pengurus, wali santri dan santri,” ungkap Muslim. Ada pula penerapan metode hafalan bergilir. Secara teknis, aturan ini mewajibkan semua santri menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada pengasuh, KH. Mu’tashim Billah, sekali atau dua kali dalam seminggu. bidang sosial maupun keagamaan, bisa mereka perankan sebaik-baiknya. Menjadi Juara Sistem pendidikan semacam itu sejak dahulu telah mencetak santrisantri huffadz yang jempolan. Banyak alumni huffadz yang telah berkiprah di tengah masyarakat, baik di bidang sosial keagamaan maupun pendidikan. Sementara itu, bagi mereka yang masih berstatus santri, tampaknya tak pernah kering dari prestasi. Tak jarang mereka menjuarai berbagai lomba, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bak pepatah Arab, “Barang siapa menanam pasti akan memetik”. Pun demikian para santri huffadz yang telah menikmati hasil jerih payahnya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Pada bulan April 2010 ini, santri huffadz Sunan Pandanaran mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. Hasilnya, sangat menggembirakan. Dari 45 santri huffadz Sunan Pandanaran yang mengikuti lomba, 30 santri meraih juara. Sementara di tingkat provinsi yang diadakan pada awal Mei 2010, dari 17 santri Sunan Pandanaran, 12 di antaranya meraih juara. Kejuaraan ini dilanjutkan pada tingkat nasional. Ulil Absor, sekretaris komplek Huffadz, mengatakan, pada 5-13 Juni 2010, tiga santri diutus untuk mewakili Pesantren Sunan Pandanaran di tingkat nasional. Mereka adalah Abdul Rasyid, Desti, dan Fina Raudhatul Jannah. Abdul Rasyid mengikuti lomba 10 juz bilghaib, Desti mengikuti 20 juz bilghaib, sementara Fina mengikuti Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) untuk tilawah. “Prestasi apapun yang diraih santri merupakan bentuk dari usaha keras mereka dalam bidang yang ditekuninya. Kita semua berharap supaya prestasi yang sudah sangat baik itu bisa dipertahankan. Bahkan harus ditularkan kepada santri-santri lainnya,” ujar KH. Mu’tashim Billah. (Zahron/Fifi) Juni 2010 17

KH. MU’TASHIM BILLAH PUN TAK JARANG BERPESAN KEPADA PARA SANTRI SETIAP SELESAI MENGAJI, “DERESANNYA DIJAGA YA”
Itulah momen bagi santri untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh pondok. KH. Mu’tashim Billah pun tak jarang berpesan kepada para santri setiap selesai mengaji, “Deresannya dijaga ya”. Untaian nasihat pengasuh bagi para santri bak air hujan yang merangsang tumbuhnya pohon dan tanaman di lahan gersang. Pasalnya, nasehat tersebut tersemat dalam benak santri dan memotivasinya untuk menyuburkan semangat menghafal dan menjaga Al-Qur’an. Nah, apakah pola pendidikan santri huffadz cukup sampai di situ saja? Ternyata tidak. Mereka sejak dini diberikan kesadaran bakal menjadi pemimpin-pemimpin di masyarakat. Misalnya menjadi pengurus harian, mendapatkan giliran menjadi imam shalat rawatib di masjid, menjadi khatib jumat dan bilal, memimpin tahlil di makam al-Maghfurullah KH. Mufid Mas’ud, dan menjalankan piket membangunkan santri lain di pagi hari. Menurut KH. Mu’tashim Billah, dengan pola pendidikan yang demikian itu diharapkan semua santri kelak mampu berperan aktif di tengah masyarakatnya. Keberadaan mereka menjadi penting ketika tuntutantuntutan masyarakat, baik itu di

Laporan Khusus
MTs SPA

MTs Sunan Pandanaran

“MTs Sunan Pandanaran Mendulang Prestasi ”
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Aktivitas siswa MTs Sunan Pandanaran

M
Tingkat kelulusan siswa MTs Sunan Pandanaran masuk dalam sepuluh besar tingkat MTs/SLTP negeri dan swasta sekabupaten Sleman

enjadi madrasah terbaik seKabupaten Sleman periode 2008-2009 pernah disandang Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan Pandanaran. Di bawah pimpinan Hj. Fanny Rifqoh S.Pd, MTs Sunan Pandanaran terus berbenah. Nah, apa saja terobosan teranyar dari MTs dalam rangka meraih prestasi yang lebih cemerlang di masa yang akan datang? Menurut Rustiadi, bagian kesiswaan Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran, prestasi siswa dan siswi MTs tahun 2010 ini lebih baik dibandingkan dengan tahun kemarin. Ini dikarenakan MTs menerapkan sistem pengawasan pendidikan yang lebih ketat terhadap para siswa. “Bagi siswa dan siswi kelas III, misalnya, diberlakukan tryout setiap minggu untuk menghadapi UN. Kemudian, dilakukan evalusi

pada setiap bulannya. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui siswa dan siswi yang perlu mendapatkan intensitas bimbingan yang lebih banyak”, jelas Rustiadi kepada Suara Pandanaran. Rustiadi melanjutkan, dari tryout tersebut dapat diketahui kelebihan dan kekurangan para siswa. Sebagian siswa ada yang sudah menguasai materi-materi yang akan diujikan dalam UN. Namun, sebagian yang lain masih lemah. Nah, pihak MTs kemudian memberikan bimbingan belajar yang lebih intensif lagi kepada siswa dan siswi yang lemah itu. Sedangkan bagi siswa dan siswi yang telah menguasai materimateri UN diberikan pengarahan agar berusaha keras untuk mencapai nilai maksimal, terutama melatih diri dalam ketelitian menjawab soalsoal ujian. Dengan cara demikian,

18

Juni 2010

Laporan Khusus
MTs SPA kekurangan-kekurangan siswa dan siswi dapat dikontrol oleh MTs dan dibenahi secara cepat dan efektif. Hasilnya, tahun ini tingkat kelulusan siswa MTs Sunan Pandanaran menempati urutan ke-9 dari 123 MTs dan SLTP negeri dan swasta sekabupaten Sleman. Untuk kategori sekolah MTs sendiri, MTs Sunan Pandanaran menempati peringkat pertama. Nilai tertinggi yang dicapai siswa MTs Sunan Pandanaran adalah 37, 90 dengan rata-rata 9,5. Menyikapi prestasi gemilang tahun ini, kepala sekolah MTs Sunan Pandanaran, Hj Fanny Rifqoh S.Pd, mengatakan bahwa meskipun prestasi MTs ini tergolong baik, namun belum mencapai yang terbaik seperti yang diharapkan. Masih banyak hal yang perlu benahi. “Pencapaian prestasi tidak untuk dibanggakan, tetapi kami jadikan bahan evaluasi bagi pengembangan MTs Sunan Pandanaran pada tahuntahun yang akan datang. Evaluasi yang kami maksud tidak terbatas pada evaluasi hasil ujian, tetapi juga evaluasi akhlak siswa dan siswi sebelum mereka melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Karena, tujuan pendidikan di MTs ini tidak hanya untuk meraih nilai yang tinggi. Ada hal yang lebih penting dari itu, yaitu pembangunan akhlak mulia para siswa,” ungkap Hj. Fanny. “Untuk apa nilainya tinggi tetapi akhlaknya tidak baik,” lanjutnya. Para siswa harus dibentuk akhlaknya sejak dini. Agar mereka punya akhlak al-karimah terhadap Allah, orang-tua, guru, teman-temannya, dan kepada masyarakat umum. Jadi, mencetak santri yang mampu meraih nilai bagus dan berakhlak karimah itulah tujuan pendidikan di Pesantren Sunan Pandaranan ini. Optimalkan Peran Guru Dalam upaya meningkatan kualitas ilmu dan akhlak santri, MTs Sunan Pandanaran tidak hanya menerapkan sistem yang mendorong santri belajar lebih keras. Tetapi juga meningkatkan peran guru, terutama dalam hal pengawasan proses pendidikan dan pengajaran. Secara bergiliran, para guru mengunjungi asrama santri untuk memberikan bimbingan langsung kepada mereka. “Guru-guru itu tidak hanya mengawasi santri agar mau belajar. Lebih dari itu, memberikan bimbingan langsung bagaimana seharusnya menata sikap dan perilaku. Di antaranya mengajari mereka hal-hal yang berhubungan dengan akhlak Muslim. Misalnya, memotong kuku, merapikan rambut, cara berbusana yang baik dan sopan, cara makan dan minum sesuai dengan tuntunan Islam, hingga membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi santri,” jelas Hj Fanny. Oleh karena itu, lanjutnya, pihak MTs pun membekali guru dengan pengetahuan yang mencukupi. Mereka diberi kesempatan untuk mengikuti berbagai macam training yang memperkaya wawasan dan memperkuat teknik mendidik siswa. Bagi guru yang berprestasi diberikan penghargaan sesuai dengan prestasi yang diraih. Model pendidikan tersebut ditujukan untuk membina akhlak santri. Dan ternyata juga meningkatkan prestasi mereka di bidang akademis dan non-akademis. Rustiadi menjelaskan, beberapa siswa MTs Sunan Pandanaran meraih juara dalam berbagai macam lomba. Barubaru ini menjuarai lomba Qiroatul Kutub di tingkat kabupaten. Bahkan dua dari siswa MTs menjuarai lomba tingkat propinsi dan akan maju ke tingkat nasional. Sementara itu di bidang olah raga, beberapa siswa dan siswi MTs akan mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Nasional di Surabaya pada bulan Juli mendatang. Keikutsertaan ini merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya yang mana MTs Sunan Pandanaran berhasil menjadi juara di tingkat kabupaten dan propinsi. (Rido)

Tujuan pendidikan di MTs ini tidak hanya untuk meraih nilai yang tinggi. Ada hal yang lebih penting dari itu, yaitu pembangunan akhlak mulia para siswa

Juni 2010

19

Laporan Khusus
MASPA

MASPA Seimbangkan Pendidikan dan Pengajaran
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Siswa MASPA melakukan doa pagi sebelum memulai kegiatan belajar mengajar

H
Lomba puisi di MASPA dihadiri oleh tiga sastrawan kondang, yaitu Evi Idawati, Bustam Maras dan Abidah el-Khaliqi

ari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Demikian prinsip Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA) dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikannya. Kepala MASPA, Hj. Ainun Hakiemah, M.S.I., mengakui bahwa pihaknya terdorong untuk meningkatkan kualitas pendidikan MASPA karena beberapa faktor. Di antaranya, adanya harapan masyarakat yang sangat tinggi terhadap MASPA. “Harapan masyarakat tidak terbatas pada keberhasilan putra-putri mereka di bidang akademik dengan meraih nilai bagus. Lebih dari itu, mereka berharap putra-putrinya menguasai ilmu agama dan berakhlakul karimah. Inilah yang memacu kami untuk berbuat lebih dibandingkan sekolah-sekolah lain,” tutur Hj Ainun Hakiemah. Ia menambahkan, jika prestasi

akademik merupakan hasil dari proses pengajaran, maka penguasaan ilmu-ilmu agama dan akhlaqul karimah adalah hasil dari proses pendidikan Pesantren Sunan Pandanaran. Oleh karena itu, jelasnya, kurikulum MASPA memadukan antara tradisi pesantren salaf dan kurikulum madrasah modern. MASPA mengajarkan kitab kuning semacam Mau’idzatul Mukminin dan Tajridus Shorih dalam sistem pendidikan formalnya. Alokasi waktu pengajaran kitab kuning tersebut sebanyak enam jam per minggu. Dan ini berlangsung selama tiga tahun. “Kitab–kitab ini dikaji dengan maksud, pertama, untuk memperluas wawasan keislaman para siswa. Kedua, membangun kesadaran beragama yang lebih arif dan toleran. Dan ketiga memperkuat karakteristik santri dengan menanamkan nilai–nilai luhur kepesantrenan dalam jiwa

20

Juni 2010

Laporan Khusus
MASPA mereka. Ketiga hal itu akan menjadi bekal mereka ketika hidup di tengah masyarakat yang lebih plural dan modern,” ungkap Hj Ainun Hakiemah. Disamping itu, siswa dan siswi MASPA juga dididik untuk melaksanakan ritual–ritual pesantren. Utamanya ketika akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Ritual yang telah ditetapkan pihak MASPA sebagai program tetap di antaranya adalah Mujahadah selama 41 hari, pembacaan Manaqib, dan lain sebagainya. Pihak MASPA mengakui bahwa dengan berbagai upaya peningkatan tersebut, kepercayaan masyarakat semakin besar. Hal itu dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa di MASPA dari tahun ke tahun. Periode 2009-2010 ini, jumlah siswa MASPA mencapai 563 siswa. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah siswa, pihak MASPA pun terus membenahi sarana dan prasarana pendidikannya. Kini fasilitas yang dimiliki MASPA boleh dibilang memadai. Jumlah ruang kelasnya semakin banyak. Dan laboratorium komputer nya pun telah dilengkapi dengan sarana internet. Gebyar Ekstrakulikuler Upaya peningkatan kualitas pendidikan siswa dan siswi MASPA ditunjang pula dengan kegiatankegiatan ekstrakulikuler berskala nasional. Pada 4 April 2010, misalnya, MASPA menggelar hajatan nasional di bidang sastra. Hajatan tersebut berupa lomba baca puisi yang diikuti oleh 110 peserta dari seluruh Indonesia. “Perlombaan ini dimaksudkan untuk mencetak generasi muda yang handal di bidang sastra. Sebagaimana kita tahu, bangsa ini memiliki banyak sastrawan hebat. Mereka telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan sastra Indonesia. Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan generasi muda yang melanjutkan perjuangan mereka,” kata Faizun, pengajar di MASPA. Lomba yang mengambil tema “Gema Sastra Pelajar Indonesia, dari Kita untuk Indonesia” itu dihadiri oleh tiga sastrawan kondang, yaitu, Evi Idawati, Bustam Maras, Abidah el-Khaliqi. Mereka bertindak sebagai dewan juri. Dalam kejuaraan tersebut, siswi MASPA, yakni Shofa Aulia, berhasil menyabet juara tiga. Perlombaan tersebut diramaikan dengan bazar buku dan pameran pendidikan. Beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta turut ambil bagian dalam pameran pendidikan tersebut. Tak ketinggalan pula penampilan seni dari kelompok Teater Mirah UNY yang memeriahkan suasana di sela-sela lomba. Di samping kegiatan lomba berskala nasional, MASPA juga mengadakan kegiatan internal yang ditujukan untuk pembekalan santri sebelum terjun di tengah masyarakat. Acara pembekalan santri tersebut digelar pada 19-21 April 2010, dengan mengusung tema “Menguatkan Jati Diri Santri dalam Dunia Global”. Peserta pembekalan ini adalah siswa MASPA kelas XII dari tiga program studi, yaitu program IPA, IPS, dan IPK. “Pembekalan ini akan memperkenalkan kepada santri tentang dinamika dunia di luar pesantren. Ada kesan bahwa santri adalah komunitas yang tertutup dan gagap menghadapi modernitas. Nah, dengan pembekalan ini, kita berharap mereka akan lebih siap menghadapi tantangan dunia luar,” jelas H. Jazilus Sakhok saat memberikan sambutan pembekalan tersebut. Dengan berbagai bentuk kegiatan dan pelatihan tersebut, MASPA hendak membentuk pribadi santri yang siap bersaing di berbagai bidang. Walhasil, banyak siswa berprestasi lahir dari rahim MASPA ini. Tidak hanya di dunia akademis, tetapi juga di bidang non-akademis. (Purwoto)

DAFTAR BEASISWA MADRASAH ALIYAH SUNAN PANDANARAN TAHUN 2009 - 2010
NO JENIS BEASISWA JUMLAH PENERIMA BENTUK BEASISWA

1 2 3 4

Beasiswa Alumni Prestasi Beasiswa APBD Prop DIY Beasiswa Paralel Beasiswa Santri mandiri Jumlah Total
KEJUARAAN Lomba Hadrah Putra Lomba Mading Lomba Teater Lomba Baca Puisi Lomba Baca Puisi Lomba Karya Tulis Ilmiah Lomba Mading Lomba Puitisasi Al-quran

10 anak 121 Anak 11 Anak 31 Anak 173 Anak
TINGKAT Kabupaten Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi PRESTASI Juara III Juara I Juara I Juara I Juara II Juara III Juara I Juara I

Bebas SPP sekolah selama 3 tahun Rp. 65.000 x 12 bulan Bebas SPP 4/6 bulan Bebas syahriah pesantren, uang makan, dan SPP madrasah

DATA PRESTASI KEJUARAAN SELAMA BULAN MEI 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 NO 9 10 11 12 13 14 15 KEJUARAAN Lomba MTQ Putra Lomba MTQ Putri Lomba MHQ Putra Lomba MHQ Putri Lomba MHQ Putri Lomba MHQ Putri Lomba Mading Fak. Biologi UGM TINGKAT Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi Propinsi PRESTASI Juara III Juara II Juara I Juara I Juara II Juara III Juara I 21

Juni 2010

Perjalanan
Inggris

Syi’ar Islam di Inggris
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

H. Jazilus Sakhok (ketiga dari kiri), berpose bersama rombongan di depan Al-Hijra School, Birmingham.

P

PSPA mendapat kehormatan mengirimkan perwakilannya ke Inggris dalam program “Indonesia-United Kingdom (UK) Imam Exchange” pada 14-21 Desember 2008 silam. Program ini merupakan salah satu program yang telah direkomendasikan oleh Indonesia-UK Islamic Advisory Group (IUIAG, Grup Penasihat Islam Indonesia-UK) untuk menjalin kerjasama keagamaan antara Pemerintah Inggris dan Indonesia. PPSPA diwakili oleh H. Jazilus Sakhok. Pesantren lain yang mengirimkan utusannya adalah PP. Ali Maksum Krapyak, PP. Nurul Ummah, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, PP. al-Muayyad, dan PP. Assalam. Rombongan juga disertai perwakilan dari Departemen Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Selama di Inggris, rombongan bermalam di London dan berkunjung ke beberapa kota di Inggris lainnya, yaitu Leicester, Nottingham, dan Birmingham. Cuaca musim dingin antara 1-5 derajat celcius tidak menghalangi rombongan untuk bertemu dengan para ulama dan pimpinan institusi pendidikan Islam, serta berkunjung ke beberapa masjid. 22 Juni 2010

Kunjungan yang dipandu oleh Dr. Musharraf Hussain (Ketua IUIAG) ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarulama di kedua negara mengenai pengembangan kehidupan Islam. Di Leicester, para perwakilan pesantren mengunjungi Radio Hajj dan didaulat secara on air untuk mengutarakan pengalaman keberagamaan umat Islam di Indonesia. Rombongan selanjutnya bertolak ke Jami’ Mosque dan Jami’ah Ulumul Qur’an yang dikelola oleh komunitas Islam keturunan Deoband, India. Sistem pendidikannya seperti pesantren salaf di Indonesia (klasik), dengan satu ulama kharismatik yang secara mutlak memegang kendali. Asrama putra dan putri dipisah serta cara berpakaian ala Timur Tengah. Terdapat pula Darul Ifta, sebuah lembaga keagamaan yang dipimpin oleh seorang mufti yang berhak mengeluarkan fatwa. Rombongan kemudian menuju Masjid Umar, yang mempunyai lembaga pendidikan Islam bagi anakanak dengan kurikulum di Afrika Selatan. Masjid ini dikelola oleh masyarakat keturunan Afrika Selatan.

Di Inggris, kebanyakan masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan. Di dalamnya mengelola kegiatan ibadah sampai sosial yang semua pengelolannya dipimpin oleh seorang pemuka agama (Imam) yang telah “dilegalisasi” oleh pemerintah. Seperti di Masjid Umar yang member bantuan ketika bencana tsunami melanda Aceh. Dari Masjid Umar, rombongan berkunjung ke St. Philip’s Centre, sebuah pusat kajian yang memperjuangkan saling pengertian antara sesama pemeluk agama dan menjadi tempat dialog tokoh-tokoh agama di Eropa. Pusat kajian ini juga mengadakan aktivitas sosial di antara jamaah rumah ibadah masing-masing agama. Kunjungan di Leicester berakhir di Masjid al-Falah, pimpinan Imam Abdul Karim Ghewala. Masjid al-Falah mempunyai institusi pendidikan dasar Islam, yaitu Madrasah al-Falah Darain. Setelah melihat-lihat sistem pembelajaran di madrasah, rombongan dijamu makan malam dalam suasana meriah dengan menu makanan ala Pakistan. Keesokan harinya rombongan menuju Nottingham dan disambut oleh Dr. Musharraf Hussain. Rombongan diajak berkeliling ke institusi pendidikan yang dia kelola, Islamia School. Sekolah ini menyediakan pendidikan taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah dengan kurikulum pemerintah plus pelajaran agama Islam. Islamia School merupakan institusi pendidikan di bawah naungan Karimia Institute. Setelah mengikuti pelajaran formal di siang hari, murid-murid Islamia School diberi tambahan pelajaran keislaman di Karimia Institute pada malam hari. Karimia institute juga mempunyai masjid dan radio untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan kaum minoritas Islam di Nottingham. Rombongan juga

Perjalanan
inggris mengunjungi Muslim Hands, lembaga keagamaan salafi, kebanyakan dari sepatutnya tidak lagi menjadikan nirlaba yang mengumpulkan dana mereka adalah lulusan Arab Saudi, Timur Tengah sebagai kiblat bagi umat Islam yang membutuhkan karena itu pendidikan Islam yang kehidupan keislaman, tetapi ke di seluruh dunia. ada di dalamnya dikelola secara salafi Indonesia yang corak Islamnya lebih Birmingham, adalah kota juga. damai dan lembut. yang selanjutnya dikunjungi oleh London adalah destinasi Inggris misalnya, tutur Fuad, rombongan setelah Nottingham. berikutnya, kota tempat tinggal bagi dihadapkan pada masalah banyaknya Tempat pertama yang disinggahi di sekitar 1 juta umat Islam yang ada Imigran Muslim dari Asia Selatan yang kota terbesar kedua di Inggris setelah di Inggris. Di kota ini rombongan belum ‘teringgriskan,’ tetapi masih London ini adalah al-Hijra School, berkunjung ke Kedutaan Besar kental ‘bungkus’ Asia Selatan-nya. sekolah swasta yang kini berstatus Indonesia dan bertemu dengan Yuri Meski sudah lama di Inggris mereka negeri. Oktavian Thamrin, Duta Besar RI masih memakai pakaian ala Pakistan Al-Hijra merupakan gambaran untuk Inggris. dan Afghanistan. Lain dengan sekolah muslim yang berusaha Rombongan juga bertemu Muslim Indonesia yang mampu menjadikan anak didiknya lebih dengan Fuad Nahdi, Direktur Eksekutif mengkolaborasikan Islam dengan sebagai seorang “Muslim Inggris” Radical Middle Way, sebuah LSM yang budaya lokal, terutama atas peran dibanding “Muslim di Inggris.” Dari menyuarakan pendekatan moderat ulama dan pesantren. Sekolah al-Hijra, dalam beragama. Di akhir kunjungan, Dr. rombongan Fuad Nahdi Musharraf mengatakan, “Gereja menuju Ghamkol Gereja semakin banyak ditinggalkan m e r u p a k a n semakin banyak ditinggalkan dan Sharif Mosque. dan berubah menjadi bar atau salah satu orang berubah menjadi bar atau restoran. Bangunan masjid restoran. Doakan kami bisa yang memberi Doakan kami bisa membeli gerejaini membuat membeli gereja-gereja itu untuk masukan kepada gereja itu untuk diubah menjadi r o m b o n g a n diubah menjadi masjid P e m e r i n t a h masjid.” terkesima. Inggris untuk Untuk itulah, Dr. Musharraf Di dalam m e n c o n t o h mengirimkan salam secara khusus kondisi pemerintahan Inggris yang Indonesia dalam kehidupan keislaman. kepada KH. Mu’tashim Billah sepenuhnya sekuler, kaum Muslim Menurut Fuad, Indonesia dan keluarga besar PPSPA untuk yang minoritas ternyata mampu adalah negara berpenduduk Muslim memberikan doa dan dukungan moral mendirikan sebuah masjid yang relatif terbesar di dunia tapi kehidupan bagi Syiar Islam yang lebih luas di megah. Sama seperti kebanyakan keagamaannya amat moderat. Karena Inggris. masjid di Inggris, di dalam Masjid itu negara-negara Barat sudah (Sakhok) Ghamkol juga terdapat institusi pendidikan Islam dan berbagai usaha bagi melayani hajat hidup kaum Muslim di Birmingham. Rombongan kemudian singgah ke kantor Islamic Relief, sebuah lembaga nirlaba yang mengumpulkan dana bagi umat muslim yang membutuhkan di seluruh dunia. Islamic Relief merupakan lembaga donor Muslim terbesar di Inggris dan mempunyai kantor perwakilan yang tersebar di seluruh belahan dunia, bahkan di Indonesia. Selanjutnya rombongan berkunjung ke Green Lane Mosque, pusat bagi komunitas Markazi Jamiat Ahl-E-Hadith. Sama seperti masjid-masjid lain, Masjid Green Lane dikelola oleh komunitas H. Jazilus Sakhok (tiga dari kanan) dan rombongan berfoto bersama Bapak Yuri Oktavian Thamrin, Dubes RI untuk Muslim yang mempunyai orientasi Inggris (kelima dari kanan) di Kedutaan Besar RI di London. Juni 2010 23

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Lughah
English

By Erica Petrofsky

Volunteer In Asia (ViA) 2009 - 2010 di PPSPA

A

s PPSPA’s volunteer teacher this year, I have had the opportunity to meet visitors from Indonesia, East Timor, Australia, even as far as America. All of these people come to learn about pesantren education in Indonesia; about its curriculum, facilities, educational culture, local culture, and more. Many visitors have access to information about these subjects at home – in books, on websites, or from other people – but nothing can replace first-hand experience. PPSPA’s practice of telling visitors about its programs, taking them on tours of its grounds, and introducing them to its students is very helpful in this regard. Of course, some visitors have not done research about pesantrens before coming to PPSPA (I know I had not), so a more general introduction to the subject may also be useful for these visitors. And the comparison between other schools and this one will help visitors see what’s special and important about what is done here. This may also be the case with other subjects, depending on who the visitor is: for example, when I first visited PPSPA with my organization, VIA, we were all curious about the pesantren’s interpretation of Islam and implementation of its precepts, but we did not come up with many questions when asked. This was because most of us did not know enough about the subject to know what questions to ask. So for a successful visit, show visitors an authentic view of the pesantren, but adjust the presentation to their

knowledge level and tastes so they can feel comfortable and gain understanding. An easy way for me to illustrate this point is with food. When my group came, we wanted to try Indonesian food, but it was also true that our tastes are different because of our culture, and we were new to Indonesian food. So tempe and tahu bacem were too sweet for some people, and when I was with another group of American visitors, some were worried about whether the raw lettuce in the gado-gado was safe to eat, because American government health agencies warn against eating raw vegetables in tropical countries for health reasons. So I would say to provide authentic Indonesian foods, but provide a variety of tastes (i.e., not all sweet) and reassure visitors by telling them exactly what they’re eating (no “mystery meat” kebabs) and why it’s safe. The bottom line is that visitors want to understand your reality, so for example, though Americans, who have a rather relaxed culture, might not enjoy standing in the hot sun for the sake of a ceremony, they will definitely enjoy seeing the way your culture greets guests, and the way your culture puts on a ceremony. Thus, if you’re not sure if what you’re doing to entertain your guests is satisfactory for them, just ask yourself if what you’re showing them is authentic to the cultures of Indonesia, Java, Yogyakarta, and the pesantren. If the answer is yes, you’re sure to please.

HELPFUL VOCABULARY First-hand Authentic Presentation Taste “Mystery meat” Reality Dari tangan pertama Asli Pergelaran Kesukaan Daging jenisnya misteri Kenyataan The bottom line Practice In this regard Satisfactory Interpretation For the sake of Pokoknya Kebiasaan Dalam hal ini Memuaskan Tafsiran Demi

24

Juni 2010

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

A Visitor’s Advice on Visitors

Lughah
English

By

Rebecca Wick Gluckstein

Volunteer In Asia (ViA) 2008 - 2009 di PPSPA

W

e are living in a world that is becoming ever more polarized by people adhering unbendingly to stringent beliefs cultural, religious, political and economic in scope. The less flexible we become as a global society, the more difficult it becomes to build communities founded on courtesy, kindness, respect and trust at local, national, and international levels. It is sad because these are traits that allow for the existence of an engaged multicultural society. However, PPSPA strives to teach students’ the value of a multicultural community through inter-cultural and –religious dialogue. From the moment I arrived at PPSPA, I was touched by the way all VIA volunteers, not only the school’s volunteer, are considered family. The willingness to help volunteers and even friends of VIA volunteers, accepting us as we are, not telling us to dress or express ourselves a certain way, is a demonstration of the utmost kindness and respect. Welcoming all VIA volunteers to practice teaching in classrooms at PPSPA shows that PPSPA teachers and staff trust that the students can be exposed to people from different cultural and religious backgrounds without losing sight of their own beliefs. I remember one of the new volunteers wearing a knee-length dress to PPSPA, but nobody told her she was not welcome. The reaction was courteous; people understood that she was dressed in a manner appropriate for a similar event in her own culture. The community at PPSPA lives the values of courtesy, kindness, respect, and trust, thereby opening doors to the world beyond Indonesia for the students and promoting curiosity about other cultures and religions. As a volunteer in 2008-2009, never was there a moment when I felt judged for holding different religious beliefs. In fact, students’ and teachers’ curiosity about religious beliefs (Buddhism, Judaism, Catholicism) and race relations in the United States was impressive. Even more inspiring is the openness to re-evaluating commonly

held stereotypes of Westerners. I distinctly remember two groups of visitors who were invited to see the school and meet with students. Interfaith dialogues spoke about the possibility of a religious minority to act as a mediator in a conflict between religious majorities, promoting the idea of respecting other religions and focusing on common goals rather than divisive elements. When the Australians came to visit, students were able to learn about Muslim life in a non-Muslim, Western nation at the same time as learning about Australian culture. However, intercultural dialogue is not only about learning other cultures and religions, it’s also about sharing one’s own culture and religion. Some of the events I value most from my time at PPSPA are being invited to watch the slaughter and helping cook at Idul Adha as well as watching the students parade through the streets in costume at night bearing torches and blowing fire (takbiran keliling). I feel blessed that the PPSPA community shared these events, both cultural and religious, with me. At an even more basic level, living in a multicultural community and engaging in intercultural dialogue is about sharing dinners, taking trips together, dancing in ruins, and baking pies together. The enthusiasm with which the teachers and staff interact with other cultures encourages students to follow suit. PPSPA has set the foundation blocks for students to become great inter-cultural communicators, but it can go even farther in the coming years by creating a crosscultural understanding club, online inter-group dialogues using Skype, and working towards study exchanges for selected students. I hope PPSPA continues to produce wellrounded, analytical thinkers who strive to build bridges and close gaps between different cultures, religions, political ideas, and economic standings to create a global community as peaceful, warm, and welcoming to live in as the PPSPA community.

Juni 2010

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Building the Path to a Multicultural Community

25

‫‪Lughah‬‬
‫‪Arab‬‬
‫‪FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN‬‬

‫صبغة اإلخالص للمعاىد اإلسالمية يف تربية الشعب اإلندونيسي‬ ‫إعداد: عماد الدين كامتو‬ ‫سو‬ ‫ال خيفي علينا أن املعاىد اإلسالمية تنتشر مع انتشار اإلسالم يف إندونيسيا. فهو نظام قدمي‬ ‫قدم الدعوة اإلسالمية بإندونيسيا. ,واملعهد اإلسالمي نظام تربوي فريد يف نوعو يكاد ال جنده ج‬ ‫خار‬ ‫إندونيسيا. وىو عبارة عن مكان تربوي وتعليمي يبقى فيو الطالب واملدرسون لسنوات عديدة حتت‬ ‫رعاية معلم – ويف نفس الوقت مرشد روحي- يدرسون كتب الًتاث اإلسالمية يف نظام خاص، إال‬ ‫أنو مع مرور الزمن يتطور تطورا متياسرا مع مقتضيات حاجات اجملتمع اإلسالمي احمليط بو. كان قد‬ ‫و‬ ‫أنشأه العلماء اجملاىدون املخلصون. إهنم ال يعتمدون على تكاليف احلكومة والراتب الشهري يف‬ ‫إنشاءىا وإمنا يعتمدون على اهلل. وىذا ال يعين ترك املساعي الظاىرة من كسب األرزاق وحث الناس‬ ‫على اإلنفاق يف سبيل اهلل. لقد فعلوا ذلك، إال أن اعتمادىم احلقيقي على اهلل.‬ ‫والعلماء الذين ىم ورثة األنبياء يتحلّون باإلخالص يف أعماهلم فهم ال يبتغون بإنشاء‬ ‫املعاىد اإلسالمية عرضا من الدنيا إمنا فعلوا ذلك ابتغاء مرضاة اهلل. من ىنا ميكننا أن نقول بأن‬ ‫اإلخالص ىو امليزة األوىل اليت تتميز هبا املعاىد اإلسالمية وبدونو فقدت املعاىد اإلسالمية ميزهتا‬ ‫األوىل اليت تنبين عليها، كما أن اإلخالص كذلك يعترب صبغة يتخلق هبا طالب املعاىد اإلسالمية.‬ ‫ومن الالفت لالنتباه أن شعار وزارة الشؤون الدينية اإلندونيسية اليت يعمل فيها الكثري من خرجيي‬
‫املعاىد اإلسالمية ىو : اإلخالص يف العمل )‪ . (Ikhlas Beramal‬من ىنا ميكننا ان نقول أن صبغة‬ ‫املعاىد اإلسالمية قد لونت شعار وزارة الشؤون الدينية اإلندونيسية.‬ ‫ّ‬ ‫اإلخالص ىو أن جيعل املسلم كل أعمالو هلل -سبحانو- ابتغاء مرضاتو، وليس لغريه. فهو ال يعمل لرياه‬ ‫الناس، ويتحدثوا عن أعمالو، وميدحوه، ويثْ نُوا عليو . على املسلم أن خيلص النية يف كل عمل يقوم بو حىت يتقبلو‬ ‫ف‬ ‫اهلل منو ، ألن اهلل -سبحانو- ال يقبل من األعمال إال ما كان خالصا لوجهو تعاىل. قال تعاىل يف كتابو: {وما‬ ‫ً‬

‫أمروا إال يعبدوا اهلل خملصني لو الدين حنفاء} [البينة: 5] وقال صلى اهلل عليو وسلم: (إن اهلل ال يقبل من العمل‬ ‫إال ما كان لو خالصا، وابْتُغِي بو وجهو) النسائي.‬ ‫ُ‬ ‫ً‬
‫62‬ ‫0102 ‪Juni‬‬

‫‪Lughah‬‬
‫‪Arab‬‬

‫عملو ألن اهلل أمر بإتقان العمل وإحسانو، والتاجر املخلص يتقي اهلل يف جتارتو، فال يغايل على الناس، إمنا يطلب‬ ‫هبذا العلم. فاملسلم ال بد أن يتحلى اإلخالص يف العبادة . فاهلل تعاىل ال يقبل من طاعة اإلنسان وعبادتو إال‬ ‫ب‬ ‫ما كان خالصا لو، وقال صلى اهلل عليو وسلم يف احلديث القدسي عن رب العزة: (أنا أغىن كاء عن الشرك،‬ ‫الشر‬ ‫ً‬ ‫:إن ىناك قوما يعبدون شجرة،‬ ‫ً‬ ‫حيكى أنو كان يف بين إسرائيل رجل عابد، فجاءه قومو، وقالوا لو‬ ‫كبًن، وقال لو :إىل أين أنت ذاىب؟‬ ‫الربح احلالل دائما، والطالب املخلص جيتهد يف مذاكرتو وحتصيل دروسو، وىو يبتغي مرضاة اهلل ونَفع املسلمٌن‬ ‫ْ‬ ‫ً‬

‫واإلخالص صفة الزمة للمسلم سواء كان عامال أو تاجرا أو طالبًا أو غًن ذلك. فالعامل املخلص يتقن‬ ‫ً‬

‫من عمل عمال أشرك فيو معي غًني، كتُو كو) [رواه مسلم].‬ ‫تر وشرَ‬

‫كون باهلل؛ فغضب العابد غضبًا شديدا، وأخذ فأسا؛ ليقطع الشجرة، ويف الطريق، قابلو إبليس يف صورة شيخ‬ ‫ويشر‬ ‫ً‬ ‫ً‬ ‫فقال العابد: أريد أن أذىب ألقطع الشجرة اليت يعبدىا الناس من دون اهلل. فقال إبليس: لن كك‬ ‫أتر‬ ‫خًن لك، فأنت فقًن ال مال لك، فارجع عن قطع الشجرة وسوف أعطيك عن كل يوم دينارين، فوافق العابد .‬ ‫ويف اليوم األول، أخذ العابد دينارين، ويف اليوم الثاين أخذ دينارين، ولكن يف اليوم الثالث مل جيد الدينارين؛‬

‫تقطعها . وتشاجر إبليس مع العابد؛ فغلبو العابد، وأوقعو على األرض .فقال إبليس: إين أعرض عليك أمرا ىو‬ ‫ً‬

‫فغضب العابد، وأخذ فأسو، وقال: البد أن أقطع الشجرة. فقابلو إبليس يف صورة الشيخ الكبًن، وقال لو: إىل‬ ‫أين أنت ذاىب؟ فقال العابد: سوف أقطع الشجرة.‬ ‫فقال إبليس: لن تستطيع، وسأمنعك من ذلك، فتقاتال، فغلب إبليس العابد، وألقى بو على األرض،‬ ‫ُ َ‬

‫فقال العابد: كيف غلبتَين ىذه املرة؟! وقد غلبتُك يف املرة السابقة! فقال إبليس: ألنك غضبت يف املرة األوىل هلل‬ ‫َ‬

‫تعاىل-، كان عملك خالصا لو؛ فأمنك اهلل مين، أما يف ىذه املرة؛ فقد غضبت لنفسك لضياع الدينارين،‬‫و‬ ‫َّ‬ ‫َّ‬ ‫ً‬

‫فهزمتُك وغلبتُك.‬

‫وىذا ىو السر يف استمرار كيان املعاىد اإلسالمية يف إندونيسيا يف تارخيها الطويل، ذلك ألن‬ ‫العلماء الذين يتولون شؤون املعاىد اإلسالمية يتحلون باإلخالص، فهم خملصون يف تربيتهم‬ ‫ونعليمهم وعملهم. فإذا أردنا أن يكون معهدنا قويا فاإلخالص ال بد أن يكون صبغة للمعهد‬ ‫تتمثل يف مجيع نواحي احلياة فيو، وليس جمرد صبغة فارغة. (ع س)‬
‫0102 ‪Juni‬‬ ‫72‬

Opini
KH. Mufid Mas’ud

Memaknai Kembali Pesan-pesan Romo KH Mufid Mas’ud
Oleh : DR. H. Ali Nurdin
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

P

Ada kesan bahwa setelah khataman bil ghoib sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari

ada bulan September tahun 1991, saya diantar oleh ayah saya berpamitan kepada Romo Kiai Mufid Mas’ud, sekaligus mohon doa restu untuk dapat melanjutkan kuliah di Jakarta. Saat itu, hati saya berdebar-debar menunggu respon beliau. “Kowe tak izinke, ning adimu ora usah melu kowe” (kamu saya izinkan tapi adikmu tidak usah ikut kamu). Akhirnya saya mantap melangkah untuk meneruskan studi di Jakarta. Sementara adik saya, Dalhari, mengikuti pesan Romo Kiai ke Jawa Timur Saya percaya setiap santri, apalagi yang huffadz, pasti memperoleh isyarah, amanah, pesan -atau apalah namanya- baik langsung maupun tidak langsung, dari Romo Kiai. Hal-hal tersebut begitu penting untuk kita renungkan kembali sebagai bekal untuk melanjutkan estafet perjuangan beliau dalam berhidmat kepada Al-Qur’an khususnya, dan Islam pada umumnya. Di sisi lain yang juga menarik adalah, bahwa pesan yang ditujukan kepada masing-masing santri tidak sama. Beliau memberi arahan yang belakangan disadari oleh masing-masing santri sebagai hal yang tepat untuk dijadikan lahan pengabdian. Dalam berspektif ilmu pendidikan modern, inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “guru visioner”. Yang bukan hanya memberi pengetahuan dan wawasan, melainkan juga mampu menginspirasi agar setiap

murid atau santri nantinya dapat memberikan pengabdian terbaik pada bidang masing-masing. Ada beberapa pesan beliau -sepanjang yang saya dapat tangkap- yang selalu relevan untuk menjadi bekal kehidupan. Menuntut Ilmu Tiada Henti Ada kesan, khususnya di kalangan santri huffadz, bahwa setelah khataman bil ghoib dilaksanakan sepertinya menjadi akhir tugas menuntut ilmu. Kesan yang keliru seperti inilah yang seingat saya selalu ditekankan oleh Romo Kiai agar dihindari. Mengahafal Al-Qur’an secara lancar adalah sebuah kewajiban khususnya bagi santri huffadz, tetapi hanya berhenti di menghafal saja belum cukup untuk dapat menjadi bekal berhidmat secara ideal terhadap Al-Qur’an. Maka setiap usaha untuk lebih dapat memahami, menghayati dan pada akhirnya mengamalkan isi kandungan AlQur’an adalah cita-cita Romo Kiai yang harus terus digelorakan oleh setiap santri. Harapan beliau jelas merupakan manifestasi dari ajaran AlQur’an. Di sini saya berikan ilustrasi bagaimana Al-Qur’an mendorong orang agar terus menuntut ilmu. Apresiasi atau perhatian Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan dapat kita mulai dari melihat betapa seringnya kitab suci ini menyebut kata ‘ilm (pengetahuan) dengan

28

Juni 2010

Opini
KH. Mufid Mas’ud segala derivasinya (pecahannya) yang mencapai lebih dari 800-an kali. Belum lagi ungkapan lain yang dapat memiliki kesamaan makna menunjuk arti pengetahuan, seperti: kata al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, aldzikr, dan lain sebagainya. Kata ‘ilm menurut para ahli bahasa Al-Qur’an mengandung arti “pengetahuan akan hakekat sesuatu”. Dari kata kunci inilah, kita dapat mulai melacak bagaimana Al-Qur’an memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan di antaranya: Pertama, wahyu Al-Qur’an yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun, al’Alaq [96]: 1-5, tergambar dengan jelas betapa kitab suci Al-Qur’an memberi perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah Swt menurunkan petunjuk pertama kali terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut menggunakan kata ”Iqra”. Makna perintah tersebut bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra’ adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman. Itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang, makna iqra’ dekat dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan pemahaman). Kedua, tugas manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan dalam surat alBaqarah [2]: 30-31. Ketiga, Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Ajaran ini tertuang dalam surat Thaha [20]: 114. Dalam ayat tersebut diajarkan salah satu doa yang harus dipanjatkan oleh setiap Muslim untuk memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu pengetahuan. Dari ayat ini juga dapat dipetik pelajaran bahwa Al-Qur’an mengajarkan, menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai tinggi dan harus dilakukan oleh setiap Muslim sepanjang hidupnya. Maka kalau pada masa modern dikenal istilah pendidikan seumur hidup (long live education), maka Islam sejak awal menekankan kepada umatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Etos untuk terus menambah ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan bahwa yang disebut belajar atau menuntut ilmu bukan hanya pada usia tertentu atau dalam formalitas satuan pendidikan tertentu. Sepanjang hayat masih dikandung badan, maka kewajiban untuk terus menuntut ilmu tetap melekat dalam diri setiap Muslim. Salah satu hikmahnya adalah bahwa kehidupan terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju kemajuan. Maka, kalau seorang Muslim tidak terus menambah pengetahuannya jelas akan tertinggal oleh perkembangan zaman. Al-Qur’an jelas membedakan antara orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengethuan. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Zumar [39]: 9 Artinya: … Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Keempat, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam surat al-Mujadalah [58]: 11. Dari ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan dan kesuksesan hidup hanya milik orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan maka tidak akan memperoleh kemuliaan di sisi Alla. Sebaliknya, bagi orang yang hanya berilmu saja tanpa disertai iman maka juga tidak akan membawa manfaat bagi kehidupannya, termasuk di akhirat kelak. Pesan lain Romo Kiai yang tidak kalah pentingnya adalah agar setiap santri istiqomah dalam bermujahadah. Memaknai Mujahadah Setiap santri Pesantren Sunan Pandanaran pasti mengetahui apa itu mujahadah, yang minimal mereka laksanakan setiap seminggu sekali, yaitu pada Kamis malam dan Jum’at pagi. Dengan bermujahadah, pesan moral seperti apa yang hendak Romo Kiai ajarkan kepada para santrinya? Dari yang selalu beliau sampaikan kepada para santri, paling tidak ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu: Pertama, berusaha sungguh-sungguh. Pesan moral yang ingin beliau ajarkan kepada para santri adalah, cita-cita mulia tidak mungkin tercapai tanpa kesungguhan. Ini sesuai dengan makna kebahasaan mujahadah yang mengandung arti ”sungguh-sungguh”. Saya masih selalu ingat bagaimana beliau menekankan agar bersungguhsungguh dalam menjalani hidup dan akan mengecam santri yang malas dan banyak tidur. Kedua, mengajarkan kemandirian. Dengan bekal mujahadah, setiap santri dididik untuk dapat berkhidmad kepada AlQur’an secara mandiri. Maksudnya tidak menggantungkan uluran tangan orang lain, tetapi berserah diri kepada Allah Swt. Tekad yang kuat, usaha sungguh-sungguh dan bertawakkal kepada Allah Swt itulah resep yang selalui beliau ulang untuk dapat diresapi para santri. Ketiga, kekuatan doa. Dengan bermujahadah, Romo Kiai Mufid ingin mengajarkan kepada para santri bahwa pintu pertolongan Allah tidak pernah terkunci, hanya perlu didatangi secara istiqomah. Terkadang pintu pertolongan dari-Nya harus diketuk, dan itulah fungsi berdoa. Dengan berdoa secara sungguhsungguh setiap niat baik insya Allah akan mendapat ridho Allah swt. Firman Allah, “Tuhanmu tidak akan mempedulikan hidupmu kalau bukan karena doa-doamu...” (al-Furqan [25]: 77). Wallahu a’lam.
* Alumnus Huffadz PPSPA 1991, Pembantu Rektor III PTIQ Jakarta

Juni 2010

29

Opini
KH. Mufid Mas’ud

Etos Kemandirian

Mbah Mufid
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Oleh : Mohammad Ali Hisyam

B

Imbauan untuk memanggil beliau dengan panggilan “Bapak” serta “Mas” dan “Mbak” untuk keluarga ndalem bisa dimaknai sebagai keinginan yang amat tulus untuk meniadakan jarak emosional dan tabir sosial antara seorang Kiai dan para santri tanpa sekali-kali menafikan aspek akhlaq

anyak ihwal yang dapat kita teladani dari profil almarhum almaghfuuru lahu KH. Mufid Mas’ud. Para santri dan alumni, langsung maupun tidak, telah diwarisi oleh pelbagai wejangan, etos perjuangan, karakter, hingga tauladan hidup yang sarat nilai luhur dari pengalaman hidup bersama ulama kharismatik kelahiran Klaten ini. Pembacaan dan penafsiran kita akan pengalaman tersebut seyogiyanya mampu menjadi ransum spirit untuk bekal hidup nyata di lingkungan sosial masyarakat. Beberapa warisan moral yang bisa dipelajari dari biografi beliau antara lain adalah sikap kekeluargaan yang beliau patrikan kepada keluarga dan para santrinya. Sikap simpatik dan familiar yang bukan hanya sebatas anjuran, melainkan lebih pada penerapan secara langsung. Contoh kecil, imbauan untuk memanggil beliau dengan panggilan “Bapak” serta “Mas” dan “Mbak” untuk keluarga ndalem. Betapapun, hal ini bisa dimaknai sebagai keinginan yang amat tulus untuk meniadakan jarak emosional dan tabir sosial antara seorang Kiai dan para santri, tanpa sekali-kali menafikan aspek akhlaq dan relasi guru-murid yang wajar di dalamnya. Lazimnya di pondok pesantren, hubungan antara kiaisantri yang bersifat hierarkis (atasbawah), pada titik ini, coba untuk diminimalisir, sehingga relasi berjalan harmonis dan cair. Perasaan dan ketulusan yang hadir layaknya seorang ayah dan anak dalam sebuah simpul ikatan keluarga. Bagaimanapun, ada nuansa keteduhan yang hangat dan penuh ayom ketika seorang

santri merasa dianggap sebagai anak yang didekap dalam asuhan. Bapak menjadikan Ponpes Sunan Pandanaran yang dirintisnya semenjak tahun 1975, miniatur dari keluarga besar yang memadukan mozaik aneka warna dalam satu harmoni. Kesan lain yang bisa kita baca dari sejarah kehidupan Bapak adalah kentalnya kegigihan dalam mengarungi hidup. Keuletan berikhtiar kerap tidak hanya terdengar dari pesan-pesan beliau. Lebih dari itu, Bapak mengajari para santri untuk benar-benar mempraktikkan konsep beribadah (amal) senafas dengan upaya bekerja keras dalam bentuk riyadhah yang kontinu. “Menungso iku kudu gelem urip rekoso…”, Kurang lebih begitulah sejuknya ungkapan nasihat yang acapkali kita dengar dari Bapak. Perpaduan antara iman, ilmu, dan amal mesti diwujudkan secara praktis. Himbauan “riyadhoh sing mempeng” khas Mbah Mufid tidak lagi menari sebatas slogan belaka, namun para santri benar-benar diajak guna melihat dan terlibat langsung. Langkah da’wah bil haal yang ditempuh Bapak, dirasa lebih mampu memberikan atsar (pengaruh) yang pekat dan membekas kuat pada kesadaran orang-orang di sekelilingnya, terutama para santri. Upaya keras untuk senantiasa belajar sekaligus memanfaatkan ilmu, pada aras ini, sealur dengan pesan Imam Syafi’i, “wa nshab fainna ladzidz al-‘aisyi fi annashab”. Bekerja dan belajar yang optimal adalah wujud dari kenikmatan hidup yang hakiki. Membaca Al-Qur’an, sholawat dan beragam aurad adalah rangkaian amalan harian pokok yang diterapkan sekaligus diwanti-wanti Bapak supaya

30

Juni 2010

Opini
KH. Mufid Mas’ud dilakukan oleh para santri dengan penuh keikhlasan. Nyaris tak boleh ada celah waktu yang kosong dari kegiatan bernuansa amal dan ibadah. Pola pemanfaatan waktu ala Bapak semacam ini dapat disaksikan secara nyata. Betapa beliau, misalnya, demikian istiqamah mengamalkan amalan, kapanpun dan dimanapun kesempatan untuk melakukan hal itu tersedia. Bagaimana Bapak selalu membaca Al-Qur’an di setiap kesempatan. Mulai dari dalam kamar kediaman beliau, di masjid bersama santri, di atas kendaraan saat bepergian, hingga di tempat darurat seperti rumah sakit, ketika beliau menjalani pelayanan medis. Sejumlah saksi melukiskan bagaimana Bapak selalu tak lepas dari membaca Al-Qur’an bahkan hingga detik menjelang kewafatan beliau. Makna sejati dari tauladan yang disodorkan Bapak adalah “tak bakal pernah ada kesulitan dan akan selalu tersedia kemudahan, apabila seseorang memang berniat untuk mengerjakan kebajikan.” Menjauhi amalan, dengan berbagai alasan, hanyalah belaka bualan dan buah dari kemalasan. Faqra’uw ma tayassara min al-qur’an… Kemauan untuk bekerja keras yang diwariskan oleh Bapak, pada dimensi tertentu, juga berarti ajakan kuat untuk memantapkan kemandirian. Usaha seseorang merupakan ukuran sejauh mana ia berniat untuk mandiri tanpa (harus selalu) bergantung kepada fasilitas pemberian orang lain. Mental baja berupa sikap pantang mengemis iba dan merangsang simpati dari pihak lain, ditunjukkan oleh Bapak dalam banyak hal. Antara lain dalam aspek penggalangan modal finansial bagi pembangunan dan pengembangan pesantren. Bapak mengajarkan agar kita merasa segan meminta serta mencegah para santri untuk mendamba belas kasihan orang. Ikhtiar dan doa dibingkai menjadi satu paket penangkal bagi mentalitas malas yang selalu mengandalkan uluran bantuan orang lain. Kita dituntut untuk selalu berupaya dengan jerih payah sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri senyampang masih memiliki kekuatan untuk bertahan dan melangkah. Walaupun bukan berarti kita harus selalu menolak bantuan dan derma orang yang hendak memberi sokongan dalam pelbagai bentuk pertolongan. Bapak mendidik kita bagaimana menghargai usaha dan kemandirian tanpa menafikan dan memadamkan minat orang lain untuk juga turut berbagi menanam dan memanen kebajikan. Man jadda wajada. Ringkasnya, keringat sendiri niscaya akan tercium lebih wangi, dan semangat mandiri bakal terasa nyaman dinikmati. Pusaka kebajikan lain yang ditaburkan oleh Bapak guna ditauladani adalah keinginan dan sikap untuk selalu menghargai siapapun. Kemauan luhur idkhal assuruur, menyenangkan orang, tercermin harus mewah. Kesan bahwa Bapak adalah pribadi yang cinta kebersihan dan keteraturan, antara lain bisa dilihat dari anjuran beliau agar para santri saat menyetor hafalan AlQur’an senantiasa berbusana polos, menghindari pakaian beraneka motif dan berwarna mencolok. Bahkan, lebih kurang sejak awal tahun 2000an, seluruh santri mutahafidzien diwajibkan mengenakan gamis putih. Dan ini berlaku hingga sekarang. Demikianlah. Sejumlah kesan di atas hanyalah sekelumit gambaran dari sehimpunan tauladan yang akan amat panjang bila diurai. Seorang bekas santri yang nakal seperti saya, sungguh jauh dari pantas, jelas hanya berkemampuan selintas, dan tak akan pernah tuntas menggambarkan kelas dan figuritas KH. Mufid Mas’ud, salah seorang sosok ulama kharismatik yang telah mampu melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat di seantero nusantara dalam binaan dan didikannya. Ibarat biografi tebal, kisah kehidupan beliau adalah karya pustaka historis yang fenomenal, yang mungkin saya sendiri (sebagai santri biasa), hanya mampu meraba dan mengeja di sekisar lembar pengantar saja. Belum menyentuh kandungan isi (apalagi sampai pada halaman kesimpulan) yang sesungguhnya. Akhirnya kita bisa berharap semoga jasa-jasa besar beliau mampu memayungi jiwa, memancarkan motivasi dakwah, dan memantik spirit kebaikan kepada para santri, alumni, dan masyarakat muslim pada umumnya. ‘Alaa kulli haal, membaca profil Bapak, saya teringat pepatah klasik: “Nyalakanlah sinar walau hanya secercah cahaya lilin. Itu lebih baik dari sekedar diam sembari terus mengutuk kegelapan”. Kafaa Billahi ‘Alymaa...
* Alumnus PP Sunan Pandanaran. Karyakaryanya berulang kali dimuat di media cetak nasional seperti KOMPAS, Jawapos, Seputar Indonesia, Republika, Tabloid BOLA dan sebagainya. Sempat menjadi dosen di Universitas Trunojoyo, Madura dan kini sedang melanjutkan studinya di Malaya University, Kuala Lumpur, Malaysia.

“Ikhtiar dan doa dibingkai menjadi satu paket penangkal bagi mentalitas malas yang selalu mengandalkan uluran bantuan orang lain.”
antara lain dari kebiasaan Bapak yang senantiasa berusaha menghadiri undangan tepat pada waktu yang ditentukan. Pun juga usaha untuk menghindari kekecewaan tuan rumah saat ia berniat menghormati kita. Seorang alumni pernah menuturkan pengalaman saat mendampingi Bapak pada sebuah acara dalam kondisi ada santri yang sedang berpuasa sunnah. Bapak tak urung menyuruh si santri untuk membatalkan puasanya dan menikmati hidangan yang disuguhkan, semata demi menyenangkan perasaan sang tuan rumah. Beliau juga selalu membawa para santri menghadiri undangan dengan penampilan yang rapi dan simpatik. Satu hal lagi, Bapak selalu berpenampilan (khususnya busana yang dikenakan) bersih, rapih, dan pantas. Ini bagian dari pengamalan bahwa indah tak selalu

Juni 2010

31

Sastra
Cerpen

SENYUM YANG TERENDAP
Oleh: Khaleedah (Komplek IV)
“Nanti, pa’e bawakan aku mainan to, bu? Arif mau mobil-mobilan, bu.” Si bungsu ikut merengek. “Iya, nanti pasti pa’e bawakan hadiah dan mainan buat kalian.” Masih dengan senyum pahit ia menjawabnya. Begitulah, entah sejak kapan suaminya berubah sikap dan ia tak berani menanyakan sebabnya. Yang ia tahu hanyalah bagaimana menjadi istri yang baik bagi suaminya. Dan kini, suaminya pergi begitu saja. Ia harus sendirian membesarkan dan merawat kedua anaknya, calon anak yang ada dalam kandungannya, dan juga ibunya. Dengan peluh bercucuran, tiap hari ia merasakan kepayahan menggarap sawah yang juga ditinggalkan suaminya begitu saja. Ia harus bekerja membanting tulang dalam keadaan hamil tua. Dalam tiap kepayahannya, ia menyesali dan meratapi nasibnya. Mengapa dalam keadaan seperti ini haruslah ditinggalkan suami entah ke mana. Belum lagi pertanyaan anakanaknya kenapa si bapak tak kunjung pulang. Tak kunjung membawakan mainan. Ia hanya mampu menjawab dengan (lagi-lagi) senyum pahit. ***** Dua koper besar telah ia siapkan. Ia merasa yakin tak ada lagi barang yang harus dibawa atau ketinggalan. Ibunya hanya mengamati dengan khawatir. “Ratna, ibu tahu kamu butuh biaya untuk melanjutkan hidup, untuk membesarkan anak-anakmu, tapi apa harus dengan pergi ke Malaysia begini? Mereka masih kecil-kecil. Bagaimana dengan anak yang baru kau lahirkan itu? Dia masih membutuhkan ibunya.” “Saya titip sama ibu saja. Saya yakin ibu bisa merawat mereka. Ningsih dan Arif sudah besar. Ibu masih bisa makan dari sawah garapan atau sayuran di kebun belakang. Ibu kan masih berjualan singkong to? Ratna pikir itu cukup bu.”

H

idup adalah perjuangan. Setidaknya itu yang pernah didendangkan DEWA 19 dalam salah satu hitsnya. Bagiku, kalimat itu memang benar. Hidupku adalah untuk berjuang, untuk apa saja. Gelapnya langit malam Singapura membuat hatiku ikut kelam. Tak ada satupun bintang mau muncul. Ah, adaada saja langit ini. Ingin ikut-ikutan suasana hatiku. Sedari tadi bolpoin yang kupegang masih tak bergeming. Kertas di hadapku pun masih kosong. Entah kenapa buntu sekali. Sampaisampai tak tahu apa yang mau kutulis. Seharusnya suasana sepi begini aku bisa menjadi lebih mudah menyampaikan isi hatiku lewat kertas dan pena ini. Mungkin aku membutuhkan sedikit hiburan. Kuputuskan menyetel lagu kesukaanku. Terdengar lagu Arab dari penyanyi terkenal favoritku. Ya, lumayan. Meskipun lagunya sedih dan menyayat hati, namun sedikit menjadikanku lega. Lega luar biasa… aku tahu apa yang harus aku tulis

sekarang. ***** 21 tahun yang lalu… Hujan luar biasa deras. Namun tak menghentikan pria itu untuk mengemasi seluruh barang-barangnya. Sangat terlihat ia begitu terburu-buru. Sang istri tak bisa mencegah. Ia tak kuasa berbuat apa-apa. Hanya air mata yang ia rasakan mengalir luruh di pipinya. Sambil mengelus perut buncitnya yang semakin besar, ia melihat suaminya pergi, tanpa menoleh sedikitpun padanya ataupun pada kedua anaknya yang terbangun mendengar sedikit keributan di tengah malam itu. Sang istri menyerah. Ia tahu, mencegah dan merengek tak akan membuat hati suaminya luluh. “Bu, pa’e mau ke mana?”Tanya si kecil Ningsih. “Bapakmu cuma mau pergi kerja. Nanti kalau pulang pasti kalian dibawakan oleh-oleh,”dengan senyum pahit terpaksa ia menjawab pertanyaan Ningsih.

32

Juni 2010

Sastra
Cerpen
“Lalu dengan bayimu?” “Terserah ibu , mau diasuh tetangga juga tidak apa-apa. Kan ibu bisa menitipkannya. Ya to?” Begitulah, penderitaannya telah menjadikan Ratna keras sekeras batu, hatinya tak lagi luluh meskipun bayinya menangis meronta. Ia tak peduli lagi. Yang ia tahu, ia membutuhkan uang sesegera mungkin. Ia ingin memulai hidup sebagai Ratna yang baru. Perusahaan yang menyalurkan TKW itu juga tak bisa menunggunya terlalu lama untuk memutuskan apakah ia akan ikut atau tidak. Rani kecil menangis meraung-raung. Tapi ibunya tak sedikitpun meliriknya. Neneknya kewalahan menenangkan. **** Rani. Dia masih terlalu kecil saat kau tinggalkan. Seharusnya sekarang kau melepas rindu padanya.” “Melepas rindu? Saya tidak rindu sama sekali. saya Cuma ingat Ningsih dan Arif. Rani itu bagian dari hidup pahit saya bu, kalau saya dekat-dekat dia nanti akan ada kejadian pahit lagi.” “Astaghfirullah..kamu ini kenapa, Ratna? Racun apa yang membuatmu begini?”. Kulihat ibu pergi begitu saja. Sekarang aku tahu sebabnya, mengapa ibu tidak peduli padaku. Lulus SD, aku minta mondok. Entah kenapa aku semakin tidak betah di rumah. Mbak Ningsih sekarang bekerja di Arab. Hanya mas Aziz yang tahu seperti apa perasaanku saat ini. sehabis subuh, melantunkan sholawat menjelang maghrib, mengkaji kitab beramai-ramai. Bahkan kalau boleh, aku mau hidup di sini sampai kapanpun. Tapi itu kan tidak mungkin. Kembali ke rumah hanya akan membuatku semakin tidak bahagia. Tak ada senyum dan keramahan ibu. Pernah suatu kali, saat libur panjang tiba. Aku pulang dengan berat hati, berbeda dengan teman-temanku yang bersuka cita karena tentu saja akan bertemu dengan keluarga. Aku tidak rindu ibu. Rinduku mengendap dan akhirnya hilang entah kemana. Aku hanya rindu simbah. Juga mas Arif. **** Menjelang ujian nasional, aku menelpon bapak diam-diam. Kudapatkan nomor itu dari dompet ibu. Kabar terakhir yang kutahu, bapak menikah dengan putri juragan minyak. Namun mereka mengalami kebangkrutan. Ada rasa berdebar saat kudengar nada sambung. apakah bapak mengenaliku? Terdengar suara pria di seberang. Ia bertanya siapa aku dan untuk keperluan apa. Tapi… “Maaf, saya ndak kenal. Ratna itu siapa? Sampean salah sambung!” Begitulah, padahal aku hanya ingin minta doa pada bapak agar lancar mengerjakan. Setidaknya, saat wisuda perpisahan madrasah nanti bapak berkenan hadir. Tapi kalau begini? Entahlah, aku sudah tak yakin lagi. Ibu sendiri semakin tidak ramah. Jika aku di rumah, ibu lebih sering melampiaskan kekesalannya padaku. Hanya gara-gara aku menggoreng bakwan hingga gosong, ibu marah dan memaksaku menghabiskan bakwan gosong itu hingga habis di depannya dengan menjejalkannya pada mulutku. Jadi begini rasanya adegan-adegan sinetron anak tiri di televisi itu. Aku sudah merasakannya. Barangkali, lain waktu aku bisa ikut audisi film berjudul

Aku tak pernah tahu seperti apa wajah ibu. Tak ada satupun foto ibu di rumah. Aku yakin simbah menyembunyikannya di suatu tempat. Pernah kucoba mencari di gudang, namun tak kutemukan . Yang ada malah simbah marah-marah. Hari itu, ketika ibu pulang dari Malaysia, aku masih kelas dua SD. Aku begitu rindu dan berharap mendapatkan pelukan hangat yang tak pernah kurasakan. Namun ia hanya acuh, tanpa senyum. Tapi mengapa kedua kakakku mendapatkan peluk dan senyum? Sedangkan aku tidak? Yang kudapat hanyalah oleh-oleh mainan, boneka dan uang. Aku tak butuh itu untuk meredakan rinduku. Yah, mungkin saja nanti ibu akan memberikannya. Ya, pasti ibu akan memberikannya nanti. Samar-samar aku mendengar suara simbah. “Ratna, itu kan anakmu. Masa kamu ini tidak tahu?” “Oh, iya to bu? Ratna ndak tahu, bu. Biar sajalah. Memangnya kalau dia anakku lalu kenapa, bu?” “Ratna! Terserah kalau kamu mau marah karena Darno meninggalkanmu! Tapi jangan kau lampiaskan pada

“Astaghfirullah..kamu ini kenapa, Ratna? Racun apa yang membuatmu begini?”. Kulihat ibu pergi begitu saja. Sekarang aku tahu sebabnya, mengapa ibu tidak peduli padaku.
Dari sejak ibu pulang dari Malaysia, ibu tak pernah sekalipun memberikan senyumnya untukku. Sulitkah itu? Aku selalu berusaha menjadi anak yang baik, agar mendapatkan senyuman ibu. Tapi semuanya sia-sia. Aku pun memutuskan ingin tinggal di pesantren. Dengan begitu, akan banyak orang yang memberikanku senyum. Aku akan punya banyak kawan yang akan menghiburku jika aku sedih dan akan selalu bersamaku ketika aku senang. Bukankah begitu seharusnya seorang sahabat? Benar saja, menyenangkan sekali memiliki banyak kawan. Menjadi santri adalah salah satu hal yang patut dibanggakan dalam hidupku. Bisa melantunkan bait-bait Alfiyah ibnu Malik bersama kawan-kawan

Juni 2010

33

Sastra
Cerpen
“Ratapan Anak Tiri”. Betul kan? Kuputuskan untuk melepas jilbab karena perusahaan penyalur TKW di mana aku mendaftar menjadi TKW memintaku melepasnya. Aku tak keberatan, karena kupikir yang penting aku tetap menjalankan sholat. Hanya saja, bait-bait Alfiyah itu telah pupus dari ingatanku. Aku terlalu sibuk mengejar hidupku yang tak pernah berarah, hampa, dan tanpa perhatian. Mbak Ningsih menikah sepulang dari Arab. Ibu menikah lagi dengan pria yang ia kenal di Malaysia. Dan sumpah, adik dari bapak baruku ini sangat menyebalkan. Mas Arif bekerja di Korea. Simbah meninggal. Dan aku? Aku bebas menentukan hidupku. Toh tak akan ada yang peduli. Aku akan ke Singapura. Biarlah, biar orang mengatai keluarga kami ini keluarga TKI. Tapi aku akan tetap berjuang untuk hidup ini. **** Ratna menerima sebuah amplop coklat berukuran sedang. Hampir tak pernah ada orang yang mengiriminya surat. Dengan terheran-heran, ia buka juga amplop itu. Ada dua lembar kertas berukuran sedang. Assalamu’alaikum wr. Wb. Ibu…Rani memang lancang mengirim surat pada ibu. Rani hanya ingin ibu tahu, saat ini Rani ada di Jakarta. Rani tidak tahu mau ke mana lagi. Majikan Rani tak bisa lagi membayar gaji Rani. Rani dikembalikan ke agen perusahaan. Rani minta maaf bu…kalau Rani tidak bisa membanggakan hati ibu. Rani tidak bisa seperti mbak Ningsih atau Mas Arif yang sukses di negeri orang. Padahal Rani baru saja bekerja 3 bulan. Ibu…Rani rindu ibu. Rani ingin sekali melihat senyum ibu. Apakah ibu pernah tahu? Rani sering mengintip ibu ketika sedang tersenyum atau tertawa-tawa dengan Mbak Ningsih atau Mas Arif. Itupun sudah cukup bu…Rani cukup bahagia ketika ibu pulang dari Malaysia membawakan rani boneka, mainan dan uang. Meskipun ibu tak ingat sedikitpun kalau Rani juga putri ibu. Ibu…Rani betul-betul minta maaf. Belum bisa berbakti. Tapi Rani akan kembali secepat mungkin. Meskipun ibu nggak peduli apakah Rani akan pulang atau tidak. Yang penting, Rani ingin ketemu ibu. Boleh kan, Rani memeluk ibu kalau pulang nanti? Rani ingat waktu Rani sakit, ibu datang ke pondok untuk menengok. Itu adalah pertama kalinya Rani merasa ibu sangat sayang karena wajah ibu telihat khawatir melihat Rani. Meskipun akhirnya, ibu memukul Rani yang tidak mandi 3 hari karena demam. Ibu betul, meskipun sakit tapi Rani harus tetap wangi. Iya kan bu? Ibu tahu tidak? Rani pernah memenangkan lomba nasyid dengan temanteman di pesantren? Rani senang sekali bu waktu itu. Saat itu sedang haul kyai Asrori, pengasuh pesantren tempat Rani mondok bu… Ibu, Rani boleh kasih ibu sebuah lagu? Di dalam amplop ada kaset. Di situ Rani rekam suara Rani. Ada lagu khusus untuk ibu. Tapi, kalau ibu tidak mau dengar…tidak apa-apa. Sekali lagi, Rani minta maaf… Wassalamu’alaikum wr. Wb. Ratna cepat-cepat memutar kaset itu. Berkumandang musik perlahan, kemudian disusul suara merdu Rani. Sebening tetesan embun pagi… secerah sinarnya mentariBila kutatap wajahmu ibu…Ada kehangatan di dalam hatiku Air wudhu selalu membasahimu… ayat suci slalu dikumandangkan Suara lembut penuh keluh dan kesah berdoa untuk putra putrinya Oh ibuku… engkaulah wanita yang kucinta selama hidupku maafkan anakmu bila ada salah… pengorbananmu tanpa balas jasa… ya Allah ampuni dosanya ….sayangilah seperti menyayangiku berilah ia kebahagiaan di dunia juga di akhirat…(a song by New Shaka) Untuk pertama kalinya Ratna tersenyum untuk Rani. Sayang, Rani tak melihatnya...

Pandanaran, di penghujung sore nan mendung 2009

34

Juni 2010

Sastra
Puisi

DI SUATU PAGI BUTA
Oleh: Diasz Kundi*
(1) Di pagi yang buta ini, semuanya terasa begitu membabi buta. Hingga suara adzan mengetuk jendela, masih kujaga gelombang pasang yang memburu dari balik tatapan mata itu. Siapapun akan tenggelam oleh tatapan matamu, jagoan. Ringkih jasadku yang dibesarkan oleh suaramu yang lantang jadi gemetaran seperti tiang listrik di perempatan. Maka bersetubuhlah aku dengan rasa rindu. Bergulungan dengan harapan dan pakaian kotor, menjadi satu. Sesampai di pagi yang begitu buta, aku masih tak percaya dengan pertemuan kita. “Anda pahlawan saya!” “wuih...”, jawabmu. “boleh saya memeluk Anda?” – aku jadi gadis puber yang dewana. (2) Di pagi yang buta ini, semuanya terasa begitu membabi buta. Gerimis yang tengah malam tadi mengirim kabut jadilah ia angin subuh, menggrayangiku lewat celah selimut. Aku berdiri menghindari rasa gamang juga mimpi buruk yang mungkin datang. Di luar sana, pagar tembok terlihat menggigil. Hawa fajar mulai turun memanggil. Pohon-pohon dan rumputan yang meninggi tersiksa oleh musim penghujan yang terlambat pergi. Di pagi yang buta ini, semuanya begitu terasa membabi buta. Tatapan matamu – di waktu kunikmati “Dendam Damai” ** dan sedikit pelukan yang kau berikan adalah gelombang pasang yang selalu memburu di jantungku. Kulepaskan wajah-wajah yang menghampiriku dengan tiba-tiba bersama bayang-bayang wajahku di cermin kaca. Saat tak sengaja kulihat potret diriku bersamamu di pagi yang buta ini, ah, aku jadi tersenyum sendiri. Yogyakarta, di pagi buta 15 Mei 2010.

Oleh : Quiet, Huffadz Putri Waktu pertama kupijakkan kaki di penjara nan suci ini Maujud... secercah cahaya Mengusung asa mengangkasa Kutertatih... Tersengal... Dalam desah nafasku dan denyut nadiku Segalanya kupertaruhkan Demi keyakinan sebuahkebenaran Kau hadir saat jiwaku gersang Ketikahatiku penuh karat dan di kala fikiranku bagai selokan tersumbat Dengan kasih sayangmu Kesabaran dan keuletanmu Kau benahi moralku Kau sinari jiwaku dengan ilmu-ilmumu Doamu sobat... Ikhlasmu Bunda... Ridlomu Masyayikh... Slalu kudamba Yogyakarta, Mei 2010

Dambaku

Do’a
Aku bukan khadijah, Bukan juga Aisyah,,, Tapi, aku selalu berbisik padaMu Dan selalu ku tuliskan pesan untukMu Kirimkan aku MuhammadMu,,,,,,, Sebagaimana Engkau kirimkan Muhammad pada mereka
HAMBA ALLAH Ngayogyokarto,,,,

GURU
Guru … Adalah siapa yang membawa kuas Yang menginspirasikan sketsa masa depanmu, Perlahan … Ia menyapu cat Dan menorehkannya pada kanvasmu, Ia mengubah putih menjadi pagi Merah menjadi senja dan hitam menjadi malam Maka … Seindah apapun lukisan, Sesungguhnya hanyalah kosong Tanpa sentuhan tangan-tangan sang guru Sharma

*Diasz Kundi, lahir di Rembang, 8 April 1985 dengan nama Mohammad Dzul Fahmi bin Asrori Zein. Nama “Diasz” merupakan singkatan dari nama itu. Sedangkan “Kundi” adalah nama daerah dimana dia dibesarkan. Buku antologi puisinya yang segera terbit adalah “Teras”. **Dendam Damai adalah judul lagu ke-empat dari lima lagu yang dinyanyikan Iwan Fals saat konser religi di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Juni 2010

35

Sirah Mutakharij
Kiai Munawir
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Belajar Hidup Untuk Lebih Hidup
guru ngaji Al-Qur’an yang jelas sanadnya. Sebab, kata kiai itu, bacaan Al-Qur’an merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Tidak lama setelah itu, Mbah Wing berketetapan hati untuk mengaji Al-Qur’an di bawah asuhan KH. Mufid Mas’ud. “Waktu itu sekitar tahun 1975 ketika saya sowan ke Romo Kiai Haji Mufid di Krapyak. Kebetulan pas saya datang, beliau sedang berada di Malang, Jawa Timur. Saya pun menunggu kedatangan beliau selama tiga hari,” kenang Mbah Wing. Ia melanjutkan, ketika Romo Kiai Mufid kembali, ia pun menghadap kepada beliau, dan beliau berkata kepadanya, “Kang, aku arep pindah nang Candi Sardonoharjo, jalan Kaliurang. Sampeyan arep nderek opo tetep neng kene?. Aku ngaji isaku mulang Al-Qur’an, ora ono kitabe. Kono dipenggalih! Yen arep nderek nang Candi telung dina maneh bareng bocah-bocah,” (Kang, saya akan pindah ke Candi Sardonoharjo. Kamu akan ikut saya atau tetap di sini? Saya hanya mengajar ngaji Al-Qur’an, tidak ada ngaji kitabnya. Coba itu dipertimbangkan!. Kalau mau ikut bersama saya nanti berangkat tiga hari lagi bersama santri-santri lainnya). “Saya pun ikut Kiai Mufid pindah ke Candi dengan menumpang mobil truk. Setelah sampai di lokasi, saya benar-benar terkejut. Ternyata beliau tinggal bersama santri di dalam rumah yang sangat sederhana. Satu kamar mandi dipakai untuk bersamasama. Padahal ketika di Krayak, beliau tinggal di rumah yang cukup bagus untuk ukuran saat itu,” kenang Mbah Wing. “Kiai Mufid, Bu Nyai dan puteraputeri beliau tinggal bersama santrisantri putri. Sedangkan saya dan teman-teman santri putra lainnya tinggal di masjid,” tambahnya. Itu merupakan pelajaran pertama tentang hakekat perjuangan hidup yang dicerap oleh Mbah Wing dari Romo KH Mufid. Semakin lama hidup bersama beliau, semakin banyak pula ilmu hikmah yang didapat Mbah Wing. Salah satunya adalah bahwa jadi orang tidak perlu malu untuk mendapatkan ilmu, meskipun ilmu itu berasal dari orang yang statusnya berada di bawah kita. Status di bawah kita bisa berarti ia adalah anak didik, adik kelas, atau usianya lebih muda dari kita. “Hal itu dicontohkan langsung oleh Kiai Mufid kepada saya. Beliau tidak segan-segan memanggil saya untuk mengajak musyawarah membahas isi kitab Fathul Wahab, Ihya Ulumuddin, dan kitab-kitab lainnya,” ungkap Mbah Wing. Keteladanan ini, menurut Mbah Wing, menunjukkan kerendahan hati dan kelapangan dada beliau. Kiai Mufid membuka diri pada ilmu yang datang dari siapa saja, meskipun itu santrinya sendiri. Sikap tersebut merupakan perwujudan amalan dari ajaran Al-Qur’an, bahwa tidak ada satu orang yang lebih unggul dari orang lain di hadapan Allah, kecuali ketakwaannya saja. (Udik)

S

emua perubahan hidup yang dialami Kiai Munawir berawal dari kisah tragis ayahandanya. Sebuah peluru panas menembus tubuh sang ayah ketika berjuang mempertahankan aqidahnya. Singkat cerita, sang ayahpun meninggal dunia. Peristiwa itu memicu semangat Munawir kecil, atau yang akrab disapa Mbah Wing, untuk belajar ilmu-ilmu kanuragan. Tak mau bernasib seperti ayahnya, ia pun bertekad menjadi orang sakti mandraguna, agar kebal dari peluru dan benda-benda tajam lainnya. Otot kawat balung wesi, ora tedas tapak paluning gurindo (otot kawat tulang besi, tidak mempan segala macam senjata). Demikian prinsip utama Mbah Wing kala itu Maka, setelah menamatkan belajar dari Sekolah Dasar Kanisius pada tahun 1965, ia pun meminta kepada ibunya untuk memasukkannya ke pesantren. Ia mengira, pesantren lah tempat yang tepat untuk mengasah kemampuan ilmu-ilmu kanuragan. Sang ibu tidak dapat menolak permintaannya. Ia disantrikan di Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun. Kemudian Mbah Wing melanjutkan ke sebuah pesantren di Jember, Jawa Timur. Akan tetapi, semakin lama hidup di pesantren, bukan semakin kuat tekadnya untuk menjadi manusia sakti mandraguna. Justru sebaliknya, ia semakin mantap untuk mempertebal keimananya kepada Yang Mahakuasa. Sampai suatu ketika ia dinasehati oleh salah satu kiainya, bahwa seorang Muslim harus mencari 36 Juni 2010

* Kiai Munawir tinggal di Krombangan Donorojo Mertoyudan Magelang, Jawa Tengah.

Sirah Mutakharij
Nyai Hj. Najibah Mahfouz Jazouly

Menikmati Buah Kedisiplinan

A

da pepatah Arab yang mengatakan, “Untuk mengetahui kepribadian seseorang, lihatlah siapa sahabatsahabatnya, karena mereka itu saling mempengaruhi”. Di negeri ini pun, kita sering mendengar ungkapan “Kalau berteman dengan penjual minyak, maka akan kecipratan wanginya. Dan kalau bergaul dengan pande besi akan kecipratan apinya”. Ungkapan-ungkapan itu tampaknya sangat cocok dinisbatkan kepada Nyai Najibah. Pasalnya, hasrat beliau yang begitu kuat untuk menjadi santri sejak usia kanak-kanak terbentuk oleh lingkungan sekitar yang kental dengan budaya dan nuansa santri. Artinya, Nyai Najibah kecipratan wewangian aroma santri, sehingga dirinya pun bertekad untuk menjadi santri. Pada tahun 1972, Nyai Najibah mewujudkan cita-citanya menjadi santri. Ia memutuskan untuk mendulang ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Pertimbangannya cukup sederhana, karena pesantren Krapyak merupakan salah satu pesantren besar dan terkenal. Di samping itu, beberapa saudara Nyai Najibah terlebih dahulu nyantri di sana. Sebut saja Nyai Izzah dan Nyai Azzah. Di Pesantren Krapyak, Nyai Najibah tinggal di komplek M. Kala itu, komplek M merupakan komplek santri putri yang diasuh oleh alMukarram KH. Mufid Mas’ud, sebelum akhirnya beliau hijrah ke dusun Candi Sardonoharjo.

“Saya merasa sangat beruntung karena mendapatkan guru yang begitu perhatian kepada santri-santrinya. Kiai Mufid selalu memberi perhatian lebih kepada murid-muridnya. Beliau tidak hanya hafal nama-nama santri, tetapi juga memperhatikan perilaku dan kepribadian mereka. Sehingga kami semua merasa sebagai anak kandung beliau,” ungkap Nyai Najibah. Ia menambahkan, KH. Mufid tidak membeda-bedakan antara santri yang satu dengan santri lainnya. Perbedaan perlakuan memang terjadi, tetapi itu beliau lakukan karena beliau tahu watak dan karakter setiap santri. Setiap santri diperlakukan sesuai dengan watak dan perilakunya masing-masing. Dan ternyata, cara seperti itu sangat efektif dalam mendidik mereka. “Ada santri yang diajar dengan cara disuruh langsung, ada pula santri yang diajari hanya dengan memberikan contoh-contoh bagaimana seharusnya bersikap dalam kehidupan seharihari,” tutur Nyai Najibah. Sementara itu, dalam urusan menghafal Al-Quran, menurut NyaiNajibah, KH. Mufid, juga memiliki cara-cara yang unik dan sangat mendidik. Cara-cara ini yang terus dikenang oleh murid-murid beliau. Nyai Najibah menuturkan, ketika seorang santri diberi batas untuk menghafal sampai halaman 120 misalnya, maka ia harus berhenti di halaman itu. Jangan coba-coba melebihi batas yang sudah ditetapkan. Misalnya, dia setor sampai halaman

121. Karena Kiai Mufid pasti tahu dan menegurnya dengan berbagai cara sesuai karakter santrinya. Kalau santri yang bersangkutan punya rasa humor yang tinggi, maka Kiai Mufid akan menengur dengan kalimat berikut, “Ora selak rabi wae ngaji mlumpat-mlumpat” (tidak diburu segera menikah saja kok ngajinya meloncat-loncat). Lain halnya jika yang bersangkutan tidak punya rasa humor, maka Kiai Mufid akan menegurnya dengan kata-kata yang sangat sopan, “Ngaji ki yo apike ora diloncati” (ngaji itu sebaiknya ya secara urut, tidak meloncat-loncat). Masih banyak lagi cara beliau menegur santrinya agar mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan. Demikian pula dalam hal kedisiplinan. Kiai Mufid, menurut Nyai Najibah, tidak mengenal istirahat ketika berurusan dengan ngaji AlQur’an. Beliau sangat disiplin. Dan para santri pun tidak bisa bersantaisantai ketika menghafal Al-Qur’an. “Karena itulah saya sangat bersyukur dapat merasakan pendidikan langsung dari Kiai Mufid. Atas bimbingan beliau, saya dapat menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada tahun 1974. Dan saat ini, saya dipercaya oleh masyarakat untuk mengajarkan kepada mereka AlQur’an,” kata Nyai Najibah mengakiri perbincangannya. (Udik)
*Nyai Hj. Najibah Mahfouz Jazouly tinggal di Desa Tulung Agung RT. 02 RW 01 No. 333 Kertasemaya, Indramayu, Jawa Barat.

Mudah-mudahan dapat mendidik anak-anak kita dengan baik demi masa depan bangsa, amin.
Juni 2010 37

SELAMAT ATAS BERDIRINYA TK dan MI al-JAUHAROH di Tlepok, Semin, Gunung Kidul

SEGENAP REDAKSI MAJALAH SUARA PANDANARAN MENGUCAPKAN :

Sirah Mutakharij
Lilik Ummi Kulsum

Mengabdikan Hidup pada Al-Qur’an
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

S

ejuk dan tenang. Demikian suasana hati Nyai Lilik saat pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren Sunan Pandanaran. Menurutnya, kala itu kesejukan dan ketenangan yang ia rasakan bukan ditimbulkan oleh suasana fisik pesantren, melainkan karena spirit keihlasan Al-Mukarram KH. Mufid Mas’ud dalam mendidik santri-santrinya. Nyai Lilik nyantri di Pesantren Sunan Pandanaran pada tahun 1991 hingga 1996. Ada satu hal yang masih ia kenang, bahkan tidak mungkin dilupakan. Yaitu, saat pertama kali sowan kepada Romo KH. Mufid, dirinya tidak ditanya mengapa memilih Sunan Pandanaran sebagai tempat tujuan pendidikannya. Tetapi justru ditanya seberapa sering ia bersilaturahmi kepada para alim ulama dan berziarah ke makam para wali Allah. “Ulama dan para wali Allah mana saja yang sudah ananda kunjungi?” demikian pertanyaan KH. Mufid seperti dikenang Nyai Lilik. Ia mengaku telah bersilaturahmi kepada banyak alim ulama. Telah pula mengunjungi banyak makam wali Allah. Akan tetapi, saat itu yang diingat hanya 38 Juni 2010

Sirah Mutakharij
satu nama, yaitu Sunan Ampel. Karena jelasnya, makam Sunan Ampel terletak di daerah asalnya, Surabaya. Menurut Nyai Lilik, pertanyaan Romo KH. Mufid itu mengandung pelajaran yang sangat berharga. Bahwa, seorang Muslim harus menyambung tali silaturahmi dengan orang-orang yang dicintai Allah. “Kita tidak boleh memutuskan hubungan silaturahmi dengan para alim ulama dan para wali, meskipun kita secara pribadi tidak mengenalnya. Itulah pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Kiai Mufid,” tutur Nyai Lilik. Ada pelajaran lain yang tak kalah pentingnya. Menurut Nyai Lilik, KH. Mufid tak henti-hentinya menanamkan nilai-nilai tauhid kepada santri-santrinya. Seperti ia akui, nilai tauhid yang disampaikan KH. Mufid hingga saat ini dipegangnya erat-erat. Di antaranya nasihat beliau supaya memasrahkan segala urusan hanya kepada Allah, dan tidak bergantung kepada orang lain. “Sopo wae anak didikku sing arep nggedekake pesantren ora usah njaluk-njaluk sumbangan rono-rene. Njaluk nang Pengeran wae”, kata KH Mufid di banyak kesempatan. Maksud dari nasihat itu adalah, siapa saja santri-santri KH. Mufid yang akan mendirikan dan mengembangkan pesantren, tidak pantas memintaminta sumbangan kepada orang lain, cukuplah meminta pertolongan kepada Allah. Nasihat itu laksana pagar beton dalam hati Nyai Lilik. Ia senantiasa mengingatnya, bahkan menjadikannya senjata tatkala menghadapi berbagai cobaan hidup yang cukup berat. Dalam urusan penguatan aqidah, tambahnya, KH. Mufid tidak berhenti pada penanaman nilai-nilai tauhid saja, tetapi juga memberikan pelajaran bagaimana mencintai baginda Nabi Muhammad Saw. Di antaranya memperbanyak bacaan shalawat serta mencontoh perilaku dan kepribadian beliau. Mendengar tuntunan KH. Mufid ini, Nyai Lilik merasa malu karena ternyata cintanya kepada baginda Nabi saat itu masih akonakon (sebatas di bibir) saja. “Jika tergesa masuk kuliah dulu, sebaiknya tahun depan saja). Mendengar nasihat ini, Nyai Lilik serasa mendapatkan siraman hati yang teramat sejuk. Ia pun berketetapan hati mematuhi nasihat Romo Kiai Mufid. Dan ia segera menyampaikan berita itu kepada orang tuanya. Memasuki tahun berikutnya, ketika tiba masa kuliah, Romo Kiai Mufid memberikan nasihat yang membakar semangat Nyai Lilik untuk terus maju di dunia kampus. Kata beliau, “Yen wis mlebu dunia akademis terusno sampe entek bangku kuliahe” (Kalau sudah masuk dunia akademis, teruskan hingga habis bangku kuliahnya). Rentetan nasihat tersebut, bagi Nyai Lilik menekankan konsistensi atau istiqamah ketika sudah menentukan pilihan hidup. Meski demikian, lanjut Nyai Lilik, nasihat itu jauh sekali dari unsur keserakahan mengejar jabatan, pangkat, atau gelar. Karena, Kiai Mufid, dalam nasihat-nasihatnya, selalu menegaskan penataan hati agar tidak terjebak dalam niat yang tidak baik. “Ditoto niate yo,” (Ditata niatnya ya) demikian nasihat beliau, sebagaimana dikenang Nyai Lilik. Di samping itu, Kiai Mufid juga menekankan pentingnya menjaga Al-Qur’an, baik itu di lidah, pikiran, maupun perbuatan. Artinya, Alquran tidak hanya dibaca secara lisan saja, tetapi harus dimasukkan ke dalam akal dan hati, kemudian diwujudkan ke dalam tindakan-tindakan. Nasihat terindah Romo Kiai Mufid bagi santrinya yang hendak boyong adalah, “Uripmu gawe ngabdi nang Qur’an, ora usah wedi mlarat” (Gunakan hidupmu untuk mengabdi kepada Alquran, tidak usah takut miskin).

“Gunakan hidupmu untuk mengabdi kepada Alquran, tidak usah takut miskin”
cinta kepada Nabi hanya di bibir saja, bagaimana mungkin kita akan mampu meneladani kepribadian dan sifatsifat Nabi Muhammad,” katanya. Hasrat Kuliah Kisah penuh hikmah yang dialami Nyai Lilik tidak hanya berkisar tentang peningkatan kualitas ibadah, tetapi juga peningkatan pendidikan formal. Suatu ketika, orang tua Nyai Lilik berharap dirinya bisa melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Yogyakarta. Tentu, dengan pendidikan formal itu orang tua berharap anaknya akan bisa membangun masa depan dengan lebih baik. Namun bagaimana nasihat KH. Mufid kala itu? Nyai Lilik dipanggil menghadap dan diberikan nasihat, “Mbak Lilik, ora usah gupuh daftar kuliah disik, tahun sesuk wae” (Mbak Lilik, tidak usah

SEGENAP REDAKSI MAJALAH SUARA PANDANARAN MENGUCAPKAN :

SELAMAT ATAS DIWISUDANYA SISWA-SISWI MTs dan MA SUNAN PANDANARAN
Semoga Mendapatkan Ilmu Yang Manfaat di Dunia Maupun Akhirat, Amin.
Juni 2010 39

Bahtsul Masail
Fiqh
Bersama : KH. MUHAMMAD MA’MUN MURA’I, Ketua MUI Kab. Sleman, Pengajar di Ma’had Ali PonPes Krapyak Yogyakarta , dan pernah mengajar di MA Sunan Pandanaran
Bagi santri, alumni, atau pembaca, yang memiliki permasalahan seputar fiqih sehari-hari bisa mengirimkan pertanyaan melalui surat, email (suarapandanaran@yahoo.com), atau disampaikan langsung kepada staf redaksi disertai identitas yang lengkap.
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Masa Tunggu Setelah Haid,
Haruskah Mengganti Shalat?
pakan suatu akad nikah. Isyarah ini bisa menggunakan apa saja. Sehingga kedua mempelai paham bahwa mereka sedang melakukan suatu akad nikah. Pertanyaan: Apakah boleh menggosok gigi ketika berpuasa di bulan Ramadlan ? Bagaimana hukumnya? Abdullah, Yogyakarta Jawab: Dikiaskan dengan berkumur, maka orang yang sedang berpuasa tetap diperbolehkan menggosok gigi. Menurut Imam Nawawi, jika hal ini dilakukan setelah zawwal maka hukumnya adalah makruh. Pertanyaan: Dalam shalat jama’ah, shof yang depan kakinya kelihatan. Wajibkah bagi orang yang di belakangnya untuk menutupnya? Fuad Latief, Jakarta Jawab: Jika ia melihatnya pada kondisi tidak sedang shalat, sebaiknya ia menutup bagian yang auratnya terbuka bila memungkinkan, bila tidak memungkinkan maka hendaklah ia memperingatkan orang tersebut untuk mengulang shalatnya. Andaikata ia mengetahui hal itu dan sedang dalam keadaan shalat, ia tetap harus memperingatkan setelah selesai shalat. Pertanyaan: Apakah orang yang sedang dalam masa tunggu setelah masa haid, tetap harus mengganti shalatnya yang hilang ketika masa tunggu? Rizki Maryanti, Magelang Jawab: Pada dasarnya, orang yang suci setelah haid dan pada saat suci ia mempunyai sisa waktu yang cukup digunakan untuk shalat 1 raka’at dan semua persiapan shalat (bersuci dsb) sampai waktu shalat berikutnya, maka ia wajib shalat pada waktu tsb (semisal orang yang suci pada saat waktu shalat ashar tinggal menyisakan setengah jam sampai waktu maghrib dan waktu setengah jam tsb dianggap cukup untuk mandi, wudlu, mempersiapkan segala sesuatunya untuk shalat dan shalat sebanyak 1 raka’at, maka ia wajib shalat ashar). Jika ia ternyata masih mengalami masa tunggu, maka ia harus mengganti shalatnya. Misalnya orang yang haid 5 hari dan suci masih 2 hari lagi, maka ia wajib mengganti shalatnya yang 2 hari tsb (masa 2 hari tsb ia tidak mengalami pendarahan lagi namun belum suci karena menunggu sampai 7 hari dihitung sejak haid). Pertanyaan : Bagaimana pelaksanaan akad nikah antara 2 orang yang sama-sama buta, tuli dan buta huruf ? Siti ‘Aisyah, Klaten Jawab : Menggunakan isyarah bahwa perbuatan itu meru40 Juni 2010

Bahtsul Masail
Tajwid
Bersama : KHR ABD HAMID ABD QODIR MUNAWWIR (Alumnus PPSPA), PENGASUH PESANTREN TAHFIDZUL QURAN MA’UNAH SARI, Bandar Kidul Kediri Jawa Timur
Bagi santri, alumni, atau pembaca, yang memiliki permasalahan seputar al-Quran atau pun tajwid bisa mengirimkan pertanyaan melalui surat, email (suarapandanaran@yahoo.com), atau disampaikan langsung kepada staf redaksi disertai identitas yang lengkap.
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Hukum Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haid

Pertanyaan : 1. Bagaimana hukumnya membaca al-Qur’an bersama-sama (muqaddaman) dengan tidak sesuai urutan mushaf dan dari mana istilah “muqaddaman” muncul ? 2. Bagaimana hukumnya membaca al-qur’an bagi wanita yang sedang haid/mens ? Jawab : Membaca ayat-ayat suci al-qur’an tidak sesuai urutan mushaf yang dilakukan seseorang hukumnya khilaful aula (meninggalkan keutamaan). Sedangkan membaca alqur’an secara berjama’ah sebagaimana pertanyaan di atas belum bisa digolongkan membaca alqur’an tidak sesuai urutan mushaf, sehingga tidak ada masalah Referensi : al—itqon juz awal sohifah 111. Sedangkan istilah muqoddaman bagi kami tidak menemukan referensinya dalam kitab-kitab islam baik klasik atau kontemporer, hanya mungkin saja sesuai dengan artinya muqoddaman yaitu pendahuluan atau didahulukan, bacaan al-qur’an sebagai pendahuluan atau muqoddimah sebuah acara. Persoalan membaca al-qur’an bagi wanita yang haid/ mens dapat dirinci sebagai berikut : Bila dengan niat membaca al-qur’an (qoshdul qiro’ah)

menurut jumhur ulama hukumnya haram, tetapi menurut qoul qodim Imam Syafi’i dan madzhab maliki memperbolehkannya. Bila tidak dengan niat membaca al-qur’an hukumnya makruh dan demikian maka sebaiknya mengikuti qoul qodim atau madzhab maliki yang mengikutinya, sebab melalaikan hafalan al-qur’an hukumnya juga dosa besar. Referensi : 57 masalah qur’aniyah terbitan Ponpes Yanbu’ul qur’an Kudus hal 96.

Juni 2010

41

Aktivita
Yanbu’a

Santri dan Alumni PPSPA Belajar Metode Yanbu’a
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

K

KH Ulil Albab Arwani mengajarkan baca al-Qur’an metode Yanbu’a di PPSPA.

ualitas bacaan Al-Qur’an santri, pengurus, guru, dan alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran terus ditingkatkan. Hal itu merupakan komitmen dari pihak pengasuh agar semua elemen pondok Pandanaran menguasai bacaan AlQur’an sebaik-baiknya. Sehingga mereka dapat menyempurnakaan ibadah-ibadah wajib, dan mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat secara benar. Untuk menunjang program pengembangan tersebut, Pesantren Sunan Pandanaran mengadakan pelatihan membaca Al-Qur’an berdasarkan metode Yanbu’a, Rabu (2/6/2010) di Komplek II. Pelatihan ini diasuh oleh KH Ulil Albab Arwani, pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur'an Kudus, Jawa Tengah. KH Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Sunan Pandanaran, dalam sambutannya yang diwakili oleh H. Jazilus Sakhok mengatakan bahwa pelatihan membaca Al-Qur’an dengan metode Yanbu’a telah diadakan beberapa kali oleh Pesantren Pandanaran. Salah satu tujuannya 42 Juni 2010

adalah untuk menyamakan bacaan Al-Qur’an para santri, pengurus, guru, dan alumni. Syukur-syukur para alumni sudah mempunyai santri, sehingga metode bacaan Yanbu’a dapat diajarkan secara lebih luas. “Adapun alasan kita memilih metode Yanbu’a, yang sekarang dipegang oleh KH. Ulil Albab, karena santri KH Munawwir yang paling diakui kapasitas dan kualitas bacaan al-Qur'annya adalah KH. Arwani. Dan, Pesantren Pandanaran memiliki sanad Al-Qur’an yang sama dengan KH. Arwani, yaitu berasal dari KH. Munawwir,” jelas KH Mu’tashim Billah. Beliau menambahkan, sekiranya metode Yanbu’a ini dinilai sebagai metode pengajaran Al-Qur’an yang efektif, maka Pesantren Pandanaran akan mengadakan pelatihan serupa dalam skala yang lebih besar dan luas. Selain itu, PPSPA juga akan mengupayakan pengadaan sekretariat khusus sebagai pusat informasi metode pelatihan Yanbu’a di Pondok Pandanaran. Pada akhir sambutannya, KH Mu’tashim mengingatkan kepada

semua hadirin bahwa pelatihan metode Yanbu’a diselenggarakan sepenuhnya oleh Pesantren Sunan Pandanaran. Tidak ada institusi atau pihak luar manapun yang campur tangan. Kegiatan ini murni dari pondok dan untuk pondok. Sementara itu, pengembangan metode bacaan Yanbu’a saat ini di bawah pengasuhan KH. Ulil Albab Arwani, putra KH. Arwani. Di hadapan para santri, pengurus, pengurus, dan alumni Pesantren Pandanaran, KH Ulil Albab mengatakan bahwa landasan pengembangan Yanbu’a adalah hadis Nabi Muhammad Saw, “Sampaikan lah dariku kepada umat manusia, meskipun hanya satu ayat”. “Itu dari landasan agamanya. Lahirnya Yanbu’a juga karena didorong oleh para alumni Pondok Tahfidhul Qur’an Yanbu’ yang menginginkan agar pihak pengasuh membuat buku panduan membaca Al-Qur’an yang efektif,” kata KH Ulil Albab. Awalnya, keluarga pesantren kurang merespon permintaan tersebut. Akan tetapi karena dorongan tersebut semakin besar, maka Pesantren Yanbu’a akhirnya menyusun metode membaca Al-Qur’an yang dinamakan Yanbu’a. Menurut KH Ulil Albab, metode Yanbu’a belumlah sempurna. Masih banyak kekurangan di dalamnya. Kekurangan-kekurangan yang ada akan disempurnakan seiring dengan perkembangan proses pengajaran Yanbu’a ini. Meski demikian, katanya, Yanbu’a juga memiliki banyak kelebihan. “Di antara kelebihannya adalah lafal-lafal yang digunakan contoh diambil dari Al-Qur’an. Kedua, metode ini ditulis dengan rasm Utsmani, yang juga dipakai pada masa khalifah Utsman bin Affan,” jelas KH Ulil Albab saat mengenalkan metode penulisan buku Yanbu’a. (Rido)

Aktivita
Khatmil Qur’an

Persiapan Khataman Al-Qur’an

Sistem Baru untuk Menjaring Khatimin Berkualitas
sebaik-baiknya. Dan konsekuensinya, menurut mereka, jumlah peserta khataman menurun dibanding tahuntahun sebelumnya. Pengurus Putri Komplek III, Wasithah, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Khotmil Qur’an Juz ‘Amma dan binnadzri PPSPA sudah mulai bersiap untuk acara Khotmil Quran sudah dimulai antri Pandanaran tampak lebih sejak bulan sibuk dari hari-hari biasanya. Maret 2010. “Calon peserta hafalan juz Mereka sedang mempersiapkan 30 (Juz ‘Amma) sudah mulai disimak. acara Khotmil Qur’an yang sedianya Sementara peserta binnadzri sudah akan dilaksanakan pada 28 Juli 2010 dites bacaan surat Yasin dan surat almendatang. Kahfi”, jelas Wasithah. KH. Mu’tashim Billah Lebih lanjut ia mengatakan, mengingatkan panitia pelaksana tahun ini jumlah peserta khataman bahwa hajatan Khotmil Qur’an ini Juz ‘Amma dan binnadzri mengalami merupakan bagian dari ibadah. Maka penurunan dibandingkan tahun hendaknya tidak diniatkan untuk kemarin. Bukan karena jumlah mencari keuntungan materi. Seluruh pendaftar yang berkurang, tapi biaya operasional akan ditanggung disebabkan karena proses seleksi oleh Pesantren. yang diperketat. Bacaan mereka harus KH. Mu’tashim Billah juga lancar dan berdasarkan kaidah tajwid mengharapkan adanya peningkatan yang benar. kualitas peserta khataman. Beliau Seleksi calon peserta Khotmil memberikan pengarahan kepada Qur’an meliputi kualitas hafalan dan panitia supaya proses seleksi bacaan Al-Qur’an serta penguasaan diperbaiki untuk menjaring peserta praktek ibadah. Untuk kategori khataman yang berkualitas baik. Juz ‘Amma meliputi praktek wudlu, Pengarahan ini, seperti diakui oleh shalat, hafalan wirid dan doa-doa pihak panitia, telah dilaksanakan setelah shalat. Sedangkan untuk kategori binnadzri ditambah hafalan surat Yasin dan al-Kahfi, tahlil dan doanya. Menurut ketua panitia Khotmil Qur’an 2010, Azka Sya’bana, melalui rentetan ujian tersebut diharapkan akan terjaring peserta khataman yang selain terbukti mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar, juga mampu menjalankan ibadah secara sempurna. Sementara itu, di kompleks Huffadz, proses seleksi peserta khataman juga sudah dimulai sejak bulan Maret lalu. Untuk santri putra calon peserta Khotmil Qur’an 30 juz bil ghoib, diwajibkan menghafal 30 juz sekaligus (glondongan) di depan H. Muslim Shofwan. Sedangkan santri huffadz putri disimak langsung oleh Ibu Nyai Hj. Sukaenah. Selain itu, santri huffadz putra maupun putri harus menyetorkan hafalannya sebanyak 30 juz kepada KH. Mu’tasim Billah. Sejauh ini, pihak panitia telah bekerja maksimal untuk menyukseskan Khotmil Qur’an 2010. menurut Azka Sya’bana, khataman tahun ini harus lebih baik ketimbang tahun kemarin. “Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu menyukseskan acara ini. Dan kami memohon doa restu agar khataman tahun ini berjalan lancar,” kata Azka kepada Suara Pandanaran.(Didik)
ORANG TUA H. Imam Suyuthi Ridwan KH. Hibatullah, Lc. M.A. Muhammad Busyro (alm.) PESERTA PUTRA Ali Mufthi Watir Mansyur ASAL Cirebon Cirebon Jepara Indramayu Tegal Boyolali
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

S

DAFTAR PESERTA KHATAMAN BIL GHOIB 30 JUZ
NO 1 2 3 4 5 NAMA ORANG TUA ASAL Kendal Indramayu Kendal Cilacap Cirebon NO 6 7 8 1 2 3 NAMA Litho’atillah Shofwatillah Siti Alfiah Imam Romli Lutfi Maulana Mudhofir PESERTA PUTRI Ade Muhayah Sodiq Anis Maqolah H. Munjid Masduqi Auliana Zulfa KH. Noer Fu’ad Desty Setya Cahyani P. Edi Sugihartono Imro’atus Sholihah H. Hayatuddin Malik

TAHUKAH ANDA ?
Dalam wasiatnya, al-Maghfurlah KH Mufid Mas’ud begitu rinci menjelaskan tanah maqbarah di Komplek III, padahal semasa hidupnya beliau belum pernah melihat lahan maqbarah secara langsung.
Sumber : KH. Mu’tashim Billah

Juni 2010

43

Aktivita
Khatmil Qur’an

DAFTAR PESERTA KHATAMAN BIL GHOIB JUZ AMMA PUTRA TAHUN 1431 H/2010 M
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 NAMA PESERTA (ASAL) A. Hilmy Haidar Romzy bin Hasyim Saefudin (Magelang) A. Maskur Khoirul Fatah bin Imam Syafi’i (Magelang) Abdul Ghofur bin Nawawi (Bantul) Abdulloh Ibnu Fajar bin AKP. H. Joko Priyono (Sleman) Abdur Rohim bin Dullahman (Klaten) Abulkhair Pratama Putra bin Drs. Suharto (Kalbar) Achmad Syaifudin bin (alm) Achmad Mudzakir (Magelang) Adam bin Dahlan (Bandung) Adam Adrian bin Oop Sopandi (Garut) Adam Bayu Hidayat bin Mustaqim Ma’ruf (Semarang) Adi Frmansyah bin Iskandar (Malang) Adi Kusuma Bakti bin Suhadi (Semarang) Adnan Kiat Zulfikar bin H. Muhainan (Magelang) Afif Ahmad S bin Muslih (Magelang) Afthan Syauqi Kannaby bin KH. Fuad Falahudin, MA (Depok) Agung Raharjo bin Tohid (Riau) Agung Saefudin Aziz bin Abdul Aziz (Wonosobo) Agung Sukma Rizqiyadi bin Dody Wiyoso (Tangerang) Agus Abd Qodir Al Jaelani bin H. Djaelani (Cianjur) Ahmad Abdhil Adhim bin H. Zaenudin As’ad (Pekalongan) Ahmad Asadbaz bin H. Ahmad Sa’dun Santoso (Kulon Progo) Ahmad Aufal Marom bin KH. M Yahya Badruz, SH (Kediri) Ahmad Daniyulloh bin Rifa’i (Magelang) Ahmad Fatkhurrohman bin Suwanto (Magelang) Ahmad Lutfi bin Ahmad Sumaeri (Wonosobo) Ahmad Munadzir bin H. Suyono (Jambi) Ahmad Nafi’ bin H. Mashadi (Kendal) Ahmad Niamullah bin Drs. KH Abdul Tarom, M.Si (Bantul) Aji Rifai Nasution Rahman bin Hasan Nasution (Yogyakarta) Alarumba Agamsena Asidha bin Drs. MD Ahmadyani (Magelang) Alfian Annas Fadzoli bin Joelianto Wibowo (Bantul) Alfian Nurrohman bin Budiyono (Gunung Kidul) Alfian Nurul Humaida bin Puji Wuryana (Kulon Progo) Ali Mustofa bin Edi Wijaya (Tegal) Alib Lestanto bin Muhammad Toha (Sleman) Alif Nurrohman bin Margiyo (Gunung Kidul) Althof Dinantama bin Drs. Musifin, MH (Tangerang) Alwi Arief bin Drs. H. Ruba’i (Pemalang) Amirul Amin bin H. Samijan Al Adib (Bantul) Ammar Asyqorul Azam bin Muhammad Soleh (Kendal) Anang Mustofa bin Romadhon (Magelang) Andrew Irawan bin Lamino (Klaten) Andrian Febriandi bin Bambang Haryanto (Pontianak) Angga Pratama Aka Jakfar bin Muh. Tobroni (Kulon Progo) Arfin Yahya bin Abd Khalim (Magelang) Arie Astari bin Thaha (Subang) Arif Mukhlisin bin Darto Sumitro (Palembang) Arif Mustofa bin Sumardi (Sleman) Asy’ari Ma’ruf bin Suklasno (Bantul) Bagus Ahmad Arief bin Drs. Hidayaturrohman, SQ (Pasuruan) Bagus Ismail Al Kausar bin Wajdhudin (Brebes) Bangkit Daraguthni Sanalika Putra bin S.Untung (Purworejo) Bayu Aji Abdur Rozak bin Abdul Halim (Pemalang) Choliqi Syaeful Bahar bin Kastolani (Magelang) David Ardiansyah bin Irfanudin (Temanggung) Deni Fahrizal bin Walyono (Wonosobo) Denni Saputra bin Samin (Tangerang) Deny Rahman Arief bin Zaenal Arifin (Magelang) Diar Nada Saputra bin Wasna Iar Saputra (Karawang) Dikna Mahendra bin Waluyo AN (Wonosobo) NO 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 NAMA PESERTA (ASAL) Dino Hasan bin Sibyan Sumilyan (Wonosobo) Dodik Faris Tafsirun bin Mudiyanto (Gunung Kidul) Eko Yudianto bin Slamet Udiraharjo (Sleman) Elang Manglarmonga Assidiq bin Y.Marzuki S,Pd (Sleman) Fadly Al Lutfi Jaslin Dano bin Jaslin Dano (Sleman) Fahmi Rizqi Nashrullah bin Drs. H. Abu Nasar (Cirebon) Faisal Anjun Huasan bin Sholikhin (Temanggung) Faiz Akrom Sauqi bin (alm) Dahroji (Magelang) Fajar Andrian bin Ismail (Magelang) Fajar Chusnadi bin Suparman (Bantul) Fatih Hidayat Assyafi’ bin Ahmad Syafik (Wonosobo) Fawwaz Arif Al Jabar bin Drs. Arif Rachman H, SH (Semarang) Firman Adhi Kurniawan bin Sambudi (Sleman) Hamam Adi Muhana bin Suwita (Tangerang) Hanif Maulana Muhamad A bin Drs. Kahfi Puji Atmaja (Depok) Hasyim Abd Bari bin Drs. Mansur (Sleman) Hernadi Nur bin Kadiman (Indramayu) Hizrian Hatif bin H. Slamet Wicaksono (Kendal) Ibnu Haris bin Yandi (Indramayu) Imron Rosyadi bin H. Royani (Jakarta Selatan) Iqbal Hadi Ihwanto bin Muji Ihwanto (Bantul) Jihan Najah Jauhar bin Johar Tauhid (Bantul) Jingga Yoga Pribadi bin Triyono (Pemalang) Khamidun Arifin bin Triyanto Raharjo (Klaten) Khoirul Rohman bin Barsi (Magelang) Kholil Arkham Hakim bin Drs. B. Musthofa, SH (Banjarnegara) Khusaini Albab bin Suryani (Jambi) Labib Aulia bin H. Manaf Yasin (Batang) M. Abidzar Rais bin Eko Mulyanto (Sleman) M. Affan Dahlan bin Muzammil, Pd (Kendal) M. Afif Rizky bin Sugiarto (Sleman) M. Ainur Rofiq bin Munir (Magelang) M. Alpharad A Daud bin Amser Yusuf Daud, MM (Depok) M. Ardani Naja bin (alm) H. Ali Ikhsan (Jepara) M. Ben Maharibuan bin Sudiarto (Magelang) M. Chilmy Akil bin (alm) M. Nakum (Brebes) M. Dwi Prasetyo bin Drs. Sardi (Kendal) M. Dzikrulloh bin Badrun Attamimy (Cilacap) M. Fahmi Djazuli bin M. Mustofa (Sleman) M. Fatoni bin Masrikan (Kalsel) M. Fauzi bin Moh Yusuf (Magelang) M. Ihsanudin Ali Waffa bin Supama (Klaten) M. Ikhsan bin Sugito (Temanggung) M. Izzat Abidi bin Sholikhin (Magelang) M. Khoirul Fatikhin bin Muhammad Maisaroh (Sleman) M. Kholilurrohman Asrori bin Asrori (Magelang) M. Latief Febrian bin (alm) Maryoto, S. Pd (Magelang) M. Lutfi Nuruz Zaman bin Drs. M. Abd Kholiq (Wonosobo) M. Luthfi El Firdaus bin Fatkhurrohman (Wonosobo) M. Nafiuddin bin Abu Yahya (Magelang) M. Nur Faizin bin Hardiyanto (Banjarnegara) M. Nur Kholis Al Kahfi bin Asmad Arifin (Sleman) M. Rizal Syafi’i bin Ngatima (Boyolali) M. Surya Aditya R bin Ponidi, S. IP (Wonosobo) M. Surya Fahreza bin Nandang Suryana (Garut) M. Syamsul Rizal bin Saroni (Kendal) M. Taufiq Nur Halim bin Abdullah, SH (Klaten) M. Yazid Kamal bin H. Iswanto Muh Ma’ruf (Klaten) M. Yusuf bin Agus Hendro (Serang, Banten) M. Zaenuri bin Tugiyono (Semarang) NO 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 NAMA PESERTA (ASAL) M. Zaki Mubarok bin M. Khotib, S.Ag (Tangerang) Madad Muhammad Arsyad bin M. Tajuddin (Cirebon) Masduki Achmad bin H.A. Masfuad Sudarman (Sleman) Maulana Wahyu Saefudin bin H. Waryo (Bandung) Mikdam Avisena bin H. Muhasan (Wonosobo) Miladi Tohir Muhamad bin Pono Achmad (Magelang) Mirsalurriza Muhajalin bin H. Zaenal A. (Samarinda) Much Musoffa bin Ghufron Charis (Bantul) Muchammad Muaziz bin Marjuki (Magelang) Muhammaadun bin Suparto (Demak) Muhammad Farkhan Amin bin H.Asmuni (Sleman) Muhammad Faza Roziqin bin Basori (Pacitan) M. Hakim Zuhri bin H. M.Hanif A. (Palembang) M. Khaedar Assagaf bin M.Hisom (Temanggung) Muhammad Khamami bin M. Siddiq (Magelang) Muhammad Khanifudin bin Muh. Kuwato (Magelang) M. Khoirul Umam bin M.Y. Syamsuddin (Indramayu) Muhammad Tohari bin Lasono Badarudin (Klaten) Musoheh bin Tolha Marabis (Brebes) Mustika Kamaludin bin (alm) Nur Zen (Pekalongan) Naf’an Ahmad Sobakh bin Syuhada’ F. (Magelang) Nasif Tamamil Huda bin T. Fahrudin (Purworejo) Naufal Faras Syihab bin Drs. Iswanto (Semarang) Naufal Zuka Ahlian bin H. M., SH (Kendal) Ngaliman bin Sardan (Cilacap) Nur Khanan bin H. Muthoyib (Wonosobo) Nur Qomaruddin bin Rozikin (Sleman) Nur Rohman bin Agustiyono (Riau) Panji Maulana bin Muhammad Fauzi (Cirebon) Peri Harpenda bin Legiman (Jambi) Ragil Muhammad Ridar Akbar bin Sriyadi (Sleman) Rahmad Setyawan bin Suroto (Tangerang) Rahmat Bondan Prasetyo bin Yusron (Yogyakarta) Ridwan Dwi Utomo bin Margo Utomo (Sleman) Riqo Hidayat bin H. Mutholib (Wonosobo) Riyanto bin Wasikan (Gunung Kidul) Rohmad Supriyadi bin Suwardi (Sleman) Rohmat Syafi’i bin Nurdi (Sleman) Rony Kurniawan bin Surana (Bantul) Roska Aftadityas bin Rosulan (Wonosobo) Rosyid Ulinuha bin Yuliono (Riau) Rukyan Retno Pramoko bin Solichun (Temanggung) Saefur Rohman bin H. Radisa (Indramayu) Sahid Wahyu W bin Tukarjo (Klaten) Salman ‘Abd ‘Aziz bin Moh. Kawinto (Cirebon) Satyo Pambudi bin Parmo Rejo (Gunung Kidul) Setyawan Ariyoga bin Drs. Khusnan (Magelang) Sigit Susanto bin Nuryanto (Gunung Kidul) Slamet Romadhoni bin Suratno (Gunung Kidul) Sofyan Krisdianto bin Joko S (Klaten) Sokhib Sarifudin bin (alm) Son Haji (Temanggung) Sulkifli bin Darwis S (Sulawesi) Suparjo bin Tohid (Riau) Surya Maeda Rofi bin Drs. Sudjadno (Bantul) Syarif Hidayatullah bin Hasyim Asmuni (Sleman Uji Bagus Panuntun bin Muh. Irfan (Kebumen) Umam Hanafi bin Ahmad Suyudi (Wonosobo) Yoga Indriyanto bin Parjino (Bantul) Zainul Muhibbin bin Harun (Bantul) Ziar Zia Urrochman J bin A.Achmad Maslih (Cirebon)

DAFTAR PESERTA KHATAMAN BINNADZRI 30 JUZ PUTRA TAHUN 1431 H/2010 M
NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

NAMA PESERTA (ASAL)
A. Dana Musin Kamil bin Mustofa (Temanggung) Abd Aziz Machfuudillah bin Gatot Suharyanto (Cirebon) Adip Muamar Khabibi bin Roziqin (Sleman) Agung Nugroho bin Maryanto (Lampung) Agus Rohmad bin (alm) Warno Wibowo (Gunung Kidul) Ahmad Prakosa bin Saridal (Sleman) Ahmad Ro’is Baihaqi bin Mukhammad Irfan (Kebumen) Arsyad Ghozali MBA bin Taufiq H (Solo) Asep Miftah Misbahul Munir bin Ujang Suherman (Garut) Aslimna bin Qomaruddin (Riau) Bagas Rahmad Hidayat bin Romadlon (Magelang)

NO
12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

NAMA PESERTA (ASAL)
Dicky Nur Hamzah bin Drs. Tauhid (Wonosobo) Didi Abdilah bin Kasdi Wahab (Bantul) Dzikron Aulawy bin Muhyadin Syam (Magelang) Eko Adi Wibowo bin Choirun (Salatiga) Eko Baning Setyo Aji bin Subagiyo (Purworejo) Eko Febriantino bin (alm) Supriyono (Lampung) Fachrul Nurcholis bin Nursyamsi (Batam) Imadul Bilad bin Drs. H. A. Suud Chair, M.Si (Kendal) Imam Sholihin bin M. Sholeh (NTB) Irfan Abd Mu’thi bin Asep Abdurrohman (Sukabumi) Latifulloh bin Slamet Bashori (Lampung)

NO
23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

NAMA PESERTA (ASAL)
Lutfi Fauzi Rohman bin Suranto (Banjarnegara) M Badruzaman bin M Ikhsan (Pekalongan) M Dzani Hidayat bin H Abdul Khamid (Wonosobo) M Sulkhan Fauzi bin Iswanto (Bantul) M. Althof Taftoyani Usman bin S.Usman (Wonosobo) M. Aqil Sampurna bin A. Zawawi (Magelang) M. Fajar Shidiq bin Tukiyo (Tangerang) M.F. Alvin Rozak bin Drs. KH Wakhid B. (Banjarnegara) M. Fikki Maulana bin M. Tsabit, S.PdI (Kendal) M. Hadziq Aufa bin Drs Arif Irfan S.H M, Hum (Bantul) M. Ilham Masykur bin H. Abidin Abbas (Magelang)

44

Juni 2010

Aktivita
Khatmil Qur’an

DAFTAR PESERTA KHATAMAN BIL GHOIB JUZ AMMA PUTRI TAHUN 1431 H/2010 M
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 NAMA PESERTA (ASAL) Ika Septiarini binti Hirni (Jambi) Selina Cindra Dewi binti Gunarso (Bandung) Anifatun Khasanah binti H.Arif Usman (Wonosobo) Heny Tri Rahayu binti Slamet Imron (Lampung) Ummu Badriah binti Syuhudi (Jakarta) Desi Tegar Nurani binti H. Ahmad Syafiq Nasuha (Jepara) Wulida Khoirunnisa binti Muchammad Chamdan (Lumajang) Ummu Khusna Syifa binti Drs. Sutoyo (Yogyakarta) Ita Nur Aini binti Basuki, S.Sos (Magelang) Elza Noerjannah binti Undang Karyana (Yogyakarta) Annisa Uly Amrina binti Masrur Yusuf (Magelang) Mila Novi Anggriani binti Suharsono (Magelang) Fina Roudlotul Jannah binti Khambali (Magelang) Ratih Nurmalasari binti Yudik Susanto (Yogyakarta) Fadhla Rizkia binti Encep Wahid Shaleh (Cianjur) Sulkhah Fauriyah binti R. Mukhibin (Yogyakarta) Riza Fitriastuti binti Sucipto (Magelang) Etik Endarwati binti Katiran (Ponorogo) Nihayatul Mahmudah binti Ahmad Zuhdi Faruqi (Temanggung) Rima Hanifah Rowiana binti Anharowi (Yogyakarta) Fadlillah Ridlo Aji binti H. Adib Muhammad (Magelang) Siti Muawanah binti Tasmudi (Purworejo) Sri Maryanti binti Sanin (Yogyakarta) Fara Masyitoh binti Surokhman (Temanggung) Lilik Nur Hidayati binti Mintarso (Demak) Siti Masruroh Nurul Fitroh binti Mohammad Sjahid (Magelang) Miftahul Jannah binti Karno (Grobogan) Nurul Chomariah Agustin binti Priyagus, A.Pi (Maluku Utara) Afina Rizki Zakiyah binti A.Sofan Ansor (Banten) Winda Kurniasari binti Suryono (Bogor) Anissa Fitriyah binti H.Rabiya (Klaten) Istiqomah binti Abdul Aziz (Kendal) Nurul Falihani binti Ahmad Afandi (Banjarnegara) Faunizah Thurfi’in binti Harianto Wibowo (Klaten) Hilmy Rabi’ah Nur binti Drs. H. Awan Sanusi, M.Pd (Garut) Kaifia Mahsa Savira binti H.Kholil Habiballoh, S.Ag (Semarang) Nuraini Siwi Setyantari binti Wiwik Eko Pranomo (Yogyakarta) Maulida Rachmatul Chusna binti Muhajir, BA (Yogyakarta) Farida Syifa Alfuadah binti Suyatno (Yogyakarta) Yesica Dyah Oktavia binti M.Erwin Darwinto (Jakarta) Khoirunnisa’ binti H.Aziz Sulaiman (Yogyakarta) Aunil Iffah binti H. Mustaghfirin (Semarang) Desy Ayu Pratiwi binti Haryadi (Temanggung) Kholida Nur Sidqiah binti Nur Wakit (Yogyakarta) Nurfadhillah Sarah Rosyidah binti Khairul Arifin (Magelang) Arofatillah binti H.Hibatullah (Cirebon) Sito Chafidzotul Ummah binti H. Cudri Haris (Banten) Ade Tafrihah binti H.Tabridji Jaelani (Banten) Vivi Amalia Sherli binti Artono Supit (Magelang) Ziya Daturrohmah binti Kasan Zuhri (Kulon Progo) Siti Halimah Nurul Khasanah binti Muhammad Muhyidin (Klaten) Zahro Karimatul Aini binti Karmaji (Probolinggo) Wardatun Nafisah binti Suyadi Koesnen (Lampung) Wahyu Eka Putri binti Jumakir (Yogyakarta) Monika Rahayu binti H.Son Haji (Wonosobo) Pramita Sari Dian Saputri binti Rochani (Temanggung) Avida Zulfiana D binti Khamdani (Klaten) Dhia Nabila binti Murtadlo Purnomo (Klaten) Halimatu Nadia binti H. Mustaghfirin (Semarang) Zahrah Husna binti Budiman (Bogor) Meida Kryzpa Emaer binti Muhammad Ali Rahman (Lampung) Rezki Putri Iman Sari binti Mulyono (Magelang) Siti Nur Hidayah binti Mawardi (Yogyakarta) NO 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 NAMA PESERTA (ASAL) Fina Lailatul Barokah binti Romdhan Hidayat,S.Pd (Magelang) Mar’atus Sholihah binti Nuruddin (Indramayu) Nuraisyah Istiqomah binti Munafi Syaifudin (Tangerang) Rofa’u Zakiyyah binti Misrochudin (Bengkulu) Anisa Fatul Jannah binti Ichwan (Yogyakarta) Aena Safrida binti Dodo Priyono (Temanggung) Yoana Vita Sari binti Praptiyanto (Temanggung) Ivana Fajriy binti Zaenal Mustofa (Purworejo) Eva Indriyani binti Budi Setiawan (Magelang) Nita Purdiana Sari binti Katiran (Ponorogo) Nusrindar binti Alinur (Sulawesi Tenggara) Anisa Wahyuningtyas R. binti Rokhan Santosa (Yogyakarta) Fatimatuzzahro’ binti Misbachul Munir (Magelang) Siti Cholisoh binti Muhammad Ilham (Magelang) Septian Ayu Rifayanti binti Moch. Anwari (Salatiga) Nahla Diani Pramono binti H. Sidiq Pramono (Banjarnegara) Azwida Rosana Maulida binti Drs. Ikhrom, M.Ag (Semarang) Ingga Ris Bintari binti Kasiman Hadi (Klaten) Futikhaturrohamah binti Sukatmo (Tegal) Ginanjar Zakiah binti Santoso (Kalimantan) Dany Bilkis Saida Aminah binti Muslimin (Jombang) Lia Fajrina Binuril Hidayati binti Abdul Aziz Hakim (Yogyakarta) Nugraheni Rafika Silmi binti Drs. H. Zuhri (Demak) Milla Nisfayani binti Asfar Susanto (Lampung) Imaylina Rofida binti Sarman (Magelang) Latifah binti Suwadi (Cirebon) Umi Salamah binti Maskuri (Brebes) Alfi Wahyu binti Benny Agung (Magelang) Mutafariqoh binti Ahmad Sajari Diwirya (Kebumen) Yuyun Nur Faizah binti Abdur Rahman Wahid (Banjarnegara) Firda Nailurohmah binti Suriyan (Tulungagung) Laelatul Mujetahidah binti Arifin (Grobogan) Fatimah Ika Puspitasari binti Slamet Budiarjo (Yogyakarta) Desi Puspitasari binti Sriyanto (Klaten) St. Ni’matul Fitriyatin N. binti A.Mochith Thohir, S.Ag (Tuban) Fifi Andiyani binti Maksum (Magelang) Aliyatur Rizki binti H.Syaifuri (Tegal) Dewi Sari Samsuci binti H. Sriyoto (Riau) Diah Kusuma Ratna binti Istadi (Magelang) Meylani Dinna Alauwiyah binti Drs. Sumardi (Sumatera) Pristy Ardne binti Suhendra (Banten) Rana Arum Aqilla binti Abdul Ghofur (Banten) Nur Azizah Abrida Basuni binti Basuni (Yogyakarta) Fathatul Faizah binti Rohmadi (Temanggung) Heni Rahmawati Nurul Hidayati binti Supanto (Demak) Hamidatun Sholihah binti Abdul Rohman (Yogyakarta) Heni Retno Marwati binti Angger Suyitno (Sulawesi Tenggara) Meyda Hani Syafitri binti Suharna (Indramayu) Ria Andina binti Basuki (Temanggung) Selvia Wulandari binti Ayadi (Bengkulu Utara) Rizma Mirawanti binti Purwanto (Yogyakarta) Rodiatun binti Bunadi (Kudus) Nur Hidayah binti Zaenurodin (Magelang) Nila Sa’adah binti Marsidi.SAg (Magelang Anita Laelatul Khomsatun binti Mohammad Basuki (Rembang) A’isatul Arifah binti Imam Syafi’i (Magelang) Nur Rochmah binti Edy Supoyo (Magelang) Luluk Nurfaizah binti Kumpul Sutrisno (Wonosobo) Ula Rahmatika binti K.H. Bustanul Arifin (Yogyakarta) Fitriyani Ruli Ramadhani binti Massadakah (Temanggung) Ulfa Roaisi binti Sabarudin (Wonosobo) Umi Laily Hidayati binti Sunardi (Demak) Ayu Permata Putra Marta binti Mulyono (Yogyakarta) NO 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 NAMA PESERTA (ASAL) F. Nurussofa binti Fatkhurrohman (Magelang) Harti binti Samsudin (Magelang) Deni Satria Ningsih binti Lasino (Sulawesi Tenggara) Nur Siamti binti Muji Winardi (Yogyakarta) Ana Zahrotul M.binti A. Rofi’iudin (Wonosobo) Lu’Lu’ iI Maknun binti H.Muslich (Pekalongan) Nurul Khasanah binti Mahfud (Magelang) Eka Fanni Izza binti H. A H Haris Arifin (Banyuwangi) Inayatul Maula binti Kaswadi (Purwodadi) H.A.Mawaddatunnisa binti H.Abdul Basit Mahfuf(Bogor) Tri Sulistyowati binti Duljamil (Banjarnegara) Desia Lu’luatus Sholihah binti Nur Hidayat (Wonosobo) Rr.Dizka Humayra binti Rusulan (Wonosobo) Yushi Itsnayanti M. binti H.Aguslani M., M.Ag (Cianjur) Rosida Chasna binti M.Haryo Subodro (Yogyakarta) Putri Surya Islam binti Kholil As’adi (Semarang) Umi Nur Khasanah binti Wagimo (Klaten) Kurnia Kusuma Astuti binti Wuriono (Magelang) Dita Indi Nur Otapiyani binti Ngateno (Semarang) Milatul Khanifah binti M.Solikhin Noor (Kendal) Zulfatun Ni’mah binti (alm) Mas’udi (Magelang) Halimatun Kholisoh binti Ahmad Toha (Magelang) Wiwin Nafi’ah binti Sunaryo (Magelang) Kholifatun binti Paidi (Yogyakarta) Desy Restiani binti Rofiden (Magelang) Nur Hikmah binti H. Ucup Daman Huri (Jawa Barat) Sulhatun Nafisah binti Hanifudin (Magelang) Idamatul Khusna binti Zarnuji, S.P (Yogyakarta) Silvi Atifah Hilmida binti Abdul Rokhman (Yogyakarta) Anjani Maulaya binti Nur Mas’udi (Demak) Safina Rahmah binti Idham Michwani (Yogyakarta) Nurul Fitri Hidayati binti Nur Budi D. (Yogyakarta) Tengku N. Rohmah binti Tengku S.Muhammad (Yogya) Nur Rofi’ah binti Sugeng Nur Kholis (Surakarta) Nurfi Aufa Nabila binti Abu Yazid (Yogyakarta) N. Husna Zakia binti Drs. H. Nuridin, S.Ag (Semarang) Putri Widiastuti binti H.Yazid Widodo. S.Pdi (Wonosobo) Iis Yulianti binti Basiran (Majalengka) Nur Aisiyah binti Achmad Khoirudin (Yogyakarta) Laili Ummu Kultsum Asshoum binti M.Jamil (Magelang) F.Nangim Rokhimah binti M. Zanudi (Yogyakarta) Istu Putri R. binti Abd.Rokhim (Magelang) Salafiatul Hasanah binti Sakatno (Yogyakarta) K.Tahta Alfiana binti M.Lahmudin Mubarok (Magelang) Siti Mutakhimah binti Dawam (Yogyakarta) Marwanti binti Wiknyo Utomo (Magelang) Aulia Rahmah Oktafiani binti Muntokha (Pemalang) Malihatul Husna binti Ahmad Dainuri Noor (Wates) Erika Aulia Fajar Wati binti Khamdani (Klaten) Uswatun Chasanah binti Abu Chasan Husain A.(Klaten) Siti Halimah Sa’diyah binti Rosadi (Yogyakarta) Bita Zuhri Mustahibbah binti Muhadi (Yogyakarta) Fatin Muniroh Syauki binti Istakhori (Temanggung) Sarmada Rahmah binti A. Jazuli Agus M. (Yogyakarta) Siti Fatonah binti Purwanto (Magelang) Heni Nur Afiati binti H. Agus Salim (Magelang) Silva Zahrotun Nafisah binti Sinwan (Kendal) Reni Wulandari binti Sudarji (Magelang) Umi Aminatus Sholihah binti S. Abd.Malik (Lampung) Munawaroh binti H. Maman Suparman (Garut) Ambar Novitasari binti Sodik Sutarmin (Klaten) Rizqi Amaliah binti Munasir (Temanggung) Shofi Afdila binti Munawir (Magelang)

NO
34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44

NAMA PESERTA (ASAL)
M. Iqbal Al Ghifari bin Drs. Slamet Riyadi (Semarang) M. Krisna Aziz bin (alm) Mubasyir S. (Magelang) M. Marzuki bin Kirmadi, BA (Klaten) M. Mustangin bin Amir A.Ma (Boyolali) M. Ridwan Dwi Astanto bin H. Tugimin (Riau) M. Syauqi Hanif Ardani bin T. Syarif (Purwokerto) M. Syukron Imamuddin bin Ahmad N Yasin (Sleman) Mahfudin bin Abd Jamal (Bantul) Misbakhul Munir Abadi bin Mukhsan Afandi (Kebumen) Moh Ghozali bin Agus Hendro (Serang) Moh Rizal Prayogi bin Mugiyo (Kendal)

NO
45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

NAMA PESERTA (ASAL)
Muchlas Andi Yulianto bin Pinggir Suripto (Temanggung) Muh ‘Ashim Fadlili bin M Johan (Pekalongan) Muh Ghufron bin Syuhada’ Fahrudin (Magelang) Muh Zainal Abidin bin KH Muhamad Amin (Purworejo) Muhammad Fachry bin M. Khamilin (Karawang) Muhammad Khasan Fauzi bin Muhainuddin (Temanggung) Muhammad Wahib bin Sardi (Kalimantan Barat) Muhammad. Hafid bin Yayat (Ciamis) Muhid Wahyudi bin M. Lukman Hakim (Magelang) Rakhmat Rizki Yanto bin Sahuri (Magelang) Rifqi Aziz Ma’shum bin H. Marwiyanto (Sleman)

NO
56 57 58 59 60 61 62

NO

NAMA PESERTA (ASAL)
Rifqi Maulana bin Marsidi (Kulon Progo) Rochmat Amrulloh bin Tukirno (Gunung Kidul) Sani Fahmi A bin Agus Atok (Sleman) Slamet Romadlon bin Basari (Magelang) Syamsul Fauzi bin Rusdi (Magelang) Toufan Maulana bin Misran (Kendal) Wildan Azkal Fikri bin Najahan Musyafak (Semarang)

NAMA PESERTA (ASAL)

Juni 2010

45

Aktivita
Khatmil Qur’an

DAFTAR PESERTA KHATAMAN BINNADZRI 30 JUZ PUTRI
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 NAMA PESERTA (ASAL) Afina Putri binti Sucipto (Magelang) Alfiannisa’ Nurkholisotin Ni’mah binti Fifin Nurkholis (Sleman) Alifah Nur Safitri Mugiono binti Sukendar (Klaten) Aniq Khafidhoh Khannan binti Muh. Fathoni (Temanggung) Anis Nur Laili binti Sadiman, S,Pd.I (Banjarnegara) Anis Prita Mahwati binti Ginu (Sleman) Anisul Anamah binti Syaifudin Ali (Pemalang) Anna Yuli Kurnia Yanti binti Tugino (Gunung Kidul) Annisa Latifah binti Anwari (Magelang) Annisa Nur Oktaviana binti (alm) Sutarojo (Banjarnegara) Arga Mahatva Yodha binti Fauzun Amirul Arosat (Temanggung) Arina Hikmah binti Muhammad Suhadi (Wonosobo) Arina Hilma Shabrina binti Drs. H.M.W.Nuruddin (Jaksel) Atin Puji Suprapti binti (alm) Suprapto (Gunung Kidul) Aulia Noor Azizah binti Sunarto (Klaten) Ayu Putri Rahmawati binti H. Sukidjo, B.A (Klaten) Badriyah binti Abdul Jamil (Pemalang) Binti Khoiriyah binti M. Burhanuddin (Sleman) Binti Nafi’ah binti karmiyono (Kulon Progo) Binti Sholikhah Nur Rohmah binti Muhammad Hamidi (Klaten) Cahyaningrum Firdausy binti H. Wahban Hilal (Bantul) Dea Fizah Fahrana binti Ir. H. Asy’ari Shodiq (Solo) Diana Pertiwi binti Sunyoto (Kubu Raya, Kalbar) Dyan Anggraini binti M. Kolib (Magelang) Dzakirotillah binti (alm) KH. Mustahdi Hasbullah (Cirebon) Enita Zahara binti Harun (Bantul) Fahmia Purna Lestari binti Drs. Mawardi (Pontianak) Farah Nabilah binti Syakuri S.H (Depok) Fatma Hidayati binti H. Sumakmun (Magelang) Geby Ayu Fadhilah binti H. Ubaidillah Kabier (Serang) Hayulia binti Sariyo (Sumatra Selatan) Hilyana Ma’rufah binti Achmad Sujadi Saddad (Lampung) NO 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 NAMA PESERTA (ASAL) Himmaty Alimatun Nafi’ah binti Ma’sum Umar (Kupang) Iit Wakhidah binti Kabul Asrofi (Temanggung) Ika Nurul Qomariah binti Andria Fahrudin (Purworejo) Indana Zulfa binti Muchtarom (Demak) Isma Farikha Latifatun Nuzulia binti Drs. Samsul M. (Wonosobo) Isnah Ashariah binti Ating (Bandung) Ita Novita binti (alm) Untung Ruyana (Indramayu) Khoirunnisa Eka Kurnia Miyosita M. binti H. M. Miyono (Kalsel) Kuni Uli Shofa binti Tohari (Ngawi) Layyinatus Syafi’a binti Abdul Ghoni (Demak) Maha Anugrahani binti Muh. Daroni (Yogyakarta) Marisatul Chalwa Zamroni binti Hamid (Pekalongan) Mas’adah binti H. Ta’ibin (Pekalongan) Masyitoh Farah Laila binti H. Nasikhin (Temanggung) Mifrochatun Laely Yuliana binti Abdul Chalim (Pemalang) Mifrohatul Laela Khasanah binti Zaenal Abidin (Pekalongan) Miftakhur Rohmah binti M. Wahyudin (Sleman) Musfiatul Nur Laela binti Mustangin (Magelang) Mutammimatul Ulya binti Sudarmadji (Magelang) Mutiara Nur Said binti Said (Cirebon) Nashrila Akrom binti Cucu Suhendar (Bantul) Nasyatul Haditsah binti Khoirul Anas (Jepara) Nelly Fadlliyani binti Muttaqin, S.Ag (Yogyakarta) Nilam Saraswati binti Syafrizal (Magelang) Nilatul Anikhoh binti H. Ahmad Athoillah (Kendal) Nur Afrilia Tri Ningsih binti Much Muzni (Magelang) Nur Alifah binti Sabari (Bantul) Nur Faizah binti Santoso (Magelang) Nur Nika Asri Dewi binti Handoko Teguh W (Solo) Nur’aini Azizah binti Sunarso (Solo) Nurlaili Fauziah binti M. Dalhari (Kalbar) Nurul Afifah binti Ahmad (Bantul) NO 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 NAMA PESERTA (ASAL) N. Latiefah Habibah Arrohima binti Abdullah (Klaten) Nurwiyati Rahayu binti Santoso (Kalimantan Barat) Puji Pramudya Wardani binti Sujongko (Magelang) Putri Anisatul Mabruroh binti Murtija (Purbalingga) Qonitatu Zahara binti Muhasyim Abdul Majid (Jaksel) Qorri ‘Aina binti Ashim (Bantul) Rahmi Hanifah binti Saejana B (Sulawesi Tenggara) Rima Rahmawati binti H. Muhammad Sahudi (Kendal) Risha Astiani binti Sihono (Sleman) Rizky Istikomah binti Tukiran (Jakarta Selatan) Rizqi Makrifatun Ni’mah binti Budi Santoso (Wonosobo) Sarah Ulya Sufah binti Miftahul Huda (Wonosobo) Siti Ainal Mardhiyah binti Achmad (Kendal) Siti Jazilah binti Jumakir (Bantul) Siti Khotimah Aisyiyah binti Habib Sholeh (Magelang) Siti Magfiroh binti Muchjidin (Cirebon) Siti Masruroh binti Misbachul Munir (Purworejo) St. Miftahul Lukluil Karimah binti Musthofa (Purworejo) Siti Muthohharoh binti Masyhudi (Jakarta Selatan) Siti Nur Janah binti Agus Waluyo (Cilandak, Jaksel) Siti Rachmatun Nisa binti Cucu Suhendar (Garut) Siti Vaoziah binti Nurhadi (Ciamis) Siti Za’iimah binti H. Asrori (Magelang) Sri Wahyuningsih binti Sumidi (Yogyakarta) Sri Wahyuningsih binti Boiman (Riau) Susanti binti Haryanto (Wonosobo) Syifa Uwwa Rochmah binti M. Syofi’i (Cirebon) Thava Yuniantari binti Rakhmat (Purworejo) Vina Rahmatul Nur binti M. Fadlun (Pekalongan) Yuliyani Khabibah binti Kabul Asrofi (Temanggung) Zain Nisau Royani binti Zaki Achmad (Magelang)

AGENDA KHOTMIL QUR’AN 1431 H (27-28 JULI 2010)
TANGGAL 27 JULI 2010 - Semaan al-Qur’an - Festival Kesenian dan Budaya (masih dalam konfirmasi dengan masyarakat) TANGGAL 28 JULI 2010 - Temu Alumni - Khitanan Massal - Parade Drum Band MTs dan MA Sunan Pandanaran - Ziarah ke makam KH Mufid Mas’ud - Dibaan - Prosesi Khotmil Qur’an

Ketawa Itu Halal
THAAHA MAKAN BERSAMA
bernama (sebut begitu, isah ini terjadi pada M. Suhaily Seorang santripengalamanSiti Rahmah90-an inisajaMbak Siti red), mempunyai unik di Pandanaran. yang K tiba. Waktu itu dari kegiatan rutinpada dekade 90-an. Cerita bermula PPPSPA saat maunyantri pada akhir 80-an sampai awal adalah santri huffadz. lud seluruh santri berkumpul di komplek Waktu itu hafalan yang sedang disetorkan kepada almaghfurlah KH Mufid Mas’ud sudah sampai surat Maryam dan mulai beranjak ke surat Thaaha. Hafalan pun ia persiapkan dengan baik. Tiba saatnya menyetorkan kepada al-Mukarram. Namun, sampai disini ia menemui kesulitan. Entah kenapa, setiap kali setoran surat Thaaha kepada alMukarram, hafalannya mendadak hilang, lenyap dari pikiran. Sehingga ketika setoran pun hanya melafalkan lafadz “Thaaha” berulang-ulang. “Bismillahirrahmaanirrahiim... Thaaha...,Thaaha...”. Mbak Siti hanya mampu menyetor satu lafadz “Thaaha”. Tak bisa dibayangkan betapa malunya ia kepada al-Mukarram. *** Beberapa tahun kemudian, Mbak Siti boyong, ia menikah. Tahukah Anda, dengan siapa Mbak Siti menikah ? Tak disangka tak dinyana, ternyata Mbak Siti menikah dengan seorang laki-laki bernama sama dengan nama surat yang dulu sempat kesulitan disetorkan kepada alMukarram, ‘Thoha’ ! (Ema) II untuk mujahadah dalam rangka maulid Nabi. Selepas mujahadah, para santri mendapat jamuan spesial, satu nampan porsi 4-6 santri berisi nasi lengkap dengan segala lauk pauknya. Suhaily pun ikut menikmati hidangan dengan penuh semangat. Maklum, kondisi badan teramat lelah setelah selesai mujahadah dan perut kosong nyaring bunyinya. Ia pun makan dengan lahap bersama teman-temannya. Namun tanpa diduga, secara tiba-tiba al-Mukarram KH Mufid Mas’ud menghampiri Suhaily dan serta merta ikut dahar (makan, red) disitu. Sontak Suhaily pun kaget bukan kepalang, malu dan salah tingkah. Namun dalam hatinya, Suhaily bergumam, “Ah, mudah-mudahan menjadi barokah...”, amien...(Hisyam)

46

Juni 2010

Lensa Santri
ILMI MUKARROMAH

Mengejar Mimpi Mendulang Prestasi

I

lmi, demikian panggilan akrab santriwati ini. Saat ini ia duduk di kelas X A Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran. Putri dari pasangan bapak Asrofin dan ibu Ngaterum ini lahir di Kendal 18 Mei 1994, dengan nama lengkap Ilmi Mukarromah. Dari Kendal ke Pesantren Sunan Pandanaran ia membawa sejuta asa. Menjadi ilmuwan Muslim berkelas nasional bahkan internasional adalah cita-cita utamanya. Cita-cita besar ini dilandasi dengan kesadaran yang cukup sederhana, yaitu ingin menjadikan dirinya bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Apa yang dicita-citakan Ilmi bukanlah angan-angan kosong. Baginya, menjadi besar berawal dari sesuatu yang kecil. “Bukankah untuk menapak seribu langkah harus diawali dengan satu langkah”, katanya kepada Suara Pandanaran. Dan langkah itu ia wujudkan melalui banyak prestasi sejak saat ini.

Ya, Ilmi memang telah mengantongi segudang prestasi. Di antaranya adalah Juara I Puitisasi Al-Quran Tingkat SMA / MA /SMK se-DIY tahun 2010, (Penyelenggara MA Muallimin Yogyakarta), Juara III Pembacaan Puisi “ Chairil Anwar” tingkat SMA/MA/SMK se-DIY tahun 2010, (Penyelenggara Fak.Imu Budaya UGM Yogyakarta), Juara III Pidato Bahasa Arab tingkat SMA/MA/SMK se DIY tahun 2010, (Penyelenggara MA Ali Maksum Bantul) dan Juara II Pidato Bahasa Arab POSPEDA tingkat Propinsi DIY tahun 2009, (penyelengara Pemprop DIY). Dengan prestasinya, ia pun diganjar gelar “Putri Al-Khondaq tahun 2010”. Gelar ini disematkan pada dirinya dalam acara tahunan memperingati Hari Kartini. Dalam urusan prinsip hidup, Ilmi seolah tak mau kalah dengan para filosof Yunani. Ia pun berfilsafat, “Impian tidak mutlak menjadikan orang menjadi sukses , tetapi orang sukses selalu mempunyai impian”. (Faizun)

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Juni 2010

47

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

M

Menikmati Buah Kerja Keras
Kabupaten Sleman tahun 2009, (Penyelengara Depag Kabupaten Sleman). Dan juara III Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) cabang Hadis tingkat Propinsi DIY tahun 2010, (Penyelenggara Kanwil Depag DIY). Putra dari pasangan bapak Fathurahman dan ibu Siti Sukainah ini, lahir di Wonosobo enam belas tahun silam, tepatnya pada 18 Oktober 1994. Sekarang ia duduk di kelas X G MASPA. Tatkala diminta berbagi pesan dengan sahabatsahabatnya, ia mengatakan, “Gantungkan harapan dan mimpi setinggi langit, lalu raih dengan ridlo kedua orang-tua dan guru”. Tak lupa ia menambahkan katakata bijak, “Dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan iman hidup menjadi terarah”. (Faizun)

MUHAMMAD LUTHFI AL-FIRDAUS

enjadi santri itu harus menguasai ilmu-ilmu keislaman. Demikian ujar Luthfi Al-Firdaus ketika ditemui Suara Pandanaran. Seorang santri, lanjutnya, tidak pantas kalau kerjanya hanya makan-tidur, makan-tidur, dan makan-tidur. Ya, Luthfi tidak sedang bercanda. Tetapi sedang mengungkapkan kemirisan hatinya setelah melihat begitu banyak santri yang tidak tahu mengapa dan bagaimana ia seharusnya menjadi santri. Supaya tidak terjebak dalam kesenangan masa remaja yang identik dengan bermain dan hura-hura, Luthfi mengisi waktu luangnya dengan membaca. Hasilnya luar biasa. Bak pepatah Arab “Barang siapa menanam pasti memetik”, saat ini Luthfi sudah menikmati buah dari apa yang pernah ia tanam melalui aktivitas membaca. Apa saja buah yang dinikmatinya. Simak prestasi Luthfi berikut ini. Ia pernah menjadi juara I Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK), cabang Hadis tingkat

Tamu Kita
Syaikh Rajab al-Dayb

Mursyid Naqsyabandiyah Syria
Sirami Hati Santri Pandanaran

"

iapa saja santri putra maupun putri di Pesantren Sunan Pandanaran ini yang bisa menghafal Al-Qur’an dengan lancar dalam waktu enam bulan, akan saya beri hadiah kalung permata dari Suria. Tahun depan Insya Allah saya datang ke sini lagi untuk menepati janji saya ini." Demikian salah satu tawaran Syeikh Rajab Al-Daib, Mursyid ‘Am Thariqoh Naqsyabandiyah di Republik Arab Suria, kepada para santri saat mengunjungi Pesantren Sunan Pandanaran pada Jumat (28/5/2010). Apa yang disampaikan oleh Syeikh Rajab merupakan ungkapan rasa cintanya kepada para santri yang dengan ikhlas menghafal Al-Qur’an. “Sebaik-baiknya orang Muslim adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya,” kata Syeikh Rajab lebih lanjut. Beliau juga mengatakan 48 Juni 2010

s

bahwa apabila seorang penuntut ilmu agama sedang berjalan, maka malaikat Jibril menaruh sayapnya di dekatnya sebagai rasa hormat terhadapnya. Dan Jibril tidak pernah melakukan hal itu kecuali terhadap para penuntut ilmu. Malaikat Jibril bertindak demikian, jelasnya, karena derajat para penuntut ilmu berada satu tingkat di bawah derajat para nabi. Maka, para santri di pesantren ini tengah berada di derajat yang sangat mulia. Teruskan lah belajar Al-Qur’an karena kalian mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt. “Tetapi jangan lupa memperhatikan hal-hal yang menunjang kemuliaan ini. Mempelajari Al-Qur’an harus dibarengi pula dengan membersihkan hati dan raga. Wudhu akan memberihkan raga, dan melakukan hal-hal yang baik akan

membersihkan jiwa. Maka hendaklah kalian senantiasa melakukan semua itu,” kata Syeikh Rajab memberikan saran. Beliau mencontohkan dengan sebuah riwayat, suatu ketika wahyu tidak kunjung turun kepada Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang cukup lama. Para sahabat pun bertanya kepada baginda Nabi Saw, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan wahyu begitu lama tidak turun kepadamu?” Rasulullah pun menjawab, “Bagaimana mungkin wahyu Allah akan turun kepadaku, sedangkan kalian tidak menjaga kebersihan diri kalian. Kalian tidak memotong kuku, tidak merapikan rambut, dan tidak membersihkan gigi”. Menurut Syeikh Rajab, ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah

FOTO : MISHBAHUL MUNIR

Tamu Kita
Syaikh Rajab al-Dayb

FOTO : MISHBAHUL MUNIR

kitab suci yang hanya diturunkan kepada orang-orang yang menjaga kesucian diri. Baik itu suci jiwa ataupun raganya. Kunjungan pertama Syeikh Rajab ini mendapat sambutan cukup meriah dari pihak Pesantren Pandanaran. Tidak hanya pengasuh dan santri yang hadir menyambutnya, tetapi juga sejumah alim-ulama di Yogyakarta. KH. Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Sunan Pandanaran, mengatakan bahwa kehadiran Syeikh Rajab ke sini ingin melihat langsung proses pengajaran Al-Qur’an. Di

samping itu, juga ingin bersilaturahmi dengan ulama-ulama di Yogyakarta. “Maka, saya mengundang beberapa ulama untuk turut hadir menyambut beliau,” tutur KH Mu’tashim. Syeikh Rajab sendiri disertai tiga ulama dari Suria. Mereka keliling ke pesantren-pesantren di pulau Jawa. “Setelah berkunjung ke banyak pesantren di Jawa ini, saya melihat adanya potensi umat Islam Indonesia untuk maju. Saya berdoa semoga Allah memberikan berkah-Nya kepada umat Islam Indonesia,” tuturnya kepada Suara Pandanaran. (Rido)

‫ˇحماضرة الشيخ رجب الديب ( املرشد العام للطريقة الهقشبهدية جبمهورية سوريا العربية) عو تطهري الهفس و تقوية حفظ القرأى فى املعهد سوناى فانداى اراى االسالمى‬
Juni 2010 49

Tamu Kita
Iwan Fals
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

Perjalanan Religi

bersama Ki Ageng Ganjur ke PANDANARAN

IWAN FALS
S
Iwan Fals bersama KH Mu’tashim Billah saat ziarah ke makam almaghfurlah KH Mufid Mas’ud

FOTO : DOK SUARA PANDANARAN

enin, 26 April 2010, pesantren kita kedatangan tamu istimewa. Musisi Iwan Fals bersilaturahmi ke Pandanaran dalam rangka melakukan perjalanan religi bersama grup musik Ki Ageng Ganjur ke beberapa pesantren di Jawa. Selain bersilaturahmi, Iwan Fals menggelar konser dan mengadakan kegiatan menanam pohon di beberapa pesantren. Iwan Fals bersama rombongan tiba di PPSPA menjelang ashar dan segera beramah tamah dengan pengasuh. Tampak dalam rombongan tersebut Endi Aras (pendiri Oi) dan pemilik Ki Ageng Ganjur, Zastrouw al-Ngatawi. Istri Iwan Fals sendiri, Mbak Yos, menyusul kemudian bersama si bungsu Rayya Rambu Rabbani.

50

Juni 2010

Tamu Kita
Iwan Fals
FOTO : MISBAHUL MUNIR

Iwan Fals berjabat tangan dan berpelukan dengan KH Mu’tashim Billah di nDalem Komplek II

Menurut Zastrouw, nilainilai yang terkandung dalam lagu-lagu Iwan Fals sesungguhnya selaras dengan ajaran islam

Suasana kekeluargaan terlihat di kediaman KH Mu’tashim Billah. Beliau berujar bahwa suatu kehormatan bagi Pandanaran kedatangan seorang Iwan Fals. Bersama Zastrouw, Iwan Fals bercerita mengenai perjalanannya, termasuk ziarah ke leluhur KH Mufid Mas’ud di Bayat. Iwan mengaku perjalanannya sangat menenteramkan hati karena semua berisi doa. Setelah ramah tamah, Iwan Fals beristirahat di kediaman KH Mufid Mas’ud yang berada di sebelah utara masjid Komplek I dan menempati kamar yang dulu ditempati KH Mufid. Agenda “Perjalanan Spiritual” Iwan Fals dilanjutkan konser pada malam harinya yang bertempat di Komplek III. Tim shalawat Pandanaran mengawali acara dengan pembacaan shalawat dan asmaul husna serta doa yang dipimpin oleh KH. Masykur Muhammad. Acara dilanjutkan dengan penampilan grup musik Ki

Beginilah aksi Iwan Fals saat konser religi di Komplek III PPSPA

Ageng Ganjur dan pengajian budaya oleh Zastrouw. Ia menegaskan bahwa pesantren adalah pusat seni dan budaya yang esensinya adalah mengajarkan islam yang toleran, bukan sarang teroris. Sekitar pukul 21.00 WIB, Iwan Fals yang malam itu terserang flu tampil di hadapan ribuan santri yang duduk bersila ala mujahadah dan terpisah antara lelaki dan perempuan. Tak ketinggalan pula penggemar fanatik Iwan Fals (Oi) ikut meramaikan konser religi kali ini. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu…”. Iwan Fals yang mengenakan kaos putih sederhana dan celana bercorak batik plus syal biru mengawali penampilannya malam itu dengan lagu berjudul Ibu. Kesederhanaan penampilannya malam itu tampak lebih berkilauan dari cahaya lampu panggung. Menurut Zastrouw, nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu Iwan Fals sesungguhnya selaras dengan ajaran islam. Lagu Ibu mengingatkan kita untuk selalu menghormati ibu, seperti dalam hadist Nabi, juga bahwasannya surga berada di bawah telapak kaki ibu serta mengingatkan kisah Alqamah. Iwan Fals sendiri menyinggung tentang cerita rakyat “Malin Kundang”. Iwan Fals melanjutkan penampilannya dengan membawakan lagu Siang Seberang Istana, Tanam Siram Tanam, Dendam Damai dan Bento. Dalam sela-sela lagu yang dibawakan Iwan Fals, Zastrouw menjelaskan tentang pesan moral dari setiap lagu. Dalam kesempatan ini pula, Iwan Fals menerima suvenir Juni 2010 51

FOTO : MISHBAHUL MUNIR

Tamu Kita
Iwan Fals Ki Ageng Ganjur menjadi lagu penutup. Menurut Zastrouw, kisah dalam lagu Bento ini mirip dengan kisah Qarun pada zaman Nabi Musa. Ziarah ke Makam KH Mufid Sehari setelah konser, Iwan Fals bersama KH Mu’tashim Billah berziarah ke makam KH Mufid Mas’ud. Ziarah, menurut Iwan Fals dapat membuat hati menjadi damai. Ketika melantunkan tahlil, membaca al-Fatihah, alif laam Mim dan seterusnya, ia merasakan hatinya menjadi sejuk. Hal yang sama ia rasakan ketika berziarah ke makam Rasulullah saw saat menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanannya ke Komplek III, KH Mu’tashim Billah dan Iwan Fals berbincang mengenai PPSPA. Mulai tentang Tahfidzul Quran, santri MTs dan Aliyah, UKM sampai peran pesantren terhadap masyarakat. Dan setelah melihat dari dekat, Iwan Fals merasa takjub akan kekayaan yang dimiliki pesantren di bidang seni. Setelah berziarah, Iwan Fals berpamitan kepada KH Mu’tashim Billah dan segera melanjutkan perjalanan religinya. Terima kasih bang, kehadiran Anda benar-benar spesial buat kami. Terasa hangat sampai ke jiwa, memancar ke penjuru dunia. (Ali Hifni)
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

Ekspresi Iwan Fals saat konser di Pandanaran

dari PPSPA yang secara simbolis diserahkan oleh KH Imaduddin Soekamto di atas panggung. Pada lagu Siang Seberang Istana, Zastrouw berujar bahwa semestinya kita peduli terhadap sesama sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial, kebijakan pemerintah pun harus berpijak pada kemaslahatan umat. Sedangkan dalam lagu Tanam Siram Tanam yang merupakan lagu baru dalam album “Keseimbangan”, Iwan Fals mengajak kita semua untuk peduli terhadap lingkungan demi kehidupan yang lebih baik di masa depan, biarkan anak cucu kita belajar di bawah pohon, biarkan anak cucu kita menghirup udara segar, biarkan

"Saya diberi amanah untuk memberantas hama kehidupan, memberantas hama RI”
mereka tumbuh bersama hijaunya daun, jangan biarkan mereka mati dimakan hama kehidupan. Iwan Fals sendiri bercerita singkat, “Ketika sowan Mbah Liem di Klaten, saya diberi amanah untuk memberantas hama kehidupan, memberantas hama RI”. Lagu Bento yang diawali dengan intro musik ala jathilan khas

Iwan Fals, Gus Dur dan “Dendam Damai”
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

A

Iwan Fals, ingat Gus Dur

lmarhum Gus Dur mempunyai kenangan tersendiri bagi Iwan Fals. Adalah lagunya yang berjudul Dendam Damai yang mengingatkannya kepada Gus Dur. Lagu yang menjadi menu latihannya di Komplek I PPSPA sesaat sebelum konser religi tersebut pernah diminta Gus Dur untuk dinyanyikan oleh Iwan Fals dalam suatu kesempatan. Kala itu Gus Dur mengatakan bahwa hanya budaya yang dapat menyatukan bangsa. Lirik pada lagu Dendam Damai memang mengajak kita untuk hidup damai dan saling mencintai terhadap sesama. Iwan sendiri mengaku bahwa Gus Dur adalah sosok yang LAKA DENDAM-DENDAM CE MENGGODA sangat bersahaja dan ia merasa kehilangan SUT KITA TAK JEMUANA MENGHA DAMAI-DAMAI DIM JUDNYA saat Gus Dur dipanggil oleh Sang Khaliq. (Ali ADA WU BERSEMBUNYI TAK SITUASI SEPERTI INI Hifni) RAKHIRNYA KAPAN BE G BERPELUKAN ?
SA TIDAK BISAKAH KITA LIN

52

Juni 2010

Wawancara
Iwan Fals
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

WAWANCARA SUARA PANDANARAN DENGAN IWAN FALS

Iwan Fals : “Ziarah membuat hati menjadi adem”
Suara Pandanaran sedang mewawancarai Iwan Fals

Dalam kunjungannya ke PPSPA, majalah SUARA PANDANARAN mendapat kesempatan untuk mewawancarai Iwan Fals yang sedang melakukan “Perjalanan Religi” ke beberapa pesantren di Jogja dan Jawa Tengah bersama Ki Ageng Ganjur. Berikut hasil wawancara kami dengan Iwan Fals (IF) dan pimpinan Ki Ageng Ganjur, Zastrouw al-Ngatawi (Z).

“Walinanggung” ya, lebih enak begini, haha... Rutinitas bermusik di Walinanggung seperti apa ? IF : Dulu sebulan sekali konser, temanya tergantung pada bulan apa dan diputuskan oleh rapat “Tiga Rambu” (manajemen Iwan Fals, red). Ide awal “Perjalanan Spiritual” ini dari Bang Iwan sendiri atau dari Mas Zastrouw ? Z : Atas inspirasi Mas Iwan. Nilai-nilai di pesantren kan luar biasa. Melalui momentum seperti ini, kami ingin nilai-nilai pesantren yang selama ini hanya berlaku di dalam dapat ketarik keluar sehingga berlaku juga untuk komunitas yang lebih besar, yaitu bangsa. Spiritualitas Mas Iwan sama seperti Sunan Kalijaga waktu muda yang meledak-ledak. Tidak bisa menerima melihat ketidakadilan, kemungkaran, penindasan dan sebagainya. Ledakan-ledakan itu diekspresikan dengan merampok harta orang lantas dibagikan kepada rakyat miskin.

A

ssalamu’alaikum, apa aktivitas sehari-hari Bang Iwan? IF : Wa’alaikumsalam, aktivitas saya pengajian tiap malam jumat, karate dan musik. Bang Iwan, di Leuwinangun … IF : Leu-wi-nang-gung, tapi orangorang bilang “Wali-nanggung”. Ceritanya ada makam wali disitu. Suka diziarahin orang-orang kalau bulan Maulud, kemudian jadi “Leuwi” (lubang) dan “nanggung”. Tapi orang bilang “Walinanggung”, karena wali cuma sembilan kan? Haha …

Lalu, apa yang dirampok dari Bang Iwan ? Z : Dia tidak merampok, tapi melalui lagu. Syair-syair Mas Iwan adalah gedoran hati, tamparan jiwa. Gejolak spiritualitas muda ini mulai mengendap. Jika Sunan Kalijaga mengendapnya ketika bertemu dengan Sunan Bonang, Mas Iwan bertemu dengan dirinya sendiri. Ketika Mas Iwan dialog sendiri kok “kedengeran” kuping saya. Ya udah kita jalan, jadi “Mencari kebenaran lewat kebetulan”, haha … Menarik sekali, apakah event ini adalah yang pertama kali diadakan oleh Bang Iwan? IF : Ya, dulu pernah berkunjung ke beberapa pesantren tapi hanya sekedar berkunjung saja. Ada rencana “Tour 100 Pesantren”? IF : Wah jauh itu…Haha… Bagaimana rasanya mengunjungi pesantren di tanah Jawa? IF : Di Pekalongan ada yang Kyai-nya Juni 2010 53

Wawancara
Iwan Fals hafal lagu saya. Kemudian saya bertemu dengan Habib Luthfi. Surprise, beliau ternyata pandai bermusik. Suaranya buagus bener! Kapan-kapan mungkin bisa duet, Habib Luthfi dengan Bang Iwan ? Kalau ada jodoh, siapa tahu ? Itu di Pekalongan. Kemudian ke Rembang, di tempat Gus Mus, tapi beliau sedang umrah. Saya melihat ada aula buat ngaji disitu, suasananya tenang. diskusi budaya. Ketika dialog ada seni- IF : Wah, ini dia nih... Allah Maha Adil. man patung. Karyanya bagus, ada li- Ketika berziarah, hati menjadi adem. dah berduri segala. Idenya berangkat Disinilah adilnya Allah. Di tanah suci dari Aborigin. Wah, gila ini ! Ternyata maupun disini, ademnya itu alhampesantren mengakomodir kesenian dulillah sama. Dari ziarah kita dapat seperti ini juga. Oh iya, waktu di lebih menghormati leluhur dan mengetempatnya Gus nal sejarah. Mu’adz saya Di dalam perjalanan waktu Ada perbedaan masuk ke se- banyak terjadi peristiwa radikal antara buah ruangan, yang secara nalar saya lagu lama Iwan Joglo seder- dan sampeyan nggak bisa Fals seperti “Tohana. Rupanya menjawab, makanya aku long Dengar Tu(alm) Gus Dur mengadu kepada Allah han” dengan tinggal disitu. lagu masa kini yang lebih religius Apa yang saya bayangkan ? Gus Dur, seperti “Doa”, “Ya Allah Kami” dan seorang Presiden tinggal disitu. “Hadapi Saja”. Apa sih yang sebeInformasinya, Gus Dur sedang apa narnya terjadi dengan Bang Iwan ? di tempat seperti itu? IF : Hmm, perjalanan waktu. Di dalam IF : Nggak tahu. Gus Mu’adz cerita Gus nya banyak terjadi peristiwa yang seDur, saya berimajinasi. Betapa seder- cara nalar saya dan sampeyan nggak hana dan bersahajanya Gus Dur ya? bisa menjawab, makanya aku mengadu kepada Allah. Soal ‘saling asah saling Seberapa jauh Gus Dur sampai memasih saling asuh’ (lagu “Doa”, red), pengaruhi pemikiran-pemikiran disitu inspirasi banyak sekali. Satu Bang Iwan ? orang baik, luar biasa. Tapi kalau seriNggak terlalu juga. Gus Dur adalah bu orang baik, lebih luar biasa lagi ya? orang hebat yang perlu diapresiasi. Nah perubahan-perubahan tadi adalah Saya bangga juga menjadi orang Indosebuah proses. Saya tak berdaya mengnesia yang punya Gus Dur. hadapinya. Menururt Mas Zastrouw, Berbicara mengenai Gus Dur tentu saya mengalami fase seperti Sunan Katidak bisa lepas dari NU. Sementara lijaga dalam bentuk lain. Tetapi dasar Anda pernah berujar bahwa “Oi” saya teriak sebaiknya seperti NU. Apa mak- s e p e r t i sudnya ? dulu IF : Kan banyak yang bilang, Oi menjadi partai saja. Ya saya ngomong kalau NU menginspirasi Oi. Oi tetep Oi. Tapi kalau Oi “MEMBUAT” partai, silakan. Seperti NU bikin PKB. tapi kalau Oi “MENJADI” (partai politik, red), wah, jangan deh... Berarti “Oi” bisa menelurkan partai politik? IF : Lha iya kalau ikut jalan pikiran seperti itu. Kalau “Oi” membuat partai, Anda siap menjadi presiden dong ? Bukan begitu. Biar aku jadi Presiden Kaos aja, haha… Bang Iwan baru saja berhaji dan ziarah ke makam Rasulullah, adakah perbedaan dengan ziarah wali ?
Iwan Fals, Mutiara terpendam ada di Pesantren
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

FOTO : DOK. SUARA PANDA

NARAN

“Hmm... ini dia nih majalah Suara Pandanaran ... ”

Anda percaya bahwa di ruangan yang setiap hari dipakai untuk mengaji tasawuf bisa membuat tenang penghuninya? IF : Saya sebenarnya kurang percaya hal-hal seperti itu. Tapi ada cerita bahwa gamelan jawa, musik klasik dan adzan ada di bulan. Rupanya suara itu nggak hilang. Mungkin karena ada auranya ya? Entahlah, tapi memang itu yang saya rasakan waktu ke tempatnya Gus Mus. Setelah itu Anda mengunjungi kota mana Bang? IF : Pati. Ketika waktu mau pulang berat rasanya. Pesantren menimbulkan rasa kekeluargaan yang teramat sangat. Lalu di Jepara saya ziarah ke petilasannya Syeikh Siti Jenar, kemudian jalan lagi dan ketemu kyai yang menolak senar. Waduh, bagaimana ini ? Kayak diaduk-aduk kepala saya, di satu sisi saya melakukan perjalanan spiritual bahkan dengan gitar elektrik, di sisi lain ketemu kyai sepuh yang mengharamkan senar. Tapi sudah dijawab sama Mas Zastrouw waktu acara 54 Juni 2010

Wawancara
Iwan Fals tidak berubah. Karena memang kita nggak boleh mendiamkan ada yang terdzalimi di sekitar kita. Misalnya tentang “Al-Ma’un” “Saya bangga juga atau tenmenjadi orang Indonesia tang “Sore yang punya Gus Dur. ” Tugu Pancoran”. Bagaimana bisa hidup tenang kalau kita nggak peduli terhadap “Si Budi” ?
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Saya sih percaya sama lingkungan saya yang dapat menerima pecahan-pecahan itu. Aku cuma menuangkan pikiran lewat lagu. Orang mau bilang apa, terserah saja. Dalam event i n i Bang Iwan juga men gede p a n k a n penanaman pohon, apa kaitan antara spiritualitas dengan lingkungan hidup? IF : Pohon adalah kehidupan dan menjadi jawaban dari persoalan global warming. Bahkan kalau besok kiamat pun kita tetap harus menanam. Dalam hadist disebutkan bahwa dalam keadaan perang kita dilarang menebang pohon. Banyak krisis pangan di berbagai belahan dunia. Semua berharap terhadap kita. Kalau nega-

menanam pohon. Ini bukan cuma memberantas hama RI tapi hama kehidupan. Bayangkan bumi diambil minyaknya. Alam itu miniatur tubuh kita, kalau cairan kita diambil bagaimana? Tulang kita diambil? Waduh … Apa harapan Bang Iwan dari pesantren? IF : Mutiara terpendam ada di pesantren. Santri banyak menghafal dengan lagu. Mereka menguasai tempo dasar dan melodi dalam bela“Biarlah saya menjadi Presiden Kaos saja, haha ...”
PANDANARAN

Kenapa Bang Iwan memilih jalan hidup bermusik? IF : Saya bisa bermusik dan Allah memberikan rejeki saya disitu. Jadi saya menjadi seniman tanpa menghilangkan kewajiban saya sebagai muslim. Untuk mendalami Islam seperti yang Mas Zastrouw katakan tadi (toleran, red).

FOTO : DOK. SUARA

Apa tujuan hidup dari Bang Iwan ? IF : Menjalani kewajiban saya dan bagaimana menjawab takdir dengan gembira. Z : Seperti kata Imam Syafi’i, “Ketika engkau dilahirkan di dunia, kau menangis sendirian “Dunia mau bayar apa enggak, masa tetapi orang yang bodoh ! Yang penting kita menanam” ada disekitarmu tertawa menyambut kedatanganmu. Kini berusahalah ra dengan agar ketika meninggal, engkau tertawa p o p u l a s i sendiri sedangkan semua orang me- 200 juta nangis karena kepergianmu.” orang lebLuar Biasa. Banyak orang bilang lagu Anda adalah lagu “dakwah sosial”, adakah niat u n t u k menjadi pendakwah lewat lagu? IF : Enggak...apapun orang bilang, biarlah seperti gelas pecah. Kita nggak pernah tahu kemana pecahannya. Menjadi seniman
FOTO : MISHBAHUL MUNIR

jar bermusik yang dipadu dengan syair kehidupan dan nilai-nilai kebaikan. Kalau bisa mengeksplorasi lebih jauh bakat santri, pesantren akan melahirkan banyak seniman tangguh. Apa Kesan tentang Ponpes Sunan Pandanaran? IF : Wah, bersih sekali dan manajemennya tertib. Anak saya yang berusia 7 tahun (Rayya Rambu Rabbani, red) secara polos bilang, “Wah, Pa, kita tinggal disini saja!”. Padahal dia biasa ke hotel ya? Di Pandanaran airnya besih, lagipula handuk dan sabun segala macem disediain, jadi sabunku enggak kepakai, haha …
(Ali Hifni dan Diasz Kundi)

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

ih ini menanam pohon, maka apa yang kita lakukan adalah menyelamatkan dunia. Secara politik dunia harus bayar kita dong, karena kita produksi oksigen, kan begitu? Saya nggak peduli. Dunia mau bayar apa enggak, masa bodoh ! Yang penting kita menanam, menyelamatkan kehidupan. Bumi sudah enggak bulat lagi, sudah seperti ban kempes, iklimnya kacau. Disinilah peran pesantren, santri harus ikut

IWAN FALS
Nama Lengkap Virgiawan Listanto Lahir 3 September 1961 Album Terbaru KESEIMBANGAN

tanpa menghilangkan kewajiban sebagai muslim

Juni 2010

55

KBIH
DAFTAR NAMA JAMA’AH HAJI ‘09 / ’10
NO NAMA 1 Amirullah 2 Djastono bin Subqi 3 Djuwahir 4 Emy Kristina 5 Habib Muhammad 6 Habudin 7 Hadi Suwarno 8 Hasan Ramelan 9 Irsan restu Nugroho 10 Iswantoro 11 Karsinah 12 KH. Syarifuddin ALAMAT Condong Catur Ngemplak Candiwinangun Ngemplak Tempel Ngemplak Ngemplak Perum Pamugkas Perum Pamugkas Depok Sumberharjo Candi NO NAMA 13 Lasminah 14 Maryono 15 Ngadijo 16 Ny. Suhartiningsih 17 Putut Wibowo 18 Rejosuwito 19 Rojikin 20 Rubilah 21 Siti Khotijah 22 Sri Hartati 23 Sugeng Rohmadi 24 Suharmi ALAMAT Umbulmartani Depok Moyudan Candi Ngemplak Turi Turi Depok Ngemplak Condong Catur Ngemplak Candiwinangun NO NAMA 25 Suharsono 26 Sumirah 27 Suparni 28 Suroto 29 Surtilah 30 Suwandi 31 Tri Ahmadadi 32 Triyantini 33 Waqingah 34 Zaenal Arifin 35 Zuriyah ALAMAT Umbulmartani Ngemplak Moyudan Candikarang Candimendiro Ngemplak Candimendiro Candikarang Ngemplak Sumberharjo Nglanjaran

KBIH SUNAN PANDANARAN
FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

H. HABIB MUHAMMAD

KESAN DAN PESAN

ang Sudah baik tetapi sepertinya “kur ota adil” jika semua urusan angg hanya mengandalkan jamaah haji . ketua rombongan, terlalu berat tinya jamaah haji bisa mandiri. Mes

KH. Abdul Wahid mendampingi jama’ah haji Pandanaran yang dipimpin oleh KH. Syarifudin

Saya merasa bimbingan haji dan manasik oleh KBIH Pandanaran berjalan dengan baik... Yang perlu ditingkatkan adalah komunikasi saat pelaksanaan haji antara pembimbing dengan para jama’ah... Kedepannya saya harap KBIH Pandanaran bisa mengirim 2 pembimbing, 1 pembimbing untuk bagian ibadah dan 1 lagi untuk manajemen waktu. Mudah-mudahan KBIH Pandanaran bisa dapat lebih baik ... (H. IRFAN RESTU) Disamping bimbingan dari Ketua Rombongan, yang membuat saya lebih puas dan senang adalah, betapa ketika saya merasa bingung di Negara orang (tanah suci), yang mana saya dan teman-teman tidak paham bahasanya, ada “Om Wahid beserta keluarga” yang selalu membimbing, sehingga kami serasa di rumah sendiri. (H. SUROTO) Secara umum KBIH SPA sudah cukup baik, tinggal pembenahan sedikit pada manajemen waktunya di tanah suci, meskipun saya maklum, mengingat situasi dan kondisinya sangat sulit ditebak. (H. HABUDIN) Saya gembira bisa bergabung dengan KBIH SPA meskipun oleh DEPAG dipisah dalam hal rombongan, bis, hotel, dan akomodasi lainnya. Tapi itu adalah tantangan bagi saya dan regu 3. Syukurlah, di tanah suci kami tetap bisa bergabung dengan rombongan KBIH SPA dalam hal ibadah maupun ziarahnya... ( H. AMIRUDDIN) Saya sudah katakan berkali-kali bahwa saya sangat senang ikut KBIH SPA karena dibimbing dari segi bacaan do’a-do’a hingga praktek ibadah haji di tanah suci, sementara orang lain yang tidak ikut KBIH, di sana tidak lancar berdo’a bahkan ada yang tidak berdo’a karena kurangnya bimbingan dan perhatian. (HJ. SUPARNI)

56

Juni 2010

FOTO : DOK. SUARA PANDANARAN

Alhamdulillah, di KBIH Sunan Pandanaran saya merasa berkesan saat melaksanakan manasik haji. Selain mudah di pahami materinya, juga mudah dilaksanakan dan diresapi dalam qolbu. Buku manasik yang diedarkan KBIH Pandanaran sangat simpel, namun kedalaman materinya sangat luas... Ketika berada di tanah suci, saya sebagai jama’ah merasa bahwa tujuan semula dari tanah air bisa tercapai, yaitu jama’ah bisa mandiri. Dalam beribadah pun terasa ringan dan mantap walaupun ketika tidak didampingi pembimbing....Dan berkat do’a santri Pandanaran, ada rasa di hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi hubungan antara pihak KBIH dengan peserta sudah terasa seperti keluarga sendiri. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih banyak kepada Pandanaran dan KBIH-nya. Jazakumullah khairal jaza’ ... (H. SUGENG RAHMADI)

Sampaikan Salamku

Nama TTL Alamat

: Layyinatul Mudzkiyyah : Pati, 3 Mei 1988 : Ds. Pasucen Rt/Rw 07/03 Trangkil Pati Jawa Tengah Kampus : Psikologi UII 2007 Hobby : Foto diri sendiri

Nama TTL Alamat Hobby Prestasi Motto Pesan

: Henny Widyawati : Batang, 23 Agustus 1992 : Jl Kramat No 22 Batang : Membaca : Atlet Silat pandanaran : Dengan tersenyum selangkah lebih maju : Bersabarlah untuk menempuh jalan panjang hidupmu : Muhammad Zahron : Tanggamus,6 November 1980 : Tanggamus Lampung Selatan : Melamun yang syar’iy : Betah Mondok : Mondoklah selama mungkin : Wujudkanlah lamunanmu

Nama TTL Alamat

: Mintahul Cholidah : Bantul, 21 Juli 1989 : Jl Parangtritis No 280 Krapyak Wetan Sewon Bantul Yogyakarta Kampus : Psikologi UII 2008

Nama TTL Alamat Hobby Prestasi Motto Pesan

Nama TTL Alamat

: Siti Aisah : Tangerang, 10 Maret 1987 : Duren Sawit Rt/Rw 06/05 Duren Sawit Jakarta Timur Kampus : FIAI UII 2005

Nama TTL Alamat Hobby Prestasi Motto Pesan

: Sumanto : Gunung Kidul, 4 Mei 1982 : Semin Gunung kidul : Bulu tangkis : Juara I Lomba Balap Sepeda Gunung tingkat Gunung Kidul : Menggapai hidup lebih baik : Teruslah menanjak sampai ke langit

Nama Alamat TTL Pesan Hobi Motto

: Miftakhurrokhmah : Sleman Yogyakarta : Sleman, 3 November 1995 : Jangan sia-siakan waktu luangmu hanya untuk hal yang tidak berguna : Membaca majalah dan ngobrol : Hidup itu dijalanin aja! Nggak usah dipikirin..

Nama Alamat TTL

: Khafidzoh : Indramayu Jawa Barat : Indramayu, 1 November 1993 Prestasi : Penthung Kendi (Juara 1) & Renang (Juara 2) Pesan : Jadilah dirimu apa adanya dan jalani hidup hanya mengharap ridlo Allah… Hobi : Berenang Motto : Apapun yang terjadi inilah aku, dan kerudung adalah mahkotaku Nama TTL Alamat Hobby Motto Pesan : Althof Dinantama : Aceh, 16 Mei 1997 : Perum Puri Permai B. 10 No. 1 Rt 02/05 desa Pete Tigaraksa Tangerang : Badminton, Sepak Bola dan Membaca Cerita Nabi : Siapa yang bersungguhsungguh pasti akan berhasil : Berbakti kepada orang tua, jangan cepat putus asa dan berusaha menjadi yang terbaik

Nama Alamat TTL Pesan Hobi Motto

: A. Abdil Adhim : Pekalongan Jawa Tengah : Pekalongan, 12 Oktober 1993 : Jadikanlah objekmu untuk ma’rifat Allah : Membaca dan Bercerita : Fikir dan Dzikir

Juni 2010

57

Klik!
Syaikh Rajab bersama dewan pengasuh PPSPA di majlis mujahadah Komplek II

Syaikh Rajab memberi kenang-kenangan berupa buku kepada KH Masykur Muhammad

Ziarah ke makam KH Mufid Mas’ud

Wartawan asal Inggris berbincang dengan murid-murid MTs SPA ketika mengunjungi PPSPA

aran Grup Shalawat Pandan n menyambut kedatanga Syria ikh Rajab al-Daib dari Sya

Jama’ah Haji KBIH Pandanaran bersama KH Abdul Wahid

Para santri bermujahadah membaca Ratibul Hadad bersama Syaikh Rajab

58

Juni 2010

Klik!
PPSPA turut berbelasungkawa atas wafatnya KH Abdurrahman Wahid

KH Imaduddin memberikan kenangkenangan kepada Iwan Fals di atas panggung Konser Religi

Iwan Fals membawakan lima lagu saat konser religi di PPSPA Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Islam itu toleran. Zastrouw alNgatawi memberikan Pengajian Budaya di PPSPA.

Mantan anggota JI, Nasir Abbas mengunjungi PPSPA dalam acara dialog seputar Terorisme
Rombongan dari PPSPA dan pesantren lainnya mengunjungi Ghamkol Sharif di Inggris

Juni 2010

59

Klik!

Pelepasan Siswa MA Sunan Pandanaran tahun ajaran 2009/10

Siswa MA Sunan Pandanaran saat penanaman seribu pohon bersama ibu ibu

Lomba Puisi Nasional Tingkat SLTA di PP Sunan Pandanaran

Aksi tim Drum Band MTs Sunan Pandanaran

Semarak takbir Idul Adha siswa MA Sunan Pandanaran

Pemotongan daging kurban di Komplek III PPSPA oleh para santri dan pengurus

Penampilan anak-anak PAUD dalam acara Pengajian Maulid Nabi Muhammad Saw

Pawai Ta’aruf Wisuda TPA al-Baidlowi Godegan, Srandakan, Bantul

60

Juni 2010

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->