Anda di halaman 1dari 6

dunia dua

by Thejo Laksono on Friday, May 7, 2010 at 2:36am


Individu yang bebas berlompatan mencari eksistensi dirinya dan Tuhannya. menggeleng
perlahan. Menyangkal dirinya adalah individu yang memiliki sejumlah kebebasan. Ia
merasa dirinya tak lebih makhluk yang terikat—nyaris seperti domba—bahkan mungkin
jauh lebih malang. Ia terbelenggu jelas, kuat, dan ngeri pada sebuah papan domino,
diputar-putar mengelilingi gerigi permainan norma dan naluri hingga jatuh pada
kepasrahan yang paling indah dan salah hanya oleh sebuah telunjuk kekuatan bisikan
kesadaran bahwa hari ini, dalam kesunyian yang mencekam, ia berulang tahun. Sungguh
itu adalah tak lebih sebuah perjalanan kesunyian yang amat sangat panjang, dimana ia
merasa kian jauh menghampiri kesendirian dan kian dekat menyongsong kegelapan.
Kegelapan yang misterius dan penuh kekuatan artistik, menarik-nariknya untuk menyatu
hingga perlahan-lahan menjadi nihil. Kosong. Dan senyap.
Mengapa kesepian yang justru mengalungi momen-momen kerinduannya akan sebuah
kado cinta yang merekahnya jauh lebih indah dan semerbak dari bunga surga mana pun.
Ataukah seiris senyum atau bahkan sehelai sapuan mesra di kening telah menanjak jauh
ke grafik angka-angka permata Mesir atau ikut terkubur bersama drama-drama kesetiaan
Yunani sampai pada peradaban klasik .yang akan meninggalkannya dalam kesunyian tak
bergerak?
“Sigmund Freud . mendiagnosa mimpi-mimpinya sendiri dalam prosesi psikoanalisa.
Apa kau tak dapat sedikit pun mengeksplorasi persoalan jiwamu?”
“Aku mendeteksi semua yang kualami dan menemukan depresiku dalam tingkat yang
wajar, untuk mengenali suatu ruang yang kalian juga melewatinya tanpa kesadaran
ilmiah. Bahwa setiap benda di sekeliling kita, termasuk kita sendiri, memiliki
fundamental kehidupan yang berasal dari kebekuan kemudian bermetamorfosis menjadi
ruh yang bergerak memasuki ruang tubuh dan selanjutnya, menjalani proses
pengembangan inderawinya sesuai kadar iritabilitas beradaptasi dengan fenomena alam
sekitar.”
“Dalam psikologi fenomenologi, pemikiran itu memang bisa dibenarkan. Alam ialah
ruang itu sendiri dalam pengertian sebagai ‘suatu lokasi’ yang bisa dikunjungi. Tetapi
tidak lantas kau merasa cukup beralasan memelihara ketakutan-ketakutan terhadap
benda-benda,


Dan seandainya benda-benda itu mendatangimu sekarang, ia tak lebih suatu ruh yang kau
ciptakan menurut interpretasimu pribadi—yang barangkali terlalu asyik bermain-main di
kolam imajinasimu dan sudah terkonvergensi teori-teori yang sukar kau pahami.”
Matanya berkilat merah menyampaikan bahasa kebencian yang tersusun dari titik-titik
dendam di dalam dada, kemudian seolah-olah memperoleh kesempatan berlari
meninggalkan gua persembunyiannya.

Matanya memejam demi melarikan jiwanya pada wilayah refleksi, namun yang lagi-lagi
menjemput adalah kegelapan dan semarak suara-suara dari ruang yang teramat jauh dan
kini membentuk elips besar di sekeliling inderanya. Ia mendengar alunan angin, desah
ombak dan gemuruh pasir-pasir yang tersapu belaian pantai. Ketakutan-ketakutannya
mengalami reposisi. Ia tak ingin lagi membuka mata. Tak ingin bercumbu dengan cahaya
dan keindahan dari kemilau bianglala sekali pun. Pasrah menyerahkan segenap tubuhnya,
jiwanya, apa pun yang dimilikinya terengkuh tangan-tangan kegelapan yang siap
membawanya pergi jauh ke dunia lain.
Tetes-tetes kelembutan mengalir dari dua sudut matanya membasahi dada, membawa
pergi segenap debu dan duri yang sekian lama menjadi pintu hatinya sebagai tameng
penghalang cinta di atas nafsu.
Tinggal irama jarum jam memerankan waktu mengisi kesunyian yang paradoks.
menyanyikan bait-bait sepi, hening menghilang mengikuti malam. Sementara dia
bergerak dalam keterasingan realita yang tak sanggup ia huni dengan harapan yang
hancur berkeping-keping. Melayang di antara teriakan-teriakan yang memburu berseteru
melawan kegelapan dalam pengembaraannya yang jauh. Ia mengenalinya sebagai sesuatu
kekuatan hipnotis yang selalu membuatnya tak berdaya kembali jatuh ke ruang bumi
yang fana dan tak diinginkan dimana ia merasa dipaksa memainkan peran-peran yang
bergantian memecah integritas jiwanya dan pikirannya. Dibukanya matanya dan segera ia
rasakan & merasakan letih meruntuhkan sendi-sendi tulang sehingga ia percaya sebentar
lagi tubuhnya akan hancur seperti agar-agar bening tertumpah di atas sprei. Air matanya
menetes di antara gurat bingung dan rasa bersalah yang teramat dalam.

buang rasa
by Thejo Laksono on Friday, May 7, 2010 at 2:37am
Burung-burung camar melayang di kegelapan, meninggalkan samudra yang memekik
tinggi mencapai kepak-kepak sayapnya. Tangisan hujan menderu dalam teropong angin
laut, meneriakkan panggilan pada nyanyian angkasa yang berkembang histeris. Seekor
camar tertinggal di belahan petir, jatuh ke pelukan ombak yang bergelinjang. Ratapnya
tertelan badai yang menari merayakan resah. Jauh terbawa ke dalam kegelapan di dasar
lautan, ia menggelepar menyadari kesendirian pada sebuah ruang yang asing.
dua kelopak matanya yang merah dan basah. Menghempaskan napasnya ke lembah
atmosfer di sekeliling ruangan. Kepalanya terangkat gelisah. Apakah ia barusan menyatu
dengan ilusi, atau mimpi, tentang lambang dirinya, ataukah semua tadi semata imajinasi?
Hempasan ketakutan berkali-kali membuatnya lupa makhluk semacam apakah dia
sebenarnya? Jemarinya meraba bayangan pucat dalam cermin, mencari seberkas sinar
bidadari yang tersisa di bimbang tatapannya. Tetes-tetes hening terasa kian berirama di
dasar jiwanya yang gelap, bertemu seikat kegelisahan menyembul di jendela, berdiri di
antara pelangi cahaya kincir angin. Keindahan malam terasa pucat karena desahan dingin
angin yang bersahutan rintih gerak jarum jam. Ia mendengar itu tak lain deru badai yang
kejam mengejar kepak sayapnya hingga ia akhirnya terpisah dari kebahagiaan dan
terperosok masuk ke dalam kesendirian yang gelap, menjadi seonggok bangkai camar
membeku dan busuk di dasar lautan terpekat. Segala keindahan perasaan menyerpih
menjadi tumpahan sel-sel organik bergerak menghembuskan napas keras predator.
ingin mengembara di lorong waktu yang terisikan napas dan sejumlah elemen fasilitas
adaptasi untuk menjalani era kehidupan semu. Dan ia tidak tahu, apakah dengan
demikian ia telah menjelma sebagai suatu spesies binatang yang paling menarik dan
paling menderita—manusia?
Ia—sewaktu-waktu, juga sekarang—adalah seekor camar yang terbang sendirian,
berjuang meninggalkan jebakan kegelapan untuk kembali pulang ke sarang yang paling
damai. Lihatlah jiwanya, hinggap di salah satu sinar merah, mencari gairah kehidupan
yang tersisa cukup panjang dan menjanjikan setitik tujuan yang tercapai.
Suatu tahap evolusi yang tak ia sadari bergerak di fenomena nasib dan keyakinan,
membentuk diagram pemikiran berkabut tentang hakikat jati diri dan kebenaran
konseptual akan sebentuk doktrin kejiwaaan benda-benda muka bumi—planet biru yang
sementara waktu adalah manifestasi surga di antara ribuan benda semesta—sungguh
ruang yang tak kunjung sempit dijelajahi dan selamanya menjadi misteri. Dan ia kini
duduk di hadapan sebuah kaca yang memperlihatkan padanya sesosok tubuh bergerak,
jauh terlempar dari masa yang tak dimengerti untuk sampai ke titik waktu sebuah abad
dimana nilai-nilai moralitas berkembang dari perjuangan rasio para binatang pemikir—
manusia

jarak kasih
by Thejo Laksono on Friday, May 7, 2010 at 2:21am
Sejak cahaya itu bebas keluar , bunga-bunga berguguran dari tangkainya. Aku menemui
pagi di serambi kedukaan, melihat daun berserakan di tanah retak. Kabut dingin
menyelusup ke dalam pintu. Dan aku lihat matahari perlahan-lahan ingin kembali
tertidur. Kuturunkan kain yang menyelimuti tubuh, mencari-cari udara di antara serpihan
gersang. Tapi tak ada yang terdengar. Bahkan suara hatiku sendiri.
Sedikit demi sedikit, kerapuhan merayap menjelajahi nuansa. Tak ada kata yang
terbendung, ketika aku mencoba memadukan luka, rindu, dan kebebasan. Sangat bias
salah satu rasa itu pergi, lalu kembali. Berputar-putar. Bertukar tempat.
Kadang-kadang, yang tinggal di dalam dada adalah sepotong wajahmu yang tergores
dendam. Lembut, aku menusuk-nusuknya dengan rindu yang telah menjelma ranting
kering. Kutelusuri setiap indera, berharap ada denyut yang tersisa kemudian sampai ke
kisi konsentrasimu. Ada aku di sini, bisikku di permukaanmu. Ada cinta yang
menggenang, seperti sungai darah dari sedimen-sedimen kesedihan yang mencair.
Dan, akhirnya, pertama kali aku memberhentikan sebuah wajah, sepasang mata yang liar
dan napas yang berhembuskan hasrat, di jalan yang coba aku hadapi. Aku tertegun
melihat diriku sendiri. Berharap-harap cemas, tubuh dan jiwa ini masih seirama. Senada.
Dalam pelukan yang hangat dan menggigil. Sebab tidak mudah membaginya, dengan
segumpal perih yang sederhana.
Apa pun aku tahu, bukan ini yang diinginkan pikiran dan kebebasan. Setiap detak
jantung, setiap desah napas, setiap denyut nadi, dan semua yang berhubungan dengan
logika dan nurani, menolaknya. Hanya sebuah ketidakmengertian yang mampu
menjawabnya, menyambutnya. Dan hanya sedikit kegilaan, atas nama apa pun, yang
membawanya mengembara.
Aku berharap mata itu berganti matamu. Aku ingin bayanganmu melekat padanya.
Namun, kesadaranku menepisnya. Aku teringat apa yang sedang harus aku lakukan.
Seiring dengan itu, getar-getar keraguan kian mengencang, meresap ke pori-poriku dan
jauh merasuk ke dalam jantung
Hanya jiwaku berayun-ayun menghentak sebagian tubuh, sebegitu sulitnya melewati
batas-batas pagar kenyataan yang membelenggu pemberontakan. Garis frontal telah
terpasang di depan selongsong ketidakmengertian ego, sementara buncahan-buncahan
pembelaan diri mengibarkan kepasrahan dan ketidakberdayaan yang bergerak. Aku
meronta di antara keduanya, seperti seekor duyung melewati perbatasan laut dan darat di
musim matahari menunggu cinta.
Luka ini menutup dan terbuka berganti-ganti. Setiap keliaran nafsu berjajar di muka hati,
aku memaksa diri menjadi anggur minuman itu sendiri. Merah anggun dan membara.
Membakar jiwaku yang berdesingan dalam kesadaran mencapai luluh lantak dalam
ketidaktahuan yang dibiuskan ke tiap daya staminanya. Ingatan-ingatan tentang
kesempurnaan rasa padamu berguguran, tak lagi diiringi air mata remaja. Dan bibir-
bibirku mulai menghiasi tawa, menyanyi, sekedar menyanyi di hadapan cermin yang
menampakkan visualisasi tubuh yang takkan kau kenali lagi bila bertemu di penghujung
waktu tak terkira.
Dada ini telah mekar melebihi mawar, Senyum malu-malu itu telah lama pergi dari
barisan karakter yang kau kira abadi. Datanglah disini dan akan kau lihat, sepasang kaki
putih yang selalu terbuka dan tiada jeritan penghalang yang dulu membuat kau
bersumpah atas nama Tuhan untuk tidak memasukinya. Kita tidak akan lagi menyebut
nama itu, karena yang transenden tinggal segala kepekaan dari kemurnian cinta dan
rindu. Di gurun juga pada oasenya, kau bahkan takkan menemukan lagi secara konkret,
atau mungkin juga sekedar tingkatan abstraksi.
Pada akhirnya aku tahu, dan mengerti, apa yang terjadi seputar transendental kebebasan
itu berpuluh-puluh ribu abad yang lalu, dalam gelora relijius bersama, sensualitas dari
bunga-bunga perawan yang dikuak secara massal atas nama Tuhan dan kenikmatan,
sekarang pun menjadi substansi yang melebihi morfin di setiap sel-sel pikiranku,
membebaskan substansi lain yang mengandung namamu.
Tangis dan keperihan yang mengalir di setiap adukan peristiwa, putus sambung,
membeku mencair, meledak menghampar dan secara alamiah menemui titik evolusinya
sebagai lautan baru yang setiap orang tak menginginkannya sebagai teori terpercaya di
dunia kesadaran. Apakah aku telah berlari dari realitas kesadaranku, jiwa-jiwa ini
berlayar di lautan yang telah terbentuk itu, mengembara mencari penyatuannya-yang kau,
Tuhan, dan aku, mungkin tak mengenali sebagai sesuatu yang dimiliki.
Ia akan terhempas keras. Ia, Tuhan, dan mungkin juga nuranimu (bila kau masih
merasakan eksistensi nurani), kalian menggeliat dalam tangisan seperti tinta-tinta secara
tertata merangkai gelombang perasaan dan logika yang bermetamorfosa. Mengapa,
mengapa? Kau akan bertanya, seperti semula aku bertanya. Mengapa mesti berada di
rangkaian ini-mungkin Tuhan pun akan melihat kembali ke dalam catatannya, namun
suratan-suratan itu telah putih kosong terhapus air mata. Takkan ada lagi yang tertinggal
kecuali yang tertera di kehidupan itu sendiri, di roda-roda yang berputar melewati gelap
dan terang, atau diam seperti matahari diam-diam mengintip bulan.
Pesonaku tak terbayar kebebasan itu sendiri, tapi setidaknya aku tahu jejak-jejak langkah
yang tak tertempuh rasa kemanusiaan di dalam cadar-cadar penghormatan cahaya.
Wajahku segelap cadar hitam, melindungi keabadian tertinggi rasa asing yang tak ingin
menjamahnya atas nama cinta dan kebersamaan surgawi. Jiwaku terlelap dalam
kedamaian yang tersembunyi pada sampah-sampah di setiap sela kebusukan, debu-debu
di balik kain, dan sobekan-sobekan kecil penderitaan bersalah. Sedikit saja aku
menggeliat, angin menghampar yang ada sebagaimana apa adanya-dunia dan orang-orang
di balik kesalehannya.
Di sinilah di antara percik-percik cahaya, aku kadang-kadang terbangun sebagai gelap
yang berlekuk, memberi panorama keindahan pada terang yang membentang dan
menunggu warna-warni noda keabadian. Tak seabadi sejarah yang selalu berulang tahun.
Silih bergantinya diri ini, takkan terhapus kenangan mereka yang menatapnya.

garis tangan
by Thejo Laksono on Thursday, April 22, 2010 at 7:35pm
Sunyi senyap berselimut airmata diantara tawa angkuh sang purnama yang menghujam
jiwa dengan racun sinarannya. Nafsu yang terus kuasai logika, tanpa ampun terus
menjerat pikiran dengan semua kilah tentang memory kelabu yang naungi perjalanan
hidupku. Dinginnya angin malam seakan menertawakan kesendirianku, menelusup
masuk melewati jendela kamar yang terbuka. Gelap ini mengisolasiku.Di sini aku berdiri,
di atas jalan terjal dan berliku yang mulai lelah ku tapaki.Mencoba tuk membaca arti dari
kesendirian.
cahaya hitam terus berputar di atas kepala yang terbalut kesunyian. Hingar bingar caci
maki kian lantang menghimpit akal. Mengapa mereka bilang Aku pengecut karena
memendam luka? Mengapa mereka bilang Aku tak berharga karena Aku tak punya apa
yang mereka punya? Mengapa mereka bilang Aku egois, ketika Aku menceritakan semua
impian dan harapanku? Rindu aku mendengar nyanyian lirih sang nurani di tengah alunan
simponi kehidupan. Rindu aku melihat tawa riang sang jiwa yang melangkah mengikuti
irama takdir. Kesunyian pun terus berceloteh, membisikkan dusta dan kemunafikan.
Hingga ragaku tersesat dalam pekatnya airmata yang semakin liar memojokkanku di
sudut keterasingan. Akankah datang secercah cahaya yang akan menuntunku menuju
kedamaian yang abadi..?? Akankah hadir seorang teman yang sudi mencairkan murka..??
Akankah terulur sedikit senyuman manis dari seseorang yang menjadikan aku sebagai
teman,bukan sebagai budak atupun raja..?? Lama aku terjebak diantara pertanyaan dan
harapan yang sama. Lalu muncullah satu pertanyaan lagi di otakku."Akankah terbalut
semua perih di hati ini hanya dengan mengharapkan sesuatu yang belum pasti
kedatangannya..
"Hitampun terasa semakin pekat, sejenak ku tersadar diri ini semakin tersesat dalam buai
angan-angan, dan terbersit keinginan untuk bangkit tanpa mengandalkan belas kasih dari
orang lain, berpijak pada keyakinanku sendiri,pada harapan yang pudar oleh
kebodohanku yang terbutakan oleh dunia yang memang di ciptakan sebagai tempatnya
segala tipu daya dan cobaan.Ku coba tuk terus melangkah, walau ringkih jalan terjal dan
berkerikil ini akan ku susuri.Hingga tak terhembus lagi nafas di dada.Hingga tak ada lagi
asa yang tersisa.Seketika ku palingkan wajahku dari semua beban, Ku ikuti laju suara hati
ini,menyusuri lorong kekosongan yang bersemayam di lubuk hati terdalamku.
Untuk pertama kalinya aku rebah dalam pangkuan takdir. Ku temukan setitik cahaya
yang redup namun menghangatkan, cahaya yang telah lama ku tinggalkan demi sampah
yang di namakan dunia. aKu pun tertunduk semakin dalam,mencoba mengungkap ada
apa dengan semua cobaan yang kualami. Mulai ku sadari bahwa Tuhan mempunyai
banyak rahasia, pasti ada hikmah dibalik jalan yang telah di tentukan oleh-Nya. Gema
adzan sentuh telinga, Aku terbuai oleh suara lirih dari orang-orang yang menyebut nama-
Nya.Mengagungkan kebesaran-Nya.Di sudut pagi aku tercekat dalam bius senyap. Inikah
anugerah? Membiarkan anganku terus terbang menjelajahi titik sadarku? Ataukah akan
menjadi sebuah malapetaka di hari esok, dimana semuanya terlupakan ketika senyuman
itu terukir di wajah yang hari ini menangis karena mengingat semua perbuatan dosa yang
Kuciptakan.