Anda di halaman 1dari 9

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415

Vol. 1 No. 1 Agustus 2008


43

STUDI GEOLOGI PENDAHULUAN EKSPLORASI BIJIH BESI


DI KECAMATAN PELAIHARI KABUPATEN TANAH LAUT
PROPINSI KALIMANTAN SELATAN
Inti Widi Prasetyanto1

1
Jurusan Teknik Geologi, Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta

Masuk: 11 Januari 2008, revisi masuk: 2 Mei 2008, diterima: 22 Juli 2008

ABSTRACT
The aim of this preliminary geological study is to know the field conditions from
iron ore, in the Gunung Tembaga, surrounding in Pelaihari District, Tanah Laut Regency,
South Kalimantan Province, consist of geomorphological, stratigraphy and structural geo -
logical aspect. Meanwhile the goals of the study is to know iron ore spreading in surface
and its possibility occurrence in sub surface. The exploration methods has been done
were preliminary geological survey and mapping consists of reference study, geological
surface mapping, rock sampling and laboratory analysis. The Geomorphologically study
area consists of undulating hilly with elevation from 30 until 80 meters. This morphology
formed metamorphic rocks consists of schistfilit and igneous rocks consists of gabbro -
peridotite. Those rocks overlay by colluvial deposits which found mafic igneous rocks
fragment and iron ore scattered from sand, pebble until cobble. Structural geology in
study area are joint and drag fold. Iron ore mineral in study area are magnetite, hematite
and limonite which predicted from magmatic, replacement, residual or oxidation
processes. Iron ore samples from study area show Fe value 66,14% and 66,20%.

Keywords : Geological Conditions, Geological Mapping, Iron Ore

INTISARI
Studi geologi pendahuluan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi dilapangan
dari lokasi dimana keterdapatan bijih besi, di Gunung Tembaga, Kecamatan Pelaihari,
Kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan, yang meliputi aspek geomorfologi,
stratigrafi dan struktur geologi. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui sebaran
bijih besi di permukaan dan kemungkinan keterdapatannya di bawah permukaan. Metode
eksplorasi yang dilakukan berupa survey pemetaan geologi, meliputi pekerjaan studi
pustaka, pemetaan gelogi permukaan, pengambilan contoh batuan dan analisis labora-
torium. Geomorfologi daerah penyelidikan berupa perbukitan dan bergelombang atau
undulating , dengan ketinggian bervariasi mulai dari 30 hingga 80 meter. Perbukitan ini
tersusun oleh batuan metamorf yang berupa sekis-filit dan kelompok batuan beku basa-
ultrabasa yaitu gabroperidotit. Di permukaan kedua satuan batuan tersebut ditutupi oleh
en-dapan koluvial yang terdapat fragmen batuan beku basa dan sebaran bijih besi
berukuran mulai dari pasir, kerikil dan kerakal. Struktur geologi yang terdapat di daerah
penyelidikan berupa kekar dan gejala patahan berupa drag fold. Mineral bijih besi yang
terdapat di daerah penyelidikan adalah magnetit, hematit dan limonit yang diperkirakan
berasal dari proses magmatik, replacement , residual atau oksidasi. Conto bijih besi yang
diambil dari dae-rah penyelidikan menunjukkan kadar unsur Fe sebesar 66,14% dan
66,2%.

Kata Kunci : Kondisi Geologi, Pemetaan Geologi, Bijih Besi

PENDAHULUAN domestic maupun regional yang sema-


Kebutuhan akan beberapa ko- kin meningkat. Berdasarkan gejala
moditi mineral logam khususnya bijih tersebut, pencarianakan sumber-sum-
besi saat ini sedang mengalami pening- ber bahan mineral logam khususnya
katan, terlihat adanya permintaan pasar bijih besi. Suatu usaha yang dilakukan
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

ole Perusahaan pertambangan bijih besi luan PT. In Team Mining melakukan
swasta di Propinsi Kalimantan Selatan kegiatan eksplorasi bijih besi dengan
secara geologi terdapat indikasi adanya menggunakan metode resistivity 2D.
keterdapatan endapan mineral bijih besi Hasil penyelidikan menunjukkan satuan
dan lainnya. Untuk explorasinya diperlu- tanah pelapukan yang mengandung
kan suatu metode arahan eksplorasi lensa cebakan bijih besi dengan nilai
evaluasi, studi kelayakan, dan rencana tahanan jenis 0 sampai dengan 10'0m,
eksploi-tasi penambangannya.(Sanusi. didapatkan dalam bentuk boulder bijih
B, 1984) besi delluvial atau colluvial , tersebar
Lokasi daerah secara adminis- cukup luas tetapi tidak merata dalam
trasi terletak di Desa Sumber Mulya, tingkat kedalamannya di-perkirakan
Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah antara 5-15m.(Zen. MT, dkk, 1982)
Laut, Propinsi Kalimantan Selatan. Se- Dalam studi pendahuluan geo-
cara geografis daerah penyelidikan ter- logi dilaksanakan dalam beberapa taha-
letak pada ko-ordinat 114047’32,2” BT pan penyelidikan dan memerlukan be-
sampai 1140. 47’ 50,8” BT dan 03051’ berapa peralatan dalam penyelidikan,
41,8” LS sampai 03052’06,4” LS. Daerah meliputi: studi pustaka, pengumpulan
penyeli-dikan dapat dicapai dengan data sekunder, pengamatan dan pe-
kendaraan roda empat dari Banjarmasin ngumpulan data lapangan, analisis
ke selatan menuju Pelaihari sejauh 65 laboratorium serta pembuatan laporan.
kilometer dan dari Pelaihari menuju Studi pustaka dan pengumpulan data
Gunung Tembaga sejauh 7km ke arah sekunder antara lain peta geologi
selatan. regional dan peta rupa bumi daerah
Maksud dari studi geologi pen- penyelidikan, serta hasil data pe-
dahuluan ini adalah untuk mengetahui nyelidikan terdahulu dan pustaka yang
kondisi lapangan dari lokasi keterdapa- berkaitan dengan keberadaan dan seba-
tan bijih besi di Gunung Tembaga yang ran bijih besi. Pengumpulan data lapa-
meliputi aspek geomorfologi, litologi dan ngan meliputi orientasi, pembuatan peta
struktur geologi. Sedangkan tujuan dari topografi dan pengamatan aspek geo-
penyelidikan pada geologi pendahuluan logi. Orientasi lapangan dilakukan untuk
adalah untuk mengetahui sebaran bijih mengetahui batas-batas koordinat dae-
besi di permukaan dan kemungkinan di rah penyelidikan. Pembuatan peta topo-
bawah permukaan. Penelitian dan pe- grafi dilakukan karena belum tersedia-
metaan pernah dilaksanakan oleh PT. nya peta topografi daerah penyelidikan
Pelaihari Mas Utama tahun1987 (Si- dalam skala yang memadai. Hanya
kumbang, dkk 1994). tersedia peta rupabumi skala 1:50.000,
Menurut(Tim Eksplorasi CV.Riz- dan untuk kepentingan tahapan eksplo-
qa Amanah Mulia Abadi, 2006).PT. Pe- rasi dibuat peta topografi dengan skala
laihari Mas Utama tahun 1987, mela- 1:1000. Adapun metode pembuatan peta
kukan eksplorasi emas dan logam dasar topografi tersebut menggunakan be-
dan menemukan adanya dua zona berapa cara seperti kompas dan pita
mine-ralisasi. Zona Utara diwakili oleh ukur, plane table , kombinasi kompas
quartzhematit-magnetit terbreksikan me- dengan GPS. (Peter. WC, 1978).
nempati urat berarah retakan NE pada Pengamatan data geologi di per-
andesit porfiritik terkloritkan berfoliasi mukaan untuk mengetahui kandungan
lemah. Zona Selatan dicirikan oleh reta- oksida utama dan unsur-unsur logam
kan tarik dan sebuah patahan yang ber- lainnya dari conto batuan yang mengan-
hubungan dengan urat kuarsa magnetit dung bijih besi dari daerah penyelidikan,
yang menempati sekis klorit. 44 dilakukan Uji Kimia Metode XRF di La-
Menurut (Sikumbang, dkk,1994) boratorium Geologi, Pusat Survei Geo-
menyusun Peta Geologi Bersistem Indo- logi, Badan Geologi, Departemen Energi
nesia Lembar Banjarmasin 1712 de- dan Sumber Daya Mineral di Bandung.
ngan skala 1:250.000, yang diterbitkan Pekerjaan studio dan pembuatan lapo-
oleh Pusat Penelitian dan Pengem- ran meliputi penyempurnaan peta topo-
bangan Geologi, Bandung, untuk keper- grafi, evaluasi data dan peta geologi
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

regional, pembuatan peta geologi dae- tuan ultramafik, diorit, berwarna kelabu,
rah, evaluasi hasil penyelidikan terda- berhablur penuh, hipidiomorf berbutir
hulu dan analisis hasil uji kimia contoh seragam, butiran berkisar 1–2,5mm,
batuan. Semua data yang diperoleh baik mineral plagioklas (ande-sine), dengan
data primer maupun sekunder dikumpul- mi-neral tambahan biotit, hornblende
kan, untuk diolah, kemudian ditafsirkan, dan bijih malihan dan batuan ultramafik.
lalu dianalisis untuk pengambilan kesim- Granit, berwarna putih kecoklat-
pulan. an, berhablur penuh, hipidiomorf berbutir
Menurut Tim Eksplorasi CV.Riz- seragam, butiran 1–3,5 mm, tersusun o-
qa Amanah. MA, 2006) Untuk melaku- leh mineral ortoklas, kuarsa, sedikit
kan kegiatan penyelidikan geologi pen- pla-gioklas (albit ), bertekstur grafik,
dahuluan di Gunung Tembaga, Pelai- granofirik dan mirmekit, mineral lain
hari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan hornblende, muskovit dan bijih, tersing-
diperlukan beberapa sarana peralatan kap di dua tempat di S. Rimuh dan S.
utama maupun pendukung, meliputi: Kintap dekat kam-pung Riam Adungan.
- Peta geologi regional Di Lembar Amuntai pentarikhan berda-
- Peta rupa bumi sarkan K-Ar menunjuk-kan umur 115±1
- Kompas geologi juta tahun atau Kapur Awal. Sedangkan
- Palu geologi pada mineral zircon dari granit Riam
- Loupe Adungan menunjukkan umur 89,63
- GPS merk Garmin type GPS V ±10,49 juta tahun.
- Pen magnet Diabas, berwarna kelabu, ber-
- Kamera hablur penuh hipidiomorf, berbutir sera-
- Plane table gam, butiran 0,5–1,5mm, tersusun oleh
- Flagging tape .
mineral labradorit dan augit, memper-
Daerah penyelidikan secara re-
lihatkan tekstur diabas, rongga terisi
gional termasuk bagian akhir Barat Daya
kuarsa, tersingkap di G. Keramaian.
dari Pegunungan Meratus, terdiri dari sa-
Basal, berwarna kelabu–hitam,
tuan batuan ultramafik, sekis talkklorit,
berhablur penuh hipidiomorf, berbutir tak
peridotit terserpentinitkan dan batuan vol-
seragam, berbutir halus–sedang, porfiri-
kanik. Secara fisiografi daerah pe-
tik dengan fenokris plagioklas (labra-
nyelidikan tersusun oleh perbukitan ber-
dorit) dan piroksen (augit), massa dasar
gelombang lemah sampai sedang. Se-
mikro-lit plagioklas dan piroksen yang
cara regional daerah Pelaihari dan seki-
memperlihatkan tekstur antar butir. Se-
tarnya tersusun oleh beberapa batuan
tempat amigdaloid dengan lorong terisi
yang berumur mulai dari PraTersier
mineral karbonat. Batuan ini terdapat
sampai Kuarter, antara lain meliputi:
bersama batuan ultramafik dan gabro.
Batuan Ultramafik; Batuan Malihan Ga-
Andesit porfir, berwarna kelabu,
bro; Diorit; Granit; Diabas; Basal; Ande-
berhablur penuh, hipidiomorf, berbutir
sit Porfir; Formasi Pitanak; Formasi Pa-
tak seragam, porfiritik, butir hablur antara
au; Formasi Batununggal; Formasi Pan-
0,2–1,5mm, dengan fenokris plagioklas
iungan; Olistolit Kintap; Formasi Pudak;
dan hornblende, massa dasar mikrofelsit.
Anggota Batukora; Formasi Pudak; For-
Batuan ini menerobos Formasi
masi Keramaian; Formasi Manunggul;
Manunggul berupa retas dan stock.
Formasi Tanjung; Formasi Berai; For-
Formasi Pitanak, terdiri dari lava
masi Warukin, Formasi Dahor; serta
andesit berwarna kelabu, coklat bila la-
Aluvium. (Peter. WC, 1978)
puk, porfiritik dengan fenokris plagio-
Batuan Gabro, berwarna kelabu
klas, umumnya berlongsong yang terisi
kehijauan, berhablur penuh, hipidiomorf,
mineral zeolit, kuarsa dan seladonit,
berbutir seragam, besaran butir antara 45
setempat berstruktur bantal. Berasosiasi
1–4,5mm, tersusun oleh mineral plagi-
dengan breksi–konglomerat volkanik,
oklas (labra-dorit ) dan piroksen (augit)
umumnya lapuk berwarna coklat, ber-
dengan mineral ikutan hornblende dan
komponen andesit–basal porfiri, beruku-
bijih. Tempat piroksen terkloritkan men-
ran beberapa sampai puluhan sentime-
jadi hornblende. Di beberapa tempat ba
ter dan dengan massa dasar batupasir
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

gunungapi, terpilah buruk, bentuk butir dengan massa dasar yang telah me-
menyudut tanggung. Tebal formasi di- ngalami penghablur-an ulang, umurnya
perkirakan 500 meter. diperkirakan awal Kapur Akhir.
Formasi Paau, berupa breksi Anggota Batukora, Formasi Pu-
gunungapi, berwarna kelabu kehitaman, dak, tersusun oleh andesit piroksen por-
berkomponen batuan andesit–basal, fir, hijau tua–hitam, dengan fenokris pla-
berukuran 5–30cm, dengan massa da- gio-klas dan piroksen, massa dasar tan-
sar batupasir tuf, kemas terbuka, terpi- sat-mata. Pada bagian atas satuan ini
lah buruk, bentuk butir menyudut–mem- menjemari dengan vulkaniklastik pejal
bulat tangggung; berasosiasi dengan la- (hialoklastik). Tebalnya diperkirakan
va, berwarna kelabu kehitaman bersu- mencapai 300 meter.
sunan ba-sal, setempat porfiritik dengan Formasi Pudak, tersusun lava
fenokris plagioklas, berongga. Sebaran- dengan perselingan konglomerat/breksi
nya di Sungai Paau, Pinang dan Haja- vulkaniklastik (hialoklastik) dan batupa-
wa. Ketebalannya diperkirakan 750m. sir kotor dengan olistolit batugamping,
Formasi Batununggal, terdiri dari basal porfir, ignimbrite, batuan malihan
batugamping klastika berwarna kelabu dan ultramafik. Ukuran Olistolit berkisar
hitam, berlapis baik, setempat merupa- antara beberapa cm sampai ratusan
kan breksi batugamping, setempat kaya meter. Olistolit batugamping paling luas,
akan fosil orbitulina, diantaranya Orbitu- mencapai 2 km. Bagian atas for-masi
lina cf. oculata, Orbitulina sp dan Orbitu- menjemari dengan Formasi Keramaian.
lina primitive yang menun-jukkan umur Formasi Keramaian, terdiri dari
akhir Kapur Awal, tersingkap di Mang- perselingan batupasir (vulkarenit) ber-
karak, Kendihin dan hulu Sungai Riam warna kelabu kehitaman sangat padat,
Kiwa. Tebalnya diduga 50m. dengan batulanau dan batulempung, se-
Formasi Paniungan, terdiri dari tempat sisipan batugamping konglome-
batulempung berwarna kelabu, gam- ratan, tebal perlapisan berkisar 2–50cm,
pingan dan agak rapuh, dibeberapa berasosiasi dengan rijang. Formasi ini
tempat dijumpai fosil di antaranya merupakan endapan flysch dan ber-
Turitella, ber-sisipan dengan batulanau struktur turbidit.
berwarna kelabu, pejal, setempat gam- Formasi Manunggul, terdiri dari
pingan berstruktur kerucut dalam keru- konglomerat aneka bahan, berwarna ke-
cut. Kedua batuan ini, adalah yang do- labu kemerahan, dengan komponen ba-
minan dalam satuan ini, sebagai seli- tuan mafik, ultramafik, rijang, kuarsit, se-
ngan dijumpai batupasir berwarna kela- kis dan batuan sediment, berukuran 2–
bu, berbutir sedang hingga kasar, tersu- 10cm, dengan massa dasar batupasir,
sun dari kepingan batuan dan feldspar tebal perlapisan 1–5m, bersisipan de-
dalam massa dasar lempungan. Di be- ngan batupasir kelabu kecoklatan, pejal,
berapa tempat dijumpai fosil molus-ka. dengan tebal perlapisan 20–50cm, dan
Sebarannya dijumpai di S. Paniungan batulempung. Formasi ini berumur Ka-
dan di hulu S. Satui. Tebalnya diduga pur Akhir.
le-bih kurang 750m. Batuan ini tidak Formasi Tanjung, tersusun oleh
selaras di atas batuan malihan (113 juta batupasir kuarsa berbutir halus sampai
tahun) sehingga umurnya diperkirakan kasar dengan tebal perlapisan 50–150
lebih muda dari Kapur Awal. cm, berstruktur sedimen laminasi halus
Olistolit Kintap, Formasi Pudak, dan perlapisan silang siur, sisipan batu-
terdiri dari batugamping klastika pejal lempung berwarna kelabu setempat me-
sampai berlapis tebal, berwarna kelabu nyerpih, ketebalan perlapisan 30–150
muda–tua dan putih kekuningan. Bagian 46 cm, dijumpai pada bagian atas formasi,
bawah mengandung batupasir kong- sisipan batubara berwarna hitam, meng-
lomeratan, warna kelabu kehita-man, kilat, pejal, dijumpai pada bagian bawah
terpilah buruk, bentuk butir menyudut– formasi dengan tebal lapisan 50–150m
menyudut tanggung, sangat padu, kom- setempat dijumpai lensa batugamping
ponen terdiri dari kepingan batuan ba- warna kelabu kecoklatan, mengandung
sal–andesit dan batugamping Orbitulina kepingan moluska, echinoid dan forami-
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

nifera diantaranya Nummulites javanus rite yang menerobos batuan ultramafik


(Verbeek) dan Heterostegina sp. , juga dan batuan malihan. Pada akhir Kapur
foraminifera kecil bentos dari keluarga Awal terbentuk Kelompok Alino yang
Milliolidae menunjukkan umur Eosen, sebagian merupakan olistostrom, dise-
terendapkan dilingkungan paralikneritik. lingi dengan kegiatan gunungapi Kelom-
Ketebalan formasi lebih kurang 750m. pok Pitanak. Pada awal kapur akhir ke-
Formasi Berai, terdiri dari batu- giatan tektonik menyebabkan tersesar-
gamping berwarna putih kelabu, berla- kannya batuan ultramafik dan malihan
pis baik dengan ketebalan 20-200cm, ke atas kelompok alino. Pada kala
se-tempat kaya akan koral, foraminifera paleosen kegiatan tektonik, menyebab-
dan ganggang, bersisipan napal ber- kan te-rangkatnya batuan mesozoikum,
warna kelabu muda padat berlapis baik disertai penerobosan batuan andesit
(10–15 cm), mengandung foraminifera porfir. Pada awal eosen terendapkan
plankton, dan batulempung berwarna formasi tanjung dalam lingkungan pa-
kelabu setempat terserpihkan dengan ralik. Pada kala oligosen terjadi genang
kete-balan 25-75cm. Berdasarkan kum- laut yang membentuk formasi berai.
pulan foraminifera besar yang terdapat Kemudian pada kala miosen terjadi
dalam batugamping, menunjukkan umur susut laut yang membentuk Formasi
nisbi Oligosen. Formasi ini terendapkan Warukin.
dalam lingkungan neritik dan ke-tebalan Gerakan tektonik yang terakhir
formasi lebih kurang 1000m. terjadi pada kala akhir miosen, menye-
Formasi Warukin, tersusun oleh babkan batuan yang tua terangkat,
perselingan batupasir kuarsa halus–ka- mem-bentuk Tinggian Meratus, dan
sar setempat konglomeratan (5-30cm) melipat kuat batuan Tersier dan pra-
dan batulempung (3–100cm), dengan Tersier. Sejalan dengan itu terjadilah
sisipan batulempung pasiran dan batu- penyesaran naik dan penyesaran geser
bara (20–50cm) terendapkan dalam yang diikuti sesar turun dan pemben-
lingkungan paralik dengan ketebalan di- tukan Formasi Dahor pada Kala Pliosen.
perkirakan 1250m. Berdasarkan fosil fo- Unsur besi tersebar luas dalam
raminifera yang terkandung dalam batu- kerak bumi dan membentuk banyak se-
lempung pasiran, menunjukkan umur kali mineral, dari jumlah ini hanya 4 ma-
nisbi akhir Miosen Awal Miosen Tengah. cam mineral bijih besi seperti Tabel 1.
Formasi Dahor, terdiri dari batu- Sedangkan keterdapatan endapan
pasir kuarsa kurang padu, konglomerat mine-ral bijih besi di alam dapat dilihat
dan batulempung lunak, dengan sisipan pada Tabel 2.
lignit (5–10cm), kaolin (30–100cm) dan Sifat besi sangat kuat serta
limonit. Formasi ini terendapkan dalam me mp e n g a ru h i d i st ri b u s i ka r e n a
lingkungan paralik dengan tebal formasi kemampuannya berada dalam lebih dari
diperkirakan 250m. Umurnya diduga satu ke-adaan oksidasi. Dalam keadaan
Plio-Plistosen. Aluvium, tersusun oleh ferric a-tau trivalent, mengandung ion Fe
kerikil, pasir, lanau, lempung dan positif 3. Dalam keadaan ferrous atau
lumpur. divalent mengandung ion Fe positif 2
Struktur geologi regional yang dan dalam keadaan metallic seperti
terdapat di Lembar Banjarmasin adalah dalam pusat bumi, besi bervalensi nol.
antiklin, sinklin, sesar naik, sesar men- Makin tinggi valensi positifnya, makin
datar dan sesar turun. Sumbu lipatan u- banyak zat asam bergabung dengan-
mumnya berarah timurlaut–baratdaya nya, sebab zat asam bervalensi 2 yang
dan umumnya sejajar dengan arah konstan dan negatif (Sanusi, 1984).
sesar normal. Ion–ion besi dapat diperoleh
47
Kegiatan tektonik di daerah itu dari mineral Magnetit, Hematit, Limonit
diduga telah berlangsung sejak Jaman atau Siderit. Masing–masing mempu-
Jura, yang menyebabkan bercampurnya nyai ciri–ciri tertentu. Magnetit kristal-
batuan ultramafik dan batuan malihan. nya berben-tuk octahedral, kadang-
Pada zaman Kapur Awal atau sebelum- kadang dodeca-hedral, tidak mempu-
nya terjadi penerobosan granit dan dio nyai belahan. Warna dan ceratnya
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

hitam, menunjukkan sifat magnetis, larut biasa-nya kompak dan berbutir halus,
secara perlahan dalam asam hydro- kadang-kadang berkonkresi. Batuan Si-
chloric (Zen, dkk, 1982). derit juga didapatkan dalam kondisi
Hematit, mempunyai kekerasan metamorfosa. Siderit mudah berubah
5 sampai 6, warna abu–abu sampai me- menjadi hematit atau limonit. (Jensen.
rah cerah, warna cerat merah atau ML, dkk, 1981).
coklat merah, kilap logam. Variasinya
disebut specularit, warnanya hitam dan PEMBAHASAN
kilapnya logam. Sebagai mineral primer, Geologi daerah penyelidikan se-
hematit seringkali didapatkan sebagai cara umum terdiri dari morfologi perbukit-
asesori dalam batuan beku, dan seba- an, tersusun oleh batuan metamorf atau
gai penyusun minor dalam urat hydro- malihan dan batuan beku, di beberapa
thermal bersuhu tinggi dan endapan lokasi dijumpai adanya struktur geologi
kontak metamorfik yang berasosiasi berupa kekar dan sesar atau patahan, di
dengan magnetit. permukaan dijumpai atau terdapat sebar-
Goethit atau limonit, sistem kris- an bijih besi berukuran mulai dari pasir,
tal orthorhombic, pecahan uneven , ke- kerikil dan kerakal.
kerasan 5–5,5; densitas 3,3 sampai 4,3. Geomorfologi daerah penyelidik-
Warna coklat kehitaman sampai kuning an berupa perbukitan bergelombang
atau coklat kemerahan sampai kuning atau undulating , dengan ketinggian
ke-coklatan, warna cerat kuning keco- bervariasi mulai dari 30m hingga puncak
klatan, kuning oranye. Warna dan cerat tertinggi 80m. Vegetasi yang terdapat di
membedakan goethit dari hematit. daerah penyelidikan berupa semak
Goethit biasanya dihasilkan dari pelapu- belukar yang terdiri dari rumput dan
kan mineral-mineral besi, siderit, pyrit, perdu. Terdapat alur–alur sungai kecil
mag-netit atau glauconit dibawah kondi- yang melewati per-bukitan di daerah
si oksi-dasi pada temperature normal; penyelidikan yang ber-arah ke timur dan
juga ter-bentuk oleh penguapan lang- ke utara. Litologi atau batuan sekitarnya
sung dari air laut atau air meteoric di terdiri dari kelompok batuan metamorf
rawa-rawa atau lagoon. Goethit sebagai yaitu sekis-filit dan kelompok batuan
penyusun utama limonit, didapatkan beku basa-ultrabasa sulit ditentukan
sebagai sebuah gos-san atau penutup posisi stratigrafinya. Pada endapan
yang lapuk pada urat atau endapan koluvial tersusun oleh fragmen batuan
pengganti sulfide yang kaya besi. Penu- beku basa yang sebagi-an terdapat
tup limonit sisa juga dida-patkan di atas kandungan besi (Fe) tinggi, sekis–filit
batuan yang mengandung mineral– dan juga mineral kuarsa. Ketebalan
mineral besi dimana batuan lapuk dalam endapan koluvial diperkirakan sekitar 1-
waktu yang cukup lama, yang dikenal 2m. Daerah penyelidikan meru-pakan
sebagai laterit. bagian dari rangkaian pegunungan
Siderit (FeCO3), kristalnya ber- Meratus yang terletak di bagian Barat
bentuk rhombohedral, Mg menggantikan Daya. Secara geologi merupakan
Fe 2+ untuk membentuk magnesit, dan daerah dengan struktur geologi yang
Mn 2+ serta Ca mungkin menggantikan cukup rumit dan kompleks. Daerah
Fe2+ . Densitas siderit 3,96 menurun penyelidikan dan sekitarnya merupakan
seiring dengan penggantian oleh Mn2+, bagian dari Kom-pleks Melange
Mg, atau Ca untuk Fe2+. Warna coklat Meratus, ditemukan sing-kapan gejala
kekuningan, dan coklat keabu-abuan patahan yang berupa lipatan seretan
sampai coklat dan coklat kemerahan, atau drag fold dengan arah bidang
juga abu–abu kekuningan, abu–abu Ke- 48 kemiringan lapisan N 2000E/550. Bagian
hijauan, Siderit menjadi magnetit pada barat daya daerah penyelidikan telah
pemanasan; larut dalam asam hydro- ditemukan tubuh iron ore dalam ukuran
chloric panas. Siderit tersebar luas yang cukup besar (bongkah) pada
sebagai endapan berlapis di batuan kedala-man lebih kurang 30m. Dibawah
sedimen, berasosiasi dengan lempung, permukaan tanah, keberadaan bong-
serpih atau lapisan batubara. Siderit kah ini sebagai akibat struktur patahan
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

atau sesar yang melewati daerah kerakal yang terdapat pada endapan
tersebut (bongkah ini terletak di utara alu-vial dengan ketebalan 1 m. Oleh
drag fold ). Selain di daerah penyelidikan masyarakat setempat bijih besi ditam-
juga dite-mukan singkapan kekar yang bang dengan menggunakan cara di-
mempunyai arah atau bidang semprot menggunakan mesin pompa
kedudukan N 3000 E/450. Kekar ini terisi untuk beberapa jenis endapan komersial
oleh mineral kuarsa dengan kete-balan bijih besi (Jensen, dkk, 1981).
5-10cm, merupakan bagian dari struktur Di lembah ini pula terdapat
patahan atau sesar naik yang berarah singkapan endapan bijih besi yang ber-
relatif utara-selatan.Di daerah penyeli- ukuran pasir. Ketebalan singkapan lebih
dikan ditemukan pula kekar berpasa- kurang 1m dengan panjang lebih ku-
ngan dengan arah N330 0 E/85 0 dan rang 100 meter. Keberadaan endapan
N1750 E/450, yang terisi pula oleh mine- pasir besi dan bijih besi yang berukuran
ral kuarsa dengan ketebalan 3-5cm. kerikil sampai kerakal yang cukup ba-
Kedua kekar tersebut diperkirakan ter- nyak, diperkirakan sebagai kelanjutan
bentuk karena mekanisme terjadinya dari keterdapatan tubuh iron ore yang
sesar atau patahan dari daerah penye- besar di sebelah selatannya sebagai
lidikan. Di daerah penyelidikan terdapat kelan-jutan dari zona patahan yang
lubang galian atau test pit yang dibuat melewati daerah tersebut. Berdasarkan
oleh penambang dengan ukuran 1x1,5 hasil uji kimia metode XRF yang dila-
meter dengan kedalaman 2 meter, di- kukan di Laboratorium Geologi Pusat
mana pada dasar sumuran tersebut Survey Geologi di Bandung terhadap
tersingkap suatu tubuh iron ore yang conto bijih besi yang diambil dari daerah
berukuran lebih kurang 60cm. penyelidikan menunjukkan kandungan
Di bagian utara daerah penyelidikan ju- oksida Fe 2 O 3 sebesar 94,56 % dan
ga terdapat sebaran bijih besi permu- elemen Fe sebesar 66,14 % (Conto
kaan yang berukuran kerikil, sedangkan nomer BTS 01) dan kandungan oksida
dibagian barat daerah penyelidikan ter- Fe2O3 sebesar 94,65 % dan un-sur Fe
dapat suatu lembah yang cukup mena- sebesar 66,2 % (Contoh nomer BTS
rik, karena di lokasi ini terdapat singka- 02). Hasil uji kimia tersebut dapat dilihat
pan sebaran bijih besi yang berukuran pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil uji kimia metode XRF terhadap 2 contoh bijih besi dari daerah Gunung
Tembaga, Pelaihari, Kalimantan Selatan.
Oksida Satuan BTS 01 BTS 02
SiO2 % 1,61 2,13
TiO2 % 0,0457 0,037
Al2O3 % 2,01 1,53
Fe 2O3 % 94,56 94,65
MnO % 0,365 0,329
CaO % 0,0176 0,0091
MgO % 0,355 0,371
Na2O % 0,408 0,341
K2O % 0,0087 0,0046
P2O5 % 0,0732 0,0777
SO3 % 0,0216 0,0342
Elemen
Fe % 66,14 66,20

Endapan mineral bijih besi yang Model keterdapatan endapan mi-


dijumpai di daerah penyelidikan dan seki- neral bijih besi yang dijumpai di daerah
tarnya, diperkirakan dapat berasal dari Gunung Tembaga dan sekitarnya Keca-
jenis magmatik, replace-ment, residual matan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut,
atau oksidasi. Propinsi Kalimantan Selatan ini, dapat
disamakan dengan model penampang

49
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

tambang bijih besi yang berada di Erring- pelapukan yang cukup kuat. Struktur
ton, Steeprock, Ontario, Canada (Jen- geologi yang berkembang di daerah
sen. WC, dkk, 1981). penyelidikan adalah kekar dan sesar atau
Di daerah penyelidikan dan se- patahan. Kekar tersebut mempunyai arah
kitarnya sudah terdapat kegiatan eksploi- N3300 E/850 dan N 1750 E/450, yang terisi
tasi atau penambangan bijih besi yang oleh mineral kuarsa. Sedangkan patahan
dilakukan oleh pengusaha swasta setem- atau sesar yang terdapat di daerah
pat dengan melibatkan penduduk seba- penyelidikan adalah sesar naik dengan
gai tenaga kerja. Adapun metode yang dijumpainya singkapan drag fold atau
digunakan untuk mengambil bijih besi di lipatan akibat seretan dengan arah N2000
permukaan secara tradisional yaitu de- E/550
ngan peralatan sederhana seperti linggis .
dan cangkul, kemudian bijih besi yang Di daerah penyelidikan dan seki-
berukuran kerikil atau kerakal tersebut tarnya dijumpai adanya sebaran mineral
dimuat ke dalam karung-karung. bijih besi di permukaan yaitu magnetit,
Selain itu juga terdapat cara pe- hematite serta limonit yang berukuran
nambangan dengan menggunakan pom- pasir, kerikil sampai kerakal. Dari hasil uji
pa air dan disemprotkan ke permukaan kimia, diketahui kadar unsur Fe di daerah
endapan koluvial, sehingga bijih besi penyelidikan mencapai 66%. Sedangkan
yang berukuran kerikil sampai kerakal a- yang masih menjadi pertanyaan adalah
kan terlepas dari massa endapan. Selan- dugaan kemungkinan terdapatnya tubuh
jutnya bijih besi tersebut ditempatkan da- iron ore yang cukup besar di bawah per-
lam karung. Namun demikian ada juga mukaan dan berapa besarnya volume
cara penambangan bijih besi dengan cadangan yang ada.
menggunakan alat berat seperti back hoe Untuk mengetahui hal tersebut,
dan bijih besi yang diperoleh diangkut perlu ditindaklanjuti dengan mengada-
menggunakan truck. kan kegiatan tahapan eksplorasi berikut-
nya yaitu survey geofisika dengan meto-
KESIMPULAN de tahanan jenis dan atau geomagnet
Daerah penyelidikan secara geo- agar dapat dibuat pemodelan dan inter-
morfologi berupa perbukitan bergelom- pretasi atau penafsiran kondisi bawah
bang atau undulating dengan elevasi ber- permukaan di daerah Gunung Tembaga
variasi mulai dari 30 sampai 80 meter. dan sekitarnya, Kecamatan Pelaihari,
Perbukitan tersebut sebagian masih ditu- Kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kali-
tupi oleh vegetasi yang berupa perdu, mantan Selatan.
rumput, semak belukar dan pepohonan. DAFTAR PUSTAKA
Sebagian sudah dikupas atau dibersih- Jensen, M.L. and Bateman, A.M., 1981,
kan (land clearing ) untuk mencari bijih Economic Mineral Deposits,
besi secara manual. Third Edition, John Wiley &
Perbukitan di daerah penyelidik- Sons, New York, Chichester,
an disusun oleh litologi atau batuan yang Brisbane, Toronto, 593p.
terdiri dari kelompok batuan metamorf Mason, B. and Berry, L.G., 1968, Ele-
atau malihan yaitu sekis–filit dan kelom- ments of Mineralogy , W.H. Free-
pok batuan beku basa–ultrabasa yaitu man and Company, San Fran-
gabro–peridotit. Kedua satuan batuan cisco and London, 550p.
tersebut sulit ditentukan posisi stratigrafi- Peter, W.C., 1978, Exploration and Mi -
nya. Kedua satuan batuan tersebut diper- ning Geology , John Wiley &
kirakan berumur PraTersier yaitu Kapur Sons, New York, Chichester,
Awal. Kedua satuan batuan tersebut Brisbane, Toronto, 696p.
ditutupi oleh endapan koluvial dengan 50
Sanusi, B. 1984, Mengenal Hasil Tam-
ketebalan 1-2m, yang tersusun oleh bang Indonesia, PT. Bina Aksa-
lapukan sekis dengan fragmen batuan ra, Jakarta, 187h.
beku basa (sebagian dengan kandungan Sikumbang, N dan Heryanto, R., 1994,
Fe tinggi), dan fragmen kuarsit. Kondisi Peta Geologi Lembar Banjarma -
batuan yang menyusun daerah penyeli
dikan pada umumnya sudah mengalami
JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: 1979-8415
Vol. 1 No. 1 Agustus 2008

sin, Kalimantan, Skala 1 : 250. Team Mining, Banjarbaru. Zen,


000, Pusat Penelitian dan Pe- M.T. dan Skinner, B.J., 1982, Industri
ngembangan Geologi, Bandung. Mineral dan Sumber Daya Bumi ,
Tim Eksplorasi CV. Rizqa Amanah Mulia Gadjah Mada University Press
Abadi, 2006, Laporan Kegiatan dan Yayasan Obor Indonesia,
Eksplorasi Bijih Besi Dengan Yogyakarta, hal 241.
Menggunakan Metoda Resistivi -

ty 2 D , diperuntukkan bagi PT. In

51