Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan ilmu dan teknologi yang semakin pesat tentunya tidak

terlepas dari masalah pendidikan. Hal ini berakibat pada dunia pendidikan yang

tak pernah sepi dari pembaharuan-pembaharuan agar sesuai dengan

perkembangan dan teknologi. Peningkatan mutu pendidikan dewasa ini sudah

menjadi tuntutan dan sekaligus telah menjadi tekad pemerintah dalam waktu

mendatang, bahkan secara formal dikatakan bahwa peningkatan mutu pendidikan

sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi, ini harus diartikan bahwa setiap lembaga

pendidikan termasuk lembaga pendidikan, guru harus mandiri dan mawas diri.

Orientasi pendidikan suatu bangsa akan menunjukkan bagaimana praktik

pendidikan berlangsung, dan pada tahap berikutnya akan dapat dijadikan dasar

untuk meramalkan kualitas lulusan yang ditelorkan oleh praktik pendidikan

tersebut (Rasyid, 2007:27). Dipandang dari sudut potensi manusia baik jasmani

dan rohani, tidak boleh tidak mesti memperoleh pendidikan agar potensi yang

ada itu tumbuh dan berkembang. Guru harus berperan dalam peningkatan mutu

pendidikan dan harus pandai menyampikan materi dan pelajaran dan memilih

cara yang tepat atau sesuai dengan materi tersebut sehingga diperoleh hasil yang

sangat akurat. Jadi guru matematika harus mampu menumbuhkan semangat siswa

untuk belajar matematika dan merancang sebuah model pembelajaran yang dapat

membantu mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari matematika.


2

Orientasi pendidikan yang kita pergunakan saat ini menyebabkan praktik

pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan yang riil yang ada di luar sekolah,

kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kehidupan dalam pekerjaan,

terlalu berkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan

pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian.

Proses belajar mengajar didominasi dengan tuntutan untuk menghafalkan dan

menguasai pelajaran sebanyak mungkin guna mengadapi ujian atau tes, dimana

anak tersebut harus mengeluarkan apa yang telah dihafal (Rasyid, 2007:27).

Akibatnya siswa masih mengganggap bahwa matematika sebagai pelajaran sulit

karena bersifat abstraks, sehingga dalam mempelajari matematika diperlukan

abstraksi yang tinggi. Siswa yang memiliki abstraksi yang tinggi cenderung

mempunyai sikap dan minat yang baik dan tinggi belajarnya terhadap

matematika, sehingga prestasi belajar yang diperoleh cenderung baik.

Salah satu hasil assessment TIMSS (Trends in International

Mathematics and Sciences Study) tahun 1999 tentang kemampuan penguasaan

siswa telah menempatkan siswa Indonesia pada peringkat ke 34 dari 38 negara

yang disurvei. Bahkan di tahun 2003 TIMMS melakukan penelitian tentang

kemampuan fakta, prosedur dan konsep, aplikasi pengetahuan matematika dan

pemahaman siswa menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan yang ke 40

dari 49 negara (Arifin, 2009:02).

Bukan rahasia lagi bahwa matematika merupakan pelajaran yang

cenderung tidak disukai oleh siswa, bahkan ada asumsi bahwa semakin tinggi

jenjang pendidikan semakin sulit matematika untuk dipelajari. Walaupun sulit


3

tapi matematika sangat perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan

dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan ketrampilan

matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat

dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara;

(5) meningkatkan kemampuan berfikir logis, ketelitian; (6) memberikan

kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang. Oleh karena itu

belajar matematika haruslah bermakna dan dibiasakan belajar dengan memahami

apa yang terjadi disekitarnya, siswa akan menyadari bahwa segala hal yang

terjadi dilingkungan sekitar siswa baik di sekolah maupun luar lingkungan

sekolah dapat diaktualisasikan dan dikaitkan dengan pelajaran matematika di

sekolah, maka sudah seharusnya pendidikan formal khususnya matematika lebih

memberikan arah kepada siswa dalam menghadapi dunia nyata.

Model pembelajaran yang selama ini sering digunakan dalam kegiatan

belajar mengajar adalah model pembelajaran ekspositori, dimana tingkah laku

kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru. Metode

ekspositori ini memiliki kesamaan dengan metode ceramah karena dalam prosses

pembelajaran seluruh aktivitas didominasi guru. Akan tetapi ada perbedaan antara

metode ekspositori dengan metode ceramah yaitu pada metode ekspositori

diselingi tanya jawab antara siswa dan guru, sehingga ada interaksi antara siswa

dan guru. Sedangkan pada metode ceramah guru hanya menyampaikan materi

tanpa ada tanya jawab antara guru dan siswa.

Dalam ekspositori, siswa diharapkan dapat menangkap informasi yang

telah diberikan oleh guru serta dapat mengungkapkan kembali apa yang telah
4

dimilikinya melalui respon yang telah diberikanya pada saat diberi pertanyaan

oleh guru. Kelebihan metode ini Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan

materi pembelajaran sehingga guru mengetahui sejauh mana siswa menguasai

pelajaran yang disampaikan dan cocok digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran

kelas yang besar, akan tetapi strategi ini hanya dapat dilakukan terhadap siswa

yang memilki kemauan mendengar dan menyimak baik dan tidak dapat melayani

perbedaan setiap siswa baik kemampuan, pengetahuan, minat dan bakat serta

perbedaan gaya belajar sehingga gaya komunikasi terjadi satu arah, mengontrol

pemahaman siswa akan materi pelajaran akan sangat terbatas, sehingga

mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa terbatas pada apa yang dimiliki

guru dan ini merupakan realita yang terjadi di MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan.

Metode discovery (penemuan terbimbing) merupakan suatu metode yang

mengutamakan aktivitas siswa dan akan melibatkan guru bila siswa mengalami

suatu kesulitan saja, belajar penemuan dapat terjadi selama guru mencerminkan

pelajaran didalam kelompok diskusi dan dalam kegiatan kelompok melalui

percobaan laboratorium matematika dan didalam situasi ruangan kelas yang

bebas. Metode ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan,

memperbanyak kesiapan serta penguasaan keterampilan dalam proses

kognitif/pengenalan siswa serta memperleh pengetahuan yang bersifat sangat

pibadi (individual) sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa

tersebut. Walaupun baiknya metode ini tetapi masih ada pula kelemahan yang

perlu diperhatikan ialah bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan

kurang berhasil dan bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan
5

dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan

metode penemuan.

Tetapi apakah metode-metode pembelajaran di atas benar-benar dapat

memberi motivasi pada siswa dalam mempelajari matematika, termasuk dalam

mempelajari materi faktorisasi suku aljabar, sehingga hasil belajarnya baik.

Kiranya hal itulah dipandang perlu untuk diteliti. Oleh karena itu penulis ingin

meneliti diantara kedua metode pembelajaran di atas, apakah keduanya akan

memberikan hasil belajar yang sama atau tidak. Sehingga dari penelitian ini akan

ditemukan alternatif untuk memberi motivasi balajar dan meningkatkan hasil

belajar siswa.

Dari uraian diatas, peneliti ingin mengetahui adakah perbedaan yang akan

terjadi antara metode discovery (penemuan terbimbing) dan metode ekspositori

terhadap hasil belajar matematika siswa. Untuk itu peneliti memilih judul

“Perbandingan Hasil Belajar Matematika antara Yang Belajar dengan Metode

Discovery (Penemuan Terbimbing) dengan Pembelajaran Metode Ekspositori

pada Pokok Materi Faktorisasi Suku Aljabar di Kelas VIII MTs. Ma’arif

Sukodadi Lamongan Tahun Pelajaran 2010/2011“.

B. Identifikasi Masalah

Pendidikan di Indonesia masih tetap didominasi oleh pembelajaran zaman

dahulu. Suatu pembelajaran dipandang bahwa pengetahuan sebagai perangkat

fakta–fakta yang harus dihafal di dalam kelas dan masih berfokus pada guru

sebagai sumber yang utama.


6

Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang di atas terdapat

beberapa masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar, diantaranya

adalah belum terbiasanya guru dalam melaksanakan model pembelajaran dengan

metode yang bervariatif dalam penyampaian materi matematika. Selain itu siswa

kurang menguasai informasi yang diberikan guru baik terhadap sintaks

pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar maupun

terhadap materi yang harus dikuasainya, sehingga penyampaian informasi harus

diberikan secara berulang dan pada akhirnya akan menghambat pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar.

C. Batasan Masalah

Agar pembahasan pada penelitian ini tidak melebar, maka peneliti

memberikan batasan–batasan :

1. Hanya menggunakan dua metode yaitu discovery dan ekspositori

2. Hanya membahas tentang hasil belajar siswa pada materi faktorisasi suku

aljabar.

3. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIII A dan VIII B MTs. Ma’arif

Sukodadi Lamongan tahun pelajaran 2010/2011.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan

masalah sebagai berikut :

1. Apakah ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan

metode discovery dan ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar

kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran 2010/2011 ?


7

2. Jika ada, lebih baik mana prestasi belajar yang menggunakan metode

discovery dengan metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku

aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran

2010/2011 ?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pertanyaan di atas, tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar antara siswa yang

belajar dengan metode discovery dan metode ekspositori pada materi pokok

faktorisasi suku aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun

pelajaran 2010/2011.

2. Untuk mengetahui lebih baik mana prestasi belajar yang menggunakan

metode discovery dengan metode ekspositori pada materi faktorisasi suku

aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran

2010/2011

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini mencakup :

1. Bagi siswa, membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar matematika

dan meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari matematika.

2. Bagi guru, memberikan masukan dalam mengembangkan metode yang tepat

dalam proses belajar.

3. Bagi peneliti, melatih kemampuan serta menambah pengalaman sebagai

bekal dalam melaksanakan tugas mendidik


8

G. Definisi Operasional Variabel

Dengan mendefinisikan variabel secara operasional, maka dapat

mengetahui alat ukur serta baik buruknya pengukuran tersebut sebagai

pengukuran variabel.Adapun dalam penelitian ini definisi operasionalnya adalah :

1. Metode discovery (penemuan terbimbing)

Yang dimaksud metode discovery dalam penelitian ini adalah metode

mengajar yang diatur sedemikian rupa sehingga anak memperoleh

pengetahuan yang sebelumnya belum diketahutinya itu tidak melalui

pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya dan guru hanya membimbing bila

anak mengalami kesulitan dalam melakukan terkaan, mengira, coba-coba

sesuai dengan konsep yang dimiliki untuk sampai kepada konsep yang harus

dimiliki.

2. Metode Ekspositori

Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah metode dimana guru hanya

memberi informasi pada saat tertentu misalnya pada permulaan pelajaran,

memberi contoh soal, menjawab pertanyaan siswa dan memberi soal latihan.

3. Prestasi Belajar Matematika

Yang dimaksud prestasi belajar dalam penelitian ini adalah skor yang

diperoleh oleh siswa dalam mengerjakan soal atau tes yang diberikan pada

akhir pembelajaran matematika pada materi pokok faktorisasi suku aljabar di

kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan.


9

H. Sistematika Pembahasan

Bab I : Pendahuluan yang terdiri atas : latar belakang masalah, identifikasi

masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, definisi operasional, sistematika pembahasan.

Bab II : Landasan Teoritis yang memuat: hakikat belajar mengajar

matematika, model pembelajaran, metode mengajar, metode

discovery (penemuam terbimbing), dasar–dasar teori tentang

ekspositori, Perbandingan Penerapan Metode Discovery dan Metode

Ekspositori prestasi belajar, hipotesis.

Bab III : Metode Penelitian yang memuat : rancangan penelitian, subjek

penelitian, instrumen penelitian, analisis data, pengujian hipotesis.

Bab IV : Pengujian dan Analisis Data yang memuat : gambaran umum objek

penelitian, penyajian data dan Uji Prasyarat analisis data, pengujian

hipotesis, dan pembahasan.

Bab V : Penutup yang memuat simpulan dan saran


10

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Hakikat Belajar Mengajar Matematika

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan

sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak

lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.

Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara

aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari

segi fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka

kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak

didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan didalam dirinya

Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi didalam diri

seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada

kenyataanya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya,

perubahan fisik, mabuk, gila, dan sebagainya.

Kegiatan mengajar bagi para guru menghendaki hadirnya sejumlah anak

didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran

seorang guru. Cukup aktifitas yang dilakukan oleh seseorang diluar dari

keterlibatan guru seperti belajar di rumah cenderung menyendiri dan tidak terlalu

banyak mengaharapkan bantuan orang lain. Hal ini perlu sekali guru sadari agar

tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran Oleh karena itu,
11

belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam

konsep pengajaran.

Guru memiliki banyak tugas dan tanggungjawab baik terikat oleh Dinas
maupun diluar Dinas atau dalam bentuk pengabdian. Apabila
dikelompokkan terdapat tiga jenis tugas guru yaitu: tugas dalam bidang
profesi, tugas kemanusiaan dan tugas dalam bidang kemasyarakatan. Guru
yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam
perpisahan raga siswa bersatu antara guru dan anak didik. Sama halnya
dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses
mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik,
sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses
belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan
bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar
(Wasmin, 2008:10).

1. Ciri-ciri belajar mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak

terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Suardi (dalam Mahmudah,

2008:10) sebagai berikut :

a. Belajar mengajar memiliki tujuan,

yakni untuk membentuk anak didik

dalam satu perkembangan tertentu.

Anak didik mempunyai tujuan,

unsur lainnya sebagai pengantar dan

pendukung.

b. Ada suatu prosedur yang

direncanakan, didesain untuk

mencapai tujuan yang telah

ditetapkan. Agar dapat mencapai


12

tujuan secara optimal, maka dalam

melakukan interaksi perlu ada

prosedur, atau langkah-langkah

sistematik dan relevan.

c. Kegiatan belajar mengajar ditandai

dengan satu penggarapan materi

yang khusus. Materi harus sudah

didesain dan disiapkan sebelum

berlangsungnya kegiatan belajar

mengajar.

d. Ditandai dengan aktivitas anak didik

sebagai konsekuensi bahwa anak

didik merupakan syarat mutlak bagi

berlangsungnya kegiatan belajar

mengajar.

e. Dalam kegiatan belajar mengajar,

guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam peranannya sebagai

pembimbing, guru harus berusaha

menghidupkan dan memberikan

motivasi, agar terjadi proses

interaksi yang kondusif.

f. Dalam kegiatan belajar mengajar


13

membutuhkan disiplin. Disiplin

dalam kegiatan belajar ini diartikan

sebagai suatu pola tingkah laku yang

diatur sedemikian rupa menurut

ketentuan yang sudah ditaati oleh

pihak guru maupun anak didik

dengan sadar.

g. Ada batas waktu. Untuk mencapai

tujuan pembelajaran tertentu dalam

sistem berkelas (kelompok anak

didik), batas waktu menjadi salah

satu ciri yang tidak bisa

ditinggalkan. Setiap tujuan akan

diberi waktu tertentu supaya tujuan

itu sudah harus dicapai.

h. Evaluasi. Evaluasi merupakan

bagian penting yang harus dilakukan

guru untuk mengetahui tercapai

tidaknya tujuan pengajaran yang

telah dilakukan.

2. Komponen-komponen belajar mengajar

Sebagai suatu sistem, tentu saja kegiatan belajar mengajar

mengandung sejumlah komponen yang meliputi :


14

a. Tujuan

Tujuan adalah cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan

suatu kegiatan.

b. Bahan pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan

dalam proses belajar mengajar, tanpa bahan pelajaran proses belajar

mengajar tidak akan berjalan. Bahan adalah salah satu sumber belajar

bagi anak didik. Bahan yang disebut sebagai sumber belajar

(pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan

pengajaran. Bahan pelajaran menurut Arikunto yang dikutip

Mahmudah (2008:13) merupakan unsur yang ada dalam kegiatan

belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang

diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik.

c. Kegiatan belajar mengajar

Adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang

telah diprogramkan anak dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.

d. Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan. Seorang guru tidak akan dapat

melaksanakan tujuannya bila ia tidak menguasai satupun metode

mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi


15

dan pendidikan.

e. Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka

mencapai tujuan pembelajaran.

f. Sumber pelajaran

Yang dimaksud dengan sumber-sumber pelajaran adalah segala

sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan

pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang .

g. Evaluasi

Stuffelbeam 1971 (dalam Rasyid, 2007:3), menyatakan

bahwa evaluasi adalah proses memperoleh, menyajikan, dan

menggambarkan informasi yang berguna untuk menilai suatu alternatif

pengambilan keputusan.

B. Model Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang

dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif

dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat

melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator.

Menurut Soekamto (dalam Nurul, 2008:10) “model pembelajaran adalah

kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu


16

dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan pengajar

dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”.

Menurut Nieveen (dalam Trianto yang dikutip dari Nurul, 2008:10)

suatu model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Shahih (valid)

Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal yaitu :

a. Apakah model yang dikembangkan berdasarkan pada

rasional teoritik yang kuat.

b. Apakah terdapat konsistensi interval

2. Praktis

Aspek kepraktisan hanya dapat dipenuhi jika :

a. Para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang

dikembangkan dapat diterapkan.

b. Kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan

dapat diterapkan.

3. Efektif

Berdasarkan aspek efektifitas ini, Nieveen memberikan parameter

sebagai berikut :

a. Ahli dan praktisi berdasarkan pengalamanya menyatakan

bahwa model tersebut efektif.

b. Secara operasional model tersebut memberikan hasil yang

sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Mardapi (dalam Rasyid, 2008:133) untuk melihat tingkah


17

kelayakan suatu model pembelajaran pada aspek validitas dibutuhkan ahli dan

praktisi untuk memvaliditasi model pembelajaran yang dikembangkan dan adanya

alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari apa

yang kita inginkan. Sedangkan untuk aspek kepraktisan dan efektifitas diperlukan

suatu perangkat pembelajaran yang dikembangkan dan instrumen penelitian yang

sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Arends dan pakar model pembelajaran yang lain (dalam Nurul,

2008:11) berpendapat bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang paling baik

diantara lainnya, karena masing–masing model pembelajaran yang dirasakan baik

apabila telah diujicobakan untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu. Oleh

karena itu dari beberapa model pembelajaran yang ada perlu diseleksi model

pembelajaran mana yang paling baik untuk mengajarkan suatu materi tertentu.

Dalam mengajarkan suatu materi tertentu harus dipilih model

pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena

itu pemilihan suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan–

pertimbangan. Misalnya materi pelajaran, tingkat perkembangan kognigtif siswa

yaitu kemampuan untuk melakukan abstraksi serta berfikir logis dan cepat

sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dan sarana

atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan

dapat tercapai.

C. Metode Mengajar

Menurut Nawawi (dalam Nurul, 2008:12) Metode mengajar adalah


18

kesatuan langkah kerja yang dikembangkan oleh guru berdasarkan pertimbangan

rasional tertentu, masing–msing jenisnya bercorak khas dan kesemuanya berguna

untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Surakhmad (dalam Nurul,

2008:12) menegaskan bahwa metode pengajaran adalah cara–cara pelaksanaan

dari pada proses pengajaran atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan

pelajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah.

Dalam pemilihan metode mengajar menurut Ahmadi (dalam Nurul,

2008:12) terdiri dari empat hal, yaitu :

1. Relevansi dengan tujuan

2. Relevansi dengan bahan

3. Relevansi dengan kemampuan guru

4. Relevansi dengan situasi pengajaran

Sedangkan menurut Landizal (dalam Nurul, 2008:12) dasar pemilihan

metode mengajar terdiri dari :

1. Tujuan

2. Materi

3. Fasilitas

4. guru

Jadi dalam memilih metode mengajar, hal–hal yang perlu diperhatikan

adalah sebagai berikut :

1. Tujuan yang akan dicapai

2. Bahan yang akan diberikan

3. Waktu dan perlengkapan yang tersedia


19

4. Kemampuan dan banyaknya murid

5. Kemampuan guru mengajar

Menurut Sudjana (dalam Nurul, 2008:13) dalam praktik mengajar,

metode yang baik digunakan adalah metode mengajar yang bervariasi atau

kombinasi dari beberapa metode mengajar, seperti :

1. Ceramah, tanya jawab dan tugas

2. Ceramah, diskusi dan tugas

3. Ceramah, demonstrasi dan eksperimen

4. Ceramah, sosiodrama dan diskusi

5. Ceramah, problem solving dan tugas

6. Ceramah, demontrasi dan latihan

Dalam bidang pengajaran di sekolah, ada beberapa faktor lain yang

ikut berperan dalam menentukan efektivitas metode mengajar, antara lain adalah

faktor guru itu sendiri, faktor anak dan faktor situasi atau lingkungan belajar.

Menurut Darling-Hammond (dalam Harun Rasyid, 2008:42), guru

menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan

baik standar yang ada, memahami pentingya penilaian yang berkelanjutan, dan

perlu mengetahui posisi strategis mereka. Dengan demikian diharapkan guru

menjadi mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan

kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, dan memahami cara pengajaran

mereka sendiri.

Jadi metode mengajar salah satu cara yang dipergunakan guru dalam

mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran. Oleh


20

karena itu, metode mengajar berperan sebagai alat untuk menciptakan proses

belajar mengajar. Dengan metode mengajar diharapkan tumbuh berbagai kegiatan

siswa, sehubungan dengan kegiatan guru mengajar, sehingga tercipta interaksi

edukatif dalam kegiatan belajar mengajar. Metode mengajar yang baik adalah

metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta digunakan secara

bervariasi. Tugas guru adalah memilih metode yang tepat untuk menciptakan

proses belajar mengajar yang baik. Ketepatan penggunaan metode mengajar

sangat tergantung pada tujuan, isi, proses belajar mengajar dan kegiatan belajar

mengajar.

D. Metode Discovery (penemuam terbimbing)

Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang

mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan

yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian

atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan)

kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat

menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.

Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan,

membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk

menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang

mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada

generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif


21

didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui

suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam

proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.

Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan

suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati,

mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan,

mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa

dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya

membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery

ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental

melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri,

agar anak dapat belajar sendiri.

Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang

menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran

dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang

mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan

semacamnya.

Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu:

(1). Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,

menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;

(2). Berpusat pada siswa;

(3). Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang

sudah ada.
22

Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:

1. Lakukanlah perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai.


Hal-hal tertentu perlu dipersiapkan, terutama fasilitas yang akan
digunakan untuk kepentingan demontrasi.
2. Rumuskanlah tujuan pembelajaran dengan metode demontrasi, dan
pilihlah materi yang tepat untuk didemontrasikan.
3. Buatlah garis besar langkah-langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika
yang dikuasai dan difahami baik oleh peserta didik maupun oleh guru.
4. Tetapkanlah apakah demonstrasi tersebut akan dilakukan guru atau oleh
peserta didik, atau oleh guru kemudian diikuti oleh peserta didik.
5. Mulailah demonstasi dengan menarik perhatian seluruh peserta didik, dan
ciptakanlah suasana yang tenang dan menyenangkan.
6. Upayakanlah agar semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
7. Lakukanlah evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik
terhadap efektivitas metode demonstrasi maupun terhadap hasil belajar
peserta didik.(Mahmudah, 2008:31).

Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di

sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan

karena metode ini:

(1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif;

(2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka

hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah

dilupakan siswa;
23

(3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul

dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;

(4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu

metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri;

(5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang

dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.

Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu:

(1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat;

(2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada

hasil lainnya;

(3) secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan

kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih

keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan

memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh

Suherman, (2001: 179) sebagai berikut:

1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan

kemampuan untuk menemukan hasil akhir;

2. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses

menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;

3. Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong

ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;


24

4. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih

mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;

5. Metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.

(Email: herdy_alayyubi07.yahoo.co.id .Blog: herdy07.wordpress.com)

Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan)

juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :

1. Membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan

dengan belajar menerima.

2. Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk

cara belajar ini dan siswa harus berani dan berkeinginan untuk

mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.

3. Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan kurang

berhasil.

4. Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan

pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila

diganti dengan metode penemuan.

5. Dengan metode ini ada yang berpendapat bahwa proses mental

ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang

memperhatikan perkembangan/pembentukan siswa dan

ketrampilan bagi siswa.

6. Metode ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk


25

berfikir secara kreatif.

E. Dasar–Dasar Teori Tentang Ekspositori

Menurut Hudjojo (dalam Nurul, 2008:25) metode ekspositori

merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide, gagasan atau memberi informasi

dengan lisan atau tulisan. Dalam pelaksanaanya guru hanya memberi informasi

pada saat tertentu jika diperlukan, misalnya pada permulaan pelajaran, memberi

contoh soal, menjawab pertanyaan siswa dan sebagainya.

1. Sintaks metode ekspositori

Secara garis besar prosedur yang dilakukan dalam metode ekspositori

adalah sebagai berikut :

a. Persiapan (Preparation)

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk

menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan

merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan

pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung

pada langkah persiapan. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam

langkah persiapan di antaranya adalah:

1) Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.

2) Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.


26

3) Bukalah file dalam otak siswa.

b. Penyajian (Presentation)

Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran

sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Guru harus dipikirkan guru

dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan

mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Karena itu, ada beberapa hal

yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu :

1) penggunaan bahasa,

2) intonasi suara,

3) menjaga kontak mata dengan siswa, dan

4) menggunakan joke-joke yang menyegarkan.

c. Korelasi (Correlation)

Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran

dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan

siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang

telah dimilikinya. Langkah korelasi dilakukan untuk memberikan makna

terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur

pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan

kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.

d. Menyimpulkan (Generalization)

Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari

materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan

langkah yang sangat penting dalam strategi ekspositori, sebab melalui


1
1–2-4 1 – 2a – 3 - 4
27

langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses

penyajian.

e. Mengaplikasikan (Application)

Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah

mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang

sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori, sebab melalui

langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan

dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan

pada langkah ini di antaranya:

1) Dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah

disajikan,

2) Dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah

disajikan. (Suryadharma, 2008:33)

Gambar 1 : Ekspositori ditinjau dari kegiatan guru


22ba 1–2-3 11 – 2a 2– 2b - 3
Siswa bertanya 3
menyampaikan informasi ( menjawab pertanyaan ) Eksposisi
Guru menyampaikan informasi atau menjawab pertanyaan siswa
mengarahkan kembali kepada siswa lain 28

Keterangan : Jalur yang ditempuh : atau

Gambar 2 : Ekspositori ditinjau dari kegiatan siswa

Keterangan : Jalur yang ditempuh : atau

2. Prosedur Skoring pada Metode Ekspositori

Dalam pemberian skor pada metode ekspositori dengan cara

menganalisis hasil belajar siswa tanpa memperhitungkan skor perkembangan

siswa. Seorang siswa dikatakan berhasil adalah manakala melalui proses

penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan

(disequilibrium), sehingga mendorong mereka untuk mencari dan

menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.

Keberhasilan penggunaan strategi ekspositori sangat tergantung pada

kemampuan guru untuk bertutur atau menyampaikan materi pelajaran.


29

3. Kelebihan dan kekuarangan metode ekspositori

Kelebihan metode ekspositori adalah :

a. Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan

materi pembelajaran sehingga guru

mengetahui sejauh mana siswa menguasai

pelajaran yang disampaikan.

b. Strategi ini dianggap sangat efektif apabila

materi pelajaran cukup luas, sementara waktu

yang dimiliki untuk belajar sangat terbatas.

c. Siswa mendengar penuturan (kuliah) tentang

materi pelajaran sekaligus siswa bisa

melihat/mengobservasi (melalui pelaksanaan

demontrasi).

d. Cocok digunakan untuk jumlah siswa dan

ukuran kelas yang besar.

Kekurangan metode ekspositori adalah :

a. Strategi ini hanya dapat dilakukan terhadap siswa

yang memiliki kemampuan mendengar dan

menyimak baik. Untuk siswa yang tidak memilki


30

kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi

yang lain.

b. Strategi ini tidak dapat melayani perbedaan setiap

siswa baik kemampuan, pengetahuan, minat dan

bakat serta perbedaan gaya belajar.

c. Strategi ini diberikan melalui ceramah, maka sulit

untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam

hal kemampuan sosialisasi, hubungan

interpersonal serta kemampuan berfikir kritis.

d. Keberhasilan metode ini tergantung pada yang

dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa

percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi,

kemampuan bertutur (berkomunikasi),

kemampuan mengelola kelas.

e. Gaya komunikasi terjadi satu arah, mengontrol

pemahaman siswa akan materi pelajaran akan

sangat terbatas, sehingga mengakibatkan

pengetahuan yang dimiliki siswa terbatas pada

apa yang diberikan guru.

(http://eduplus.or.id/?page=artikel&ida=433&idt=9)

Dari uraian diatas dalam metode ekspositori, kelas masih didominasi oleh

guru sebagai pusat informasi yang menyebabkan guru lebih aktif sedangkan

siswa cenderung pasif dalam proses belajar mengajar yang menjadikan


31

pengajaran kurang efektif dan efisien.

Untuk mengurangi dominsi guru dalam pembelajaran, peneliti

menggunakan LKS sehingga guru lebih berfungsi sebagai fasilitator. Seorang

guru tidak menerangkan semua materi dan contoh–contoh soal secara

menyeluruh kepada siswa. Guru hanya menerangkan uraian secara singkat

tentang materi yang disampaikan dan pada kesempatan ini siswa dapat bertanya

tentang teori dari materi yang disampaikan. Setelah itu siswa disuruh

mengerjakan LKS. Karena kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan

LKS dapat memudahkan tugas perorangan maupun kelompok, karena siswa

dapat meyelesaikan tugas itu sesuai dengan kemampuanya.

Hasil pekerjaan siswa dalam LKS dapat dibahas bersama guru atau

dikumpulkan untuk dikoreksi guru kemudian dikembalikan lagi kepada siswa.

Dengan demikian siswa dapat mengetahui kekurangan-kekurangan yang

terdapat pada hasil pekerjaanya, yang selanjutnya siswa bisa belajar dan bisa

membenarkan dimana letak kekurangan dan kesalahan itu.

Dengan melibatkan siswa secara aktif akan menciptakan kondisi belajar

mengajar yang efektif yang nantinya akan menentukan keberhasilan siswa

dalam belajarnya.

F. Perbandingan Penerapan Metode Discovery dan Metode Ekspositori

Berdasarkan kajian yang telah diuraikan mengenai kelebihan dan

kekurangan metode Discovery dan Metode Ekspositori, maka dapat dirumuskan

perbandingan sebagai berikut :


32

Tabel 1 : Perbandingan Metode Discovery dan Metode Ekspositori

Aspek
Discovery Ekspositori
Pelaksanaan
Peranan Guru Melakukan pemantauan melalui Observasi dan intervensi

observasi dan memberikan intervensi sering tidak dilakukan

jika dibutuhkan
Cara kerja Saling berinterakasi Individual
Pemberi Berdasarkan pada kemampuan mereka Guru

materi dalam menemukan suatu konsep dan

guru hanya sebagai fasilitator


Gaya Guru dengan siswa dan antar siswa Guru dengan siswa (satu

Komunikasi arah)

Sistem Berdasarkan pada rata-rata


setiap Berdasarkan pada poin
yang diperoleh individu
penyekoran kelas pada proses pembelajaran
Penekanan Penemuan konsep, penyelesaian dan Penyelesaian tugas

pembelajaran hubungan interpersonal

Berdasarkan tabel perbandingan diatas, dapat disimpulkan bahwa metode

discovery lebih baik daripada metode ekspositori, karena selain peran guru,

tanggungjawab siswa dan gaya komunikasi yang terjadi pada proses

pembelajaran, penekanan pada proses belajarpun mengarahkan siswa untuk aktif

dalam proses belajar.

G. Prestasi Belajar
33

Menurut Poerwaminta (dalam Nurul, 2008: 31), prestasi adalah hasil

yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan). Sedangkan pengertian belajar adalah

proses perubahan sikap dan tingkah laku yang orisinil melalui pengalaman dan

latihan-latihan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian

prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa setelah siswa melakukan

usaha atau belajar dari pengalaman-pengalaman atau latihan-latihan dan hasilnya

dapat diukur melalui nilai atau skor. Jadi pretasi belajar matematika dapat

diartikan sebagai hasil belajar matematika yang dapat dinyatakan dalam bentuk

nilai atau skor setelah siswa mengikuti pembelajaran.

Prestasi belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor

utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor dari

dalam diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa meliputi motivasi belajar siswa,

minat siswa, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi,

faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar siswa.

Faktor ini tidak kalah penting dengan faktor internal dan guru merupakan

komponen yang mampu mengkondisikan situasi eksternal siswa sehingga dapat

maksimal dalam belajarnya. Beberapa faktor dari luar dapat menimbulkan

dorongan atau rangsangan terjadinya proses balajar dalam diri siswa. Faktor

eksternal dalam proses pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan menjadi tiga

lingkungan yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan

masyarakat. Diantara ketiga lingkungan itu yang paling besar pengaruhnya

terhadap proses dan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar adalah

lingkungan sekolah seperti guru, sarana belajar, kurikulum, teman-teman sekelas,


34

dan peraturan sekolah. Dalam proses belajar mengajar sebagian besar hasil belajar

peserta didik ditentukan oleh peranan guru. Guru yang kompeten akan lebih

mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu

mengelola PBM, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.

Untuk meningkatkan mutu motivasi para guru untuk dapat meningkatkan mutu

siswa, diperlukan faktor pendukung, yaitu : Kemauan kerja yang tinggi dari

guru, lingkungan kerja yang nyaman, penghasilan yang dapat memenuhi

kebutuhan hidup, jaminan sosial yang memadai dan hubungan kerja yang

harmonis. (Rusyan, 2008:9).

H. Hipotesis

Adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu yang dibuat untuk

menjelaskan masalah penelitian yang kebenarannya masih harus di uji secara

empiris. (Suryabrata, 2008: 21).

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat di uraikan

hipotesis dari penelitian ini adalah :

1. Ada perbedaan antara siswa yang di ajar dengan metode discovery

dengan metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar

kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran

2010/2011.

2. Prestasi belajar yang menggunakan metode discovery lebih baik

daripada metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku

aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran

2010/2011.
35

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Untuk memberikan hasil yang sesuai dengan permasalahan dan

tujuan penelitian, maka dalam penelitian ini digunakan metode penelitian

eksperimen dengan jenis penelitian komparatif yaitu mambandingkan prestasi

belajar siswa yang diajarkan dengan metode discovery dan metode ekspositori.

Dalam hal ini akan dilihat perbandingan (perbedaan) hasil belajar

matematika antara yang diajar dengan metode discovery (penemuan terbimbing)

dengan metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar. Pada
36

penelitian ini materi akan difokuskan pada sub pokok bahasan faktorisasi suku

aljabar yaitu operasi hitung pada bentuk aljabar yang meliputi operasi

penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bentuk aljabar antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Kelas eksperimen dikenai perlakuan (treatment) dengan pembelajaran

metode discovery. Dalam waktu tertentu kedua kelompok dikenai perlakuan yang

sama (posttest). Sebelum diadakan perlakuan terlebih dahulu kedua kelompok

diberi pretest (tes awal) untuk mengetahui hasil belajar sebelum diajar dengan

menggunakan kedua metode tersebut. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber

dari perlakuan.

Setelah disetujuinya proposal penelitian pada tanggal 15 Juli 2010,

peneliti menyerahkan surat pengantar penelitian dari fakultas pada kepala sekolah

MTs. Ma’arif Sukodadi pada tanggal 20 Juli 2010. Setelah bertemu dengan kepala

sekolah dan guru yang bersangkutan, akhirnya dibuat keputusan sebagai berikut :

a. Mendata siswa kelas VIII A dan VIII B.

b. Peneliti membuat silabus dan RPP, beserta LKS sebagai bahan acuan

pelaksanaan penelitian.

c. Membuat soal yang akan digunakan sebagai tes dengan terlebih dahulu

berkonsultasi pada guru soal kevalidan soal tes.

d. Pelaksanaan pretest (tes awal) dengan tujuan mengetahui kemampuan dasar

siswa dilaksanakan tanggal 26 Juli 2010 pada kelas VIII A dan tanggal 28

Juli 2010 Pada kelas VIII B.

e. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan dua metode pada dua


37

kelas dengan terlebih dahulu membagikan LKS pada tiap kelompok dan

menjelaskan sedikit materi faktorisasi suku aljabar. Untuk kelas VIII A pada

tanggal 2 Agustus 2010 dan tanggal 4 Agustus 2010 Pada kelas VIII B.

f. Post test (tes akhir) diberikan pada seluruh siswa dengan tujuan mengetahui

prestasi belajar pada kelompok eksperimen maupun kelompok control.

g. Membandingkan prestasi belajar siswa antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol.

1. Variabel Penelitian

Variabel dengan penelitian ini ada 2 yaitu, variabel bebas dan variable

terikat. Adapun variabel tersebut adalah:

a. Variabel bebas (independent variable) adalah dalam penelitian ini

menggunakan pembelajaran metode discovery (penemuan terbimbing) dan

metode ekspositori.

b. Variabel terikat (dependent variable) adalah dalam penelitian ini adalah

prestasi belajar siswa kelas VIII A dan VIII B semester I MTs. Ma’arif

Sukodadi Lamongan Tahun Pelajaran 2010/2011.

2. Desain Penelitian

Adapun dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam tabel berikut :

Tabel 2 : Desain Penelitian

Kelompok Pretest Perlakuan Posttest


38

K. Eksperimen T1 X1 T2
K. Kontrol T1 X2 T2

Keterangan :

KE : Kelompk eksperimen (kelas VIII A)

KK : Kelompok kontrol (kelas VIII B)

T1 : Tes Prasyarat

X1 : Kelompok perlakuan dengan pembelajaran metode discovery

(penemuan terbimbing)

X2 : Kelompok perlakuan dengan pembelajaran metode

ekspositori

T2 : Hasil belajar setelah perlakuan/tes akhir(posttest)

Dari pencapaian hasil belajar matematika baik berupa nilai

akademik, keaktifan siswa saat dilakukan perlakuan, maupun sosialisasi

antar teman dapat diketahui manakah metode yang lebih tepat jika digunakan

dalam pembelajaran materi faktorisasi suku aljabar.

B. Sujek Penelitian

Subjek penelitian yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VIII MTs.

Ma’arif Sukodadi yang terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas VIII A yang

diajarkan dengan menggunakan metode discovery dan kelas VIII B yang diajar
39

dengan menggunakan metode ekspositori dengan distribusi kelas sebagaimana

terlihat dalam tabel 2.

Tabel 3 : Distrtibusi kelas MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan Tahun

pelajaran 2010 / 2011

Kelas L P Jumlah
VIII A 5 19 24
VIII B 12 13 25

Pemilihan kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi sebagai populasi

dalam penelitian ini dikarenakan pembagian kelas VIII di MTs. Ma’arif Sukodadi

menjadi dua kelas tidak didasarkan atas ranking dari kelas pandai, kelas sedang

atau kelas kurang pandai tetapi dilakukan secara acak.

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek yang diamati. Populasi dalam

penelitian ini adalah semua siswa kelas VII semester I MTs. Ma’arif Sukodai

Lamongan tahun pelajaran 2010/2011, sebanyak dua kelas dengan jumlah

siswa 49 yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 32 siswa perempuan.

Adapun pembagian populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa

kelas VIII A MTs. Ma’arif Sukodadi tahun pelajaran 2010/2011 yang diajar

menggunakan metode discovery sebagai populasi pertama dan seluruh siswa

kelas VIII B yang diajar menggunakan metode ekspositori sebagai populasi

kedua.

2. Sampel

Dalam penelitian ini dibutuhkan dua kelas yang satu kelas eksperimen
40

dan yang lain kelas kontrol. Kedua kelas itu adalah kelas VIII A dan VIIIB.

Kedua kelas tersebut dijadikan sampel penelitian.

3. Teknik Sampling

Karena seluruh populasi yang ada dapat dijadikan sampel, teknik

pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling.

Sedang penentuan kelas eksperimen dan kontrol dilakukan secara acak.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes dimana tes tersebut

disusun oleh penulis sendiri berdasarkan kurikulum dan dikonsultasikan kepada

guru bidang studi. Tes yang digunakan terbagi atas dua macam, yaitu :

1. Pr

ete

st

yan

dia

dak

an

unt

uk

me

nge
41

tah

ui

ke

ma

mp

uan

seb

elu

me

ner

im

ma

teri

fak

tori

sas

suk

alja

bar
42

Ba

han

tes

pra

say

ara

ada

lah

ma

teri

yan

dib

eri

kan

seb

elu

sya

rat

unt
43

uk

me

ng

uas

ai

ma

teri

Dal

am

hal

ini

bah

an

tes

pra

sya

rat

ada

lah

ma

teri

po
44

ko

ope

rasi

hit

un

ben

tuk

alja

bar

pad

kel

as

VII

dan

ter

diri

dar

10

ite
45

soa

yan

ber

ben

tuk

ess

ay.

2. Po

stt

est

yan

dia

dak

an

unt

uk

me

nge

tah
46

ui

ke

ma

mp

uan

sis

wa

set

ela

dib

eri

kan

per

lak

uan

bai

den

gan

me

tod

e
47

dis

co

ver

ma

up

un

me

tod

eks

pos

itor

i.

Pos

ttes

ini

ter

diri

dar

10
48

ite

soa

yan

ber

ben

tuk

ess

ay

dan

dis

usu

ber

jen

jan

dar

yan

g
49

mu

dah

ke

yan

suli

t.

D. Analisis Data

1. Uji prasyarat analisis

Berdasarkan jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu

data kuantitatif, maka untuk menganalisis data itu, digunakan metode analisis

statistik uji t. Namun sebelum dilakukan uji t dalam analisis data, perlu

dilakukan uji pra syarat yang harus dipenuhi yaitu uji normalitas, uji

homogenitas.

a. Uji normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kenormalan atau

kemampuan yang sama dengan kelompok perlakuan. Untuk mengetahui

kenormalan sampel yang diambil, digunakan rumus sebagai berikut :

k
(Oi − Ei ) 2
X2 =∑
i =1 Ei (Sudjana, 1996:273).
50

Keterangan:

X 2 : Distribusi Chi kuadrat

Oi : Frekuensi pengamatan

Ei : Frekuensi yang diharapkan dalam sampel

Langkah-langkah yang dilakukan adalah dalam uji normalitas adalah

sebagai berikut :

1). Membuat daftar distribusi frekuensi untuk masing-masing kelompok

data.

2). Menghitung skor rata-rata dengan rumus :

 ∑ f i Ci 
X = X 0 + p 
 ∑ f i  (Sudjana, 1996:71).

Keterangan :

x0 : Tanda kelas

p : panjang kelas interval

3). Menghitung simpangan baku dari kelas sampel dengan rumus :

 n.∑ f i .ci 2 − ( ∑ f i .ci ) 2 


s =p 
2 2 
 n( n − 1) 
  (Sudjana, 1996: 97)

Keterangan :

s2 : simpangan baku
51

p2 : panjang kelas interval

n : ∑f i

ci : nilai sandi

f : frekuensi

4). Menghitung tabel frekuensi harapan dan pengamatan. Langkah-langkah

yang digunakan adalah :

(1). Menentukan batas bawah ( x1 ) pada tiap-tiap kelas interval

(2). Menghitung bilangan baku ( z1 ) untuk tiap-tiap kelas interval

(3). Menghitung luas kelas interval (L)

( )
(4). Menghitung frekuensi yang diharapkan Ei

Ei =L.N

Keterangan :

Ei : frekuensi yang diharapkan

L : luas tiap kelas interval

N : banyaknya data

5). Menentukan hipotesis

H0 :σ1 = σ 2 sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

H1 : σ 1 = σ 2 sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi

normal
52

2
6). Menghitung nilai X

7). Menentukan taraf nyata α = 0,05

2
8). Menentukan nilai X (1−α )( k −1) dari daftar distribusi chi kuadrat.

9). Menentukan kriteria H 0 diterima atau ditolak.

H 0 ditolak bila X ≥ X (1−α )( k −1)


2 2

H 0 diterima bila X < X (1−α )( k −1)


2 2

10). Menarik kesimpulan

b. Uji Homogenitas Varians

Uji kesamaan dua varians digunakan untuk mengetahui apakah

varians sampel penelitian ini homogen atau tidak. Adapun langkahnya

sebagai berikut :

1). Menentukan hipotesis

H 0 : σ 1 = σ 2 varians kedua populasi homogen


2 2

H1 : σ 1 = σ 2 varians kedua populasi tidak homogen

2). Menghitung nilai varians dari kelas sampel dengan rumus :

n.∑ f i .Ci − (∑ f i .Ci ) 2


2

S =p
2 2

n(n − 1) ( Sudjana, 1996:97)

Keterangan :

S 2 : simpangan baku

p 2 : panjang kelas interval


53

n : ∑f i

Ci : nilai sandi

f : frekuensi

3). Menghitung nilai F dengan rumus :

Varians Besar
F = Varians Kecil (Sudjana, 1996 : 250)

4). Menentukan taraf signifikan α = 0, 05

F1
2α ( v1.v 2 )
5). Mencari nilai dari daftar distribusi F dengan :

V1 = Derajat kebebasan pembilang

V2 = Derajat kebebasan penyebut

6). Menentukan kriteria

F1
H 0 diterima bila F < 2α ( v1.v 2 )

F1
H 0 ditolak bila F ≥ 2α ( v1.v 2 )

7). Menarik kesimpulan

E. Uji Hipotesis

Uji hipotesis menggunakan uji t yang dilakukan dalam dua tahap, yaitu
S. 54

uji t dua pihak dan uji t satu pihak.

a. Uji t dua pihak

uji t dua pihak dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan

prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode discovery

dan metode ekspositori.

Adapun dua kemungkinan rumus yang digunakan yaitu :

1). Jika σ 1 = σ 2 dan σ 2 tidak diketahui, maka rumus yang digunakan adalah :

X1 − X 2
t=
1 1
+
n1 n2

S 2
=
( n1 − 1) S1 + ( n2 − 1) S 2
2 2

Dengan n1 + n2 − 2 (Sudjana, 1996: 239)

Keterangan :
X1 = rata-rata skor tes kelompok eksperimen

X2 = rata-rata skor tes kelompok control

S = simpangan baku gabungan


S1 =simpangan baku skor tes kelompok eksperimen

S2 = simpangan baku skor tes kelompok control

n1 = banyaknya data kelompok eksperimen

n2 = banyaknya data kelompok kontrol

Langkah-langkah yang dilakukan adalah :


55

(a). Menentukan hipotesis

H 0 : µ1 = µ 2 Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang

diajar dengan metode discovery dan siswa yang diajar

dengan metode ekspositori.

H 1 : µ1 ≠ µ 2 Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar

dengan metode discovery dan siswa yang diajar dengan

metode ekspositori

(b). Menghitung nilai simpangan baku dari kelas sampel

t hitung
(c). Menghitung nilai

(d). Menentukan taraf nyata α = 0,05

(e). Menentukan kriteria hipotesis H 0 diterima atau ditolak

− t 
< t hitung < t  
H 0 diterima  1− 1 2 α  ( n1+ n 2 − 2 )  1− 1 2 α  ( n1+ n 2 − 2 )
   

t hitung ≥ t  
t hitung ≤ −t  
H 0 ditolak bila  1− 1 2 α  ( n1+ n 2 − 2 )  1− 1 2 α  ( n1+ n 2− 2 )
  atau  

(f) Menarik kesimpulan

2). Jika σ 1 ≠ σ 2 dan kedua-duanya tidak diketahui, maka rumus yang

digunakan adalah :

X1 − X 2
t
2 2
S1 S
+ 2
n1 n2
(Sudjana, 1996:241)
56

Keterangan :

X1 = rata-rata tes kelompok eksperimen

X2 = rata-rata tes kelompok kontrol

S1 = simpangan baku skor tes kelompok eksperimen

S2 = simpangan baku skor tes kelompok kontrol

n1 = banyaknya data kelompok eksperimen

n2 = banyaknya data kelompok control

Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

(a). Menentukan hipotesis

H 0 : µ1 = µ 2 tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang

diajar dengan metode discovery dan siswa yang diajar

dengan metode ekspositori.

H 1 : µ1 ≠ µ 2 ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar

dengan metode discovery dan siswa yang diajar dengan

metode ekspositori

(b). Menentukan taraf nyata α = 0,05

(c). Mencari nilai

2 2
S1 S
w1 = w2 = 2
n1 atau n2 (sudjana, 1996:241)

t1 = t 
 1− 1 2 α  ( n1−1)
 
57

t 2 = t 
 1− 1 2 α  ( n 2−1)
 

(d). Menentukan kriteria hipotesis H 0 diterima atau ditolak

H 0 diterima jika t’ hitung berada di dalam :

w1 ⋅ t1 + w2 ⋅ t 2 w1 ⋅ t1 + w2 ⋅ t 2

w1 + w2 < t’ hitung < w1 + w2

H 0 ditolak jika :

w1 ⋅ t1 + w2 ⋅ t 2 w ⋅ t + w2 ⋅ t 2
− 1 1
t’ hitung ≥ w1 + w2 atau t’ hitung ≤ w1 + w2

(sudjana, 1996:241)

(e). Menarik kesimpulan

b. Uji t satu pihak

Uji t satu pihak dilakukan untuk mengetahui metode discovery lebih

baik dari pada metode ekspositori terhadap prestasi belajar siswa.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1). Menentukan Hipotesis

H 0 : µ1 = µ 2 tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang

diajar dengan metode discovery dan siswa yang diajar

dengan metode ekspositori.

H 1 : µ1 > µ 2 Prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode

discovery lebih baik daripada metode ekspositori.


58

2). Menghitung nilai simpangan baku dari kelas sampel

3). Menghitung nilai t hitung ( telah dihitung pada uji t dua pihak )

4). Menentukan taraf nyata α = 0,05

5). Menentukan kriteria hipotesis H 0 diterima atau ditolak

Jika diperoleh t hitung , maka kriteria hipotesisnya adalah

< t (1− α ) ( n1+ n 2−2 )


H 0 diterima bila t hitung

≥ t (1− α )( n1+ n 2−2 )


H 0 ditolak bila t hitung

Jika diperoleh t’ hitung , maka kriteria hipotesisnya adalah :

w1 ⋅ t1 + w2 ⋅ t 2
H 0 diterima bila t’ hitung < w1 + w2

w1 ⋅ t1 + w2 ⋅ t 2
H 0 ditolak bila t’ hitung ≥ w1 + w2

6). Menarik kesimpulan


59

BAB IV

DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

MTs. Ma’arif Sukodadi merupakan Madrasah Tsanawiyah yang berbasis

agama, karena pelajaran yang diberikan tidak hanya pelajaran umum tetapi juga

pelajaran agama lebih ditekankan. Madrasah ini dibuka pada tahun 1967 dengan

akte pendirian LM/3/159/B/1978. Tempatnya yang berlokasi didekat Jalan Raya

tepatnya Jalan Panglima Sudirman nomor 130 memberikan peluang yang sangat

besar untuk berkembang pesat ditengah persaingan lembaga pendidikan yang saat

ini semakin banyak. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah siswa yang

mendaftar dari tahun ketahun.

Lembaga ini memiliki dua gedung bertingkat yang yang berdiri di atas

2
tanah seluas 2, 196 m yang terdiri dari tiga kelas dan enam ruangan. Siswa yang

belajar disana tidak hanya berasal dari daerah setempat saja tapi juga berasal dari

daerah lain seperti Pucuk, Bali, Banjarmadu, Cangkro, Sungailebak dan

sekitarnya.

Banyak sekali prestasi yang diraih anak didik MTs. Ma’arf Sukodadi

melalui kejuaraan tingkat kecamatan, kabupaten diantaranya karnaval, group


60

drum band, festifal sholawat dan masih banyak lagi. Ekstrakulikuler yang

dikembangkan antara lain kursus komputer, ketrampilan menjahit, muhadhoroh,

hafalan, tartil qiro’atil qur’an, kursus bahasa inggris, bahasa arab, kepramukaan,

olahraga. Adapun tabel keadaan murid, kelas, guru, pegawai, TU, jumlah gedung

dan lainya dapat dilihat pada lampiran 12.

B. Penyajian Data

Data hasil penelitian ada dua macam yaitu data kemampuan awal dan

data prestasi belajar matematika.

1. Data Kemampuan Awal

Data kemampuan awal merupakan kemampuan siswa sebelum diberi

perlakuan, yang diperoleh dari nilai tes pada materi pokok operasi hitung bentuk

aljabar. Data kemampuan awal matematika selengkapnya dapat dilihat pada

lampiran 13, sedangkan deskripsi data kemampuan awal siswa disajikan pada

tabel 4 sebagai berikut.

Tabel 4 : Deskripsi Data kemampuan Awal

No Statistika Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol


1. Jumlah siswa (n) 24 25

2. Rata-rata ( X ) 54 53, 70

3. Standart Deviasi (S) 22, 23 20, 49

4. 2 494, 35 420
Varians (S )
61

2. Data Prestasi Belajar Matematika

Data prestasi belajar merupakan data prestasi setelah siswa diberi

perlakuan yang diperoleh dari hasil tes matematika pada materi pokok

faktorisasi suku aljabar. Data prestasi belajar matematika selengkapnya

terdapat pada lampiran 16. Deskripsi data prestasi belajar matematika

disajikan pada tabel 5 sebagai berikut :

Tabel 5 : Deskripsi Data Prestasi Belajar Matematika

No Statistika Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol


1. Jumlah siswa (n) 24 25

2. Rata-rata ( X ) 72, 50 61, 52

3. Standart Deviasi (S) 13, 19 13, 12

4. 2 173, 91 172, 26
Varians (S )

C. Uji Prasyarat Analisis Data

Uji prasyarat analisis data ini meliputi uji normalitas, uji homogenitas

dan uji kesamaan dua rata-rata.

1. Uji Normalitas

Analisis uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang

diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Hasil analisis uji normalitas

kemampuan awal selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 14 dan 15.

Ringkasan hasil analisis uji normalitas disajikan pada tabel 6.


62

Tabel 6 : Ringkasan Hasil Analisis Uji Normalitas Kemampuan Awal

Variabel X 2 hitung X 2 tabel Kesimpulan


Kelompok Eksperimen 9, 983 11, 1 Normal

6, 349 11, 1 Normal


Kelompok Kontrol

2
Dari hasil perhitungan kemampuan awal siswa, diperoleh X hitung

2
kelompok eksperimen memiliki X hitung = 9, 983 < X tabel = 11, 1, dapat
2

disimpulkan data kemampuan awal kelompok eksperimen berdistribusi

2 2
normal. Sedangkan X hitung kelompok kontrol memiliki X hitung = 6, 349 <

X 2 tabel = 11, 1, dapat disimpulkan data kemampuan awal kelompok kontrol

berdistribusi normal.

Tabel 7 : Ringkasan Hasil Analisis Uji Normalitas prestasi Belajar

Matematika

Variabel X 2 hitung X 2 tabel Kesimpulan


Kelompok Eksperimen 4, 74 11, 1 Normal

4, 05 11, 1 Normal
Kelompok Kontrol

2
Dari hasil perhitungan prestasi belajar matematika, diperoleh X hitung

2
kelompok eksperimen memiliki nilai X hitung = 4, 74 < X tabel = 11, 1, dapat
2

disimpulkan data prestasi matematika kelompok eksperimen berdistribusi


63

2
normal. Sedangkan X hitung kelompok kontrol memiliki X 2 hitung = 4, 05 <

X 2 tabel = 11, 1, dapat disimpulkan data kemampuan awal kelompok kontrol

berdistribusi normal. Hasil analisis uji normalitas prestasi belajar

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17 dan 18 .

2. Uji Homogenitas

Sebelum dianalisis, terlebih dahulu data harus diketahui

homogenitasnya. Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui homogen

tidaknya varians data dari kedua kelompok yang akan dianalisis. Hasil analisis

uji homogenitas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 19. Sedangkan

ringkasan hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 8 sebagai berikut.

Tabel 8 : Ringkasan Hasil Analisis Uji Homogenitas

Variabel F hitung F tabel Kesimpulan


Kemampuan awal 1, 18 1, 98 Homogen

1, 01 1, 98 Homogen
Prestasi Belajar Matematika

Dari data perhitungan kamampuan awal, kedua kelompok diperoleh

Fhitung = 1,18 < Ftabel = 1,98


dapat disimpulkan kedua kelompok memiliki

varians data kemampuan awal yang homogen. Sedangkan dari hasil

perhitungan prestasi belajar kedua kelompok diperoleh

Fhitung = 1,01 < Ftabel = 1,98


dapat disimpulkan kedua kelompok memiliki
64

varians data prestasi belajar matematika yang homogen.

D. Uji Hipotesis

Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data yang terdiri dari uji

normalitas, uji homogenitas dan uji kesamaan dua rata-rata dapat disimpulkan

bahwa data berdistribusi normal, varians homogen dan memiliki kemampuan

awal yang sama, langkah selanjutnya adalah uji hipotesis. Uji hipotesis ini

dilakukan dalam dua tahap yaitu uji t dua pihak yang digunakan untuk

mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan

metode discovery dan metode ekspositori, dan uji t satu pihak yang digunakan

untuk mengetahui metode discovery lebih baik daripada metode ekspositori

terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok faktorisasi suku aljabar.

Berdasarkan perhitungan dari uji t dua pihak diperoleh

t hitung = 2,98 > t tabel = 2,00


dengan dk = 47 dan α = 0,05 . Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa MTs.

Ma’arif Sukodadi Lamongan antara yang diajar dengan metode discovery dan

metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar. Hasil perhitungan

selengkapnya terdapat pada lampiran 21.

Sedangkan hasil perhitungan uji t satu pihak diperoleh

t hitung = 2,98 > t tabel = 1,67


dengan dk = 47 dan α = 0,05 . Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa metode discovery lebih baik daripada metode ekspositori


65

terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan

materi pokok faktorisasi suku aljabar. Hasil perhitungan selengkapnya terdapat

pada lampiran 22.

E. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis kemampuan awal matematika, menunjukkan

bahwa kamampuan awal matematika siswa antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol adalah sama. Hal ini berarti bahwa pengujian terhadap prestasi

belajar matematika pada kelompok eksperimen yaitu siswa yang diajar dengan

metode discovery dan pada kelompok kontrol yaitu siswa yang diajarkan dengan

metode ekspositori dapat dilaksanakan dan uji hipotesis ini dilakukan dalam dua

tahap yaitu uji t dua pihak dan uji t satu pihak.

Berdasarkan hasil perhitungan uji t dua pihak diperoleh

t hitung = 2,98 > t tabel = 2,00


dengan dk = 47 dan α = 0,05 , maka dapat disimpulkan

bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa MTs. Ma’arif

Sukodadi Lamongan antara yang diajar dengan metode discovery dan metode

ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar.

Sedangkan hasil perhitungan uji t satu pihak diperoleh

t hitung = 2,98 > t tabel = 1,67


dengan dk = 47 dan α = 0,05 . Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa metode discovery lebih baik daripada metode ekspositori

terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan
66

materi pokok faktorisasi suku aljabar.

Tentunya hasil ini bukan kebetulan dan juga bukan karena perbedaaan

kemampuan awal siswa, tetapi merupakan efek dari perlakuan. Dengan demikian

proses pembelajaran dengan menggunakan metode discovery secara efektif dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa.

Hal ini juga sesuai dengan Dr. Erliany Syaodih, M.Pd menyebutkan pada

jurnalnya yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif untuk

meningkatkan Ketrampilan Sosial” (http://educare.e-fkipunla.net) bahwa model

pembelajaran kooperatif lebih unggul dari pembelajaran biasa karena para siswa

banyak melakukan variasi kegiatan dibandingkan dengan pembelajaran biasa.

Melalui berbagai variasi kegiatan belajar tersebut mereka melakukan

pengulangan, perluasan, pendalaman, mengaitkan dengan apa yang ada disekitar

mereka dan penguatan terhadap penguasaan materi pengetahui yang dipelajari,

sedangkan dalam pembelajaran biasa yang bersifat ekspositori, siswa hanya

mengalami atau melakukan satu atau dua kegiatan belajar saja, sehingga kurang

terjadi pengulangan, perluasan, pendalaman dan penguatan penguasaan.

Pada awalnya pelaksanaan metode discovery, proses pembelajaran

berjalan kurang lancar karena siswa masih merasa asing dan canggung dengan

metode discovery. Akan tetapi setelah dijelaskan ulang mengenai langkah-

langkah dari pembelajaran ini, siswa mulai antusias dan termotivasi dalam

belajar. Dari pengamatan selama penelitian, diketahui keuntungan dari metode

discovery yang tidak terdapat dalam metode ekspositori adalah sebagai berikut :

(1) siswa dalam proses belajar mengajar cenderung bersifat aktif dalam kegiatan
67

belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil

akhir, (2) siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses

menemukannya sehingga lebih kuat untuk diingat, (3) siswa merasa senang dan puas

karena merasa menemukan sesuatu dari kemampuanya sendiri. Kepuasan batin ini

mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;

(4) siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih

mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks, (5) adanya proses yang

masing-masing siswa saling menjelaskan jawabanya dan alasan mengapa menjawab

demikian berdasarkan penguasaan konsep yang dimiliki, sehingga apabila terdapat

perbedaan jawaban, siswa berdiskusi untuk mencari pemecahanya sehingga mereka

lebih banyak belajar sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi

belajar antara siswa yang diajar dengan metode discovery dan metode ekspositori

pada materi pokok faktorisasi suku aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi

Lamongan tahun pelajaran 2010/2011 dan metode discovery lebih baik daripada

metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi suku aljabar kelas VIII MTs.

Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun pelajaran 2010/2011.


68

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan untuk

pengujian hipotesis yang diajukan dapat disimpulkan :

1. Ada perbedaan prestasi belajar matematika antara

siswa yang diajar dengan metode discovery dan

metode ekspositori pada materi pokok faktorisasi

suku aljabar kelas VIII MTs. Ma’arif Sukodadi

Lamongan tahun pelajaran 2010/2011, dengan

rata-rata prestasi belajar pada metode discovery

72, 5 dan rata-rata pada metode ekspositori 61,

52, sehingga diperoleh perbandingan prestasi

belajar antara discovery dan metode ekspositori

yaitu 73:62.

2. Prestasi belajar siswa dengan metode discovery

lebih baik daripada metode ekspositori pada

materi pokok faktorisasi suku aljabar kelas VIII

MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan tahun

pelajaran 2010/2011.
69

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka peneliti

memberikan saran sebagai berikut :

1. Kepada MTs. Ma’arif Sukodadi Lamongan, agar

mempertimbangan pentingnya metode mengajar

yang digunakan dalam menyampaikan materi

pelajaran agar dapat diterima siswa lebih mudah,

sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar

siswa.

2. Kepada guru matematika, diharapkan metode

discovery dapat menjadi suatu pilihan yang perlu

dipertimbangkan mengingat banyak hal positif

yang dapat diperoleh seperti meningkatkan

prestasi belajar siswa.

3. Materi pembelajaran yang digunakan dalam

penelitian ini terbatas pada materi pokok

faktorisasi suku aljabar, penyusun menyarankan

agar penelitian ini dikembangkan untuk materi

pokok yang lain, dengan mempertimbangkan hal-

hal sebagai berikut :

a. Pengelolaan kelas yang lebih baik dan

pengaturan waktu pembelajaran

seefisien mungkin karena metode


70

discovery dapat memakan waktu yang

lama jika belum berpengalaman.

b. Pembuatan Lembar Kerja Siswa (LKS)

yang lebih menuntun siswa untuk

memahami konsep matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Adinawan, M. Cholik dan Sugijono.2005. Seribu Pena Matematika SMP. Jakarta:


Erlangga.

Anzizhan, Syafarudddin. 2008. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta:


PT. Grasindo.

Ambarjaya, Beni S.2008. Teknik-teknik Penilaian Kelas. Bandung: Tinta Emas


Publishing
71

Arifin, Zaenal. 2009. Membangun Kompetensi Pedagogis Guru


Matematika.Surabaya: Lentera Cendikia.

Arifin, Zaenal. 2008. Meningkatkan Motivasi Berprestasi, Hasil Belajar dan


Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Pembelajaran Kooperatif
dengan Pendekatan RME. Lamongan : UNISDA

Arifin, Zainal. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: lentera Cendekia.

Asrori, Mohammad. 2008. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.

Asrori, Mohammad. 2008. Penelitian Tindakan Kelas: CV. Wacana Prima.

(Email: herdy_alayyubi07.yahoo.co.id .Blog: herdy07.wordpress.com).

(http://educare.e-fkipunla.net)

(http://eduplus.or.id/?page=artikel&ida=433&idt=9

Mahmudah, Anik. 2008. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa yang
diajar dengan metode Discovery dengan Kooperatif tipe Jigsaw.
UNISDA: Lamongan.

Nurkholis, M.M. 2008. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT. Grasindo.

Nurul, Enny Cholidah Zuli Islami.2008. Perbandingan Prestasi Belajar Siswa antara
metode jigsaw dan metode ekspositori. UNISDA: Lamongan.

Pedoman Penulisan Skripsi UNISDA. Lamongan: UNISDA PRESS.

Rusyan A. Tabrani dan Sutisna M.2008. Kesejahteraan dan Motivasi Dalam


Meningkatkan Efektifitas Kinerja Guru. Jakarta Timur: PT. Intimedia
Cipta Nusantara.

Rasyid, Harun dan Mansur. 2008. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV. Wacana
Prima.

Wasmin, Rusyan A. Tabrani dan.2008. Etos Kerja dalam Meningkatkan


Produktivitas Kinerja guru. Jakarta Timur: PT. Intimedia Cipta
Nusantara.
72

Sudjana.1996. Metode Statistika. Bandung: PT.Tarsito.

Suryabrata Sumardi. 2003. Metodologi Penelitian.Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.


73