Anda di halaman 1dari 12

Kata Pengantar

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul: “Aliran – Aliran Teologi Dalam Islam”.

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu
dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.

Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun dePmikian, tim penulis
telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat
selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan
terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pembaca.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama Islam bukanlah sebuah agama yang selalu mengekang penganutnya


untuk bersikukuh pada suatu jurusan kepercayaan. Didalam Islam sendiri banyak
golongan, yang diterangkan dalam Al-Qur’an akan terpecah menjadi 73 Golongan.
Hal ini yang mendorong kami untuk mengetahui beberapa diantara banyak
golongan didalam Islam. Dalam Makalah ini kami hanya membahas sedikit tentang
Syiah, Mu’tazilah dan Assunah waljamaah.

B. Tujuan Pembahasan

1. Mengetahui apa saja aliran – aliran didalam Teologi Islam.

2. Ingin mengetahui tentang Syiah dan Aqidahnya

3. Memperdalam pengetahuan mengenai apa itu Mu’tazilah dan Pemikiran


Rasionalnya.?

4. Apa itu Assunah Waljamaah ?

C. Pokok Pembahasan

1. Aliran – aliran Teologi dalam Islam

2. Syiah dan Aqidahnya

3. Mu’tazilah dan Pemikiran Rasionalnya.

4. Assunah Waljamaah
BAB II

PEMBAHASAN

A. Aliran – Aliran Teologi di dalam Islam

Persoalan orang berbuat dosa (awalnya hanya ditujukan pada pihak yang turut
berperan dalam peristiwa Abitrase, kemudian berkembang pada dosa-dosa besar lainnya
seperti zinah, membunuh dll) berpengaruh besar dalam pertumbuhan teologi.
masalahnya ialah : “ Masihkah ia bisa dipandang orang mukmin ataukah ia sudah
menjadi kafir karena berbuat dosa besar itu ? ”.
Persoalan ini melahirkan 3 Aliran Teologi :
1. Khawarij : Orang berdosa besar adalah kafir, dalam arti ke luar dari Islam/Murtad
(apostate) oleh karena itu wajib dibunuh. Aliran Khawarij akhirnya terbagi menjadi
beberapa sekte antara lain :
a. Al-Muhakkimah : Ali, Mu’awiyah, kedua pengantaranya, dan semua orang yang
setuju arbitrase bersalah dan menjadi kafir. selanjutnya siapa saja yang berbuat dosa
besar disebut kafir.
b. Al-Azariqoh : Semua orang Islam yang tak sefaham dengan mereka atau
sefaham tetapi tidak mau hijrah ke dalam lingkungan mereka dipandang Musyrik.
c. Al-Najdat : Orang berdosa besar yang menjadi kafir dan kekal dalam
neraka hanyalah orang Islam yang tak sefaham dengan dengan golongannya.
Adapun pengikutnya jika mengerjakan dosa besar, betul akan mendapat siksaan,
tetapi bukan dalam neraka dan kemudian akan masuk surga.
d. Al-Ajaridah : Berhijrah tidak wajib, tapi hanya kebajikan , maka yang
tidak hijrah tidak dianggap kafir/Musyrik. Anak kecil tidak bersalah, tidak musyrik
menurut orang tuanya.
e. Al-Sufriyah : Kufur dibagi dua ; kufr bi inkar al-ni’mah dan kufr bi inkar
al-rububiyah. Dengan demikian tidak selamanya term kafir harus berarti keluar dari
Islam.
f. Al-Ibadah : Orang yang berbuat dosa besar adalah muwahhid, tetapi
bukan mukmin, dan kalaupun kafir hanya merupakan kafr al-ni’mah, bukan kafr al-
millah. Dengan kata lain berdosa besar tidak membuat orang keluar dari Islam.
2. Murji’ah: Orang yang berbuat dosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir.
Adapun soal dosa yang dilakukannya terserah kepada Allah SWT. untuk
mengampuni atau tidak menampuni.
3. Mu’tazilah: Orang yang berdosa besar bukan kafir tetapi pula bukan mukmin, ia
mengambil posisi di antara ke dua posisi mukmin dan kafir atau Al-manzilah bain
al-manzilatain (posisi di antara dua posisi).
Selain tiga Aliran di atas, dalam Islam juga dikenal 2 aliran teologi yang
mempermasalahkan Kehendak dan Perbuatan manusia . Aliran ini lebih bersifat
Laten daripada berbentuk organisasi :
1. Qodariyah : Manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan
perbuatannya (free will and free act)
2. Jabariyah : Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan
perbuatannya, Ia bertindak dengan paksaan dari Tuhan. Segala gerak-gerik manusia
ditentukan oleh Tuhan. Paham inilah yang disebut predestination atau fatalisme.
Dalam perkembangan selanjutnya, dengan diterjemahkannya buku-buku filsafat dan
ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, Kaum Mu’tazilah terpengaruh
oleh pemakaian rasio atau akal yang mempunyai kedudukan tinggi. Kepercayaan
pada kemampuan akal ini dibawa oleh kaum Mu’tazilah pada lapangan teologi
Islam, oleh karenanya mereka mengambil corak teologi liberal ; sungguhpun
begitu, Mu’tazilah tidak meninggalkan wahyu. Dalam soal qodariyah-jabariyah,
kaum Mu’tazilah mengambil faham qodariyah.
Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari
golongan tradisional Islam, terutama golongan Hambaliah, namun perlawanan
terhadap Mu’tazilah yang kemudian mengambil bentuk aliran teologi hanya dua
yang terkenal :
1. Asy’ariyah ; bercorak teologi tradisional, yang disusun oleh Abu al-
Hasan al-Asy’ari (935 M).
2. Maturidyah ; tidak se-tradisional Asy’ari dan tidak se-liberal Mu’tazilah,
yang didirikan oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi. Aliran ini terbagi
dalam dua cabang yaitu cabang Samarkand yang bersifat agak liberal dan
cabang Bukhara yang bersifat tradisional

B. Syiah dan Aqidahnya

Kata syi’ah secara etimologi (kebahasaan) berarti pengikut,pendukung,pembela,


pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada ide atau
individu dan kelompok tertentu. Munculnya Syi’ah pertama kali, yaitu dengan
masuknya orang Persia Majusi yang kalah menghadapi tentara islam yang
menundukkan meraka, dengan menyembunyikan permusuhan dan kekafiran.
Dalang timbulnya Syi’ah adalah orang yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’.
Ia masuk islam pada zaman khafilah ketiga, Utsman bin affan. Ia berkeinginan untuk
mendapat kepercayaan dan kedudukan istimewa dalam pemerintahan Usman. Tettapi
itu tidak terlaksana. Abdullah bin Saba meninggalkan yahudi dan masuk agama Maseji
dengan tuijuan untuk : pertama yaitu untuk mendapatkan kepercayaan, kedua, setelah
itu ia akan merusak, yaitu dengan menimbulkan perpecahan dan intrik.
Menurut Muhammad Jawăd Maghnlyah, seorang ulama beraliran syiah berpendapat
bahwa kelompok syiah adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw
telah menetapkan dalam nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti)
beliau dengan menunjuk imam ‘Ali kw.

1). Syiah Az-Zaidiah

Az-Zaidiah adalah kelompok syi’ah pengikut Zaid bin Muhammad bin Ali Zainal
Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib ra. Beliau lahir pada 80H dan terbunuh pada
122H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengaruh luas
sekaligus revolusioner.
Dasar utama lahirnya Syi’ah Zaidiah adalah adanya perlawanan dalam menghadapi
penguasa-penguasa yang berlaku aniaya. Karena pada masa Syi’ah Zaidiah telah terjadi
tragedi Karbala yang terjadi di kota madinah yaitu terjadi perlawanan-perlawanan
dalam melawan musuh atau lawan-lawannya secara sadis.

Syi’ah Zaidiah menetapkan bahwa imămah dapat diemban oleh siapa pun yang
memiliki garis keturunan sampai dengan Fatimah, putri Rasulullah saw., baik dari
keturunan putra beliau, al-Hasan bin Ali, maupun al-Husain, dan selama yang
bersangkutan memiliki kemampuan keilmuan , adil, dan berani-keberanian yang
mengantarnya mengangkat senjata melawan kezaliman. Karena itulah mereka
mengutamakan dan memilih Zaid putra Ali Zainal Abidin, dari pada imam ja’far ash-
shadiq yang kendati ilmunya melebihi Zaib bahkan “membimbing Zaid”, namun karena
beliau enggan mengangkat senjata, maka mereka menilainya tidak wajar menjadi imam.

Bahkan Az-Zaidiah membenarkan adanya dua atu tiga imam dalam dua atau tiga
kawasan yang berjauhan. Agaknya tujuannya adalah untuk memperlemah kekuatan
penguasa yang zalim. Syi’ah Zaidiyah kendati berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib
ra. Adalah sahabat Nabi yang termulia, bahkan melebihi kemuliaan Abu Bakar, Umar
dan Utsman ra., namun mereka mengakui sahabat-sahabat Nabi itu sebagai khalifah-
khalifah yang sah.
Imam Zaid berguru kepada Washil bin Atha’ tokoh aliran Mu’tazilah, yang dikenal
sangat rasional, karena itu banyak pandangan Zaidiah yang sejalan dengan alaran
Mu’tazilah, seprti al-Manzilah baina al-Manzilatain, dan kebebasan kehendak manusia.
Mereka tidak seperti syiah yang lain , menolak menggunakan taqiah, tidak juga
menyatakan bahwa para imam mengetahui ghaib dan juga tidak menetapkan ‘ismah
(keterpeliharaan dari dosa dan kesalahan) bagi para imam.

Mereka tidak mengakui adanya ilmu khusus dari Allah kepada imam atau pemimpin
mereka sebagai kepercayaan syiah yang lain, termasuk Syiah Imamiah , sebagimana
mereka tidak mengakui adanya Raj’ah, yakni kembalinya hidup orang-orang tertentu
kepentas bumi ini dan dengan demikian mereka tidak mengakui adanya seseorang
tertentu yang dinamai Imam Mahdi. Siapa pun yang adil, berpengatahuan berani dan
tampil mengangkat senjata melawan kezaliman maka ia adalah al-Mahdi.

Az-Zaidiah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan al-Qur’an, Sunnah,


dan Nalar. Demikian sekelumit dari pandangan Syiah Zaidiah yang dinilai sebagai
kelompok Syiah dengan Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Menurut Muhammad ‘Imarah
dalam bukunya Talhkish Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al-Mutaakhkhirin, karya
Nashiruddin ath Thusy, mengatakan bahwa Syi’ah Zaidiyah menganut paham
Mu’tazilah dalam bidang prinsip-prinsip ajaran ajaran agama (akidah), bahkan meraka
menggunakan tokoh-tokoh Mu’tazilah melebihi pengagungan mereka terhadap imam-
imam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Sedangkan dalam hukuk-hukum yang berkaitan dengan
rincian ajaran agama, mereka banyak sejalan dengan pandangan mahzab Abu Hanifah
dan sedikit dengan mahzab Syafi .

2). Syiah Istna ‘Asyariah

Syiah Itsna ‘Asyariyah, biasa juga dikenal dengan nama Imamiyah atau Ja’fariyah,
adalah kelompok Syiah yang mempercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya
dari keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah az-Zahra, putrid Rasulullah saw. Ada juga
yang percaya bahwa mereka itu tujuh tetapi mereka itu berbeda-beda dalam perincian
meraka. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, serta ditemukan juga
dibeberapa daerah Suriah, Kuwait, Bahrain, India, juga di Saudi Arabiah, dan beberapa
Uni Sovyet.
Mazhab Syi’ah Duabelas yang dianuut oleh Ayatullah Khomaini dan pengikut-
pengikutnya yang sekarang memerintah iran. Mazab syi’ah duabelas adalah mahzab
syi’ah yang paling moderat. Banyak orang-orang yang belum pernah membaca kitab-
kitab mahzab yang meraka anggap baik, mengira bahwa perbedaan antara
mahzabsyi’ah dan mahzab Ahlussunnah adalah perbedaan dalam furu’ dan bukan dalam
ushul.
Dalam mahzab syi’ah duabelas masalah imamat dalah prinsip dan dasar yang
pokok. Bagi mereka, masalah tersebut adalah seperti rangkaian kalimat tauhid (La ilaha
illah Allah, Muhammad Rasulullah). Barang siapa tidak percaya kepada imamat, ia
sama dengan orang yang tidak percaya kepada kalimat Syahadat. Orang syia’ah
duabelas percaya sepenuhnya bahwa Allah mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul untuk
memberi pimpinan kepada mereka menurut Jalan Allah. Dan setelah Allah menutup
kerasullan dengan mengutus Nabi Muhammad SAW, dan kemudian kembali
kerahmatnya meninggalkan dunia yamg fana ini.
Allah mengangkat, dengan kesaksian Kitab-Nya dan penjelasan Nabi-nabi-Nya, dua
belas imam untuk memimpin manusia , semuanya dari anak turunan Ali, dan mereka
itulah yang harus memerintah manusia sampai hari kiamat. Mereka dijaga Allah dari
melakukan kesalahan, maka manusia wajib mengikutinya. Derajat mereka sama dengan
martabat Rasulullah, dan mereka lebih tinggi dari dari segala Nabi dan Rasul. Barang
siapa sangsi dalam hal ini, ia adalah kafir, kekal di neraka dan tiada amal shaleh yang
dapat menyelamatkannya.

Urutan Imam-imam ma’shum dimulai dari : Ali ra, Hasan, Husein, Ali bin Hasan
(Imam Zainal Abidin), Imam al Baqir, Ja’far al Sadik, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa al
Ridha, Muhammad bin Ali al Taqy, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali al Askari, dan
Muhammad bin Hasan al Askari (Imam Mahdi yang hilang, yang ditungu-tunggu).
Sebagai ketentuan mahzab syi’ah duabelas ini, orang harus percaya bahwa martabat
imam hanya terdapat dalam Duabelas Imam mereka.

Persamaan dan Perbedaan Syi’ah Itsna ‘Asyariah dan Syiah Az-Zaidiah.

1). Perbedaan

• Dasar utama lahirnya Syi’ah Zaidiah adalah adanya perlawanan dalam menghadapi
penguasa-penguasa yang berlaku aniaya.

• Syiah Itsna ‘Asyariyah mempercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya dari
keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah az-Zahra, putrid Rasulullah saw.

• Az-Zaidiah membenarkan adanya dua atu tiga imam

pandangan Zaidiah yang sejalan dengan alaran Mu’tazilah, seprti al-Manzilah baina al-
Manzilatain, dan kebebasan kehendak manusia. Dan menggunakan taqiah, tidak juga
menyatakan bahwa para imam mengetahui ghaib dan juga tidak menetapkan ‘ismah
(keterpeliharaan dari dosa dan kesalahan) bagi para imam.
• Syi’ah Az-Zaidiah tidak mengakui adanya ilmu khusus dari Allah kepada imam atau
pemimpin. Syi’ah az-zaidiah tidak mengakui adanya seseorang tertentu yang dinamai
Imam Mahdi, Siapa pun yang adil, berpengatahuan berani dan tampil mengangkat
senjata melawan kezaliman maka ia adalah al-Mahdi.

• Menurut Syi’ah itsna ‘asyariah imam mahdi bagi mereka adalah duabelas imam yang
mereka percayai.

• syi’ah duabelas adalah mahzab syi’ah yang paling moderat

• Dalam mahzab syi’ah duabelas masalah imamat dalah prinsip dan dasar yang pokok
mahzab syi’ah duabelas, harus percaya bahwa martabat imam hanya terdapat dalam
Duabelas Imam mereka.

• Imam Mahdi yang ditungu-tunggu oleh syi’ah duabelas, yang sekarang masih hilang,
itu bukannya Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, akan tetapi merupakan
Mahdi syi’ah yang hanya diyakini oleh kelompok syi’ah.

• Menurut syi’adu belas , mereka meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah penutup
semua nabi dan para imam a.s. tersebut berdasarkan hadist-hadist mutawatir yang
disabdakan olehnya berjumlah Duabelas orang tidak lebih dan tidak kurang.

• Menurut Syi’ah Zaidiah, mereka meyakini bahwa imamah bukanlah hak prerogratif
Ahlul Bayt a.s. dan para imam tidak berjumlah Duabelas orang serta mereka tidak
mengikuti Ahlul Bayt a.s.

2). Persamaan

• Syi’ah Duabelas dan Syi’ah az-Zaidiah, mereka sama-sama mempercayai adanya


imam.
• Imam yang mereka angkat adalah sama-sama dari keturunan Ali r.a

C. Mu’tazilah dan Pemikiran Rasional

Aliran Mu’taziliyah (memisahkan diri) muncul di Basra, Irak, di abad 2 H.


Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha' (700-750 M) berpisah dari gurunya
Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha' berpendapat bahwa
muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-
Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.
Ajaran Mu'taziliyah kurang diterima oleh kebanyakan ulama Sunni karena aliran ini
beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi. Oleh karena itu,
penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Al Quar'an secara lebih
bebas dibanding kebanyakan umat muslim. Mu’taziliyah memiliki 5 ajaran utama,
yakni :

1. Tauhid. Mereka berpendapat :


 Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.
 al-Qur'an ialah makhluk.
 Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata
manusia bukanlah Ia.
2. Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi
imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.
3. Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi
pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
4. Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha' yang membuatnya
berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin
dan kafir, yakni fasik.
5. Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan
yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Aliran Mu’taziliyah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia
sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan
perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.
Tokoh-tokoh Mu’taziliyah yang terkenal ialah :

1. Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.


2. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Mu’taziliyah.
3. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.
4. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab/al-Jubba’i (849-915 M).

Meski kini Mu’taziliyah tiada lagi, namun pemikiran rasionalnya sering digali
cendekiawan Muslim dan nonmuslim.

D. Assunah waljamaah

Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: ‫أهل‬
‫ )السنة والجماعة‬atau lebih sering disingkatAhlul-Sunnah (bahasa Arab: ‫)أهل السنة‬
atau Sunni. Ahlussunnah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam
berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in,
dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10%
menganut aliran Syi'ah.

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh
dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullahberada di atasnya dan juga para
sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka
sampai hari kiamat.

Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting
dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran
sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan
jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan tuntunan
syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alai wassallam empat belas
abad yang lalu.

Pengenalan akan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah


ditekankan sejak jauh-jauh hari oleh Rasulullah r kepada para sahabatnya ketika
beliau berkata kepada mereka :

‫عل َللى‬ َ ‫صللاَرى‬ َ ّ ‫ت الن‬ ِ ‫قل‬َ ‫فت ََر‬


ْ ‫وا‬َ ‫ة‬
ً ‫قل‬َ ‫فْر‬
ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬
ِ ْ ‫س لب‬
َ ‫و‬َ ‫دى‬ َ ‫حل‬ْ ِ ‫عل َللى إ‬
َ ُ ‫ود‬ْ ‫ه‬ُ َ ‫ت ال ْي‬
ِ ‫ق‬َ ‫فت ََر‬ ْ ‫ا‬
ُ
َ ّ ‫ة ك ُل‬
‫هللا‬ َ ‫فْر‬
ً ‫ق‬ ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬
ِ ْ ‫سب‬َ ‫و‬
َ ‫ث‬ ِ َ ‫عَلى ث َل‬َ ُ‫رق‬ ْ َ ‫ست‬
ِ َ ‫فت‬ َ ‫ي‬ ْ ِ ‫مت‬
ّ ‫نأ‬ ّ ِ ‫وإ‬َ ‫ة‬ َ ‫فْر‬
ً ‫ق‬ ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬ِ ْ ‫سب‬َ ‫و‬َ ‫ن‬ِ ْ ‫ث ِن ْت َي‬
‫ة‬
ُ ‫ع‬
َ ‫ما‬ َ ْ ‫ي ال‬
َ ‫ج‬ َ ‫ه‬
ِ ‫و‬
َ ً‫حدَة‬ َ ّ ‫ر إ ِل‬
ِ ‫وا‬ ِ ‫في الّنا‬
ِ

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan)
dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan
sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya
dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah”. Hadits shohih dishohihkan
oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-
Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.

Demikianlah umat ini akan terpecah, dan kebenaran sabda beliau telah kita
saksikan pada zaman ini yang mana hal tersebut merupakan suatu ketentuan yang
telah ditakdirkan oleh Allah I Yang Maha Kuasa dan merupakan kehendak-Nya
yang harus terlaksana dan Allah I Maha Mempunyai Hikmah dibelakang hal
tersebut.
Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahullahu- menjelaskan hikmah
terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq
cet. Darus Salaf hal.23-24 beliau berkata : “(Perpecahan dan perselisihan-ed.)
merupakan hikmah dari Allah I guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah
siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan
sikap fanatisme.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Islam adalah agama perdamaian. Kontribusi Islam untuk perdamaian dunia dan
regional, sedemikian besar dalam sejarah umat manusia. Menurut Islam, tujuan utama
penciptaan manusia adalah saling mengenal dan hidup dalam damai. Untuk hal ini kita
akan mengacu pada sejumlah ayat Al-Quran.

Maka dari itu Islam tidak menganjurkan kita untuk berselisih. Meskipun begitu
banyak golongan – golonga teologi dalam islam. Kita janganlah mau untuk diadu
domba, hingga Islam menjadi hancur. Meskipun Syiah, Mu’tazilah, Assunah
Waljamaah mempunyai sedikit perbedaan, namun pada hakikatnya semua golongan ini
sama yaitu berpegang pada Ajaran Islam. Islam yang Hakiki, yang tak mudah goyah
walau termakan usia zaman.