Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dunia ini islam telah terbagi kedalam beberapa golongan. Golongan ini tidak
sedikit jumlahnya. Akan tetapi yang menarik perhatian kami untuk dijadikan
pembahasan dalam makalah ini adalah Syiah dan Ahlussunah Waljamaah
Didalam makalah ini kami ingin membahas apa sebenarnya yang dinamakan
dengan Syi’ah, bagian – bagian dari golongan syiah dan juga sedikit tentang sejarah
lahirnnya Ahlussunah Waljamaah.
B. Tujuan
• Mengetahui tentang Syiah dan Akidahnya.
• Bagian – bagian dari golongan syiah
• Mengetahui Perbedaan Antara Syi’ah Zaidiah Dengan Syi’ah Asyariyah
• Sejarah lahirnya aliran Ahlussunah Waljamaah
• Apa sebenarnya Ahlussunah Waljamaah itu ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Syiah dan Aqidahnya


Kata syi’ah secara etimologi (kebahasaan) berarti pengikut,pendukung,pembela,
pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada ide atau
individu dan kelompok tertentu. Munculnya Syi’ah pertama kali, yaitu dengan
masuknya orang Persia Majusi yang kalah menghadapi tentara islam yang
menundukkan meraka, dengan menyembunyikan permusuhan dan kekafiran.
Dalang timbulnya Syi’ah adalah orang yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin
Saba’. Ia masuk islam pada zaman khafilah ketiga, Utsman bin affan. Ia berkeinginan
untuk mendapat kepercayaan dan kedudukan istimewa dalam pemerintahan Usman.
Tettapi itu tidak terlaksana. Abdullah bin Saba meninggalkan yahudi dan masuk agama
Maseji dengan tuijuan untuk : pertama yaitu untuk mendapatkan kepercayaan, kedua,
setelah itu ia akan merusak, yaitu dengan menimbulkan perpecahan dan intrik.
Menurut Muhammad Jawăd Maghnlyah, seorang ulama beraliran syiah berpendapat
bahwa kelompok syiah adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw
telah menetapkan dalam nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti)
beliau dengan menunjuk imam ‘Ali kw.

1.1. Syiah Az-Zaidiah


Az-Zaidiah adalah kelompok syi’ah pengikut Zaid bin Muhammad bin Ali
Zainal Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib ra. Beliau lahir pada 80H dan
terbunuh pada 122H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah,
berpengaruh luas sekaligus revolusioner. Dasar utama lahirnya Syi’ah Zaidiah
adalah adanya perlawanan dalam menghadapi penguasa-penguasa yang berlaku
aniaya. Karena pada masa Syi’ah Zaidiah telah terjadi tragedi Karbala yang terjadi
di kota madinah yaitu terjadi perlawanan-perlawanan dalam melawan musuh atau
lawan-lawannya secara sadis.
Syi’ah Zaidiah menetapkan bahwa imămah dapat diemban oleh siapa pun yang
memiliki garis keturunan sampai dengan Fatimah, putri Rasulullah saw., baik dari
keturunan putra beliau, al-Hasan bin Ali, maupun al-Husain, dan selama yang
bersangkutan memiliki kemampuan keilmuan , adil, dan berani-keberanian yang
mengantarnya mengangkat senjata melawan kezaliman. Karena itulah mereka
mengutamakan dan memilih Zaid putra Ali Zainal Abidin, dari pada imam ja’far
ash-shadiq yang kendati ilmunya melebihi Zaib bahkan “membimbing Zaid”,
namun karena beliau enggan mengangkat senjata, maka mereka menilainya tidak
wajar menjadi imam.
Bahkan Az-Zaidiah membenarkan adanya dua atu tiga imam dalam dua atau
tiga kawasan yang berjauhan. Agaknya tujuannya adalah untuk memperlemah
kekuatan penguasa yang zalim. Syi’ah Zaidiyah kendati berkeyakinan bahwa Ali
bin Abi Thalib ra. Adalah sahabat Nabi yang termulia, bahkan melebihi kemuliaan
Abu Bakar, Umar dan Utsman ra., namun mereka mengakui sahabat-sahabat Nabi
itu sebagai khalifah-khalifah yang sah.
Imam Zaid berguru kepada Washil bin Atha’ tokoh aliran Mu’tazilah, yang
dikenal sangat rasional, karena itu banyak pandangan Zaidiah yang sejalan dengan
alaran Mu’tazilah, seprti al-Manzilah baina al-Manzilatain, dan kebebasan kehendak
manusia. Mereka tidak seperti syiah yang lain , menolak menggunakan taqiah, tidak
juga menyatakan bahwa para imam mengetahui ghaib dan juga tidak menetapkan
‘ismah (keterpeliharaan dari dosa dan kesalahan) bagi para imam.
Mereka tidak mengakui adanya ilmu khusus dari Allah kepada imam atau
pemimpin mereka sebagai kepercayaan syiah yang lain, termasuk Syiah Imamiah ,
sebagimana mereka tidak mengakui adanya Raj’ah, yakni kembalinya hidup orang-
orang tertentu kepentas bumi ini dan dengan demikian mereka tidak mengakui
adanya seseorang tertentu yang dinamai Imam Mahdi. Siapa pun yang adil,
berpengatahuan berani dan tampil mengangkat senjata melawan kezaliman maka ia
adalah al-Mahdi.
Az-Zaidiah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan al-Qur’an,
Sunnah, dan Nalar. Demikian sekelumit dari pandangan Syiah Zaidiah yang dinilai
sebagai kelompok Syiah dengan Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Menurut Muhammad
‘Imarah dalam bukunya Talhkish Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al-
Mutaakhkhirin, karya Nashiruddin ath Thusy, mengatakan bahwa Syi’ah Zaidiyah
menganut paham Mu’tazilah dalam bidang prinsip-prinsip ajaran ajaran agama
(akidah), bahkan meraka menggunakan tokoh-tokoh Mu’tazilah melebihi
pengagungan mereka terhadap imam-imam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Sedangkan
dalam hukuk-hukum yang berkaitan dengan rincian ajaran agama, mereka banyak
sejalan dengan pandangan mahzab Abu Hanifah dan sedikit dengan mahzab Syafi .

1.2. Syiah Istna ‘Asyariah


Syiah Itsna ‘Asyariyah, biasa juga dikenal dengan nama Imamiyah atau
Ja’fariyah, adalah kelompok Syiah yang mempercayai adanya dua belas imam yang
kesemuanya dari keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah az-Zahra, putrid Rasulullah
saw. Ada juga yang percaya bahwa mereka itu tujuh tetapi mereka itu berbeda-beda
dalam perincian meraka. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak,
serta ditemukan juga dibeberapa daerah Suriah, Kuwait, Bahrain, India, juga di
Saudi Arabiah, dan beberapa Uni Sovyet.
Mazhab Syi’ah Duabelas yang dianuut oleh Ayatullah Khomaini dan pengikut-
pengikutnya yang sekarang memerintah iran. Mazab syi’ah duabelas adalah mahzab
syi’ah yang paling moderat. Banyak orang-orang yang belum pernah membaca
kitab-kitab mahzab yang meraka anggap baik, mengira bahwa perbedaan antara
mahzabsyi’ah dan mahzab Ahlussunnah adalah perbedaan dalam furu’ dan bukan
dalam ushul.
Dalam mahzab syi’ah duabelas masalah imamat dalah prinsip dan dasar yang
pokok. Bagi mereka, masalah tersebut adalah seperti rangkaian kalimat tauhid (La
ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah). Barang siapa tidak percaya kepada
imamat, ia sama dengan orang yang tidak percaya kepada kalimat Syahadat. Orang
syia’ah duabelas percaya sepenuhnya bahwa Allah mengutus Nabi-nabi dan Rasul-
rasul untuk memberi pimpinan kepada mereka menurut Jalan Allah. Dan setelah
Allah menutup kerasullan dengan mengutus Nabi Muhammad SAW, dan kemudian
kembali kerahmatnya meninggalkan dunia yamg fana ini.
Allah mengangkat, dengan kesaksian Kitab-Nya dan penjelasan Nabi-nabi-Nya, dua
belas imam untuk memimpin manusia , semuanya dari anak turunan Ali, dan
mereka itulah yang harus memerintah manusia sampai hari kiamat. Mereka dijaga
Allah dari melakukan kesalahan, maka manusia wajib mengikutinya. Derajat
mereka sama dengan martabat Rasulullah, dan mereka lebih tinggi dari dari segala
Nabi dan Rasul. Barang siapa sangsi dalam hal ini, ia adalah kafir, kekal di neraka
dan tiada amal shaleh yang dapat menyelamatkannya.
Urutan Imam-imam ma’shum dimulai dari : Ali ra, Hasan, Husein, Ali bin
Hasan (Imam Zainal Abidin), Imam al Baqir, Ja’far al Sadik, Musa bin Ja’far, Ali
bin Musa al Ridha, Muhammad bin Ali al Taqy, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali
al Askari, dan Muhammad bin Hasan al Askari (Imam Mahdi yang hilang, yang
ditungu-tunggu). Sebagai ketentuan mahzab syi’ah duabelas ini, orang harus
percaya bahwa martabat imam hanya terdapat dalam Duabelas Imam mereka.
Persamaan dan Perbedaan Syi’ah Itsna ‘Asyariah dan Syiah Az-Zaidiah.

1. 3. Perbedaan Antara Syi’ah Zaidiah Dengan Syi’ah Asyariyah


• Dasar utama lahirnya Syi’ah Zaidiah adalah adanya perlawanan dalam
menghadapi penguasa-penguasa yang berlaku aniaya.
• Syiah Itsna ‘Asyariyah mempercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya
dari keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah az-Zahra, putrid Rasulullah saw.
• Az-Zaidiah membenarkan adanya dua atu tiga imam
pandangan Zaidiah yang sejalan dengan alaran Mu’tazilah, seprti al-Manzilah baina
al-Manzilatain, dan kebebasan kehendak manusia. Dan menggunakan taqiah, tidak
juga menyatakan bahwa para imam mengetahui ghaib dan juga tidak menetapkan
‘ismah (keterpeliharaan dari dosa dan kesalahan) bagi para imam.
• Syi’ah Az-Zaidiah tidak mengakui adanya ilmu khusus dari Allah kepada imam
atau pemimpin. Syi’ah az-zaidiah tidak mengakui adanya seseorang tertentu yang
dinamai Imam Mahdi, Siapa pun yang adil, berpengatahuan berani dan tampil
mengangkat senjata melawan kezaliman maka ia adalah al-Mahdi.
• Menurut Syi’ah itsna ‘asyariah imam mahdi bagi mereka adalah duabelas imam
yang mereka percayai.
• syi’ah duabelas adalah mahzab syi’ah yang paling moderat
• Dalam mahzab syi’ah duabelas masalah imamat dalah prinsip dan dasar yang
pokok
mahzab syi’ah duabelas, harus percaya bahwa martabat imam hanya terdapat dalam
Duabelas Imam mereka.
• Imam Mahdi yang ditungu-tunggu oleh syi’ah duabelas, yang sekarang masih
hilang, itu bukannya Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, akan tetapi
merupakan Mahdi syi’ah yang hanya diyakini oleh kelompok syi’ah.
• Menurut syi’adu belas , mereka meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah penutup
semua nabi dan para imam a.s. tersebut berdasarkan hadist-hadist mutawatir yang
disabdakan olehnya berjumlah Duabelas orang tidak lebih dan tidak kurang.
• Menurut Syi’ah Zaidiah, mereka meyakini bahwa imamah bukanlah hak
prerogratif Ahlul Bayt a.s. dan para imam tidak berjumlah Duabelas orang serta
mereka tidak mengikuti Ahlul Bayt a.s.
2). Persamaan
• Syi’ah Duabelas dan Syi’ah az-Zaidiah, mereka sama-sama mempercayai adanya
imam.
• Imam yang mereka angkat adalah sama-sama dari keturunan Ali r.a

B. Ahlussunah Waljamaah

2.1. Sejarah Lahirnya Ahlussunah Waljamaah

Dahulu di zaman Rasulullah SAW. Kaum muslimin dikenal bersatu, tidak


ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah
itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW. Bila ada masalah atau
beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah
SAW. Itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik
dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi. Kemudian setelah
Rasulullah SAW wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya
terjadi saat Imam Ali kw. menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya
bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun
saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibin
Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah
(Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah
tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam
yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai
golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam,
seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang
satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap
berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah
SAW. bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan
akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah
adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah. Hal
ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan
masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang
aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah
yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat
Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah
Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah,
Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran
Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum
Allah menciptakan Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali.
Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-
kelompok sempalan. Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah, bahwa kita sepakat
bahwa Ahlul Bait adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi SAW. dan
mereka tidak menyimpang dari ajaran nabi. Mereka tidak dari golongan ahli bid’ah,
tapi dari golongan Ahlus Sunnah.
2.2. Apa Sebenarnya Ahlussunah Waljamaah itu ?

Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat
penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki
kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan
yang benar dan jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhanahu wata’ala
sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu
‘alai wassallam empat belas abad yang lalu.

Pengenalan akan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah


ditekankan sejak jauh-jauh hari oleh Rasulullah r kepada para sahabatnya ketika
beliau berkata kepada mereka :

‫عل َللى‬ َ ‫صللاَرى‬ َ ّ ‫ت الن‬ ِ ‫قل‬َ ‫فت ََر‬


ْ ‫وا‬َ ‫ة‬
ً ‫قل‬َ ‫فْر‬
ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬
ِ ْ ‫س لب‬
َ ‫و‬َ ‫دى‬ َ ‫حل‬ْ ِ ‫عل َللى إ‬
َ ُ ‫ود‬ْ ‫ه‬ُ َ ‫ت ال ْي‬
ِ ‫ق‬َ ‫فت ََر‬ ْ ‫ا‬
ُ
َ ّ ‫ة ك ُل‬
‫هللا‬ َ ‫فْر‬
ً ‫ق‬ ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬
ِ ْ ‫سب‬َ ‫و‬
َ ‫ث‬ ِ َ ‫عَلى ث َل‬َ ُ‫رق‬ ْ َ ‫ست‬
ِ َ ‫فت‬ َ ‫ي‬ ْ ِ ‫مت‬
ّ ‫نأ‬ ّ ِ ‫وإ‬َ ‫ة‬ َ ‫فْر‬
ً ‫ق‬ ِ ‫ن‬ َ ْ ‫عي‬ِ ْ ‫سب‬َ ‫و‬َ ‫ن‬ِ ْ ‫ث ِن ْت َي‬
‫ة‬
ُ ‫ع‬
َ ‫ما‬ َ ْ ‫ي ال‬
َ ‫ج‬ َ ‫ه‬
ِ ‫و‬
َ ً‫حدَة‬ َ ّ ‫ر إ ِل‬
ِ ‫وا‬ ِ ‫في الّنا‬
ِ

“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh


(golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh
dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya
dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah”. Hadits shohih dishohihkan
oleh oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-
Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain -rahimahumullahu-.

Demikianlah umat ini akan terpecah, dan kebenaran sabda beliau telah kita
saksikan pada zaman ini yang mana hal tersebut merupakan suatu ketentuan yang
telah ditakdirkan oleh Allah I Yang Maha Kuasa dan merupakan kehendak-Nya
yang harus terlaksana dan Allah I Maha Mempunyai Hikmah dibelakang hal
tersebut.

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahullahu- menjelaskan hikmah


terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut dalam kitab Lumhatun ‘Anil Firaq
cet. Darus Salaf hal.23-24 beliau berkata : “(Perpecahan dan perselisihan-ed.)
merupakan hikmah dari Allah I guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah
siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan
sikap fanatisme.

Allah berfirman :
َ َ ‫ول‬ َ َ َ
َ ْ‫ق لد‬
‫فت َن ّللا‬ َ ‫فت َن ُللون‬ ْ ُ‫م ل َ ي‬ْ ‫هل‬
ُ ‫و‬
َ ‫مّنا‬
َ ‫وا آ‬ ْ ُ ‫ول‬ ُ َ‫ن ي‬
ْ ‫ق‬ ْ ‫كوا أ‬ ُ ‫ن ي ُت َْر‬ ْ ‫سأ‬ ُ ‫ب الّنا‬ َ ‫س‬ِ ‫ح‬َ ‫ألم أ‬
‫كللاِذِبين‬ َ ْ ‫ن ال‬ َ َ ‫عل‬
ّ ‫ملل‬ ْ َ ‫ول َي‬َ ‫قوا‬ ُ َ‫صللد‬
َ ‫ن‬َ ‫ذي‬ ِ ‫ه اّللل‬ ُ ‫ن الّللل‬ َ َ ‫عل‬
ّ ‫ملل‬ ْ َ ‫فل َي‬
َ ‫م‬ ْ ‫هلل‬ َ ‫ن‬
ِ ِ ‫قب ْل‬ ْ ‫ملل‬
ِ ‫ن‬َ ‫ذي‬ ِ ‫اّللل‬

3-1 ‫)َ)العنكبوت‬

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(begitu saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sungguh Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia Maha
Mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-‘Ankabut : 29 / 1-3).

Dan Allah berfirman :

ُ
‫م‬َ ‫حلل‬
ِ ‫ن َر‬
ْ ‫ملل‬َ ّ ‫ن إ ِل‬ َ ‫في‬ِ ِ ‫خت َل‬
ْ ‫م‬ُ ‫ن‬ َ ‫ول َ ي ََزاُلو‬
َ ً‫حدَة‬
ِ ‫وا‬َ ‫ة‬ً ‫م‬ّ ‫سأ‬ َ ‫ل الّنا‬ َ ‫ع‬َ ‫ج‬َ َ‫ك ل‬ َ ّ ‫شاءَ َرب‬ َ ‫و‬ْ َ ‫ول‬
َ
‫س‬
ِ ‫والّنلا‬ َ ‫ة‬ِ ‫جّنل‬ِ ْ ‫ن ال‬َ ‫مل‬ِ ‫م‬ َ ‫هّنل‬
َ ‫ج‬َ ‫ن‬ّ َ ‫مَل‬ َ َ ‫ة رّبل‬
ْ ‫ك َل‬ َ ِ ‫ت ك َل‬
َ ُ ‫مل‬ ْ ‫مل‬
ّ َ ‫وت‬
َ ‫م‬ْ ‫ه‬ُ ‫ق‬َ َ ‫خل‬
َ ‫ك‬ َ ِ ‫ول ِذَل‬
َ ‫ك‬َ ّ ‫َرب‬
َ
119-118 : ‫ن )هود‬
َ ‫عي‬
ِ ‫م‬ ْ ‫)أ‬
َ ‫ج‬

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang


satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi
rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat
Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : “Sesungguhnya Aku akan memenuhi
Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. (QS. Hud :
10 / 118-119)

: ‫ن )اللنعللام‬
َ ‫هِلي‬ َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫جللا‬ َ ‫مل‬ ّ َ ‫فل َ ت َك ُللون‬
ِ ‫ن‬ َ ‫دى‬ ُ ْ ‫عَلى ال‬
َ ‫ه‬ َ ‫م‬
ْ ‫ه‬
ُ ‫ع‬
َ ‫م‬ َ َ‫ه ل‬
َ ‫ج‬ ُ ّ ‫شاءَ الل‬ ْ َ ‫ول‬
َ ‫و‬ َ

35)

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam
petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”.
(QS. Al-‘An’am : 6 / 35).”

Dan Allah ’Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Merahmati hambaNya.
Jalan kebenaran telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sebagaimana dalam sabda
Rasululullah r :

ّ ‫ي إ ِل‬ْ ‫د‬ِ ‫عل‬


ْ َ ‫هللا ب‬
َ ْ ‫عن‬
َ ‫غ‬ ِ َ ‫هللا ل َ ي‬
ُ ‫زي ْل‬ َ ‫ر‬
ِ ‫ها‬ َ ِ ‫ء ل َي ْل‬
َ َ ‫هللا ك َن‬ َ ْ ‫ة ال ْب َي‬
ِ ‫ضا‬ ِ ‫ج‬
ّ ‫ح‬ َ ْ ‫عَلى ال‬
َ ‫م‬ ْ ُ ‫قدْْ ت ََرك ْت ُك‬
َ ‫م‬ َ
‫ك‬ ٌ ِ ‫هال‬َ

“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas petunjuk yang sangat


terang malamnya seperti waktu siangnya tidaklah menyimpang darinya setelahku
kecuali orang yang binasa”. Hadits Shohih dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany
dalam Dzilalul Jannah.

Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- :

‫ذا‬ َ ‫هلل‬ َ ‫ل‬َ ‫قا‬ َ ‫م‬ ّ ُ ‫طا ث‬ ّ ‫خ‬ َ ‫ما‬ ً ‫و‬ ْ َ‫م ي‬ َ ّ ‫سل‬
َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ِ ‫وآل‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬َ ‫ه‬ ُ ‫صّلى الل‬ َ ‫ه‬
ِ ‫ل الل‬ ُ ‫و‬ ُ ‫ط ل ََنا َر‬
ْ ‫س‬ ّ ‫خ‬ َ
‫ل‬ٌ ُ ‫س لب‬ ُ ‫ه‬ ِ ‫ذ‬ِ ‫هل‬َ ‫ل‬ َ ‫قللا‬ َ ‫م‬ ّ ‫ه ث ُل‬ ِ ِ ‫مال‬َ ‫شل‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫عل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ِ ‫مي ْن‬ِ َ‫ن ي‬ْ ‫ع‬ َ ‫طا‬ ً ‫و‬ ْ ُ ‫خط‬ ُ ‫ط‬ ّ ‫خ‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫ه ث‬
ِ ‫ل الل‬ ُ ْ ‫سب ِي‬
َ
َ
‫ي‬ْ ِ‫صلَراط‬ ِ ‫ذا‬ َ ‫هل‬ َ ‫ن‬ ّ ‫وأ‬ َ [ َ ‫م ت َل‬ ّ ‫ه ث ُل‬ِ ‫و إ ِل َي ْل‬ ْ ‫ع‬ُ ْ‫ن ي َلد‬ ٌ ‫طا‬ َ ْ ‫ش لي‬ َ ‫هللا‬ َ ْ ‫من‬ ِ ‫ل‬ ٍ ْ ‫سلب ِي‬َ ‫ل‬ ّ ‫عل َللى ك ُل‬ َ
‫ه‬
ِ ِ ‫سب ِي ْل‬َ ‫ن‬ ْ ‫ع‬ َ ‫م‬ ْ ُ ‫فّرقَ ب ِك‬ َ َ ‫فت‬ َ ‫ل‬ َ ُ ‫سب‬ّ ‫وا ال‬ ْ ‫ع‬ ُ ِ ‫ول َ ت َت ّب‬ َ ُ ‫وه‬ ْ ‫ع‬ ُ ِ ‫فات ّب‬ َ ‫ما‬ ً ْ ‫قي‬ ِ َ ‫ست‬ْ ‫م‬ ُ [

“Pada suatu hari Rasulullah r menggaris di depan kami satu garisan lalu
beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis
di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di
atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca
(ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan
kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Kontribusi Islam untuk perdamaian dunia dan regional, sedemikian besar dalam
sejarah umat manusia. Menurut Islam, tujuan utama penciptaan manusia adalah saling
mengenal dan hidup dalam damai. Untuk hal ini kita akan mengacu pada sejumlah ayat
Al-Quran.

Syiah dan Ahlussunah meruapakan golongan yang luas. Meskipun dua golongan ini
mempunyai latar belakang yang berbeda. Syiah adalah pengikut,pendukung,pembela,
pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada ide atau
individu dan kelompok tertentu. Syiah juga terbagi menjadi dua bagian yaitu Syi’ah
Zaidiah Dengan Syi’ah Asyariyah.

Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting
dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran
sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan
jalan yang lurus dalam menyembah Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan tuntunan
syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alai wassallam empat belas
abad yang lalu.

Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti


sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah
SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah)
adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama
sahabat-sahabatku.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah
yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat
Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah
Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah,
Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran
Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
DAFTAR PUSTAKA

http://fawaz45.wordpress.com/2010/09/29/lahirnya-ahlus-sunnah-waljamaah/
http://uidi-indonesia.blogspot.com/2010/10/makalah-teologi.html
Kata Pengantar

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah
ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Golongan Syiah
dan Ahlussunah waljamaah yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran
dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Syiah & Ahlussunah waljamaah” yang menurut kami
pembahasannya di makalah ini masih kurang begitu lengkap. Walaupun makalah ini
mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Tujuan
Bab II Pembahasan
A. Syiah dan Akidahnya
1.1. Syiah Zaidiah
1.2. Syiah Asyariyah
1.3. Perbedaan Antara Syi’ah Zaidiah Dengan Syi’ah Asyariyah
B. Ahlussunah Waljamaah
2.1. Sejarah Lahirnya Ahlussunah waljamaah
2.2. Apa sebenarnya Ahlussunah waljamaah itu ?
Bab III Penutup
A. Kesimpulan
Daftar Pustaka