P. 1
Suara Pembaruan Dengan Misi Parkindo

Suara Pembaruan Dengan Misi Parkindo

5.0

|Views: 456|Likes:
Dipublikasikan oleh Gigih Sari Alam
Suara Pembaruan Dengan Misi Parkindo Suara Pembaruan adalah koran yang diciptakan sebagai pengganti Sinar Harapan yang dibredel 1986. Harian Sinar Harapan dibatalkan SIUPP-nya pada 8 Oktober 1986, dan kemudian terbit kembali dengan nama Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987. Pergantian tersebut diikuti dengan pergantian PT Sinar Kasih sebagai penerbit Sinar Harapan diganti menjadi PT Media Interaksi Utama, sebagian besar terdiri dari wartawan Sinar Harapan ditampung.
Suara Pembaruan Dengan Misi Parkindo Suara Pembaruan adalah koran yang diciptakan sebagai pengganti Sinar Harapan yang dibredel 1986. Harian Sinar Harapan dibatalkan SIUPP-nya pada 8 Oktober 1986, dan kemudian terbit kembali dengan nama Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987. Pergantian tersebut diikuti dengan pergantian PT Sinar Kasih sebagai penerbit Sinar Harapan diganti menjadi PT Media Interaksi Utama, sebagian besar terdiri dari wartawan Sinar Harapan ditampung.

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Gigih Sari Alam on Jul 25, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

Gigih Sari Alam 1 Suara Pembaruan Dengan Misi Parkindo Suara Pembaruan adalah koran yang diciptakan sebagai

pengganti Sinar Harapan yang dibredel 1986. Harian Sinar Harapan dibatalkan SIUPP-nya pada 8 Oktober 1986, dan kemudian terbit kembali dengan nama Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987. Pergantian tersebut diikuti dengan pergantian PT Sinar Kasih sebagai penerbit Sinar Harapan diganti menjadi PT Media Interaksi Utama, sebagian besar terdiri dari wartawan Sinar Harapan ditampung, hanya pemimpin redaksi Aristides Katoppo dan pemimpin umumnya H.G. Rorimpandey digantikan Albert Hasibuan. Gerard H. Rorimpandey, tidak hanya sekedar nama. Putera Minahasa kelahiran Poso, 80 tahun lalu, tidak hanya menjadi pelajar di Bandung pada masa mudanya. Ia tidak hanya menjadi pejuang di masa perang revolusi kemerdekaan Indonesia, ketika bergabung dalam Laskar KRIS Bandung. Ia tidak hanya pernah berangkat TNI di akhir 1940'an. Tetapi lebih dari itu, membaktikan diri sebagai "Perintis Pers Industri." Namanya mulai mencuat ketika ditunjuk oleh kawan-kawan seperjuangannya, seperti ARSD "Bart" Ratulangie, Ds. Wim Rumambi, Alex Wenas dan lain-lainnya untuk mengelola harian Sinar Harapan, yang didirikan pada 27 April 1961, dan waktu itu berafiliasi pada partai Parkindo. Tetapi sejak pertengahan 1960'an media ini berhaluan independen. Sekalipun membawa misi Kristiani dengan dasar semboyan: "Memperjuangkan Kebenaran dan Keadilan Berdasarkan Kasih," media bervisi pluralistik ini mendapat tempat terhormat kalangan pembaca luas dari Sabang sampai Merauke. Media ini, karena begitu disegani mempertahankan nilai-nilai keadilan untuk kepentingan nasional dan

Gigih Sari Alam 2 rakyat banyak, hingga menjadi korban ketidak adilan di masa Orde Baru, hingga menjadi korban breidel sampai tiga kali. Sekalipun seangkatan dengan Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, ataupun B.M. Diah, Rorimpandey memang tidak setenar mereka yang lebih menonjol dengan karyakarya tulis mereka. Tetapi satu hal yang sangat menonjol dari Rorimpandey adalah sebagai pengelola wartawan. Karena "wartawan itu berproduksi. Untuk itu kita selalu harus memperhatikan dan memberi kecukupan untuk meningkatkan kwalitas produksi mereka." Dari pemikiran ini hingga Rorimpandey mendapat predikat, "Perintis Industri Pers." Hal ini di tandai ketika SH menjadi media nasional pertama yang memiliki 16 halaman dan dikelola secara profesional pada 1972. Tetapi jalan penuh liku dan cita-cita Rorimpandey sering diperhadapkan dengan berbagai badai pergumulan, hingga perjalanan Sinar Harapan terhenti di bulan Oktober 1986,1 dan berlanjut dengan nama baru, Suara Pembaruan di bulan Februari 1987. Ketika reformasi bergulir, akhirnya Sinar Harapan pun terbit kembali dengan tetap mempunyai format hampir sama dengan Suara Pembaruan, hanya terbitnya pagi hari.Dulu Suara Pembaruan dimunculkan karena Sinar Harapan dicabut SIUPP-nya. Sekarang tanpa ada ketentuan SIUPP, akhirnya Sinar Harapan diterbitkan kembali.2 Akhir Juni 2001, sekitar jam tiga siang di sebuah ruangan gedung berlantai empat di Tanah Abang Jakarta, terjadi kesibukan luar biasa.Maklum, sore itu, awal pemunculan Sinar Harapan edisi contoh. Pemilik ruangan di lantai tiga itu adalah Aristides Katoppo, pemimpin redaksi Sinar Harapan. Katoppo memanggil sejumlah redakturnya, termasuk tim artistiknya. Mereka
1

Christianto Wibisono, “From fighting press to money-controlled media today”, Jakarta Post, 13 Juli, 1997, hal 9 2 Ibid.,

Gigih Sari Alam 3 mengkritisi habis edisi simulasi tersebut. Di depan meja Katoppo, terdapat Sinar Harapan yang halaman-halamannya penuh coretan pena, pertanda masih banyak kesalahan. Ada kesalahan komposisi tinta, tata letak, atau pengetikan. Misalnya, nama pemimpin redaksi Aristides yang seharusnya ditulis serangkai, muncul jadi "Aris Tides."

Tanggal 2 Juli 2001 adalah pemunculan perdana Sinar Harapan baru. Sinar Harapan tampil dengan logo dan jenis huruf yang pernah dipakainya dulu. Itu sama dengan yang digunakan Suara Pembaruan selama empat belas tahun.

"Tak ada rebutan soal logo. Kebetulan saja terjadi. Bondan Winarno datang dan minta ganti logo, dan kemudian Sinar Harapan muncul dengan logo semula," tutur Sasongko Soedarjo, pemimpin umum Suara Pembaruan. Keluarga Soedarjo memiliki saham terbesar di PT Media Interaksi Utama perusahaan penerbit Suara Pembaruan.

Membicarakan Sinar Harapan memang tak lepas dari Suara Pembaruan. Bagaimana tidak? Suara Pembaruan adalah koran yang diciptakan sebagai pengganti Sinar Harapan yang dibredel 1986. PT Sinar Kasih, penerbit Sinar Harapan diganti menjadi PT Media Interaksi Utama. Namun semua awak Sinar Harapan ditampung di Suara Pembaruan, hanya pemimpin redaksi Aristides Katoppo dan pemimpin umumnya H.G. Rorimpandey digantikan Albert Hasibuan. Ketika menteri penerangan dipegang Muhammad Yunus, ia memberi angin untuk terbitnya kembali Sinar Harapan. Tapi menurut Katoppo, pemilik Suara Pembaruan tak

Gigih Sari Alam 4 suka dengan hal itu, dan berkat lobi-lobi mereka akhirnya surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) tak jadi dikeluarkan. "Dulu Suara Pembaruan dimunculkan karena Sinar Harapan dicabut SIUPP-nya. Sekarang tanpa ada ketentuan SIUPP, sudah seharusnya Sinar Harapan diterbitkan kembali," kata Aristides Katoppo. Kelompok pengusul ini semula menghendaki Sinar Harapan terbit dengan menggantikan Suara Pembaruan. Tapi pihak pemegang saham terbesar tak menghendaki perubahan. Muncul ide lagi jika Suara Pembaruan tak mau diganti, maka pihak perusahaan perlu menerbitkan kembali Sinar Harapan. Dasarnya, sebagian besar fasilitas yang dimiliki Suara Pembaruan sekarang merupakan hasil usaha Sinar Harapan sehingga pihak pengusul merasa layak Sinar Harapan terbit dengan fasilitas yang dulu pernah dimiliki. 3

3

http://www.pantau.or.id/txt/16/03.html, Sinar Harapan Baru, Tahun II Nomor 016 - Agustus 2001

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->