Anda di halaman 1dari 215

ILMU BUDAYA DASAR

DOSEN PEMBIMBING
Ni’matuz Zuhroh, M.Si

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2009

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
(HAKIKAT MANUSIA DAN KEBUDAYAAN)
Oleh:
M. Miftahul Huda ( 09650197 )
Y. Wardata Ardhy ( 09650210 )
Lutfi Husna Rahmawati ( 09650217 )
Febrilia Ayu Rosalina ( 09650222 )

ABSTRAK
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.
Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri.

Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma


sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi
ciri khas suatu masyarakat.

Budaya adalah hasil karya manusia yang selalu berkembang oleh karena
itu dalam makalah ini dibahas pengertian, wujud, bentuk dan transformasi
kebudayaan yang ada di Indonesia.

Kata Kunci : Manusia, Kebudayaan, Transformasi.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, rahmat, hidayah serta inayahnya penulis
dapat menyelesaikan Makalah ‖ Hakikat Manusia dan Kebudayaan‖.
Sholawat serta semoga akan selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW,
yang telah membawa kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang
benderang, dan yang kita nantikan syafa‘atnya di dunia dan akhirat.
Penulis sadar bahwa dirinya hanyalah manusia biasanya yang pastinya
mempunyai banyak kesalahan, tentunya dalam Makalah ini terdapat banyak
kesalahan. Untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan pengembangan berikutnya.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Teknik
Informatika khususnya dan untuk mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Selesainya Makalah ini tentunya tidak terlepas dari berbagai pihak. Dalam
lembar ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya
kepada :
1. Kedua orang tua penulis yang selalu mendukung penulis, yang selalu
mendoakan penulis dan selalu mendukung baik moril maupun materi.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam
Negeri Malang yang telah memberikan kesempatan penulis untuk
mengembangkan bakat dan minatnya.
3. Ibu Ni‘matuz Zuhroh, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
4. Semua pihak yang telah berkenan memberikan dukungan dan semangat
yang penulis tidak bisa sebutkan satu-persatu, semoga Allah SWT
melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Malang, 10 September 2009

Penulis

DAFTAR ISI
COVER ............................................................... Error! Bookmark not defined.

ABSTRAK .......................................................................................................... 2

KATA PENGANTAR ......................................................................................... 3

DAFTAR ISI ....................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 6

1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 6

1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 7

BAB II KONSEPSI TEORI ................................................................................. 8

2.1 Pengertian Kebudayaan .............................................................................. 8

2.2 Pengertian Manusia .................................................................................... 9

2.3 Wujud dan Bentuk Manusia dan Kebudayaa. ............................................ 12

2.3.1. Wujud ............................................................................................... 12

2.3.2. Komponen ........................................................................................ 13

2.4 Transformasi Kebudayaan ........................................................................ 14

2.4.1. Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya ...................................... 14

2.4.2. Faktor pendorong perubahan ............................................................. 16

2.4.3. Bentuk Perubahan Sosial Budaya ...................................................... 17


Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2.4.4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya ............................................. 17

2.5 Hubungan manusia dan Kebudayaan ........................................................ 19

BAB III STUDY KASUS .................................................................................. 21

3.1. Sistem kepercayaan ................................................................................. 21

3.2. Pernikahan ............................................................................................... 21

3.3. Sistem ilmu dan pengetahuan................................................................... 22

3.4. Penetrasi kebudayaan............................................................................... 22

3.4.1. Penetrasi damai (penetration pasifique) ............................................. 22

3.4.2. Penetrasi kekerasan (penetration violante) ......................................... 23

3.5. Kebudayaan sebagai peradaban ............................................................... 23

3.6. Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum" ........................................... 25

BAB V............................................................................................................... 26

PENUTUP ......................................................................................................... 26

5.1. Kesimpulan ............................................................................................. 26

5.2. Saran ....................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 27

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.


Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu
generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial,
religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik
yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang


kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan
Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu kami mengambil judul Hakikat Manusia dan Kebudayaan.
Dengan tujuan untuk mengetahui hakikat sebenarnya apaitu manusia dan
kebudayaan serta hubungan antara manusia dan kebudayaan.

1.2. Rumusan Masalah


Dalam makalah ini kami mempunyai masalah :
1. apa pengertian hakikat manusia dan kebudayaan ?
2. apa wujud dan bentuk manusia dan kebudayaan ?
3. bagaimana proses perubahan kebudayaan ( transformasi ) di masyarakat.?
4. apa hakikat hubungan manusia dan kebudayaan ?

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II KONSEPSI TEORI

2.1 Pengertian Kebudayaan


Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu
masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat
lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang


merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal.

Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut Culture yang berasal dari


kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dalam bahasa belanda,
Cultuur berarti sama dengan Culture. Yang dapat diartikan juga sebagai mengolah
tanah atau bertani.

Kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya


dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan
bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat.
Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang
diperlukan manusia untuk menguasa alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya
dapat diabdikan untuk kepntingan masyarakat.

Bertitik tilah dari sistem inilah maka kebudayaan paling sedikit memiliki 3
wujud antara lain :

1. wujud sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan
sejenisnya. Ini merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak 1,
lokasinya aa dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup

1
Sesuatu yang nyata dan dapat diraba panca indra
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2. kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari
manusia dalam masyarakat
3. kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia

Perubahan kebudayaan pada dasarnya tidak lain dari para perubahan


manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan itu.
Perubahan itu terjadi karena manusia mengadakan hubungan dengan manusia
lainnya, atau karena hubungan antara kelompok manusia dalam masyarakat. Tidak
ada kebudayaan yanga statis2, setiap perubahan kebudayaan mempunyai
dinamika, mengalami perubahan; perubahan itu akibat dari perubahan masyarakat
yang menjadi wadah kebudayaan tersebut.

2.2 Pengertian Manusia


Dipandang dari ilmu eksakta, manusia adalah kumpulan dari partikel-
partikel atom yang membentuk jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu
kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling
terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika). Manusia
merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan makhluk mamalia (
ilmu biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan makhluk yang ingin
memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering di
sebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk sosial
yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi). Manusia merupakan makhluk yang
selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik).

Sedangkan jika dilihat dari unsur-unsurnya ada beberapa pembagian, yaitu :

1. Manusia memiliki empat unsur yang saling terkait, yaitu:

a. Jasad; yaitu badan kasar manusia yang tampak pada luarnya, dapat di raba,

2
Diam, tidak mengalami perubahan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
difoto, serta menempati ruang dan waktu

b. Hayat; yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak

c. Ruh, yaitu Pimpinan dan bimbingan Tuhan, daya yang bekerja secara
spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang
bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.

d. Nafs; dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri
sendiri.

2. Manusia memiliki tiga unsur kepribadian, yaitu:

a. Id. Yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitiv dan paling
tidak tampak. Id merupakan libido murni atau energi psikis3 yang
menunjukan ciri alami yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara
instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan
dengan lingkungan luar diri, tetapi terikat dengan struktur lain kepribadian
yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia Luar.

b. Ego. Merupakan bagian atau struktur bagian yang pertama kali di bedakan
dari Id, sering kali di sebut sebagai kepribadian ‖eksekutif‖ karena
peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang
dapat dimengerti oleh orang lain.

c. Superego. Merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira2


pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang
secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan
eksternal. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam drajat tertentu
menghasilkan control diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang
terinternalisasi.

3
Pemikiran yang bersifat alamiah

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Dari uraian di atas dapat dikaji aspek tidakan manusia dengan analisa
hubungan antara tidakan dan unsur-unsur manusia. Seringkali misalnya orang
senang terhadap penyimpangan nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa
orang tersebut lebih di kendalikan oleh Id dibandingkan superegonya. Atau sering
kali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk
dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan
mengacu dengan unsur nafs (kesadaran diri) yang dimilikinya. Kesemuanya
tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia.

Sedangkan manusia itu sendiri mempunyai Cipta, Rasa, Karsa.Rasa yang


meliputi jiwa manusia mewujudkan segi norma dan nilai masyarakat yang perlu
untuk mengatur masalah-masalah kemasarakatan alam arti luas., didalamnya
termasuk, agama, ideology, kebatinan, kenesenian dan semua unusr yang
merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Yang hidup sebagai anggota
masyarakat. Selanjtunya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan piker
dari orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat
serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan rohaniah. Semua
karya, rasa dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang yang menentukan
kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar, bahkan seluruh
masyarakat.

Dari pengetian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu merupakan


keseluruhan ari pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang digunakan
untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, untuk
memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia
itu sendiri.Atas dadar itulah para ahli mengemukakan adanya unsure kebudayaan
yang umumnya diperinci menjadi 7 unsur yaitu :

1. unsur religi
2. sistem kemasyarakatan
3. sistem peralatan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
4. sistem mata pencaharian hidup
5. sistem bahasa
6. sistem pengetahuan
7. seni

2.3 Wujud dan Bentuk Manusia dan Kebudayaa.

2.3.1. Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,
aktivitas, dan artefak.

 Gagasan (Wujud ideal)


Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan
ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang
sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini
terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat.
Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk
tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan
buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

 Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan
sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang
saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati
dan didokumentasikan.

 Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas,
perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-
benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.
Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang


satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh:
wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas)
dan karya (artefak) manusia.

2.3.2. Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua
komponen utama:

 Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,
konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan
yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat,
perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup
barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

 Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan
dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu
atau tarian tradisional.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2.4 Transformasi Kebudayaan
Ada beberapa ahli yang berpendapat tentang transformasi atau perubahan budaya.

1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah


perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-
unsur 4.

2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah


perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama 5.

2.4.1. Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya

Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu
perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki
karakteristik sebagai berikut.

1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap


masyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.

2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti


perubahan pada lembaga sosial yang ada.

4
dalam buku Sociological Writings
5
dalam buku Sociology in Changing World
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan
kekacauan sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri
dengan perubahan yang terjadi.

4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja
karena keduanya saling berkaitan.

Suatu perilaku atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit untuk
diubah. Masyarakat lebih menyukai kehidupan mereka berjalan seperti biasa dan
berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang nyaman. Kondisi ini menjadi alasan
bahwa adanya hal-hal baru pada awalnya cenderung ditolak.

Sebagai contoh, orang tuamu mungkin menolak ketika kamu meminta sebuah
handphone baru. Bagi mereka, kamu belum cukup dewasa untuk menggunakan
alat komunikasi tersebut. Di sini kebanyakan orang lupa bahwa alat komunikasi
seperti handphone dibutuhkan semata-mata sebagai alat penghubung antar
manusia dalam berkomunikasi, dan tidak ada hubungan dengan kedewasaan
seseorang. Tentu seorang anak balita tidak mungkin menggunakan handphone,
karena belum mempu menguasai dan mengoperasikan alat tersebut.

Pada umumnya masyarakat sulit mengikuti perubahan yang akan merubah


kebiasaan, lembaga sosial, kepercayaan dan kebiasaan. Namun ini tidak berarti
bahwa semua perubahan selalu mendapat tantangan dari seluruh anggota
masyarakat.

Sikap masyarakat yang terbuka beraneka ragam kebudayaan, cenderung


menghasilkan warga masyarakat yang lebih mudah untuk menerima kebudayaan
asing atau baru. Sebaliknya, masyarakat yang tertutup lebih sulit membuka diri
dan mengadakan perubahan. Terbuka dan tertutupnya sebuah masyarakat tidak

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
harus melalui kontak sosial secara langsung. Akses terhadap media komunikasi
juga menjadi faktor penentu terbuka atau tertutupnya sebuah masyarakat.

Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun


perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang
mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat
sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

2.4.2. Faktor pendorong perubahan


Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan.
Menurut Soerjono Soekanto ada tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan
sosial, yaitu:

1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.


Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling
berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah
dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil
perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu
akan memperkaya kebudayaan yang ada.

2. Sistem pendidikan formal yang maju.


Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat
kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan
membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan
memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan
masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah
perubahan atau tidak.

3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.


Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak
karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa
termotivasi untuk mengembangkan diri.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2.4.3. Bentuk Perubahan Sosial Budaya

1. Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress)


Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi
dan membawa kemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan
karena kemajuan itu bisa memberikan keuntungan dan berbagai
kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakat tradisional,
dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat
maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai
kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan pembangunan yang
membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalam masyarakat merupakan
bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress).

2. Perubahan dalam arti progress misalnya listrik masuk desa, penemuan


alat-alat transportasi, dan penemuan alat-alat komunikasi. Masuknya
jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi;
penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan
manusia memperoleh hiburan dan informasi; penemuan alat-alat
transportasi memudahkan dan mempercepat mobilitas manusia proses
pengangkutan; dan penemuan alat-alat komunikasi modern seperti telepon
dan internet, memperlancar komunikasi jarak jauh.

3. Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress)


Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan
sesuai rencana. Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun
muncul dan bisa menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata
tidak menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itu dianggap
sebagai sebuah kemunduran.

2.4.4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Sebuah perubahan bisa terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab
dari luar (ekstern). Dalam sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa
terjadi karena sebab dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar
masyarakat.

1. Sebab Intern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:

a. Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah


penduduk.Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada
tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan
kerabat akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya
penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh
perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.

b. Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik


penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang
bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention).

c. Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.

d. Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut


terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober
1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan
mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada
doktrin6 Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang
mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.

6
Pemaksaan pemikiran atau idiologi

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2. Sebab Ekstern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:

a. Adanya pengaruh bencana alam.


Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi
meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami
tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan
keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan
besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola
kelembagaannya.

b. Adanya peperangan.
Peristiwa peperangan, baik perang saudara maupun perang antar negara
dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan
dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah.

c. Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.


Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan.
Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka
disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling
menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan
mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul
proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser
atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut.

2.5 Hubungan manusia dan Kebudayaan


Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat,
sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi
manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan
kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan
kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa
proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.

Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat


dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia
mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu, sebagai:

1) penganut kebudayaan,

2) pembawa kebudayaan,

3) manipulator kebudayaan,

4) pencipta kebudayaan.

Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada


persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive
maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga
manusia melakukan berbagai cara. Hal yang dilakukan oleh manusia inilah
kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan
masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu
sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III STUDY KASUS

3.1. Sistem kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia


dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat
terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi
dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu
bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup
bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan
kepada penguasa alam semesta.

Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan


kebudayaan. Agama7, adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam
sejarah umat manusia.

3.2. Pernikahan

Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual.


Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang
menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di
hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan
mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan

7
bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah
salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja.
Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam
menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya.

3.3. Sistem ilmu dan pengetahuan

Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui


manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki
oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-
percobaan yang bersifat empiris (trial and error).

Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:

 pengetahuan tentang alam


 pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
 pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah
laku sesama manusia
 pengetahuan tentang ruang dan waktu

3.4. Penetrasi kebudayaan

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu


kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan
dua cara:

3.4.1. Penetrasi damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya


pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam
kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak
mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi,
atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk
kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk
bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli
Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan
sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya
dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang
sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

3.4.2. Penetrasi kekerasan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak.


Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan
disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang
merusak keseimbangan dalam masyarakat.

3.5. Kebudayaan sebagai peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang


dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang
"budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan
kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan'
sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini,
kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu
kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan


aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk
menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-
aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik
klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik
tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman,
maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".

Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak


percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan
hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut
cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan
mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan";
bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak
berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali
mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk
menekan pemikiran "manusia alami" (human nature)

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan
antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -
berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan
dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak
alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal
ini, musik tradisional8 dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami"
(natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan
kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan


antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku.

8
yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit"
dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing masyarakat memiliki
kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan
beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur,
yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak
orang.

3.6. Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum"

Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka


yang peduli terhadap gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan
nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis
minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria - mengembangkan sebuah
gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini menganggap
suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-
masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu,
gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan
"tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif."

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata
kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka
mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari
evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang


sedikit berbeda dari kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian
oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan
perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat
bekerja.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
Kebudayaan adalah hasil karya manusia yang berasal dari Cipta, Rasa, dan Karsa
manusia itu sendiri.
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang
merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal.Budaya adalah hasil dari Cipta, Rasa, Karsa
manusia. Yang dimulai dari Karsa diteruskan dengan Rasa yang diwujudkan
dengan Cipta. Wujud dari kebudayaan adalah :Gagasan (Wujud ideal), Aktivitas
(tindakan) Artefak (karya)

Transformasi (perubahan sosial budaya adalah r perubahan suatu budaya


masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama dalam situasi tertentu dalam
masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsu

Hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia merupakan


kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya
tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi
tindakan demikian prosentasenya sangat kecil.

5.2. Saran
Karena berharganya Budaya kita yang sangat beraneka ragam ini. Marilah
kita jaga dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan kebudayaan yang kita miliki
direbut oleh bangsa lain.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR PUSTAKA

Daldjoeni N, M. Suprihadi Sastrosupono. 1984. IlmuBbudaya Dasar. Bandung:


Universitas Kristen Satya Wacana

Herimanto dan Winarno. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara
Koentjaraningrat, dkk. 2008. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia
Buku obor. Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia bekerjasama dengan
Yayasan Obor Indonesia
Liliweri Alo. 2003. Makna Budaya dalamKkomunikasi antar Budaya. Jakarta:
Pelangi Aksara
MustopoM. Habib. 1983. Ilmu budaya dasar, manusia dan budaya: kumpulan
essay. Malang: Usaha Nasional

Rahardjo, M. Dawam. 2002. Islam dan transformasi budaya. Jakarta: Dana


Bhakti Prima Yasa bekerjasama dengan the International Institute of Islamic
Thought Indonesia (IIIT) dan Lembaga Studi Agama & Filsafat
Widjaya A. W. 1986. Ilmu Sosial Dasar (pedoman pokok-pokok bahasan dan
satuan acara perkuliahan mata kuliah dasar umum). Jakarta: Akademika
Pressindo

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA

Disusun oleh :

Chakim Annubaha (09650193)

Abdullah (09650195)

Azizah Zahratul.F (09650201)

Yoan Kharisma Bunga (09650224)

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapakan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, atas segala


Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami kelompok II dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul ―BUDAYA MASYARAKAT JAWA‖.

Dalam masa penyusunan makalah, kami kelompok II telah banyak


mendapatkan bantuan, masukkan, doa, semangat dari berbagai pihak, sehingga
pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak,
khususnya kepada Ibu Ni‘matuz Zuhroh selaku dosen dan pembimbing mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar.

Akhirnya kami menyadarai bahwa masih banyak kekurangan dalam


penulisan makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah dan kemajuan kami dikemudian hari.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami maupun pembaca.

Malang,11 September 2009

Penulis
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR ISI

Halaman Judul i

Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1


1.2 Rumusan Masalah 1
BAB II KONSEPSI TEORI

2.1 Pengertian Kebudayaan 2


2.2 Wujud Kebudayaan 3
2.3 Unsur Kebudayaan 4
2.4 Komponen Kebudayaan 5
BAB III STUDI KASUS

3.1 Bentuk – Bentuk Budaya Masyarakat Jawa 6


3.1.1 Budaya Adat Istiadat Jawa 6
a. proses lamaran Jawa 6
b. pernikahan adat Jawa 6
c. kehamilan 10
3.1.2 Budaya Kepercayaan Jawa
a. kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung 10
b. kepercayaan masyarakat Jawa terhadap roh halus 11
3.1.3 Budaya Politik Jawa
BAB IV PENUTUP

4.1 Analisa 14
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
4.2 Kesimpulan 14

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebudayaan adalah hasil dari 3 komponen manusia yaitu cipta,
rasa dan karsa. Kebudayaan masyarakat Jawa sangat beragama dari mulai
antara pernikahan, lamaran, dll. Begitu pula dengan kebudayaan
masyarakat lainnya. Tetapi di sini kami kelompok II menyangkat judul
―Kebudyaan Masyarakat Jawa‖ yang bertujuan untuk menyangkat
kebudayaan Jawa dan mengenalkan apa saja kebudayaan masyarakat Jawa
tersebut. Dari contoh kebudayaan masyarakat Jawa tersebut kami akan
menjelaskan masalah – masalah kebudayaan yang tidak hanya masalah –
masalah kebudayaan masyarakatJawa tetapiini berlaku untk semua aspek
kebudayaan yang ada baik local, nasional, maupun internasional.

Masalah kebudayaan akibat dari proses pergaulan hidup manusia


sebagai pemilik kebudayaan di sini kami akan mengeluarkan sebaik
mungkin sehingga para pembaca bias memahami apa saja masalah –
masalah kebudayaan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang aan dibahas dalam makalah ini
dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa saja bentuk – bentuk budaya masyarakat Jawa.


2. Apa saja masalah – masalah kebudayaan masyarakat.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

KONSEPSI TEORI

2.1 PENGERTIAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu


buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal – hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata
Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai ―kultur‖ dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat yang


telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh sebagai berikut
:

a. Melville J. Herskovits dan Bronislaw mengemukakan bahwa segala


sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan
yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu
adalah Cultural-Determinism. Herkovits memandang kebudayaan
sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang
lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
b. Andreas Eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian nilai sosila, religius, dan lain-lain, tambahan
lagi segala pernyataan intelektual dan artistic yang menjadi cirri khas
suatu masyarakat.
c. Edward Burnet Taylor menyatakan bahwa kebudayaan merupakan
keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adapt istiadat, dan
kemampuan – kemampuan lain yang di dapat seseorang sebagai
anggota masyarakat.
d. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana
hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
e. Koentjoroningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan
gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar
beserta dari hasil budi pekertinya.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian
mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan dan meliputi system ide atau gagasan yang terdpat dalam
pkiran menusia, sehingga dalam kehidupan sehari – hari, kebudayaan itu
bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda – benda
yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda – benda yang bersifat nyata, misalnya pola – pola
perilaku, bahsa, peralatan hidup, organisasi social, religi, seni, dan lain –
lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2 WUJUD KEBUDAYAAN


Menurut J.J Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga : gagasan, aktivitas, dan artefak.

● Gagasan (Wujd ideal)

Wujud ideal kebudayaan yang berbantuk kumpulan ide – ide,


gagasan, nilai – nilai, norma – norma, peraturan dan sebagainya
yang bersifat abstrak: tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud
kebudayaan ini terletak dalam kepala – kepala atau di alam

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan
gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari
kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku – buku hasil
karya para penulis warga masyarakat tersebut.

● Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola


dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut
dengan system social. Sistem social ini terdiri dari aktivitas –
aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak,
serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola – pola tertentu
yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi
dalam kehidupan sehari – hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan.

● Artefak

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari


aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat
berupa benda – bend atau hal – hal yang dapat diraba, dilihat, dan
didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud
kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antar wujud


kebudayaan yang satu tidak bias dipisahkan dari wujud kebudayaan yang
lain. Sebagai contoh : wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi
arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2.3 UNSUR – UNSUR

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Ada bebrapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai
komponen atau unsure kebudayaan, antara lain sebagai berikut :

1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur


pokok, yaitu :
• alat – alat teknologi

• system ekonomi

• keluarga

• kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang


meliputi :
• system norma social yang memungkinkan kerja sama antara
para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan
alam sekelilingnya

• organisasi ekonomi

• alat – alat dan lembaga – lembaga atau petugas – petugas


untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan
utama)

• organisasi kekuatan (politik)

2.4 KOMPONEN
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan
atas dua komponen utama :

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
• Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat


yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini
adalah temuan – temuan yang dihasilakan dari suatu penggalian
arkeologi : mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang – barang seperti
televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung
pencakar langit, dan mesin cuci.

• Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan – ciptaan abstrak yang


diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya beru dongeng,
cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS

3.1.4 Upacara Tradisi Budaya Adat Istiadat Jawa


Upacara Tradisi ada beberapa rangkaian upacara yang harus
dilakukan, yaitu :

d. Proses Lamaran Jawa


Pada acara ini, kedua keluarga jika belumsaling mengenal dapat
lebih jauh mengenal satu sama lain, dan berbincang – bincang mengenai
hal – hal yang ringan. Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orangtua
pengantin laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan
untuk melamar puteri mereka. Orangtua dari kedua pengantin telah
menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan
mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Mereka yang memilih
perangkat dan bentuk pernikahan. Setiap model pernikahan itu berbeda
dandanan dan pakaian untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.
Kedua mempelai harus mengikuti segala rencana dan susunan pesta
pernikahan, seperti Peningsetan, Siraman, Midodareni, Panggih.

e. Pernikahan Adat Jawa

● Persiapan Perkawinan

Segala persiapan tentu harus dilakukan. Dalam pernikahan jawa


yang paling dominan mengatur jalannya upacara pernikahan adalah

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Pemaes yaitu dukun pengantin wanita yang menjadi pemimpin dari acara
pernikahan, Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan
pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan.
Karena upacara pernikahan adalah pertunjukan yang besar, maka selain
Pemaes yang memimpin acara pernikahan, dibentuk pula Panitia kecil
terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai.

● Pemasangan dekorasi

Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari


rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan).Yang
terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun
beringin yang memiliki arti agar Pasangan pengantin akan hidup baik dan
bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan
akan merawat keluarga mereka. Dekorasi yang lain yang disiapkan adalah
kembang mayang, yaitu suatu karangan bunga yang terdiri dari sebatang
pohon pisang dan daun pohon kelapa.

● Siraman

Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan


raga. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum
acara pernikahan. Siraman diadakan di rumah orangtua pengantin masing-
masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman.
Biasanya orang yang melakukan Siraman yaitu orangtua dan keluarga
dekat atau orang yang dituakan.

● Upacara Midodareni

Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam


sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat.
Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung,
dan semuanya harus wanita.

● Srah Srahan

Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Mereka akan menjadi


besan. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari
pengantin perempuan sambil membawa hadiah. Dalam kesempatan ini,
kedua keluarga beramah tamah.

● Upacara Ijab Kabul

Orang Jawa biasanya bicara lahir, menikah dan meninggal adalah


takdir Tuhan. Upacara Ijab merupakan syarat yang paling penting dalam
mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari
pasangan pengantin. Pada saat ijab orang tua pengantin perempuan
menikahkan anaknya kepada pengantin pria. Dan pengantin pria menerima
nikahnya pengantin wanita yang disertai dengan penyerahan mas kawin
bagi pengantin wanita. Pada saat ijab ini akan disaksikan oleh Penghulu
atau pejabat pemerintah yang akan mencatat pernikahan mereka.

● Upacara panggih

Pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin


laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan tanaman Tarub.
Pengantin laki-laki di antar oleh keluarganya, tiba di rumah dari orangtua
pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Pengantin wanita,
di antar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar
pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
● Upacara balangan suruh

Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka


mendekati satu sama lain, jaraknya sekitar tiga meter. Mereka mulai
melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan
benang putih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan
kebahagian, semua orang tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno,
daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk.
Dengan melempar daun betel satu sama lain, itu akan mencoba bahwa
mereka benar-benar orang yang sejati, bukan setan atau orang lain yang
menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan.

● Upacara wiji dadi

Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya.


Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan
menggunakan air dicampur dengan bermacam-macam bunga. Itu
mengartikan, bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah serta
suami yang bertangung jawab dan pengantin perempuan akan melayani
setia suaminya.

● Tukar cincin

Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta.

● Upacara dahar kembul

Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain.


Pertama, pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan
tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita. Setelah pengantin
wanita memakannya, dia melakukan sama untuk suaminya. Setelah

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mereka selesai, mereka minum teh manis. Upacara itu melukiskan bahwa
pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain.

● Upacara sungkeman

Kedua mempelai bersujut kepada kedua orangtua untuk mohon doa


restu dari orangtua mereka masing-masing. Pertama ke orangtua pengantin
wanita, kemudian ke orangtua pengantin laki-laki. Selama Sungkeman
sedang berlangsung, Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki.
Setelah Sungkeman, pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya.

● Pesta pernikahan

Setelah upacara pernikahan selesai, selanjutnya diakhiri dengan


pesta pernikahan. Menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan.
Mungkin ini bagian dari kebahagiaan ke dua mempelai dengan para tamu,
keluarga serta para undangan.

c. Masa Kehamilan

Pada masa kehamilan ini pada umumnya di masyarakat hanya


dilaksanakan upacara tradisi ngliman1 dan mitoni2. Sebetulnya ada tradisi
yang lain, yaitu manusia ada tanda – tanda kehamilan dengan ciri – ciri
sudah tidak menstruasi, suka makan yang asam – asam dan pedas, mentah
– mentah, dan lain – lain. Harus minum jamu atau nyup – nyup cabe
puyang, mandi keramas, potong kuku, sisig (menghitamkan gigi) yang
memiliki maksud selalu dalam keadaan suci. Karena pemahaman
masyarakat Jawa dalam kehamilan selalu menjaga janin di kandungnya
maka selalu berbuat kebaikan, tidak boleh mengejek orang, lebih – lebih
orang cacat, tidak boleh membunuh mahkluk hidup dan lain sebagainya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Agar bayi yang dikandung sehat jasmani dan rohani serta menjadi anak
yang bermanfaat bagi orang tua, agama, dan masyarakat.

3.1.2 Budaya Kepercayaan Jawa

a. Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung

Tulisan ilmiah dari Dylan Walsh berjudul ―Kepercayaan


Masyarakat Jawa terhadap Gunung‖tersebut mengungkap hal-hal yang
berkaitan dengan kepercayaan masyarakat disekitar gunung Merapi, Jawa
Tengah dan gunung Tengger, Jawa Timur.

Dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam meneropong


budaya masyarakat Jawa terutama disekitar kedua gunung tersebut. Tentu
saja ini adalah hasil teropongan dari seorang Dylan Walsh. Untuk lebih
memperkaya wacana baik juga mencari referensi dari sumber yang lain.
Atau kalau kita orang Jawa, minimal dapat memperoleh referensi dari
pengalaman hidup.
1
hamil 5 bulan
2
hamil 7 bulan

Salah satu tokoh yaitu Mbah Marijan dapat meramalkan secara


tepat tentang aktivitas gunung Merapi. Penggambaran bahwa dia memiliki
kemampuan untuk seolah-olah mengerti polah tingkah sang gunung
sehingga mempunyai keyakinan yang mantab, adalah sisi lain dari seorang
yang bernama Mbah Marijan.

Mungkin masih banyak mbah Marijan mbah Marijan lain di


masyarakat Jawa dalam memandang fenomena alam terutama berkaitan
dengan realitas kondisi alam disekitarnya. Dan masih banyak kita temui
ritual-ritual yang menggambarkan kepercayaan tersebut di masyarakat
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Jawa. Akankah kepercayaan yang masih berbau budaya Jawa lawas itu
akan tergerus oleh arus modernisasi dan materialisme yang semakin
melanda di bumi Jawa ? Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak
memerlukan jawaban ya atau tidak.

b. Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Roh Halus

Konsepsi dasar Jawa mengenai dunia gaib (dunia yang tak


nampak), didasarkan pada gagasan bahwa semua perwujudan dalam
kehidupan disebabkan oleh makhluk berfikir yang berkepribadian yang
mempunyai kehendak sendiri. Gagasan animis ini dapat dirumuskan
demikian: segala sesuatu dalam alam, di dunia hewan dan tumbuhan,
apakah besar atau kecil, mempunyai nyawanya sendiri. Kepercayaan
religius ini merupakan campuran khas penyembahan unsur-unsur
alamiah secara animis juga agama Hinduisme yang semuanya telah
ditambah dengan ajaran Islam. Di antaranya terdapat danyang desa
(roh pelindung desa). Orang Jawa menganggap bahwa setiap desa
mempunyai roh pelindung sendiri yang tinggal dalam sebatang pohon
yang rindang.

Upacara pokok dalam agama Jawa tradisional ialah slametan


(selamatan, kenduri). Tujuan utama slametan ialah mencari keadaan
slamet (selamat) dalam arti idak terganggu oleh kesulitan alamiah atau
ganjalan gaib. Dalam slametan orang Jawa bukan minta kesenangan
atau tambahan kekayaan, melainkan semata-mata agar jangan terjadi
apa-apa yang dapat membingungkan atau menyedihkan dia, yang
memiskinkan atau menjadikan dia sakit. Di samping slametan untuk
kesempatan khusus, setiap tahun penduduk desa mengadakan kenduri
bagi roh pelindung yang terkenal sebagai sedekah bumi. Ini dirayakan
di luar rumah, di bawah pohon atau di sawah di bawah tarub (tenda).

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
untuk kenduri upacara ini seekor kerbau disembelih dan kepalanya,
tulang, dan tubuhnya dipendam pada tempat itu juga.

Yang sama pentingnya ialah penghormatan kepada kuburan-


kuburan suci yang disebut keramat. Kata ini berasal dari kata bahasa
Arab karamah yang berarti mulia. Banyak kuburan ‗orang suci‘ di
Jawa yang dianggap keramat, seperti makam para wali untuk mendapat
berkah.
Satu benda lagi yang oleh orang abangan sangat dihormati ialah keris.
Senjata tersebut menduduki tempat terkemuka di antara tanda-tanda
kebesaran raja, maupun di antara pusaka yang turun-temurun.
Meskipun keris semula termasuk perlengkapan seorang prajurit,
namun sekarang hanya merupakan bagian upacara untuk pakaian
kebesaran. Keris khusus dipakai oleh banyak pegawai keraton.

f. Budaya Politik Jawa


Sikap – sikap masyarakat awa terkait dengan pelaksanaan politik di
Indonesia, antara lain :

1. Konsep “Halus”

Masyarakat Jawa cenderung mudah tersinggung. Ciri-ciri ini


berkaitan erat dengan konsep ―halus‖. Konsep ini telah ditanamkan
secama intensif dalam masyarakat Jawa sejak masa kanak-kanak
bertujuan membentuk pola ―tindak-tanduk yang wajar‖, yang
perwujudannya berupa pengekangan emosi dan pembatasan
antusiasme serta ambisi.

Sebagai manifestasi tingkah laku yang halus, kita mengnal 2


konsep yang bertautan, yaitu ―malu‖ dan ―segan‖. Yang pertama
berkonotasi dari perasaan discomfort sampai ke perasaan insulted atau
rendah diri karena berbuat salah. Yang kedua mirip dengan yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pertama tap tanpa perasaan bersalah. Ini merupakan perpaduan antara
malu dan rasa hormat kepada ―atasan‖ atau pihak lain.

Orang Jawa mempunyai kesultan untuk berlaku terus terang. Ini


terjadi karena ia ingin selalu menyeimbangkan penampilan lahiria
dengan suasana batiniahnya sedemikian rupa sehingga dianggap tidak
kasar dan tidak menganggap keterbukaan sebagai suatyang terpuji
kalau menyinggung pihak lain.

2. Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap

Sikap ini merupakan refleksi tingkah laku yang sopan dan halus
yang merupakan pencerminan kehalusan jiwa yang diwujudkan dengan
pengendalian diri dan pengekangan diri. Kewibawaan ini bias tercapai
dengan bersikap tenang di muka umum. Karena itu, ia akanselalu
merasa perlu membuat jarak dengan oranglain.

3. Konsep Kebersamaan

Dalam kebudayaan Jawa, kebersamaan in secara operasional tidak


sekedar diaktualisasikan dalam aspek-aspek yang materialistis, tapi
jugayang non-materialstis atau yang menyangkut dimensi moral.
Implikasi dimensi yang sangat luas ini ialah kaburnya hak dan
kewajiban serta tanggung jawab seseorang. Jika seseorang mempunyai
hak atas sesuatu, maka dalam rangka ini, orang lain akan cenderung
berusaha menikmati hak tersebut. Pihak yang secara intrinsik
mempnyai hak juga cenderung membiarkan orang lain menikmatinya.
Implikasi selanjutnya ialah adnya kecenderungan bahwa tatkala
diperingatkan agar bertanggung jawab, ia cenderung mengabaikan
peringatan tersebut sebab orang lain atau anggota masyarakat selain
dia dirasakannya tidak dimintai pertanggungjawaban, padahal mereka
telah ikut menikmati haknya tadi.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Dari kualitas cultural yang tergambar secara sungkat di atas, kita
dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya hubungan-hubungan social
meruppakan basis dan sumber hubungan politik. Dalam hubungan
social politik masyarakat Jawa bersifat sangat personal. Di samping
itu, terdapat suatu kecenderunagn yang amat kuat bahwa dalam
masyarakat terdapat watak ketergantungan yang kuat pada atasan serta
ketaatan yang berlebihan pada kekuasaan, sebab status yang dipandang
sebagai kewibawaan politik diunjung begitu tinggi.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

PENUTUP

4.1 ANALISA

Dari pembahasan yang sudah dibahas sebelumnya, kita bisa


mengetahui bahwa masyarakat Jawa memiliki berbagai macam masalah-
masalah kebudayaan terutama mengenai tradisi-tradisinya,misalnya
tentang upacara-upacara yang sering kali dilakukan ditiap-tiap acara yang
pada intinya untuk memohon keselamatan, rejeki,dll kepada sang Maha
Pencipta.

4.2 KESIMPULAN

Kebudayaan mengalami dinamika seiring dengan dinamika


pergaulan hidup manusia sebagai pemilik kebudayaan, inamika
Kebudayaan berupa :

1. Pewarisan kebudayaan
Proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian
kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan

Pewarisan dapat melalui:

- enkulturasi (pembudayaan) : Proses mempelajari dan


menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan system
norma.
- Sosialisasi (Proses pemasyarakatan)

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Individu menyesuaikan disri dengan individu lain dalam
masyarakat.

Masalah yang muncul :

- Sesuai/tidaknya budaya warisan dengan dinamika


masyarakat saat sekarang.
- Penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya
- Munculnya budaya baru yang tidak sesuai dengan budaya
warisan.
2. Perubahan kebudayaan.
Masalah :

- Perubahan bersifat regress


- Perubahan melalui revolusi
3. Penyebaran kebudayaan :
- Aspek atau unsure budaya selalu masuk tidak secara
keseluruhan, melainkan individual.
- Ekuatan menembus suatu budaya berbanding terbalik
dengan nlainya, makin tinggi aspek budaya, makin sulit
duetrima.
- Jika satu unsure budaya masuk, maka akan menarik unsure
budaya lain.
Masyarakat Jawa mengalami berbagai masalah-masalah
kebudayaan tetapi selayaknyalah bagi kita selaku masyarakat baik Jawa
maupun luar Jawa melestarikan kebudayaan baik local,
nasional,internasional dan pintar-pintar memilih mana kebudayaan yang
sesuai dengan norma-norma yang beraku khususnya norma agama Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
HAKIKAT MANUSIA DAN CINTA KASIH,

KEINDAHAN, KEGELISAHAN SERTA PENDERITAAN

Oleh:

Ardhy Widhiantoro (09650194)

Nur Zaidah (09650196)

Rismalil Ismi Afida (09650200)

Misbahul Mustofin (09650218)

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
dan karunia–Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah mengenai
Ilmu Budaya Dasar ini dengan lancar tanpa adanya hambatan yang
berarti.Sehingga kelompok III dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
HAKIKAT MANUSIA DAN CINTA KASIH, KEINDAHAN, KEGELISAHAN
SERTA PENDERITAAN dengan tepat waktu.

Makalah ilmu budaya dasar ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
dalam mengikuti kegiatan perkuliahan jurusan Teknik Informatika matakuliah
Ilmu Budaya Dasar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kami segenap anggota kelompok III mengakui dan menyadari bahwa makalah
Ilmu Budaya Dasar ini masih jauh dari sempurna, hal ini disebabkan oleh
terbatasnya waktu dan kemampuan, sehingga hasil yang bisa kami dapat pun
sangat minim. Tanpa adanya bantuan, dorongan dari berbagai pihak, maka
penyusunan makalah Ilmu Budaya Dasar ini akan membutuhkan waktu yang
lama.

Malang, 11 September 2009

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah 1
3. Tujuan 1
BAB II KONSEPSI TEORI 2

1. Manusia dan Cinta Kasih 2


2. Manusia dan Keindahan 3
3. Manusia dan Penderitaan 7
4. Manusia dan Kegelisahan 10
BAB III STUDI KASUS DAN ANALISIS 13

1. Hakekat cinta 13
2. Hakekat keindahan 13
3. Hakekat Kegelisahan dan penderitaan 14
BAB VI PENUTUP 15

DAFTAR PUSTAKA 16

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini kita mengetahui bahwa Ilmu Budaya Dasar sangat penting untuk
masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa ketika terjun di masyarakat agar
tidak meninggalkan budayanya sendiri, sehingga kita wajib untuk
mempelajarinya, hal ini tentunya menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi
mahasiswa, apalagi bagi mahasiswa yang sebelumnya memang belum begitu
mengerti budayanya sendiri atau bahkan tidak mengenal sama sekali.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan manusia dan cinta kasih?

2. Apakah yang dimaksud dengan manusia dan keindahan?

3. Apakah yang dimaksud dengan manusia, penderitaan dan kegelisahan?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari manusia dan cinta kasih

2. Untuk mengetahui pengertian dari manusia dan keindahan

3. Untuk mengetahui pengertian dari manusia, penderitaan dan kegelisahan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

KONSEPSI TEORI

2.1. Manusia dan Cinta Kasih

2.1.1. Pengertian Cinta Kasih

Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada).
Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih
artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. 9 Dengan
demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat
rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang)
kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan.

Cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. 10


Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama
dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan
dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaankebiasaan dan tingkah laku yang
menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan
panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar
memanggil nama atau sebutan sayang. Kemesraan

yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama
tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang.

Didalam kitab suci Al Quran ditemui adanya fenomena cinta yang


bersembunyi dalam jiwa manusia. Cinta memiliki 3 tingkatan yaitu tinggi,

9
kamus umum bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta
10
Dr. Sarlito.W.Sarwono

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
menengah dan rendah. Cinta tingkat tinggi adalah cinta kepada Allah, rasulullah
dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua,
anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat rendah adanya cinta yang
lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal.

2.1.2. Kasih Sayang

Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka
kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayaing merupakan
kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam
kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut
tanggungjawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling
terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah
satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unur tanggungjawab, maka retaklah
keutuhan rumah tangga itu.

2.1.3. Kemesraan

Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati
yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria dan wanita
yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan
pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam.

2.1.4. Pemujaan

Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya


yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.

2.1.5. Belas Kasihan

Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Cinta Agape ialah
cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua)
dan saudara. Dan ketiga cinta erros atau amor ini ialah cinta antara pria dan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
wanita. Beda antara cinta amor dan eros ini adalah citna eros cinta karena kodrati
sebagi laki-lakai dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang
sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau menikahi
seorang pemuda yang kerdil. Cinta terhdap sesama merupakan perpaduan cinta
agape dan cinta philia. Cinta sesame ini diberikan istilah belas kasihan untuk
membedakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan.
Dalam cinta kepada sesama ini diberi istilah belas kasihan, karena cinta disini
buka karena cakapnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya.

2.2. Manusia dan Keindahan

2.2.1 Keindahan

Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok,
molek dan sebagainya. Keidahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran
dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu
abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung
kebenaran berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak
terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode,
kedaerahan atau lokal.

2.2.2.Apakah keindahan Itu ?

Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu.


Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas.
Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud
atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika
dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan berkomunikasi.

Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu


kualita abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk pembedaan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
itu dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah ―beuty‖ (keindahan) dan ―the
beautiful‖ (benda atau hal indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini
kadang-kadang dicampuradukkan saja.

Disamping itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian; yakni

a. keindahan dalam arti luas

b. keindahan dalam arti estetis murni

c. keindahan dalam arti terbatas dalam pengertiannya dengan penglihatan

Keindahan alam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa


Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Plato misalnya menyebut
tentang watak yang indah dan hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan
keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis
tentang ilmu yang indah, kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara juga
tentang buah pikiran yang indah dan adapt kebiasaan yang indah. Tapi bangsa
Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ―symetria‖
untuk keindahan berdasarkan penglihatan dan harmonia untuk keindahan
berdasarkan pendengaran. Jadi pengertian keindahan seluas-luasnya meliputi :
keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan
intelektual.Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetis
dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
Sedang keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya
menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa
keindahan dari bentuk dan warna.

2.2.3. Nilai Estetik

Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie menjelaskan bahwa
pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai sepertihalnya nilai
moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dengan segaa sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai
estetik. Nilai adalah suatu realitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas
dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu
sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapa pada sesuatu benda sampai terbukti
ketakbenarannya. Tentang nilai ada yang membedakan antara nilai subyektif dan
nilai obyektif. Atau ada yang membedakan nilai

perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting adalah


nilai instrinsik dan nilai ekstrinsik. Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu
benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (
instrumental/contributory) yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai
sesuatu tujuan, atau demi kepentingan benda itu sendiri. Sebagai contoh :

Puisi. Bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi baris, sajak, irama, itu disebut
nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca
melalui (alat benda ) puisi itu disebut nilai instrinsik. Tarian damarwulan
Minakjonggo merupakan nilai ekstrinsik, sedang pesan yang ingin disampaikan
oleh tarian itu ialah kebaikan melawan

kejahatan merupakan nilai instrinsik.

2.2.4.Apa sebab manusia menciptakan keindahan ?

1. Tata nilai yang telah usang

2. Kemerosotan zaman

3. Penderitaan Manusia

4. Keagungan Tuhan

2.2.5. Renungan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan
sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam.Renungan adalah hasil
merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara
lain : teori

pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologis.

Teori Pengungkapan.

Dalil teori ini ialah bahwa ―arts is an expresition of human feeling‖ 11.
Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika
menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf
Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa ―Seni
adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan
intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn
hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images).

Dengan demikian pengungkapan itu berwujud pelbagai gambaran angan-


angan seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang
pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya
kegiatan jasmaniah keluar.

Pengalamam estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-
angan. Seorang tokoh lainnya adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan
seni aalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yagn seseorang telah
mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan
berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata
memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama.

Teori Metafisik

11
seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang
tertua, yakni berasal dari Plato yang karyakaryanya

untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni.
Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation
teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada
tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Paa taraf yang lebih rendah terdapat realita
duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu
seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita.

duniawi

Teori Psikologis

Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut
hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan
metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan
bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah
sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni itu merupakan bentuk
terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu.
Menurut Schiller, asal seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play
impulse) yang ada dalam diri seseorang.12 Seni merupakan semacam permainan
menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan
adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan
(signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan
manusia.

2.3 Manusia dan Penderitaan

2.3.1 Pengertian Penderitaan

12
Teori Permainan, Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 )

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa
sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung
atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa
penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas
manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada
yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas
penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum
tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah
awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan. Berbagai kasus penderitaan
terdapat dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan
liku-liku kehidupan manusia. Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam
hidupnya ? penderitaan fisik yagn dialami manusia tentulah diatasi dengan cara
medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitan psikis,
penyembuhannya terletak paa kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-
soal psikik yang dihadapinya.

2.3.2 Siksaan

Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasman, dan dapat juga
berupa siksaan jiwa atau rokhani. Akibat siksaan yang dialami seseorang,
timbullah penderitaan. Siksaan yagn sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan,
kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya
disebut phobia.banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara
lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, keakitan, kegagalan.
Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari
suatu problema psikologis yang dalam, yang

harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang.


Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia
adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan
dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan
ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.

2.3.3 Kekalutan Mental

Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental.


Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat
ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga
yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi
seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :

1. nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam,
nyeri pada lambung

2. nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis,
cemburu, mudah marah

Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :

1. gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bais


jasmana maupun rokhani

2. usaha mempertahankan diri dengan cara negative

3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan


mengalam gangguan

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :

1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang
sempurna

2. terjadinya konflik sosial budaya

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
3. cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan
terhadap kehidupan sosial

Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan
negative. Posotif trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebgai usaha agar
tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, ataupun melakukan
kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang
dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu
tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk fustasi antara
lain :

1. agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali
dan secara fisik berakibat mudah terjadi hypertensi atau tindakan sadis yang dapat
membahayakan orang sekitarnya

2. regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan

3. fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya
dengan membisu

4. proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan


sikap-sikap sendiri yang negatif kepada orang lain

5. Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam


imaginasinya

6. narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa
dirinya lebih superior dari paa orang

lain

7. autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau
berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat
menjurus ke sifat yang sinting.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Penderitaan kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti :

1. kota – kota besar

2. anak-anak muda usia

3. wanita

4. orang yang tidak beragama

5. orang yang terlalu mengejar materi

Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya


penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :

1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia

2. Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan

Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh


bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap
positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak
bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap
negatif ini dapat timbul sikap anti, mislanya anti kawain atau tidak mau kawin,
tidak punya gairah hidup, dan sebagainya. Sikap positif yaitu sikap optimis
mengatasi penderitaan, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan
perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya
bagian dari kehidupan. SIkap positif biasanya kreatif, tidak mudah zenyerah,
bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat anti kawin
paksa, ia berjuang menentang kawin paksa, dan lain-lain.

2.4 Manusia dan Kegelisahan

2.4.1 Pengertian Kegelisahan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya,
selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan
merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun
perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar
ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan

hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam
situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu
dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran
ataupun ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan
masalah frustasi, yang secara definisidapat disebutkan, bahwa seseorang
mengalami frustasi karena pa yang diinginkan tidak tercapai. Sigmund Freud ahli
psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa
manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik dan
kecemasan moril yang kurang sehat. Sikap seperti itu sering membuat orang
merasa kwatir, cemas, takut gelisah dan putus asa. Bila dikaji sebab-sebab orang
gelisah adalah karena hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu
adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari dalam maupun dari luar.
Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama dimulai dari diri kita sendiri, yaitu kita
harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga
segala kesulitan dapat kita atasi.

2.4.2. Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar
asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal, sehingga kata terasing berarti,
tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi kata
terasing berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pegaulan, terpencil
atau terpisah dari yang lain. Keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar
atau lama, orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan sudah tentu dengan
sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain. Yang menyebabkan orang berada
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidak pastian artinya
keadaan yang pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa
arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas itu semua adalah akibat
pikirannya tidak konsentrasi. Ketidak konsentrasian disebabkan oleh berbagai
sebab, yang jelas pikirannya kacau. Beberapa sebab orang tak dapat berpikir
dengan tidak pasti ialah :

1. obsesi

2. phobia

3. kompulasi

4. hysteria

5. delusi

6. halusinasi

7. keadaan emosi

Untuk dapat menyembuhkan keadaan itu bergantung pada mental si penderita.


Andaikata penyebabnya sudah diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh.
Bila hal itu terjadi, maka jalan yang paling baik bagi penderita diajak pergi sendiri
ke psikolog.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS DAN ANALISIS

Hakekat cinta

Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada).
Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih
artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan
demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat
rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang)
kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan.

cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang


dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia,
segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia.
Keintiman yaitu adanya kebiasaankebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan
bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan panggilan
formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama
atau sebutan sayang. Kemesraan

yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama
tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang.

Hakekat keindahan

Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena
tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang
berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati
jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
berkomunikasi.

Pengertian keindahan seluas-luasnya meliputi : keindahan seni, keindahan


alam, keindahan moral dan keindahan intelektual.Keindahan dalam arti estetik
murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan
segala sesuatu yang dicerapnya. Sedang keindahan dalam arti terbatas lebih
disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan
penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.

Hakekat Kegelisahan dan penderitaan

Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin.
Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan
bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga
menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap
penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain.
Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi
seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan
kebahagiaan. Berbagai kasus penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyaknya
macam kasus penderitaan sesuai dengan liku-liku kehidupan manusia. Bagaimana
manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya ? penderitaan fisik yagn
dialami manusia tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau
menyembuhkannya, sedangkan penderitan psikis, penyembuhannya terletak paa
kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikik yang dihadapinya.

kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram


hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya,
tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari
gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan
merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan.
Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi,
yang secara definisidapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena
pa yang diinginkan tidak tercapai.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki cinta kasih,
keindahan, penderitaan dan kegelisahan. Cinta kasih bisa berupa kasih sayang,
kemesraan, pemujaan dan belas kasihan. Selain cinta kasih, manusia menciptakan
keindahan. Penyebab menusia menciptakan keindahan adalah:

1. Tata nilai yang telah usang

2. Kemerosotan zaman

3. Penderitaan Manusia

4. Keagungan Tuhan

Di lain sisi manusia juga memiliki penderitaan dan kegelisahan.


Penderitaan bisa disebabkan oleh suatu siksaan dan kekalutan mental. Sedangkan
kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Tiga macam kecemasan
yang menimpa manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan
neorotik dan kecemasan moril. Kegelisahan bisa disebabkan oleh keterasingan,
kesepian dan ketidakpastian

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR PUSTAKA

http://massofa.wordpress.com

http:// fadlillah.wordpress.com

Soekanto, Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan ke-37. Jakarta


Raja Grafindo Persada.

Widahdho, Djoko, et.al. 1991. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sugiarno, Agustinus. 2007. Toward A Theology Of Beauty, Peziarahan Jiwa.


Yogyakarta: Kanisius Media.

Alfian, ed. 1985. Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan Kumpulan Karangan.


Jakarta: Gramedia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
MANUSIA DAN KEADILAN,MANUSIA AMANAH/TANGGUNG JAWAB

MANUSIA PANDANGAN HIDUP DAN HARAPAN

Kelompok IV

Rizky Aulia 09650223

Aunul Mubarok 09650213

Ahmad Faizal Rahman 09650220

Hadi Santoso 09650208

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Dua kekayaan manusia yang paling utama ialah ―Akal dan Budi‖ atau
lazimnya disebut pikiran dan perasaan. Disatu sisi akal dan budi atau pikiran dan
perasaan tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup
manusia yang lebih daripada tuntutan hidup makhluk lain.
Disisi lain akal dan budi memungkinkan munculnya karya-karya manusia
yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain.
Cipta, karsa, dan rasa pada manusia yakni sebagai buah akal budinya terus melaju
tanpa hentinya berusaha menciptakan benda-benda baru untuk memenuhi
kebutuhan / hajat hidupnya. Baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Dari
proses ini maka lahirlah apa yang disebut kebudayaan dan pandangan terhadap
hidup. Jadi pada hakikatnya, kebudayaan dan pandangan terhadap hidup ini tidak
lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia. Dalam pikiran
dan perasaan manusia, ada beberapa faktor penting yang harus menjadikan
manusia sebagai makhluk yang berakal, yakni :
1. Pandangan Hidup
Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk
membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat
bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan,
tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari
pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang
mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua
golongan.
Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan
tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya
sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas
wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah
pada hal-hal yang bersifat negative.
Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh
merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang
diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah
bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan
yang dihadapinya.
Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang
dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang,
bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan
berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh
beberapa factor, antara lain :
1. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.
2. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.
3. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan
hidupnya.
4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup
yang ada dalam pandangan hidupnya.
5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.
Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian,
pandangan hiup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup
merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau
aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab
kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang
mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan
Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat
elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya
bersifat positif.
Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya
digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup
dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat
dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir.
2. Cita-Cita
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Cita-cita,
kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia.
Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepas diri dari cita-cita, kebajikan
dan sikap hidup itu.
Orang tua selalu menimang-nimang anaknya sejak masih bayi agar menjadi
dokter, insinyur, dan sebagainya. Ini berarti bahwa sejak anaknya lahir, bahkan
sejak dalam kandungan, orang tua telah berangan-angan agar anaknya itu
mempunyai jabatan atau profesi yang biasanya tak tercapai oleh orang tuanya.
Selain dari itu, pada setiap kelahiran bayi, do‘a yang di ucapkan oleh family atau
handai taulan biasanya berbunyi : ― Semoga kelak menjadi orang yang berguna
bagi nusa, bangsa, agama, dan berbakti kepada orang tua.
Karena itu wajarlah apabila cita-cita, kebajikan, dan pandangan hidup
merupakan bagian hidup manusia. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa
berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita,
kebajikan, dan sikap hidup itu berbeda-beda bergantung kepada pendidikan,
pergaulan, dan lingkungan masing-masing.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam
hati. Cita-cita sering kali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
atau harapan. Cita-cita itu penting bagi manusia, karena adanya cita-cita
menandakan kedinamikan manusia.
Ada tiga kategori keadaan hati seseorang yakni lunak, keras,dan lemah,
seperti :
- Orang yang berhati keras, biasanya tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya
tercapai. Ia tidak menghiraukan rintangan, tantangan, dan segala esulitan yang
dihadapinya. Orang yang berhati keras biasanya juga mencapai hasil yang
gemilang dan sukses hidupnya.
- Orang berhati lunak biasanya dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan
diri dengan situasi dan kondisi. Namun ia tetap berusaha mencapai cita-cita itu.
Karena, biarpun lambat ia akan berhasil juga mencapai cita-citanya.
- Orang yang berhati lemah biasanya mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi.
Bila menghadapi kesulitan cepat-cepat ia berganti haluan dan berganti keinginan.
3. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral,
perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat
baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral. Atas
dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Untuk melihat apa itu
kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu :
4. Manusia sebagai pribadi, Yang menentukan baik-buruknya adalah suara
hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik
atau tidak. Jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati
sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau
mendengarkan.
8. Manusia sebagai anggota masyarakat, Yang menentukan baik-buruknya
adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu
suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia
tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatan.
 Manusia sebagai makhluk tuhan, manusia pun harus mendengarkan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan
mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan
buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau Kehendak Tuhan. Kehendak
Tuhan berbentuk Hukum Tuhan atau Hukum agama.
Jadi, kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita,
suara hati masyarakat, dan Hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan,
santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah-tamah terhadap siapapun,
berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.
Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan.
Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik
yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.
4. Sikap Hidup
Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita
mempunyai sikap yang positif atau yang negatif. Apakah kita mempunyai sikap
optimis atau pesimis? Atau apakah kita mempunyai sikap yang apatis?.
Sikap itu ada didalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu.orang lain hanya baru
tahu setelah kita bertindak. Sikap itu penting, setiap manusia mempunyai sikap
dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai
kemauan yang membentuknya.
Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan. Dalam
menghadapi kehidupan, manusia selalu menghadapi manusia lain atau
menghadapi sekelompok manusia. Ada beberapa sikap etis dan non etis. Sikap etis
disebut juga sikap positif, dan sikap non etis disebut juga sikap negatif.
Ada tujuh sikap etis, yaitu :
- sikap lincah - sikap arif
- sikap rendah hati - sikap berani
- sikap tenang - sikap halus
- dan sikap bangga
Sikap non etis atau sikap negatif, yaitu :
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
- sikap kaku - sikap takut
- sikap gugup - sikap kasar
- sikap angkuh - sikap dan sikap rendah diri
Sikap-sikap ini harus dijauhkan dari diri pribadi-pribadi., karena sangat merugikan
baik bagi pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa.
Dengan memiliki pandangan hidup (konsepsi tentang kehidupannya) maka
manusia merasa mempunyai peta dan rencana untuk mengarahkan kehidupannya
agar lebih berarti. Hal itu tergantung dari pandangan ekonomi yang dimilikinya
apakah menganut Kapitalisme ataukah Sosialisme yang nantinya memunculkan
juga manusia yang cenderung ingin mempunyai kekuasaan, bermasyarakat,
berpengetahuan dan memiliki rasa berkesenian dan beragama.
Pandangan hidup akan berhubungan dengan cita-cita seseorang dimana
cita-cita harus diiringi juga dengan kualitas, kemampuan dan tinggi-rendahnya
cita-cita dari manusia tersebut.
Untuk menggapai cita-cita harus diiringi juga dengan kebajikan maupun
etika dimana hal tersebut tergantung dari bentuk masyarakatnya, apakah
tradisional (Gemeinschaft, dimana kebajikan dan etika berbentuk adat istiadat
dan norma-norma) ataukah modern (Gesellschaft, kebajikan dan etika termasuk
dalam kehidupan bersosial, jurnalistik dan politik).
1.2 RUMUSAN MASALAH

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

KONSEP TEORI

2.1 MANUSIA DAN KEADILAN

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia.


Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau
benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah
ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang
sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang
tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.

Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang


dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya
dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan.
Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah
merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa
diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok
yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa
keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja
sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini
terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah
pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan
terletak pada keharmonisan menuntuk hak dan menjalankan kewajiban. Atau
dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan
bersama.

Berbagai Macam Keadilan

1. Keadilan legal atau keadilan moral


Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani
umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam
masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat
dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato
itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan
legal

2. Keadilan distributive
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal
yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama
diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).

3. Keadilan komutatifKeadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban


masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan
ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua
tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan
merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat
Kejujuran

Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai


dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada.
Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga
berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh
agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa
apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang
masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.

Kecurangan

Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan
sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Curang atau kecurangan
artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hari nuraninya atau, orang itu
memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh
keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Kecurangan menyebabkan orang
menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan
tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang
bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Bermacam-macam sebab orang
melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya,
ada 4 aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban dan aspek
teknik. Apabila keempat asepk tersebut dilaksanakan secara wajar, maka
segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum.
Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri,
dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut
dan jadilah kecurangan.

Pemulihan nama baik

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama
yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik.
Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu
kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat
hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama
baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud
dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul,
sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatn-perbuatan yang

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah
kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak
sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk
memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta
maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah,
berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama
hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa
terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur
selalu dipupuk.

Pembalasan

Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat
berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang
serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya
pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat.
Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak
bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial.
Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral
itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya.
Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau
memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia tidak
menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia
berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan
kewajiban itu adalah pembalasan.

2.2 MANUSIA DAN AMANAH/TANGGUNG JAWAB

Tanggungjawb adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.


Sehingga bertanggungjawab adalah kewajiban menanggung, memikul jawab,
menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawaban dan menanggung

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
akibatnya. Tanggungjawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab juga
juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Seseorang
mau bertanggungjawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas
segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya
tanggungjawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam
lingkungan alam. Tanggungjawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi
bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan
tanggungjawab. Apabila ia tidak mau bertanggungjawab, maka akan ada pihal lain
yang memaksa tanggungjawab itu. Dengan demikian tanggungjawab itu dapat
dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan
pihak lain. Dari sisi pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan
demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Daari
sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggungjawab, pihak lain yang
akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara masyarakat.

Apabila dikaji, tanggungjawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus
dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau
sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian pada pihak lain.
Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri
atau pihak lain dengan keseimbangan, keserasian keselarasan antara sesama
manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu
dipelihara dengan baik. Tanggungjawab itu cirri manusia beradab (berbudaya).
Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk
perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian
atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaan
bertanggungjawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan,
keteladanan, dan takwa terhadap Tuhan.

Macam-macam Tanggungjawab :

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
4. Tanggungjawab terhadap diri sendiri
5. Tanggungjawab terhadap Keluarga
6. Tanggungjawab terhadap masyarakat
7. Tanggungjawab terhadap bangsa / negara
8. Tanggungjawab terhadap Tuhan

2.3 MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP DAN HARAPAN

Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawaciri tersendiri akan
diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki
keunggulan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Satu diantar keunggulan
manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari bahwa
dirinya lemah, dipihak lain menusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan
diluar dirinya. Dengan kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari
ancaman-ancaman yang selalu mengintai dirinya, baik yang fisik maupun non
fisik. Seperti penyakit, bencana alam, kegelisahan, ketakutan, dan sebagainya.
Selain itu manusia sadar pula bahwa kehidupannya itu lain bila
dibandingkan dengan kehidupan makhluk lain. Sadar pula bahwa dibalik
kehidupan ini ada kehidupan lain yang diyakini lebih abadi. Lebih yakin lagi
bahwa kehidupan lain itu bahkan merupakan kehidupan yang sesungguhnya.
Disana setiap manusia akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan
selama hidup didunia. Manusia tahu benar bahwa baik dan buruk itu akan
memperoleh perhitungan, maka manusia akan selalu mencari sesuatu yang dapat
menuntunnya kearah kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan.
Akhirnya manusia menemukan apa yang disebut ― sesuatu dan kekuatan
diluar dirinya “. Ternyata keduanya adalah ― Agama dan Tuhan ―. Dengan
demikian bahwa pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia.
Sayangnya tidak semua manusia yang memahaminya, sehingga banyak orang

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
yang memeluk suatu agama semata-mata atas dasar keturunan. Akibatnya banyak
orang yang beragama hanya pada lahirnya saja dan tidak sampai batinnya. Atau
yang sering dikenal dengan agama KTP. Padahal urusan agama adalah urusan
akal, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam satu hadistnya :
Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal.‖
Maksud Nabi Muhammad SAW tersebut ialah agar manusia dalam memilih suatu
agama benar-benar berdasarkan pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata
karena asas keturunan. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah SWT dalam surat Al-
Baqarah ayat-236 yang artinya :
― Tidak ada paksaan untuk memasuki sesuatu agama, sesungguhnya telah jelas
antara jalan (agama) yang benar dan jalan (agama) yang salah.‖
Ternyata, pandangan hidup sangat penting. Baik untuk kehidupan sekarang
maupun kehidupan di akhirat. Dan sudah sepantasnya setiap manusia
memilikinya. Maka pilihan pandangan hidup harus betul-betul berdasarkan pilihan
akal bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Perlu kita sadari bahwa baik Tuhan maupun agama bagi kita adalah suatu
kebutuhan. Bukan kebutuhan sesaat seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya.
Melainkan kebutuhan yang terus menerus dan abadi. Sebab setiap saat kita
memerlukan perlindungan Allah SWT dan petunjuk agama sampai diakhir nanti.
Konsep keadilan versi said an-Nursi dan relevansinya dengan kehidupan
modern
Prolog
Apabila kita merujuk pada perkembangan pertama dimana ide keadilan ini
disajikan dia tas 'meja makan' kajian filsafat dan renungan akal, maka kita akan
menemukan bahwa bingaki umum yang menyatukan beberapa aliran dan pendapat
filosof Grik adalah banhwasanya keadilan itu menpunyai dua sisi yang saling
terikat tidak bisa dipisahkan. Sisi pertama adalah sisi moral, sisi ini memandang
bahwasanya keadilan merupakan salah satu perhiasan jiwa manusia. Sisi kedua
adalah sisi hukum, sisi ini timbul dari adaya individu sebagai anggota dari sebuah
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
masyarakat yang setiap individunya terikat seoleh hubungan, pertalian dan pola
interaksi yang bervariasi13. Jadi si damping sebagai salah satu keutamaan moral,
keadilan juga merpaukan sebuah tuntutan hukum (perundang-undangan) yang
harus dipenuhi oleh setiap masyarakat. Karena keadilan merupakan jaminan yang
paling meyakinkan untuk kelangsungan hidup dalam sebuah masyarakat, yang
mana di atas pondasi keadilan tersebut hubungan dan interaksi antar indivisu dan
golongan itu dibangun.14
Di dalam agama Islam, keadilan merupakan intisari dan tujuan pokok dari syariah
dan ia merupakan sebuah keharusan yang pasti, oleh karena itu, sifat adil dituntut
adanya di dalam jiwa, keluarga, dan mayarakat, baik bersama kawan maupun
lawan. Karena sifat adil tersebut merupakan pondasi dasar dari keadilan. 15 Jadi
sifat adil itu merupakan salah satu nilai teladan dalam kehidupan dan ia
merupakan sebuah ketetapan yang dituntut akal dalam stiap perilaku, tindakan dan
interaksi. Oleh karena itu agama menganjurkan untuk mengikutinya dan
menganggapnya sebagai sebuah tujuan. 16 Tanpa keadilan masyarakat akan
berubah menjadi hampa dan goyah serta dipenuhi penganiayaan dan
penyimpangan. 17
Melihat urgensitas keadilan tersebut dalam kehidupan pribadi, keluarga,
masyarakat maupun Negara, maka di dalam makalah ini penulis ingin mencoba
untuk mengkaji konsep keadilan dan penerapannya perspektif pemikir Islam
Turkey, Said an-Nursî, kemudian mengkomparasikannya dengan pendapat para
pilosof barat maupun Muslim dan mengujinya apakah konsep keadilan perspektif

13
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, Falsafat al-'Adâlah 'Inda al-Ighrîq Wa Atsaruha 'Inda Fuqahâ`i
ar-Rûmân Wa Falâsifati al-Islâm, Maktabah al-Jalâ` al-Jadîdah, Manshoura, 1989, hal. 11.

14
Ibid., hal. 42.

15
Abdu as-Salâm at-Tuwayjî, Muassasat al-'Adâlah fi as-Syarî'ah al-Islâmiyyah, Kulliayat ad-Da'wah al-
Islâmiyyah, Tharablis, cet. I, 1993, hal. 25.

16
Ibid., hal. 21.

17
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, op. cit., hal. 42.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
beliau ini relevan bagi kehidupan di era modern ini. Makalah ini juga akan
menganalilsa metodologi yang beliau terapkan dalam menafsirkan ayat-ayat
tentang keadilan serta sedikit mengupas situasi social, politik dan ekonomi di era
beliau yang melatar belakangi penafsiran beliau akan ayat-ayat tersebut.
Latar belakang social politik ekonomi budaya yang mendasari penafsiran
an-nursi
Metode an-nursi dalam menafsirkan ayat-ayat keadilan
Keadilan dalam konsep filosof barat dan perspektif an-Nursi
Di dunia filsafat, di Eropa khususnya, Plato dianggap sebagai orang pertama yang
mengkonsep tentang keadilan secara apik dan menyeluruh di dalam bukunya
"Jumhuriyyah" dimana dia tidak hanya membicarakan masalah keadilan dari sisi
moral (individu) saja akan tetapi ia telah melangkah pada pembahasan keadilan
dalam lingkup yang lebih luas yaitu bernegara atau sebagaimana yang ia
istilahkan dengan 'pandangan keadilan dengan huruf besar' 18. Walaupun sebelum
Plato sudah banyak para filosof yang membahas tentang keadilan seperti Socrates,
Phytagoras, Glokon, Olymarchus, akan tetapi pembahasan mereka tidak seapik
yang disodorkan oleh Plato.
Timbulnya teori keadilan versi Plato ini bertolak dari pandangannya
terhadap kerusakan pemikiran, plolitik, moral dan sosial pada masa itu 19 dan juga
bertolak dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari Socrates tentang esensi
keadilan. 20 Jadi filsafat keadilan Plato bukanlah filsafat teori dan ilusi belaka, akan
tetapi filsafat tersebut lahir dari kerusakan dan kesewenamg-wenangan yang ia
saksikan di dunia nyata. Di sana ada dua aliran politik yang selalu bersinggungan,
yaitu ariktokrasi21 dan demokrasi yang kedua-duanya tidak ada yang ia percaya 22.

18
Jamâl al-Bannâ, Nazhariyyat al-'Adl fi al-Fikr al-Ûrubî wa al-Fikr al-Islâmî, Dâr al-Fikr al-Islâmî,
Cairo, 1995, hal. 12.

19
Dr. Ridhâ Sa'âdah, al-Falsafah wa Musykilât al-Insân, Dâr al-Fikr al-Lubnânî, Beirut, cet. I, 1990,
hal. 102.

20
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, op. cit., hal. 64 dan Dr. Ridhâ Sa'âdah, op. cit., hal. 105.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Plato menolak untuk mengambil keadilan natural yang menunjukkan pada
kecenderungan manusia kepada kekuatan (baca: potensi) dan keunggulan
(prestsi), karena prestasi dan potensi tersebut akan dimenangkan oleh para penipu
dan ahli makar, walaupun standartnya adalah kecerdasan, sebab kecerdasan itu
hanya mendorong manusia untuk memimpin orang lain dan menjauhkannya.
Begitu juga ia menolak sistem keadilan yang dibangun atas dasar kemaslahatan
23
yang kuat dan menghalangi yang lemah untuk mendapatkan haknya . Akan
tetapi keadilan hakiki menurutnya adalah fenomena kemanusiaan yang alami yang
muncul dari lubuk esensitas manusia tersebut sebagai media urgen untuk
merealisasikan esensitas manusia baik secara individu maupun social 24.
Plato membatasi perkembangan keadilan itu berdasarkan perkembangan
masyarakat. Di zaman Purba (kuno) ketaka jumlah manusia masih sedikit dan
kehidupannya masih sangat sederhana, mereka hidup secara berkelompok karena
setiap individu tidak akan mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya, oelh
karena itu mereka bekerja sama hidup secara gotong royong dalam keadaan
tenang dan tenteram tanpa ada persengketaan. Akan tetapi seiring pesatnya
petumbuhan jumlah masyarakat, muncullah tuntutan-tuntutan baru dan ketika
pendapatan suatu masyarakat tidak mampu memenuhi tuntutan hidupnya, mereka
mulai berani untuk menindas masyarakat lain. lalu masyarakat yang teraniaya
merasa butuh untuk membela dirinya dan meraka menunjuk beberapa anggotanya
untuk melindunginya, dari situ timbullah dua tingkatan (strata) sosial dalam
mayarakat tersebut; strata pengrajin/produsen, petani dan nelayan dan strata
pelindung (tentara). Ketika kepentingan dua strata ini berbenturan, maka secara
pasti mereka butuh orang yang mampu menyelesaikan persengketaan mereka dan
mampu menyatukan visi, dari sinilah timbul strata masyarakat ketiga yaitu hakim

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
(para filosof).25 Oleh karena itu, meurut Plato perlu adanya pembagian bidang
kerja untuk memenuhi segala kebutuhan primer masyarakat tersebut 26.
Keadilan social perspektif Plato ialah spesialisasi bidang kerja setiap
individu sesuai dengan keahliannya yang alami27. Yakni setiap kelompok
masyarakat harus menunaikan tugasnya sesuai dengan spesialisasinya, dia hanya
berhak untuk melakukan satu jenis pekerjaan saja, ia tidak boleh melakukan
intervensi terhadap keahlian strata yang lain 28. Jadi, Keadilan ini terpusat pada
tiga asas; persamaan, perserikatan (isytirâkî/ sosiali-komun) dan kelayakan, tiga
asas ini tidak dapat dipisah satu sama lainnya.
Persamaan, pesamaan menurut Plato bentuknya seperti bentuk persamaan
pada masyarakat demokrasi modern. Persamaan ini mengabaikan perbedaan
strata, jenis, keturunan dan memberikan setiap penduduk kecakapan untuk
mengembangkan skill dan profesionalitas mereka serta memberikan hak untuk
bisa mencapai status social, budaya dan politk yang mereka pantas
mendapatkannya. Jadi, fungsi dari pembagian masyarakat pada tiga kelompok
tersebut hanyalah untuk membedakan keahlian mereka.
Perserikatan, perseriaktan merupakan syarat yang paling urgen untuk
merealisasikan keadilan dan persamaan. Perserrikatan ini tidak mutlak akan tetapi
bersifat relative sesuai dengan tingkatan- tingkatan tadi. Plato tidak mengharuskan
pada para pengrajin (produsen, petani) untuk melakukan perserikatan secara
penuh, karena kepemilikan mereka tidak membuat perbedaan yang terlalu
mencolok dalam hal kekayaan. Sedangkan para tentara dan hakim itu diharuskan
untuk melakukan perrserikatan secara penuh29. Adapun cara untuk mencapai

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
perserikatan ini yaitu dengan pembagian tanah, pembebasan hutang dan
menciptakan persamaan.30
Kelayakan, selayaknya yang dicalonkan untuk menjadi hakim ialah orang
yang pantas (Capable) untuk itu. Yang layak untuk jabatan itu —menurut
Plato— hanyalah para filosof, karena pada diri mereka terdapat dua potensi:
potensi filsafat dan politik31.
Komentar, jika kita perhatikan konsep keadilan perspektif Plato ini, maka
kita akan mendapati bahwa keonsep ini tidak menyentuh esensi keadilan secara
umum sebagaimana yang difahami oleh masyarakat, konsep ini tidak mencakup
problem perbenturan antar keinginan dan juga tidak meletakkan benag pemisah
atau standar jelas yang bisa dijadxikan pegangan untuk menetapkan hak dan
kewajiban secara hokum dan melindungi setipa hak dan kewajiban tersebut dalam
naungan hokum. Dengan tidak adanya ide ini, maka kita bisa mengatakan bahwa
keadilan yang dibicarakan oleh Plato ini secara hakikatnya adalah sebuah
ungkapan tentang keutamaan social (fadhîlah ijtimâiyyah). Juga definisi keadilan
Vesi Plato ini bertentangan dengan mayoritas definisi keadilan di era klasik
maupun modern. Karena definisi keadilan itu sangat berhubungan erat dengan
persamaan, sedangkan Keadilan Plato ini mengacu pada ketidaksamaan denggan
memunculkan perbedaan strata social sesuai dengan keahlian masing-masing.
Sebagaimana pembagian tingkatan masyarakat menjadi tiga kelompok dan
masing-kelompok tidak boleh melampaui keahliannya itu patut kita ragukan sebab
pembagian ini sangatlah rancu. Sebab unsur syahwat, marah dan rasio itu sudah
menjadi firah setiap manusia dan sangatlah tidak mungkin untuk membatasi
manusia yang terdiri dari tiga unsure tersebut untuk hanya memanfaatkan satu
unsure saja32. Juga konsep perserikatan yang menurut plato bisa diraih dengan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pembagian tanah, pembebasan hutang dan penyamaan kekayaan itu bisa
dipastikan gagal jika si pemilik harta dan hutang tersebut menolak untuk
menyerahkan hartanya dan menolak untuk membebaskan hutang, apakh plato
akan melegalkan pengambilan harta secara paksa denga cara revolusi? 33
Keadilan menurut an-Nursi merupakan salah satu dari empat tujuan diturunkannya
al-Quran selain tauhid, kenabian dan hasyr (hari kebangkitan) 34. An-Nursi
mendefinisikan keadilan sebagai bentuk penampakan dari nama agung Allah ,
beliau berkata: ―keadilan umum yang berlaku di semesta yang bersumber dari
penampakan (tajallî) dari nama Allah al-„Adl adalah mengatur stabilitas setiap
benda secara umum dan menyuruh manusian untuk menegakkan keadilan‖ 35. Jadi
menurut beliau keadilan merupakan aturan (system tatanan, nizhâm) alam
semesta36. Dan oleh karena hakikat islam —mengatur selurh tabiat manusia
hingga hari kiamat dan merupakan reflektivitas dari kemanusiaan yang agung—
adalah penjelmaan dari keadilan azali di dunia ini 37, maka ia juga merupakan asas
kemajuan hakiki dan keadilan sejati.38 Dan fungsi dari Rasâil an-Nûr adalah
mengupas tuntas hakikat keadilan ini39. Jika demikian halnya, maka keadilan itu
merupakan harga mati (standart absolut), tidak akan berubah mengikuti perubahan
waktu dan tempat, dan tidak terpolusi oleh watak, kemaslatan dan kepentingan,
keadilan itu merupakan puncak dari tujuan syariat dan al-quran, dari sini keadilan
itu langgeng selanggeng al-quran. Dalam pandangan Islam keadilan itu muncul

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dari kebenaran, dan salah satu bentuk kebenaran itu adalah keadilan dan
keseimbangan, dari sini tercipta kedamaian dan terbebas dari kesengsaraan. 40
Dan bentuk keadilan yang paling nyata —menurut an-Nursî— adalah persamaan,
sebab keadilan yang tidak mengandung persamaan secara hakikatnya bukanlah
keadilan41. Inti dari keadilan persepektif an-Nursi adalah mengikuti petunjuk dan
aturan al-Quran.
An-Nursi memabgi keadilan menjadi dua bagian; keadilan ‗positif‘ dan ‗negatif‘.
Keadilan ppositif adalah memberikan hak kepada yang yang berhak, bagian ini
meliputi mncakup setiap sesuatu di dunia ini secara pasti. Keadilan jenis kedua,
negative, adalah mendidik orang yang tidak benar dengan cara memberikan
pahala dan siksaan-hukuman42. An-Nursi juga menjadikan keadilan menjadi dua
jenis; keadilan pokok (primer) dan keadilan relative (sekunder). Keadilan primer
adalah peraturan agung yang memandang individu, kelompok, person dan jenis
sekaligus. Mereka sama dalam pandangan keadilan tuhan sebagaimana mereka
sama dalam pandangan kekuasaan tuhan dan inilah sunnah (aturan) yang kekal.
Hanya saja seseorang —dengan keinginannya— itu berhak untuk mengorbankan
dirinya, namun ia tidak boleh dipaksa untuk dikorbankan walaupun itu untuk
seluruh manusia, karena menghabisi nyawanya dan merusak ishmah-nya serta
menumpahkan darahnya sama saja dengan merusak ishmah dan menumpahkan
darah mereka semua43. Dan an-Nursi menjelaskan bahwa keadilan primer ini
menuntut pemeliharaan hak seluruh rakyat 44. Adapun keadilan sekunder itu adalah
bagian masyarakat dikorbankan untuk keselamatan seluruh masyarakat, keadilan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
ini tidak lah merampas hak indiviu untuk sebuah kelompok, akan tetapi ini
hanyalah sebuah usaha untuk melaksanakn keadilan sekunder dari sisi bahya yang
lebih ringan. Akan tetapi selama keadilan primer itu masih relevan untuk
dilaksanakan maka tidak boleh lari pada keadilan sekunder, sebab ini merupakan
sebuah kezhaliman45. Karena didalamnya terdapat ketidaksamaan antara hak
individu dangan hak kelompok sedangkan kedua-duanya masih bisa direalisasikan
bersama-sama46.
Beliau menolak system kemasyarakatan modern (modern civility-al-
madaniyyah al-haditsah) yang menurut beliau menyesatkan makna keadilan untuk
meloloskan kezindikan dan atheisme 47, yang mana keadilan menurut mereka (para
pakar sipil modern) terbatas pada ‗menyampaikan hak kepada orangyang berhak
sesuai dengan isi undang-undang yang hanya berpatok pada tanda-tanda lahiriyah
belaka, dan undang-undang ini merupakan hokum positif yang dihasilkan dari
akal fikiran manusia yang terbatas48 yang oleh an-Nursi diistilahkan dengan
‗kesewenang-wenangan kekafiran yang serampangan‘ 49. Beliau berkata:
―Republik —yang menjadi salah satu bentuk Negara— adalah interpretasi
keadilan, musyawarah dan pembatasan kekuatan pada undang-undang, bukankah
sebuah bentuk pidana terhadap islam jika kita menguimpor hokum dari Eropa
sedangkan kita memiliki Syariat suci yang sudah tertata rapi sejak tiga belas abad
yang lalu, pengimporan hokum ini sama saja degan salat menghadap pada selain
Kiblat50.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Beliau menolak dengan keras sendi-sendi sekulerisme dalam politik
republic, karena sekuerisme itu memisahkan agama dari Negara, beliau berkata:
―Kita tahu bahwa negara republic sekuler itu adalah memisahkan agama dari
kehidupan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS DAN ANALISA

Pengabdian dan Pengorbanan

Wujud tanggungjawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan.


Pengabdian dan pegorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu
sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun
tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan
dari semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah
rasa tanggungjaab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai
kebutuhan, hal itu berarti mengabdi keapada keluarga. Manusia tidak ada dengan
sendirinya, tetapi merupakan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan
manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri
sepenuhnya kepada uhan, dan merupakan perwujudan tanggungjawab kepad
Tuhan.

Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti


persembahan, sehingga pengorbanan berarati pemberian untuk menyatakan
kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu
mengandung keikhalasan yangtidak menganadung pamrih. Suatu pemberian yang
didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Perbedaan antara
pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu
ada pengorbanan. Antara sesame kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata
pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata
pengorbanan dapat juga diterapkan kepaa sesame teman..

Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat


berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa
ada transaksi, kapan sja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada
perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian
sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian
selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut
pengabdian.

Apabila kita berbicara tentang relevansi sebuah konsep, maka kita harus
menguji konsep tersebut, apakah ia mampu memberikan solusi jitu terhadap
sebuah problem atau tidak? Jika konsep tersebut mampu memberikan solusi jitu,
maka ia layak disebut relevan, begitu juga sebaliknya. Marilah kita bersama-sama
menguji teori keadilan an-Nursi yang meniuikberatkan pada formalisasi syariat,

Warisan
Salah satu hokum islam yang sering mendapat kritikan pedas dari
kalangan sekularis adalah hukuman pembagian harta pusaka (warisan). Mereka
menkritik Islam yang memberikan hak laki-laki dua kali lipat hak perempuan.
Sesungguhnya laki-laki tidak selalu mendapatkan lebih banyak dari
perempuan, di dlaam beberapa kasus pembagian harta warisan kadangkala apa
yang didapatkan laki-laki sama dengan yang didapatkan perempuan, bahkan
kadang juga perempuan mendapatkan lebih banyak dari laki-laki. Untuk lebih
jelasnya akan kami berikan beberapa contoh yang menunjukkan hal ini. Contoh
kasus dimana bagian perempuan sama dengan bagian laki-laki adalah bagian
saudara seibu, dalam bagian saudara seibu tidak dibedakan antara laki-laki dan
perempuan, hasil warisan yang mereka dapatkan dibagi rata sesuai banyaknya
saudara seibu. Contoh kasus dimana perempuan mendapatkan lebih banyak dari
laki-laki adalah ketika sang mayat meninggalakan ahli waris seorang isteri,
seorang anak perempuan dan seorang paman. Dalam kasus ini sang isteri
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mendapatkan 1/8 dari harta warisan, sang anak perempuan mendapatkan ½ (4/8)
dari harta dan paman mendapatkan sisa (3/8), di sini jelas bahwa bagian anak
perempuan lebih banyak daripada paman. Jadi tidak mutlak bahwa laki-laki harus
mendapatkan lebih banyak dari perempuan51.
Tapi mengapa jika sang mayat meninggalkan anak laki-laki dan
perempuan atau meninggalkan saudara (kandung atau seayah) laki-laki dan
perempuan bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan? Ini bukan
berarti islam berlaku zhalim dan tidak adil serta mengintimidasi satu jenis dari
jenis yang lain. Akan tetapi itu merupakan kestabilan dan keseimbangan antara
tanggungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga dan social. Islam
menggugurkan banyak beban materi dan kewajiban social dari perempuan, di
waktu laki-laki harus menanggung beban dan kewajian ini. Laki-laki dituntut
untuk membayar mahar, menyediakan kebutuhan rumah tangga dan memberikan
nafkah kepada isteri, anak dan keluarga. Ketika islam membuat aturan ini,
sesungguhnya islam memperhatikan status (zhurûf) laki-laki dan menjaga hak
perempuan atas dasar keadilan, kejujuran dan keseimbangan. Islam memandang
hak perempuan dan kewajiban laki-laki lalu mengkomparasikan antara keduanya,
kemudian memberikan bagian-bagian untuk keduanya sesuai dengan hasil
komparasi tadi. Jadi, sangatlah adil jika laki-laki mendapatkan dua kali lipat
perempuan agar dia mampu melaksanakan beban hidupnya dan keluarganya 52.
Jika kita lihat perempuan di Barat, sering muwarrits (orang yang meninggal)-nya
itu mewasiatkan seluruh hartanya untuk seekor anjing kesayangan sedang sang
perempuan yang ditinggalkan itu tidak mendapatkan apa-apa, lebih beruntung
mana antara dua wanita tersebut (wanita islam dengan barat) dan mana yang lebih
merasa terhormat 53. Said an-nursi berkata: ― madaniyah (sipil) yang tidak

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
berlandaskan pada logika akal, mereka menkritik ayat allah, ‗dan bagi laki-laki
dua kali lipat bagian perempuan‘ (an-Nisâ`, 11) yang memberikan perempuan
sepertiga dari harta warisan, yakni separuh dari jatah laki-laki54, sesungguhnya
hokum al-quran ini adalah bentuk keadilan yang sebenarnya yang sekaligus
bentuk kasih saying, karena laki-laki ynag menikahi perempuan harus
menanggung nafkahnya sebagaimana dalam kehidupan mayoritas mutlak,
sedangkan perempuan jika ia menikah, ia ikut sang suami dan nafkahnya
ditanggung, maka itu bisa menutupi bagiannya yang kurang dalam hal warisan55.
Sanksi dan hukuman
Yang juga sering mendapatkan kritikan tajam terhadap formalisasi syariat
islam adalah tentang „iqâb (hukuman) dalam islam, para pejuang ‗kemerdekaan
dan keadilan‘ selalu mendengung-dengungkan bahwa hukuman di dalam islam
terlalu sadis dan tidak berperikemanusiaan. Islam dianggap sebaga agama
kekerasan yang selalu menyelesaikan masalah dengan pedang atau darah.
Di dalam menetapkan sanksi atau hukuman, islam selalu bertolak dari segi
bahayanya jarîmah (dosa/criminal) tersebut. Apabila dampak dan bahayanya
semakin parah, maka semakin keraslah hukumannya 56. Kemudian perlu diketahui
bahwa hukuman di dalam Islam terbagi menjadi dua; hukuman yang sudah
ditetapkan oleh teks al-Kitab atau as-Sunnah tidak boleh dirubah walaupun zaman
sudah maju dan tempatnya berbeda dan hukuman yang Allah serahkan
penetapannya kepada pada pandangan Hakim (pemerintah) muslim selama tidak
melampaui batas-batas tertentu.
Adapun jenis yang pertama itu berhubungan dengan criminal-kriminal
pokok yang dalam realitanya merupkan induk dari segala criminal dan
penyimpangan yang tersebar di masyarakat, criminal tersebut merupakan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pelanggaran terhadap hak-hak Allah yang kullî (umum), atau hak manusia yang
kullî atau pelangaran terhadap sendi-sendi moral yang berbahaya terhadap social
dan mempunyai dampak yang besar atau dengan kata lain criminal yang dianggap
secara langsung melanggar terhadap hal-hal dharûrât (primer) yang berhubungan
dengan mashâlih al-Khams (lima macam mashlahat yang urgen) yang oleh Islam
selalu dijaga dan direlisasikan. Oleh karena jenis criminal ini sangat berbahaya,
maka syâri‟ (Allah atau Rasul) menetapkan sanksi terrtentu dengan teks yang jelas
dan tidak menyerahkan sanksi kepada ijtihad ulama‘ untuk menghidari kesalahan
ijtihad dan menutup jalan untuk meremehkan urusan ini. Hukuman-hukuman ini
adalah membunh orang murtad untuk melindungi agama, qishâs untuk melindungi
kehidupan, hadd as-Syârib (sanksi minum minuman keras) untuk melindungi akal,
sanksi zina dan menuduh zina untuk melindungi keturunan danharga diri, sanksi
pencurian dan menyamun untuk melindungi harta . ini semua di dalam islam
disebut Hudûd.
Sedangkan jenis kedua, itu berhubungan dengan pelanggaran parsial yang
dampaknya tidak separah jenis pertama. Jika pelangaran jenis pertama merupakan
pelanggaran terhadap hal-hal yang primer, maka pelanggaran jenis kedua ini tidak
lain adalah pelanggaran terhadap hal-hal hajî (sekunder) atau tahsînî (pelengkap).
Oleh karena itu Allah menyerah kan hal ini kepada pemerintah untuk memberikan
sanksi yang sesuai dengan tingkat pelangarannya. Inilah yang disebut dengan
ta‟zîr57.
Yang sering mendapatkan kritikan oleh para penentang hokum Islam
adalah hudûd, mereka melihat bahwa memotong tangan pencuri atau merajam
pezina itu sangatlah sadis dan tidak cocok lagi denggan abad modern ini.
Memang sungguh lebih baik jika di dalam sebuah masyarakat tidaka ada
sama sekalai apa yang disebut dengan sanksi maupun hukuman dan manusia
bebas melakuakn apa saja yang mereka mau, akan tetapi sebuat system kehidupan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
social menuntuk adanya sebuah disiplin dan tanggung jawab. Oleh karena bentuk
penghormatan menusia terhadap tanggung jawab ini berbeda-beda maka disini
perlu adanya pengawasan dan adanya pendukung berupa balasan (jazâ) yang
membuat mereka jera dan tidak mau melakukannya lagi, dan panstinya tidak ada
suatu balasan yang membuat jera tanpa kekerasan dan kecaman.
disini kita akan mengambil contoh sanksi pencurian. Beliau berkata:
―Pencuri di lingkungan kita —uamat muslim— ketika ia menjulurkan
tangannya untuk mengambil barang orang lain, ia akan langsung ingat kepada
pada pelaksanaan had (sanksi hokum) syar‘I yang akan dikenakan kepadanya dan
di hatinya terbetik bahwasanya hokum tersebut adalah undang-undang tuhan yang
turun dari ‗Arsy (kayangan) yang agung. Dia seakan-akan mendengar dengan
panca indera keimanan dari lubuk hatinya dan ia betul-betul merasakan kalam
Allah yang berbunyi, ―Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan
mereka‖ (al-Mâidah:38), maka tergeraklah di dalam dirinya Iman dan aqidah yang
ia bawa dan berkobarlah naluri kebaikanya. Lalu di dalam dirinya terjadi sebuah
keadaan spiritual menyerupai sesuatu yang mengarahkan serangan dari segala
penjuru naluri kepada kecondongan mencuri, kemudian kecondongan yang timbul
dari nafsu dan hawa tersebut tercerak berai, mundur dan kalah. Begitu juga,
dengan selalu mengingat akan sanksi hokum dari tuhan ini hilanglah
kecenderungan mencuri tersebut, sebab yang menyerang kecenderugan tersebut
bukanlah angan-angan dan fikiran saja akan tetapi potensi (kekuatan) spiritual
akal, hati dan naluri, semuanya secara serempak meluluh lantakkan keinginan
tersebut. Jadi dengan mengingat sanksi tuhan keingingan mencuri tersebut
berhadapan dengan rintangan langit dan halanngan naluri‖58. Lebih lanjut beliau
berargumen: ―Sanksi atau hukuman ketika dilaksanakan sebagai bentuk kepatuhan
terhadap perintah tuhan dan keadilannya, maka ruh, akal, naluri dan seluruh aura
positif yang terkandunga dalam diri manusia menjadi terpengaruh dan terikat

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dengannya. Oleh karena itu, pelaksanaan pelaksaan had satu kali selama lima
puluh tahun itu lebih bermanfaat dari pada penjara kalian setiap hari, karena
sanksi hokum yang kalian dengung-dengungkan atas nama keadilan tersebut
pengaruhnya tidak tercapai kecuali di dalah angan-angan kalian. Sebab ketika
seseorang hendak mencuri terbetiklah di hayalannya akan hukuman yang dibuat
hanya untuk kemaslahtan umat dan Negara saja dan ia akan berkata, ‗seandainya
orang-orang tahu bahwa saya pencuri, mereka akan memandangku dengan
pandangan kebencian dan cemoohan, jika halnya demikian maka pastinya pihak
yang berwenang aka menjebloskanku kedalam penjara‘. Ketika orang yang akan
mencuri tersebut menghayalkan demikian, maka di sana tidak ada efek kecuali
pengaruh parsial dari daya hayalnya saja, padahal keinginan mencurinya sudah
sangat kuat —apalagi ketika ia sangat membuthkan—, jika halnya demikian maka
sanksi yang kalian buat tidak mampu untuk menyelamatkan orang tersebut dari
perbuatan jahat. Kemudian mengingat hokum kalian tersebut bukan merupakan
pelaksanaan terhadap perintah tuhan mka itu tidak dapat disebut keadilan, bahkan
hokum tersebut batal dan tidak berguna sebagaimana batalnya shalat tanpa
wudhu` dan tanpa menghadap Qiblat. Yakni keadilan hakiki dan sanksi yang
bermanfaat hanyalah jika dilaksanakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap
perintah tuhan, jika tidak, maka efek dari sanksi tersebut sangatlah sedikit.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Manusia dan keadilan adalah suatu prilaku atau perbuatan yang dilakukan mnusia
untuk kepentingan diri sendiri karena faktor-faktor tertentu.Keadiln sejati sangat
jarang sekali kita dapatkan ,bahkan seorang hakim yang berperan sebagai penegak
hukum dan sebagai pengadil masih bisa berbuat kecurangan atau tidak adil
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
terhadap suatu perkara.Hakim juga bisa meihak salah satu terdakwa karena alasan
pribadi hanya ada satu keadilan yang sejati yang tidak mungkin memutuskan
perkara dengan merugikan orang lain yaitu:keadilan ALLAH –lah yang tak
mungkin diragukan lagi kebenaranya.

Harapan adalah keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan manusia yang


monopluralis dan kebutuhan itu tertuang dalm moralitas pancasila(lihat p4).Jadi
pancasila adalah harapan bangsa indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyatnya,jadi untuk mewujudkan itu semua diperlukan pean seorang
pemimpin,karena pemimpin akan menjadi panutan dan tauladan yang baik bagi
rakyatnya

Kesadaran moral adalah kesadaran yang akan selalu melibatkan akal manusia.
Dengan kesadaran manusia dapat memahami prilaku dan tindakanya. Hanya saja
untuk selalu bertindak dan berperilaku baik manusia harus memiliki tidak hanya
kesadaran semata tetapi lebih dari itu. Dengan kesadaran moral manusia akan
lebih mengurangi bahkan menghilangkan prilaku dan perbuatan yang kurang
baikmenjadi sebuah pprilaku dan perbuatan yang baik dan atas dasar hati nurani
nmereka sendiri dan tidak ada sedikitpun paksaan dari pihak manapun

Tanggung jawab adalah sebuah prilaku berani mengakui dan berani menebus
semua perbuatan dan kesalahan yang telah ia lakukan.Tidak hanya hak saja yang
harus dituntut seseorang tetapi juga kewajiban sesorang yang harus dikerjakan
karena hak dan kewajiban harus diseimbangkan.

Kesemua itu tertera dan terlaksana dalam kehidupan manusia sehari-hari. Baik
dari yang berperilaku baik hingga berperilaku tidak baik ke-semuanya itu
tergantung pada hati nurani manusia itu sebdiri dan apabila ia terbukti bersalah
maka dengan berani ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
RAGAM BUDAYA NUSANTARA

Disusun Oleh :

1. Fitriana Nelvi (09650219)


2. Sugeng Wahyudi (09650214)
3. Ahmad Baihaqi (09650212)
4. Muhammad Fahmi (09650206)

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I

PENDAHULUAN

 Latar belakang
Indonesia siapa yang tak kenal dengan nama itu seluruh duniapun
mengenal dengan nama tersebut.mengapa demikian? Karena Indonesia sangat
terkenal dengan bermacam-macam budayanya yang sangat kental. Banyak sekali
kebudayaan yang dapat kita temukan di Indonesia dari pulau satu ke pulau yang
lain. Banyaknya beragam budaya Indonesia itu banyak itu masyarakat kita
pastinya mempunyai adat istiadat yang berbeda-beda. Sebagai negara yang kaya
dengan kebudayaan kita harus menjaga bagaimana agar kebudayaan kita direbut
oleh negara lain. Karena sudah banyak kebudayaan –kebudayaan Indonesia yang
di akui oleh negara-negara lain. Di antaranya kebudayaan musik angklung yang
ingin di akui oleh negara Malaysia kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi
bangsa kita agar lebih menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang
telah ada di Indonesia ini.

Kebudayaan-kebudayaan yang ada di Negara kita tidak hanya


semata-mata untuk adat istiadat. Namun dengan keanekaragaman budaya kita
dapat mengundang atau menarik wisatawan-wisatawan asing untuk datang ke
Indonesia. Karena secara tidak langsung, datangnya para wisatawan dari negara
lain tersebut dapat menambah devisa negara. Dari sabang sampai merauke banyak
sekali beribu-ribu kebudayaan yang dapat menarik para wisatawan. Namun dari
sekian banyak budaya kita masih ada budaya-budaya yang belum diketahui oleh
masyakat-masyakat kita karena budaya itu berada di pulau-pulau terpencil. Jadi
kita harus belajar bagaimana cara kita mengenalkan semua budaya-budaya yang
telah kita miliki pada seluruh dunia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Kita sebagai penerus bangsa harus meneruskan adat-istiadat serta
melestarikan budaya yang kita miliki agar budaya kita tidak runtuh dan perhatian
dunia akan keragaman budaya Indonesia tetap terkenal. Adapun cara kita
melestarikan budaya yang ada di Indonesia yaitu salah satunya dengan cara
belajar dan mengenal budaya-budaya yang ada di Indonesia dan turut serta ikut
serta dalam mejaga budaya yang ada di daerah sendiri.

 Rumusan masalah
 Karena terdapat banyak kebudayaan yang ada di indonesia
 Masih adanya budaya nusantara yang belum teridentifikasi
 Adanya keinginan negara lain yang ingin mengatas namakan budaya kita
karena belum memiliki hak paten.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

KONSEPSI TEORI

6. PENGERTIAN
Secara lahiriah, manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung
pada manusia yang lain dalam melakukan kegiatan-kegiatan pribadi maupun
kegiatan kemasyarakatan. Dengan adanya interaksi antar manusia tentunya akan
membentuk suatu kebiasan-kebiasan yang di sengaja (pattern of behavior) atau
tidak disengaja (pattern for behavior).

budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu, buddhayah yang merupakan


bentuk jamak dari buddhi (akal atau budi) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi dan akal. Ada pendapat lain mengatakan budaya berasal dari kata
budi dan daya. Budi merupakan unsur rohani, sedangkan daya adalah unsur
jasmani manusia. Dengan demikian, budaya merupakan hasil budi dan daya
manusia.

Berdasarkan study diatas, dapat kita simpulkan bahwa budaya adalah


totalitas aktifitas manusia yang dilakukan secara berulang-ulang dan disepakati
bersama-sama dalam suatu masyarakat tertentu.

Negara Indonesia sebagai negara kepulauan tentunya memiliki beragam


budaya. budaya tersebut dapat berupa adat istiadat, tradisi, kuliner yang beraneka
ragam, serta pola kehidupan yang berbeda antara satu sama lain, dan juga
kesenian. Berbagai macam suku, ras, dan etnik budaya yang ada di Indonesia
menimbulkan berbagai macam budaya yang secara tidak langsung memberikan
dampak positif dan negatif bagi Indonesia itu sendiri.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Menjadi bangsa yang besar yang mempunyai banya pulau-pulau, yang
membentang dari sabang hingga merauke, menjadikan bangsa indonenia menjadi
bangsa yang kaya akan budaya yang nantinya daya tarik tersendiri bagi negara
lain untuk melihat keragaman budaya kita. Itu merupakan salah satu dampak
positif bagi Indonesia.

Namun, dengan banyaknya budaya-budaya yang ada di Indonesia dapat


menjadi bumerang sendiri bagi Indonesia, apabila masyarakatnya kurang dapat
memahami antar budaya masing-masing. Dan itu tampaknya berlaku di Indonesia
yang masih belum bisa saling memahami antar budaya masing-masing. Dan juga,
pemerintah kita kurang dapat menjaga budaya-budaya yang masih belum
memiliki hak paten atau hak milik bagi pemiliknya. Sehingga, banyak negara-
negara lain yang dengan mudahnya ―mencuri‖ dan mengatas namakan budaya kita
sebagai budaya mereka.

Maka dari itu, harapan kita untuk pemerintah adalah lebih peka dan
perhatian dengan budaya kita yang beraneka ragam. Dan juga bagi generasi
penerus bangsa saat ini, haruslah lebih mencintai budaya kita sendiri.

7. MACAM-MACAM BUDAYA
Berikut ini adalah beberapa macam budaya yang ada di Indonesia. Yaitu
dapat berupa 59:

5. Tarian
6. Ritual
7. Ornamen
8. Motif Kain

59
http://paijomania.blogdetik.com/2009/08/28/perpustakaan-digital-budaya-
indonesia-ensiklopedi-budaya-nusantara/

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
9. Alat Musik
10. Cerita Rakyat
11. Musik dan Lagu
12. Data Makanan
13. Seni Pertunjukan
14. Produk Arsitektur
15. Pakaian Tradisional
16. Permainan Tradisional
17. Senjata dan Alat Perang
18. Naskah Kuno dan Prasasti
19. Tata cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan

9. Tarian
Tarian adalah ekspresi jiwa dalam bentuk gerak yang biasanya dipadu
dengan alunan musik. Tarian terkait pula dengan momen, dapat melukiskan
tentang suatu peristiwa: perang, suasana duka, penghormatan pada raja, atau
pengejawantahan sebuah norma, misalnya seperti pengabdian seorang perempuan
dalam budaya Jawa.

Perkembangan tari di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan


masyarakat. James R. Brandon (1967) membagi perkembangan pertunjukan di
Asia Tenggara dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu:

1. Periode pra-sejarah, sekitar 2500SM-100M.

2. Periode masuknya kebudayaan India, 100-1000.

3. Periode masuknya pengaruh Islam, 1300-1750.

4. Periode masuknya negara barat, 1750-akhir perang dunia ke-2.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakan
perkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan
dan tidak terputus. Ini ditunjukkan dengan jumlah tarian yang semakin
berkembang, terdapat 277 jenis tarian yang ada di Indonesia dan bali adalah pulau
yang paling banyak tariannya, yaitu 67 tarian.

10. Ritual
Sebagai pusat pertemuan bermacam masyarakat tradisi, Kepulauan
Indonesia memiliki beragam sistem tata nilai lokal, yang diartikulasikan dalam
ritual dan upacara yang ditujukan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan sosial dan
terutama, spiritual, masyarakat dan/atau entitas adat setempat. Terdapat 16 ritual
yang ada di Indonesia.

11. Ornamen
Salah satu obyek kultural yang lekat dengan keseharian manusia adalah
ornamen. Ornamen di sini terdiri atas artefak-artefak budaya yang bertujuan untuk
menghias atau mempercantik sebuah objek tertentu. Ornamen terdiri atas:
Dekorasi, misalnya ukiran, furniture, hiasan dinding, taplak meja, dan lain
sebagainya.

Perhiasan, misalnya kalung, gelang, tato, anting-anting, tas, dan lain


sebagainya.Terdapat banyak sekali ornamen yang ad di Indonesia. Secara khusus,
penyusun melihat daerah bengkulu memiliki ornamen yang terbanyak.

12. Motif Kain


Motif kain orang Indonesia sangat beragam sebagaimana memang
digambarkan oleh keheterogenan masyarakatnya atas suku, agama, dan berbagai
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kelas sosial mulai dari kelas ekonomi hingga pembagian tenaga kerja secara sosial
(division of labor). Dalam hal ini, kita mengenal motif batik misalnya yang
merupakan sebuah tradisi motif pakaian yang terkenal hingga ke berbagai penjuru
dunia. Batik dikenal secara umum berasal dari kriya tekstil penduduk di kawasan
pulau Jawa, baik yang berada di kawasan pedalaman maupun yang berada di
kawasan pesisir pantai. Motif batik sendiri sangat beragam.

Keragaman ornamentasi batik saja misalnya, sudah sangat tinggi. Sebagai


sebuah kawasan kepulauan yang terdiri dari populasi ratusan suku bangsa, maka
Indonesia memiliki berbagai ornamentasi motif pakaian yang luar biasa
kuantitasnya. Sebut saja songket, ulos, dan berabagai motif pakaian lainnya.

Pengumpulan data atas motif-motif pakaian ini sungguh merupakan


sebuah hal yang sangat menarik dan jika mungkin merupakan sebuah hal yang
luar biasa penting untuk menggambarkan bagaimana konsep estetika berpakaian
orang Indonesia yang memang sangat beragam tersebut. Pohon Filomemetika dari
Batik dapat dilihat pada gambar atas beberapa data saja yang layak untuk
dianalisis dengan perangkat yang ada di kita saat ini.

13. Alat Musik


Indonesia adalah merupakan sebuah gugus pulau yang terhampar luar, dari
Sabang hingga Merauke. Wilayah yang sangat luas ditambah adanya faktor laut
dan gunung, yang cenderung mengurangi interaksi antar daerah tersebut,
mengakibatkan lahirnya variasi budaya yang luar bisa, termaksud seni musik
tradisional. Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari
masyarakat pendukungnya. Hampir seluruh wilayah memiliki seni musik
tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya,
penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Untuk lebih mudah
mengenalinya, ia dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu:

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
 Instrumen Musik Perkusi
Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik
permainannya di pukul, (baik menggunakan tangan ataupun stik). Instrumen
musik ini antara lain: Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong,
rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.

 Instrumen Musik Petik


Instrumen musik ini antara lain: Kecapi, Sasando, Sampek dan lain
sebagainya.

 Instrumen Musik Gesek


Instrumen musik ini antara lain adalah Rebab.

 Instrumen Musik Tiup


Instrumen Musik Tiup antara lain: Suling, Tarompet, Serompet, Selompret,
dan lain sebagainya.

14. Cerita Rakyat


Bagi sebagian besar penduduk di Asia, dominannya cerita rakyat
terdiseminasi secara lisan. Meskipun demikian, tidak sedikit karya-karya
intelektual Asia, yang sekalipun diukur dengan standar peradaban masa kini,
dinilai memiliki gagasan dan tingkat kerumitan yang tinggi. Keluhuran ini juga
ditemui dalam manuskrip intelektual proto-Indonesia. Inilah alasan penghimpunan
sumber lisan dan non-lisan Budaya Indonesia. Tradisi lisan atau folklor lisan bisa
berbentuk cerita, teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat.
Bentuk yang banyak digunakan adalah bentuk cerita dan fabel, misalnya cerita
Nyai Roro Kidul atau Si Kancil.

Mengapa penggunaan tradisi lisan menjadi penting? Tradisi


lisan/folklore mencerminkan suatu aspek kebudayaan, baik yang langsung
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
maupun yang tidak langsung, dan tema-tema kehidupan yang mendasar, misalnya
kelahiran, kehidupan keluarga, penyakit, kematian, penguburan dan malapetaka,
atau bencana alam yang universal, seperti yang terdapat dalam cerita Nyai Roro
Kidul, Malin Kundang dan Gretel dan cerita lainnya. Cerita tradisi lisan yang
berasal dari berbagai pulau di Indonesia yang berbeda ini mengandung norma-
norma kehidupan yang patut dijadikan contoh dalam kebiasaan dan kehidupan
sehari-hari, tidak hanya di lingkungan sosial tertentu, tapi juga dalam lingkungan
masyarakat luas pada umumnya.

15. Musik dan Lagu


Musik dan lagu merupakan ekspresi perasaan manusia, baik dari
sisi pembuat lagu maupun penikmat dari musik tersebut. Syair dan melodi/irama
dar karya musik dapat mengungkap suatu peristiwa, karakter kolektif dari
masyarakat, hingga proses akulturasi yang melatar belakanginya.

Tiap suku dan identitas kolektif dari mereka yang tinggal di kepulauan
Indonesia tentu memiliki lagu yang lahir dari interaksi sosial terkait tempat tinggal
dan latar belakang suku yang menyertainya. Musik merupakan ekspresi jiwa
dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal nada yang mempunyai kesatuan
dan kesinambungan. Lagu yang menurut orang Jawa Barat indah belum tentu
menurut orang Batak indah. Begitu juga sebaliknya.

16. Makanan dan Minuman


Terdapat banyak sekali variasi makanan dan minuman dari seluruh
nusantara. Tapi ternyata makanan juga tak luput dari masalah klain dari negara
lain. Contoh yang sudah sering kita dengar makanannya yaitu rendang dari
Sumatra Barat di klaim oleh oknum WN Malaysia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
17. Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan, kami artikan sebagai bentuk kompak artikulasi
berkesenian manusia Indonesia yang disajikan dalam format "pementasan".
Kategori ini diperlukan karena seringkali artefak kebudayaan spesifik yang kita
kenal dalam bentuk tarian, nyanyian, ornamen, dsb merupakan bagian utuh dari
suatu pentas pertunjukan. Seni pertunjukan (performance art) adalah karya seni
yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni
performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman
dan hubungan seniman dengan penonton.

Meskipun seni performance bisa juga dikatakan termasuk di


dalamnya kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkus,
tapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan
istilah 'seni pertunjukan' (performing arts). Seni performance adalah istilah yang
biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang tumbuh dari seni
rupa dan kini mulai beralih ke arah seni kontemporer.

18. Produk Arsitektur


Kebutuhan manusia akan tempat tinggal dapat ditentukan oleh
faktor lingkungan alamiah dan sosial. Desain arsitektur adalah salah satu produk
budaya yang mencerminkan kelas-kelas masyarakat, pola hidup, cara pandang,
serta tingkat adaptasi teknologi pemiliknya. Desain bangunan yang bersumber
pada inspirasi bangunan rumah tradisional di berbagai tempat di Indonesia
menunjukkan diversitas yang sangat tinggi. Variasi terjadi mulai dari struktur
rumah apakah tergolong sebagai rumah panggung, bahan bangunannya, bentuk
bangunan tersebut, dekorasi bangunan tersebut dan bagaimana bangunan tersebut
diwarnai, eksploitasi spasial di sekitar bangunan tersebut, termasuk sejauh mana
pengaruh luar memberikan dampak bagi desainnya secara umum.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
19. Pakaian Tradisional
Kategori ini dibuat untuk menghimpun dan mengkaji penggunaan
artefak-artefak budaya tertentu yang terartikulasi pada produk sandang manusia
yang berkembang di Indonesia. Keberadaan pakaian yang tidak dapat dilepaskan
dari perkembangan masyarakat, misalnya sebagai atribut status sosial, dengan
sendirinya menjadikan artefak ini kaya inspirasi dan tentunya, informasi, akan
Kebudayaan Indonesia.

20. Permainan Tradisional


Sama seperti halnya cerita rakyat, mainan tradisional lahir sebagai
bentuk pewarisan nilai dari para orangtua terhadap generasi muda. Ia juga lahir
dari kondisi alam dan lingkungan sekitar.

Keberadaannya sudah hampir ditinggalkan dengan berkembangnya zaman.

21. Senjata dan Alat Perang


Senjata dan alat perang setiap daerah mampu memberikan
penjelasan pada kita tentang sejauh mana masyarakat menyerap teknologi,
seberapa sering masyarakat dihadapkan pada ancaman kedaulatan, serta nilai-nilai
yang berlaku di dalamnya.

22. Naskah Kuno dan Prasasti


Naskah kuno dan prasasti ini merupakn peninggalan zaman terdahulu.
Namun, ada beberapa naskah kuno yang diklaim oleh negara lain, khususnya
disini adalah Malaysia. Beberapa contoh naskah kuno yang telah diklaim yaitu

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia, naskah Kuno dari Sumatera
Barat oleh Pemerintah Malaysia, naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh
Pemerintah Malaysia, dan naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah
Malaysia. Akan berapa banyak lagikah aset negara kita ―dicuri‖ oleh negara lain?

23. Tata cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan


Ketinggian nilai aset tata cara perawatan kecantikan dan kesehatan
tradisional telah dibuktikan oleh para pakar kecantikan saat ini. Dengan
mengeksplorasi kekayaan flora, serta mengkaji ramuan tradisional di berbagai
belahan dunia, para pakar menghadirkan produk noninvasif dengan konsep yang
harmonis dan memenuhi standar etika bisnis dan kemanusiaan.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS DAN ANALISA

Sudah banyak budaya kita yang diklaim oleh negara lain. Misalnya
bamboo malay yang ternyata sangat mirip dengan angklung, klaim lagu Rasa
Sayange rakyat Maluku, Lagu jali-jali, dan terakhir Batik. Banyak orang bilang
bahwa Indonesia dinilai terlambat untuk mengklaim budayanya, sehingga hak
cipta suatu budaya di Indonesia masih belum jelas. Walaupun sekarang Indonesia
mulai tergerak pada hal itu, namun budaya Indonesia sudah banyak yang diklaim
oleh Malaysia. Berikut contoh Batik Malaysia dengan Batik Malaysia 60.

<–Batik Malaysia

60
http://kupastuntas.wordpress.com/2007/11/21/budaya-indonesia-diklaim-
oleh-malaysia/
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
<–Batik Indonesia

Tidak terlalu beda jauh basicnya. Artinya, Gambar Batik yang dibawah
Malaysia-pun dapat/sudah diklaim sebagai Batik Malaysia, bukan Indonesia
(walaupun Indonesia yang membuatnya). Baru-baru ini, juga terdengar bahwa
Wayang Kulit sudah diklaim oleh Malaysia. Tapi hal ini masih merupakan
kontroversi, karena asal mula Wayang Kulit masih belum jelas, entah dari
Malaysia atau Indonesia.

Beberapa waktu terakhir kita kembali dikejutkan dengan tingkah negeri


tetangga Malaysia yang lagi-lagi mengklaim tari pendet Bali sebagai bagian dari
kebudayaan mereka. Malaysia mengumumkan ke luar negaranya bahwa tari
pendet juga merupakan budaya mereka dan menjadikannya sebagai salah satu
penarik kunjungan pariwisata ke negeri Jiran itu.

Ini bukan pertama kalinya Malaysia melakukan hal yang sama, dan kali
ini kita, Indonesia, juga belum bisa melakukan apa-apa!

Di bawah ini adalah Daftar Klaim Negara Lain Atas Budaya Indonesia 61:

1. Batik dari Jawa oleh Adidas

2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia

61
http://astaqauliyah.com/category/opini/budaya-nusantara/

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia

4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia

5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

6. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia

7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda

8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda

9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda

10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing

11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia

14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia

15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia

16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia

18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah
Malaysia

20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh
Oknum WN Perancis

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh
Oknum WN Inggris

22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia

23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN
Amerika

24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia


oleh Shiseido Co Ltd

25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia

26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda

27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang

28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia

29. Kain Ulos oleh Malaysia

30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia

31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia

32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Memang, Malaysia adalah negara yang memiliki rekor tertinggi dalam hal
klaim atas kekayaan budaya Indonesia, selain Belanda dan Jepang.

Melihat hal yang telah terjadi di atas, Departemen Hukum dan HAM
(Depkum HAM) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) akan
mendaftarkan ratusan ribu kebudayaan Tanah Air yang sampai saat ini masih
belum terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual. Hal tersebut dilakukan dua
instansi tersebut sebagai langkah antisipasi adanya klaim atas kebudayaan
Indonesia oleh negara lain.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
"Kami bekerja sama dengan BudPar untuk mendaftarkan budaya kita di
HAKI. Ada ratusan ribu seperti reog ponorogo, kesenian, patung, arca, belum lagi
cerita rakyat seperti malin kundang. Lama-lama nanti itu diklaim pula," ungkap
Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Andi Mattalatta. Sebagai contoh,
menurut Andi saat ini seluruh produk batik hasil industri dalam negeri sudah
diwajibkan diberi logo batik Indonesia. "Sekarang untuk batik Indonesia ada logo
batik Indonesia. Sekarang semua batik produksi Indonesia diwajibkan
mengenakan logo batik Indonesia, di luar itu berarti palsu," imbuhnya.

Berbeda pula reaksi terhadap kesenian Reog Ponorogo yang telah di-klaim
oleh negara tetangga. Para sesepuh dan tokoh kesenian reog Ponorogo, Jawa
Timur, kecewa dan akan berjuang mempertahankan kesenian reog Ponorogo yang
kini diklaim sebagai kesenian asli oleh Malaysia. Salah seorang tokoh kesenian
Reog Ponorogo, Ahmad Tobroni, Kamis, di Ponorogo, mengaku sangat kecewa
saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementerian Kebudayaan Kesenian
dan Warisan Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip
dengan kesenian reog Ponorogo tersebut adalah milik Pemerintah Malaysia.

"Sebagai warga dan pecinta seni reog, saya meresa kecewa dengan sikap
Malaysia dengan seenaknya mengklaim seni reog adalah miliknya. Untuk itu kami
akan berjuang mempertahankan warisan budaya yang kami miliki," katanya.
Menurut dia, dalam situs internet tersebut menyebutkan tari Barongan yang terdiri
dari beberapa penari seperti dadak merak atau barong jathil, seorang raja dan
bujangganong mirip dengan tarian kesenian reog Ponorogo. Selain itu di dalam
portal tersebut dinyatakan tarian barongan ini adalah warisan melayu yang
dilestarikan dan bisa dilihat di batu pahat Johor dan Selangor Malaysia.

Beredarnya kabar tarian Barongan tersebut membuat warga Ponorogo dan


instansi pemerintahan setempat sempat kaget. Pasalnya Pemerintah Kabupaten
Ponorogo sendiri telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik
kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan hak asasi manusia Republik
Indonesia. Selain itu, kata Tobrani, sangat tidak relevan jika Malaysia mengklaim
kesenian reog adalah miliknya karena selama ini untuk memiliki peralatan
tersebut saja mereka membeli dari ponorogo. "Jadi tidak mungkin bila sebuah
Negara memiliki kesenian kebudayaan dan tidak mampu membuat peralatannya
sendiri," katanya. Untuk membuktikan hal itu, Tobroni juga sempat melakukan
pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para perajin
mengaku dalam tahun ini banyak mendapatkan order dari para pelangannya di
Malaysia.

"Itu adalah bukti bahwa Malaysia melakukan penjiplakan," katanya. 62

62
http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=150065
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

PENUTUP

4.1. KESIMPULAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam


budaya. Baik yang telah diketahui maupun yang masih belum diketahui. Beudaya
tersebut dapa berupa tarian, ritual, ornamen, motif kain, alat musik, cerita rakyat,
musik dan lagu, makanan, seni pertunjukan, produk arsitektur, pakaian tradisional,
permainan tradisional, senjata dan alat perang, naskah kuno dan prasasti, serta tata
cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.

Dari begitu banyak budaya yang dimiliki oleh Indonesia, masih terdapat
beberapa budaya yang belum memiliki hak paten terhadap budaya itu. Sehingga
banyak negara lain memanfaatkan keadaan ini. Negara yang saat ini memiliki
rekor terbanyak dalam meng-klaim budaya kita adalah Malaysia.

Tugas kita sebagai penerus bangsa adalah mberussha menjaga serta


melestarikan kepada keturuna-keturunan setelah kita. Jangan sampai pada suatu
titik generasi, budaya kita telah habis ―dicuri‖ oleh negara lain yang mengintai
kita saat ini.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
( Nilai – Nilai Budaya Nusantara )

Oleh:

Kelompok 6

Iva Zuhriah 09650225

Aditya Ramadhan 09650205

Tri Hendry Andhika 09650211

Hadi Sutrisno

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I
PENDAHULUAN

8. Latar Belakang Masalah


Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Indonesia adalah salah satu bangsa
yang memilki keragaman budaya yang terbanyak. Hal ini dikarenakan bangsa
Indonesia terdiri dari beberapa pulau besar dan ribuan pulau-pulau kecil di
sekitarnya, dan di setiap pulau itu mempunyai adat – istiadat sendiri, jadi
setiap pulau yang satu dengan yang lainnya itu menjadi kekayaan budaya
yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah di suatu pulau di Indonesia hampir
memiliki bahasa daerah masing – masing. Misalnya di pulau jawa ada bahasa
jawa, di pulau Madura ada bahasa madura dan banyak lagi di pulau - pulau
yang lainnya yang ada di Indonesia.

Dengan demikian banyaknya budaya – budaya yang ada di Indonesia, maka


Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan keragaman budayanya.
Tapi itu semua tidak menjadi masalah, dengan semua perbedaan – perbedaan
itu seluruh bangsa Indonesia dapat disatukan dengan bahasa nasional yaitu
bahasa Indonesia.

Tapi, akhir – akhir ini kebudayaan nenek moyang kita yang seharusnya
menjadi milik kita, bangsa Indonesia terancam akan hilang. Itu karena
kurangnya perhatian pemerintah terhadap budaya – budaya lokal yang
merupakan warisan leluhur kita. Sehingga beberapa diantara budaya itu
hilang, entah hilang karena tidak ada yang melanjutkan atau hilang karena
telah diakui bangsa lain dan telah dipatenkan kepemilikan budaya tersebut.

Masuknya kebudayaan barat juga mempengaruhi kebudayaan – kebudayaan


yang sebelumnya telah ada. Kebudayaan yang masuk itu ada yang telah di

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
adaptasi dan ada juga yang telah diterima dengan tanpa merubah yang sudah
ada.

9. Rumusan Masalah
Dengan tersebarnya kebudayaan di Indonesia, Indonesia sebagai
bangsa yang memiliki keragaman kebudayaan yang melimpah mempunyai
masalah tersendiri bagaimana agar kita bisa menjaga dan melestarikan
kebudayaan tersebut bisa menjadi bernilai dan juga agar tidak diakui oleh
bangsa lain,sudah sewajarnya kita sebagai bangsa Indonesia bangga akan
kekayaan tersebut. Meskipun kita berbeda-beda suku dan bahasa tetapi kita
tetaplah satu Indonesia raya,berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Tetapi akhir-akhir ini,negara kita seolah kecolongan baik dalam


masalah budaya atau pun wilayahnya. Masih hangat di telingga kita bahwa
negara tetangga telah mengklaim budaya dan batas wilayah kita. Budaya
warisan turun temurun leluhur kita dengan seenak hatinya di klaim sebagai
budayannya. Sebagai generasi muda kita tidak akan membiarkan hal itu
terjadi,agar kelak anak cucu dapat menikmati warisan budaya leluhur mereka.

1.3 Tujuan

 Mengetahui keragaman budaya yang ada di Indonesia


 Mengetahui ciri-ciri suatu kebudayaan daerah yang ada di Indonesia
 Mengetahui nilai-nilai budaya tersebut mempengaruhi pola tingkah laku
masyarakat Indonesia pada umumnya dan di daerah budaya itu berasal
pada khususnya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II
KONSEP TEORI

II.1 Pengertian Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan


lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945.
Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam
suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan
Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya


terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan
Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India
terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh
sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama
Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi
ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada
penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan


Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-
pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang
masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi
penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal
yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar
daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa
dan Betawi.

Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh


pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan
mereka menuju Tiongkok.

Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan


penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk
kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern
sebagaimana yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan
politik, sistem sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana,
perekonomian, dan sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat yang
lambat-laun terintegrasi dalam masyarakat.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.


Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu
yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki
oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-
Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta
keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi
segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu
masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan


yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya,
rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda
yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,
organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen


atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

 Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur


pokok, yaitu:
 alat-alat teknologi
 sistem ekonomi
 keluarga
 kekuasaan politik
 Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang
meliputi:
 sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para
anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
 organisasi ekonomi
 alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
 organisasi kekuatan (politik)

II.2 Pengertian Nilai-nilai Budaya

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam


dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang
mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan
karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan
prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi


misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan
atau organisasi.

Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :

24. Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata
(jelas)
25. Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto
tersebut
26. Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan
menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

II.3 Budaya di Indonesia

Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan


budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat
Yogyakarta. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, masyarakat Yogyakarta
akan sangat sering menyaksikan dan bahkan, mengikuti berbagai acara
kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap
tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang
penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas
dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Kesenian
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangatlah beragam. Dan kesenian-
kesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara
adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar
menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kesenian khas di
Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS DAN ANALISIS

III.1 Konsep Nilai, Sistem Nilai, Dan Orientasi Nilai (Budaya)

Kajian ilmu budaya dasar adalah nilai-nilai dasar manusia. Oleh karena
itu, dalam proses pengkajiannya, permasalahan nilai tersebut perlu terlebih
dahulu dimengerti dan dipahami. Hal lain yang pengting bahwa nilai itu
merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia, Inheren – seseorang di
dalam hidupnya tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai. Oleh karena itu , nilai –
nilai sangat luas, dapat ditemukan pada berbagai perilaku yang terpilih dalam
berbagai kehidupan yang luas dialam semesta ini (Robin M. Williams , 1972).

III.2 Konsep Nilai

Batasan nilai dapat mengacu kepada berbagai hal seperti minat,


kesukaan, pilihan, tugas ,kewajiban agama, kebutuhan, hasrat, keengganan,
atraksi (daya tarik), dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan perasaan
dari orientasi seleksinya (Pepper, 1958).

Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pengertian


tentang nilai, ada beberapa pendapat sebagai berikut :

1. Pepper (1958) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu


tentang yang baik atau yang buruk.
2. Perry (1954) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang
menarik bagi manusia sebagai subjek.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
3. Kohler (1938) mengatakan bahwa manusia tidak berbeda didunia
ini. Semua tidak dapat berhenti hanya sengan sebuah pandangan faktual dari
pengalaman yang berlaku.
4. Kluckhon (1951) mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima
sebagai konsep yang diinginkan dalam literatur almu sosial adalah hasil
pengaruh seleksi perilaku. Batasan nilai yang sempit adalah adanya suatu
perbedaan penyusunan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan
dengan apa yang seharusnya dibutuhkan. Nilai-nilai tersusun secara hierarkis
dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan
kepribadiaannya. Kepribadian dari sistem sosial budaya merupakan syarat
dalam penyusunan kebutuhan rasa hormat terhadap keinginan yang lain atau
kelompok sebagai suatu kehidupan sosial yang besar.
Dari berbagai pendapat tentang nilai dapat dikemukakan sebuah batasan
nilai, yaitu Nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek,
menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai anstraksi,
pandangan , atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku
yang ketat. Batasan bersifat universal, tetapi untuk suatu maksud pembicaraaan
tertentu dapat mengacu pada salah satu batasan sebelumnya. Sebagai contoh
pengertian nilai sosial dikemukakan oleh Alfin L. Bertrand (1967), Nilai Sosial
adalah suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek,
gagasan, atau orang. Pengertian Nilai Sosial ini, bila dikaitkan dengan batasan
sebelumnya, maknanya akan berhubungan.

Untuk mendapat rumusan yang jelas, Robin M. Williams (1972)


mengemukakan bahwa ada empat buah kualitas nilai-nilai, yaitu :

1. Nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam


dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi dan kebutuhan. Dalam hal
ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalaman-pengalaman
seseorang.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2. Nilai-nilai menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian
yang memiliki suatu aspek amosi. Emosi disini mungkin diungkapkan
sebenarnya atau merupakan potensi.
3. Nilai-nilai bukan merupakan tujuan kongkret dari tindakan, ttetapi
mempunyai hubungan dengan, tujuan, sebab nilai-nilai berfungsi sebagai
kreteria dalam memiliki tujuan. Seseorang akan berusaha mencapai segala
sesuatu yang menurut pandangannya memnpunyai nilai-nilai.
4. Nilai-nilai merupakan unsur penting, dan tidak dapat disepelekan
bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataanya , nilai-nilai berhubungan
dengan pilihan, dan pilihan merupakan persyaratan untuk mengambil suatu
tindakan.
Nilai-nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan ataupun
yang diinginkan, atau tentang apa yang boleh atau tidak boleh.

Jenis-jenis nilai, menurut intensitasnya, ada yang disebut nilai-nilai yang


tercernakan dan nilai-nilai yang dominan. Nilai-nilai yang tercernakan
(internalized values) merupakan suatu landasan bagi reaksi yang diberikan
secara otomatis terhadap situasi-situasi tingkah laku eksistensi, sedangkan
nilai-nilai tercernakan tidak dapat dipisahkan dari si individu, serta membentuk
landasan bagi hati nuraninya. Apabila terjadi pemerkosaan terhadap nilai-nilai
tersebut, maka akan timbul perasaan malu atau bersalah yang sulit dihapus.
Nilai tercernakan bagi individu-individu artinya individu itu menghayati atau
menjiwai suatu nilai sehingga akan memandang keliru pola perilaku yang tidak
sesuai dengan nilai tersebut.

Nilai yang dominan artinya nilai-nilai yang lebih diutamakan daripada


nilai-nilai lain. Fungsi nilai dominan ialah sebagai suatu latar belakang atau
kerangka patokan bagi tingkah laku sehari-hari. Kriteria apakah suatu nilai itu
dominan, ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut :

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
1. Luas tidaknya ruang lingkup pengaruh nilai tersebut dalam
aktivitas total dari sistem sosial.
2. Lama tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh masyarakat.
3. Gigih tidaknya (intensitas) nilai tersebut diperjuangkan atau
dipertahankan.
4. Prestise orang-orang yang menganut nilai, yaitu orang atau
organisasi yang dipacang sebagai pembawa.

III.3 Sistem - Sistem Nilai


Konsep sistem-sistem nilai budaya bermacam-macam, merupakan
alternatif-alternatif, yang menunjukkan bahwa macam-macam nilai dapat
mengandung suatu model menyeluruh untuk deskripsi dan studi perbandingan.
Diasumsikan bahwa perbedaan macam-macam dan tingkatan-tingkatan nilai
aturan-aturan khusus dan umum, cita-cita, norma-norma kriteria lainnya dalam
sikap mengatur, penilaian dan sanksi-sanksi, semuanya menyusun suatu nilai
budaya yang komplek (Ethel M. Albert, 1972)

III.4 Orientasi nilai budaya


Sistem nilai budaya dalam masyarakat dimana pun didunia, secara
universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :

1. Hakikat Hidup Manusia


2. Hakikat Karya Manusia
3. Hakikat Waktu Manusia
4. Hakikat Alam Manusia
5. Hakikat Hubungan Manusia

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam
bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin
Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.


Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu
yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki
oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-
Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta
keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi
segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu
masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan


yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya,
rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda
yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,
organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

III.5 Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan


lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945.
Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-
suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya


terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan
Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India
terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh
sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama
Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi
ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada
penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia


karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang
Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk
bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok
dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal
menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik.
Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada
kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.

Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh


pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
menuju Tiongkok.

Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan


penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk
kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern sebagaimana
yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan politik, sistem
sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana, perekonomian, dan
sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat yang lambat-laun
terintegrasi dalam masyarakat.

III.6 Nilai-nilai Budaya Nusantara


Keaneka ragaman budaya maupun makanan khas Nusantara sudah tidak
terbantahkan lagi. Nilai-nilai yang kental dan membedakan dengan daerah lain
merupakan suatu kekayaan yang tak terhingga nilainya. Kenyataan ini sudah
dikenal di seluruh dunia dan sangat dihargai oleh pihak-pihak luar. Bahkan
beberapa warisan budaya asli Nusantara sempat di klaim sebagai budaya
bangsa lain.

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa lain lebih menghargai budaya kita
dari diri kita sendiri. Terkadang kita lupa untuk bersyukur dengan menjadi
bangsa yang kaya akan warisan budaya tinggi nan luhur.

Setelah kejadian peng-klaim-an budaya kita oleh bangsa lain, bangsa kita
mulai sadar untuk ―kembali‖ mencintai budaya kita sendiri. Berbagai cara
mulai dilakukan untuk sekedar ―menunjukkan‖ bahwa ―…inilah budayaku, asli
milik Bangsa Indonesia..‖.

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam


dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang
mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan
karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan
prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi
misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan
atau organisasi.

Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :

1 Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata


(jelas)

2 Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto
tersebut

3 Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan


menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

KESIMPULAN

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan


lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945.
Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-
suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya


terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan
Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India
terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh
sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama
Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi
ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada
penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia


karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang
Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk
bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok
dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal
menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik.
Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada
kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.

Kebudayaan di Indonesia dipengaruhi oleh kebudayaan baik dari timur


maupun dari barat, sehingga kebudayaan di Indonesia mempunyai nilai yang
lebih di bandingkan dengan kebudayaan yang mempengaruhinya.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR PUSTAKA

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&task=view&id=153&.
..

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai-nilai_budaya

Sulaeman, M. Munandar, 1998, Ilmu Budaya Dasar,Bandung;PT. Uresco

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
ISLAM DAN BUDAYA KEJAWEN

Oleh:

Ria Virgis Arima (06550120)


Panji Dwi Saputro (09650198)
Andhika Azhar (09650202)
Muhammad Jazuli (09650204)

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Waktu demi waktu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa nilai-nilai


kebudayaan semakin luntur. Budaya Jawa adalah salah satunya. Budaya Jawa
yang kita kenal dahulu adalah sebuah budaya yang sangat kaya, baik dari segi
kesusastraanya dan juga dari segi mistik-mistiknya yang merupakan hasil dari
kepercayaan nenek moyang yakni animisme dinamisme dan juga setelah
masuknya Hindu.

Sebenarnya yang melatarbelakangi saya selaku penulis untuk membuat


makalah yang berjudul ― Islam dan Budaya Kejawen‖ ini adalah penulis hanya
ingin sekedar merefresh dan menyegarkan kembali ingatan kita betapa kaya dan
indahnya budaya kita dahulu. Terutama interaksi yang sangat indah dari budaya
Jawa dan Islam, dimana kedua pihak saling membutuhkan. Dari interaksi inilah
muncul sebuah budaya Jawa Baru dan tata bahasa Jawa yang biasa kita jumpai
sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas pada makalah ini dirumuskan sebagai berikut ini:

1. Apakah pengertian dari Kejawen dan bagaimana konsepnya ?


2. Bagaimana sejarah awal mula hubungan Kejawen dengan Islam ?

3. Bagaimana interaksi antara Islam dengan budaya Kejawen dan apa manfaat
atau dampaknya bagi keduanya ?

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Kejawen dan bagaimana konsep


dari kejawen tersebut.

2. Mengetahui sejarah awal mula hubungan Kejawen dengan Islam.

3. Mengetahui interaksi antara Islam dengan budaya Kejawen dan mengetahui


manfaat atau dampaknya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsepsi Teori

1. Pengertian Kejawen

Ada analisa budaya tentang "kejawen" yang terkenal sarat dengan berbagai
mitos mistik didalamnya. "kejawen" bukanlah sebuah sindikat ataupun lembaga
keagamaan yang mempunyai anggota resmi lengkap beserta perangkat-
perangkat lainnya, layaknya sebuah organisasi atau lembaga.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari "http://id.wikipedia.


org/wiki/"kejawen"". "Kejawen" merupakan sebuah kepercayaan atau mungkin
boleh dikatakan agama, yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan
suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. "kejawen" pun bukan merupakan
sebuah agama yang terorganisir sebagaimana agama Islam dan Kristen semisal.
Ciri khas utama agama "kejawen" ini adanya perpaduan animisme, agama hindu
dan budha, bahkan juga seluruh agama di Indonesia.

Akulturasi budaya di Indonesia yang menyebabkan banyaknya aliran agama


yang timbul. Sebut saja perbedaan – perbedaan yang kecil dalam puasa di
agama Islam. Bisa jadi hal ini merupakan produk budaya baru, hasil dari
akulturasi budaya yang sudah ada. Bahkan bukan saja berbentuk asimilasi, tetapi
lebih rumit lagi. Menurut Yos Rizal dalam artikelnya yang bartajuk
―Kesusastraan Islam Melayu dan "kejawen" di Indonesia‖, mengungkap Islam
masa lampau. Beliau menyebutkan bahwa jika ditilik ulang mengenai sejarah,
maka sejarah datangnya Islam pada abad ke- 13 masehi, atau mungkin
sebelumnya, menunjukan bahwa agama Islam yang tersiar di Indonesia adalah
Islam yang mentradisi, yang telah surut pemikirannya. Artinya Islam yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
datang adalah Islam kelas dua, disiarkan dan dikelola ulama-ulama kelas tabi'63
bukan kelas mujtahid. Maka wajar hingga abad ini, dimana Islam telah
menyebar selama berabad-abad di Indonesia, belum bisa melahirkan seorang
mujtahid ulung. Dan hingga kini pendidikan Islam masih mengutamakan
kuantitas, bukan kualitas.

Masih juga menurut Yos Rizal, salah satu penyebab timbulnya hal ini
dikarenakan, pegangan para ulama terdahulu Indonesia adalah kitab-kitab sastra
budaya ekspresif, yang irrasional, berdasarkan perasaan, intuisi dan imajinasi.
Sedangkan sastra budaya Islam (kitab-kitab agama) yang bermuatan progresif
dan ilmiah belum mendominasi pendidikan agama.

"Kejawen" yang merupakan sebuah produk percampuran dari berbagai


agama, sudah mentradisi dan melekat dalam sebuah kepercayaan baru,
khususnya bagi orang jawa, atau orang luar jawa yang hidup di sekitar pulau
jawa. "Kejawen" yang disebut oleh Clifford Geertz64 the religion of java atau
"Agami Jawi" ini bukan saja merupakan sebuah aliran kepercayaan, namun
khsusunya bagi orang jawa, "kejawen" merupakan gaya hidup dan sebuah
aturan norma yang sakral. Pada kenyataannya, "kejawen" ini banyak
bersinggungan dengan agama-agama, dan lebih melekat dengan budaya Islam.
Yakni berdasarkan pada percampuran Islam dan budaya "kejawen" yang dianut
oleh orang jawa. Hal ini memang melahirkan suatu budaya baru, yang
'mengeruhkan' budaya-budaya awal. Sehingga tidak dapat diketahui siapa yang
hitam dan siapa yang putih, karena "kejawen" berwarna abu-abu. Jadi jikalau
kita menghendaki warna yang hitam, maka salah satu dari 2 pilihan harus kita
hilangkan. Dan kejawen adalah pilihan warna ketiga yaitu abu-abu, dimana
kejawen adalah percampuran dari warna hitam dan putih.

63
Kelas pengikut
64
Seorang ahli antropologi Amerika Serikat
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
2. Konsep Kejawen Dipandang Dari Berbagai Segi Kehidupan

a. Kepercayaan
Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala
kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama
kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga
bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana
dan atas ijin serta kehendak-Nya.
b.SudutPandang
Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada
pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam
adikodrati65 yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang
menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada
garisnya,mereka hanya menjalankan saja. Dasar kepercayaan Jawa atau
Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada
hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang
kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan
demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan
pengalaman-pengalaman yang religius. Alam pikiran orang Jawa merumuskan
kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan
mikrokosmos.

Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup
terhadap alam semesta, yang mengandung kekuatan-kekuatan supranatural
(adikodrati). Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan
keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan
mikrokosmos.

65
Supranatural

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta
memiliki kirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan dan
adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna (dunia atas – dunia manusia -
dunia bawah). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat
yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

c. Pandangan Hidup

Sikap dan pandangan terhadap dunia nyata (mikrokosmos) adalah tercermin


pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam
masyarakat, tata kehidupan manusai sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak
oleh mata. Dalam menghadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia
ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya. Bagi orang Jawa dahulu, pusat
dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton, Tuhan adalah pusat
makrokosmos sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia
,sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua
alam. Jadi raja dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja
menjadi mikrokosmos dari wakil Tuhan dengan keraton sebagi tempat kediaman
raja. Keraton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja
karena rajapun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang
mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan
kesuburan wilayah.

Hal hal diatas merupakan gambaran umum tentang alam pikiran serta sikap
dan pandangan hidup yang dimiliki oleh orang Jawa pada jaman kerajaan. Alam
pikiran ini telah berakar kuat dan menjadi landasan falsafah dari segala
perwujudan yang ada dalam tata kehidupan orang Jawa.

d. Religius Orang Kejawen


Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen atau kejawaan adalah
Javanism, Javaneseness ; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur
kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang
mendefisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme yaitu agama beserta
pandangan hidup orang Jawa, yang menekankan ketentraman batin, keselarasan
dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil
menempatkan individu dibawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta
alam.

Neils Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu –


Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem
khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah
lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi
yang pada hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang menimbulkan
anthropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar
manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi dan
gaya Jawa. Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara
umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang dipergunakan
untuk menafsirkan kehidupan sebagaimana adanya dan rupanya. Jadi kejawen
bukanlah suatu katagori keagamaan, tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan
gaya hidp yang diilhami oleh cara berpikir Javanisme.

Dasar pandangan manusia jawa berpendapat bahwa tatanan alam dan


masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka menganggap bahwa
pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan, nasibnya sudah
ditentukan sebelumnya, jadi mereka harus menanggung kesulitan hidupnya
dengan sabar. Anggapan – anggapan mereka itu berhubungan erat dengan
kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek
moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan
rasa aman.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Kejawaan atau kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang
mengerti tentang rahasia-rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini
sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan
keturunan-keturunannya yang menegaskan adalah bahwa kesadaran akan
budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas di kalangan orang Jawa.
Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi kebanggaan dan identitas
kultural. Orang-orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa secara
mendalam yang dapat dianggap sebagai Kejawen.

e. Budaya dan Kultur

Budaya Jawa Kejawen memahami kepercayaa pada pelbagai macam roh-roh


yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau
penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk
melindungi semua itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar
yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain,
daun-daun bunga serta kemenyan.

Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa


Kejawen adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan
berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya : Senin – Kamis atau pada hari lahir,
semuanya itu merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat, orang dapat
menjadi lebih tekun dan kelak akan mendapat pahala. Orang Jawa kajawen
menganggap bertapa adalah suatu hal yang penting. Dalam kesusastraan kuno
orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat
karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini
dengan tinggi serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang
penting dapat tercapai. Kegiatan orang Jawa Kejawen yang lainnya adalah

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
meditasi atau semedi, menurut Koentjaraningrat meditasi atau semedi biasanya
dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-
tempat yang dianggap keramat misalnya di Gunung, Makam leluhur, ruang yang
mempunyai niali keramat dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan
meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

f. Konsep Ilmu Ghaib Kejawen

 Ilmu Ghaib
Sebelum membahas Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen, kita akan
memperjelas dulu pengertian Ilmu Gaib yang kita pakai sebagai istilah di sini.
Ilmu Gaib adalah kemampuan melakukan sesuatu yang tidak wajar melebihi
kemampuan manusia biasa, sering juga disebut sebagai Ilmu Metafisika, Ilmu
Supranatural atau Ilmu Kebatinan karena menyangkut hal-hal yang tidak
nampak oleh mata. Beberapa kalangan menganggap Ilmu Gaib sebagai hal yang
sakral, keramat dan terlalu memuliakan orang yang memilikinya, bahkan
menganggap wali atau orang suci.

Bahwa keajaiban atau karomah yang ada pada Wali (orang suci kekasih
Tuhan) tidak sama dengan Ilmu Gaib yang sedang kita pelajari. Wali tidak
pernah mengharap mempunyai keajaiban tersebut. Karomah itu datang atas
kehendak Allah karena mereka adalah orang yang sangat saleh dan rendah hati.
Sementara kita adalah orang yang meminta kepada Allah agar melimpahakan
kekuasaan-Nya untuk keperluan kita.

Dalam hasanah perkembangan Ilmu Gaib di Indonesia, kita mengenal dua


aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah
berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas doa/mantra yang murni
berbahasa Arab (kebanyakan bersumber dari Al-Quran). Sedangkan aliran
Kejawen yang ada sekarang sebetulnya sudah tidak murni kejawen lagi,
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
melainkan sudah bercampur dengan tradisi islam. Mantranya pun kebanyakan
diawali dengan basmalah kemudian dilanjutkan dengan mantra jawa. Oleh
kerena itu, saya menyebutnya Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen.

 Ilmu Ghaib Aliran Islam Kejawen


Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen bersumber dari alkulturasi66 budaya jawa
dan nilai-nilai agama Islam. Ciri khas aliran ini adalah doa-doa yang diawali
basmalah dan dilanjutkan kalimat bahasa jawa, kemudian diakhiri dengan dua
kalimat sahadad. Aliran Islam Jawa tumbuh syubur di desa-desa yang kental
dengan kegiatan keagamaan (pesantren yang masih tradisional).
Awal mula aliran ini adalah budaya masyarakat jawa sebelum islam datang yang
memang menyukai kegiatan mistik dan melakukan ritual untuk mendapatkan
kemampuan suparantural. Para pengembang ajaran islam di Pulau Jawa (Wali
Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut, melainkan memanfaatkannya sebagi
senjata dakwah.

Para Wali menyusun ilmu-ilmu Gaib dengan tatacara lelaku yang lebih
islami, misalnya puasa, wirid mantra bahasa campuran arab-jawa yang intinya
adalah do'a kepada Allah. Mungkin alasan mengapa tidak disusun mantra yang
seluruhnya berbahasa Arab adalah agar orang jawa tidak merasa asing dengan
ajaran-ajaran yang baru mereka kenal.

Di Indonesia, khususnya orang jawa, pasti mengenal Sunan Kali Jaga


(Raden Said). Beliau inilah yang paling banyak mewarnai paham Islam-kejawen
yang dianut orang-orang jawa saat ini. Sunan Kali jaga menjadikan kesenian dan
budaya sebagai kendaraan dakwahnya. Salah satu kendaran Sunan Kali Jaga

66
Penggabungan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dalam penyebaran ajarannya adalah melalu tembang / kidung. Kidung-kidung
yang diciptakannya mengandung ajaran ketuhanan dan tasawuf yang sangat
berharga. Ajaran islam yang luwes dan menerima berbagai perbedaan.
Bahkan Sunan Kali Jaga juga menciptakan satu kidung "Rumeksa Ing Wengi"
yang menurut saya bisa disebut sebagai Ilmu Gaib atau Ilmu Supranatural,
karena ternyata orang yang mengamalkan kidung ini memiliki berbagai
kemampuan supranatural.

Setiap perilaku manusia akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan
seseorang. Perilaku-perilaku tertentu yang khas akan menimbulkan bekas yang
sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi
kemampuan manusia biasa. Perilaku tertentu ini disebut dengan tirakat, ritual,
atau olah rohani. Tirakat bisa diartikan sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk

mendapatkan suatu ilmu.

Penabungan Energi

Karena setiap perilaku akan menimbulkan bekas pada seseorang maka ada
suatu konsep yang khas dari ilmu Gaib Aliran Islam Jawa yaitu Penabungan
Energi. Jika badan fisik anda memerlukan pengisian 3 kali sehari melalui makan
agar tetap bisa beraktivitas dengan baik, begitu juga untuk memperoleh
kekuatan supranatural, perlu mengisi energi. Hanya saja dalam Ilmu Gaib
pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan
energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu
yang ingin dikuasai. Cara-cara penabunganenergi lazim disebut Tirakat.

Tirakat

Aliran Islam Kejawen mengenal tirakat (syarat mendapatkan ilmu) yang


kadang dianggap kontroversial oleh kalangan tertentu. Tirakat tersebut bisa
berupa bacaan doa. wirid tertentu, mantra, pantangan, puasa atau penggabungan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dari kelima unsur tersebut. Ada puasa yang disebut patigeni (tidak makan,
minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain.
Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang
harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang
melakukantirakat.

Khodam

Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam adalah mahluk ghaib yang
menjadi "roh" suatu ilmu. Khodam itu akan selalu mengikuti pemilik ilmu.
Khodam disebut juga Qorin, ialah mahluk ghaib yang tidak berjenis kelamin
artinya bukan pria dan bukan wanita, tapi juga bukan banci. Dia memang
diciptakan semacam itu oleh Allah dan dia juga tidak berhasrat kepada manusia.
Hal ini berbeda dengan Jin yang selain berhasrat kepada kaum jin sendiri
kadang juga ada yang "suka" pada manusia.

B. Pembahasan

1. Sejarah Hindu Kejawen dan Masuknya Islam

Bukti-bukti tertua adanya negara-negara Hindu Jawa berupa prasasti-prasati


dai batu yang ditemukan di pantai utara Jawa Barat, kurang lebih 60 km sebelah
timur kota Jakarta di lembah sungai Cisadane. Walaupun tidak ada tanggal pada
prasati tersebut, tetapi dilihat dari bentuk dan gaya huruf India Selatan dan
tulisannya dapat diketahui bahwa prasati itu merupakan disripsi mengenai
beberapa upacara yang dilakukan oleh seorang raja untuk merayakan peresmian
bangunan irigasi dan bangunan agama dalam abad 4-masehi. Raja ini adalah
orang Indonesia yang berusaha meniru gaya hidup India, dengan memakai
nama-nama Hindu dan mengundang orang-orang Brahmana dari India sebagai
konsultan yang dapat memperkenalkan peradaban intelektual dan kesusastraan
Hindu di istananya (Coedes 1948). Petunjuk dari para Brahmana tersebut adalah
mengenai organisasi upacara kerajaan, sebagai dasar dari suatu system kerajaan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
yang diperintah oleh seorang raja keramat. Kebudayaan intelektual Hindu itu
mungkin telah mendominasi hampir seluruh Asia Tenggara pada waktu itu,
tetapi pengaruhnya terbesar adalah terhadap masyarakat istana; sedangkan
konsep-konsep Hindu hanya sedikit yang mempengaruhi masyarakat petani di
daerah pedesaan, yang cara hidupnya barangkali tidak banyak berubah sejak
berabad-abad yang lalu. (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, hal 38).

Jadi pada abad ke-4 masehi suku Jawa telah mengenal huruf dan
kebudayaan intelektual India Selatan. Dan kebudayaan intelektual India itu
dengan filsafat kenegaraan dan mitologi dewa-dewanya telah disadap untuk
memperluas kekuasaan raja dan melahirkan lapisan cendikiawan priyayi dan
lingkungan istana. Pada abad ke-8 dan ke-9 budaya intelektual kejawen terus
menanjak dan ini tampak pada relief-relief bangunan keagamaan candi
Borobudur dan Prambanan.

Suatu hal yang perlu adalah Hinduisme itu mempunyai dasar pemikiran
yang sejalan dengan religi animisme-dinamisme. Yakni bahwa menusia bisa
menjalin hubungan langsung dengan dewa-dewa dan roh-roh halus, bahkan
dengan laku tapa(Tapak Brata) manusia bisa jadi sakti dan mengalami bersatu
dengan dewanya. Jadi pengaruh Hinduisme justru menyuburkan dan
meningkatkan laku keprihatinan para dukun dalam mempengaruhi roh-roh dan
gaya ghaib.

Kebudayaan intelektual Hindu-Budha yang disadap dan diolah oleh para


cendekiawan Jawa memang berkuminasi pada filsafat mistik yang patheis.
Yakni yang memandang bahwa manusia merupakan jagad cilik dan merupakan
pencerminan atau bentuk mini bagi jagad gedhe 67 dan Tuhan (Brahman). Ciri
utama dari setiap ajaran mistik pasti menyuburkan pada kepercayaan yang
berbentuk mitologi dan system pendidikan yang guruisme. Maka mistik

67
Alam semesta

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Hinduisme dan Budhisme memberikan dukungan pengukuha wibawa raja-raja
Jawa dengan konsep Raja Titising Dewa. Cerita mitologi pewayang ini
merupakan sarana yang paling halus dan paling efisien untuk memperluas
kekuasaan dan mempropagandakan kekeramatan sang raja beserta kelas para
priyayi pendukung utamanya. Maka mudah dibayangkan bahwa filsafat mistik
beserta cerita-cerita mitologis amat mengakar dalam budaya kejawen yang
sangat ekspresif, yang mereka nilai sangat halus dan adi-luhung.

Islam yang mulai menyebar ke Indonesia semenjak abad ke-13 M, ternyata


pada mulanya sulit menembus dan diterima di lingkungan tradisi besar budaya
Hindu Kejawen yang berpusat di istana kerajaan pedalaman. Oleh karena itu
perpaksa harus mulai dengan bekerja keras meng-Islamkan masyarakat petani
pedesaan, terutama di sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Daerah-daerah
pedesaan yang semula merupakan tradisi kecil dengan masyarakat yang buta
huruf akhirnya bisa disulap jadi tradisi besar tandingan bagi budaya Hindu-
Kejawen. Yakni dengan mengembangkan sastra budaya agama terutama yang
berbahasa Arab. Naskah Jawa tertua yang bisa diselamatkan oleh pelayaran
Belanda, dalam pembahasan ilmiah kemudian terkenal dengan nama Het Boek
van Bonang. Naskah Islam yang diperkirakan ditulis di Tuban pada abad ke-16
M ini disebutkan bahwa sumbernya dari Ihya‘ Ulum al-Din dan Tauhid. Jadi
kitab Ihya‘ yang merupakan kitab tasawuf yang paling besar dan masyur telah
dikenal di Jawa. Sehingga mudah dibayangkan pada abad tersebut baik secara
politik (berdirinya kerajaan Jawa-Islam di Demak), ataupun dalam sastra budaya
pesantren, telah menjadi tradisi besar tandingan bagi budaya Hindu Kejawen
yang berpusat di majapahit saat itu. Bahkan kemudian kerajaan Majapahit jatuh
dan kekuasaan politik beralih ke kerajaan Jawa-Islam Demak. Menurut sejarah,
Islam yang datang dan menyebar ke Indonesia memang Islam yang telah
dipengaruhi oleh ajaran mistik. Yakni Islam sufi bukan Islam sunni yang syar‘i.
Memang semenjak abad ke 13 yaitu sejak surutnya kebesaran kota Baghdad
sebagai pusat kebudayaan Islam Sunni (Syar‘i) maka bermulalah dominasi
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Isalm sufi. Karena yang menyebar ke Indonesia adalah Islam sufi, maka
ajarannaya telah dimistikkan inti tentu punya dasar pemikiran yang sejajar
dengan religia asli animisme dan dinamisme. Bahkan dengan ajaran Hindu-
Kejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa pedalamannya, juga
sama-sama mistik, tentu punya dasar pemikiran yang sejalan., yaitu bahwa
manusia bisa menjalin hubungan langsung dengan daya-daya dan roh-roh
ghaib. Dan melalui samadi atau dengan perantaraan dzikir manusia dikatakan
bisa makrifat(bersatu) kembali dengan Tuhannya. Maka tidak ada masalah bagi
para petani pedesaan untuk meningktkan pemujaan mereka dari roh-roh ghaib
kepada roh wali-wali yang sakti, semisal Syeh Abdul Qadir al-Jailani dan
lainnya.

Demikian pula priyayi penganut tradisi budaya Kejawen tidaka ada masalah
menyadap dan mengolah unsure-unsur filsafat mistik Islam untuk dipadukan
dengan warisan tradisi budaya Hindu-Kejawen. Bagi mereka hanya menambah
dan menyempurnakan ataupung mengganti objek mitologinya dari dewa-dewa
Hindu kepada wali-wali dalam Islam. Bagi para priyayi Jawa sejak dulu yang
penting dan nomor satu adalah kedudukan atau kekuasaan politik, dan bukan
agama.Oleh karena itu sewaktu kekuasaan negara berpindah dari kerajaan
Majapahit ke kesultanan Demak, para pujangga Jawa segera menyodorkan
konsep peralihan zaman. Yakni dari zaman Kabudan (zaman Hindu-Kejawen)
ke zaman Kewalen. Realisasi peralihan zaman ini diikuti perekayasaan
penyusunan dongeng wali Sanga untuk mengganti mitologi tentang
68
Jawata Sanga zaman jawa-Hindu. Dan melakukan upaya mengolah unsure-
unsur Islam bagi peningkatan dan pengayaan serta penghalusan warisan budaya
pra-Islam. Inilah proses kegiatan Jawanisasi unsur-unsur Islam.

68
Pimpinan para dewa

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Pada zaman Mataram terjadilah puncak kebesaran sastra budaya Kejawen,
dari yang bersifat moralis dan mitologis seperti ―Babad Tanah Jawa‖,‖Babad
Demak‖, ―Babad Giyanti‖, ―Serat Ambiya‖, ―Tapel Adam‖, dan lain-lain.
Demikian pula puncak kehalusan bahasan dan sastra Jawa yang berwatak
feodalis adalah hasi dari zaman itu, sedang zaman Jawa pertengahan dan kuno,
bahasanya lebih sederhana dan demokratis. Karena menanjaknya kehalusan
sastra Jawa itu berkaitan dengan hilangnya kekuasaan zaman penjajahan pada
era Surakarta, maka puncak sastra adalah sangat mistis dan feodalis. Hal ini
merupakan kompensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa. Yakni
melalui pengkramatan, pemitosan dengan sarana konsep-konsep mistik.

Jadi ilmu Kejawen atau Islam Kejawan itu sangat kompleks. Dari
kepercayaan animisme-dinamisme denga system pedukunannya, yakni dukun
prewang ataupun kesurupan roh-roh halus, sampai konsep-konsep mistik
Hinduisme, terpadu menjadi satu. Masyarakat pesantren juga banyak
mengadopsi tradisi dan kepercayaan animisme-dinamisme dengan ilmu jampi-
jampi ataupun tenungnya. Demikian budaya Islam Kejawen yang KeHinduan
yang dikembangkan para priyayi Jawa di lingkungan istana, tradisi-tradisi dan
kepercayaan animisme-dinamisme beserta mistik kejawennya tetap
dikembangkan demi mendukung tegaknya kerajaan dan wibawa kelas priyayi.
Dalam masyarakat pesantren tersusupi kepercayaan-kepercayaan dan tradisi
animisme-dinamisme. Sebaliknya dalam tradisi besar budaya Kejawen yang
terjadi adalah proses Jawanisasi unsure-unsur Islam, terutama unsur-unsur
sufismenya.

2. Interaksi Islam dan Budaya Jawa

Dari beberapa uraian sebelumnya, jelaslah bahwa tidak ada benturan yang
berate antara Islam dan budaya Jawa. Antara kedua belah pihak saling

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mendukung dan saling membutuhkan. Para penyebar Islam yang umumnya
dipimpin para sufi tidak punya ilmu untuk memerintah dan tidak ingin merebut
pemerintahan dari tangan raja-raja Jawa. Mereka hanya membutuhkan
perlindungan ataupun bantuan dari pemerintah. Demikian pula para raja-raja
Jawa sangat membutuhkan dukungan umat Islam sejak berakhirnya kerajaan
Majapahit. Bagi masyarakat pesantren, agama adalah nilai nomor satu dan
segalanya, sebaliknya para penguaasa dan pendukung sastra budaya Jawa
kedudukan dan kekuasaan politik yang nomor satu. Maka sesudah Sultan Agung
berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapat dukungan masyarakat
pesantren, segera menyadari perlunya menetapkan strategi budaya untuk
menghubungkan dua lingkungan budaya. Yakni lingkungan budaya pesantren
dengan sastra budaya agama yang berbahasa Arab, dan lingkungan budaya
Kejawen dengan sastra budaya Jawa yang berpusat dalam lingkungan istana
kerajaan-kerajaan Jawa. Strategi ini dimulai dengan mengganti perhitungan
tahun Saka yang berdasar perjalanan matahari, menjadi perhiutngan tahun Jawa
yang berdasar perjalanan bulan, dan disesuaikan dengan perhitungan tahun
Hijriah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari, diintegrasikan dengan
Mingguan Jawa yang terdiri dari lima harian, menjadi Senen Wage, Selasa
Kliwon, dan seterusnya. Demikian nama bulan Jawa disesuaikan dengan nama
bulan Hijriah, menjadi Sura, Mulud, dan seterusnya.

Strategi yang dicangkan Sultan Agung diatas ternyata menggairahkan para


sastrawan Kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam untuk menyusun
karya-karya baru dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur ajaran Isalm
untuk memperkaya sastra Jawa. Dari ketekunan ini para sastrawan Jawa segera
mengenal bahwa ajaran Islam telah berkembang cukup kompleks. Dari aspek
syariat formal yang sering mereka nilai kaku dan formalis legalis, ternyata juga
memiliki aspek ajaran filsafat sufisme yang amat halus dan kaya-raya. Dan
kemudian aspek filsafat mistik sufisme yang sangat menarik perhatian mereka,

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
mereka sadap dan mereka olah untuk memperhalus dan memperkaya sastra
mereka.

Usaha ini berhasil mencuatkan perkembangan sastra Jawa baru, dimana


bahasa dan sastra Jawa menjadi lebih bergaya feudal dengan menciptakan
bahasa Jawa Ngoko untuk kelas rendahan, Kromo untuk menghormati orang-
orang yang lebih tua, dan Kromo inggil untuk menghormati para priyayi.
Penciptaan cerita mitos tentang Walisanga, sekaligus menyodorkan proses
peralihan zaman, dari zaman Kabudan(zaman Majapahit, Hindu) ke zaman
Kewalen(zaman Islam). Maka pada zaman Kewalen apabila ada seorang priyayi
atau orang bertapa yang memberi wangsit(wahyu) bukan lagi dewa-dewa
melainkan Sunan Kalijaga(Wali). Dan wayang yang ceritanya bersumber dari
serat Mahabarata dan Ramayana yang jelas Hinduisme dicoba untuk di-
Islamkan, yakni dengan mengatakan bahwa wayang itu bikinan para Wali, dan
bahwa raja Ngamarta punya azimat yang sangat keramat, yaitu serat Kalimasada
yang ternyata isinya adalah Kalimat Syahadad.

3. Analisis

Hubungan Islam dan Kejawen awal mulanya terjadi pada saat Islam masuk
ke Tanah Jawa yaitu pada abad ke-13M. Sebenarnya Islam yang tersebar
pertama kali di Tanah Jawa tersebut adalah Islam Sufi, yaitu Islam yang sudah
dipengaruhi oleh ajaran mistik. Penyebarannya pertama kali dilakukan di sekitar
pesisir pantai. Ternyata agama Islam mendapat respon yang positif dari rakyat,
rakyat tertarik karena dalam Islam tidak ada ajaran kasta yang membeda-beda
manusia pada kelas-kelas yang tentu sangat tidak manusiawi. Dan menurut
sejarah ada factor lain yang menyebabkan penyebaran Islam sangat lancar,
factor tersebut adalah ajaran-ajaran mistik yang terkandung dalam Islam Sufi
tersebut. Karena yang menyebar ke Indonesia adalah Islam sufi, maka

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
ajarannaya telah dimistikkan ini tentu punya dasar pemikiran yang sejajar
dengan religi asli animisme dan dinamisme. Bahkan dengan ajaran Hindu-
Kejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa pedalamannya, juga
sama-sama mistik, tentu punya dasar pemikiran yang sejalan.

Sebenarnya pada saat itu Islam dan budaya Kejawen tidak


bertentantangan, malah bisa dikatakan Islam sangat membutuhkan budaya
Kejawen dalam penyebarannya. Hal ini terlihat jelas dalam metode-metode yang
dipakai oleh para Wali dalam menyebarkan Islam. Contoh yang sangat nyata
menurut sejarah adalah pengubahan nilai-nilai dalam wayang yang dulunya
sarat dengan Hindu-kejawen dengan nilai-nilai Islam dan melakukan pagelaran
wayang tersebut di halaman masjid. Salah satu nilai tersebut dalam lakon
Wayang adalah ‗Sastra Jendra‘ yang dikenal sebagai ilmu pamungkas yang
sangat sakti.

Ilmu ‗Sastra Jendra‘ ini adalah ilmu Makrifat yang hanya didapat
setelah"LELAKU". Sastra Jendra inilah yang wahyu pertama kali diterima oleh
Baginda Rosullulah Muhammad SAW di gua hira. ―IQRA‖ itulah sastra jendra.
Sastra Jendra artinya adalah Ayat Allah. Sastra=ayat, Jendra=Tuhan/Allah

Siapa yang menguasai Sastra Jendra, dalam lakon wayang akan mengetahui
ilmu rahasia di alam semesta. Dia akan dapat berkomunikasi dengan Tuhan
sehingga segala tabir ato hijab akan disingkapkan. Dan Sastra Jendra ini sangat
mungkin untuk dicapai oleh semua manusia yang melakukan disiplin spiritual
secara khusyuk dan istiqomah .Untuk itu, akulturasi budaya yang diberikan
untuk mencapai Iqra, adalah untuk menguasai Sastra Jendra diberikan dalam
huruf Jawa.

Setelah runtuhnya Majapahit, kekuatan Islam di tanah Jawa meningkat dan


mangalami puncaknya pada masa kerajaan Mataram. Para sastrawan Jawa saat
itu pula mulai dikenalkan dengan ajaran Islam. Hasil akulturasi sastra Jawa dan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Islam ini menghasilkan sebuah sastra budaya Jawa Baru yang lebih halus,
dengan salah satu hasilnya adalah terciptanya bahasa Jawa ngoko, kromo dan
kromo inggil.

Poin penting yang bisa kita lihat dalam interaksi Islam dan budaya Kejawen
disini adalah keuntungan pada kedua belah pihak. Islam bisa tersebar luas di
tanah Jawa berkat mengadopsi budaya Kejawen, dan berkat masuknya Islam
sastra Jawa bisa bertambah kaya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

STUDI KASUS

A. Studi Kasus

Dalam makalah ini saya akan mengambil studi kasus di desa saya sendiri.
Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran – Malang. Di desa saya ini masih terdapat
beberapa budaya Islam-Kejawen yang masih melekat kuat. Beberapa
diantaranya adalah adanya kegiatan jamaah tahlil. Kegiatan ini dilakukan setiap
hari Kamis malam Jumat setelah sholat Isya‘ dan untuk tempatnya bergilir dari
satu rumah ke rumah yang lain dalam lingkup satu RT. Kegiatan tahlil ini
dipimpin oleh seorang Kyai, sebagai sosok yang paling dihormati di desa saya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Gambar. Kegiatan tahlil yang diadakan di salah satu rumah warga

Salah satu alasan yang bisa saya tangkap dari latar belakang kegiatan tahlil
ini adalah untuk mendoakan keluarga yang punya rumah dan juga orang-orang
yang telah meninggal dalam keluarga tersebut. Karena warga desa saya
khususnya percaya bahwa nyawa orang-orang yang telah meninggal akan
kembali ke rumah mereka masing-masing pada malam Jumat. Nyawa orang-
orang tersebut akan mengawasi rumah mereka dari luar untuk mengetahui apa-
apa yang dilakukan anggota keluarganya, jika anggoa keluarganya sedang
melakukan ibadah dan mendoakannya maka ia akan segera kembali ke alam
kubur dengan bahagia dan tenang akan tetapi jika sebaliknya maka arwah
tersebut akan bersedih dan terus menangis sambil kembali pulang ke alam
kubur. Maka dari itu kegiatan tahlil yang merupakan warisan dari Walisanga ini
dilaksanakan untuk membantu yang punya rumah untuk mengirim doa kepada
famili yang telah meninggal agar bisa tenang dan bahagia di alam kubur.

Untuk keluarga yang lain bisa mengikuti tahlil setelah sholat Maghrib di
masjid- masjid ataupun musholla, yang tujuannya sama dengan yang telah
dipaparkan di atas.

B. Analisis Studi Kasus

Saya akan mengalisa studi kasus diatas dengan sudut pandang dari beberapa
segi, antara lain :

a. Segi Agama
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Kegiatan tahlil ini jika dilihat dari kacamata Islam maka bisa dikelompokkan
kedalam bid‘ah. Bid‘ah adalah segala sesuatu yang tidak atau belum ada pada
masa Rasulullah SAW. Bid‘ah sendiri dibagi menjadi bid‘ah yang dilarang
agama dan bid‘ah yang diperbolehkan, bid‘ah yang dilarang tentu saja bid‘ah
yang melenceng dari syara‘ Islam dan adapun yang diperbolehkan adalah
selama bid‘ah itu tidak melenceng dari syara‘ ataupun aqidah Islam.

Jika kita melihat faedah dari kegiatan tahlil ini, maka dengan jelas ini adalah
bid‘ah yang diperbolehkan, karena dengan adanya kegiatan ini anggota keluarga
bisa terbantu dalam mengirim doa kepada anggota keluarga yang telah
meninggal. Tentu kita tahu bahwa doa banyak orang akan lebih baik daripada
doa sendirian. Apalagi jika jika doa itu dikirim oleh 40 orang ataupun lebih,
maka doa itu mempunyai kekuatan seperti doa nabi ataupun wali.

b. Segi Sosial

Dari segi sosial jelas kegiatan tahlil ini mempunyai banyak faedah positif.
Beberapa yang paling utama adalah kegiatan ini bisa memupuk rasa persatuan
dan kebersamaan warga. Warga dengan kegiatan ini bisa tetap menjaga tali
silaturrahmi satu sama lain dan tetap bisa menjaga komunikasi antar warga.
Kegiatan ini juga bisa menumbuhkan rasa persamaan antar warga, karena
kegiatan ini dilaksanakan pada setiap rumah warga secara bergilir dan tidak
mengindahkan itu rumah orang kaya atau miskin dan ini secara langsug atau
tidak langsung akan mengurangi kesenjangan sosial.

c.Segi Politik

Setelah acara tahlil biasanya jika ada urusan tentang desa yang sangat
penting maka akan diadakan diskusi singkat antara warga, tokoh masyarakat dan
ketua RT. Biasanya masalah yang dibahas mengenai sarana dan prasarana desa

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
seperti masalah lampu penerangan jalan atau masalah kebersihan desa. Jika
dilihat secara seksama maka kegiatan ini juga bisa memupuk rasa kebersamaan
antara penguasa (ketua RT) dengan masyarakat. Kegiatan ini juga bisa
melahirkan seorang penguasa yang mengerti akan keinginan masyarakat.

d. Segi Budaya

Tahlil pertama kali diciptakan oleh para Walisanga dalam mensy‘arkan


agama Islam. Kegiatan tahlil mungkin tidak akan ditemui di negara-negara
Islam lain ataupun secara khusus di pulau-pulau luar Jawa. Tahlil telah menjadi
salah satu ciri umat Islam Jawa yang mungkin tidak akan ditemui di tempat lain.
Budaya tahlil sendiri sekarang sudah merupakan budaya yang hampir hilang,
karena kita tahu generasi muda sekarang sudah banyak yang melupakannya.
Jika dilihat dari banyaknya manfaat sudah sepatutnyalah kita melestarikan
kembali budaya tahlil ini.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Kesimpulan yang bisa diambil dari makalah ini adalah bahwa Islam dan
budaya Kejawen tidak ada benturan sama sekali. Poin penting yang bisa kita
lihat dalam interaksi Islam dan budaya Kejawen disini adalah keuntungan pada
kedua belah pihak. Islam bisa tersebar luas di tanah Jawa berkat mengadopsi
budaya Kejawen, dan berkat masuknya Islam sastra Jawa bisa bertambah kaya.

Adapun manfaat dari akulturasi Islam dan budaya Kejawen, khususnya bagi
sastra Jawa adalah :

1. Menambah kekayaan sastra Jawa denga munculnya berbagai suluk Jawa,


semisal ―Suluk Quthub‖, ―Suluk Sukma Lelana‖, Suluk She Amongraga‖.
2. Munculnya serat babad, seperti ―Babad Demak‖, Babad Tanah Jawa‖,
―Babad Tapel Adam‖, dan lainya.
3. Kebangkitan sastra budaya Jawa Baru, dengan salah satu hasilnya adalah
terciptanya bahasa Jawa ngoko, kromo dan kromo inggil.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari makalah ini, maka makalah ini disarankan
kepada:

1. Para pemerharti budaya.


2. Masyarakat umum, khususmya masyarakat Jawa.
3. Seluruh mahasiswa-mahasiswi pecinta budaya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR PUSTAKA

Simuh.2000. Keunikan Interaksi Islam dan Budaya Jawa.diluncurkan pada acara


Seminar Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa, 31 Nopember 2007.

http://netlog.wordpress.com/home/falsafah-Jawa-kejawen-dan-Islam<<Mari-
memahami-lebih-baik.htm diakses tanggal 18 Desember 2007.

http://aindra.blogspot.com/search/label/Budaya.htm diakses tanggal 18 Desember


2007.

http://www.albarokah.or.id/ Asyura'-Dalam-Perspektif-Islam,Syi'ah-dan-
Kejawen.htm diakses tanggal 18 Desember 2007.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
( Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara )

Lilik Shofiyatin (06550102)

Okvan Dwi Laksono .S (09650203)

Syaiful Bahri ( 09650207 )

Aang Khunaefi ( 09650216 )

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan
Hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
banyak memberikan inspirasi kepada penyusun sehingga terselesaikanlah tugas
makalah ini, walaupun masih banyak kekurangan atas semuanya dalam makalah
ini. Sebagaimana kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, makalah ini
sangatlah jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata, penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua


pihak yang membantu dalam penyelesaian dalam makalah ini. Ucapan terima
kasih juga kami ucapkan kepada Ibu Ni‘matuzzuhroh, M.Si selaku dosen mata
kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD).

Malang, September 2009

Penyusun

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Daftar isi

Kata pengantar .............................................................................................................. 1

Daftar isi ....................................................................................................................... 2

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang .................................................................................................. 3


B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 5

Bab II Konsepsi Teori

A. Pengertian Agama ............................................................................................. 6


B. Agama dan Budaya ........................................................................................... 7
C. Agama dan Budaya Indonesia ........................................................................... 9
D. Proses masuknya Islam Ke Indonesia .............................................................. 11
E. Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara .......................................................... 21
F. Eksklusivisme Islam menuju Inklusivisme ...................................................... 24

Bab III Studi Kasus .................................................................................................. 28

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Bab IV Analisa dan Kesimpulan .............................................................................. 30

Daftar Pustaka .......................................................................................................... 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak abad ke-1 Hijriah atau abad ke-7 Masehi, kawasan Asia Tenggara
mulai berkenalanan dengan ―tradisi‖ Islam, meskipun frekuensinya tidak terlalu
besar. Pengenalan ini berlangsung sejalan dengan munculnya para saudagar
Muslim di beberapa tempat di Asia Tenggara. Bukti tertua adanya ―komunitas‖
Muslim di Asia Tenggara adalah dua buah makam yang bertarikh sekitar abad ke-
5 Hijriah/ke-11 Masehi di Pandurangga (kini Panrang, Viet Nam) dan di Leran
(Gresik, Indonesia).

Kehadiran Islam secara lebih nyata di Indonesia terjadi pada sekitar abad
ke-13 Masehi, yaitu dengan adanya makam dari Sultan Malik as-Saleh yang
mangkat pada bulan Ramadhan 696 Hijriah/1297 Masehi. Ini berarti bahwa pada
abad ke-13 Masehi di Nusantara sudah ada institusi kerajaan yang bercorak Islam.

Para saudagar Muslim sudah melakukan aktivitas dagangnya sejak abad


ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara sudah
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
melakukan hubungan dagang dan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam di
Timur Tengah. Bukti-bukti arkeologis yang mendukung ke arah itu ditemukan di
Laut Jawa dekat Cirebon. Di antara komoditi perdagangan yang asalnya dari
Timur Tengah ditemukan indikator ―keIslaman‖ yang berupa sebuah cetakan
tangkup (mould) yang bertulisan asma‗ul husnah.

Meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia menganut paham Sunni,


namun pada prakteknya saat ini di Sumatra dan Jawa menganut paham Syi‗ah.
Data arkeologis menunjukkan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari
Persia melalui Gujarat, kemudian dibawa oleh para saudagar ke Asia Tenggara,
khususnya Indonesia dan Semenanjung Tanah Melayu.

Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima


akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan
norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain.
Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu
diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas
budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan
great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut
dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga
Islamicate, bidang-bidang yang ―Islamik‖, yang dipengaruhi Islam.

Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen,


atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran
dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi
keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola
bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center
(pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran).

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasan-
kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini
mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang
meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-
karya yang dihasilkan masyarakat.

Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini
kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan
menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh
kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang
tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi
lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap
budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar;
mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asliu;
dan memilkiki kemampuanmengendalikan dan memberikan arah pada
perkembangan budaya selanjutnya.

Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat


Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks
inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia.
Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang
dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan
dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan
―akulturasi budaya‖, antara budaya local dan Islam.

B. Rumusan Masalah

 Kapan Islam masuk ke Indonesia?


 Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia?
 Bagaimana implikasi masuknya Islam terhadap budaya di Indonesia?

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
 Bagaimana proses asimilasi Islam dengan masyarakat Indonesia?
 Bagaimana proses terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya
Nusantara?

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB II

KONSEPSI TEORI

A. Pengertian Agama

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan
gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak
kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang
atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam
sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda
berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar
hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya.
Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang
moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.

Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris)
yang berasal dari kata religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang
berarti mengikat. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian
bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi
(vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal. 69

Agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas


tertinggi secara misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan Dalam
pertemuan itu manusia tidak berdiam diri, ia harus atau terdesak secara batiniah
untuk merespons.Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan religare dalam arti
melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan
tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam hidupnya.

69
Mulyono Sumardi, Penelitian Agama, Masalah dan Pemikiran, hal. 71

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Islam juga mengadopsi kata agama, sebagai terjemahan dari kata Al-Din
seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur‘an surat 3 : 19 ( Zainul Arifin Abbas,
1984 : 4). Agama Islam disebut Din dan Al-Din, sebagai lembaga Ilahi untuk
memimpin manusia untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Secara
fenomenologis, agama Islam dapat dipandang sebagai Corpus syari‘at yang
diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya, karena melalui syari‘at itu
hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Cara pandang ini membuat agama
berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin.

Komaruddin Hidayat seperti yang dikutip oleh muhammad Wahyuni Nifis


(Andito ed, 1998:47) lebih memandang agama sebagai kata kerja, yaitu sebagai
sikap keberagamaan atau kesolehan hidup berdasarkan nilai-nilai ke Tuhanan.

Walaupun kedua pandangan itu berbeda sebab ada yang memandang


agama sebagai kata benda dan sebagai kata kerja, tapi keduanya sama-sama
memandang sebagai suatu sistem keyakinan untuk mendapatkan keselamatan
disini dan diseberang sana.

Dengan agama orang mencapai realitas yang tertinggi. Brahman dalam


Hinduisme, Bodhisatwa dalam Buddhisme Mahayana, sebagai Yahweh yang
diterjemahkan ―Tuhan Allah‖ (Ulangan 6:3) dalam agama Kristen, Allah subhana
wata‘ala dalam Islam.

Sijabat telah merumuskan agama sebagai berikut:

―Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap selaku
jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.
Keprihatinan yang maha luhur itu diungkapkan dalam hidup manusia, pribadi atau

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kelompok terhadap Tuhan, terhadap manusia dan terhadap alam semesta raya
serta isinya‖.

Uraian Sijabat ini menekankan agama sebagai hasil refleksi manusia


terhadap panggilan yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Hasilnya diungkap dalam
hidup manusia yang terwujud dalam hubungannya dengan realitas tertinggi, alam
semesta raya dengan segala isinya. Pandangan itu mengatakan bahwa agama
adalah suatu gerakan dari atas atau wahyu yang ditanggapi oleh manusia yang
berada dibawah.

B. Agama dan Budaya

Budaya menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem, gagasan,


tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik manusia dengan belajar. 70

Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari


antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang,
berrelasi dalam masyarakat adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat
dalam soal teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam fikiran yang kemudian
terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, ethos kerja dan pandangan hidup.
Yojachem Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang
immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran
terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana
mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan.

70
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, hlm. 170

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Lebih tegas dikatakan Geertz, bahwa wahyu membentuk suatu struktur
psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang
menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku
mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi
juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan. 71

Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari


proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif
pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu
faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang


berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu
agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di
Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara
pengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juga nuansa yang membedakan Islam
yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme adalah kuatdengan
yang tidak. Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di Bali dengan
Hinduisme di India, Buddhisme di Thailan dengan yang ada di Indonesia. Jadi
budaya juga mempengaruhi agama. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh
dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi
objektif dari kehidupan penganutnya (Andito,ed,1998:282).Tapi hal pokok bagi
semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus
membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-
bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat
istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal
ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang

71
Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, 1992, hlm. 13

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek
realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.

C. Agama dan budaya Indonesia

Jika kita teliti budaya Indonesia, maka tidak dapat tidak budaya itu terdiri
dari 5 lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi, Hindu, Buddha,
Islam dan Kristen. 72

Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang


berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau lebih
setingkat yaitu Dewa-dewa suku seperti sombaon di Tanah Batak, agama Merapu
di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan dengan ritus agama suku
adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas keluarga
yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan tari-tarian
dan seni ukiran, Maka dari agama pribumi bangsa Indonesia mewarisi kesenian
dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur.

Lapisan kedua dalah Hinduisme, yang telah meninggalkan peradapan yang


menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman maka
dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan sosial
untuk menuju kesejahteraan yang utuh. Solidaritas itu diungkapkan dalam kalimat
Tat Twam Asi, aku adalah engkau.

Lapisan ketiga adaalah agama Buddha, yang telah mewariskan nilai-nilai


yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Bersama dengan itu timbul nilai
pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan.

72
Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, 1998, hlm. 77-79

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan
kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari‘ah, ketaatan melakukan
shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat
dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar)
berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal-hal yang
disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa.

Lapisan kelima adalah agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan.


Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih
yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak
menuntutbalasan yaitukasih tanpa syarat. Kasih bukan suatu cetusan emosional
tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti diri sendiri.
Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian Panti Asuhan,
rumah sakit, sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin.

Dipandang dari segi budaya, semua kelompok agama di Indonesia telah


mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa memandang
perbedaan agama, suku dan ras.

Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut agama-agama juga


telah berhasil mengembangkan budaya material seperti candi-candi dan bihara-
bihara di Jawa tengah, sebagai peninggalan budaya Hindu dan Buddha. Budaya
Kristen telah mempelopori pendidikan, seni bernyanyi, sedang budaya Islam
antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi
Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia, berbeda dengan
masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan
Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini tanpa kubah, benar-benar has Indonesia yang
mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus di
Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara Islam dan Hindu. Masjid Rao-
rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah
Minangkabau.73

Kenyataan adanya legacy tersebut membuktikan bahwa agama-agama di


Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha
manusia untuk menjadi manusia.

Dari segi budaya, agama-agama di Indonesia adalah aset bangsa, sebab


agama-agama itu telah memberikan sesuatu bagi kita sebagai warisan yang perlu
dipelihara. Kalau pada waktu zaman lampau agama-agama bekerja sendiri-sendiri
maka dalam zaman milenium ke 3 ini agama-agama perlu bersama-sama
memelihara dan mengembangkan aset bangsa tersebut. Cita-cita ini barulah dapat
diwujudkan apabila setiap golongan agama menghargai legacy tersebut Tetapi
yang sering terjadi adalah sebaliknya sebab kita tidak sadar tentang nilai aset itu
bagi bagi pengembangan budaya Indonesia. Karena ketidak sadaran itu maka kita
melecehkan suatu golongan agama sebagai golongan yang tidak pernah berbuat
apa-apa. Kalaupun besar nilainya, tapi karena hasil-hasil itu bukan dari
golonganku, maka kita merasa tidak perlu mensyukurinya. Lebih buruk lagi, jika
ada yang berpenderian apa yang diluar kita adalah jahat dan patut dicurigai.
Persoalan kita, bagaimana kita dapat menghargai monumen-monumen budaya itu
sebagai milik bangsa, untuk itu kita perlu:

1. Mengembangkan religius literacy.

73
Tule, Philipus, Wilhelmus Julie, ed Agama-agama, Kerabat Dalam Semesta, hlm. 159.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Tujuannya agar dalam kehidupan pluralisme keagamaan perlu
dikembangkan religious literacy, yaitu sikap terbuka terhadap agama lain yaitu
dengan jalan melek agama. Pengembangan religious literacy sama dengan
pemberantasan buta huruf dalam pendidikan. Kita akui bahwa selama ini penganut
agama buta huruf terhadap agama diluar yang dianutnya. Jadi perlu diadakan
upaya pemberantasan buta agama, Karena buta terhadap agama lain maka orang
sering tertutup dan fanatik tanpa menh\ghiraukan bahwa ada yang baik dari agama
lain. Kalau orang melek agama, maka orang dapat memahami ketulusan orang
yang beragama dalam penyerahan diri kepada Allah dalam kesungguhan. Sikap
melek agama ini membebaskan umat beragama dari sikap tingkah laku curiga
antara satu dengan yang lain. Para pengkhotbah dapat berkhotbah dengan
kesejukan dan keselarasan tanpa bertendensi menyerang dan menjelekkan agama
lain.

2. Mengembangkan legacy spiritual dari agama-agama.

Telah kita ungkapkan sebelumnya tentang legacy spiritual dari setiap


agama di Indonesia. Legacy itu dapat menjadi wacana bersama menghadapi
krisis-krisis Indonesia yang multi dimensi ini. Masalah yang kita hadapi yang
paling berat adalah masalah korupsi, supremasi hukum dan keadilan sosial.
Berdasarkan legacy yang tersebut sebelumnya, bahwa setiap agama mempunyai
modal dasar dalam menghadapi masal-masalah tersebut, tetapi belum pernah ada
suatu wacana bersama-sama untuk melahirkan suatu pendapat bersama yang
bersifat operasional.

Agaknya setiap kelompok agama di Indonesia sudah waktunya bersama-


sama membicarakan masalah-masalah bangsa dan penanggulangannya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
D. Proses masuknya Islam Ke Indonesia

Berbicara tentang Islamisasi di Nusantara, pertanyaan kita adalah bilamana


Islam masuk ke Nusantara dan siapa yang membawa atau menyebarkannya.
Pertanyaan kemudian, Islam seperti apa yang masuk dan bagaimana bentuknya
yang sekarang? Pertanyaan pertama dan kedua dapat dijawab secara teoritis
melalui bukti-bukti arkeologi mutakhir yang sampai kepada kita, sedangkan
pertanyaan berikutnya dapat dijawab melalui kacamata budaya yang masih dapat
disaksikan di beberapa tempat di Nusantara.

Hingga saat ini tidak ada satupun bukti tertulis yang secara tersurat
menyatakan bahwa Islam masuk di Nusantara pada tahun atau abad sekian dan
yang membawa masuk adalah si Nasruddin (misalnya). Kajian mengenai dugaan
masuknya Islam di Nusantara hingga saat ini baru didasarkan atas bukti tertulis
dari nisan kubur serta beberapa naskah yang menuliskan para pedagang Islam.
yang ditemukan di beberapa tempat di Nusantara, seperti di Aceh, Barus (pantai
barat Sumatra Utara) dan Gresik (Jawa Timur).

Islamisasi di Nusantara erat kaitannya dengan sejarah Islam yang hingga


kini penulisannya belum ―lengkap‖ dan sifatnya masih parsial. Keadaan seperti ini
jauh-jauh hari sudah disinyalir oleh Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa
sikap ulama Indonesia kurang atau bahkan tidak memiliki pengertian perlunya
penulisan sejarah. Di samping sikap ulama Indonesia tersebut, masih ada kendala
lain untuk menuliskan sejarah. Kendala itu antara lain kurangnya data atau

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
sumber-sumber tertulis, serta luasnya geografis Indonesia sehingga untuk
mengintegrasikan data dari berbagai daerah juga sulit.

Mengenai darimana Islam masuk Nusantara, ada beberapa pendapat


dengan argumennya masing-masing. Ada yang berteori bahwa Islam datang dari
Arab, Persia, India, bahkan ada yang menyatakan dari Tiongkok. Meskipun
pendapat mengenai asalnya Islam berbeda-beda, namun ada kesamaan bahwa
Islam masuk ke Nusantara melalui ―perantaraan‖ kaum saudagar. Mereka
berniaga sambil menyebarkan syi‗ar Islam. Hal ini sesuai dengan Hadist:
―Sampaikanlah dari saya ini walau hanya satu ayat‖. Kemudian sesampainya di
Nusantara, barulah disebarkan oleh ulama-ulama lokal atau para wali seperti di
Tanah Jawa ada Wali Songo.

Tidak ada satupun pendapat yang pasti mengenai kapan masuknya Islam
di Nusantara jika mengingat hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan
Timur Tengah, Persia, India, dan Tiongkok sudah berlangsung lama. Para
saudagar dari tempat-tempat tersebut membawa dan mengambil komoditi
perdagangan dari dan ke Nusantara. Dari Nusantara mereka membawa hasil-hasil
hutan yang laku dijual di pasaran, seperti kapur barus, kemenyan, dan rempah-
rempah. Dari tempat asalnya mereka membawa barang-barang kaca, keramik,
kain sutra/brokat, batu-batu mulia dan barang-barang perunggu. Sebelum Islam
ada, para pedagang, pendeta, dan bhiksu menyebarkan budaya India di Nusantara,
termasuk penyebaran agama Hindu dan Buddha. Pada masa abad ke-7-10 Masehi,
Śrīwijaya pernah menjadi pusat pengajaran agama Buddha. Dengan demikian,
kuat dugaan bahwa Islam masuk ke Nusantara juga dibawa oleh para saudagar.

Baru-baru ini, sektar tahun 2004 di perairan laut Jawa sebelah utara
Cirebon ditemukan runtuhan sebuah kapal yang diduga tenggelam karena

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kelebihan muatan. Berdasarkan pertanggalan keramik dan teknologi
pembuatannya, kapal yang tenggelam tersebut berasal dari sekitar abad ke-10
Masehi. Muatannya bermacam-macam yang berasal dari berbagai tempat di luar
Nusantara. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, dapat diduga bahwa barang-barang
muatan kapal tersebut berasal dari daerah Timur Tengah, India, dan Tiongkok.
Sebagian besar merupakan barang dagangan, dan sebagaian lagi merupakan
barang-barang untuk upacara keagamaan atau benda-benda keagamaan.

Dalam tulisan singkat ini, saya hendak mengungkapkan tentang salah satu
cara masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara pada satu kurun waktu sekitar
abad ke-10 Masehi. Data untuk bahan kajian berasal dari artefak-artefak yang
ditemukan dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon serta data lain yang
ditemukan dari hasil penelitian arkeologi. Dari data tersebut kemudian akan
ditarik pada budaya Islam di Nusantara dalam konteks kekinian. Timbul dan
berkembangnya suatu aliran atau mazhab tertentu dapat tergantung darimana
asalnya aliran tersebut. Pada masa kini, sebagian masyarakat yang beragama
Islam di Indonesia menganut tradisi Suni. Namun tidak tertutup kemungkinan ada
juga yang menganut tradisi Syi‗ah. Kedua tradisi tersebut bermazhab Syafi‗i.

1. Pelayaran dan Perdagangan

Sumber-sumber tertulis (sejarah) yang merupakan catatan harian dari


orang-orang Tionghoa, Arab, India, dan Persia menginformasikan pada kita
bahwa tumbuh dan berkembangnya pelayaran dan perdagangan melalui laut
antara Teluk Persia dengan Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1
Hijriah, disebabkan karena dorongan pertumbuhan dan perkembangan imporium-
imporium besar di ujung barat dan ujung timur benua Asia. Di ujung barat
terdapat emporium Muslim di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayyah (660-

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
749 Masehi) kemudian Bani Abbasiyah (750-870 Masehi). Di ujung timur Asia
terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T‗ang (618-907
Masehi). Kedua emporium itu mungkin yang mendorong majunya pelayaran dan
perdagangan Asia, tetapi jangan dilupakan peranan Śrīwijaya sebagai sebuah
emporium yang menguasai Selat Melaka pada abad ke-7-11 Masehi. Emporium
ini merupakan kerajaan maritim yang menitik beratkan pada pengembangan
pelayaran dan perdagangan.

Muatan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon dapat menunjukkan


asalnya, genta, ujung tongkat pendeta, wajra, dan arca mungkin dari India. Benda-
benda ini merupakan alat-alat upacara yang dimiliki oleh kelompok pemeluk
agama Buddha.

Nama Persia yang sekarang disebut Iran, menurut catatan harian Tionghoa
adalah Po-sse atau Po-ssu yang biasa diidentifikasikan atau dikaitkan dengan
kapal-kapal Persia, dan sering pula diceriterakan sama-sama dengan sebutan Ta-
shih atau Ta-shih K‗uo yang biasa diidentifikasikan dengan Arab. Po-sse dapat
juga dimaksudkan dengan orang-orang Persia yaitu orang-orang Zoroaster yang
berbicara dalam bahasa Persi –orang-orang Muslim asli Iran—yang dapat pula
digolongkan pada orang-orang yang disebut Ta-shih atau orang-orang Arab.
Orang Zoroaster dikenal oleh orang Arab sebagai orang Majus yang merupakan
mayoritas penduduk Iran setelah peng Islaman.
Bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan kehadiran pedagang Po-sse
di Kehadiran orang-orang Po-ssu bersama-sama dengan orang-orang Ta-shih di
bandar-bandar sepanjang tepian Selat Melaka, pantai barat Sumatera, dan pantai
timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan
diketahui sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Mereka dikenal sebagai
pedagang dan pelaut ulung. Sebuah catatan harian Tionghoa yang meceriterakan
perjalanan pendeta Buddha I-tsing tahun 671 Masehi dengan menumpang kapal
Po-sse dari Kanton ke arah selatan, yaitu ke Fo-shih (Śrīwijaya). Catatan harian
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
itu mengindikasikan kehadiran orang-orang Persia di bandar-bandar di pesisir laut
Tiongkok Selatan dan Nusantara. Kemudian pada tahun 717 Masehi diberitakan
pula tentang kapal-kapal India yang berlayar dari Srilanka ke Śrīwijaya dengan
diiringi 35 kapal Po-sse. Tetapi pada tahun 720 Masehi kembali lagi ke Kanton
karena kebanyakan dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan. 74

Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan


Śrīwijaya rupa-rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara
kerajaan-kerajaan di kawasan yang berhubungan dagang. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Mahārāja Śrīwijaya yang dikirim-
kan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‗Abd. Al-Aziz (717-720 Masehi).
Isi surat tersebut antara lain tentang pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan.

Nusantara (Śrīwijaya dan Mālayu) adalah ditemukannya artefak dari gelas


dan kaca berbentuk vas, botol, jambangan dll di Situs Barus (pantai barat
Sumatera Utara) dan situs-situs di pantai timur Jambi (Muara Jambi, Muara
Sabak, Lambur). Barang-barang tersebut merupakan komoditi penting yang
didatangkan dari Persia atau Timur Tengah dengan pelabuhan-pelabuhannya
antara lain Siraf, Musqat, Basra, Kufah, Wasit, al-Ubulla, Kish, dan Oman. Dari
Nusantara para pedagang tersebut membawa hasil bumi dan hasil hutan. Hasil
hutan yang sangat digemari pada masa itu adalah kemenyan dan kapur barus.

Hubungan pelayaran dan perdagangan yang kemudian dilanjutkan dengan


hubungan politik, pada masa yang kemudian menimbulkan proses islamisasi. Dari
proses islamisasi ini pada abad ke-13 Masehi kemudian muncul kerajaan Islam
Samudera Pasai dengan sultannya yang pertama adalah Malik as-Saleh yang
mangkat pada tahun 1297 Masehi. Menurut kitab Sejarah Melayu, Hikayat Raja-
raja Pasai, dan catatan harian Marco Polo yang singgah di Peurlak tahun 1292

74
Poerbatjaraka, R, Ng, 1952, Riwayat Indonesia I, hlm. 31-32

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Masehi, Samudera Pasai bukan hanya kerajaan Islam pertama di Nusantara, tetapi
juga di Asia Tenggara. Kehadiran kerajaan Islam ini semakin mempererat
hubungan antara Sumatera dan negara-negara di Arab dan Persia.

Pada pertengahan abad ke-14 Masehi Ibn Batuta singgah di Pasai yang
pada waktu itu diperintah oleh Sultan Malik al-Zahir. Dalam catatan hariannya
disebutkan bahwa Sultan adalah seorang penganut Islam yang taat dan ia
dikelilingi oleh para ulama dan dua orang Persia yang terkenal, yaitu Qadi Sharif
Amir Sayyid dari Shiraz dan Taj ad-Din dari Isfahan. Ahli-ahli tasawwuf atau
kaum sufi yang datang ke Samudera Pasai dan juga ke Melaka dimana para sultan
menyukai ajaran ―manusia sempurna/Insan al-Kamil‖ mungkin sekali dari Persia.

Beberapa ratus tahun sebelum Kesultanan Samudera Pasai, di wilayah


Aceh sudah ada kerajaan yang bercorak Islam, yaitu Kerajaan Peurlak. Kerajaan
ini berdiri pada tahun 225 Hijriah atau 845 Masehi dengan rajanya Sultan Sayid
Maulana Abdal-Aziz Syah keturunan Arab-Quraisy yang berpaham Syi‗ah.

Tingginya intensitas hubungan perdagangan antara Persia dan kerajaan di


Nusantara demikian tinggi. Tidak mustahil di beberapa tempat yang dikunjungi
pedagang Persia, tinggal dan menetap pula orang-orang Persia. Di tempat ini
timbul juga kontak budaya antar dua budaya yang berbeda, dan tidak mustahil ada
juga penganut Islam Syi‗ah. Hal ini dapat dideteksi dari adat istiadat dan
kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh kaum Syi‗ah.

2. Tinggalan Budaya

Pada sekitar abad ke-7 Masehi para pedagang Muslim dari Timur Tengah
dan Persia giat melakukan aktivitas perdagangan. Berdasarkan suatu keyakinan
bahwa setiap insan dalam pandangan Islam termasuk pedagang Muslim mem-
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
punyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam kepada siapapun sesuai
dengan cara yang baik dan persuasif, sejalan dengan urusan perdagangan
menyebar pula agama Islam. Berawal dari pengislaman daerah pesisir Anak
Benua India, kemudian memicu/merangsang bukan saja hubungan dagang tetapi
juga berbagai bentuk hubungan dan pertukaran keagamaan, sosial, politik, dan
kebudayaan. Sebenarnya sejak abad-abad pertama terjadinya perdagangan
internasional melalui laut, bukan hubungan perdagangan semata, tetapi juga
hubungan politik dan kebudayaan.

Meskipun menganut mazhab yang berbeda dengan mayoritas penduduk


Indonesia (Sunnah wal Jamaah mazhab Syafi‗i), bangsa Persia sedikit banyak
telah berjasa dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Nusantara. Hal ini
terbukti dengan tinggalan budayanya baik yang berupa kebendaan (tangible),
maupun yang bukan (intangible). Tinggalan budaya tersebut masih dapat
ditemukan di berbagai tempat di Nusantara, terutama di nusantara sebelah barat,
seperti di Sumatera dan Jawa.

2.1 Kargo Cirebon

Di antara runtuhan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon, ada


beberapa jenis benda yang mungkin tidak termasuk dalam barang komoditi.
Beberapa jenis barang tersebut adalah sebuah benda berbentuk tanduk yang dibuat
dari logam berlapis emas, sebuah benda berbentuk cumi-cumi (sotong) dari
kristal, cetakan tangkup (mould) dari batu sabun (soapstone), serta benda-benda
perunggu yang berfungsi sebagai alat-alat upacara agama Buddha/Hindu.

Orang-orang di dalam sebuah kapal merupakan satu komunitas tersendiri,


ada nakhoda, kelasi, dan penumpang. Semuanya itu dipimpin oleh seorang
nakhoda. Dialah yang memegang kendali di kapal. Demikian juga penumpang
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kapal yang terdiri dari bermacam status sosial dan profesi. Ada golongan
pedagang, mungkin ada bangsawan dan pendeta/bhiksu, dan ada juga penumpang
biasa. Semua itu dapat diketahui dari benda-benda yang disandangnya.

Ibn Khordadhbeh, seorang pejabat yang dilantik khalifah Dinasti


Abassiyah pada sekitar abad ke-9 Masehi, adalah seorang pedagang yang pernah
berkunjung ke Zabag (Śrīwijaya). Dia menulis sebuah buku yang berjudul Kitab
al-masalik wa-l-mamalik (Buku tentang Jalan-jalan dan Kerajan-kerajaan). Buku
ini berisi tentang semua pos-pos pergantian dan jumlah pajak di setiap tempat
yang dikunjunginya. Sebagai seorang pejabat yang dilantik oleh Khalifah tentunya
mempunyai tanda legitimasi dan atribut lain yang dibawa dan disandangnya.

Cetakan tangkup yang dibuat dari batusabun (soapstone) berbentuk empat


persegi panjang (4,2 x 6,7 cm). Pada salah satu sisinya terdapat kalimat yang
ditulis dalam aksara Arab bergaya kufik: ―al-malk lillah; al-wahid; al-qahhar‖
yang berarti ―Semua kekuasaan itu milik Allah yang Maha Esa dan Maha
Perkasa‖ dalam dua buah bingkai empat persegi. Kalau diterjemahkan secara
harfiah, maka kalimat itu mengandung asma‗ul husna, tepatnya merupakan sifat
yang dimiliki mausuf (Allah) yang memiliki kekuasan.

Melihat gaya tulisan kufik yang dipakai tampaknya masih kaku jika
dibandingkan dengan gaya tulisan kufik pada batu nisan Malik as-Saleh (wafat
1297 Masehi) dari Samudra Pasai (Aceh). Bentuk tulisan ini diduga berasal dari
sekitar abad ke-9-10 Masehi yang dikembangkan di daerah Kufah pada masa
pemerintahan kekhalifahan Bani Abassiyah (750-870 Masehi).

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Sebuah cetakan (mould) dengan ciri-ciri antara lain tulisan digoreskan
pada bidang segi empat dalam bentuk negatif. Bidang segi empat yang bertulisan
tersebut ada dua buah dibentuk dengan cara ―dikorek‖ sedalam kurang dari 0,5
mm. Dari bagian sisi bawah (dilihat dari bentuk tulisan/aksara) dari bidang segi
empat tersebut terdapat garis yang bertemu pada satu titik. Pada titik pertemuan
kemudian melebar membentuk corong. Garis berpotongan tersebut mempunyai
ukuran lebar 1 mm. dan dalam kurang dari 0,5 mm. Bagian yang membentuk
corong berukuran lebar 1-3 mm. Di bagian bawah bidang empat persegi, terdapat
dua buah tonjolan yang bergaristengah sekitar 5 mm. dan tinggi sekitar 3 mm. Di
bagian atas bidang segiempat terdapat garis yang dibentuk dengan cara dikorek,
kemudian permukaan lainnya lebih tinggi dari permukaan atas dua bidang
segiempat.

Apabila diperhatikan dengan seksama, benda ini merupakan semacam


cetakan untuk logam mulia, seperti emas dan perak. Seharusnya ada sepasang
yang saling menangkup, tetapi bagian yang satunya tidak ditemukan. Dua tonjolan
bulat yang ada pada permukaan benda tersebut, merupakan semacam pasak
pengunci agar tidak bergerak ketika proses pengecoran. Bagian yang berlubang-
nya seharusnya terdapat pada bagian tangkupan yang hilang. Garis-garis yang
bersilang dan bertemu pada satu bentuk corong merupakan tempat mengalirnya
cairan logam yang memenuhi bidang segiempat. Tempat memasukan cairan pada
bagian yang membentuk corong.

Hasil dari logam yang dicor tersebut berupa lempengan tipis dengan
kalimat-kalimat asma‗ul husna yang timbul. Kalimat-kalimat tersebut dikelilingi
bingkai empat persegi dengan hiasan titik-titik seperti umumnya terdapat pada
mata-uang logam. Bagian yang memanjang, dapat dipotong dan dapat pula tidak.
Saya belum dapat memastikan fungsi dari benda yang dicetak tersebut.
Berdasarkan perbandingan yang diketahui, benda semacam ini berfungsi sebagai
jimat dengan tulisan asma‗ul husna. Memang dalam keyakinan Islam tidak
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
dikenal jimat, tetapi dalam kenyataannya sebagian umat Islam memandangnya
sebagai jimat yang bertulisan asma‗ul husna.

Kalau ditelaah dari stempel yang beraksara Arab tersebut, kapal asing
yang tenggelam bersama kargonya di perairan Cirebon, diduga kapal yang berasal
dari pelabuhan Kufah atau Basra yang sekarang termasuk wilayah Republik Irak.
Ini berarti bahwa kapal bersama kargonya berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi.
Dalam pelayarannya ke arah timur (mungkin ke Kambangputih, Tuban) di
perairan Cirebon tertimpa musibah dan tenggelam bersama kargonya. Dilihat dari
posisinya di dasar laut, kapal ini tenggelam karena kelebihan muatan. Bagian
ruang nakhoda masih tampak utuh (tidak terlalu porak poranda).

Artefak yang berbentuk tanduk pada bagian yang lurus berukuran panjang
sekitar 10 cm. Bagian pangkalnya berbentuk segi delapan dengan garis tengah 4
cm. Bagian yang melengkung diberi hiasan berupa ukir-ukiran sulur daun. Bagian
pangkalnya berbentuk helaian teratai. Berdasarkan perbandingan dengan benda
yang sama dan menjadi koleksi Museum Nasional, benda tersebut merupakan
hulu sebuah pedang. Hulu pedang koleksi Museum Nasional tersebut ditemukan
di Cirebon dan berasal dari sekitar abad ke-8-9 Masehi.

Ada kemungkinan lain artefak ini berfungsi sebagai hulu pedang (pendek).
Cirinya tampak pada sebuah lubang empat persegi panjang pada bagian
pangkalnya. Lubang empat persegi panjang ini berfungsi sebagai tempat untuk
memasukan bilah senjata tajam pada pegangan. Apabila difungsikan sebagaimana
layaknya pedang, pegangan ini terasa tidak nyaman. Mungkin saja senjata tajam
dengan gagangnya dari emas berhiasan ukiran ini berfungsi sebagai simbol status
dari pemiliknya.

Benda lain yang diduga merupakan hulu pisau atau senjata tajam adalah
benda dari kristal yang berbentuk seperti cumi-cumi (sotong). Bagian untuk

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
memasukan bilah senjata berdenah bulat panjang. Pada foto tampak samar-samar
lubang yang memanjang dari ujung ke bagian tengah. Bagian atas (lihat foto)
ditempatkan melekat pada telapak tangan, sedangkan bagian bawah melekat pada
jari-jari tangan.

Hampir seluruh artefak yang diangkut tersebut bukan produk salah satu
kerajaan di Nusantara. Ada yang berasal dari Timur Tengah dan India, dan ada
pula yang berasal dari Tiongkok. Meskipun demikian, artefak tersebut manfaatnya
sangat besar bagi sejarah kebudayaan Indonesia, khususnya sejarah masuknya
Islam di Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber tertulis para sejarahwan berteori
bahwa masuknya Islam di Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Islam. Dengan
ditemukannya artefak-artefak yang berasal dari negeri-negeri yang beragama
Islam dalam konteksnya dengan barang dagangan, teori tersebut semakin
mendekati kebenaran. Cetakan beraksara Arab dengan menyebutkan nama-nama
Allah, merupakan bukti kuat bahwa Islam masuk melalui ―perantara‖ para
pedagang Islam.

2.2 Jejak Persia

Hubungan perdagangan antara Persia dan Nusantara (pada waktu itu


dengan Śrīwijaya) berlangsung pada sekitar abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu
komoditi perdagangan dari Persia berupa barang-barang yang terbuat dari kaca
atau gelas yang dikenal dengan sebutan Persian Glass. Benda-benda ini berbentuk
vas, karaf, piala, dan mangkuk. Dari Śrīwijaya yang salah satu pelabuhannya
adalah Barus (Fansur), para pedagang Persia dan Timur Tengah membawa kapur
barus, kemenyan, dan getah damar. Komoditi perdagangan ini sangat digemari di
Timur Tengah, Persia, dan India sebagai bahan wangi-wangian.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Persian Glass ditemukan di situs-situs arkeologi yang diduga merupakan
bekas pelabuhan kuna. Sebuah penelitian arkeologis di Situs Labo Tua, Barus
berhasil menemukan sejumlah besar temuan barang-barang kaca Persia dalam
bentuk pecahan dan utuhan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, benda-benda itu
mungkin sekarang di tempat asalnya sudah tidak diproduksi lagi. Pelabuhan
tempat barang tersebut dikapalkan antara lain dari Siraf yang letaknya di pantai
timur teluk Persia.

Masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara melahirkan kerajaan yang


bercorak Islam. Salah satu di antaranya adalah Kesultanan Samudera Pasai yang
lahir pada sekitar abad ke-13 Masehi dengan sultannya yang pertama adalah
Sultan Malik as-Saleh (mangkat 1297 Masehi). Jejak adanya kerajaan ini dapat
ditelusuri dari tinggalan budayanya yang berupa batu nisan Sultan Malik as-Saleh.
Ada dua hal yang dapat dicermati pada batu nisan ini dan merupakan indikator
Persia. Aksara yang dipahatkan pada batu nisan merupakan aksara shulus yang
cirinya berbentuk segitiga pada bagian ujung. Gaya aksara jenis ini berkembang di
Persia sebagai suatu karyaseni kaligrafi. Kalimat yang dipahatkan bernafaskan
sufi, misalnya ―Sesungguhnya dunia ini fana, dunia ini tidaklah kekal,
sesungguhnya dunia ini ibarat sarang laba-laba‖.

Indikator Persia lain ditemukan pada batu nisan Na‗ina Husam al-Din
berupa kutipan syair yang ditulis penyair kenamaan Persia, Syaikh Muslih al-din
Sa‗di (1193-1292 Masehi). Ditulis dalam bahasa Persia dengan aksara Arab,
merupakan satu-satunya syair bahasa Persia yang ditemukan di Asia Tenggara.
Batu nisan ini bentuknya indah dengan hiasan pohon yang distilir (disamarkan)
dan hiasan-hiasan kaligrafi yang berisikan kutipan syair Persia dan kutipan
al‗Quran II: 256 ayat Kursi.

2.3 Wali Sanga dan Tasawwuf

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Wali Sanga di tanah Jawa dikenal sebagai sembilan orang Wali-Ullah
yang dianggap sebagai penyiar-penyiar terkemuka agama Islam. Mereka ini
sengaja dengan giat menyebarkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam.
Waktu penduduk tanah Jawa masih berkepercayaan lama yang percaya dengan
hal-hal gaib, para wali tersebut dipercaya mempunyai kekuatan gaib, mempunyai
kekuatan batin yang berlebih, dan mempunyai ilmu yang tinggi. Karena itulah
mereka itu dipercaya sebagai pembawa dan penyiar agama Islam ahli dalam
tasawwuf.

Wali Sanga jumlahnya ada sembilan orang, yaitu Sunan Gunung Jati,
Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan
Kudus, Sunan Muria, dan Syekh Siti Jenar. Kebanyakan dari gelar-gelar ini di-
ambil dari nama tempat mereka dimakamkan, misalnya Gunung Jati di dekat
Cirebon, Drajat dekat Tuban, Muria di lereng Gunung Muria, Kudus di Kudus
dsb.

Dalam masa hidupnya mereka menyebarkan agama Islam di daerah


tempatnya bermukim. Di wilayahnya itu mereka juga membangun masjid sebagai
tempat beribadah. Di daerah sekitar kaki selatan Gunung Muria, banyak
ditemukan tinggalan makam para Wali dan masjid tinggalannya, yaitu Sunan
Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Kudus. Masjid yang dibangun adalah Masjid
Demak dan Masjid Kudus.

Walaupun di Indonesia dikenal mazhab Syafi‗i dan menganut Sunnah wal


Jamaah, namun di kalangan masyarakat di beberapa tempat di Nusantara masih
ditemukan jejak-jejak Syi‗ah yang semula dikenal pusatnya di Persia (Iran). Di
Timur Tengah dan di Persia, penganut Sunnah wal Jamaah dan penganut Syi‗ah
tidak sepaham, terutama dalam hal sumber hukum Islam (ijma= kesepakatan para
alim ulama). Dalam aliran ini sudah dimulai politisasi agama, terutama pada dasar
hukum ijma. Kaum Syi‗ah menganggap bahwa yang berhak menjadi Khalifah
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
adalah yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Ijma,
dimungkinkan yang bukan keturunan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi
Khalifah. Karena itulah yang kaum Syi‗ah menganggap al-Qur‗an dan Hadist saja
yang menjadi dasar hukum agama Islam, sedangkan Ijma dan Qiyash (= per-
umpamaan) tidak perlu.

Runtuhnya kesultanan Syi‗ah tidak menyurutkan ajaran yang ―terlanjur‖


berkembang di masyarakat. Berbagai ritual Syi‗ah menjelma menjadi tradisi yang
masih ditemukan di beberapa daerah di Nusatara. Di Indonesia penganut Syi‗ah
jumlahnya tidak banyak (sekitar 1 juta), namun di beberapa tempat tradisi yang
biasa dilakukan umat Syi‗ah masih dapat ditemukan, dan secara kontinyu dilaku-
kan oleh kelompok masyarakat tersebut.

Dapat dikemukakan sebagai contoh tentang tradisi Syi‗ah,


misalnya:Perayaan Tabot, peringatan Hari Arbain atau hari wafatnya Husein bin
Ali (cucu Nabi Muhammad) oleh kaum Syiah dalam bentuk perayaan tabot
(tabut). Tabot dibuat dari batang pisang yang dihiasi bunga aneka warna, diarak
ke pantai, diiringi teriakan ―Hayya Husein hayya Husein‖ yang artinya ―Hidup
Husein, hidup Husein‖. Pada akhir upacara tabot ini kemudian dilarung di laut
lepas. Benda yang disebut tabot melambangkan keranda mayat. Perayaan Tabot
masih dilakukan masyarakat pada setiap tanggal 10 Muharram di Bengkulu,
Pariaman, dan Aceh.

Asyura di Jawa dalam sistem pertanggalan Jawa berubah menjadi bulan


Suro, sebutan untuk bulan Muharram (bulan wafatnya Husein). Peringatan Asyura
belakangan dikenal dengan istilah ―Kasan Kusen‖. Di Aceh, Asyura diistilahkan
dengan Bulan Asan Usen. Di Makassar Asyura dimaknai sebagai perayaan
kemenangan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW, sehingga masyarakat
merayakannya dengan sukacita. Mereka membuat bubur tujuh warna dari warna
dasar merah, putih, dan hitam.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Peringatan Hari Arbain dirayakan juga di Desa Marga Mukti,
Pengalengan, Jawa Barat. Ratusan umat Islam Syi‗ah memenuhi Masjid al-
Amanah untuk melakukan nasyid, doa persembahan kepada Imam Husein, dan
ziarah Arbain, doa untuk keluarga Ali bin Abi Thalib.

Debus. Adalah pertunjukan yang hubungannya erat dengan tarekat


Rifa‗iyah. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad al-Rifa‗i yang wafat pada tahun 1182
Masehi. Tarekat ini pandangannya lebih fanatik dengan ciri-ciri melakukan
penyiksaan diri, mukjizat-mukjizat seperti makan beling, berjalan di atas bara api,
menyiramkan air keras (HCl) ke tubuhnya, dan menusuk-nusuk tubuh dengan
benda tajam. Penganut Rifa‗iyah dengan debus-nya terdapat di Aceh, Kedah,
Perak, Banten, Cirebon, dan Maluku bahkan sampai masyarakat Melayu di
Tanjung Harapan Afrika Selatan.

E. Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara

Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima


akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan
norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain.
Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu
diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas
budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan
great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut
dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga
Islamicate, bidang-bidang yang ―Islamik‖, yang dipengaruhi Islam. 75

75
Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam, hal. 13.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen,
atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran
dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi
keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola
bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center
(pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran).

Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasan-


kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini
mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang
meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-
karya yang dihasilkan masyarakat.

Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini
kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan
menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh
kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang
tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi
lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap
budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar;
mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli;
dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada
perkembangan budaya selanjutnya. 76

Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat


Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks
inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia.

76
Soejanto Poespowardojo, Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam modernisasi,
kepribadian budaya bangsa (local genius), hal. 28

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang
dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan
dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan
―akulturasi budaya‖, antara budaya local dan Islam.

Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara


lain acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. Tingkeban
(nujuh Hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam
kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa
yang berasal dari agama Hindu India. Proses Islamisasi tidak menghapuskan
kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilai-
nilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam
bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain kedatangan Islam
di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam
pengembangan budaya local.

Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat
dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu
tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur
local. Sementara esensi Islam terletak pada ―ruh‖ fungsi masjidnya. Demikian
juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid
di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, ―wajah asing‖ pun tampak sangat jelas di
kompleks Masjid Agung Banten, yakni melalui pendirian bangunan Tiamah
dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis,Lucazs Cardeel, dan pendirian
menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban
Cut.9

Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana diceritakan dalam Babad


Banten, Banten kemudian berkembang menjadi sebuah kota. Kraton Banten
sendiri dilengkapi dengan struktur-struktur yang mencirikan prototype kraton
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
yang bercorak Islam di Jawa, sebagaimana di Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta.
Ibukota Kerajaan Banten dan Cirebon kemudian berperan sebagai pusat kegiatan
perdagangan internasional dengan ciri-ciri metropolitan di mana penduduk kota
tidak hanya terdiri dari penduduk setempat, tetapi juga terdapat perkampungan-
perkampunan orang-orang asing, antara lain Pakoja, Pecinan, dan kampung untuk
orang Eropa seperti Inggris, Perancis dan sebagainya.

Dalam bidang kerukunan, Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap
memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain. Para penguasa
muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar
kepada penganut agama lain. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara dan
gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. Bahkan adanya resimen non-muslim
yang ikut mengawal penguasa Banten. Penghargaan atau perlakuan yang baik
tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan masyarakat
Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu, juga dapat dilisaksikan di
kawasan-kawasan lain di nusantara, terutama dalam aspek perdagangan. Penguasa
Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan
bangsa Cina, India dan lain sebagainya sekalipun di antara mereka berbeda
keyakinan.

Aspek akulturasi budaya local dengan Islam juga dapat dilihat dalam
budaya Sunda adalah dalam bidang seni vokal yang disebut seni beluk. Dalam
seni beluk sering dibacakan jenis cirita (wawacan) tentang ketauladanan dan sikap
keagamaan yang tinggi dari si tokoh. Seringkali wawacan dari seni beluk ini
berasal dari unsur budaya local pra-Islam kemudian dipadukan dengan unsur
Islam seperti pada wawacan Ugin yang mengisahkan manusia yang memiliki
kualitas kepribadian yang tinggi. Seni beluk kini biasa disajikan pada acara-acara
selamatan atau tasyakuran, misalnya memperingati kelahiran bayi ke-4- hari
(cukuran), upacara selamatan syukuran lainnnya seperti kehamilan ke-7 bulan

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
(nujuh bulan atau tingkeban), khitanan, selesai panen padi dan peringatan hari-
hari besar nasional.

Akulturasi Islam dengan budaya-budaya local nusantara sebagaimana yang


terjadi di Jawa didapati juga di daerah-daearah lain di luar Jawa, seperti Sumatera
Barat, Aceh, Makasar, Kalimantan, Sumatera Utara, dan daerah-daerah lainnya.
Khusus di daerah Sumatera Utara, proses akulurasi ini antara lain dapat dilihat
dalam acara-acara seperti upah-upah, tepung tawar, dan Marpangir.

F. Eksklusivisme Islam menuju Inklusivisme

Jika dalam wilayah non-teologis atau sosial kemasyarakatan Islam begitu


sangat akomodatif terhadap budaya local, berbeda halnya dengan wilayah-wilayah
lainnya, terutama berkenaan dengan aspek teologis (aqidah). Dalam masalah
teologis ini Islam menarik garis demarkasi secara tegas. Islam tampil dengan
wajah yang sangat eksklusif. Penegasan Islam ini termaktub di dalam Alquran
surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Kafirun yang tercermin dalam dua kalimah
sahadah. Inilah doktrin sentral Islam yang kemudian disebut dengan tauhid;
pengakuan kemahakuasaan dan kemutlakan Tuhan serta penegasan bahwa
Muhammad nabi terakhir yang diutus Tuhan bagi umat manusia di muka bumi.

Klaim-klaim eksklusif Islam sebagaimana tercermin dalam doktrin


teologis tersebut tidak berarti umat Islam menjadi umat yang eksklusif yang
menafikan pluralisme. Karena Islam juga sangat menekankan inklusivisme,
sebagaimana dinyatakan dalam sumber-sumber primer Islam (misalnya Q.S al-
Kafirun:6, Q.S.al-Hujarat:13) dan sebagaimana pula yang telah dipraktikkan
dalam sejarah awal pembentukan masyarakat Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Gambaran ideal tentang kerukunan antara umat Islam dan non-Islam
sebagaimana yang dicontohkan nabi dan yang kemudian menjadi model bagi tata
laku kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini secara original dapat dilihat
dalam butir-butir ―Piagam Madinah‖. Dalam piagam ini hak-hak penganut agama
Yahudi untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam dinyataan
secara tegas. Harkat dan martabat kaumYahudipun kemudian terangkat dari
sekedar klien kesukuan menjadi warga negara yang sah sebagaimana yang dialami
oleh kaum muslimin. Tidak ada perbedaan perlakuan antara keduanya. Posisi
demikian ini tidak pernah dimiliki kaum Yahudi sejak invasi Babilonia pada 586
SM. Dalam bingkai negara Madinah inilah kaum Yahudi dapat menjalankan
ajaran agamanya sesuai dengan ajaran Taurat. Tidak hanya itu, negara Madinah
juga menjamin dan memikul tanggung jawab tentang ke-Yahudian itu. Perlakuan
negara Madinah yang demikian adil tanpa diskriminasi, khususnya terhadap
komunitas Yahudi ini mengantarkan peradaban Yahudi dengan berbagai aspeknya
mencapai masa ―keemasannya‖ di bawah pemerintahan Islam.

Situasi dan kondisi yang istimewa tersebut juga dialami oleh kaum
Nasrani, terutama pasca ―futuhat‖ Makkah. Kaum Kristen Najran Yaman
mendatangi Nabi untuk memperjelas posisi mereka vis-à-vis negara Islam.
Delegasi mereka ini diterima dengan baik oleh Nabi. Sebagian mereka kemudian
memeluk agama Islam. sementara yang lain tetap pada keyakinan agamanya di
dalam kerangka negara Islam. Nabi kemudian mengukuhkan posisi mereka
sebagai ummah yang khas, sebagaimana halnya yang dialami oleh kaum Yahudi.

Praktik kerukunan sebagaimana yang dicontohkan nabi Muhammad


diteruskan oleh para sahabat nabi sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab
ketika melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Bizantium Kristen. Ketika wilayah
ini ditaklukkan, Umar mengadakan perjanjian dengan uskup setempat yang berisi
tentang jaminan Islam akan eksistensi Kristen di dalam kekuasaan Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Prinsip persamaan, keadilan dan kebebasan yang diberikan oleh penguasa
Islam kepada umat-umat lain ini yang kemudian menyebabkan umat Kristen
tumbuh dan berkembang secara luas. Bahkan pada abad-abad pertama hijriah,
mayoritas penduduk di dalam entitas politik Muslim adalah penganut Kisten.
Situasi demikian tidak mereka dapati pada masa-masa sebelumnya seperti pada
masa kekuasaan Roma Kristen maupun Bizantium Yunani.

Prinsip prinsip luhur kerukunan tersebut juga dapat dijumpai pada hampir
di wilayah-wilayah kekuasaan Islam lainnya, seperti di anak Benua India. Di
wilayah ini para penganut, Hindu dan Budha mendapat hak yang sama
sebagaimana yang diperoleh kaum Yahudi dan Nasrani. Ketika kekuasaan Islam
berakhir, masyarakat tetap berada pada keyakinan semula. Hal ini membuktikan
bahwa prinsip toleransi atau kerukunan tetap menjadi pegangan bagi para
penguasa muslim.

Bahkan perkembangan peradaban Islam yang mencapai puncaknya pada


masa Abbasiyah antara lain disebabkan oleh pengembangan teologi kerukunan
ini. Sukar dibayangkan bahwa kemajuan ilmu dan peradaban Islam tanpa peran
serta dari penganut umat beragama lain. Dalam tahapan perkembangan
kebudayaan Islam dengan segenap aspeknya hampir selalu berpijak pada akar
kerukunan. Perkembangan sains dan teknologi pada masa Abbasiyah yang
melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan diawali dengan keterlibatan ahli-
ahli dari non Islam yang diawali dengan proses penterjemahan besar-besaran
seperti dari Nasrani dan Persia.

Sementara itu dialog-dialog ataupun tukar fikiran antara kaum Nasrani


dengan umat Islam sebagaimana dicatat Annemarie Schimmel juga sudah mulai
berjalan. Dialog-dialog tersebut umumnya dilaksanakan di istana-istana para

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
penguasa muslim, sekalipun saling pengertian dan kerukunan timbal balik tidak
berkembang sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan masih adanya
prasangka-prasangka negatif dari masing-masing pihak. Para teolog muslim
misalnya mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menyanggah
Ketuhaan Yesus, dan penyalipan Yesus, serta menuduh kaum Nasrani telah
menyelewengkan kitab sucinya. Sementara di pihak lain, kaum Nasrani
mempelajari Islam hanya untuk membuktikan bahwa Islam hanyalah agama bidat
dan anti Kristus.

Hubungan antara Islam dan Kristen selama masa tersebut memang tidak
selalu berjalan dalam keadaan ko-eksistensi damai. Karena sejak abad IX M telah
mulai tampak benih-benih ketidakharmonisan itu. Hal ini disebabkan antara lain
perkembangan sosial politik di dalam kekuasaan Islam sendiri yang telah
memperlihatkan perpecahan. Ketidakstabilan dalam bidang politik ini pada
gilirannya mengganggu hubungan Islam-Kristen.

Perbedaan doktinal antara Kristen dan Islam tidak selalu mudah untuk
didamaikan,bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang musykil. Misalnya
perbedaan antara Islam dan Kristen tentang Ketuhanan Yesus, khususnya tentang
penyalibannya. Pihak Islam umumnya meyakini bahwa tidak ada penyaliban
terhadapYesus (nabi Isa). Sementara umat Kristiani penyaliban Yesus sebagai
sesuatu keyakinan yang sudah final. Demikian pula doktrin tentang kerasulan
Muhammad. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad sebagai Nabi terakhir,
akan tetapi umat Kristen tidak mengakui hal ini. Kedua agama ini masing-masing
tidak mengakui adanya keselamatan di luar agamanya. Inilah beberapa prinsip
fundamental yang membedakan keduanya, sehingga sulit untuk disatukan.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Selain perbedaan-perbedaan doctrinal secara teologis, perbedaan lain yang
menempatkan Islam sebagai ajaran eksklusif adalah ajaran Islam tentang larangan
memakan hewan tertentu.(Q.S.al-Maidah:3).Ajaran ini bagi Islam tidak bisa
ditawar-tawar lagi sebagai hal yang mutlak yang harus dipatuhi. Sementara dalam
agama lain, terutama Kristen larangan tentang memakan hewan tertentu (babi dan
anjing) tidak ada. Di pihak lain agama Hindu (India) ada larangan untuk memakan
hewan tertentu, sementara Islam justru menganjurkannya sebagai binatang
kurban, misalnya binatang sapi.

Perbedaan merupakan realitas kehidupan manusia yang sengaja diciptakan


Tuhan agar umat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik.(Q.S.49:13)
Karena jika Tuhan berkehendak, tentu ia akan menjadikan umat manusia menjadi
satu umat saja tanpa perbedaan satu sama lain.

Dengan demikian, agama dan budaya harus dapat menjadi instrumen bagi
pengembangan kebudayaan dan budaya seharusnya dapat berjalan seiring dalam
rangka memperkuat kerukunan antar umat beragama

Jadi kerukunan beragama bukanlah berarti penyatuan konsep-konsep


teologis sentral dari masing-masing agama, melainkan adanya saling memahami
dan saling pengertian terhadap adanya perbedaan-perbedaan doctrinal mendasar
itu. Kerukunan dalam arti penyatuan hanya bisa dimungkinkan pada wilayah-
wilayah non teologis, seperti sosial budaya dengan segenap unsur-unsur di
dalamnya. Kerukunan dalam makna inilah yang disebut dengan akulturasi budaya.
Hal inilah yang dilakukan umat Islam pada masa itu sehingga melahirkan
kebudayaan yang sangat tinggi yang dikenal dengan zaman keemasan Islam yang
mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB III

STUDI KASUS

Keragaman budaya menjadi salah satu ciri utama yang dimiliki masyarakat
Indonesia. Dari zaman ketika kerajaan-kerajaan masih hadir menghidupi ruang
sejarah negeri ini hingga era modern seperti kini, keragaman itu tetap ada, bahkan
nampak semakin bertambah. Ketidaksamaan itu kini tidak lagi memonopoli
perkotaan besar yang biasanya menjadi tempat bermuaranya berbagai macam
budaya dan agama. Di setiap penjuru nusantara ini, telah diisi dengan berbagai
rupa-rupa yang berbeda begitulah Indonesia perjalanan panjang sebagai sebuah
bangsa yang majemuk, membekaskan sebuah citraan pada diri tubuh multikultur
ini. Indonesia merupakan salah satu tempat bersinggungan berbagai macam
budaya dan agama. Proses asimilasi atau akulturasi sering nampak dalam gerak-
gerak praktis nuansa kehidupan yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya
budaya Islam Jawa.

Gerak hidup Islam di Jawa memiliki keunikan tersendiri disbanding


dengan Islam lainnya di negeri ini, meskipun hal ini tidak mutlak dapat dijadikan
pijakan, namun setidaknya Islam Jawa memiliki karakteristik tertentu di antara
yang lain. Bahkan Gertz seorang antropolog terkenal dunia sampai melakukan
studi penelitian dalam waktu cukup lama untuk membaca wajah Islam di Jawa.
Dengan sampling masyarakat Islam Mojokuto, Gertz berkesimpulan bahwa Islam
Jawa memiliki tiga strata dalam praktiknya, santri, abangan, dan priyayi.
Meskipun banyak mendapat kritik, dalam beberapa hal saya piker Gertz memang
benar. Bukankah studi antropologi memang tidak pernah menyatakan adanya
objektifitas dalam hasil yang diperoleh. Yang kemungkinan bisa muncul adalah
intersubjektifitas dari sebuah fenomena. Begitulah kiranya Gertz yang mampu
membaca Islam Jawa dari sudut pandang yang tak tentu sama dengan kita, dan
lagi-lagi itu membawa kebenarannya sendiri.
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Keunikan Islam Jawa menurut tesis Gertz menurut saya terletak pada
gerak spritualitas yang dilakukan oleh Golongan Abangan. Di akar budaya yang
dimiliki oleh golongan ini, kekerasan budaya tidaklah nampak begitu menonjol.
Bahkan dalam pertemuan antara Islam dan budaya Jawa dalam diri mereka terlihat
begitu mesra. Baik unsure Islam maupun Jawa, terlihat ada saling mengerti.
Gerusan-gerusan yang mungkin dapat dikatakan sebagai sinkretisme budaya ini
berjalan pelan dan akhirnya menjadi sinergi. Contoh menarik adalah peringatan
tahun baru 1429 hijriah beberapa waktu lalu di daerah Sragen, Jawa Tengah.
Acara menarik itu dilakukan di komplek makam Pangeran Samudera. Seorang
tokoh keramat bagi masyarakat setempat. Sejarah pasti budaya memohon berkah
di tempat ini masih nampak kabur. Yang jelas budaya ini ada sebagai bentuk
akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nuansa kedua unsure ini begitu kental,
bercampur memunculkan satu tradisi baru yang tidak meninggalkan akar rumput
yang dimilikinya.

Acara itu sendiri merupakan ritual pergantian selambu yang menyelubungi


makam Pangeran Samudera. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap pergantian
tahun baru Jawa maupun Islam yang memang diperingati berbarengan Pergantian
selambu makam ini menjadi menarik karena serangkaian ceremonial yang ada di
dalamnya. Setelah selambu menyelubungi makam selama setahun dibuka, acara
dilanjutkan ke Waduk Kedung Ombo. Di waduk yang juga dianggap keramat ini,
selambu tadi dicelupkan, satu lambing penyucian diri seperti halnya tubuh
manusia yang perlu dibersihkan. Ketika selambu telah selesai dibasahi dengan air
Waduk ini, kain inipun segera dibawa kembali ke komplek makam. Biasanya para
warga yang mengharapkan berkah, segera berebut tetesan air selambu yang baru
saja direndam tadi. Tetesan air itu biasanya digunakan untuk mengusap wajah
atau bagian tubuh lainnya.

Ketika sampai kembali ke komplek makam, acara berikut dilanjutkan


dengan ritual pembilasan. Air yang digunakan untuk membilas selambu ini,
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
adalah air yang berasal dari tujuh mata air disekitar komplek makam Pangeran
Samudera. Tujuh air ini ditempatkan di tujuh tong yang berbeda. Dan secara
bergantian ketujuh tong tadi menjadi tempat pembilasan selambu. Acara diakhiri
dengan do‘a yang bernafaskan Islam, disinilah bentuk akulturasi itu muncul.
Ritual semacam ini yang sebelum kedatangan Islam diisi dengan do‘a-do‘a Hindu
atau Budha, setelah Islam dating diganti dengan do‘a-do‘a yang bersumber dari
kitab suci Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
BAB IV

ANALISISA DAN KESIMPULAN

Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia membawa perubahan-


perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Candi dan petirtaan tidak
dibangun lagi, tetapi kemudian muncul mesjid, surau, dan makam. System kasta
di dalam masyarakat dihapus, arca dewa-dewa serta bentuk-bentuk zoomorphic
tidak lagi dibuat. Para seniman ukir kemudian menekuni pembuatan kaligrafi,
mengembangkan ragam hias flora dan geometris, serta melahirkan ragam hias
stiliran. Kota-kota mempunyai komponen dan tata ruang baru, bahkan pada abad
XVII M Sultan Agung memunculkan kalender Caka dan Hijriah. Akan tetapi,
pada sisi lain budaya tidak dapat dikotak-kotakkan, sehingga terjadi pula
kesinambungan-kesinambungan yang inovatif sifatnya. Masjid dan cunggup
makam mengambil bentuk atap tumpang, seperti mesjid Agung Demak, yang
bentuk dasarnya sudah dikenal pada masa sebelumnya sebagaimana tampak pada
beberapa relief candi. Demikian pula menara mesjid tempat muazin menyerukan
azan, seperti menara di Masjid Menara di Kudus. Bentuk dasarnya tidak jauh
berbeda dari candi gaya Jawa Timur yang langsing dan tinggi, tetapi detailnya
berbeda. Bagian kepalanya berupa bangunan terbuka, relung-relungnya dangkal
karena tidak berisi arca, dan hiasan relief diganti dengan tempelan piring porselin.

Bangunan makam Islam merupakan hal baru di Indnesia kala itu,


karenanya tercipta nisan, jirat, dan juga cungkub, dalam berbagai bentuk karya
seni. Nisan makam-makam tertua di Jawa, seperti makam Fatimah bin Maimun
dan Makam Malik Ibrahim, menurut penelitian merupakan benda yang diimpr
dalam bentuk jadi, sebagaimana tampak dari gaya tulisan Arab pada prasastinya
dan jenis ornamentasi yang digunakan. Namun, nisan makam-makam berikutnya
dibuat di Indonesia oleh seniman-seniman setempat. Hal ini antara lain tampak
dari ragam hias yang digunakan, misalnya lengkung kurawal, patra, dsb. Bahkan
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
di pemakaman raja-raja Binamu di Jeneponto (Sulawesi Selatan) di atas jirat ada
patung orang yang dimakamkan. Ini adalah suatu hal yang tidak pernah terjadi di
tempat lain.

Pada tata kota, terutama kota kerajaan di jawa, juga dapat dilihat adanya
perubahan dan kesinambungan. Di civic centre kota-kota tersebut ada alun-alun,
kraton, masjid agung, dan pasar yang ditata menurut pola tertentu. Di
sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan lain, serta pemukiman penduduk yang
juga diatur berkelompok-kelompok sesuai dengan jenis pekerjaan, asal, dan status
social.

Di dalam perjalanannya, suatu kebudayaan memang lazim mengalami


perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, corak kebudayaan di suatu daerah
berbeda-beda dari jaman ke jaman. Perubahan itu terjadi karena ada kontak
dengan kebudayaan lain, atau dengan kata lain karena ada kekuatan dari luar.
Hubungan antara para pendukung dua kebudayaan yang berbeda dalam waktu
yang lama mengakibatkan terjadinya akulturasi, yang mencerminkan adanya
pihak pemberi dan penerima. Di dalam proses itu terjadi percampuran unsure-
unsur kedua kebudayaan yang bertemu tersebut. Mula-mula unsure-unsurnya
masih dapat dikenali dengan mudah, tetapi lama-kelamaan akan muncul sifat-sifat
baru yang tidak ada dalam kebudayaan induknya. Rupanya proses seperti
diuraikan di atas berulang kali terjadi di Indonesia, termasuk ketika Islam masuk
dan berkembang di Indonesia. Pertemuan dan akulturasi antara kebudayaan
Hindu-Budha, Prasejarah, dan Islam (kemudian juga kebudayaan Barat) terjadi
dalam jangka waktu yang panjang, dan bertahap. Tidak dipungkiri bahwa selama
itu tentu terjadi ketegangan serta konflik. Akan tetapi hal tersebut adalah bagian
dari proses menuju akulturasi. Factor pendukung terjadinya akulturasi adalah
kesetaraan serta kelenturan kebudayaan pemberi dan penerima, dalam hal ini
Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
kebudayaan Islam dan pra-Islam. Salah satu contohnya adalah bangunan mesjid.
Akulturasi juga memicu kreativitas seniman, sehingga tercipta hasil-hasil budaya
baru yang sebelumnya belum pernah ada, juga way of life baru.

Setelah mengetahui bahwa terjadi akulturasi dan perubahan sehingga


terbentuk kebudayaan Indonesia-Islam, maka perlu dipikirkan bagaimana
pengembangannya pada masa kini dan masa mendatang. Dalam hal budaya materi
memang harus dilakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan kemajuan
teknologi, supaya tidak terjadi stagnasi, tetapi tanpa meninggalkan kearifan-
kearifan yang sudah dihasilkan.

Hasil akulturasi menunjukkan bahwa Islam memperkaya kebudayaan yang


sudah ada dengan menunjukkan kesinambungan. Namun, tetap dengan cirri-ciri
tersendiri. Hasil akulturasi juga memperlihatkan adanya mata rantai-mata rantai
dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Supaya mata rantai-mata rantai
tersebut tetap kelihatan nyata, harus dilakukan pengelolaan yang terintegrasi atas
warisan-warisan budaya Indonesia. Hal ini perlu dikemukakan dan ditekankan,
mengingat banyak warisan budaya yang terancam keberadaannya, terutama
karena kurangnya kepedulian dan pengertian masyarakat Indonesia sendiri.

Hubungan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan


Persia (Iran) diduga sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1
Hijriah. Dari hubungan perdagangan ini, kemudian berdampak pada pemikiran
keagamaan terutama sufisme atau tasawwuf dengan tarekat-tarekatnya. Selain itu
berdampak juga pada unsur-unsur kebudayaan. Beberapa tradisi Syi‗ah dan
tarekatnya masih tetap dipelihara oleh kelompok masyarakat tertentu di Indonesia.
Dalam susastra dan bahasa beberapa karya sastra yang berbau Sufi dan kosa kata
Persia diadopsi pada karya sastra Melayu dan kosa kata dalam bahasa Indonesia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
Mungkin masih banyak lagi unsur kebudayaan lainnya yang belum
terekam dalam kehidupan bangsa Indonesia yang mendapat pengaruh Persia.
Semua ini memerlukan penelitian dari berbagai disiplin ilmu-ilmu humaniora dan
sosial, seperti arkeologi dan sejarah, antropologi, sosiologi, agama, linguistik, dan
kesusasteraan.

Ada satu hal yang patut kita syukuri dalam kehidupan beragama di Tanah
Air Indonesia. Di Tanah Air umat Islam dari berbagai aliran dapat hidup rukun.
Keadaan seperti ini sudah ―tercipta‖ sejak masa awal kedatangan Islam di
Nusantara. Para penyiar agama melakukan penyampaian dengan cara persuasif
dan menyesuaikan dengan budaya setempat, misalnya Wali Sanga menyampaikan
syiar Islam dengan cara menggunakan sarana wayang. Tidak ada sedikitpun unsur
pemaksaan. Sementara itu di belahan dunia lain, kita lihat bagaimana Libanon,
Irak, dan Afghanistan sampai hancur-hancuran sebagai akibat pertikaian sesama
umat Islam yang mungkin disebabkan karena adu domba pihak lain.

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com
DAFTAR PUSTAKA

 Poerbatjaraka, R, Ng, 1952, Riwayat Indonesia I, Yayasan Pembangunan:


Jakarta
 Azyumardi Azra, 1999, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman
Islam, Paramadina: Jakarta
 Hasan Muarif Ambary, 1998, Menemukan Peradaban Islam: Arkeologi
dan Islam di Indonesia: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Jakarta
 Koentjaraningrat, 1980, Pokok-Pokok Antropologi Sosial, Penerbitan
Universitas: Jakarta
 Soerjanto Poespowardoyo, 1986, Pengertian Local Genius dan
Relevansinya Dalam Modernisasi, ―Kepribadian Budaya Bangsa (local
genius)‖, Pustaka Jaya: Jakarta
 Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius: Yogyakarta
 Andito, 1998, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas
Konflik, Pustaka Hidayah: Bandung
 Mulyono Sumardi, 1982, Penelitian Agama, Masalah dan Pemikiran,
Pustaka Sinar Harapan: Jakarta
 Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada:
Jakarta
 Hamka, 1975, Sejarah Umat Islam IV, Bulan Bintang: Jakarta

Copyright by Rismalil Ismi Afida

ismi_afida@yahoo.com

riezma.afida@gmail.com