Anda di halaman 1dari 3

Program Pembangunan Mengacu RPJPN

Rabu, 16 Desember 2009

SETELAH sekian lama bangsa Indonesia tidak memiliki arah program


pembangunan jangka panjang, karena garis-garis besar haluan negara
(GBHN) sudah tidak lagi digunakan sebagai pedoman pembangunan di
era reformasi, kini kembali bangsa Indonesia memiliki acuan yang mirip
seperti GBHN, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2025 yang tertuang dalam UU No. 17 tahun 2007.
Dengan adanya RPJPN diharapkan semua program pembangunan di Indonesia
mengacu kepada rencana tersebut.

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan


Pembangunan Nasional (Bappenas); mulai melakukan sosialisasi RPJPN ke daerah-
daerah agar semua lapisan masyarakat, khususnya di jajaran birokrasi di daerah
mengetahui adanya RPJPN sekaligus menyinkronkan semua program pembangunan
di daerah dengan RPJPN tersebut.

Untuk wilayah Jateng, Jatim dan DIY, sosialisasi RPJPN dilakukan di Kota
Semarang. Selain dihadiri oleh unsur birokrat di tiga propinsi tersebut, sosialisasi juga
dihadiri sejumlah pejabat dari pusat dan anggota DPR RI. Menurut Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Paskah Suzeta, kehadiran sejumlah
anggota DPR RI dalam sosialisasi RPJPN menunjukkan lahirnya RPJPN merupakan
keinginan bangsa Indonesia, meski rancangannya diajukan oleh pemerintah. Melalui
RPJPN diketahui bagaimana wajah Indonesia yang diinginkan masyarakat pada 2025
mendatang. Dengan demikian bangsa Indonesia telah memiliki acuan pembangunan
untuk jangka waktu 20 tahun ke depan.

Paskah Suzeta mengakui RPJPN merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya


pemerintah seperti yang tercantum dalam UUD 1945, setelah GBHN tidak lagi
digunakan dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. RPJPN 2005-2025 diatur dalam
UU No 17/2007, mencakup soal visi, misi, tahapan, dan prioritas pembangunan
berbagai bidang yang berdimensi jangka panjang, dengan penjabaran dan pelaksanaan
dimasukkan dalam empat periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM);
yaitu tahap pertama 2005-2009, kedua 2010-2014, ketiga 2015-2019, dan tahap
keempat 2020-2024.

Beberapa daerah mengakui setelah tidak digunakannya GBHN sebagai acuan


pembangunan jangka panjang, telah terjadi kevakuman pembangunan nasional.
Akibat kevakuman tersebut, daerah mengalami berbagai kendala untuk membuat
rancangan pembangunan yang sinkron dengan program pembangunan nasional.

Pengakuan tersebut juga dilontarkan Gubernur Jateng H Mardiyanto. Menurut


Gubernur, kevakuman pembangunan nasional setelah ditiadakannya GBHN, menjadi
kendala tersendiri bagi daerah khususnya Jateng untuk merumuskan perencanaan
pembangunan daerah yang sejalan dengan upaya perkuatan ekonomi dan
desentralisasi pemerintahan , dalam koridor sistem perencanaan pembangunan
nasional.

Diterbitkannya UU No 17 tahun 2007 yang mengatur tentang RPJPN 2005-2025,


Gubernur Jateng optimis akan mampu memberikan ruang bagi daerah untuk
merumuskan rencana pembangunan daerah yang memiliki akses keterkaitan dan
sinergitas dengan rencana pembangunan nasional.

Untuk itu Gubernur Mardiyanto berharap pemerintah pusat segera menerbitkan


Peraturan Pemerintah (PP) agar formulasi rencana pembangunan daerah, baik yang
jangka panjang, menengah atau tahunan, tetap berada pada koridor yang dapat
dipertanggungjawabkan dari aspek normatifnya.

Keterkaitan dan sinergitas antara rencana pembangunan daerah dengan rencana


pembangunan nasional menurut Mardiyanto memiliki makna penting, karena amanat
UU No 32/2004 menempatkan otonomi daerah dan desentralisasi pemerintahan tetap
dalam koridor NKRI.

Percepatan dan keberhasilan pembangunan daerah merupakan salah satu dari tujuan
pembentukan otonomi daerah dan desentralisasi pemerintahan. Keberhasilan
pembangunan nasional pada hakekatnya agregasi dari keberhasilan pembangunan
daerah.

Lebih jauh Paskah Suzeta mengatakan, RPJPN merupakan arahan pembangunan yang
tidak bertentangan dengan arah reformasi dan konstitusi. RPJPN justru bisa menjadi
acuan bagi calon presiden untuk menyusun visi dan misi serta program prioritasnya.
Untuk itu dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, proses pemilihan Presiden
diharapkan tetap menghormati visi, misi serta arah pembangunan yang telah
digariskan dalam RPJPN.

Secara garis besar disusunnya RPJPN juga berdasarkan tantangan dan kendala yang
ada serta potensi yang dimiliki bangsa Indonesia. Sehingga dirumuskan bahwa visi
RPJPN adalah Indonesia yang maju, mandiri, adil dan makmur, yang merupakan
penjabaran dari cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan
UUD 1945, sebagai koridor pemberi arah dan batasan pembangunan nasional jangka
panjang.

“Strategi untuk melaksanakan misi tersebut dijabarkan secara bertahap dalam


periode lima tahunan (RPJM). Masing-masing tahap mempunyai skala prioritas dan
strategi pembangunan pada periode-periode sebelumnya. Sehingga tetap merupakan
program pembangunan yang berkesinambungan,†ン tutur Paskah Suzeta.

Tahapan skala prioritas strategi RPJM 2005-2009 diarahkan untuk menata kembali
pembangunan guna menciptakan Indonesia aman dan damai serta adil dan demokratis
dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. RPJM 2010-2014 untuk memantapkan
penataan kembali Indonesia dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas
SDM termasuk pengembangan Iptek dan penguatan daya saing ekonomi.

RPJM 2015-2019 difokuskan pada pemantapan pembangunan secara menyeluruh


dengan menekankan pada daya saing kompetitip perekonomian berdasarkan sumber
daya alam dan SDM berkualitas, serta kemampuan Iptek. RPJM 2020-2025 untuk
mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui
percepatan pembangunan dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian
yang kokoh.KR

http://indonesia.pentasi.net/index.php?
option=com_content&view=article&id=2070%3Aprogram-pembangunan-mengacu-
rpjpn&catid=1886%3Apembangunan-daerah-&Itemid=245&lang=in