Anda di halaman 1dari 17

Skripsi/Thesis

KINERJA PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI


RUMAH SAKIT DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Erlin Natsir, SKM dan Joeharno, SKM

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menjelang era pasar bebas atau dikenal AFTA (Asean Free Trade Assosiation)
diperlukan kesiapan yang mantap dari semua sektor, termasuk sektor kesehatan
khususnya rumah sakit. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan rumah sakit, diantaranya adalah akreditasi rumah sakit yang ada saat ini mulai
dituntut oleh masyarakat pengguna jasa pelayanan rumah sakit (Departemen Kesehatan
RI, 1990).

Rumah sakit merupakan salah satu mata rantai didalam pemberian pelayanan
kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan
lingkungannya untuk mencapai suatu keseimbangan yang dinamis mempunyai fungsi
utama melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan serta sebagai
tempat penelitian berdasarkan surat keputusan.

Tenaga perawat yang merupakan “The caring profession” mempunyai


kedudukan penting dalam menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit,
karena pelayanan yang diberikannya berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual
merupakan pelayanan yang unik dilaksanakan selama 24 jam dan berkesinambungan
merupakan kelebihan tersendiri dibanding pelayanan lainnya (Departemen Kesehatan RI,
2001).
Tuntutan dan kebutuhan asuhan keperawatan yang berkualitas di masa depan
merupakan tantangan yang harus dipersiapkan secara benar-benar dan ditangani secara
mendasar, terarah dan sungguh-sungguh dari rumah sakit. Tanggung jawab ini memang
berat mengingat bahwa keperawatan di Indonesia masih dalam tahap awal proses
professional.

Kualitas pelayanan keperawatan suatu rumah sakit dinilai dari kepuasan pasien
yang sedang atau pernah dirawat yang merupakan ungkapan rasa lega atau senang karena
harapan tentang sesuatu kebutuhan pasien terpenuhi oleh pelayanan keperawatan yang
bila diuraikan berarti kepuasan terhadap kenyamanan, kecepatan, pelayanan, keramahan
dan perhatian. Sementara rasa puas sendiri mempunyai nilai yang relative tergantung dari
masing-masing individu (Wijono, 2003).

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan berbagai macam faktor yang


mempengaruhinya yaitu tingkat pendidikan, pengetahuan, beban kerja, pelatihan dan
masa kerja.

Hal ini dikarenakan bahwa banyaknya perawat melaksanakan asuhan


keperawatan memiliki pendidikan, motivasi kerja, beban kerja dan pelatihan yang
mendukung terciptanya kinerja mengalami masalah dalam aplikasi di lapangan berupa
keterlambatan atau banyaknya proses pengisian asuhan keperawatan yang tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan pihak rumah sakit.

Bertitik berat pada uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul
studi tentang kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang rawat
inap Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

2. Batasan Masalah

Banyak faktor yang berhubungan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan


asuhan keperawatan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten
Pinrang. namun karena keterbatasan sumber daya dari peneliti maka hanya dibatasi pada
pengetahuan perawat, motivasi kerja perawat, beban kerja perawat, dan pelatihan
perawat.

2. Rumusan Masalah
Pada penelitian ini dapat di rumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

“Bagaimana kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan


pengetahuan, motivasi kerja, beban kerja, dan pelatihan perawat di Rumah Sakit Umum
Lasinrang Kabupaten Pinrang ?”

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mendapatkan gambaran tentang kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan


keperawatan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan
berdasarkan pengetahuan, motivasi kerja, beban kerja, dan pelatihan perawat
di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Institusi
2. Manfaat Ilmiah
3. Manfaat Praktis

KEPUSTAKAAN

1. Kinerja
2. Tenaga Kesehatan
3. Perawat
4. Asuhan Keperawatan
5. Pengetahuan Perawat
6. Motivasi Perawat
7. Beban Kerja Perawat
8. Pelatihan Perawat

METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Observasional dengan menggunakan pendekatan


deskriptif yaitu gambaran tentang kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan
keperawatan di ruang rawat inap.

2. Lokasi Dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap RSUD Lasinrang Kabupaten Pinrang.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan bulan Juli – Agustus 2006.

3. Populasi dan Sampel


1. Populasi

Dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang jumlahnya 88 orang (honor maupun
PNS) di ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

2. Sampel

Cara pengambilan sample dalam penelitian ini adalah Exhausive Sampling atau
Sampel Jenuh adalah metode pengambilan sampel dengan menjadikan seluruh
populasi menjadi sampel penelitian yaitu perawat pada ruang rawat inap Rumah Sakit
Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

4. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data yang di kumpulkan dari responden dengan cara wawancara langsung dan
menggunakan kuesioner sebagai alat bantu.

2. Data Sekunder

Diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian. Data sekunder dikumpulkan
dengan menghubungi unit-unit atau bagian yang dianggap mempunyai hubungan
dengan penelitian ini yaitu : Ruang Cempaka (Perawatan Dalam), Ruang Anggrek
(Vip Room), Ruang Melati (Bedah), Ruang Asoka (Bangsal Nifas) dan bagian
pelayanan Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

5. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan menggunakan komputer


program Microsoft Excel 2003 dan SPSS for Windows versi 12.0. Adapun langkah –
langkah pengolahan data dilakukan sebagai berikut :

1. Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh


merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan
memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawabannya.
2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar
memudahkan mengolah dan manganalisis data dengan memberikan
kode – kode dalam bentuk angka.
3. Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding
(master tabel)
4. Tabulasi. Pada tahap ini data yang sudah diolah dengan komputer
disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan tabel silang.

2. Penyajian Data

Data yang telah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dan tabel silang antara variabel penelitian disertai penjelasan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

1. Kelompok umur

Responden tertinggi berada pada kelompok umur antara 25 – 29 tahun


sebanyak 37 (42,0%) dan terendah pada kelompok umur antara 35 – 39 tahun
sebanyak 4 responden (4,5%).

2. Jenis kelamin

Sebagian besar responden penelitian yang melaksanakan asuhan


keperawatan rawat inap adalah perempuan sebanyak 63 (71,6%).

3. Pendidikan

Sebagian besar responden telah menamatkan pendidikan sampai kejenjang


strata 1 (S1) sebanyak 48 responden (54,5%).

2. Variabel penelitian

1. Pengetahuan

Sebagian besar responden dengan penilaian pengetahuan pada kategori


cukup sebanyak 62 (70,5%).

2. Motivasi

Sebagian besar responden menyatakan pemberian motivasi kerja berada


pada kategori kurang sebanyak 47 (53,4%)

3. Beban kerja
Sebagian besar responden menyatakan beban kerja yang dimiliki berada
pada kategori cukup sebanyak 46 (52,3%).

4. Pelatihan

Sebagian besar responden menyatakan pelatihan yang dilaksanakan di


rumah sakit berada pada kategori cukup sebanyak 46 (52,3%

5. Kinerja

Sebagian besar responden memiliki kinerja pada kategori cukup sebanyak


57 (64,8%).

3. Distribusi Antar Variabel Penelitian

1. Distribusi Pengetahuan Terhadap Kinerja

Responden dengan pengetahuan cukup sebagian besar terdistribusi pada


kinerja cukup sebanyak 47 (82,5%) sedangkan responden dengan pengetahuan
kurang sebagian besar terdistribusi pada kinerja kurang sebanyak 16 responden
(51,6%).

2. Distribusi Motivasi Kerja Terhadap Kinerja

Responden dengan motivasi kerja cukup sebagian besar terdistribusi pada


kinerja cukup sebanyak 31 responden (54,4%) sedangkan responden dengan
pengetahuan kurang sebagian besar terdistribusi pada kinerja cukup sebanyak 26
responden (67,7%).

3. Distribusi Beban Kerja Terhadap Kinerja

Responden dengan beban kerja cukup sebagian besar memiliki kinerja yang
cukup sebanyak 34 (59,6%) sedangkan responden dengan beban kerja kurang
sebagian besar terdistribisi pada kinerja cukup sebanyak 23 responden (40,4%).

4. Distribusi Pelatihan Terhadap Kinerja


Responden dengan pelatihan cukup sebagian besar terdistribusi pada kinerja
cukup sebanyak 39 (68,4%) sedangkan responden dengan pelatihan kurang
sebagian besar terdistribusi pada kinerja kurang sebanyak 24 responden (77,4%).

2. Pembahasan

Berdasarkan penyajian hasil pengolahan data penelitian di atas maka dapat


dibahas berdasarkan variabel penelitian sebagai berikut.

1. Kinerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memiliki


kinerja pada kategori cukup (64,8%) yang memberikan gambaran tentang kemampuan
tenaga perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada
pasien dan keluarganya.

Kinerja pada kategori cukup pada penelitian ini dikategorikan dari


kemampuan yang dimiliki oleh tenaga perawat dalam melaksanakan tindakan asuhan
keperawatan pasien yang ditinjau dari aspek pengetahuan perawat atas pelaksanaan
asuhan keperawatan, melaksanakan dan mengikuti pelatihan terutama pelatihan
bidang keperawatan, memiliki semangat kerja yang tinggi karena adanya motivasi
kerja baik dari dalam diri sendiri tenaga perawat maupun dari luar dalam konteks
kerumahsakitan dan adanya beban kerja yang dapat dilaksanakan oleh perawat seperti
pemberian tugas tambahan namun perawat masih memiliki kemampuan yang
maksimal untuk tetap melaksanakan tugas tambahan tersebut.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden dengan


(tenaga perawat) pada kategori kurang (35,2%). Angka ini dapat dikatakan kecil
namun dapat menjadi penghambat terhadap penciptaan pelayanan keperawatan di
rumah sakit yang syarat akan kualitas dan kepuasan pasien dan keluarganya.

Kinerja kurang juga dapat disebabkan karena adanya unsur dari luar diri
tenaga perawat yang mempengaruhi psikologis sehingga menurunkan semangat kerja
dalam rangka pemenuhan pelayanan keperawatan di rumah sakit. Aspek yang berasal
dari luar ini mencakup hubungan interpersonal dengan teman sejawat di tempat kerja,
adanya konflik internal keorganisasiaan rumah sakit, kurangnya aspek motorik dari
rumah sakit dalam rangka pemberian motivasi kepada tenaga perawat sehingga dapat
melaksanakan tindakan asuhan keperawatan yang lebih berkualitas dan menjawab
tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan.

2. Pengetahuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden perawat telah


memiliki pengetahuan pada kategori cukup (52,3%). Pengetahuan cukup mencakup
adanya kemampuan daya nalar dari tenaga perawat dalam mendeskripsikan fungsi
dan peran perawat dalam berbagai kegiatan di rumah sakit.

Pengetahuan kategori cukup pada penelitian ini dimaksudkan adalah


pengetahuan tentang tujuan penyelenggaraan asuhan keperawatan, langkah-langkah
penyusunan asuhan keperawatan, pengkajian data dan perencanaan asuhan
keperawatan, upaya pengumpulan data, pengetahuan tentang diagnosa keperawatan
dan keperawatan komunitas. Berdasarkan hasil penentuan skor pilihan jawaban dari
masing-masing pertanyaan menunjukkan bahwa responden dengan menjawab
beberapa aspek penilaian pada skor 3 dan 4 menjadi acuan bahwa pengetahuan yang
dimiliki pada kategori cukup sedangkan responden dengan skor 1 dan 2 merupakan
pengetahuan pada kategori kurang.

Hasil penelitian menunjukkan pencapaian perawat dalam menjawab beberapa


aspek penilaian pengetahuan pada kategori cukup untuk skor 3 dan 4 yaitu tujuan
asuhan keperawatan (55,7 dan 37,5%), langkah-langkah pembuatan asuhan
keperawatan (3,4 dan 48,9%), pengkajian dan perencanaan askep (36,4 dan 44,3%),
dan pengumpulan data (25,0 dan 35,2%), tujuan diagnosa keperawatan (26,1 dan
39,8%), langkah-langkah diagnosa keperawatan (17,0 dan 45,5%). Beberapa aspek
penilaian pengetahuan perawat di atas memberikan gambaran bahwa pengetahuan
perawat sudah dapat dikatakan cukup dengan angka pencapian 50 % melebihi angka
pencapaian skor rendah namun jika ditinjau lebih lanjut bahwa angka ini masih relatif
kecil mengingat kebutuhan pelayanan berkualitas yang semakin dimengerti dan
dipahami masyarakat sehingga peningkatan pengetahuan dalam rangka menunjang
pelayanan kesehatan rumah sakit yang berkualitas dan memenuhi kepuasan
konsumen yakni pasien dan keluarganya.

Pengetahuan tenaga perawat menyangkut tentang aspek yang berhubungan


dengan bidang keperawatan dan dapat mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan
pada proses keperawatan yang dijalankan dalam rangka pemberian pelayanan yang
berkualitas kepada pasien. Kurangnya pengetahuan perawat dapat mempengaruhi
kinerja dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pelayanan kesehatan
mengingat aspek pengetahuan ini merupakan pondasi dasar untuk terselenggaranya
suatu tindakan keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
responden dengan pengetahuan kurang juga memiliki kinerja yang kurang (51,6%)
sedangkan responden dengan pengetahuan cukup sebagian besar terdistribusi pada
kinerja cukup (82,5%) yang memberi interpretasi bahwa pengetahuan mempengaruhi
kinerja dalam hal in yang berhubungan dengan kualitas kerja tenaga perawat dalam
melaksanakan dan menyelenggarakan asuhan keperawatan kepada pasien dan
keluarganya.

3. Motivasi Kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan perawat menyatakan


bahwa motivasi kerja yang diperoleh berada pada kategori kurang (53,4%) yang
memberi interpretasi bahwa tugas dan tanggung jawab keprofesian perawat dapat
dikatakan kurang pula mengingat motivasi merupakan upaya peningkatan semangat
kerja dari tenaga kerja termasuk perawat di rumah sakit.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden yang


menyatakan bahwa pembagian kerja tersebut berada pada kategori kurang sesuai
(12,5%). Meskipun angka ini relatif kecil namun memberi interpretasi tentang masih
terdapatnya kerancuan dalam hal pelaksanaan pembagian kerja tenaga perawat di
rumah sakit. Hal ini biasanya berhubungan dengan aspek kepentingan yang tentunya
kurang menjadi tanggapan dalam hal penyusunan tenaga perawat berdasarkan jenis
dan tanggung jawab kerja yang akan dilaksanakan dala suatu aktivitas perencanaan
kerja rumah sakit.
Motivasi kerja bagi tenaga perawat merupakan aspek yang dapat
mempengaruhi kemampuan dan kualitas kerja yang akan dilaksanakan dan diterima
oleh pasien di rumah sakit dimana hal ini berhubungan dengan kinerja yang dimiliki
tenaga perawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat dengan motivasi kerja
kurang sebagian besar terdistribusi pada kinerj cukup (45,6%) yang memberi
interpretasi bahwa meskipun angka pencapaiannya rendah namun dapat diasumsikan
bahwa masih terdapat perawat yang tidak terlalu mengharapkan adanya imbalan
sebagai bentuk motivasi dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
keprofesiannya. Sedangkan perawat yang menyatakan telah memperoleh motivasi
kerja pada kategori cukup sebagian besar terdistribusi pada kinerja cukup (54,4%)
dimana angka pencapain ini dapat dikatakan relatif tinggi sehingga memberi
interpretasi bahwa pemberian motivasi dapat meningkatkan kualitas kerja yang
dilaksanakan perawat dalam rangka penyelenggaraan asuhan keperawatan dengan
hasil yang maksimal dan memuaskan kebutuhan pasien dan keluarganya.

Interpretasi lain yang dapat ditarik berdasarkan peningkatan kinerja dengan


motivasi cukup adalah bahwa terdapat perawat yang telah lama mengharapkan adanya
motivator yang dapat memenuhi kebutuhannya sehingga memberi semangat dalam
melaksanakan aktivitas kerja di rumah sakit.

4. Pelatihan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan perawat telah


memperoleh pelatihan pada kategori cukup (52,3%) yang memberi intrpretasi tentang
pengembangan kemampuan dan kompetensi bagi perawat di rumah sakit telah
dilaksanakan dalam upaya peningkatan kemampuan kerja tenaga perawat dalam
memberikan pelayanan di rumah sakit yang tidak hanya mencakup keprofesiannya
saja namun juga beberapa jenis pekerjaan lainnya diluar bidang keprofesiannya.

Angka pencapaian pelatihan pada tenaga perawat di rumah sakit jika ditinjau
secara mendalam memberi interpretasi bahwa upaya pengembangan kemampuan dan
keterampilan kerja masih dapat dikatakan rendah mengingat masih banyak tenaga
perawat yang menyatakan belum memperoleh pelatihan atau sudah dapat namun
pelatihan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan kerja dalam artian pelatihan pada
kategori kurang (47,7%).
Pelatihan pada kategori kurang berdasarkan aspek penilaian pelatihan dari
hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa masih terdapat perawat yang telah
mengikuti pelatihan namun tidak memberikan perubahan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan (38,6% dan 9,1%) yang memberi interpretasi bahwa pelatihan tersebut
memuat materi yang sifatnya belum menunjukkan perkembangan keilmuan kekinian
dan belum menjawab tuntutan kebutuhan pelaksanaan asuhan keperawatan yang lebih
kompleks.

Pelatihan sebagai bentuk pengembangan kemampuan dan keterampilan tenaga


perawat tentunya akan memberi pengaruh terhadap peingkatan kualitas kerja dimana
dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat dengan pelatihan kategori kurang
sebagian besar terdistribusi pada kinerja kategori kurang (77,4%) dan perawat yang
telah memperoleh pelatihan pada kategori cukup sebagian besar terdistribusi pada
kinerja cukup (68,4%) yang memberi interpretasi bahwa pelatihan yang
diselenggarakan kepada perawat memberi pengaruh terhadap kualitas kerja dalam
memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit.

5. Beban Kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan responden menyatakan


bahwa beban kerja yang dimiliki sudah berada pada kategori cukup (52,3%) yang
memberi interpretasi akan kesesuaian terhadap jenis kerja dan tanggung jawab yang
diemban dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di rumah sakit.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat responden yang


menyatakan bahwa beban kerja yang dimiliki masih kurang (47,7%) yang memberi
interpretasi akan ketidak sesuai antara kemampuan yang dimiliki dengan tanggung
jawab kerja yang dilaksanakan. Hasil ini juga memberi interpretasi akan
kekurangpercayaan pihak manjerial (pimpinan) dalam pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab kepada perawat untuk melaksanakan berbagai kegiatan kerja di
rumah sakit yang tidak hanya dengan pelaksanaan asuhan keperawatan saja namun
juga berbagai aktifitas kerja lainnya.

Aspek penilian beban kerja pada penelitian dengan memperhitungkan adanya


pekerjaan tambahan yang diberikan secara langsung dari pimpinan, adanya tambahan
pekerjaan diluar pekerjaan pokok, kesesuaian kemampuan terhadap pelaksanaan
kerja, kesesuaian jenis pekerjaan dengan keprofesian dan adanya tugas tambahan dari
pimpinan.

Beban kerja yang dimiliki oleh setiap karyawan begitu pula pada perawat di
rumah sakit dapat memberi pengaruh terhadap kemampuan kerja yang dilaksanakan
dimana hal ini berhubungan dengan maksimalisasi hasil kerja demi memberikan
kepuasan dan kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perawat dengan beban kerja cukup sebagian besar terdistribusi
pada kinerja yang cukup pula (59,6%) yang memberi gambaran bahwa beban kerja
yang cukup akan mempengaruhi peningkatan kualitas kerja yang dimiliki oleh
perawat. Sedangkan pada perawat dengan beban kerja kurang sebagian besar
terdistribusi pada kinerja kurang (61,3%) yang memberi informasi akan tingkat beban
kerja yang kurang sesuai atau berlebih dapat menurunkan kemampuan kerja ditambah
lagi dengan kurangnya pemberian insentif sehingga mempertinggi pencapaian kualitas
kerja yang rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian yang telah disajikan dan dibahas di
atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Kinerja perawat pada kategori cukup berdasarkan pengetahuan berada pada kategori
cukup (82,5%) dan pada kategori kurang (17,5%) sedangkan kinerja kurang berada
pada kategori cukup (48,4%) dan kategori kurang (51,6%)
2. Kinerja perawat pada kategori cukup berdasarkan motivasi kerja berada pada kategori
cukup (54,4%) dan pada kategori kurang (45,6%) sedangkan kinerja kurang berada
pada kategori cukup (32,3%) dan kategori kurang (67,7%)
3. Kinerja perawat pada kategori cukup berdasarkan pelatihan berada pada kategori
cukup (68,4%) dan pada kategori kurang (31,6%) sedangkan kinerja kurang berada
pada kategori cukup (22,6%) dan kategori kurang (77,4%)
4. Kinerja perawat pada kategori cukup berdasarkan beban kerja berada pada kategori
cukup (59,6%) dan pada kategori kurang (40,4%) sedangkan kinerja kurang berada
pada kategori cukup (38,7%) dan kategori kurang (61,3%)

2. Saran

Saran yang diajukan pada penelitian berdasarkan hasil, pembahasan dan


kesimpulan adalah sebagai berikut :

1. Dalam rangka penciptaan kualitas kerja yang maksimal sebagai wujud


penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas ditinjau dari aspek
pelaksanaan asuhan keperawatan di rumah sakit maka pengembangan pengetahuan
pada perawat harus dilaksanakan melalui pengembangan pendidikan dan atau
penyelenggaraan pelatihan didunia kerja
2. Pihak manajerial rumah sakit harus tetap memperhatikan perawat dengan motivasi
kurang namun masih memiliki kesadaran untuk tetap melaksanakan aktivitas kerja
dengan maksimal dengan memberikan motivasi yang cukup pula sehingga lebih
memaksimalkan hasil kerja yang dicapai rumah sakit.
3. Pemberian beban kerja tambahan kepada perawat harus disesuaikan dengan
kemampuan dan kapabilitas dari masing-masing tenaga perawat sehingga dapat
melaksanakan aktivitas kerja dengan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani, Nilai-Nilai Profesionalisme Dalam Praktek Keperawatan, Makalah Seminar


Loka Karya Praktek Keperawatan Profesionalisme, FIK, Universitas Indonesia,
Jakarta, 1998.
Aditama, Chandra Yoga, Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Universitas Indonesia
Press, Jakarta, 2000.

Azrul Azwar,Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi Ketiga, Penerbit Binarupa Aksara,


Jakrta, 1996

Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996

Christina Ibrahim, Introduksi dan Ilustrasi Pelaksanaan Proses Keperawatan, Depkes


Pajajaran, Bandung, 1997

Depkes RI, Konsep dan Mutu Manajemen Rumah Sakit, Jakarta, 1990.

,Standar Pelayanan Rumah Sakit, Cetakan V, Jakarta, 2001.

Depnakertrans, Undang-Undang Ketenagakerjaan Indonesia No. 13 Tahun 2003.

Direktorat Kesehatan Jiwa, Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa, Penerbit Rumah
Sakit Jiwa Makassar, 1996.

Eapluyito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi Kedua, Penerbit


Kedokteran EEG, Jakarta, 1987.

Habiba Ngaru, Kepuasan Kerja Tenaga Paramedik, 2002

Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta, 2003.


Jacobus, Manajemen dan Keperawatan, Edisi Ketiga, Penerbit Binarupa, Jakarta, 2001.

Marilyn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi ketiga, Penerbit buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2000

Nasrul Efendy, Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Penerbit Buku Kedokteran EGC,


Jakarta, 1997

Noer Bahry Noor, Motivasi Kerja Dalam Sebuah Organisasi, FKM UNHAS, Makassar,
1995.

Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Ilmu Penelitian Ilmu Keperawatan.
Edisi Pertama : Salemba Medika, Jakarta

Prasetya Irawan, Manajemen Sumber Daya Manusia, STIA LAN PRESS, Jakarta, 1997

Rusli Ngatimin, Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat Di Pedesaan, Pascasarjana


UNHAS, Makassar, 1987.

, Mengukur perilaku Kesehatan Masyarakat, Ujung Pandang, 1996.

Sastrohadiwiryo, Siswanto, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta,


2003.

Savitri, T., Modul Penilaian Kinerja Sianber Daya Manusia Organisasi Pelayanan
Kesehatan, Yogyakarta, PPS UGM, 1997.

Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta,


1997.
, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

Sondang, P. Siagian, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Rineka Cipta, Jakarta, 1994.

Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, CV Alfabeta, Bandung, 2000.

Wijono. Djoko, Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, Vol. 1. Airlangga University


Press, Surabaya, 1999.

Yasir, Ilyas, Kinerja (Teori, Penilaian dan Penelitian), Cetakan I, Jakarta, 1999.

Dokumen Selengkapnya dapat menghubungi

085242854524

Email : joeh_com@yahoo.com

Blog : http:\\blogjoeharno.blogspot.com

a.n. Rhano

Anda mungkin juga menyukai