Anda di halaman 1dari 1

KHOTBAH 55

Tentang Ketabahan di Medan Pertempuran

Bersama Nabi Allah kami dahulu berperang melawan orangtua kami, putra, sandara dan
paman kami, dan ini meneruskan kami dalam iman, dalam penyerahan, dalam mengikuti
jalan yang benar, dalam kesabaran atas pedihnya sakit dan dalam perjuangan kami
melawan musuh. Seorang dari pihak kami dan seorang dari musuh saling bertarung
seperti orang-orang penuh semangat bertanding tentang siapa yang akan membunuh
lainnya; kadang-kadang orang kami mengalahkan lawan, dan kadang-kadang musuh
mengalahkan orang kami.

Ketika Allah melihat kebenaran kami, la mengirim kehinaan kepada musuh kami dan
mengirimkan pertolongan-Nya kepada kami sampai Islam menjadi kukuh fseperti untal
dengan leher di tanah dan beristirahat di tempatnya. Demi hidup saya, sekiranya
kami juga berlaku seperti Anda, tak ada tiang agama [kita] yang mungkin didirikan,
tak dapat pula pohon keimanan menumbuhkan daun. Demi Allah, tentulah Anda sekarang
akan memerah darah kami (ketimbang susu) dan pada akhirnya Anda akan menghadapi
hal memalukan.[1] �

[1] Ketika Muhammad ibn Abu Bakar tclah tcrbunuh, Mu'awiah mengutus 'Abdullah ibn
;Amir al-Hadhrami ke Bashrah untuk menghasut orang Bashrah menuntut balas atas
terbunuhnya Khalifah 'Utsman, karena kecenderungan alami kebanyakan penduduk
Bashrah, terutama Bani Tamim, kepada 'Utsman.

Sesuai dengan itu ia tinggal bersama Bani Tamim. Saat itu 'AbduIlah ibn 'Abbas
telah pergi ke Kufah untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian Muhammad ibn
Abu Bakar dengan meninggalkan Ziyad ibn 'Ubaid (ibn Abih) sebagai penggantinya.
Ketika suasana di Bashrah mulai mcmburuk, Ziyad memberitahukan kepada Amirul
Mukminin tentang segala kenyataan itu. Amirul Mukminin berusaha untuk menyiapkan
Bani Tamim di Kutah, tetapi mereka sama sekali merribungkam, tak menjawab. Ketika
Amirul Mukminin melihat kelemahan dan aib ini pada mereka, ia menyampaikan bahwa,
"Di masa Nabi, kami tidak melihat apakah orang terbunuh dengan tangan kami adalah
famili atau bukan; siapa saja yang menentang Kebenaran, kami siap menghadapinya.
Sekiranya kami pun telah bertindak serampangan atau tidak berbuat sesuatu seperti
Anda, agama tak akan berakar dan Islam tak akan makmur."

Karena rangsangan ini, A'yan ibn Dhabt'ah al-Mujasyi'i menyiapkan dirinya. Tetapi,
ketika sampai di Bashrah ia dibunuh orang. Setelah itu Amirul Mukminin mengutus
Jariah ibn Qudamah as-Sa'di dengan lima puluh orang Bant Tamim. Mula-mula ia
berusaha keras untuk membujuk sukunya sendiri, tetapi ketimbang mengikuti jalan
yang benar, mereka bersikeras, mencerca dan berkelahi. Lalu Jariah memanggil Ziyad
dan suku 'Azd untuk tnembantunya. Segera setelah mereka tiba, 'Abdullah ibn al-
Hadhrami juga tiba dengan orang-orangnya. Kedua pihak menggunakan pedang untuk
beberapa saat, tetapi akhirnya Ibn Hadhramt lari dengan tujuh puluh orang lalu
berlindung di rumah Sabil as-Sa'di. Jariah tidak melihat jalan lain kecuali
membakar rumah itu. Ketika api berkobar, mereka keluar mencari keselamatan tetapi
tak dapat lolos. Sebagian dari mereka mati tertindih dinding sementara yang
lainnya terbunuh.