Anda di halaman 1dari 1

KHOTBAH 60

Amirul Mukminin juga berkata:

Jangan tnembunuh kaum Kharijt sesudah saya,[1] karena orang yang mencari yang hak
tetapi tidak menemukannya tidak sama dengan orang yang mencari kebatilan dan
mendapatkannya (yangdimaksudnya adalah Mu'awiah dan kaumnya).

Sayid Radhi berkata: Yang dimaksud Amirul Mukminin ialah Mu'awiah dan orang-
orangnya. �

[1] Alasan menghentikan orang memerangi kaum Khariji ialah bahwa Amirul Mukminin
jelas-jelas melihat bahwa sesudahnya wewenang dan kekuasaan akan jatuh ke tangan
orang-orang yang tak tahu akan makna jihad yang sesungguhnya dan yang akan
menggunakan pedang hanya untuk memelihara kekuasaannya. Dan ada orang yang bahkan
melebihi kaum Khariji dalam mencerca dan mencemari Amirul Mukminin. Maka, orang-
orang zalim tidak berhak memerangi orang yang salah. Lagi pula, orang-orang yang
dengan sengaja menempuh jalan tatil tidak dapat diizinkan memerangi orang-orang
yang salah karena kekeliruan. Jadi, kata-kata Amirul Mukminin menjelaskan
kenyataan bahwa kesesatan kaum Kharijt tidak disengaja melainkan karena pengaruh
iblis. Mereka keliru menganggap salah sebagai benar lalu bersikeras padanya. Pada
sisi lain, posisi kesesatan Mu'awiah dan kalangannya lain; mereka menolak
kebenaran dengan menyadari bahwa itu sebenarnya mcmang benar, dan mcnyukai
kebatilan sebagai tata perilaku mereka dengan mengetahui sepenuhnya bahwa itu
mcmang sebenarnya batil. Kesembronoan mereka dalam urusan keagamaan telah mencapai
tahap yang tak dapat lagi dipandang sebagai akibat salah paham, tak dapat pula
ditutupi dengan jubah kckeliruan penilaian. Karena, secara terang-terangan mereka
melanggar batas-batas ketentuan agama dan tidak mempedulikan perintah Nabi (saw)
tetapi mengikuti kehendak mereka sendiri. Maka Ibn Abil Hadid menulis (dalam Syarh
Nahjil Balaghah, V, h. 130), ketika sahabat Nabi, Abu ad-Darda' melihat peralatan
dari emas dan perak yang digunakan Mu'awiah, ia mengatakan bahwa ia telah
mendengar Nabi berkata, "Orang yang minum dari wadah emas dan perak akan merasakan
nyala api neraka dalam perutnya," Mu'awiah mengatakan, "Saya tidak mclihat suatu
kcburukan di dalamnya." Demikian pula, mengakui Ziyad ibn Abih sebagai saudara
scayahnya mcnurut maunya sendiri merupakan suatu pengabaian total terhadap
perintah Nabi; mencerca para anak cucu Nabi di mimbar, melanggar batas-batas
syariat, menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah dan menempatkan diri di
atas kaum Muslim (dengan mengaku Khalifah) adalah keji dan membuka jalan kepada
kejahatan dan kekafiran; dengan scmua itukita tak dapat mcngatributkannya sebagai
salah paham. Mengatakan demikian sama saja dengan menutup mata lcrhadap kenyataan.