Anda di halaman 1dari 1

KHOTBAH 72

Amirul Mukminin a.s. berkata tentang Marwan di Bashrah. Ketika Marwan ditawan pada
Hari Jamal, ia meminta kepada Hasan dan Husain untuk membelanya di hadapan Amirul
Mukminin a.s. la pun dibebaskan. Pada waktu mereka berkata, "Ya Amirul Mukminin,
ia ingin membaiat Anda," ia a.s. berkata:

Apakah ia tidak membaiat saya setelah pembunuhan 'Utsman? Sekarang saya tidak
memerlukan baiatnya, karena baiatnya adalah dengan tangan seorang Yahudi. Apabila
ia membaiat saya dengan tangannya, ia akan melanggarnya dalam waktu singkat. Ya,
ia akan mencari kekuasaan secepatnya seperti seekor anjing menjilat hidungnya, dan
keempat putranya juga akan berkuasa. Rakyat akan menghadapi hari-hari sulit
melalui dia dan anak-anaknya.[1] �

[1] Marwan ibn Hakam adalah kemenakan dan menantu 'Utsman. Karena badannya yang
kurus tinggi ia dijuluki "Khaith Bathil" (benang kebatilan). Ketika 'Abdul Malik
ibn Marwan membunuh 'Amr ibn Sa'id al-Asydaq, saudaranya Yahya ibn Sa'id
mengatakan,

Wahai, putra-putra Khaith Bathil (benang kebatilan), kamu telah memainkan penipuan
pada 'Amr, dan orang-orang seperti kamu membangun rumahnya (kekuasaan) di atas
penipuan dan penghianatan.

Walaupun ayahnya al-Hakam ibn Abi al-'Ash telah menerima Islam pada saat
terbukanya Makkah, tetapi kelakuan dan perbuatannya sangat menyakiti hati Nabi.
Karenanya Nabi mengutuknya. Beliau mengatakan, "Celaka akan menimpa umal-ku dari
keturunan orang ini." Akhirnya, karena intrik-intriknya yang semakin meningkat,
Nabi mengusirnya dari MadTnah ke lembah Wajj di Tha'if, dan Marwan pun ikut
besertanya. Nabi tak mengizinkan mereka kembali lagi ke Madinah selama hidup
beliau. Abu Bakar dan 'Umar pun berbuat demikian. Tetapi, 'Utsman memanggil mereka
dalam tnasa pemerintahannya, dan mengangkat Marwan pada jabatan yang demikian
tinggi seakan-akan kendali kekhalifahan berada di tangannya. Setelah itu
keadaannya nampak senang; pada saat matinya Mu'awiah ibn Yazid, ia menjadi
Khalifah kaum Muslim. Tetapi, baru memerintah selama sembilan bulan delapan belas
hari, ia mati sementara istrinya menduduki bantal di atas kepalanya; ia tak
melepaskan bantal itu sehingga ia mati.

Keempat anak lelaki yang disinggung Amirul Mukminin itu ialah anak-anak 'Abdul
Malik ibn Marwan, yakni Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam, yang menjadi Khalifah
susul-menyusul dan mewarnai lembaran sejarah dengan riwayat mereka. Sebagian
pensyarah memandang rujukan ini kepada anak-anak Marwan sendiri yang bernama
'Abdul Malik, 'Abdul 'Aziz, Bisyr dan Muhammad. Di antara mereka, 'Abdul Malik
menjadi Khalifah tetapi 'Abdul 'Aziz menjadi Gubernur Mesir, Bisyr Gubernur 'Iraq
dan Muhammad menjadi Gubernur al-Jazirah.