Anda di halaman 1dari 2

KHOTBAH 91

Ketika orang-orang memutuskan untuk membaiat Amirul Mukminin setelah pembunuhan


'Utsman,[1] ia berkata:

Tinggalkan saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang
mempunyai (beberapa) wajah dan warna, yang tak dapat ditahan hati dan tak dapat
diterima akal. Awan sedang menggelantung di langit, dan wajah-wajah tak dapat
dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut Anda, saya akan
raemimpin Anda sebagaimana saya ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang
mungkin dikatakan atau dicercakan orang. Apabila Anda meninggalkan saya maka saya
sama dengan Anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda
jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat
ketimbang seorang kepala. �

[1] Setelah pembunuhan 'Utsman, kursi kekhalifahan tertinggal kosong, dan kaum
Muslim mulai melihat kepada Ali a.s. yang berperangai damai, kukuh pada prinsip,
dan perilakunya telah banyak mereka saksikan selama masa panjang itu. Akibatnya,
mereka berduyun-duyun menyerbunya untuk menyampaikan baiat kepadanya seperti
musafir tersesat melihat tujuannya. Mereka menyerbu kc arah-nya, sebagaimana
dicatat sejarawan Thabari,

"Orang maju berdesakan-desakan kepada Ali seraya mengatakan, 'Kami hendak membaiat
kepada Anda dan Anda melihat kekacauan apa yang menimpa Islam dan kita sedang
dicoba tentang kerabat Nabi.'" (Tarikh, I, h. 3066, 3067, 3076)

Tetapi Amirul Mukminin menolak permohonan mereka. Karenanya rakyat berteriak-


teriak dengan kacau dan berseru dengan nyaring, "Hai Abu Hasan, apakah Anda tidak
menyaksikan kehancuran Islam atau melihat datangnya banjir kerusuhan dan bencana?
Apakah Anda tidak takut kepada Allah?" Namun demikian Amirul Mukminin tidak
menunjukkan kesediaan untuk menyetujuinya, karena ia melihat bahwa eiek dari
suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi telah menguasai hati dan pikiran
rakyat; keakuan dan hawa nafsu untuk kekuasaan telah berakar di hati mereka,
pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme, dan mereka telah terbiasa
memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan maksud mereka. Sekarang
mereka hendak mematerialkan dan mempermainkan kekhalifahan Ilahi pula. Dalam
keadaan itu mustahil mengubah mentalitas atau mengalihkan arah temperamen mereka.
Selain dari itu, ia pun melihat bahwa rakyat harus mendapatkan waktu lebih panjang
untuk berpikir agar kelak mereka tidak mengatakan bahwa baiat mereka telah
diberikan di bawah kebutuhan temporer dan pemikiran sewaktu dan tanpa pemikiran
matang, tepat sebagaimana gagasan 'Umar tentang kekhalifahan pertama, yang muncul
dalam pernyataannya,

"Kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa dipikirkan, tetapi Allah menyelamat-kan kita
dari bencananya. Apabila seseorang mengulangi hal semacam itu, ia harus dibunuh.
(al-Bukhari ash-Shahih, VIII, h. 210-211; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 55;
Thabarf, I, h. 1822; Ibn Atsir, II, h. 327; Ibn Hisyam, IV, h. 308-309; Ibn
Katsir, V, h. 246)

Singkatnya, ketika desakan mereka meningkat melampaui batas, Amirul Mukminin


mengucapkan khotbah ini, di mana ia menjelaskan bahwa "Apabila Anda menghendaki
saya demi tujuan-tujuan duniawi Anda, maka saya tidak siap melayani sebagai alat
Anda. Tinggalkan saya dan pilihlah seseorang lain yang mungkin memenuhi tujuan
Anda. Anda telah melihat kehidupan masa lalu saya bahwa saya tidak bersedia
mengikuti apa pun selain Al-Qur'an dan Sunah, dan tidak akan melepaskan prinsip
ini untuk mendapatkan kekuasaan. Apabila Anda memilih seseorang lain, saya akan
menghormati hukum negara dan konstitusi sebagaimana warga yang suka damai. Tidak
pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk
memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Malah, justru demi memelihara
kebaikan bersama, sampai saat ini saya memberikan nasihat yang benar, saya tak
akan enggan untuk berbuat sama seperti itu. Apabila Anda biarkan saya dalam
kedudukan yang sama, hal itu adalah lebih baik bagi tujuan duniawi Anda, karena
dalam hal itu saya tidak memegang kekuasaan untuk menghalangi urusan duniawi Anda
dan menciptakan rintangan terhadap keinginan hati Anda. Tetapi, jika Anda telah
bertekad untuk membaiat kepada saya, ingatlah bahwa apabila Anda menger-nyitkan
dahi atau berbicara menentang saya maka saya akan memaksa Anda me-langkah pada
jalan yang benar, dan dalam hal kebenaran saya tidak akan peduli terhadap siapa
pun. Apabila Anda hendak membaiat walaupun dengan ketentuan ini, Anda boleh
memuaskan kehendak Anda."

Kesan yang telah dibentuk oleh Amirul Mukminin tentang orang-orang ini sesuai
sepenuhnya dengan kejadian-kejadian di kemudian hari. Ketika orang-orang yang
telah membaiat dengan motif-motif duniawi tidak berhasil dalam tujuannya, mereka
kemudian membelot dan bangkit melawan pemerintahannya dengan tuduhan-tuduhan
palsu.