Anda di halaman 1dari 6

KHOTBAH123

Menyuruh Pengikutnya Berperang[1]

Tempatkan orang yang berzirah di depan dan tahanlah orang yang tak berzirah di
belakang. Katupkan gigi Anda kuat-kuat karena hal itu akan menggelincirkan pedang
dari tulang kepala Anda, dan menepis sisi tombak, karena fhal) itu akan mengubah
arah sisi tajamnya. Tundukkan mata karena hal itu menguatkan jiwa dan
menenteramkan hati. Matikan suara-suara karena (Hal) ini akan menjauhkan hilangnya
semangat.

Jangan biarkan panji Anda menunduk, dan jangan tinggalkan dia sendirian. Jangan
memberikannya pada siapa pun kecuali para pemberani dan pembela kehormatan di
antara Anda, karena hanya mereka yang tabah menanggung timpaan kesulitan; mereka
mengelilingi panji-panji dan mengawalnya dari kedua sisi, belakangnya dan
depannya. Mereka tidak berpisah dari dia agar mereka tidak menyerahkannya (kepada
musuhj. Mereka tidak pergi mendahuluinya agar tidak meninggalkannya sendirian.
Setiap orang berurusan dengan lawannya dan juga membantu temannya dengan jiwanya
sendiri, dan tak boleh meninggalkan lawan kepada temannya agar lawannya sendiri
maupun lawan temannya tidak bergabung terhadapnya.

Demi Allah, sekalipun Anda melarikan diri dari pedang hari ini, Anda tak akan aman
dari pedang dunia lain. Anda adalah yang paling terkemuka di kalangan orang Arab
dan tokoh-tokoh besar. Sesungguhnya dalam melarikan diri terdapat kemurkaan Allah,
kenistaan yang tak ada hentinya dan malu yang langgeng. Dan sesungguhnya seorang
pelarian tak akan memperpanjang hidupnya, tak akan datang sesuatu menghalangi
antara dia dan hari (kematian)-nya. Siapakah yang akan pergi kepada Allah seperti
orang haus pergi ke air? Surga terletak di bawah ujung-ujung tombak. Sekarang
reputasi (tentang keberanian mujahid) akan diuji.

Demi Allah, saya lebih kepingin menemui mereka (dalam pertempuran) daripada
(keinginan) mereka untuk (kembali ke) kampung halamannya. Ya, Tuhanku, apabila
mereka menolak kebenaran, bubarkanlah kelompok mereka, pecahkan kata-kata
(pendapat) mereka dan hancurkanlah mereka karena dosa-dosanya.

Mereka tidak akan bergeser dari pendiriannya sehingga serangan tombak yang
berkelanjutan menyebabkan penembusan (luka-luka) yang melaluinya angin boleh
berlalu, dan kenanya pedang-pedang memotong tengkorak, membelah tulang-tulang dan
memutuskan lengan-lengan dan kaki, hingga mereka diserang oleh kontingen demi
kontingen, dan diserang oleh detasemen-detasemen yang disusul oleh cadangan-
cadangan untuk dukungan, sehinggsa kota-kota mereka terserang terus-terusan oleh
pasukan demi pasukan, dan hingga kuda-kuda memijak-mijak bahkan ujung-ujung bumi,
jalur hewan-hewan dan padang-padangnya.

Sayid Radhi berkata: ad-da'q" berarti pijakan, misalnya Taduqqu 'l-khuyulu bi


haw�firih�ardhahum" (Kuda-kuda memijak bumi dengan kukunya). "Nawahini ardhihim"
berarti tanah-tanah saling berhadapan; di-katakan, "manazilu bani fulanin
tatan�haru" yang berarti "rumah si polan dan si anu saling berhadapan". �

[1] Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini pada Perang Shiffin. Pertempuran itu
terjadi tahun 37 H. 656 M.), antara Amirul Mukminin dan Gubernur Suriah, Mu'awiah,
untuk apa yang dinamakan membalas dendam atas kematian Khalifah 'Utsman. Tetapi
penyebab sebenarnya hanyalah karena Mu'awiyah, yang telah lama menjadi Gubernur
Suriah yang otonom sejak diangkat Khalifah 'Umar, tidak mau kehilangan jabatannya
itu dengan membaiat kepada Amirul Mukminin 'Ali ibn Abi Thalib. la hendak
mempertahankan keutuhan wewenangnya dengan mengeksploitasi pembunuhan Khalifah
'Utsman. Peristiwa-peristiwa di hari-hari kemudian membuktikan bahwa setelah
mengamankan pemerintahan ia tidak mengambil suatu langkah nyata untuk membalaskan
darah 'Utsman, dan sama sekali tak pernah berbicara tentang para pembunuh 'Utsman.

Walaupun Amirul Mukminin menyadari sejak semula bahwa peperangan akan tak
terelakkan, ia masih terus berusaha menyadarkan Mu'awiah.

Pada hari Senin 12 Rajab 36 H., setelah kembali ke Kufah dari Perang Jamal, Amirul
Mukminin mengutus Jarir ibn 'AbduIlah al-Bajali ke Mu'awiah di Damsyik dengan
membawa sepucuk surat di mana ia mengatakan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar telah
membaiatnya dan Mu'awiah pun harus membaiat kepadanya dahulu baru kemudian
mengajukan kasus pembunuhan 'Utsman kepadanya supaya Amirul Mukminin dapat
menjatuhkan keputusan berdasarkan Al-Qur'an dan sunah. Tetapi Mu'awiah menahan
Jarir dengan berbagai alasan, dan setelah berunding dengan 'Amr ibn al-'Ash, ia
membangkang dengan dalih kasus pembunuhan 'Utsman. Dengan Baniuan orang-orang
penting di Suriah ia me yakinkan rakyat yang tak mengetahui persoalan, bahwa
tanggung jawab pembunuhan 'Utsman terpikul pada 'Ali, dan bahwa Ali memberi
semangat dan melindungi para pengepung 'Utsman. Sementara itu ia menggantungkan
baju 'Utsman yang berlumur darah serta potongan jari-jari istrinya Na'ilah binti
al-Farafishah di mimbar mesjid jamik Damsyik di mana sekitar 70.000 orang Suriah
berikrar untuk membalaskan dendam atas darah 'Utsman. Setelah berhasil
membangkitkan emosi rakyat Suriah sehingga mereka bertekad bulat untuk
mengorbankan nyawa, ia mendapatkan baiat mereka demi membalas dendam atas
pembunuhan 'Utsman, lalu ia bersiap untuk berperang. Sesudah itu ia memperlihatkan
semua hal itu kepada Jarir lalu mengirimkannya kembali ke Kufah dalam keadaan
malu. Ketika Amirul Mukminin mendengar tentang hal ini dari Jarir, ia terpaksa
bangkit menghadapi Mu'awiah. la memerintahkan Malik ibn Habib al-Yarbu'i untuk
mengerahkan pasukan di Lembah al-Nukhailah. Sehubungan dengan itu, orang dari
sekitar Kufah datang ke sana dalam kelompok-kelompok besar sehingga jumlahnya
melebihi 80.000 orang. Mula-mula Amirul Mukminin mengirimkan kontingen depan
sebesar 8.000 di bawah komando Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi dan pasukan 4.000
orang di bawah pimpinan Syuraih ibn Hani al-Haritsi ke Suriah. Setelah
berangkatnya kontingen depan ini, Amirul Mukminin sendiri berangkat ke Suriah
memimpin sisa tentara itu, pada hari Rabu 5 Syawal. Setelah keluar perbatasan kota
Kufah, ia mendirikan salat lohor dan setelah berkemah di Dair Abi Musa, (sungai)
Nahr Nars, Qubat Qubbin, Babil, Dair Ka'b, Karbala', Sabat, Baburasini, al-Anbar
dan al-Jazirah ia tiba di ar-Riqah. Penduduk tempat ini menyukai 'Utsman, dan di
tempat inilah Simak ibn Makhtamah al-Asadi bertengkar dengan 800 orangnya. Orang-
orang itu telah berangkat dari Kufah untuk bergabung dengan Mu'awiah setelah
membelot dari Amirul Mukminin. Ketika melihat pasukan Amirul Mukminin, mereka
membongkar jembatan Sungai Efrat supaya pasukan Amirul Mukminin tak dapat
menggunakannya untuk menyeberang. Tetapi, dengan ancaman Malik ibn al-Harits al-
Asytar an-Nakha'i mereka ketakutan, dan setelah berunding di antara sesamanya
mereka memperbaiki lagi jembatan itu dan Amirul Mukminin melewatinya dengan
tentaranya. Di seberang sungai itu ia melihat Ziyad dan Syuraih sedang berhenti di
sana bersama pasukan mereka karena keduanya mengambil jalan darat. Ketika sampai
di sana mereka dapati bahwa Mu'awiah sedang maju dengan tentaranya ke Sungai
Efrat, dan karena berpikir bahwa mereka tidak akan mampu menghadapinya, mereka
berhenti di sana sambil menunggu Amirul Mukminin. Ketika mereka memberikan alasan
kepada Amirul Mukminin mengapa mereka berhenti di situ, Amirul Mukminin menerima
alasannya lalu mengirimnya ke depan. Ketika mereka sampai di Sur ar-Rum, mereka
mendapatkan bahwa Abu al-A'war as-Sulami sedang berkemah di sana dengan
tentaranya. Keduanya melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin, lalu ia mengirim
Malik al-Haritsi al-Asytar untuk menyusul mereka sebagai Komandan sambil
mengingatkannya supaya tidak memulai pertempuran melainkan berusaha menasihati
mereka dan memberitahukan kepada mereka keadaan yang sebenarnya sedapat mungkin.

Ketika tiba di sana Malik al-Asytar berkemah agak jauh dari situ. Pertempuran
mungkin akan meletus setiap saat, tetapi ia tidak mengganggu pihak lainnya dan
tidak pula ia mengambil langkah yang mungkin memulai pertempuran. Tetapi Abu al-
A'war menyerang secara tiba-tiba di malam hari yang atasnya mereka menghunus
pedang untuk memukulnya mundur. Bentrokan itu terjadi beberapa lamanya tetapi
akhirnya Abu al-A'war melarikan diri di malam hari. Karena pertempuran telah
dimulai, segera setelah fajar, seorang komandan pasukan 'Iraq, Hasyim ibn 'Uqbah
al-Mirqal az-Zuhri, datang menghadapinya di medan tempur. Dari pihak lain datang
pula suatu kontingen, dan api pertempuran pun berkecamuk. Pada akhirnya Malik al-
Asytar menantang Abu al-A'war bertarung dengannya, tetapi yang ditantang ini tak
berani menghadapinya dan di sore hari Malik al-Asytar maju.dengan pasukannya.
Keesokan harinya Amirul Mukminin sampai di sana dengan pasukannya lalu berangkat
ke Shifffn bersama kontingen depannya dan pasukan-pasukan lainnya.

Mu'awiah telah lebih dahulu tiba di sana dan telah mendirikan basisnya. la juga
telah menempatkan pengawal di Sungai Efrat dan telah mendudukinya. Ketika tiba di
sana Arnirul Mukminin menyampaikan kepadanya untuk menyingkirkan pasukan
pengawalnya dari Sungai Efrat itu, tetapi Mu'awiah menolaknya. Karenanya pasukan
'Iraq menghunus pedang lalu menyerang dan merebut tempat di sungai itu. Setelah
itu Amirul Mukminin mengutus Basytr ibn 'Arnr al-Anshari, Sa'id ibn Qais al-
Hamdani dan Syabats ibn Ribi� at-Tamimi kepada Mu'awiah untuk memperingatkannya
tentang akibat-akibat peperangan dan mengajaknya membaiat. Tetapi jawabannya
adalah bahwa mereka sama sckali tidak akan mengabaikan darah 'Utsman dan sekarang
hanya pedang yang dapat menjadi perantara mereka.

Akibatnya, dalam bulan Zulhijah 36 H. kedua pihak memutuskan untuk berperang dan
para prajurit dari masing-masing pihak keluar untuk berhadapan di medan. Yang
memasuki medan dari pihak Amirul Mukminin adalah Hujr ibn 'Adi al-Kindi, Syabats
ibn Ribi� at-Tamimi, Khalid ibn al-Mu'ammar, Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi, Ziyad
ibn Khashafah at-Taimi, Sa'id al-Hamdani, Qais ibn Sa'd al-Anshari, dan Malik al-
Asytar an-Nakha'i. Dari pihak Suriah, 'Abdur-Rahman ibn Khalid ibn Walid al-
Makhzumi, Abu al-A'War as-Sulami, Habib ibn Maslamah al-Fihri, 'Abdullah ibn Dzil-
Kala' al-Himyari, 'Ubaidullah ibn 'Umar ibn Khaththab, Syurahbil ibn Simth al-
Kindi, dan Hamzah ibn Malik al-Hamdani.

Ketika bulan Zulhijah berakhir, pertempuran harus dihentikan karena tibanya bulan
Muharam 37 H. Tetapi pada 1 Safar pertempuran berlanjut dan kedua belah pihak
mengatur barisannya saling berhadapan dengan pedang, lembing dan persenjataan
lain. Di pihak Amirul Mukminin, Malik al-Asytar memimpin pasukan berkuda dan
'Ammar ibn Yasir memimpin pasukan infantri Kufah, sedang Sahl ibn Hunaif al-
Anshari memimpin pasukan berkuda dan Qais ibn Sa'd memimpin infantri asal Bashrah.
Panji tentara diberikan kepada Hasyim ibn 'Utbah. Di tentara Suriah, sayap kanan
dipimpin Ibn Dzil-Kala' sedang kontingen sayap kiri dikomandoi Habib ibn Maslamah,
pasukan berkuda dipimpin 'Amr ibn al-'Ash dan pasukan infantri dikomandoi adh-
Dhahhak ibn Qais al-Fihri.

Pada hari pertama, Malik al-Asytar memasuki medan pertempuran dengan pasukannya,
sedang di pihak Mu'awiah Habib ibn Maslamah datang dengan pasukannya, dan
pertempuran sengit pun berkecamuk sepanjang hari.

Keesokan harinya Hasyim ibn 'Utbah tampil dengan pasukan di pihak Amirul Mukminin
sedang Abu al-A'war muncul dengan pasukan infantri pihak Mu'awiah. Pasukan berkuda
berhadapan dengan pasukan berkuda, infantri dengan infantri.

Hari ketiga, 'Ammar ibn Yasir dan Ziyad ibn an-Nadhr tampil dengan pasukan berkuda
dan infantri, sedang pasukan besar pihak Mu'awiah dipimpin 'Amr ibn al-'Ash. Ziyad
menyerang pasukan berkuda sedang Malik al-Asytar menyerang pasukan infantri
Mu'awiah dengan sengitnya sehingga pasukan Mu'awiah mulai kehilangan pijakan, tak
dapat bertahan lalu kembali ke perkemahan.
Hari keempat, Muhammad ibn al-Hanafiah tampil di medan dengan pasukannya. Dari
pihak Mu'awiah tampil 'Ubaidullah ibn 'Umar al-Khaththab dan pertempuran
berlangsung keras.

Hari kelima, 'Abdullah ibn 'Abbas memimpin tentara Amirul Mukminin sedang Walid
ibn 'Uqbah ibn Abi Mu�ith menghadapinya. 'Abdullah ibn 'Abbas melancarkan serangan
dengan sangat ulet dan berani dan memberikan pukulan keras sehingga lawannya
mundur meninggalkan medan.

Hari keenam, Qais ibn Sa'd al-Anshari rnaju menghadapi pasukan Ibn Dzil-Kala' dan
pertempuran sengit berkecamuk. Banyak tentara gugur pada kedua pihak. Malam
memisahkannya.

Hari ketujuh Malik al-Asytar berhadapan dengan Habib ibn Maslamah dan pertempuran
berlangsung hingga tengah hari.

Hari kedelapan Amirul Mukminin sendiri maju dengan tentaranya dan serangan
dilakukan di seluruh medan pertempuran yang berlangsung amat sengit. Kemudian
Amirul Mukminin menantang Mu'awiah, lalu Mu'awiah, disertai 'Amr ibn al-'Ash
datang agak mendekat. Amirul Mukminin berkata kepadanya, "Marilah hadapi aku.
Biarlah barangsiapa yang membunuh lawannya kelak menjadi penguasa." 'Amr ibn
al-'Ash lalu berkata kepada Mu'awiah, "Ali benar. Beranikanlah diri Anda dan
hadapilah dia." Mu'awiah menjawab, "Saya tidak sedia menyia-nyiakan nyawa saya
atas godaanmu." Sambil berkata demikian ia mundur. Ketika Amirul Mukminin
melihatnya mundur ia tersenyum lalu mundur pula. Keberanian Amirul Mukminin dalam
serangannya di Shifffn merupakan keperkasaan yang luar biasa. Bila saja ia keluar
menantang di medan pertempuran, barisan lawannya menjadi kacau balau, dan bahkan
petarung perkasa mengelak untuk menghadapmya. Itulah sebabnya maka dalam beberapa
kesempatan ia maju ke medan dengan pakaian yang berbeda agar tidak dikenali lawan,
supaya ada yang berani menghadapinya. Sekali 'Arar ibn Ad-ham dari pihak Mu'awiah
bertarung dengan 'Abbas ibn Rabi'ah ibn al-Harits ibn 'Abdul Muththalib. Mereka
bertarung dengan alot dan tak ada yang jatuh, sampai 'Abbas melihat bahwa
sambungan pada baju zirah lawannya longgar. Dengan pukulan mendadak ia menusuk
sisi itu dengan pedangnya, dan kemudian ia menyerang sambungan-sambungan lainnya
yang longgar. Kemudian, dengan tujuan yang sebenarnya ia menyerang dengan
pedangnya langsung ke dadanya. Melihat ini orang menyerukan takbir. Mu'awiah kaget
karena seruan itu dan setelah mengetahui bahwa 'Arar ibn Ad-ham telah terbunuh, ia
lalu berseru meminta siapa yang berani membalaskan dendam kematian 'Arar itu
dengan membunuh 'Abbas ibn al-Harits. Beberapa orang tentara berkuda yang
kelelahan dari kalangan suku Lakhm datang menantang 'Abbas. 'Abbas mengatakan
bahwa ia akan datang setelah meminta izin imamnya, lalu ia pergi kepada Amirul
Mukminin untuk meminta izin. Amirul Mukminin menahannya, memakai baju 'Abbas, dan
sambil menunggang kuda tunggangan 'Abbas ia masuk ke medan pertempuran. Karena
mengira dia 'Abbas, orang-orang Lakhm berkata, "Jadi, Anda telah mendapatkan izin
imam Anda." Sebagai jawabannya Amirul Mukminin membaca ayat,

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena mereka telah
dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. " (QS.
22:39)

Maka datanglah satu orang dari pihak lawannya sambil berteriak seperti gajah,
menyerbu dengan mengamuk, tetapi Amirul Mukminin mengelakkan pukulannya lalu
menetakkan pedangnya ke punggung penyerang itu sehingga badannya terputus dua.
Mulanya dikira orang bahwa pukulan pedang itu sia-sia, tetapi ketika kuda
tunggangannya melompat, tubuh itu jatuh dalam dua bagian. Setelah itu seorang lagi
datang tetapi ia pun tewas dalam sekejap. Kemudian Amirul Mukminin menantang orang
lain, tetapi dari pukulan pedangnya lawan mengetahui bahwa ialah Amirul Mukminin
dalam pakaian 'Abbas, dan tak ada lagi yang berani menghadapinya.
Pada hari kesembilan, sayap kanan di bawah komando 'Abdullah ibn Budail dan sayap
kiri di bawah pimpinan 'Abdullah ibn 'Abbas. Pasukan di tengahnya dipimpin
langsung oleh Amirul Mukminin. Di pihak Mu'awiah Habib ibn Maslamah memimpin
pasukan Suriah. Ketika kedua barisan berhadap-hadapan, para pemberani menghunus
pedang mereka dan saling menyerang dengan ganas seperti singa buas, dan
pertempuran berkecamuk di seluruh medan. Panji sayap kanan tentara Amirul Mukminin
berada di tangan Bani Hamdan. Bila seseorang gugur, yang lainnya mengambil panji
itu. Pertama-tama Kuraib ibn Syuraih memegangnya. Ketika ia gugur Syurahbil ibn
Syuraih mengambilnya, lalu Martsad ibn Syuraih, kemudian Hubairah ibn Syuraih,
kemudian Yarim ibn Syuraih, kemudian Sumail ibn Syuraih dan setelah gugurnya
keenam orang bersaudara itu, panji dipegang berturut-turut oleh Sufyan, 'Abd lalu
Kuraib, ketiganya putra Zaid, dan semuanya gugur. Setelah itu panji dipegang oleh
dua bersaudara, 'Umair dan al-Harits ibn Basyir, dan setelah keduanya gugur pula,
panji itu dipegang Wahb ibn Kuraib. Pada hari ini perhatian lebih besar pasukan
Mu'awiah tertuju ke sebelah kanan, dan serangannya demikian sengitnya sehingga
pasukan pihak Amirul Mukminin terpukul mundur. Hanya 300 orang yang tertinggal
bersama komandannya, 'Abdullah ibn Budail. Melihat keadaan ini, Amirul Mukminin
menyuruh Malik al-Asytar untuk memanggil mereka kembali dan menantang mereka ke
mana mereka melarikan diri. "Apabila hari-hari kehidupan telah habis, mereka tak
dapat mengelakkan maut dengan melarikan diri." Sekarang, kekalahan sayap kanan itu
pastilah berpengaruh pada sayap kiri. Karena itu Amirul Mukminin pergi ke sayap
kiri lalu maju ke depan, memaksa melewati barisan lawan, yang atasnya seorang
budak Bani Umayyah berkata kepadanya, "Semoga Allah mematikan saya apabila saya
tak dapat membunuh Anda hari ini." Mendengar ini, budak Amirul Mukminin yang
bernama Kaisan melompat kepadanya dan terbunuh olehnya. Ketika mengetahui ini
Amirul Mukminin memegang budak Bani Umayyah itu di baju zirahnya, mengangkatnya
lalu memBaniingnya dengan keras sehingga semua persediannya hancur, yang atasnya
Imam Hasan a.s. dan Muhammad al-Hanafiah maju lalu membunuhnya. Sementara itu,
setelah dipanggil Malik al-Asytar dan menggugah rasa malunya, orang-orang yang
tadinya mundur lalu kembali dan sekali lagi menyerang hingga musuh mundur sedang
mereka maju sampai ke tempat di mana 'Abdullah ibn Budaii sedang dikepung musuh.
Ketika melihat orang-orangnya sendiri datang, ia menjadi lebih berani lalu
tnenyerang kemah Mu'awiah dengan pedang terhunus. Malik al-Asytar berusaha
mencegahnya tetapi tak berhasil. Setelah membunuh tujuh orang Suriah, ia sampai ke
kemah Mu'awiah. Ketika Mu'awiah melihatnya di dekatnya, ia memerintahkan orang
melemparinya dengan batu, dan orang Suriah pun mengeroyok dan membunuhnya. Ketika
Malik al-Asytar melihat hal itu ia maju dengan para pejuang Bani Hamdan dan Bani
Madzhij untuk menyerang Mu'awiah dan mengacaukan para pengawal yang
mengelilinginya. Ketika tinggal satu lapis lagi dari lima lingkaran pengawalnya
yang harus dipatahkan, Mu'awiah menunggang kudanya untuk melarikan diri, tetapi
berhenti lagi setelah diberi semangat oleh seseorang.

Di sisi lain medan, pertempuran gegap gempita sedang berlangsung dari ujung ke
ujung oleh pedang 'Ammar ibn Yasir dan Hasyim ibn 'Utbah. Dari sisi mana saja
'Ammar lewat, para sahabat Nabi berkumpul di sekitarnya lalu membuat paduan
sedemikian rupa sehingga kehancuran menyebar di seluruh barisan musuh. Ketika
Mu'awiah melihat mereka maju, ia mengerahkan pasukan segar untuk menghadapinya.
Tetapi 'Ammar terus menunjukkan kegagahannya dalam badai pedang dan lembing.
Akhirnya Abu al-'Adziyah al-Juhani mengenainya dengan lembingnya, lalu Ibn Hawi
(Jaun as-Saksiki) maju dan membunuhnya. Matinya 'Ammar ibn Yasir menimbulkan
kegemparan di barisan Mu'awiah, karena Nabi telah bersabda, "'Ammar akan terbunuh
di tangan kalangan pendurhaka." Maka sebelum ia gugur sebagai syahid, Dzul Kala'
telah berkata kepada 'Amr ibn al-'Ash, "Saya melihat 'Ammar di pihak 'Ali; kitakah
orang-orang pendurhaka itu?" 'Amr ibn al-'Ash meyakinkan dia bahwa pada akhirnya
'Ammar ibn Yasir akan bergabung dengan mereka, tetapi ketika ia terbunuh di pihak
Ali, pihak pendurhaka terungkap dan tak ada lagi interpretasi lain. Walaupun
demikian, Mu'awiah mengatakan kepada orang Suriah, "Kita tidak membunuh 'Ammar,
melainkan Ali membunuhnya karena ia membawanya ke medan pertempuran." Ketika
Amirul Mukminin mendengar kalimat licik itu, ia berkata, "Apabila demikian maka
Nabilah yang membunuh Hamzah karena beliau membawanya ke pertempuran Uhud." Hasyim
ibn 'Utbah juga gugur dalam pertempuran itu. la terbunuh oleh al-Harits ibn
Mundzir at-Tanukhi. Setelah gugurnya, panji dipegang oleh putranya 'Abdullah.

Ketika para pejuang yang amat pemberani itu telah tiada, Amirul Mukminin berkata
kepada orang suku Hamdan dan Rabi'ah, "Bagi saya, Anda adalah ibarat perisai dan
lembing. Bangkitlah dan berilah pelajaran kepada para pendurhaka itu." Maka 12.000
pejuang dari suku Rabi'ah dan Hamdan bangkit dengan pedang terhunus. Panji
dipegang oleh Hudhain ibn al-Mundzir. Ketika memasuki barisan musuh, mereka
menggunakan pedang sedemikian rupa sehingga kepala-kepala berjatuhan, tubuh-tubuh
bergelimpangan dan di kedua pihak mengalir darah. Dan serangan para jago pedang
ini tidak berhenti hingga hari menjelang berakhir dengan segala kehancurannya dan
kegelapan turun dibawa oleh malam yang menakutkan yang dalam sejarah dikenal
sebagai Malam al-Harir, di mana dencingan senjata, derap kaki kuda dan pekik jerit
orang Suriah menimbulkan perhalian sedemikian rupa sehingga suara-suara lain yang
sampai ke telinga tak terdengar. Di pihak Amirul Mukminin, slogannya yang
menghancurkan kebatilan mem-bangkitkan gelombang keberanian dan keperkasaannya
sambil menggetarkan hati musuh. Pertempuran telah mencapai puncaknya. Kantong
panah para pemanah telah kosong. Batang-batang lembing telah patah. Pertempuran
tangan berlangsung dengan pedang, dan mayat-mayat tertumpuk; menjelang pagi,
jumlah yang tewas melebihi 30.000 orang.

Pada hari kesepuluh, orang-orang Amirul Mukminin menunjukkan moral yang sama. Di
sayap kanan Malik al-Asytar memegang komando dan di sayap kiri 'Abdullah ibn
'Abbas. Serangan-serangannya berlangsung seperti tentara baru. Tanda-tanda
kekalahan nampak pada orang Suriah, dan mereka sudah hendak meninggalkan medan dan
melarikan diri. Pada saat itu lima ratus mashaf Al-Qur'an diangkat di ujung
lembing tentara Mu'awiah, yang mengubah seluruh wajah pertempuran. Pedang-pedang
berhenti bergerak, senjata penipuan berhasil, dan jalan terbuka bagi berkuasanya
kebatilan.

Dalam pertempuran ini 45.000 tentara Suriah tewas sementara 25.000 tentara 'Iraq
gugur. (Kitab Shiffin oleh Nashr ibn Muzahim (m. 212 H.) dan Tarikh ath-Thabari,
jilid I, h. 3256-3349.)