Anda di halaman 1dari 8

c  c




Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah IKD 1


yang diampu oleh Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons)





 
Anis Rokhima (131011147)
Jehan Eka Prana (131011229)
Octo Zulkarnaen (131011227)
Layli Zulaiha (131011234)
Etri Taviane (131011207)
Musaffak (131011165)







c  c  
 c     








c 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya kelompok
kami telah menyelesaikan Makalah ini dengan judul ´STIKES Tanpa Izin´ tepat pada
waktunya. Makalah ini merupakan tugas pembelajaran Ilmu Keperawatan Dasar (IKD) dari
pendidikan.
Dalam penulisan makalah ini penulis telah mendapatkan bantuan, dukungan dan
bimbingan dari berbagai pihak baik dalam materi maupun moril. Sehingga pada kesempatan
ini dengan kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Pernafasan.
1.? Yakni yang terhormat Ibu Ira.

2.? Serta teman-teman yang berpartisipasi dalam proses pembentukan makalah ini

Kelompok kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna,
sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan dan perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan terutama bagi
kelompok kami dan mahasiswa Fakultas Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Airlangga Surabaya.

Surabaya,28 Oktober 2010



åå
c 
 

!? å"
Usia remaja adalah masa di mana berbagai aspek dalam diri manusia berada dalam
tahap transisi antara masa anak-anak menuju ke kehidupan dewasa. Proses
perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 ± 22 tahun. Untuk menjadi orang dewasa,
mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja
berusaha untuk mencari identitas diri (Dariyo, 2004).
Dari semua perubahan yang terjadi dalam hal hubungan dengan lawan jenis, yang
paling menonjol terjadi dalam sikap dan perilaku sosial pada masa remaja. Pada masa
remaja terjadi perubahan bentuk persahabatan antara sesama jenis ke persahabatan
dengan lawan jenis seperti berpacaran (Widianti, 2006). Secara umum pada saat
berpacaran banyak terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Bahkan beberapa penelitian
menyebutkan bahwa aktifitas pacaran remaja sekarang ini cenderung sampai kepada
level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data
menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung
sudah merupakan hal yang biasa terjadi (Anonym, 2005).
Beberapa penelitian perilaku seksual remaja menyebutkan, dari tahun ke tahun terjadi
peningkatan angka remaja yang sudah pernah berhubungan seks. Survei yang dilakukan
BKKBN tahun 2008 menyebut 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia
telah melakukan seks pra nikah.

!#?$  


Bagaimana gambaran mengenai seks pranikah?

!% ? &
1.3.1? Tujuan Umum
Agar pembaca dapat mengerti mengenai seks pranikah
1.3.2? Tujuan Khusus
1.? Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian perilaku seks pra nikah
2.? Mahasiswa mampu menjelaskan faktor pendukung terjadinya perilaku seks
pranikah
3.? Mahasiswa mampu menjelaskan tentang dampak dari perilaku seks pranikah
4.? Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pencegahan perilaku seks pranikah

!' ? (
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang seks pranikah

åå
 ) c

#! ? (  
Seks pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita yang
belum terikat tali perkawinan, yang pada akhirnya mereka akan menikah satu sama lain
atau masing-masing akan menikah dengan orang lain (Amelia, 2007).
Seks pranikah adalah hubungan yang dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan.
lebih lanjut lagi ada beberapa tokoh yang menyatakan bahwa hubungan seks pra nikah
adalah hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang mengikuti suatu proses
peningkatan perilaku seksual yaitu mulai dari ciuman atau percumbuan berat serta
hubungan kelamin sebagai proses akhir (dalam Suci, 2006).

#!# ?" c*" &* +" c  "


Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap perilaku reproduksi remaja
diantaranya adalah faktor keluarga. Remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum
menikah banyak diantara berasal dari keluarga yang bercerai atau pernah cerai, keluarga
dengan banyak konflik dan perpecahan (Kinnaird, 2003). Hubungan orang-tua yang
harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap
perkembangan kepribadian anak sebaliknya. Orang tua yang sering bertengkar akan
menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak akan ³melarikan diri³ dari keluarga.
Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena perceraian, kematian dan keluarga dengan
keadaan ekonomi yang kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak
(Rohmahwati, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja paling
tinggi hubungan antara orang tua dengan remaja, diikuti karena tekanan teman sebaya,
religiusitas, dan eksposur media pornografi (Soetjiningsih, 2006).
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja adalah
perubahan hormonal, penundaan usia perkawinan, penyebaran informasi melalui media
massa, tabu-larangan, norma-norma di masyarakat, serta pergaulan yang makin bebas
antara laki-laki dan perempuan (Sarwono, 2003).

#!% ? $,"  c "" c  "


Perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja,
diantaranya sebagai berikut :
a.? Dampak psikologis
Dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya perasaan
marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa.
b.? Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dari perilaku seksual pranikah tersebut diantaranya dapat
menimbulkan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi.
c.? Dampak sosial
Dampak sosial yang timbul akibat perilaku seksual yang dilakukan sebelum saatnya
antara lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan
perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan
menolak keadaan tersebut (Sarwono, 2003).
d.? Dampak fisik
Dampak fisik lainnya sendiri menurut Sarwono (2003) adalah berkembangnya
penyakit menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit
menular seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit
menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta
meningkatkan risiko terkena PMS dan HIV/AIDS.

#!' ?c-  " c  "


Kelancaran komunikasi antara orangtua dan anak mengenai seks berperan penting
mencegah terjadinya seks pranikah. Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang
pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku
hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit
akibat hubungan seks bebas. Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus
memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama
diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.
Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-
anak pun dapat dikurangi.
Selain itu, pendidikan seks dari sekolah juga dilakukan pendidikan seks dari rumah
sejak dini dan dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak
misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil
telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu terlebih
dahulu sebelum masuk kamar ortu. Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri
khususnya, mesti sudah dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14
tahun, remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan
jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah," tegas Boyke.
Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-
nilai moral kepada anak. Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup,
kata Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan
pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau rasa
memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini
orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti
siapa pacarnya itu. Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak.

åå
c c
%! ? $,
Seks pranikah lebih sering terjadi dikalangan remaja yang sedang mencari identitas
dirinya biasanya seks pranikah terjadi oleh beberapa faktor pendukung, yang tertinggi
adalah karena adanya rusaknya hubungan antara orang tua dan remaja. Dampak negative
yang sering terjadi pada remaja adalah dampak psikologis, fisiologis,sosial dan fisik
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seks sejak dini
dari rumah dan sekolah.

%!# ? 
1.? Bagi mahasiswa, semoga makalah ini dapat membantu dalam berbagai ilmu pada
proses pembelajaran.
2.? Diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan tentang seks pranikah
3.? Bagi pembaca, diharapkan mampu menambah wawasan tentang seks pranikah

DAFTAR PUSTAKA