Anda di halaman 1dari 1

Renunglah TEGUH

Sebelum ini
Sungguh pantas cawan kau cerca Ku pernah menyusun kemas
Mengatur indah , menghiasi langkah
Dalamnya karam segala mara Bersungguh mengilat batu
Hiruplah lekas mufti perdana Menjadi permata di singgahsana
Ku angkat , ku genggam , ku pikul dan ku junjung
Sebelum ajal menyangkal daya
Amanat negara tanpa kenal putus asa
Kitab kau timbun konon dibaca Pernah ku melihat
Fikah dan usul tauhid belaka Mereka di sana di puncak jaya
Beradap sopan , masih menghormati
Ibarat lagi engkau yang raba Nilai budaya dan tradisi.
Bagai kisah ulangan purba
Hingga suatu ketika
Keldai memikul beban cendana Ketabahan menegakkan panji
Pinggangnya bengkok ditindih lama Menyusur anak berduri
Tidak lagi dihargai
Harum baunya hidung tiada sangka. Kadang kala lemas ditelan duka
Dipikul ombak tidak bermata
Pernah menjadi anak , arus dan alir kecil
Puspita bagai puspawarna Yang sering lupa diri
Puspawara dari purbakala Tak kenal perahu dan sampan
Layar dipanah dan ditikam
Hiasan mewah dari perada Hanyut
Qasidah seindah kata pujangga Dibuang ke tepi
Terdampar dalam kesakitan.
Memplagiat ketara sahih belaka
Bagai si pacal hamba raja Namum
Ibarat si paria di kaki berkasta. Ku teruskan perjuangan
Walau seribu halangan
Tidak akan mati
Walaupun tersandung di perjalanan
Ku gagahi langkah
Hasil Karya Tetapku nikmati terang mentari.
SUMAIYAH’S POEM 06’
Hari bersilih ganti
Smk Tenom Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Penantian harus dilupakankerana ada insanyang kabur
penglihatan
Dan kelam pendengaran.

Nukilan ,
Perahu Kecil
SMK Tenom

91