Anda di halaman 1dari 23

Pada bab sebelumnya kita telah mendiskusikan tentang Bab yang akan dipelajari:

bagaimana energi potensial listrik dapat dihasilkan dari 1. Kapasitor dan Kapasitansi
perbedaan distribusi muatan dalam sebuah sistem. 2. Susunan Kapasitor Seri dan
Paralel
Misalnya pada sebuah konduktor, konduktor yang 3. Penyimpanan Energi dalam
Kapasitor dan Energi dalam
merupakan material yang dapat mengalirkan muatan
Medan Listrik
listrik memiliki potensial listrik yang sama pada setiap 4. Dielektrik

permukaan. Jika terdapat dua permukaan konduktor


yang memiliki beda potensial tertentu maka dikatakan Tujuan Pembelajaran:

bahwa sistem dua permukaan tersebut memiliki sekian 1. Mendefinisikan sifat dasar kapasitor dan
bagaimana menghitung besaran yang dapat
energi potensial. mengukur kemampuan dalam menyimpan
muatan.
Salah satu alat yang dapat digunakan untuk 2. Menganalisa kapasitor-kapasitor yang
terhubung dalam suatu jaringan.
memanfaatkan sifat listrik semacam itu adalah 3. Menghitung energi yang tersimpan dalam
kapasitor.
kapasitor. Kapasitor dapat digunakan untuk
4. Mendefinisikan dielektrik dan bagaimana
menyimpan energi potensial yang dihasilkan dari dielektrik dapat menambah efektifitas
kapasitor.
perbedaan potensial listrik pada dua permukaan yang
berdekatan.

Rosari Saleh dan Sutarto


Rosari Saleh dan Sutarto
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 89

Elektron–elektron di permukaan material konduktor


berada dalam keadaan kesetimbangan elektrostatik yang
disebabkan oleh beda potensial di setiap titik pada
permukaan konduktor sama. Oleh karena itu pula,
permukaan konduktor masuk dalam kategori bidang
ekipotensial.

Jika material konduktor diberi beda potensial pada ujung-


ujungnya maka elektron-elektron pada permukaan material
tersebut akan bergerak. Seperti yang telah dikemukakan
pada Bab 1 dan Bab3, beda potensial menghasilkan medan
listrik yang mempercepat elektron. Menghubungkan
material konduktor dengan beda potensial sama saja
memberikan energi potensial listrik terhadap elektron-
elektron yang berada pada permukaan material tersebut.
Namun demikian, energi yang dimiliki elektron-elektron
tersebut akan hilang ketika beda potensial dilepaskan.
Dengan kata lain, elektron tersebut akan kembali pada
keadaan semula membentuk kesetimbangan elektrostatik.

Kita dapat mempertahankan energi yang dimiliki material


konduktor tersebut apabila kita dapat mencegah elektron-
plat sejajar
elektron kembali ke kesetimbangan elektrostatik setelah
diberi beda potensial. Keadaan tidak setimbang tersebut
ditandai dengan adanya polarisasi muatan. Beda potensial
yang diberikan sebenarnya menyebabkan muatan-muatan
pada suatu material konduktor terpolarisasi. Keadaan
dimana muatan terpolarisasi ini menghasilkan beda
potensial pada material tersebut. Ide dasarnya dengan
demikian adalah jika suatu material dapat digunakan untuk
mempertahankan keadaan polarisasi muatan-muatan yang
dimilikinya maka material tersebut dapat digunakan
sebagai sumber beda potensial. Dengan kata lain, kita
dapat menggunakan material tersebut untuk menyimpan
energi potensial listrik.

sumber tegangan 4–1 Kapasitor dan Kapasitansi

Suatu material yang telah dirancang sedemikian rupa


Gambar 4.1 Dua plat konduktor di pasang sehingga dapat menyimpan beda potensial dalam bentuk
sejajar dan dihubungkan dengan sumber polarisasi muatan disebut kapasitor. Perhatikanlah
tegangan berupa baterai. Muatan Gambar 4.1, dua plat konduktor yang memiliki ukuran
mengalami dislokasi pada masing-masing sama dihubungkan dengan beda potensial. Beda potensial
plat sesuai dengan beda potensial yang menginduksi muatan-muatan pada plat tersebut sehingga
mengalir pada plat.  mengalami pengkutuban.

Rosari Saleh dan Sutarto 
90 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

Muatan pada salah satu plat adalah – Q sedangkan muatan


pada plat yang lain adalah +Q. Jumlah total muatan pada
kedua plat adalah nol.

Sistem seperti tercantum pada Gambar 4.1 adalah salah


satu contoh jenis kapasitor. Kapasitor dapat memiliki
bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Bagaimana
polarisasi muatan dapat menghasilkan medan listrik dan
beda potensial? Perhatikan Gambar 4.2 berikut ini:

(b)

(a)

Gambar 4.2 Setelah kedua plat diberi beda potensial, muncul


polarisasi muatan pada kedua plat. Polarisasi menyebabkan
medan listrik, lihat Gambar 4.2a.

Jika sebuah muatan, misalnya proton, dilepaskan dari


kutub positif maka proton tersebut akan bergerak ke kutub
negatif. Proton mengalami percepatan karena gaya
elektrostatik yang dihasilkan dari medan listrik E. Seperti
yang telah kita diskusikan pada Bab 4, potensial yang
dimiliki oleh suatu muatan sebanding dengan muatan
tersebut.

1 Q
V= →V ∝ Q
4πε 0 r

Perhatikan bahwa V ∝ Q. Jika jumlah muatan Q dilipat


gandakan menjadi 2Q maka V akan menjadi dua kali
semula, 2V. Rasio antara Q dan V oleh karenanya adalah
konstan. Rasio Q dan V ini disebut dengan kapasitansi.
Kapasitansi disimbolkan dengan huruf C dan secara umum
dinyatakan dalam persamaan:

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 91

Q
C= (4–1)
V

Kapasitansi sebuah kapasitor tidak pengaruhi oleh Q dan


V, hanya dipengaruhi oleh oleh rasionya saja dimana rasio
tersebut adalah:

Q 1 Q
C= →V =
V 4πε 0 r
Q
C=
⎛ 1 Q⎞
⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 4πε 0 r ⎠
= 4πε 0 r

Jadi kapasitansi suatu kapasitor hanya dipengaruhi oleh


geometri dan susunan kapasitor tersebut. Berikut ini adalah
contoh kapasitor yang memiliki bentuk dan ukuran yang
bermacam-macam.

Gambar 4.3a merupakan jenis kapasitor plat sejajar.


Kapasitor plat sejajar merupakan jenis kapasitor yang
paling sederhana. Gambar 4.3b menunjukkan kapasitor
dalam bentuk kabel koaksial. Pada dasarnya, kapasitor
Gambar 4.3 Berbagai jenis kapasitor adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk
dengan bentuk dan ukuran yang mempolarisasi muatan sehingga dapat dimanfaatkan untuk
berbeda-beda.  menyimpan beda potensial. Seperti pada Gambar 4.3c–d,
kapasitor dapat memiliki bentuk dan konfigurasi yang
beraneka ragam.

Kapasitansi Kapasitor Plat Sejajar

Kita mulai investigasi kita dari kapasitor yang paling


sederhana yaitu kapasitor plat sejajar yang memiliki
bentuk beraturan. Seperti yang telah disampaikan dimuka
bahwa kapasitansi kapasitor dipengaruhi sepenuhnya oleh
faktor geometri. Kesulitan dalam perhitungan biasanya
ditemui jika kapasitor terdiri dari plat-plat yang tidak
(a) beraturan.

Gambar 4.4a Dua buah plat Karena terdapat muatan netto pada setiap plat maka
sejajar yang diletakkan pada jarak terdapat medan listrik E yang dihasilkan oleh kedua plat
d membentuk kapasitor dengan tersebut, lihat Gambar 4.4b. Muatan yang terdistribusi
muatan Q.  pada luasan dimana luasan tersebut mengandung rapat
muatan yang sama besar namun berbeda tanda maka
σ
medan listrik yang dihasilkan adalah sebesar E = , lihat
ε0
pembahasan contoh soal 4 sub bab 1.7.
Rosari Saleh dan Sutarto 
92 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

Vektor jarak d dan medan listrik E searah. Potensial listrik


yang dihasilkan oleh medan listrik pada jarak sejauh d
dengan demikian dapat dicari dengan rumus:

V = Ed (4–2)

σ
Dengan menyisipkan E = pada persamaan (4–2)
ε0
diperoleh:

σ
V= d (4–3)
ε0

Kapasitansi kapasitor plat sejajar ditentukan dengan (b)


persamaan (4–1). Dengan menggunakan beda potensial V
pada persamaan (4–3) maka diperoleh kapasitansi Gambar 4.4b Kapasitor plat sejajar
kapasitor sebagai berikut: menghasilkan muatan terpolarisasi. 

1 Q
C =Q →σ =
⎛σ ⎞ A
⎜⎜ ⎟⎟ d
⎝ ε0 ⎠
ε A
= 0 (4–4)
d

Yang mana:

C = kapasistansi kapasitor (C2/Nm atau Farad)

ε0 = permitivitas ruang hampa, 8,85 x 10-12 C2/Nm2

A = luas permukaan bidang (m2)

d = jarak antar plat (m)

Kapasitor plat sejajar berbentuk disc

Kapasitor plat sejajar lainnya adalah kapasitor yang dibuat


dari dua plat berbentuk lingkaran (disc) identik yang
dipisahkan pada jarak d. Jari – jari disc adalah R. Kapasitor
dihubungkan dengan beda potensial. Dengan metode yang
sama dengan kapasitor plat sejajar yang telah dibahas
sebelumnya maka kita bisa menentukan kapasitansi
kapasitor tersebut. Gambar 4.5 menunjukkan skema Gambar 4.5 Kapasitor plat sejajar
kapasitor plat sejajar yang berbentuk disc. berbentuk disc dihubungkan dengan
beda potensial V. 
Luas permukaan kapasitor adalah A = πR2. Dengan
persamaan (4–4), kapasitansi kapasitor adalah:

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 93

ε0A
C=
d
ε 0πR 2
=
d

Kita juga bisa menggunakan persamaan C = Q/V untuk


menentukan kapasitansi kapasitor tersebut. Pertama-tama
kita menentukan muatan Q yang dimiliki oleh kapasitor
akibat beda potensial V dengan menggunakan hukum
Gauss:

Q V
∫ E • ds = →E =
ε0 d
V
d
( )
πR 2 =
Q
ε0

Q=
V
d
( )
πR 2 ε 0

Kapasitansi C adalah:

Q d
V
πR 2 ε 0 ( )
C= =
V V
ε πR 2
= 0
d

Ternyata hasilnya adalah sama dengan perhitungan


sebelumnya.
R1

R2 Kapasitor Berbentuk Bola

Perhatikan Gambar 4.6, sebuah kapasitor berbentuk bola


mempunyai jari-jari R1 dan R2. Kapasitansi kapasitor dapat
ditentukan dengan cara sebagai berikut:

Gambar 4.6 Skema dua dimensi kapasitor Dengan menggunakan hukum Gauss, medan listrik pada
berbentuk bola yang terdiri dari dua bola ruang di antara R1 dan R2 adalah sebesar:
dimana bola yang berada di bagian dalam
memiliki jari-jari R1 sedangkan bola yang 1Q
meilngkupinya memiliki jari-jari R2. E= r
4πε 0 r 2
Masing-masing bola membawa muatan
total sebesar Q(+) dan Q(–). 
Dimana R1 < r < R2. Beda potensial V antara dua bola
dapat ditentukan dengan persamaan:

Rosari Saleh dan Sutarto 
94 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

R
V = ∫R 2 E • ds
1

R ⎛ 1 Q ⎞ 
= ∫R 2 ⎜⎜ ⎟r • ds → ds = dr r
2 ⎟
1
⎝ 4πε 0 r ⎠

R ⎛ 1 Q ⎞ 
= ∫R 2 ⎜⎜ ⎟r • dr r
2 ⎟
⎝ 4πε 0 r ⎠
1

R ⎛ 1 Q⎞
= ∫R 2 ⎜⎜ ⎟dr
1
⎝ 4πε 0 r 2 ⎟⎠
R2
Q 1
=−
4πε 0 r R1

1 ⎛ 1 1 ⎞
=− Q⎜⎜ − ⎟
4πε 0 ⎝ R1 R2 ⎟⎠
1 ⎛ 1 1 ⎞
= Q⎜⎜ − ⎟⎟
4πε 0 ⎝ R2 R1 ⎠

Kapasitansi kapasitor dengan demikian dapat ditentukan


dengan persamaan:

Q
C=
V
⎛ 1 ⎞
= 4πε 0 R2 R1 ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ R2 − R1 ⎠

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa kapasitansi


bergantung pada dimensi luas dan jarak antar bola yang
satu dengan bola yang lain. Jika permukaan bola kita
anggap sebagai plat maka R2 – R1 menyatakan jarak antar
plat. Kita sekarang telah mengetahui bahwa yang
dimaksud dengan plat adalah permukaan yang
mengandung muatan sebagai sumber medan listrik dan
potensial dimana muatan terpolarisasi.

Kapasitor Berbentuk kabel koaksial

Koaksial adalah susunan dua batang konduktor berbentuk


silinder berongga yang konsentris. Perhatikan Gambar
4.7. Silinder pertama memiliki jari-jari a sedangkan
silinder kedua memiliki jari-jari b. Panjang kedua silinder
adalah sama yaitu L. Dua silinder memiliki muatan
masing-masing Qa = Q(+) dan Qb = Q(–). Dengan hukum
Gauss kita dapat mengetahui bahwa medan listrik hanya Gambar 4.7 Skema kabel koaksial
dihasilkan pada ruang antara a dan b sedangkan di luar yang terdiri dari dua permukaan yang
daerah tersebut medan listriknya adalah nol. terpisah oleh ruang kosong. 

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 95

b Q
∫a E • ds =
ε0
Q 1
E= r
2πε 0 L r

Potensial listrik dapat ditentukan dengan persamaan


berikut:

b
V = ∫a E • dr
Q 1 b
= ∫a r dr
2πε 0 L r
Q ⎛b⎞
= ln⎜ ⎟
2πε 0 L ⎝ a ⎠

Kapasitansi kapasitor tersebut adalah:

Q
C=
V
2πε 0 L
=
ln b
a
( )
Kapasitor semacam itu sering digunakan untuk membuat
kabel koaksial yang dapat mentransmisikan sinyal dengan
kecepatan sangat tinggi. Kabel koaksial biasanya terdiri
Isolator dari dua material konduktor dimana ruang di antara
Logam lain material tersebut biasanya diisi dengan bahan-bahan
tertentu untuk meningkatkan daya kerja kabel.
Isolator
Perhatikanlah skema kabel koaksial sederhana berikut ini:
Tembaga
Pada kabel koaksial seperti tertera pada Gambar 4.8,
kapasitansi dari rangkaian tersebut dapat ditentukan
dengan model perhitungan yang telah kita bahas
sebelumnya untuk sistem koaksial. Hal yang membedakan
adalah pada kasus sebelumnya ruang di antara silinder
Gambar 4.8 Skema kabel koaksial yang
vakum sedangkan ruang antara tembaga dan logam lain
terdiri dari tembaga dan logam lainnya
yang dipisahkan dengan isolator. Kabel pada Gambar 4.8 diisi dengan isolator. Perbedaan isi
juga dibungkus dengan bahan yang ruang tersebut mempengaruhi kapasitansi kapasitor. Bahan
terbuat dari isolator. yang diletakkan di antara dua keeping konduktor yang
membentuk kapasitor disebut bahan dielektrik. Topik
mengenai dielektrik akan dibahas pada sub bab 4–4.

4–2 Susunan Kapasitor Seri dan Paralel

Dalam aplikasinya, kapasitor banyak digunakan dalam


bidang elektronika. Dalam suatu rangkaian atau alat

Rosari Saleh dan Sutarto 
96 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

elektronik, biasanya terdapat lebih dari satu kapasitor yang


saling terhubung satu sama lain.

Kapasitor dapat dirangkai dua cara yaitu seri dan parallel.


Kapasitor-kapasitor yang terhubung satu sama lain dan Q1 Q2 Q3
membentuk suatu rangkain disimbolkan dengan .

C1 C2 C3
Rangkaian Seri

Gambar 4.9, menunjukkan contoh rangkaian kapasitor V


seri. Beda potensial V menyebabkan polarisasi muatan
pada tiap kapasitor. Proses dimana muatan-muatan pada
setiap kapasitor mengalami dislokasi sehingga terpolarisasi
sering diistilahkan dengan proses penge-charge-an atau
proses pemberian muatan kapasitor.
Q(+) Q(–) Q(+) Q(–) Q(+) Q(–)
Perhatikan bahwa setiap kapasitor memiliki
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
muatan total nol. Muatan positif terdistribusi pada
satu plat sedangkan

muatan negatif terdistribusi pada plat lainnya. Besar Gambar 4.9 Tiga kapasitor masing-masing
muatan negatif sama dengan besar muatan positif atau C1, C2 dan C3 dirangkai secara seri kemudian
|Q(+)| = |Q(–)|. Jumlah total muatan pada seluruh kapasitor dihubungkan dengan beda potensial V. Setiap
adalah nol. Dengan demikian kita dapat menganggap kapasitor menyimpan muatan masing-masing
sebesar Q1, Q2 dan Q3. 
bahwa jika muatan Q(+) terdistribusi pada bagian (a) maka
muatan Q(–) terdistribusi pada sisi bagian (f). Pada setiap
kapasitor, muatan Q(–) dan Q(+) terdistribusi merata dan
sama besar pada setiap plat. Perhatikan kapasitor C1, jika
sisi bagian (a) memiliki muatan Q(+) maka sisi bagian (b)
akan memiliki muatan sebesar Q(–). Kedua muatan sama
besar, hanya berbeda tanda. Perhatikan juga kapasitor C3,
pada bagian (f) terdapat muatan sebesar Q(–) maka pada sisi
bagian (e) terdapat muatan sebesar Q(+). Pada kapasitor C2,
muatan Q(–) yang berada pada bagian (b) menginduksi
muatan pada bagian (c) sehingga muatan pada bagian
tersebut sama dengan muatan pada bagian (b) namun
berbeda tanda. Muatan Q(–) pada bagian (e) menginduksi
muatan pada bagian (d) sehingga pada bagian tersebut
terdapat muatan sebesar Q(+).

Muatan pada kapasitor yang dirangkai secara seri memiliki


muatan yang sama besar. Ini merupakan salah satu ciri
khas rangkaian kapasitor seri. Dalam aplikasinya,
merangkai beberapa kapasitor kadang dimaksudkan untuk
memperoleh nilai kapasitansi total yang lebih besar. Untuk
mengetahui kapasitansi total dari rangkaian seri dapat
digunakan cara sebagai berikut. Perhatikan kembali
Gambar 4.9, setiap kapasitor membawa muatan listrik
Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 97

|Q(–)| = |Q(–)| ≡ Q yang sama besar. Beda potensial pada


ujung (a) – (f) adalah V. Kapasitor C1 yang membawa
muatan Q kita misalkan V1, sedangkan untuk kapasitor C2
beda potensial kita misalkan V2 dan untuk kapasitor C3 kita
misalkan V3 maka tegangan total pada rangkaian adalah V
= V1 + V2 + V3. Jika dikaitkan dengan kapasitansi kapasitor
dan muatan total Q maka:

V = V1 + V2 + V3
Q Q Q
= + +
C1 C 2 C3
⎛ 1 1 1 ⎞ 1 ⎛ 1 1 1 ⎞
= Q⎜⎜ + + ⎟⎟ → = ⎜⎜ + + ⎟
⎝ C1 C 2 C3 ⎠ Ctotal ⎝ C1 C 2 C3 ⎟⎠

Kapasitansi total pada rangkain seri dengan demikian


dapat ditentukan dengan persamaan:

1 ⎛ 1 1 1 ⎞
= ⎜⎜ + + ⎟⎟
Ctotal seri ⎝ C1 C 2 C3 ⎠

Secara umum, untuk rangkaian seri, kapasitansi total


rangkaian dapat ditentukan dengan persamaan:

C1 Q1 1 1 1 1 1
= + + + ... + (4–5)
b d Ctotal seri
C1 C 2 C3 Cn
a f
c e
C2 Q2
Rangkaian Paralel

V Kapasitor dan sumber tegangan dihubungkan dengan kabel


konduktor. Seperti yang telah dibahas pada sub bab 4.5,
Gambar 4.10 Dua kapasitor C1 dan C2 permukaan konduktor merupakan bidang ekipotensial
dirangkai secara parallel dengan sebuah sehingga potensial pada titik a sama dengan beda potensial
sumber tegangan V. Setiap kapasitor
pada titik b dan c. Demikian juga dengan titik d, e dan f.
membawa muatan sebesar Q1 dan Q2 
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa pada
rangkaian parallel, beda potensial yang masuk ke setiap
kapasitor adalah sama.

V = V1 = V2
Qtotal = C1V + C 2V
= V (C1 + C 2 ) → Ctotal = C1 + C 2

Jadi kapasitansi total untuk dua kapasitor yang dirangkai


secara paralel adalah

Ctotal = C1 + C 2 .

Rosari Saleh dan Sutarto 
98 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

Secara umum, jika terdapat n kapasitor yang dirangkai


secara parallel maka kapasitansi total rangkaian tersebut
adalah:

Ctotal paralel
= C1 + C 2 + C3 + ... + C n (4–6)

Contoh soal 1:

Enam buah kapasitor masing-masing memiliki kapasitansi, C1


dari ujung a ke b, 2 µF, 6 µF, 2 µF, 4 µF, 2 µF dan 2 µF.
Rangkaian dihubungkan dengan beda potensial pada ujung
C2
a dan b sebesar 12 volt.

Tentukan: C4 C3
- Kapasitansi total

- Muatan total C5 C6
- Beda potensial dan muatan pada kapasitor 6 µF

Pembahasan:

- Kapasitansi total

- Perhatikan kapasitor C1 dan C3, kedua kapasitor Gambar 4.11 Enam buah kapasitor
tersebut terhubung secara seri sehingga kapasitansi disusun dalam rangkaian seri dan
total C1 dan C3 dapat kita tentukan dengan persamaan parallel. 
(4–5):

1 1 1
= +
Ctotal 1&3
C1 C3
C1C3
Ctotal =
1&3
C1 + C3
2× 2
= = 1 µF
2+2

Kapasitor Ctotal 1&3 , C2 dan C4 membentuk rangkaian


parallel, sehingga kapasitansi totalnya dapat kita
tentukan dengan persamaan (4–6):

Ctotal paralel
= Ctotal 1&3
+ C2 + C4
= 1+ 6 + 4
= 11 µF

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 99

Kapasitor C5 dan C6 membentuk rangkaian parallel,


sehingga kapasitansi totalnya adalah;

Ctotal 5&6
= C5 + C 6

C1 = 2+2
= 4 µF
C2
Kapasitansi total dengan demikian adalah penjumlahan
I seri antara C |
total parallel dan Ctotal|5&6:
C4 C3
1 1 1
= +
Ctotal Ctotal paralel
Ctotal 5&6

C5 C6 Ctotal paralel
Ctotal 5& 6
C total =
II Ctotal + Ctotal
paralel 5& 6

11 × 4
= = 2,9 µF
11 + 4

Jadi kapasitansi total pada rangkaian tersebut adalah


Gambar 4.12 Skema rangkaian enam
2,9 µF.
buah kapasitor yang disusun dalam
rangkaian seri dan parallel untuk
menentukan beda potensial.  - Muatan total

Muatan total pada rangkaian tersebut dapat ditentukan


dengan persamaan:

Qtotal = Ctotal x V

= 2,9 µF x 12 volt = 34,8 µC

Jadi muatan total pada rangkaian tersebut adalah 34,8


µC.

- Beda potensial dan Muatan total pada kapasitor 6 µF

Perhatikan rangkaian berikut ini:

Rangkaian (I) adalah seri terhadap rangkaian (II) sehingga


muatan pada rangkaian (I) sama dengan muatan pada
rangkaian (II). Muatan pada rangkaian (I) dan (II) ini sama
dengan muatan total yaitu 34,8 µC.

Beda potensial pada rangkaian (I) dengan demikian dapat


dicari dengan persamaan:

Qtotal
V(I) =
C(I )

Rosari Saleh dan Sutarto 
100 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

Kapasitansi C(I) sama dengan Ctotal paralel


telah dihitung
sebelumnya yaitu sebesar 11 µF. Maka beda potensial V(I)
adalah:

34,8 µC
V( I ) =
11 µF
= 3,16 volt

Kapasitor C2 terangkai secara parallel terhadap kapasitor


yang lain pada rangkaian (I). Pada rangkaian parallel beda
potensial yang masuk pada kapasitor adalah sama sehingga
beda potensial pada kapasitor C2 adalah sebesar 3,16 volt.

Muatan yang dimiliki kapasitor C2 dapat dihitung dengan


mudah yaitu:

Q2 = C2 x V(I)

= 6 µF x 3,16 volt = 18,96 µC

4 – 3 Penyimpanan Energi dalam Kapasitor dan


Energi dalam Medan Listrik

Pada Bab 4 kita telah mendiskusikan mengenai potensial


listrik dan bagaimana potensial tersebut memberikan
pengaruh terhadap muatan. Jika terdapat suatu potensial V
yang bekerja pada muatan titik q, maka untuk
memindahkan muatan tersebut dari titik A ke titik B
dibutuhkan kerja sebesar:
B
W = ∫ F • dl → F = qE
A
B
= q ∫ E • dl → E = −∇V
A
B
= − q ∫ ∇ V • dl
A
= −q(VB − V A ) (4–7)

Persamaan (4–7) menunjukkan besar kerja mekanik


dilakukan terhadap muatan q untuk memindahkan muatan
tersebut dari titik A ke titik B. Berdasarkan konsep
mekanika klasik, kerja dihasilkan oleh gaya netto F yang
bekerja pada suatu benda dan menyebabkan benda tersebut

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 101

mengalami perpindahan sejauh dl. Pada kasus


elektrostatik, gaya dihasilkan oleh interaksi antara dua
muatan. Seperti yang telah kita diskusikan pada Bab 2,
gaya tersebut bersumber pada medan listrik yang
dihasilkan oleh setiap muatan. Diasumsikan bahwa muatan
q menghasilkan medan listrik yang jauh lebih kecil
dibanding dengan medan listrik sumber E sehingga gaya
listrik semata-mata dihasilkan oleh medan listrik E
tersebut. Pada Bab 4 kita juga telah mempelajari bahwa
medan listrik E ekuivalen dengan potensial listrik V
melalui persamaan:

E = −∇V .

Pada keadaan seperti itu, muatan q akan mengalami suatu


percepatan oleh medan listrik E. Jika ternyata partikel
berada pada keadaan diam maka harus ada kerja eksternal
yang melawan kerja yang dihasilkan oleh medan listrik E
terhadap muatan q. Kerja eksternal ini haruslah dihasilkan
oleh suatu gaya yang memiliki arah kerja berlawanan
dengan arah kerja gaya yang dihasilkan olej medan listrik
E. Besar kerja eksternal dapat dinyatakan dengan
persamaan:

Weksternal = q(VB − V A ) (4–8)

Pada kapasitor keping sejajar, medan listrik dihasilkan


oleh dua plat yang membawa densitas muatan yang
berbeda jenis. Untuk membuat muatan-muatan tersebut
terpolarisasi tentunya dibutuhkan suatu kerja eksternal
yang sebanding dengan beda potensial yang melalui
kapasitor tersebut. Karena energi bersifat kekal maka
untuk sistem kapasitor, kerja yang dibutuhkan untuk
membuat muatan terpolarisasi sama dengan energi yang
dimiliki oleh kapasitor tersebut yang terepresentasi dalam
besar dan jumlah muatan yang dikandung setiap plat.

Energi Kapasitor dalam Variabel V, Q, dan C

Di dalam kapasitor terdapat banyak sekali muatan. Untuk


memindahkan muatan dari satu plat ke plat yang lain
dibutuhkan kerja yang sebanding dengan besar muatan
tersebut. Dari persamaan (4–8), kerja yang dibutuhkan
untuk membawa muatan sebesar dq adalah:

dWeksternal = (VB − V A )dq (4–9)

Rosari Saleh dan Sutarto 
102 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

Karena dWeksternal sama dengan energy yang dikandung


kapasitor maka notasi dWeksternal kita ganti dengan W saja
yang menyatakan energy yang tersimpan dalam kapasitor.
Beda potensial VB – VA kita definisikan sebagai V saja
dimana V = q/C. Dengan demikian persamaan (4–9) dapat
kita nyatakan kembali sebagai:

q
dW = dq (4–10)
C

Dengan mengintegralkan persamaan (4–10) dengan


menerapkan batas q1 = 0 dan q = Q kita peroleh:
Q
q
W=∫ dq
0C
Q
1 q2
=
2 C 0
2
1Q
= (5–11)
2 C

Persamaan (4–11) menyatakan energi yang tersimpan


dalam suatu kapasitor dengan kapasitansi C dan
mengandung muatan sebesar Q. Persamaan (4–11) dapat
juga dinyatakan dalam variabel beda potensial V yaitu:

1 Q2
W= → Q = CV
2 C
1
= CV 2
2 (5–12)

Relasi lainnya juga dapat digunakan untuk menentukan


energi kapasitor dengan menyatakannya dalam variabel V
dan Q.

1 Q2 Q
W = →C =
2 C V
1
= QV (5–13)
2

Energi dalam Medan Listrik

Seperti telah diketahui bahwa pada sebuah kapasitor,


misalnya, plat sejajar dihasilkan medan listrik jika terdapat
beda potensial yang mempolarisasi muatan-muatan pada
plat tersebut. Muatan – muatan menghasilkan medan listrik
yang berhubungan dengan beda potensial yang mengalir
pada kapasitor tersebut. Potensial listrik dan medan listrik
Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 103

berhubungan satu sama lain sesuai dengan persamaan (4–


2) yaitu:

V = Ed (*)

Kapasitansi kapasitor untuk jenis plat sejajar adalah:

ε0A
C= (**)
d

Dengan mensubstitusikan persamaan (*) dan (**) ke


persamaan (4–12) kipta peroleh energi kapasitor dalam
variabel medan listrik E sebagai berikut:

1 ε0A 2 2
W = E d
2 d
1
= ε 0 E 2 Ad → Ad = Volume (4–14)
2

A menyatakan luas permukaan keping sedangkan d


menyatakan jarak antar keping sehingga besaran Ad tidak
lain adalah volume ruang antara dua plat tersebut. Dengan
mendefinisikan besaran energi per satuan volum u maka
kita peroleh:

1 W
u=
2 Volume
1 ε 0 E 2 Ad
=
2 Ad
1
= ε0E2
2 (4–15)

Dengan ε0 menyatakan permitivitas ruang hampa


sedangkan E adalah medan listrik antara dua plat
kapasitor.

Dari persamaan (4–14) dan (4–15) dapat ditunjukkan


bahwa energi kapasitor sebanding dengan kuadrat medan
listriknya. Energi hanya ada jika terdapat medan listrik
pada kapasitor tersebut. Jika tidak ada medan listrik pada
kapasitor maka energi kapasitor akan nol.

4–4 Dielektrik

Dielektrik adalah suatu material isolator yang dapat


berinteraksi dengan medan listrik yang digunakan untuk
meningkatkan efektivitas kapasitor dalam menyimpan
muatan. Pada pembahasan sebelumnya, ruang antara
keping pada kapasitor dibiarkan dalam keadaan vakum
Rosari Saleh dan Sutarto 
104 | Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik |

atau tidak material yang ada di dalamnya. Berdasarkan


hasil eksperimen, material isolator yang disisipkan di
antara keping kapasitor dapat meningkatkan kapasitansi
kapasitor tersebut. Kapasitor identik A memiliki
kapasitansi yang sebesar CA = C. Jika kapasitor A diberi
bahan dielektrik maka, berdasarkan hasil eksperimen,
kapasitansi kapasitor A menjadi lebih besar, CA = C’ > C.
Jika dibandingkan dengan kapasitansi mula-mula
diperoleh bahwa perbandingan tersebut menghasilkan
suatu nilai konstanta yang menunjukkan karakteristik
bahan dielektrik yang disisipkan dalam kapasitor.

C'
= konstanta → konstanta ≡ κ
C
C'

C
C ' = κC (4–16)

κ menyatakan konstanta dielektrik yang bergantung pada


jenis bahan isolator yang digunakan. Jika kita ingat
kembali mengenai arsitektur kapasitor, pada sub bab
sebelumnya kita membahas kapasitor yang ruang di antara
keping-kepingnya adalah ruang kosong atau vakum.
Karakteristik ruang kosong tersebut termanifestasi dengan
munculnya tetapan ε0, permitivitas ruang hampa.
Persamaan (4–16) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara kapasitansi kapasitor ruang hampa
dan kapasitor yang diberi bahan dielektrik. Hal ini
menggelitik kita untuk berpikir mengenai apakah nilai
tetapan κ berhubungan juga dengan tetapan ε0.

Kita kembali pada persamaan (4–4) yaitu:

ε0A
C=
d

Jika kita misalkan kapasitansi kapasitor A mula-mula


dipenuhi oleh persamaan (4–4) maka dengan
menggunakan relasi pada persamaan (4–16) diperoleh:

C ' = κC
ε0A (4–17)

d

Ketika diberi bahan dielektrik, dimensi dan konfigurasi


plat kapasitor A tidak mengalami perubahan sehingga
besaran A dan d pada persamaan (4–17) adalah konstan.
Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa
pengaruh dielektrik adalah terhadap konstanta permitivitas

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Kapasitansi dan Dielektrik | 105

ruang tersebut. Dengan mendefinisikan konstanta


permitivitas ruang yang baru ε = κε0 dan menisipkannya ke
persamaan (4–17) diperoleh:

⎛ A⎞
C' = ε ⎜ ⎟ (4–18)
⎝d⎠

Rosari Saleh dan Sutarto 
Bab 4 Hukum Newton
Gambar Cover Bab 4 Hukum Newton
Sumber: http://www.nationalgeographic.com

Gambar  Sumber
 

Gambar  4.1  Dua  plat  konduktor  di  pasang  sejajar 


Fishbane, P.M., et.al. 2004. Physics for 
dan  dihubungkan  dengan  sumber  tegangan 
Scientists and Engineers with Modern 
berupa baterai. Muatan mengalami dislokasi pada 
Physics, 3rd Edition. New Jersey: 
masing‐masing  plat  sesuai  dengan  beda  potensial 
Prentice Hall, Inc. Page: 714. 
yang mengalir pada plat. 

 
  Fishbane, P.M., et.al. 2004. Physics for 
  Scientists and Engineers with Modern 
  Physics, 3rd Edition. New Jersey: 
Gambar  4.2  Setelah  kedua  plat  diberi  beda  Prentice Hall, Inc. Page: 714. 
potensial,  muncul  polarisasi  muatan  pada  kedua   
plat.  Polarisasi  menyebabkan  medan  listrik,  lihat  Serway, R.A and Faughn, J.S., 1999. 
Gambar 4.2a.  College Physics, 7th Edition, USA: 
  Harcourt Brace College Publisher. Page: 
532. 
 
Fishbane, P.M., et.al. 2004. Physics for 
Gambar  4.3  Berbagai  jenis  kapasitor  dengan  Scientists and Engineers with Modern 
bentuk dan ukuran yang berbeda‐beda.  Physics, 3rd Edition. New Jersey: 
Prentice Hall, Inc. Page: 714. 
 
 

Gambar  4.4a  Dua  buah  plat  sejajar  yang  Serway, R.A and Faughn, J.S., 1999. 


th
diletakkan  pada  jarak  d  membentuk  kapasitor  College Physics, 7  Edition, USA: 
dengan muatan Q.  Harcourt Brace College Publisher. Page: 
544. 
 

 
Fishbane, P.M., et.al. 2004. Physics for 
Gambar  4.4b  Kapasitor  plat  sejajar  menghasilkan  Scientists and Engineers with Modern 
muatan terpolarisasi.  Physics, 3rd Edition. New Jersey: 
Prentice Hall, Inc. Page: 716. 
 
 
35th International Physics Olympiad. 
Gambar  4.5  Kapasitor  plat  sejajar  berbentuk  disc 
Theoretical Question 1. Pohang, Korea 
dihubungkan dengan beda potensial V. 
15 ~ 23 July 2004. 
 
 

Gambar  4.6  Skema  dua  dimensi  kapasitor 


berbentuk bola  yang  terdiri dari  dua  bola dimana 
bola yang berada di bagian dalam memiliki jari‐jari  Dokumentasi Penulis 
R1  sedangkan  bola  yang  meilngkupinya  memiliki 
jari‐jari R2. Masing‐masing bola membawa muatan 
total sebesar Q(+) dan Q(–). 
 

 
Griffith, D.J. 1999. Introduction to 
Gambar 4.7 Skema kabel koaksial yang terdiri dari  Electrodynamics, 3rd Edition. Prentice 
dua permukaan yang terpisah oleh ruang kosong.  Hall, Upper Saddle River, New Jersey 
07458. Page: 106. 
 

Gambar 4.8  Skema kabel koaksial yang terdiri dari 
Fishbane, P.M., et.al. 2004. Physics for 
tembaga  dan  logam  lainnya  yang  dipisahkan 
Scientists and Engineers with Modern 
dengan  isolator.  Kabel  juga  dibungkus  dengan 
Physics, 3rd Edition. New Jersey: 
bahan yang terbuat dari isolator. 
Prentice Hall, Inc. Page: 717. 
 

Gambar  4.9  Tiga  kapasitor  masing‐masing  C1,  C2 


dan  C3  dirangkai  secara  seri  kemudian 
dihubungkan  dengan  beda  potensial  V.  Setiap  Dokumentasi Penulis 
kapasitor  menyimpan  muatan  masing‐masing 
sebesar Q1, Q2 dan Q3. 

 
 

Gambar  4.10  Dua  kapasitor  C1  dan  C2  dirangkai 


secara parallel dengan sebuah sumber tegangan V.  Dokumentasi Penulis 
Setiap  kapasitor  membawa  muatan  sebesar  Q1 
dan Q2 

  Serway, R.A and Faughn, J.S., 1999. 
College Physics, 7th Edition, USA: 
Gambar 4.11 Enam buah kapasitor disusun dalam 
Harcourt Brace College Publisher. Page: 
rangkaian seri dan parallel. 
564. 
 
Serway, R.A and Faughn, J.S., 1999. 
Gambar  4.12  Skema  rangkaian  enam  buah 
College Physics, 7th Edition, USA: 
kapasitor  yang  disusun  dalam  rangkaian  seri  dan 
Harcourt Brace College Publisher. Page: 
parallel untuk menentukan beda potensial. 
564. 
 
 
Daftar Pustaka

Serway, R.A and Faughn, J.S., 1999. College Physics, 7th Edition, USA: Harcourt
Brace College Publisher.

Dick, Greg, et.al. 2001. Physics 11, 1st Edition. Canada: McGraw-Hill Ryerson.

Dick, Greg, et.al. 2001. Physics 12, 1st Edition. Canada: McGraw-Hill Ryerson.

Fishbane, P.M., et.al. 2005. Physics for Scientists and Engineers with Modern
Physics, 3rd Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Huggins, E.R. 2000. Physics 2000. Moose Mountain Digital Press. Etna, New
Hampshire 03750.

Tipler, P.A. and Mosca, G. Physics For Scientist and Engineers: Extended Version,
5th Edition. W.H. Freeman & Company.

Young, Freedman. 2008. Sears and Zemanky’s University Physics with Modern
Physics, 12th Edition. Pearson Education Inc.

Crowell, B. 2005. Electricity and Magnetism. Free Download at:


http://www.lightandmatter.com.

Crowell, B. 2005. Optics. Free Download at: http://www.lightandmatter.com.

Halliday, R., Walker. 2006. Fundamental of Physics, 7th Edition. USA: John Wiley &
Sons, Inc.

Pain, H.J. 2005. The Physics of Vibrations and Waves, 6th Edition. John Wiley &
Sons Ltd, The Atrium, Southern Gate, Chichester, West Sussex PO19
8SQ, England.

Mason, G.W., Griffen, D.T., Merril, J.J., and Thorne, J.M. 1997. Physical Science
Concept, 2nd Edition. Published by Grant W. Mason. Brigham Young
University Press.

Cassidy, D., Holton, G., and Rutherford, J. 2002. Understanding Physics, Springer–
Verlag New York, Inc.

Serway, R.A. and Jewet, J. 2003. Physics for Scientist and Engineers, 6th Edition.
USA: Brooks/Cole Publisher Co.
Vanderlinde, J. 2005. Classical Electromagnetic Theory, 2nd. Kluwer Academic
Publisher, Dordrecht.

Griffith, D.J. 1999. Introduction to Electrodynamics, 3rd Edition. Prentice Hall, Upper
Saddle River, New Jersey 07458.

Reitz, J.R., Milford, F.J., and Christy, R. W. 1993. Foundations of Electromagnetic


Theory, 4th Edition. USA: Addison-Wesley Publishing Company.

Bloomfield, L. 2007. How Everything Works: Making Physics Out of The Ordinary.
USA: John Wiley & Sons, Inc.