Anda di halaman 1dari 39

1

Penyelesaian Utang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia

Oleh
Ridwan Khairandy
A. Pendahuluan

Pada Juli 1997, Indonesia mulai mengalami krisis moneter dan kemudian

berlanjut menjadi krisis ekonomi yang akut. Krisis moneter yang telah berubah menjadi

krisis multidimensional mendorong pemerintah untuk meminta bantuan Dana Moneter

International (IMF). Atas usul IMF sebagai bagian dari reformasi perbankan, pada 1

November 1997, pemerintah harus mencabut izin usaha enam belas bank swasta nasional.

Upaya ini dimaksudkan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan,

tetapi dalam kenyataannya justeru malah menyebabkan masyarakat makin tidak percaya

terhadap perbankan nasional. Kemudian terjadi penarikan dana secara besar-besaran

(rush). Penarikan dana tersebut tindak hanya menimpa bank-bank yang tidak sehat, tetapi

juga bank-bank yang sehat. Dalam waktu sekejap, bank yang semula sehat karena efek

domino beralih status menjadi bank sakit karena karena kesulitan likuiditas.1 Di tengah

kondisi perbankan di ambang kehancuran itu, sejalan dengan kebijakan pemerintah pada 3

September 1997, Bank Indonesia (BI) harus menjalankan perannya sebagai lender of last

resort. BI kemudian menyalurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) secara

besar-besaran kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas tersebut. Ketika

rush sudah berhenti, bank-bank swasta penerima nasional BLBI tersebut menghadapi

persoalan baru, yakni berkaitan dengan kewajiban untuk mengembalikan atau melunasi

1 J. Didik J. Rachbini (ed), Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral (Jakarta: PT
Mardi Mulyo, 2000), hlm 11.
2

pinjaman BLBI tersebut. Utang BLBI tersebut sampai sekarang belum dapat diselesaikan.

Dalam menghadapi penyelesaian utang BLBI tersebut, pemerintah

menghadapi dilema memilih instrumen hukum yang digunakan. Di sini terdapat beberapa

pilihan instrumen hukum yang digunakan, diantaranya adalah:2

1. Pendekatan secara keperdataan;

2. Pendekatan secara pidana; dan

3. Pendekatan secara perdata dan pidana secara bersamaan.

Penyelesaian hukum melalui pendekatan secara keperdataan misalnya dilakukan dengan

skim Master of Settlement Acquisition Agreement (MSAA) dan Penyelesaian Kewajiban

Pemegang Saham (PKPS) sampai hari ini masih menimbulkan kontroversi baik yang

menyangkut keabsahan (validitas) kontraknya maupun kewajaran isi kontraknya sendiri.

Penyelesaian melalui hukum pidana juga menimbulkan persoalan kekhawatiran akan

diputusbebasnya terdakwa atas dasar onslag van recht vervolging mengingat perkara

tersebut masuk dalam ruang lingkup hukum perdata.

B. Kerancuan Pengertian antara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan Kredit

Likuiditas Bank Indonesia.

Secara yuridis ada kerancuan pengertian antara Kredit Likuiditas Bank

Indonesia (KLBI) dan BLBI serta Fasilitas Diskonto (Fasdis). Pasal 32 ayat (3) Undang-

Undang No. 13 Tahun 19683 tidak memakai istilah BLBI, tetapi KLBI. Departemen

Kuangan dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) memakai istilah BLBI bagi

2 Soehandjono, “Diperlukan “Dirigen” dengan Payung Polotik untuk Menyelesaikan Kasus


BLBI”, Kompas, 4 Januari 2002 dan 5 Januari 2002.
3 Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral ini telah dicabut dan digantikan
oleh Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Undang-Undang No. 13 Tahun 1968
relevan untuk digunakan dalam menyelesaikan utang BLBI mengingat terjadinya penyaluran BLBI ini
terjadi selama periode berlakunya undang-undang tersebut.
3

pemberian likuiditas bagi bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Istilah lain yang

dipakai dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/272/Kep/Di tanggal 6

Maret 1998 bukan BLBI atau KLBI, tetapi Fasdis yang sebenarnya merupakan salah satu

fasilitas BLBI.4

Istilah KLBI ditemukan dalam Pasal 32 Undang-Undang No. 13 Tahun 1968.

KLBI adalah kredit yang diberikan BI kepada bank yang memerlukan dana guna

memenuhi penarikan-penarikan yang dilakukan nasabah.5 Likuiditas sendiri dapat

diartikan sebagai kewajiban bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban berjangka

pendek.

Berdasarkan ketentuan Pasal 32 Undang-Undang No. 13 Tahun 1968, KLBI

dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, kredit likuiditas yang diberikan BI kepada bank

berkaitan dengan fungsi BI sebagai banker’s bank. Kedua, kredit likuiditas yang diberikan

BI berkaitan dengan fungsinya sebagai lender of last resort. Dalam bentuk yang pertama,

menurut Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tahun 1968, BI dapat memberikan

kredit likuiditas kepada bank dengan cara:

1. menerima penggadaian ulang;

2. menerima sebagai jaminan surat-surat berharga; dan

3. menerima aksep dengan syarat-syarat yang ditentukan BI.

Dalam bentuk yang kedua, kredit likuiditas yang diberikan merupakan manifestasi dari

fungsi BI sebagai bank sentral sebagai upaya terakhir untuk meminjam uang (lender of

last resort). Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 menyebutkan bahwa BI

4 A. Tony Prasentiantono, et.al, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Suatu pelajaran yang
Aangat Mahal bagi Otoritas Moneter dan Perbankan (Jakarta: Center for Financial Policy Studies, 2000),
hlm 108.
5 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan (Jakarta: Intermedia, 1995), hlm 77 – 78.
4

dapat memberikan kredit likuiditas kepada bank untuk mengatasi kesulitan likuiditas

dalam keadaan darurat.6

Pemberian kredit likuiditas yang berkaitan dengan fungsi BI sebagai lender of

last resort disebut juga sebagai Fasdis. Fasdis adalah penyediaan dana jangka pendek oleh

BI dengan cara pembelian promes yang diterbitkan bank atas dasar diskonto. Fasdis dapat

dibagi menjadi dua, yakni Fasdis I dan Fasdis II. Fasdis I disediakan dalam rangka

memperlancar pengaturan dana bank sehari-hari. Fasdis II diberikan untuk memudahkan

bank dalam menanggulangi kesulitan pendanaan karena rencana pengerahan dana tidak

sesuai dengan penarikan kredit jangka menengah atau panjang oleh nasabah (mistmatch).7

Dalam kaitannya dengan pembinaan perbankan nasional, Undang-Undang No

13 Tahun 1968 telah menggariskan bahwa pemberian kredit likuiditas antara lain

dimaksudkan untuk memperluas, memperlancar, dan mengatur lalu lintas pembayaran

giral dan menyelenggaran kliring antar bank di samping untuk memberikan bimbingan

guna penatalaksanaan bank-bank secara sehat.8

Dari sisi ini semakin jelas bahwa kredit likuiditas yang disediakan dan

diberikan BI tersebut tidak lain dimaksudkan agar upaya untuk mempertahankan,

melindungi, memperbaiki, dan menjaga kelancaran sistem lalu lintas pembayaran tetap

terlaksana dengan baik. Tanpa sistem pembayaran yang aman dan terpercaya, maka

kelancaran kegiatan ekonomi menjadi sangat terganggu.9

6 Pengaturan BI sebagai lender of last resort di dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1999
peruntukannya yang lebih jelas daripada undang-undang sebelumnya. Penjelasan Umum jo Pasal 11
Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 menyebutkan bahwa dalam melaksnakan fungsi lender of last resort,
BI hanya membantu untuk mengatasi mismacht yang disebabkan oleh risiko kredit atau pembiayaan
berdasarkan prinsip syariah, risiko manejemen, dan risiko Pasar.
7 Dahlan Siamat, loc.cit.
8 Riyanto, “Kisruh Masalah BLBI”, Suara Pembaruan, 8 Oktober 1998.
9 Ibid.
5

Menurut Riyanto, pengalaman menunjukkan bahwa dalam pemberian berbagai

bentuk KLBI lazimnya diikuti berbagai formalitas seperti halnya hubungan antara kreditur

dan debitur berupa ikatan kredit antara pihak-pihak berkaitan dengan jumlah, tingkat

bunga, jangka waktu, dan jenis jaminannya.10

J. Soedradjat Djiwandono memiliki pendapat yang berbeda mengenai dasar

hukum dan makna BLBI dan KLBI. Dia menyatakan bahwa dalam arti yang luas, BLBI

adalah terminologi yang digunakan untuk mengelompokkan seluruh bantuan likuiditas

kepada bank, di luar KLBI.11 BLBI adalah fasilitas BI yang digunakan untuk menjaga

kestabilan sistem pembayaran dan sektor perbankan agar jangan terganggu karena

ketidakseimbangan (mismatch) antara penerimaan dan penarikan dana pada bank-bank,

baik jangka pendek maupun jangka panjang.12 Dalam operasinya, fasilitas yang dapat

dimasukkan ke dalam kategori ini banyak jenisnya, masing-masing disusun untuk

membantu bank untuk menyelesaikan masalah likuiditas, sesuai dengan kondisi dan sifat

masalah yang dihadapi.

Bantuan likuiditas untuk bank, di dalam perekonomian negara-negara

berkembang seperti Indonesia, merupakan pelaksana paling vital sistem pembayaran

nasional untuk menjaga kestabilan dan mendukung perkembangan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, berbagai skim yang digunakan BI untuk menyelenggarakan kegiatan ini

melekat pada posisinya yang sudah ada dan dipergunakan sejak lama. BLBI sebagai

terjemahan dari konsep liquidity support dalam perbankan di Indonesia baru dikenal di

Indonesia pada 1998.13


10 Ibid.
11 J. Soedradjat Djiwandono, Mengelola Bank Indonesia dalam Masa Krisis (Jakarta: Pustaka
LP3ES, 2001), hlm 241.
12 Ibid, hlm 249.
13 Ibid, hlm 250.
6

Istilah BLBI memang baru muncul dan langsung menjadi bahan pergunjingan

di masyarakat, semenjak Indonesia menjalankan program pemulihan ekonomi dengan

dukungan IMF dalam dalam rangka pinjaman siaga. Dalam dokumen International

Monteary Fund (IMF), berbagai fasilitas yang diberikan BI dalam membantu perbankan

ini disebut liquidity support.

Untuk membedakannya dengan istilah yang sudah dikenal, yakni KLBI,

berbagai skim fasilitas bantuan BI kepada bank-bank yang disebut BLBI. KLBI adalah

istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai skim kredit likuiditas BI untuk

mendukung program pemerintah, seperti Kredit Koperasi Unit Desa (KKUD), Kredit

Usaha Tani (KUT), kredit koperasi, kredit pengembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Syariah, dan kredit kepada Badan Urusan Logistik (Bolog).14 Skim tersebut masuk dalam

kategori kredit program.15 BLBI merupakan fasilitas “non program” yang merupakan

tanggapan (response) atas kesulitan likuiditas bank karena penarikan dana nasabah yang

tidak dapat diatasi oleh bank-bank secara individual.16 Ada dua unsur pokok perbedaan

KLBI dan BLBI, yakni asal inisiatif dan tingkat suku bunga. Apabila KLBI inisiatif

sepenuhnya diambil oleh pemerintah sesuai dengan program yang diprioritaskan seperti

kredit pengusaha kecil dan koperasi serta untuk keperluan stabilitas harga, maka di dalam

BLBI, pada dasarnya inisiatif diambil oleh bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya.

Selain itu, suku bunga yang dikenakan juga berbeda. Untuk KLBI diberikan subsidi,

sedangkan untuk BLBI dikenakan suku bunga “penalti” di atas suku bunga pasar (dari

14 Ibid.
15 A. Tony Prasetianto, et.al, op.cit, hlm 12. Penjelasan Umum Undang-Undang No. 23
Tahun 1999 menyebutkan bahwa BI sekarang tidak lagi memberikan kredit program. Pengahapusan ini
dikaitkan dengan fungsi BI sebagai otoritas moneter yang independen, sehingga pemberian kredit program
bukan lagi menjadi tanggung jawab BI.
16 Ibid.
7

150 % sampai dengan 500 % dari Jakarta Inter Bank Rate).17

Dengan demikian, BLBI diberikan BI atas permintaan bank dalam fungsinya

sebagai lender of the last resort18, karena bank menghadapi masalah ketidakseimbangan

likuiditas (mismatch) antara penerimaan dan pembayaran dana yang tidak dapat ditutup

dengan sumber dana lain yang lazim dalam bidang perbankan. KLBI ditujukan membantu

pelaksanaan program pemerintah (sebagai agent of development) memberi kredit kepada

bank pelaksana agar menyalurkan kredit tersebut ke sektor atau kegiatan atau kelompok

yang diprioritaskan dalam program pemerintah.19

Dalam arti yang luas, BLBI merupakan bantuan likuiditas Bank Indonesia di

luar KLBI. Bantuan likuiditas yang termasuk dalam pengertian BLBI sebenarnya

meliputi lima belas macam yang dapat dikelompokkan ke dalam lima jenis:20

1. Fasilitas dalam rangka mempertahankan kestabilan sistem pembayaran terhadap

gangguan dari timbulnya kesenjangan antara mismatch penerimaan dan penarikan

dana yang dihadapi bank. Fasilitas yang masuk dalam ketegori ini adalah Fasdis I yang

berjangka sangat pendek, dan Fasdis II yang berjangka lebih panjang.

2. Fasilitas dalam rangka Operasi Pasar Terpadu (OT) untuk mendukung bekerjanya

program moneter dalam bentuk pembelian Surat Berharga Pasar Uang (SPBU) atau

surat utang yang dikeluarkan bank-bank, dilakukan melalui lelang.

3. Fasilitas dalam rangka penyehatan (nursing atau resque) bank bermasalah dalam

bentuk Kredit Likuiditas Darurat (KLD) atau kredit subordinasi (SOL).

4. Fasilitas untuk menjaga kestabilan sistem perbankan dan sistem pembayaran untuk
17 Ibid.
18 Dalam kenyataannya, fungsi ini sering dipertanyakan. Last atau first resort, yang jelas
ketika terjadi rush, BLBI hampir merupakan the only resort. Lihat ibid, hlm 4.
19 J. Soedardjat Djiwandono, op.cit, hlm 259.
20 Ibid, hlm 250.
8

menanggulangi dampak dari penarikan dana perbankan secara besar-besaran dan

sistemik (bank runs), dalam kaitan fungsi BI sebagai lender of last resort. Fasilitas ini

berupa pemberian izin penarikan dana dari giro cadangan atau giro wajib minimum

(GBM), saldo negatif atau saldo debet atau overdraft rekening bank di BI.

5. Fasilitas untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhdap perbankan dalam

bentuk dana talangan untuk membayar kembali dana nasabah bank yang dicabut izin

usahanya atau bank dalam likuidasi, untuk pelaksanaan sistem penjaminan

menyeluruh (blanket guarantee), dan pembayaran kewajiban luar negeri bank

perbankan nasional (trade finance dan interbank debt exchange offer).

Soedradjat Djiwandono menyebutkan bahwa dasar hukum pemberian BLBI

adalah Pasal 29 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 1968.21

Undang-undang tersebut sebenarnya tidak membedakan antara KLBI dan BLBI. Di dalam

Undang-Undang No. 13 Tahun 1968, kedua jenis liquidity support tersebut masuk dalam

kategori kredit likuiditas. Jika KLBI dikaitkan dengan kredit program di mana BI

memberikan kredit untuk membantu sektor yang pemerintah melalui bank pelaksana

merupakan kredit likuiditas dalam kaitannya BI sebagai banker’s bank. Pasal 32 ayat (3)

Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 memberikan kewenangan BI sebagai lender of last

resort untuk memberikan kredit likuiditas kepada bank-bank untuk mengatasi kesulitan

likuiditas dalam kondisi darurat. Jadi, BLBI yang dimaksud di atas jika dikaitkan Pasal 32

ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 ia juga adalah kredit likuiditas yang

diberikan BI dalam fungsinya sebagai lender of last resort untuk mengatasi kesulitan

likuiditas yang dialami bank-bank dalam keadaan darurat.

21 J. Soedradjat Djiwandono, op.cit, hlm 251.


9

BI sendiri mendefenisikan BLBI sebagi kredit yang diberikan kepada bank

yang mengalami kesulitan likuiditas dalam keadaan darurat.22 Definisi selaras dengan

ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 1968.

Tabel I
Jenis-Jenis Bantuan Likuiditas Bank Indonesia
No Jenis Jangka Suku Bunga Peruntukan Keterangan
Waktu
1 Fasdis I 2 hari Tidak berlaku lagi
2 Fasdis II 90 hari Tidak berlaku lagi
3 KLD 6 bulan 16 % /tahun Penyehatan bank Tidak berlaku lagi
4 Kredit 20 Tahun 6% Capping Penyehatan bank Tidak berlaku lagi
Subordinasi
5 SPBU lelang 3 bulan Diskonto 2% di atas Pelonggaran likuiditas
SBI bilateral harian
6 SPBU tanpa 3 minggu Rata-rata tertimbang Memenuhi likuiditas
lelang s/d 3 bulan diskonto SBI lelang harian
terakhir
7 Saldo giro Kondisi hari 125 % dari rata-rata Menjaga kestabilan
negatif/ debet terjadi saldo sistem perbankan
debet
8 Fasdis I Repo 7 hari Diskonto 28% Membantu bank sehat
yang tidak memiliki
SBI, tetapi kesulitan
likuidtas
9 SPBU Khusus 3 s/d 18 Diskonto 27% /tahun Pengalihan Fasdis I
bulan Repo, Fasdis II
Repo, dan saldo
debet
10 Fasdis 1 bulan 125 % dari rata-rata Menutup pelanggaran
JIBOR atau over ningt GMW atau
atau satu bulan mengantisipasi saldo
sebelumnya negatif
11 Fasilitas dana Pembayaran terhadap
talangan bank nasabah BDL dan BBO
likuidasi dan
dibekukan
12 Jaminan Blanket guarantee Sejak 26 Januari
pemerintah 1998 s/d 31 Januari
terhadap 2000
kewajiban
pembayaran
bank umum
13 Jaminan Blanket guarantee Sejak 26 Janurai
pemrintah 1998 s/d 31 Januari
terhadap 2000
kewajiban
pembayaran
BPR
14 Dana talangan Maksimum Valas: LIBOR 1 tahun Pulihkan kepercayaan
untuk 2 bulan + 10 % terhadap perbankan
pembayaran Rupiah SBI 1 tahun + nasional
kewajiban 2%
luar negeri

22 Humas BI, “Menatap Masa Depan, Menata Masa Lalu”, Kompas, 27 Desember 2001.
10

bank dalam
rangka trade
finance dan
inter bank
debt arreas
15 Jaminan Untuk menggairahkan
pembiayaan perdagangan
perdagangan internasional
internasional
C. Penyaluran dan Penyalahgunaan Pemanfaatan BLBI

Keketatan likuiditas semenjak dilakukan langkah-langkah untuk memperkuat

nilai rupiah pada Agustus 1997 menimbulkan tekanan pada sektor perbankan dan sektor

riil perekonomian nasional. Menghadapi masalah yang meluas ini disadari bahwa langkah-

langkah kebijakan pemerintah juga harus menyangkut keseluruhan perekonomian

nasional. Oleh karena itu, dalam sidang Kabinet Terbatas bidang Ekonomi, Keuangan, dan

Pengawasan Pembangunan ( Ekku Wasbang) 3 September 1997 diputuskan kebijakan

yang bersifat menyeluruh, menyangkut sepuluh butir langkah. Untuk sektor perbankan

diputuskan sebagai berikut:23

1. Bank-bank nasional yang sehat, tetapi mengalami kesulitan likuiditas sementara

supaya dibantu.

2. Bank-bank yang nyata-nyata tidak sehat, agar diupayakan penggabungan atau akuisisi

dengan bank-bank yang sehat. Jika upaya ini tidak berhasil, supaya dilikuidasi sesuai

dengan perundang-undangan yang berlaku dengan mengamankan semaksimal

mungkin para deposan, terutama para deposan kecil.

Dengan demikian jelas bahwa kebijakan yang dilakukan BI tidak dapat

dilepaskan dan dipisahkan dari kebijakan yang diambil pihak eksekutif , dalam hal ini

Presiden yang menurut UU No. 13 Tahun 1968 memang berwenang untuk itu. Dalam

23 J. Soedradjat Djiwandono, op.cit, hlm 244.


11

kenyataannya, kebijakan tersebut belum dapat mengatasi masalah krisis moneter yang

berlangsung saat itu.

Kebijakan pemerintah dalam bidang ekoniomi terus berlangasung. Pada 1

November 1997, pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor: Peng-

86\MK\1997 telah mencabut izin usaha enam belas Bank Umum yang bermasalah.

Pencabutan izin usaha tersebut disertai dengan untuk melikuidasi bank yang

bersangkutan.24

Penyaluran dana BLBI kepada bank-bank nasional didasarkan pada kebijakan

pemerintah untuk menalangi dana simpanan masyarakat yang disimpan di bank-bank.

Kebijakan penalangan dana simpanan terpaksa dilaksanakan pemerintah untuk mencegah

berlanjutnya penarikan dana simpanan bank secara besar-besaran (rush) yang terjadi pasca

pencabutan izin usaha enam belas bank swasta yang dinilai tidak solvabel. Berbeda

dengan harapan pemerintah, pencabutan izin usaha enam belas bank tersebut malah

mengakibatkan merosotnya kepercayaan terhadap bank dari masyarakat, antar bank, dan

dari luar negeri. Kemudian meruyak selebaran gelap yang memuat daftar bank-bank

24 Menurut Pasal 37 UU No. 7 Tahun 1992 jo Pasal 2 Peraturan Pemenrintah (PP) No. 68
Tahun 1986 bilamana menurut BI suatu bank diperkirakan:
1. Mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan/atau;
2. Membahayakan sistem perbankan, BI memberitahukan kepada Menteri Keuangan dengan menyebutkan
indikasi permasalahan dan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh BI.
Khusus untuk yang berbentuk Perseroan Terbatas Terbuka (PT. Tbk), pemberitahuan juga disampaikan
kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).
Langkah-langkah yang dapat ditempuh BI setelah memberitahukan kepada Menteri Keuangan meliputi:
1. Melakukan tindakan agar: (a). pemegang saham menambah modal; (b) pemegang saham mengganti
dewan komisaris dan atau direksi bank; (c). bank menghapus kredit yang mecet dan memperhitungkan
kerugian bank dengan modalnya; (d). bank melakukan merjer atau konsolidasi dengan bank lain; (e).
bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambilalih seluruh kewajibannya.
2. Mengambil tindakan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, seperti: (a). menyerahkan
pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain; (b). Menjual sebagian harta dan
kewajiban kepada bank lain; dan menjual sebagian harta bank kepada bank atau pihak lain.
Apabila menurut penilaian BI, ternyata tindakan-tindakan penyelematan di atas tidak dapat mengatasi
kesulitan bank yang bersangkutan atau keadaan bank itu sistem perbankan, maka BI mengusulkan kepada
Menteri Keuangan untuk izin usaha bank tersebut.
12

swasta yang akan terkena pencabutan izin usaha tahap kedua.25 Akibatnya terjadi rush

besar-besaran oleh nasabah, terutama di bank-bank swasta ke bank-bank pemerintah atau

bank asing.

Merosotnya kepercayaan terhadap perbankan nasional diperburuk lagi oleh

penilaian perusahaan-perusahaan rating, seperti Moody’s dan Standard and Poor yang

terus menerus menurunkan rating bank-bank Indonesia, baik swasta maupun pemerintah.

Penyaluran BLBI makin meningkat karena berlanjutnya rush.

Terjadinya perubahan politik yang begitu drastis pada Mei 1998

mengakibatkan rush terus berlanjut, bahkan Bank Central Asia (BCA) sebagai bank

swasta terbesar juga terkena rush yang pada akhirnya masuk dalam pengawasan BPPN.

Keadaan ini semakin menambah kekhawatiran nasabah yang menyimpan dana di bank

swasta nasional sebab BCA dianggap sebagai parameter perbankan di Indonesia. Keadaan

mengakibatkan BI harus menyalurkan BLBI secara besar-besaran.

Keadaan perbankan nasional bertambah buruk. Pemerintah mengambil

kebijakan untuk membekukan kegiatan tiga bank swasta nasional, yakni Bank Dagang

Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Modern serta

mengambilalih empat lainnya, yakni BCA, Bank Danamon, Bank FDFCI, dan Bank Tiara.

Pemerintah juga memutuskan untuk menggabungkan empat bank pemerintah, yakni Bank

Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Ekspor

Impor Indonesia menjadi Bank Mandiri.

Pada akhirnya secara keseluruhan, pemerintah telah mengambil kebijakan

terhadap bank-bank bermasalah:

25 Ibid, hlm 242.


13

1. Mencabut enam belas izin usaha bank umum;

2. Membekukan operasi sepuluh bank umum (Bank Beku Operasi/BBO);

3. Membekukan kegiatan usaha 38 bank umum (Bank Beku Kegiatan Usaha/BBKU);

dan

4. Mengambilalih empat bank umum (Bank Take Over/BTO).

Dalam audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditemukan

total BLBI yang disalurkan BI sampai dengan 29 Januari 1999 sebesar Rp 144,5 triliun,

dengan jumlah penerima BLBI sebanyak 48 (empat puluh delapan) bank.26

Menurut catatan BI, 10 bank menerima 70 % dari sekuruh jumlah BLBI yang

diberikan oleh BI. Bank yang paling banyak menerima BLBI adalah BDNI sebesar Rp 37

triliun, BCA Rp 26 triliun, dan Bank Danamon Rp 23 triliun.

Tabel II
Sepuluh Besar Bank Penerima BLBI

Bank Pemegang Saham Pengendali Jumlah


(Rp Triliun)
BDNI Syamsul Nursalim 37,039
BCA Liem Sioe Liong 26,59
Danamon Usman Admadja 23,049
BUN Bob Hasan dan Kaharuddin Ongko 12,067
Bank Indonesia Raya Perusahaan Publik 4,018
Bank Nusa Nasional Aburizal Bakri 3, 020
Bank Tiara Asia Perusahaan Publik 2,978
Bank Modern Samadikun Hartono 2,557
Bank Utama Hutomo Mandala Putra 2,334
Bank Asia Pasific 2,054

Keempat puluh delapan bank berkewajiban untuk mengembalikan dana BLBI.

26 Lihat Jawa Pos, 23 September 2000. Lihat juga Bisnis Indonesia, 11 Nopember 2000.
Audit yang dilakukan oleh BPK ini adalah audit penyaluran BLBI dari kepada bank-bank penerima BLBI.
Adapun audit terhadap pemanfaatan BLBi oleh bank-bank penerima BLBI dilakukan oleh Badan Pengawas
Pelaksanaan Keuangan Pembangunan (BPKP) Deapertemen Keuangan Departemen Keuangan Republik
Indonesia.
14

Itu adalah utang yang harus dilunasi. Utang tersebut itulah yang dicobaselesaikan oleh

BPPN melalui berbagai skim. Penyelesaian sampai sekarang ini masih menimbulkan

persoalan hukum.

Sebenarnya bank penerima BLBI tidak bank swasta, tetapi juga bank-bank

yang masuk dalam kategori badan usaha milik negara (BUMN). Jumlah yang disalurkan

juga tidak sedikit, yakni mencapai jumlah Rp 163, 195 triliun.

Tabel III
Bank BUMN Penerima BLBI
(Dalam Triliunan Rupiah)

No Nama Bank Penerima BLBI Jumlah BLBI yang Diterima


1 Bank Exim Rp 101,847
2 Bapindo Rp 40,396
3 BBD Rp 11,279
4 BDN Rp 8,673
5 BRI Rp 8,174
6 BNI Rp 2,550
7 BTN Rp 1,453

Menurut analisis Ahmad Deni Dahuri, ternyata bank-bank BUMN lebih

banyak menerima BLBI dari pada bank-bank swasta yang terkena kesulitan likuiditas

akibat adanya rush.27

BLBI diberikan BI kepada empat puluh delapan bank tersebut dimaksudkan

mengatasi kesulitan likuiditas akibat adanya rush yang dialami bank-bank swasta tersebut,

tetapi di dalam prakteknya dijumpai beberapa penyimpangan. Di bawah ini diberikan dua

27 Jawa Pos, 13 Nopember 2000.


15

contoh kasus penyalahgunaan pemanfaatan BLBI oleh Bank Modern dan Bank Dagang

Negara (BDNI).

1. Kasus Bank Modern28

BI telah menyalurkan BLBI kepada Bank Modern sebesar Rp 2,5 Triliun.

Menurut keterangan Mulyoharjo,29 Bank Modern melalui Samadikun Hartono sebagai

pemegang saham mayoritas bank tersebut telah melakukan penyimpangan pemanfaatan

BLBI. Jumlah penyimpangan mencapai Rp 766 milyar. Dana itu digunakan untuk

melakukan transaksi valuta asing dan penarikan dana untuk kelompok perusahaan terkait

atau terafiliasi untuk peningkatan aktivitas produksi.

2. Kasus Bank Dagang Negara Indonesia30

BDNI adalah bank swasta yang pemegang saham mayoritasnya adalah

Syamsul Nursalim. Bank ini berhasil menghimpun dana deposito, giro, dan tabungan

sebesar Rp 16,904 triliun. BDNI menyalurkan dana tersebut kepada perusahaan yang

berada dalam satu kelompok perusahaan, yakni PT Dipasena sebesar Rp 12,847 triliun.

Kredit mencapai 75,6 % dari seluruh kredit yang disalurkan. Berarti di sini terjadi

pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) yang ditentukan Pasal 11 ayat (4)

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992.

Ketika terjadi kesulitan likuiditas akibat rush yang dialami bank ini, BI

menyalurkan BLBI. Ternyata BLBI tersebut dipakai sesuai dengan tujuan semula, tetapi

untuk menutup permasalahan keuangan yang dialami PT Dipasena. Jadi, peruntukkan

BLBI tersebut tidak digunakan untuk menalangi dana pembayaran dana tabungan,

28 Kompas, 5 Januari 2001. Lihat juga Suara Indonesia, 11 Januari 2001.


29 Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
30 Kompas, 5 Oktober 2000. Lihat juga Suara Indonesia, 24 September 2000.
16

deposito, dan giro nasabah, tetapi digunakan untuk kepentingan pribadi pemegang saham.

D. Penyelesaian Utang BLBI secara Perdata di luar Pengadilan

Hubungan hukum antara BI dan bank-bank penerima BLBI dapat

dikonstruksikan sebagai hubungan hukum yang terjadi karena adanya perjanjian utang-

piutang. Di sini terjadi perjanjian utang-piutang antara BI dan bank-bank penerima BLBI.

Di dalam perjanjian utang piutang, bank penerima BLBI memiliki kewajiban

melunasi atau membayar utang yang telah jatuh tempo. Bank-bank penerima BLBI

sebagai pihak debitur harus membayar utang BLBI itu sesuai dengan jenis fasilitas BLBI

yang diterimanya pada saat jatuh tempo asing masing-masing fasilitas tersebut. Jika bank-

bank penerima BLBI tidak melaksanakan prestasi membayar pada saat jatuh tempo,

maka ia masuk dalam kualifikasi cidera janji atau wan prestasi.31

Mengingat bank-bank penerima BLBI sebagai debitur tidak dapat membayar

utang BLBI tersebut pada waktunya, maka debitur telah melakukan perbuatan atau berada

dalam keadaan wan prestasi pihak Apabila debitur dalam keadaan wan prestasi, maka

kreditur dapat memilih diantara beberapa kemungkinan tuntutan sebagaimana ditentukan

Pasal 1267 KUHPerdata, yakni:

1. Pemenuhan perikatan;

2. Pemenuhan perikatan dengan ganti kerugian;

3. Ganti kerugian;

4. Pembatalan perjanjian timbal balik; atau

5. Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.

31 Pengertian wan prestasi yang umum adalah pelaksanaan kewajiban perjanjian yang tidak
tepat pada waktunya pada waktunya atau tidak dilakukan menurut selayaknya. Lihat M. Yahya Harahap,
Segi-Segi Hukum Perjanjian (Bandung: Alumni, 1986), hlm 60.
17

Mengingat penyaluran BLBI lebih bernuansa perdata, khususnya perjanjian

utang-piutang, maka upaya penyelesaian wan prestasi pembayaran utang BLBI dapat

dilakukan baik melalui gugatan perdata ke pengadilan maupun diselesaikan di luar

pengadilan melalui proses negosiasi.

Untuk menyelesaikan utang BLBI, Pemerintah baik melalui berbagai

kebijakan Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) maupun BPPN memiliki

kecenderungan diselesaikan secara perdata di luar pengadilan (out of court). Di sini

pemerintah menuntut tanggung jawab pribadi (personal liability) para pemegang saham32

bank-bank penerima BLBI untuk melunasi utang BLBI tersebut. Kebijakan ini lebih

didasarkan akan perlunya pengembalian atau pelunasan utang BLBI tersebut dan

diharapkan ada pemasukan dana bagi pemerintah sebagai salah satu sumber penerimaan

anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan demikian, terkesan pemerintah

mengesampingkan penyelesaian penuntutan hukum pidana kepada para pemegang saham

pengendali, padahal diketahui adanya penyalahgunaan penggunaan BLBI dan adanya

pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK).

Untuk menyelesaikan utang BLBI ini, pada 6 Februari 1999 pemerintah

Indonesia (Menteri Keuangan) dan Gubernur BI telah menandatangani perjanjian yang

isinya antara lain:33

1. Pemerintah, dalam hal ini BPPN mengambilalih hak tagih (cessie) terhadap bank

penerima BLBI dari BI.

2. Tahap pertama, hak tagih dengan posisi 29 Januari 1999 berjumlah Rp

32 Khususnya pemegang saham pengendali.


33 Humas BI, loc.cit.
18

144.536.094.294.530,00 dan dibayar dengan surat utang masing-masing SU-

001/MK/1998 tanggal 25 September 1998 senilai Rp 80 triliun dan SU-003/MK/1999

tanggal 8 Februari 1999 sebesar Rp 64,5 triliun.

3. Pembuatan akta cessie terhadap semua bank penerima BLBI.

4. Verifikasi akan dilakukan keduabelah pihak tentang pengalihan hak tagih tersebut.

5. Pembayaran BLBI selebihnya setelah tanggal 29 Januari 1999 akan dilakukan

kemudian pada saat yang dianggap tepat dengan cara menerbitkan Surat Utang

Pemerintah atau dengan cara lain

Untuk mengembalikan uang negara yang disalurkan kepada bank dalam

pengawasan (BDP), BLBI, dana talangan, dan program penjaminan, pemerintah

membentuk BPPN yang bertugas:

1. Menyehatkan bank yang ditetapkan dan diserahkan BI.

2. Menyelesaikan aset bank, aset fisik maupun kewajiban debitor melalui Asset

Management Unit (AMU).

3. Mengupayakan uang negara yang telah disalurkan melalui penyelesaian aset dalam

restruturisasi.

4. Menjual aset dan melaporkannya kepada Menteri Keuangan.

5. Melakukan penyertaan modal sementara dan pengalihan modal.

6. Mengosongkan tanah atau bangunan yang menjadi hak milik bank dalam penyehatan.

7. Mengambil alih dan menjual aset dalam restrukturisasi melalui penawaran umum

melalui lelang.

8. Menagih kepada debitor dengan menerbitkan surat paksa.

9. Menyita kekayaan debitor.


19

Dengan kewenangan tersebut, BPPN menyelesaikan utang BLBI melalui beberapa cara,

yakni melalui Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA), Master

Refinancing and Note Issuance Agreement (MRNIA), Master Recognition Arrangement

(MRA), Penyelesaian Kewajiban Pemegang (PKPS).

Sampai dengan 31 Desember 2000, telah disepakati penyelesaian utang antara

para pemegang saham pengendali bank-bank penerima BLBI dan BPPN per 29 Januari

1999 sebagai berikut:34

Tabel IV
Debitor BLBI yang Mengikuti Penyelesaian Utang BLBI secara Keperdataan

No Status Bank Jumlah Bank MSAA MRNIA APU Jumlah


Bank PKPS (milyar Rp)
1 BTO 5 1 1 1 1 70.366
2 BBO 10 5 3 3 - 47.264
3 BBKU 18 11 - - 11 9.913
4 BDL 15 - - - - -
Jumlah 48 19 4 4 12 127.533

1. Master Settlement and Acquisition Agreement

Model penyelesaian utang BLBI dengan MSAA dilakukan kepada pemegang

saham pengendali (PSP) bank penerima BLBI yang memiliki aset yang cukup untuk

menyelesaikan kewajibannya kepada pemerintah. Kewajiban yang diselasaikan di sini

adalah:35

a. PSP bank yang berstatus BBO atau BBKU (misalnya BDNI) menyelesaikan BLBI dan

kredit yang melanggar BMPK.

b. PSP bank yang berstaus BTO (misalnya BCA) menyelesaikan kredit yang melanggar

34 Kompas, 15 Desember 2001.


35 Humas BI, loc.cit.
20

BMPK, sedang BLBI bank BTO diselesaikan melalui proses rekapitalisasi dengan cara

proses konversi tagihan BLBI menjadi penyertaan modal pemerintah di bank yang

bersangkutan.

Kewajiban yang harus dibayar PSP bank yang berstatus BBO dan BBKU

adalah sebesar kewajiban BLBI terutang, dikurangi dengan nilai clean asset bank.

Kewajiban yang harus dibayar oleh PSP bank yang berstatus BTO dan direkapitalisasi

adalah sebesar jumlah kewajiban kredit yang melanggar BPMPK kepada pihak terkait.

Sesuai dengan MSAA, pembayaran kewajiban bank dilakukan oleh PSP bank

secara tunai dan in kind, yaitu dengan menyerahkan aset. Pembayaran dengan aset ini

dilakukan melalui transfer agreement, yaitu bank-bank menyerahkan saham-saham dari

perusahaan yang dimiliki dengan nilai yang disepakati sebelumnya. Saham-saham tersebut

diserahkan kepada perusahaan yang dibentuk untuk itu (holding company yang juga

disebut acquisition vehicle – AV).

Langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan dengan mekanisme MSAA ini

adalah:36

a. PSP mengambil alih kewajiban atas pinjaman kepada pihak terkait (pelanggaran

BMPK), sehingga pinjaman dari bank kepada pihak terkait beralaih menjadi pinjaman

kepada PSP bank.

b. Bank mengalihkan kredit yang melanggar BMPK (pinjaman kepada pihak terkait)

kepada BPPN. Untuk pengalihan ini BPPN/Menteri Keuangan membayar dengan

menerbitkan obligasi pemerintah. Setelah pengalihan itu, BPPN berstatus sebagai

kreditor PSP bank.

36 Ibid.
21

c. PSP (sekarang debitor BPPN) menyerahkan asetnya (berupa saham-saham) kepada

AV (holding company) melalui transfer agreement. PSP bank yang kemudian

menerima pembayaran berupa promissory note yang dapat dikonversi menjadi

convertible bond yang sewaktu-waktu dapat dikonversi menjadi saham di AV

(holding company).

d. PSP bank menyerahkan promissory note (dari AV atau holding company) kepada

BPPN sebagai pembayaran kewajiban terutang.

e. Pada saat dilakukan penyerahan aset oleh PSP bank, BPPN meneliti apakah sesuai

dengan disclosure, representation of warranties yang dinyatakan PSP bank. Sebagai

jaminan atas disclosure, representation of warranties PSP menyatakan aset, di luar

aset yang digunakan untuk membayar kewajiban kepada pihak ketiga.

f. Setelah aset diserahkan kepada AV atau holding company, berarti para pihak telah

melaksanakan kewajiban dan menerima haknya. PSP bank dianggap telah

menyelesaikan secara tuntas (settlement).

g. MSAA mengatur release and discharge yang dapat diterbitkan selama proses

penyelesaian atau setelah proses penyelesaian berakhir. Release and discharge yang

dapat disamakan dengan kuitansi adalah jumlah yang sesuai dengan jumlah yang

diterima sebagai pembayaran.

Dalam penyelesaian BLBI melalui mekanisme MSAA, BPPN mengeluarkan

release and discharge apabila PSP bank telah memenuhi kewajibannya kepada

pemerintah. Release and discharge itu sendiri memuat dua hal, yakni:37

a. BPPN atas nama pemerintah menyatakan telah menerima pembayaran atau pelunasan

37 Ibid.
22

kewajiban bank PSP, baik berupa kredit yang melanggar BMPK saja (dalam hal bank

berstatus BTO) ataupun kredit yang melanggar BMPK dan BLBI sekaligus (dalam hal

bank berstatus BBKO dan BBO).

b. Dengan pembayaran atau pelunasan, sesuai dengan janji dalam MSAA, BPPN,

pemerintah tidak akan menuntut secara pidana PSP bank dan pengurus serta karyawan

atas pelanggaran BMPK dan BLBI.

2. Master Refinancing and Note Issuance Agreement atau Master Recognition

Arrangement

Mekanisme MRNIA ini diberlakukan terhadap bank yang asetnya tidak

mencukupi untuk memenuhi kewajibannya. PSP bank ini mengakui bahwa kewajibannya

belum selesai walaupun telah membayar sebagian kewajibannya secara tunai. Sisanya

yang belum dapat dibayar penuh dengan cara penyerahan aset yang kemudian masuk

dalam dimasukkan dalam daftar personal guarantee dari PSP bank untuk menjamin

pelunasan kewajibannya dengan batas waktu yang dietetapkan.38

Ada beberapa perbedaan antara MSAA dan MRNIA/MRA diantaranya adalah:

Ada kewajiban dalam MSAA dalam melakukan pembayaran menggunakan aset yang

dapat dijual oleh dan atas perintah BPPN melalui AV/holding company tanpa memerlukan

persetujuan PSP bank. Sebaliknya, menurut MRNIA/MRA penjualan aset yang termasuk

dalam daftar PG oleh BPPN harus mendapat persetujuan dari PSP bank atau dilakukan

oleh sendiri PSP bank.39

38 Ibid.
39 Ibid.
23

3. Konversi BLBI menjadi Penyertaan Modal Sementara

Melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank

Indonesia 26 Maret 1999 dikeluarkan kesepakatan rekapitalisasi bank-bank dengan status

BTO. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, BPPN pada 29 Mei 1999 melakukan

rekapitalisasi bank-bank BTO, yaitu BCA, Bank Tiara, Bank Danamon, dan Bank PDFCI.

Rekapitalisasi dilakukan dengan jalan konversi BLBI menjadi PMS yang memiliki arti

sebagai berikut:40

a. Pemerintah mengakui pengalihan BLBI maupun term of condition pengalihan.

b. Tagihan BLBI yang semula berbentuk kredit BI kepada bank yang kemudian menjadi

tagihan pemerintah kepada bank diubah menjadi penyertaan modal, sehingga

kedudukan pemerintah berubah dari kreditor menjadi pemegang saham.

c. Perubahan bentuk tagihan mengakibatkan BLBI mejadi lunas karena terjadi

restrukturisasi dengan mengacu kepada perjanjian baru dan menghapus perjanjian

lama.

d. Dengan hapusnya perjanjian lama dalam rangka BLBI, maka jaminan yang melekat di

BLBI menjadi hapus demi hukum.

4. Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham Pengendali

Mengingat banyak komentar negatif atas atas penggunaan mekanisme

MSAA, maka penyelesaian kewajiban pembayaran utang BLBI untuk bank-bank yang

masuk kategori BBKU digunakan mekanisme Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham

Pengendali (PKPSP) melalui penandatanganan Akta Pengakuan Utang (APU). Pola

penyelesaian dengan ini hampir sama dengan MSAA, tetapi dalam pola PKPSP, PSP bank

40 Ibid.
24

tetap bertanggungjawab atas kekurangan pelunasan, jika hasil penjualan aset yang

diserahkan belum juga mencukupi. Tanggung jawab PSP bank dilakukan dengan cara

memberikan jaminan pribadi/jaminan korporat (personal guarantee/corporat guarantee).

Mengingat bank-bank penerima BLBI adalah badan usaha yang berbentuk

perseroan terbatas (PT), maka untuk mengkaji keabsahan program penyelesaian utang

BLBI yang menuntut pemenuhan tanggung jawab pribadi para pemeganng pengendali

tersebut harus didasarkan kepada Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan

Terbatas.

Karakteristik perusahaan berbentuk PT adalah terbatasnya tanggung jawab

para pemegang saham. Menurut Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1995,

pemegang saham tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuatnya

atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian melebihi nilai saham yang

telah diambilnya. Ini merupakan ciri utama PT sebagai badan hukum yang memiliki status

persona in judicio.41 Pertanggungjawaban yang timbul semata-mata dibebankan kepada

harta kekayaan yang terhimpun dalam perseroan tersebut.42

Ketentuan tersebut tidak berlaku mutlak, Pasal 3 ayat (2) menetapkan

pengecualian terbatasnya tanggung jawab tersebut, jika:

1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.

2. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan

iktikad buruk memanfaatkan perseroan semata-mata untuk kepentingan pribadi.

3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang

41 Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas (Bandung: Citra Aditya Bakti,
1995), hlm 226.
42 Ibid.
25

dilakukan perseroan.

4. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara

melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan

perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.

Pasal 10 ayat (4) Peraturan pemerintah No. 68 Tahun 1996 jo Peraturan

Pemerintah No. 40 Tahun 1997 menentukan pula adanya tanggung jawab pribadi anggota

direksi, komisaris, dan pemegang saham sampai kepada harta pribadi dalam hal yang

bersangkutan turut serta menjadi penyebab kesulitan keuangan yang dihadapi atau

menjadi penyebab kegagalan suatu bank.

Di sini terjadi apa yang di dalam sistem common law sebagai piercing

corporate veil. Kata piercing berarti mengoyak atau menembus. Kata veil berarti kerudung

atau cadar. Dengan frase piercing corporate veil secara harfiah sebagai cadar badan

hukum dikoyak atau ditembus. Dalam penerapannya ke dalam hukum perseroan, piercing

corporate veil bermakna bahwa hukum tidak memberlakukan prinsip terpisahnya

tanggung jawab dan harta kekayaan badan hukum dari tanggung jawab dan kekayaan

pemegang sahamnya. Berdasarkan doktrin ini dimungkinkan para pemegang saham

bertanggung jawab sampai kepada harta pribadi walaupun pemegang saham dilakukan

oleh dan atas nama perseroan sendiri.43

Dalam kasus pencabutan izin usaha bank, pembekuan kegiatan operasi bank,

dan pengambilalihan bank oleh pemerintah, para pemegang saham tidak dapat berlindung

di balik ketentuan terbatasnya tanggung jawab pemegang saham. Diyakini ada keterlibatan

para pemegang saham (utama) melakukan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan

43 Munir Fuadi, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek, Buku Ketiga (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 1996), hlm 11.
26

bank-bank tersebut mengalami kesulitan untuk melunasi utang-utangnya. Kesalahan

tersebut terletak pada pelanggaran ketentuan BMPK yang diatur Undang-Undang No. 7

Tahun 1992. Misalnya untuk kasus Bank Anrico, 90 % kredit disalurkan kepada

perusahaan anggota kelompok sendiri. BDNI menyalurkan 74 % kreditnya kepada

perusahaan anggota kelompok sendiri, seperti PT Dipasena.

Memakai uang bank yang termasuk dalam kelompok sendiri memang sangat

enak, karena saringannya dapat ditiadakan, bunga yang dikenakan juga sangat rendah.

Cost of money tentunya lebih rendah dari bunga deposito yang diberikan kepada deposan.

Bunga giro sangat rendah. Bahkan lazim giro tidak memperoleh bunga, sedangkan yang

mengendap di bank dapat dalam bentuk giro tanpa beban bunga dapat mencapai jumlah

besar.44

Ketentuan BMPK dapat juga diselundupkan melalui pemberian kredit oleh

perusahaan keuangan (multi finace company). Ketika kemungkinan ini dibendung

perusahaan memanfaatkan commercial paper (CP). Contoh pelanggaran BMPK dengan

menggunakan modus penerbitan CP dapat dilihat dalam kasus Bank Pasific. PT Pasific

International Finance (PIF) sebuah perusahaan keuangan menerbitkan CP yang menurut

neraca per 31 Desember 1993 senilai Rp 721 milyar.45 Neraca terakhir per 31 Desember

1996 menunjukkan Rp 1 triliun.46 Sebelum CP yang diterbitkan PT FIF itu dijual kepada

para investor, CP tersebut dijamin pembayarannya (aval) oleh Bank Pasific yang

merupakan perusahaan di mana Endang Mokodompit juga menjadi direktur utama. Ketika

CP tersebut jatuh tempo, PT PIF tidak dapat membayarnya, sehingga kewajiban

44 Kwik Kian Gie, Praktek Bisnis dan Orientasi Ekonomi Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1996), hlm 133.
45 Sinar, 7 Juni 1997.
46 Bisnis Indonesia, 13 Nopember 1997.
27

pembayarannya ditanggung Bank Pasific. Praktis total kerugian Bank Pasific mencapai Rp

2 triliun.47 Untuk nmenutup kerugian Bank Pasific tersebut, BI memberikan bantuan

likuiditas yang sangat besar.48

Berdasarkan uraian di atas, tampak adanya pelanggaran kewajiban bank untuk

menjaga kesehatan bank dan kewajiban melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-

hatian (prudential banking).

Upaya penyelesaian utang BLBI dengan bank penerima BLBI dengan PKPS

merupakan manifestasi tanggung jawab pribadi para pemegang perseroan sebagaimana

diatur Undang-Undang No. 1 Tahun 1995. PKPS antara lain dilakukan dengan instrumen

MSAA. MSAA merupakan perjanjian antara BPPN dan para obligor BLBI. Pada dasarnya

perjanjian ini mengatur penyelesaian utang BLBI dengan cara penyerahan aset yang

dimiliki para obligor kepada BPPN. Dengan penyerahan aset tersebut diharapkan utang

BLBI dapat dibayar atau dilunasi. Aset yang diserahan tersebut kemudian akan dijual oleh

BPPN. Jika hasil penjualan aset yang berjalan lancar seperti diharapkan semula walaupun

dilakukan secara bertahap, secara perlahan-lahan dapat mempercepat proses pemulihan

ekonomi nasional.

Walaupun MSAA dibuat untuk lebih mempercepat penyelesaian utang-

piutang BLBI, tetapi dalam kenyatannya menimbulkan sejumlah persoalan hukum yang

pelik banyak menyangkut keabsahan maupun isi perjanjian itu sendiri. Mantan Menteri

Keuangan Bambang Sudibjo menyatakan bahwa perjanjian itu sudah batal ketika

ditandatangani para pihak, oleh karenanya perlu dibuat perjanjian baru. Namun demikian,

dia tetap menghendaki penyelesaian utang-piutang BLBI diselesaikan di luar pengadilan.

47 Ibid. Lihat juga Infobank, Juni 211/1997.


48 Syahrir, “Kebijakan BLBI mau Ke mana ?“, Bisnis Indonesia, 5 Otober 1998.
28

Dari segi isi perjanjian juga dipersoalkan, karena aset yang diserahkan juga bermasalah

baik dari segi hukum maupun nilai ekonomisnya.

Menghadapi sejumlah permasalahan hukum tersebut, Kwik Kian Gie sebagai

Menko Ekuin dan sekaligus sebagai ketua KKSK menugaskan Fred. B.G. Tumbuan dan

Kartini Muljadi untuk melakukan telaah hukum (legal audit) terhadap perjanjian tersebut.

Fred. B.G. Tumbuan mengkaji MSAA antara BPPN dan Sudono Salim, Anthoni Salim

dan Andree Salim sebagai pemegang saham pengendali BCA dan Bank Risjad Salim.

Hasil kajian tersebut sebagai berikut:49

1. Fred. B.G. Tumbuan menyatakan bahwa Sudono Salim, Anthoni Salim, Andree Salim

selaku pemegang saham pengendali BCA dan RSI telah mengambilalih seluruh

kewajiban affiliate loans (utang terafiliasi yang terkait dengan BMPK). Ketiganya

menyanggupi pembayaran utang dengan cara pembayaran tunai yang relatif kecil dan

penyerahan harta kekayaan berupa saham di acquisitor company kepada BPPN yang

ditampung di PT Holdiko. Aset yang diserahkan terdiri dua kelompok. Pertama,

perusahaan yang dikendalikan ketiga orang tersebut. Kedua, perusahaan yang tidak

dikendalikan ketiganya (non acquitor companies). Selanjutnya, kepemilikan aset

kelompok Salim ditransfer ke PT Holdiko dengan perantaraan dua perusahaan yang

bertindak selaku pemegang PT Holdiko.

Kedua perusahaan tersebut adalah PT Gemahripah Pertiwi dan PT Cakrasubur

Nirmala. Kedua pemegang saham PT Holdiko ini selanjutnya menggadaikan seluruh

sahamnya di PT Holdiko ke BPPN, dan juga memberikan kuasa kepada BPPN untuk

menjalankan hak-hak pemegang saham PT Holdiko melalui MSAA.

49 Kompas, 26 September 2000.


29

Dengan dibayarnya sejumlah uang tunai yang relatif kecil dan ditransfernya sejumlah

aset ke PT Holdiko, BPPN langsung memberikan release and discharge (pembebasan

dari tuntutan pelanggaran BMPK) kepada ketiga pemegang saham tersebut.

Ketiganya dinyatakan tidak lagi bertanggung jawab atas pelanggaran BMPK.

Menurut Tumbuan adanya ketentuan release and discharge tidak memiliki dasar

hukum, apalagi belum terjadi pembayaran lunas oleh para pemegang saham tersebut

kepada BPPN. Oleh karena itu, jika terjadi penurunan nilai perusahaan kelompok

Salim yang diakuisisi PT Holdiko sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemegang

saham yang secara sadar telah memilih pembayaran utang BMPK dengan

menyerahkan kepemilikan aset.

Sebenarnya sejak PT Gemahripah Pertiwi dan PT Cakrasubur Nirmala sebagai

pemegang saham PT Hodiko menggadaikan seluruh sahamnya kepada BPPN, dan

juga memberikan kuasa kepada BPPN untuk menjalankan hak-hak pemegang saham

di PT Holdiko. Secara yuridis BPPN telah menerima gadai serta diberikan kuasa

untuk menjalankan hak-hak pemegang saham di PT Holdiko, maka BPPN telah

menguasai aset-aset kelompok Salim di PT Holdiko serta berhak menjual aset-aset

tersebut kepada calon pembeli yang berminat. Hasil penjualan itu digunakan untuk

pembayaran utang-utang kelompok Salim. Apabila telah dilunasi, maka BPPN

membebaskan kelompok Salim sebagai pemegang saham pengendali BCA dari

tuntutan pidana akibat pelanggaran BMPK.

2. MSAA mengatur pula bahwa setelah aset kelompok Salim ditransfer ke PT Holdiko,

PT Holdiko memberikan kuasa dimaksud kepada BPPN, maka tugas BPPN adalah

menjual aset-aset tersebut. Ketentuan ini disertai klausul bahwa jika hasil penjualan
30

aset melebihi utang, kelebihan itu menjadi hak PT Holdiko. Jika ternyata hasil

penjualan aset tidak mencukupi untuk membayar utang, kekurangannya menjadi

tanggung jawab BPPN. Dengan demikian kerugian tersebut menjadi beban negara.

Beban negara ini harus ditanggung rakyat Indonesia (pihak ketiga) karena harus

ditanggung APBN. Sehubungan dengan ini, menurut Tumbuan Pasal 1340 Kitab

undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menyatakan: (1) Suatu perjanjian

hanya mengikat pihak-pihak yang membuatnya; (2) Suatu perjanjian tidak dapat

membawa kerugian kepada pihak-pihak ketiga, dan tidak mendapat manfaat

karenanya. Berdasar ketentuan tersebut, keharusan rakyat Indonesia sebagai pihak

ketiga untuk menanggung kerugian dan beban yang ditimbulkan utang BLBI adalah

tidak berkekuatan hukum sama sekali.

3. BPPN memberikan release and discharge karena ia menyakini bahwa aset kelompok

Salim adalah benar-benar cukup untuk melunasi kewajiban pelanggaran BMPK, jika

kemudian aset tersebut tidak cukup untuk melunasi utang, asas iktikad baik yang tidak

dapat membenarkan BPPN untuk menanggung kerugian tersebut. BPPN pasti tidak

akan memberikan release and discharge kepada para pemegang saham jika diketahui

atau diduga pembayaran affiliate loans dalam bentuk acquisition shares oleh para

pemegang saham tidak akan cukup untuk melunasi utangnya. Di lain pihak para

pemegang saham mengaku bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran BMPK dan

setuju mengambilalih dan membayar lunas seluruh utang BMPK dengan menyerahkan

aset sebagai bentuk pembayaran non tunai, semestinya sadar untuk sepenuhnya

menanggung risiko jika ternyata aset yang diserahkan tidak cukup untuk melunasi

utang tersebut.
31

4. Melihat ketidakwajaran tersebut, Tumbuan mengusulkan untuk dilakukan revisi atau

amandemen MSAA, tetapi amandemen tersebut tidak perlu menghentikan penjualan

aset tersebut. Apabila ternyata hasil penjualan acquisitor shares tidak mencukupi

untuk melunasi utang affiliate loans, pemegang saham tetap harus bertanggung jawab

atas kekurangan tersebut sebagai utang pribadi mereka.

Upaya amandemen MSAA akan mengalami beberapa kendala yuridis. Sesuai

dengan asas kebebasan berkontrak, para pihak dapat menentukan isi perjanjian secara

bebas. Apabila mereka telah bersepakat tentang isi perjanjian, maka ia akan menimbulkan

kekuatan mengikatnya perjanjian sebagaimana layaknya undang-undang bagi kedua belah

pihak (pacta sunt servanda).50 Apa yang dinyatakan seseorang dalam suatu hubungan

hukum menjadi hukum bagi mereka (cum nexum faciet mancipiumque, uti lingua

mancoassit, ita jus esto).51 Asas inilah yang menjadi kekuatan mengikatnya perjanjian

(verbindende kract van de overeenkomst).52 Ini bukan saja kewajiban moral, tetapi juga

kewajiban hukum yang pelaksanaannya wajib ditaati.53 Sebagai konsekuensinya, hakim

dan pihak ketiga tidak boleh mencampuri isi perjanjian yang dibuat para pihak tersebut.

Mengingat MSAA adalah perjanjian timbal balik, walaupun isinya dianggap

merugikan negara, pemerintah tidak dapat memutuskannya secara sepihak. Dalam hal ini

Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata menyatakan bahwa persetujuan tidak dapat ditarik

kembali selain dengan kata sepakat keduabelah pihak, atau alasan-alasan yang oleh

50 Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara
sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
51 Lon. L. Fuller dan Melvin Aron Eisenberg, Basic Contract Law, (St. Pul-Minn: West
Piblishing Co, 1972), hlm 112.
52 Arthur Hartkamp dan Marianne M.M. Tillema, Contract Law in in the Netherlands,
(Deventer: Kluwer, 1998), hlm 34.
53 Fred. B.G. Tumbuan, “Kekuatan Mengikat Perjanjian dan Batas-Batasnya”, Makalah,
Jakarta (Juli 1998), hlm 1.
32

undang-undang dinyatakan untuk itu. Jika pihak yang merasa dirugikan bermaksud

membatalkan perjanjian tersebut, maka harus mengajukan pembatalan itu melalui putusan

pengadilan.

Kebebasan berkontrak pada masa kejayaannya pada abad sembilan belas,

memang menjadi paradigma baru dalam hukum kontrak,54 ia mengarah ke kebebasan

tanpa batas (unsrestrictive freedom of contract).55 Keadaan ini mencerminkan pengaruh

aliran filsafat yang menekankan semangat individualisme dan pasar bebas yang

berkembang saat itu di dalam hukum kontrak.56

Dalam perkembangannya, kebebasan berkontrak bukanlah kebebasan tanpa

batas. Negara baik melalui pengaturan undang-undang maupun pengadilan membuat

sejumlah pembatasan kebebasan berkontrak.57

Dalam kerangka KUHPerdata, ada sejumlah pembatasan kebebasan

berkontrak. Berdasar Pasal 1337 KUHPerdata, kebebasan untuk menentukan isi perjanjian

sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, atau ketertiban umum.

Adanya ketentuan release dan discharge di dalam MSAA dapat dikategorikan

bertentangan dengan undang-undang sebagaimana ditentukan Pasal 1337 KUHPerdata

tersebut. Pelanggaran BMPK sebagaimana dimaksud Pasal 11 jo Pasal 50 Undang-

Undang No. 7 Tahun 1992 adalah termasuk tindak pidana. Dasar kebebasan berkontrak

54 Michael Rosenfeld, “Contract and Justice: The Relation between Classical Contract Law
and Social Contract Theory”, Iowa Law Review, vol 70 (1985), hlm 821.
55 John D. Calamari dan Joseph M. Perilo, Contract, (St. Paul-Minn, West Publishing Co,
1977), hlm 5. Lihat juga Roscoe Pound, “Liberty of Contract”, Yale Law Journal, vol 19 (1909), hlm 456.
56 Fredrich Kessler, “Contract Adhesion – Some Thought about Freedom of Contract”,
Columbia Law Review, vol 43 (1943), hlm 630. Lihat pula Luis Muniz Arguelles, “A Theory on Will
Theory: Freedom of Contract in Histrorical and Comparative Perspective”, Revista Juridica De La
Universidad De Puerto Rico, hlm 245. Lihat juga Arthur Taylor von Mehren dan James Russel Gordley,
The Civil Law System, (Boston: Litle Brown and Company, 1977), hlm 788.
57 Peter Gillies, Business Law, (Sydney : The Federation Press, 1993), hlm 117.
33

tidak dapat dijadikan justifikasi untuk mengesampingkan ketentuan undang-undang

tersebut.

Jika memang dirasakan ada ketidakwajaran di dalam isi perjanjian MSAA

tersebut dapat dilacak pada awal proses terjadi kesepakatan berdasarkan asas iktikad baik,

khususnya iktikad pada pra kontrak. Ketentuan ini memang belum diatur KUHPerdata

Indonesia, bahkan di dalam KUHPerdata (Baru) Negeri Belanda, namun ia telah diterima

sebagai doktrin yang dibangun dalam praktek pengadilan.

Di Negeri Belanda, doktrin iktikad baik dalam proses negosiasi dan

penyusunan kontrak telah diakui keberadaannya melalui Putusan Hoge Raad tanggal 15

Nopember 1957 NJ 1958 No. 67.58 Putusan ini menyataklan bahwa para pihak yang

berunding harus dilandasi iktikad baik, kepatutan, dan keadilan.59 Sebagai

konsekuensinya, pihak yang satu harus memperhatikan kepentingan hukum pihak lainnya

di dalam kontrak.60 Hoge Raad kemudian berhasil menarik asas kecermatan dalam

pembuatan kontrak (contractuele zorgvuldigheid, duty of care), yakni adanya kecermatan

bagi pembeli untuk meneliti atau memeriksa (onderzoekplicht) fakta-fakta yang berkaitan

dengan kontrak.61 Beberapa tahun kemudian Hoge Raad juga menerima kewajiban yang

sama bagi penjual untuk memberitahukan (mededelingsplicht) fakta material bagi penjual

dalam proses negosiasi kontrak.62 Sebagai akibat dari pandangan tersebut, maka setiap

orang memiliki contractuele zorgvuldigheid (kecermatan dalam pembuatan perjanjian)

58 P.L. Wery, Perkembangan Hukum tentang Iktikad Baik di Nederland, (Jakarta: Percetakan
Negara, 1990), hlm 15.
59 Arthur Hartkamp dan Marianne M.M. Tillema, op.cit, hlm 71.
60 Ewoud Hondius (ed), Pracontractual Liability: Report to the XIIIth Congress International
Academy of Comparative Law Montreal, Canada, 18 – 24 August, 1990, (Deventer: Kluwer, 1991), hlm
226.
61 Ibid.
62 Ibid.
34

dan contractuele waardigheid (kemulian dalam perjanjian). Dengan demikian, sejak saat

diadakannya perjanjian sudah harus ada maatschapelijk zorgvuldigheid, ketelitian, dan

kehati-hatian dalam pergaulan hidup hukum masyarakat.

Dengan doktrin tersebut, maka semestinya dalam negosiasi MSAA, pihak

BPPN harus memiliki kewajiban untuk meneliti baik yang menyangkut subjek maupun

objek perjanjian. Pihak obligor pun harus pula menyampaikan keterangan (disclose) fakta-

fakta material yang menyangkut objek perjanjian. Dengan tindakan yang demikian,

seharusnya tidak akan terjadi penyerahan aset-aset yang bermasalah baik secara hukum

maupun nilai ekonomisnya. Jika kasus ini dibawa ke pengadilan, maka hakim wajib

menelusuri proses terjadinya kontrak dengan dasar iktikad baik tersebut.

Iktikad baik harus juga dilihat pada pelaksanaan perjanjian. Sehubungan

dengan ini Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata menyatakan bahwa semua perjanjian harus

dilaksanakan dengan iktikad baik. Hoge Raad dalam putusannya tanggal 9 Februari 1923

menyatakan bahwa doktrin iktikad baik merupakan doktrin yang merujuk kepada

kewajaran atau kepatutan dan keadilan (redelijkheid en billijkheid) yang hidup dalam

masyarakat.63 Hoge Raad menyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan menurut

kepatutan dan keadilan (volgens de eisen van redelijkheid en billijkheid).64 Hoge Raad

dengan tegas manyatakan bahwa memperhatikan iktikad baik dalam pelaksanaan

perjanjian tidak lain adalah menafsirkan perjanjian menurut ukuran kepatutan dan

keadilan.65 Dengan demikian lahir pandangan yang menyatakan bahwa Hoge Raad

menyamakan iktikad baik dengan kepatutan dan keadilan dalam kontrak.

63 P.L. Wery, op.cit, hlm 11.


64 Ibid.
65 J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Buku II, (Bandung:
Citra Aditya Bakti, 1995), hlm 177.
35

Berkaitan dengan batalnya suatu perjanjian harus dikaitkan dengan ketentuan

Pasal 1320 KUHPerdata. Jika dipenuhinya syarat yang menyangkut syarat subjektif, yakni

adanya kata sepakat dan kecakapan bertindak, perjanjian dengan tidak dengan sendirinya

batal. Perjanjian terus berlangsung sepanjang tidak ada pihak-pihak yang meminta

pembatalannya. Apabila tidak terpenuhi syarat yang menyangkut syarat objektif, yakni

persyaratan yang menyangkut hal tertentu dan kausa hukum yang halal, maka perjanjian

tersebut adalah batal demi hukum. Perjanjian MSAA yang memuat klausul release and

discharge tidak memenuhi persyaratan kausa hukum yang halal, karena ia bertentangan

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yakni Undang-Undang No. 7 Tahun

1992 dan peraturan pelaksanaannya.

E. Penyelesaian melalui Instrumen Hukum Pidana

Dalam menyelesaikan utang BLBI tampaknya pemerintah tidak memiliki

sikap yang sama apakah harus diselesaikan secara perdata, seperti melalui instrumen

MSAA, MRNIA, APU, dan PKPS ataukah juga melalui instrumen hukum pidana.

Walaupun BPPN dan para obligor BLBI telah menandatangani MSAA, MRNIA, APU,

dan PKPS, tetapi Kejaksaan Agung juga berusaha untuk melakukan tuntutan pidana. Ini

terbukti dengan telah diperiksanya dan bahkan ditangkapnya beberapa obligor BLBI. Ini

dilakukan Kejaksaan Agung, karena mereka diduga telah melakukan penyimpangan

pemanfaatan BLBI.

Di dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 tidak dijumpai adanya norma

hukum yang mengatur sanksi pidana bagi barang siapa yang melakukan pelanggaran
36

menyalahgunakan dana BLBI. Selain itu, jika dilakukan tuntutan pidana, belum tentu

memenuhi unsur tindak pidana, karena utang BLBI pada hakekatnya adalah utang-piutang

yang termasuk dalam ruang lingkup hukum perdata.

Jika tuntutan pidana tetap diajukan, ada kemungkinan hakim memutus onslag

van rechts vervolging. Putusan onslag van recht vervolging dijatuhkan apabila hakim

berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi

perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, tetapi perbuatan perdata, maka

terdakwa harus diputus lepas dari segala tuntutan hukum sebagaimana ditentukan Pasal

191 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Peluang untuk menuntut secara pidana para obligor tersebut sebenarnya tidak

hanya didasarkan pada penyalahgunaan BLBI, tetapi lebih banyak diarahkan kepada

pelanggaran BMPK. Di sini ada peluang yang besar, karena para obligor tersebut

umumnya melakukan pelanggaran BMPK yang ditentukan Undang-Undang No. 7 tahun

1992.

E. Kerancuan Penyelesaian Hukum

Dalam penyelesaian utang BLBI terjadi kerancuan antara pelanggaran atau

penyalagunaan pemanfaatan BLBI dan pelanggaran BMPK. Permasalahan yang

diselesaikan apakah utang BLBI ataukah pelanggaran BMPK. Keduanya memiliki

kualifikasi hukum yang berbeda.

Penyelesaian utang BLBI lebih bernuansa masalah perdata, yakni penyelesaian

wan prestasi yang timbul dalam perjanjian utang piutang antara BI (yang kemudian

dialihkan kepada BPPN) dan para obligor. Wan prestasi tersebut baik menyangkut

keterlambatan membayar utang BLBI maupun melaksanakan perjanjian tidak selayaknya,


37

antara lain menggunakan dana BLBI bukan kepentingan mengatasi kesulitan likuiditas

yang dialami bank tersebut. Sedangkan pelanggaran BMPK lebih bernuansa hukum

pidana, yakni pelanggaran BMPK yang ditentukan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992

dan peraturan pelaksanaannya. Pelanggaran BMPK secara tegas memang ada ancaman

sanksi pidananya.

Pemanfaatan BLBI dan pelanggaran BMPK harus dipilah-pilah. BLBI yang

disalurkan adalah dalam rangka untuk mengatasi keadaan darurat dan semata-mata untuk

mengganti dana pihak ketiga (giro, deposito, dan tabungan) yang ditarik nasabah secara

besar-besaran. BLBI muncul tidak bersamaan dengan terjadinya pelanggaran BMPK. Oleh

karena itu, kurang tepat apabila dikatakan bahwa BLBI disalahgunakan oleh pengurus

bank atau kelompok perusahaan terkait, sehingga menyakibatkan terjadinya pelanggaran

BMPK.66

Pelanggaran BMPK adalah sesuatu yang terpisah dari BLBI, apabila memang

terjadi pelanggaran, maka akan lebih terkait dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992

beserta peraturan pelaksanaannya.

F. Simpulan

1. Penyelesaian utang BLBI secara perdata melalui MSAA masih menimbulkan

permasalahan yuridis yang berkaitan dengan keabsahan dan ketidakpatutan isi

perjanjian tersebut.

2. Penyelesaian utang BLBI melalui instrumen hukum pidana dapat diputus oleh

hakim dengan onslag van het recht vervolging, karena permasalahan utang BLBI

berada dalam ruang lingkup hukum perdata.

66 Riyanto, loc.cit.
38

3. Penyelesaian utang BLBI dalam prakteknya masih ada kerancuan dengan

penyelesaian pelanggaran BMPK.

Daftar Pustaka

Arguelles, Luis Muniz, ”A Theory on Will Theory: Freedom of Contract in Historical and
Comparative Perspective”, Revista Juridica De La Universidad De Puerto
Rico.
Calamari, John D. dan Joseph M. Perilo, Contract. ST.Paul-Minn: West Publishing Co,
1977.
Djiwandono, J. Soedradjat, Mengelola Bank Indonesia Dalam Masa Krisis. Jakarta:
Pustaka LP3ES, 2001.
Fuller, Lon.L, dan Melvin Aron Eisenberg, Basic Contract Law. St.Paul-Minn: West
Publishing Co, 1972.
Fuady, Munir, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek, Buku Ketiga. Bandung: Citra
Aditya Bakti, 1996.
Gillies, Peter, Business Law. Sydney: The Federation Press, 1993.
Harahap, M. Yahya, Segi-Segi Hukum Perjanjian. Bandung: Alumni, 1986.
Hartkamp, Arthur dan Marriane M.M. Tillema, Contract Law in the Netherlands.
Deventer: Kluwer, 1998.
Hondius, Ewod (ed), Pracontractual Liability: Report to the XIIIth Congress
International Academy of Comparative Law, Montreal, Canada, 18 – 24
August, 1990. Deventer: Kluwer, 1991.
Kessler, Fredrich, “Contract Adhesion – Some Thought about Freedom of Contract”,
Columbia Law Review, vol 43 (1943).
Khairandy, Ridwan, “Problematika Tanggung Jawab Bank yang berkaitan dengan Kredit
Likuidtas dan Pelanggagaran BMPK, Yogyakarta, 1998.
Kwik Kian Gie, Praktek Bisnis dan Orientasi Ekonomi Indonesia. Jakarta: Gramedia,
39

1996.
Mehren, Arthur Taylor von, dan James Russel Gordley, The Civil Law System. Boston:
Litle Brown, 1977.
Pound, Roscoe, “Liberty of Contract”, Yale Law Journal, vol 19 (1909).
Prasetianto, A. Toni, et.al, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Suatu Pelajaran yang
sangat mahal bagi Otoritas Monter dan Perbankan. Jakarta: Center for
Financial Policy Studies, 2000.
Prasetya, Rudhi, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas. Bandung: Citra Aditya Bakti,
1995.
Rachbini, Didik J (ed), Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral. Jakarta: PT
Mardi Luyo, 2000.
Rosenfeld, Michael, “Contract and Justice: The Relation between Classical Contract Law
and Social Contract Theory”, Iowa Law Review, vol 70 (1985), hlm 821.
Riyanto, “Kisruh Masalah BLBI”, Suara Pembaruan, 8 Oktober 1998.
Satrio, J, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Buku II. Bandung:
Citra Aditya Bakti, 1995.
Siamat, Dahlan, Manajemen Lembaga Keuangan. Jakarta: Intermedia, 1995.
Syahrir, “Kebijakan BLBI Mau ke mana?” Bisnis Indonesia, 5 Oktober 1998.
Tumbuan, Fred.B.G, “Kekuatan Mengikat Perjanjian dan Batas-Batasnya”, makalah,
Jakarta (Juli 1998).
Werry, P.L., Perkembangan Hukum tentang Iktikad Baik di Nederland. Jakarta:
Percetakan Negara, 1990.
Bisnis Indonesia, 11 Nopember 2000.
Bisnis Indonesia, 13 Nopember 2000.
Infobank, Juni 211/1997.
Jawa Pos, 13 Nopember 2000.
Jawa Pos, 23 September 2000.
Kompas, 5 0ktober 2000.
Kompas, 26 September 2000.
Kompas, 5 Januari 2001.
Kompas, 15 Desember 2001.
Kompas, 27 Desember 2001.
Sinar, 7 Juni 1997.
Suara Indonesia, 24 September 2000.
Suara Indonesia, 11 Januari 2001.