Anda di halaman 1dari 3

ADA APA DI BALIK KUMIS LEBAT TIMUR PRADOPO?

Oleh Shohibul Anshor Siregar


Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ’nBASIS

Seorang teman mempermasalahkan kumis lebat Timur Pradopo (TP)


secara berkelakar. Katanya, tampilan polisi itu perlu lebih humanis.
Apalagi saat sekarang ini sejuta pertanyaan eksistensial sedang
ditujukan (oleh Masyarakat) kepada koprs kepolisian yang dinilai banyak
penyimpangan. Menurut teman ini kumis lebat bisa amat mengganggu
proses pemulihan citra, apalagi yang berkumis lebat itu orang nomor
satu.

Tetapi di luar masalah kumis lebat itu TP memang orang paling istimewa
dalam catatan sejarah Kepolisian RI. Bayangkan, saat pagi hari berangkat
ke kantor ia masih berpangkat bintang dua. Dalam hitungan jam
kemudian sudah menjadi bintang tiga. Malam harinya sudah disiapkan
untuk mendapat bintang empat, dalam posisi sebagai calon tunggal
Kapolri. TP benar-benar kejatuhan bintang secara beruntun, suatu proses
promosi luar biasa yang berpusat pada kewenangan prerogatif Presiden
SBY.

Proses ini sekaligus telah menenggelamkan seketika sejumlah nama


yang pernah mencuat sebelumnya dalam bursa. Sebutlah Nanan
Soekarna, Oegroseno, Imam Sudjarwo, Yusuf Manggabarani dan Ito
Sumardi. Keheranan publik kali ini harus berhenti pada satu titik besar,
yakni hak prerogatif Presiden.

Penjelasan Djoko Suyanto


Konon 2 hari sebelum pengajuan nama TP ke DPR, Presiden SBY
memanggil Wakil Presiden, Ketua Kompolnas, Kapolri, Kepala BIN, dan
Mensesneg. Menurut Menko Polhukam Djoko Suyanto, dalam forum inilah
nama TP muncul dan dianggap lebih pas di antara 8 nama setelah
Presiden SBY menegaskan pendapatnya bahwa polarisasi yang
berkembang sedemikian jauh tidak bagus untuk pengembangan
organisasi Polri. Jika persyaratan kepangkatan calon Kapolri harus
setingkat di bawah pangkat Kapolri, maka penaikan pangkat TP harus
dilakukan. Karena kekhawatiran perkembangan polarisasi itu pulalah TP
sebagai calon tunggal dipandang sebagai jalan terbaik.

Saat meningkatnya resistensi kepada pemerintahan seperti sekarang ini,


maka tentu saja publik tidak serta merta dapat menerima penjelasan
seperti itu. Sebutlah Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Ia
menganggap pengarbitan luar biasa terhadap TP sekaligus telah
melahirkan citra buruk. Harus pula dicatat bahwa pertanyaan-pertanyan
publik berkembang tidak cuma soal pengabaian prinsip merit system,
melainkan juga ke hal-hal yang lebih serius lagi. Agenda politik apa yang
disembunyikan oleh Presiden SBY dalam konteks pergantian Kapolri?

Tetapi meskipun dari segi proses pemunculan TP yang amat cepat itu
Staf Ahli Presiden bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan Korupsi
Denny Indrayana mengakui amat potensil diperdebatkan, namun ia
berkeyakinan sama sekali tak ada mekanisme yang dilanggar. Baginya,
UU yang mengatur persyaratan calon Kapolri jelas menunjukkan bahwa
TP memenuhi syarat, sekalipun sebelumnya ia tidak diusulkan oleh
Kapolri maupun oleh Kompolnas.

Semua tentu sepakat bahwa publik memiliki hak untuk mengerti tentang
apa dasar Presiden SBY memilih TP. Publik juga memiliki hak untuk
sebuah harapan bahwa Kapolri haruslah sosok yang memiliki integritas
yang tinggi dan berprestasi luar biasa dalam penegakan hukum. Dalam
kondisi lembaga Kepolisian yang cukup mencemaskan saat ini, rasanya
tidak aneh jika publik merasa patut berharap Kapolri itu adalah sosok
yang berani membenahi kelembagaan Kepolisian.

Netralitas Pada Suksesi 2014


Politisi dari PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan tak mengesampingkan
dugaan bahwa salah satu motif penunjukan TP adalah pertimbangan
kepentingan politik penguasa pada Pemilu 2014. Sebagaimana diketahui,
SBY adalah Ketua Dewan Pembina Partai pemenang pemilu 2009 yang
tentu amat berkepentingan untuk mengukir prestasi yang sama pada
pemilu 2014. Dengan menguasai institusi hukum, jelas Trimedya, itu
sudah tiga perempat kemenangan dan itu bermakna bisa mengamputasi
lawan politik. Selain itu ia juga mempercayai rumor yang berkembang
bahwa TP memiliki kedekatan khusus dengan Cikeas, terutama saat
menjabat Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya.

Jika pernyataan Trimedya Panjaitan dihubungkan dengan kemungkinan


perulangan ritme KIB II berdasarkan pengalaman kinerja KIB I, maka
tentu pola yang akan dijalankan ialah bekerja berdasarkan rumus 2-1-2.
Artinya, 2 tahun konsolidasi termasuk merumuskan pola powersharing
dan gonta-ganti menteri, 1 tahun melakukan program populis berbiaya
mahal sebagai pemikat pemilih, dan 2 tahun sisanya dihabiskan hanya
untuk mempersiapkan diri dalam pemilu mendatang. Publik tentu belum
lupa bahwa puncak pertikaian SBY dan JK tercatat semakin manifest
justru saat masing-masing merasa sudah saatnya menancapkan kuda-
kuda untuk meraih kemenangan pada pemilu 2009.

Dari sisa waktu yang tersedia sebelum pemilu 2014, dan jika sinyalemen
Trimedya Panjaitan mengandung kebenaran, maka penunjukan TP yang
lahir tahun 1956 itu sudah amat baik menurut ilmu perencanaan dan
konsolidasi politik. Tetapi tentu saja pendapat seperti ini tidak
menggembirakan bagi Koprs Kepolisian justru di tengah harapan publik
yang begitu kuat untuk tampil profesional dan 100 % netral dalam
urusan politik kekuasaan yang menjadi urusan pokok partai politik itu.

Penutup
Saat ini TP dan Kepolisian memikul beban berat. Publik berharap ada
kejelasan tentang kasus Bank Century. Juga rekening gendut yang tak
wajar dari sejumlah perwira, pertentangan-pertentangan terbuka yang
amat merugikan, kadar profesionalitas yang perlu peningkatan, misi yang
banyak dipertanyakan dalam hal penggelembungan isyu war or
terrorism, penyelesaian kasus-kasus HAM berat, dan sejumlah masalah
besar lainnya yang berinduk pada pertanyaan tentang jatidiri sebagai
pengayom masyarakat.
Agaknya itu saja sudah meniscayakan TP yang berkumis lebat ini harus
mengurangi jam tidur karena merasa selalu kekurangan waktu. Konon
pula akan menambah urusan yang potensil mencederai netralitas dan
profesionalitas?