Anda di halaman 1dari 30

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Hidung

Gambar 1. Anatomi Hidung

A. Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah :

1. Pangkal hidung (bridge)

2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan
ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja
otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus
melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut
dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :
- Superior : os frontal, os nasal, os maksila
- Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayorb dan
kartilago alaris minor
Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.
Perdarahan :
1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika,
cabang dari a. Karotis interna).
2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna,
cabang dari A. Karotis interna)
3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :
1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)
2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

B. Kavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang
membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan
sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas – batas kavum
nasi :
Posterior : berhubungan dengan nasofaring
Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus
sfenoidale dan sebagian os vomer
Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal,
bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian
atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.
Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra
dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh
kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum
yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa
= kolumna = kolumela.
Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid,
konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.
Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid.
Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan belakang
konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid.
Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.
Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang
merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A.
Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama
arteri.

Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N.
Etmoidalis anterior
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum
masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi
N. Sfenopalatinus.

C. Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas
mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar
rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia
dan diantaranya terdapat sel – sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya
lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan
normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous
blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan
gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring.
Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk
mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia
akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat.
Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang,
sekret kental dan obat – obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian
atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified
columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang,
sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

D. Sinus Paranasal
Polip nasi sering dihubungkan dengan sinusitis. Sinus paranasal ada empat buah yaitu
sinus maksila, sinus etmoid, sinus frontal, dan sinus sphenoid.
1. Sinus maksila terdapat dilateral hidung, dasar sinus maksila adalah processus alveolaris
gigi, atap sinus maksila berhubungan dengan dasar orbita. Pstium sinus maksila
berhubungan dengan meatus media.
2. Sinus etmoid seperti sarang tawon (honeycomb). Dibagi menjadi dua bagian anterior dan
posterior. Terletak antara dinding lateral hidung dan dinding medial orbita (lamina
papirasea). Atap sinus etmoid berhubungan dengan sinus frontal dan fossa kranii anterior.
Di inferolateral sinus etmoid berhubungan dengan sinus maksila. Sinus etmoid posterior
berhubungan dengan sinus sphenoid.
3. Sinus frontal terletak pada tulang frontal. Dinding posterior sinus frontal membentuk
dinding anrerir fosa kranii. Di inferior sinus ini berbatasan dengan orbita dan sinus
etmoid. Drainase sinus ini melalui duktus nasofrontal langsung ke hidung atau melalui
infundibulum etmoid.
4. Sinus sphenoid terletak di garis tengah. Dibagi dua oleh septum. Di superior berbatasan
dengan hipofisa, lobus frontal dan sinus kavernosus. Di posterior terletak pons cerebri
dan arteri basilaris, di inferior terletak nasofaring. Arteri karotis terletak di lateral sinus
ini.

Gambar 2 : Anatomi sinus

Definisi Polip Nasi

Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai,
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabuan, dengan permukaan licin dan agak bening
karena mengandung banyak cairan. Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri tapi
merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan
sinusitis, rhinitis alergi, fibrosis kistik dan asma.
Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 :
1. Polip eusinofilik
Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas atau alergi.
2. Polip neutrofilik
Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi non-alergi.

Epidemiologi
Polip nasi sudah di kenal sejak 4000 tahun yang lalu, melalui pengetahuan dari prasasti
yang ditemukan pada makam raja-raja Mesir. Polip nasi digambarkan sebagai buah anggur yang
turun melalui hidung ( grapes coming down from the nose) .Istilah polip berasal dari kata Yunani
poly-pous yang berarti berkaki banyak. Pada awal perkernbangannya polip nasi sering
dihubungkan dengan neoplasma, baru pada tahun 1882 Zuckerkandl menyatakan bahwa polip
nasi merupakan suatu proses inflamasi (Abdul Qadar Punagi). Polip nasi ditemukan 1-4 % dari
populasi, 36 % penderita dengan intoleransi aspirin, 20% pada penderita fibrosis kistik, 7% pada
penderita asma. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non alergi (13%)
dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa, hanya
kurang lebih 0.1% ditemukan pada anak-anak, lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding
dengan wanita dengan rasio 2:1 atau 3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok ras dan
kelas ekonomi.
Angka mortalitas polip nasi tidaklah signifikan, namun polip nasi dihubungkan dengan
turunnya kualitas hidup seseorang. Polip multipel yang jinak biasanya timbul setelah usia 20
tahun dan lebih sering pada usia diatas 40 tahun. Polip nasi jarang ditemukan pada anak usia
dibawah 10 tahun.

Etiologi dan Faktor Resiko

Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi, terdapat sejumlah
hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan neutrofilik yang berkisar dari predisposisi
genetik, variasi anatomi, infeksi kronis, alergi inhalan, alergi makanan, sampai
ketidakseimbangan vasomotor. Namun saat ini yang banyak digunakan, yaitu : teori infeksi dan
teori inflamasi.
Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada terjadinya polip,
yaitu :
1. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus.
2. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor.
3. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung.
Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tempat yang sempit
akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya. Jaringan yang lemah akan terhisap
oleh tekanan negatif ini sehingga mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip.
Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari daerah yang sempit di
kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus medius. Walaupun demikian polip juga dapat timbul
dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilaterak dan multipel.
Selaim dari fenomena Bernouli terdapat beberapa hipotesa lainnya.
1. Perubahan Polisakarida
di postulatkan pada 1971 oleh Jackson dan Arihood.
2. Infeksi
3. Infeksi berulang pada sinus predisposisi pada mukosa menjadi perubahan polipoid.
4. Alergi
alergi telah di implikasikan sebagai penyebab, sejak sekresi hidung mengandung
eosinofil dan pasien mempunyai gejala alergi, sering dikaitkan dengan asma dan
atopi.
5. Teori vasomotor
Gangguan keseimbangan otonomik di duga mungkin sebagai penyebab pada individu
non atopi.
Juga di kaitkan dengan mediator inflamasi, faktor anatomi lokal, dan tumor. Predisposisi
genetik diketahui sebagai penyebab polipoid pada fibrosis kistik.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain : .
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi
konka.

Patofisologi

Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada
mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti
tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali
ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan
mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh
gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil)
dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang
dewasa dan jarang pada anak – anak. Pada anak – anak, polip mungkin merupakan gejala dari
kistik fibrosis.
Banyak faktor yang mempengaruhi pementukan polip nasi. Kerusakan epitel merupakan
patogenesa dari polip. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen, polutan dan agen infeksius. Sel
melepaskan berbagai faktor yang berperan dalam reson inflamasi dan perbaikan. Epitel polip
menunjukan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus yang berperan dalam obstruksi hidung
dan rinorea.
Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan
yang mengakibatkan sinusitis, tetapi polip dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang
disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama dan berulang. Penyebab
tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi
lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Kemudian stroma akan
terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid Mukosa akan
menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama
polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Bila proses ini berlanjut,
mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian tururn kedalam rongga hidung sambil
membentuk tangkai yang akan turun ke kavum nasi kebanyakan terjadi di daerah meatus
medius. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami
oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi
perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen
terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa
menyebabkan obstruksi di meatus media.

Gejala Klinis

Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang meningkat,
hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan drainase post nasal persisten. Sakit kepala
dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila.
Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan
gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik.
Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung yang
dapat berubah dengann perubahan posisi. Walaupun satu atau lebih polip yang muncul, pasien
mungkin memperlihatkan gejala akut, rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium
sinus. Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran udara tidak
terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam hal ini dapat timbul perasaan
penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit kepala. Mukus yang terperangkap
tadi cenderung terinfeksi, sehingga menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada
hidung.
Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip yang kecil mungkin tidak
menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu pemeriksaan rutin. Polip yang terletak
posterior biasanya tidak teridenfikasi pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip
yang kecil pada daerah dimana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan
menghambat aliran saluran sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren.

Diagnosis

Anamnesa

Pada anamnesa kasus polip, keluahan utama biasanya ialah:


1. Hidung tersumbat dari yang ringan sampai berat. Sumbatan ini menetap, tidak
hilang dan semakin lama semakin berat.
2. Rinore mulai dari yang jernih sampai purulen
3. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar
membuang ingus.
4. Hiposmia atau anosmia
Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah
frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin di dapati post nasal drip dan rinore purulen.
Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, halitosis, nyeri muka, suara
nasal (bindeng), telinga terasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas
hidup.
Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin
dan alergi obat serta makanan.

Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi
Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar. Dapat dijumpai
pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari sel-sel etmoid.
2. Rinoskopi Anterior
Memperlihatkan massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius yang
mudah digerakkan. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit.
Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan
dengan konka nasi inferior, yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan
larutan efedrin 1% (vasokonstriktor), konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah
akan mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Polip dapat diobservasi berasal dari
daerah sinus etmoidalis, ostium sinus maksilaris atau dari septum

3. Rinoskopi Posterior

Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Sekret mukopurulen ada kalanya berasal
dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior, yang menandakan adanya
rinosinusitis.1,6,9,10.
4. Nasoendoskopi
Adanya fasilitas nasoendoskopi akan sangat membantu diagnosis kasus baru. Polip
stadium awal tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan
pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat terlihat tangkai
polip yang berasal dari ostium assesorius sinus maksila.

Pemeriksaan Radiologi

Foto polos sinus paranasal ( posisi waters, lateral, Caldwell dan AP) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam sinus, tetapi
sebenarnya kurang bermanfaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan
positif palsu atau negative palsu dan tidak dapat memberikan informasi mengenai
keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks osteomeatal.
Pemeriksaan tomografi computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan
di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau
sumbatan pada kompleks osteomeatal. Terutama pada kasus polip yang gagal diobati
dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan
tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai
potongan koronal, sedangkan polip yang rekuren juga dipeerlikan potongan aksial.
6. Tes alergi
Evaluasi alergi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat alergi lingkungan
atau riwayat alergi pada keluarganya.
7. Laboratorium
Untuk membedakan sinusitis alergi atau non alergi. Pada sunisitis alergi ditemukan
eosinofil pada swab hidung, sedang pada non alergi ditemukannya neutrofil yang
menandakan adanya sinusitis kronis.

Stadium Polip Nasal

Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) :


• Stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius
• Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius tapi belum memenuhi rongga hidung
• Stadium 3 : polip yang masif

Diagnosis Banding

Polip didiagnosisbandingkan dengan konka polipoid, yang ciri – cirinya sebagai berikut :

• Tidak bertangkai
• Sukar digerakkan
• Nyeri bila ditekan dengan pinset
• Mudah berdarah
• Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas
adrenalin).
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka
polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati – hati pemberiannya
pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik,
maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit
jantung lainnya.

Penatalaksanaan

Karena etiologi yang mendasari pada polip nasi adalah reaksi inflamasi, maka
penatalaksanaan medis ditujukan untuk mpengobatan yang tidak spesifik. Pada terapi
medikamentosa dapat diberikan kortikosteroid. Kortikosteroid dapat diberikan secara sistemik
ataupun intranasal.
Pemberian kortikosteroid sistemik diberikan dengan dosis tinggi dalam waktu yang singkat,
dan pemberiannya perlu memperhatikan efek samping dan kontraindikasi. Kortikosteroid oral
adalah pengbatan paling efektif untuk pengobatan jangka pendek dari polip nasi, dan
kortikosteroid oral memiliki efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip.
Kortikosteroid juga dapat diberikan secara intranasal dalam bentuk spray steroid, yang
dapat mengurangi atau menurunkan pertumbuhan polip nasi yang kecil, tetapi secara relatif tidak
efektis untuk polip yang masif. Steroid intranasal paling efektif pada periode post operatif untuk
mencegah atau megurangi relaps.
Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi reaksi alergi pada polip yang
dihubungkan dengan rhinitis alergi. Pada penderita dapat diberikan antihistamin oral untuk
mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi. Bila telah terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya
sekret yang mukopurulen maka dapat diberikan antibiotik.
Pengobatan Medis polip nasal sebagai berikut :
• Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal polip.
Antihistamin, dekongestan dan sodium cromolyn memberikan sedikit keuntungan.
Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk pengobatan rhinitis alergi, tapi bila di
gunakan sendirian, ak dapat berguna pada polip yang telah ada, pemberian antibiotik bila
terjadi superimposed infeksi bakteri.
• Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan, baik secara topikal maupun sistemik. Injeksi
langsung pada polip menunjukkan berkurangnya pertumbuhan polip dan berkurangnya
gejala pada hidung dibandingkan dengan pengobatan intranasal. Injeksi steroid intrapolip
ini merupakan pengobatan alternatif yang aman pada pasien tertentu tapi masih
dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi tindakan ini kemudian tidak dibenarkan oleh
Food and Drug Administration karena dilaporkan terdapat 3 pasien dengan kehilangan
penglihatan unilateral setelah injeksi intranasal langsung dengan kenalog. Keamanan
mungkin tergantung pada ukuran spesifik partikel. Berat molekuler yang besar seperti
Aristocort lebih aman dan sepertinya sedikit yang di pindahkan ke area intrakranial.
Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah.
• Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi
medikamentosa.Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid
intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai
polip atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka
diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal
mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien, sehingga dalam
keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis kortikosteroid saat ini
belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara empirik misalnya diberikan
Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama
seminggu. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk
polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa
dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari.
Menurut Naclerio. pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun.
Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat
bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. Kalau ada tanda-tanda infeksi
harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis
sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.
• Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya eosinofilia, jadi pasien
dengan polip dan rhinitis alergi atau asma seharusnya respon dengan pengobatam ini.
Pasien dengan polip yang sedikit eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids.
Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek sampingnya
yang merugikan (seperti gangguan pertumbuhan, Diabetes Melitus, hipertensi, gangguan
psikis, gangguan pencernaan, katarak, glukoma, osteoporosis)
• Banyak penulis menganjurkan pemberian steroid topikal untuk polip nasal, sebagai
pengobatan primer atau pengobatan lanjutan mengikuti pemberian per oral, atau bedah.
Banyak steroid nasal (seperti ; flucitason, beclomethasone, budesonide) efektik untuk
menurunkan gejala subjektif, dan meningkatkan aliran udara di hidung ketika dipastikan
secara objektif. Beberapa penelitian mengindikasikan mempunyai onset yang lebih cepat
dan mungkin sedikit lebih baik dari beclomethasone.
• Pemberian topikal kortikosteroid di beriakan secara umum karena lebih sedikit efek yang
merugikan dibandingkan pemberian sistemik karena bioavaibilitasnya yang terbatas.
Pemberian jangka panjang khususnya dosis tinggi dan kombinasi dengan kortikosteroid
inhalasi, terdapat resiko penekanan hipotalamus-pituari-adrenal aksis, pembentuakan
katarak, gangguan pertumbuhan, perdarahan hidung, dan pada jarang kasus terjadi
perforasi septum.
• Inhibitor Leukotrien : Leukotrien dibentuk selama pemecahan asam arachidonat oleh
enzim 5-lipoxigenase. Mereka merupakan mediator inflamasi yang berperan dalam
patogenesis asma, rhinitis alergi, dan polip nasal. Hasilnya mereka menjadi target
modulasi terapi. Penelitian baru-baru ini mengenai penghambatan sintesis leukotrien
menunjukkan peningkatkan aliran udara dalam hidung dan pengecilan polip nasal yang
dibuktikan dengan endoskopi dan studi imaging. Penggunaan inhibitor leukotrien ini
menunjukkan hasil maksimal pada penderita dengan rhinitis alergi konkomitan dan polip
nasal eosinofilik.
• Obat-obatan lain : obat-obatan lain yang mungkin digunakan dalam pengobatan polip
nasal adalah antibiotic makrolid, terapi diuretic topical, dan asam asetilsalisilat-lisin
intranasal.

Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat
masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Pembedahan dilakukan jika Polip menghalangi
saluran pernafasan, menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus, atau
berhubungan dengan tumor.
Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya
sinusitis yang menyertainya), fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang
menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare)
kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang
tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi
ekstranasal untuk polip etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah
bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi
saja, atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat mutakhir untuk membantu operasi
polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat
menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan
trauma yang minimal.
Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan menggunakan
senar polip dengan anestesi lokal, untuk polip yang besar tetapi belum memadati rongga hidung.
Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung, khususnya pada
kasus polip yang tersembunyi atau polip yang sedikit. Bedah sinus endoskopik (Endoscopic
Sinus Surgery) merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga
membuka celah di meatus media, yang merupakan tempat asal polip yang tersering sehingga
akan membantu mengurangi angka kekambuhan. Surgical micro debridement merupakan
prosedur yang lebih aman dan cepat, pemotongan jaringan lebih akurat dan mengurangi
perdarahan dengan visualisasi yang lebih baik.
Penatalaksanaan Polip Hidung dan sinus para nasal

Keluhan
Sumbatan hidung dengan 1/> gejala

Massa polip hidung


Curiga keganasan
Tentukan stadium
Permukaan berbenjol,
mudah berdarah

Jika mungkin : biopsy untuk


tentukan tipe polip dan Biopsy tatalaksana sesuai
lakukan polipektomi reduksi

Semua Keterangan menentukan


Stad 2&3 Stad I & 2 Semua
stadium stadium
Terapi Terapi stadium
tipenetrofili Polip dalam MM (NE)
bedah medik tipenetrofili
k terapi Polip keluar dari MM
k terapi
medik Polip memenuhi rongga
bedah
hidung

Persiapan
pra bedah
Terapi medik :
steroid topical dan atau
polipektomi medikamentosa dengan cara :
deksametason 12 m (3 Hr) 8 mg (3 Hr)4 mgt (3 Hr)
Methylprednisolon 64 mg 10 mg (10 Hr)
Prednisone 1 mg/ kgbb (10 Hr)

Tidak ada Perbaikan Perbaikan


Terapi bedah perbaikan mengecil hilang

Tindak lanjut dengan steroid topical sembuh


Pemeriksaan berkala sebaiknya dengan NE

Polip rekuren :
Cari faktor alergi
Steroid topical
Steroid oral tidak lebih 3-4x/ tahun
Kaustik
Operasi ulang
Bagan 1: Penatalaksanaan Polip Nasal
Sumber : Perhati-KL, Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia
Prognosis

Polip nasi dapat muncul kembali selama iritasi alergi masih tetap berlanjut. Rekurensi
dari polip umumnya terjadi bila adanya polip yang multipel. Polip tunggal yang besar seperti
polip antral-koanal jarang terjadi relaps.
DAFTAR PUSTAKA

1. Zulfadli. 2007. Polip Nasi. Diakses dari www.solaraid.com. Diakses pada tanggal
20 Juni 2008
2. Punagi, Abdul Qadar. 2005. Peranan Sitokin Pada Polip Nasi dalam Jurnal Media
Nusantara Volume 26 No.4 Oktober- Desember 2005. Hal 263-267.
3. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Hidung. Dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 118-
122.
4. Snell, Richard S, Kepala dan Leher dalam Anatomi Klinik alih bahasa dr. Jan
Tamboyang. EGC 1997
5. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Polip Hidung. Dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 123-
125
6. McClay, Jhon E MD. Nasal Polyps, di akses dari : www.emedicine.com . Diakses
tanggal 20 Juni 2008.
7. Polip hidung, 2004. Diakses dari www.medicastore.com Diakses tanggal 20 Juni
2008
8. Blumenthal MN. Kelainan alergi pada pasien THT. Dalam: Adam, Boies, Higler.
BOIES. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta, EGC, 1997. Hal 196-8.
9. Bechara, Y Ghorayeb. Nasal polyps. Diakses dari www.otolaryngology
Houston.htm. Diakses tanggal 20 Juni 2008.

10. Polip Nasal. Diakses dari www.arquivosdeorl.org.br Diakses tanggal 21Juni 2008.

11. Valerie J Lund. Diagnosis and Treatment of Nasal Polyps. Diakses dari
www.otolayngologyhouston Htm. Diakses tanggal 20 Juni 2008.

12. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Guideline Penyakit THT-KL


di Indonesia. 2007. Hal 58
BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Lubuk Basung
Suku Bangsa : Minang

ANAMNESIS
Seorang pasien wanita berumur 22 tahun datang ke RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi pada
tanggal 29 Desember 2009 dengan :

Keluhan Utama : Hidung kanan terasa tersumbat sejak 4 bulan yang lalu.

Keluhan tambahan : Tidak ada.

Riwayat penyakit sekarang :


- Hidung kanan terasa tersumbat sejak 4 bulan yang lalu. Awalnya hidung kanan tersumbat
hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Kemudian menjadi menetap.
- Tampak benjolan di hidung kanan. Awalnya pasien tidak menyadari adanya benjolan.
Kemudian selama 4 bulan terakhir ini pasien merasakan adanya benjolan yang semakin
lama semakin membesar.
- Gangguan penciuman mulai berkurang sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan ini terjadi
perlahan-lahan, makin lama makin susah mencium bau-bauan.
- Riwayat bersin-bersin pada pagi hari, mata berair, mata merah di pagi hari disangkal.
- Riwayat alergi makanan, serbuk sari bunga , obat-obatan tidak ada.
- Riwayat alergi debu ada.
- Tidur ngorok sejak 1 tahun yang lalu.
- Pasien sulit bernafas melalui hidung kanan sejak 4 bulan yang lalu.
- Riwayat pernah keluar cairan berwarna kuning encer sejak 6 bulan yang lalu, cairan tidak
berbau, dan tidak berdarah.
- Riwayat sakit kepala ada, kadang-kadang dan hebat.
- Riwayat gigi berlubang ada.
- Riwayat terasa cairan turun ke tenggorok ada.
- Riwayat demam, nyeri menelan disangkal.
- Riwayat nyeri pada wajah saat sujud ada.
- Pasien belum pernah mengobati penyakit ini sebelumnya.

Riwayat penyakit dahulu :


Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga :


- Tidak ada keluarga yang menderita sakit seperti ini.
- Tidak ada riwayat asma pada keluarga
- Tidak ada riwayat atopi pada keluarga

Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan kebiasaan :


- Pasien adalah seorang ibu rumah tangga
- Pasien mempunyai kebiasaan bersih-bersih rumah

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis cooperative
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Frekuensi nadi : 81 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 37,5 0C
Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tidak ada kelainan .
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Leher : tidak ditemukan pembesaran KGB.
Paru
Inspeksi : simetris kiri, kanan statis dan dinamis.
Palpasi : fremitus kiri = kanan.
Perkusi : sonor kiri = kanan.
Auskultasi : suara nafas vesikuler normal, rhonki -/-, wheezing -/-.
Jantung
Inspeksi : iktus tidak terlihat .
Palpasi : iktus teraba 2 jari medial LMCS RIC V, kuat angkat.
Perkusi : batas jantung normal.
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (–).
Abdomen
Inspeksi :tak tampak membuncit.
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi : tympani.
Auskultasi : bising usus + normal .
Extremitas : edem -/-.

Status Lokalis THT


Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Kel kongenital Tidak ada Tidak ada
Trauma Tidak ada Tidak ada
Daun telinga
Radang Tidak ada Tidak ada
Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tarik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan tragus Tidak ada Tidak ada
Cukup lapang (N) Cukup lapang (N) Cukup lapang(N)
Sempit
Dinding liang
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
telinga Edema Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada
Ada / Tidak Tidak ada Tidak ada
Bau Tidak ada Tidak ada
Sekret/serumen
Warna Tidak ada Tidak ada
Jumlah Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada

Membran timpani
Warna Putih mengkilat Putih mengkilat
Reflek cahaya (+) arah jam 5 (+) arah jam 7
Bulging Tidak ada Tidak ada
Utuh Retraksi Tidak ada Tidak ada
Atrofi Tidak ada Tidak ada
Jumlah perforasi Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada
Perforasi
Kwadran Tidak ada Tidak ada
pinggir Tidak ada Tidak ada
Gambar
Tanda radang Tidak ada Tidak ada
Fistel Tidak ada Tidak ada
Sikatrik Tidak ada Tidak ada
Mastoid Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada
Rinne (+) (+)
Schwabach Sama dengan Sama dengan
Tes garpu tala
pemeriksa pemeriksa
Weber Tidak ada lateralisasi
Kesimpulan Normal Normal
Audiometri Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan Kelainan Dektra Sinistra
Deformitas Tidak ada
Kelainan kongenital
Tidak ada
Trauma
Hidung luar Radang Tidak ada
Massa Tidak ada
Tidak ada
Sinus paranasal
Pemeriksaan Dekstra Sinistra
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Vestibulum Vibrise Ada Ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Cukup lapang (N) - +
Sempit + -
Cavum nasi
Lapang - -
Lokasi Tidak ada Tidak ada
Jenis Tidak ada Tidak ada
Sekret
Jumlah Tidak ada Tidak ada
Bau Tidak ada Tidak ada
Konka inferior Ukuran Eutrofi Eutrofi
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Rata Rata
Edema Tidak ada Tidak ada
Konka media Ukuran Tidak bisa dinilai Eutrofi
Warna Tidak bisa dinilai Merah muda
Permukaan Tidak bisa dinilai Rata
Edema Tidak bisa dinilai Tidak ada
Cukup Cukup lurus Cukup lurus
lurus/deviasi
Permukaan Rata, licin Rata, licin
Warna Merah muda Merah muda
Septum Spina Tidak ada Tidak ada
Krista Tidak ada Tidak ada
Abses Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Lokasi Meatus medius Tidak ada
Bentuk Bulat lonjong Tidak ada
Ukuran Tidak bisa dinilai Tidak ada
Permukaan Licin Tidak ada
Warna Putih keabu-abuan Tidak ada
Konsistensi Lunak, tidak Tidak ada
Massa
rapuh, tidak
mudah berdarah
Mudah digoyang (+) Tidak ada
Pengaruh Tidak ada Tidak ada
vasokonstriktor

Gambar

Rinoskopi Posterior : sukar dinilai


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Cukup lapang (N)
Koana Sempit - -
Lapang
Warna - -
Edem - -
Mukosa
Jaringan granulasi - -

Ukuran - -
Warna - -
Konka inferior
Permukaan - -
Edem - -
Adenoid Ada/tidak - -
Muara tuba Tertutup sekret - -
Edem mukosa - -
eustachius
Lokasi - -
Ukuran - -
Bentuk - -
Massa Permukaan - -
Post Nasal Drip Ada/tidak - -
Jenis - -

Gambar

Orofaring dan mulut


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Simetris/tidak Simetris Simetris
Warna Merah muda Merah muda
Palatum mole +
Edema Tidak ada Tidak ada
Arkus Faring Bercak/eksudat Tidak ada Tidak ada
Dinding faring Warna Merah muda Merah muda
Permukaan Licin Licin
Ukuran T3 T2
Warna Merah muda Merah muda
Permukaan - -
Muara kripti Melebar Melebar
Detritus Ada Ada
Eksudat Tidak ada Tidak ada
Tonsil Perlengketan
Tidak ada Tidak ada
dengan pilar
Warna Merah muda Merah muda
Edema Tidak ada Tidak ada
Peritonsil
Abses Tidak ada Tidak ada
Lokasi Tidak ada Tidak ada
Bentuk Tidak ada Tidak ada
Ukuran Tidak ada Tidak ada
Tumor Permukaan Tidak ada Tidak ada
Konsistensi Tidak ada Tidak ada
Gigi Karies/Radiks M1 atas M1 atas
Kesan Karies
Warna Merah muda Merah muda
Bentuk Normal Normal
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Lidah Massa Tidak ada Tidak ada

Gambar

Laringiskopi Indirek : sukar dinilai


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Bentuk - -
Warna - -
Edema - -
Epiglotis Pinggir rata/tidak - -
Massa - -
Warna - -
Edema - -
Ariteniod
Massa - -
Gerakan - -
Warna - -
Edema - -
Ventrikular band
Massa - -
Warna - -
Gerakan - -
Plica vokalis
Pingir medial - -
Massa - -
Subglotis/trakea Massa - -
Sekret - -
Sinus piriformis Massa - -
Sekret - -
Valekula Massa - -
Sekret ( jenisnya ) - -
Gambar

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak ada pembesaran KGB


Inspeksi : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening.
Palpasi : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening.

RESUME
(DASAR DIAGNOSIS)
Anamnesis :
- Hidung kanan terasa tersumbat sejak 4 bulan yang lalu. Awalnya hidung kanan tersumbat
hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Kemudian menjadi menetap.
- Tampak benjolan di hidung kanan. Awalnya pasien tidak menyadari adanya benjolan.
Kemudian selama 4 bulan terakhir ini pasien merasakan adanya benjolan yang semakin
lama semakin membesar.
- Riwayat alergi debu ada.
- Riwayat sakit kepala ada, kadang-kadang dan hebat.
- Riwayat gigi berlubang ada.
- Riwayat terasa cairan turun ke tenggorok ada.
- Riwayat demam, nyeri menelan disangkal.
- Riwayat nyeri pada wajah saat sujud ada.

Pemeriksaan Fisik :
• Rhinoskopi Anterior :
Tampak massa di meatus medius, bentuk bulat lonjong, permukaan licin, warna putih
keabu-abuan, konsistensi lunak, tidak rapuh, tidak mudah berdarah, mudah digoyang.
• Orofaring dan Mulut :
Tonsl : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+)
Gigi : karies pada M1 atas dextra dan sinistra

Diagnosis Kerja : Polip Nasal Dextra Stadium 3


Diagnosis Tambahan :
- Susp. Sinusitis Maxillaris
- Susp. Tonsilitis Kronis
- Karies Dentis

Diagnosis Banding :
- Papiloma inverted
- Konkha hipertrofi

Pemeriksaan Anjuran :
- Nasoendoskopi,
- Rontgen foto polos sinus paranasal,
- Prick test,
- Pemeriksaan eosinofil,
- Biopsi massa polip

Terapi :
• Kalnex 3x1
• Asam mefenamat 3x1
• Gentamisin 2x1

Terapi anjuran : Ekstraksi polip nasi (polipektomi) + FESS

Prognosis :
• Quo ad sanam : bonam
• Quo ad vitam : bonam

Follow up
30 Desember 2009
S/ Hidung tersumbat (+),Gangguan penciuman (+)
O/ Status Generalis:
KU: sedang , kesadaran : CMC, TD: 110 /70, Nd: 82, Nfs: 18, T: afebris
Status THT:
Telinga : dbn
Hidung : Tampak massa di meatus medius, bentuk bulat lonjong, permukaan licin,
warna putih keabu-abuan, konsistensi lunak, tidak rapuh, tidak mudah
berdarah, mudah digoyang.
Tenggorok : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+)
karies pada M1 atas dextra dan sinistra
A/ Polip Nasi Dextra Stadium 3
P/ Ekstraksi (polipektomi)

31 Desember 2009
S/ Hidung tersumbat (-),Gangguan penciuman (-), perdarahan (-)
O/ Status Generalis:
KU: sedang , kesadaaan : CMC, TD: 120 /80, Nd: 84, Nfs: 20, T: afebris
Status THT:
Telinga : dbn
Hidung : tampon (+), massa (-), darah (-)
Tenggorok : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+)
karies pada M1 atas dextra dan sinistra
A/ Post ekstraksi polip nasi dextra (polipektomi).
P/ Gentamisin 2x1

01 Januari 2010
S/ Hidung tersumbat (-), Gangguan penciuman (+), Perdarahan (-)
O/ Status Generalis:
KU: sedang , kesadaaan : CMC, TD: 120 /80, Nd: 79, Nfs: 19, T: afebris
Status THT:
Telinga : dbn
Hidung : tampon (-), massa (-), darah (-)
Tenggorok : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+)
karies pada M1 atas dextra dan sinistra
A/ Post ekstraksi polip nasi dextra (polipektomi).
P/ Gentamisin 2x1

DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien perempuan, 22 tahun dengan diagnosis Polip Nasi
Dextra Stadium 3. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari
anamnesis terdapat hidung kanan terasa tersumbat sejak 4 bulan yang lalu. Awalnya hidung
kanan tersumbat hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Kemudian menjadi menetap. Tampak
benjolan di hidung kanan. Dari pemeriksaan rhinoskopi anteriorior tampak massa di meatus
medius, bentuk bulat lonjong, permukaan licin, warna putih keabu-abuan, konsistensi lunak,
tidak rapuh, tidak mudah berdarah, mudah digoyang. Penatalaksanaannya adalah dengan
ekstraksi polip nasi dextra.