Anda di halaman 1dari 10

Soe Hok Gie

(Riwayat Hidup Singkat)

Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra
dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Nama Soe Hok Gie adalah
dialek Hokkian dari namanya Su
Fu Yi dalam bahasa Mandarin
(dialek Pinyin). Anak keempat
dari lima bersaudara keluarga
Soe Lie Piet alias Salam
Sutrawan, ini sejak kecil amat
suka membaca, mengarang dan
memelihara binatang. Keluarga
sederhana itu tinggal di
bilangan Kebon Jeruk, di suatu
rumah sederhana di pojokan
jalan, bertetangga dengan
rumah orang tua Teguh Karya. Soe Hok Gie di Puncak Pangrango, 1967

Saudara laki-laki satu-satunya

Soe Hok Djien yang kini kita kenal sebagai Arief Budiman, dosen Universitas Kristen Satya
Wacana yang juga dikenal sebagai seorang akademisi, sosiolog, pengamat politik dan
ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia. Sejak SMP, ia menulis buku catatan harian,
termasuk surat-menyurat dengan kawan dekatnya. Semakin besar, ia semakin berani
menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali
waktu, Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam. Di dalam
catatan hariannya yang kemudian dibukukan dalam Catatan seorang

Demonstran, ia menulis: "Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk
keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." Begitu tulis
1
anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi
mobil. Tulisnya lagi: “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”

Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya,
saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah
mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada
pengemis itu. Di catatannya ia menulis: "Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga,
‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-
cantik. Aku besertamu orang-orang malang." Gie melewatkan pendidikan SMA di Kolese
Kanisius. Tahun 1962-1969 ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Jurusan ilmu sejarah. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang
meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk
orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru. Ketika keadaan perekonomian di tanah
air semakin tidak terkendali sebagai akibat adanya depresi perekonomian pada sekitar dekade
enam puluhan yang mengakibatkan kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan
seperti pemotongan nilai mata uang (Sanering) yang menurut Gie hal ini akan semakin
mempersulit kehidupan rakyat Indonesia .Ia kemudian masuk organisasi Gerakan Mahasiswa
Sosialis (GEMSOS).

Sementara keadaan ekonomi makin kacau. Gie resah. Dia mencatat: "Kalau rakyat Indonesia
terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka
akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak." Maka lahirlah sang demonstran.
Mulai saat itulah hari-hari Gie diisi dengan berbagai aktivitas di dalam dunia pergerakan
seperti rapat-rapat, demonstrasi, aksi pasang memasang ribuan selebaran propaganda,
sampai dengan ancaman teror serta cacian dari penguasa karena aktivitas pergerakannya
menjadi suatu hal yang lumrah bagi Gie, “Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari
bahwa mereka adalah the happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus
menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya. Dan kepada rakyat aku ingin
tunjukkan, bahwa mereka dapat mengharapkan perbaikan-perbaikan dari keadaan dengan
menyatukan diri di bawah pimpinan patriot-patriot universitas,” begitu tulisnya.

2
Tahun 1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, Gie kemudian
menggabungkan diri di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ia termasuk di
barisan paling depan. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di
era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian
selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66.
Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya. Seperti
yang telah diceritakan diatas, Gie adalah juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi
mahasiswa-militer pada tahun 1966. Gie sendiri dalam buku Catatan Seorang Demonstran,
menulis soal aktivitas gerakannya tersebut: "Malam itu aku tidur di Fakultas Psikologi. Aku
lelah sekali. Lusa Lebaran dan tahun yang lama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan
demonstrasi akan tetap hidup." Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa
Indonesia. Batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia.
Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran.

Tertulis di akhir kalimatnya, Jakarta, 25 Januari 1966. Selain itu juga Gie ikut mendirikan
Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin
pendakian gunung Slamet 3.442 m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya:
“Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat
and sleep with the earth.” Pemikiran
dan sepak terjangnya tercatat dalam
catatan hariannya. Pikiran-pikirannya
tentang kemanusiaan, tentang hidup,
cinta dan juga kematian. Tahun 1968
Gie sempat berkunjung ke Amerika
dan Australia, dan piringan hitam
favoritnya Joan Baez disita di bandara
Sydney karena dianggap anti-war dan
komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan
meneruskan menjadi dosen di
almamaternya. Soe Hok Gie dikenal
sebagai penulis produktif di beberapa

3
media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan
Indonesia Raya. Beberapa tulisannya benar-benar tajam dan menohok pemerintah kala itu,
sehingga seringkali ia mendapat ancaman dari berbagai pihak. Salah satu tulisannya yang
terkenal adalah “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang”, yang pernah dimuat di
harian Kompas, 16 Juli 1969 Dalam tulisannya, aktivis gerakan mahasiswa 1966 ini menyoroti
kinerja kabinet di bawah Presiden Soeharto.

Gie melihat adanya kesenjangan antara persepsi masyarakat luas dengan kinerja
pemerintahan Soeharto saat itu. Menlu Adam Malik yang bolak-balik ke luar negeri
dipersepsikan masyarakat sebagai usaha untuk mendapat utang-utang baru dari negara
donor. “Nama Adam Malik dapat diganti dengan nama Emil Salim, Widjojo Nitisastro,
Presiden Soeharto dan seterusnya. Seolah-olah seluruh usaha diplomasi kita adalah diplomasi
cari utang untuk kelangsungan hidup repulik kita yang sudah 24 tahun usianya,” tulis Gie. Gie -
-saat itu-- menganggap pemerintah Soeharto yang baru dibentuk merupakan antitesis dari
pemerintah Soekarno yang korup dan tidak berpijak pada realitas. Pemerintah Soekarno dan
pemerintah Soeharto memiliki cita-cita yang sama besarnya dalam menyejahterakan
masyarakat. Namun caranya berbeda.

Dan di sinilah subjektivitas Hok Gie muncul. “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen
dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya,”
katanya menyinggung proyek Monumen Nasional yang dibangun di jaman Presiden Soekarno.
Adik Arief Budiman ini juga melihat mispersepsi masyarakat terhadap kinerja kabinet muncul
karena tidak adanya partisipasi sosial dan mobilisasi sosial yang dilakukan pemerintah. “Usaha
Adam Malik dan kawan-kawan mencari kredit baru, menunda pembayaran utang-utang
adalah bagian permulaan daripada usaha besar. Tetapi apakah pemuda-pemuda lulusan SMP
di Wonosobo menyadari soal ini?” Pemerintah yang pragmatis dan kegagalan komunikasi
yang dimengerti masyarakat umum pada akhirnya gagal menimbulkan gairah dan sokongan
kerja masyarakat. Masyarakat dijejali istilah rule of law, human rights, tertib hukum dari Ketua
Mahkamah Agung, Jaksa Agung dan bahkan Presiden Soeharto.

Namun di lain pihak, setiap hari mereka mendengar oknum militer yang menampar rakyat,
anak-anak penggede yang ngebut serta penyelundupan yang dilindungi. Gie pernah berkata
pada Arief, kakaknya, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya
4
lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak
benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit
orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa
sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau
keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang
konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”. Gie menulis kritik-kritik
yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah
mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia, antara lain, “Cina yang tidak
tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu Gie sering gelisah dan berkata, “Gie, untuk
apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibunya
dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, mama tidak mengerti”.

Kemudian, Gie juga pernah jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orang tuanya tidak setuju --
mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orang tua gadis itu adalah seorang pedagang yang
cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada Arief, Gie berkata,
“Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si ***, saya merasa
dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan
saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang
hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu, ketika
seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas
adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan
suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi
sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar
keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini,
kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian,
penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada Arief.

Arief menuturkan, “Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.” Gie,
berdasarkan kedudukannya dapat disetarakan dengan tentara yang kembali dari medan
perang. Ia dipuji dan dielu-elukan rakyat, namun ketika sang tentara hendak mencari
pasangan hidup, tentu orang tua sang wanita tak akan rela menyerahkan anak gadisnya untuk
dinikahi sang tentara. Kenapa begitu? Biarpun yang ia lakukan itu benar dan berjasa besar,

5
namun tindakannya terlaku berbahaya dan beresiko. “…Kelompok yang berjaga-jaga mulai
keluar dengan berpakaian serba hitam dan bersenjatakan pedang, pisau, pentungan dan
bahkan senjata api. Rumah-rumah penduduk yang diduga sebagai anggota PKI dibakar
sebagai bagian pemanasan (warming up) bagi dilancarkannya tindakan-tindakan yang lebih
kejam. Kemudian pembantaian pun terjadi dimana-mana…” Tulis Gie dalam buku hariannya.
Gie adalah salah satu tokoh yang sangat menyoroti tragedi G30/S/PKI, tragedy yang sangat
memilukan dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia. Tapi tidak demikian halnya dengan
pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang
menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan,
penghilangan lawan politik yang sungguh biadab dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan.

Cerita pembantaian massa PKI Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan
laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan
harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI
Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali. Cribb dan Gie mengawali catatannya
untuk menggambarakan bagaimana brutal dan sadisnya pembantaian PKI di Bali. Komandan
RPKAD, Sarwo Edhi, yang pasukannya tiba pada akhir Desember 1965, dilaporkan pernah
berkata, “Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai orang-orang komunis.
Di Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan bahwa mereka tidak bertindak terlalu
jauh.” Situasi di Bali dalam catatan Soe Hok Gie memang agak terlamabat menerima komando
untuk melakukan pembantaian.

Elite-elite politik di Bali lama mengamati pertarungan yang terjadi di Jakarta dan menunggu
siapa yang keluar sebagai pemenang. Banyak para keluarga di Bali yang kehilangan anggota
keluarganya dalam Tragedi 65 melakukan ritual ini untuk menutup rapat tragedi menyedihkan
tersebut. Ada sebuah catatan kecil dari pemikiran Soe Hok Gie tentang konsep kebudayaan
yang ada di buku hariannya ketika ia sedang berdiskusi dengan Ong Hok Ham yang dicatatnya
pada tanggal 31 Desember 1962. Di sana dia menulis, ”Lihat di Irian Barat, telanjang,
bercawat, tidak ada kebudayaan.” Nampaknya waktu itu Soe Hok Gie masih terpengaruh ide
yang berpendapat bahwa hal-hal yang masih primitif itu adalah hal-hal yang belum mengenal
atau tersentuh oleh kebudayaan. Konsep yang sudah ketinggalan jaman pada waktu itu
sebenarnya. Semoga saja pendapatnya ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.

6
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676 meter.
Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie
berkata kepada teman-temannya: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan
bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak
mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu
secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat
ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa
yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami
naik gunung.” Dalam suasana yang seperti inilah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke
puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan
pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka
bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan
yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa
yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. 8 Desember sebelum Gie berangkat
sempat menuliskan catatannya:

“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian
Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada
kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan
juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya

kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie
di puncak gunung tersebut. Gie tewas bersama rekannya, Idhan Lubis. Tanggal 16 Desember
1969, Soe Hok Gie yang berencana merayakan ulang tahunnya di puncak Mahameru
menghembuskan nafasnya yang terakhir karena terjebak gas beracun. 24 Desember 1969 Gie
dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke
Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober
sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat
ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di
gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya
disebar di puncak Gunung Pangrango

7
BEBERAPA QUOTE YANG DIAMBIL DARI CATATAN HARIANNYA GIE:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua
dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu.
Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang
dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar
dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi
di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati,
dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman
Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di
Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan
Intelektual Muda Melawan Tirani.

Kata Kata Soe Hok Gie

* Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab
bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin
mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada
suatu yang lebih besar: kebenaran.

* Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi
suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.

* Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu
benar, dan murid bukan kerbau.

* Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang
tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

8
* Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik
diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

* Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia
berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-
pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia
yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang
pemuda dan sebagai seorang manusia.

* Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang


mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang
dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai
kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan
apapun.

* Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi
menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain.
Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban
baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

* Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada?
Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?

* Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap
pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…

* Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani
menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

* Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan
kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.

* Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah
kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
9
* To be a human is to be destroyed.

* Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.

* Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah
kejahatan.

* I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.

* Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya
keluar air mata.

* Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai,
dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.

* Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-
lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya
diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi
kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada
menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya
ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada
semua-muanya.

* Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun.
Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang
lebih baik.

*** diolah dari berbagai sumber. (kurniawan)

10