Anda di halaman 1dari 7

EZKA AMALIA

09/283366/SP/23675
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
Take Home Exam
Mata Kuliah: Pengantar Ilmu Hubungan Internasional
Dosen: Mohtar Mas’oed dan Eric Hiariej

Mainstream atau core mempelajari Ilmu Hubungan Internasional salah


satunya adalah tentang perang dan damai. Bagaimana terjadinya perang dan
bagaimana terjadinya damai merupakan tujuan paling mendasar mengapa belejar
salah satu ilmu yang termasuk dalam Political Science ini. Ilmu Hubungan
Internasional masuk dalam kategori Political Science karena membahas tentang
power struggle yang juga berkaitan dengan politik. Begitu pula terjadinya perang
yang pada intinya adalah untuk memperebutkan kekuasaan. Kekuasaan tersebut tidak
hanya terpaku pada memimpin sebuah aliansi, tetapi juga untuk menjadi satu-satunya
pemimpin di dunia internasional. Salah satu perang yang memperebutkan kekuasaan
dalam hegemoni di dunia internasional adalah Perang Dingin.

Apa yang anda pahami tentang Perang Dingin?


Perang Dingin dimulai sejak 1949, tidak lama setelah berakhirnya Perang
Dunia II. Berakhirnya Perang Dunia II ternyata membawa perubahan dalam tata
dunia internasional, yaitu sebuah sistem yang didominasi oleh dua kekuatan atau
bipolar, Amerika Serikat dan Uni Soviet, perlombaan pengembangan senjata nuklir,
serta kompetisi perebutan kepemimpinan hegemoni antara Amerika Serikat dan Uni
Soviet. Munculnya dua kekuatan besar setelah Perang Dunia II ini berujung pada
terjadinya Perang Dingin. Banyak yang mendasarkan terjadinya Perang Dingin
karena adanya konflik kepentingan, konflik ideologi (Amerika Serikat dengan
ideologi liberalisme-kapitalisme, dan Uni Soviet dengan ideologi komunisme-
sosialisme), serta didasari masalah perlombaan senjata antar dua kekuatan besar saat
itu. Tetapi, menurut saya, dasar paling cocok hingga terjadinya Perang Dingin adalah
masalah perlombaan senjata yang berujung pada security dilemma antara Amerika
Serikat dan Uni Soviet sebagai pemenang dalam Perang Dunia II akibat vacuum of
power setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Dua kekuatan besar yang muncul setelah Perang Dunia II dalam hierarki
dunia internasional dan adanya vacuum of power di sistem tatanan dunia internasional
menyebabkan saling curiga satu sama lain. Kondisi tersebut menyebabkan setiap
superpower, yaitu Amerika Serikat (beserta sekutunya dan disebut blok barat) dan
Uni Soviet (beserta sekutunya dan disebut blok timur), takut serta untuk berjuang
melawan kemungkinan pihak yang lain menjadi satu-satunya pemimpin dunia
internasional. Ketakutan yang dialami oleh negara superpower serta perbedaan
mendasar pada ideologi serta kepentingan mereka lah yang menyebabkan konfrontasi
tanpa face to face dengan senjata terjadi.
Realisasi dari perang dingin bukan konfrontasi secara langsung dengan
senjata seperti pada dua perang sebelumnya, yaitu perang dunia I dan II, antara
negara-negara yang berperang. Perang Dingin lebih menekankan pada persaingan
penyebaran ideologi, ekonomi, pemberian bantuan, pengembangan senjata, dan lain-
lain. Kedua negara yang saling bersaing ini kemudian menciptakan sistem tata
internasional baru berupa bipolarity, yaitu suatu kondisi dimana kekuatan
terkonsentrasi pada dua kubu dan negara-negara lainnya mendefinisikan dukungan
mereka menurut hubungan mereka dengan kedua kubu tadi.
Masing-masing kubu saling meningkatkan keamanan mereka dengan
perlombaan senjata meskipun senjata tersebut tidak digunakan secara langsung oleh
kedua negara sebagai implikasi dari security dilemma. Perlombaan paling kentara
adalah pengembangan senjata nuklir di kedua negara yang kemudian meluncurkan
balance of terror. Kedua kubu juga saling memperebutkan wilayah tanpa
menggunakan senjata mereka, tetapi menggunakan bantuan, baik ekonomi maupun
militer, yang memiliki ikatan politik berupa aliansi militer, seperti yang terjadi di
daratan Eropa bagian Barat dan Timur.
Aksi saling mencurigai dan ketidakpercayaan antar kubu juga
menyebabkan terjadinya aksi spionase atau mata-mata. Maing-masing kubu juga
semakin meningkatkan pengaruh mereka serta berusaha mengurangi bahkan
menghambat pengaruh dari kubu lawan. Pada intinya, sepengetahuan saya, perang
dingin berbeda dari dua perang sebelumnya karena tidak ada konfrontasi dengan
senjata militer, namun perang dingin lebih berupa unjuk gigi masing-masing kubu
dengan kemampuan mereka masing-masing yang dilandasi security dilemma,
persaingan penyebaran ideologi dan kepentingan mereka.

Mengapa diangap sebagai salah satu periode penting dalam hubungan antar
bangsa di era modern?
Perang Dingin dianggap sebagai salah satu periode penting dalam
hubungan antar bangsa di era modern karena merupakan perang pertama dalam
sakala internasional tanpa adanya konfrontasi senjata secara langsung antar kedua
kubu. Konfrontasi terjadi melalui adu perlombaan penyebaran ideologi serta
pengembangan senjata. Perang yang awalnya diperkirakan akan berakhir dengan
meletusnya perang senjata nuklir ini, ternyata berakhir secara damai tanpa ada
satupun nuklir yang meledak.
Tidak adanya konfrontasi secara langsung, lebih sedikit kerusakan yang
ditimbulkan namun tetap dengan intensitas yang sama, serta berakhir dengan damai
inilah yang membuat perang ini, menurut saya, menjadi periode penting dalam
hubungan antar bangsa di era modern. Selain itu, sesuai dengan buku World Politics:
Trend and Transformation, perang ini memberi pelajaran bagaimana caranya
mengontrol kompetisi antar kekuatan-kekuatan besar yang makin menegaskan bahwa
perang ini merupakan salah satu periode penting dalam hubunga antar bangsa di era
modern. Ditambah lagi dengan adanya dampak atau pengaruh yang ditimbulkan oleh
perang dingin dalam penyelenggaraan hubungan antar bangsa serta studi tentang
hubungan internasional.

Apa yang dimaksudkan dengan berakhirnya Perang Dingin?


Tidak seperti dua perang pendahulunya yang berakhir dengan kerusakan,
serta mengakibatkan trauma, Perang Dingin berakhir dengan damai. Yang
dimaksudkan dengan berakhirnya perang dingin sendiri, menurut saya, adanya
kesepakatan normalization hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang
didahului oleh beberapa perjanjian mengenai persenjataan nuklir yang selama perang
menjadi kompetisi utama kedua superpower. Selain itu, runtuhnya ”kerajaan”
komunis bentukan Uni Soviet dan penerimaan paham kapitalisme dalam
perekonomian serta liberalisme dalam pemerintahan oleh negara-negara berhaluan
komunis di Eropa Timur menjadi indikasi berakhirnya permusuhan diam-diam antar
kedua negara.
Di sisi lain, berakhirnya perang dingin juga diartikan sebagai kemenangan
yang diraih oleh paham kapitalisme-liberalisme sebagai paham atau filosofi yang
diterima di seluruh dunia. Jadi, meskipun berakhir secara damai, tetap saja menurut
saya secara tidak langsung Amerika Serikat lah yang menjadi pemenang dalam
pertarungan ini.

Apakah berakhirnya Perang Dingin berpengaruh terhadap studi tentang


Hubungan Internasional? Apa pengaruhnya dan alasannya?
Mainstream atau core belajar ilmu hubungan internasional salah satunya
adalah tentang bagaimana perang dan damai itu terjadi. Dari itu, berakhirnya perang
dingin dalam damai berarti mempunyai pengaruh terhadap studi tentang hubungan
internasional. Pengaruh pertama dari berakhirnya perang antar dua kekuatan besar
pemenang Perang Dunia II ini adalah interpretasi baru dalam melihat akhir dari
perang yang melibatkan bangsa-bangsa di dunia. Hal ini dikarenakan perang yang
selama ini (sebelum Perang Dingin) diidentikkan dengan akhir yang berupa
konfrontasi senjata yang berimplikasi pada kehancuran di kedua belah pihak, pada
Perang Dingin ternyata dapat diakhiri dengan damai. Ada kemungkinan kubu yang
berperang mengadakan rekonsiliasi atas kompetisi perbedaan mereka tanpa diakhiri
dengan peperangan.
Pengaruh kedua adalah munculnya jenis perang baru dalam tatanan dunia
internasional beserta alasan-alasan yang mendasari terjadinya perang. Setelah perang
dingin berakhir, perang tidak lagi hanya antar negara-negara superpower, tetapi juga
antar negara-negara kecil, bahkan antar dua kelompok dalam satu negara dan disebut
sebagai civil war atau perang saudara. Selain itu, muncul pula teknik perang baru
yaitu terorisme. Alasan-alasan yang mendasari perang pun tidak lagi memperebutkan
kepemimpinan hegemoni, tetapi juga masalah klaim wilayah (Palestina-Israel, India-
Pakistan), dan lain-lain.
Pengaruh ketiga adalah terciptanya sistem tatanan dunia internasional
yang baru. Setelah berakhirnya perang dingin dan kemenangan yang diraih oleh
Amerika Serikat secara tidak langsung lewat diakuinya paham atau ideologi mereka
oleh seluruh dunia sebagai paham yang dapat diterima, memunculkan unipolar
system di dunia internasional yaitu Amerika Serikat sebagai pusatnya. Meskipun
begitu, seiring berlalunya waktu, kini tatanan dunia internasional berubah ke
multipolar system seiring munculnya kekuatan baru, baik di bidang politik, ekonomi,
maupun militer, seperti Jepang dan China.
Pengaruh terakhir, menurut saya, adalah munculnya isu-isu baru yang
menjadi sorotan dalam bahasan studi tentang hubungan internasional. Hal ini
dikarenakan adanya globalisasi yang menyebabkan batas antara ekonomi, politik,
sosial, dan laian-lain menjadi kabur. Setelah perang dingin, mulai muncul aktor-aktor
non negara yang ikut berperan dalam kegiatan-kegiatan dunia internasional. Isu-isu
baru yang muncul antara lain masalah ekonomi-politik internasional, lingkungan, Hak
Asasi Manusia, dan lain-lain.

Bagaimana perbandingan perang dan damai pasca perang dingin? Lebih damai
kah ataukah sebaliknya? Apa alasannya?
Setelah berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan terpecah
belahnya Uni Soviet menjadi beberapa negara yang merdeka serta diterimanya paham
liberalisme-kapitalisme, timbul pertanyaan apakah dunia akan lebih damai atau
malah lebih sering terjadi perang. Berbagai pendapat bermunculan seiring munculnya
dampak atau pengaruh berakhirnya perang dingin dalam penyelenggaraan hubungan
antar bangsa serta terhadap studi tentang hubungan internasional.
Menurut teori realisme, jika kita menginginkan damai maka kita harus
bersiap perang atau lebih sering dikenal dengan sebutan Ci vis pacem, para bellum.
Struktur dunia internasional yang anarki, tidak adanya ”pemerintah”, serta ”aturan
hukum” turut mendukung argumen ini. Dengan struktur yang demikian, setiap bangsa
mempunyai kesempatan untuk mengambil perannya masing-masing sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki dan semua negara memiliki kedudukan yang seimbang
yang kemudian akan mencegah terjadinya perebutan kekuasaan. Hal ini tentunya
memberi legitimasi paham ini jika ingin menjaga perdamaian dengan selalu siap
untuk berperang.
Sedangkan menurut teori liberalisme, perdamaian itu berarti tidak ada
perang sama sekali. Hal ini tentunya jika diterapkan dengan kondisi setelah perang
dingin akan mendukung anggapan bahwa damai tidak benar-benar tercipta meski
perang dingin telah berakhir. Ini dibuktikan dengan adanya perang antar negara di era
modern ini, misalnya antara Amerika Serikat-Irak, Israel-Palestina, dan India-
Pakistan. Bahkan perang di dalam satu negara oleh dua kelompok atau perang
saudara semakin banyak dan ditambah lagi dengan maraknya kegiatan terorisme.
Secara keseluruhan, kedua paham ini dapat diterima. Tetapi, menurut
saya, arti damai itu sendiri juga akan turut menjawab pertanyaan ini. Seperti kata
liberalisme, jika damai berarti tidak ada perang, maka bisa kita katakan pasca perang
dingin damai tidak benar-benar terjadi. Jika kita artikan damai selain tidak adanya
perang, tetapi juga tidak ada kelaparan, kemiskinan, dan lain-lain, maka dunia tidak
lebih damai pasca perdamaian antara Amerika Serikat-Uni Soviet. Isu-isu yang
muncul pasca perang dingin turut menguatkan argumen ini. Negara-negara yang
”terbelakang” semakin susah mengejar ketinggalan mereka dengan adanya globalisasi
yang menyebabkan munculnya isu kemiskinan, kerusakan lingkungan, wabah
penyakit, dan lain-lain.
Maka, jika kita tarik kesimpulan, pasca perang dingin dunia tidak lebih
damai dibandingkan sebelumnya jika kita melihat fenomena-fenomena dalam
hubungan internasional di era modern ini. Berakhirnya perang dingin dengan damai
ternyata tidak memberi jaminan bahwa dunia akan lebih damai. Namun, tidak dapat
kita pungkiri, normalisasi hubungan Amerika Serikat-Uni Soviet memunculkan isu-
isu serta pandangan baru dalam pelaksanaan hubungan antar bangsa di ranah
internasional.